SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT PENGGUNAAN
KONTRASEPSI DENGAN USIA MENOPAUSE DI POSYANDU LANSIA KELOMPOK MONALISA KELURAHAN SITI REJO
III KECAMATAN MEDAN AMPLAS
OLEH :
METIA N SITUMEANG 130100191
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT PENGGUNAAN
KONTRASEPSI DENGAN USIA MENOPAUSE DI POSYANDU LANSIA KELOMPOK MONALISA KELURAHAN SITI REJO
III KECAMATAN MEDAN AMPLAS
SKRIPSI
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran
OLEH :
METIA N SITUMEANG 130100191
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
ABSTRAK
Menopause didefinisikan secara klinis sebagai waktu dimana seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama satu tahun. Usia menopause di Indonesia bervariasi antara 45-50 tahun. Usia <40 tahun disebut sebagai premature menopause dan usia >53 tahun disebut dengan menopause terlambat.
Salah satu faktor yang mempengaruhi usia menopause adalah pemakaian kontrasepsi. Kontrasepsi dalam hal ini yaitu kontrasepsi hormonal. Hal ini dikarenakan cara kerja dari kontrasepsi hormonal yang menekan kerja ovarium atau indung telur sehingga bisa berpengaruh terhadap lamanya seorang wanita memasuki usia menopause. Menurut Dini Kasdu, melihat cara kerja dari kontrasepsi hormonal maka akan menyebabkan lebih lama atau lebih tua untuk memasuki usia menopause.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause. Desain penelitian ini adalah studi analitik dengan metode cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua wanita menopause usia 45-60 tahun yang tercatat di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa di Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
Sampel penelitian berjumlah 75 orang yang dikumpulkan dengan menggunakan metode total sampling. Data hasil penelitian diolah menggunakan uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square dengan nilai p ≤ 0,05 untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause dan untuk mengetahui hubungan tersebut signifikan atau tidak.
Dari hasil uji hipotesis diperoleh nilai p Value 0,000, karena nilai p < 0,05 ini berarti ada hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause.
Kata Kunci : Menopause, Kontrasepsi Hormonal
ABSTRACT
Menopause was defined clinically as the time when a woman did not menstruate for a year. The age of menopause in Indonesia vary between 45-50 years old. Age <40 years is called premature menopause and age >53 years called late menopause. One of the factors that influenced the age of menopause was the use of contraception. Contraception in this case was a hormonal contraceptive. This was caused the working of hormonal contraceptive suppress the ovaries that could affect the length of a woman enters menopause. According Dini Kasdu, by observing the working of hormonal contraception, it would cause longer or older to enter the age of menopause.
The purpose of this study was to determine the relationship between history of contraceptive use with menopause. The research design was analytic study with cross sectional method. The population of the study was all postmenopausal women aged 45-60 years were written in Posyandu Lansia, Group Monalisa in Siti Rejo district III, sub district of Medan Amplas. These samples of the research included 75 people who collected by using total sampling method. The result of the study was processed using statistical test by using Chi Square test with p ≤ 0.05 to determine whether there is a relationship between a history of contraceptive use by age of menopause and to investigate the relationship is significant or not.
From the results of the hypothesis test obtained p Value 0,000, for a value of p <0.05 means that there is a relationship between a history of contraceptive use with menopause.
Keywords: Menopause, Hormonal Contraception
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas petunjuk ilmu yang dikaruniakan-Nya, hasil laporan penelitian berjudul Hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas ini dapat diselesaikan. Skripsi ini dapat disusun sebagai tugas akhir serta sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Puji Tuhan laporan hasil penelitian ini bisa diselesaikan atas dukungan dari banyak pihak, kepada mereka penulis mengucapkan terima kasih sedalam- dalamnya, diantaranya:
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Mohd. Rhiza Z. Tala, M.Ked(OG), Sp.OG(K) dan dr. Irina Kemala Nasution, Sp.S, selaku dosen pembimbing penulis yang telah memberikan bimbingan, ide, koreksi dan masukannya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik
3. dr. Andre Pasha Ketaren, Sp.JP dan dr. Sari Harahap, Sp.PD selaku dosen penguji yang telah memberikan berbagai saran dan kritik untuk kesempurnaan skripsi ini.
4. Jamaluddin, SP, selaku Kepala Kelurahan Siti rejo III Kecamatan Medan Amplas yang telah memberi izin melakukan penelitian dilokasi tersebut, beserta ibu wahana selaku Kepala Posyandu Lansia yang turut membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.
5. Keluarga tercinta penulis, khususnya ibu dan ayah, yang telah memberikan segala dukungannya dan kasihnya kepada penulis.
6. Rekan-rekan seperjuangan di FK USU yang telah turut membantu dan memberikan dukungan dalam terlaksananya penelitian ini.
Penulis meyakini bahwa hasil laporan penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan guna proses penyempurnaannya. Semoga karya tulis ini pada akhirnya dapat turut berkonstribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang kesehatan dan pihak terkait.
Medan, Desember 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN...……….……….i
ABSTRAK...………...ii
ABSTRACT...………..………...iii
KATA PENGANTAR……….………...iv
DAFTAR ISI..………...v
DAFTAR TABEL……..………..……….……...…vi
DAFTAR GAMBAR.……….vii
DAFTAR SINGKATAN...viii
DAFTAR LAMPIRAN………..…...ix
BAB 1 PENDAHULUAN ... ...1
1.1. LatarBelakang ... ...1
1.2. RumusanMasalah ... ...3
1.3. TujuanPenelitian ... ...3
1.4. ManfaatPenelitian ... ...4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA………..………....5
2.1. Menopause ... ...5
2.1.1 Defenisi Menopause... ... ...5
2.2. Kontrasepsi ... ...6
2.3. Faktor-Faktor yang MempengaruhiMenopause…………...8
2.4. Fisiologi Menopause………...10
2.5. Gejala Menopause………...10
2.6. Hubungan Kontrasepsi dengan Kejadian Menopause………...14
BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN……….…...16
3.1. Kerangka Teori Penelitian…...16
3.2. Kerangka Konsep Penelitian ...16
3.3. Hipotesis Penelitian ...17
BAB 4 METODE PENELITIAN………....18
4.1. Jenis Penelitian ... .18
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... .18
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... .18
4.4. Teknik Pengumpulan Data ... .19
4.5. Metode Analisis Data... .20
4.6. Defenisi Operasional... .20
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………...……22
5.1. Hasil Penelitian………...22
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian……….22
5.1.2. Karakteristik Responden……….……….22
5.1.3. Hasil Analisis Data………...………...24
5.2. Pembahasan………28
BAB 6KESIMPULAN DAN SARAN………..……….…...31
6.1. Kesimpulan……….31
6.2. Saran………...………31
DAFTAR PUSTAKA...33
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel 4.1. Definisi Operasional Penelitian…...………....19
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Umur Responden...22
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi tingkat pendidikan responden...23
Tabel 5.3 Distribusi frekuensi pekerjaan responden………...…..23
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Penggunaan Kontrasepsi di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas……….…….24
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Lama Penggunaan Kontrasepsi di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas………..…….25
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Usia Menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas………..26
Tabel 5.7 Hubungan kontrasepsi dengan Usia Menopause………..27
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar 3.1. Kerangka teori………...15
Gambar 3.2. Kerangka konsep………15
DAFTAR SINGKATAN
WHO : World Health Organization
UHH : Umur Harapan Hidup
FSH : Follicle-Stimulating-Hormone
LH : Luteinizing-Hormone
BKKBN : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
KB : Keluarga Berencana
AKBK : Alat Kontrasepsi Bawah Kulit AKDR : Alat Kontrasepsi Dalam Rahim IUD : Intra Uterine Device
AMH : Anti-Mullerian Hormone
CYP1A2 : Cytokrom P450,Family 1,Subfamily A, Polypeptide 2 IMT : Indeks Massa Tubuh
pH : Potential of Hydrogen ISK : Infeksi Saluran Kemih
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup Peneliti Lampiran 2 Kuesioner Penelitian
Lampiran 3 Lembar Penjelasan Lampiran 4 Lembar Persetujuan Lampiran 5 Ethical Clearance Lampiran 6 Surat Izin Penelitian
Lampiran 7 Surat Pernyataan Selesai Penelitian Lampiran 8 Data Induk Penelitian
Lampiran 9 Hasil Uji Statistik
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menopause merupakan proses alami yang dialami setiap wanita.
