IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMA TARUNA BAKTI :Studi Deskriptif di SMA Taruna Bakti Bandung.

37  15 

Teks penuh

(1)

No. Daftar FPIPS: 1894/UN.40.2.2/PL/2013

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMA

TARUNA BAKTI

(Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan

Oleh

SURURUL MURTADLO 0901124

JURUSAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

(2)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMA

TARUNA BAKTI

(Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Oleh

Sururul Murtadlo

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

© Sururul Murtadlo2013

Universitas Pendidikan Indonesia

Oktober 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

(3)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu SURURUL MURTADLO

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMA

TARUNA BAKTI

(Studi Deskriptif di SMA Taruna Bakti Bandung)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING:

Pembimbing I

Prof. Dr. H. Suwarma AM, SH.,M. Pd. NIP. 195302111978031002

Pembimbing II

Dr. Hj. Kokom Komalasari, M. Pd. NIP. 197210012001122001

Mengetahui

Ketua Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan

(4)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu Skripsiinitelahdiujipada :

Hari, Tanggal : Rabu, 30Oktober 2013

Tempat : Gedung FPIPS UPI Bandung

Panitiaujianterdiridari :

1. Ketua :

Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si. NIP. 19700814 199402 1001

2. Sekretaris :

Prof. Dr. H. Sapriya, M. Ed. NIP. 19630820 198803 1001

3. Penguji : 3.1

Prof. Dr. H. Sapriya, M. Ed. NIP. 19630820 198803 1001

3.2

Prof. Dr. H. DasimBudimansyah, M.Si. NIP. 19620316 198803 1003

3.3

(5)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu ABSTRAK

SURURUL MURTADLO (0901124), IMPLEMENTASI PENDIDIKAN

MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN DI SMA TARUNA BAKTI (Studi Deskriptif di SMA Taruna Bakti Bandung)

Maraknya kerusuhan, bentrokan dan isu akhir-akhir ini yang dilatar belakangi unsur Agama, Adat, Suku, Ras menimbulkan keresahan keretakan persatuan dan keharmonisan antar bangsa Indonesia harus mendapatkan perhatian khusus dan pencegahan sejak dini. Melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang merupakan mata pelajaran bertujuan membentuk warga negara yang baik (Good Citizenship) dengan adanya pengembangan pembelajaran yakni Pendidikan Kewarganegaraan berbasis Pendidikan Multikultural di persekolahan merupakan langkah awal pencegahan sejak dini, dengan memberikan wawasan kepada siswa untuk dapat menghormati, empati dan toleransi serta hidup bersama (Living Together) di atas perbedaan. Pengembangan tersebut terdapat pada salah satu sekolah swasta di Kota Bandung yaitu SMA Taruna Bakti Bandung yang menerapkan ide pembauran dan melaksanakan pembelajaran berbasis multikultural. Tujuan penelitian ini untuk dapat menggali dan mengkaji informasi mengenai implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaran yang dilaksanakan sekolah SMA Taruna Bakti Bandung. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif, untuk mengungkapkan dan memahami kenyataan yang terjadi secara intensif di kehidupan sehari-hari yang berkenaan dengan fenomena di atas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi. Temuan penelitian ini adalah; 1) Penerapan dan proses berlangsungnya pembelajaran PKn berbasis multikultural terlaksana melalui langkah: memilih topik dan materi yang dapat di integrasikan dengan muatan pendidikan multikultural dengan menggunakan metode pembelajaran bersama (Cooperative Learning), sumber belajar yaitu buku dan kontekstual, siswa memulai belajar dengan berdoa melalui 2 cara yakni ibadah pagi dan berdo’a menurut kepercayaan masing-masing. 2) Faktor pendukung dalam pembelajaran PKn berbasis multikultural adalah siswa yang berlatar belakang berbeda-beda, materi yang menekankan pada kerukunan, media berupa audio visual, sumber belajar berupa buku teks, film yang bernuansakan multikulturalisme, evaluasi pembelajaran yang menekankan pada aspek kerjasama dan perilaku siswa. 3) Kendala dalam penerapan pendidikan multikultural dalam pembelajaran PKn tidak terlihat signifikan akan tetapi perdebatan yang dilandasi oleh emosi sesaat dan faktor usia yang masih muda. 4) Upaya dalam mengatasi kendala yang dihadapi, guru berperan lebih banyak untuk mengatasi perdebatan dan permasalahn yang muncul dan pihak sekolah terus melakukan upaya pembinaan pembangunan karakter siswa yang saling menghormati dan sopan-santun kepada semua pihak.

(6)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu ABSTRACT

SURURUL MURTADLO (0901124), THE IMPLEMENTATION OF MULTICULTURAL EDUCATION IN CIVIC EDUCATION IN TARUNA BAKTI HIGH-SCHOOL (A Descriptive Study in Taruna Bakti High School) The current more-frequent riots, clashes and issues, driven by religion, culture,

ethnicities and race, has caused worry on Indonesia’s integrity and harmony

which needs to be concerned and prevented. Civic education, a lesson intended in educating the learners to be good citizens by the establishment of multicultural-based civic-education in school, is an early effort to prevent such issues by educating the students being able to respect, empathize, tolerate and cope with

diversity. Such establishment can be seen in one of Bandung’s private school,

Taruna Bakti High School, which implements melting-pot idea as well as the multicultural education. This research was geared towards the scrutiny of information on the implementation of multicultural-based education in Taruna Bakti high-school. The approach employed in this research was qualitative through the utilization of descriptive method in order to illustrate and comprehend the reality beyond the phenomenon intensively. The data collection techniques used were interview, observation and documentation study. The findings of this research comprise: 1) The implementation and execution of multicultural-based civic education was done through several steps comprising: selection of topic and material to be integrated with multicultural content through the use of cooperative learning in which the learning sources included books and contextual materials. The students started the class by two means of praying namely morning ritual and praying according to their belief. 2) The supporting factors on multicultural-based civic-education included student’s background heterogeneity, the learning materials focusing on harmony, audio-visual media, multiculturalism-themed textbooks and films used as learning materials and learning assessment which

focused on students’ behavior and cooperativeness. 3) The problem in the

implementation of multicultural-based civic-education was not significantly visible but the debate caused by sudden emotion and youth factor was seen to be the factor. 4) In attempting to cope with the problems, the teacher proactively intervened to stop the debate and problems occurred. The institution, in addition, kept on providing trainings towards the establishment of respectful character within the students.

