• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL DI LANTAI PRODUKSI DENGAN METODE SUBJECTIVE WORKLOAD ASSESMENT TECHNIQUE (SWAT) PADA PT. BAKRIE SUMATERA PLANTATIONS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL DI LANTAI PRODUKSI DENGAN METODE SUBJECTIVE WORKLOAD ASSESMENT TECHNIQUE (SWAT) PADA PT. BAKRIE SUMATERA PLANTATIONS"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL DI LANTAI PRODUKSI DENGAN METODE SUBJECTIVE WORKLOAD

ASSESMENT TECHNIQUE (SWAT) PADA PT. BAKRIE SUMATERA PLANTATIONS

TUGAS SARJANA

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari

Syarat – Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Industri

Oleh

MUHAMMAD AINUL SYAHPUTRA 150403012

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

2 0 1 9

No. Dok : FM-GKM-S1TI-FT-6-06-07; Tgl. Efektif : 09 Juli 2018; Rev : 01; Halaman : 1 dari 1

(2)
(3)
(4)

ABSTRAK

Beban kerja merupakan sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi. Aktivitas yang dilakukan manusia akan menyebabkan kelelahan fisik (fatigue) serta kelelahan secara psikologis (mental).

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi beban kerja mental pada lantai produksi dan memberikan usulan perbaikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan pengamatan secara langsung (survey) dan wawancara serta mengidentifikasi aktivitas – aktivitas pekerja lantai produksi yang berlangsung, ditemukan beban kerja fisik yang dominan rendah. Sedangkan setelah dilakukan pengamatan secara langsung dan wawancara , ditemukan beban kerja mental yang ditandai dengan kebosanan pekerja saat melaksakan tugas yang diterima dikarenakan pekerjaan yang monoton. Pengukuran beban kerja mental dilakukan dengan metode Subjective Workload Assessment Technique (SWAT) serta perencanaan perbaikan dilakukan dengan metode Focus Group Discusion kepada pekerja dan pihak manajemen. Berdasarkan perhitungan beban kerja mental, menunjukkan bahwa faktor Stress (S) yang dominan mempengaruhi beban kerja lantai produksi sebesar 52%, dikuti oleh faktor Effort (E) 44% dan Time (T) 0,04%. Masing – masing beban mental karyawan berada pada kategori tinggi dan sedang. Adapun usulan yang dapat diberikan yaitu melakukan olahraga setiap minggu agar badan tetap sehat dan tidak mudah lemas karena usaha/konsentrasi yang berlebih. Kemudian adanya tambahan bonus/insentif kepada pekerja yang masa kerja lebih dari 10 tahun. Selanjutnya membuat senyaman mungkin dengan pekerjaannya yaitu dengan diberikan fasilitas yang layak bagi pekerja, sehingga pekerja tidak terbebani dalam mentalnya dan pekerja tidak stress, dengan hal itu maka beban kerja pekerja akan lebih ringan.

Kata kunci : Beban Kerja Mental, SWAT, Focus Group Discusion.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas sarjana ini dengan baik. Laporan tugas sarjana merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi penulis untuk dapat menyelesaikan program studi Reguler S-1.

Penulis melaksanakan Tugas Sarjana di PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk yang bergerak dalam bidang produksi minyak kelapa sawit/crude palm oil (CPO). Tugas Sarjana ini berjudul “Pengukuran Beban Kerja Mental Di Lantai Produksi Dengan Metode Subjective Workload Assesment Technique (SWAT) Pada PT. Bakrie Sumatera Plantations”.

Besar harapan penulis penyusunan laporan penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini, karena pengetahuan dan pengalaman penulis yang masih terbatas

. Oleh sebab itu, penulis menerima secara terbuka setiap kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk perbaikan tulisan ini.

Akhir kata

penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PENULIS

OKTOBER 2019 MUHAMMAD AINUL SYAHPUTRA

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Pendidikan sarjana teknik yang penulis dapatkan selama bangku perkuliahan di Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara hingga penyelesaian tugas sarjana untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik merupakan proses terintegrasi untuk menjadikan penulis sebagai lulusan yang terdidik, berguna dan memiliki integritas moral serta berakhlak dan mampu mencapai kehidupan yang lebih baik. Penulisan tugas sarjana ini tidak akan terselesaikan dengan baik jika penulis tidak mendapatkan bimbingan, bantuan dan doa dari berbagai pihak sehingga penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua tercinta, Syawal Idris dan Dirawati yang telah mengizinkan penulis untuk menempuh pendidikan sarjana dan memberikan dukungan dan motivasi baik dari segi moril, doa, maupun materil.

2. Ibu Dr. Meilita Tryana Sembiring, ST, MT sebagai Ketua Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah mengizinkan pelaksanaan tugas sarjana.

3. Bapak Buchari, ST., M.Kes sebagai Sekretaris Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah menjadi panitera pada Seminar dan Sidang Tugas Sarjana.

4. Bapak Ir. Mangara Tambunan, Msc selaku koordinator tugas sarjana yang telah memberi saran dan masukan untuk laporan tugas sarjana.

5. Ibu Ir. Anizar, M kes sebagai Dosen Pembimbing yang telah meluangkan

waktu untuk membimbing penulis, memberikan ilmu, dan memberikan saran

dalam penyelesaian laporan tugas sarjana.

(7)

6. Bapak Anto, Bapak Tri, dan Ibu Ade dari pihak PT. Bakrie Sumatera Plantations yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di pabrik dan memberikan data yang mendukung penelitian tugas sarjana.

7. Seluruh dosen Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama perkuliahan sebagai bekal dalam penulisan tugas sarjana.

8. Staf pegawai Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, Bang Tumijo, Bang Eddy, Bang Nurmansyah, Kak dede, Kak Neneng, Bu Aniaty, Kak Rahmaini, dan Kak Mia sebagai yang telah membantu segala urusan administrasi dan peminjaman buku di perpustakaan selama kegiatan perkuliahan dan penyelesaian tugas sarjana.

9. Saudara tercinta, Rita Astuti, Mahdewi, Taufik Hidayat dan Faisal Azmi yang selalu memberikan dukungan dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas sarjana ini.

10. Nurhanifah Eka Putri yang telah memberikan motivasi, saran dan dukungan selama penyelesaian tugas sarjana.

11. Rekan seperjuangan penelitian yaitu Rahmat Fauzi dalam mengumpulkan data penelitian di PT. Bakrie Sumatera Plantations.

12. Sahabat terbaik Kenta, Riky Yurisditira, Chairul Rahmadsyah Manik,

Jefrincer Zalukhu, Faisal Hardiansyah, Azwar Anas Pane dan Teuku Aldi

Farhan terimakasih atas dukungan, doa, dan kerjasamanya yang telah

memberikan semangat dan mendukung serta mendoakan penulis.