Menopause adalah kejadian dimana seorang wanita mengalami perdarahan haid terakhir.1 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 75% wanita yang mengalami menopause merasakan menopause merupakan masalah atau gangguan, sedangkan 25% lainnya tidak mempermasalahkannya.2
Data organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pada tahun 2007 menunjukkan setiap tahun sekitar 25 juta wanita diseluruh dunia diperkirakan mengalami menopause. Asia menjadi wilayah dengan jumlah perempuan bergejala awal menopause tertinggi didunia. Saat ini umur harapan hidup (UHH) perempuan Indonesia adalah 67 tahun.3
Menurut Depkes RI tahun 2005, diperkirakan penduduk Indonesia pada tahun 2020 akan mencapai 262,6 juta jiwa dengan jumlah wanita yang hidup dalam usia menopause sekitar 30,3 juta jiwa dengan usia rata-rata menopause 49 tahun.4
Data badan pusat statistik menunjukkan jumlah penduduk lanjut usia di atas 60 tahun di provinsi Sumatera Utara mengalami peningkatan dari sebesar 554.761 jiwa (4,6%) pada tahun 2005 meningkat menjadi sebesar 765.882 jiwa (5,9%) pada tahun 2010. Menurut badan pusat statistik kota Medan berdasarkan sensus penduduk 2010, jumlah penduduk lanjut usia di kota Medan mencapai 117.216 orang (5,59%) yang meningkat jumlahnya dari tahun 2005 sebesar 77.837 orang (3,85%).5
Ketika seorang wanita memasuki usia menopause, kadar estrogen dan progesterone turun dengan dramatis karena ovarium berhenti merespon follicle- stimulating-hormone (FSH) dan luteinizing-hormone (LH) yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis yang ada di otak. Sebagai usaha agar ovarium dapat berfungsi dengan baik, Otak sebenarnya telah mengeluarkan FSH dan LH lebih banyak lagi.
Namun hal itu tidak akan berpengaruh karena kedua ovarium tetap tidak dapat
berfungsi dengan normal. Akan tetapi, kecenderungan otak untuk memproduksi lebih banyak FSH yang tinggi dapat dideteksi dalam darah atau urine dan dapat digunakan sebagai tes sederhana untuk mendeteksi menopause.6
Ada beberapa faktor yang memengaruhi usia menopause wanita, yaitu usia waktu mendapat haid pertama kali (menarche), status pekerjaan, jumlah paritas, merokok, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, penyakit.7,8
Berdasarkan UU RI nomor 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga, keluarga berencana adalah upaya untuk mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.9
Berdasarkan data BKKBN menunjukkan pada tahun 2014 peserta KB aktif untuk provinsi Sumatera Utara mencapai 1.525.388 peserta. Dengan penggunaan KB IUD sebesar 165.584 (10,86%), MOW sebesar 107.242 (7,03%), MOP sebesar 13.297 (0,87%), implant sebesar 201.913 (13,24%), suntikan sebesar 475.944 (31,20%), pil sebesar 445.137 (29,18%), dan kondom sebesar 116.271 (7,62%).10
Berdasarkan teori kasdu (2002) yang menyatakan pemakaian kontrasepsi khususnya kontrasepsi hormonal pada wanita yang menggunakannya akan lebih lama atau lebih tua memasuki usia menopause. Ha ini dapat terjadi karena cara kerja kontrasepsi yang menekan fungsi indung telur sehingga tidak dapat memprodusi sel telur.7 Oleh karena itu peneliti tertarik meneliti hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause pada wanita di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa di Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimana hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas ?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
1.3.2. Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui gambaran usia menopause pada wanita di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
2. Mengetahui riwayat jenis kontrasepsi yang digunakan pada wanita di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
3. Mengetahui riwayat lama penggunaan berdasarkan jenis kontrasepsi pada wanita di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
1.4. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan sumber informasi bagi instansi kesehatan khususnya di Dinas kesehatan kota Medan dalam menyusun dan menentukan kebijakan pembangunan kesehatan terutama dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan pada usia menopause.
2. Manfaat Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai informasi mengenai pengaruh penggunaan kontrasepsi terhadap usia menopause.
3. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan atau referensi untuk penelitian selanjutnya.
4. Manfaat Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti dalam memperluas wawasan mengenai hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Menopause
2.1.1. Definisi Menopause
Menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti. Men dan pauseis adalah kata yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan berhentinya haid. Menurut kepustakaan abad ke-17 dan ke-18, menopause dianggap suatu bencana dan malapetaka, sedangkan wanita post- menopause dianggap tidak berguna dan tidak menarik lagi.7
Kata menopause yang berasal dari dua kata yunani yang berarti “bulan”
dan “penghentian sementara”, yang secara linguistik lebih tepat disebut menocease. Secara medis istilah menopause berarti menocease, karena berdasarkan definisinya menopause itu berarti berhentinya masa menstruasi (bukan istirahat).4
Menurut world Heatlh Organization (WHO), menopause adalah pemberhentian siklus menstruasi secara permanen yang disebakan oleh hilangnya aktivitas folikel ovarium yang dinyatakan apabila mengalami amenorrhea (tidak menstruasi) selama 12 bulan.11
Dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.O.G, menyebutkan bahwa menopause didefinisikan secara klinis sebagai waktu dimana seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama satu tahun yang diawali dengan tidak teraturnya periode menstruasi dan diikuti dengan berhentinya periode menstruasi. Menopause merupakan fase dalam kehidupan dimana seorang wanita ditandai dengan berhentinya masa subur. Usia menopause di Indonesia bervariasi antara 45-50 tahun. Namun proses perubahan menuju menopause sudah dimulai sejak usia 40 tahun. Masa inilah yang dikenal sebagai masa pra-menopause.6 Premature menopause merupakan menopause yang terjadi pada usia <40 tahun dan menopause terlambat terjadi pada usia >53 tahun.11
1. Natural Menopause
Natural Menopause merupakan sebuah proses alamiah dari berhentinya periode menstruasi. Proses tersebut biasa terjadi pada wanita berusia antara 48-55 tahun sebagai akibat tidak adanya hormon yang dihasilkan oleh ovarium, dengan kata lain, ovarium sudah tidak lagi memproduksi hormone.11
2. Induced Menopause
Induced menopause terjadi ketika seseorang berhenti menstruasi diakibatkan karena operasi pengangkatan ovarium (hysterectomy) atau pemberhentian fungsi ovarium akibat kemoterapi, radiasi, terapi obat, atau proses pengobatan lainnya. Induced menopause dapat terjadi pada usia kapan saja karena merupakan hasil dari sebuah kondisi fisik yang tidak diharapkan.11
2.2. Kontrasepsi
Pada penelitian kali ini beberapajenis kontrasepsi yang akan dibahas, yaitu:
1. Pil KB, pil yang diminum secara teratur setiap hari untuk mencegah terjadinya kehamilan. Jenis pil kontrasepsi antara lain : pil KB kombinasi (kontrasepsi hormonal yang memakai gabungan estrogen dan progesteron), pil KB sekuensial (juga memakai gabungan estrogen dan progesteron, hanya pada awal pemakaiannya diberikan dulu estrogen kemudian diikuti dengan pemberian estrogen dan progesteron) dan mini pil (pil yang hanya menggunakan hormon progesteron dalam dosis rendah, umumnya digunakan pada wanita yang tidak dapat menerima estrogen, misalnya wanita yang sedang menyusui).12
2. Suntikan KB adalah salah satu cara pencegahan kehamilan dengan jalan menyuntikkan cairan tertentu kedalam tubuh secara teratur, misalnya satu, tiga atau enam bulan sekali. Suntikan ini hanya mengandung komponen progesteron.12
3. Implant/ KB susuk/ Norplant/ Alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung levanorgestrel yang dibungkus dalam kapsul silastic-silicone dan disusukkan di bawah kulit.
