BAB II
KAJIAN TEORITIK
2.1 Strategi Guru
Peraturan Pemerintah RI no 19 tahun 2017 tentang Guru telah merumuskan bahwa: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.” Berkaitan dengan hal ini, guru mempunyai peranan yang amat sangat kompleks dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran. Untuk melakukan tugas dengan profesional, maka seorang guru membutuhkan pengetahuan yang utuh dan mantap mengenai kegiatan proses belajar dan mengajar, guru wajib mengetahui dan mempunyai gambaran menyeluruh tentang bagaimana proses kegiatan belajar dan mengajar itu terjadi, serta mengetahui apa tahapan-tahapan yang dibutuhkan agar tugas-tugas dalam bidang keguruan dapat berlangsung baik dan mendapatkan hasil yang searah dengan tujuan yang diinginkan (Mufarokah, A, 2013).
Strategi diartikan sebagai suatu cara atau usaha yang dibuat dan dirancang untuk mensiasati suatu proses yang akan dilaksanakan dengan maksud untuk memperoleh tujuan yang di inginkan (Syahrial dkk, 2019).
Strategi pembelajaran secara sempit dapat didefinisikan sebagai sebuah cara yang digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan secara luas, strategi pembelajaran didefinisikan sebagai sebuah upaya yang guru gunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang didalamnya sudah mencakup perencanaan,
pelaksanan, dan penilaian mengenai proses, hasil dan pengaruh kegiatan
pembelajaran (Djamaluddin, dkk, 2013).
Strategi pembelajaran merupakan sebuah tahap dalam aktivitas pembelajaran yang pendidik (guru) dan siswa laksanakan untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien pada kegiatan pembelajaran (Sanjaya, 2011). Menurut Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 Mengenai Pembelajaran, menyatakan bahwa strategi pembelajaran yaitu langkah-langkah yang ditetapkan pendidik (guru) secara terancang dan tersusun untuk menjadikan ruang lingkup belajar yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran hingga tercapainya kompetensi yang ditentukan.
Tugas guru dalam pelaksanaan strategi pembelajaran memiliki pengaruh bagi tercapainya tujuan pembelajaran. Guru merupakan seseorang yang mempunyai tugas yang berkaitan dengan bagaimana upaya mencerdaskan generasi dan kehidupan bangsa meliputi segala aspek, baik itu aspek agama (spiritual) dan emosional, pengetahuan (intelektual), fisik, dan aspek-aspek lainnya (Suparlan, 2008).
Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi pembelajaran adalah kegiatan dan perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru sebagai pendidik dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Seorang guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing, mendidik, mengarahkan, melatih dan mengajarkan siswanya agar dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
2.1.1 Tujuan Strategi Guru
Tujuan strategi guru yaitu: 1) mengenali serta menetapkan perilaku dan karakter siswa, 2) memilih sistem belajar dan mengajar untuk siswa dengan tepat, 3) menetapkan prosedur mengajar, dan 4) menetapkan peraturan-peraturan dan batas minimal keberhasilan dan standar keberhasilan yang akhirnya bisa dijadikan panduan untuk guru dalam melakukan penilaian (Wafif, 2019:44-45).
Tujuan strategi guru dalam pembelajaran yaitu untuk memaksimalkan pembelajaran pada aspek afektif, dalam aspek ini berfungsi untuk membentuk siswa yang memiliki kecerdasaan dan berkarakter. Kemudian bertujuan untuk mengaktifkan siswa pada kegiatan pembelajaran, dimana siswa akan menjadi aktif bertanya ataupun menjawab pertanyaan dari guru (Sanjaya, 2013:59).
Dalam pembelajaran, strategi guru bertujuan untuk mendorong siswa agar belajar berdasarkan kemauan mereka sendiri, yang mengacu pada empat hal spesifik yaitu: 1) cermat dalam menganalisis situasi pembelajaran, 2) memilih prosedur pembelajaran tertentu untuk menangani masalah pembelajaran tertentu, 3) menyaring kelayakan metodologi yang digunakan, 4) terinspirasi untuk ikut terlibat dalam pembelajaran (Suprihatiningrum, 2013:48).
Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari strategi pembelajaran adalah untuk memberi dorongan pada siswa agar dapat belajar dengan kemauan dan kemampuan mereka sendiri, untuk memaksimalkan
pembelajaran pada aspek afektif, dan untuk mengaktifkan siswa pada proses kegiatan pembelajaran.
2.1.2 Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
Menurut Abdul Majid (2012) strategi pembelajaran dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:
1) Strategi Pembelajaran Langsung
Pada strategi ini yang menjadi pusat adalah guru, dan strategi ini digunakan paling sering. Metode yang banyak digunakan dalam strategi pembelajaran ini seperti metode ceramah, praktik, latihan dan demokrasi, strategi ini efektif untuk mengembangkan keterampilan dan memperbanyak informasi.
