• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL PASIEN ANAK-ANAK DENGAN LEUKOKORIA DI RSUP SANGLAH DENPASAR.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROFIL PASIEN ANAK-ANAK DENGAN LEUKOKORIA DI RSUP SANGLAH DENPASAR."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL PASIEN ANAK-ANAK DENGAN LEUKOKORIA DI RSUP SANGLAH DENPASAR

Etika Widhiastuti, IB. Putra Manuaba,W. Eka Sutyawan, AA. Mas Putrawati Triningrat

Bagian Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, RSUP Sanglah Denpasar

Leukokoria adalah istilah untuk menggambarkan temuan klinis berupa refleks pupil berwarna putih, pupil dapat terlihat normal pada cahaya kamar namun tidak memiliki red reflex pada pemeriksaan oftalmoskop. Leukokoria disebabkan anomali retina atau kekeruhan reflektif di media okular sepanjang aksis visual di daerah pupil. Leukokoria adalah tanda yang mengkhawatirkan terutama di kelompok usia anak-anak yang harus segera dideteksi dan diobati. Tulisan ini dibuat untuk mendapatkan gambaran profil pasien anak-anak dengan leukokoria di divisi Pediatric Ophthalmology poliklinik mata RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan studi potong lintang (cross sectional). Data dikumpulkan secara retrospektif tanpa kontrol dilakukan dengan mencatat karakteristik dan data pemeriksaan pasien dengan leukokoria yang berusia < 13 tahun di RSUP Sanglah Denpasar. Data mengenai karakteristik subyek dianalisis secara deskriptif. Data berskala kategorik dideskripsikan dalam bentuk frekuensi dan persentase sedangkan untuk data berskala numerik dalam bentuk rerata dan standar deviasi. Subyek penelitian berjumlah 28 anak. Mayoritas pasien leukokoria adalah laki-laki (57,1%), dengan usia rata-rata 38,64±39,86 bulan dan domisili didapatkan paling banyak berasal dari Denpasar (21,4%). Leukokoria unilateral mempunyai proporsi paling besar (53,6%). Diagnosis penyebab leukokoria paling banyak adalah katarak kongenital (39,3%), dimana secara unilateral yang paling sering terjadi adalah pada mata kiri (18,2%). Diagnosis retinoblastoma adalah penyebab kedua terbesar (17,9%), dan secara unilateral yang paling sering terjadi adalah pada mata kiri (40%). ROP merupakan penyebab leukokoria terkecil (7,1%). Hasil penelitian ini menekankan kembali pentingnya leukokoria sebagai tanda klinis suatu penyakit dengan dampak visual signifikan.

(2)

PROFILE OF CHILDREN WITH LEUKOCORIA IN SANGLAH HOSPITAL DENPASAR

Etika Widhiastuti, IB. Putra Manuaba,W. Eka Sutyawan, AA. Mas Putrawati Triningrat

Department od Ophthalmology, Udayana University Medical School/Sanglah Hospital Denpasar Bali

Leukocoria is a term to describe the clinical findings in the form of a white pupil reflex, pupil can appear normal on the brigh room examination but shows absence of red reflex on ophthalmoscope examination. Leukocoria can be caused by anomalies in the retinal or refractive media opacities along the visual axis in line with the pupil. Leukocoria is a worrying sign, especially in the age group of children that must be detected and treated. This writing is intending to get an overview of the patient profile of children with leukocoria in ophthalmology department Pediatric Ophthalmology division of Sanglah Hospital Denpasar. This research is an observational cross sectional study. Data were collected retrospectively without control by recording the characteristics and patient examination data with leukocoria aged <13 years old at Sanglah Hospital. Data on the characteristics of the subjects were analyzed descriptively. Caregorical scale data are described in the form of frequency and percentage while numerical scale data presented in the form of mean and standard deviation. The subjects included 28 children. The majority of patients were male (57,1%), with an average age of 38,64±39,86 months and are mostly from Denpasar (21,4%). Unilateral leukocoria has the greatest proportion (53,6%). Diagnosis causing leukocoria mostly are congenital cataracts (39,3%), which unilaterally is the most common in the left eye (18,2%). Diagnosis of retinoblastoma is the second largest cause (17,9%), and unilaterally the most common is the left eye (40%). ROP is the smallest cause of lekocoria (7,1). Result of this study emphasize the importance of leukocoria as clinical signs of a disease with a significant visual impact.