(7)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. ... i

UCAPAN TERIMAKASIH... ii

ABSTRAK. ... v

DAFTAR ISI. ... vi

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I. PENDAHULUAN. ... 1

A. Latar Belakang Masalah. ... 1

B. Rumusan Masalah. ... 7

C. Tujuan Penelitian. ... 7

1. Umum. ... 7

2. Khusus. ... 7

D. Manfaat Penelitian. ... 8

1. Teoritis. ... 8

2. Praktis. ... 8

E. Struktur Organisasi Skripsi. ... 9

BAB II. LANDASAN TEORI. ... 11

A. Pendidikan Multikultural. ... 11

1. Pengertian Multikulturalisme. ... 11

2. Pendidikan Berbasis Multikultural. ... 13

3. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Multikultural. ... 17

4. Pendekatan Pendidikan Multikultural. ... 19

B. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. ... 21

1. Konsep Pendidikan Kewarganegaraan. ... 21

2. Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan. ... 23

3. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan. ... 25

4. Strategi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. ... 27

C. Pendidikan Multikultural dan Pendidikan Kewarganegaraan. .... 29

(8)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

2. Strategi Pembelajaran pendidikan Kewarganegaraan berbasis

multikultural. ... 31

3. Tujuan Pembelajaraan Berbasis Multikultural Dalam Pembelajaran Pkn. ... 35

D. Penelitian Terdahulu tentang pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan multikultural. ... 37

E. Kerangka Pemikiran. ... 41

BAB III. METODE PENELITIAN. ... 44

A. Lokasi dan subjek Penelitian. ... 44

1. Lokasi Penelitian. ... 44

2. Subjek Penelitian. ... 44

B. Metode dan Pendekatan Penelitian. ... 45

1. Pendekatan Penelitian. ... 45

2. Metode Penelitian ... 46

C. Definisi Operasional. ... 46

1. Pendidikan. ... 46

2. Pendidikan Multikultural... 47

3. Pendidikan Kewarganegaraan. ... 47

D. Instrument Penelitian. ... 47

E. Teknik Pengumpulan Data. ... 48

1. Observasi . ... 48

2. Wawancara. ... 49

3. Studi Dokumentasi. ... 50

F. Teknik Analisi Data. ... 50

1. Reduksi Data (data reduction). ... 50

2. Penyajian Data (data Display). ... 51

3. Menarik kesimpulan atau verivikasi (conclusion drawing/verification). ... 51

G. Pengujian Keabsahan Data. ... 52

1. Pengujian Kredibilitas. ... 52

(9)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

3. Pengujian Confirmability. ... 53

H. Tahap-Tahap Penelitian. ... 53

1. Tahap Pra Penelitian. ... 53

2. Tahap Penelitian. ... 53

BAB IV. HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN. ... 55

A. Hasil Penelitian. ... 55

1. Gambaran Umum SMA Taruna Bakti Bandung. ... 55

2. Kekhasan Taruna Bakti. ... 55

3. Visi SMA Taruna Bakti... 56

4. Misi SMA Taruna Bakti. ... 56

5. Pendiri Yayasan Taruna Bakti... 56

6. Kondisi Fasilitas Sekolah. ... 57

7. Logo SMA Taruna Bakti. ... 57

8. Struktur Organigram SMA Taruna Bakti. ... 58

B. Deskripsi Hasil Penelitian. ... 59

1. Observasi. ... 59

2. Wawancara. ... 63

C. Pembahasan Penelitian. ... 75

1. Penerapan Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Penidikan Kewarganegaraan. ... 75

2. Faktor pendukung penerapan pendidikan multikultural dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan... 81

3. Kendala dalam penerapan pendidikan multikultural dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan... 88

4. Upaya dalam mengatasi kendala dan hambatan penerapan pendidikan multikultural dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. ... 91

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN. ... 98

A. Kesimpulan. ... 98

1. Kesimpulan Umum. ... 98

(10)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

B. Saran. ... 99

1. Dinas Pendidikan Kota Bandung. ... 99

2. SMA Taruna Bakti Bandung. ... 99

3. Siswa. ... 100

4. Guru. ... 100

5. Peneliti Selanjutnya. ... 100

(11)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penyelenggaraan Pendidikan Nasional secara yuridis terkandung dalam

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Bab XIII pasal 31

ayat (3 dan 5) yang berbunyi:

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, serta pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjungjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Pendidikan merupakan hak dari seluruh warga negara Indonesia, dan tidak

seorang pun bisa melarang keinginan untuk menempuh pendidikan, baik yang

diwajibkan yaitu wajib belajar sembilan tahun maupun tahap pendidikan

selanjutnya. Karena pendidikan merupakan hak asasi, tidak ada pembeda secara

Suku, Agama, Ras, Adat dan latar belakang dalam menempuh pendidikan.

Dengan adanya legalitas dalam penyelenggaraan pendidikan telah melahirkan

setiap daerah untuk mendirikan sebuah lembaga penyelenggara pendidikan,

karena dirasa sangat penting bagi masyarakat yang memungkinkan kemudahan

bagi setiap individu untuk mendapatkan pendidikan. Setiap satuan sekolah dapat

menerima siswa dari kalangan manapun, yang kemudian menjadikan sekolah

memiliki keberagaman dari berbagai aspek. Keberagaman tersebut dapat dilihat

dari perbedaan Suku, Agama. Ras, Adat dan Latar Belakang siswa.

Hal ini dapat kita pahami dikarenakan Indonesia merupakan negara kesatuan

yang berbentuk Republik. Sebagai negara kesatuan yang tentu kemajemukan akan

ditemukan di masyarakatnya, kemajemukan tersebut dibingkai dalam suatu

kesatuan yang utuh yang merupakan identitas dan entitas dari bangsa Indonesia.

(12)

2

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

ini tercermin dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki makna

kemajemukan dijadikan satu diatas perbedaan yang ada di Indonesia.

Seperti yang diungkapkan oleh Imam (2012: 1), bahwa:

Indonesia merupakan negara yang sangat luas dengan jumlah penduduk yang besar dan dengan budaya yang sangat beragam. Sekitar 200 juta penduduk yang tersebar kurang lebih dari 13.000 pulau. Wilayah Indonesia tersusun atas 33 propinsi, 440 kabupaten/kota, 5.263 kecamatan, serta 62.806 desa. Terdapat puluhan suku bangsa dengan adat istiadat yang berbeda, dan lebih dari 660 bahasa daerah yang digunakan oleh penduduk Indonesia. Sejumlah 293.419 satuan pendidikan (SD/MI, SMP/MTs,SMA/MA) di Indonesia tersebar di berbagai wilayah, total 51,3 juta siswa dan 3,31 juta guru.