(8)

13. Sahabat-sahabat penulis di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU khususnya teman-teman angkatan 2015 “LIBERTI” yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian Tugas Sarjana ini.

14. Seluruh pihak yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis dalam penyelesaian tugas sarjana ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA, MEDAN PENULIS

OKTOBER 2019 MUHAMMAD AINUL SYAHPUTRA

(9)

DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

LEMBAR JUDUL ... i LEMBAR PENGESAHAN ... ii KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv iv DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii DAFTAR LAMPIRAN ... ix

I. PENDAHULUAN ... I-1 1.1. Latar belakang masalah ... I-1 1.2. Rumusan Masalah ... I-4 1.3. Tujuan Penelitian... I-4 1.4. Manfaat Penelitian... I-5 1.5. Batasan dan Asumsi Masalah ... I-5 1.6. Sistematika Penulisan Laporan ... I-6

II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... II-1

2.1. Sejarah Perusahaan ... II-1

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha ... II-1

2.3. Lokasi Perusahaan ... II-2

2.4. Daerah Pemasaran ... II-2

(10)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

2.5. Sistem Pengupahan ... II-2 2.6. Jam Kerja... II-3 2.7. Struktur Organisasi Perusahaan ... II-3 2.8. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab ... II-5 2.9. Proses Produksi ... II-6 2.9.1. Standard Mutu Bahan / Produk ... II-6 2.10. Bahan yang Digunakan ... II-8 2.10.1. Bahan Baku ... II-8 2.10.2. Bahan Penolong ... II-8 2.11. Uraian Proses Produksi ... II-9

III. LANDASAN TEORI ... III-1 3.1. Penelitian Sebelumnya ... III-1 3.2. Ergonomi ... III-5 3.3. Beban Kerja ... III-5 3.4. Beban Kerja Mental ... III-7

3.4.1. Subjective Workload Assesment Technique

(SWAT) ... III-8

3.5. Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja ... III-11

3.6. Focus Grup Discussion (FGD) ... III-12

3.6.1. Karakteristik FGD ... III-13

(11)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

3.7. Stres Kerja ... III-17 3.7.1. Faktor Penyebab Stres ... III-17 3.7.2. Sumber Stres Kerja ... III-18 3.7.3. Akibat Stres ... III-19

IV . METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1 4.1. Jenis Penelitian ... IV-1 4.2. Objek Penelitian ... IV-1 4.3. Kerangka Konseptual ... IV-2 4.4. Rancangan Penelitian ... IV-3 4.5. Instrumen Penelitian ... IV-5 4.6. Metode Pengumpulan Data ... IV-6 4.7. Metode Pengolahan Data ... IV-7 4.8. Diagram Alir Penelitian ... IV-8

V. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... V-1 5.1. Aktivitas Pekerja Lantai Produksi ... V-1 5.2. Pengumpulan Data Beban Kerja Mental ... V-3

5.2.1. Kombinasi Kartu SWAT Menurut Persepsi

Pekerja ... V-3

5.3. Pengolahan Data Beban Kerja Mental ... V-6

(12)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

5.3.1. Tahap Penskalaan (Scale Development) ... V-6 5.3.2. Tahap Penilaian (Event Scoring) ... V-12

VI. ANALISA PEMECAHAN MASALAH ... VI-1 6.1. Analisis Subjective Workload Assesment Technique

(SWAT) ... VI-1 6.1.1. Scalling Solution (Solusi Penskalaan)... VI-2 6.2. Perencanaan Perbaikan ... VI-6 6.2.1. Focus Group Discusion ... VI-7

VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1 7.1. Kesimpulan... VII-1 7.2. Saran ... VII-2 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

3.1. Tabulasi Penelitian Terdahulu ... III-1 5.1. Karakteristik Pekerja Lantai Produksi ... V-3 5.2. Kombinasi Kartu SWAT ... V-4 5.3. Rekapitulasi Urutan Kartu SWAT Menurut Persepsi

Pekerja ... V-5 5.4. Parameter Perhitungan Koefisien Kendall ... V-13 5.5. Hasil Prototipe kombinasi kartu SWAT untuk Masing-

Masing ... V-17 5.6. Rekapitulasi Kuesioner Beban Kerja... V-12 5.7. Hasil kategori beban kerja Mental ... V-13 6.2 Persentase Setiap Faktor /Prototype ... VI-1 6.2. Hasil kategori prototype dan Beban Kerja Mental Masing-

Masing ... VI-2

(14)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

2.1. Lokasi Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk II-2 2.2. Struktur organisasi Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera

Plantation, Tbk ... II-4

4.1. Kerangka Konseptual Penelitian ... IV-2

4.2. Blok Diagram Prosedur Penelitian ... IV-9

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN

1. Hasil Perhitungan Koefisien Korelasi Spearman ... L-1 2. Penyusunan Kartu Subjective Workload Assessment Technique

(SWAT) ... L-2

3. Kartu Subjective Workload Assessment Technique (SWAT) ... L-3

4. Kuesioner/Angket Beban Kerja ... L-4

5. Surat Permohonan Tugas Sarjana ... L-5

6. Formulir Penetapan Tugas Sarjana ... L-6

7. Surat Balasan Penerimaan Riset Tugas Sarjana ... L-7

8. Surat Keputusan Tugas Sarjana ... L-8

9. Form Asistensi Dosen Bimbingan I ... L-9

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Beban kerja merupakan suatu tuntutan pekerja saat menerima permintaan, perintah atau tuntutan yang akan menghasilkan suatu bentuk dan tingkatan kinerja. Secara tidak langsung, kinerja pekerja dipengaruhi oleh beban kerja yang diterimanya, yang terindikasi lewat kinerjanya. Beban kerja yang diterima pekerja dapat berupa beban kerja fisik, seperti paparan suhu lingkungan, kebisingan, pencahayaan yang berdampak pada metabolisme tubuh pekerja dari detak jantung, konsumsi oksigen, suhu tubuh dan sebagainya yang terlihat lebih konkrit dan dekat dengan aspek keselamatan dan kesehatan kerja. Beban kerja dapat pula berupa beban kerja mental yang terindikasi lebih subjektif terhadap masing- masing subjek pekerja, seperti beban waktu, usaha, stress, dan sebagainya.

