• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUATAN TABLET EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMBUATAN TABLET EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBUATAN TABLET EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) DIKOMBINASI DENGAN EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma longa L.) DENGAN VARIASI

BAHAN PENGIKAT MENGGUNAKAN METODE GRANULASI BASAH

SKRIPSI

OLEH:

SURYA ANGGRAINI TANJUNG NIM 151501062

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

PEMBUATAN TABLET EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) DIKOMBINASI DENGAN EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma longa L.) DENGAN VARIASI

BAHAN PENGIKAT MENGGUNAKAN METODE GRANULASI BASAH

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

OLEH:

SURYA ANGGRAINI TANJUNG NIM 151501062

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan ridhoNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pembuatan Tablet Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Dikombinasi Dengan Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.) dengan Variasi Bahan Pengikat Menggunakan Metode Granulasi Basah”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Daun jambu biji (Psidium guajva L.) dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai pengobatan tradisional sejak dulu yang dapat berfungsi sebagai antidiare. Ekstrak daun jambu biji yang dikombinasi dengan ekstrak rimpang kunyit dalam sediaan tablet masih sedikit dipasaran, kebanyakan dalam bentuk sirup dan kapsul. Tujuan penelitian memformulasi tablet ekstrak daun jambu biji dikombinasi ekstrak rimpang kunyit dengan metode granulasi basah. Hasil dari penelitian diperoleh kombinasi ekstrak daun jambu biji dengan ekstrak rimpang kunyit dapat dicetak menjadi tablet.

Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi bidang farmasi.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Drs, Agusmal Dalimunthe, M.S., Apt., yang telah membimbing dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama penelitian dan penulisan skripsi ini berlangsung. Ibu Dra, Nazliniwaty, M.Si., Apt., Ibu Dra, Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, saran dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima Kasih kepada Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Masfria, M.S., Apt., yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama masa pendidikan, Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi

(5)

Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik selama perkuliahan dan Ibu Sri Yuliasmi S. Farm., M.Si., Apt., selaku penasehat akademik yang selalu memberi bimbingan, perhatian dan motivasi kepada penulis selama masa perkuliahan.

Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada kedua orangtua, Ayahanda Surya Bhakti Tanjung dan Ibunda Misniati, adik Harris Surya Septian Tanjung, Surya Prayuda Tanjung, Mutiara Surya Tanjung dan keluarga yang telah memberikan cinta dan kasih sayang, do’a, semangat, dorongan dan pengorbanan baik moril maupun materil dalam penyelesaian skripsi ini.

Terima kasih juga penulis ucapkan kepada abang dan sahabat-sahabat tercinta, Adjie Prawito S, S. Kom., Olo, Ramadhani, Putri, Bita, Ilmah, Alma, Nisa, Winda, Widya, teman seperdopingan Lamsihar dan Ija, serta angkatan 2015 Fakultas Farmasi USU atas kebersamaan, do’a, dorongan, semangat serta cinta yang diberikan kepada penulis selama ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Medan, Agustus 2019 Penulis,

Surya Anggraini Tanjung NIM 151501062

(6)

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Surya Anggraini Tanjung

Nomor Induk Mahasiswa : 151501062 Program Studi : Sarjana Farmasi

Judul Skripsi : Pembuatan Tablet Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Dikombinasi dengan Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.) dengan Variasi Bahan Pengikat Menggunakan Metode Granulasi Basah

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat adalah asli karya sendiri dan bukan plagiat. Apabila di kemudian hari diketahui skripsi saya tersebut terbukti plagiat karena kesalahan sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Sarjana Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikian surat pernyataan ini saya perbuat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan, Juli 2019

Surya Anggraini Tanjung NIM 151501062

(7)

PEMBUATAN TABLET EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) DIKOMBINASI DENGAN EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma

longa L.) DENGAN VARIASI BAHAN PENGIKAT MENGGUNAKAN METODE GRANULASI BASAH

ABSTRAK

Latar Belakang: Daun jambu biji dan rimpang kunyit mengandung berbagai macam komponen fitokimia yang dapat digunakan antara lain sebagai antidiare.

Sediaan tablet memiliki beberapa keuntungan antara lain lebih stabil dalam penyimpanan, dan mudah dalam pengemasan.

Tujuan: Mengetahui ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang dikombinasi dengan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dapat dicetak menjadi tablet dengan variasi jenis bahan pengikat menggunakan metode granulasi basah, serta untuk mengetahui tablet yang diformulasikan memenuhi syarat mutu.

Metode: Simplisia daun jambu biji dan rimpang kunyit dilakukan skrining fitokimia dan karakterisasi, setelah itu dibuat menjadi ekstrak kental menggunakan pelarut etanol 80% dengan cara maserasi selanjutnya ekstrak diencerkan dengan laktosa (1:6). Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dalam empat formula dengan berbagai jenis pengikat yaitu mucilago amili 8%

(F1), gelatin 4% (F2), CMC Na 5% (F3), dan PVP 2% (F4). Granul yang dihasilkan dari granulasi dilakukan uji preformulasi, granul dicetak menjadi tablet kemudian dilakukan evaluasi mutu yaitu kerapuhan, kekerasan, waktu hancur dan keseragaman bobot.

Hasil: Hasil yang diperoleh yaitu semua formula dengan berbagai jenis pengikat dapat dicetak menjadi tablet dengan metode granulasi basah. Formula yang menggunakan bahan pengikat F1: mucilago amili 8%, F2: gelatin 4%, F3: CMC Na 5%, F4: PVP 2% menghasilkan tablet dengan kerapuhan 0,45, 0,7, 0,69, dan 0,56%, waktu hancur 8,02, 4,35, 4,83, dan 7,04 menit, kekerasan 6,04, 2,64, 3,08, dan 4,8 kg. Semua formula memenuhi syarat mutu keseragaman bobot tablet menurut Farmakope Indonesia Edisi III yaitu tidak lebih dua tablet yang bobotnya menyimpang dari 5% dan tidak satupun tablet yang bobotnya menyimpang dari 10%.

Kesimpulan: Ekstrak daun jambu biji yang dikombinasi dengan ekstrak rimpang kunyit dapat dicetak menjadi sediaan tablet dengan menggunakan metode granulasi basah. Hasil evaluasi tablet mengandung ekstrak daun jambu biji yang dikombinasi ekstrak rimpang kunyit dari F1-F4 memenuhi persyaratan keseragaman bobot, kerapuhan dan waktu hancur, tetapi kekerasan tablet F2 dan F3 belum memenuhi persyaratan.

