KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Hadits Tarbawi Dosen Pengampu : Dr. H. Muhid, M.Ag.
Disusun Oleh :
Muhammad Abiyyubillah ( 19051077 )
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM DARUL ‘ULUM (UNISDA) LAMONGAN
2021
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun sebuah makalah dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Hadits Tarbawi dengan mengangkat judul Kewajiban Menunutut Ilmu.
Sholawat dan salam juga kami haturkan kepada nabi muhammad SAW karena berkat jasa dan perjuangannya kita dapat menitih dari jalan yang gelap menuju jalan yang terang.
Penulis ingin mengucapkan terimah kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam pembuatan makalah ini. Penulis mengakui bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Dalam pembuatan makalah ini penulis banyak kekurangan, oleh karena itu penulis memohon agar pembimbing materi dan pembaca dapat memakluminya. Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran sebagai bahan evaluasi dan masukan untuk makalah yang telah penulis susun . Akhir kata semoga makalah ini dapat memberi manfaat kepada kita semua. Aamiin
Lamongan, 13 April 2021
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
PENDAHULUAN ... 4
A. Latar Belakang ... 4
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan... 4
PEMBAHASAN ... 6
A. Hadits-hadits Kewajiban Menuntut Ilmu ... 6
B. Syarah Hadits ... 11
PENUTUP ... 15
A. Kesimpulan... 15
B. Penutup ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kalau kita memperhatikan Al-Quran dan Hadits dengan seksama, maka kita akan menjumpai berbagai ungkapan yang menunjukan dorongan kepada setiap orang muslim dan mukmin untuk selalu menuntut ilmu ataupun belajar. Allan mengungkapkannya dengan kalimat tentang perbandingan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, sebagaimana tertera dalam surat Az-Zumar Ayat 9:
➔
❑⧫
⧫
⧫❑⬧➔⧫
⧫◆
⧫❑☺◼➔⧫
☺
⧫⧫
❑
⧫
Artinya:
“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az-Zumar:9)
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil alamin. Maka dari itu,
diutuslah Rasulullah SAW untuk memperbaiki manusia melalui
pendidikan. Kemudian Pendidikanlah yang akan mengantarkan manusia
pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang
dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan
berharga yang berupa ketaqwaan terhadap Allah SWT.
Dengan pendidikan yang baik, tentu akhlak manusia pun juga akan lebih baik. Tapi kenyataan dalam hidup ini, banyak orang yang menggunakan akal dan kepintaraannya untuk maksiat. Banyak orang yang pintar dan berpendidikan justru akhlaknya lebih buruk dibanding dengan orang yang tak pernah sekolah. Adapan hal ini dapat terjadi karena ketidakbalance an ilmu dunia dan akhirat. Dengan demikian perlu adanya keseimbangan antara ilmu dunia dengan ilmu akhirat. Ilmu pengetahuan dunia rasanya kurang kalau belum dilengkapi dengan ilmu agama atau akhirat. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk mencari ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Sekalipun kita harus pergi jauh untuk mendapatkan ilmu tersebut karena manfaat ilmu bagi kehidupan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.
B. Rumusan Masalah
1. Bagiamana bunyi hadis tentang kewajiban menununtut ilmu?
2. Bagaimanakah syarah (penjelasan) hadis kewajiban menuntut ilmu?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hadis-hadis tentang wajibnya menuntut ilmu.
2. Untuk mengetahui syarah (penjelasan) hadis kewajiban menunutut
ilmu.
