PERBEDAAN INDEKS SEFALIK DAN INDEKS NASAL ANTARA SUKU BATAK DENGAN
SUKU JAWA DI MEDAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
FARADILLA AFIFFAH SHOLEHA HARAHAP 170600031
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Biologi Oral Tahun 2021
Faradilla Afiffah Sholeha Harahap
Perbedaan Indeks Sefalik dan Indeks Nasal antara Suku Batak dengan Suku Jawa di Medan
xi + 45 halaman
Indeks sefalik dan indeks nasal merupakan salah satu metode dalam melakukan antropometri. Antropometri merupakan parameter yang dapat membedakan ras antar bangsa. Ras adalah kelompok manusia yang memiliki ciri- ciri jasmaniah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dan Jawa, serta melihat apakah terdapat hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing-masing suku.
Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik purposive sampling dimana subjek yang diambil memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran dilakukan terhadap 60 mahasiswa USU yang terdiri dari 30 orang suku Batak dan 30 orang suku Jawa.
Indeks sefalik didapatkan dari hasil perbandingan antara lebar kepala dengan
panjang kepala dalam hitungan persen. Indeks nasal didapatkan dari hasil
perbandingan antara lebar hidung dengan tinggi hidung dalam hitungan persen. Uji
yang dilakukan yaitu uji Mann-Whitney untuk mendapatkan nilai perbedaan dan
uji korelasi Spearman untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kedua
indeks. Hasil penelitian diperoleh rerata indeks sefalik pada suku Batak adalah
82,78 ± 4,05 dan 85,06 ± 3,97 pada suku Jawa. Rerata indeks nasal pada suku
Batak yaitu 81,27 ± 7,23 dan pada suku Jawa 79,40 ± 6,97. Kesimpulan dari
penelitian ini adalah terdapat perbedaan rerata indeks sefalik yang signifikan,
sedangkan pada indeks nasal tidak terdapat hasil yang signifikan antara suku Batak
dengan suku Jawa, serta tidak terdapat adanya hubungan yang signifikan antara
indeks sefalik dengan indeks nasal, baik pada suku Batak maupun suku Jawa.
Kata kunci: indeks sefalik, indeks nasal, suku Batak, suku Jawa
Daftar rujukan: 45 (1974-2020)
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji pada tanggal 3 Agustus 2021
TIM PENGUJI
KETUA : Yendriwati, drg., M.Kes., Sp.OF
ANGGOTA :
1. Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc., M. Kes., Sp. PMM
2. Dr. Filia Dana T, drg., M. Kes
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan hadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga skripsi ini selesai disusun dalam rangka memenuhi kewajiban penulis sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada kedua orang tua tercinta yaitu Ayahanda Pinayungan Harahap, drg., M. Kes dan Ibunda Eliyana Khairida Lubis, drg., M. Kes, serta abang dan kakak penulis Alfi Khairurrizky Hidayatullah Harahap, drg., Muhammad Fauzi Fikrillah Harahap, S.H., M.H, Fadli Naufal Fadlullah Harahap, drg., Nadya Fathin Lubis, Fawzia Rachmi Fuadi, drg., yang senantiasa selalu menyayangi, mendoakan dan memberikan dukungan yang luar biasa kepada penulis.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Yendriwati, drg., M. Kes., Sp. OF selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, memberi arahan, masukan serta dukungan dan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
2. Dr. Trelia Boel, drg., M. Kes., Sp. RKG(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ameta Pimasari, drg., MDSc., M. Kes., Sp. PPM selaku Ketua Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan juga selaku anggota tim penguji yang telah memberikan waktu luang dan memberikan nasihat serta masukan kepada penulis.
4. Dr. Filia Dana T, drg., M. Kes selaku anggota tim penguji skripsi yang telah
meluangkan waktu untuk memberikan saran dan masukan kepada penulis.
5. Ika Astrina, drg., MDSc dan Atika Resi Fitri, drg., yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, mengarahkan dan memberikan nasehat kepada penulis.
6. Wandania Farahanny drg., MDSc., Sp. KG(K) selaku penasehat akademik yang selalu memberikan nasehat dan bimbingan kepada penulis selama menjalani pendidikan akademis.