(3)

PENDAHULUAN

Leukokoria adalah istilah untuk menggambarkan temuan klinis berupa refleks pupil berwarna putih, pupil dapat terlihat normal pada cahaya kamar namun tidak memiliki red reflex pada pemeriksaan oftalmoskop.1,2 Leukokoria mengindikasikan keadaan infeksi seperti uveitis, endoftalmitis, kekeruhan pada lensa seperti katarak, persistent hyperplastic primary vitreous (PHPV), kelainan retina seperti retinoblastoma, falciform retinal fold, retinal detachment,

retinoschisis, retinopathy of prematurity (ROP), miopia tinggi, koloboma, penyakit Coats, dan kelainan intra okular lain.3,4,5,6 Sebuah tinjauan terbaru dari kasus leukokoria berturut-turut pada anak-anak mengungkapkan bahwa minoritas adalah disebabkan retinoblastoma dan mayoritas adalah karatak (60%).7 Leukokoria pada anak-anak membutuhkan perhatian segera karena merupakan suatu tanda yang dapat mengancam jiwa atau menyebabkan gangguan visual permanen.5

Penelitian ini dibuat untuk untuk mengetahui karakteristik pasien dengan tanda klinis leukokoria serta untuk mengetahui diagnosis penyebab leukokoria pada pasien yang berobat di divisi Pediatric Ophthalmology poliklinik mata RSUP Sanglah Denpasar dari 1 September 2014 sampai 31 Agustus 2015. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan karakteristik dan diagnosis pasien dengan tanda klinis leukokoria di RSUP Sanglah Denpasar, sehingga diperoleh data dasar yang dapat dipakai sebagai acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan dapat digunakan untuk penentuan terapi lebih dini.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan studi potong lintang (cross sectional). Data dikumpulkan secara retrospektif tanpa kontrol dilakukan dengan mencatat karakteristik dan data pemeriksaan pasien dengan leukokoria yang berusia < 13 tahun di RSUP Sanglah Denpasar berdasarkan rekam medik, sedangkan metode pengambilan data secara potong lintang. Data yang diambil pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, umur, domisili, diagnosa klinis dan lateralitas mata. Penelitian dilakukan di divisi

Pediatric Ophthalmology poliklinik mata RSUP Sanglah Denpasar pada periode 1 September 2014 sampai 31 Agustus 2015.

(4)

ANALISIS DATA

Semua data yang diperoleh dimasukkan dalam tabel kerja dan dianalisis dengan progran SPSS versi 17.0. Data mengenai karakteristik subyek dianalisis secara deskriptif. Data berskala kategorik dideskripsikan dalam bentuk frekuensi dan persentase sedangkan untuk data berskala numerik dalam bentuk rerata dan standar deviasi.

HASIL

Selama periode 1 September 2014 sampai 31 Agustus 2015 ditemukan 28 anak dengan leukokoria yang datang ke poliklinik mata RSUP Sanglah Denpasar. Karakteristik subyek penelitian secara menyeluruh dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Karakteristik Pasien Leukokoria pada Anak

Karakteristik Pasien Jumlah

n(%) Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

16 (57,1%) 12 (42,9%) Umur (rerata+SD) 38,64±39,86 (bulan) Domisili

Badung Buleleng Denpasar Gianyar Karangasem Klungkung Negara Tabanan

5 (17,9%) 4 (14,3%) 6 (21,4%) 3 (10,7%) 3 (10,7%) 3 (10,7%) 3 (10,7%) 1 (3,6%)

Pada Tabel 1 tampak distribusi pasien dengan leukokoria berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mempunyai proporsi yang lebih besar (57,1%) dibandingkan perempuan (42,9%). Berdasarkan variabel umur, rerata umur pasien dengan leukokoria 38,64±39,86 bulan. Pada domisili didapatkan paling banyak berasal dari Denpasar (21,4%).

