• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektivitas Batu Vulkanik dan Arang Sebagai Media Filter Pengolahan Air Limbah Laundry Dengan Menggunakan Sistem Pengolahan Constructed Wetland.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Efektivitas Batu Vulkanik dan Arang Sebagai Media Filter Pengolahan Air Limbah Laundry Dengan Menggunakan Sistem Pengolahan Constructed Wetland."

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS UDAYANA

EFEKTIVITAS BATU VULKANIK DAN ARANG SEBAGAI

MEDIA FILTER PENGOLAHAN AIR LIMBAH LAUNDRY

DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM PENGOLAHAN

CONSTRUCTED WETLAND

MADE PASEK ARYA SUWAHDENDI

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN

(2)

UNIVERSITAS UDAYANA

EFEKTIVITAS BATU VULKANIK DAN ARANG SEBAGAI

MEDIA FILTER PENGOLAHAN AIR LIMBAH LAUNDRY

DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM PENGOLAHAN

CONSTRUCTED WETLAND

MADE PASEK ARYA SUWAHDENDI

NIM. 1220025068

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

(3)

UNIVERSITAS UDAYANA

EFEKTIVITAS BATU VULKANIK DAN ARANG SEBAGAI

MEDIA FILTER PENGOLAHAN AIR LIMBAH LAUNDRY

DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM PENGOLAHAN

CONSTRUCTED WETLAND

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT

MADE PASEK ARYA SUWAHDENDI

NIM. 1220025068

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

(4)

iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah dipresentasikan dan diujikan di hadapan

Tim Penguji Skripsi

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Denpasar, 15 Juli 2016

Penguji I

Ir. I Nengah Sujaya, M. Agrs.Sc., PhD.

NIP. 19661231 199311 1 002

Penguji II

Made Ayu Hitapretiwi Suryadhi, S.Si., M.HSc.

(5)

v

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui dan diperiksa dihadapan

Tim Penguji Skripsi

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Denpasar, 15 Juli 2016

Pembimbing

I Gede Herry Purnama, S.T., M.T., M.IDEA.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan

Yang Maha Esa) karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan

skripsi yang berjudul “Uji Efektivitas Batu Vulkanik dan Arang sebagai Media Filter Pengolahan Air Limbah Laundry dengan Menggunakan Sistem Pengolahan Constructed Wetlandini tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua

pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini antara lain:

1. dr. I Md Ady Wirawan, MPH., PhD. selaku Ketua Program Studi Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang telah

memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun skripsi ini.

2. I Gede Herry Purnama, S.T., M.T., M.IDEA selaku Kepala Bagian Peminatan

Kesehatan Lingkungan serta selaku Pembimbing yang telah banyak

memberikan bimbingan, bantuan, serta masukan untuk penulis selama

penelitian dan dalam penyusunan skripsi ini.

3. I Made Susila dan Ni Luh Putu Wahyuni selaku orang tua penulis yang terus

memberikan dukungan dan semangat bagi penulis sehingga penulis bisa terus

berusaha untuk menyusun skripsi ini tepat pada waktunya.

4. Bapak Damanni selaku pemiliki Laundry CV Bali Kandi yang menjadi lokasi

penelitian yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian dan

banyak membantu dalam penyediaan data-data yang dibutuhkan dalam

(7)

vii

5. Bapak Supriyadi yang sudah banyak membantu penulis dalam proses

pembuatan sistem constructed wetland hingga sistem constructed wetland

dalam penelitian ini bisa beroperasi.

6. Seorang terkasih yang telah banyak memberikan dukungan selama proses

pembuatan skripsi dari awal hingga skripsi ini selesai.

7. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas

Kedokteran Universitas Udayana khususnya Vani, Siesie, Rama Kakek,

Denik, Darming dan rekan-rekan peminatan Kesehatan Lingkungan yang

telah banyak memberikan bantuan dan dukungan sehingga penulis bisa

menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum mencapai kesempurnaan. Oleh

karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi

kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat

bagi diri kami sendiri dan pihak lain yang menggunakannya.

Denpasar, 9 Juni 2016

(8)

viii

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA KESEHATAN LINGKUNGAN

Skripsi, 10 Juni 2016

Made Pasek Arya Suwahdendi

Efektivitas Batu Vulkanik dan Arang Sebagai Media Filter Pengolahan Air Limbah Laundry Dengan Menggunakan Sistem Pengolahan Constructed Wetland

ABSTRAK

Usaha laundry saat ini tumbuh dengan baik seiring dengan pesatnya perkembangan pariwisata dan perekonomian di Bali sehingga berpotensi untuk mencemari lingkungan khususnya perairan karena air limbah yang dihasilkan seringkali langsung dibuang ke badan air tanpa mengalami pengolahan terlebih dahulu. Salah satu sistem pengolahan limbah yang dapat digunakan pada usaha laundry khususnya yang ada di Bali adalah sistem pengolahan air limbah model constructed wetland.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pengolahan air limbah Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetland dalam mengolah air limbah kegiatan laundry yang diukur menggunakan dua parameter, yaitu; Total Fosfat dan Amonia. Media filter yang digunakan sistem constructed wetland dalam penelitian ini adalah batu vulkanik kintamani dan arang kayu, sedangkan tanaman yang digunakan adalah tanaman serai (Cymbopogon citratus).

Hasil penelitian menunjukkan efektivitas sistem penurunan Total Fosfat dan Amonia selama 5 minggu pada masing-masing reaktor, yaitu; reaktor 1 (50% batu vulkanik, 50% arang) sebesar 26,69%, reaktor 2 (75% batu vulkanik, 25% arang) sebesar 37,32%, reaktor 3 (25% batu vulkanik, 75% arang) sebesar 20,94%, reaktor 4 (kontrol 100% batu vulkanik) sebesar 26,91%, reaktor 5 (kontrol 100% arang) sebesar 55,17%.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, reaktor sistem constructed wetland yang digunakan dalam penelitian ini belum efektif dalam mengolah air limbah laundry dan apabila diterapkan pada laundry lainnya akan menghasilkan performa yang lebih rendah karena nilai parameter air limbah pada laundry lainnya dapat lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan laundry dalam penelitian ini.