BAB II PEMBAHASAN A. Hadits Kewajiban Menuntut Ilmu
نب سنأ نع اوبلطأ ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر لاق لاق كلام
ةكئلاملا نإ ملسم لك ىلع ةضيرف ملعلا بلط نإف يلاب ولو ملعلا )ربلا دبع نبا هجرخأ ( بلطي امب اضر ملعلا بلاطل اهتحنجأ عضت
1
Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Carilah ilmu walaupun di negeri Cina. Sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap Muslim. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi pencari ilmu karena rida dengan apa yang dicari.” (H.R . Ibnu Abd al -Barr)
او ملسم لك ىلع ةضيرف ملعلا بلط : ةياور يفو ن
ملعلا بلاط
ي س فغت ر بلا يف ناتيحلا ىتح يش لك هل ح
ملعلا يف ربلا دبع نبا ( ر
)حيحص ثيدح سنأ نع
2
Dalam riwayat: "Mencari ilmu wajib terhadap setiap orang Islam.
Sesungguhnya pencari ilmu dimohonkan pengampunan kepadanya oleh segala sesuatu sehingga ikan dalam lautan." (HR. Ibn Abdil Barr dari Anas Hadis Shahih)
Kosakata ( Mufradât )
a. نيصلاب : Di negeri Cina
1
Al - Suyuthiy, al - Jami ' al - Shagir , h . 44 dan al - Hamsyimiy, Mukhtar al - Ahadits, h. 23
2
Idem
b. ةضيرف : Fardu , wajib
c. اهتحنجأ . : Sayap malaikat , jamak dari kata حانج
d. ناتيحلا : Ikan jamak dari kata توحلا
B. Penjelasan ( Syarah Hadis ) 1. Kualitas Hadis
Hadis yang disebutkan diatas adalah Hadis Tarbawi yang banyak digunakan sebagai referensi dalam pengambilan hukum kewajiban menuntut ilmu sekalipun diperselisihkan kualitasnya oleh para ulama tetapi terkenal di kalangan para pelajar, santri, dan mahasiswa di mana saja berada. Dalam Ilmu Hadis disebut masyhur non-isthilahiy artinya terkenal di kalangan kelompok tertentu sekalipun perawinya kurang dari tiga orang pada setiap tingkatan sanad. 3 Al-Suyuthiy menilai Hadis tersebut berkualitas dha'if, al - Maqdisiy menilai sepotong Hadis berikut:
نيصلاب ولو ملعلا اوبلط
Dinilai maudhu' dengan berpegang penilaian Ibnu Taymiyah bahwa ungkapan ini tidak berasal dari Nabi SAW. 4
Riwayat lain mengung kapkan:
( ملسم لك ىلع ةضيرف ملعلا بلط نإف نيصلاب ولو ملعلا اوبلطأ يف يقهيبلاو لماكلا يف يدع نباو ءافعضلا يف يليقعلا هجرخأ لا بعش سنأ نباو نامي
بع ) فيعض ثيدح نع ملعلا يف ربلا د
5
"Carilah ilmu walaupun di negeri Cina. Sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (H.R. Al- ‘Uqayliy dalam Al - Dhu'afa 'Ibnu 'adiy dalam
3
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta:Kencana Prenadamedia Grup, 2014), h.140
4
Al - Maqdisy, al - Fawaid al - Mowdhu'ah fi al - Ahadits al – Mawdhu’ah, Ed. al - Shabbagh Beirut : Dar al - Arabiyah , 1977 , h.94
5
Al-Suyuthi, al - Jami ' al - Shagir, h.4.
al-Kamil, al- bayhaqiy dalam Syu'ab al - Iman dan Ibnu ' Abd al - Barr dalam al-Ilmu dari Anas, Hadis dha'if )
Sedangkan potongan berikutnya:
ملسم لك ىلع ةضيرف ملعلا بلط
Al-Maqdisiy menjelaskan bahwa kualitas hadis ini yang mana ia mengutip pendapat dari Ibnu Abd.Al-Barr bahwa Hadis ini datang melalui beberapa sanad dan semuanya ada cacat (ma'lul = ber’illat). Adapun yang lain berpendapat tentang hadits ini adalah melalui banyak sanad yang mencapai tingkat Hasan. 6
Al - Suyuthiy menilai shahih dengan adanya lanjutan kalimat beri kutnya yang berbeda sebagaimana berikut:
لك هل رفغتسي ملعلا بلاط نإو ملسم لك ىلع ةضيرف ملعلا بلط ا دبع نبا ( رحبلا يف ناتيحلا ىتح ءيش سنأ نع ملعلا يف ربل
)حيحص ثيدح
7
“Mencari ilmu wajib terhadap setiap orang Islam. Sesungguhnya pencari ilmu dimohonkan pengampunan kepadanya oleh segala sesuatu sehingga ikan dalam lautan.” (HR. Ibn Abdil Barr dari Anas Hadis Shahih).