2) Strategi Pembelajaran Tidak Langsung
Dalam strategi ini, terlihat bahwa tugas guru sudah berganti dari penceramah menjadi penyedia sumber personal dan pendukung. Pada strategi ini perlu menggunakan media pembelajaran cetak ataupun noncetak.
3) Strategi Pembelajaran Interaktif
Strategi ini mengarah pada kegiatan yang berbentuk diskusi dan saling bertukar informasi antar siswa, dengan diberikannya kesempatan ini kepada siswa, diharapkan dapat membagikan tanggapan terhadap suatu pendapat dan mencari solusi dalam berpikir. Kegiatan ini dapat berbentuk diskusi
kelompok, pengerjaan tugas secara berkelompok, maupun kerjasama siswa yang dilakukan berpasang-pasangan.
4) Strategi Pembelajaran Melalui Pengalaman
Strategi ini terutama berorientasi pada aktivitas dan berpusat di siswa.
Pada strategi ini lebih ditekankan proses belajar daripada hasil belajar.
5) Strategi Pembelajaran Mandiri
Strategi pembelajaran ini mempunyai tujuan untuk membentuk gagasan pada seseorang, peningkatan diri siswa, dan kemandirian. Lebih terfokus pada kemandirian siswa tapi disertai dengan dukungan dari guru.
Kegiatan belajar secara mandiri ini dapat dikerjakan bersama teman atau bersama kelompok kecil.
2.2 Minat Belajar 2.2.1 Pengertian Minat
Minat tidak didapat dari lahir, tetapi ditumbuhkan dan dikembangkan pada diri anak. Minat adalah perasaan suka dan perasaan tertarik pada suatu hal atau kegiatan, tanpa ditugaskan oleh seseorang (Slameto, 2010). Sejalan dengan pendapat diatas, Muhibbinsyah (2010) mengatakan bahwa minat adalah kecondongan dan semangat yang besar atau sebuah kemauan terhadap sesuatu. Dengan kata lain, minat merupakan keinginan dan hasrat yang besar atas suatu hal. Minat merupakan
kecondongan dari diri individu untuk memperoleh hal yang dibutuhkan sehingga tertarik untuk melakukan kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya (Simbolon, 2014).
Slameto (2010) mengatakan bahwa minat adalah sebuah rasa lebih suka dan tertarik pada suatu hal atau kegiatan. Minat diimplementasikan dengan berpartisipasi aktif pada sebuah kegiatan. Sejalan dengan pendapat diatas, menurut Prasetyo (2012) minat merupakan kecondongan yang ada pada subjek agar terdorong pada bidang tertentu dan senang bergabung pada bidang tersebut. Dengan demikian, minat berisi unsur kemauan untuk tahu serta belajar mengenai objek yang didambakan itu untuk penambah wawasan baginya, kemudian subjek itu akan melakukan kegiatan nyata untuk mempelajari hal yang menjadi keinginanannya itu sebagai suatu kebutuhan.
Nasution (dalam Novita, 2021) berpendapat bahwa minat adalah sebuah ungkapan praktis yang memperlihatkan pemusatan pikiran dan kemauan, atau perhatian pada objek, dilaksanakan secara sadar dan senang karena lahir dari sikap positif subjek atas sebuah respon.
Minat dapat berpengaruh terhadap nilai perolehan hasil belajar siswa pada pembelajaran. Minat pada dasarnya merupakan ketertarikan yang mempunyai sifat khusus. Siswa yang berminat dengan mata pelajaran, maka perhatian siswa tersebut menjadi besar dan minat disini memiliki fungsi jadi penggerak kuat untuk ikut serta secara aktif pada kegiatan belajar dan mengajar (Hakim, 2009:38).
2.2.2 Indikator Minat Belajar
Minat belajar adalah rasa suka, behagia, dan perhatian terhadap usaha untuk memperoleh pengetahuan (Ermawati, dkk, 2016). Perilaku anak yang menunjukkan
minat pada suatu pembelajaran bisa terlihat dari beberapa indikator di dalamnya (Sardini, 2013), antara lain:
1) Perasaan Senang
Siswa yang menaruh rasa senang (rasa suka) dan tertarik dalam kegiatan belajar maka siswa itu akan selalu ingin untuk memahami ilmu yang menjadi minatnya dan tanpa adanya keterpaksaan diri siswa saat belajar dan menekuni ilmu tersebut.
2) Ketertarikan Siswa
Minat ada hubungannya dengan gaya gerak yang menggerakkan seseorang agar dapat tertarik dengan benda, orang, atau aktivitas apapun, berbentuk pengalaman efektif yang dipicu karena aktivitas tersebut. Seorang siswa yang berminat tinggi pada suatu hal, maka ada kecondongan yang kuat untuk terdorong pada guru dan mata pelajaran.
