• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Latihan Barbell Backsquat dan Leg Press Terhadap Functional Threshold Power Pada Pesepeda Roadbike Terlatih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengaruh Latihan Barbell Backsquat dan Leg Press Terhadap Functional Threshold Power Pada Pesepeda Roadbike Terlatih"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH LATIHAN BARBELL BACK SQUAT DAN LEG PRESS TERHADAP FUNCTIONAL THRESHOLD POWER PADA

PESEPEDA ROADBIKE TERLATIH

Disusun Oleh:

Bayu Hakam Subekti 21611251033

PROGRAM MAGISTER ILMU KEOLAHRAGAAN FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2023

(2)

i Lembar Persetujuan

(3)

iii Lembar Pengesahan

(4)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Bayu Hakam Subekti

Nomor Mahasiswa : 21611251033

Program Studi : Ilmu Keolahragaan

Dengan ini menyatakan bahwa tesis ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar magister di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam tesis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, 7 Februari 2023

Bayu Hakam Subekti NIM. 21611251033

(5)

v ABSTRAK

BAYU HAKAM SUBEKTI: Pengaruh Latihan Barbell back squat Dan Leg press Terhadap Functional threshold power Pada Pesepeda Roadbike Terlatih. Tesis.

Yogyakarta: Program Studi S2 Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Yogyakarta, 2023.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh latihan barbell back squat terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike, (2) Pengaruh latihan leg press terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike, (3) perbedaan pengaruh latihan barbell back squat dan leg press terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain penelitian ini adalah The Pretest-Posttest Control Group Design.

Populasi penelitian adalah pesepeda roadbike di kota Yogyakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling sejumlah 13 orang. Instrumen untuk mengukur functional threshold power menggunakan smart bike trainer.

Teknik analisis data yang digunakan adalah ANOVA dua jalur pada taraf signifikan α = 0,05.

Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) tidak ada pengaruh yang signifikan pada hasil latihan barbell back squat terhadap functional threshold power dengan nilai p = 0.080 > 0.05, (2) ada pengaruh yang signifikan pada latihan leg press terhadap functional threshold power dengan nilai p = 0.010 < 0.05, (3) terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan pada functional threshold power antara barbell back squat p = 0.080 > 0.05 dan leg press 0.010 < 0.05.

Kata Kunci: latihan barbell back squat, latihan leg press, latihan kekuatan, sepeda roadbike, functional threshold power

(6)

vi ABSTRACT

BAYU HAKAM SUBEKTI: The Effect of Barbell Back Squat and Leg Press Exercises on Functional Threshold Power in Trained Road Bike Riders. Thesis.

Yogyakarta: Study Program of Master of Sports Science, Yogyakarta State University, 2023.

The study aims to determine: (1) The effect of barbell back squat training on functional threshold power on road bike cyclists, (2) The effect of leg press training on functional threshold power on road bike cyclists, (3) the difference in the effect of barbell back squat and leg press training on functional threshold power on road bike cyclists.

The study is a quasi-experimental research with the pretest-posttest control group design. The study population is road bike cyclists in Yogyakarta City. The sampling was done by means of purposive sampling of 13 people. The instrument for measuring the functional threshold power uses a smart bike trainer. The data analysis technique applied the two-way ANOVA at a significant level of α = 0.05.

The results reveal that: (1) there is no significant effect on the results of the barbell back squat exercise on functional threshold power with a value of p = 0.080

> 0.05, (2) there is a significant effect on the leg press exercise on functional threshold power with a value of p = 0.010 < 0.05, (3) there is a significant difference in effect on the functional threshold power between barbell back squat p = 0.080 >

0.05 and leg press 0.010 < 0.05.

Keywords: barbell back squat exercise, leg press exercise, strength training, road bike, functional threshold power

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan dan cinta kasih-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pengaruh Latihan Barbell back squat Dan Leg press Terhadap Functional threshold power Pada Pesepeda Roadbike Terlatih”. Tesis ini bertujuan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Magister Pendidikan, Program Studi Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Dan Kesehatan, Program Magister, Universitas Negeri Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bimbingan dan bantuan serta dukungan dari semua pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Dr. Ahmad Nasrulloh, M.Or. selaku dosen pembimbing yang telah banyak membantu mengarahkan, membimbing, dan memberikan dorongan sehingga tesis ini dapat terselesaikan.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Bapak Prof. Dr. Wawan Sundawan Suherman, M.Ed., Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan.

3. Bapak Prof. Dr. Wawan Sundawan S M.Ed. selaku pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan studi selama pendidikan di Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

4. Bapak Dr. Ahmad Nasrulloh, M.Or., selaku koordinator prodi sekaligus sebagai pembimbing tesis yang memberikan persetujuan pelaksanaan Tugas

(8)

viii Akhir Tesis.

5. Bapak Prof. Dr. Yudik Prasetyo, S.Or., M.Kes. selaku ketua penguji yang telah memberikan masukan dan arahan dalam penulisan tesis.

6. Bapak Dr. Sulistiyono, S.Pd., M.Pd., selaku sekretaris penguji yang telah memberikan masukan dan arahan dalam penulisan tesis.

7. Bapak Dr. Abdul Alim, S.Pd.Kor., M.Or., selaku penguji utama yang telah memberi masukan dan arahan dalam penulisan tesis.

8. Seluruh dosen serta karyawan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan ilmu, bimbingan dan dukungan selama menjalani perkuliahan.

9. Orangtua yang telah memberikan kasih sayang, motivasi, dan semangat yang begitu luar biasa serta selalu mendoakan penulis sehingga dapat menyelesaikan studi ini dengan penuh perjuangan, materi dan dukungan kepada penulis.

10. Keluarga dan teman-teman mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan dukungan, doa, serta motivasi pada penulis dalam perkuliahan.

Penulis sangat menyadari bahwa dalam penelitian ini masih banyak kekurangan. Oleh karenanya kritik serta saran dari pembaca sangat dibutuhkan bagi penulis agar dapat menyempurnakan penelitian ini. Semoga hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak dan dapat digunakan di masa yang akan

datang. Yogyakarta, 7 Februari 2023

Bayu Hakam Subekti NIM. 21611251033

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL 1

LEMBAR PERSETUJUAN i

LEMBAR PENGESAHAN ii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA iii

ABSTRAK iv

KATA PENGANTAR vii

DAFTAR ISI ix

DAFTAR TABEL xii

DAFTAR GAMBAR xiii

DAFTAR LAMPIRAN xiv

BAB I 1

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Identifikasi Masalah 6

C. Batasan Masalah 7

D. Rumusan Masalah 7

E. Tujuan Penelitian 8

1. Tujuan Umum 8

2. Tujuan Khusus 8

F. Manfaat Penelitian 8

1. Manfaat Teoritis 8

2. Manfaat Praktis 8

BAB II 10

A. Kajian Teori 10

1. Sepeda Roadbike 10

2. Latihan 12

3. Latihan Beban 16

4. Latihan Barbell back squat 24

5. Latihan Leg press 27

6. Functional threshold power 29

B. Penelitian yang Relevan 37

C. Keterbaruan Penelitian 38

D. Kerangka Berpikir 39

(10)

x

E. Hipotesis Penelitian 40

BAB III 41

A. Jenis dan Desain Penelitian 41

B. Uraian dan Populasi Sampel 42

1. Populasi 42

2. Subjek 42

3. Perhitungan Besar Subjek 43

4. Teknik Pengambilan Subjek 44

C. Definisi Operasional Variabel 44

D. Variabel Penelitian 45

1. Variabel Terikat 45

2. Variabel Bebas 45

E. Prosedur Penelitian 45

1. Persiapan Penelitian 45

2. Pelaksanaan Penelitian 46

F. Bagan Kerangka Oprasional 47

G. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 47

1. Teknik Pengumpulan Data 47

2. Instrumen Penelitian 48

3. Program Latihan 49

4. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 49

H. Teknik Analisis Data 50

1. Uji Prasyarat 50

2. Uji Hipotesis 50

I. Waktu dan Tempat Penelitian 51

1. Waktu Penelitian 51

2. Tempat Penelitian 51

BAB IV 53

A. Deskripsi Hasil Penelitian 53

B. Pembahasan 59

C. Keterbatasan Penelitian 60

BAB V 62

A. Simpulan 62

B. Implikasi 62

(11)

xi

C. Saran 63

DAFTAR PUSTAKA 65

LAMPIRAN 69

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Test FTP ...34

Tabel 2. Power Profil Chart Functional threshold power...35

Tabel 3. Penelitian yang relevan ... 37

Tabel 4. Waktu penelitian ...51

Tabel 5. Tempat penelitian ...52

Tabel 6. Hasil pretest dan posttest FTP...53

Tabel 7. Hasil Uji Normalitas...54

Tabel 8. Hasil Uji Homogenitas...55

Tabel 9. Hasil ANOVA Kelompok Eksperimen yang menggunakan latihan Barbell back squat terhadap FTP...56