Siswa akan merasakan sebuah kebersamaan, rasa persaudaraan, keharmonisan

di antara mereka ketika memahami makna keberagaman (multikultur) itu sendiri.

Pemahaman multikultur tidak hanya sebuah konsep belaka, akan tetapi

multikultur harus dilakukan dengan nyata yang di Integrasikan oleh pemerintah

yang berwenang dalam sebuah wadah, salah satunya pada lembaga Pendidikan.

Pendidikan merupakan cara yang tepat untuk bisa memberikan pemahaman dan

pengimplementasian dari konsep negara multikulturalisme dengan pendidikan

berbasis multikultur. Seperti yang di ungkapkan oleh M. Ainul Yakin

(Kusmarni, 2012: 4), bahwa:

Pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada peserta didik, seperti perbedaan-perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, kelas sosial, ras, kemampuan dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah. Lebih lanjut Ainul mengungkapkan bahwa pendidikan multicultural juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis dan pluralis dalam lingkungan mereka.

Dengan adanya penjelasan diatas bahwa dengan adanya pendidikan

multikultur diharapkan siswa mampu menerapkan nilai-nilai kehidupan yang

berlandaskan demokrasi, humanis, dan keadilan. Pendidikan yang berada pada

sistem demokrasi tentu harus memperhatikan pada kepentingan beragam kondisi

(13)

3

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

Dari penelitian yang dilakukan litbang dalam harian ibukota kompas 28

oktober 2002 yang dikutip oleh Supardan (2012: 31-32) dalam artikel yang

berjudul pendidikan multibudaya yang menyatakan bahwa sebanyak 41%

responden dalam jajak pendapat tentang ikatan kebangsaan mulai renggang,

menyatakan situasi kerukunan antar umat Bergama dalam situasi buruk, ditambah

dengan isu yang dituduhkan negara asing kepada Indonesia dengan “terorisme”

nya. Hal lain yang menjadikan disintegrasi antar suku dan adat yang terjadi

konflik antara lain konflik Poso, konflik Ambon, kasus Aceh.

Mahfud (2011: 9) bahwa konflik yang terjadi di Indoensia terus

bermunculan sebagai gesekan sosial, seperti yang dikemukakanya bahwa:

Mulai pertengahan dekade 90 samapai awal dekade 2000-an, kita disuguhi aneka tragedi kemanusiaan bernuansa SARA. Tragedi kemanusiaan dan antar agama di Poso, Sambas, Banyuwangi, Situbondo, Madura, Sampit dan Aceh, semua itu merupakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa dalam lingkaran sosial bangsa Indonesia masih kokoh semangat narsistik-egosentrisnya. Fakta paling mutakhir berkenaan dengan masalah ini adalah bergolaknya kembali konflik bernuansa agama di ambon.

Oleh karena itu pendidikan berbasis multikultur harus dikedepankan untuk

lebih memantapkan Negara Indonesia untuk mengharmonisasikan kehidupan

berbangsa dan bukan sebagai wacana semata. Sejalan dengan hal tersebut, melihat

pendapat Pedersen yang dikutip oleh Supardan (2012: 35) dalam artikel yang

berjudul pendidikan multibudaya, yang menyatakan bahwa:

Seorang konselor telah melakukan penelitian ini yang mengadakan penelitiannya di Sekolah Dasar. Hasil temuan penelitiannya bahwa; “ a base for understanding cultural bias, and provides practical strategis to promote child development in a multicultural society "Pedersen berpendapat bahwa pembelajaran multikultural tersebut sangat berguna dalam memahami berbagai bias budaya yang ada di masyarakat. Sebab, tidak menutup kemungkinan apa yang siswa dengar dari masyarakat tentang budaya suatu etnis tertentu.

Lebih lanjut H.A.R. Tilaar (Mahfud. 2011: 221) mengatakan bahwa “pendidikan multikultural telah menjadi suatu tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar dalam membangun Indonesia Baru. Namun pendidikan berbasis multikultur

ini memerlukan kajian yang mendalam mengenai konsep dan praksis

(14)

4

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

Banks (Mahfud, 2011: 177) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural

memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan satu dengan yang lain, yaitu :

pertama, content integration, yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu. Kedua, the knowledge construction process, yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya kedalam sebuah mata pelajaran (disiplin).Ketiga, an equality paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengejaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya (culture) ataupun social (social). Keempat, prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka.

Pendidikan multikultural di Indonesia bukan lagi sebuah wacana dan kritikan

semata, akan tetapi pendidikan multikultural sudah seharusnya menjadi sebuah

keniscayaan, agar tidak terjadi disintegrasi di republik ini. Penyelengaraan

pendidikan multikultural merupakan sarana yang diyakini menjadi solusi juga

alternatif pemcahan konflik sosial-budaya. Maka penyelenggaraan pendidikan

multikultural dapat dikatakan berhasil jika terbentuk pada diri siswa sikap hidup

saling toleran, tidak bermusuhan dan tidak berkonflik yang disebabkan oleh

perbedaan budaya, suku, bahasa, adat istiadat atau lainnya.

Hal ini sejalan dengan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Dimana

Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang wajib di setiap

jenjang pendidikan, yang menjadi sebuah pembelajaran yang memberikan

pemahaman bagaimana siswa menjadi warga negara yang mengerti akan hak dan

kewajibannya sebagai warga negara. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan

pembelajaran yang tepat untuk dapat mengaplikasikan pendidikan multikultural di

jenjang pendidikan.

Berkaitan dengan Pendidikan Kewarganegraan di persekolahan, Wuryan, S.

& Syaifullah (2009: 9), mengemukakan bahwa:

(15)

5

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

Menurut Kurikulum 1994 (Budimansyah & Suryadi, 2008: 11) Pendidikan

Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) diartikan sebagai “mata pelajaran yang

digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur

dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia”. Nilai luhur dan moral

tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan

sehari-hari siswa, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, dan

makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Masyarakat akan tercermin dari pendidikan, jika pendidikan itu baik akan

menciptakan masyarakat yang baik (good citizen), akan tetapi jika pendidikan

gagal maka akan menciptakan masyarakat yang gagal pula. Masyarakat yang

gagal adalah masyarakat yang mengabaikan nilai-nilai luhur dan berlaku amoral.

