• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN INDEKS SEFALIK DAN INDEKS NASAL ANTARA SUKU BATAK DENGAN SUKU JAWA DI MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERBEDAAN INDEKS SEFALIK DAN INDEKS NASAL ANTARA SUKU BATAK DENGAN SUKU JAWA DI MEDAN"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN INDEKS SEFALIK DAN INDEKS NASAL ANTARA SUKU BATAK DENGAN

SUKU JAWA DI MEDAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

FARADILLA AFIFFAH SHOLEHA HARAHAP 170600031

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Biologi Oral Tahun 2021

Faradilla Afiffah Sholeha Harahap

Perbedaan Indeks Sefalik dan Indeks Nasal antara Suku Batak dengan Suku Jawa di Medan

xi + 45 halaman

Indeks sefalik dan indeks nasal merupakan salah satu metode dalam melakukan antropometri. Antropometri merupakan parameter yang dapat membedakan ras antar bangsa. Ras adalah kelompok manusia yang memiliki ciri- ciri jasmaniah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dan Jawa, serta melihat apakah terdapat hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing-masing suku.

Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik purposive sampling dimana subjek yang diambil memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran dilakukan terhadap 60 mahasiswa USU yang terdiri dari 30 orang suku Batak dan 30 orang suku Jawa.

Indeks sefalik didapatkan dari hasil perbandingan antara lebar kepala dengan

panjang kepala dalam hitungan persen. Indeks nasal didapatkan dari hasil

perbandingan antara lebar hidung dengan tinggi hidung dalam hitungan persen. Uji

yang dilakukan yaitu uji Mann-Whitney untuk mendapatkan nilai perbedaan dan

uji korelasi Spearman untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kedua

indeks. Hasil penelitian diperoleh rerata indeks sefalik pada suku Batak adalah

82,78 ± 4,05 dan 85,06 ± 3,97 pada suku Jawa. Rerata indeks nasal pada suku

Batak yaitu 81,27 ± 7,23 dan pada suku Jawa 79,40 ± 6,97. Kesimpulan dari

penelitian ini adalah terdapat perbedaan rerata indeks sefalik yang signifikan,

sedangkan pada indeks nasal tidak terdapat hasil yang signifikan antara suku Batak

dengan suku Jawa, serta tidak terdapat adanya hubungan yang signifikan antara

indeks sefalik dengan indeks nasal, baik pada suku Batak maupun suku Jawa.

(3)

Kata kunci: indeks sefalik, indeks nasal, suku Batak, suku Jawa

Daftar rujukan: 45 (1974-2020)

(4)
(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji pada tanggal 3 Agustus 2021

TIM PENGUJI

KETUA : Yendriwati, drg., M.Kes., Sp.OF

ANGGOTA :

1. Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc., M. Kes., Sp. PMM

2. Dr. Filia Dana T, drg., M. Kes

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan hadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga skripsi ini selesai disusun dalam rangka memenuhi kewajiban penulis sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada kedua orang tua tercinta yaitu Ayahanda Pinayungan Harahap, drg., M. Kes dan Ibunda Eliyana Khairida Lubis, drg., M. Kes, serta abang dan kakak penulis Alfi Khairurrizky Hidayatullah Harahap, drg., Muhammad Fauzi Fikrillah Harahap, S.H., M.H, Fadli Naufal Fadlullah Harahap, drg., Nadya Fathin Lubis, Fawzia Rachmi Fuadi, drg., yang senantiasa selalu menyayangi, mendoakan dan memberikan dukungan yang luar biasa kepada penulis.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Yendriwati, drg., M. Kes., Sp. OF selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, memberi arahan, masukan serta dukungan dan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Dr. Trelia Boel, drg., M. Kes., Sp. RKG(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ameta Pimasari, drg., MDSc., M. Kes., Sp. PPM selaku Ketua Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan juga selaku anggota tim penguji yang telah memberikan waktu luang dan memberikan nasihat serta masukan kepada penulis.

4. Dr. Filia Dana T, drg., M. Kes selaku anggota tim penguji skripsi yang telah

meluangkan waktu untuk memberikan saran dan masukan kepada penulis.

(7)

5. Ika Astrina, drg., MDSc dan Atika Resi Fitri, drg., yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, mengarahkan dan memberikan nasehat kepada penulis.

6. Wandania Farahanny drg., MDSc., Sp. KG(K) selaku penasehat akademik yang selalu memberikan nasehat dan bimbingan kepada penulis selama menjalani pendidikan akademis.

6. Teman-teman penulis Vidi, Nadit, Pija, Mimy, Nai, Azizah, Tita, Firda, Samuel, Erick, Luqman, Yudha, Nurul dan Nadiyah yang telah banyak menghabiskan waktu bersama penulis dalam menjalani perkuliahan, serta teman- teman satu bimbingan skripsi penulis, Ula, Dwita dan Clarinta.

7. Sahabat-sahabat terbaik penulis Suci, Mirna, Dyza, Siti, Aca, Pinkan, Audi, Kak Febri, Dea, May, Fahira, Kak Noni atas segala bantuan, perhatian dan semangat yang diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan serta masih ditemukan banyak kekurangan. Karena itu, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan selama melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangsih dalam pengembangan disiplin ilmu di bidang kedokteran gigi.

Medan, 30 Juli 2021 Penulis,

(Faradilla Afiffah Sholeha Harahap)

NIM: 170600031

(8)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ... i

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Hipotesis ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Pertumbuhan Kepala ... 5

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kepala... 6

2.3 Indeks Sefalik ... 8

2.3.1 Pengukuran Indeks Sefalik ... 8

2.3.2 Klasifikasi Indeks Sefalik ... 9

2.3.3 Variasi Bentuk Kepala ... 10

2.4 Pertumbuhan Hidung ... 11

2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Hidung ... 12

2.6 Indeks Nasal ... 13

2.6.1 Pengukuran Indeks Nasal ... 13

2.6.2 Klasifikasi Indeks Nasal ... 14

2.7 Klasifikasi Ras ... 15

2.8 Klasifikasi Ras di Indonesia ... 18

2.9 Landasan Teori ... 20

2.10 Kerangka Teori ... 21

2.11 Kerangka Konsep ... 22

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 23

3.1 Jenis Penelitian ... 23

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 23

3.2.1 Tempat penelitian ... 23

3.2.2 Waktu penelitian ... 23

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 23

3.3.1 Populasi ... 23

(9)

3.3.2 Sampel Penelitian ... 23

3.3.3 Besar Sampel ... 24

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 24

3.4.1 Kriteria Inklusi ... 24

3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 25

3.5 Variabel Penelitian ... 25

3.5.1 Variabel Bebas ... 25

3.5.2 Variabel Terikat ... 25

3.5.3 Variabel Terkendali ... 25

3.5.4 Variabel Tidak Terkendali ... 25

3.6 Definisi Operasional Penelitian ... 25

3.7 Alat dan Bahan Penelitian ... 27

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 27

3.9 Prosedur Penelitian ... 27

3.10 Pengolahan dan Analisis Data ... 29

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 30

BAB 5 PEMBAHASAN ... 34

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 41

DAFTAR PUSTAKA ... 42

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman 1. Klasifikasi lebar dan panjang kepala menurut Martin

dan Sallar ... 9

2. Klasifikasi bentuk kepala menurut William et al ... 10

3. Kategori dan ukuran hidung menurut Martin dan Sallar ... 14

4. Bentuk hidung menurut Matory et al ... 14

5. Karakteristik umum sampel berdasarkan jenis kelamin ... 30

6. Perbandingan rerata lebar kepala, panjang kepala dan indeks sefalik pada suku Batak dan Jawa ... 31

7. Perbandingan rerata lebar hidung, tinggi hidung dan indeks nasal

pada suku Batak dan Jawa ... 32

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 1. Grafik persentase pertumbuhan tulang kranium dan kartilago