Jumlah kapsul yang disusukkan sebanyak 6 kapsul dan masing-masing panjangnya 34 mm.13
4. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine Device (IUD) AKDR merupakan alat kotrasepsi jangka panjang yang sangat efektif dan reversibel. Setelah dilepaskan, fertilitas wanita akan kembali normal.14 Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR atau IUD belum diketahui dengan pasti. Kini pendapat yang terbanyak ialah bahwa IUD dalam kavum uteri menimbulkan reaksi peradangan endometrium yang disertai dengan sebukan leukosit yang dapat menghancurkan blastokista atau sperma. Pada pemeriksaan cairan uterus pada pemakai IUD seringkali dijumpa pula sel-sel makrofag (fagosit) yang mengandung spermatozoa.15 Pemakaian IUD menimbulkan perubahan pada sifat serta isi cairan uterus yang menyebabkan blastokista tidak dapat hidup dalam uterus, walaupun sebelumnya terjadi nidasi. Penelitian lain menemukan sering adanya kontraksi uterus pada pemakai IUD, yang dapat menghalangi nidasi.
Diduga disebabkan oleh meningkatnya kadar prostaglandin dalam uterus pada perempuan tersebut. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan AKDR atau IUD mempengaruhi usia menopause seorang wanita.15
2.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menopause Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi menopauseadalah:
2.3.1. Usia Menarche
Wanita yang mengalami menarche pada usia yang lebih cepat memiliki jumlah Anti-Mullerian Hormone (AMH) yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang mengalami menarche pada usia yang lebih lambat. AMH disekresikan oleh sel-sel granulose dalam pertumbuhan folikel ovarium primer, sekunder dan antral, dengan sekresi tertinggi terdapat pada tahap sekunder dan
antral, kemudian berakhir dengan pertumbuhan folikel lanjut. Tingkat AMH rendah pada saat lahir, meningkat pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada saat remaja, kemudian menurun secara bertahap berdasarkan usia.11
Namun demikian, hubungan antara usia menopause dengan usia menarche masih tidak konsisten. Hasil penelitian Henderson menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia menarche dengan usia terjadinya menopause.11 Kaczmarek (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa hal ini dapat disebabkan oleh pola hidup pada saat awal kehidupan seseorang yang mempengaruhi fungsi ovarium, seperti pola diet pada saat anak- anak dan remaja, beban kerja, keseimbangan energi dan stress.16
2.3.2. Status pekerjaan
Penelitian di Polandia menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status pekerjaan dengan usia menopause. Hasil tersebut dapat terjadi karena status pekerjaan tidak berhubungan langsung dengan usia menopause, melainkan berhubungan melalui pola gaya hidup dan reproduksi seseorang.16
2.3.3. Jumlah paritas
Penelitian Meschia menyatakan semakin sering melahirkan akan semakin lama wanita tersebut memasuki menopause. Hal ini mungkin disebabkan oleh jumlah cadangan ovarium atau tingkat Anti-Mullerian Hormone pada saat dewasa tinggi. Penelitian Dorjgochoo menyatakan wanita dengan paritas tinggi, memiliki jmlah kumulatif siklus menstruasi yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki anak. Dengan demikian dapat mempengaruhi jumlah cadangan oosit yang lebih banyak dan paparan hormone estrogen yang lebih lama sehingga wanita yang memiliki paritas banyak cenderung akan mengalami menopause pada usia yang lebih lambat.11
2.3.4. Merokok
Hasil penelitian Waylen menyatakan bahwa kadar serum inhibitan B pada wanita perokok semakin kecil dibandingkan dengan bekas perokok dan bukan perokok yang menyebabkan penuaan pada ovarian menjadi lebih cepat.17 Schoenaker dalam penelitiannya menjelaskan bahwa merokok berhubungan dengan produksi hormone dan metabolisme, termasuk ekspresi gencytokrom P450,family 1,subfamily A, polypeptide 2 (CYP1A2) dan pengurangan kadar serum estrogen, meningkatnya konsentrasi 2-hydroxyestrogen dan meningkatnya kuantitas dari androgen. Semua itu dapat berpengaruh terhadap efek anti-estrogen yang dapat menyebabkan menopause menjadi lebih cepat.18
2.3.5. Penggunaan Alat Kontrasepsi
Pemakaian kontrasepsi, khususnya kontrasepsi hormonal akan lebih lama atau lebih tua memasuki usia menopause. Hal ini karena cara kerja kontrasepsi hormonal yang menekan fungsi indung telur sehingga tidak memproduksi sel telur.7
2.3.6. Penyakit
Beberapa perempuan terkena penyakit tertentu indung telurnya harus diangkat. Begitu indung telur diangkat, perempuan akan kekurangan estrogen karena yang memproduksi estrogen adalah indung telur.8
Penyakit infeksi kelenjar tiroid, kelebihan hormone prolaktin, kelainan pada kelenjar pituitary, penyakit autoimun (tubuh membentuk antibodi yang menyerang ovarium) atau status gizi buruk juga dapat menyebabkan berhentinya haid. Wanita yang memiliki riwayat keluarga menopause dini, mengalami operasi pengangkatan ovarium, menjalani terapi kanker seperti radiasi atau kemoterapi yang merusak ovarium, punya kemungkinan lebih besar mengalami menopause dini.4
2.4. Fisiologi Menopause
Setiap wanita lahir dengan folikel dalam jumlah tertentu yang dapat berkurang jika terjadi ovulasi dan atresia. Ketika jumlah folikel pada seorang wanita menurun, maka estrogen dan progesteron yang diproduksi oleh ovarium akan menurun sebagai respon terhadap follicle-stimulating-hormone (FSH) yang dikeluarkan hipofisis, sampai lama-kelamaan tidak terjadi lonjakan luteinizing- hormone (LH).2
Selama siklus tanpa ovulasi selanjutnya, hipofisis akan meningkatkan produksi FSH sebagai upaya untuk meningkatkan produksi estrogen. Kadar LH juga akan ikut meningkat. Siklus ini dapat memanjang dan haid akan menjadi lebih singkat. Siklus ini akan lebih sering tanpa ovulasi dan tidak teratur, dan ditandai dengan adanya perdarahan per vaginam pada akhir fase luteal yang tidak adekuat atau setelah kadar estradiol mencapai puncak tanpa ovulasi atau terbentuk korpus luteum.Lonjakan estrogen dapat menyebabkan haid yang lebih banyak dan pembesaran fibroid uterus. Hormon-hormon terus berfluktuasi dengan cara ini selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Setelah kurang lebih 400 kali ovulasi, masa ini akan diikuti dengan terjadinya menopause.2
2.5. Gejala Menopause
Setiap wanita akan mengalami gejala menopause yang berbeda-beda dengan tingkat keparahan yang juga berbeda. Saat menopause, terjadi kekurangan hormone estrogen yang menyebabkan beberapa wanita mengalami gejala.