Tabel 10. Hasil ANOVA Kelompok Eksperimen yang menggunakan latihan leg press terhadap 5 detik FTP...57

Tabel 11. Hasil ANOVA Kelompok latihan leg press dan barbell back squat terhadap 20 menit FTP...58

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sepeda Roadbike...11

Gambar 2. Awalan Barbell back squat...25

Gambar 3. Pergerakan Barbell back squat ...26

Gambar 4. Perkenaan Otot Barbell back squat...26

Gambar 5. Awalan Leg press...27

Gambar 6. Pergerakan Leg press...28

Gambar 7. Perkenaan Otot Leg press...28

Gambar 8. Penempatan Kaki pada Leg press...29

Gambar 9. Kerangka Pikir...40

Gambar 10. Skema Rancangan Penelitian ...42

Gambar 11. Bagan Kerangka Operasional ...47

Gambar 12. Smart Bike Trainer...48

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan Validasi...70

Lampiran 2. Surat Izin Peminjaman Tempat dan Alat...73

Lampiran 3. Dokumentasi Penelitian Pretest-Posttest...75

Lampiran 4. Dokumentasi Penelitian Pelaksanaan Latihan...77

Lampiran 5. Statistik Penelitian...80

Lampiran 6. Program latihan...82

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Olahraga merupakan suatu aktivitas fisik individu ataupun berkelompok yang dilakukan secara sistematis, berirama, dan berulang yang dapat membantu perkembangan ataupun membina potensi jasmani dan rohani. Olahraga merupakan aktivitas fisik yang penting untuk menjaga kebugaran seseorang. Salah satu olahraga yang digemari oleh masyarakat yaitu bersepeda, selain memiliki banyak pilihan genre. Bersepeda ketahanan adalah aktivitas populer dengan banyak manfaat kesehatan terkait (Oja et al., 2011). Olahraga sepeda merupakan aktivitas gerak yang paling efisien dan membutuhkan paling sedikit energy pada sistem sendi (Thompson et al., 202s0) selain itu bersepeda juga dapat menurunkan berat badan dan presentase lemak tubuh (Penggalih & Niamila, 2015) sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa sepeda menjadi pilihan untuk melakukan berolahraga selain menjadi moda transportasi.

Sejarah sepeda pertama kali ditemukan oleh anak-anak dari perancis, Pierre dan Ernest pada tahun 1863 yang menemukan pedan dan engkol di roda depan sepeda, tetapi jauh sebelum itu sepeda sudah ditemukan namun tidak memiliki engkol di roda depan. Penemuan revolusioner sepeda atau alat dengan dua roda yang bergerak adalah seorang Jerman bernama Baron Karl Drais von Sauebronn pada tahun 1817 yang terbuat dari kayu dan dilengkapi setir dan pengendaranya harus menjejakan kakinya ke tanah agar membuatnya bergerak (Kompas, 2010).

Berdasarkan jenisnya (genre) olahraga bersepeda dibedakan menjadi tiga kelompok besar yaitu BMX, Roadbike, Mountain Bike dan Trial (Union Cycliste

(16)

2

Internationale (UCI). BMX adalah singkatan dari Bicycle MotoCross jenis sepeda ini diperlombakan dalam sirkuit khusus, dengan model lintasan berupa tikungan tajam dan gunungan bergelombang, yang membutuhkan tingkat keseimbangan dan kemampuan handling yang baik serta kemampuan mengayuh pedal dengan cepat, perlombaan BMX dilakukan dengan waktu singkat antara 30-40 detik dalam satu race balap (Elvira et al., 2020) dibutuhkan skill khusus untuk menekuni genre sepeda ini, berbeda dengan roadbike, bersepeda menggunakan jenis sepeda roadbike banyak dilakukan oleh kaum urban perkotaan, sebagai rutinitas untuk mengisi waktu luang untuk sekedar berjumpa dengan teman sesama atau antar komunitas atau bepergian untuk tujuan rekreasi melintasi jalan raya (Sirna, 2016).

Selain itu pada genre roadbike juga terdapat kelas lomba, biasanya dilakukan dengan jarak tempuh tertentu, sehingga kemampuan daya tahan atlet sangat penting dalam lomba sepeda diajalan raya. Sementara itu jenis sepeda mountain bike memilki lebih banyak nomor lomba, ada nomor Cross-country, Enduro, Downhill, dan nomor pengembangan lain dari ketiga kelas lomba tersebut.

Masing-masing kelas lomba dari sepeda ini memilki jenis track dan lintasan yang berbeda (Hagen & Boyes, 2016). Bersepeda menjadi kegiatan dengan tingkat partisipasi yang tinggi dan semakin popular (Hong et al., 2020). Bersepeda baru- baru ini berkembang dari olahraga populer Eropa menjadi olahraga yang terkenal di dunia (Visentini, 2017).

Pada penelitian ini akan mengambil nomor sepeda roadbike. kompetisi roadbike berlangsung sekitar 10– 500 menit. Performa ketahanan (endurance) dalam roadbike kira-kira 80-99% tergantung pada metabolisme aerobic (Astrand et

(17)

3

al., 1986). Dalam roadbike seperti dalam olahraga ketahanan lainnya, 3 faktor utama yang menyebabkan perbedaan antar individu dalam kinerja ketahanan aerobik adalah: 1. Konsumsi oksigen maksimal (Vo2max), 2. Lactate Threshold (LT), 3. Cycling Economy (CE) (Sunde et al., 2010). Hal yang umum bagi atlet dengan cabang olahraga ketahanan (endurance) melakukan latihan kekuatan dan daya tahan untuk meningkatkan performa pada saat balapan. Pada awalnya anggapan bahwa atlet dengan cabang olahraga daya tahan (endurance) melakukan latihan beban resistensi rendah dengan pengulangan yang tinggi (Loveless et al., 2005). Namun terdapat penelitian baru baru ini menurut (J Hoff, 2001) melakukan latihan beban dengan menggunakan resistensi tinggi dengan pengulangan yang rendah dengan kecepatan maksimum fase konsentris dapat menunda waktu kelelahan dan mengurangi waktu ketika balapan, (Jan Hoff et al., 1999) juga pernah meneliti tentang atlet dengan cabang olahraga daya tahan yaitu cross-country skiing yang melakukan latihan beban resistensi rendah dengan pengulangan sedikit dapat meningkatkan work economy pada atlet tersebut. Selain itu terdapat juga penelitian yang dilakukan oleh (Hakkinen et al., 1998) menunjukkan bahwa adaptasi neuromuskular terkait dengan latihan kekuatan meningkatkan fungsi neuromuskular dan sifat kontraktil dalam otot terlatih yang meningkatkan produksi dan kinerja kekuatan otot.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa latihan beban dapat meningkatkan performa pada atlet daya tahan. Atlet sepeda roadbike pun dapat dikategorikan dalam atlet daya tahan akibatnya pelatihan beban dengan resistensi berat dengan pengulangan sedikit dapat menguntungkan, sejalan dengan itu

(18)

4

penelitian yang dilakukan (Sunde et al., 2010) menggambarkan keuntungan dari latihan beban, hasilnya bahwa latihan beban dengan resistensi berat dengan pengulangan sedikit dapat meningkatkan cycling economic pada atlet roadbike.

Seperti yang (Pate & Kriska, 1984) 3 komponen yang penting dalam atlet daya tahan yaitu; 1. vo2max, 2. Lactate threshold, 3. Cycling economic. Namun penelitian yang sudah ada saat ini menggambarkan latihan beban dapat meningkatkan cycling economic namun tidak dengan vo2max, lalu penelitian yang dilakukan (Marcinik et al., 1991) juga memaparkan bahwa latihan beban dapat meningkatkan peningkatkan kerja yang berkaitan dengan kenaikan lacatate threshold dan kekuatan kaki. Latihan beban direkomendasikan dilakukan sebagai latihan supplement untuk meningkatkan performa atlet daya tahan.