Kata Kunci: ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.)., rimpang kunyit (Curcuma longa L.)., granulasi basah

(8)

MANUFACTURE OF TABLET FROM GUAVA LEAF (Psidium guajava L.) EXTRACT COMBINED WITH TURMERIC RHIZOME (Curcuma

longa L.) EXTRACT WITH VARIOUS OF BINDERS USING WET GRANULATION METHOD

ABSTRACT

Background: Guava leaves and turmeric rhizome contain various phytochemical components that can be used, as antidiarrhea. Tablet products have several advantages including being more stable in storage, and easier in packaging.

Objective: Knowing that guava leaf extract (Psidium guajava L.) combined with turmeric extract (Curcuma longa L.) can be compressed into tablets with variations in the type of binder using the wet granulation method, and to find out the tablets formulated meet requirements of quality.

Method: Simplicia of guava leaves and turmeric rhizomes were characterized and phytochemical screened, then make into thick extract using ethanol 80% by maceration and extract was diluted with lactosa (1:6). Tablets were made by wet granulation method in four formulas with various types of binders : amyli mucilago 8% (F1), gelatin 4% (F2), CMC Na 5% (F3), and PVP 2% (F4). The granules that produced from the granulation were tested for preformulation, then they compressed into tablet, and tablet was evaluated of friability, disintegration time, hardness, and weight uniformity.

Results: The results obtained are all formulas with various types of binders can be compresssed into tablets by the wet granulation method. Formulas that used binder F1: amyli mucilago 8%, F2: gelatin 4%, F3: CMC Na 5%, F4: PVP 2%

produce tablets with friability of 0.45, 0.7, 0.69, and 0.56%, disintegration time of 8.02, 4.35, 4.83, and 7.04 minutes, hardness of 6.04, 2.64, 3.08, and 4.8 kg. All formulas meet the quality requirements for uniformity of tablet weights according to the Indonesian Pharmacopoeia Edition III that no more than two tablets weights deviating from 5% and none of tablets weights deviating from 10%.

Conclusion: Guava leaf extract combined with turmeric extract can be compressed into tablet products using the wet granulation method. The results of evaluation of guava leaf extract tablets combined with turmeric rhizome extract from F1-F4 met the requirements for weight uniformity, friability and disintegration time, but the hardness of F2 and F3 tablets did not meet the requirements.

Keywords: guava leaf extract (Psidium guajava L.)., turmeric rhizome (Curcuma longa L.)., wet granulation

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN LEMBAR PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

PERNYATAAN ORISINALITAS ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Hipotesis ... 4

1.4 Tujuan Penelitian ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Uraian Tanaman Daun Jambu Biji ... 6

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Daun Jambu Biji ... 6

2.1.2 Sinonim Tanaman Daun Jambu Biji ... 6

2.1.3 Nama Asing Tanaman Daun Jambu Biji ... 6

2.1.4 Nama Daerah Tanaman Daun Jambu Biji. ... 6

2.1.5 Morfologi Tanaman Daun Jambu Biji ... 7

2.1.6 Kandungan Kimia Daun Jambu Biji ... 7

2.1.7 Manfaat Daun Jambu Biji ... 8

2.2 Uraian Tanaman Rimpang Kunyit ... 8

2.2.1 Klasifikasi Tanaman Rimpang Kunyit ... 8

2.2.2 Sinonim Tanaman Rimpang Kunyit... 8

2.2.3 Nama Asing Tanaman Rimpang Kunyit ... 8

2.2.4 Nama Daerah Tanaman Rimpang Kunyit ... 9

2.2.5 Morfologi Tanaman Rimpang Kunyit ... 9

2.2.6 Kandungan Kimia Rimpang Kunyit... 9

2.2.7 Manfaat Rimpang Kunyit ... 10

2.3 Ekstrak ... 10

2.4 Tablet ... 12

2.4.1 Jenis-jenis Tablet ... 14

2.4.2 Metode Pembuatan Tablet... 14

2.4.3 Komposisi Tablet ... 16

2.5 Uji Preformulasi ... 18

2.6 Uji Evaluasi Tablet ... 18

BAB III METODE PENELITIAN... 20

3.1 Tempat Pelaksanaan Penelitian ... 20

3.2 Metode Penelitian... 20

3.3 Alat dan Bahan ... 20

3.3.1 Alat-Alat ... 20

(10)

3.3.2 Bahan-Bahan ... 21

3.4 Prosedur Kerja Ekstrak Daun Jambu Biji dan Rimpang Kunyit ... 21

3.4.1 Pengambilan Sampel ... 21

3.4.2 Identifikasi Tumbuhan ... 21

3.4.3 Pembuatan Simplisia ... 21

3.4.4 Skrining Fitokimia Simplisia ... 22

3.4.4.1 Pemeriksaan Alkaloid ... 22

3.4.4.2 Pemeriksaan Flavonoid ... 22

3.4.4.3 Pemeriksaan Glikosid ... 23

3.4.4.4 Pemeriksaan Saponin ... 24

3.4.4.5 Pemeriksaan Tanin ... 24

3.4.4.6 Pemeriksaan Steroida/Triterpenoid ... 24

3.4.5 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia ... 25

3.4.5.1 Pemeriksaan Makroskopik ... 25

3.4.5.2 Pemeriksaan Mikroskopik ... 25

3.4.5.3 Penetapan Kadar Air ... 25

3.4.5.4 Penetapan Kadar Sari Larut Air ... 26

3.4.5.5 Penetapan Kadar Sari Larut Etanol Abu ... 26

3.4.5.6 Penetapan Kadar Abu Total ... 27

3.4.5.7 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam ... 27

3.4.6 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Jambu Biji dan Rimpang Kunyit ... 27

3.4.6.1 Pembuatan Ekstrak Kunyit ... 27

3.4.6.2 Pembuatan Ekstrak Jambu Biji ... 27

3.5 Pengenceran Ekstrak ... 28

3.6 Formula Tablet ... 29

3.7 Proedur Kerja Pembuatan Tablet ... 30

3.8 Preformulasi Granul ... 31

3.8.1 Indeks Tap ... 31

3.8.2 Waktu Alir ... 31

3.8.3 Sudut Diam ... 32

3.9 Evaluasi Tablet ... 32

3.9.1 Keseragaman Bobot ... 32

3.9.2 Uji Friabilitas ... 33

3.9.3 Uji Kekerasan ... 33

3.9.4 Uji Waktu Hancur ... 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35

4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan. ... 35

4.2 Hasil Karakterisasi Simplisia ... 35

4.2.1 Hasil Pemeriksaan Makroskopik... 35

4.2.2 Hasil Pemeriksaan Mikroskopik ... 35

4.2.3 Hasil Uji Karakterisasi ... 36

4.2.3.1 Hasil Uji Karakterisasi Simplisia ... 36

4.2.3.2 Hasil Uji Karakterisasi Ekstrak ... 36

4.3 Hasil Ekstraksi ... 38

4.4 Hasil Srining Fitokimia ... 38

4.5 Hasil Uji Preformulasi ... 39

4.5.1 Hasil UjiWaktu Alir Granul ... 39

4.5.2 Hasil Uji Sudut Diam Granul ... 41

4.5.3 Hasil Uji Indeks Tap Granul ... 41

(11)

