UMAT ISLAM PERLU BERKORBAN, JIKA TIDAK INGIN MENJADI KORBAN

Teks penuh

(1)

UMAT ISLAM PERLU BERKORBAN, JIKA TIDAK INGIN MENJADI KORBAN

{Renungan hari raya 'Idul Qurban 1431H, Ketua Dewan Redaksi}

ABSTRAK

Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Azza Wajalla, yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita. Sehingga hari ini, kita sudah memasuki hari ke-3 di hari tasyrik.

Pada hari Raya 'Idul Adha (2 hari yang lalu) sampai hari ini pula jutaan ekor hewan korban disembelih sebagai wujud ketaatan pada perintah Allah SWT. Perintah untuk mengorbankan harta yang paling kita cintai sekalipun, sebagaimana yang dipraktekkan oleh Nabiyullah Ibrahin AS dengan begitu indah, saat dengan ikhlas beliau menunaikan perintah Allah untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail AS.

Sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak.

Putra yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya,

yang diharapkan kelak menjadi penerus keturunan dan

perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang

cerdas, tampan, dan menawan, justeru diperintahkan oleh

Allah SWT untuk disembelih. Inilah bentuk pengorbanan

yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS. Juga

pengorbanan luar biasa dari diri Nabi Ismail AS, yang telah

rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi

(2)

































“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS:Ali Imran [3]: 92).

Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Imam Al-Baidhawi berkata, "Cinta adalah keinginan untuk taat", sementara, al-Zujaj berkata, "Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-nya adalah mentaati keduanya dan ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya." Lebih lanjut, kecintaan dan ketaatan kepada Allah tidak mungkin boleh diwujudkan tanpa pengorbanan. Jadi, tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan.

Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum Muslim ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekadar menyembelih hewan korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah berfirman :































(3)







































"Katakanlah, 'Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS:At-Taubah[9]: 24).

Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta, keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya. Pengorbanan inilah yang akan mendatangkan balasan dari Allah berupa keridhaan, ampunan, pertolongan, kemenangan, dan kemuliaan. Seperti firman Allah :"Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin…” (QS:Al-Munaafiquun [63]: 8)

Jika kita nilai sejujurnya keadaan umat Islam saat ini,

maka keadaannya amatlah jauh dari harapan. Umat yang

semestinya hidup sejahtera di bumi yang kaya-raya ini,

kenyataannya justeru hidup sengsara dalam kemiskinan

dan kemelaratan. Kesengsaraan dijumpai di berbagai

tempat. Angka pengangguran terus meningkat. Beban

(4)

umat Islam berada dalam keadaan tertindas dan terjajah.

Tengoklah apa yang terjadi atas saudara kita yang ada di Palestin, Iraq, Afghanistan, Pattani, Australia, Perancis, Cina, Uzbekistan, dan sebagainya. Semuanya ini terjadi kerana umat Islam dalam keadaan yang sangat lemah.

Kelemahan inilah yang dimanfaatkan oleh negara-negara Imperialis untuk menjajah kaum Muslim, baik secara langsung maupun tidak.

Adapun kelemahan umat Islam itu sendiri pada dasarnya kerana lemahnya pemahaman mereka terhadap Islam. Lemahnya pemahaman ini adalah kesan daripada lemahnya praktek penerapan Islam dalam kehidupan mereka. Ini dapat dilihat dari fakta kehidupan kaum Muslim saat ini. Mereka beribadah haji dengan aturan Islam, sholat dengan aturan Islam, menikah dengan aturan Islam, tetapi mereka tidak mengelola sumber hasil buminya dengan aturan Islam, tidak mengatur ekonominya dengan aturan Islam, tidak mengatur sistem pertahanan dan keamanannya dengan aturan Islam, tidak menjalankan politik dalam dan luar negerinya dengan aturan Islam. Inilah yang menjadi penyebab lemahnya umat Islam.