6. Teman-teman penulis Vidi, Nadit, Pija, Mimy, Nai, Azizah, Tita, Firda, Samuel, Erick, Luqman, Yudha, Nurul dan Nadiyah yang telah banyak menghabiskan waktu bersama penulis dalam menjalani perkuliahan, serta teman- teman satu bimbingan skripsi penulis, Ula, Dwita dan Clarinta.
7. Sahabat-sahabat terbaik penulis Suci, Mirna, Dyza, Siti, Aca, Pinkan, Audi, Kak Febri, Dea, May, Fahira, Kak Noni atas segala bantuan, perhatian dan semangat yang diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan serta masih ditemukan banyak kekurangan. Karena itu, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan selama melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangsih dalam pengembangan disiplin ilmu di bidang kedokteran gigi.
Medan, 30 Juli 2021 Penulis,
(Faradilla Afiffah Sholeha Harahap)
NIM: 170600031
DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL ...
HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ... i
HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Hipotesis ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Pertumbuhan Kepala ... 5
2.2 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kepala... 6
2.3 Indeks Sefalik ... 8
2.3.1 Pengukuran Indeks Sefalik ... 8
2.3.2 Klasifikasi Indeks Sefalik ... 9
2.3.3 Variasi Bentuk Kepala ... 10
2.4 Pertumbuhan Hidung ... 11
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Hidung ... 12
2.6 Indeks Nasal ... 13
2.6.1 Pengukuran Indeks Nasal ... 13
2.6.2 Klasifikasi Indeks Nasal ... 14
2.7 Klasifikasi Ras ... 15
2.8 Klasifikasi Ras di Indonesia ... 18
2.9 Landasan Teori ... 20
2.10 Kerangka Teori ... 21
2.11 Kerangka Konsep ... 22
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 23
3.1 Jenis Penelitian ... 23
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 23
3.2.1 Tempat penelitian ... 23
3.2.2 Waktu penelitian ... 23
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 23
3.3.1 Populasi ... 23
3.3.2 Sampel Penelitian ... 23
3.3.3 Besar Sampel ... 24
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 24
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 24
3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 25
3.5 Variabel Penelitian ... 25
3.5.1 Variabel Bebas ... 25
3.5.2 Variabel Terikat ... 25
3.5.3 Variabel Terkendali ... 25
3.5.4 Variabel Tidak Terkendali ... 25
3.6 Definisi Operasional Penelitian ... 25
3.7 Alat dan Bahan Penelitian ... 27
3.8 Metode Pengumpulan Data ... 27
3.9 Prosedur Penelitian ... 27
3.10 Pengolahan dan Analisis Data ... 29
BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 30
BAB 5 PEMBAHASAN ... 34
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 41
DAFTAR PUSTAKA ... 42
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman 1. Klasifikasi lebar dan panjang kepala menurut Martin
dan Sallar ... 9
2. Klasifikasi bentuk kepala menurut William et al ... 10
3. Kategori dan ukuran hidung menurut Martin dan Sallar ... 14
4. Bentuk hidung menurut Matory et al ... 14
5. Karakteristik umum sampel berdasarkan jenis kelamin ... 30
6. Perbandingan rerata lebar kepala, panjang kepala dan indeks sefalik pada suku Batak dan Jawa ... 31
7. Perbandingan rerata lebar hidung, tinggi hidung dan indeks nasal
pada suku Batak dan Jawa ... 32
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman 1. Grafik persentase pertumbuhan tulang kranium dan kartilago
primer ... 5
2. Tengkorak bayi, tengkorak anak-anak dan tengkorak dewasa ... 6
3. Lebar kepala dan panjang kepala ... 9
4. Bentuk kepala dolikosefalik, mesosefalik dan brakhisefalik ... 11
5. Lebar hidung dan tinggi hidung ... 13
6. Bentuk hidung leptorrhine, mesorrhine dan platyrrhine... 15
7. Ras Kaukasoid... 16
8. Ras Mongoloid ... 17
9. Ras Negroid ... 17
10. Ras Austroloid... 18
11. Pengukuran lebar kepala dan panjang kepala ... 28
12. Pengukuran tinggi hidung dan lebar hidung ... 29
13. Grafik distribusi frekuensi bentuk kepala suku Batak dan Jawa ... 31
14. Grafik distribusi frekuensi bentuk hidung suku Batak dan Jawa ... 33
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Skema Alur Pikir
2. Lembar Penjelasan kepada Subjek Penelitian
3. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) 4. Kuesioner Penelitian
5. Ethical clearance
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ras adalah kelompok manusia yang menyatakan ciri-ciri jasmaniah tertentu, yang diperoleh karena keturunan sesuai dengan hukum genetika, tetapi masih memungkinkan adanya variasi. Populasi di seluruh dunia terbagi atas 3 ras utama yaitu ras Kaukasoid, Mongoloid, dan Negroid, serta 4 ras lainnya yaitu ras Austroloid, Veddoid, Polynesia dan Aino.