4.6 Hasil Evaluasi Tablet ... 42

4.6.1 Hasil Evaluasi Keseragaman Bobot ... 43

4.6.2 Hasil Evaluasi Fribialitas ... 43

4.6.3 Hasl Evaluasi Kekerasan Tablet... 44

4.6.4 Hail Evaluasi Waktu Hancur ... 46

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 49

5.1 Kesimpulan ... 49

5.2 Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50

(12)

DAFTAR TABEL

3.1 Tabel Formulasi Tablet Ekstrak Daun Jambu Biji Dikombinasi

Rimpang Kunyit ... 30

3.2 Tabel Syarat Penyimpangan Bobot ... 33

4.1 Tabel Hasil Uji Karakterisasi Simplisia Daun Jambu Biji ... 36

4.2 Tabel Hasil Uji Karakterisasi Simplisia Rimpang Kunyit ... 36

4.3 Tabel Hasil Uji Karakterisasi Ekstrak Daun Jambu Biji ... 36

4.4 Tabel Hasil Uji Karakterisasi Ekstrak Rimpang Kunyi ... 36

4.5 Tabel Hasil Uji Skrining Simplisia Daun Jambu Biji ... 39

4.6 Tabel Hasil Uji Skrining Simplisia Rimpang Kunyit ... 39

4.7 Tabel Hasil Uji Waktu Alir ... 39

4.8 Tabel Hasil Uji Sudut Diam ... 41

4.9 Tabel Hasil Uji Indeks Tab ... 42

4.10 Tabel Hasil Uji Keseragaman Bobot... 43

4.11 Tabel Hasil Uji Friabilitas ... 43

4.12 Tabel Hasil Uji Kekerasan ... 45

4.13 Tabel Hasil Uji Waktu Hancur ... 46

(13)

DAFTAR GAMBAR

4.1 Histogram Waktu Alir Granul Dari 4 Formula ... 40

4.2 Histogram Sudut diam Granul Dari 4 Formula ... 41

4.3 Histogram Indeks Tap Granul Dari 4 Formula ... 42

4.4 Histogram Fribialitas Tablet Dari 4 Formula ... 44

4.5 Histogram Kekerasan Tablet Dari 4 Formula ... 45

4.6 Histogram Waktu Hancur Tablet Dari 4 Formula... 47

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Hasil Identifikasi Tumbuhan ... 50

2. Gambar Daun Jambu Biji Dan Rimpang Kunyit ... 53

3. Gambar Simplisia Daun Jambu Biji Dan Rimpang Kunyit ... 54

4. Hasil Mikroskopik Simplisia ... 56

5. Flowsheet ... 57

6. Perhitungan % Randemen Ekstrak ... 62

7. Perhitungan Hasil Karakterisasi ... 63

8. Perhitungan Dosis Ekstrak Daun Jambu Biji Dikombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit ... 69

9. Perhitungan Formula Sediaan Tablet ... 70

10. Hasil Uji Pre Formulasi ... 74

11. Hasil Uji Evaluasi Tablet ... 76

12. Gambar Tablet Ekstrak Daun Jambu biji Kombinasi Rimpang Kunyit ... 80

13. Dokumentasi Penelitian ... 81

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obat tradisional (OT) merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang telah lama digunakan selama berabad-abad untuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan serta pencegahan dan pengobatan penyakit.

Berdasarkan bukti secara turun-menurun dan pengalaman empiris, OT hingga kini masih digunakan oleh masyarakat Indonesia dan di negara lain (Depkes RI, 2008).

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 246/Menkes/Per/V/1990, tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional.

Beberapa tahun belakangan ini ditengah banyaknya jenis obat modern di pasaran dan munculnya berbagai obat modern yang baru, terdapat kecenderungan global untuk kembali ke alam. Faktor yang mendorong masyarakat untuk mendaya gunakan obat bahan alam antara lain mahalnya harga obat modern atau sintesis dan banyaknya efek samping (Dewato, 2007).

Jambu biji merupakan salah satu tumbuhan tropis yang secara empiris digunakan oleh masyarakat sebagai obat. Tumbuhan ini termasuk dalam familia Myrtaceae. Beragam penelitian terkini telah membuktkan bahwa jambu biji memiliki beragam khasiat kesehatan seperti antidiare (Desiyana dkk., 2016).

(16)

Daun jambu biji mengandung berbagai macam komponen diantaranya karetinoid yang berfungsi sebagai antibakteri yang dapat membunuh atau mencegah pertumbuhan bakteri penyebab diare dan kandungan senyawa lainnya yang sangat bermanfaat bagi kesehatan (Rukmana dan Yudirachman, 2016).

Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan salah satu tanaman yang digunakan untuk pengobatan tradisional oleh nenek moyang kita sejak lama.

Tanaman kunyit ini salah satu tanaman yang mudah didapat dan murah (Hemani, 2002).

Kunyit merupakan salah satu tanaman rempah yang memiliki kandungan utama kurkumin dan minyak atsiri yang berfungsi untuk pengobatan hepatitis, anti-oksidan, gangguan pencernaan, antimikroba, antikolesterol, antitumor.

Minyak atsiri pada kunyit bermanfaat untuk mengurangi gerakan usus yang kuat, sehingga mampu mengobati diare (Rukmana dan Yudirachman, 2016).

Hasil survei yang dilakukan di Apotek Kimia Farma No. 27 di kota Medan diketahui bahwa obat herbal yang mengandung ekstrak daun jambu biji dikombinasi dengan rimpang kunyit dalam bentuk sediaan tablet masih sedikit, kebanyakan dalam bentuk sediaan kapsul dan sirup. Salah satu contoh sediaan tablet ekstrak daun jambu biji yang dikombinasi dengan rimpang kunyit antara lain Nodiar® dan Diapet (PT. Kima Farma). Dimana sediaan herbal tersebut digunakan untuk obat antidiare.

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan atau bahaneksipien yang dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, pengembang, pengikat, pembasah atau bahan lain yang cocok (Depkes RI, 1979).

(17)

Sediaan tablet dibandingkan dengan bentuk sediaan oral lainnya memiliki beberapa keuntungan antara lain sediaan lebih kompak, dosisnya tepat, mudah pengemasannya dan penggunaannya lebih praktis dibanding sediaan yang lain (Lachman dkk., 1994).