primer ... 5

2. Tengkorak bayi, tengkorak anak-anak dan tengkorak dewasa ... 6

3. Lebar kepala dan panjang kepala ... 9

4. Bentuk kepala dolikosefalik, mesosefalik dan brakhisefalik ... 11

5. Lebar hidung dan tinggi hidung ... 13

6. Bentuk hidung leptorrhine, mesorrhine dan platyrrhine... 15

7. Ras Kaukasoid... 16

8. Ras Mongoloid ... 17

9. Ras Negroid ... 17

10. Ras Austroloid... 18

11. Pengukuran lebar kepala dan panjang kepala ... 28

12. Pengukuran tinggi hidung dan lebar hidung ... 29

13. Grafik distribusi frekuensi bentuk kepala suku Batak dan Jawa ... 31

14. Grafik distribusi frekuensi bentuk hidung suku Batak dan Jawa ... 33

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Skema Alur Pikir

2. Lembar Penjelasan kepada Subjek Penelitian

3. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) 4. Kuesioner Penelitian

5. Ethical clearance

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ras adalah kelompok manusia yang menyatakan ciri-ciri jasmaniah tertentu, yang diperoleh karena keturunan sesuai dengan hukum genetika, tetapi masih memungkinkan adanya variasi. Populasi di seluruh dunia terbagi atas 3 ras utama yaitu ras Kaukasoid, Mongoloid, dan Negroid, serta 4 ras lainnya yaitu ras Austroloid, Veddoid, Polynesia dan Aino.

1

Jacob (1976) menjelaskan bahwa suku- suku bangsa di Indonesia berasal dari dua ras besar yaitu ras Austroloid dan ras Mongoloid.

2

Penentuan ras dari setiap suku bangsa dalam suatu populasi sangatlah penting dan dapat ditentukan melalui antropometri manusia. Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik tertentu dari tubuh manusia seperti volume tubuh, titik berat, dimensi dan massa dari bagian tubuh (Sanders & McCormick, 1993).

Antropometri merupakan sistem pengukuran sifat fisik tubuh manusia, terutama mengenai dimensi ukuran dan bentuk tubuh manusia (Annis & McConville, 1996).

3

Ilmu pengetahuan antropometri berkembang terutama dalam konteks antropologi.

4,5

Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan. Antropologi terbagi atas dua macam yaitu antropologi biologi dan antropologi budaya. Antropologi biologi dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu paleoantropologi yang mempelajari asal-usul dan evolusi manusia dengan sisa-sisa fosil manusia purba dan antropologi fisik yang mempelajari tentang manusia secara sistematis sebagai organisme biologis yang berkembang dan hendak ditentukan tentang dan penyebabnya bangsa-bangsa berbeda menurut keadaan fisiknya. Antropologi fisik mengkaji tentang klasifikasi dan identifikasi perbedaan ras dan jenis kelamin.

6

Ilmu antropometri menciptakan indeks sefalometri untuk melihat perbedaan

manusia secara lebih teliti dalam proses identifikasi. Ukuran dalam antropometri

(14)

hanya memberikan informasi tentang ukuran (size), sehingga untuk mengungkapkan bentuk (shape) diciptakan proporsi antara ukuran-ukuran yang disebut indeks.

7

Pengelompokan manusia ke dalam golongan yang mempunyai ciri yang sama akan lebih mudah dengan adanya indeks.

8

Pengukuran indeks sefalometri dapat membantu proses identifikasi forensik dalam menentukan identitas seseorang. Indeks sefalometri terdiri atas indeks sefalik (indeks kepala), indeks fasial (indeks wajah), indeks frontoparietal (indeks dahi) dan indeks nasal (indeks hidung).

9

Penulis memilih dua indeks yaitu indeks sefalik dan indeks nasal untuk dibahas lebih lanjut mengenai pengukurannya sebagai salah satu cara megidentifikasi ras seseorang.

Indeks sefalik adalah perbandingan antara lebar maksimum kepala dengan panjang maksimum kepala dalam persen.

4

Indeks sefalik diperkenalkan oleh Anders Retzius (1976), seorang ahli anatomi Swedia dengan tujuan untuk mengklasifikasi populasi.

10

Perhitungan indeks sefalik dapat menentukan tipe bentuk kepala seseorang. Bentuk kepala yang akan didapatkan dari perhitungan indeks sefalik adalah dolikosefalik, mesosefalik, brakhisefalik dan hiperbrakhisefalik.

4

Indeks nasal adalah perbandingan lebar hidung dengan tinggi hidung lalu dikalikan 100.

11

Perhitungan indeks nasal atau bentuk hidung relevan dalam membedakan ras, etnis dan jenis kelamin individu yang tidak diketahui identitasnya.

12

Indeks nasal juga berguna dalam analisis dan klasifikasi sisa-sisa fosil sebagai studi tentang makhluk hidup.

11

Berdasarkan perhitungan indeks nasal, hidung dibagi menjadi 3 tipe yaitu leptorrhine, mesorrhine dan platyrrhine.

13

Suku Batak dan suku Jawa termasuk ke dalam kelompok ras Mongoloid. Ras

Mongoloid terbagi menjadi dua subras yaitu ras Proto Melayu dan ras Deutro

Melayu. Ras Proto Melayu terdiri dari suku Batak, Toraja dan Dayak. Ras Deutro

Melayu meliputi antara lain suku Jawa, Sunda, Minang, Melayu, Madura, Bugis dan

Bali.

1

Perbedaan asal-usul dari berbagai suku bangsa akan menyebabkan

keanekaragaman genetik.

14

Kelompok dari suku yang berbeda cenderung memiliki

ukuran bentuk tengkorak yang berbeda walaupun ukuran tersebut sering kali

dipengaruhi oleh variasi individual.

15

Persamaan yang dapat dilihat dari karakter fisik

suatu ras adalah bentuk kepala dan bentuk hidung.

1

(15)

Terdapat penelitian tentang bentuk kepala dan bentuk hidung yang dapat dihubungkan dengan penentuan ras menggunakan indeks sefalik dan indeks nasal.

Penelitian tentang indeks sefalik dan indeks wajah orang Indonesia berdasarkan suku yang dilakukan oleh Nettty H (2011) di Medan mendapatkan hasil perbandingan indeks sefalik yang bermakna yaitu suku Batak Toba (82,67), Aceh (82,55), Karo (82,66), Jawa (84,48), Mandailing (81,8), Minang (81,48) dan Nias (86,28).

16

Penelitian indeks nasal yang dilakukan oleh Mulyana (2007) pada suku Batak mendapatkan nilai indeks nasal sebesar 92,33 yang artinya bentuk hidung suku Batak termasuk ke dalam tipe hidung plathyrrhine.

Berdasarkan hal yang telah dikemukakan di atas, tidak terdapat banyak penelitian tentang perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal terutama pada suku Batak dan suku Jawa yang memiliki subras yang berbeda. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal yang terfokus pada suku Batak dan suku Jawa di Medan, serta melihat apakah terdapat hubungan antara bentuk kepala dan bentuk hidung pada kedua suku tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini:

1. Apakah terdapat perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dengan suku Jawa di Medan?

2. Bagaimanakah bentuk kepala dan bentuk hidung pada suku Batak dan suku Jawa di Medan?

3. Apakah terdapat hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing-masing suku Batak dan Jawa di Medan?

1.3 Tujuan Penilitian

1. Menganalisa perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dengan suku Jawa di Medan.

2. Mengetahui bagaimana bentuk kepala dan bentuk hidung pada suku Batak

(16)

dan suku Jawa di Medan.

3. Menganalisa hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing-masing suku Batak dan Jawa di Medan.

1.4 Hipotesis Penelitian

1. Terdapat perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dengan suku Jawa di Medan.

2. Terdapat hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing- masing suku Batak dan Jawa.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan membantu para dokter gigi forensic dalam melakukan identifikasi ras dengan menggunakan indeks sefalik dan indeks nasal.

2. Memperoleh data dan informasi mengenai perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dengan suku Jawa di Medan.

3. Mengetahui data dan informasi tentang bentuk kepala dan bentuk hidung pada suku Batak dan suku Jawa.

4. Memperoleh data dan informasi mengenai hubungan antara indeks sefalik

dengan indeks nasal pada masing-masing suku Batak dan suku Jawa.