Functional threshold power (FTP60) adalah daya tertinggi yang dapat dipertahankan pengendara roadbike dalam keadaan Situasi yang berubah cukup lambat sehingga dapat dianggap konstan menurut Alen dalam (Borszcz et al., 2018) dalam penelitiannya pun dikatakan bahwa pengetesan FTP20 dapat menggambarkan FTP60. FTP berkorelasi dengan ambang laktat (lactate threshold) dan biasanya digunakan oleh pesepeda roadbike sebagai penyesuaian program latihan mereka (Denham et al., 2020). Lactate threshold biasanya didefinisikan sebagai beban kerja maksimul yang membuat kenaikan eksponensioal dalam nilai laktat dalam darah, lactate threshold banyak digunakan sebagai predictor kinerja performa daya tahan serta untuk mengkontrol ketika latihan (Beneke et al., 2011).

Uraian tersebut sejalan dengan pernyataan Allen & Coggan 2010 dalam bukunya yang berjudul Training and Racing With a Power Meter menyatakan bahwa metode

(19)

5

uji lapangan yang paling umum digunakan untuk mengestimasi lactate threshold adalah functional threshold power (FTP), yang didefinisikan sebagai daya tertinggi yang dapat dipertahankan dalam keadaan semi konstan. FTP juga digunakan sebagai referensi untuk menetapkan tujuh zona pelatihan yang berbeda dan, selain itu, protokol pengujian memberikan informasi tentang profil kekuatan pesepeda, yang dapat membantu dalam mengklasifikasi sesuai dengan kekuatan dan kelemahannya masing masing (Pinot & Grappe, 2011). FTP merupakan metric penting yaitu sebuah cara untung mengukur kebuguran pesepeda dan dapat pula mengukur tingkat kesulitan dalam bersepeda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa FTP dapat dijadikan gambaran sejauh mana performa pesepeda roadbike.

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan tengah Pulau Jawa yang dibatasi oleh Samudera Hindia di bagian selatan dan Propinsi Jawa Tengah di bagian lainnya. Batas dengan Propinsi Jawa Tengah meliputi: Kabupaten Wonogiri di bagian tenggara. Dengan berbagai kontur di Yogyakarta seperti gunung, bukit, jalan aspal yang membelah persawahan, pantai,. Membuat Yogyakarta menjadi salah satu kota favorit untuk bersepeda. Event sepeda khususnya pada nomor roadbike sering diselenggarakan di kota ini yang salah satunya adalah tour de ambarrukmo yang terakhir kali di gelar pada 20 Agustus 2022. Dengan rute sejauh 149 kilometer dan 1648 elevation gain.

Pesepeda roadbike di Yogyakarta dapat dikatakan cukup banyak, baik dalam satu club maupun individu. orang yang bersepeda roadbike ini kebanyakan bekerja dengan berbagai macam profesi yang jauh dari lingkup olahraga. Event seperti tour de ambarrukmo ini banyak diikuti oleh pesepeda yang bukan atlet

(20)

6

namun memiliki jadwal latihan bersepeda yang teratur setiap minggunya.

Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan banyak pesepeda yang bukan atlet ini membutuhkan performa yang lebih dari hanya sekedar bersepeda saja. Sehingga dibutuhkannya jadwal latihan yang terstruktur. Terdapat pesepeda yang dapat dikatakan performanya melebihi hobbies, namun bukanlah atlet melainkan hanya penghobi sepeda roadbike tapi dengan latihan yang teratur, lalu selanjutnya dapat kita sebut dengan pesepeda yang terlatih. Dari pengamatan peneliti masih banyak pesepeda ini yang belum mengenal strength & conditioning atau latihan kondisi fisik. Memang latihan terbaik dalam cabang olahraga sepeda adalah bersepeda, namun menurut (Sunde et al., 2010) bahwa pesepeda roadbike yang terlatih dianjurkan melakukan latihan beban agar dapat meningkatkan cycling economynya.

Pada penelitian kali ini akan meneliti tentang pengaruh latihan beban khususnya penggunaan free weigth yaitu gerakan barbell back squat dan machine weight yaitu dengan leg press terhadap functional threshold power. Di mana penelitian mengenai hubungan latihan beban dan FTP masih sangat jarang ditemukan, sehingga perlunya dilakukan penelitian tersebut sehingga harapannya dapat dijadikan acuan dalam berlatih demi meningkatkan performa para pesepeda terlatih yang ada di Yogyakarta.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang tertulis diatas, maka diketahui permasalahan yang ada. Permasalahan yang ada tersebut dapat dikumpulkan dan diidentifikasi sebagai berikut:

(21)

7

1. Masih terbatasnya penelitian yang menghubungkan pengaruh latihan beban terhadap peningkatan functional threshold power.

2. Masih terbatasnya penelitian perbandingan latihan barbell back squat dan leg press terhadap functional threshold power.

3. Masih belum banyak yang mengimplementasikan latihan beban sebagai supplement latihan untuk meningkatkan performa pada pesepeda roadbike.

4. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan tempat yang memiliki geografis yang strategis untuk bersepeda.

5. Sering kali event bersepeda baik rekreasional maupun kompetisi sering diadakan di kota Yogyakarta.

6. Dibutuhkan performa yang mumpuni untuk mengikuti berbagai macam event sepeda yang diselenggarakan di kota Yogyakarta.

C. Batasan Masalah

Agar penelitian dapat dilakukan secara mendalam dan terarah serta tidak terjadi salah penafsiran, maka peneliti perlu memberi batasan obyek dan subyek kajian penelitian. Penelitian ini hanya akan membahas tentang efek latihan barbell back squat dan leg press terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike.

D. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah ada pengaruh latihan barbell back squat terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike?

(22)

8

2. Apakah ada pengaruh latihan leg press terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike?

3. Apakah ada perbedaan pengaruh latihan barbell back squat dan leg press terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike?

E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh latihan barbell back squat dan leg press terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike.

2. Tujuan Khusus

a. Menguji pengaruh latihan barbell back squat terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike?

b. Menguji pengaruh latihan leg press terhadap functional threshold power pada pesepeda roadbike?

c. Menguji perbedaan pengaruh latihan barbell back squat dan leg press terhadap functional threshold powerpada pesepeda roadbike?

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Untuk memperluas khasanah keilmuan terhadap latihan beban, functional threshold power pada pesepeda roadbike.

b. Menjadi acuan bagi pelatih fisik dan pesepeda roadbike.

c. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan bagi penelitian lain atau sebagai penelitian lanjutan.

(23)

9 2. Manfaat Praktis

a. Untuk pesepeda roadbike untuk mengetahui pengaruh latihan barbell back squat dan leg press terhadap functional threshold power.

b. Untuk pelatih fisik khususnya cabang olahraga sepeda roadbike agar dapat mempertimbangkan keuntungan latihan beban sebagai supplement latihan.

(24)

10 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Sepeda Roadbike

Bersepeda ketahanan adalah aktivitas populer dengan banyak manfaat kesehatan terkait (Oja et al., 2011). Olahraga sepeda merupakan aktivitas gerak yang paling efisien dan membutuhkan paling sedikit energy pada sistem sendi (Thompson et al., 2020) selain itu bersepeda juga dapat menurunkan berat badan dan presentase lemak tubuh (Penggalih & Niamila, 2015) sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa sepeda menjadi pilihan untuk melakukan berolahraga selain menjadi moda transportasi.

Sejarah sepeda pertama kali ditemukan oleh anak-anak dari perancis, Pierre dan Ernest pada tahun 1863 yang menemukan pedan dan engkol di roda depan sepeda, tetapi jauh sebelum itu sepeda sudah ditemukan namun tidak memiliki engkol di roda depan. Penemuan revolusioner sepeda atau alat dengan dua roda yang bergerak adalah seorang Jerman bernama Baron Karl Drais von Sauebronn pada tahun 1817 yang terbuat dari kayu dan dilengkapi setir dan pengendaranya harus menjejakan kakinya ke tanah agar membuatnya bergerak (Kompas, 2010).

Berdasarkan jenisnya (genre) olahraga bersepeda dibedakan menjadi tiga kelompok besar yaitu BMX, Roadbike, Mountain Bike dan Trial (Union Cycliste Internationale (UCI). BMX adalah singkatan dari Bicycle MotoCross jenis sepeda ini diperlombakan dalam sirkuit khusus, dengan model lintasan berupa tikungan tajam dan gunungan bergelombang, yang membutuhkan tingkat keseimbangan dan kemampuan handling yang baik serta kemampuan mengayuh pedal dengan cepat,

(25)

11

perlombaan BMX dilakukan dengan waktu singkat antara 30-40 detik dalam satu race balap (Elvira et al., 2020) dibutuhkan skill khusus untuk menekuni genre sepeda ini, berbeda dengan roadbike, bersepeda menggunakan jenis sepeda roadbike banyak dilakukan oleh kaum urban perkotaan, sebagai rutinitas untuk mengisi waktu luang untuk sekedar berjumpa dengan teman sesama atau antar komunitas atau bepergian untuk tujuan rekreasi melintasi jalan raya (Sirna, 2016).