(9)

ix SCHOOL OF PUBLIC HEALTH

MEDICAL FACULTY OF UDAYANA UNIVERSITY ENVIRONMENTAL HEALTH

Minor Thesis, June 10th, 2016 Made Pasek Arya Suwahdendi

Effectivity of Volcanic Rocks Kintamani and Charcoal for Laundry Wastewater Treatment Media Filter Using Constructed Wetland Model Treatment System

ABSTRACT

Laundry business is currently growing well along with the rapid development of tourism and economy in Bali so it has potential to pollute the environment, especially water due to wastewater which is often directly discharged into waterbody without prior management. One of the wastewater treatment system that can be used in the laundry business, especially in Bali, is a wastewater treatment system with constructed wetland models.

This study aims to determine the effectivity of the wastewater treatment model Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetland to treat wastewater activities laundry measured using two parameters, namely: Total Phosphate and Ammonia. The constructed wetland system in this study used kintamani volcanic rock and charcoal as filter media, lemongrass (Cymbopogon citratus) was used as wetland plants.

The result shows the effectivity system of the decreasing Total Phosphate and Ammonia for 5 weeks in each reactor, namely; 26.69% at reactor 1 (volcanic rocks 50%, charcoal 50%), 37.32 at reactor 2 (volcanic rocks 75%, charcoal 25%), 20.94% at reactor 3 (volcanic rocks 25%, charcoal 75%), 26.91% at reactor 4 (control volcanic rocks 100%), 55.17% at reactor 5 (control charcoal 100%).

Based on these results, we can conclude the Constructed Wetland reactor system that used in this study not effective to treating lundry wastewater, and when applied to other laundry will produce lower performance due to the parameter values of wastewater in other laundry can be significantly higher than the laundry that used in this research.

(10)

x

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

1.6. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1. Air Limbah Laundry ... 7

2.1.1. Kandungan Deterjen dalam Limbah Laundry ... 8

(11)

xi

2.2. Parameter Total Fosfat ... 11

2.3. Parameter Amonia ... 12

2.4. Parameter pH ... 13

2.5. Constructed Wetlands ... 14

2.5.1. Surface Flow Constructed Wetland (SFCW) ... 16

2.5.2. Subsurface Flow Constructed Wetland (SSFCW) ... 17

2.6. Batu Vulkanik ... 20

2.7. Arang ... 22

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 24

3.1. Kerangka Konsep ... 24

3.2. Hipotesis Studi... 25

3.3. Variabel dan Definisi Operasional ... 26

BAB IV METODE PENELITIAN ... 30

4.1. Tahapan Penelitian ... 30

4.2. Desain Penelitian ... 31

4.3. Kerangka Dasar Pengembangan Model ... 31

4.4. Langkah-langkah Kegiatan ... 34

4.4.1. Persiapan Penelitian ... 34

4.4.2. Pembuatan Reaktor Constructed Wetland ... 35

4.4.3. Teknik Pengambilan Sampel Air Limbah dan Uji Sampel Tahap I 36 4.4.4. Pengolahan Air Limbah Laundry ... 37

4.4.5. Uji Sampel Tahap II (Setelah Pengolahan) ... 38

4.4.6. Metode Analisis Laboratorium ... 38

4.5. Pengumpulan Data... 39

4.5.1. Data Primer ... 39

(12)

xii

4.6. Teknik Analisis Data ... 39

4.6.1. Pengolahan Data... 39

4.6.2. Analisis Data ... 40

BAB V HASIL PENELITIAN... 42

5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 42

5.2. Gambaran Reaktor Sistem Constructed Wetland Selama Penelitian ... 44

5.3. Hasil Penelitian ... 47

5.3.1. Kualitas Air Limbah Laundry Sebelum Pengolahan ... 47

5.3.2. Kualitas Air Limbah Laundry Setelah Pengolahan ... 48

BAB VI PEMBAHASAN ... 56

6.1. Kondisi Awal Air Limbah Laundry CV Bali Kandi ... 56

6.2. Kinerja Reaktor Constructed Wetland... 59

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 64

7.1. Simpulan ... 64

7.2. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 66

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Karakteristik Limbah Laundry ... 11

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel ... 26

Tabel 5.1 Daftar Produk yang digunakan Laundry CV Bali Kandi ... 44

Tabel 5.2 Nilai Parameter Air Limbah Laundry Sebelum Pengolahan ... 47

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Surface Flow Constructed Wetland (SFCW) (1) dan Subsurface Flow

Constructed Wetland (SSFCW) (2) ... 16

Gambar 2.2 Horizontal Flow Subsurface Flow Constructed Wetland ... 18

Gambar 2.3 Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetland ... 20

Gambar 3.1 Kerangka Konsep ... 24

Gambar 4.1 Tahapan PenelitianAir Limbah Influent ... 30

Gambar 4.2 Desain Reaktor Pengolahan Air Limbah Model Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetlands; Reaktor 1 (1), Reaktor 2 (2), Reaktor 3 (3), Reaktor 4 (4), dan Reaktor 5 (5) ... 33

Gambar 4.3 Desain Sistem Pengolahan Air Limbah Model Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetlands ... 33

Gambar 4.4 Tanaman Serai (Cymbopogon Citratus) ... 34

Gambar 5.1 Reaktor VFSFCW saat Penelitian ... 46

Gambar 5.2 Pertumbuhan Tunas Baru Pada Reaktor 3 Pengulangan 2 ... 46

Gambar 5.3 Nilai Parameter Total Fosfat Sebelum dan Sesudah Pengolahan pada Reaktor Sistem VFSFCW ... 52

Gambar 5.4 Nilai Parameter Amonia Sebelum dan Sesudah Pengolahan pada Reaktor Sistem VFSFCW ... 53

(15)

xv

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH

ABS : Alkyl Benzene Sulfonates

BOD : Biochemical Oxygen Demand

CAPB : Cocamidopropyl Betaine

CDEA : Coconut Diethanolamide

COD : Chemical Oxygen Demand

CW : Constructed Wetlands

DO : Dissolved Oxygen

HFSFCW : Horizontal Flow Subsurface Flow Constructed Wetlands

HLR : Hydraulic Loading Rate

L : Liter

LAS : Linear Alkyl Benzene Sulfonates

SLES : Sodium Laureth Sulfate

STPP : Sodium Tripolifosfat

SFCW : Surface Flow Constructed Wetlands

SSFCW : Subsurface Flow Con6structed Wetlands

VFSFCW : Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetlands

cm : sentimeter

mg : miligram

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Penelitian

Lampiran 2. Metode Pengujian Total Fosfat

Lampiran 3. Metode Pengujian Amonia

Lampiran 4. Metode Pengujian pH

Lampiran 5. Hasil Uji Laboratorium

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masalah pencemaran lingkungan merupakan masalah yang dapat menyebabkan

terjadinya gangguan terhadap kesehatan masyarakat (Sumantri, 2015). Salah satu

penyebab pencemaran lingkungan yaitu akibat pembuangan air limbah secara

langsung ke lingkungan. Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan

domestik (rumah tangga) maupun industri ke badan air dapat menyebabkan

pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu air

limbah (Sari, 2009).