Terdapat berbagai jenis obat untuk mengatasi diare pada anak-anak dan orang dewasa. Namun penggunaan obat kimia sintetik dikhawatirkan dapat menimbulkan efek samping seperti resistensi bakteri. Seiring bertambahnya pemahaman tentang pengunaan obat alami orang mulai beralih ke tanaman yang biasa digunakan untuk obat. Tanaman obat selain karena mudah diperoleh juga minim efek samping dibandingkan dengan obat kimia sintetik lainnya (Nolia dkk., 2014).

Granulasi basah merupakan metode yang paling banyak digunakan karena mempunyai sifat alir yang dibutuhkan untuk pencetakan tablet dan tablet yang dihasilkan lebih kompak. Pada metode granulasi basah salah satu bahan tambahan yang digunakan adalah bahan pengikat. Bahan pengikat berfungsi untuk membantu merekatkan granul satu dengan yang lainnya, dan menjaga kesatuan tablet setelah dikompresi (Depkes RI, 1995).

Untuk mengetahui karakteristik suatu sediaan tablet maka perlu dilakukan serangkaian evaluasi, dimana evaluasi tablet tersebut memiliki syarat yang telah ditentukan agar dapat memenuhi standar keamanan.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk membuat sediaan tablet dengan menggunakan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) dikombinasi dengan ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.), dengan variasi bahan pengikat menggunakan metode granulasi basah.

(18)

1.2 Perumusan Masalah

1. Apakah ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang dikombinasi dengan ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dapat dicetak menjadi tablet dengan metode granulasi basah?

2. Apakah tablet yang mengandung ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang dikombinasi dengan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) memenuhi syarat uji evaluasi?

1.3 Hipotesis

1. Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang dikombinasi dengan ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dapat dicetak menjadi tablet dengan metode granulasi basah

2. Tablet yang mengandung ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang dikombinasi dengan ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.) memenuhi syarat uji evaluasi

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang dikombinasi dengan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dapat dicetak menjadi tablet dengan metode granulasi basah.

2. Untuk mengetahui tablet yang mengandung ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang dikombinasi dengan ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.) memenuhi syarat uji evaluasi

(19)

1.5 Manfaat Penelitian

Sebagai informasi untuk instansi produsen selain digunakan sebagai bumbu dapur, ekstrak daun jambu biji dan rimpang kunyit juga dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan tablet dengan variasi bahan pengikat menggunakan metode granulasi basah.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tanaman Jambu Biji 2.1.1 Klasifikasi tanaman jambu biji

Klasifikasi tanaman jambu biji berdasarkan hasil identifikasi Herbarium Medanense adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Myrtales

Famili : Myrtaceae

Genus : Psidium

Spesies : Psidium guajava L.

2.1.2 Sinonim tanaman jambu biji Psidium aromaticum Blanco

2.1.3 Nama asing tanaman jambu biji

Prancis goyave atau goyavier; Belanda, guyaba, goeajaaba; Suriname, guave atau goejaba; dan Portugis, goiaba atau goaibeira. Hawaii jambu atau kuawa.

2.1.4 Nama daerah tanaman jambu biji

Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan dalam penyebutan nama jambu biji, diantaranya, Sumatra: glima breueh (Aceh), glimeu beru (Gayo), galiman (Batak Karo), masiambu (Nias), biawas, jambu biji, jambu batu, jambu klutuk (Melayu). Jawa: jambu klutuk (sunda), jambu klutuk, petokal, jambu

(21)

krikil, jambu krutuk (jawa), jhambu bhender (Madura). Nusa Tenggara: sotong (Bali), guawa (Flores), goihawas (Sika). Sulawesi: Gayawas (Manado), boyawat (Mongondow), koyamas (Tansau), dambu (Gorontalo), jambu paratugala (Makassar), jambu paratukala (Bugis), jambu (Baree), Kujabas (Roti). Maluku:

kayawase (Seram Barat), kujawase (Seram Selatan), laine hatu, lutuhatu (Ambon), gayawa (Ternate, Halmahera) (Anggraini, 2010).

2.1.5 Morfologi tanaman daun jambu biji

Tanaman jambu biji berupa perdu, memiliki akar tunggang dengan sistem perakaran yang cukup dalam. Tinggi tanaman berkisar antara 3-10 m, batangnya berkayu kuat, liat, tidak mudah patah, dan bercabang banyak yang posisinya rendah. Kulit batang bewarna cokelat dan mudah mengelupas, serta halus permukaannya. Daun jambu biji tumbuh berhadap-hadapan, ukuran daun lebarnya 3-6 cm, panjang helai daun 6-14 cm, panjang tangkai daun 3-7 mm, pertulangannya menyirip, bewarna hijau kekuningan atau hijau. Daun yang muda berambut, sedangkan daun yang tua permukaan atasnya licin. Tanaman ini berbunga tunggal dan terletak diketiak daun. Bunga bertangkai dengan kelopak panjangnya 1,5 cm. Buah jambu biji termasuk buah buni, bentuknya bulat telur sampai dengan agak lonjong, daging buahnya ada yang bewarna putih, kekuning- kuningan atau merah, bergantung jenis atau varietasnya. Bijinya keras, berukuran kecil, dan bewarna kuning kecoklatan (Rukmana dan Yudirachman, 2016).

2.1.6 Kandungan kimia daun jambu biji

Daun jambu biji memiliki kandungan flavonoid yang sangat tinggi, terutama quercetin. Senyawa tersebut bermanfaat sebagai antibakteri, kandungan pada daun Jambu biji lainnya seperti saponin, minyak atsiri, tanin, flavonoid, dan alkaloid (Ayuni, 2012).

(22)

2.1.7 Manfaat daun jambu biji

Daun jambu biji ternyata memiliki khasiat tersendiri bagi tubuh kita, baik untuk kesehatan ataupun untuk obat penyakit tertentu. Pada umumnya daun jambu biji (Psidium guajava L.) digunakan untuk pengobatan seperti diare, karena daun jambu biji mengandung zat anti bakteri, sehingga bisa mencegah pertumbuhan anti bakeri saat terkena diare atau disentri. perut kembung pada bayi dan anak, kadar kolesterol darah meninggi, sering buang air kecil, luka, sariawan, larutan kumur atau sakit gigi, batuk dan flu (Rukmana dan Yudirachman, 2016).

2.2 Uraian Tanaman Kunyit 2.2.1 Klasifikasi tanaman kunyit

Klasifikasi tanaman kunyit berdasarkan identifikasi Herbarium Medanense adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Kelas : Monocotyledonae Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma longa L.