3) Perhatian Siswa
Perhatian merupakan pemusatan atau aktivitas jiwa diri seorang individu terhadap pandangan dan pengamatan dengan mengecualikan hal lainnya. Siswa yang memiliki perhatian terhadap suatu objek maka ia pasti akan selalu mengamati objek tersebut.
4) Keterlibatan Siswa
Seorang siswa yang memiliki ketertarikan dan rasa senang terhadap objek tertentu akan muncul kesenangan pada saat menjalani dan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan objek yang akan dituju.
2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar
Faktor-faktor yang menjadi pengaruh terhadap minat belajar siswa yaitu:
1. Cara guru mengajar
Cara mengajar pada guru yang bisa membuat peningkatan minat belajar siswa yaitu dengan guru bertindak jadi demonstrator dan evaluator. Dalam membangkitkan minat belajar pada siswa berdasarkan peran tersebut adalah dengan cara menarik perhatian siswa. Perhatian dapat timbul karena dirorong dengan rasa keingintahuan.
Rasa ingin tahu bisa dibangkitkan dengan kegiatan yang baru, aneh dan berbeda dari hal yang ada sebelumnya. Kegiatan yang bisa membuat siswa menaruh perhatian tersebut seperti suara-suara tertentu, contohnya seperti bel, peluit, bagian lagu yang dipotong atau isyarat nyata seperti mengangkat tangan. Ketika siswa sudah terlihat tertarik belajar beri penjelasan kepada siswa mengenai kompetensi dasar (KD) yang ingin dicapai. Melalui KD yang jelas, siswa jadi berupaya dalam meraih KD tersebut.
Tujuan yang jelas bisa diterapkan melalui pemberian argumen yang kuat kenapa siswa harus melaksanakan sesuatu berhubungan dengan KD tersebut atau mengaitkan kebutuhan dan keadaan siswa dengan materi pembelajaran. Kemudian, sudahi pelajaran dengan berkesan. Kegiatan ini sangat penting diterapkan dengan tujuan materi pelajaran yang sudah dijelaskan akan selalu diingat dan dipelajari oleh siswa.
2. Karakter guru
Guru yang dapat meningkatkan minat belajar siswa yaitu guru yang bisa merangkai hubungan yang baik dengan siswanya. Saat hubungan baik antara guru dan siswa sudah terjadi maka akan membuat siswa merasa aman untuk belajar. Agar bisa membangkitkan minat pada siswa maka guru perlu memiliki karakter sabar,
memiliki 3S, dengan menghargai kekurangan siswa, bersikap adil, disiplin, baik, tidak memberi ancaman dan menakut-nakuti siswa, dan bersemangat. Berdasarkan dari karakter guru tersebut, maka diperlukan terbinanya hubungan baik antara guru dan siswa. Guru yang baik akan membuat hubungan yang baik, ketika hubungan baik sudah tercipta, baik guru maupun siswa menjadi nyaman di kelas, dan siswa jadi termotivasi untuk belajar.
3. Suasana kelas
Suasana kelas yang nyaman dan tenang sangat penting pada kegiatan belajar mengajar. Namun suasana lingkungan kelas kerap menyebabkan siswa merasa jenuh dan tidak senang, hal ini disebabkan oleh menetap dalam kondisi kelas yang sama pada waktu yang relatif lama, tidak menarik, dan monoton. Dampak dari lingkungan kelas bisa mendorong siswa untuk mengerjakan aktivitas yang bisa mendukung proses belajar mengajar. Jika guru kreatif mewujudkan suasana menarik di kelas, maka minat belajar siswa akan meningkat.
4. Fasilitas belajar
Kegiatan pembelajaran siswa menjadi lebih efektif ketika didukung oleh alat peraga, dibanding dengan tanpa didukung alat peraga. Melalui pemanfaatan fasilitas belajar seperti alat peraga, maka dapat menumbuhkan minat serta motivasi belajar pada siswa. Dengan ini, diperlukan tugas guru sebagai fasilitator dan mediator.
Tahapan-tahapan yang bisa guru terapkan saat memakai fasilitas belajar adalah memilih alat peraga, menggunakan fasilitas belajar yaang tersedia di kelas, mengembangkan kemampuan siswa untuk memanfaatkan fasilitas belajar yang terdapat di kelas (Aritonang, 2008:18).
Berbeda dari pendapat diatas, Totok Susanto (dalam Kartika, 2019) mengatakan bahwa beberapa faktor yang bisa menjadi pengaruh pada minat belajar siswa yaitu: 1) Motivasi dan cita-cita; 2) Keluarga; 3) Peran guru, 4) Sarana dan prasarana, 5) Teman dan 6) Mass media. Berikut penjelasan mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi minat. 1) Motivasi dan cita-cita. Motivasi adalah daya dorongan seseorang individu saat melaksanakan sebuah aktivitas dengan tujuan mendapat hasil yang baik. 2) Keluarga. Keluarga menjadi inti pendidikan pertama pada siswa, karena aktivitas siswa lebih besar bersama keluarga. Kondisi keluarga dan lingkungan juga dapat berpengaruh pada minat. Kondisi keluarga yang tentram, tenang dan bahagia dapat menunjang minat belajar anak saat di rumah. 3) Peran guru.