( نافهللا ةثاغإ بحي اللهو ملسم لك ىلع ةضيرف ملعلا بلط ميلا بعش يف يقهيبلا ) حيحص سنا نع ربلا دبع نباو نا
8
“Mencari ilmu wajib atas setiap Muslim dan Allah mencintai orang teraniaya yang minta pertolongan.” (H.R. Al - Bayhaqiy dalam Su'ab Al- Iman dan Ibn Abd. Barr dari Anas, Hadits Shohih)
6
Al - Maqdisiy, al - Fawaid at - Mawdhu ah fi al - Ahadits al – Mawdhu’ah, h.76
7
Al - Maqdisiy , al - Fawaid at - Mawdhu ah fi al - Ahadits al - Mawdhu ‘ah , h .54
8
Idem
Kemudian, Imam Al - Suyuthiy menilai dha'if dengan tambahan berikut dhaif:
ةضيرف ملعلا بلط
هلها ريغ دنع ملعلا عضاوو ملسم لك ىلع
نع ةجام نبا هجرخأ ( بهذلاو ؤلؤللاو رهوجلا ريزانخلا د لقمك فيعض ثيدح ) سنأ
“Mencari ilmu wajib atas setiap Muslim. Pembawa ilmu tidak pada ahlinya bagaikan orang yang mengalungi babi dengan permata mutiara, dan emas.” (HR . Ibnu Majah dari Anas, Hadis dha'if).
Para ilmuwan memiliki spesifikasi ilmu sesuai dengan bidang nya.
Ababila seseorang berbicara ilmu yang bukan pada ahlinya berarti yang deamikian adalah dzalim atau suatu penganiayaan, sama halnya seperti memakaikan sebuah kalung pada binatang yang sangat rendah dengan benda yang sangat berharga, pastinya orang-orang akan menafikan hal itu bahkan menolak hal tersebut.
Meskipun Hadis ini dinilai dha'if oleh mayoritas ulama, tetapi dalam beberapa hadis juga layak disebutkan disini yang mana statusnya adalah sebagai pendukung terhadap hadis dhoif yang disebutkan di atas.
Adapun hadis pendukung tersebut adalah hadits yang berbunyi akan pentingnya mencari ilmu bahkan sampai ke negeri Cina.
2. Penjelasan kandungan Hadits
Ada beberapa pokok pesan dalam Hadis di atas, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
نيصلاب ولو ملعلا اوبلطأ
Makna walaw (و ل و) dalam bahasa Arab menunjuk batas maksimal apa pun yang terjadi (li al-ghâyah). Para ulama memberi penjelasan makna walaupun di negeri Cina dalam Hadis tersebut antara lain: 9
9
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta:Kencana Prenadamedia Grup, 2014), h.142
1. Al-Manawiy dalam kitab al-Taysir Syarah al-Jámi' al-Shaghir memberikan arti sekalipun sangat jauh (mubalaghah fi al-bu'di) dengan alasan kewajiban menuntutnya sebagaimana hadis lanjutannya.
2. Abdullah bin Baz dalam Majmu Fatawanya; anjuran mencari ilmu walaupun di tempat yang sangat jauh bukan berarti Cinanya. Hadis menyebutkan walau di negeri Cina, karena Cina negara yang jauh dari Arab. Ini jika benar khabar shahih.