Laundry merupakan salah satu usaha yang berkembang seiring dengan

peningkatan aktivitas masyarakat saat ini. Usaha laundry saat ini sudah mulai

marakdikarenakan oleh kebutuhan masyarakat untuk mencuci tanpa mengeluarkan

banyak tenaga dan tidak mengganggu aktivitas kerja mereka sehari-hari, sehingga

membuat masyarakat lebih memilih menitipkan cucian mereka kepada penyedia jasa

laundry. Selain itu, kehadiran usaha laundry memberikan manfaat yang cukup besar

dalam perekonomian karena dapat mengurangi pengangguran serta meningkatkan

taraf hidup manusia (Pratiwi, 2012).

Di Bali usaha laundry hingga saat ini belum terdata secara pasti jumlahnya,

namun perkembangan usaha laundry mencapai setiap daerah perkotaan maupun

(18)

2

sebagai salah satu kabupaten dengan perkembangan pariwisata dan perekonomian

yang pesat di Bali, menyebabkan berbagai industri dapat tumbuh dengan baik begitu

juga dengan industri yang bergerak dibidang jasa seperti usaha laundry. Banyaknya

usaha laundry tersebut berpotensi untuk mencemari lingkungan khususnya perairan

karena air limbah yang dihasilkan dari sisa proses laundry seringkali langsung dibuang

ke badan air tanpa mengalami pengolahan terlebih dahulu (Utami, 2013).

Dalam proses kerja, usaha laundry menggunakan deterjen sebagai bahan utama

untuk kegiatan mencuci. Menurut Sugiharto (1987), unsur inti dari limbah laundry

adalah deterjen yang mengandung senyawa surfaktan dan fosfat yang berfungsi

mengikat daya cuci. Limbah laundry yang mengandung deterjen berpotensi

mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan lingkungan sekitarnya karena

limbah tersebut memiliki konsentrasi fosfat, surfaktan, amonia dan nitrogen serta

kadar padatan terlarut, kekeruhan, BOD dan COD yang tinggi, hal ini akan berdampak

pada penurunan LC50 yang berarti limbah tersebut berifat toksik bagi lingkungan dan

biota yang ada didalamnya (Ahmad, et al dalam Rakhmawati, et al, 2012; Esmeralda,

et al, 2012).

Pada tiap usaha laundry dapat menghasilkan limbah cair yang memiliki

konsentrasi nilai parameter Total Fosfat sebesar 18,07-19,86 mg/l (Uliantoro, et al,

2010). Tingginya kandungan fosfat dalam limbah laundry tersebut serta dibuang tanpa

diolah terlebih dahulu, berperan dalam terjadinya eutrofikasi dimana badan air menjadi

kaya akan nutrien terlarut, menyebabkan alga boom serta dapat menurunkan

kandungan oksigen terlarut sehingga akan mengakibatkan kematian terhadap biota air

(EPA dalam Wardhana, 2009; Tectona, 2011). Untuk meminimalisir dampak tersebut

perlu dilakukan upaya pengolahan air limbah usaha laundry secara efektif dan efisien

(19)

3

Salah satu sistem pengolahan limbah yang dapat digunakan pada usaha laundry

khususnya yang ada di Bali adalah instalasi pengolahan air limbah dengan

menggunakan metode constructed wetland. Haberl dan Langergraber (2002) dalam

Suprihatin (2014), menyatakan bahwa berdasarkan pendekatan teknis maupun

efektivitas biaya sistem constructed wetland dalam pembangunan, operasional dan

pemeliharaannya seringkali lebih murah dibandingkan dengan sistem pengolahan

limbah yang lainnya. Sistem constructed wetlands mampu mengolah air limbah

dengan berbagai perbedaan jenis polutan maupun konsentrasinya sehingga

memungkinkan untuk pelaksanaan reuse dan recycling air limbah (Suprihatin, 2014).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Zurita, et al (2006), efektivitas pengolahan air

limbah dengan metode constructed wetlands mampu menurunkan konsentrasi nilai

parameter BOD lebih dari 70%, COD lebih dari 75% dan fosfor lebih dari 66% pada

penelitian yang dilakukan.

Constructed wetlands dapat menggunakan media lokal yang mudah dan murah

untuk didapatkan seperti batu vulkanik dan arang sebagai adsorben arang aktif untuk

media filter. Berdasarkan penelitian menggunakan media filter Batu Vulkanik

Kintamani yang dilakukan oleh Padmanabha (2015), persentase efektivitas penurunan

nilai parameter total fosfat pada air limbah laundry mencapai 57,53%. Sedangkan pada

penelitian Maretha N (2012) yang menggunakan kombinasi arang aktif dapat

menurunkan nilai fosfat pada air limbah laundry sebesar 51,13%.

Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa media batu vulkanik dan

arang efektif menurunkan konsentrasi fosfat pada air limbah laundry. Namun sampai

saat ini belum ada yang melakukan penelitian khususnya di Bali terhadap efektvitas

(20)

4

pengolahan air limbah laundry, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan uji tersebut

untuk menambah alternatif dalam pengolahan air limbah.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diketahui perumusan masalah

dalam penelitian ini adalah maraknya usaha laundry akan berdampak pada

peningkatan beban pencemaran air serta pengolahan air limbah dari kegiatan laundry

yang ada di Bali khususnya di Kabupaten Badung sebagian besar belum terlaksana

optimal, oleh karena itu dalam penelitian ini diketahui bagaimanakah efektivitas

pengolahan air limbah constructed wetlands yang memanfaatkan media lokal yang

murah dan mudah untuk didapatkan seperti batu vulkanik dan arang sebagai media

filterdalam mengolah air limbah laundry berdasarkan penurunan nilai parameter Total

Fosfat, Amonia dan pH.

1.3. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana kualitas air limbah yang dihasilkan kegiatan laundry sebelum

pengolahan berdasarkan nilai parameter Total Fosfat, Amonia dan pH?