Guru mengerti kepribadian unik dari siswa dan berusaha untuk mencukupi kebutuhan khusus setiap anak yang mempunyai minat dan bakat yang penting untuk dicapai secara maksimal. 4) Sarana dan prasarana. Fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sangat dibutuhkan dalam menunjang minat belajar pada siswa, ketika fasilitas yang tersedia kurang maka siswa menjadi kurang berminat dalam pembelajaran. 5) Teman.
Teman pergaulan juga mempunyai pengaruh dalam minat belajar siswa, teman pergaulan yang berminat dan mempunyai motivasi dalam belajar, maka teman lainnya juga akan dapat berminat terpengaruh. 6) Mass media. Beberapa jenis mass media yaitu: TV radio, video, dan media cetak seperti buku dan koran juga bisa berpengaruh terhadap minat belajar pada siswa (Simbolon, 2014).
2.2.4 Faktor-Faktor yang Menumbuhkan Minat
Beberapa hal yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran yang perlu diketahui untuk menilai keberhasilan siswa pada pembelajaran, salah satunya yaitu dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, yaitu sebagai berikut:
1. Faktor internal
Faktor internal (faktor dalam) merupakan suatu dorongan dari dalam diri siswa itu sendiri yang membuat siswa berminat, faktor internal mencakup beberapa hal yaitu: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal (faktor luar) merupakan dorongan berasal dari luar diri siswa yang menjadikan siswa berminat, contohnya: dorongan orangtua, guru, ketersediaan sarana dan prasarana, dan kondisi lingkungan (Muhibbinsyah, 2011).
Minat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal merupakan faktor dorongan yang datang dari dalam, berupa faktor yang muncul dari diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar, berupa faktor motivasi sosial, yang mana seorang individu memerlukan sebuah dorongan dan motivasi dari orang lain agar kegiatan yang dilakukannya dapat diterima orang lain.
2.2.5 Pengertian Belajar
Belajar adalah rangkaian aktivitas tubuh untuk memperoleh transformasi pada perilaku dari hasil pengalaman seseorang terhadap lingkungannya yang mengandung unsur kognitif, afektif dan psikomotor (Parnawi, 2019). Selaras dengan pendapat diatas, menurut Slameto (2010:2) belajar adalah sebuah prosedur usaha yang seorang individu lakukan untuk merubah perilaku secara menyeluruh, berdasarkan hasil dari pengamatannya pada saat berinteraksi dengan lingkungannya.
Belajar adalah kegiatan untuk merubah perilaku atau penampilan melalui beberapa aktivitas di dalamnya, seperti mengamati, mendengarkan, meniru dan membaca (Sadirman, 2012). Berbeda dari pendapat diatas, belajar menurut Fitriyana merupakan sebuah jalan perubahan perilaku berbentuk kemampuan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian atau kejadian yang terjadi di sekolah mengarah untuk mewujudkan kepribadian yang sepenuhnya (Fitriyana, 2020).
Dari beberapa pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan belajar merupakan proses seseorang untuk dapat merubah perilaku secara menyeluruh untuk mendapatkan pengetahuan baru dalam bentuk keterampilan, kecakapan dan sikap dan proses terhadap pengalaman di lingkungannya.
2.2.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor yang menjadi pengaruh pada aktivitas belajar siswa yaitu:
1. Faktor internal
Faktor internal yaitu faktor yang timbul dari dalam yaitu kemampuan yang
dimiliki seseorang. Faktor internal dikelompokkan jadi dua, yaitu faktor fisiologi dan faktor psikologi. Faktor fisiologi berhubungan langsung dengan keadaan fisik dan alat indera siswa. Sedangkan faktor psikologi berhubungan dengan kondisi kejiwaan.
Faktor psikologi yang dapat memberi pengaruh pada kegiatan belajar siswa yaitu perhatian, tanggapan, ingatan, pengamatan, pikiran, perasaan, dan motif.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor dari luar diri siswa. Faktor eksternal yang dapat memberi pengaruh pada kegiatan belajar siswa adalah lingkungan. Lingkungan bisa menjadi pengaruh positif ketika mampu mendorong dan memberi rangsangan pada siswa agar aktivitas belajarnya meningkat. Sebaliknya lingkungan juga bisa membawa pengaruh yang buruk jika lingkungan di sekitar tidak memberi pengaruh baik (Nurmala, 2014).