1Jacob (1976) menjelaskan bahwa suku- suku bangsa di Indonesia berasal dari dua ras besar yaitu ras Austroloid dan ras Mongoloid.
2Penentuan ras dari setiap suku bangsa dalam suatu populasi sangatlah penting dan dapat ditentukan melalui antropometri manusia. Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik tertentu dari tubuh manusia seperti volume tubuh, titik berat, dimensi dan massa dari bagian tubuh (Sanders & McCormick, 1993).
Antropometri merupakan sistem pengukuran sifat fisik tubuh manusia, terutama mengenai dimensi ukuran dan bentuk tubuh manusia (Annis & McConville, 1996).
3Ilmu pengetahuan antropometri berkembang terutama dalam konteks antropologi.
4,5Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan. Antropologi terbagi atas dua macam yaitu antropologi biologi dan antropologi budaya. Antropologi biologi dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu paleoantropologi yang mempelajari asal-usul dan evolusi manusia dengan sisa-sisa fosil manusia purba dan antropologi fisik yang mempelajari tentang manusia secara sistematis sebagai organisme biologis yang berkembang dan hendak ditentukan tentang dan penyebabnya bangsa-bangsa berbeda menurut keadaan fisiknya. Antropologi fisik mengkaji tentang klasifikasi dan identifikasi perbedaan ras dan jenis kelamin.
6Ilmu antropometri menciptakan indeks sefalometri untuk melihat perbedaan
manusia secara lebih teliti dalam proses identifikasi. Ukuran dalam antropometri
hanya memberikan informasi tentang ukuran (size), sehingga untuk mengungkapkan bentuk (shape) diciptakan proporsi antara ukuran-ukuran yang disebut indeks.
7Pengelompokan manusia ke dalam golongan yang mempunyai ciri yang sama akan lebih mudah dengan adanya indeks.
8Pengukuran indeks sefalometri dapat membantu proses identifikasi forensik dalam menentukan identitas seseorang. Indeks sefalometri terdiri atas indeks sefalik (indeks kepala), indeks fasial (indeks wajah), indeks frontoparietal (indeks dahi) dan indeks nasal (indeks hidung).
9Penulis memilih dua indeks yaitu indeks sefalik dan indeks nasal untuk dibahas lebih lanjut mengenai pengukurannya sebagai salah satu cara megidentifikasi ras seseorang.
Indeks sefalik adalah perbandingan antara lebar maksimum kepala dengan panjang maksimum kepala dalam persen.
4Indeks sefalik diperkenalkan oleh Anders Retzius (1976), seorang ahli anatomi Swedia dengan tujuan untuk mengklasifikasi populasi.
10Perhitungan indeks sefalik dapat menentukan tipe bentuk kepala seseorang. Bentuk kepala yang akan didapatkan dari perhitungan indeks sefalik adalah dolikosefalik, mesosefalik, brakhisefalik dan hiperbrakhisefalik.
4Indeks nasal adalah perbandingan lebar hidung dengan tinggi hidung lalu dikalikan 100.
11Perhitungan indeks nasal atau bentuk hidung relevan dalam membedakan ras, etnis dan jenis kelamin individu yang tidak diketahui identitasnya.
12Indeks nasal juga berguna dalam analisis dan klasifikasi sisa-sisa fosil sebagai studi tentang makhluk hidup.
11Berdasarkan perhitungan indeks nasal, hidung dibagi menjadi 3 tipe yaitu leptorrhine, mesorrhine dan platyrrhine.
13Suku Batak dan suku Jawa termasuk ke dalam kelompok ras Mongoloid. Ras
Mongoloid terbagi menjadi dua subras yaitu ras Proto Melayu dan ras Deutro
Melayu. Ras Proto Melayu terdiri dari suku Batak, Toraja dan Dayak. Ras Deutro
Melayu meliputi antara lain suku Jawa, Sunda, Minang, Melayu, Madura, Bugis dan
Bali.