2. Berapakah nilai parameter Total Fosfat, Amonia dan pH pada air limbah

laundry setelah diolah dengan menggunakan sistem Constructed Wetlands

yang menggunakan media filter batu vulkanik dan arang?

3. Berapakah persentase efektivitas dari model Constructed Wetlands dengan

menggunakan media filter batu vulkanik dan arang dalam pengolahan air

limbah laundry berdasarkan penurunan nilai parameter Total Fosfat dan

(21)

5

1.4. Tujuan Penelitian 1.4.1.Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas model pengolahan air

limbah constructed wetlands menggunakan media filter batu vulkanik dan arang dalam

pengolahan air limbah kegiatan laundry di Kabupaten Badung.

1.4.2.Tujuan Khusus

1. Mengetahui nilai Total Fosfat, Amonia dan pH yang terdapat pada air

limbah kegiatan laundry.

2. Mengetahui nilai parameter Total Fosfat, Amonia dan pH pada air limbah

laundry setelah diolah dengan sistem constructed wetlands menggunakan

media filter batu vulkanik dan arang.

3. Mengetahui persentase efektivitas dari model constructed wetland dengan

menggunakan media filter batu vulkanik dan arang dalam pengolahan air

limbah laundry berdasarkan besar penurunan nilai parameter Total Fosfat

dan Amonia sebelum dan sesudah dilakukan pengolahan terhadap air

limbah laundry.

1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1.Manfaat Teoritis

1. Dapat digunakan sebagai tambahan alternatif sistem pengolahan air limbah

laundry, terutama penerapan media batu vulkanik dan arang sebagai media

filter pengolahan air limbah laundry.

2. Dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian terkait tentang

(22)

6

1.5.2.Manfaat Praktis

1. Dapat membantu sebagai bahan masukan kepada pihak-pihak terkait yang

ingin membangun instalasi pengolahan air limbah laundry dan limbah cair

dari jenis kegiatan lainnya dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

2. Membantu mengurangi beban pencemaran lingkungan yang disebabkan

oleh air limbah laundry sehingga dapat menjadi alternatif pemecahan

masalah kesehatan lingkungan.

1.6. Ruang Lingkup Penelitian

1. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan 3 (tiga) kali

pengulangan yang dilakukan secara langsung di salah satu usaha laundry di

Kabupaten Badung.

2. Air limbah yang digunakan dalam penelitian ini adalah air limbah laundry

yang dihasilkan salah satu usaha laundry di Kabupaten Badung.

3. Parameter kualitas air limbah laundry yang dipantau dalam penelitian ini

adalah Total Fosfat, Amonia dan pH.

4. Sistem Constructed Wetland yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetland atau sistem lahan

basah buatan dengan tipe aliran bawah permukaan secara vertikal.

5. Batu vulkanik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Batu Vulkanik

Kintamani.

6. Jenis arang yang digunakan dalam penelitian ini adalah arang kayu.

7. Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman serai

(23)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Air Limbah Laundry

Pengertian air limbah menurut Ehless dan Steel, sebagaimana dikutip Chandra

(2007) adalah cairan buangan dari rumah tangga, industri dan tempat-tempat umum

lain yang mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan

kehidupan manusia dan makhluk lainnya serta mengganggu kelestarian lingkungan

(Sumantri, 2015). Air limbah memiliki karakteristik secara fisika, kimia, dan biologi.

Secara fisik, air limbah memiliki karakteristik yang diamati suhu, warna, bau dan

kekeruhan. Karakteristik air limbah secara kimia yaitu terdapat berbagai macam

kandungan dalam air limbah seperti bahan-bahan organik dan anorganik. Kandungan

tersebut mencakup pH, BOD, COD dan bahan kimia berbahaya seperti fosfor,

nitrogen, dan klorida. Pada karakteristik biologi umumnya terkandung berbagai

macam organisme seperti bakteri, jamus, dan organisme air sejenis (Sperling, 2007).

Berdasarkan sumber penghasilnya, air limbah dibagi menjadi dua jenis yaitu air

limbah industri dan air limbah domestik (Helmer dan Hespanhol, 1997). Air limbah

domestik menurut Suyasa (2015) adalah air hasil buangan dari perumahan, bangunan,

perdagangan, perkantoran dan sarana sejenisnya. Air limbah domestik

dikarakteristikan sebagai grey water dan black water. Grey water adalah limbah

(24)

8

Sedangkan black water adalah air limbah yang dikelurkan melalui toilet, urinoir dan

bidets (Cahyadi, 2008).

Air limbah laundry berasal dari sisa proses kegiatan mencuci pakaian. Maka dari

itu, air limbah tersebutdapat digolongkan ke dalam kategori grey water. Menurut

Tjandraatmadja dan Diaper (2006), pengaruh perubahan kualitas grey water selama 10

tahun terakhir ini adalah berubahnya formula pada produk laundry seperti deterjen,

softener, pemutih, dan jenis produk laundry lainnya.

2.1.1.Kandungan Deterjen dalam Limbah Laundry

Air limbah Laundry umumnya mengandung deterjen karena dalam aktvitas

laundry selalu menggunakan deterjen dalam proses kegiatannya. Secara umum

komponen penyusun deterjen adalah surfaktan, builders, bleaching agent dan bahan

aditif (Smulders dalam Hudori, 2008). Surfaktan berfungsi untuk mengangkat kotoran

pada pakaian baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air. Surfaktan

dalam deterjen dikelompokan menjadi empat kelompok yaitu; anionik, nonionik,

kationik, dan zwitterionik (Yu, et al, 2008).

Jenis surfaktan anionik merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam

kegiatan laundry dikarenakan biaya pembuatannya yang mudah dan murah. Surfaktan

jenis ini merupakan produk terbesar hingga saat ini. Dalam kelompok surfaktan ini,

jenis yang umum adalah Alkyl Benzene Sulfonates (ABS), Linear Alkyl Benzene

Sulfonates (LAS) dan jenis lainnya (Yu, et al, 2008). Pada awalnya surfaktan jenis

Alkyl Benzene Sulfonates (ABS) yang digunakan dalam komposisi deterjen. ABS

dikenal sebagai hard detergent karena sifatnya yang tahan penguraian biologis. Oleh

karena itu ABS dikenal sebagai senyawa pencemar yang toksik terhadap biota air

(25)

9

Sulfonates (LAS), sebagai surfaktan LAS dapat menurunkan tegangan permukaan dan

mengemulsi lemak sehingga sebagai dimanfaatkan sebagai pelarut lemak dan

denaturasi protein. Jenis surfaktan lainnya juga digunakan sebagai pembersih pakaian

seperti Nonylphenol dan Sodium Lauryl Ether Sulphate dari kelompok surfaktan

nonionik (Hudori, 2008; Yu, et al, 2008).