Dan masyarakat yang baik merupakan warisan berharga yang akan tetap menjaga

negara Indonesia, dan memiliki kemauan untuk tetap bersatu diatas perbedaan

bukan sebaliknya. Budimansyah & Suryadi (2008: 31) mengemukakan, bahwa :

Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air”. Pendidikan kewarganegaraan yang berperan penting dalam pendidikan multikultural mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara kesatuan republik Indonesia.

Dari penjelasan tersebut, dapat kita ketahui Pendidikan Kewarganegaraan dan

Pendidikan Multikultural merupakan sebuah pembelajaran yang terintegrasi

membentuk siswa baik sebagai individu maupun anggota masyarakat yang

diharapkan dapat mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan

bersikap demokratis, toleran, humanis, dan mengedepankan sikap menghargai

kebaradaan di luar latar belakang kehidupannya dari segi perbedaan Suku,

Agama, Ras ataupun Adat (budaya).

Dapat kita pahami bahwa strategi penerapan pendidikan multikultural dengan

di integrasikannya dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di

persekolahan adalah sebuah sinergitas yang akan memberikan pembelajaran yang

holistik mengenai pendidikan multikultural (Multicultural Education) dan juga

(16)

6

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

merupakan cikal bakal dari suatu masyarakat dan akan berperan sebagai anggota

masyarakat. Oleh karenanya siswa dibekali pendidikan berbasis multikultural

yang di integrasikan dengan pembelajaran Pendidikan Kewaarganegaraan agar

ketika mereka menjadi anggota masyarakat mereka dapat memahami antar sesama

yang berbeda dari latar belakang mereka dengan mengedapankan sikap humanis,

demokratis, dan toleransi, serta dapat bertindak dengan rasa persatuan dan

kesatuan. Dengan begitu, maka kehidupan bangsa ini akan menjadi seimbang dan

menuju pembangunan Negara yang terarah dan sesuai dengan cita-cita bangsa.

Dari banyaknya persekolahan yang berada di Bandung, Sekolah Menengah

Atas Taruna Bakti adalah sekolah yang merepresentatifkan pengintegrasian

Pendidikan berbasis multikultural dan Pendidikan Kewarganegaraan tersebut.

Dari hasil pra penelitian yang dilakukan oleh peneliti menemukan bahwa

dalam Pembelajaran PKn telah menerapkan pembelajaran berbasis multikultural

karena merujuk kepada visi misi sekolah yakni sekolah pembauran terkemuka.

Sekolah Menengah Atas Taruna Bakti Bandung sendiri merupakan sekolah yang

memiliki ciri khas tidak membeda-bedakan, memberikan perlakuan yang sama

kepada semua orang dengan latar belakang yang beragam, baik suku, etnis,

bangsa, kepercayaan, agama, maupun sosial-ekonomi, serta menerima dan

menghormati adanya perbedaan pendapat, perbedaan dalam kepercayaan, dan

perbedaan dalam agama.

Dalam visi misi sekolah Taruna Bakti mencerminkan sebagai lembaga yang

mengedepankan toleransi atas perbedaan. Yakni menjadi lembaga pendidikan

pembauran terkemuka yang mampu menumbuhkan siswa dan menghasilkan

lulusan yang cerdas, disiplin, kreatif, berbudi pekerti luhur, mengikuti

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu menyesuaikan diri

terhadap perubahan lingkungan kehidupan pada tataran nasional dan internasional.

Serta menciptakan suasana dan lingkungan sekolah yang mampu menumbuhkan

rasa kebersamaan dan saling menghormati.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian

yang sehingganya menemukan alternatif dan keunggulan pendidikan yang

(17)

7

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

mengembangkan pendidikan yang berbasis multikultur yakni dengan judul “Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMATaruna Bakti (Studi Deskriptif di SMA Taruna Bakti Bandung)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang diatas, peneliti merumuskan masalah

penelitian sebagai berikut: Bagaimana Penerapan Pendidikan Multikultural dalam

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti (Studi

Deskriptif di SMA Taruna Bakti Bandung).

Untuk melakukan fokus kajian terhadap penelitian, peneliti merumuskan

pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan pendidikan multikultural dalam pembelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti?

2. Apa saja faktor-faktor pendukung pendidikan multikultural dalam

pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti?

3. Apa saja kendala atau penghambat yang terjadi pada pelaksanaan

pendidikan multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti?

4. Apa saja upaya untuk mengatasi kendala atau hambatan yang terjadi pada

pelaksanaan pendidikan multikultural dalam pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran

dan informasi mengenai penerapan pendidikan berbasis multikultural di

Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Bakti melalui pembelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan.

2. Tujuan Khusus

(18)

8

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

a. Untuk memperoleh gambaran bagaimana penerapan pendidikan

multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA

Taruna Bakti.

b. Untuk mengetahui faktor pendukung pendidikan Multikultural dalam

pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti.

c. Untuk menganalisis apa saja kendala yang terjadi pada pelaksanaan

pendidikan Multikultural dalam pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti.

d. Untuk mengetahui apa saja upaya untuk mengatasi kendala yang terjadi

pada pelaksanaan pendidikan multikultural dalam pembelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Manfaat secara teoritis dalam penulisan ini bertujuan untuk mengetahui

bagaimana pengembangan pendidikan berbasis multikultural melalui mata

pelajaran PKn di sekolah, sebagai salah satu sumber wawasan ilmu

kewarganegaraan bagi penulis khususnya dan umumnya bagi dunia

pendidikan serta berbagai pihak yang berkepentingan. Penelitian ini semoga

dapat memberikan informasi tentang pengembangan pendidikan multikultural

melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk beberapa pihak sebagai

berikut:

a. Sekolah

Manfaat dari hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai sarana

dalam memberikan Informasi kepada sekolah Taruna Bakti khususnya dan

umumnya untuk satuan sekolah lain untuk terus mengembangkan

pendidikan multikultural melalui mata pelajaran Pendidikan

(19)

9

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu b. Peserta Didik

Manfaat Penelitian ini adalah untuk lebih mengembangkan sikap toleransi,

demokrasi dan adil dalam lingkungan persekolahan, agar tercipta suasana

belajar yang mendukung bagi semua siswa yang berbeda baik dari segi

latar belakang siswa, maupun secara agama, adat, dan ras.

c. Peneliti

Dengan adanya penelitian ini, bagi peneliti sendiri sebagai wawasan

keilmuan untuk dapat mengembangkannya dikemudian hari ketika terjun

langsung dalam dunia pendidikan.