Jika umat Islam lemah, mereka hanya akan menjadi

korban. Korban ketamakan dan kerakusan negara-negara

Imperialis yang selalu ingin mencengkamkan hegemoninya

atas negeri-negeri Muslim. Agar hal ini tidak terjadi, tentu

umat Islam perlu kuat. Jika ingin kuat, umat Islam perlu

hidup dengan Islam secara kaffah. Artinya, perlu

menjadikan Islam sebagai acuan dalam mengatur seluruh

aspek kehidupan mereka, baik dalam urusan peribadi,

keluarga, masyarakat, maupun negara. Inilah kunci

kejayaan umat dalam meraih kemuliaan. Kemuliaan di sisi

Allah khususnya, dan di mata umat serta bangsa-bangsa

lain pada umumnya. Untuk meraih kemuliaan itu, tentu

umat perlu berjuang, dalam berjuang, umat Islam harus

(5)

siap berkorban. Sebab, tak pernah ada kemuliaan tanpa perjuangan, dan tak pernah ada perjuangan tanpa pengorbanan. Jadi, sesungguhnya hanya ada dua pilihan bagi kita. Apakah kita mau berkorban untuk meraih kemuliaan, atau justeru akan menjadi korban, akibat kelemahan kita, karena kita tidak mau berkorban.

Ingatlah, bahawasanya Rasulullah SAW pernah bersabda : "Sesungguhnya darah-darah kalian dan harta- harta kalian merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari kalian ini, di bulan dan di negeri kalian ini." (HR. Muslim dari Jâbir). Sabda Rasulullah SAW ini menjelaskan bahwa darah dan harta, termasuk kekayaan alam negeri-negeri Muslim, sesungguhnya merupakan kemuliaan yang diberikan oleh Allah SWT.

Kesemuanya wajib dijaga dan dipelihara untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Tidak dibenarkan pihak manapun untuk merampas kekayaan tersebut dan menodai kemuliaannya. Jika hal ini terjadi, maka umat wajib mempertahankannya, meskipun perlu mengorbankan harta dan jiwa mereka sekalipun. Rasulullah SAW bersabda :

"Siapa saja yang dibunuh karena mempertahankan hartanya, maka dia (terbunuh) sebagai syahid." (HR. al- Bukhâri dari 'Abdullâh bin 'Amr).

Demikianlah, tanpa pengorbanan, kemuliaan takkan

pernah dapat diraih. Karena itu, jika umat ini benar-benar

cinta kepada Allah dan mau mengambil teladan dari Nabi

Ibrahim dan Ismail AS, maka mereka perlu siap dan rela

berkorban dalam menempuh perjuangan. Ada beberapa

langkah perjuangan yang bisa di lakukan oleh umat islam

saat ini yaitu :

(6)

4. Memperjuangkan penerapan Islam secara kaffah tanpa kekerasan, sebagaimana metode dakwah Rasulullah SAW.

5. Mengkaji dan menerapkan kembali seluruh metode da'wah Rasulullah SAW dalam penerapan Islam secara kaffah, sehingga umat Islam sadar saat ini mereka berada dimana, langkah apa saja yang harus mereka lakukan, dan dengan cara seperti apa langkah itu dilakukan agar semuanya akan bernilai 'ibadah di sisi Allah SWT.

Jika semua langkah perjuangan ini dapat terlaksana, insya Allah kemenangan dan kemulian akan dapat diraih oleh umat Islam. Ketika itu terjadi, umat benar-benar akan bertakbir dalam kemenangan, bukan dalam kekalahan, sebagaimana yang dikumandangkan oleh Rasulullah SAW :

“Allah Maha Besar, Tiada Dzat yang berhak disembah kecuali Allah, Dia benar-benar telah menepati janji-Nya (untuk memenangkan Islam dan ummatnya), menolong hamba-Nya serta memuliakan tentara-Nya, dan mengalahkan tentara-tentara pasukan sekutu (kafirin) dengan sendiri-Nya”.

Akhirnya kita memohon kepada Allah agar kita

dijadikan bahagian dari barisan orang-orang yang rela

memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan

kepada Allah SWT dalam rangka menegakkan Islam secara

kaffah, yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Bahra, Ust, Ir, M.Kom, Kumpulan Tausiyah Ramadhon & Khutbah ‘Ied Ust. Ir. Al-Bahra, M.Kom, STMIK Muhammadiyah Banten, Serang, 2010 2. Al-Bahra, Ust, Ir, M.Kom, Penjelasan Surat Yaa Siin (Panduan Yaa Siin dan Tahlil Modern Buku-2), STMIK Muhammadiyah Jakarta, Jakarta, 2009

3. Al-Quran dan Terjemahnya 4. Shahih Al-Bukhari

5. Shahih Muslim

6. Tafsir Ibnu Katsir

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :