NGAJI PENTINGNYA
SEMANGAT VS TIDAK SEMANGAT SERIUS VS TIDAK SERIUS
RAJIN VS TIDAK RAJIN
KENAPA KALAU DIAJAK KAJIAN…
KITA HARUS
SEMANGAT, SERIUS DAN RAJIN KAJIAN:
1. KEWAJIBAN AGAMA 2. DIBERI TAHU JALAN
KE SURGA
3. DIBERI PAHALA 4. DIHAPUS DOSA
5. DIANGKAT DERAJAT
KEWAJIBAN
AGAMA
WAJIBNYA MENUNTUT ILMU
Rasulullah saw bersabda,
ٌةَضيِرَف ِمْلِعْلا ُبَلَط
ٍمِل ْسُم ّلُك ىَلَع
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)
PANDAI URUSAN DUNIA, BODOH URUSAN AKHIRAT
Rasulullah saw bersabda,
َلُك ُضِغْبُي َىلاَعَت َهللا َنِإ ٍلِهاَج اَيْنُدلاِب ٍمِلاَع ةَرِخ ْلاِب
“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”. (HR. Al-Hakim)
TAMAN SURGA
Nabi saw bersabda,
ِةَنَجْلا ِضاَيِرِب ْمُتْرَرَم اَذِإ
.
ُضاَيِر اَمَو َلاَق اوُعَتْراَف :
ِرْكّذلا ُقَلِح َلاَق ، ِةَنَجْلا
“Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah.
Mereka bertanya, ”Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab, ”Halaqoh dzikir.”
(HR. Tirmidzi)
MAJELIS ILMU = MAJELIS DZIKIR
‘Atha’ bin Abi Rabah (wafat th. 114 H) rahimahullaah berkata,
“Majelis dzikir adalah majelis yang didalamnya
membicarakan ilmu halal dan haram, yaitu bagaimana harus menjual, membeli, berpuasa, mengerjakan shalat, menikah, cerai, melakukan haji, dan semacam
itu.”
al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (no. 40).
Lihat kitab al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 132)
RASULULLAH SAW LEBIH MEMILIH MAJELIS ILMU
Suatu ketika Rasulullah SAW keluar menuju masjid. Ketika itu di dalam masjid ada dua majelis. Di satu majelis orang-orang mendalami agama dan di satu majelis lainnya orang-orang berdoa dan memohon kepada Allah. Beliau lalu
bersabda, “Kedua majelis itu berada dalam kebaikan. Majelis yang satu berdoa kepada Allah, sedang majelis lainnya belajar dan mengajari orang
yang tidak tahu, namun merekalah yang lebih baik. Sebab, dengan memberikan pengajaranlah aku diutus.” Kemudian beliau duduk bersama
mereka. (HR. Abu Abdullah Ibnu Majah)
ُمُهْتَي ِشَغ َو ُةَكِئ َلَمْلا ُمُهْتّف َح ّلِإ ّلَج َو ّززَع َ ّا َنوُرُكْذَي ٌم ْوَق ُدُعْقَي َل
ُهَدْنِع ْنَميِف ُ ّا ُمُه َزرَكَذ َو ُةَنيِكّسلا ُمِهْيَلَع ْتَلَززَن َو ُةَم ْحّرلا
“Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah SWT, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada
di sisiNya.” (HR. Muslim)
PARA MALAIKAT MENGELILINGI MAJELIS DZIKIR
DIBERI TAHU
JALAN KE
SURGA
MENUNTUT ILMU = BERJALAN MENUJU SURGA ُسِمَتْلَي اًقيِرَط َكَلَس ْنَم ِهِب ُهَل ُهللا َلَهَس اًمْلِع ِهيِف
ِةَنَجْلا ىَلِإ اًقيِرَط
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim no. 7028)
MAKNA JALAN UNTUK MENUNTUT ILMU
1. Arti yang sebenarnya, seperti berjalan kaki menuju majelis-majelis ilmu.
2. Bisa juga berarti, menempuh jalan atau cara yang dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh ilmu syar’i, seperti membaca,
menghapal, menela’ah, dan sebagainya.