(5)

Tabel 2 Lateralitas Pasien Leukokoria pada Anak

Lateralitas Jumlah

n(%) Bilateral

Unilateral

13 (46,4%) 15 (53,6%)

Tabel 2 menunjukkan distribusi pasien leukokoria berdasarkan lateralitas, dimana unilateral mempunyai proporsi yang lebih besar yaitu 13 pasien (46,4%) dibandingkan bilateral yaitu 15 pasien (53,6%).

Diagnosis penyebab leukokoria pada anak yang datang ke poli mata RSUP Sanglah dapat dilihat secara menyeluruh pada Tabel 3.

Tabel 3 Diagnosis Pasien Anak dengan Leukokoria

Diagnosis Jumlah n(%)

Katarak kongenital Retinoblastoma Katarak Juvenile Katarak Traumatika Katarak Komplikata

Retinopathy of Prematurity (ROP)

11 (39,3%) 5 (17,9%) 4 (14,3%) 3 (10,7%) 3 (10,7%) 2 (7,1%)

Tabel 3 menunjukkan diagnosis paling banyak adalah katarak kongenital yaitu sebanyak 11 pasien (39,3%), retinoblastoma adalah kedua terbanyak yaitu dengan jumlah pasien 5 anak (17,9%), sedangkan diagnosis paling terkecil adalah ROP yaitu 2 pasien (7,1%).

Lateralitas pasien dengan diagnosis katarak kongenital yang datang ke poli mata RSUP Sanglah dapat dilihat secara menyeluruh pada Tabel 4.

Tabel 4 Lateralitas Katarak kongenital

Lateralitas Jumlah

n(%) Unilateral

Mata kanan Mata kiri

1 (9,1%) 2 (18,2%)

Bilateral 8 (72,7%)

(6)

Pasien anak dengan diangnosis retinoblastoma yang datang ke poli mata RSUP Sanglah dapat dilihat secara menyeluruh pada Tabel 5.

Tabel 5 Lateralitas Retinoblastoma

Lateralitas Jumlah

n(%) Unilateral

Mata kanan Mata kiri

1 (20%) 2 (40%)

Bilateral 2 (40%)

Tabel 5 menunjukkan diagnosis retinoblastoma unilateral yang paling sering terjadi adalah pada mata kiri yaitu 2 anak (40%) dan mata kanan 1 anak (20%). Retinoblastoma yang terjadi bilateral adalah sebanyak 2 (40%).

Lateralitas pasien dengan diagnosis katarak juvenile yang datang ke RSUP Sanglah dapat dilihat secara menyeluruh pada Tabel 6.

Tabel 6 Lateralitas Katarak Juvenile

Lateralitas Jumlah

n(%) Unilateral

Mata kanan Mata kiri

1 (25%) 0

Bilateral 3 (75%)

Tabel 6 menunjukkan diagnosis katarak juvenile unilateral yang terjadi adalah hanya pada mata kanan yaitu 1 anak (25%). Katarak juvenile yang terjadi secara bilateral adalah sebanyak 3 anak (75%).

Gambaran lateralitas katarak traumatika yang datang ke poli mata RSUP Sanglah dapat dilihat secara menyeluruh pada Tabel 7.

Tabel 7 Lateralitas Katarak Traumatika

Lateralitas Jumlah

n(%) Unilateral

Mata kanan Mata kiri

1 (33,3%) 2 (66,7%)

(7)

Tabel 7 menunjukkan diagnosis katarak traumatika unilateral yang paling sering terjadi adalah pada mata kiri yaitu 2 anak (66,7%) dan mata kanan 1 anak (33,3%). Tidak ditemukan katarak traumatika yang terjadi bilateral.

Lateralitas katarak komplikata yang terdapat di poli mata RSUP Sanglah dapat dilihat secara menyeluruh pada Tabel 8.

