2.1 Kecelakaan Kerja 2.1.1 Definisi Kecelakaan
Kecelakaan (accident) dapat didefinisikan sebagai suatu hal yang tidak direncanakan, tidak terkontrol, dan juga tidak dikehendaki yang menghancurkan fungsi normal dari seseorang maupun banyak orang, serta juga menyebabkan cedera (Grimaldi dan Simonds, 1975).
Suatu kecelakaan tidak harus menimbulkan cedera/luka (injury).
Kecelakaan menimbulkan kerusakan pada peralatan dan material, terutama yang menyebabkan injury pada manusia akan memperoleh perhatian yang lebih besar.
Semua kecelakaan bagaimanapun juga bersifat merusak dan merugikan, oleh sebab itu harus diperhatikan.
Istilah ‘kecelakaan’ seringkali menimbulkan masalah jika dihubungkan dengan usaha pencegahan kecelakaan. Pertama, istilah kecelakaan biasanya berhubungan dengan kejadian yang diasumsikan di luar kendali atau kehendak dari seseorang yang tertimpa kecelakaan. Padahal sebenarnya kecelakaan adalah sesuatu yang telah terlihat sebelumnya dan dapat dicegah sebelum kejadian tersebut terjadi. Pendekatan yang paling baik untuk mencegahnya adalah fokus pada faktor penyebab kecelakaan (Suchman, 1961, dikutip dari Hinze, 1997).
Masalah kedua yaitu asumsi yang berkembang luas bahwa kecelakaan menyebabkan kerusakan atau cedera. Banyak kejadian yang tidak direncanakan terjadi tanpa disertai dengan kerusakan atau menyebabkan pekerja terluka. Ada beberapa kejadian yang tidak dianggap kecelakaan. Kejadian ini disebut sebagai
“hampir celaka” (near misses), yang kemungkinan lebih sering terjadi tanpa disadari, dan dapat menjadi peringatan yang sangat efektif mengenai daerah- daerah tertentu yang membutuhkan perbaikan keamanan. “Hampir celaka”
merupakan peringatan bagi manajemen bahwa kecelakaan mungkin akan muncul di masa depan jika tidak diambil tindakan untuk mencegahnya (Hinze, 1997).
2.1.2 Teori Kecelakaan
Pencegahan kecelakaan yang efektif sangat bergantung pada pemahaman mengenai penyebab timbulnya kecelakaan. Kecelakaan yang mendapat perhatian utama adalah kecelakaan yang menyebabkan pekerja terluka. Berikut ini adalah beberapa teori yang menjelaskan penyebab terjadinya kecelakaan, yaitu (1) The Accident-Proneness Theory, (2) The Goals-Freedom-Alertness Theory, (3) The Adjustment-Stress Theory, (4) The Distractions Theory, (5) Mental Stresses, (6) The Chain-of Events Theory, (7) Multiple Causation Theory.
2.1.2.1 The Accident-Proneness Theory
Teori ini menitikberatkan pada faktor perorangan yang berhubungan dengan penyebab kecelakaan. Vernon (1918, dikutip dari Hinze, 1997) menyatakan bahwa kecenderungan terhadap kecelakaan dapat dilacak dari kepribadian seseorang. Farmer dan Chambers (1929, dikutip dari Hinze, 1997) mendefinisikan kecenderungan tersebut sebagai “sifat aneh” seseorang yang mempengaruhi individu yang memilikinya berada pada suatu tingkat yang relatif tinggi untuk mengalami kecelakaan. Schenk dan Rausche (1979, dikutip dari Hinze, 1997) menyatakan bahwa orang yang menunjukkan sikap agresif memiliki kecenderungan yang lebih besar mendapat kecelakaan.
Pada dasarnya, The Accident-Proneness Theory menyatakan bahwa suatu kecelakaan disebabkan oleh faktor kondisi psikologis yang timbul dari dalam diri pekerja atau dapat disebut sebagai ‘pembawaan’ pekerja, misalnya ceroboh, gugup, dan sikap yang ‘sok jagoan’/ berlagak (‘macho behavior’).
2.1.2.2 The Goals-Freedom-Alertness Theory
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Kerr (1950, 1957, dikutip dari Hinze, 1997), dimana teori ini menyatakan bahwa pelaksanaan pekerjaan yang aman merupakan hasil dari suatu penghargaan secara psikologis terhadap lingkungan kerja, yaitu suatu keadaan dimana pekerja didorong untuk berpartisipasi dalam menyusun tujuan yang ingin dicapai dan memilih metode atau cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut teori ini,
kecelakaan merupakan akibat dari perilaku kerja yang berkualitas rendah yang muncul dalam suatu iklim psikologis yang tidak dihargai.
Inti dari teori ini adalah bahwa manajemen harus membiarkan seorang pekerja memiliki tujuan yang dijelaskan dengan baik dan harus memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengejar tujuan tersebut. Teori ini lebih menekankan aspek positif dari keselamatan kerja (Hinze, 1997).
Berdasarkan The Goals-Freedom-Alertness Theory dapat disimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh:
• Pekerja tidak dilibatkan dalam penyusunan tujuan K3.
• Pekerja tidak diberi kebebasan untuk mengejar tujuan yang telah ditetapkan.
• Pekerja tidak dilibatkan dalam pengidentifikasian bahaya di tempat kerja.
• Pekerja tidak mengetahui dengan jelas tugasnya.
• Kurangnya kewaspadaan pekerja.
• Kurangnya perhatian pekerja pada pekerjaannya.
2.1.2.3 The Adjustment-Stress Theory
Teori ini juga dikemukakan oleh Kerr, dimana teori ini dibuat untuk melengkapi The Goals-Freedom-Alertness Theory yang menyatakan bahwa pekerja akan aman jika berada pada lingkungan kerja yang positif. Teori ini adalah kebalikannya yang mengemukakan kondisi-kondisi yang menyebabkan seorang pekerja tidak aman.
Menurut Kerr (1957, dikutip dari Hinze, 1997), keadaan yang ‘tidak biasa, negatif, membingungkan’ pada pekerja akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan atau perilaku yang berkualitas rendah lainnya. Teori ini disebut juga sebagai Climate Theory, karena menekankan pada suasana/kondisi iklim kerja, baik internal maupun eksternal sebagai faktor utama timbulnya kecelakaan. Jika pekerja tidak dapat menyesuaikan diri dengan tekanan tersebut, maka akan meningkatkan peluang terjadinya kecelakaan.
Berdasarkan The Adjustment-Stress Theory dapat disimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh stress atau tekanan mental yang dialami pekerja karena:
• Faktor internal:
- kelelahan
- mengkonsumsi narkoba dan minuman keras - kurang tidur
- penyakit
- masalah keluarga
• Faktor eksternal:
- tekanan untuk memenuhi deadline yang ketat - tekanan untuk menekan biaya
- konflik dengan manajemen (supervisor) - konflik antar pekerja
- lingkungan tempat kerja yang berbahaya
2.1.2.4 The Distractions Theory
The Distractions Theory merupakan teori penyebab kecelakaan yang dapat digunakan pada situasi dimana seorang pekerja memikul suatu tugas tertentu pada suatu lingkungan dimana diakui ada bahaya di tempat tersebut.
Pada dasarnya teori ini menyatakan bahwa kecelakaan disebabkan oleh situasi. Apabila tidak ada bahaya di tempat kerjanya, maka pekerja tidak kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya, sebaliknya, jika ada bahaya di tempat kerjanya maka pekerja akan kesulitan dan bahkan dapat membuatnya menjadi frustasi. Jika seorang pekerja mengalami gangguan mental yang cukup kritis ketika melakukan suatu pekerjaan, maka kecelakaan hanya tinggal menunggu waktu untuk terjadi.
Berdasarkan The Distractions Theory, dapat disimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh:
• Suasana yang membingungkan atau mengacaukan pikiran pekerja, karena:
- masalah keluarga - persaingan kerja
- konflik pribadi pada pekerjaan
- mengkonsumsi narkoba dan minuman keras - deadline yang ketat
- pengawasan yang terlalu ketat
• Kurangnya kewaspadaan pekerja.
• Lingkungan tempat kerja yang berbahaya.
2.1.2.5 Mental Stresses
Holmes dan Rahe (1967, dikutip dari Hinze, 1997), menguji hubungan antara berbagai tekanan kehidupan dan penyebab sakit yang menimpa seseorang.
Penelitian tersebut memperlihatkan fakta bahwa tekanan hidup memainkan peranan penting dalam menyebabkan seseorang menjadi sakit. Kejadian yang memberikan tekanan cenderung berubah-ubah dalam struktur sosial kehidupan seseorang, antara lain pernikahan, pekerjaan, pendidikan, dan agama. Stress dapat disebabkan baik oleh kejadian yang positif maupun negatif. Kejadian positif antara lain sukses, prestasi, dan peningkatan kualitas hidup, sedangkan kejadian yang negatif seperti perceraian, kematian, dan masalah rumah tangga.
Berdasarkan Mental Stresses, dapat disimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh tekanan atau stress yang dialami pekerja.