3. Muhammah Abduh dalam al-Mannar memberikan komentar mencari ilmu dengan siapa saja atau dari mana saja sekalipun bukan negeri Muslim. Di Cina pada saat itu belum ada seorang Muslim penduduknya penyembah berhala (watsaniyun) tidak Majusi. Bahkan Syekh Yusuf al-Qardhawi menunjuk makna Hadis belajar ilmu pengetahuan sekalipun di Barat atau negara maju tingkat ilmu pengetahuan atau sains dan teknologinya.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa makna mencari ilmu itu adalah suatau kewajiban sekalipun dinegari Cina, sekalipun jauh dari tempat tinggal, sekalipun menderita dan sulit, sekalipun datang yang dari non- Muslim atau sekalipun di negera minoritas muslim sudah maju. Sebagian pendapat Cina sudah mengalami kemajuan pada waktu itu seperti membuat kertas dan lain-lain. Adapun makna dari disebutanya China dalam hadis tersebut kemungkinan karena Rosulullah sudah mengetahui bahwa Negara ini adalah Negara yang maju dalam segala hal. Karena Rosulullah sendiri adalah manusia sempurna yang sudahlah pasti mengetahu hal-hal yang tidka diketahui manusia lain. Ada beberapa sudut pandang mengapa China disebutkan dalam hadis:
Pertama, dari sudut sejarah, baginda adalah pedagang antarbangsa, Beliau waktu usia muda pernah dua kali minimal pergi ke Syam sebagai kota perdagangan, Di kota itu sudah ada kebudayaan Romawi dan tentu saja sudah berinteraksi dengan budaya lain. Jadi, tidak mustahil dalam perjalanan itu baginda mendengar tentang peradaban negeri Cina yang sudah tinggi.
Kedua, apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, tidaklah berhenti pada pengetahuan Beliau saja, tetapi ada unsur wahyu Allah yang berperan.
Jika kemungkinan ini diambil, dan hal ini sangatlah mungkin, maka unsur
kejanggalan matan Hadis ini tidak ada muncul lagi. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kata negeri Cina. Negeri ini adalah negeri atau kekaisaran yang populer di kalangan awam pada saat itu adalah Romawi dan Kisra. Jarak kekuasaan kekaisaran ini tidaklah terlalu jauh dari dunia Islam. Bahkan Rasulullah sendiri pernah menuliskan surat untuk mereka dan kerajaan dan kekaisaran lain. Walhasil, Nabi ingin memberitakan kepada umat Islam bahwa ada negeri lain yang juga sudah memiliki peradaban yang maju. 10
Hukum menuntut ilmu sebagaimana disebutkan pada Hadis berikut :
ملسم لك ىلع ةضيرف ملعلا بلط نإف
"Sesungguhnya mencari ilmu wajib atas setiap Muslim.”
Hukum mencari ilmu wajib bagi seluruh kaum Muslimin baik laki dan perempuan, makna wajib di sini adakalanya wajib'ain dan ada kalanya wajib kifayah. Kata "Muslim" berbentuk mudzakar (laki-laki), tetapi maknanya mencakup mudzakar dan muannats (perempuan).
Maksud orang Muslim yang mukallaf yakni Muslim, berakal, balig, laki- laki, dan perempuan. Dari sekian banyak buku Hadis penulis tidak menjumpai kata muslimatin setelah kata Muslim di atas. Hukum mencari ilmu fardu bagi setiap orang Islam baik laki - laki maupun perempuan. Hukum mencari ilmu wajib sebagaimana Hadis di atas. Masa mencari ilmu seumur hidup (long life of education) sebagaimana kata Ki Hajar Dewantara, bahwa menuntut ilmu sejak lahir sampai mati. Sebagian ulama salaf berkata :
دحللا ىلإ دهملا نم ملعلا بلط أ
"Carilah ilmu dari ayunan sampai lubang kubur."