(17)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pertumbuhan Kepala

Pertumbuhan kepala sangatlah kompleks. Pusat-pusat pertumbuhan di kepala sudah bekerja aktif bahkan sebelum bayi dilahirkan. Pada bayi, pertumbuhan kepala berlangsung dengan kecepatan yang relatif tinggi dan bertambah lambat selama masa kanak-kanak sampai pada periode pubertas sampai ke maturitas. Usia tahap-tahap pertumbuhan ini terjadi dan berakhir secara bervariasi antara individu. Rata-rata pertumbuhan kepala berhenti pada usia 18-20 tahun.

17

Gambar 1. Grafik persentase pertumbuhan tulang

kranium dan kartilago primer

17

(18)

Gambar 2. A. Tengkorak Bayi, B. Tengkorak Anak-anak C. Tengkorak Dewasa

18

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kepala

Pertumbuhan kepala sangat dipengaruhi oleh faktor genetik tetapi di samping itu terdapat juga faktor-faktor lain seperti:

1. Faktor lingkungan

Tulang tumbuh dengan cepat pada masa anak-anak. Nutrisi yang baik dapat memberikan pertumbuhan tulang yang normal. Vitamin D merupakan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan tulang karena mengandung kalsium yang dibutuhkan tulang.

Asupan nutrisi yang cukup dan baik adalah faktor lingkungan utama yang dapat mempengerahui maturasi skeletal. Kekurangan asam amino penting, vitamin atau mineral turut berpengaruh pada maturasi skeletal. Asupan nutrisi yang buruk akan menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tinggi badan, umur serta struktur tulang.

19

2. Faktor hormon

Hormon memiliki peran utama dalam mengatur pertumbuhan semua

jaringan. Salah satu hormon penting di dalam tubuh adalah hormon tiroid. Hormon

tiroid berfungsi untuk mensistesi hormon pertumbuhan maupun efek-efek kenaikan

pertumbuhan. Kekurangan hormon tiroid pada bayi dan anak-anak dapat

mengakibatkan hipotiroidisme. Penderita hipotiroidisme akan mengalami

(19)

keterlambatan pertumbuhan dikarenakan pertumbuhan tulang yang lambat.

19

3. Jenis kelamin

Tahap kemajuan osifikasi selama usia pertumbuhan menunjukkan angka yang skematis. Perbedaan terjadi pada jenis kelamin individu. Anak perempuan menunjukkan tingkat maturasi skeletal yang lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki.

19

4. Fungsi

Fungsi normal memegang peranan pada pertumbuhan skeletal. Apabila tidak adanya fungsi, seperti pada ankylosis temporomandibula, aglossia dan gangguan neuromuskuler akan menghasilkan distorsi pada morfologi tulang.

20

5. Pertumbuhan badan secara umum

Kematangan biologis secara umum semua aspek maturasi individu, dimensi yang paling menonjol pada pertumbuhan badan anak adalah tinggi badan. Kurva kecepatan tinggi akan berkurang terus-menerus mulai dari lahir kecuali pada dua percepatan pertumbuhan yaitu sekitar 6-7 tahun dan saat pubertas. Percepatan pertumbuhan periode pubertal merupakan percepatan pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan manapun. Telah banyak diketahui bahwa maturasi saling berhubungan dengan kurva tinggi badan sehingga pertumbuhan somatik dan pertumbuhan kraniofasial secara umum berhubungan.

20

6. Neurotrofisme

Aktivitas neutral mengontrol aktivitas otot dan pertumbuhan. Saraf mengontrol pertumbuhan tulang dengan mentransmisi substansi melalui akson saraf.

Aktivitas neutral ini dihipotesiskan sebagai Neurotrofisme. Neurotrofisme dapat

bekerja secara tidak langsung dengan induksi saraf dan mempengaruhi pertumbuhan

dan fungsi jaringan lunak yang kemudian akan mengontrol atau memodifikasi

pertumbuhan dan morfologi tulang.

20

(20)

2.3 Indeks Sefalik

Indeks sefalik merupakan rasio dari lebar kepala terhadap panjang kepala.

Pengukuran indeks sefalik merupakan salah satu bagian dari ilmu antropometri.

Antropometri adalah ilmu yang secara khusus mempelajari tentang pengukuran tubuh manusia guna merumuskan perbedaan-perbedaan ukuran pada tiap individu ataupun kelompok.

21

Ilmu antropometri juga berguna dalam bidang forensik untuk mengidentifikasi seseorang dengan mempelajari pengukuran bagian-bagian pada kerangka manusia khususnya pada bagian kepala dan wajah. Indeks sefalik merupakan salah satu parameter yang penting untuk menentukan ras pada individu yang identitasnya tidak diketahui.

21,22

2.3.1 Pengukuran Indeks Sefalik

Formula indeks sefalik adalah perbandingan antara lebar kepala dengan panjang kepala lalu dikalikan 100 dengan rumus:

Lebar kepala diukur dari maksimum diameter transversal antara 2 titik tetap diatas euryon (Eu).

6

Euryon adalah titik terluar pada samping kepala. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 3a.

Lalu untuk panjang kepala diukur dari titik glabella (Gl) sampai titik opisthocranion (Op). Glabella merupakan titik paling depan pada tulang dahi, terletak di atas pangkal hidung dan di antara alis. Opisthocranion adalah titik paling menonjol dan paling posterior pada daerah tulang kepala belakang (lobus oksipital) yang dapat dilihat dengan jelas pada gambar 3b.

6

𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑠𝑒𝑓𝑎𝑙𝑖𝑘 =

𝐿𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎

𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎

× 100

(21)

Gambar 3. A. Lebar kepala, B. Panjang kepala

2.3.2 Klasifikasi Indeks Sefalik

Klasifikasi lebar kepala menurut Martin dan Sallar (1957) terdiri atas sangat sempit, sempit, sedang dan lebar. Klasifikasi panjang kepala terdiri dari sangat pendek, pendek, sedang, panjang dan sangat panjang yang bisa dilihat dalam tabel 2.

6

Tabel 1. Klasifikasi Lebar Kepala dan Panjang Kepala Menurut Martin dan Sallar

6

Laki-laki (mm) Perempuan (mm) Klasifikasi Lebar Kepala Sangat Sempit ≤139 ≤134

Sempit 14-147 135-141

Sedang 148-155 142-149

Lebar 156-165 150-157

Sangat Lebar ≥166 ≥158

Klasifikasi Panjang Kepala

Sangat Pendek ≤169 ≤161

Pendek 17-177 162-169

Sedang 178-185 170-176

Panjang 186-193 177-184

Sangat Panjang ≥194 ≥185

(22)

2.3.3 Variasi Bentuk Kepala

Berdasarkan klasifikasi indeks sefalik menurut William et al, bentuk kepala dibagi dalam empat kategori yaitu dolikosefalik, mesosefalik, brakhisefalik dan hiperbrakhisefalik.

6

Tabel 2. Klasifikasi Bentuk Kepala Menurut William et al dan Klasifikasi Ras.

6

Bentuk Kepala Rentang Indeks Sefalik (%) Ras

Dolikosefalik <74,9 Negroid

Mesosefalik 75-79,9 Kaukasoid

Brakhisefalik 80-84,9

Mongoloid

Hiperbrakhisefalik >85

A. Dolikosefalik

Bentuk kepala ini memiliki nilai indeks sefalik <74,9. Memiliki ciri-ciri kepala lebar dan sempit, profil wajah panjang dan sempit, protrusif, bentuk dan sudut bidang mandibular yang sempit, bentuk muka seperti segitiga (tapered), diafragma hidung yang sempit, pipi kurang menonjol, rongga orbita berbentuk rektangular dan aperture nasal yang lebar. Bentuk kepala yang sempit dan panjang akan menghasilkan lengkung maksila dan palatum yang sempit dan dalam. Kebanyakan bentuk kepala ini dimiliki oleh ras Negroid.

23

B. Mesosefalik

Bentuk kepala mesosefalik memiliki nilai indeks sefalik 75-79,9 dengan

karakteristik fisik kepala lonjong dan bentuk muka terlihat oval dengan zigomatik

yang sedikit mengecil, profil wajah ortognasi. Bentuk kepala seperti ini kebanyakan

dimiliki oleh ras Kaukasoid.