2.1.2.6 The Chain-of Events Theory
Teori ini menyatakan bahwa sebuah kecelakaan terjadi sebagai hasil dari urutan kejadian-kejadian. Kejadian-kejadian tersebut saling berkaitan satu sama lain dimana setiap kejadian mengikuti kejadian lain sebelumnya. Munculnya semua kejadian dalam rangkaian tersebut, akhirnya akan menghasilkan sebuah kecelakaan (Gambar 2.1), sebaliknya, jika salah satu kejadian tersebut tidak muncul, maka kecelakaan tidak akan terjadi (Hinze, 1997). Teori ini sama dengan Domino Theory yang dikemukakan oleh Heinrich, dimana suatu kecelakaan merupakan suatu rangkaian peristiwa yang dapat disusun dalam suatu urutan kronologis untuk memperlihatkan peristiwa yang akhirnya menyebabkan kecelakaan (Ridley, 1986).
KECELAKAAN Kejadian C
Kejadian B Kejadian A
(Sumber: Ridley, 1996)
Gambar 2.1 The Chain-of Events Theory
Berdasarkan The Chain-of Events Theory, dapat disimpulkan bahwa suatu kecelakaan disebabkan oleh:
• Sikap yang buruk terhadap K3.
• Moral pekerja yang rendah.
• Motivasi pekerja yang rendah.
• Kurangnya pelatihan K3.
• Kurangnya pengetahuan terhadap bahaya yang ada di tempat kerja.
• Tidak tersedianya perlengkapan keselamatan yang dibutuhkan.
• Perlengkapan keselamatan yang tidak memadai.
• Akses yang rumit terhadap penggunaan peralatan keselamatan.
• Tidak adanya peringatan/tanda bahaya di tempat kerja.
• Kondisi mekanis dan fisik dari peralatan yang digunakan.
• Manajemen tidak melakukan inspeksi untuk mengidentifikasi bahaya di tempat kerja.
• Kebijakan manajemen yang tidak tegas terhadap permasalahan K3.
• Kegagalan manajemen untuk menegakkan prosedur K3 yang telah dibuat.
• Prosedur pelaksanaan kerja yang tidak jelas.
• Fasilitas yang tidak memadai.
• Perencanaan yang buruk.
• Koordinasi yang buruk.
• Pengawasan yang tidak memadai.
• Penempatan pekerja yang tidak sesuai pada tempatnya.
2.1.2.7 Multiple Causation Theory
Teori ini menyatakan bahwa suatu kecelakaan tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, namun oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama menyebabkan sebuah kecelakaan (Gambar 2.2). Berbeda dengan Chain of Events Theory, dimana kecelakaan disebabkan oleh beberapa faktor dalam suatu urutan atau rentetan peristiwa, teori ini menyatakan bahwa faktor- faktor tersebut bergabung secara acak yang akhirnya menyebabkan suatu kecelakaan. Tiap faktor penyebab ini dapat mewakili suatu tindakan yang tidak aman ataupun suatu kondisi/lingkungan kerja yang tidak aman.
Penyebab B
Penyebab A Penyebab C
KECELAKAAN
(Sumber: Ridley, 1996)
Gambar 2.2 Multiple Causation Theory
Berdasarkan Multiple Causation Theory dapat disimpulkan bahwa:
• Kecelakaan terjadi sebagai akibat dari beberapa faktor yang secara acak bergabung menyebabkan timbulnya kecelakaan.
• Faktor-faktor tersebut berupa tindakan pekerja yang tidak aman dan kondisi fisik tempat kerja yang tidak aman.
2.1.3 Faktor Penyebab Kecelakaan
Berdasarkan tujuh teori kecelakaan yang telah dikemukakan, secara umum dapat disimpulkan bahwa sebuah kecelakaan disebabkan oleh 3 faktor utama, yaitu (1) Tindakan yang tidak aman, (2)Kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman (Petersen, 1971; Silalahi & Silalahi, 1995), dan (3)Kombinasi dari kedua faktor tersebut (Anton, 1989; Hinze, 1997). Banyak kecelakaan yang timbul akibat dari kombinasi keduanya. Pada kenyataannya tidak ada penyebab tunggal dalam terjadinya sebuah kecelakaan, yang terjadi adalah salah satu faktor memberikan kontribusi terbesar atas terjadinya kecelakaan tersebut. Seringkali suatu kecelakaan disebabkan oleh kesalahan beruntun yang dilakukan seorang pekerja, pembantu pekerja, atau supervisor, yang dikombinasikan dengan perancangan yang buruk, pemeliharaan yang buruk dan kondisi tempat kerja itu sendiri. Apabila dilakukan suatu penyelidikan atau analisis terhadap kecelakaan, maka semua faktor tersebut harus dipertimbangkan (Anton, 1989).
Kondisi mental/psikologis pekerja juga merupakan hal penting yang harus dicermati. Kelalaian dan kurangnya pengetahuan pekerja juga memberikan kontribusi terhadap terjadinya kecelakaan, sedangkan kesalahan dari manager maupun supervisor juga dapat menjadi faktor pendukung dan harus diakui sebagai bagian kesalahan manajemen (Anton, 1989).
Kondisi lingkungan tempat kerja juga memberikan kontribusi terhadap terjadinya kecelakaan, seperti pemeliharaan peralatan yang buruk, bagian-bagian mesin yang bergerak yang tidak dilindungi, lantai yang rapuh, gas beracun, dan masih banyak lagi kondisi yang tidak aman yang memberikan kontribusi terhadap terjadinya kecelakaan pada tempat kerja (Anton, 1989).
2.1.3.1 Tindakan yang Tidak Aman (Unsafe Act)
Menurut Anton (1989), tindakan yang tidak aman adalah setiap tindakan dari seseorang yang dapat meningkatkan peluang orang tersebut mengalami kecelakaan. Beberapa tindakan yang tidak aman sangat berbahaya, dimana hanya dibutuhkan beberapa tindakan lagi sebelum terjadinya suatu kecelakaan (Hinze, 1997)
Tindakan yang tidak aman dari pekerja juga dapat dipengaruhi oleh manajemen. Manajemen memegang peranan yang penting dalam mempengaruhi sikap dan perilaku pekerja sehingga timbul tindakan yang tidak aman dari pekerja.
Top management dan supervisor memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kondisi mental/psikologis pekerja pada tingkat tertentu dalam upaya untuk mencegah timbulnya tindakan yang tidak aman. Hal ini dapat dilakukan dengan memotivasi dan memberikan pelatihan kepada pekerja (Hinze, 1997).
Berikut adalah kategori tindakan yang tidak aman yang dilakukan oleh pekerja:
• Menggunakan peralatan tangan yang rusak.
• Menggunakan peralatan secara tidak aman atau berbahaya.
• Tidak melakukan pemeriksaan terhadap peralatan sebelum digunakan.
• Kesalahan dalam menggunakan perlengkapan keselamatan.
• Tidak menggunakan perlengkapan keselamatan yang telah disediakan.
• Tidak mengikuti prosedur keamanan yang telah diberikan.
• Tidak mengikuti instruksi yang telah diberikan.
• Penataan material, sisa material, dan peralatan yang buruk.
• Melakukan gerakan-gerakan yang berbahaya.
• Bekerja secara tidak aman atau berbahaya.
• Bekerja dengan kecepatan, beban, kekuatan di luar batas.
• Posisi bekerja yang salah.
• Kesalahan dalam menentukan pilihan.
• Bercanda, bermain-main, atau mengganggu rekan kerja selama melakukan pekerjaan.
2.1.3.2 Kondisi Lingkungan Pekerjaan yang Tidak Aman (Unsafe Condition) Kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman adalah suatu kondisi fisik dari lingkungan pekerjaan yang meningkatkan peluang pekerja mengalami kecelakaan. Banyak penyelidikan terhadap kecelakaan menemukan bahwa kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman merupakan salah satu faktor yang memberikan kontribusi terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja (Anton, 1989).
Manajemen merupakan pihak yang bertanggungjawab terhadap kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman. Hal ini disebabkan karena manajemen memiliki kemampuan untuk mengontrol seluruh kondisi lingkungan pekerjaan dan memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan terhadapnya.
Berikut adalah kategori lingkungan pekerjaan yang tidak aman:
• Perencanaan pekerjaan konstruksi yang tidak memadai.
• Perencanaan konstruksi yang tidak memadai.
• Perencanaan konstruksi pendukung yang tidak memadai.
• Perencanaan penggunaan dan penempatan equipment yang tidak memadai.
• Perencanaan K3 yang tidak memadai.
• Pengidentifikasian bahaya yang tidak memadai.
• Pemeriksaan kesehatan yang tidak memadai.
• Kondisi peralatan, equipment, mesin, sistem elektrik yang rusak.
• Prosedur pelaksanaan konstruksi yang tidak memadai.
• Instruksi kerja yang tidak memadai.
• Komunikasi yang buruk.
• Pencahayaan yang tidak memadai.
• Tidak tersedia peralatan keselamatan yang dibutuhkan.
• Peralatan keselamatan yang tidak dapat digunakan.
• Peringatan mengenai bahaya yang tidak memadai.