Beberapa gejala akan muncul diawal sekitar usia 40 tahun, kemudian ada yang muncul pada pertengahan dan beberapa muncul pada saat akhir menopause.11 Adapun gejala-gejala menopause, yaitu:
2.5.1.Gejala Afektif
Selama menopause, wanita dapat mengalami penurunan konsentrasi, insomnia, penurunan memori, perubahan mood, dan depresi. Pada masa ini estrogen meningkatkan perfusi serebral dan reseptor estrogen akan ditemukan diberbagai jaringan neuron. Penelitian menunjukan bahwa estrogen memiliki banyak fungsi didalam sistem saraf dan penurunannya dapat menimbulkan efek
yang luas. Estrogen juga berdampak besar bagi daya ingat, pembelajaran, kemampuan memberi perhatian dan emosi. Gejala distress psikologi berkorelasi dengan riwayat distress psikologi dan dengan faktor sosio-ekonomi. Depresi dan gangguan panik yang sudah ada sejak usia sebelum menopause akan menjadi lebih buruk pada saat seorang wanita tersebut memasuki usia menopause.2
2.5.2.Penyakit kardiovaskuler
Penyakit kardiovaskuler termasuk pembunuh nomor satu di Amerika serikat, termasuk kaum wanitanya. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian dan disabilitas di antara wanita menopause. Kadar kolesterol serum total pada wanita akan meningkat pada saat memasuki usia menopause. Kadar trigliserida meningkat, indeks massa tubuh (IMT) meningkat, kadar insulin juga meningkat. Faktor resiko utama untuk penyakit jantung adalah merokok. Selain itu dislipidemia, diabetes mellitus, usia>60 tahun, riwayat penyakit jantung dalam keluarga juga mempengaruhi.2
2.5.3. Sakit kepala
Migrain dapat terjadi lebih jarang pada saat menopause atau bahkan dapat menjadi lebih parah dari usia sebelum menopause.2
2.5.4.Insomnia
Pola tidur yang buruk bisa menjadi tanda adanya penyakit kronis, depresi, atau gangguan tidur serta gangguan pernapasan. Gejala ini juga bisa diakibat oleh salah satu gejala wanita pada saat menopause yaitu berkeringat pada malam hari yang tentunya juga dapat mengganggu tidur.2
2.5.5.Penurunan libido
Gejala menopause yang meliputi ketidaknyamanan urogenital, keletihan, insomnia dan depresi dapat secara sekunder memengaruhi libido. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa menopause dikaitkan dengan penurunan libido, namun seiring pertambahan usia pria dan wanita memerlukan waktu yang lebih lama untuk rangsangan seksualnya.2
2.5.6.Menstruasi tidak teratur
Menstruasi yang tidak teratur akan berlanjut selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Keadaan ini terjadi akibat dari peningkatan produksi FSH oleh hipofisis sebagai upaya untuk meningkatkan estrogen. Kadar LH juga akanikut meningkat. Siklus ini akhirnya memanjang dan haid menjadi lebih ringan. siklus menjadi lebih sering tanpa ovulasi dan tidak teratur, dengan perdarahan pervaginam terjadi pada akhir fase luteal yang tidak adekuat atau setelah kadar estradiol mencapai puncak tanpa ovulasi atau terbentuk korpus luteum.2
2.5.7.Osteoporosis
Osteoporosis mencapai angka sekitar 3% selama 5 tahun pertama sesudah memasuki usia menopause dan 1% diantaranya terjadi pada tahun berikutnya. Osteoporosis ditetapkan sebagai diagnosis jika densitas mineral tulang berkurang hingga <2,5 standar deviasi dibawah nilai puncak pada dewasa muda.
Sekitar 40% wanita pascamenopause akan mengalami fraktur akibat osteoporosis.
Fraktur panggul sering terjadi 15-25 tahun setelah memasuki masa menopause dan 30% angka mortalitas menyertai fraktur tersebut dalam tahun pertama.
Beberapa faktor yang dapat melindungi wanita dari osteoporosis meliputi peningkatan paritas, laktasi, distribusi lemak tubuh android (rasio panggul ke-paha lebih besar) dan tulang yang besar dan padat pada masa dewasa muda.2
2.5.8.Perubahan kulit
Reseptor estrogen terdapat diepidermis dan dermis. Pada wanita menopause masalah seperti kulit kering, kecenderungan memar meningkat, penyembuhan yang lebih lambat, penurunan aktivitas melanosit, dan kadang- kadang jerawat sering terjadi. Pada wanita menopause terjadi juga peningkatan frekuensi seperti tonjolan kulit (fibrioepiteliomas), keratosis seboroik (papul- papul berbatas tegas, datar, kecoklatan) dan akne rosacea (kondisi peradangan pada kelenjar sebacea). Masalah merokok dan stress dapat memperburuk gejala- gejala ini.2
Selama perimenopause, beberapa wanita mengalami sensasi kulit yang ganjil, seperti perasaan “gatal yang menjalar”. Wanita lain mengalami kekeringan dimukosa oral mereka.2
2.5.9.Gejala pada perkemihan
Apabila estrogen berkurang, aliran darah ke saluran reproduksi dan saluran kemih ikut menurun.Aktivitas mitosis pada epitel berkurang, dan di dinding vagina, produksi sel-sel epitel vagina superfisial secara bertahap berkurang, mengakibatkan dinding vagina memendek, sempit, dan rapuh. pH meningkat jumlah laktobasili menurun, dan ketahanan terhadap vaginitis menurun. Kandung kemih dan jaringan uretra atrofi, mengakibatkan peningkatan jarak antara urin dan saraf sensoris. Peningkatan frekuensi berkemih, disuria, nokturia, dan inkontenensia urgensi dapat timbul sebagai akibatnya.muara uretra dan muara vagina bersama-sama bergerak mendekat dan dengan pH yang lebih mendasar, resiko infeksi saluran kemih (ISK) meningkat.Sintesis kolagen yang juga distimulasi oleh estrogen, menurun. Inkontenensia stress dan prolaps organ pelvis dapat terjadi.2
2.5.10.Perubahan pada vagina
Pada wanita menopause dengan berkurangnya estrogen akan menyebabkan aliran darah ke saluran reproduksi dan saluran kemih ikut menurun.