2.2.2 Sinonim tanaman kunyit Curcuma domestica Val 2.2.3 Nama asing tanaman kunyit

Turmeric

(23)

2.2.4 Nama daerah tanaman kunyit

Kunyit mempunyai berbagai nama daerah yang berbeda-beda diantaranya: Sumatra; Kakunye (Enggano), Kunyet (Adoh), Kuning (Gayo), Kunyet (Alas), Hunik (Batak), Odil (Simalur), Undre, (Nias), Kunyit (Lampung), Kunyit (Melayu). Jawa: Kunyir (Sunda), Kunir (Jawa Tengah), Temo koneng (Madura). Kalimanta: Kunit (Banjar), Henda (Ngayu), Kunyit (Olon Manyan), Cahang (Dayak Panyambung), Dio (Panihing), Kalesiau (Kenya), Kunyit (Tidung). Nusa Tenggara: Kunyit (Sasak), Huni (Bima), Kaungi (Sumba Timur), Kunyi (Sumba Barat), Kewunyi (Sawu), Koneh, (Flores), Kuma (Solor), Kumeh (Alor) (Mutiah, 2015).

2.2.5 Morfologi tanaman kunyit

Tanaman kunyit ditanda dengan habitus semak dan tumbuh setinggi 40- 100 cm. Tanaman ini memiliki batang semu, basah, tegak, bulat yang dibentuk dari pelepah daun. Daunnya tunggal, berbentuk bulat telur (lanset) memanjnag, memiliki 3-8 helai daun, ujung dan pangkal daun runcing dengan tepi rata.

Ukuran daun panjangnya 20-40 cm, lebar 8-12,5 cm, pertulangannya menyirip, dan berwarna hijau pucat. Tanaman ini menghasilkan rimpang bewarna kuning jingga atau kuning jingga kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan (Rukmana dan Yudirachman, 2016).

2.2.6 Kandungan kimia rimpang kunyit

Kunyit mengandung flavonoid yaitu kurkuminoid sebagai zat warna sekitar 3-4%, minyak atsiri sekitar 2-5% yang terdiri atas seskuiterpen dan turunan fenilpropana. Arabinosa, fruktosa, glukosa, pati, tanin, dammar dan mineral yang terdiri atas magnesium, besi, mangan, kalsium, natrium, kalium, timbal, seng, kobalt, aluminium dan bismuth (Rukmana dan Yudirachman, 2016).

(24)

2.2.7 Manfaat tanaman kunyit

Rimpang kunyit berkhasiat untuk antikoagulan, menurunkan tekanan darah, obat malaria, obat cacing, obat sakit perut atau maag. Kurkumin juga dapat berfungsi sebagai anti-inflamasi, anti-oksidan, pencegah kanker, antitumor, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dan dapat mematikan kuman dan menghilangkan rasa kembung karena dinding empedu dirangsang lebih giat untuk mengeluarkan cairan pemecah lemak. Minyak atsiri pada kunyit bermanfaat untuk mengurangi gerakan usus yang kuat, sehingga mampu mengobati diare (Rukmana dan Yudirachman, 2016).

2.3 Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung (Depkes RI., 1979).

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan suatu pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri, alkaloida, flavonoida dan lain-lain.

Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dengan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM, 2000).

Metode ekstraksi yang umum digunakan dalam berbagai penelitian antara lain (Ditjen POM, 2000) yaitu:

a) Maserasi

Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan

(25)

beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan.

b) Perkolasi

Perkolasi adalah proses penyarian simplisia dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.

Serbuk simplisia yang akan diperkolasi tidak langsung dimasukkan kedalam bejana perkolator, tetapi dibasahi atau dimaserasi terlebih dahulu dengan cairan penyari sekurang-kurangnya selama 3 jam.

c) Refluks

Refluks adalah proses penyarian simplisia dengan menggunakan alat pada temperatur titik didihnya dalam waktu tertentu dimana pelarut akan terkondensasi menuju pendingin dan kembali ke labu.

d) Sokletasi

Sokletasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut yang selalu baru, dilakukan dengan menggunakan alat soklet dimana pelarut akan terkondensasi dari labu menuju pendingin, kemudian jatuh membasahi sampel.

e) Digesti

Digesti adalah proses penyarian dengan pengadukan kontinu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur kamar, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50°C.

f) Infundasi

Infundasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada temperatur 90°C selama 15 menit.

g) Dekoktasi

Dekoktasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada temperatur 90°C selama 30 menit.

(26)

2.4 Tablet

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, yang mengandung satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yang dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, bahan pengembang, bahan pengikat, bahan pelicin, bahan pembasah atau bahan lain yang cocok (Depkes RI., 1979).

Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan bentuk sediaan yang paling banyak digunakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja.

Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk dan penandaan permukaan tergantung pada desain cetakan (Depkes RI, 1995).

Tablet dicetak dari serbuk kering, kristal atau granulat, umumnya dengan penambahan bahan pembantu, pada mesin yang sesuai, dengan menggunakan tekanan tinggi. Tablet dapat memiliki bentuk silinder, kubus, batang atau cakram, serta bentuk seperti telur atau peluru. Garis tengah tablet pada umumnya 5-17 mm, sedangkan bobot tablet 0,1-1 g (Voigt, 1995). Menurut Banker dan Anderson, (1994), tablet yang dinyatakan baik harus memenuhi syarat, yaitu:

1. Memenuhi kemampuan atau daya tahan terhadap pengaruh mekanis selama proses produksi, pengemasan dan distribusi.

2. Bebas dari kerusakan seperti pecah pada permukaan dan sisi-sisi tablet.

3. Dapat menjamin kestabilan fisik maupun kimia dari zat berkhasiat yang terkandung di dalamnya.

4. Dapat membebaskan zat berkhasiat dengan baik sehingga memberikan efek pengobatan seperti yang dikehendaki.

Tablet dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan solid yang mengandung

(27)

satu atau lebih zat aktif dengan satu atau tanpa berbagai eksipien (yang meningkatkan mutu sediaan tablet, kelancaran sifat aliran bebas, sifat kohesivitas, kecepatan disintegrasi, dan sifat antilekat) dan dibuat dengan mengempa campuran serbuk dalam mesin tablet (Siregar dan Wikarsa, 2010).

Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetik yang sesuai.

Tablet dapat berbeda-beda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancur dan dalam aspek lainnya tergantung pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian obat secara oral dengan penambahan zat warna, zat pemberi rasa dan lapisan-lapisan dalam berbagai jenis. Tablet lain yang penggunaannya dengan cara sublingual, bukal atau melalui vagina, tidak boleh mengandung bahan tambahan seperti pada tablet yang digunakan secara oral (Ansel, 2008).

Tablet adalah sediaan solid yang mengandung zat aktif yang dapat diberikan secara oral dan ditelan, tablet yang hanya ditempatkan di dalam rongga mulut tanpa ditelan, tablet oral yang dikunyah dulu lalu ditelan, atau hanya dikulum/dihisap (Siregar dan Wikarsa, 2010).