• Petunjuk pengoperasian mesin yang tidak memadai.
• Tidak mengenakan pakaian ketika bekerja.
• Pengawasan yang tidak memadai.
• Housekeeping yang buruk.
• P3K yang tidak memadai.
• Pelaporan bahaya dan kecelakaan yang tidak memadai.
• Pencatatan kecelakaan yang tidak memadai.
• Inspeksi yang tidak memadai.
• Pekerja yang tidak terlatih dan tidak berpengalaman.
• Audit terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja yang tidak memadai.
2.2 Aspek Psikologis dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa salah satu faktor utama penyebab kecelakaan adalah tindakan yang tidak aman dari pekerja.
Hal yang perlu diperhatikan adalah penyebab pekerja melakukan tindakan yang tidak aman dalam melakukan pekerjaannya sehingga dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di tempat kerja meskipun tidak ada satu pun pekerja yang ingin terlibat dalam kecelakaan. Oleh sebab itu diperlukan adanya suatu pemahaman mengenai aspek psikologis yang mempengaruhi pekerja sehingga memberikan suatu reaksi emosional yang dapat mengalihkan perhatian pekerja ketika sedang melakukan pekerjaannya.
Manajemen perlu memperhatikan faktor psikologis ini untuk mengetahui hal yang melatarbelakangi tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerjanya.
Menurut National Safety Council (1974), agar dapat bekerja secara efektif dengan orang lain, pertama kali orang tersebut harus dapat memahami dan mengerti orang lain.
Ada dua sspek psikologis pekerja yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan K3, yaitu sikap (attitude) dan perilaku (behavior) dari pekerja (Anton, 1989).
2.2.1 Sikap (attitudes)
Salah satu faktor penting yang diketahui sangat mempengaruhi K3 adalah sikap mental pekerja (Anton, 1989). Sikap telah didefinisikan dalam berbagai versi oleh ahli-ahli psikologi terkemuka dunia. Menurut Berkowitz (1972, dikutip dari Azwar, 2000), sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Louis Thustone (1928, dikutip dari Azwar, 2000) mendefinisikan sikap sebagai ‘derajat afek (pengaruh) positif atau afek negatif terhadap suatu objek.’ Petty dan Caccioppo (1986, dikutip dari Azwar, 2000) mendefinisikan sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, objek, atau isu-isu. Oleh sebab itu secara umum, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan seseorang untuk memihak atau tidak memihak terhadap suatu obyek.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat diperoleh gambaran secara umum mengenai konsepsi sikap, namun untuk memahami sikap seseorang, diperlukan pemahaman mengenai struktur sikap dan proses pembentukan sikap.
2.2.1.1 Struktur Sikap
Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu komponen kognitif (cognitive), afektif (affective), dan konatif (conative).
Kothandapani (1997, dikutip dari Azwar, 2000) merumuskan ketiga komponen tersebut sebagai komponen kognitif (kepercayaan), komponen emosional (perasaan), dan komponen perilaku (tindakan).
(a) Kognitif.
Komponen ini merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap. Menurut Mann (1969, dikutip dari Azwar, 2000), komponen kognitif berisi persepsi, kepercayaan, dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Kepercayaan datang dari apa yang telah kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita lihat itu, kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu
objek. Sekali kepercayaan itu terbentuk, maka akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tertentu.
(b) Afektif.
Komponen ini merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional.
Menurut Mann (1969, dikutip dari Azwar, 2000), komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosi. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang.
(c) Konatif.
Komponen ini merupakan komponen perilaku yang berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau untuk bereaksi terhadap sesuatu dengan cara- cara tertentu (Mann, 1969). Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.
2.2.1.2 Pembentukan Sikap.
Sikap seseorang terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Dalam interaksi sosial, terjadi hubungan saling mempengaruhi diantara individu yang satu dengan yang lain, terjadi hubungan timbal balik yang turut mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu sebagai anggota masyarakat. Interaksi sosial meliputi hubungan antara individu dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis di sekelilingnya yang kemudian membentuk pola sikap tertentu dari individu (Azwar, 2000).
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap seseorang, antara lain pengalaman pribadi (seperti pengalaman masa kecil, pengalaman dalam keluarga), kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan, agama, serta faktor emosi dalam diri seseorang (Azwar, 2000).
Pada lingkungan pekerjaan, banyak faktor yang telah dibawa ke tempat kerja oleh para pekerja, karena kondisi psikologis, kondisi fisik, maupun susunan genetiknya, antara lain dalam bentuk rasa cemas, kurangnya keterampilan,
keterbatasan fisik, keterbatasan mental, kebiasaan kerja yang buruk dan kurangnya kewaspadaan. Selain itu, ada pula faktor lain yang dapat menyebabkan sikap buruk pekerja, dan faktor ini ditemukan pada tempat kerja. Faktor-faktor tersebut adalah bagian dari, atau hasil dari proses pekerjaan itu sendiri (Anton, 1989). Menurut Warr & Routledge (1969, dikutip dari Warr, 1971), tiga faktor utama yang mempengaruhi sikap pekerja dalam melakukan pekerjaannya, yaitu:
• Manajemen.
• Kondisi lingkungan pekerjaan.
• Upah atau gaji.
2.2.2 Perilaku (behavior)
Ilmu psikologi memandang perilaku manusia (human behavior) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan yang paling besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu (Azwar, 2000).
Suatu perilaku merupakan interaksi antara kecerdasan, kepribadian, dan bakat yang dimiliki oleh para pekerja, baik yang masih mengendap (potential ability) ataupun yang telah teraktualisasikan (actual ability), dengan setting situasi sosial dan kondisi fisik lingkungan organisasi di tempatnya bekerja (Afiff, 2002).
Dalam proses interaksional tersebut, melalui serangkaian perangkat persepsinya, individu akan senantiasa mencoba untuk menerima, menyaring, mencerna, merekonstruksi dan menyempurnakan beragam stimulus yang diterima dari lingkungannya, baik yang berasal dari lingkungan kulturnya, maupun lingkungan budayanya. Perilaku individu itu sendiri, baik yang tampak (overt- bahavior) maupun yang tersembunyi (covert-behavior), pada hakekatnya merupakan respon individu dengan lingkungannya, dimana individu mempengaruhi individu lainnya, individu mempengaruhi lingkungan, dan lingkungan mempengaruhi individu (Afiff, 2002).
Menurut Ajzen (1988), dikutip dari Azwar, 2000), ada banyak keyakinan yang mendasari perilaku seseorang, namun akhirnya yang akan menentukan intensi dan perilaku tertentu adalah keyakinan mengenai tersedia-tidaknya kesempatan dan sumber yang diperlukan. Keyakinan ini dapat berasal dari pengalaman dengan perilaku yang bersangkutan di masa lalu, dapat juga dipengaruhi oleh informasi tidak langsung mengenai perilaku tersebut, misalnya dengan melihat pengalaman teman atau orang lain yang pernah melakukannya, dan dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang mengurangi atau menambah kesan kesukaran untuk melakukan perbuatan tersebut.
Di samping berbagai faktor penting seperti hakekat stimulus itu sendiri, latar belakang pengalaman individu, status kepribadian, dan sebagainya, sikap individu ikut memegang peranan dalam menentukan bagaimana perilaku seseorang pada lingkungannya. Lingkungan kemudian secara timbal balik akan mempengaruhi sikap dan perilaku. Interaksi antara situasi lingkungan dengan sikap, dengan berbagai faktor dari dalam maupun luar diri individu akan membentuk suatu proses kompleks yang akhirnya menentukan bentuk perilaku seseorang (Azwar, 2000).
Berdasarkan teori penyebab kecelakaan dan aspek psikologis pkrja yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa faktor lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perilaku pekerja dapat berasal dari:
• Internal, berasal dari:
- lingkungan keluarga - lingkungan sekolah
- lingkungan masyarakat/pergaulan
• Eksternal, berasal dari:
- manajemen
- lingkungan pekerjaan - pekerjaan
- upah
2.3 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) memegang peranan penting dalam upaya pencegahan kecelakaan yang terjadi pada proyek konstruksi. Top management merupakan pihak yang memiliki kemampuan dan tanggung jawab dalam mengendalikan seluruh lingkungan proyek dan seluruh sumber daya yang digunakan. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Silalahi & Silalahi, 1995) mewajibkan pimpinan perusahaan untuk:
• Mensosialisasikan semua peraturan dan regulasi yang dibuat manajemen menyangkut masalah K3.
• Memasang penjelasan untuk mempromosikan K3 di tempat kerja.
• Menyediakan perlengkapan keselamatan yang dibutuhkan bagi setiap orang yang ada di tempat kerja.
• Memeriksa kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik pekerja sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya.
• Memeriksa kesehatan pekerja secara berkala.
• Memberikan penjelasan kepada pekerja baru mengenai kondisi dan bahaya yang dihadapi di tempat kerja, penggunaan perlengkapan keselamatan, dan cara maupun sikap yang aman dalam melakukan pekerjaan.
• Melakukan pembinaan yang berhubungan dengan pencegahan kecelakaan, pemberantasan kebakaran, dan P3K kepada seluruh pekerja.