E. Struktur Organisasi Skripsi

Skripsi ini terdiri dari V (lima) BAB. Dengan rincian sebagai berikut:

1. Pada BAB I, dijelaskan mengenai latar belakang masalah yang menjadi

titik tolak diadakannya penelitian ini, kemudian pada bab pertama juga

memuat rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, struktur

organisasi Skripsi

2. Pada BAB II, berisikan mengenai landasan teoritis yang menjadi pijakan

untuk dapat mengkorelasikan antara teori-teori yang ada dengan realita

dan data penelitian. dengan berisikan landasan teori mengenai:

pendidikan multikultural, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan

multikultural dan penddidikan kewarganegaraan, penelitian terdahulu.

Kerangka Pemikiran

3. Pada BAB III, berisikan mengenai metode penelitian, yang terdiri dari:

lokasi dan subjek penelitian, metode penelitian, pendekatan penelitian,

instrument penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data,

pengujian keabsahan data.

4. Pada BAB IV, berisikan temuan-temuan hasil penelitian, juga

pembahasan mengenai penelitian yang telah dilakukan. Yakni berisikan:

gambaran umum mengenai sekolah Taruna Bakti, penerapan penddidikan

(20)

faktor-10

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

faktor pendukung penerapan pendidikan multikultural pada pembelajaran

pendidikan kewarganegaraan, kendala-kendala yang terjadi pada

penerapan pendidikan multikultural pada pembelajaran pendidikan

kewarganegaraan, serta upaya untuk mengatasi kendala pada penerapan

pendidikan multikultural pada pembelajaran pendidikan

kewarganegaraan.

5. Pada BAB V, memuat mengenai kesimpulan sebagai rangkuman hasil

(21)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penellitian 1. Lokasi Penelitian

Untuk dapat menunjang penelitian yang akan dilaksanakan, lokasi penelitian

yang tepat merupakan hal yang penting dalam mendapatkan data yang diharapkan.

Oleh karena itu Penilitian ini dilakukan pada Sekolah Menengah Atas Taruna

Bakti Bandung, yang berlokasi di Jl. L.L.RE. Marta Dinata No. 52 Bandung

40115. Dengan melihat model persekolahan tersebut dengan menjadikan lembaga

pendidikan pembauran terkemuka.

2. Subjek Penelitian

Dalam penentuan subjek penelitian. Peneliti menggunakan teknik Purposive

Sampling. Teknik ini adalah pengambilan sampel sumber data dengan

pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang

dianggap tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa

sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti. Lincoln dan Guba (Sugiyono, 2012: 302) mengemukakan bahwa “ naturalistic sampling is, then, very different from conventional sampling. It is

based on informational, not statistical, considerations. Its purpose is to maximize information, not to facilitate generalization”. Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif (naturalistik) sangat berbeda dengan penentuan sampel dalam penelitian

konvensional (kuantitatif). Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif tidak

didasarkan perhitungan statistik. Sampel yang dipilih berfungsi untuk

mendapatkan informasi yang maksimum, bukan untuk digeneralisasikan.

Oleh karena itu, penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan saat

peneliti memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. Dengan cara,

peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data

(22)

45

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap.

(Sugiyono, 2012: 302).

Dalam penelitian ini, yang menjadi Subjek penelitian adalah :

a. Kepala sekolah.

b. Wakasek Bid. Kurikulum.

c. Guru mata pelajaran PKn SMA Taruna Bakti (1orang)

d. Siswa SMA taruna Bakti (4 siswa)

B. Metode dan Pendekatan Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif. Bodgan dan Taylor

(Basrowi & Suwandi, 2008: 21) mendefinisikan “metodologi kualitatif sebagai

prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis

atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang di amati”.

Lebih lanjut Miles and Huberman (Basrowi & Suwandi, 2008: 22) mengungkapkan bahwa “metode kualitatif berusaha mengungkapkan berbagai keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat atau organisasi

dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh, rinci, dalam, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah”.

Penlitian kualitatif merupakan suatu metode yang bertujuan untuk dapat

mendapatkan dan mengeksplorasi berbagai fenomena-fenomena tentang

kenyataan yang terjadi di kehidupan sosial. Collin (Basrowi & Suwandi, 2008: 7)

mengemukakan bahwa “Realitas sosial setidaknya dapat dilihat dari pola tingkah

laku dan transformasi seorang terhadap alam dan atau sesamanya, serta realitas

interaksi antar manusia dan atau kelompok sesuai dengan setting dan konteksnya dalam dunia sosial”.

Oleh karena itu penggunaan pendekatan dalam penelitian tersebut dirasa

sudah tepat dengan melihat dan mempertimbangkan pada proses penelitian dan

pengambilan data dilapangan. Dengan tujuan untuk dapat meneliti secara faktual

bagaimana penerapan pembelajaran PKn berbasis multikultural di sekolah Taruna

(23)

46

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

pembelajaran dan juga prilaku, fenomena – fenoma yang terjadi di dalam lingkup

populasi/tempat dimana subjek melakukan aktivitas.

Yaitu aktivitas bagaimana siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa

dengan lingkungan sekolah memperagakan sikap yang mencerminkan multikultur,

yakni suatu pemahaman, penghargaan, terhadap perbedaan secara Suku, Agama,

Ras, Aadat dan latar belakang dengan sikap-sikap adil, empati, demokratis, dan

humanis.

2. Metode Penelitian

Metode merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk dapat

mengumpulkan data penelitiannya. Metode yang digunakan merujuk kepada

tujuan yang ingin dicapai, yakni ingin mencari, menemukan, menggali, serta

mengungkapkan keadaan objek penelitian, mendeskripsikan secara nyata

bagaimana pendidikan multikultural di implementasikan melalui mata pelajaran

pendidikan kewarganegaran disekolah Taruna Bakti, maka peneliti memilih

metode Deskriptif.

Suryabrata (2008: 75) mengemukakan bahwa “tujuan penelitian deskriptif

adalah untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat

mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu”.

Penggunaan metode atau sebuah cara tersebut untuk dapat menunjang data

dan hasil penelitian dengan mendeskripsikan secara sistematis agar dapat dengan

mudah dipahami dan juga dimengerti. Yaitu dengan menguraikan data penelitian

tersebut secara faktual dan akurat.