Selain itu pada genre roadbike juga terdapat kelas lomba, biasanya dilakukan dengan jarak tempuh tertentu, sehingga kemampuan daya tahan atlet sangat penting dalam lomba sepeda diajalan raya. Sementara itu jenis sepeda mountain bike memilki lebih banyak nomor lomba, ada nomor Cross-country, Enduro, Downhill, dan nomor pengembangan lain dari ketiga kelas lomba tersebut.

Masing-masing kelas lomba dari sepeda ini memilki jenis track dan lintasan yang berbeda (Hagen & Boyes, 2016). Bersepeda menjadi kegiatan dengan tingkat partisipasi yang tinggi dan semakin popular (Hong et al., 2020). Bersepeda baru- baru ini berkembang dari olahraga populer Eropa menjadi olahraga yang terkenal di dunia (Visentini, 2017).

Gambar 1. Sepeda Roadbike (Champoux et al., 2007)

(26)

12

Dalam berlatih olahraga perlu menyesuaikan jenis olahraga dan jenis komponen biomotorik yang akan dikembangkan. Komponen biomotorik merupakan kemampuan dasar gerak fisik atau aktivitas fisik dari tubuh manusia (Nala, 2002). Menurut Sajoto (1995) komponen kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan baik peningkatan maupun pemeliharanya. Komponen biomotorik yakni kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, kelentukan, kelincahan, ketepatan, waktu reaksi, keseimbangan, dan koordinasi (Nala, 2002). Dalam olahraga sepeda roadbike sendiri harus memiliki komponen kondisi fisik serta kadar hemoglobin yang baik, semakin tinggi angka hemoglobin yang dimiliki maka akan semakin prima kondisi fisik seseorang tersebut. Hemoglobin merupakan protein yang mengikat besi (Fe2+) sebagai komponen utama dalam eritrosit dengan fungsi transportasi O2 dan CO2 serta memberi warna merah dalam darah (Nugraha, 2015).

2. Latihan

a. Pengertian Latihan

Latihan adalah suatu proses yang tersusun secara sistematis dan terprogram dilakukan secara berulang-ulang dan semakin hari jumlah beban latihan kian meningkat (Irianto, 2018). latihan merupakan suatu proses perubahan yang lebih baik dari sebelumnya, dimana bertujuan untuk meningkatkan: suatu kualitas fisik, unsur fisiologis dalam tubuh, dan kualitas psikis seseorang. Latihan adalah upaya meningkatkan kualitas organ fungsionl dalam tubuh. Oleh sebab itu latihan yang dilakukan harus disusun dengan benar secara sistematis dan dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan tujuan awal dari latihan tersebut (Chan, 2012). Menurut (Werner

(27)

13

& Sharon, 2011) latihan adalah merupakan suatu jenis aktivitas fisik yang membutuhkan perencanaan, terstruktur, dan dilakukan secara berulang-ulang dengan maksud untuk meningkatkan atau mempertahankan satu atau lebih komponen kebugaran jasmani.

Menurut (McArdle et al., 1991) dalam (Nasrulloh et al., 2018) ada dua istilah dalam latihan yaitu acute exercise dan chronic exercise. Acute exercise adalah latihan yang dilakukan hanya sekali saja atau disebut dengan exercise, sedangkan chronic exercise adalah latihan yang dilakukan secara berulang-ulang sampai beberapa hari atau sampai beberapa bulan (training). Seseorang yang sedang melakukan program latihan/pelatihan (training) pasti akan terjadi perubahan fisiologis di dalam tubuhnya, sedangkan seseorang yang melakukan exercise akan terjadi perubahan yang bersifat sementara (waktu yang relatif singkat). Perubahan yang terjadi pada waktu seseorang melakukan exercise disebut dengan respons. Adapun perubahan yang terjadi karena training disebut adaptasi.

b. Tujuan Latihan

Tujuan dan sasaran utama dari latihan adalah meningkatkan kebugaran jasmani menurut (Irianto, 2017) ada empat komponen di antaranya daya tahan paru dan jantung, yakni kemampuan paru jantung menyuplai oksigen untuk kerja otot dalam jangka waktu lama, Kekuatan dan daya tahan otot, kekuatan otot adalah kemampuan otot melawan beban dalam satu usaha.

Daya tahan otot adalah kemampuan otot melakukan serangkaian kerja dalam waktu yang lama. Kelentukan adalah kemampuan persendian bergerak secara leluasa. Komposisi tubuh adalah perbandingan berat tubuh berupa lemak

(28)

14

dengan berat tubuh tanpa lemak yang dinyatakan dalam persentase lemak tubuh.

Tujuan latihan dapat tercapai jika suatu latihan dilakukan secara tepat apabila intesitas atau jenis latihan yang di pilih sesuai dengan kebutuhan, dimana latihan di harapkan meningkatkan kesehatan serta dapat meningkatan kebugaran tubuh bagi manusia kearah yang lebih baik (Sukadiyanto & Muluk, 2011) dan (Sugiharto, 2014).

c. Prinsip Latihan

Prinsip dalam latihan merupakan hal hal yang harus ditaati, dan dilakukan atau dihindari, agar tujuan latihan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Karena prinsip ini memiliki peran yang sangat penting dalam aspek fisiologis dan psikis manusia. Dengan memahami prinsip-prinsip dalam latihan, dapat mendukung upaya dalam meningkatkan kualitas latihan (Sukadiyanto & Muluk, 2011).

Berikut ini adalah beberapa prinsip-prinsip dalam latihan yang dapat dilukakan sebagai pedoman, agar tujuan dari latihan terebut mudah tercapai, antara lain:

1) Prinsip Individu

Setiap manusia dalam menerima atau merespons beban latihan berbeda beda. Sehingga dalam beban latihan bagi manusia yang dilatih tidak boleh disamakan antara satu dengan yang lainya. Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan terhadap kemampuan manusia dalam merespons beban latihan, diantaranya faktor gen (keturunan), waktu istirahat, gizi, tidur, komposisi tubuh dan lingkungan.

(29)

15 2) Prinsip Adaptasi

Latihan menyebabkan perubahan pada jaringan-jaringan dalam tubuh secara bertahap, sesuai dengan tingkat pembebanan yang dirancang yang diberikan oleh pelatih kepada setiap manusia. Setiap harinya tingkat adaptasi pada seseorang berbeda pada setiap ada perubahanya yang sangatlah sedikit dan sulit untuk diukur, sehingga diperlukanya pemantauan disetiap sesi, atau di setiap proses dari latihan agar mengetahui tingkat perubahanya.

3) Prinsip Overload

Prinsip beban lebih adalah prinsip yang paling mendasar akan tetapi paling penting. Karena itu tanpa penerapan prinsip ini kebugaran jasmani tidak akan meningkat. Dalam latihan pembebanan harus mencapai atau melampui sedikit diatas batas ambang rangsang manusia. Sebab beban yang terlalu overload akan mengakibatkan manusia tidak mampu mengadaptasi beban dari latihan dan mengakibatkan perusakan otot yang tidak bagus yang dapat mengakibatkan tumbuh kembang manusia tidak bagus. Sedangkan bila terlalu ringan tidak berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan dan kualitas fisik dari manusia, sehingga beban latihan harus memenuhi prinsip overload.

Pembebanan latihan harus dilakukan secara progresif dan dirubah sesuai dengan tingkatan dari dari manusia (Sukadiyanto & Muluk, 2011).

Beban yang dilakukan harus lebih berat dari latihan sebelumnya pada batas ambang rangsang kepekaan manusia tersebut (thereshold of sensitivity).

(30)

16

Sedangkan yang dimaksut dengan (Progressive Overloading) adalah:

Penerapan system peningkatan beban yang terus menerus. Penerapan system overload harus diperkirakan bebanya karena jika terlalu berat dapat mengakibatkan kerusakan system faal tubuh manusia.