• Memenuhi dan menaati semua syarat dan ketentuan yang berlaku.
Selain bertanggung jawab dalam mengendalikan seluruh kondisi fisik yang tidak aman, top management juga bertanggung jawab dalam mengendalikan setiap tindakan yang tidak aman yang dilakukan pekerja. Manajemen harus menyadari bahwa tindakan dan kebijakan yang diambil dapat memberikan dampak yang tidak disukai oleh pekerja. Oleh sebab itu manajemen diharapkan mampu mempengaruhi sikap dan perilaku pekerja agar dapat bekerja secara aman.
Sebagai konsekuensi dari kewajiban dan tanggung jawab tersebut, manajemen perlu menetapkan sebuah SMK3, yang melibatkan semua unsur yang ada pada perusahaan, baik pihak manajemen sendiri, tenaga kerja, maupun kondisi dan lingkungan kerja dalam suatu hubungan yang terintegrasi.
SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan dalam pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan dalam kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (Per. Men. no.
PER-05/MEN/ 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Tujuan dan sasaran SMK3 adalah menciptakan sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, serta kondisi dan lingkungan kerja dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja sehingga tercipta tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (Per. Men. no. PER-05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Menurut Cooper (1996/7), SMK3 yang baik harus merupakan suatu sistem yang terintegrasi secara penuh dan cohesive, yang berpusat pada kebijakan, strategi, dan prosedur yang dapat memberikan konsistensi internal dan harmonisasi dalam perusahaan. Pembentukan suatu sistem harus terlihat sebagai suatu cara praktis untuk menciptakan kewaspadaan, pengertian atau pemahaman, motivasi, dan komitmen dari seluruh anggota.
Menurut Per. Men. no. PER-05/MEN/1996 (1996), ada 5 tahap dalam pelaksanaan SMK3, yaitu:
a. Penetapan kebijakan K3.
b. Perencanaan pemenuhan kebijakan K3.
c. Penerapan kebijakan K3.
d. Pengukuran kinerja K3.
e. Peninjauan kembali dan peningkatan berkelanjutan (review and continuous improvement).
2.3.1 Penetapan Kebijakan K3
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam rangka penerapan SMK3 adalah merumuskan dan menetapkan sebuah kebijakan mengenai K3 yang berfungsi sebagai kunci pelaksanaan SMK3.
Kebijakan K3 adalah suatu pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh pengusaha dan atau pengurus yang memuat keseluruhan visi dan tujuan perusahaan, komitmen dan tekad melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja, kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara menyeluruh yang bersifat umum dan atau operasional (Peraturan Menaker RI Nomor: PER. 05/MEN/1996). Kebijakan merupakan arah yang ditentukan untuk dipatuhi dalam proses kerja dan organisasi perusahaan untuk mencapai suatu tujuan (Silalahi & Silalahi, 1995; Grimaldi & Simons, 1975).
Menurut Grimaldi & Simons (1975), sebuah kebijakan K3 yang baik mengandung:
• Tujuan jangka panjang
• Penjelasan tanggung jawab.
• Otoritas dan batasan tanggung jawab..
Sebuah kebijakan K3, seperti halnya kebijakan-kebijakan perusahaan yang lain, harus dimulai dari inisiatif top management. Sikap top management terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya harus ditunjukkan dalam bentuk sebuah pernyataan kebijakan yang tertulis. Kebijakan K3 dibuat melalui proses konsultasi antara pengurus dan wakil tenaga kerja yang kemudian harus dijelaskan dan disebarluaskan kepada setiap individu yang ada dalam perusahaan, mulai dari top management hingga level pekerja yang paling bawah, maupun kepada pihak luar, yaitu supplier dan owner (Grimaldi & Simons, 1975; Petersen, 1971).
Kebijakan ini diharapkan dapat membuat pekerja yakin bahwa manajemen peduli dan memperhatikan keselamatan dan kesehatan pekerjanya (Petersen 1971;
Anton, 1989).
2.3.2 Perencanaan Pemenuhan Kebijakan K3
Setelah menetapkan kebijakan K3, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh manajemen adalah membuat perencanaan yang efektif guna
mencapai keberhasilan penerapan SMK3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur (Peraturan Menaker RI Nomor: PER. 05/MEN/1996). Perencanaan tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut: (1)Tanggung jawab; (2)Peraturan dan prosedur K3; (3)Identifikasian bahaya; dan (4)Dana K3.
2.3.2.1 Tanggung jawab
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebuah kebijakan K3 perlu menegaskan bahwa K3 merupakan tanggung jawab semua orang yang ada dalam perusahaan, mulai dari top management hingga tingkatan pekerja yang paling bawah.
Pembagian tanggung jawab terhadap K3 bagi tiap tingkatan manajemen didasarkan pada struktur organisasi perusahaan (Anton, 1989). Hal yang ter penting dalam pembagian tanggung jawab tersebut adalah menghindari peranan dan tanggung jawab yang ambigu/mendua (role ambiguity) dari masing-masing pihak, sehingga masing-masing pihak mengetahui dengan jelas dan memahami peranan dan tanggung jawabnya dalam masalah K3. Semua tingkatan manajemen harus dilibatkan dalam setiap perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian pekerjaan yang berhubungan dengan masalah K3. Setiap tingkatan manajemen harus memiliki akuntabilitas terhadap tanggung jawab K3 yang diberikan kepadanya. Tanggung jawab tersebut tidak dapat diserahkan kepada bawahan (Anton, 1989).
2.3.2.2 Peraturan dan Prosedur K3
Kebijakan K3 perusahaan diterjemahkan ke dalam tindakan dan perilaku sehari-hari pekerja melalui peraturan dan prosedur (Goetsch, 2002). Peraturan dan prosedur dibuat untuk membatasi perilaku pekerja yang dapat diterima maupun yang tidak dapat diterima dari perspektif K3. Menurut Goetsch (2002), secara hukum, kewajiban top management terhadap peraturan K3 dapat disimpulkan sebagai berikut:
• Top management harus memiliki peraturan yang menjamin sebuah tempat atau lingkungan kerja yang aman dan sehat.
• Top management harus menjamin bahwa semua pekerja mengetahui dan memiliki pengetahuan mengenai peraturan yang dibuat.
• Top management harus menjamin bahwa peraturan tersebut telah ditegakkan secara objektif dan konsisten.
Hukum cenderung melihat bahwa top management yang tidak memenuhi ketiga kriteria tersebut sebagai kelalaian. Top management juga harus mampu menunjukkan komitmennya dengan menaati regulasi atau perundangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga dapat memberikan contoh positif kepada pekerja untuk menaati peraturan dan prosedur K3 yang dibuat perusahaan.
Perusahaan tidak cukup apabila hanya memiliki peraturan mengenai K3, bahkan memiliki dan membuat pekerja manaati peraturan pun tidak cukup. Top management harus membangun sebuah peraturan yang layak, yang diketahui dan dikenal dengan baik oleh semua pekerja, dan peraturan tersebut harus ditegakkan (Goetsch, 2002).
Penegakan peraturan dan prosedur secara objektif dan konsisten merupakan hal yang kritis dalam pelaksanaan SMK3, karena hal ini dapat dipandang sebagai komitmen yang kuat dari top management terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya. Secara objektif, peraturan K3 harus ditegakkan tanpa bias. Maksudnya bahwa penegakkan peraturan tersebut tidak boleh menyimpang dan memihak. Disamping itu, peraturan K3 juga harus ditegakkan secara konsisten, yang artinya bahwa peraturan tersebut harus ditegakkan secara sama setiap saat tanpa memandang faktor apapun dari luar (Goetsch, 2002).
Sebagai wujud komitmen top management dalam penegakan peraturan K3 secara objektif dan konsisten, maka diberikan penghargaan (reward) kepada pekerja yang memiliki kinerja K3 yang baik dan memberikan sangsi bagi pekerja yang gagal dalam menaati peraturan dan prosedur tersebut. Pemberian penghargaan dan sangsi ini diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap aspek psikologis pekerja bahwa top management menghendaki pekerja selalu mengedepankan K3 dalam pikirannya ketika melakukan pekerjaan (Hinze, 1997).
Penegakan peraturan dan prosedur secara objektif dan konsisten disebut sebagai hal yang kritis, karena kegagalan dalam menegakkannya dapat
merongrong kredibilitas dan efektifitas manajemen untuk mempromosikan K3 di perusahaan (Goetsch, 2002).
2.3.2.3 Identifikasian Bahaya
Sebelum pekerjaan konstruksi dilakukan, manajemen harus melakukan survai dengan tujuan menilai kondisi tempat kerja untuk mengidentifikasi area- area yang berpotensi menimbulkan cedera yang serius (Hinze, 1997). Area-area tersebut harus dinilai dengan hati-hati untuk menentukan tindakan-tindakan pencegahan yang perlu dilakukan untuk menanggulanginya.