Setelah surfaktan, kandungan lain yang penting adalah builder yang berguna

untuk meningkatkan efisiensi surfaktan. Builder digunakan untuk melunakkan air

sadah dengan cara meengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat

berfungsi dengan lebih baik. Selain itu, builder juga dapat membantu menciptakan

kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung dengan lebih

baik serta membantu mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Senyawa kompleks

yang sering digunakan dalam builder adalah natrium sitrat, natrium karbonat, natrium

silikat, flourescent dan fosfat (Hudori, 2008). Dalam deterjen umumnya jenis builder

yang digunakan adalah builder dalam bentuk Sodium Tripolifosfat (STPP)

(Tjandraatmadja dan Diaper, 2006). STPP dalam deterjen bereaksi dengan ion

magnesium dan ion kalsium yang terdapat dalam air dengan tujuan untuk mengurangi

keberadaan ion magnesium dan ion kalsium bebas dalam air yang dapat mengurangi

efektivitas surfaktan. Reaksi antara STPP dan ion-ion tersebut membentuk padatan dan

senyawa lain yang mengandung fosfat. Senyawa fosfat tersebut digunakan untuk

mencegah kembalinya kotoran menempel pada bahan yang sedang dicuci. Kesadahan

air yang digunakan untuk mencuci akan mempengaruhi penggunaan terhadap deterjen

karena tingkat kesadahan air dipenguhi oleh kandungan ion magnesium dan ion

kalsium dalam air. Padatan yang terbentuk akibat pengikatan ion magnesium dan ion

kalsium oleh builder akan lebih tinggi bila air yang digunakan untuk mencuci tersebut

(26)

10

terbentuk oleh builder akan lebih rendah bila air yang digunakan memiliki tingkat

kesadahan yang rendah (Kohler, 2006; Hudori, 2008;Yu, et al, 2008).

Kandungan softener dan pemutih yang terkandung dalam deterjen bertujuan

untuk melengkapi dan memaksimalkan pembersihan dan perawatan pada serat

pakaian. Softener dan pemutih tersebut mengandung bahan-bahan berupa senyawa

berbasis sodium. Keunggulan dari sodium adalah kemampuan sodium sebagai pelarut

partikel-partikel dalam air, namun sodium sulit dipisahkan dari air kecuali

menggunakan metode pembalikan osmosis. Kandungan sodium akan mempengaruhi

kadar garam dalam air (salinitas) dan akan berdampak pada penurunan kualitas air

apabila langsung dibuang ke perairan (Patterson, 2000).

2.1.2.Karakteristik Limbah Laundry

Air limbah yang dihasilkan dari proses kegiatan laundry mempunyai komposisi

dan kandungan yang bervariasi. Hal ini disebabkan variasi kandungan kotoran pada

bahan yang akan dicuci, komposisi, jenis dan jumlah deterjen yang digunakan serta

teknologi yang dipakai untuk mencuci (Hudori, 2008).

Karakteristik dari air limbah laundry yang diperoleh dari penelitian Hudori

(27)

11

Tabel 2.1 Karakteristik Limbah Laundry

Parameter Nilai Satuan

Hudori (2008) Padmanabha (2015)

Suhu 23,6 – 26,0 - ⁰C

Sumber : Hudori (2008); Padmanabha (2015)

Tingginya nilai parameter pada air limbah laundry tentunya akan menyebabkan

pencemaran lingkungan terutama pencemaran badan air. Kualitas air limbah laundry

tersebut tidak sesuai dengan baku mutu baku mutu yang tercantum dalam peraturan

yang sudah ditetapkan oleh pemerintah yaitu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup

Nomor 5 Tahun 2015 tentang Baku Mutu Air Limbah dan Peraturan Gubernur Bali

Nomor 8 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku

Kerusakan Lingkungan Hidup.

2.2. Parameter Total Fosfat

Total fosfat merupakan parameter yang mengukur keseluruhan fosfat dalam air.

Fosfat merupakan senyawa yang tersusun atas unsur P (Fosfor) dan O (Oksigen).

Menurut Suyasa (2015) bentuk utama dari fosfat dalam air alam atau air limbah adalah

fosfor organik, orthofosfat dan polifosfat. Fosfor organis biasanya terdapat pada air

(28)

12

orthofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke sungai melalui saluran drainase

dan aliran hujan. Orthofosfat juga dapat menjadi senyawa fosfor organis melalui

proses biologis oleh bakteri maupun tanaman. Sedangkan polifosfat berasal dari air

buangan permukiman maupun industri yang menggunakan bahan deterjen yang

mengandung fosfat seperti yang berasal dari industri pencucian, logam dan sebagainya

(Suyasa, 2015).

Kadar fosfor yang diperkenankan bagi kepentingan air minum adalah 0,2 mg/L

sedangkan untuk perairan alami berkisar antara 0,005-0,02 mg/L (Suyasa, 2015).

Fosfor merupakan bahan yang menjadi nutrient bagi mikroorganisme dalam

menyeimbangkan bahan organik dalam air serta menjadi nutrisi bagi pertumbuhan

tanaman air. Jumlah kandungan fosfor yang berlebih dalam perairan dapat

menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang tidak terkendali serta menyebabkan

eutrofikasi. Pada keadaan eutrofikasi tanaman air dapat menghabiskan oksigen dalam

air pada malam hari dan pada siang hari pancaran sinar matahari ke dalam air akan

berkurang akibat terhalangnya sinar matahari oleh tanaman untuk masuk ke dalam air,

sehingga proses fotosintesis berkurang dan oksigen yang terlarut dalam air juga

berkurang (Carty, et al, 1997; Sperling, 2007; Yunarsih, 2013). Bila kadar fosfat pada

air alam sangat rendah (<0,01 mg/L), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan

terhalang, keadaan ini dinamakan oligotrofik (Allaerts dalam Suyasa, 2013).