Aktivitas berlebihan, kurang istirahat, kondisi fisik lemah, olahraga dan

tekanan sehari-hari dapat menyebabkan kelelahan (fatigue). Kelelahan dapat

terjadi oleh berbagai penyebab yang dapat menimbulkan terjadinya sumber daya

habis, tertimbunnya asam laktat di dalam tubuh, terganggunya keseimbangan

elektrolit di dalam tubuh dan terganggunya keseimbangan pemasukan dan

pengeluaran air didalam tubuh. Aktivitas yang dilakukan oleh manusia akan

memerlukan energi dan tergantung pada besar beban kerja baik secara fisik

maupun secara mental. Hal ini akan menyebabkan manusia yang bekerja

mengalami fatigue (kelelahan) baik secara fisik maupun kelelahan secara

(17)

psikologis pada masing-masing individu, yang akan mempengaruhi penurunan kinerja pekerja. Kelelahan akibat kerja seringkali diartikan sebagai proses menurunnya efisiensi, performansi kerja dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan (Sritomo, Wignjosoebrodato, 2008).

Apabila kemampuan dari pekerja lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan maka akan menimbulkan rasa bosan dan sebaliknya, apabila kemampuan pekerja lebih rendah daripada tuntutan pekerjaan maka akan menimbulkan dampak kelelahan yang berlebih yang menyebabkan stress kerja pada karyawan dan menyebabkan sering terjadinya kecelakaan kerja, hal ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan (Mesra, Susanti and Zadry, 2017).

PT. Bakrie Sumatera Plantation merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang industri kelapa sawit. Perusahaan ini melakukan produksi berupa pengolahan TBS kelapa sawit menjadi minyak kelapa sawit kasar/crude palm oil (CPO) dan inti kelapa sawit (kernel). PT. Bakrie Sumatera Plantation dituntut untuk menghasilkan kerja optimal demi kelangsungan kegiatan produksi pada perusahaan, serta menjaga persaingan tetap berjalan sehat. Tuntutan tersebut menyebabkan pekerja untuk selalu bekerja optimal, namun tidak diselaraskan kemampuan pekerja dengan beban kerja yang diberikan. Proses produksi crude palm oil (CPO) diawali Loading Ramp yaitu memasukkan TBS yang telah disortir

ke dalam ramp cage yang berada di atas rel, ramp cage mempunyai 30 pintu yang

bisa dibuka tutup dengan sistem hidrolik. Setelah lorry terisi TBS kemudian akan

di bawah ke stasiun sterilizer untuk dilakukan perebusan di dalam bejana. TBS

(18)

diangkut ke stasiun thersser untuk dipisahkan antara berondolan dengan tandannya. Kemudian brondolan yang sudah terpisah di press dengan mesin press kemudian menghasilkan minyak yang masih tercampur dengan kotoran.

Selanjutnya minyak yang telah diproses pada stasiun press dibawah ke stasiun pemurnian untuk menghilangkan partakel partikel yang menjadi sumber kotoran yang terdapat pada minyak. Setelah dilakukan pemurnian maka minyak dibawah ke storage tank untuk disimpan. Minyak yang dihasilkan dari daging buah berupa minyak yang kita sebut sekarang Crude Palm Oil (CPO), kemudian stasiun karnel dilakukan pemisahan antara inti dengan cangkangnya. Oleh sebab itu dibutuhkan ketelitian yang cukup tinggi dengan waktu yang telah ditentukan agar CPO yang dihasilkan dari proses tersebut. Ketepatan waktu penyelesaian setiap proses merupakan salah satu indikator penilaian kinerja secara umum, untuk itu karyawan harus berusaha menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Sehingga beban kerja yang dirasakan oleh karyawannya sangat tinggi.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dengan melihat secara langsung dan wawancara serta mengidentifikasi aktivitas – aktivitas pekerja lantai produksi yang berlangsung, ditemukan beban kerja fisik yang dominan rendah.

Oleh sebab itu, dilakukan pengamatan secara langsung dan wawancara terhadap

beban kerja mental pekerja lantai produksi yang ditandai dengan kelelahan dan

kebosanan pekerja saat melaksakan tugas yang diterima sebab pekerjaan yang

bersifat repetitif dan berulang-ulang yang mengakibatkan kejenuhan, dan

kelelahan mental pekerjaan. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode

Subjective Workload Assessment Tecnique atau dikenal dengan metode SWAT.

(19)

Penerapan metode SWAT akan menggambarkan beban kerja yang dialami oleh pekerja dengan tiga faktor yaitu beban waktu, beban usaha mental dan beban tekanan psikologis, dimana masing-masing terdiri dari tiga tingkatan yaitu rendah, sedang dan tinggi. Pengukuran dengan menggunakan metode SWAT diharapkan dapat meningkatkan kinerja pekerja sehingga aktivitas pekerjaan berjalan dengan baik, dengan menggunakan analisis SWAT, perusahaan dapat mengetahui apakah karyawan merasa terbebani atau tidak dengan tugas pekerjaanya.

1.2. Rumusan Masalah

Masalah pada penelitian ini adalah beban kerja mental yang diterima pekerja yang bersifat repetitif dan berulang-ulang yang mengakibatkan kebosanan dan kelelahan mental pekerja sehingga perlu dilakukan pengukuran dan analisis beban kerja mental guna untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi beban kerja mental lantai produksi PT. Bakrie Sumatera Plantations.

1.3. Tujuan Penelitian

Melihat perumusan masalah yang telah disusun, maka dapat disebutkan tujuan utama dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi beban kerja mental pekerja lantai produksi PT. Bakrie Sumatera Plantations dengan menggunakan metode Subjective Workload Assessment Technique (SWAT).

2. Memberikan usulan perencanaan perbaikan kepada pihak PT. Bakrie

Sumatera Plantations berdasarkan perhitungan metode Subjective Workload

(20)

Assesment Technique (SWAT) dan Focus Group Discussion (FGD) kepada pekerja dan manajemen.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat bagi mahasiswa

a. Mahasiswa dapat memperoleh kesempatan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh dalam perkuliahan, menambah pengetahuan dan memperoleh pengalaman dalam bidang ergonomi untuk mengatasi permasalahan di perusahaan.

b. Memperoleh peluang untuk mencari solusi dari permasalahan di perusahaan sudut pada akademis.

2. Manfaat Bagi Perusahaan

Memberi masukan kepada pihak perusahaan terhadap upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi permasalahn beban kerja lantai produksi.

3. Manfaat Bagi Departemen Teknik Industri

Hasil dari penelitian ini dapat memperkaya bahan ajaran/materi perkuliahan di Departemen Teknik Industri.

1.5. Batasan Dan Asumsi Masalah

Batasan-batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Pekerja pada bagian produksi bekerja secara normal.

2. Proses produksi berjalan normal selama penelitian.

(21)

3. Tidak terjadi perubahan kebijakan manajemen selama penelitian.

4. Tidak ada tekanan bagi pekerja dalam menyampaikan permasalahan maupun menyampaikan perbaikan pada saat FGD

Asumsi dalam penelitian yang dilakukan adalah:

1. Pekerja bekerja secara normal.

2. Penelitian hanya dilakukan di bagian lantai produksi pabrik kelapa sawit PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk.

3. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berada pada kondisi baik dan sesuai standar.

4. Tidak terjadi perubahan kebijakan manajemen selama penelitian.

5. Alat ukur yang digunakan dalam kondisi baik dan sesuai dengan standar.

1.6. Sistematika Penulisan Laporan

Sistematika penulisan laporan dari tugas sarjana akan disajikan dalam Bab I hingga Bab VII. Sistematika penulisan tugas sarjana dapat dilihat sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, menguraikan latar belakang permasalahan yang mendasari penelitian, perumusan permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian serta sistematika penulisan laporan penelitian.

Bab II Gambaran umum perusahaan, berisi ruang lingkup perusahaan,

lokasi, struktur organisasi, tugas dan tanggung jawab, jumlah

(22)

tenaga kerja ,jam kerja karyawan, dan sistem pengupahan PT.

Bakrie Sumatera Plantations.

Bab III Landasan teori, berisi teori tentang ergonomi, intervensi ergonomi, kuesioner Subjective Workload Assessment Technique (SWAT), beban kerja mental dan Focus Group Discusion (FGD).

Bab IV Metodologi penelitian, menguraikan tahap-tahap dalam penelitian yaitu tempat dan waktu penelitian, jenis penelitian, objek penelitian, kerangka konseptual, metode pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis pemecahan masalah.

Bab V Pengumpulan dan pengolahan data, penyebaran kuesioner SWAT, beban kerja mental.

Bab VI Pemecahan Masalah, analisis beban kerja serta analisis pemecahan masalah.

Bab VII Kesimpulan dan saran, berisi tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis pemecahan masalah dan saran-saran yang bermanfaat bagi perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(23)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk merupakan salah satu perusahaan perkebunan tertua di Indonesia. Pada tahun 1986, perusahaan ini diakui sisi oleh Bakrie and Brother dan kemudian diganti namanya menjadi PT. Bakrie Sumatera

Plantation Tbk. Pada tahun 1990 ditandai tonggak penting bagi perusahaan ketikaitu berhasil tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES).

PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk (PT. BSP) merupakan perusahaan yang bergerak dibidang usaha pengolahan minyak kelapa sawit dengan perkebunan sendiri dan pengolahan karet. Palm Oil Mill merupakan pabrik bagian dari PT. BSP yang mengelolah tandan buah segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit kasar/crude oil palm (CPO) dan inti sawit (palm karnel). Perusahaan ini merupakan pabrik pengolahan bahan baku setengah jadi.

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha

PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Palm Oil Mill kisaran Sumatera Utara

menghasilkan produk merupakan perusahaan yang bergerak dibidang

pertambangan dengan produk berupa minyak kelapa sawit/crude oil palm (CPO)

dan inti sawit (palm kernel).

(24)

2.3. Lokasi Perusahaan

Kantor pemasaran PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk berada di jalan Ir.Juanda Kisaran, Kabupaten Asahan Sumatera Utara dan kegiatan produksi (pengolahan minyak) yang di sebut Palm Oil Mill berlokasi di kecamatan Pulo Bandring, kabupaten Asahan. Lokasi pabrik ini terletak di tengah areal perkebunan yang berjarak 10 km dari kota Kisaran.

Gambar 2.1 Lokasi Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk

2.4. Daerah Pemasaran

Daerah pemasaran PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk dipasarkan sebagian besar diekspor ke luar Negeri, selain itu juga dipasarkan di dalam Negeri.

2.5. Sistem Pengupahan

Sistem pengupahan yang berlaku di perusahaan PT. Bakrie Sumatera

Plantation Tbk tidak kurang dari Upah Minimum Regional (UMR) yang

(25)

ditetapkan oleh pemerintah. Besarnya upah yang diberikan kepada karyawan tergantung kepada penilaian kinerja karyawan dan jabatannya.

2.6. Jam Kerja

Pembagian jam kerja pada pabrik kelapa sawit Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu waktu kerja karyawan kantor dan waktu kerja karyawan produksi. Pengaturan jam kerja pada pabrik kelapa sawit Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk adalah sebagai berikut:

1. Waktu kerja karyawan kantor : 2. Waktu kerja karyawan produksi : Senin – Jumat : 07.00 – 14.30 WIB Shift I : 07.00 – 17.00 WIB Sabtu : 07.00 – 12.00 WIB Shift II : 17.00 – 24.00 WIB

2.7. Struktur Organisasi Perusahaan

Struktur organisasi merupakan susunan yang terdiri dari fungsi-fungsi dan hubungan-hubungan yang menyatakan keseluruhan kegiatan untuk mencapai suatu sasaran.

Struktur organisasi pada PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk adalah

berbentuk fungsional. Hubungan fungsional karena pembagian tugas juga

dilakukan berdasarkan fungsi-fungsi yang membentuk hubungan

fungsional.Struktur organisasi Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk

dapat dilihat pada gambar 2.2.

(26)

Manager

Compost Assistant

Maintenance Engineer Shift

Coordinator

Shift Engineer

Shift

Foreman Adminitrasi Daily Shift Foreman Shift Engineer

Head Laboratory

Compost Foreman

Maintenance Foreman

Maintenance Foreman SHE Assistant

Sortation Assistant

Poliklinik Waste

Gambar 2.2. Struktur organisasi Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk

(27)

2.8. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab 1. Palm Oil Mill Manager

Mill Manager memiliki wewenang dan tanggung jawab antara lain sebagai berikut:

1. Mempunyai garis komando langsung terhadap bawahannya.

2. Menganalisa penyusunan anggaran belanja tahunan dan dokumen keuangan.

3. Menciptakan dan mengendalikan teknologi serta komponen sesuai kebutuhan.

4. Menandatangani permintaan material sesuai program kerja yang dibutuhkan.

2. Assistant Maintenace

Assistant Maintenance memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain sebagai berikut:

1. Bertanggung jawab merawat dan memelihara mesin dan peralatan produksi.

2. Bertanggung jawab melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan terhadap masalah-masalah yang berkaitan di bidang teknik.

3. Bertanggung jawab mengawasi pengoperasian peralatan dan mesin produksi sesuai prosedur untuk mencapai mencapai kapasitas pabrik.

3. Shift Coordinator

Shift Coordinator memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain sebagai berikut:

1. Mengkoordinasi hampir keseluruhan pabrik mulai dari office, laboratorium, security dan daily.

2. Membantu manager dalam melaksanakan tugasnya.

(28)

4. Shift Engineer

Shift Engineer memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain sebagai berikut:

1. Mengatasi kelancaran proses produksi di lantai produksi secara langsung.

2. Memberikan pengarahan kepada operator di lantai produksi.

3. Membantu Assistant Manager dalam memelihara mesin dan peralatan.

5. Asisstant Compost

1. Bertanggung jawab atas pengolahan limbah hingga menjadi kompos.

2. Bertanggung jawab kepada Manager.

2.9. Proses Produksi

2.9.1. Standard Mutu Bahan / Produk

Jenis tandan buah segar (TBS) yang digolongkan didasarkan pada jumlah buah yang loose fruit. Dimana jenis TBS ini nantinya akan menjadi standar mutu bahan/produk. Jenis-jenis TBS tersebut dapat dikelompokkan dalam 10 kategori TBS, yaitu :

1. Buah Immature (0%)

Digolongkan sebagai buah yang masih hitam dan keras, tidak ada loose fruit yang lepas dari bunch.