23

(23)

C. Brakhisefalik

Brakhisefalik mengacu kepada individu yang memiliki bentuk kepala yang lebar dan persegi dengan nilai indeks sefalik lebih besar dari 80. Bentuk kepala ini cenderung dimiliki oleh ras Mongoloid dengan ciri-ciri aperture nasal yang membulat, sudut bidang mandibular yang lebih rendah, bentuk muka segiempat, profil wajah prognasi sedang, rongga orbita membulat, dan puncak kepala tinggi seperti kubah.

23

Gambar 4. A. Bentuk kepala dolikosefalik, B. Bentuk kepala mesosefalik, C. Bentuk kepala brakhisefalik

2.4 Pertumbuhan Hidung

Pertumbuhan hidung merupakan pusat pertumbuhan dan perkembangan seluruh wajah. Rongga hidung dan septum hidung menjadi penentu utama pola pertumbuhan hidung dan wajah.

24

Septum hidung menjadi sekat antara rongga hidung kanan dan kiri.

25

Septum hidung berperan sebagai tempat pertumbuhan yang mengarahkan pertumbuhan hidung dan wajah ke arah depan dan ke bawah dilihat dari adanya peningkatan sebanyak tujuh kali lipat pada panjang hidung diantara 10-40 minggu setelah kehamilan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui panjang hidung bertambah sebanyak 1,5 mm per tahun. Pertumbuhan hidung berhenti

Dolichocephalic (long head)

Mesocephalic (average head)

Brachycephalic

(short-wide head)

(24)

pada usia 16 tahun pada perempuan dan 18 tahun pada laki-laki.

24

2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Hidung

Bagian tubuh manusia yang lebih aktif akan berkembang lebih pesat dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya yang memiliki aktivitas lebih sedikit.

Hal ini juga berlaku untuk hidung. Perkembangan rongga hidung, sinus, dan bagian wajah secara umum tergantung pada cukupnya pernapasan melalui hidung selama masa anak-anak dan remaja. Pertumbuhan hidung dan wajah akan terganggu jika jalannya pernapasan terganggu. Faktor-faktor berikut ini menjelaskan sejumlah faktor lingkungan yang memengaruhi bentuk hidung.

24

1. Hidung tersumbat total.

Hidung tersumbat total akan menyebabkan hidung terlihat lebih kecil dan lebih tipis dari hidung normal. Misalnya jika terdapat kelainan seperti tonsil ketiga yang besar sehingga menghalangi seseorang untuk melakukan pernafasan normal melalui hidung.

25

2. Hidung tersumbat sebagian.

Hidung terdiri dari beberapa otot yang membantu ekspansi lubang hidung.

Otot-otot ini digunakan ketika seseorang perlu menghirup lebih banyak udara.

Hidung tersumbat sebagian akan menyebabkan aktivasi otot-otot ini lebih sering dan seiring berjalannya waktu ini akan membuat lubang hidung terlihat lebih lebar dan lebih besar.

25

3. Rongga hidung yang tersumbat secara konstan.

Masalah ini dapat menyebabkan pertumbuhan rongga hidung dan sinus yang

tidak merata di kedua sisi yang pada akhirnya menyebabkan satu sisi terlihat lebih

kecil atau lebih besar dari sisi lainnya.

25

(25)

2.6 Indeks Nasal

Hidung merupakan bagian wajah yang paling menonjol. Antropometri hidung adalah salah satu ilmu yang mempelajari tentang pengukuran proporsi, ukuran dan bentuk hidung manusia.

26

Hidung berperan penting sebagai salah satu bagian tubuh yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas seseorang. Indeks nasal cukup relevan dalam membedakaan ras dan etnis dari individu yang tidak diketahui identitasnya.

27

2.6.1 Pengukuran Indeks Nasal

Indeks nasal adalah rasio dari lebar hidung terhadap tinggi hidung lalu dikalikan 100 dengan rumus:

Lebar hidung yaitu jarak antara alae kanan dan alae kiri. Alae adalah titik terluar dari permukaan sayap hidung. Panjang hidung dapat diukur dari titik nasion (n) sampai titik subnasal (sn). Nasion terletak di bagian paling inferior dan paling anterior dari tulang frontal dan titik subnasal adalah titik septum nasal yang berbatasan dengan bibir atas.

27

Gambar 5. Lebar hidung dan tinggi hidung

27

𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑛𝑎𝑠𝑎𝑙 = 𝐿𝑒𝑏𝑎𝑟 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑛𝑔

𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑛𝑔 × 100

(26)

2.6.2 Klasifikasi Indeks Nasal

Martin dan Sallar (1957) mengklasifikasikan indeks nasal berdasarkan kategori dan ukuran hidung seperti yang terlihat pada tabel 3.

14

Tabel 3. Kategori dan Ukuran Hidung Menurut Martin dan Sallar

14

Indeks Nasal

Kategori Ukuran Hidung Pada makhluk hidup Pada tengkorak Hyperleptorrhine Hidung sangat sempit 40-54,9 ___

Leptorrhine Hidung sempit <70 <47

Mesorrhine Hidung berukuran sedang

70-84,9 47-50,9

Platyrrhine Hidung cukup lebar 85-99,9 51-57,9

Hyperplatyrrhine Hidung sangat lebar ≥100 ≥58

Adapun menurut Matory et al. (1985), klasifikasi tipe bentuk hidung dibedakan menjadi 3 tipe yaitu leptorrhine, mesorrhine dan platyrrhine.

28

Tabel 4. Bentuk Hidung menurut Matory et al dan Klasifikasi Ras

13,23

Bentuk Hidung Indeks Nasal (%) Ras

Leptorrhine ≤65 Kaukasoid

Mesorrhine 65-85 Mongoloid

Platyrrhine ≥85 Negroid

(27)

Gambar 6. A. Bentuk hidung leptorrhine, B. Bentuk hidung mesorrhine C. Bentuk hidung platyrrhine

27

2.7 Klasifikasi Ras

Ras adalah kelompok manusia yang menyatakan ciri-ciri jasmaniah tertentu, yang diperoleh karena keturunan sesuai dengan hukum genetika, tetapi masih memungkinkan adanya variasi

.

Salah satu perbedaan karakter fisik suatu ras adalah bentuk kepala dan bentuk hidungnya. Manusia dapat diklasifikasikan dalam beberapa ras yaitu ras Kaukasoid, Mongoloid, Negroid dan Austroloid.

1

A. Ras Kaukasoid

Ras Kaukasoid tersebar luas di dunia meliputi Eropa, Afrika Utara, Timur

Tengah, Pakistan dan India. Ras Kaukasoid terdiri dari lima subras yaitu Nordik,

Alpin, Baltik, Mediteran dan India. Menurut beberapa pakar, ras Kaukasoid memiliki

bentuk kepala mesosefalik dengan indeks sefalik antara 75-79,9. Ras Kaukasoid

memiliki tepi hidung yang besar dan tajam. Ras Kaukasoid memiliki hidung yang

menyempit dengan bentuk hidung yang lurus dan panjang. Berikut gambar yang

menunjukkan tipe wajah ras Kaukasoid.

29

(28)

Gambar 7. Ras Kaukasoid

1

B. Ras Mongoloid

Ras Mongoloid mendiami Asia Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar,

Eropa Utara, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseani. Ras Mongoloid dibagi

atas dua yaitu Mongoloid Asia dan Indian. Mongoloid Asia terdiri dari subras

Tionghoa (terdiri atas orang-orang Jepang, Taiwan, Vietnam dan Cina) dan subras

Melayu (terdiri atas orang-orang Malaysia, Indonesia dan Filipina). Ras Mongoloid

mempunyai bentuk kepala brakhisefalik dengan indeks sefalik >80. Bentuk hidung

ras Mongoloid termasuk ke dalam kategori medium dengan tulang hidung yang kecil

dan profil hidung yang cekung.