Pada masa ini terjadi juga penurunan aktivitas mitosis pada epitel, dan di dinding vagina, serta produksi sel-sel epitel vagina superfisial secara bertahap akan berkurang. Keadaan ini juga akan mengakibatkan dinding vagina memendek, sempit, dan rapuh. Terjadi peningkatan pH sehingga jumlah laktobasiliakan menurun, dan ketahanan terhadap vaginitis juga menurun.2
2.5.11.Gejala vasomotor
Gejala vasomotor biasa disebut dengan kemerahan panas (hot flushes) dan keringat malam. Dari suatu penelitian di Amerika, 72% dari wanita yang sudah menopause dilaporkan memiliki gejala vasomotor. Flushes dijelaskan sebagai suatu perasaan panas yang hebat mulai dari dada atas atau leher ke wajah dan kepala. Vasodilatasi terjadi dikulit, bergerak dari suatu bagian tubuh ke tubuh
yang lain, dan dapat disertai oleh palpitasi, vertigo, kelemahan, pengeluaran keringat, dan ansietas. Frekuensinya berkisar dari jarang hingga 10-30 menit.2
2.6. Hubungan antara Penggunaan Kontrasepsi dengan Kejadian Menopause
Salah satu faktor yang mempengaruhi usia menopause adalah pemakaian kontrasepsi. Kontrasepsi dalam hal ini yaitu kontrasepsi hormonal. Hal ini dikarenakan cara kerja dari kontrasepsi hormonal yang menekan kerja ovarium atau indung telur.7 Konsep mekanisme kerja dari kontrasepsi hormonal seperti halnya progesterone dapat menghalangi pengeluaran LH sehingga tidak terjadi ovulasi, mengentalkan lender serviks dan menghalangi migrasi spermatozoa dan menyebabkan situasi endometrim tidak siap menjadi tempat nidasi.19 Menurut Dini Kasdu (2002) melihat cara kerja kontrasepsi khususnya jenis hormonal bisa berpengaruh terhadap lamanya seorang wanita memasuki usia menopause.7
Pada penelitian Fitriyani (2012) menjelaskan bahwa pemakaian kontrasepsi pil (hormonal) yang tinggi dosisnya sangat menekan konsentrasi FSH, karena tinggi dosis estrogen dan progestin. Kontrasepsi pil dosis rendah menekan FSH dengan cara yang lebih moderat. Khusus dalam penggunaan kontrasepsi pil dosis tinggi (≥50µg) paling sedikitnya 3 bulan yang mengandung estrogen dan progesterone mengharapkan penundaan usia menopause. Ditegaskan bahwa penggunaan kontrasepsi pil dosis tinggi menunda usia menopause.1
BAB 3
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1. Kerangka Teori
Gambar 3.1. Kerangka teori
3.2. Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 3.2. Kerangka konsep 3.3. Hipotesis
Ada hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
Perlambatan usia menopause
Penggunaan Kontrasepsi Usia Menopause
Kontrasepsi
Pil Suntik Implan IUD
Mengentalkan lendir serviks, menekan kerja ovarium, menghalangi pengeluaran LH, menghalangi migrasi spermatozoa, meningkatkan kadar prostaglandin
(-) Ovulasi
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan metode cross sectional. Cross sectional merupakan desain penelitian yang dimaksudkan untuk melihat hubungan antara variabel independen (penggunaan kontrasepsi) dengan variabel dependen (usia menopause) pada waktu yang bersamaan.20
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas. Waktu penelitian dilakukan selama 3 bulan (Agustus – Oktober) 2016.
4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua wanita menopause usia 45-60 tahun yang tercatat di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa di Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
4.3.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah semua populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.
4.3.3. Kriteria Inkusi dan Ekslusi 1.Kriteria Inklusi
a) Wanita menopause secara alami b) Usia 45-60 tahun
c) Menggunakan alat kontrasepsi yaitu: Pil, Suntik, Implan dan IUD 2. Kriteria Eklusi
a) Tidak bersedia menjadi responden b) Tidak hadir pada saat penelitian
4.4. Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh secara langsung dari responden dengan melakukan wawancara dan membagikan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu kepada responden, untuk memperoleh data tentang usia menopause, riwayat jenis kontrasepsi yang digunakan, dan lama penggunaan kontrasepsi untuk mengetahui pengaruh riwayat penggunaan kontrasepsi terhadap usia menopause. Jenis data yang diambil adalah data primer. Tahap pengumpulan data antara lain:
1. Mendatangi lokasi penelitian.
2. Menentukan sampel yang akan diwawancarai dengan metode Total Sampling.
3. Mencari responden yang bersedia untuk diwawancarai.
4. Menanyakan kesediaan sampel untuk diwawancarai dan meyakinkan bahwa identitas sampel tidak akan dipublikasikan kepada media apapun atau siapa pun.
5. Bila responden bersedia diwawancarai dilakukan dengan berpedoman pada kuisioner penelitian dengan menyederhanakan bahasa pertanyaan sehingga dapat dimengerti oleh responden.
6. Bila tidak bersedia diwawancarai, mencari responden baru dan kembali ke poin 3.
7. Setelah pertanyaan selesai ditanyakan, maka peneliti mengucapkan terima kasih serta kembali meyakinkan responden bahwa identitas tidak akan dipublikasikan.
8. Kembali ke poin 3 sampai jumlah sampel terpenuhi.
9. Meninggalkan lokasi penelitian.
4.5. Metode Analisis Data
Jenis analisis data yang dilakukan adalah : a. Analisis Univariat
Analisa univariat digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel, yaitu variabel independen (penggunaan kontrasepsi) maupun variabel dependen (usia menopause). Analisis ini berupa distribusi frekuensi dan persentase dari setiap variabel.
b. Analisa Bivariat
Digunakan untuk menjelaskan hipotesis hubungan antara variabel independen (penggunaan kontrasepsi) dengan variabel dependen (usia menopause) melalui uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square dengan nilai p ≤ 0,05 untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause dan untuk mengetahui hubungan tersebut signifikan atau tidak.
4.6. Definisi Operasional
Tabel 4.1. Definisi Operasional Penelitian
Variabel Defenisi Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala ukur Penggunaan
kontrasepsi
Penggunaan kontrasepsi adalah jenis alat
kontrasepsi yang digunakan oleh responden (Pil, Suntik, Implan, IUD)
Wawancara Kuesioner -Hormonal, jika
memakai salah satu jenis
kontrasepsi pil, suntik atau susuk.
-Non hormonal, jika memakai IUD.
Nominal
Variabel Defenisi Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala ukur Usia
menopause
Usia menopause normalnya terjadi pada wanita berusia antara 45- 50 tahun.
Wawancara Kuesioner -Menopuse normal, jika usia
menopause terjadi antara 45- 50 tahun.
-Menopause terlambat, jika terjadi pada usia >
53 tahun.
Nominal
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Pengambilan data penelitian ini dilakukan di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
5.1.2. Karakteristik Responden
Pada penelitian ini, karakteristik responden merupakan semua wanita menopause usia 45-60 tahun yang berjumlah 75 orang di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa di Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
1. Umur
Adapun distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Umur Responden
NO Umur Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 45 2 2,7
2. 46 1 1,3 3. 47 2 2,7 4. 48 3 4,0 5. 50 1 1,3 6. 51 3 4,0 7. 52 1 1,3 8. 53 13 17,3 9. 54 5 6,7 10. 55 5 6,7 11. 56 6 8,0 12. 59 8 10,0 13. 60 25 33,3 Total 75 100
Dari tabel 5.1. diketahui bahwa sebagian besar umur responden berumur 60 tahun, yaitu sebanyak 25 orang (33,3%) dan yang paling sedikit ada 3, yaitu berumur 46 tahun (1,3%), 50 tahun (1,3%) dan 52 tahun (1,3%).
1. Pendidikan Terakhir
Adapun distribusi frekuensi tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden NO Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Sarjana 2 2,7 2. Diploma 14 18,7 3. SLTA/sederajat 29 38,7 4. SLTP/sederajat 18 24,0 5. SD 12 16,0 Total 75 100
Dari tabel 5.2. diketahui bahwa sebagian besar tingkat pendidikan
responden adalah SLTA/sederajat sebanyak 29 orang (38,7%) dan yang paling sedikit adalah Sarjana sebanyak 2 orang (2,7%).
2. Pekerjaan
Adapun distribusi frekuensi pekerjaan responden dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden
NO Pekerjaan Jumlah (orang) Persentase (%) 1. PNS 13 `17,3 2. Wiraswasta 26 34,7 3. Tidak bekerja 36 48,0 Total 75 100
Dari tabel 5.3. diketahui bahwa sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 36 orang (48,0%) dan yang paling sedikit yaitu bekerja sebagai PNS 13 orang (17,3%).