Menurut Slameto (2015) ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar, yang dikelompokkan jadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dapat mempengarui belajar siswa yaitu bakat, motivasi, perhatian dan minat, sikap dan kebiasaan belajar, kegigihan, faktor fisik dan psikis. Sementara itu faktor eksternal yang dapat berpengaruh pada belajar siswa adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
2.2.7 Implementasi Pembelajaran
Implementasi merupakan sebuah reaksi dari rencana yang telah ditata dengan baik, terperinci dan cermat yang dilaksanakan oleh seseorang maupun secara berkelompok untuk mencapai tujuan tertentu (Gigih, 2015:13). Hal ini sejalan dengan pendapat Arifin (2018) implementasi merupakan suatu arahan yang berkaitan dengan
kegiatan-kegiatan atau aktivitas dalam rangka untuk memperoleh tujuan dari aktivitas yang telah direncanakan.
Beberapa komponen vital pada proses implementasi yakni: 1) terdapat persiapan kegiatan yang sedang dikerjakan, 2) terdapat kelompok yang menjadi tujuan dalam pelaksanaan kegiatan, 3) terdapat perbaikan sebagai bentuk pertanggung jawaban untuk mendapat pelaksanaan dan pengawasan proses implementasi (Sanjaya, 2011:17).
Berdasarkan dari beberapa pendapat yang sudah dipaparkan mengenai pengertian implementasi, dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi adalah tindakan atau kegiatan yang dikerjakan untuk memperoleh suatu tujuan dengan memperhatikan unsur perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Perencanaan proses pembelajaran adalah rencana yang dilakukan guru untuk kemudian diaplikasikan dalam proses belajar di kelas. Perencanaan proses pembelajaran mencakup silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mengandung tujuan pembelajaran, materi ajar, metode, sumber belajar, dan penilaian. Pelaksanaan adalah pengimplementasian dari RPP, pelaksanaan pembelajaran mencakup kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Evaluasi merupakan kegiatan yang guru lakukan untuk menilai tingkat kompetensi yang dimiliki siswa, dan dimanfaatkan untuk materi penyusun laporan kemajuan pada hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran (Yusana dkk, 2013:4).
2.3 Hiperaktif
2.3.1 Pengertian Hiperaktif
Menurut Zaviera (2014) anak hiperaktif merupakan anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas. Anak hiperaktif mengalami gangguan pada saraf tertentu, kesulitan konsentrasi, dan mengarah pada sifat hiperkinetik atau berlebihan dalam melakukan gerakan (Via Azmira, 2015). Hal ini sejalan dengan pendapat Antasari dalam (Lestari, 2020) menyatakan bahwa hiperaktif adalah sebuah gangguan yang terjadi pada anak, dengan tingkah laku anak yang agresif dan bergerak berlebihan atau tidak mau diam, impulsif, temper tantrum (kesulitan emosional), sulit fokus pada perhatian, dan gemar mencari perhatian orang.
Berdasarkan pandangan ilmu psikologi, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku seorang individu yang sulit untuk berbaur dengan manusia lain yang ada di sekitarnya dan biasanya membawa kerugian bagi dirinya sendiri ataupun orang sekitarnya. Anak dengan gangguan hiperaktif sering mengalami kesulitan dalam menyaring rangsangan dari lingkungan, sulit dalam mempertahankan konsentrasi, sulit menjaga stamina, sulit menangani kendala waktu, sulit untuk multitasking, dan sulit untuk menjalin interaksi dengan orang lain (Tibke, 2019).
Hiperaktif juga disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan pemusatan pada perhatian. Pada gangguan ini, pengidap akan sulit dalam bertahan pada suatu kegiatan dalam waktu tertentu dan juga sulit berkonsentrasi.
Anak hiperaktif punya perilaku sulit untuk konsentrasi, pikirannya kemana-mana dan juga sulit mengontrol gerak tubuh (Rina, 2015). ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas
yang merupakan sebuah sindrom yang muncul dengan gejala restless atau tidak bisa diam (hiperactivity), sulit untuk memusatkan perhatian (innattention), bertingkah semaunya sendiri (impulsive) dan desdruktif. Flanagan dalam (Andajani,2019) mengatakan bahwa anak dengan ADHD mempunyai perilaku sulit menaruh perhatian dan menjaga kefokusan dalam mengerjakan tugas, anak ini juga sering bergerak dan sulit tenang. Dampaknya anak dengan gangguan pemusatan dan hiperaktif ini akan sulit belajar di sekolah, serta sulit mendengar dan mengerjakan tugas dari orangtua, juga berbaur dengan teman di kelas.
2.3.2 Karakteristik Hiperaktif
Zaviera (2012) mengatakan karakteristik dari siswa hiperaktif ada beberapa, yaitu:
1. Tidak fokus
Anak hiperaktif perhatian nya mudah beralih pada hal lain dan sulit untuk bisa diam dalam waktu yang lama. Anak hiperaktif juga tidak mempunyai fokus yang jelas. Anak hiperaktif akan sesuka hati berbicara apa yang ingin dikatakannya dengan tidak mempunyai maksud yang jelas, akibatnya kalimat yang diutarakan sulit untuk orang lain mengerti.