29

(29)

Gambar 8. Ras Mongoloid

1

C. Ras Negroid

Ras Negroid adalah ras yang paling banyak mendiami benua Afrika. Ras ini dibagi menjadi 5 subras yaitu Negrito, Nilitz, Negro Rimba, Negro Oseanis, Hotentot-Boysesman. Ras Negroid mempunyai bentuk kepala dolikosefalik dengan indeks sefalik <74,9. Bentuk hidung ras Negroid lebar dengan tulang hidung medium/kecil dan berat serta bentuk hidung lurus/cekung.

29

Gambar 9. Ras Negroid

1

(30)

D. Ras Austroloid

Ras Austroloid adalah ras manusia yang tinggal di bagian selatan India, Sri Lanka, beberapa kelompok di Asia Tenggara (seperti orang asli di Malaysia dan orang Negrito di Filipina), Papua dan Kepulauan Melanesia dan Australia. Suku yang termasuk didalam ras ini adalah suku Aborigin, Veddah dan Negrito.

1

Ras Austroloid memiliki ciri khas warna kulit yang coklat kehitaman, warna mata yang gelap, memiliki rahang yang besar dan tebal, memiliki bentuk kepala dolikosefalik (lonjong) dan bentuk hidung mereka umumnya lebar.

29

Gambar 10. Ras Austroloid

1

2.8 Klasifikasi Ras di Indonesia

Banyak ahli sejarah serta arkeolog mengemukakan teorinya mengenai keanekaragaman etnis/suku dan ras di Indonesia. Pada mulanya kepulauan Indonesia didiami oleh ras-ras asli yaitu

30

:

a. Negrito, merupakan suku bangsa Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya. Ras ini dikenal dengan ciri-ciri berkulit hitam, bentuk tubuh kecil dan berambut keriting.

b. Weddoid, yaitu suku Sakai di Siak-Riau, suku Kubu di Jambi, Toala dan

Tomuna di Sulawesi. Ras ini dikenal dengan ciri-ciri berkulit sawo

matang, rambut yang gelombang dan bertubuh kecil.

(31)

c. Melanozoid, yaitu penduduk asli Irian Jaya (Papua), Pulau Aru dan Pulau Kai. Ras ini dikenal dengan ciri-ciri berkulit hitam, berbibir tebal, disertai dengan ciri khas rambut gimbal.

d. Melayu (Mongoloid), yang terdiri dari Proto Melayu dan Deutro Melayu.

Dikenal dengan ciri-ciri warna kulit kekuningan, berambut lurus atau ikal, ukuran badan sedikit lebih tinggi. Golongan Melayu Mongoloid adalah golongan terbesar yang berada di Indonesia.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di jalur utama Asia bagian timur dan selatan sehingga menyebabkan adanya populasi yang terdiri dari berbagai macam ras. Di Indonesia terdapat dua ras yang memegang peranan penting yaitu ras Mongoloid dan ras Austroloid atau yang bisa juga disebut bangsa Paleomongoloid. Bangsa Paleomongoloid sudah menempati Indonesia bahkan sebelum zaman sejarah dimulai. Kemudian bangsa Paleomongoloid menyebar dengan ras Mongoloid menghuni bagian barat dan utara kawasan Indonesia dan sebaliknya, ras Austroloid menghuni pada Indonesia bagian timur. Ras Melayu/Mongoloid di Indonesia terbagi atas dua subras yaitu ras Proto Melayu dan ras Deutro Melayu.

1

Ras Proto Melayu merupakan kelompok manusia yang tiba di kepulauan

Indonesia pada gelombang pertama. Proto Melayu merupakan campuran antara ras

Austroloid dan ras Mongoloid. Kelompok ini berangkat dari daerah Yunan, Cina

Selatan menempati pantai-pantai Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Sulawesi

Barat. Kelompok selanjutnya pada gelombang kedua yaitu ras Deutro Melayu hasil

percampuran antara sub ras Proto Melayu dengan ras Mongoloid.

2

Ras Deutro

Melayu berasal dari Dongson, Vietnam Utara dengan datang membawa teknologi

dan keterampilan yang lebih maju dibandingkan gelombang pertama yaitu ras Proto

Melayu. Tingginya kemampuan teknologi gelombang kedua menyebabkan ras Proto

Melayu terdesak oleh Deutro Melayu. Proto Melayu terdiri dari suku Batak, Dayak

dan Toraja. Kemudian yang termasuk Deutro Melayu adalah suku Jawa, Sunda,

(32)

Minang, Melayu, Madura, Bugis, Bali, dan sebagainya.

1

2.9 Landasan Teori

Terdapat tiga ras dominan di dunia di antaranya adalah ras Kaukasoid, Mongoloid dan Negroid serta ras-ras khusus lainnya seperti ras Austroloid, ras Veddoid dan sebagainya. Suku Batak berasal dari campuran antara ras Mongoloid dan Austroloid yang membentuk sub ras Proto Melayu. Begitu juga dengan suku Jawa yang merupakan hasil campuran ras Mongoloid dengan sub ras Proto Melayu yang menghasilkan sub ras Deutro Melayu.

1

Perbedaan asal-usul dari berbagai suku bangsa menyebabkan keanekaragaman

genetik yang dapat dilihat dari variasi fenotip. Tentunya, bentuk morfologi tubuh pun

memiliki perbedaan antara suku yang satu dengan lain.

15

Antropometri digunakan

antara lain untuk melakukan penelitian dan membandingkan secara fisik antara satu

manusia dengan manusia lain. Hal itu memungkinkan karena walaupun satu spesies,

manusia mempunyai variasi perbedaan yang memungkinkan adanya pengelompokan

ras dan suku bangsa.

10

Ilmu antropometri menciptakan pengukuran indeks untuk

melihat perbedaan yang dimiliki masing-masing suku, salah satunya adalah indeks

sefalik dan indeks nasal. Hasil pengukuran indeks sefalik dapat menentukan bentuk

kepala seseorang. Terdapat empat klasifikasi bentuk kepala yaitu dolikosefalik,

mesosefalik, brakhisefalik dan hiperbrakhisefalik.

6

Sedangkan untuk bentuk hidung

dapat diukur dengan indeks nasal dan bentuk hidung diklasifikasikan menjadi tiga

kategori yaitu leptorrhine, mesorrhine dan platyrrhine.

13

Bentuk kepala dan bentuk

hidung tersebut dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui perbedaan ras yang

berguna untuk mengidentifikasi identitas seseorang.

(33)

2.10 Kerangka Teori

Suku Ja w a In de ks Se fa lo m et ri

Ide n ti fi ka si R as In de ks S e fa li k In de ks Na sa l li k M es o rr hi n e (65 -85) L ept or rhi n e (≤ 65)

B ra khi se fa li k (80 -84, 9 )

M es o se fa li k (75 -79, 9 ) H ipe rb ra k hi - se fa li k (< 85)

Deut ro M e la y u

R as d i In do n es ia M o n go lo id Pr oto M el a y u

A u st ro lo id S uku B at ak P la ty rr hi ne (≤ 85)

(34)

2.11 Kerangka Konsep

1. Suku Batak dua generasi 2. Suku Jawa dua generasi

1. Pengukuran indeks sefalik

2. Pengukuran indeks nasal

(35)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada saat dan subjek tertentu.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Persiapan penelitian dan pengumpulan sampel dilakukan di Fakultas Kedokteran Gigi USU di Jalan Alumni No. 2, Medan.

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian yang diperlukan kurang lebih 2 bulan, yaitu sejak bulan April sampai Juni 2021. Dimulai dari pencarian alat penelitian, persiapan penelitian, pengumpulan sampel, kemudian dilakukan penelitian, analisa data dan penelitian hasil serta pembahasan hasil penelitian.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi

Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang bersuku Batak dan Jawa yang menetap di Kota Medan.

3.3.2 Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah suku asli Batak dan Jawa dengan silsilah keluarga sampai dua generasi dengan rentang usia 18-25 tahun.