MAKNA ALLAH MEMUDAHKAN JALANNYA MENUJU SURGA
1. Allah akan memudahkan orang yang
menuntut ilmu semata-mata karena mencari keridhaan Allah, dapat mengambil manfaat, dan mengamalkannya, sehingga bisa
memasuki Surga-Nya.
2. Allah akan memudahkan jalan baginya menuju Surga ketika melewati titian ash- shirathal mustaqim pada hari Kiamat dan memudahkannya dari berbagai kengerian pada sebelum dan sesudahnya.
[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (II/297, Qawa’id wa Fawa’id minal Arba’in An-Nawawiyyah (hal. 316-317),
Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 8-9)]
ORANG BERILMU VS ORANG TIDAK BERILMU
َنوُمَلْعَي َل َنيِذَلاَو َنوُمَلْعَي َنيِذَلا يِوَتْسَي ْلَه
ِباَبْل َ ْلا وُلوُأ ُرَكَذَتَي اَمَنِإ
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang- orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang
dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar, 39: 9)
AHLI ILMU AKAN MAMPU MEMBEDAKAN BANYAK HAL
• Mana yang wajib, mana yang sunnah
• Mana yang mubah, mana yang makruh
• Mana yang halal, mana yang haram
• Mana yang baik, mana yang buruk
• Mana yang benar, mana yang salah
• Mana yang kekal, mana yang fana
• Mana yang penting, mana yang tidak
• Mana yang banyak pahalanya, mana yang sedikit pahalanya
• Mana jalan ke surga, mana jalan ke neraka
• Adam dan Hawa asalnya dari surga
• Diturunkan ke dunia karena berbuat dosa
• Mereka bertobat dan taat hingga kembali kepada ridha-Nya
NENEK MOYANG KITA
APA SIKAP KITA?
1. Surga neraka urusan nanti! Yang penting
sekarang happy?! Disiksa bersama iblis ga peduli?!
2. Serius mencari dan
mengikuti ilmu agar tahu jalan pulang menuju
surga dan bisa berkumpul bersama Nabi Adam as dan Siti Hawa?
DIBERI
PAHALA
PAHALA UNTUK PENUNTUT ILMU
Dari Abu Dzar ra. ia berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku:
ِباَتِك ْنِم ًةَيآ َمَلَعَتَف َوُدْغَت ْنَ َل ّرَذ اَبَأ اَي ٍةَعْكَر َةَئاِم َيّلَصُت ْنَأ ْنِم َكَل ٌرْيَخ ِهَللا ِهِب َلِمُع ِمْلِعْلا ْنِم اًباَب َمَلَعَتَف َوُدْغَت ْنَ َلَو َفْلَأ َيّلَصُت ْنَأ ْنِم َكَل ٌرْيَخ ْلَمْعُي ْمَل ْوَأ
ٍةَعْكَر
“Hai Abu Dzar, engkau berpagi-pagi untuk mempelajari satu ayat dari kitab Allah lebih baik bagimu dari pada engkau shalat (sunnah) sebanyak 100 (seratus) raka'at. Dan engkau berpagi-pagi untuk mempelajari satu bab ilmu kemudian diamalkan ataupun tidak diamalkan, adalah lebih baik bagimu daripada engkau shalat (sunnah) sebanyak 1.000 (seribu) raka'at.”
(HR. Ibnu Majah No. 219)
BAGIAN PAHALA MENUNTUT ILMU
Dari Watsih bin al Asqa’ ra. berkata Rasulullah SAW bersabda,
ِنْيَلْفِك ُهَل ُهللا َبَتَك ،ُهَكَرْدَأَف اًمْلِع َبَلَط ْنَم َبَتَك ُهْكِرْدُي ْمَلَف اًمْلِع َبَلَط ْنَمَو .ِرْجَ ْلا َنِم
ِرْجَ ْلا َنِم ًلْفِك ُهَل ُهللا
“Barangsiapa menuntut ilmu dan mendapatkannya, maka Allah mencatat baginya pahala 2 bagian; dan barangsiapa menuntut
ilmu tetapi ia tidak mendapatkannya, maka Allah mencatat baginya pahala 1 bagian.”