2. Menentang
Pada umumnya anak hiperaktif memiliki sifat yang suka menentang atau sulit untuk diberi nasehat. Sikap acuh bisa ditunjukkan hiperaktif terhadap perintah orang lain.
3. Destruktif
Pada umumnya perilaku anak hiperkatif destruktif atau perusak. Saat anak lain berupaya untuk merapikan barang, maka anak hiperaktif justru akan merusak dan menghancurkannya.
4. Tidak kenal lelah
Anak hiperaktif tidak mudah lelah, sepanjang hari anak hiperaktif selalu bergerak, melompat, berlari, dan sebagainya.
5. Tanpa tujuan
Anak hiperaktif melakukan kegiatan dengan tujuan yang tidak jelas, sebaliknya anak hanya mengerjakan kegiatan yang dia inginkan.
6. Tidak sabar dan usil
Anak hiperaktif benci menunggu, ketika meminjam suatu barang yang digunakan anak lain dia akan merebutnya. Anak hiperaktif juga sering jahil kepada temannya tanpa alasan.
7. Intelektualitas rendah
Intelektualitas rendah terjadi dikarenakan mentalnya sudah sedikit terganggu secara psikologis. Oleh sebab itu, anak sulit untuk menampakkan potensi kreatif dalam dirinya.
Menurut Zafiera (2012) kriteria anak ADHD yaitu sebagai berikut:
1. Kriteria sulit konsentrasi, yaitu seringkali ceroboh atau tidak mampu dalam menyimak secara terperinci, kerap berbuat salah karena tidak teliti, kesulitan dalam pemusatan perhatian pada aktivitas tertentu, ketika diajak bicara kerap tidak mendengarkan, kerap tidak mau menuruti perintah dan tidak berhasil dalam penyelesaian tugas, kerap menghindar, enggan dalam mengerjakan
kegiatan yang memerlukan pemikiran dalam waktu lama, kerap kehilangan barang yang diperlukan dalam pengerjaan tugas, senang mengalihkan perhatian dari rangsangan luar dan kerap lupa saat melakukan kegiatan sehari-hari.
2. Kriteria hiperaktif dan impulsive, kerap menggerak-gerakkan kaki dan tangan pada saat duduk, kerap menggeliat, meninggalkan tempat duduknya yang seharusnya tetap duduk dengan manis di kursi, kerap berlari dan memanjat dengan berlebihan dalam situasi yang tidak tepat, kerap tidak bisa mengerjakan aktivitas dengan tenang, sering bergerak seakan-akan ada dorongan dalam tubuhnya yang membuat tenaganya tidak habis, kerap bicara berlebihan, saat pertanyaan belum selesai anak hiperatif sering terlalu cepat memberi jawaban, sering memotong pembicaraan orang, dan sering sulit dalam menunggu giliran.
2.3.3 Tipe Hiperaktif
Ada tiga tipe penggolongan hiperaktif yaitu:
1. Premodinantly Inattentive Type (cenderung kurang memperhatikan), siswa hiperaktif yang tergolong ke dalam tipe ini akan kurang dalam memperhatikan. Karakteristinya antara lain: (1) siswa selalu melakukan tugas secara suka-suka hatinya dan juga sering tidak selesai; (2) sulit memperhatikan dan mendengar guru; (3) tidak baik dalam pengorganisasian;
(4) kerap tidak berasil dalam menjalankan permainan; (5) mengusik teman;
(6) kerap lupa.
2. Premodinantly Hiperactive Impulsive Type (dominasi hiperaktif), siswa yang tergolong pada tipe ini mempunyai tingkah laku hiperaktif impulsif. (1) siswa menampakkan rasa khawatir atau gelisah; (2) kerap pergi meninggalkan tempat duduk; (3) berlari secara berlebih; (4) bicara berlebihan; (5) tidak sabaran; (6) bicara tanpa pikir panjang; (7) sering memotong pembicaraan.
3. Combined Type (tipe kombinasi), yang tergolong dalam tipe ini adalah siswa yang mempunyai karakteristik yang terdapat pada dua tipe sebelumnya Grant L. Martin dalam (Aprillia, 2020).
2.3.4 Faktor-Faktor Penyebab Hiperaktif
Faktor- faktor yang menyebabkan hiperaktif diuraikan sebagai berikut:
1. Faktor Neurologik
Kejadian hiperaktif cenderung lebih banyak terdapat pada bayi yang terlahir disertai gangguan prental seperti proses kelahiran yang lama, distres fetal, ekstraksi forcep pada persalinan, toksimia gravidarum atau ekslamsia dibandingkan dengan kehamilan dan kelahiran normal. Faktor lain yaitu berat badan yang rendah pada bayi saat baru lahir, usia ibu terlalu muda, ibu merupakan perokok pada saat hamil dan meminum minuman keras juga akan meningkatkan resiko.