Teknik pemilihan sampel adalah purposive sampling dimana sampel diambil setelah

memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

(36)

3.3.3 Besar Sampel

Untuk mendapatkan besar sampel yang akan diambil dari penelitian ini, dihitung dengan menggunakan rumus beda rerata dua kelompok:

Keterangan:

N= Besar sampel

α = level of significant, peneltian ini menggunakan α = 5% sehingga Zα = 1,96 β = power of test, penelitian ini menggunakan β = 10% sehingga Zβ = 1,28 𝜎

2

= varian rata-rata antar kelompok = 4,2

𝜇1 − 𝜇2 = selisih rata-rata yang diduga bermakna = 2,5

𝑁 = 2(4,2)

2

[1,96 + 1,28]

2

[2,5]

2

𝑁 = (35,28) (5,243) (6,25) 𝑁 = 185

6,25 𝑵 = 𝟐𝟗, 𝟒

Berdasarkan perhitungan besar sampel maka didapatkan jumlah minimum sampel untuk penelitian ini adalah 29 sampel. Digenapkan menjadi 30 sampel untuk masing-masing ras.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1 Kriteria Inklusi

1. Suku asli Batak dan Jawa dengan silsilah keluarga sampai dua generasi.

2. Berusia 18-25 tahun.

𝑁 = 2𝜎

2

[𝑍

1−𝛼

+ 𝑍

1−𝛽

]

2

[𝜇1 − 𝜇2]

2

(37)

3. Sampel yang bersedia menjadi subjek penelitian.

3.4.2 Kriteria Eksklusi

1. Sampel pernah mengalami trauma berat pada kepala.

2. Asimetris wajah.

3.5 Variabel Penelitian 3.5.1 Variabel Bebas

Yang termasuk variabel bebas pada penelitian ini adalah sampel dengan suku asli Batak dan Jawa dua generasi.

3.5.2 Variabel Terikat

Yang termasuk variabel terikat pada penelitian ini adalah:

1. Pengukuran indeks sefalik.

2. Pengukuran indeks nasal.

3.5.3 Variabel Terkendali

Yang termasuk variabel terkendali pada penelitian ini adalah:

1. Usia rentang 18-25 tahun.

2. Pengukuran kepala dan hidung 3. Alat-alat yang dipakai

4. Keterampilan operator dalam melakukan pengukuran

3.5.4 Variabel Tidak Terkendali

Yang termasuk variabel tidak terkendali pada penelitian ini adalah faktor pertumbuhan kepala dan hidung.

3.6 Definisi Operasional Penelitian

1. Antropometri merupakan sistem pengukuran sifat fisik tubuh manusia,

terutama mengenai dimensi ukuran dan bentuk tubuh manusia.

(38)

2. Ras merupakan kumpulan individu atau kelompok, yang serupa dalam sejumlah ciri dan menghuni suatu wilayah dan memilik asal-muasal sama atau populasi suatu spesies yang terisolasi dan menghuni teritori yang sama serta berbeda dari populasi lain.

3. Sefalometri adalah salah satu antropometri kepala yang dilakukan dengan mengukur jarak antar titik anatomis kepala dan wajah.

a. Lebar kepala diukur dari maksimum diameter transversal antara 2 titik tetap diatas titik terluar pada samping kepala.

b. Panjang kepala diukur dari titik paling depan pada tulang dahi, terletak di atas pangkal hidung dan di antara alis dan berpotongan pada bidang tengah sagittal sampai titik paling menonjol dan paling posterior pada daerah tulang kepala belakang.

c. Indeks sefalik adalah rasio dari lebar kepala terhadap panjang kepala dan hasilnya dikalikan 100.

d. Lebar hidung yaitu jarak antara titik terluar dari permukaan sayap hidung kanan dan kiri.

e. Tinggi hidung dapat diukur dari bagian paling inferior dan paling anterior dari tulang frontal sampai titik septum nasal yang berbatasan dengan bibir atas.

f. Indeks nasal adalah rasio dari lebar hidup terhadap tinggi hidung lalu dikalikan 100.

3. Penentuan kriteria umur 18-25 tahun dengan asumsi bahwa pertumbuhan tulang tengkorak telah terhenti dalam artian bahwa sutura-sutura tulang tengkorak sudah menyatu.

4. Suku Batak adalah orang Batak yang berdomisili di Medan yang diperoleh dari keturunan 2 generasi yaitu kedua orang tua ayah dan ibu subjek asli suku Batak.

5. Suku Jawa adalah orang Batak yang berdomisili di Medan yang diperoleh

dari keturunan 2 generasi yaitu kedua orang tua ayah dan ibu subjek asli

suku Jawa.

(39)

3.7 Alat dan Bahan Penelitian

1. Kaliper lengkung berskala sampai 40 cm 2. Kaliper geser

3. Penggaris besi ketelitian 1 mm berskala 30 cm 4. Kalkulator

5. Alat tulis

6. Tabel parameter pengukuran 7. Kertas berisikan kuesioner

3.8 Metode Pengumpulan Data

Data didapatkan melalui wawancara dengan responden berdasarkan lembar pengamatan dan melalukan pengukuran indeks sefalik dan indeks nasal menggunakan parameter pengukuran yang mengacu pada metode Martin dan Sallar.

3.9 Prosedur Penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Penelitian dapat dimulai setelah mendapatkan persetujuan pelaksanaan penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi dan Komisi Etik Penelitian Kesehatan.

2. Pemilihan sampel penelitian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.

3. Penyampaian penjelasan penelitian dan pemberian lembar persetujuan penelitian (informed consent) kepada sampel yang akan diteliti.

4. Sampel diminta untuk duduk dikursi dengan posisi tegak. Kemudian

dilakukan pengukuran lebar kepala menggunakan kaliper. Ujung kaliper

ditempatkan pada kedua titik euryon kiri dan kanan (Eu-Eu). Kedua ujung

kaliper diletakkan diatas kertas yang rata dan ditanda pada kedua ujung

kaliper menggunakan pensil. Jarak kedua tanda diukur menggunakan

penggaris dan ukuran dicatat sebagai lebar kepala. Pengukuran dilakukan

(40)

oleh 2 orang.

5. Pengukuran panjang kepala dari glabella (Gl) sampai opisthocranion (Op). Kedua ujung kaliper diletakkan diatas kertas yang rata dan ditanda pada kedua ujung kaliper menggunakan pensil. Jarak kedua tanda diukur menggunakan penggaris dan ukuran dicatat sebagai panjang maksimum kepala. Pengukuran dilakukan oleh 2 orang.

Gambar 11. Pengukuran lebar kepala dan panjang kepala

6. Selanjutnya dilakukan pengukuran tinggi dan lebar hidung menggunakan kaliper geser. Hasil pengukuran dicatat pada tabel parameter pengukuran.

Pengukuran dilakukan oleh 2 orang.

(41)

Gambar 12. Pengukuran lebar hidung dan tinggi hidung

7. Tabel parameter pengukuran tersebut nantinya yang akan digunakan untuk menghitung indeks sefalik dan indeks nasal.

8. Hasil indeks sefalik kemudian diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi tipe bentuk kepala menurut William et al .

9. Dan hasil indeks nasal kemudian diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi tipe bentuk hidung menurut Matory et al.

3.10 Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi. Adapun uji statistik yang

digunakan adalah uji Mann-Whitney untuk mendapatkan nilai perbedaan dua variabel

yaitu ras (kategorik) dan indeks sefalik serta indeks nasal (numerik). Uji statistik

untuk mengetahui hubungan antara indeks sefalik dan indeks nasal pada masing-

masing suku Batak dan suku Jawa menggunakan uji korelasi Spearman.

(42)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Karakteristik Umum Sampel

Pengukuran dilakukan terhadap 60 mahasiswa USU yang terdiri atas 30 orang bersuku Batak dan 30 orang bersuku Jawa. Tabel 5 menunjukkan karakteristik umum berdasarkan jenis kelamin sampel yang diteliti yaitu, jumlah sampel dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 8 orang (13,3%) dan jumlah sampel dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 52 orang (86,7%).

Tabel 5. Karakteristik Umum Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Suku Jenis Kelamin Total

Laki-laki Perempuan

Batak 4 26 30

Jawa 4 26 30

Total 8 52 60

4.2 Perbedaan ukuran rerata lebar kepala, panjang kepala, indeks sefalik serta distribusi frekuensi bentuk kepala pada suku Batak dan Jawa

Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan rata-rata lebar kepala, panjang

kepala dan indeks sefalik antara suku Batak dengan Jawa yang dapat dilihat pada

tabel 6.