Tabel 8 Lateralitas Katarak Komplikata

Lateralitas Jumlah

n(%) Unilateral

Mata kanan Mata kiri

0 1 (33,3%)

Bilateral 2 (66,7%)

Tabel 8 menunjukkan katarak komplikata unilateral yang terjadi hanya pada mata kiri yaitu 1 anak (33,3%). Katarak komplikata yang terjadi bilateral adalah sebanyak 2 anak (66,7%).

Lateralitas ROP yang datang ke poli mata RSUP Sanglah dapat dilihat secara menyeluruh pada Tabel 9.

Tabel 9 Lateralitas Retinopathy of Prematurity (ROP)

Lateralitas Jumlah

n(%) Unilateral

Mata kanan Mata kiri

0 1 (50%)

Bilateral 1 (50%)

(8)

DISKUSI

Leukokoria pada anak-anak harus selalu menjadi perhatian karena mengindikasikan adanya gangguan di daerah mana saja dalam bola mata. Beberapa penyebab leukokoria seperti katarak kongenital dapat mengakibatkan ambliopia bila tidak diterapi, terutama bila unilateral. Penyebab lain seperti retinoblastoma dapat mengarah kepada kematian.4,5,8

Penelitian menurut Haider, et al. mengungkapkan bahwa pasien anak-anak dengan keluhan leukokoria ditemukan sebanyak 71 anak, dimana sebanyak 39 (55%) adalah laki-laki dan 32 (45%) adalah perempuan.5 Penelitian lain di Indonesia oleh Sayuti, et al., dari 36 pasien leukokoria, sebanyak 21 (58,3%) adalah laki-laki, dan 15 (41,7%) adalah perempuan.2 Pada penelitian ini didapatkan 28 pasien selama periode 1 September 2014 sampai 31 Agustus 2015. Dari 28 pasien tersebut, anak laki-laki ditemukan lebih banyak (57,1%) dibandingkan anak perempuan (42,9%). Kebanyakan penyebab leukokoria seperti katarak dan retinoblastoma tidak terdapat perbedaan predileksi jenis kelamin, namun coat’s disease dan ROP ditemukan insiden pada laki-laki lebih besar.9,10,11

Penelitian di Pakistan mengenai leukokoria pada anak-anak mengungkapkan bahwa penyebab paling banyak adalah katarak kongenital (60%). Kondisi bilateral ditemukan 42% dan kondisi unilateral sebanyak 18%.5 Penelitian mengenai profil leukokoria di RSUP Dr. M. Djamil Padang oleh Sayuti, et al., ditemukan bahwa retinoblastoma merupakan penyebab leukokoria terbanyak yaitu sebanyak 12 orang (33,4%) dimana sebanyak 3 orang (33%) adalah retinoblastoma bilateral dan 9 orang retinoblastoma unilateral (67%).2 Penelitian ini mengungkapkan penyebab leukokoria terbanyak adalah katarak kongenital yaitu sebanyak 11 anak (39,3%). Dari keseluruhan kasus katarak kongenital ditemukan kondisi bilateral sebanyak 8 (72,7%) dan unilateral 3 (27,3%), dimana pada kasus unilateral lebih banyak terjadi di mata kiri yaitu sebanyak 2 (18,2%). Katarak bilateral biasanya berhubungan dengan penyakit sistemik, sedangkan katarak unilateral berhubungan dengan disgenesis lokal.2 Di negara industri, sekitar 50% kasus katarak bilateral dan seluruh kasus unilateral, penyebab yang mendasari tidak dapat ditentukan.12 Secara umum, anak yang semakin muda semakin besar urgensi dalam menghilangkan katarak, karena resiko ambliopia. Katarak kongenital unilateral pada bayi baru lahir dan bayi muda harus dideteksi dan dihilangkan sebelum usia 6 minggu dan katarak kongenital bilateral dengan gangguan visus signifikan sebaiknya dihilangkan sebelum usia 10 minggu dengan tujuan pertumbuhan visus yang optimal.13 Semua pasien katarak kongenital yang datang ke poli mata RSUP Sanglah direncanakan tindakan operasi. Katarak kongenital rubella dapat terjadi secara sendiri atau sebagai bagian dari trias

congenital rubella syndrome (katarak kongenital, ketulian, gangguan jantung).14 Penelitian ini menemukan 3 pasien dengan katarak kongenital rubella berdasarkan anamnesa dan hasil pemeriksaan laboratorium.