Kegiatan pengidentifikasian atau analisis bahaya harus disiapkan pada tahap perencanaan, sebelum tahap pekerjaan konstruksi dilakukan dan mencakup setiap kegiatan yang tercantum dalam kontrak dan pelaksanaan tiap tahapan pekerjaan yang dilakukan. Analisis bahaya harus dilakukan terhadap setiap tahapan pekerjaan, bahaya-bahaya yang mungkin timbul pada tahapan pekerjaan tersebut untuk kemudian dilakukan tindakan pengukuran, pengendalian, dan tindakan pengamanan yang diperlukan untuk menyingkirkan bahaya atau mereduksi resiko hingga mencapai tingkat tertentu yang dapat diterima. Analisis juga perlu dilakukan pada suatu pekerjaan yang mungkin berbahaya dan tidak pernah dilakukan sebelumnya, serta pekerjaan yang dilakukan oleh sub kontraktor baru atau pekerja baru (Hinze, 1997).
2.3.2.4 Dana K3
Salah satu cara yang dilakukan oleh top management untuk memperlihatkan atau menunjukkan komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja adalah dengan mengalokasikan dana K3. Program K3 yang dibuat oleh perusahaan tentunya membutuhkan biaya dalam pelaksanaannya. Top management hendaknya tidak memandang bahwa program K3 sebagai sumber biaya ekstra yang baru, karena program K3 yang efektif sangat diperlukan untuk pencegahan kecelakaan dan harus dipandang sebagai biaya bisnis yang wajar jika dihubungkan dengan pengoperasian yang efisien (Clough dan Sears, 1994).
Biaya untuk program K3 relatif kecil jika dibandingkan dengan tujuan dan manfaatnya. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli sabuk pengaman tidak
berarti jika dibandingkan manfaat sabuk pengaman yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa pekerja (Hinze, 1997). Beberapa ahli berpendapat bahwa item K3 wajib dibebankan tidak secara langsung pada suatu proyek, namun pada kantor pusat (home office) (Levitt, 1975, dikutip dari Hinze 1997).
Sebuah rasio yang figuratif menyebutkan bahwa pengeluaran sebesar $1 untuk K3 dapat membantu perusahaan menghemat $2. Meskipun rasio tersebut hanya figuratif, namun cukup baik untuk menjelaskan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk sebuah program K3 dapat diganti dengan tidak terjadinya kecelakaan di tempat kerja (Clough dan Sears, 1994).
2.3.3 Penerapan Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Penerapan kebijakan K3 dilakukan dengan menyusun sebuah program K3 yang bertujuan untuk mengendalikan lingkungan kerja, peralatan dan proses pekerjaan yang dilakukan, serta mengendalikan pekerja untuk mencegah kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. Program K3 tersebut meliputi:
(1)Pelatihan dan pendidikan K3; (2)Pemeriksaan kesehatan; (3)Pencatatan dan pelaporan; (4)Safety meeting; dan (5)Publikasi K3.
2.3.3.1 Pelatihan dan Pendidikan K3.
Salah satu cara terbaik untuk mempromosikan K3 di tempat kerja adalah memberikan pelatihan K3 untuk seluruh pekerja (Goetsch, 2002). Pelatihan dan pendidikan K3 sangat penting dalam usaha pencegahan kecelakaan, karena salah satu penyebab timbulnya tindakan yang tidak aman dari pekerja adalah karena pekerja kurang atau tidak mendapat pelatihan dan pendidikan K3 (Clough &
Sears, 1994). Oleh sebab itu, pelatihan dan pendidikan K3 harus menjadi inti dari setiap program K3 perusahaan (Hinze, 1997).
Pelatihan dan pendidikan K3 harus ditujukan bagi seluruh anggota, mulai dari top management hingga pekerja yang paling bawah (Ridley, 1986).
Meskipun pekerja yang paling terampil dan mandor yang berpengalaman sekalipun, tetap diberikan pendidikan dan pelatihan tersebut agar menjadi akrab dengan kondisi tempat kerja, rekan kerja, kebijakan manajemen dan hal-hal lainnya yang masih asing pada suatu proyek (Hinze, 1997).
Menurut Goetsch (2002), The Occupational Safety and Health Act (OSHAct) memberikan kuasa kepada top management untuk menyediakan pelatihan K3, yang meliputi:
• Program pendidikan dan pelatihan bagi pekerja.
• Pembentukan dan pemeliharaan kondisi tempat kerja yang memadai beserta tindakan pencegahannya.
• Panduan informasi mengenai semua bahaya yang akan dihadapi pekerja dalam melakukan pekerjaannya.
• Panduan informasi mengenai munculnya gejala bahan kimia beracun dan bahan-bahan lain yang dapat muncul di tempat kerja.
• Panduan informasi mengenai prosedur penanganan keadaan darurat.
Supervisor juga diberikan pendidikan dan pelatihan K3 berupa teknik pengawasan yang memungkinkan dirinya bertanggung jawab terhadap K3 terutama menjalankan fungsinya dalam penegakkan peraturan K3 yang dibuat top management. Disamping itu, top management juga membutuhkan pendidikan K3 untuk mengetahui perkembangan yang terjadi, terutama mengenai regulasi atau perundangan mengenai K3 yang baru (Ridley, 1986).
2.3.3.2 Pemeriksaan Kesehatan
Manajemen perlu menetapkan program pemeriksaan kesehatan bagi seluruh pekerjanya. Pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk memastikan pekerja dalam kondisi yang sehat dalam melakukan pekerjaanya maupun setelah melakukan pekerjaannya. Oleh sebab itu pemeriksaan kesehatan dibagi menjadi dua, yaitu:
• Pemeriksaan kesehatan awal
Setiap pekerja harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dikerjakan atau ditugaskan untuk:
- mengetahui kemampuan fisik dan kondisi mental serta emosi masing- masing, karena hal ini memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kemampuannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mental dan kapasitas fisiknya (Grimaldi & Simons, 1975).
- mengetahui penyakit-penyakit yang diderita oleh pekerja yang dapat mempengaruhi efektifitas kerja dan keamanan dalam melaksanakan pekerjaan.
- mengetahui ada tidaknya ketergantungan obat-obatan dan minuman keras, karena kedua hal tersebut dapat menyebabkan gangguan fisik dan emosi pekerja (Anton, 1989).
• Pemeriksaan kesehatan secara berkala
Pemeriksaan kesehatan berkala ditujukan bagi semua pekerja untuk mengetahui kondisi kesehatan pekerja akibat pekerjaan yang dilakukannya, terutama bagi pekerja yang bekerja pada lingkungan berbahaya bagi kesehatan (Anton, 1989).
2.3.3.3 Pencatatan dan Pelaporan
Manajemen perlu membuat sebuah prosedur mengenai pencatatan dan pelaporan setiap insiden yang terjadi di tempat kerja. Setiap cedera, kecelakaan, dan sakit yang disebabkan karena pekerjaan, dan bahkan ‘near misses’ yang dialami oleh pekerja harus dicatat dan kemudian dilaporkan kepada manajemen.
Pencatatan dan pelaporan merupakan hal yang penting dalam program pencegahan kecelakaan, karena catatan tersebut digunakan untuk mengukur efektivitas dari program tersebut (Anton, 1989).
Pencatatan cedera, kecelakaan, sakit, dan ‘near misses’ dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai insiden itu sendiri, pekerja yang terlibat (menjadi korban), lokasi kejadian, peralatan atau equipment yang terlibat, dan penyebab kecelakaan (Grimaldi dan Simonds, 1975). Informasi ini sangat penting bagi manajemen dalam menentukan usaha-usaha perbaikan yang perlu dilakukan untuk pencegahan kecelakaan di masa depan.
2.3.3.4 Safety Meeting
Salah satu bagian dari program pencegahan kecelakaan adalah pelaksanaan safety meeting secara berkala yang dipimpin oleh manajer proyek atau supervisor. Safety meeting dilakukan dengan tujuan untuk mendidik dan meyakinkan pekerja terhadap komitmen manajemen atas K3. Safety meeting atau
juga dikenal dengan ‘toolbox meeting’ minimal dilakukan tiap minggu pada saat awal sebelum pekerjaan dimulai dan diikuti oleh seluruh pekerja (Hinze, 1997).
Safety meeting merupakan suatu sarana bagi manajemen maupun pekerja untuk memperoleh informasi mengenai bahaya yang timbul, peraturan dan prosedur K3, tindakan-tindakan perbaikan, pencegahan kecelakaan, dan review terhadap kecelakaan atau ‘near misses’ yang terjadi (Hinze, 1997).
Selain itu menurut Hinze (1997), safety meeting bulanan juga ditujukan bagi supervisor, dengan tujuan:
• Me-review efektifitas dari usaha pencegahan kecelakaan pada proyek.
• Mencari pemecahan masalah K3 yang muncul.
• Menyediakan sebuah forum untuk perencanaan konstruksi yang aman.
• Merencanakan perubahan operasional yang baru, dan
• Memperbarui program pencegahan kecelakaan yang berjalan.
2.3.3.5 Publikasi K3.
Publikasi adalah salah satu cara yang digunakan manajemen untuk mempengaruhi sikap dan mengingatkan pekerja agar selalu bekerja dengan cara yang aman. Pada dasarnya publikasi K3 ditujukan untuk mempengaruhi persepsi pekerja agar selalu memperhatikan masalah K3 dalam melakukan pekerjaannya.