4) Prinsip Progresif

Pelaksanaan pelatihan dilakukan dari yang mudah ke yang sukar, dari yang ringan ke berat, dari yang sederhana ke kompleks, dari bagian ke keseluruhan, dari yang umum ke khusus, dan dari kuantitas ke yang kualitas, serta dilakukan secara stabil, maju dan berkelanjutan. Dalam menerapkan prinsip over load harus dilakukan secara cermat, bertahap, kontinyu dan tepat. Karena setiap dari tujuan latihan setiap manusia memiliki jangka waktu yang berbeda dalam beradaptasi. Seperti halnya yang diungkapkan (Sukadiyanto & Muluk, 2011). Bila peningkatan beban latihan secara mendadak, tubuh tidak akan mampu mengadaptasinya bahkan akan merusak dan berakibat cidera serta rasa sakit yang akan ditimbulkan. Otot akan bekerja pada daerah sedikit diatas kemampuanya disebut dengan prinsip peningkatan secara bertahap (Chan, 2012).

3. Latihan Beban

a. Pengertian Latihan Beban

Kekuatan akan dapat tercapai manakala suatu otot diberikan rangsangan secara berulang-ulang untuk menghasilkan suatu tingkat tenaga yang melebihi tenaga yang biasa merangsang otot tersebut. Menurut (Irianto, 2018) Kekuatan adalah kemampuan untuk mengatasi tahanan. Kekuatan otot tidak dapat terjadi

(31)

17

tanpa kontraksi otot yang maksimal. Kontraksi ini dapat terjadi dengan melakukan latihan resistence. Resistence (perlawanan) merupakan tenaga atau beban yang digunakan oleh anggota tubuh dimana kontraksi otot mencoba untuk mengatasi beban tersebut. Latihan beban ini dapat juga digunakan untuk mengembangkan keuntungan-keuntungan dalam kelenturan, kelincahan dan ketahanan (Mardhika, 2017). Latihan resistence dikenal juga sebagai latihan kekuatan atau latihan beban (weight training) yang kerap digunakan sebagai metode latihan yang efektif untuk mengembangkan kebugaran otot (Bird et al., 2005).

Latihan beban adalah latihan menggunakan beban untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengerahkan kekuatan dengan tujuan meningkatkan kekuatan, daya tahan otot, hipertrofi, kinerja atlet atau kombinasi dari tujuan tersebut (Baechle & Earle, 2014). (Faigenbaum & Westcott, 2009) mengatakan bahwa latihan beban merupakan latihan olahraga yang terencana dan terstruktur dengan menggunakan beban yang tepat dan secara bertahap dengan tujuan agar otot berkembang lebih kuat. latihan beban (weight training) disebut juga resistance training adalah salah satu jenis latihan olahraga yang menggunakan beban sebagai sarana untuk memberikan rangsang gerak pada tubuh. Pada awalnya latihan beban dikembangkan untuk melatih otot dengan tujuan untuk meningatkan kekuatan, daya tahan dan hipertrofi otot menurut (Djoko, 2009).

Menurut (Nasrulloh et al., 2018) Pada awalnya latihan beban dikembangkan untuk melatih otot dengan tujuan untuk meningatkan kekuatan, daya tahan dan hipertrofi otot Akan tetapi, dalam perkembangannya latihan beban dapat dirancang untuk meningkatkan dayatahan paru jantung dan memperbaiki komposisi tubuh.

(32)

18

Senada dengan pendapat (Baechle & Earle, 2014) mengatakan bahwa latihan beban akan dapat meningkatkan kekuatan otot, daya tahan otot, koordinasi neuromuskular, dan kepadatan tulang (membantu mencegah osteoporosis), serta dapat membantu untuk diabetes tipe 2, meningkatkan kesehatan jantung dengan menurunkan tekanan darah dan memiliki efek positif untuk mengontrol kolesterol dan tingkat lipoprotein.

Latihan beban dikenal sebagai salah satu teknik untuk meningkatkan penampilan seorang atlet. Latihan beban harus memiliki program latihan yang jelas agar tujuan latihan dapat tercapai. Latihan beban juga dapat digunakan sebagai alat untuk menurunkan berat badan (fatloss), penambahan berat badan, hipertrofi, pengencangan, kebugaran dan rehabilitasi pasca cedera. Semua tujuan ini dicapai dengan dosis latihan yang berbeda. Program latihan kekuatan terdiri dari kombinasi beberapa variabel. Variabel yang relevan terdiri dari pemilihan latihan (struktur latihan, kontak otot selama latihan dan urutan latihan yang dipilih), volume dan intensitas, interval istirahat, kecepatan dan frekuensi angkat beban.

Oleh karena itu, latihan beban yang dilaksanakan secara baik dan tepat akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas dan kuantitasnya dalam proses mencetak olahragawan. Manfaat dari latihan beban bagi olahragawan, diantaranya untuk: (1) meningkatkan kemampuan otot dan jaringan, (2) mengurangi dan menghindari terjadinya cedera pada olahragawan, (3) meningkatkan prestasi, (4) terapi dan rehabilitasi cedera pada otot, dan (5) membantu mempelajari atau penguasaan teknik (Sukadiyanto & Muluk, 2011).

(33)

19 b. Bentuk Latihan Beban

Menurut (Nasrulloh et al., 2018) terdapat 2 jenis bentuk latihan beban yaitu beban dalam dan beban luar. Pernyataan ini senada dengan (Baechle & Earle, 2014) bahwa latihan beban dapat menggunakan beban bebas, berat badan pengangkat sendiri, mesin, atau perangkat lain untuk mencapai tujuan latihan. Latihan beban dapat dilakukan dengan menggunakan beban dari berat badan sendiri (beban dalam) atau menggunakan beban luar yaitu beban bebas (free weight) seperti dumbell, barbell, dan mesin (gym machine). Latihan dengan menggunakan beban dalam cenderung lebih mudah dilakukan dimana saja karena sistem pembebanannya hanya menggunakan beban berat badan sendiri. Akan tetapi, variasi latihan dengan beban dalam ini tidak sebanyak beban bebas sehingga perkenaan ototnya belum terfokus. Latihan dengan menggunakan beban dalam diantaranya adalah sebagai berikut: a) push up, b) sit up, c) crunch, d) v-up, e) pull up, f) back up, g) back extension dan h) chest dip.

Pada umumnya latihan beban sering dilakukan dengan mesin, beban bebas berupa barbell, dan dumbell. Latihan beban dengan beban bebas dapat dilakukan dalam berbagai gerakan, sehingga masing-masing otot lebih efektif. itu berkonsentrasi pada bidang kebugaran. Sebelum melakukan latihan beban dengan beban bebas, penting untuk memahami jenis peralatan, cara kerjanya, dan cara menggunakannya (Nasrulloh et al., 2018). Jadi tidak ada risiko cedera selama latihan kekuatan. Jenis peralatan olahraga yang dapat digunakan adalah mesin, beban bebas (barbel, dumbel, kettlebell), pita resistensi, bola stabilitas, atau kombinasi dari semuanya (Baechle & Earle, 2014).

(34)

20

1) Menurut (Nasrulloh et al., 2018) mesin yang digunakan selama binaraga adalah alat dirancang khusus untuk memfasilitasi pelatihan kebugaran semua orang. Latihan kekuatan dengan mesin lebih mudah karena bentuk alat sudah disesuaikan dengan kerja otot target, sehingga penggunanya cukup mengangkat, menarik, atau mendorong dengan pegangan. Sistem pemuatan mesin juga telah dirancang dari yang ringan hingga yang berat, sehingga dapat disesuaikan dengan kemampuan setiap orang.

(Baechle & Earle, 2014) menyebutkan ada dua jenis yang paling umum dari mesin latihan beban yaitu mesin cam dan mesin katrol. Mesin cam adalah mesin resistansi yang dilengkapi dengan roda berbentuk elip disebut sebagai cam, selain itu dilengkapi dengan rantai, kabel atau sabuk dari atas sampai bawah cam. Jarak antara titik rotasi dan tumpukan berat bervariasi untuk menghasilkan beban yang lebih konsisten pada otot.

Sedangkan mesin katrol berfungsi untuk mengubah arah pada tumpukan beban agar bergerak naik setelah ditarik atau didorong dengan bantuan handle dan kabel baja yang terbungkus plastik. Kebanyakan mesin latihan beban memiliki satu atau lebih katrol putaran dari berbagai ukuran yang dilingkarkan dengan kabel baja yang terbungkus plastik. Salah satu keuntungannya adalah seseorang dapat melatih otot-ototnya dengan berbagai gerakan menarik atau mendorong handle yang telah dihubungkan dengan tumpukan beban secara mudah. Latihan beban menggunakan mesin ini dianggap lebih aman daripada latihan dengan menggunakan beban

(35)

21

bebas, sehingga lebih tepat diperuntukkan bagi pengguna pemula yang belum pernah melakukan latihan beban.