5.1.3. Hasil Analisis Data 1. Analisis Univariat
a. Penggunaan Kontrasepsi
Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Penggunaan Kontrasepsi di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan
Amplas.
NO Pemakaian Kontrasepsi Jumlah (orang) Persentase (%) 1. Hormonal 42 56,0
2. Non-hormonal 33 44,0 Total 75 100
Berdasarkan tabel 5.4. diperoleh data mengenai penggunaan kontrasepsi pada wanita menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas, bahwa sebanyak 42 orang (56,0%) responden memakai metode kontrasepsi hormonal dan sebanyak 33 orang (44,0%) responden yang memakai metode kontrasepsi non hormonal.
b. Lama Penggunaan Berdasarkan Jenis Kontrasepsi
Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Lama Penggunaan Berdasarkan Jenis Kontrasepsi di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti
Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
Lama Penggunaan (tahun) Jenis Kontrasepsi
Hormonal Non-Hormonal Total Σ % Σ % Σ % 1 3 4,0 0 0 3 4,0 2 8 10,7 0 0 8 10,7 3 9 12,0 0 0 9 12,0 4 6 8,0 0 0 6 8,0 5 10 13,3 33 44,0 43 57,3 6 3 4,0 0 0 3 4,0 7 2 2,7 0 0 2 2,7 8 1 1,3 0 0 1 1,3 Total 42 56,0 33 44,0 75 100
Berdasarkan tabel 5.5. diperoleh data mengenai lama penggunaan berdasarkan jenis kontrasepsi pada wanita menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas, bahwa penggunaan kontrasepsi yang paling lama yaitu 8 tahun dan jenis kontrasepsi yang digunakan adalah hormonal, yakni sebanyak 1 orang (1,3%) dan yang paling cepat adalah 1 tahun dan jenis kontrasepsi yang digunakan adalah hormonal dengan jumlah responden 3 orang (4,0%).
c. Usia Menopause
Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Usia Menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas.
NO Umur Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 43 1 1,3
2. 44 1 1,3 3. 45 8 10,7 4. 46 10 13,3 5. 47 5 6,7 6. 48 2 2,7 7. 49 2 2,7 8. 50 5 6,7 1. 51 9 12,0 2. 52 11 14,7 3. 53 7 9,3 4. 54 8 10,7 5. 55 4 5,3 6. 56 2 2,7 Total 75 100
Berdasarkan tabel 5.6. dapat dilihat bahwa usia menopause yang paling cepat Pada wanita di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa di Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas, yaitu usia 43 tahun sebanyak 1 orang (1,3%), yang paling lama yaitu usia 56 tahun sebanyak 2 orang (2,7%).
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat pada penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan variabel independen dan variabel dependen dengan menggunakan uji chi square.
Pada penelitian ini terdapat variabel independen yaitu (penggunaan kontrasepsi) dan variabel dependennya (usia menopause). Hasil perhitungan antara penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa di Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.7. Hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan Usia Menopause
Jenis Kontrasepsi Usia Menopause
Normal Terlambat Total p value Σ % Σ % Σ %
Hormonal 29 38,7 13 17,3 42 56,0
Non-hormonal 32 42,7 1 1,3 33 44,0 0,000 Total 61 81,4 14 18,6 75 100
Dari tabel 5.7 menunjukan bahwa persentase usia menopause normal pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal 38,7% lebih sedikit dibandingankan dengan yang menggunakan kontrasepsi non-hormonal yaitu 42,7%. Adapun wanita yang mengalami menopause terlambat yaitu wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal yakni 17,3%, sedangkan wanita yang menggunakan kontrasepsi non-hormonal yaitu 1,3%. Dari hasil analisis untuk melihat hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause menggunakan uji statistik chi-square pada tingkat kepercayaan 95% dan tingkat kesalahan (α) 5% diperoleh nilai p Value 0,000, karena nilai p < 0,05 ini berarti ada hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan usia menopause.
5.2. Pembahasan
Menopause adalah berhentinya menstruasi yang menetap yang disebabkan karena berhentinya fungsi ovarium, dimulai dengan adanya tanpa perdarahan pervaginam paling sedikit 12 bulan. Menopause adalah masa kehidupan wanita ketika kemampuan poduksinya berhenti. Ovary (kelenjar reproduksi wanita) berhenti berfungsi dan menghasilkan hormon yang lebih sedikit. Menopause dapat dibagi dalam empat jenis yaitu :
a. Menopause Alamiah
Menopause alamiah terjadi secara bertahap, biasanya antara usia empat puluh lima sampai lima puluh tahun. Dalam kebanyakan kasus durasinya bisa mencapai lima sampai sepuluh tahun, meskipun seluruh proses itu kadang-kadang memerlukan waktu tiga belas tahun. Selama itu, menstruasi dapat berhenti selama beberapa bulan dan kemudian kembali, dimana durasi, intensitas, dan alirannya dapat bertambah atau berkurang.
b. Menopause Prematur
Menopause prematur terjadi agak lebih cepat dibanding menopause alamiah. Kira-kira satu di antara seratus wanita menyelesaikan transisi menopause pada usia empat puluh tahun atau lebih muda lagi. Kejadian ini mungkin dipengaruhi oleh adanya penyakit atau pengaruh buruk dari fungsi-fungsi reproduksi yang berkaitan dengan hormon.
c. Menopause Terlambat
Menopause terlambat adalah menopause yang terjadi pada usia 55 tahun ke atas. Salah satu faktor yang memungkinkan seorang wanita akan mengalami keterlambatan menopause adalah apabila memiliki kelebihan berat badan.
Sebagian besar estrogen dibuat didalam endometrium, akan tetapi sejumlah kecil estrogen juga dibuat di bagian tubuh yang lain, termasuk di sel-sel lemak. Apabila seorang wanita mengalami obesitas maka wanita tersebut akan memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi dalam seluruh masa hidupnya.
d. Menopause Buatan
Menopause buatan dapat terjadi secara mendadak, disebabkan karena operasi pengangkatan atau gangguan pada fungsi reproduksi (termasuk pengangkatan indung telur atau gangguan pada aliran darah ke indung telur), oleh radiasi atau kemoterapi, atau oleh pemberian obat-obatan tertentu yang dapat mempercepat menopause atau karena alasan-alasan medis. Bahkan pengikatan tuba telah
terbukti dapat menurunkan kadar progesteron selama paling sedikit satu tahun setelah prosedur dijalankan21.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi usia menopause wanita, yaitu usia waktu mendapat haid pertama kali (menarche), status pekerjaan, jumlah paritas, merokok, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, penyakit.
Penggunaan alat kontrasepsi merupakan salah satu cara dalam mengatur dan mengendalikan kelahiran. Disamping itu penggunaan alat kontrasepsi pada wanita khusunya kontrasepsi hormonal dikatakan akan memasuki usia menopause lebih lama atau lebih tua. Hal ini disebabkan oleh cara kerja alat kontrasepsi yang menekan fungsi indung telur22. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Achie pada tahun 2011, faktor yang terkait dengan siklus ovulasi dinyatakan berhubungan dengan usia saat menopause23. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Larasati dengan metode kualitatif yang menyatakan bahwa ada hubungan antara penggunaan alat kontrasepsi dengan usia menopause24. Penggunaan alat kontrasepsi hormonal selain dapat memperlama datangnya usia menopause tentunya juga dapat menekan gejala yang biasa terjadi pada wanita menopause seperti, resiko osteoporosis, mengurangi kelelahan vasomotorik, meningkatkan kekebalan tulang dan mengurangi angka gejala lainnya yang biasa terjadi pada wanita menopause hingga 10% per tahun25.