(9)

(bilateral) dan duapertiga kasus merupakan sporadik (unilateral).12 Penelitian ini mendapatkan retinoblastoma merupakan penyebab kedua leukokoria terbanyak pada anak-anak di RSUP Sanglah yaitu sebanyak 5 anak (17,9%). Dari total kasus retinoblastoma ditemukan kondisi bilateral sebanyak 2 (40%) dan kondisi unilateral sebanyak 3 (60%), dimana pada kasus unilateral paling banyak terjadi di mata kiri yaitu sebanyak 2 (40%). Tiga anak direncanakan enukleasi, dimana satu anak telah mendapatkan kemoreduksi, sisanya dikonsulkan ke bagian pediatri untuk perencanaan kemoreduksi.

Katarak juvenile merupakan katarak yang yang terbentuk pada anak-anak usia muda dan penyebab yang sering adalah kondisi genetik, diturunkan dan gangguan metabolik.15 Penelitian ini ditemukan katarak juvenile sebanyak 4 anak (14,4%). Keadaan bilateral dari keseluruhan kasus katarak juvenile ditemukan sebanyak 3 (75%) dan unilateral 1 (25%) yang terjadi hanya pada mata kanan. Usia pasien pada penelitian antara 7-8 tahun.

Katarak traumatika merupakan gejala sisa dari cedera mata pada anak-anak dan dewasa. Penelitian mengenai perbaikan visus pada katarak traumatika unilateral di Hyderabad melaporkan bahwa insiden katarak traumatika akibat cedera mata dilaporkan sebesar 1-15%. Laki-laki ditemukan lebih banyak daripada perempuan dengan rasio 3,1:1, hal ini karena ketertarikan laki-laki pada olahraga dan aktivitas luar.16 Penelitian ini ditemukan katarak traumatika sebanyak 3 anak (10,7%) dengan keadaan seluruhnya adalah unilateral dan seluruhnya adalah laki-laki. Dari keseluruhan keadaan unilateral, mata kiri ditemukan lebih besar yaitu 2 (66,7%) dan mata kanan 1 (33,3%). Menurut Memon, et al., trauma tembus merupakan penyebab paling sering dari cedera mata yaitu sebanyak 68,3% dan trauma tumpul 31,7%.16 Ketiga pasien katarak traumatika yang datang ke poli mata RSUP Sanglah mengalami trauma tembus. Ashvini, et al. mengungkapkan bahwa kerusakan kapsul anterior dan laserasi kornea merupakan tanda yang sering menyertai katarak traumatika.17 Ketiga pasien pada penelitian ini juga disertai dengan laserasi kornea, seorang anak disertai dengan laserasi iris.

Terbentuknya katarak adalah komplikasi paling sering yang diakibatkan uveitis pada anak-anak.18 Katarak jarang terjadi akibat uveitis posterior, tetapi dapat terjadi sampai 50% dari pasien dengan uveitis anterior dan uveitis intermediate. Durasi dan intensitas peradangan dan pengobatan seperti kortikosteroid dan vitrektomi sebelumnya, merupakan penentu penting terbentuknya katarak. Pembentukan katarak terjadi di usia yang lebih muda pada pasien uveitis. Penelitian ini didapatkan pasien dengan katarak komplikata sebanyak 3 anak (10,7%). Dari keseluruhan kasus katarak komplikata, keadaan bilateral sebanyak 2 anak (66,7%) dan unilateral sebanyak 1 anak (33,3%) yang terjadi hanya pada mata kiri. Katarak komplikata pada penelitian ini seluruhnya disebabkan oleh uveitis kronis dengan riwayat pengobatan yang kurang jelas. Tujuan operasi pada anak-anak adalah untuk mencegah ambliopia.19 Estafanous,

(10)

ke poli mata RSUP Sanglah direncanakan tindakan ekstraksi katarak dengan lensa intra okular.