C. Definisi Operasional

Dalam penulisan ini tentu akan banyak persepsi dan definisi dalam

menafsirkan istilah pokok yang muncul sebagai berikut:

1. Pendidikan

Pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional, bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar dan

(24)

47

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kemudian Crow and Crow dalam Suprapto (Mahfud, 2010: 34) mendefinisikan “Pendidikan sebagai proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi”.

2. Pendidikan Multikultural

Merupakan Pendidikan yang terintegrasi kedalam mata pelajaran dengan

mengesampingkan perbedaaan secara kultural. Naim & Sauqi (2010: 191)

mengemukakan bahwa Pendidikan Multikultural adalah proses penanaman cara

hidup menghormati, tulus dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di

tengah – tengah masyarakat plural. Meminjam pendapat Andersen dan Cusher

(Mahfud, 2009: 175), bahwa Pendidikan Multikultural dapat diartikan sebagai

pendidikan mengenai keragaman kebudayaan.

3. Pendidikan kewarganegaraan

Merupakan pendidikan yang mengembangkan sikap “good citizenship

dengan dasar mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya untuk

berkehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Wuryan, S. & Syaifullah (2009:

9) mengemukakan bahwa pendidikan kewarganeggaraan merupakan sarana untuk

membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan

dengan hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan

pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara agar menjadi warga negara

yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

D. Instrument Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument adalah peneliti itu

sendiri. Sugiyono (2012: 306) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif sebagai

(25)

48

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis

data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.

Dalam penelitian kualitatif instrument utamanya adalah peneliti sendiri,

namun setelah fokus penelitian telah jelas, maka kemungkinan akan

dikembangkan instrument penelitian, yang diharapkan dapat melengkapi data dan

membandingkan dengan data yang telah ditemukan melalui observasi dan

wawancara. Penggunaan wawancara dan observasi tersebut yaitu:

1. Penggunaan wawancara sebagai alat instrument ditujukan untuk dapat

menggali infomrasi langsung dari pelaku atau yang terlibat dalam situasi

dalam populasi (tempat) penelitian itu dilakukan. Karena jika hanya

menggunakan pengamatan maka yang terlihat adalah bagian luar saja atau

yang tampak saja, akan tetapi jika diguanakan isntrumen ini diharapkan

dapat menggali apa yang tidak Nampak tersbut, agar lebih mendalam data

yang terkumpul dan benar-benar akurat.

2. Penggunaan Observasi dalam penelitian ini, adalah untuk dapat

memperoleh gambaran umum mengenai implementasi Pendidikan

Multikultural dalam Pendidikan Kewarganegaraan. Serta situasi sosial

yang berlangsung di SMA Taruna Bhakti.

E. Teknik Pengumpulan data

Untuk mengumpulkan data dengan melihat tujuan dari penelitian ini, maka

digunakan teknik sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan suatu cara pengamatan langsung realita sosial yang

berlangsung di lapangan untuk dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai

apa yang diteliti. Marshall (Sugiyono, 2012: 309) mengemukakan bahwa, “melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai observer nonpartisipan”.

Observasi dalam penelitian ini dilakukan kepada aktivitas di sekolah SMA

(26)

49

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

pembelajaran yang ditujukan untuk memperoleh gambaran umum mengenai

implementasi Pendidikan Multikultural dalam Pendidikan Kewarganegaraan,

Serta situasi sosial yang berlangsung di SMA Taruna Bakti.

Observasi ini dilakukan dengan teknik observasi non partisipan, karena dalam

pengamatan ini dilakukan dengan peneliti tidak masuk kedalam objek

pengamatan, akan tetapi tetap memperoleh gambaran mengenai objek yang dituju.

2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu

pewawancara (interview) sebagai pengaju/pemberi pertanyaan dan yang

diwawancarai (interviewee) sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan itu. Dalam

penelitian ini, proses wawancara menggunakan wawancara terstruktur , yakni

wawancara yang menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara

sistemtis dan lengkap untuk pengumpulan datanya (Sugiyono,2010:197). Di

gunakannya teknik wawancara ini dimaksudkan untuk lebih mendalamnya

informasi dari kehidupannya sehari-hari.

Teknik wawancara ini digunakan kepada informan untuk dapat menggali

infomrasi langsung dari pelaku atau yang terlibat dalam situasi dalam populasi

(tempat) penelitian itu dilakukan. Karena jika hanya menggunakan pengamatan

maka yang terlihat adalah bagian „luar‟ saja atau yang tampak, akan tetapi jika

diguanakan isntrumen ini diharapkan dapat menggali apa yang pelaku rasakan dan

apa yang pelaku adalah agar lebih mendalam data yang terkumpul dan

benar-benar akurat.

Wawancara ditujukan untuk dapat menggali infomrasi langsung dari pelaku

atau yang terlibat dalam situasi dalam populasi (tempat) penelitian itu dilakukan.

Wawancara ini dilakukan kepada kepala sekolah, kepada Pembentu Kepala

sekolah bidang kurikulum, Guru Pendidikan Kewarganegaraan, serta siswa SMA

Taruna Bakti. Karena dirasa oleh peneliti, mereka adalah pihak-pihak yang

(27)

50

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu 3. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi merupakan salah satu cara dengan pengumpulan data yang

menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang

diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah dan bukan berdasarkan

perkiraan.

Guba dan Lincoln (Basrowi& Suwandi, 2011:159) mendefinisikan dokumen

dan record adalah sebagai berikut: Record adalah setiap pernyataan tertulis yang

disusun oleh seorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau

menyajikan akunting, dan dokumen ialah setiap bahan tertulis atau film, lain dari

record yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik.

Studi dokumentasi ini dimaksudkan untuk mendapatkan bahan, baik tulisan

maupun data lain yang berkaitan dengan implementasi pendidikan multikultural

dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah Taruna Bakti,

sebagai suatu pendukung dan pelengkap dari teknik sebelumnya.

Studi dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan dokumen sebagai

berikut:

a. Profil Sekolah

b. Dokumen Kurikulum Sekolah

c. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PKn

d. Foto – foto proses penelitian

F. Teknik Analisi Data

Dalam menganalisis data, penliti menggunakan teknik yang dikembangkan

oleh Miles dan Huberman. Teknik tersebut mencakup tiga kegiatan yakni:

Reduksi data, Penyajian data, Penarikan Kesimpulan. Berikut penjelasan dari

kegiatan yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman tersebut:

1. Reduksi Data (data reduction)

Basrowi & Suwandi (2008: 209) mengemukakan bahwa “Reduksi Data

merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, mengabstraksikan dan

(28)

51

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

Sejalan dengan itu, Sugiyono (2012: 336) mengemukakan bahwa

“Meredeuksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan

pada hal-hal yang penting, dicari dan polanya”. Mereduksi data dilakukan untuk

dapat memberikan gambaran yang jelas, mempermudah peneliti untuk

pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya jika diperlukan.