Obat-obat diberikan secara oral dalam bentuk sediaan farmasi yang beragam, masing-masing dengan keuntungan terapeutik yang mengakibatkan pengggunaannya yang selektif oleh dokter. Perbedaan ukuran dan warna dari tablet dalam perdagangan, serta sering menggunakan monogram dari simbol perusahaan dan nomor kode, memudahkan pengenalannya oleh orang-orang yang dilatih menggunakannya dan bermanfaat sebagai tambahan perlindungan bagi kesehatan masyarakat (Ansel, 2008).

(28)

2.4.1 Jenis - jenis tablet

Menurut Farmakope Indonesia edisi IV tablet dapat dibedakan menjadi beberapa bagian berdasarkan cara penggunaannya, yaitu:

a. Tablet Bukal

Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi sedangkan tablet sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara lidah, sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut.

b. Tablet Efervesen

Tablet efervesen yang arut, dibuat dengan cara dikempa, selain zat aktif juga, mengandung campuran asam (asam sitrat, asam tartrat) dan natrium bikarbonat, yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon doksida.

Tablet dilarutkan atau didispersikan dalam air sebelum pemberian. Tablet efervesen harus disimpan dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab, pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan.

c. Tablet Kunyah

Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah, memberikan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut, mudah ditelan dan tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. Jenis tablet ini digunakan dalam formulasi tablet untuk anak, terutama formulasi multivitamin, antasida dan antibiotika tertentu. Tablet kunyah dibuat dengan cara dikempa, umumnya menggunakan manitol, sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi, mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa.

2.4.2 Metode pembuatan tablet

Tablet dibuat dengan 3 cara umum, yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung (Depkes RI., 1995).

(29)

Metode pembuatan tablet didasarkan pada sifat fisika kimia dari bahan obat, seperti stabilitas dari bahan aktif dalam panas atau terhadap air, bentuk partikel bahan aktif dan sebagiannya.

Metode pembuatan sediaan tablet yaitu a. Cetak langsung

Cetak langsung adalah pencetakan bahan obat atau campuran bahan obat dan bahan pembantu tanpa proses pengolahan awal. Cara ini hanya dilakukan untuk bahn-bahan tertentu saja yang berbentuk butir-butir granul yang mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk membuat tablet yang baik.

Keuntungan utama dari cetak langsung ini adalah untuk bahan obat yang peka lembab dan panas, dimana stabilitasnya terganggu akibat pekerjaan granulasi, tetapi dapat dibuat menjadi tablet (Voigt, 1995).

b. Granulasi kering

Granulasi kering disebut juga slugging atau prekompresi. Cara ini sangat tepat untuk tabletasi zat-zat yang peka suhu atau bahan obat yang tidak stabil dengan adanya air. Metode pembuatan tablet dengan cara mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat.

Obat dan bahan pembantu pada mulanya dicetak dulu, artinya mula-mula dibuat tablet yang cukup besar, yang massanya tidak tertentu, selanjutnya terjadi penghancuran tablet yang dilakukan dalam mesin penggranul kering, atau dalam hal yang sederhana dilakukan diatas sebuah ayakan. Granulat yang dihasilkan kemudian dicetak dengan takaran yang dikehendaki (Voigt, 1995). Metode ini digunakan pada keadaan dosis efektif yang terlalu tinggi untuk pencetakan yang langsung, dimana bahan aktif obatnya peka terhadap pemanasan atau tidak tahan terhadap pemansan, kelembaban atau keduanya (Lachman dkk., 1994).

(30)

c. Granulasi basah

Pada teknik ini juga memerlukan langkah-langkah pengayakan, penyampuran dan pengeringan. Pada granulasi basah, granul dibentuk dengan suatu bahan pengikat. Teknik ini membutuhkan larutan, suspense atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk.

Cara penambahan bahan pengikat tergantung pada kelarutannya dan tergantung pada komponen campuran. Karena massa hanya sampai konsistensi lembab bukan basah seperti pasta, maka bahan pengikat yang ditambahkan tidak boleh berlebihan (Banker dan Anderson, 1994).

Proses pengeringan diperlukan oleh seluruh cara granulasi basah untuk menghilangkan pelarut yang dipakai pada pembentukan gumpalan-gumpalan granul dan untuk mengurangi kelembaban sampai pada tingkat yang optimum (Banker dan Anderson, 1994).

2.4.3 Komposisi tablet

Tablet oral umumnya disamping zat aktif mengandung, pengisi, pengikat, penghancur dan pelicin. Tablet tertentu mungkin memiliki pemacu aliran, zat warna, zat perasa dan pemanis (Lachman dkk., 1994).

Komposisi umum dari tablet adalah zat berkhasiat, bahan pengisi, bahan pengikat atau perekat, bahan pengembang dan bahan pelicin. Kadang-kadang dapat ditambahkan bahan pewangi, bahan pewarna dan bahan-bahan lainnya (Ansel, 2008).

1. Pengisi

Digunakan agar telah memiliki ukuran dan massa yang dibutuhkan.

Sifatnya harus netral secara kimia dan fisiologi, selain itu juga dapat dicerna dengan baik (Voigt, 1995).

(31)

2. Pengikat

Bahan pengikat memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi dan pada tablet kempa serta menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Zat pengikat dalam ditambahkan dalam bnetuk kering, tetapi lebih efektif jika ditambahkan dalam larutan (Depkes RI, 1995).

Bahan ini dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat (Anief, 2003), untuk memberikan kekompakan dan daya tahan tablet, juga untuk menjamin penyatuan beberapa partikel serbuk dalam butir granulat (Voigt, 1995).

Pengikat yang umum digunakan yaitu: amilum, gelatin, glukosa, gom arab, natrium alginate, cmc, polivinil pirolidon, dan veegum (Lannie dan achmad., 2013). Bahan pengikat kering yang paling efektif digunakan adalah selulosa mikokrista yang umumnya digunakan dalam membuat tablet kempa langsung (Depkes RI, 1995).

3. Penghancur

Untuk memudahkan pecahnya tablet ketika terkontak dengan cairan saluran pencernaan dan mempermudah absorpsi (Lachman dkk., 1994). Bahan yang digunakan sebagai pengembang yaitu: amilum, gom, derivate selulosa, alginate, dan clays (Lannie dan achmad., 2013).

4. Pelicin

Ditambahkan untuk meningkatkan daya alir granul-granul pada corong pengisi, mencegah melekatnya massa pada punchdan die, mengurangi pergesekan antara butir-butir granul, dan mempermudah pengeluaran tablet dari die. Bahan pelican yaitu : metalik stearat, talk, asam stearat, senyawa lilin dengan titik lebur tinggi, amilum maydis (Lannie dan Achmad., 2013).