2. Buah Unripe (0%)

Digolongkan sebagai buah mentah dan loose fruit yang lepas dari bunch kurang dari 10 loose fruit.

3. Buah Under Ripe (20%)

(29)

Digolongkan sebagai buah mengkal dengan kurang dari 10-24 loose fruit `yang lepas dari bunch

4. Buah Normal Ripe (75%)

Digolongkan sebagai buah yang telah matang dengan lebih dari 25 loose fruit yang lepas dari bunch.

5. Buah Over Ripe (2%)

Buah dengan loose fruit yang lepas dari 75% atau masih tertinggal 25%.

6. Buah Rotten (2%)

Buah yang seluruhnya atau sebagian dari bunch telah lembek, warnanya hitam dan bau. Buah ini mengandung FFA tinggi. Loose fruit tinggal 10%.

7. Buah Abnormal (0%) Buah bunch pecah.

8. Buah Bruissed (0%)

Buah yang memar dan teroksidasi, ini juga mengandung asam lemak bebas (FFA) yang tinggi.

9. Empty Bunch (0%)

Buah yang sudah 90% lebih loose fruit yang lepas.

10.Long Stalk (1%)

Tangkai bunch yang panjang lebih dari 2,5 cm, hal ini akan menambah berat

saat penimbangan dan menimbulkan looses saat perebusan.

(30)

2.10. Bahan yang Digunakan 2.10.1 Bahan Baku

Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dalam pembuatan produk, dimana sifat dan bentuknya akan mengalami perubahan fisik maupun kimiawi dan ikut dalam proses produksi dan memiliki persentase yang besar dibandingkan bahan-bahan lainnya.

Adapun bahan baku di Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk adalah jenis kelapa sawit Tenera. Tenera adalah jenis varietas kelapa sawit yang mempunyai bentuk buah agak lonjong, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Tebal daging buah (Pericarp) : 4 – 10 mm 2. Tebal cangkang : 79 – 80 mm

3. Pericarp terhadap buah (%) : ± 100 % 4. Inti terhadap buah (%) : 8 – 10 %

2.10.2. Bahan Penolong

Bahan penolong adalah bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk menambah mutu produk, tetapi tidak terdapat dalam produk akhir. Pada Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk digunakan 2 macam bahan

penolong, yaitu : 1. Air

Penggunaan air pada pabrik kelapa sawit adalah untuk proses pengolahan sebagai sumber uap dan juga keperluan air panas.

2. Uap

(31)

Uap memegang peranan sangat penting dalam pabrik kelapa sawit.

Karena sebagian dari proses produksi menggunakan tenaga uap. Uap yang di supply dari boiller yang digunakan untuk memutar turbin uap dengan tekanan ± 30 kg / cm2.

2.11. Uraian Proses Produksi

Proses pengolahan TBS hingga menjadi crude oil palm (CPO) dan inti

(palm kernel) yang dibagi atas 6 tahapan, yaitu : penerimaan buah (Reception

Station), perebusan (Sterilizer Station), pembantingan (Thresing Station),

pengepressan (Pressing), pengolahan biji (Kernel Station), dan klarifikasi

(Clarification Station).

(32)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Penelitian Sebelumnya

Penelitian terdahulu adalah landasan yang dijadikan sebagai acuan dan bahan pertimbangan dalam membandingkan pengaruh suatu variabel. Penelitian terdahulu yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang berkaitan dengan beban kerja mental menujukkan hasil.

3.2. Ergonomi

Secara umum defenisi ergonomi yang ada membicarakan permasalahan hubungan antara manusia pekerja dengan tugas, pekerjaan dan desain dari objek yang digunakannya. Ergonomi adalah ilmu seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas dan istirahat dengan kemampuan, keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik. Pencapaian kualitas hidup manusia secara optimal, baik di tempat kerja, di lingkungan sosial maupun di lingkungan keluarga, menjadi tujuan utama penerapan ergonomi (Tawarka. 2004)

Spesialisasi dalam ergonomi dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu

ergonomi fisik, kognitif, dan ergonomi organisasi. Ergonomi fisik berkaitan

mengenai anatomi manusia, antropometri, karakteristik fisiologi dan biomekanik

yang berhubungan dengan aktivitas fisik. Ergonomi kognitif berfokus kepada

(33)

mental, proses seperti persepsi, memori, pemrosesan informasi, penalaran, dan respon motorik saat adanya interaksi manusia dengan elemen lain. Organisasi ergonomi atau sering disebut dengan macroergonomic berkaitan dengan optimasi sistem sosio-technical termasuk organisasi, struktur, kebijakan, dan proses (Hendrik, Hal W. 2004)

3.3. Beban Kerja

Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Pekerjaan di satu pihak mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan prestasi, sehingga mencapai kehidupan yang produktif sebagai salah satu tujuan hidup. Di pihak lain, dengan bekerja berarti tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain, bahwa setiap pekerja merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban mental.

Dari sudut pandang ergonomi menganalisis setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik dalam kemampuan fisik, kognitif, maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut.

Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkat keterampilan, kesegaran jasmani, usia dan ukuran tubuh dari pekerja yang bersangkutan.(Tarwaka.2004)

Beban kerja merupakan usaha yang harus dikeluarkan oleh seseorang

untuk memenuhi “permintaan” dari pekerjaan tersebut. Sedangkan kapasitas

adalah kemampuan/kapasitas manusia. Kapasitas ini dapat diukur dari kondisi

(34)

fisik maupun mental seseorang. Beban kerja yang dimaksud adalah ukuran (porsi) dari kapasitas operator yang terbatas yang dibutuhkan untuk melakukan kerja tertentu. Analisis beban kerja banyak digunakan dalam penentuan kebutuhan pekerja (man power planning), analisis ergonomic, analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) hingga ke perencanaan penggajian. Perhitungan beban kerja setidaknya dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu:

1. Fisik, Aspek fisik meliputi perhitungan beban kerja berdasarkan kriteria- kriteria fisik manusia.

2. Mental, Aspek mental merupakan perhitungan beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental (psikologis).

3. Penggunaan waktu, Sedangkan pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan pada aspek penggunaan waktu untuk bekerja.