2) Latihan menggunakan beban bebas ini memberikan keleluasaan yang lebih banyak kepada seseorang untuk melakukan variasi gerakan (Nasrulloh et al., 2018). Keleluasaan gerakan ini dapat memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk melatih otot-otot yang diinginkan. Akan tetapi dalam penggunaan beban bebas ini harus dilakukan dengan hati-hati supaya tidak terjadi kesalahan gerakan yang dapat mengakibatkan cedera.

Oleh karena itu, sebelum latihan dengan menggunakan beban bebas hendaknya seseorang memahami terlebih dahulu tentang jenis dan penggunaan peralatan beban bebas.

(Baechle & Earle, 2014) menyebutkan bahwa barbell, dumbbell, dan kettlebells dikategorikan sebagai beban bebas. Barbell merupakan peralatan beban bebas yang terdiri dari lempengan beban dengan berat bervariasi dan dilengkapi dengan bar sebagai media untuk pegangan. Dumbbell merupakan peralatan beban bebas yang digunakan untuk latihan dengan menggunakan satu atau dua lengan sehingga memiliki lebih banyak variasi latihan. Kettlebells merupakan peralatan beban bebas yang menyerupai bola besi dengan pegangan melekat pada bagian atas. Salah satu keuntungan menggunakan kettlebells adalah dapat melatih beberapa kelompok otot pada saat yang sama dan memaksa kelompok otot tersebut untuk bekerja sama.

Latihan dengan beban bebas ini dapat lebih memberikan makna terhadap perkenaan otot daripada latihan dengan mesin, karena dapat

(36)

22

dilakukan dengan banyak variasi gerakan yang dapat lebih fokus pada otot tertentu. Latihan menggunakan beban bebas biasanya banyak dilakukan oleh orang yang sudah mahir dalam melakukan latihan beban, karena latihan dengan beban bebas ini dapat menyebabkan resiko cedera lebih tinggi daripada latihan beban dengan menggunakan mesin (Nasrulloh et al., 2018).

Bentuk dari beban bebas mengacu pada peralatan yang digunakan dalam latihan dimana peralatan tersebut mudah diangkat dan diturunkan sebagai satuan unit gerak yang lengkap. Ini dikatakan sebagai beban bebas karena peralatan bebas digerakkan ke segala arah dan dengan cara apapun. Secara teknis, setiap benda dapat dianggap sebagai beban bebas, tetapi biasanya mengacu pada lempengan beban (weight plates) dan barbell atau dumbbell dan terkait dengan peralatan yang biasa ditemukan di pusat kebugaran.

c. Prinsip-prinsip Latihan Beban

Prinsip latihan beban merupakan salah satu kunci utama dalam penyusunan program latihan agar tujuan latihan dapat tercapai. Tujuan utama seseorang melakukan latihan beban adalah untuk melatih kemampuan fisik agar mengalami peningkatan kebugaran jasmani. Ketika melakukan latihan beban, seseorang hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip latihan beban. Prinsip latihan beban meliputi frekuensi, intensitas, durasi, dan tipe (FITT), beban meningkatkan progresif, individual, spesipik, adaptasi, dan recovery, (Sandler, 2010).

(T. Bompa & Buzzichelli, 2015) menyebutkan bahwa prinsip-prinsip latihan beban terdiri atas :

1) prinsip beban meningkat progresif (progressive increase of load),

(37)

23 2) prinsip bervariasi (variety),

3) prinsip individual (Individualization), dan 4) prinsip spesifik (specificity).

Selain ke empat prinsip latihan yang telah disebutkan di atas ada beberapa ahli menambahkan sejumlah point ke dalam prinsip latihan diantaranya:

1) Prinsip pulih asal (recovery) bertujuan untuk memulihkan kondisi tubuh pada keadaan sebelum aktivitas, baik pemulihan terhadap cadangan energy maupun pembuangan asam laktat dari darah dan otot serta pemulihan cadangan oksigen (Soekarman, 1991).

2) Prinsip beban berlebih (the overload principle) untuk mendapatkan efek latihan yang baik organ tubuh harus diberi beban latihan yang melebihi yang biasa diterima aktivitas sehari-hari. Beban latihan yang diberikan pada setiap atlit tidak sama (individual), dan bebannya mendekati beban maksimal. Dengan beban yang akan memaksa otot untuk berkontraksi semaksimal mungkin, sehingga dapat merangsang adaptasi fisiologis yang dapat meningkatkan kekuatan dan daya tahan (El et al., 1998)

3) Prinsip latihan kembali asal (Reversibility) hasil latihan olahraga tidak bisa disimpan, jika tidak dilatih akan tampak turunnya tanda-tanda ketrampilan, daya tahan, kekuatan, dan lainlain dari tingkatan sebelumnya (Nasrulloh et al., 2018).

d. Komponen Latihan Beban

Menurut (Sukadiyanto & Muluk, 2011) Latihan merupakan proses pengakumulasian dari berbagai komponen kegiatan yang antara lain seperti: durasi, jarak, frekuensi, jumlah, ulangan, pembebanan, irama melakukan, intensitas,

(38)

24

volume, pemberian waktu istirahat, dan densitas. Oleh karena itu, dalam menyusun dan merencanakan proses latihan seseorang pelatih harus mempertimbangkan faktor-faktor yang disebut komponen latihan. Dalam merancang suatu proses latihan harus mempertimbangkan semua aspek komponen latihan yang berupa jarak yang ditempuh dan jumlah pengulangan (volume), beban dan kecepatannya (intensitas), frekuensi penampilan (densitas), serta kompleksitas latihannya.

Komponen latihan merupakan kunci atau hal penting yang harus dipertimbangkan dalam menentukan dosis dan beban latihan.

Sukadiyanto dalam (Nasrulloh et al., 2018) menyampaikan bahwa komponen-komponen penting dalam latihan adalah: (1) intensitas, (2) volume, (3) recovery, (4) interval, (5) repetisi, (6) set, (7) seri atau sirkuit, (8) durasi, (9) densitas, (10) irama, (11) frekuensi, dan (12) sesi atau unit. Efisiensi program latihan fisik hasil dari manipulasi volume (durasi, jarak, pengulangan, atau beban volume), intensitas (beban, kecepatan, atau power), dan densitas (frekuensi), yang merupakan variabel kunci dalam latihan (T. O. Bompa & Buzzichelli, 2018). (T.

Bompa & Buzzichelli, 2015) menyatakan secara singkat bahwa variabel (komponen) latihan terdiri dari: (1) volume latihan, (2) intensitas latihan, (3) repetisi, (4) set, (5) densitas, (6) irama latihan, dan (7) istirahat antar set. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa komponen latihan terdiri dari:

(1) volume latihan, (2) intensitas latihan, (3) repetisi, (4) set, (5) densitas, (6) irama latihan, dan (7) recovery antar set.

(39)

25 4. Latihan Barbell back squat

Latihan squat adalah jenis latihan beban untuk meningkatkan mengembangkan kekuatan terutama pada otot-otot kaki, dan beban adalah sebagai dasar pokok latihan. Latihan squat ini dilakukan dengan cara membebani organ tubuh dengan suatu barbel dengan intensitas, set, frekuensi dan lama latihannya dapat menimbulkan suatu efek latihan yaitu berupa peningkatan kekuatan (strength), daya ledak serta daya tahan otot. Dengan meningkatkan kekuatan (strength), daya ledak dan daya tahan otot, kemampuan fisik akan bertambah secara umum. Latihan squat dapat dilakukan dengan dua macam yakni dengan smith machine dan beban bebas (free weight), smith machine sangat membantu menyeimbangkan beban dengan baik juga bagi si pemula sehingga dapat berkonsentrasi dengan otot yang sedang dilatih (Riadi, 2010).

1) Tahapan Pelaksanaan

a) Posisi Awal Lerakkan barbell dari bangku rak pada bahu. Pegang barbell melebihi lebar bahu dengan posisi kaki berdekatan. Pandangan ke arah depan.

(40)

26

Gambar 2. Awalan Barbell back squat b) Pergerakan

Tekuk lutut dan pinggul, biarkan gluteus mengarah ke belakang untuk

menurunkan tubuh hingga paha sejajar dengan lantai. Lakukan gerakan dengan perlahan-lahan. Naikkan kembali tubuh pada posisi semula.