Reduksi data dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam

mengorganisasikan data yang sudah didapat oleh penliti. Dan juga sebagai cara

untuk dekat dengan tujuan yang sudah dirancang.

2. Penyajian Data (data display)

Menurut Basrowi & Suwandi (2008: 209) mengartikan “ Penyajian data

merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk

menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan”. Bentuk penyajiannya antara lain

berupa teks naratif, matriks, grafik, jaringan, dan bagian. Dalam hal ini Miles dan

Huberman (Sugiyono, 2012: 339) mengemukakan “the most frequency form of

display data for qualitative research data in the past has been narrative text”.

yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitia kualitatif

adalah dengan teks yang bersifat naratif.

Tujuannya adalah untuk mememudahkan membaca dan menarik kesimpulan.

Pada tahap ini, peneliti menggolongkan dan mengelompokan data yang terkempul

sesuai dengan rumusan masalah. Teknik ini digunakan untuk memudahkan dalam

memahami apa yang yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan

apa yang telah difahami tersebut.

3. Menarik Kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing/verification) Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi

yang utuh. Kesimpulan merupakan gambaran atau deskripsi suatu objek yang

sebelumnya masih belum pasti sehingga menjadikan gambaran atau deskripsi

objek tersebut jelas.

Kesimpulan dapat berupa hubungan kausalitas atau interaktif, hipotesis atau

teori. Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat

(29)

52

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan

berkembang setelah penelitian berada dilapangan.

G. Pengujian Keabsahan data

Sebagai pencarian keabsahan hasil penelitian dilapangan, peneliti

mengguanakan pengujian validitas dan realiabilitas penelitian kualitatif yang

dikemukakan oleh Sugiyono. Yakni uji credibility (validitas internal).

dependability, dan confirmability (obyektivitas). Untuk penjelasan dari

masih-masing pengujian tersebut akan dijabarkan dibawah ini Sugiyono (2012:

265-374).

1. Pengujian Kredibilitas

Pengujian kerdibilitas penelitian ini dengan menggunakan pendekatan

member check. Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh

peneliti kepada pemberi data. Tujuan member check adalah untuk mengetahui

seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi

data. Apabila data yang ditemukan disepekati oleh pemberi data berarti data

tersbut valid, sehingga semakin kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang

ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi

data, maka peneliti perlu melakukan diskusi dengan pemberi data, dan apabila

perbedaanya tajam, maka peneliti harus merubah temuannya, dan harus

menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.

2. Pengujian Dependability

Pengujian dependability dilakukan dengan melakukan audit terhadap

keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh auditor yang independent,

atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas penliti dalam melakukan

penelitian. Bagaimana peneliti mulai menentukan msalah/fokus, memasuki

lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis data, melakukan uji

(30)

53

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu 3. Pengujian Confirmability

Pengujian confirmability mirip dengan uji dependability, sehingga

pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan. Menguji confirmability berbarti

menguji hasil penelitian, dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Bila hasil

penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka peneliti

tersebut telah memnuhi standar confirmability.

H. Tahap-Tahap Penelitian

Tahap-tahap penelitian ini merupakan merupakan serankaian proses yang

dilakukan oleh peneliti dari awal sampai kepada proses penelitian. Tahap-tahap

tersebut sebagai berikut:

1. Tahap Pra-Penelitian

Pada tahap ini, setalah menentukan judul, fokus penelitian dan membuat

berupa proposal, peneliti melakukan:

a. Studi pendahuluan untuk mendapatkan gambaran mengenai

pembelajaran berbasis multikultural kepada subjek penelitian.

b. Menentukan lokasi penelitian.

c. Membuat instrumen penelitian.

d. Membuat surat izin penelitian kepada Jurusan Pendidikan

kewarganegaran yang kemudian diteruskan kepada Bidang Akademik

FPIPS UPI. Selanjutnya mengajukan permohonan izin penelitian kepada

Direktorat Akademik UPI.

2. Tahap Penelitian

Setelah tahap pra-penelitian telah selesai, pada tahap ini peneliti melakukan

proses penelitian untuk mendapatkan data dari subjek penelitian. Adapun

langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti yaitu:

a. Menghubungi dan melakukan wawancara kepada Kepala Sekolah SMA

Taruna Bakti Bandung.

b. Menghubungi dan melakukan wawancara kepada Wakasek Bidang

(31)

54

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

c. Menghubungi dan melakukan wawancara guru Pendidikan

Kewarganegaraan SMA Taruna Bakti Bandung.

d. Menghubungi dan melakukan wawancara kepada siswa SMA Taruna

Bakti Bandung.

e. Melakukan Observasi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di

SMA Taruna Bakti Bandung,

f. Melakukan dan meminta dokumentasi juga membuat catatan yang

diperlukan dengan masalah yang diteliti, salah satunya dengan meminta

berbagai dokumen tertulis yang ada di SMA Taruna Bakti Bandung

berupa RPP pembelajaran PKn dan Profil Sekolah SMA Taruna Bakti

(32)

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kesimpulan Umum

Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan yang telah diuraikan nampak

bahwa implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan di Sekolah Menengah Atas Taruna Bakti Bandung menekankan

pada sikap toleransi, adil, dan sikap saling menghormati terhadap seluruh civitas

akademika. Pendidikan multikultural tersebut sebagai muatan yang tidak

tercantum dalam kurikulum SMA Taruna Bakti secara jelas, akan tetapi sebagai

penunjang dalam mencapai tujuan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

2. Kesimpulan Khusus

Berikut beberapa kesimpulan penulis yang di dasarkan pada rumusan masalah

yang telah di tentukan, yakni sebagai berikut:

a. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berbasis

multikultural di SMA Taruna Bakti bandung dilaksanakan melalui do’a

ibadah pagi sebagai awal proses belajar mengajar. Menyusun dan

melaksanakan Rencana Pembelajaran yang berbasis multikultural yaitu materi

pembelajaran yang bermuatan multikultural, metode belajar Cooperative

Learning, menggunakan audio visual, penialaian pembelajaran pada sikap

siswa.