Menurut Tarwaka, pengukuran beban kerja dapat digunakan untuk beberapa hal berikut, yaitu:

1. Evaluasi dan perancangan tata cara kerja Keselamatan kerja.

2. Pengaturan jadwal istirahat.

3. Spesifikasi jabatan dan seleksi personil 4. Evaluasi jabatan.

5. Evaluasi tekanan dari faktor lingkungan (Puteri dan Sukarna 2014)

3.4. Beban Kerja Mental

Beban kerja mental adalah sebuah kombinasi antara faktor-faktor yang

terkait dengan tuntutan tugas, kondisi operator dan faktor-faktor waktu. Stress

(35)

adalah kondisi fisik dan psikologis yang disebabkan karena adaptasi seseorang pada lingkungannya. Selain itu, stress adalah “persiapan yang tidak disadari” oleh seseorang untuk menghindar atau menghadapi tuntutan tuntutan lingkungannya.

Stress akibat kerja didefinisikan sebagai respon emosional dan fisik yang bersifat

mengganggu atau merugikan yang terjadi pada saat tuntutan tugas tidak sesuai dengan kapabilitas, sumber daya, atau keinginan pekerja. Seseorang dapat di kategorikan mengalami stres kerja, apabila stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi perusahaan tempat orang yang bersangkutan bekerja. Stres kerja dapat berdampak buruk pada kondisi kejiwaan apabila tidak dilakukan penanggulangan.(Diniaty, Dev and Ikhsan, 2018).

3.4.1.

Subjective Workload Assesment Technique (SWAT)

Pengukuran beban kerja mental dapat dilakukan dengan metode pengukuran subjektif. Dalam penelitiannya, Widyanti (2009) menjelaskan bahwa Metode pengukuran beban kerja secara subjektif merupakan pengukuran beban kerja mental berdasarkan persepsi subjektif responden/pekerja. Metode Subjective Workload Assessment Technique (SWAT) merupakan salah satu metode

pengukuran beban mental. Metode ini dikembangkan pertama kali oleh Gary Reid

dari Divisi Human Engineering pada Amstrong Laboratory, Ohio USA. SWAT

digunakan untuk menganalisis beban kerja yang dihadapi oleh seseorang yang

harus melakukan aktivitas baik merupakan beban kerja fisik ataupun mental yang

muncul akibat meningkatnya kebutuhan akan pengukuran subyektif yang dapat

digunakan dalam lingkungan yang sebenarnya. SWAT memberikan penskalaan

(36)

dari aktivitas yang harus dilakukan oleh pekerja. SWAT. mempertimbangkan 3 dimensi pengukuran.

3.5. Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja untuk menciptakan tempat kerja yang aman.

Globalisasi perdagangan saat ini memberikan dampak persaingan sangat ketat dalam segala aspek khususnya ketenagakerjaan yang salah satunya mempersyaratkan adarrya perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja.

Untuk meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, tidak terlepas dari upaya pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi melalui SMK3 guna menjamin terciptanya suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat pekerja/serikat buruh dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang nyaman, efisien dan produktif.

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja melalui SMK3 telah

berkembang di berbagai negaria baik melalui pedoman maupun standar. Untuk

memberikan keseragaman bagi setiap perusahaan dalam menerapkan SMK3

(37)

sehingga perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja bagi tenaga kerja, peningkatan efisiensi, dan produktifitas perusahaan dapat terwujud maka perlu ditetapkan Peraturan Pemerintah yang mengatur penerapan SMK3(Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan SMK3, 2012).

3.6. Focus Grup Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terarah

merupakan bentuk kegiatan pengumpulan data melalui wawancara kelompok dan pembahasan dalam kelompok sebagai alat atau media paling umum digunakan dalam metode diskusi. Berkenaan dengan itu setiap fasilitator lapangan dalam kegiatan pemandirian atau pemberdayaan masyarakat dianjurkan juga untuk memahami dan menguasai penggunaan metode FGD ini. dan teknik pengumpulan data kualitatif dengan cara melakukan wawancara kelompok. Guna memperoleh pengertian yang lebih saksama, kiranya FGD dapat didefinisikan sebagai suatu metode dan teknik dalam mengumpulkan data kualitatif di mana sekelompok orang berdiskusi tentang suatu fokus masalah atau topik tertentu dipandu oleh seorang fasilitator atau moderator.

3.6.1. Karakteristik FGD

Karakteristik FGD diantaranya adalah sebagai berikut :

a. FGD diikuti oleh para peserta yang idealnya terdiri dari 7-11 orang.

Kelompok tersebut harus cukup kecil agar memungkinkan setiap

individu mendapat kesempatan mengeluarkan pendapatnya, sekaligus

(38)

agar cukup memperoleh pandangan dari anggota kelompok yang bervariasi.

b. Peserta FGD terdiri dari orang-orang dengan ciri-ciri yang sama atau relatif homogen yang ditentukan berdasarkan tujuan dan kebutuhan studi atau proyek. Kesamaan ciri-ciri ini seperti: persamaan gender, tingkat pendidikan, pekerjaan atau persamaan status lainnya.

c. FGD merupakan sebuah proses pengumpulan data dan karenanya mengutamakan proses. FGD tidak dilakukan untuk tujuan menghasilkan pemecahan masalah secara langsung ataupun untuk mencapai konsesus.

d. FGD adalah metode dan teknik pengumpulan data kualitatif.

e. FGD adalah diskusi terarah dengan adanya fokus masalah atau topik yang jelas untuk didiskusikan dan dibahas bersama.

f. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan Diskusi Kelompok Terarah (FGD) ini berkisar antara 60 sampai dengan 90 menit.

g. Dalam suatu studi yang menggunakan FGD, lazimnya FGD dilakukan beberapa kali.

h. FGD sebaiknya dilaksanakan di suatu tempat atau ruang netral

disesuaikan dengan pertimbangan utama bahwa peserta dapat secara

bebas dan tidak merasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya.

(39)

3.7. Stres Kerja

Tidak dapat dimungkiri, setiap manusia pasti pernah mengalami stres karena suatu masalah yang sedang dihadapi di lingkungannya, baik di lingkungan sosial maupun di lingkungan kerja. Menurut Mangkunegara (2009), stres merupakan perasaan tertekan yang dialami karyawan saat menghadapi pekerjaan.

Hal ini dapat terlihat dari emosi yang tidak stabil, perasaan tidak tenang, tekanan darah meningkat serta mengalami gangguan pencernaan.

3.7.1. Faktor Penyebab Stres

Menurut Luthans (2006), beberapa faktor penyebab stres adalah Stressor ekstra organisasi (stres yang berasal dari luar organisasi), stressor organisasi (stres yang berasaldariorganisasi), Stressor kelompok, serta stressor individual.