Publikasi dapat dilakukan dengan:
• Poster atau billboard.
Poster atau billboard merupakan salah satu teknik yang paling sederhana dan efektif untuk memberikan pesan visual kepada pekerja untuk menangkap isi dan maksud dari pesan tersebut (Goetsch, 2002). Pekerja dapat dengan mudah melihat dan mengingat bahwa pekerjaan harus dilakukan dengan cara-cara yang aman setiap saat.
• Newsletter (buletin).
Manajemen secara berkala mengeluarkan buletin mengenai informasi maupun pesan dari manajemen mengenai K3, yang dibagikan kepada seluruh pekerja dengan harapan agar pekerja selalu memperhatikan dan mengedapankan K3 dalam pelaksanaan kerja.
• Pesan khusus dari manajemen.
Pesan khusus berupa surat dari top management secara pribadi kepada pekerja dapat memberikan dan meninggalkan sebuah kesan psikologis yang kuat bahwa ‘bos besar’ tertarik dan memperhatikan K3 serta kesejahteraan pekerja.
Surat tersebut dapat berupa pesan yang menekankan pentingnya K3 kepada pekerja baru, maupun pujian atas kinerja K3 yang baik dari pekerja (Grimaldi dan Simonds, 1975).
2.3.4 Pengukuran Kinerja K3
Pelaksanaan program-program K3 yang dilakukan manajemen perlu diukur untuk mengetahui efektifitas daripada program-program tersebut.
Pengukuran tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan inspeksi langsung ke tempat kerja dan melakukan audit terhadap pelaksanaan SMK3.
• Inspeksi
Inspeksi merupakan cara yang dapat dilakukan manajemen untuk melihat dan memantau secara langsung penerapan program-program K3 di tempat kerja.
Manajemen perlu menetapkan dan memelihara prosedur inspeksi tersebut agar hasilnya dapat dimanfaatkan oleh manajemen. Melalui inspeksi, dapat dilihat secara langsung area atau bagian yang membutuhkan perhatian khusus dari manajemen untuk kemudian mengambil tindakan perbaikan yang dibutuhkan di kemudian hari. Selain itu, inspeksi juga merupakan salah satu cara untuk mempengaruhi persepsi pekerja mengenai komitmen manajemen terhadap K3 (Grimaldi dan Simonds, 1975).
• Audit
Audit SMK3 harus dilakukan secara berkala untuk mengetahui keefektifan penerapan SMK3 (Per. Men. no. PER-05/MEN/1996 tentang SMK3). Audit (internal audit) merupakan proses pengukuran secara menyeluruh dan sistematis terhadap SMK3 yang dibuat manajemen, untuk mengukur kegiatan- kegiatan yang dilakukan dan hasil-hasilnya, berdasarkan perencanaan yang dibuat, dan pelaksanaannya, untuk memenuhi kebijakan dan tujuan perusahaan.
Hasil audit kemudian dievaluasi untuk kemudian digunakan oleh manajemen untuk melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan yang diperlukan.
2.3.5 Peninjauan Ulang dan Peningkatan Berkelanjutan.
Peninjauan ulang dilakukan sebagai tindak lanjut hasil inspeksi dan audit internal yang dilakukan. Peninjauan ulang terhadap SMK3 dilakukan untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan dalam memenuhi kebijakan dan tujuan K3 yang ditetapkan. Peninjauan ulang terhadap SMK3 harus meliputi:
• Evaluasi terhadap penerapan kebijakan K3.
• Tujuan, sasaran, dan kinerja K3.
• Hasil temuan audit SMK3.
Hasil dari peninjauan ulang terhadap SMK3 yang telah berjalan, kemudian digunakan sebagai landasan untuk melakukan perubahan atau peningkatan terhadap SMK3 tersebut sesuai dengan:
• Perubahan peraturan perundangan.
• Tuntutan dari pihak yang terkait dan pasar.
• Perubahan operasional perusahaan.
• Perubahan struktur organisasi.
• Perkembangan iptek dan epidemologi.
• Pengalaman yang diperoleh dari insiden K3 terdahulu.
• Pelaporan.
• Umpan balik, terutama dari pekerja.
(Per. Men. no. PER-05/MEN/1996 tentang SMK3).
Rangkuman faktor-faktor yang menentukan dalam pelaksanaan SMK3, yaitu:
A. Penetapan Kebijakan K3
• Top management merumuskan dan menetapkan kebijakan K3.
• Kebijakan secara jelas menyatakan visi dan tujuan jangka panjang perusahaan.
• Kebijakan menyatakan tanggung jawab seluruh pihak terhadap K3.
• Semua tingkatan manajemen mengetahui dan mengenal baik kebijakan K3 perusahaan.
• Pekerja mengetahui dan mengenal dengan baik kebijakan K3 perusahaan.
B. Perencanaan Pemenuhan Kebijakan K3 Tanggung jawab
• K3 merupakan tanggung jawab semua pihak dalam perusahaan, mulai dari top management hingga pekerja.
Peraturan dan prosedur K3
• Perusahaan memiliki peraturan K3 yang menjamin lingkungan kerja yang aman dan sehat.
• Manajemen menjamin peraturan K3 yang dibuat diketahui oleh seluruh pekerja.
• Peraturan K3 ditegakkan secara obyektif dan konsisten.
• Manajemen berusaha menaati perundangan K3 yang dibuat pemerintah.
• Perusahaan memiliki prosedur tentang penggunaan perlengkapan keselamatan (PPE/Personal Protective Equipment).
• Perusahaan memiliki prosedur untuk menangani kecelakaan.
• Perusahaan memberikan penghargaan kepada pekerja yang memiliki kinerja K3 yang baik.
• Perusahaan memberikan sanksi kepada pekerja yang tidak menaati peraturan dan prosedur K3 yang ada.
Identifikasi bahaya
• Identifikasi bahaya dilakukan terhadap semua jenis pekerjaan sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.
Dana K3
• Perusahaan menyediakan dana untuk program K3.
C. Penerapan Kebijakan K3 Pelatihan dan pendidikan K3
• Pekerja memperoleh pelatihan penggunaan perlengkapan keselamatan/PPE.
• Seluruh pekerja memperoleh pelatihan P3K.
• Supervisor juga memperoleh pelatihan pengawasan K3.
Pemeriksaan kesehatan
• Manajemen melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin kepada setiap pekerja.
• Perusahaan memiliki dan dan menyimpan catatan kesehatan pekerja.
Pencatatan dan pelaporan
• Manajemen memiliki prosedur mengenai pencatatan dan pelaporan setiap insiden atau kecelakaan.
Safety meeting
• Safety meeting dilakukan secara berkala dan diikuti oleh seluruh pekerja. .
Publikasi K3
• Perusahaan mempromosikan K3 melalui poster/ billboard/ spanduk/ buletin K3.
D. Pengukuran Kinerja K3 Inspeksi
• Perusahaan memiliki prosedur pelaksanaan inspeksi.
• Supervisor melakukan inspeksi harian terhadap pekerja dan daerah kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
• Top management melakukan inspeksi langsung ke tempat kerja.
Audit
• Perusahaan melakukan audit internal secara berkala terhadap pelaksanaan program K3.
E. Peninjauan Ulang dan Peningkatan Berkelanjutan
• Peninjauan ulang dilakukan terhadap kebijakan K3.
• Peninjauan ulang dilakukan terhadap tujuan, sasaran, dan kinerja K3.
• Peninjauan ulang program K3 dilakukan sebagai tindak lanjut hasil inspeksi dan audit.
2.4 Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Budaya K3) 2.4.1 Konsep Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan (corporate culture) adalah sikap dan persepsi bersama dalam sebuah organisasi yang didasarkan pada norma-norma dan nilai-nilai tertentu dan membantu anggota untuk memahami organisasi. Selain itu budaya perusahaan merupakan cara bersama dalam memandang hidup dan keanggotaan dalam organisasi yang mengikat kebersamaan anggota dan mempengaruhi hal yang dipikirkan mengenai diri sendiri dan pekerjaannya (Wagner III dan Hollenbeck, 1995, dikutip dari Cooper, 2000). Budaya perusahaan adalah asumsi- asumsi yang dibagi oleh anggota-anggota organisasi mengenai perilaku yang diinginkan dan layak, termasuk cara asumsi ini diperkuat dan dikomunikasikan kepada anggota, lama dan baru dan disarankan bahwa lingkungan bisnis mungkin memberikan pengaruh yang terbesar pada budaya perusahaan (Maloney, 1989:
Maloney dan Federle, 1991, dikutip dari Cooper, 2000).
Menurut definisi di atas yang diberikan oleh Maloney dan Federle, bahwa suatu budaya perusahaan sangat dipengaruhi oleh lingkungan bisnis perusahaan tersebut, maka akan terlihat adanya suatu ‘tema’ yang dominan yang membentuk budaya perusahaan (dominant culture) yang disebabkan oleh lingkungan bisnis yang dijalankan perusahaan, misalnya seperti produksi, kualitas, keselamatan dan kesehatan kerja, dan lain-lain (Cooper, 2000).