2. Faktor Toksik
Salisilat dan bahan-bahan pengawet bisa membuat kecenderungan sikap anak menjadi hiperaktif. Selain itu, kadar timah (lead) yang terdapat di serum darah
anak meningkat, ibu perokok dan peminum alkohol, terpapar sinar X ketika hamil dapat beresiko anak lahir menjadi hiperaktif.
3. Faktor Genetik
Terdapat kolerasi tinggi pada hiperaktif yang terjadi dalam keluarga yang memiliki anak hiperaktif. Sebanyak 25-35% dari oang tua dan kerabat yang ketika kecil mengalami hiperaktif akan mewariskan pada anaknya. Hal demikian juga bisa dilihat pada anak kembar.
4. Faktor Psikososial dan Lingkungan
Hubungan tidak baik antara orang tua dengan anak nya juga sering ditemukan pada anak hiperaktif (lydia, 2010).
2.3.5 Penanganan Anak Hiperaktif
Hiperaktif yaitu gangguan perhatian pada anak, gangguan tersebut berupa anak sering tidak mampu lama berkonsentrasi, tidak fokus, mengganggu orang lain karena suka bergerak semaunya dan sulit dalam pengendalian emosi. Upaya tindakan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan konsentrasi dan fokus pada siswa hiperaktif yaitu: 1) Dengan pendekatan multiple, 2) Melatih kemampuan bahasa, berbicara dan membaca siswa, 3) Dorongan untuk melakukan interaksi keterampilan, 4) Strategi terapi tingkah laku untuk menghilangkan perilaku yang tidak seharusnya, 5) Program modifikasi perilaku siswa untuk membentuk perilaku yang diharapkan, 6) Strategi terapi bermain agar dapat menghilangkan, mengatasi, menurunkan tingkat gangguan dan penyimpangan, 7) Perlu diberi semangat dan motivasi untuk memiliki
atau membangun minat tertentu, 8) Strategi lingkungan dalam meminimalkan kerentanan pada siswa (Suwarno, 2016).
Upaya pemusatan perhatian belajar siswa hiperaktif yang dapat diterapkan oleh guru yaitu:
a) Bentuk bimbingan klasikal 1. Memberi pujian atau hadiah
2. Membuat kondisi belajar yang menyenangkan
3. Mengikutsertakan siswa hiperaktif dalam kegiatan pembelajaran
4. Tidak memberi waktu istirahat agar tidak ada peluang bagi siswa untuk asyik sendiri
5. Membuat pembelajaran dalam bentuk permainan 6. Pengembangan sikap sosial
b) Bentuk individu atau konseling
1. Mencurahkan perhatian tersendiri kepada siswa 2. Menasihati dengan perlahan
3. Menempatkan posisi duduk siswa hiperaktif di barisan depan guru mudah dalam mengawasi
4. Terapi tingkah laku dengan pemberian amanat yang lembut dengan cermat 5. Membangun komunikasi dan melakukan rencana psikologis atau konseling
secara maksimal
6. Penggunaan kalimat yang baik, yaitu ketika memberi arahan dengan jelas, padat, singkat, dan bermakna (Rina, 2015).
Menurut Muhammad (dalam Desinigrum, 2017) bentuk penanganan siswa ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), yaitu:
1. Aspek interaksi sosial
a) Mengenali sikap sosial yang cocok dengan anak, dan menghargai ketika anak memperlihatkan sikap tersebut.
b) Duduk dan buat kesepakatan yang jelas dan anak setuju untuk mengatakan tujuan yang harus anak capai.
c) Menggunakan apresiasi secara lisan juga tulisan. Memuji anak secara langsung dapat membuat anak mengerti reaksi yang seharusnya, dan bisa menilai perilaku dirinya.
d) Kenalkan diri anak dengan interaksi kelompok kecil kemudian ada tujuan yang harus dicapai.
e) Ketahui kelebihan pada diri anak agar bisa diumumkan pada rekan-rekannya, sehingga anak akan memperoleh umpan balik dari temannya dan menumbuhkan kepercayaan diri anak.
f) Ciptakan suasana bermain peran dengannya dan fokuskan pada pemanfaatan kemampuan yang khas.
2. Kemampuan dalam mengurus diri sendiri
a) Guru dapat memberi tugas-tugas yang kemudian dikerjakan di rumah dan diberikan sebelum anak pulang.
b) Orang tua harus mampu mengatur dan mengurus keperluan anak.
c) Tugas serta arahan dibuat sangat mudah sehingga anak tidak bingung.
d) Berikan jeda untuk anak mengerjakan satu tugas dahulu sebelum diberikan tugas yang lain.