Nasrudin (2010) mengungkapkan penyebab stress antara lain : lingkungan kerja, kondisi lingkungan yang tidak nyaman, serta individu itu sendiri. Dapat disimpulkan factor penyebab terjadinya stress antara lain faktor lingkungan kerja, faktor rekan kerja, faktor pimpinan serta faktor dari diri sendiri.

3.7.2. Sumber Stres Kerja

Northcraft (1990) mengatakan bahwa ada beberapa sumber stres di tempat

kerja yang lebih berkaitan dengan individu, seperti yang terlihat dalam Gambar 1

berikut. Ada beberapa faktor penyebab stres yang berkaitan dengan individu yaitu

kondisi organisasi, tuntutan sosial dan keluarga, dan karakterisktik kepribadian.

(40)

3.7.3. Akibat Stres

Akibat stres yang dialami seseorang tergantung dari seberapa lama stres

yang dialaminya. Menurut Mumpuni dan Wulandari (2010) beberapa akibat yang

Nampak jika seseorang sedang mengalami stress antara lain: kelelahan dalam

bekerja, psikomatis (terganggunya mental dan fisik seseorang), trauma serta

kelelahan kepedulian. Sementara Cox (2005), mengungkapkan bahwa stress dapat

mengakibatkan beberapa hal, yakni: akibat subjektif (kegelisahan, kebosanan),

akibat perilaku (emositidak stabil), akibat kognitif (kurang konsentrasi, kurang

bisa mengambil keputusan), akibat fisiologis (naiknya tekanan darah), serta akibat

keorganisasian (menyebabkan kinerja menjadi rendah).

(41)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Survei (Survey Research) yaitu suatu jenis penelitian yang dilakukan untuk memperoleh fakta – fakta dari keadaan yang ada dan mencari keterangan secara sistematis dan faktual berdasarkan observasi secara langsung dan mengumpulkan data aktual lapangan (Sinulingga, 2013).

4.2. Objek Penelitian

Objek yang diteliti pada penelitian ini adalah mengenai beban kerja mental yang diterima oleh pekerja di lantai produksi pengolahan minyak kelapa sawit/Crude Palm Oil (CPO) PT. Bakrie Sumatera Plantations.

4.3. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Observasi berupa pengamatan secara langsung kepada pekerja setiap stasiun pengolahan minyak kelapa sawit/crude palm oil (CPO) dan aktivitas pekerja di lantai produksi.

2. Wawancara dilakukan terhadap pekerja setiap stasiun pengolahan minyak

kelapa sawit/crude palm oil (CPO) pada saat pekerja memiliki waktu luang

(42)

3. Identifikasi beban kerja mental menggunakan kuesioner Subjective Workload Assessment Technique (SWAT).

4. Melakukan Focus Group Discussion (FGD)

4.4. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kartu SWAT, digunakan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi beban kerja mental.

2. Kuesioner SWAT, digunakan untuk mengukur beban kerja mental.

3. Microsoft Word, digunakan untuk menulis laporan penelitian.

4. Microsoft excel, digunakan untuk mengolah data penelitian.

4.5. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Melakukan observasi lapangan berupa pengamatan langsung terhadap pekerja dan aktivitas yang terjadi di lantai produksi.

2. Melakukan wawancara kepada pekerja untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai tingkat kenyamanan yang dirasakan pekerja terhadap lingkungan kerjanya.

3. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) terhadap pekerja untuk menggali informasi tentang permasalahan yang terjadi.

4. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) terhadap manajemen untuk

menggali informasi mengenai permasalahan yang dihadapi pihak

manajemen.

(43)

4.6. Metode Pengolahan Data

Pada tahap ini, data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan diolah sesuai dengan teknik analisis data yang digunakan. Dalam penelitian ini ada beberapa teknik analisis data yang digunakan, yaitu:

1. Menghitung beban kerja mental mengunakan metode Subjective Workload

Assessment Technique (SWAT) terhadap masing-masing pekerja dari data

peyusunan kartu SWAT untuk memperoleh prototype pekerja dengan

menghitung nilai koefisien kendall dan koefisien korelasi spearman.

(44)

BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Aktivitas Pekerja Lantai Produksi

Objek penelitian ini adalah pekerja lantai produksi pengolahan minyak kelapa sawit kasar/crude palm oil (CPO). Penelitian diawali dengan memberikan penjelasan kepada pekerja mengenai maksud, tujuan dan cara melakukan pengambilan data. Pekerja diminta untuk melakukan pekerjaan secara normal tanpa ada perubahan apapun dalam kegiatan proses kerjanya.

Pekerja di lantai produksi berjumlah 25 orang yang dibagi menjadi 7 stasiun kerja. Aktivitas pekerja pengolahan minyak kelapa sawit kasar/crude palm oil (CPO) adalah sebagai berikut:

1. Stasiun loading ramp

Stasiun loading ramp adalah awal dari proses pengolahan minyak kelapa sawit kasar/crude palm oil (CPO).

2. Stasiun sterilizer

Pekerja stasiun sterilizer bertugas mengontrol TBS yang akan direbus di dalam bejana perebusan..

3. Stasiun thredser

Pekerja stasiun threser betugas mengendalikan dan mengontrol TBS saat dilakukan perontokan berondolan dengan tandan buah.

4. Stasiun pressing

(45)

Pekerja stasiun pressing betugas mengontrol TBS saat dilakukan pemisahan daging buah dengan bijinya dan pengepresan daging buah.

5. Stasiun klarifikasi

Stasiun klarifikasi betugas mengendalikan dan mengontrol minyak saat dilakukan proses penyaringan agar bebas dari kotoran.

6. Stasiun kernel

Stasiun kernel yang bertugas mengendalikan dan mengontrol biji buah saat dilakukan pemisahan cangkang dengan inti.

7. Stasiun boiler

Stasiun boiler merupakan stasiun terakhir di lantai produksi yang bertugas mengontrol bahan bakar boiler agar tetap tersedia bila diperlukan.

5.2. Pengumpulan Data Beban Kerja Mental

5.2.1. Kombinasi Kartu SWAT Menurut Persepsi Pekerja

Beban kerja mental diperoleh menggunakan kuesioner Subjective Workload Assessment Technique (SWAT) dan wawancara. Hal ini dilakukan

untuk melihat keluhan beban kerja mental pada tiap-tiap stasiun lantai produksi.

Langkah pertama yang dilakukan untuk melihat beban kerja mental adalah tahap

penskalaan (scale development), pada tahap penskalaan dilakukan penyusunan

kombinasi kartu SWAT yang berjumlah 27 buah.

(46)

5.3. Pengolahan Data Beban Kerja Mental 5.3.1. Tahap Penskalaan (Scale Development)

Langkah awal pada tahap penskalaan (Scale Development) adalah pengolahan data kelompok dengan melakukan perhitungan koefisien Kendall untuk mengetahui apakah skala yang digunakan mewakili data kelompok.