b. Faktor pendukung dalam penerapan Pendidikan Multikultural dalam

pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti Bandung

ialah : a) input siswa yang berbagai macam latar belakang (Suku, Agama,

Ras, Adat), b) Ekstrakulikuler yang mendukung pembauran, c) Tempat

Ibadah untuk semua Agama, d) materi yang diajarkan memuat pemahaman

akan multikulturalisme, e) metode yang digunakan adalah metode

cooperative learning, f) sumber belajar yang digunakan adalah buku

pengayaan dan juga pengamatan langsung (Obervasi). g) media yang

(33)

99

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

merujuk keranah multikulturalisme, h) evaluasi yang digunakan tidak hanya

kepada ranah kognitif saja akan tetapi cenderung ke ranah perilaku siswa.

c. Hambatan-hambatan yang muncul dalam proses pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan berbasis multikultural berlangsung yakni perdebatan siswa

yang dilandasi oleh emosi dan juga faktor usia dan pengetahuan yang masih

terbatas. Kendala siswa yang muncul adalah sulit menghafal materi dan juga

memahami materi yang terkadang baru diketahui dan muncul.

d. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam penerapan

pendidikan multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

sebagai berikut: a) penyediaan mata pelajaran agama untuk masing-masing

agama siswa, b) diberikan kebebasan untuk memilih kegiatan ekstrakulikuler,

c) sekolah menengahi lewat BP jika terjadi masalah diantara siswa, d) siswa

bertanya dan bekerjasama dengan siswa lain, e) guru PKn menerapkan model

belajar bersama dan berperan aktif menagatasi masalah di dalam kelas.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti

mempunyai saran yang kiranya dapat menjadi masukan, adapun saran sebagai

beikut:

1. Dinas Pendidikan Kota Bandung;

a. Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Bandung, mengembangkan

pembelajaran di sekolah dengan berbasis multikultural melalui instruksi

pengembangan karakter nasionalisme di persekolahan.

2. SMA Taruna Bakti Bandung

a. Sekolah untuk terus mengintensifkan, meningkatkan bimbingan dan

koordinasi kepada guru.

b. Adanya pengembangan kurikulum sekolah secara khusus yang bernamakan

(34)

100

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu 3. Siswa

a. Siswa diharapkan dapat menerapkan sikap toleransi, saling menghormati,

santun tidak hanya di lingkungan seklah akan tetapi di luar sekolah.

b. Lebih menjunjung sikap kesetaraan terhadap siswa lain.

4. Guru

a. Guru diharapkan lebih kreatif dalam menerapkan model pembelajaran yang

bernuansakan multikultur atau cara hidup bersama.

b. Guru untuk lebih memotivasi siswa dalam meningkatkan sikap nasionalisme

siswa.

5. Peneliti Selanjutnya

(35)

101 Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu nDAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:

Basrowi & Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka

Cipta

Branson, S. (1999). Belajar Civic Education dari Amerika. Yogyakarta: LKiS dengan dukungan The Asia Foundation (TAF)

Budimansyah, D. dan Suryadi, K. (2008). PKn dan Masyarakat Multikultural. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana, Universitas Penidikan Indonesia

Departemen Agama RI. (2008). Alhikmah, Al-Quran dan Terjemahnya. Bandung: DIPONEGORO.

L. Tiedt, P dan M. Tiedt, I. (1990). Multicultural Teaching. United Stade: Allyn and Bacon A Division of simon & Schuster, Inc.

Mahfud, C. (2011). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Naim, N. dan Sauqi, A. (2010). Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Medi Group

Rasyidin, W. et al. (2009). Landasan Pendidikan. Bandung: subkoordinator MKDP Landasan Pendidikan

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: CV Alfabeta

Suryabrata, S. (2011). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Tim Redaksi Nuansa Aulia. (2010). Undang-Undang Dasar 1945 dan Amandemennya. Bandung: Nuansa Aulia

(36)

102

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

Wuryan, S. & Syaifullah. (2009). Ilmu Kewarganegaraan (Civics). Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia

Sumber Dokumen

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sumber Internet:

Kusmarni, Y. (2008). Pendidikan Multikultural Suatu Kajian Tentang Pendidikan

Alternatif Di Indonesia Untuk Merekatkan Kembali Nilai-Nilai Persatuan,

Kesatuan Dan Berbangsa Di Era Global.

[online].

Tersedia:http://file.upi.edu/browse.php?dir=Direktori/FPIPS/JUR._PEND._

SEJARAH/196601131990012-YANI_KUSMARNI/ [Jumat, 15 Maret

2013].

Imam (2012). Menggagas Pendidikan Multikultural.

[Online].

Tersedia:http://sumsel.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=11413)

[Jumat, 15 Maret 2013]

Ayu Larassati, M. 2012. Tujuan pendidikan multikultural.

[Online].

Tersedia:http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/22/tujuan-pendidikan-multikultural-432944.html/ [rabu, 24 april 2013]

Maulana. (2008). Pendidikan Multikultur Dalam Tinjauan Pedagogik.

[Online].

(37)

103

Sururul Murtadlo, 2013

Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di SMA Taruna Bakti (Studi Deskriptif Di SMA Taruna Bakti Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu Supardan, D. (2012). Pendidikan Multi Budaya.

[online]

tersedia:http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/19570

4081984031-DADANG_SUPARDAN/PENDIDIKAN__MULTIBUDAYA.pdf.

Sumber Tesis dan Desertasi:

Anggraeni, L. (2009). Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis Multikultural

Dalam Memupuk Nasionalisme Siswa.

Tesis Megister pada FPIPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan

Baehaqi, D. (2008). Pengembangan Warganegara Multikultural implikasinya

Terhadap Kompetensi Kewarganegaraan.

Tesis Megister pada FPIPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan.

Supardan, D. (2004). Pembelajaran Sejarah Berbasis Pendekatan Multikultural

dan Perspektif Sejarah Lokal, Nasional, Global, Untuk Integrasi Bangsa.

Disertasi Doktor pada FPIPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan.

Winataputra, U. (2001). Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana

Sistemik Pendidikan Demokrasi.

Figur

gambaran bagaimana
gambaran bagaimana . View in document p.18
gambaran umum mengenai sekolah Taruna Bakti, penerapan penddidikan
Taruna Bakti penerapan penddidikan . View in document p.19
gambaran mengenai
gambaran mengenai . View in document p.30

Referensi

Memperbarui...