1Perbedaan asal-usul dari berbagai suku bangsa akan menyebabkan
keanekaragaman genetik.
14Kelompok dari suku yang berbeda cenderung memiliki
ukuran bentuk tengkorak yang berbeda walaupun ukuran tersebut sering kali
dipengaruhi oleh variasi individual.
15Persamaan yang dapat dilihat dari karakter fisik
suatu ras adalah bentuk kepala dan bentuk hidung.
1Terdapat penelitian tentang bentuk kepala dan bentuk hidung yang dapat dihubungkan dengan penentuan ras menggunakan indeks sefalik dan indeks nasal.
Penelitian tentang indeks sefalik dan indeks wajah orang Indonesia berdasarkan suku yang dilakukan oleh Nettty H (2011) di Medan mendapatkan hasil perbandingan indeks sefalik yang bermakna yaitu suku Batak Toba (82,67), Aceh (82,55), Karo (82,66), Jawa (84,48), Mandailing (81,8), Minang (81,48) dan Nias (86,28).
16Penelitian indeks nasal yang dilakukan oleh Mulyana (2007) pada suku Batak mendapatkan nilai indeks nasal sebesar 92,33 yang artinya bentuk hidung suku Batak termasuk ke dalam tipe hidung plathyrrhine.
Berdasarkan hal yang telah dikemukakan di atas, tidak terdapat banyak penelitian tentang perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal terutama pada suku Batak dan suku Jawa yang memiliki subras yang berbeda. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal yang terfokus pada suku Batak dan suku Jawa di Medan, serta melihat apakah terdapat hubungan antara bentuk kepala dan bentuk hidung pada kedua suku tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini:
1. Apakah terdapat perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dengan suku Jawa di Medan?
2. Bagaimanakah bentuk kepala dan bentuk hidung pada suku Batak dan suku Jawa di Medan?
3. Apakah terdapat hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing-masing suku Batak dan Jawa di Medan?
1.3 Tujuan Penilitian
1. Menganalisa perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dengan suku Jawa di Medan.
2. Mengetahui bagaimana bentuk kepala dan bentuk hidung pada suku Batak
dan suku Jawa di Medan.
3. Menganalisa hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing-masing suku Batak dan Jawa di Medan.
1.4 Hipotesis Penelitian
1. Terdapat perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dengan suku Jawa di Medan.
2. Terdapat hubungan antara indeks sefalik dengan indeks nasal pada masing- masing suku Batak dan Jawa.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan membantu para dokter gigi forensic dalam melakukan identifikasi ras dengan menggunakan indeks sefalik dan indeks nasal.
2. Memperoleh data dan informasi mengenai perbedaan indeks sefalik dan indeks nasal antara suku Batak dengan suku Jawa di Medan.
3. Mengetahui data dan informasi tentang bentuk kepala dan bentuk hidung pada suku Batak dan suku Jawa.
4. Memperoleh data dan informasi mengenai hubungan antara indeks sefalik
dengan indeks nasal pada masing-masing suku Batak dan suku Jawa.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pertumbuhan Kepala
Pertumbuhan kepala sangatlah kompleks. Pusat-pusat pertumbuhan di kepala sudah bekerja aktif bahkan sebelum bayi dilahirkan. Pada bayi, pertumbuhan kepala berlangsung dengan kecepatan yang relatif tinggi dan bertambah lambat selama masa kanak-kanak sampai pada periode pubertas sampai ke maturitas. Usia tahap-tahap pertumbuhan ini terjadi dan berakhir secara bervariasi antara individu. Rata-rata pertumbuhan kepala berhenti pada usia 18-20 tahun.
17Gambar 1. Grafik persentase pertumbuhan tulang
kranium dan kartilago primer
17Gambar 2. A. Tengkorak Bayi, B. Tengkorak Anak-anak C. Tengkorak Dewasa
182.2 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kepala
Pertumbuhan kepala sangat dipengaruhi oleh faktor genetik tetapi di samping itu terdapat juga faktor-faktor lain seperti:
1. Faktor lingkungan
Tulang tumbuh dengan cepat pada masa anak-anak. Nutrisi yang baik dapat memberikan pertumbuhan tulang yang normal. Vitamin D merupakan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan tulang karena mengandung kalsium yang dibutuhkan tulang.