Gambar 3. Pergerakan Barbell back squat

(41)

27 2) Perkenaan Otot

Otot utama : quadriceps, gluteus maximus, gluteus medius, gluteus minimus Otot pendukung : hamstrings, external oblique, gastrocnemius

Gambar 4. Perkenaan Otot Barbell back squat (Puleo & Milroy, 2018) 3) Pernapasan

Tarik napas ketika menurunkan tubuh dari posisi berdiri hingga posisi lutut dan pinggul menekuk. Hembuskan napas saat mengangkat tubuh dari posisi lutut dan pinggul menekuk hingga posisi tubuh tegap berdiri.

5. Latihan Leg press

Latihan leg press perlu dipelajari mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit serta penambahan bebanbeban yang diperlukan dalam latihan dari yang paling ringan ditingkatkan secara bertahap ke program yang lebih berat.

Pada saat belajar dan kemudian beban yang makin berat untuk memperoleh hasil yang memuaskan, mengatur pelatihan beban juga memberikan kesempatan yang terbaik untuk belajar secara tepat tanpa takut cedera (Baechle & Earle, 2014).

Latihan leg press menurut (Baechle & Earle, 2012) latihan ini menyangkut

(42)

28

penggunaan mesin leg press jenis puli, pivot atau cam. Pelatihan leg press sangat baik untuk pembentukan kekuatan otot kaki, membantu stabilitas persendian lutut dan panggul serta memadatkan otot (Baechle & Earle, 2014).

1) Tahapan Pelaksanaan

a) Posisi Awal Duduk pada mesin leg press dengan kaki bertumpul pada pelat yang ada dan membuka selebar bahu, posisi kaki lurus. Punggung menempel pada sandaran.

Gambar 5. Awalan Leg press b) Pergerakan

Buka kunci penahan beban pada mesin, perlahan-lahan turunkan beban dengan cara menekuk lutut ke arah dada hingga lutut membentuk sudut 90 derajat. Dorong beban dengan menggunakan tumit untuk mengangkat kembali beban pada posisi semula hingga posisi kaki lurus

(43)

29

Gambar 6. Pergerakan Leg press 2) Perkenaan Otot

Otot utama : quadriceps, gluteus maximus Otot Pendukung : gastrocnemius, biceps femoris

Gambar 7. Perkenaan Otot Leg press (Puleo & Milroy, 2018)

Menurut (Delavier & Gundill, 2011) posisi tumpuan kaki pada lempengan mesin juga mempengaruhi perkenaan otot yang dilatih seperti digambarkan di bawah ini:

(44)

30

Gambar 8. Penempatan Kaki pada Leg press 3) Pernapasan

Tarik napas ketika menurunkan beban dari posisi kaki lurus hingga posisi lutut dan pinggul menekuk. Hembuskan napas saat mengangkat beban dari posisi lutut dan pinggul menekuk hingga posisi kaki lurus

6. Functional threshold power

Istilah “threshold” telah menjadi sinonim dari kata “confusion” di benak banyak atlet. Ada banyak kata berbeda untuk konsep yang pada dasarnya sama yaitu: anaerobic threshold (AT), lactate threshold (LT), maximal lactate steady state (MLSS), onset of blood lactate (OBLA), dan pada intinya adalah “threshold”

atau ambang batas yang lama. Dengan berkembangnya teknologi terutama pada cabang olahraga sepeda roadbike, telah terciptanya power meter yang berguna untuk memahami data yang disajikan pada tampilan saat balapan atau latihan yang memiliki manfaat, namun keuntungan sebenernya dari power meter adalah menggunakan data yang direkam untuk mendapatkan wawasan yang dapat meningkatkan performa (Allen et al., 2019). Maka dari itu pengumpulan data menggunakan power meter akan dijadikan rujukan dalam membuat program latihan maupun evaluasi setelah balapan.

(45)

31

Menurut (Allen et al., 2019) Functional threshold power adalah kekuatan tertinggi yang dapat dipertahankan pengendara dalam kondisi quasi-steady tanpa melelahkan. Ketika daya melebihi FTP, kelelahan akan terjadi lebih cepat (umumnya setelah sekitar satu jam pada pengendara sepeda yang terlatih), sedangkan daya tepat di bawah FTP dapat dipertahankan jauh lebih lama.

Pernyataan ini senada dengan (Cheung & Zabala, 2017) dalam bukunya “cycling science” yang mengatakan bahwa Functional threshold power adalah daya rata-rata tertinggi yang dapat pertahankan dalam kondisi quasi-steady tanpa kelelahan selama 1 jam.

(Allen et al., 2019) dalam bukunya juga menyebutkan bahwa terdapat 4 index functional threshold power berdasarkan durasinya yaitu; 5 detik untuk mencerminkan kekuatan neuromuskuler, 1 menit untuk mencerminkan kapasitas anaerobic, 5 menit untuk mencerminkan vo2max, dan 20 menit untuk mencerminkan ambang laktat. Juga tidak berarti bahwa upaya habis-habisan selama 5 menit memerlukan latihan tepat 100 persen VO2max (sebagian besar atlet dapat mempertahankan kekuatan yang akan menghasilkan 105–110 persen VO2max mereka untuk durasi ini).

a. Menentukan FTP

Cara menentukan Functional threshold power menurut (Allen et al., 2019):

1. Grafik distribusi frekuensi power.

Perkiraan FTP yang baik seringkali dapat diperoleh hanya dengan mengunggah semua data latihan ke dalam power meter software dan kemudian memeriksa grafik distribusi frekuensi daya. Karena latihan di atas

(46)

32

ambang batas cukup berat dan ada batasan berapa lama bisa bertahan, sering kali akan ada penurunan yang cukup mencolok di atas titik ini dalam grafik.

Metode ini bekerja paling baik jika periode waktu yang diperiksa mencakup beberapa latihan dan/atau balapan intensitas tinggi, yang berfungsi untuk membuat perbedaan antara sub threshold and supra threshold batasnya lebih jelas.

2. Routine steady power

Cara lain untuk memperkirakan threshold power tanpa pengujian formal adalah dengan mengevaluasi kekuatan tetap yang dapat dihasilkan secara rutin dalam latihan dengan upaya keras yang lebih lama, seperti interval atau pengulangan yang ditujukan untuk meningkatkan lactate treshold, atau selama bersepeda “climbing” yang lebih lama. Di sebagian besar software pengukur daya, cara termudah untuk melakukannya adalah dengan menambahkan garis kisi horizontal ke grafik "stacked" dari latihan (atau balapan) yang dipilih dengan tepat, dan kemudian mencari tempat di mana kekuatan Anda kuasi konstan selama beberapa menit pada suatu waktu.

3. Normalized power

Cara lain untuk menentukan threshold power yang tidak memerlukan pengujian formal adalah dengan menggunakan software power meter untuk memeriksa power normal dengan usaha maksimal selama 1 jam.

(47)

33 4. Uji coba waktu satu jam

Karena menurut definisinya, ukuran kinerja terbaik adalah kinerja itu sendiri, perkiraan paling langsung dari FTP akan diperoleh hanya dengan melakukan uji coba satu jam.

5. Mathematical modeling

Penggunaan Critical Power (CP) atau model power duration lebih cocok digunakan oleh orang yang cenderung matematis. Dimungkinkan untuk melakukan pengujian formal untuk menentukan “critical power”

seperti yang dijelaskan dalam literasi ilmiah.

6. Computer modeling

Aplikasi software TrainingPeaks WKO4, yang sebagian dikembangkan oleh (Allen et al., 2019), yang berisi model durasi power yang menggunakan data daya untuk memperkirakan FTP itu sendiri. Salah satu keunggulan metode ini adalah dapat memberikan perkiraan FTP dengan cepat dan mudah tanpa pengujian formal.

b. Protocol pengujian FTP

(Allen et al., 2019) mengembangkan protokol pengujian untuk memperkirakan FTP berdasarkan watt tertinggi yang rata-rata dapat dipertahankan selama periode waktu yang substansial. Pastikan untuk melakukan pemanasan yang sama, dan untuk menggunakan intensitas yang sama dalam pemanasan, setiap kali melakukan tes. Interval pemanasan dan pemulihan selama pengujian harus sekitar 65 persen dari FTP, yang akan menjadi kecepatan endurance. Setelah tiga interval mengayuh cepat, pemanasan yang sebenarnya dimulai.