Metode kontrasepsi hormonal merupakan salah satu jenis kontrasepsi yang pemakaiannya sangat luas dan meningkat dari waktu ke waktu. Kontrasepsi hormonal berisi kandungan hormon yang memiliki efek termasuk mencengah ovulasi. Kontrasepsi hormonal mengandung kadar hormon yang tinggi, yang akan menghambat lonjakan LH (Luteining Hormon ) secara efektif . Lambat laun hal ini akan memiliki kaitan dengan usia menopause26.
Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square pada penelitian ini menunjukan adanya hubungan antara riwayat penggunaan alat kontrasepsi khususnya kontrasepsi hormonal dengan usia menopause. Diasumsikan bahwa penggunaan alat kontrasepsi hormonal berperan dalam menekan fungsi ovarium untuk melakukan ovulasi sehingga dapat memperlambat usia menopause. Pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara penggunaan alat kontrasepsi hormonal dengan usia menopause ( p=0,000).
Pada penelitian ini, dilakukan pengambilan data dengan diperoleh secara langsung dari responden dengan melakukan wawancara dan membagikan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu kepada responden, untuk memperoleh data tentang usia menopause, riwayat jenis kontrasepsi yang digunakan, dan lama penggunaan kontrasepsi untuk mengetahui pengaruh riwayat penggunaan kontrasepsi terhadap usia menopause. Karakteristik responden pada penelitian ini memiliki perbedaan yaitu antara usia, tingkat pendidikan dan pekerjaan. Usia responden pada penelitian ini telah ditentukan yaitu mulai dari 45- 60 tahun, sedangkan tingkat pendidikan responden juga bervariasi mulai dari tingkat pendidikan Sekolah Dasar sampai tingkat Sarjana, sama halnya dengan pekerjaan setiap responden juga cukup bervariasi.
Meskipun pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara riwayat penggunaan alat kontrasepsi khususnya kontrasepsi hormonal dengan usia menopause, dimana penggunaan alat kontrasepsi hormonal dapat menjadi faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perlambatan usia menopause, namun sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai riwayat penggunaan alat kontrasepsi hormonal dengan usia menopause sehingga dapat ditemukan hasil yang lebih baik dalam hal penelitian.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Gambaran usia menopause pada responden penelitian yaitu dimulai dari usia 43-56 tahun dan yang paling banyak adalah usia 52 tahun yaitu 11 orang (14,7%).
2. Riwayat jenis kontrasepsi yang digunakan oleh responden penelitian ada 2 jenis, yaitu hormonal dan non-hormonal. Responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal yaitu 42 orang (56,0%), sedangkan responden yang menggunakan kontrasepsi non-hormonal sebanyak 33 orang (44,0%).
3. Riwayat lama penggunaan kontrasepsi pada responden penelitian, yaitu yang paling lama adalah 8 tahun sebanyak 1 orang (1,3%) dan yang paling cepat adalah 1 tahun dengan jumlah responden 3 orang (4,0%).
4. Adanya hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi khususnya kontrasepsi hormonal dengan usia menopause, dimana penggunaan alat kontrasepsi hormonal berperan dalam menekan fungsi ovarium untuk melakukan ovulasi sehingga dapat memperlambat usia menopause baik dianalisis dengan uji Chi Square ( p=0,000).
6.2. Saran
1. Bagi Masyarakat dan Pelajar
Bagi masyarakat khususnya bagi pelajar dengan mengetahui bahwa adanya hubungan antara riwayat penggunaan alat kontrasepsi khususnya kontrasepsi hormonal dengan usia menopause yang artinya penggunaan alat kontrasepsi hormonal dapat menjadi faktor resiko terjadinya perlambatan usia menopause, maka oleh karena itu diperlukan adanya edukasi bagi masyarakat khususnya pelajar mengenai hal tersebut.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Dengan mengetahui adanya hubungan antara riwayat penggunaan alat kontrasepsi dengan usia menopause disarankan agar tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat dari alat kontrasepsi, khususnya kontrasepsi hormonal yang bermanfaat selain untuk menunda kehamilan tetapi juga dapat mencegah terjadinya menopause dini sehingga dapat menghindari gejala atau penyakit yang sering dialami wanita menopause. Bagi pihak posyandu lansia agar lebih ditingkatkan sosialisasi tentang faktor yang berhubungan dengan usia menopause, baik melalui konseling ataupun penyuluhan.
3. Bagi Penelitian
Diharapkan untuk penelitian berikutnya, sebaiknya lebih banyak lagi dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara riwayat penggunaan alat kontrasepsi dengan usia menopause dikarenakan penelitian tentang hal ini masih sedikit dilakukan padahal penggunaan alat kontrasepsi khususnya kontrasepsi hormonal sangat banyak digunakan di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Fitriyani. Hubungan penggunaan kontrasepsi pil terhadap usia menopause di Kota Depok tahun 2012. Universitas Indonesia.2013; h.11-47
2. Sinclair C. Buku Saku Kebidanan. Cetaka Pertama. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2009; h. 704-723
3. Kapitanhitu N. Faktor yang berhubungan dengan kejadian menopause di posyandu lansia puskesmas Rajali Kota Ambon Tahun 2014; h. 2
4. Safitri A. Beberapa faktor yang mempengaruhi menopause pada wanita di Kelurahan Titi Papan Kota Medan Tahun 2009; h. 3-6
5. Mutiara E. Karakteristik Dan Kebutuhan Penduduk Lanjut Usia Di Kota Medan PSLK Universitas Sumatera Utara. 16-18 Desember 2011; h. 2
6. Northrup C. Bijak di Saat Menopause. Cetakan Pertama, Penerbit Q-Press, Bandung. 2006; h. 13
7. Kasdu D. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Cetakan Pertama, Penerbit Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara, Jakarta. 2002
8. Yatim F. Haid Tidak Wajar dan Menopause. Edisi Pertama. Penerbit Pustaka Populer Obor, Jakarta. 2001
9. UU RINo 52 TAHUN 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan.
10. BKKBN,2014. Pelayanan Kontrasepsi.
11. Safira A. Faktor-faktor yang berhubungan dengan usia menopause pada wanita di RW 01 Kelurahan Utan Kayu Utara, Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015. 29 September 2015; h. 8-21
12. Sulistyaningrum RC. Hubungan pemakaian kontrasepsi hormonal dengan keluhan perimenopause di Kelurahan SalatigaKecamatan Sidorejo Salatiga.
Universitas Negeri Semarang. 2009;h. 21-22
13. Winkjosastro H, Sarifuddin BA, Rachimhadhi T. Ilmu Kandungan.Cetakan Ketiga. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono, Jakarta. 1999; h. 534-556 14. Medforth J, Battersby S, Evans M, Marsh B, Walker A. Kebidanan oxford.
Edisi Pertama. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2011; h. 503-532
15. Mochamad A, Ali B, R. Prajitno P. Ilmu kandungan. Edisi ketiga.
PenerbitYayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. 2011; h. 451- 452
16. Kaczmarek, Maria. The timing of natural menopause in polan and associated factors. Maturitas 57 (2007); h. 139-153.
17. Waylen, Al, dkk. Effect of cigarette smoking upon reproductive hormones in women of reproductive age: a retrospective analysis. Reproduktive BioMedicine Online (2010); h. 861-865.
18. Schoenaker, Danielle AJM, dkk. Socioeconomic position, lifestyle factors and age at natural menopause: a systematic review and meta-analyses of studies across six continents.International Journal of Epidemiologi, 2014.