(43)

Tabel 6. Perbandingan Rerata Lebar Kepala, Panjang Kepala dan Indeks Sefalik pada Suku Batak dan Jawa

Ukuran Suku Batak Suku Jawa p

N Rata-rata±SD N Rata-rata±SD

Lebar Kepala (mm) 30 151,5±7,40 30 153,9±8,43 0,000*

Panjang Kepala (mm) 30 183,2±9,72 30 180,9±7,28 0,000*

Indeks Sefalik 30 82,78±4,05 30 85,06±3,97 0,003*

Keterangan: *signifikan; (p<0,05)

Tabel 6 menunjukkan ukuran rata-rata lebar kepala, panjang kepala serta perhitungan indeks sefalik pada suku Batak dan Jawa. Ukuran rata-rata lebar kepala pada suku Batak yaitu (151,5±7,40), panjang kepala (183,2±9,72) dan indeks sefalik (82,78±4,05). Rerata lebar kepala suku Jawa adalah (153,9±8,43), panjang kepala (180,9±7,28) dan indeks sefalik (85,06±3,97).

Hasil analisis uji Independent t-test didapatkan perbedaan yang signifikan (p=0,000) terhadap lebar kepala antara suku Batak dengan suku Jawa, begitu juga untuk panjang kepala terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,000) antara suku Batak dengan Jawa. Hasil analisis uji nonparametrik Mann-Whitney, terdapat perbedaan indeks sefalik yang signifikan antara suku Batak dengan suku Jawa dengan nilai p 0,003.

Grafik 2. Distribusi Frekuensi Bentuk Kepala Suku Batak dan Jawa

0%

20%

40%

60%

80%

Suku Batak Suku Jawa

0% 0%

20%

6.7%

66.7%

36.7%

13.3%

56.7%

Ju m la h or an g Dolikosefalik

Mesosefalik Brakhisefalik Hiperbrakhisefalik 24

18

12

6

(44)

Grafik 2 menunjukkan distribusi frekuensi bentuk kepala pada suku Batak dan Jawa. Pada suku Batak, persentase bentuk kepala paling tinggi adalah brakhisefalik (66,75%), diikuti oleh mesosefalik (20%) dan yang terakhir adalah hiperbrakhisefalik (13,3%). Pada suku Jawa, persentase bentuk kepala paling tinggi yaitu hiperbrakhisefalik (56,7%), kemudian brakhisefalik (36,7%) dan (6,7%) pada mesosefalik.

4.3 Perbedaan ukuran rerata lebar hidung, tinggi hidung, indeks nasal serta distribusi frekuensi bentuk hidung pada suku Batak dan Jawa

Tujuan penelitian ini untuk melihat perbandingan rata-rata lebar hidung, tinggi hidung dan indeks nasal antara suku Batak dengan Jawa yang dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Perbandingan Rerata Lebar Hidung, Tinggi Hidung dan Indeks Nasal pada Suku Batak dan Jawa

Ukuran

Suku Batak Suku Jawa N Rata-rata±SD N Rata-rata±SD P

Lebar Hidung (mm) 30 36,22±2,77 30 35,64±2,45 0,63 Tinggi Hidung (mm) 30 44,77±2,64 30 45,03±3,13 0,54 Indeks Nasal 30 81,27±7,23 30 79,40±6,97 0,23

Tabel 7 menunjukkan ukuran rata-rata lebar hidung, tinggi hidung dan perhitungan indeks nasal pada suku Batak dan Jawa. Ukuran rata-rata lebar hidung pada suku Batak yaitu (36,22±2,77), panjang hidung (44,77±2,64) dan indeks nasal (81,27±7,23). Rerata lebar hidung pada suku Jawa yaitu (35,64±2,45), tinggi hidung (45,03±3,13) serta indeks nasal (79,40±6,97).

Hasil analisis statistik menggunakan uji Independent t-test, didapatkan

perbedaan yang tidak signifikan (p=0,23) terhadap lebar hidung dan tinggi hidung

antara suku Batak dengan suku Jawa. Dari hasil analisis uji nonparametrik Mann-

(45)

Whitney, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks nasal pada suku Batak dan Jawa.

Grafik 3. Distribusi Frekuensi Bentuk Hidung Suku Batak dan Jawa

Grafik 3 menampilkan distribusi frekuensi bentuk hidung pada suku Batak dan Jawa. Pada suku Batak, persentase bentuk hidung paling tinggi yaitu mesorrhine (53,3%) dan diikuti platyrrhine (46,7%). Pada suku Jawa, bentuk hidung yang paling tinggi adalah mesorrhine dengan persentase (70%), kemudian platyrrhine (26,7%) dan yang paling terakhir yaitu leptorrhine (3,3%).

4.4 Hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing- masing suku Batak dan Jawa

Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman diperoleh nilai p=0,524 pada korelasi antara indeks sefalik dan indeks nasal suku Batak dan pada suku Jawa didapatkan nilai p=0,996, maka disimpulkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara indeks sefalik dan indeks nasal pada kedua suku.

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80

Suku Batak Suku Jawa

0% 3.3%

53.3%

70%

46.7%

26.7%

Ju m la h o ra n g

Leptorrhine Mesorrhine Platyrrhine 21

14

7

(46)

BAB 5 PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan antara indeks sefalik dan indeks nasal suku Batak dengan suku Jawa, serta melihat apakah terdapat hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing-masing suku Batak dan Jawa. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur panjang kepala, lebar kepala, lebar hidung serta tinggi hidung. Pengukuran dilakukan terhadap 60 mahasiswa USU yang terdiri atas 30 orang suku Batak dan 30 orang suku Jawa.

Teknik yang dipakai dalam penelitian ini adalah purposive sampling dimana subjek yang diambil memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

5.1 Perbedaan rerata lebar kepala, panjang kepala, indeks sefalik dan bentuk kepala pada suku Batak dan Jawa

Perbandingan rata-rata lebar kepala, panjang kepala, nilai indeks sefalik dan bentuk kepala pada suku Batak dan Jawa pada penelitian ini menunjukkan rata-rata lebar kepala suku Batak (151,5mm) lebih kecil dibandingkan dengan suku Jawa (153,9mm) dan menunjukkan hasil yang signifikan. Sebaliknya, rata-rata panjang kepala suku Batak (183,2mm) lebih besar dari rata-rata panjang kepala suku Jawa (180,9mm). Pada penelitian yang dilakukan oleh Rio (2001), pada suku Batak didapatkan nilai rerata lebar (158,2) dan panjang kepala (191,3), dan pada perempuan suku Batak lebar (151,6) dengan panjang kepala (178,8). Pada laki-laki suku Jawa didapatkan rerata lebar (157,5) dan panjang kepala (184,3), dan untuk perempuan suku Jawa diperoleh nilai rerata lebar (150,1) dan panjang kepala (175,8). Hal ini menunjukkan bahwa lebar dan panjang kepala pada suku Batak lebih besar daripada suku Jawa. Sedangkan pada hasil penelitian ini menunjukkan lebar kepala suku Batak lebih kecil daripada suku Jawa, namun panjang kepala suku Batak lebih besar dibanding dengan suku Jawa.

31

Pada penelitian ini juga didapatkan hasil perbandingan antara indeks sefalik

suku Batak dengan suku Jawa. Suku Batak menunjukkan nilai indeks (82,78) yang

(47)

lebih kecil dibandingkan dengan suku Jawa (85,06) dan juga terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini juga menunjukkan bahwa bentuk kepala suku Batak adalah brakhisefalik dan bentuk kepala suku Jawa lebih ke arah hiperbrakhisefalik. Pada penelitian Glinka dkk (2010) dengan mengambil data penelitian Bijlmer (1929) sebagai Proto Melayu, data dari mahasiswa Jawa pada penelitian (Glinka, 2004) sebagai Deutro Melayu, dan data dari penelitian Haddon (1912) sebagai suku Dayak.