(32)

2.5 Uji Preformulasi

Sebelum dicetak menjaadi tablet, massa granul diperiksa apakah memenuhi syarat untuk dapat dicetak. Preformulasi ini menggambarkan sifat massa sewaktu

pencetakan tablet, meliputi waktu alir, sudut diam dan indeks tap.

a. Waktu alir

Pengujian waktu alir dilakukan dengan mengalirkan massa granul melalui corong. Waktu yang diperlukan tidak lebih dari 10 detik, jika tidak maka akan dijumpai kesulitan dalam hal keseragaman bobot tablet (Cartensen, 1977).

b. Sudut diam

Pengukuran sudut diam digunakan metode corong tegak, granul dibiarkan mengalir bebas dari corong ke atas dasar. Serbuk akan membentuk kerucut, kemudian sudut kemiringannya diukur. Semakin dasar kerucut yang dihasilkan, semakin kecil sudut diam, semakin baik aliran granul tersebut (Voigt, 1995).

c. Indeks tap

Indeks tap adalah uji yang mengamati penurunan volume sejumlah serbuk atau granul akibat adanya gaya hentakan. Indeks tap dilakukan dengan alat volumenometer yang terdiri dari gelas ukur yang dapat bergerak secara teratur keatas dan kebawah. Serbuk atau granul yang baik mempunyai indeks tap kurang dari 20% (Cartensen, 1977).

2.6 Evaluasi Tablet

Untuk memenuhi syarat-syarat baik teknis maupun syarat biologis maka tablet yang dihasilkan harus dievaluasi terhadap beberapa teknik evaluasi tablet.

(33)

a. Keseragaman Bobot

Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu dari dua metode, yaitu keseragaman bobot atau keseragaman kandungan. Persyaratan ini digunakan untuk sediaan mengandung dua atau lebih zat aktif (Depkes RI, 1995).

Pengisian die ( ruang cetak) menentukan berat tiap tablet yang tercetak.

Penyimpangan yang kecil dari setiap tablet tidak dapat dihindari dan batasan - batasan yang dperbolehkan dimuat dalam Farmakope Indonesia. Untuk itu dilakukan evaluasi keseragaman bobot dari tablet yang telah tercetak.

b. Uji Kekerasan

Uji kekerasan tablet dapat didefenisikan sebagai uji kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur dengan memberi tekanan terhadap diameter tablet.

Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan tertentu agar dapat bertahan dari goncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan dan transportasi (Banker dan Andreson, 1994).

c. Uji Friabilitas (Kerapuhan)

Kerapuhan merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialami sewaktu proses pengemasan dan pengiriman. Uji kerapuhan berhubungan dengan kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi pada permukaan tablet. Semakin besar harga persentase kerapuhan, maka semakin besar massa tablet yang hilang (Banker dan Andreson, 1994).

d. Waktu Hancur

Waktu hancur adalah waktu yang dibutuhkan oleh tablet untuk hancur menjadi partikel-partikel kecil. Faktor yang mempengaruhi waktu hancur dari tablet adalah sifat kimia dan fisika dari granulat, kekerasan dan porositasnya.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium Teknologi Sediaan Non Steril II Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara pada bulan Februari sampai Mei 2019.

3.2 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental dengan tahapan meliputi pengambilan sampel, pembuatan simplisia, skrining senyawa kimia, karakterisasi simplisia, pembuatan ekstrak daun jambu biji dan rimpang kunyit, pembuatan sediaan tablet menggunakan granul ekstrak daun jambu biji dikombinasi dengan rimpang kunyit dengan bahan tambahan seperti bahan pengisi, pengikat, penghancur, dan bahan pelicin. Pemeriksaan uji preformulasi, pencetakan tablet, uji evaluasi terhadap sediaan tablet.

3.3 Alat dan Bahan 3.3.1 Alat-alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, alat tanur, ayakan mesh 12, mesh 14, mesh 16, mesh 20, blender (Phillips), cawan penguap, cawan alas datar, Roche friabilator (Copley), hardness tester (Strong- Cobb), Disintegration tester, kertas saring, lumpang dan alu, kurs porselen, mesin pencetak tablet single punch (Erweka), neraca analitik (Dickson), rotary evaporator, stopwatch, spatula, waterbath, lemari pengering, corong alir,

(35)

mikroskop, labu alas bulat, alat destilasi, oven, botol maserasi, aluminium foil, penggaris.

3.3.2 Bahan-bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air, air panas, amilum manihot, asam klorida encer 2N, 3N dan asam klorida pekat, asam sulfat pekat, pereaksi besi (III) klorida 1%, pereaksi Bouchardat, daun jambu biji (Psidium guajava L.), pereaksi Dragendorf, etanol 96%, 80%, isopropanol, kloralhidrat,

kloroform, laktosa, pereaksi Liebermann-Bourchard, pereaksi Mayer, metanol, Mg stearat, pereaksi Molisch, Na bikarbonat, serbuk Mg, rimpang kunyit (Curcuma longa L.) serbuk Zn, talkum, toluen, PVP, laktosa, CMC Na, gelatin, eter, etil asetat, timbal (II) asetat 0,4M, n-heksan.

3.4 Prosedur Kerja Ekstrak Rimpang Kunyit Dan Daun Jambu Biji 3.4.1 Pengambilan sampel

Pengumpulan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Sampel yang digunakan adalah daun jambu biji (Psidium guajava L.) dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) yang diambil dari Tanjung Morawa Deli Serdang, dan Kota Padangsidempuan, Provinsi Sumatera Utara.

3.4.2 Identifikasi tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dilakukan di Laboratorium Herbarium Medanense, Universitas Sumatera Utara, Medan.

3.4.3 Pembuatan simplisia

Bahan tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah rimpang kunyit dan daun jambu biji. Rimpang kunyit dan daun jambu biji yang telah

(36)

dikumpulkan lalu dibersihkan dari kotoran dengan cara mencuci dibawah air mengalir hingga bersih, kemudian ditiriskan, lalu ditimbang berat basah (Depkes RI, 1977).

Rimpang kunyit dan daun jambu biji disebar diatas wadah lalu dikeringkan di dalam lemari pengering dengan suhu 40-50°C. Daun dan rimpang dianggap kering bila dapat diremas rapuh dan hancur, lalu ditimbang berat kering dan diserbukkan dengan menggunakan blender. Serbuk kering ini kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik dan disimpan di tempat yang kering terlindung dari cahaya matahari.