Sedang di antara manfaat menuntut ilmu untuk memperoleh ke bahagiaan dunia dan akhirat. Imam Syafi'i pernah berkata: 11
ملعلاب هيلعف ةرخلآا دارأ نمو , ملاعلاب هيلعف ايندلا دارأ نم
10
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta:Kencana Prenadamedia Grup, 2014), h.145
11
Dra. Hj. Alfiah, M. Ag., HADIST TARBAWI (Pendidikan Islam Dalam Tinjauan Hadist Nabi),
(Pekanbaru: Kreasi Edukasi, 2015) , h.18
“Barang siapa yang menghendaki dunia hendaknya dengan ilmu dan barang siapa yang menghendaki akhirat hendaknya dengan ilmu.”
Maksud ilmu di sini secara umum baik ilmu syara' maaupun ilmu pengetahuan. Keduanya penting untuk mencari kemaslahatan dunia dan akhirat. Sedang maksud ilmu yang wajib dituntut sebagaimana Hadis di atas adalah ilmu syara 'dan kewajibannya adakalanya fardu' ain dan adakalanya fardu kifayah. Ibn al-Mubarak ketika ditanya tentang makna Hadis di atas menjawab; maknanya tidak seperti yang mereka duga, tetapi apa yang terjadi pada seseorang dari urusan agamanya akan dimintai pertanggungjawaban sehingga ia harus mengetahui ilmunya. 12 Al-Baydhawiy menjelaskan bahwa maksud ilmu di sini adalah ilmu yang tidak ada jalan lain kecuali harus mengetahuinya seperti mengetahui Sang Pencipta alam dan ke-Esaan-Nya, mengetahui kenabian Muhammad SAW dan mengetahui cara shalat, semua ini hukumnya fardu'ain. Menurut Imam Al-Ghazali dalam al-Manhaj menjelaskan bahwa mancari ilmu ada tiga ilmu sebagai berikut:
1. Ilmu tauhid, ilmu mengetahui pokok-pokok agama seperti mengetahui sifat-sifat Tuhan Maha Kuasa, Maha Mengetahui Maha hidup, Maha Menghendak, dan Maha Mendengar. Tuhan memiliki segala sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat alam Ilmu ini juga mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan membenarkan segala apa yang disampaikan.
2. Ilmu sirr, ilmu hati dan pergerakannya, yakni mengetahui kewajiban hati serta mengetahui larangan-larangannya sehingga mendapatkan keikhlasan niat dan keabsahan amal.
3. Ilmu Syari ah, segala ilmu yang wajib diketahui untuk melaksanakan syariah dan ibadah. Selain tiga di atas hukumnya wajib kifayah.
Zulfahmi Lubis (dalam Kewajiban Belajar, Juli-Desember 2016) menurut imam al-Gazali dalam bukunya Ihya’ Ulumiddin beliau menerangkan secara khusus tentang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tatanan sosial masyarakat. Ia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasarkan tiga kriteria,
12
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta:Kencana Prenadamedia Grup, 2014), h.145
yaitu: (Al-Ghazali, : 13-24). 13
1. Kasifikasi ilmu pengetahuan menurut tingkat kewajibannya
Berdasarkan tingkat kewajibannya ini imam al-Gazâli membagi kepada dua kewajiban yaitu;
a. Ilmu pengetahuan yang fardu ‘ain
Menurutnya ilmu pengetahuan yang termasuk dihukumi fardlu ain ialah segala macam ilmu pengetahuan yang dengan dapat digunakan untuk bertauhid (pengabdian, peribadatan kepada Allah secara benar, untuk mengetahui Zat serta Sifat-sifat-Nya.
b. Ilmu pengetahuan fardluu kifayah
Adapun yang termasuk fardlu kifayah menurutnya adalah setiap ilmu pengetahuan yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakkan kesejahteraan dunia. Al-Gazâli menyebutkan ilmu-ilmu yang termasuk fardlu kifayah adalah: ilmu kedokteran, berhitung, ilmu bekam, politik dan lain sebagainya.