2.3. Parameter Amonia

Amonia merupakan senyawa yang terdiri atas unsur nitrogen dan hidrogen serta

dikenal memiliki bau menyengat yang khas. Amonia (NH3) dapat terbentuk sebagai

hasil penguraian/pembusukan protein yang terdapat dalam limbah atau sampah

(29)

13

(NH3) menimbulkan bau yang tidak normal dalam air dan jika terhirup dalam

pernafasan oleh manusia dapat berakibat mengganggu kesehatan. Gas amonia yang

menimbulkan bau menyengat dan bersifat racun dapat ditemukan pada pH tinggi

(basa) sedangkan pada pH rendah (asam) akan terbentuk ion NH4+ (Wahyuni, 2014;

Sari, 2013).

Konsentrasi amonia dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan suhu. Pada

musim panas saat suhu meningkat, konstentrasi amonia di perairan sangat rendah,

disebabkan oleh aktivitas bakteri pada suhu ini meningkat sehingga proses nitrifikasi

dan nitrafikasi berlangsung dengan baik. Sedangkan pada musim hujan saat suhu

lingkungan rendah, menyebabkan pertumbuhan bakteri menurun sehingga proses

nitrifikasi berjalan lambat menyebabkan konsentrasi amonia meningkat (Titiresmi,

2006). Tingginya kadar amonia berkontribusi terhadap terjadinya proses eutrofikasi,

sehingga menghalangi penetrasi sinar matahari ke dalam perairan dan mengganggu

proses fotosintesis. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen

terlarut pada air. Jika kadar oksigen terlarut dalam perairan menurun, maka dapat

menyebabkan proses respirasi biota akan terganggu bahkan menyebabkan kematian

(Widiyanto dalam Wahyuni, 2014). Berdasarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 16

Tahun 2016 tentang Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan

Lingkungan Hidup, standar baku mutu parameter Amonia untuk air limbah adalah 5

mg/L.

2.4. Parameter pH

pH atau derajat keasaman digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau

kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Yang dimaksudkan "keasaman" di sini

(30)

14

Pahlewi, 2012). Air akan mengalami sifat basa atau asam tergantung dengan besar

kecilnya nil pH. Bila nilai pH pada air diatas pH normal (niilai pH diatas 7,5) maka air

tersebut akan bersifat basa, sedangkan air yang mempunyai nilai pH dibawah pH

normal (nilai pH diatas 6,5) maka air tersebut bersifat asam (Sumantri, 2015).

Sebagaian besar biota air sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH

diantara nilai pH 7 sampai 8,5. Pada nilai pH yang kurang dari 4 sebagian akan

menyebabkan kematian pada biota air akibat ketidakmampuan beradaptasi dengan

nilai pH yang rendah yang berarti air bersifat sangat asam. Selain itu, pH juga dapat

berpengaruh pada peningkatan toksisitas pada suatu zat. Amonium yang sifatnya

non-toksik pada pH rendah akan menjadi non-toksik pada pH yang tinggi akibat tidak terionisasi

dalam air dengan pH yang tinggi (Sumantri, 2015; Carty, et al, 1997; Effendi, 2003).

Berdasarkan baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 16

Tahun 2016 tentang Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan

Lingkungan Hidup, standar baku mutu parameter pH untuk air limbah adalah 6-9.

2.5. Constructed Wetlands

Constructed Wetland (CW) adalah sistem yang dirancang dan dibangun dengan

memanfaatkan proses alamiah yang melibatkan tanaman, tanah, dan kumpulan

mikroba yang terkait untuk membantu dalam proses pengolahan air limbah (Vymazal,

2010). CW merupakan salah satu instalasi pengolahan air limbah yang memiliki

keuntungan dari segi biaya yang lebih murah, perawatan yang lebih mudah,

keberlanjutan instalasi mampu hingga 15 tahun, serta dapat memudahkan dalam

penentuan lokasi instalasi (Cattin, 2012).

Pada proses pembuatan dan fungsinya CW hampir menyerupai lahan basah

(31)

15

merupakan teknologi pengolahan air limbah secara biologis yang dirancang untuk

meniru proses yang ditemukan diekosistem lahan basah alami. Kualitas air limbah

yang keluar dari sistem ini dapat dikontrol/diatur sesuai dengan yang dikehendaki oleh

pembuatnya, karena sistem pengolahan ini direncanakan untuk suatu tujuan

pengolahan limbah, perencanaan meliputi debit limbah, beban organik, kedalaman

media, jenis tanaman, dan lain-lain, sehingga (Supradata, 2005). Dalam sistem

Wetlands terdapat proses pengolahan limbah yang terintegrasi antara proses

pengolahan limbah dengan filtrasi, sedimentasi serta degradasi secara biologi untuk

memisahkan berbagai polutan yang ada dalam air limbah (Moshiri, et al, 1993; Gauss,

et al, 2008).

Pada CW tanaman air dan makrophyta berperan sebagai penyedia oksigen dan

karbon untuk mengubah senyawa amonia dalam air limbah menjadi senyawa nitrit

(nitrifikasi) melalui reaksi oksidasi. Tanaman air dan makrophyta juga melakukan

penyerapan nutrisi serta polutan terlarut kemudian digunakan untuk proses biologis

tanaman dan disimpan pada bagian-bagian tertentu pada makrophyta (Cattin, 2012).

Media filter yang digunakan dalam CW juga menentukan hasil pengolahan air limbah.

Peran media filter dalam CW adalah sebagai penyimpan berbagai bahan yang

terkandung pada air limbah kemudian ditransformasi secara kimia dan biologi menjadi

bahan yang tidak bersifat polutan serta sebagai nutrisi bagi keberlansungan tanaman

air dan mikroorganisme yang ada dalam sistem CW (DuPoldt, et al, 1998; Cattin,

2012).

Batu Vulkanik merupakan salah satu media filter yang dapat digunakan dalam

sistem CW. Batu vulkanik memiliki pori-pori batuan yang banyak sehingga dapat

(32)

16

1 2

Gambar 2.1 Surface Flow Constructed Wetland (SFCW) (1) dan Subsurface Flow Constructed Wetland (SSFCW) (2)

Kandungan senyawa aluminium dalam bentuk alumina (Fe2O3) dan silica dalam batu

vulkanik juga merupakan senyawa yang mampu menyerap fosfor dan memisahkannya

dari air limbah dalam jumlah yang besar (Ballantine and Tanner, 2011). Jenis batu lain

juga dapat digunakan sebagai media filter dalam sistem CW adalah batu kapur, batuan

sungai, dan jenis batuan lainnya sesuai dengan kondisi geografis pada masing-masing

lokasi instalasi. Penggunaan media filter dalam sistem CW harus dalam keadaan bersih

sehingga tidak menggangu proses pengolahan yang dilakukan (Cattin, 2012).

Constructed Wetlands (CW) umumnya dibagi dalam dua jenis berdasarkan

format alirannya, yaitu Sistem Aliran Permukaan atau Free Water System (FWS) yang

sering disebut Surface Flow Constructed Wetland (SFCW) dan Sistem Aliran Bawah

Permukaan atau Subsurface Flow Constructed Wetland (SSFCW) (Leady dalam

Supradata, 2005).

Sumber : USDA (1995) dalam Halverson (2004)

2.5.1.Surface Flow Constructed Wetland (SFCW)

SFCW memiliki konsep pembuatan yang hampir sama dengan wetlandsa lami.

SFCW umumnya menggunakan tanah pada bagian bawah, tanaman muncul di

(33)

17

air limbah pada sistem SFCW mengalir diatas permukaan air secara horizontal. Pada

SFCW menggunakan luas tertentu dengan komposisi tanah, air, serta berbagai jenis

tanaman air dan makrophyta dengan berbagai sifatnya di dalam air baik itu jenis

tanaman air yang mengapung, tidak muncul ke atas permukaan air, maupun yang

muncul ke atas permukaan air (Gauss, et al, 2008; Cattin, 2012). Menurut Vymazal

(2010), FWS atau bisa disebut dengan SFCW efisien dalam menghilangkan senyawa

organik melalui degradasi mikroba dan pengendapan partikel koloid. Padatan

tersuspensi secara efektif dihilangkan melalui pengendapan dan penyaringan melalui

vegetasi yang lebat (Vymazal, 2010).

2.5.2.Subsurface Flow Constructed Wetland (SSFCW)

SSFCW umumnya dibangun dengan bahan yang berpori (misalnya tanah, pasir,

atau krikil) sebagai substratnya. Aliran air limbah pada sistem ini mengalir dibawah

permukaan air dan masuk melalui substrat secara horizontal maupun vertikal.

Berdasarkan sistem aliran dasar SSFCW dapat dibedakan menjadi dua,

yaituHorizontal Flow Subsurface Flow Constructed Wetland (HFSFCW) dan Vertical

Subsurface Flow Constructed Wetland (VFSFCW) (Halverson, 2004).

2.5.2.1. Horizontal Flow Subsurface Flow Constructed Wetland (HFSFCW) Teknologi instalasi pengolahan air limbah dengan HFSFCW pertama kali diteliti

di Jerman pada tahun 1960. Konstruksi pada instalasi ini terdiri dari cekungan dangkal

yang dipenuhi dengan pasir kasar atau kerikil sebagai media filternya. Tanaman yang

digunakan dalam instalasi ini adalah tanaman yang muncul diatas permukaan dan tidak

memungkinkan untuk menggunakan tanaman yang mengapung maupun tanaman yang

(34)

18

Gambar 2.2 Horizontal Flow Subsurface Flow Constructed Wetland

instalasi ini adalah untuk penyediaan substrat (akar) untuk pertumbuhan bakteri yang

menempel dan menyerap unsur hara. HFSFCW memiliki aliran yang sama dengan

SFCW yaitu mengalir secara horizontal namun melalui bagian bawah permukaan air.

Pada instalasi ini air limbah akan masuk melalui inlet kemudian melalui media filter

pada bawah permukaan secara horizontal kemudian akan keluar melalui saluran outlet

dan air limbah setelah dilakukan pengolahan akan dikumpulkan atau dibung

(Vymazal, 2010).

Berdasarkan hasil penelitian Vymazal (2014) yang menerapkan HFSFCW

sebagai instalasi pengolahan air limbah domestik, efisiensi penurunan nilai parameter

COD sebesar 87%, BOD sebesar 96% dan TSS sebesar 93%. Sedangkan, pada

penelitian Albuquerque, et al(2009) memiliki efisiensi penurunan nilai parameter

Amonia sebesar >62% dan nitrat sebesar 90-100%.

(35)

19

2.5.2.2. Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetland (VFSFCW)

VFSFCW dikembangkan sebagai alternatif dari instalasi HFSFCW. Konstruksi

instalasi ini sama dengan konstruksi yang digunakan dalam HFSFCW. VFSFCW dan

HFSFCW juga memiliki pengaruh yang sama dalam fungsi menghilangkan

kontaminan namun terdapat perbedaan pada sistem alirannya. Intsalasi ini memiliki

sistem aliran dibawah permukaan air secara vertikal melalui media filter (Halverson,

2004; Gauss,et al, 2008). Namun, pada instalasi ini penyebaran air tidak berlangsung

secara cepat bila dibandingkan dengan HFSFCW (Vymazal, 2010).

Jenis tanaman air yang digunakan dalam instalasiini sama dengan jenis tanaman

yang digunakan pada instalasi HFSFCW. Fungsi tanaman dalam instalasi ini sebagai

pendukung proses penyerapan air limbah. Pada instalasi ini biasanya menggunakan

pasir, bebatuan ataupun kerikil sebagai media filter. Pada lapisan filter, terjadi proses

pengolahan air limbah serta adanya penambahan hidrolik yang berselang-seling

sehingga lapisan filter terisi dengan air yang meningkatkan proses nitrifikasi. Menurut

Vymazal (2010), VFSFCW sangat efektif dalam menghilangkan kontaminan organik

dan padatan tersuspensi (Gauss, et al, 2008; Vymazal, 2010). Berdesarkan penelitian

Pillai (2012) yang menggunakan tanaman serai (Cymbopogon flexuosus) dalam

pengolahan air limbah domestik menggunakan instalasi VFSFCW, dapat menurunkan

kekeruhan sebesar 76%, COD sebesar 73%, BOD sebesar 80%, fosfat sebesar 41%

(36)

20

Gambar 2.3 Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetland

Sumber : Gauss, et al (2008)

2.6. Batu Vulkanik

Batu vulkanik merupakan jenis batuan yang berasal dari magma atau lava yang

mengalami pendinginan dan pengerasan di permukaan bumi. Pembekuan yang sangat

cepat dan membentuk berbagai jenis kristalisasi batuan, namun kristal pada batu

vulkanik sangat kecil dan hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop (Gillaspy,

2014). Batu vulkanik memiliki kandungan unsur oksida silika (SiO2), oksida alumina

(Al2O3), danbesi oksida (Fe2O3) yang cukup tinggi. Batu vulkanik mengandung sekitar

53% silika dan 18% alumina dalam kondisi yangbersifat reaktif (Basari, 2012).