3.4.4 Skrining fitokimia simplisia

Skrining fitokimia dilakukan menurut Ditjen POM (1995) untuk mengetahui golongan senyawa alkaloida, flavonoid, glikosida, saponin, tanin, dan steroida/ triterpenoida.

3.4.4.1 Pemeriksaan alkaloida

Simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji masing-masing ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk uji alkaloida: diambil 3 tabung reaksi, lalu kedalamnya dimasukkan 0,5 ml filtrat. Pada masing-masing tabung reaksi ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer, 2 tetes pereaksi Bouchardat dan 2 tetes pereaksi Dragendorf. Alkaloida positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan di atas (Depkes RI, 1995).

3.4.4.2 Pemeriksaan flavonoida

Larutan Percobaan: Sebanyak 0,5 g simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji masing-masing disari dengan 10 ml metanol lalu direfluks selama 10

(37)

menit, disaring panas-panas melalui kertas saring berlipat, filtrat diencerkan dengan 10 ml air suling. Setelah dingin ditambah 5 ml eter minyak tanah, dikocok hati-hati, didiamkan. Lapisan metanol diambil, diuapkan pada temperatur 40°C.

Sisa dilarutkan dalam 5 ml etil asetat, disaring.

Cara Percobaan:

1. Satu ml larutan percobaan diuapkan hingga kering, sisanya dilarutkan dalam 1-2 ml etanol 96%, ditambahkan 0,5 g serbuk seng dan 2 ml asam klorida 2 N, didiamkan selama satu menit. Ditambahkan 10 ml asam klorida pekat, jika dalam waktu 2-5 menit terjadi warna merah intensif menunjukkan adanya flavonoida (glikosida-3-flavonol).

2. Satu ml larutan percobaan diuapkan hingga kering, sisanya dilarutkan dalam 1 ml etanol 96%, ditambahkan 0,1 g magnesium dan 10 ml asam klorida pekat, terjadi warna merah jingga sampai merah ungu menunjukkan adanya flavonoida (Depkes RI, 1995).

3.4.4.3 Pemeriksaan glikosida

Simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji masing-masing ditimbang sebanyak 3 g, lalu disari dengan 30 ml campuran etanol 96% dengan air (7:3) dan 10 ml asam klorida 2N, direfluks selama 2 jam, didinginkan dan disaring. Diambil 20 ml filrat ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, didiamkan 5 menit lalu disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Sari air dikumpulkan dan diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50°C. Sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol. Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut:

0,1 ml larutan percobaan dimasukan dalam tabung reaksi dan diuapkan diatas penangas air. Pada sisa ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi Molisch.

(38)

Kemudian secara perlahan-lahan ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung, terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas kedua cairan menunjukkan ikatan gula (Depkes RI, 1995).

3.4.4.4 Pemeriksaan saponin

Simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji masing-masing ditimbang sebanyak 0,5 g dan dimasukan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 ml air panas, dinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika terbentuk busa setinggi 1 -10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2N menunjukan adanya saponin (Depkes RI, 1995).

3.4.4.5 Pemeriksaan tanin

Simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji masing-masing ditimbang sebanyak 1 g, dididihkan selama 3 menit dalam 100 ml air suling lalu didinginkan dan disaring. Pada filtrat ditambah 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman menunjukan adanya tanin (Depkes RI, 1995).

3.4.4.6 Pemeriksaan steroida/triterpenoida

Simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji masing-masing ditimbang 1 g, dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan beberapa tetes pereaksi Liebermann-Bourchard. Timbulnya warna biru atau biru hijau menunjukan adanya steroid, sedangkan warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoida (Depkes RI, 1995).

(39)

3.4.5 Pemeriksaan karakterisasi 3.4.5.1 Pemeriksaan makroskopik

Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk, warna, ukuran, bau, dan rasa dari simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji.

3.4.5.2 Pemeriksaan mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji. Serbuk simplisia ditaburkan diatas objek yang telah ditetesi larutan kloralhidrat dan ditutup dengan kaca penutup, kemudian diamati di bawah mikroskop.

3.4.5.3 Penetapan kadar air

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi toluen).

Cara penetapan:

1. Penjenuhan toluene

Sebanyak 200 mL toluen dan 2 mL air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam kemudian toluen didinginkan selama 30 menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 mL (Depkes RI, 1995).

2. Penetapan kadar air

Sebanyak 5 g masing-masing ekstrak atau simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat berisi toluen tersebut, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluen mendidih kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes per detik sampai bagian air terdestilasi. Bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar.

Setelah air dan toluen memisah sempurna, volume air dibaca sesuai dengan

(40)

kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen (Depkes RI, 1995).

3.4.5.4 Penetapan Kadar Sari Larut Air

Sebanyak 5 g serbuk simplisia rimpang kumyit dan daun jambu biji masing-masing dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL air-kloroform (2,5 mL kloroform dalam aquadest sampai 1 liter) dengan menggunakan botol bersumbat sambil sekali-kali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam dan disaring. Sebanyak 20 mL filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Residu dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C sampai diperoleh bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995).

3.4.5.5 Penetapan Kadar Sari Larut Etanol

Sebanyak 5 g serbuk simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji masing-masing dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL etanol 96% dengan menggunakan botol bersumbat sambil sekali-kali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam dan disaring. Sebanyak 20 mL filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Residu dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C sampai diperoleh bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995).

3.4.5.6 Penetapan kadar abu total

Sebanyak 3 g masing-masing ekstrak atau simplisia rimpang kunyit dan daun jambu biji ditimbang seksama dimasukkan ke dalam kurs porselen yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs porselen bersama isinya dipijarkan perlahan-lahan hingga arang habis, didinginkan, ditimbang sampai

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pada perangkat MAIN dengan 16 turunan dimensinya, maka kita dapat melihat gratifikasi apa yang paling banyak dicari pengguna situs untuk media musik

Ia mengajukan teori fungsionalisme, yang berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan merupakan bagian-bagian yang berguna bagi masyarakat di mana unsur-unsur tersebut terdapat. Dengan

[r]

Calon peserta Local Government Leadership Training Angkatan VIII BPSDMD Provinsi Jawa Tengah tahun 2021 adalah para ASN yang telah masuk dalam8. database Talent Pool

Antara berikut, manakah ciri fizikal yang terdapat di kawasan pinggir lautB. Pentas

Hakekat penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara harapan yang diinginkan melalui: “menampilkan kreativitas melalui kegiatan nyata dalam rangka

Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “ Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode Deoksiribosa Dan Penetapan Kandungan Fenolik Total Pada Fraksi

Nilai yang dapat dipetik dari makna simbolis Sêkar Pralambang Jaman ini adalah orang yang memiliki pedoman dan prinsip dalam hidupnya serta selalu berpegang