Retinopathy of Prematurity (ROP) adalah penyebab dominan gangguan visual berat pada anak-anak. ROP memiliki gambaran unik yaitu hanya terjadi pada bayi prematur dengan vaskularisasi retina yang imatur dan tidak komplit. Beberapa keadaan bayi prematur dapat juga berkaitan dengan resiko kejadian ROP yang disimpulkan dalam Indonesia National Workshop of ROP seperti sepsis, penggunaan oksigen, tarnsfusi darah berulang, penyakit sistem pernapasan, apneu, asfiksia, kecil masa kehamilan, displasia bronkopulmoner, patent ductus arteriosus, perdarahan intraventrikular dan genetik.22 Penelitian ini terdapat 2 anak (7,1%) dengan ROP. Dari keseluruhan kasus ROP ditemukan kondisi bilateral sebanyak 1 (50%) dan unilateral 1 anak (50%) yang terjadi di mata kiri. Satu anak dengan ROP stage 4-5 dan satu anak dengan ROP stage 5. Penelitian menurut Haider, et al. mengenai leukokoria pada anak-anak mengungkapkan temuan penting mengenai adanya hubungan yang signifikan antara pernikahan antara kerabat (antara sepupu pertama) dan keturunan katarak kongenital. Keadaan sosial di masyarakat mengenai perkawinan antar kerabat memainkan peran penting dalam penyakit yang diturunkan. Perkawinan sedarah memiliki proporsi yang tinggi pada pasien leukokoria. Dua puluh satu anak dengan katarak kongenital memiliki riwayat keluarga dengan perkawinan antar kerabat.5

SIMPULAN

Pada penelitian ini disimpulkan karakteristik pasien anak dengan tanda klinis leukokoria yang datang ke poli mata RSUP Sanglah Denpasar periode 1 September 2014 sampai 31 Agustus 2015 adalah lebih banyak terjadi pada laki-laki (57,1%), dengan usia rata-rata 38,64+39,86 bulan dan sebagian besar berasal dari Denpasar (21,4%). Dagnosis paling banyak adalah katarak kongenital yaitu sebanyak 11 pasien (39,3%). Kebanyakan penyebab leukokoria mengakibatkan gangguan visual permanen atau merupakan ancaman bagi kehidupan. Hasil penelitian ini menekankan kembali pentingnya leukokoria sebagai tanda klinis suatu penyakit dengan dampak visual signifikan.

Perlu dilakukan sistem pencatatan yang lebih baik untuk pasien-pasien yang datang ke RSUP Sanglah khususnya divisi Pediatric Ophthalmology

(11)

DAFTAR PUSTAKA

1. Buscombe C., Headland S. 2013. Infantile Leukocoria: the white pupil. Bujo, vol. 1: 1-4.

2. Sayuti K., Aziz A., Nasrul M. 2014. Profil Leukokoria pada Anak di RSUP Sanglah Dr.M. Djamil Padang. MKA; 37(1): 38-43.

3. Batra R., Rowe F., Rowlands A., Noonan, C. 2009. Unilateral Leukocoria in Clinically Normal Eye. Br J Ophthalmol; 93: 556-557.

4. Gupta H., Gupta P. 2004. Leukocoria. Indian Pediatric, vol 41: 286. 5. Haider S., Qureshi W., Ali A. 2008. Leucokoria in Children. Journal of

Pediatric Ophthalmology & Strabismus; 45: 179-180.

6. American Academy of Ophthalmology Staff. 2014-2015. Pediatric Ophthalmology and Strabismus. American Academy of Ophthalmology. 7. Mickler C., Boden J., Trivedi R. H., Wilson M. E. 2011. Pediatric

Cataract. Pediatric Annals; 40(2) : 83.