2. Klasifikasi ilmupengetahuan menutut sumbernya
Adapun klasifikasi ilmu pengetahuan menurut sumbernya. Al-Gazâli membagi kepada dua sumber:
a. Sumber dari pengetahuan syari’ah
Ilmu ini adalah ilmu pengetahuan yang di peroleh dari para Nabi as.
Bukan dari penggunaan ilmu akal seperti berhitung atau dari eksperimen seperti ilmu kedokteran atau dari pendengaran seperti ilmu bahas.
Kemudian dari pengetahuan syari’ah di klasifikasikan menjadi 4 bagian yaitu;
1. Ushul yang terdiri dari, Alquran, as-Sunnah, Ijma’ dan Ăśâr sahabat.
2. Furu’ yang terdiri dari ilmu fiqih, ilmu akhlak atau etika Islam.
3. Muqaddimah yakni ilmu yang merupakan alat seperti ilmu bahasa
nahwu.
4. Mutammimah (penyempurnaan) yakni ilmu al-Qur’an hadits dan ilmu âśar sahabat dan lainnya.
b. Pengetahuan gairi syari’ah(`aqliyah)
Sumber-sumber primer dari pengetahuan gairu syari’ah (aqliah) adalah akal pikiran, eksperimen dan akulturasi.Jadi, ilmu pengetahuan gairu syari’ah yakni sesuatu yang dapat diganti (dicari) dan tercapai oleh persepsi dan ilmu pengetahuan ini ada yang terpuji, dan yang tercela dan ada yang mubah.
3. Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut fungsinya sosialnya.
Berdasarkan fungsi sosialnya, al-Gazali membagi kepada 2 macam:
a. Ilmu pengetahuan yang terpuji, yakni pengetahuan yang bermanfaat dan tidak dapat di kesampingkan. Contohnya ilmu
13
Zulfahmi Lubis, Kewajiban Belajar ( 2 ،ربمسيد – ويلوي، 2 ددعلا ةسداسلا ةنسلا : ةيبرعلا ءايحا ), Juli-
Desember 2016
kedokteran dan berhitung.
b. Ilmu pengetahuan yang terkutuk yaitu pengetahuan yang merugikan dan merusak manusia. Contohnya ilmu magis (sihir), azimat-azimat (ţulasamat), ilmu tenung (sya’bizah) dan astrologi (talbisât).
Di antara ulama seperti al-Zarnujiy dalam kitabnya Ta'lim al- Muta' allim, al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulûm al-Din dan al-Manawiy dalam al-Taysir bi Syarh al-Jami' al-Shaghir membagi hukum mencari ilmu adakalanya wajib, haram, sunah, mubah dan makruh bergantung manfaat dan mudaratnya. Hukum wajib ain seperti ilmu wudhu', shalat, puasa, dan lain-lain yang menyangkut amal wajib. Seorang berharta wajib mengetahui ilmu zakat, se orang yang melakukan transaksi jual beli wajib mengetahui hukum muamalah, seorang beristri wajib mengetahui pergaulan dengan wanita dengan baik dan lain-lain. 14
Al-Zarnujiy menyebutnya ilmu al-hal, yakni ilmu yang wajib dilakukan sekarang baik menyangkut akidah, ibadah, dan akhlak atau di- artikan ilmu tingkah laku. Sedang wajib kifayah, jika sudah ada sebagian di antara umat Islam yang melakukannya, maka yang lain gugur dosanya canerti ilmu falak atau ilmu astronomi untuk mengetahui rukyat al-hilal melihat bulan sebagai penetapan awal bulan dan lain-lain, ilmu saintek untuk pendukung tegaknya pelaksanaan agama atau untuk kemajuan umat Islam dan lain-lain. Menurut al-Zarnuji termasuk wajib kifayah adalah ilmu mustaqbal, yakni belajar ilmu yang tidak segera dikerjakan seperti orang miskin belajar tentang zakat dan haji atau mempelajari ilmu sekalipun syara' tetapi tidak untuk diamalkan segera. 15
Penyebutan istilah ilmu itu tersebut ahli didik beragam Ibnu Khaldun menyebut ilmu aqliyah dan nagliyah, al-Ghazali menyebut ilmu syariat dan aqliyah, al-Attas menyebutkan ilmu fardu 'ain dan ilmu fardu kifayah, sedangkan seminar pendidikan internasional di Mekkah al-Mukarramah 1977
14
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta:Kencana Prenadamedia Grup, 2014), h.147
15
Ibrahim bin Ismail, Ta‘lim al - Muta`allim Thariq al - Muta`allim, (Semarang: Putra,t.th.)