Didapatkan nilai rata-rata indeks sefalik ras Proto Melayu (77,9) yang mengacu pada bentuk kepala mesosefalik, berbanding terbalik dengan hasil penelitian yang didapatkan yaitu suku Batak yang termasuk dalam ras Proto Melayu mendapatkan nilai indeks sefalik (82,78) dengan bentuk kepala brakhisefalik. Sedangkan rata-rata indeks sefalik pada ras Deutro Melayu (85,4) dengan bentuk kepala hiperbrakhisefalik, sesuai dengan hasil penelitian ini yaitu suku Jawa yang termasuk ras Deutro Melayu memiliki nilai indeks (85,06) dengan bentuk kepala hiperbrakhisefalik.

32

Pada penelitian ini didapatkan juga distribusi frekuensi bentuk kepala pada

suku Batak dan Jawa. Pada suku Batak, persentase bentuk kepala paling tinggi adalah

brakhisefalik (66,75%), diikuti oleh mesosefalik (20%) dan yang terakhir adalah

hiperbrakhisefalik (13,3%). Pada suku Jawa, persentase bentuk kepala paling tinggi

yaitu hiperbrakhisefalik (56,7%), kemudian brakhisefalik (36,7%) dan (6,7%) pada

mesosefalik. Pada penelitian Glinka (2010), persentase bentuk kepala paling tinggi

yaitu pada ras Proto Melayu yaitu mesosefalik (44,2%), diikuti oleh dolikosefalik

(35,7%), brakhisefalik (13,0%) dan yang terakhir hiperbrakhisefalik (7,1%). Pada ras

Deutro Melayu, persentase bentuk kepala tertinggi yaitu hiperbrakhisefalik (49,9%),

kemudian brakhisefalik (38,7%), mesosefalik (10,5%) dan yang terakhir yaitu

dolikosefalik (0,9%). Hal ini menunjukkan bahwa bentuk kepala ras Proto Melayu

lebih dominan ke bentuk kepala mesosefalik dan dolikosefalik, sedangkan pada hasil

penelitian ini bentuk kepala suku Batak yang termasuk ras Proto Melayu lebih

dominan ke arah brakhisefalik. Pada ras Deutro Melayu memiliki bentuk kepala

hiperbrakhisefalik dan brakhisefalik, yang sejalan dengan hasil penelitian ini yaitu

(48)

suku Jawa yang termasuk ras Deutro Melayu memiliki bentuk kepala hiperbrakhisefalik.

32

Setiap ras mempunyai karakteristiknya tersendiri yang bisa membedakan rasnya seperti warna kulit, rambut, wajah dan kondisi intraoralnya.

33

Ras Mongoloid yang ada di Indonesia bukanlah ras Mongoloid murni, melainkan pencampuran dengan ras Austroloid. Ras Mongoloid memiliki karakteristik bertubuh kecil, bentuk kepala brakhisefalik, bermuka bulat, berwajah lebar, bentuk hidung mesorrhine, hidung pendek, dan berambut panjang. Ras Austroloid dengan karakteristik bertubuh sedang, bentuk kepala dolikosefalik ke mesosefalik, dahi lebih menonjol, berwajah sedang, bentuk hidung mesorrhine, hidung panjang, dan berambut keriting.

34

Jacob (1974) menekankan pula bahwa variasi fisik manusia di Indonesia tidak hanya tercipta karena campuran kedua ras tersebut, tetapi juga dari hasil proses adaptasi, isolasi, dan genetic drift pada tiap populasi di lingkungan yang berbeda-beda.

2

Penelitian dengan judul Studi Perbandingan Wajah Populasi Batak Toba di Toba Samosir dengan Wajah Populasi Batak Toba di Surabaya (Pratama, 2010 dalam Rivani, 2017) menunjukkan hasil bahwa bentuk kepala masyarakat Batak Toba di Toba Samosir memiliki nilai yang lebih kecil dari masyarakat Batak Toba di Surabaya. Hal ini dikarenakan salah satunya adalah perkawinan campuran yang dilakukan masyarakat Batak Toba di Surabaya.

35

Pada penelitian yang dilakukan oleh Jihan (2014) terhadap 2 etnik yaitu etnik

Melayu dan India dengan menggunakan mahasiswa Malaysia yang berkuliah di FKG

USU didapatkan hasil rata-rata indeks sefalik etnik Melayu (85,44) lebih besar dari

etnik India (81,64). Pada penelitian ini didapatkan juga distribusi frekuensi bentuk

kepala pada kedua etnik. Pada etnik Melayu, persentase bentuk kepala brakhisefalik

(44%) dan hiperbrakhisefalik (55,6%). Pada etnik India, persentase bentuk kepala

mesosefalik (38,9%), brakhisefalik (47,2%) dan hiperbrakhisefalik (13,9%). Hal ini

menunjukkan bahwa bentuk kepala etnik Melayu sesuai dengan ciri-ciri pada ras

Mongoloid yang mempunyai bentuk brakhisefalik yaitu bentuk kepala yang lebar dan

pendek. Sedangkan etnik India menunjukkan kecenderungan terjadinya

brakhisefalisasi dimana awalnya etnik India merupakan ras Kaukasoid yang memiliki

(49)

bentuk kepala mesosefalik. Brakhisefalisasi didefenisikan sebagai peningkatan lebar kepala realtif terhadap panjang kepala. Terjadinya brakhisefalisasi sebagai adanya akibat dari adanya proses evolusi, yang berkaitan denga adaptasi terhadap lingkungan, mutasi dan seleksi.

36

Bhanarkar dan Koley (2020) melakukan penelitian terhadap 325 mahasiswa kedokteran di Bengal Barat mendapatkan hasil rerata indeks sefalik pada laki-laki (71,3) dan pada perempuan (72,8). Pada tabel distribusi frekuensi bentuk kepala didapatkan bentuk kepala paling tinggi yaitu mesosefalik (56,6%), diikuti oleh brakhisefalik (26,8%), kemudian hiperbrakhisefalik (12,6%) dan yang paling terakhir dolikosefalik (4%). Hal ini menunjukkan bahwa populasi Bengali di India yang termasuk ke dalam ras Kaukasoid dominan memiliki bentuk kepala mesofalik, berbeda dari bentuk kepala ras Mongoloid pada hasil penelitian ini yaitu lebih cenderung ke arah brakhisefalik dan hiperbrakhisefalik.

37

5.2 Perbedaan rerata lebar hidung, tinggi hidung, indeks nasal dan bentuk hidung pada suku Batak dan Jawa

Pada penelitian ini didapatkan hasil rata-rata lebar hidung pada suku Batak

(36,22mm) dan suku Jawa (35,64mm) serta tinggi hidung suku Batak (44,77mm) dan

suku Jawa (45,03mm). Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan terhadap lebar

hidung maupun tinggi hidung antara suku Batak dengan Jawa. Perbandingan antara

nilai indeks nasal pada suku Batak (81,27) dengan suku Jawa (79,40) juga

menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan di antara kedua suku. Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa suku Batak dan Jawa dominan memiliki bentuk

hidung mesorrhine. Penelitian Karolina (2020) pada 192 orang dari 3 etnis yaitu etnis

Chinese-Indonesia, Batak dan Sunda, terdapat 64 orang per grup dengan 32 orang

laki-laki dan 32 orang perempuan. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata

indeks nasal pada laki-laki (85,51) dan perempuan etnis Batak (85,49) dengan bentuk

hidung platyrrhine, berbanding terbalik dengan hasil penelitian yang didapatkan

dimana nilai indek nasal suku Batak (81,27) yang mengacu pada bentuk hidung

Gambar

Gambar 1. Grafik persentase pertumbuhan tulang            kranium dan kartilago primer 17
Tabel 2. Klasifikasi Bentuk Kepala Menurut William et al dan Klasifikasi Ras. 6  Bentuk Kepala  Rentang Indeks Sefalik (%)  Ras
Gambar 4. A. Bentuk kepala dolikosefalik, B. Bentuk kepala   mesosefalik, C. Bentuk kepala brakhisefalik
Gambar 5. Lebar hidung dan tinggi hidung 27
+7

Referensi

Dokumen terkait