(HR. Thabrani dalam al-Kabiir, dan para perawinya terpercaya – Mazma’uz Zawa’id I/330)
PAHALA HAJI YANG SEMPURNA
Dari Abu Umamah ra, Nabi saw bersabda,
َمَلَعَتَي ْنَأ لِإ ُديِرُي ل ِدِجْسَمْلا ىَلِإ اَدَغ ْنَم
ُهُتَجَح اّماَت ّجاَح ِرْجَأَك ُهَل َناَك ،ُهَمّلَعُي ْوَأ اًرْيَخ
“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan
mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.”
(HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94)
SEPERTI BERJIHAD DI JALAN ALLAH TA’ALA
َمَلَعَتَيِل اَذـَه اَنَدـِجْسـَم َلـَخَد ْنَم يِف ِدِهاَجُمْلاَك َناَك ُهَمّلَعُيِلْوَأ اًرْيَخ
ِهللا لْيِبَس
“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, dia ibarat seorang yang berjihad di jalan Allah.”
(HR Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, dan Al-Hakim, dari Abu Hurairah ra)
DIHAPUS
DOSA
DIMINTAKAN AMPUN OLEH PENGHUNI LANGIT DAN BUMI
ِتاَو اـَمَسلا يِف ْنَم ُهَل ُرـِفـْغَتـْسـَيَل َمِلاَعْلا َنِإَو
ِءاـَمْلا يِف ُناـَتْيـِحْلا ىَتَح ِضْرَلا يِف ْنَمَو
“Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang
berada di dalam air.”
(HR. Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid))
DOSA-DOSA KECIL AKAN DIAMPUNI
Nabi saw. bersabda,
اًمْلِع َمَلَعَتَيِل َلَقَتْنا ِنَم
َوُطْخَي ْنأ َلْبَق ُهَل َرِفُغ
“Siapa yang berpindah (dengan berjalan kaki atau naik kendaraan) untuk mempelajari ilmu (syariat/agama) maka ia akan diampuni (dosa-dosa kecilnya yang telah lalu) sebelum ia akan melangkah (dari tempatnya jika ia berniat karena Allah ta’ala).”
(Lubbabul Hadis bab pertama, imam As-Suyuthi)
DIANGKAT
DERAJA
T
ْمُكْنِم اوُنَمَآ َنيِذَلا ُهللا ِعَفْرَي
ٍتاَجَرَد َمْلِعْلا اوُتوُأ َنيِذَلاَو
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah, 58: 11)
ALLAH MENGANGKAT DERAJAT ORANG BERILMU
IBNU ABZA, BEKAS BUDAK PEMIMPIN MEKKAH
Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan Umar bin Khattab ra. di ‘Isfan (nama sebuah tempat, pen). Ketika itu Umar ra mengangkatnya sebagai
gubernur Mekah.
Umar pun berkata kepadanya, “Siapakah orang yang kamu serahi urusan untuk memimpin penduduk lembah itu?”.
Dia mengatakan, “Orang yang saya angkat sebagai pemimpin mereka adalah Ibnu Abza; salah seorang bekas budak kami.”
Maka Umar mengatakan, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”.
Dia pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah orang yang pandai memahami Kitabullah, mendalami ilmu waris, dan juga seorang hakim.” (HR. Muslim)
Umar ra. berkata, Sesungguhnya Nabi kalian bersabda,
اَذَهِب ُعَفْرَي َهللا َنِإ ِهِب ُعَضَيَو اًماَوْقَأ ِباَتِكْلا
َنيِرَخآ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini.“
(HR. Muslim no. 817)
ALLAH MENGANGKAT DERAJAT ORANG BERILMU
ORANG CACAT MENJADI HAKIM
• Pernah ada seseorang yang lehernya cacat, sehingga dia selalu menjadi bahan ejekan orang-orang disekitarnya. Kemudian
ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.”
• Lalu orang tersebut menuntut ilmu syar’i sampai dia menjadi seorang yang ‘alim (pandai), sehingga dia diangkat menjadi Hakim di Mekah selama 20 tahun. Dan jika ada seseorang yang memiliki perkara duduk dihadapannya, gemetarlah seluruh tubuhnya sampai dia berdiri.
[Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 26) dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 33)]
KEUTAMAAN NGAJI
1. KEWAJIBAN AGAMA 2. DIBERI TAHU JALAN
KE SURGA
3. DIBERI PAHALA 4. DIHAPUS DOSA
5. DIANGKAT DERAJAT