h.4.11.
menyebutkan ilmu wahyu dan ilmu muktasab 16 (ilmu yang diperoleh hasil research). Sekalipun berbeda istilah-istilah di atas, tetapi maknanya sama atau hampir sama.
بلطي امب اضر ملعلا بلاطل اهتحنجأ عضت ةكئلاملا نإ
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi pencari ilmu karena rida dengan apa yang dicari.”
Sesungguhnya malaikat menahan sayapnya, tidak terbang, dihamparkan sayapnya karena hormat dan cinta kepada pencari ilmu. Ada dua pengertian maksud malaikat meletakkan sayapnya, sebagai berikut: 17
1. Majas Metafora: yakni malaikat hormat dan merendah terhadap penuntut ilmu sebagaimana kata Zayn al- 'Arab. Perbandingannya seperti QS.Al - Isra (17) : 24
ةمحرلا نم لذلا حانج امهل ضفخاو
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.”
Merendahkan sayap atau meletakkannya memiliki arti menyayangi, merendah, tawadlu’, dan hormat sebagaimana kewajiban anak terhadap kedua orangtuanya. Atau diartikan malaikat menahan sayapnya untuk tidak terbang, tetapi turun ke Bumi mengepung para penuntut ilmu membawa rahmat dan ketenagan serta dibantu maialikat agar dimudahkan jalannya dalam mencari ilmu.
2. Makna hakikat, memiliki arti bahwa para malaikat menghamparkan sayapnya untuk diinjak atau diduduki oleh para penuntut ilmu, karena ridha terhadap mereka. Manusia tidak melihat hal itu tetapi Allah yang Maha Melihat, karena hal ini termasuk berita gaib yang diberitakan Nabi saw. Dijelaskan dalam kitab Tuhfat al - Ahwadziy syarah Jami' al- Turmudziy (6/481), bahwa makna kedua ini didukung oleh periwayatan Ibn al - Qayyim dari Ahmad bin Syu'ayb berkata: “Suatu ketika kami
16
Hasan Langgulung, Asas - asas Pendidikan Islam, h. 326.
17
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta:Kencana Prenadamedia Grup, 2014), h.148-149
bersama sebagian ahli Hadis di Bashrah menyampaikan Hadis ini di suatu majelis, di situ ada seorang muktazilah yang mengejek Hadis ini, seraya berkata: Demi Allah, akan ku pijakkan sandal saya dan aku injak - injakkan di atas sayap malaikat." Besoknya benar ia lakukan, ia berjalan di atas kedua sandalnya, kedua kakinya tergelincir dan ia terjatuh. 18 Demikian juga al-Thabaraniy meriwayatkan: Aku mendengar Ibnu Yahya al-Sajiy berkata: "Aku berjalan di suatu gang di Bashrah menuju ke pintu majelis sebagian ulama hadis, kami berjalan cepat dan bersama kami pada waktu itu ada seorang yang melawak dan dicurigai agamanya. Ia berkata:
"Angkat kakimu dari sayap malaikat seolah-olah orang itu mengejek atau merendahkan Hadis tersebut. Orang tersebut tahu - tahu tidak bisa berjalan dan tidak bisa bergerak kakinya seolah terikat kakinya dan terjatuh di atas Bumi.( Abdul Majid Khon, 2014) 19
Demikian realita yang terjadi pada saat itu , makna yang baik dan sempurna adalah kompromi kedua arti tersebut di atas baik makna hakekat maupun makna metafora .