(48)

34

Ketika memulai dengan 5-minute all-out effort, tahan lalu mulai dengan kecepetan tinggi, tetapi jangan dengan usaha maksimal. Cadangkan untuk ke garis finish di menit terakhir. Tujuan dari bagian pertama ini ada tiga: pertama, untuk

"membuka" kaki selama sisa upaya. Kedua, untuk menangkap kemampuan untuk menghasilkan watt dalam apa yang disebut daya VO2max, atau Level 5. ketiga, untuk menggunakan sebagian besar kapasitas kerja aerobik Anda untuk mengurangi pengaruh kemampuan aerobic dalam tes 20 menit. Upaya berikutnya lebih mungkin untuk benar-benar mewakili FTP. Hal ini serupa dengan pendapat (Mackey &

Horner, 2021) yang menjelaskan bahwa FTP20 berguna untuk memprediksi performa atlet khususnya pada atlet roadbike, FTP20 pun telah dilaporkan bahwa merupakan tes yang reliabel.

Untuk uji waktu 20 menit, berkendara di jalan yang cukup datar, memungkinkan upaya yang kuat dan stabil selama 20 menit. Jangan memulai terlalu keras! Dapatkan kecepatan dan kemudian coba pertahankan kecepatan itu.

Jika seseorang belum pernah melakukan salah satu dari upaya ini sebelumnya, cobalah ini pada tanjakan yang stabil atau sedikit angin sakal, di mana Anda dipaksa untuk berkendara dengan upaya maksimal selama 20 menit. Tujuannya adalah menghasilkan watt rata-rata tertinggi selama seluruh periode. Jika tiba-tiba kehabisan energi, maka tidak akan mampu menghasilkan kekuatan kondisi mapan maksimal yang sebenarnya. Itu selalu lebih baik untuk menjadi sedikit di bawah apa yang Anda yakini sebagai FTP Anda selama 2 menit pertama, membangun kecepatan, dan kemudian naik pada level maksimum Anda dalam 3 menit terakhir.

Selesaikan perjalanan dengan kecepatan yang mudah.

(49)

35

Tabel 1. Test FTP

Setelah menyelesaikan tes dan mengunduh data, cari tahu berapa daya rata- rata untuk seluruh upaya 20 menit. Ambil angka ini dan kurangi 5 persen darinya sebagai aturan umum. Angka yang dihasilkan adalah watt FTP. jika rata-rata 305 watt untuk uji waktu 20 menit, akan dihitung bahwa 305 × 0,05 = 15,25, dan 305 – 15,25 = 290. Dengan demikian, FTP diperkirakan 290 watt.

c. Faktor yang mempengaruhi FTP

menurut (Cusick, 2020) faktor yang mempengaruhi functional threshold power adalah sebagai berikut:

1) vo2max yaitu seberapa besar oksigen yang bisa ditranfer ke otot.

2) penggunaan vo2max, pada dasarnya berapa % dari vo2max yang dapat dipertahankan selama 20,30,40 menit belum tentu sama untuk setiap atlet.

3) economy yaitu jika ada 2 atlet yang memiliki vo2max dan pemanfaat vo2max yang sama. jika salah satu atlet memiliki kekuatan dan neuromuscular sistem yang lebih baik maka atlet itu dapat memproduksi watts yang lebih banyak.

(50)

36 d. Grafik Tingkatan Kemampuan FTP

Grafik tingkatan FTP menurut (Allen et al., 2019) terbagi menjadi beberapa tingkatan dalam tabel berikut:

Tabel 2. Power Profil Chart Functional threshold power

(51)

37

(52)

38 B. Penelitian yang Relevan

Tabel 3. Penelitian yang Relevan No Judul Penelitian yang

Relevan

Perbedaan Kesamaan Hasil 1 Loveless, D. J., Weber, C.

L., Haseler, L. J., &

Schneider, D. A. (2005).

Maximal leg-strength training improves cycling economy in previously untrained men. Medicine and science in sports and exercise, 37(7), 1231.

Variable terikatnya adalah cycling economy dan subjeknya adalah laki laki yang tidak terlatih

Latihan strength training, sepeda roadbike

Latihan strength training meningkatkan cycling economy pada orang yang tidak terlatih 2 Sunde, A., Støren, Ø.,

Bjerkaas, M., Larsen, M.

H., Hoff, J., & Helgerud, J.

(2010). Maximal strength training improves cycling economy in competitive cyclists. The Journal of

Variable terikatnya adalah cycling economy

Latihan strength training, sepeda roadbike, subjeknya pesepeda

Latihan strength training meningkatkan cycling economy

(53)

39 Strength & Conditioning

Research, 24(8), 2157- 2165.

yang terlatih

pada orang yang terlatih 3 Rachman, A. (2014).

Pengaruh latihan squat dan leg press terhadap strength dan hypertrophy otot tungkai. Jurnal multilateral, 13(2).

Variable terikatnya adalah kekuatan dan hypertrophy otot tungkai

Latihan squat dan leg press

metode latihan squat lebih

significant daripada leg press

terhadap peningkatan strength dan hypertrophy otot tungkai 4 Nugroho, R. A., Yuliandra,

R., Gumantan, A., &

Mahfud, I. (2021).

Pengaruh Latihan Leg Press dan Squat Thrust Terhadap Peningkatan Power Tungkai Atlet Bola Voli. Jendela

Olahraga, 6(2), 40-49.

Samplenya menggunakan atlet bola voli, variable terikatnya adalah power tungkai

Latihan squat dan Leg press

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

kelompok latihan leg press lebih signifikan dalam

meningkatkan power

tungkai atlet bola voli di bandingkan kelompok latihan Squat Thrust.

C. Keterbaruan Penelitian

Penelitian ini memiliki hal yang baru dari penelitian yang sebelumnya, keterbaruan tersebut terdapat pada variable terikat yang diteliti yaitu Functional threshold power yang akan ditinjau apakah dipengaruhi oleh latihan beban. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan (Loveless et al., 2005) dan (Sunde et al., 2010) meneliti tentang pengaruh latihan beban terhadap cycling economic. Dalam penelitian tersebut menghasilkan teori yaitu terdapat pengaruh positif dari latihan

(54)

40

beban terhadap cycling economic. Sedangkan penelitian tersebut tidak menyebutkan apakah Functional threshold power juga dipengaruhi oleh latihan beban. Latihan beban yang dimaksud adalah latihan squat menggunakan smith machine dengan intensitas 4RM pada penelitian oleh (Sunde et al., 2010), sedangkan (Loveless et al., 2005) menggunakan hack squat dengan intensitas 5RM.

Pada penelitian ini menggunakan latihan barbell back squat dan leg press dengan intensitas 5RM sebanyak 4 set dengan frekuensi 2x seminggu selama 6 minggu.

D. Kerangka Berpikir

Sepeda roadbike merupakan salah satu olahraga daya tahan dengan Performa ketahanan (endurance) dalam roadbike kira-kira 80-99% tergantung pada metabolisme aerobic (Astrand et al., 1986). Banyaknya pengguna sepeda roadbike di kota Yogyakarta membuat beberapa event organizer membentuk race/fun ride seperti tour de ambarukmo, rabu brutal, le etape, dan lain sebagainya. Maka dari itu tidak sedikit pesepeda yang sering lalu lalang di kota Yogyakarta untuk sekedar melakukan latihan agar meningkatkan performanya dalam bersepeda.

Salah satu cara meningkatkan performa bersepeda yaitu dengan menambah latihan menggunakan latihan beban. Menurut (Sunde et al., 2010) melakukan latihan beban untuk pesepeda roadbike dapat meningkatkan cycling economi di mana hal ini sangat menguntungkan bagi pesepeda roadbike karena konsumsi oksigen yang dibutuhkan berkurang dengan tenaga yang dikeluarkan (dalam bentuk watt).

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Hal ini menyebabkan siswa kurang memahami teknik dasar yang benar dalam bulutangkis, misalnya pada gerakan pukulan lob forehand?. Siswa melakukan pukulan lob

Oemikian pernberitahuan ini atas kerjasamanya karni ucapkan banyak terima Dalarn rangka persiapan pencairan BOP RA dan pernbukaan rekening BOP RA tahun 2017

Analisis Pengaruh Persepsi Pasien Tentang Mutu Pelayanan Dokter terhadap Loyalitas Pasien di Poliklinik Umum Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang

Dari semua kesalahan struktur tersebut, kesalahan yang paling banyak ditemukan adalah kepaduan kalimat sebanyak 173 buah; dan kesalahan aspek diksi atau pilihan kata

Berdasarkan hasil survey pendahuluan, peneliti melihat kecenderungan dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran matematika kelas X di MAN Ciledug tidak

Capaian kinerja Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral selama tahun 2015. dapat dilihat dari pelaksanaan program pengawasan dan penertiban

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap jenis- jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional pada masyarakat desa Koto Dua Lama,