19. Manuaba CAI. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan, dan KB. Edisi Pertama.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2010; h. 597-598
20. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi Cetakan Kedua. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Nopember 2012; h. 37-43
21. Baziad, Ali. Menopause dan Andropause. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo, 2003
22. Sibagariang, Eva Elya dkk. Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : CV.
Trans Info Media, 2010
23. Achie, L.N. dkk., Age at Natural Menopause Among Nigerian Women in zaria Nigeria . Asian journal Of Medical Scients 2011 3(8): 15
24. Larasati, Tika. Kualitas Hidup pada Wanita yang Sudah Memasuki Masa Menopause. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma, 2009; vol 1 No.1 : 15-17
25. Eka Chandra herlina. hubungan kontrasepsi hormonal dengn densitas mineral tulang pada wanita menopause dan pasca menopause. Universitas diponegoro, semarang, 2000. Hal 6
26. Gold, E. B., Bombenger, J., Crawford, S., Samuels, S., Grendale, G. A.,H. D., Sioban, S., Joan. Factors associated with age atnatural menopause in multiethnic sample of midlife women, Amrican Journal of Epidemiology, (2001) vol. 153
LAMPIRAN 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama Lengkap : Metia N Situmeang Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, TanggalLahir : Medan, 23 Agustus 1995 Warga Negara : Indonesia
Status : Belum menikah
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jl. Jamin Ginting, Gg. Juhar, No. 6,Medan Nomor Handphone : 082364110223
Email : [email protected]
RiwayatPendidikan :
1. SD Negeri No. 155697 Pasaribu Tobing 2, Sorkam Barat, Tapanuli Tengah Tahun 2001-2007
2. SMP Negeri 1 Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2007- 2010
3. SMA Negeri 1 Sorkam Barat Tahun 2010-2013
4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Program Studi Pendidikan Dokter Tahun 2013-sekarang
Riwayat Pelatihan :
1. Peserta PMB ( Penyambutan Mahasiswa Baru ) FK USU 2013 2. Peserta MMB ( Manajemen Mahasiswa Baru ) FK USU 2013
Riwayat Kepanitiaan :
1. Anggota Retreat Penginjilan USU 2013
2. Anggota Danus Medical Humanity Day FK USU 2014 3. Anggota Bakti Sosial tahun 2015
4. Anggota Danus Bakti Sosial tahun 2016
LAMPIRAN 2
KUESIONER PENELITIAN
Hubungan antara Riwayat Penggunaan Kontrasepsi dengan Usia Menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan Siti Rejo III
Kecamatan Medan Amplas
Tanggal wawancara :………
No. Responden :………
Nama Responden :………
Alamat Responden :………
A. Karakteristik Responden
Nama Responden :……….
Umur Responden :……….
Tanggal Lahir :……….
Pendidikan Terakhir Responden :……….
Pekerjaan Responden :……….
B. Daftar Pertanyaan
1. Apakah sekarang ibu sudah tidak mendapatkan haid lagi?
Ya Tidak
2. Sudah berapa lama ibu tidak mendapatkan haid ?
…....tahun
3. Usia terakhir kali haid benar-benar berhenti ?
……tahun
4. Jenis kontrasepsi apa yang terakhir ibu gunakan sebelum berhenti haid (menopause) ?
Hormonal (Pil, Suntik, Implan) Non-hormonal (IUD)
RiwayatPenggunaanKontrasepsiPil
1. Berapa lama ibu menggunakan kontrasep sipil ?
…....bulan
…....tahun
2. Berapa usia ibu pertama kali menggunakan kontrasep sipil?
…..tahun
3. Berapa usia ibu terakhir kali menggunakan kontrasep sipil?
…....tahun
Riwayat Penggunaan Kontrasepsi Suntik
1. Berapa lama ibu menggunakan kontrasepsi suntik ? ..…..bulan
…....tahun
2. Berapa usia ibu pertama kali menggunakan kontrasepsi suntik?
…....tahun
3. Berapa usia ibu terakhir kali menggunakan kontrasepsi suntik?
…....tahun
RiwayatPenggunaanKontrasepsiImplan/KB Susuk
1. Berapa lama ibu menggunakan kontrasepsi Implan/KB Susuk ?
…....bulan
……tahun
2. Berapa usia ibu pertama kali menggunakan kontrasepsi Implan/KB Susuk?
…...tahun
3. Berapa usia ibu terakhir kali menggunakan kontrasepsi Implan/KB Susuk?
…...tahun
RiwayatPenggunaanKontrasepsi IUD/AKDR/ Spiral 1. Berapa lama ibu menggunakan kontrasepsi IUD/AKDR ?
…....bulan
…....tahun
2. Berapa usia ibu pertama kali menggunakan kontrasepsiI UD/AKDR?
…….tahun
3. Berapa usia ibu terakhir kali menggunakan kontrasepsi IUD/AKDR?
…....tahun
LAMPIRAN 3
LEMBAR PENJELASAN
Salam Sejahtera
Ibu-ibu yang terhormat,
Nama saya Metia N Situmeang, sedang menjalani pendidikan Kedokteran di Program S1 ilmu kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.Saya sedang melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan antara Riwayat Penggunaan Kontrasepsi dengan Usia Menopause di Posyandu Lansia Kelompok Monalisa Kelurahan SitiRejo III Kecamatan Medan Amplas”.
Menurut world Heatlh Organization (WHO), menopause adalah pemberhentian siklus menstruasi secara permanen yang disebakan oleh hilangnya aktivitas folikel ovarium yang dinyatakan apabila mengalami amenorrhea (tidak menstruasi) selama 12 bulan.11
Berdasarkan teori kasdu (2002) yang menyatakan pemakaian kontrasepsi khususnya kontrasepsi hormonal pada wanita yang menggunakannya akan lebih lama atau lebih tua memasuki usia menopause. Ha ini dapat terjadi karena cara kerja kontrasepsi yang menekan fungsi indung telur sehingga tidak dapat memprodusi sel telur.7
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan antara penggunaan kontrasepsi dengan kejadian menopause. Adapun maanfaat penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan sumber informasi bagi instansi kesehatan khususnya di Dinas kesehatan kota Medan dalam menyusun dan menentukan kebijakan pembangunan kesehatan terutama dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan pada usia menopause.
Kami akan melakukan wawancara terstruktur kepada ibu mengenai:
a. Data demografi seperti usia, jenis kelamin, suku, pendidikan, pekerjaan.
b. Penggunaan kontrasepsi adalah jenis alat kontrasepsi yang digunakan oleh responden antara lain, pil, suntik, susuk, spiral.
c. Usia menopause yang terbagi dua antara usia menopause normal, jika usia menopause terjadi antara 45-50 tahun, menopause terlambat, jika terjadi pada usia > 53 tahun.
Wawancara akan kami lakukan sekitar 10 menit. Petugas pewawancara adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara bersama peneliti.
Partisipasi ibu bersifat suka rela dan tanpa paksaan dan dapat mengundurkan diri sewaktu-waktu. Setiap data yang ada dalam penelitian ini akan dirahasiakan dan digunakan untuk kepentingan penelitian. Untuk penelitian ini ibu tidak akan dikenakan biaya apapun. Bila ibu membutuhkan penjelasan, maka dapat menghubungi saya:
Nama : Metia N Situmeang
Alamat : Jl. Jamin ginting, Gg. Juhar no. 6 No. Hp : 082364110223
Terimakasih saya ucapkan kepada ibu yang telah ikut berpartisipasi pada penelitian ini. Keikutsertaan ibu dalam penelitian ini akan menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi ilmu pengetahuan.
Setelah memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini diharapkan ibu bersedia mengisi lembar persetujuan yang telah kami persiapkan.
Medan, 2016 Peneliti
(Metia N Situmeang)