رحبلا يف ناتيحلا ىتح يش لك هل رفغتشي ملعلا بلاط نإو
“Sesungguhnya pencari ilmu dimohonkan pengampunan kepadanya oleh segala sesuatu sehingga ikan dalam lautan.”
Segala sesuatu atau makhluk termasuk ikan di laut semuanya memohonkan pengampunan kepada pencari ilmu. Al-Manawiy dalam kitab al- Taysir bi Syarhi al-Jami' al- Shaghir menjelaskan makna Hadis ini, bahwa pencari ilmu ditulis istigfarnya sebanyak bilangan binatang, doanya mustajab.
Hikmahnya, ketenteraman alam dunia bergantung pada ilmu. Dengan ilmu ini manusia mengetahui haramnya menyakiti, menyiksa, atau merusak burung dan ikan.
Demikian urgensi ilmu yang amat tinggi bagi keselamatan jiwa manusia dan alam jagat raya. Dengan ilmu alam tenang dan jika lenyap ilmu , maka lenyap
18
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta:Kencana Prenadamedia Grup, 2014), h.149
19
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta:Kencana Prenadamedia Grup, 2014), h.149
pula alam. Karena pencari ilmu dan pengajarnya dimuliakan Allah dan dimuliakan seluruh makhluk, diampuni segala dosanya dan didengar doanya.
3. Pelajaran yang Dipetik dari Hadis
a. Kewajiban menuntut ilmu di mana saja dan dalam keadaan bagaimanapun pula sekalipun dalam keadaan sulit dan jauh .
b. Kewajiban menuntut bagi Muslim laki dan perempuan yang sudah mukallaf.
c. Kewajiban menuntut ilmu adakalanya wajib lain dan adakalanya.
d. Penuntut ilmu dicintai , dihormati , dan dilindungi oleh malaikat.
4. Biografi Singkat Perawi Hadis
Anas bin Malik adalah sahabat nabi Muhammad dengamn nama lengkapnya adalah Anas bin Malik hin al Nadhr bim Dhamdam bin Zaid bin Haram bin Jundab bin ‘Amir bin Ghanm bin ‘Adi bin Malik bin Taimullah bin Tsa’labah bin al- Anshari al-Khazraji. Ia hadir di Madinah di hadapan Nabi SAW bersama ibunya bernama Ummi Sulaym ketika berusia 10 tahum Ibunya berkata: Hai Rasulullah SAW ini Anas bin Malik seorang anak yang akan berkhidmah membantu engkau.
Rasulullah menerimanya sebagai khadam (pembantu) dan berkhidmah selama 10 tahun.
20Selama menjadi khadam Anas tidak pernah mendengar kata-kata Nabi yang menyinggung perasaan dan tidak pernah mempersoalkan apa yang dilakukannya:
Mengapa demikian? Atau mengapa kamu lakukan begini kok tidak begini? dan seterusnya. Dia salah seorang sahabat yang mendapat do'a dari Nabi SAW. Do'anya sangat menggembirakan bagi orang dahulu, tetapi aneh bagi umumnya orang sekarang yaitu:
هلل ا
ذأو هل كرابو هدلوو هلام رثكأ م خ
ل ه ة نجلا
“Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya, berkahilah dia dan masukkanlah dia ke dalam surga.”
Doa Nabi dikabulkan Tuhan, Anas tergolong sahabat yang banyak harta dan banyak anak berkat do'a Nabi SAW. Ketika wafat ia meninggalkan anak sebanyak 120 orang anak lebih dalam usia lebih dari 100 tahun. Ia meninggal dunia di Bashrah pada tahun 93 H dan meriwayatkan Hadis sebanyak 2.286 Hadis.
20