5.3.2. Tahap Penilaian (Event Scoring)

Pengumpulan data tahap penilaian (Event Scoring) didapat dari kuesioner

beban kerja. Setiap pekerja memberikan nilai terhadap aktivitas kerja yang

dilakukan dengan menggunakan rating 1 untuk rendah, 2 untuk sedang dan 3

untuk tinggi bagi setiap faktor yang ada.

(47)

BAB VI

ANALISA PEMECAHAN MASALAH

6.1. Analisis Subjective Workload Assesment Technique (SWAT) 6.1.1. Scalling Solution (Solusi Penskalaan)

Group Scalling Solution merupakan metode yang tepat untuk

menghasilkan skala SWAT bagi kelompok responden/pekerja pada penelitian ini.

Berdasarkan hasil nilai kepentingan untuk setiap faktor dari pengolahan data.

Berikut merupakan nilai persentase untuk setiap faktor.

Hasil. menunjukkan bahwa faktor yang memberikan kontribusi paling besar dalam beban kerja kognitif adalah beberapa faktor yang ada di lantai produksi.

6.2. Perencanaan Perbaikan

Berdasarkan hasil analisa secara kuantitatif dan kualitatif didapatkan beberapa kelemahan yang menyebabkan adanya beban kerja mental. Kelemahan kondisi aktual dapat dilihat dari hasil perhitungan beban kerja mental berdasarkan SWAT.

6.2.1 Focus Group Discusion

Perencanaan perbaikan dilakukan dengan melibatkan pekerja dan

manajemen dengan metode diskusi. Metode diskusi yang dipilih adalah Focus

(48)

Group Discusion (FGD). Tahapan Focus Group Discusion terhadap pekerja dan

manajemen bertujuan untuk mendapatkan solusi yang terbaik.

(49)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Hasil dari metode SWAT Faktor stres merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap keadaan beban kerja mental.

2. Beban kerja mental berdasarkan metode SWAT, diperoleh faktor yang signifikan di alami pekerja di lantai produksi. Adapun usulan yang dapat diberikan yaitu melakukan olahraga setiap minggu agar badan tetap sehat dan tidak mudah lemas karena usaha/konsentrasi yang berlebih. Kemudian adanya tambahan bonus/insentif kepada pekerja.

7.2. Saran

Adapun saran yang diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pabrik Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk sebaiknya lebih memperhatikan beban kerja mental pekerja di lantai produksi

2. Pabrik Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk sebaiknya

sebaiknya lebih memperhatikan sistem kerja di lantai produksi.

(50)

DAFTAR PUSTAKA

Aznam, dkk. 2017. Ergonomi Partisipatif Untuk Mengurangi Potensi Terjadinya Work-Related Musculoskeletal Disorders. Jakarta : Universitas Trisakti.

Akhmad, Kholid, dkk. 2014. Evaluasi Beban Kerja Mental Dengan Subjective Workload Assessment Technique (SWAT) Di PT. Air Mancur. Surakarta:

Universitas Muhammadiya Surakarta.

Diniaty, Dewi, dkk. 2018. Analisis Beban Kerja Mental Operator Lantai Produksi Pabrik Kelapa Sawit dengan Metode NASA-TLX di PT. Bina Pratama Sakato Jaya, Dharmasraya. Riau : UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Hendrick, Hal W, dkk. 2002. Macroergonomi: Theory, Method, and Application.

Lawrence Erlbaum Associates, America.

Indrizal, Edi. 2014. Focus Group Discussion (FGD). Padang : Universitas Andalas.

Mesra, T, dkk. 2017. Evaluasi Shift Kerja dan Penentuan Waktu Standar PT X Berdasarkan Beban Kerja. Padang : Universitas Andalas.

Magda, dkk. 2015. Analisis Beban Kerja Mental Pilot Dalam Pelaksanaan Operasional Penerbangan Dengan Menggunakan Metode Subjective Workload Assessment Technique (SWAT). Yogyakarta : Universitas

Gadjah Mada.

Noor, Nasyadizi Nilamsar, dkk. 2016. Pengaruh Stres Kerja Dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan PT. Jasaraharja Cabang Jawa Timur Di Surabaya). Malang : Universitas Brawijaya.

Puteri, Renty Anugerah, dkk. 2014. Analisis Beban Kerja Dengan Menggunakan

(51)

Metode CVL dan NASA-TLX di PT. ABC. Jakarta : Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Sinulingga, Sukaria. 2013. Metode Penelitian. Medan: USU Press

Salsa, K., dkk. 2018. Intervensi Ergonomi untuk Menurunkan Beban Kerja pada Operator Lantai Produksi Bisnis South Copper Rod. Jakarta : Universitas Trisakti.

Sabrini, Ainul, dkk. 2013. Pengukuran Beban Kerja Karyawan Dengan Menggunakan Metode SWAT (Subjective Workload Assessment Technique) Dan Work Sampling di PT. XYZ. Medan : Universitas

Sumatera Utara.

Tarwaka, Solichul HA Bakri, 2004. Lilis Sudiajeng. Ergonomi untuk keselamatan, kesehatan kerja dan produktivitas. Surakarta: Universitas Brawijaya Press.

Wignjosoebroto, Sritomo. 2008. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu. Guna Widya.

Jakarta

Gambar

Gambar 2.2. Struktur organisasi Palm Oil Mill PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Dari bentuk biner diubah kembali ke bentuk desimal oleh IC CA3161E yang merupakan sebuah IC Binary Coded Decimal (BCD) dan hasilnya dikeluarkan ke tiga seven

Sedangkan kelainan mikrodelesi atau mikroduplikasi yang berukuran kurang dari 4 Mb tidak akan tampak dalam pemeriksaan kromosom konvesional sehingga akan menampakan kariotip normal

في و ةقرفلا ةيبيرجتلا تادرفم باعيتسا في ةديزل سلف ةقاطب مادختساب ميلعتلا ءاطعاب ةقرقلا في و ذيملاتل ةطباضلا

Banyak penelitian yang meneliti tentang senam aerobik, tari modern atau tari tradisonal lain terhadap penurunan berat badan dan kebugaran jasmani, tetapi masih

Pemantapan mutu (quality assurance) adalah keseluruhan proses atau semua tindakan yang dilakukan untuk menjamin ketepatan dan ketelitian hasil

Fraksi-fraksi yang menunjukkan kromatogam yang sama pada Gambar 2 digabung hingga diperoleh tujuh fraksi gabungan, kemudian fraksi gabungan tersebut diuji dengan

Berdasarkan paparan permasalahan yang terjadi di SMP Negeri 21 Surabaya maka dilakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan media untuk meningkatkan pemahaman