Beberapa jenis batu vulkanik yang berasal dari pembekuan lava antara lain, Batu

Rhiolit, Batu Dasit, Batu Andesit, dan Batu Basalt (McBirney, 2007).

Batu rhiolit merupakan batuan dengan dominasi kandungan Silikon dioksida

(73%) dan alumina (14,0%) (McBirney, 2007). Permukaan Batu Rhiolit umumnya

(37)

21

umumnya mengandung senyawa besi dan magnesium yang kurang dalam batuan (Gill.

2010).

Batu Dasit merupakan jenis batuan dengan dominasi kandungan mineral yang

sama dengan Batu Rhiolit yaitu silika dioksida (69,2%) dan alumina (15,2%.) Tekstur

batu Dasit kasar namun tersusun atas partikel-partikel halus (Fine-grained) dengan

sifat warna terang dengan kandungan mineral pemberi warna yang hampir sama

dengan Batu Rhiolik (McBirney, 2007; Gillaspy, 2010).

Batu Andesit merupakan jenis batuan dengan dominasi warna abu-abu

dikarenakan mineral pemberi warna dalam Batu Andesit yaitu mineral pemberi warna

terang dan mineral pemberi warna gelap berada pada komposisi yang mendekati

keseimbangan. Struktur Batu Andesit Halus dengan titik-titik hitam atau 31 putih yang

terbentuk karena persebaran mineral-mineral di dalam batu. Kandungan Silika

dioksida dalam batu Andesit sebesar 60%, sedangkan kandungan alumina dalam Batu

Andesit Sebesar 16% (McBirney, 2007; Gillaspy, 2010).

Batu Basalt merupakan jenis batuan yang memiliki struktur batu basalt halus

sehingga sulit mengidentifikasi secara tepat kandungan berbagai jenis kandungan

mineral yang ada terutama jenis mineral yang berukuran sangat kecil dengan

identifikasi mikroskopik (Gillaspy, 2010). Batu Basalt secara umum berwarna hitam

ataupun abu-abu gelap sesuai dengan kandungan mineral yang menyusun batu

tersebut. Batu Basalt terutama jenis basalt tinggi alumina mengandung 49,2% silika

(38)

22

2.7. Arang

Arang merupakan salah satu jenis material alternatif yang dapat digunakan

dalam pembuatan komposit. Secara ilmiah pemanfaatanarang terus mengalami

perkembangan. Selain digunakan sebagai bahan bakar, arang juga dikembangkan

dalam bidang pengolahan air. Pemilihan material arang dikarenakan bahan baku

pembuatan arang mudah didapat, murah dan arang mempunyai sifat penyerap

(adsorben) yang dapat membantu pada proses penjernihan air (Pahlewi, 2012). Arang

yang merupakan residu dari proses peruraian panas terhadap bahan yang mengandung

karbon sebagian besar komponennya adalah karbon.Untuk meningkatkan daya serap

pada arang, maka arang perlu diubah menjadi arang aktif melalui proses aktivasi.

Proses aktivasi dapat dilakukan dengan bahan-bahan kimia ataupun dengan melakukan

pemanasan pada temperatur tinggi. Arang yang belum diaktivasi dapat dibedakan

dengan arang yang sudah diaktivasi berdasarkan sifat pada permukaannya. Permukaan

pada arang yang belum diaktivasi masih ditutupi oleh deposit hidrokarbon yang

menghambat keaktifannya, sedangkan permukaan arang aktif relatif telah bebas dari

deposit, permukaannya luas dan pori-porinya telah terbuka, sehingga memiliki daya

serap tinggi(Lempang, 2014; Napitupulu, 2009)

Arang aktif mempunyai kemampuan daya serap yang baik terhadap anion,

kation, dan molekul dalam bentuk senyawa organik dan anorganik, baik berupa larutan

maupun gas. Arang aktif yang berperan sebagai absorben akan menyerap logam-logam

berat dengan penyerapan ion-ion bebas yang ada pada air.Proses adsorpsi pada arang

aktifterjadi melalui tiga tahap dasar. Pertama, zat terjerap pada arang aktifbagian luar,

lalu bergerak menuju pori-pori arang aktif, selanjutnya terjerap ke dinding bagian

(39)

23

Beberapa bahan yang mengandung banyak karbon dan dapat digunakan sebagai

arang akif adalah kayu, serbuk gergajian kayu, kulit biji, sekam padi, tempurung

Gambar

Tabel 2.1 Karakteristik Limbah Laundry
Gambar 2.1 Surface Flow Constructed Wetland (SFCW) Constructed Wetland (SSFCW) (1) dan Subsurface Flow  (2)
Gambar 2.2 Horizontal Flow Subsurface Flow Constructed Wetland
Gambar 2.3 Vertical Flow Subsurface Flow Constructed Wetland

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian pengolahan air limbah domestik dengan proses lahan basah buatan yang menggunakan tanaman air Cattail (Typha Angustifolia) telah dilakukan dalam

Penurunan nilai pH pada constructed wetland yang menggunakan tanaman dan tanpa tanaman tidak berjalan dengan maksimal sehingga kedua reaktor ini memiliki hasil

Penelitian ini bertujuan untuk menguji tingkat keefektifan reaktor dalam mengurangi kandungan limbah laundry dengan parameter TDS,TSS, COD dan Deterjen dengan

secara keseluruhan sistem Subsurface Constructed Wetland dengan tanaman Jarak Pagar dapat digunakan sebagai upaya pengolahan limbah domestik di kawasan pesisir. UCAPAN

 Perlu direncanakan variasi media pasir pada subsurface flow constructed wetland, sehingga diketahui kemampuan removal kandungan limbah oleh jenis media pasir yang

Sehingga laporan Tugas Akhir dengan judul “ Hybrid Constructed Wetland (HCW) Sebagai Upaya Pengolahan Air Limbah Domestik pada Pemukiman Padat Penduduk di

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif pengolahan air limbah laundry/ deterjen selain koagulasi-flokulasi-sedimentasi yaitu dengan sistem filtrasi

Penelitian ini bertujuan untuk mengolah air buangan laundry menggunakan bottom ash sebagai media adsorpsi untuk menurunkan kadar BOD, COD, pH, dan fosfat.