8. Mohammadpour M., Ghassemi F., Toosi R., Nagravi B. 2012. End-Gaze Leukocoria as the First Manifestation of Retinoblastoma. Iranian Journal of Ophthalmology; 24(4): 67-69.

9. Babic G. S., Oros A., Vujanovic M., Cekic S. 2012. Stage 5 Retinopathy of Prematurity in One Eye – Case Report.Acta Medica Medianae; 51(1) : 37-41.

10.Balmer A; Munier F. 2007. Differential Diagnosis of Leukocoria and Strabismus, First Presenting Signs of Retinoblastoma. Clinical Ophthalmology; 14: 431-439.

11.Bruce A. S., O’day J., McKay D., Swann, P. 2006. Posterior Eye Disease and Glaucoma A-Z : Coats’ Disease Retinal Telangiectasia. Optician; 6067(232) : 51.

12.Sharma V. K., Arora T. 2014. An Approach to A Child With Leukocoria.

DOS Times, 19(8) : 69-73.

13.Basic and Clinical Science Course. 2011-2012. Pediatric Ophthalmology and Strabismus. American Academy of Ophthalmology.

14.Agarwal S., Agarwal A., Apple D. J., Burrato L., Allo J. L. 2002. Textbook of Ophthalmology Basic Ssciences Optics and Refraction Neuro-ophthalmology Strabismus. Jaypee: 1627.

15.Wilson E. 2015. Pediatric Cataracts: Overview. AAO.org

16.Memon M.N., Narsani A.K., Nizamani N.B. 2012. Visual Outcome of Unilateral Traumatic Cataract. Journal of the College of Physicians and Surgeons; 22(8): 497-500.

17.Ashvini K., Robin R., Kimberly G. 2009. Surgical Intervention for Traumatic Cataracts in Children: Epidemiologyn Complications and outcomes. J AAPOS; 13: 170-174.

18.Nemet A.Y., Raz J., Sachs D., Friling R., Neuman R., et al. 2007. Primary Intraocular Lens Implantation in Pediatric Uveitis. Arch Ophthalmology; 125 : 354-360.

(12)

20.Estafanous M.S., Lowder C.Y., Meisler D.M., Chauhan R. 2001. Phacoemusification Cataract Extraction and Posterior Chamber Lens Implantation in Patients with Uveitis. Am J Ophthalmol; 131: 620-625. 21.Quinones K., Cervantes-Castaneda R.A., Hynes A.Y., Daoud Y.J., Foster

C.S. 2009. Outcomes of Cataract Surgery in Children With Chronic Uveitis. J Cataract Refract Surg, 35: 725-731.

Gambar

Tabel 1 Karakteristik Pasien Leukokoria pada Anak Karakteristik Pasien
Tabel 3 Diagnosis Pasien Anak dengan Leukokoria
Tabel 7 Lateralitas Katarak Traumatika

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap IGD RSUP Sanglah

Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini untuk mengetahui status selenium pada anak dengan HIV/AIDS di RSUP Sanglah dan untuk melihat asosiasi antara status

Simpulan: Rata-rata jumlah sisa makanan pasien di RSUP Sanglah Denpasar sudah memenuhi standar pelayanan minimal rumah sakit yaitu kurang dari 20% dengan rata-rata

Disimpulkan bahwa adverse event terjadi pada 8 dari 10 pasien anak dengan penyakit autoimun akibat penggunaan terapi imunosupresan di RSUP Sanglah, Denpasar. Kemudian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar albumin serum dengan mortalitas pasien anak yang di rawat di Unit Perawatan Intensif Anak (UPIA) RSUP Sanglah

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat angka kejadian non-anemia sebesar 67% dan anemia 33% pada pasien anak penderita HIV/AIDS di RSUP Sanglah Denpasar.. Kata

Berdasarkan hasil penelitian di RSUP Sanglah yang tertera pada tabel 4 menunjukkan bahwa insidensi kemoterapi kanker serviks terbanyak menjalani perawatan pada

Ada hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa di RSUP Sanglah