Asupan nutrisi yang cukup dan baik adalah faktor lingkungan utama yang dapat mempengerahui maturasi skeletal. Kekurangan asam amino penting, vitamin atau mineral turut berpengaruh pada maturasi skeletal. Asupan nutrisi yang buruk akan menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tinggi badan, umur serta struktur tulang.
192. Faktor hormon
Hormon memiliki peran utama dalam mengatur pertumbuhan semua
jaringan. Salah satu hormon penting di dalam tubuh adalah hormon tiroid. Hormon
tiroid berfungsi untuk mensistesi hormon pertumbuhan maupun efek-efek kenaikan
pertumbuhan. Kekurangan hormon tiroid pada bayi dan anak-anak dapat
mengakibatkan hipotiroidisme. Penderita hipotiroidisme akan mengalami
keterlambatan pertumbuhan dikarenakan pertumbuhan tulang yang lambat.
193. Jenis kelamin
Tahap kemajuan osifikasi selama usia pertumbuhan menunjukkan angka yang skematis. Perbedaan terjadi pada jenis kelamin individu. Anak perempuan menunjukkan tingkat maturasi skeletal yang lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki.
194. Fungsi
Fungsi normal memegang peranan pada pertumbuhan skeletal. Apabila tidak adanya fungsi, seperti pada ankylosis temporomandibula, aglossia dan gangguan neuromuskuler akan menghasilkan distorsi pada morfologi tulang.
205. Pertumbuhan badan secara umum
Kematangan biologis secara umum semua aspek maturasi individu, dimensi yang paling menonjol pada pertumbuhan badan anak adalah tinggi badan. Kurva kecepatan tinggi akan berkurang terus-menerus mulai dari lahir kecuali pada dua percepatan pertumbuhan yaitu sekitar 6-7 tahun dan saat pubertas. Percepatan pertumbuhan periode pubertal merupakan percepatan pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan manapun. Telah banyak diketahui bahwa maturasi saling berhubungan dengan kurva tinggi badan sehingga pertumbuhan somatik dan pertumbuhan kraniofasial secara umum berhubungan.
206. Neurotrofisme
Aktivitas neutral mengontrol aktivitas otot dan pertumbuhan. Saraf mengontrol pertumbuhan tulang dengan mentransmisi substansi melalui akson saraf.
Aktivitas neutral ini dihipotesiskan sebagai Neurotrofisme. Neurotrofisme dapat
bekerja secara tidak langsung dengan induksi saraf dan mempengaruhi pertumbuhan
dan fungsi jaringan lunak yang kemudian akan mengontrol atau memodifikasi
pertumbuhan dan morfologi tulang.
202.3 Indeks Sefalik
Indeks sefalik merupakan rasio dari lebar kepala terhadap panjang kepala.
Pengukuran indeks sefalik merupakan salah satu bagian dari ilmu antropometri.
Antropometri adalah ilmu yang secara khusus mempelajari tentang pengukuran tubuh manusia guna merumuskan perbedaan-perbedaan ukuran pada tiap individu ataupun kelompok.
21Ilmu antropometri juga berguna dalam bidang forensik untuk mengidentifikasi seseorang dengan mempelajari pengukuran bagian-bagian pada kerangka manusia khususnya pada bagian kepala dan wajah. Indeks sefalik merupakan salah satu parameter yang penting untuk menentukan ras pada individu yang identitasnya tidak diketahui.
21,222.3.1 Pengukuran Indeks Sefalik
Formula indeks sefalik adalah perbandingan antara lebar kepala dengan panjang kepala lalu dikalikan 100 dengan rumus:
Lebar kepala diukur dari maksimum diameter transversal antara 2 titik tetap diatas euryon (Eu).
6Euryon adalah titik terluar pada samping kepala. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 3a.
Lalu untuk panjang kepala diukur dari titik glabella (Gl) sampai titik opisthocranion (Op). Glabella merupakan titik paling depan pada tulang dahi, terletak di atas pangkal hidung dan di antara alis. Opisthocranion adalah titik paling menonjol dan paling posterior pada daerah tulang kepala belakang (lobus oksipital) yang dapat dilihat dengan jelas pada gambar 3b.
6𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑠𝑒𝑓𝑎𝑙𝑖𝑘 =
𝐿𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