2.4.2 Konsep Budaya K3
Istilah budaya K3 (safety culture) pertama kali muncul dalam laporan OECD Nuclear Agency pada tahun 1987 (INSAG, 1988, dikutip dari INEEL, 2003) pada bencana Chernobyl. Setelah itu budaya K3 mendapat perhatian yang luas pada beberapa dekade terakhir, yang digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan atmosfir atau budaya perusahaan, dimana K3 dipahami dan diterima sebagai prioritas pertama (Cullen, 1990, dikutip dari Cooper, 2000).
Ada banyak definisi mengenai budaya K3 yang terdapat dalam literatur- literatur mengenai K3, antara lain yang tercantum pada Table 2.1 di bawah ini.
Table 2.1 Definisi Budaya K3.
No Definisi Sumber
1. Budaya K3 adalah kumpulan karakteristik dan sikap yang ada dalam organisasi dan individu- individu yang menetapkannya, sebagai suatu prioritas yang utama.
International Atomic Energy Authority (IAEA, 1991, dikutip dari Cooper, 2000) 2. Budaya K3 adalah nilai dan keyakinan
bersama yang berinteraksi dengan sebuah struktur organisasi dan sistem kontrol untuk menghasilkan suatu norma atau kaidah perilaku.
(Uttal, 1983, dikutip dari Cooper, 2000)
3. Budaya K3 adalah produk dari nilai-nilai, sikap, persepsi, kompetensi, dan pola perilaku yang menentukan komitmen, dan gaya, dan kemampuan dari sebuah manajemen kesehatan dan keselamatan organisasi.
Organisasi dengan suatu budaya keselamatan dan kesehatan yang positif dikarakteristikan dengan komunikasi yang didasarkan atas saling percaya (mutual trust), melalui persepsi bersama mengenai pentingnya K3 melalui keyakinan terhadap kemampuan dari tindakan pencegahan.”
(The U.K. Safety and Health Commission, 1993, dikutip dari
INEEL, 2003)
Berbagai definisi mengenai budaya K3 telah disebutkan di atas, namun definisi paling sederhana untuk menjelaskan budaya K3 didefinisikan oleh The Confederation of British Industry (CBI, 1991, dikutip dari INEEL, 2003), yaitu
“… the way we do things around here.”
Semua definisi yang telah disebutkan di atas memiliki pengertian yang relatif sama, dimana definisi-definisi tersebut memfokuskan pada cara orang berpikir dan berperilaku dalam hubungannya dengan K3. IAEA (1991, dikutip dari ANSTO, 2003), mengemukakan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami budaya K3, yaitu:
• Budaya K3 bukan hanya mengenai sikap yang baik terhadap K3, namun juga mengenai manajemen K3 yang baik yang ditetapkan oleh perusahaan.
• Budaya K3 yang baik berarti memberikan prioritas tertinggi terhadap K3.
• Budaya K3 yang baik mencakup suatu penilaian yang konstan terhadap kejadian atau masalah K3, sehingga dapat diberikan tingkat perhatian yang layak.
Budaya suatu perusahaan berkembang dengan arah yang berbeda dengan perusahaan lainnya, dimana arah perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis usaha yang dijalankan dan gaya kepemimpinan dalam perusahaan tersebut (ShamRao, 2002). Oleh sebab itu, nilai dari suatu perusahaan didasarkan pada faktor yang dianggap paling penting oleh pemimpinnya. Misalnya, jika pemimpin perusahaan menekankan pada K3, maka seluruh pekerjanya akan memfokuskan diri untuk memenuhi kinerja K3 yang dikehendaki oleh pimpinannya.
Pembentukan budaya K3 tergantung pada cara memanfaatkan dengan baik berbagai karakteristik dalam organisasi untuk mempengaruhi pelaksanaan manajemen K3 (Cooper, 2000). Perbedaan karakteristik tersebut berinteraksi bersama dan memberikan pengaruh terhadap komitmen bersama mengenai K3 dalam perusahaan.
Budaya K3 yang akan dibentuk adalah suatu budaya yang dikarakteristikkan dengan perilaku yang menitikberatkan pada keselamatan dan kesehatan dan juga menjamin keselamatan bagi setiap orang yang ada pada tempat kerja. Budaya tersebut merupakan hasil dari usaha kerja sama antara pihak manajemen dengan seluruh pekerja.
Hal pertama yang harus dilakukan dalam membentuk sebuah budaya K3 pada suatu perusahaan adalah menentukan dan mendefinisikan budaya yang diinginkan untuk berkembang dalam perusahaan tersebut. Setelah budaya yang dikehendaki telah didefinisikan, perlu segera direncanakan dan dirancang langkah-langkah selanjutnya yang diperlukan untuk membantu mengembangkan budaya yang telah ada menjadi suatu budaya yang dikehendaki (ShamRao, 2002).
2.4.3 Faktor Dominan Pembentuk Budaya K3.
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa suatu budaya K3 dapat terbentuk melalui faktor-faktor dominan yang terdapat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.2 Faktor-Faktor Dominan Pembentuk Budaya K3 Sumber
No. Faktor
The IEE INEEL Fograscher Lardner, Fleming, & Joyner Little Ostrom, Wilhelmsen, &Kaplan
1. Komitmen yang kuat dari top
management
9 9 9 9 9 9
2. Peran dan tanggung jawab yang
jelas
9
3. Peraturan dan prosedur K3
9
4. Peranan supervisor
9 9 9 9
5. Pelatihan yang baik
9 9 9
6. Komunikasi yang efektif
9 9 9 9
7. Keterlibatan pekerja
9 9 9 9
8. Persepsi pekerja terhadap K3
9
9. Kompetensi
9
10. Team work
9
2.4.3.1 Komitmen yang kuat dari top management.
Top management memiliki tanggung jawab terhadap K3 seluruh pekerjanya. Kecelakaan dapat dikendalikan apabila mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Inisiatif untuk melakukan pencegahan terhadap kecelakaan pada proyek konstruksi dimulai dari top management, karena jika tidak maka tidak ada pihak yang akan mengambil tanggung jawab tersebut (National Safety Council, 1974). Oleh sebab itu, untuk menerapkan SMK3, top management harus memiliki komitmen yang kuat terhadap K3. Komitmen ini ditunjukkan dengan
memberikan prioritas utama terhadap K3 dan melalui tindakan serta contoh yang baik kepada seluruh pekerjanya.
2.4.3.2 Peran dan tanggung jawab yang jelas.
K3 didefinisikan sebagai tanggung jawab semua pihak dalam perusahaan, mulai dari top management hingga pekerja. Peran dan tanggung jawab setiap pihak harus dinyatakan dalam struktur organisasi K3 yang didasarkan pada struktur organisasi perusahaan (Anton, 1989). Tanggung jawab masing-masing pihak terhadap K3 harus didefinisikan dengan jelas agar masing-masing pihak dapat mengetahui dan memahami dengan jelas peran dan tanggung jawabnya terhadap K3. Perusahaan memiliki kewajiban untuk mengkomunikasikan peran dan tanggung jawab tersebut kepada semua pihak yang terlibat (Peraturan Menaker RI Nomor: PER. 05/MEN/1996), agar tidak terjadi overlapping maupun kekosongan tanggung jawab dalam pelaksanaannya di lapangan.
2.4.3.3 Peraturan dan prosedur K3.
Peraturan dan prosedur K3 adalah komponen inti dalam SMK3 (Mohamed, 2002). Peraturan dan prosedur K3 mendefinisikan perilaku yang diterima dan yang tidak diterima dari sudut pandang K3 (Goetsch, 2002).
Peraturan dan prosedur K3 dibuat untuk membatasi perilaku pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Peraturan dan prosedur K3 yang ada harus dijelaskan kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan konstruksi di lapangan.
Baik pekerja lama maupun pekerja baru perlu diberikan penjelasan agar dapat mengetahui dan mengenal peraturan dan prosedur K3 yang berlaku bagi pekerjaannya.
Top management tidak cukup hanya dengan memiliki peraturan dan prosedur K3, menjamin bahwa semua pihak yang terlibat mengenal dan mengetahuinya, namun yang terpenting adalah penegakkan peraturan dan prosedur K3 tersebut. Penegakkan peraturan dan prosedur K3 merupakan salah satu bukti komitmen top management terhadap K3.
2.4.3.4 Peranan supervisor.
Supervisor adalah kunci utama kesuksesan sebuah program K3. Program K3 yang dimiliki perusahaan harus dikomunikasikan kepada setiap pekerja dengan jelas, praktis dan mudah dimengerti. Supervisor memiliki otoritas untuk mengarahkan pekerja yang ada dibawah pengawasannya melalui kontak harian yang terjadi antara supervisor dan pekerja. Hal ini membuat supervisor memainkan peranan yang penting dalam mengimplementasikan kebijakan K3 (Goetsch, 2002).
Pekerja biasanya meniru sikap supervisor-nya terhadap K3 (Goetsch, 2002). Pekerja cenderung meniru contoh yang diberikan oleh supervisor, dibandingkan dengan instruksi supervisor. Salah satu cara yang dapat dilakukan supervisor untuk mempengaruhi persepsi pekerja terhadap K3 adalah dengan melaksanakan apa yang dikatakannya. Supervisor juga memiliki peranan yang penting dalam penegakkan peraturan dan prosedur K3 serta melakukan inspeksi terhadap pelaksanaan program K3.
Menurut National Safety Council (1974), supervisor seharusnya merupakan orang yang paling mengetahui dan mengerti pekerja. Supervisor harus terbuka kepada setiap pekerja agar komunikasi antara supervisor dan pekerja dapat berjalan dengan baik. Supervisor perlu mendengarkan masukan-masukan dari pekerja sebagai umpan balik kepada pihak manajamen.
2.4.3.5 Pelatihan yang baik.
Menurut Clough dan Sears (1994), salah satu penyebab timbulnya tindakan yang tidak aman dari pekerja adalah karena pekerja kurang memperoleh pelatihan K3. Menurut National Safety Council (dikutip dari Goetsch, 2002), pekerja yang tidak terlatih untuk melakukan tugasnya dengan aman cenderung mengalami kecelakaan.
Pelatihan diadakan dengan tujuan untuk memastikan bahwa pekerja telah memperoleh informasi yang cukup terhadap bahaya yang mungkin akan dihadapi dalam pekerjaannya dan juga mampu ikut serta secara aktif dalam melindungi keselamatannya. Oleh sebab itu, pelatihan harus diberikan kepada seluruh pekerja, baik pekerja baru maupun pekerja yang telah berpengalaman. Pelatihan
juga diberikan kepada pekerja apabila ada peralatan atau proses baru diadakan di tempat kerja agar pekerja dapat terhindar dari kecelakaan akibat salah mengoperasikan peralatan atau salah dalam melakukan proses pelaksanaan kerja yang baru.
2.4.3.6 Komunikasi yang efektif.
Komunikasi dua arah yang efektif merupakan faktor yang penting dalam membentuk sebuah budaya K3 yang baik (ACSNI, dikutip dari Wright, Brabazon, Tipping & Talwalkar, 1999). Penyediaan informasi kepada seluruh pekerja dan semua pihak yang terkait dilakukan untuk memotivasi dan mendorong penerimaan serta pemahaman dalam upaya meningkatkan kinerja K3 perusahaan.
Perusahaan harus memiliki prosedur untuk menjamin semua informasi K3 yang dimiliki dikomunikasikan kepada semua pihak dalam perusahaan, terutama kepada seluruh pekerja (Peraturan Menaker RI Nomor: PER.
05/MEN/1996). Komunikasi yang dijalin bukan hanya antara pihak manajemen saja, namun juga pihak manajemen dengan pekerja. Komunikasi terus-menerus perlu dilakukan dengan dua arah, termasuk informasi yang baik maupun buruk.
Manajemen juga membuka diri untuk menerima/mendengar masukan- masukan/informasi dari pekerja untuk kemudian mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut.
2.4.3.7 Keterlibatan pekerja.
Partisipasi atau keterlibatan pekerja dalam aktivitas K3 merupakan hal yang penting. Manajemen harus mampu memberikan dorongan dan semangat kepada seluruh pekerja agar mau berpatisipasi/terlibat dalam program K3 yang dibuat (Niskanen, 1994, dikutip dari Mohamed, 2002). Pekerja biasanya merupakan pihak yang paling megetahui keberadaan bahaya. Di samping itu, pekerja juga merupakan pihak yang harus menaati peraturan dan prosedur K3.
Oleh sebab itu, aturan dasar yang perlu diperhatikan oleh top management apabila menghendaki pekerja memiliki komitmen terhadap K3 adalah dengan melibatkan pekerja sejak awal (Goetsch, 2002). Salah satu strategi untuk memperoleh komitmen pekerja terhadap program K3 adalah dengan melibatkan pekerja dalam
penyusunannya. Manajemen membutuhkan masukan-masukan/informasi dari pekerja untuk menyususn program K3 yang baik. Selain itu manajemen juga harus melibatkan pekerja dalam tahap pengimplementasian, pengawasan dan peningkatan program K3.
2.4.3.8 Persepsi pekerja terhadap K3.
Sikap pekerja terhadap K3 berhubungan dengan persepsi pekerja terhadap resiko (Rundmo, 1997, dikutip dari Mohamed, 2002). Setiap individu memiliki persepsi yang berbeda terhadap resiko. Selain itu, persepsi pekerja terhadap K3 juga berhubungan dengan sikap manajemen terhadap K3. Pekerja cenderung meniru sikap yang ditunjukkan oleh supervisor maupun top management. Persepsi pekerja dalam menanggapi sikap top management maupun supervisor dalam menyikapi K3 akan menentukan sikap pekerja terhadap K3.
Jika pekerja melihat bahwa supervisor selalu menaati peraturan dan prosedur K3, maka akan menimbulkan persepsi pekerja bahwa supervisor memiliki sikap positif terhadap K3. Persepsi ini akan mempengaruhi pekerja untuk mengikuti sikap yang ditunjukkan oleh supervisor-nya.
2.4.3.9 Kompetensi pekerja.
Kompetensi pekerja berhubungan dengan kemampuan, keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki oleh pekerja untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan aman. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan kualitas yang dimiliki oleh seorang pekerja untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan yang diberikan kepadanya.
Banyak penelitian yang menghubungkan kompetensi dengan pelatihan yang diperoleh pekerja, khususnya kemampuan pekerja dalam mendeteksi bahaya yang ada di area kerjanya (Simon dan Piquard, 1991, dikutip dari Mohamed, 2002).
2.4.3.10 Team work.
Team work merupakan cara yang terbaik dalam menyelesaikan pekerjaan dengan baik, sehingga team work merupakan pendekatan terbaik untuk mempromosikan K3 (Goetsch, 2002). Team work dapat terbentuk melalui
komunikasi yang terbuka antara sesama pekerja, maupun antara pekerja dengan supervisor-nya, hubungan baik yang bersifat kekeluargaan, serta saling membantu dan mendukung dalam melakukan pekerjaan. Disamping itu sikap saling menghargai antara sesama pekerja juga dibutuhkan dalam membentuk sebuah team work yang baik.
Di bawah ini adalah rangkuman bagi tiap-tiap faktor dominan pembentuk budaya K3 yang telah dijelaskan di atas, yang akan digunakan dalam kuesioner:
A. Komitmen yang kuat dari top management.
• Top management memberikan prioritas utama terhadap masalah K3.
• Top management bertindak cepat hanya bila kecelakaan terjadi.
• Top management memandang bahwa setiap pekerja bertanggung jawab terhadap keselamatannya masing-masing.
• Top management memandang bahwa kecelakaan merupakan kejadian yang terjadi diluar kendali dan tidak dapat dicegah.
B. Peran dan tanggung jawab yang jelas.
• Perusahaan memiliki struktur organisasi K3.
• Tanggung jawab dan otoritas semua pihak terhadap K3 didefinisikan dengan jelas.
C. Peraturan dan prosedur K3.
• Semua pekerja mengenal dengan baik peraturan dan prosedur K3 bagi pekerjaannya.
• Pekerja telah terbiasa mengikuti prosedur K3.
• Pekerja mengikuti peraturan dan prosedur yang ada dengan konsisten.
• Peraturan dan prosedur K3 hanya diberikan dan dijelaskan kepada pekerja baru.
• Peraturan dan prosedur K3 yang ada sangat rumit sehingga ada pekerja yang mengabaikannya.
• Peraturan dan prosedur mewajibkan penggunaan perlengkapan keselamatan pada keadaan/kondisi yang membutuhkan.
• Pekerja melaporkan setiap tindakan yang tidak aman yang dilakukan pekerja lain.
D. Peranan supervisor.
• Supervisor merupakan sumber informasi K3 bagi pekerja.
• Supervisor memprioritaskan K3 dalam melakukan pekerjaan.
• Supervisor melakukan kontak secara rutin dengan setiap pekerja yang ada dibawah pengawasannya.
• Supervisor mau mendengarkan dan menindaklanjuti laporan pekerja mengenai adanya bahaya/insiden.
• Supervisor berusaha menegakkan peraturan dan prosedur K3.
• Supervisor menghargai masukan dari pekerja mengenai peningkatan kinerja K3.
• Supervisor memastikan bahwa semua perlengkapan keselamatan digunakan pada pekerjaan yang membutuhkan.
• Supervisor melakukan inspeksi harian untuk mengamati tindakan dan kondisi yang tidak aman.
• Supervisor mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh pekerja yang ada di bawah pengawasannya.
E. Pelatihan yang baik.
• Pelatihan K3 diberikan kepada seluruh pekerja.
• Pelatihan diberikan apabila pekerja ditugaskan pada pekerjaan yang lain.
• Pelatihan diberikan jika ada peralatan/proses pelaksanaan yang baru digunakan di lapangan.
F. Komunikasi yang efektif.
• Manajemen menginformasikan semua permasalahan K3 kepada seluruh pekerja.