3. Masalah dalam mengerjakan tugas
a) Bagi anak ADHD diberikan tambahan waktu untuk mengerjakan tugas.
b) Tugas untuk anak dapat berbentuk tugas mudah tetapi intensif.
c) Saat anak kesulitan dalam mendengar dan menulis, maka teman bisa dikondisikan untuk dapat membantu.
d) Orang dewasa harus ada di dekat anak ADHD dan dapat mengamati agar tahu semua tingkah laku anak.
4. Sikap impulsif
a) Guru wajib bersikap mengenai apa yang diharapkan terhadap perilaku anak ADHD.
b) Anak ADHD diajarkan sikap yang baik, selanjutnya berikan tanggapan positif jika anak berhasil mengerjakannya.
c) Dalam proses terapi atau pembelajaran wajib ada agenda untuk istirahat sehingga anak dapat mengerjakan kegiatan lain dan meninggalkan tempat duduknya.
5. Kemampuan akademik
a) Beri bimbingan pada anak saat memakai kertas diagram untuk mengerjakan tugas matematika, sehingga anak tahu tempat yang benar untuk menulis nomor, ini bisa membuat anak jadi fokus.
b) Sarana bisa dibuat sedemikian rupa agar minat anak hiperaktif tetap terjaga.
c) Menyampaikan tugas dengan jelas agar anak setuju hasil akhir untuk memeroleh suatu tujuan, contohnya mendapatkan nilai yang bagus.
6. Ekspresi emosi
a) Guru wajib mengetahui keterbatasannya dalam memberikan perhatian, dan mampu memberi usaha yang optimal agar anak tidak merasa sedih dan kesal.
Guru juga bisa memperlihatkan perasaannya sehingga anak ADHD lebih peka untuk mengenali perasaan orang lain.
b) Berikan pilihan kata yang berhubungan dengan emosi. Menggunakan kata yang tepat bisa memberi peningkatan pada kemampuan anak saat mengatakan perasaannya dan mengurangi perilaku buruknya.
c) Ajarkan Anak ADHD mengenai cara menyampaikan emosi dengan baik, agar tidak merugikan orang lain dan dirinya.
d) Berikan pemahaman pada anak ADHD bahwa semua aspek kehidupannya harus mampu dikontrolnya sehingga terbentuklah kemandirian pada diri anak.
2.4 Penelitian Relevan
Penelitian pertama oleh Muhammad Irfan Hidayat dan Bahtiyar Heru Susanto (2022) yang berjudul “Peran Guru Dalam Meningkatkan Minat Belajar Anak Hiperaktif Kelas V SD Mumammadiyah Ambarketawang 2, Gamping, Sleman”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru dalam meningkatkan minat belajar anak hiperaktif. Penelitian ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah Ambarketawang 2 Gamping, Sleman. Subjek nya adalah siswa sedangkan sumber data adalah guru kelas V kepala sekolah. Jenis penelitian kualitatif, dalam teknik
analisis data, peneliti menggunakan model Milles and Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa peran guru untuk meningkatkan minat belajar anak hiperaktif yaitu; 1) Menyajikan materi menggunakan bahan ajar full tematik dengan menyusun kegiatan pembelajaran menerapkan RPP yang menarik berseni agar siswa hiperaktif dapat ikut serta dalam proses pembelajaran, 2) Menyusun model atau metode pembelajaran yang variatif agar pembelajaran tidak menjadi monoton, 3) Membuat pembelajaran menjadi menarik dengan media-media kongkret serta interaktif dan memanfaatkan bahan-bahan cetak ataupun noncetak (audio visual).
Penelitian kedua oleh Ni Ketut Felysia Palamba (2020) yang berjudul “Minat Belajar Pada Anak Berkebutuhan Khusus Tunadaksa di SLB Negeri 1 Bantul”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat belajar dan faktor-faktor yang mempengaurhi minat belajar pada individu berkebutuhan khusus. Penelitian ini dilaksanakan di SLB Negeri 1 Bantul. Subjek penelitiannya adalah anak tunadaksa yaitu DH, IZ, dan AR. Jenis penelitian kualitatif, dalam teknik analisis data, peneliti menggunakan beberapa langkah yaitu coding, klasifikasi data, kategorisasi, dan menganalisis satuan makna dalam teori. Hasil dari penelitian ini terlihat bahwa subjek yang diteliti mempunyai minat belajar. Terdapat dua faktor utama yang menumbuhkan minat belajar mereka yaitu: 1) Faktor internal yang menjadi pengaruh pada minat narasumber yaitu rasa ingin tahu pada hal yang disukai, cita-cita, suka pada pelajaran tertentu. 2) Faktor eksternal yang menjadi pengaruh pada minat narasumber yaitu teman, guru, orang tua, sarana sekolah, ekstrakulikuler, dan media pembelajaran.
Penelitian ketiga oleh Silvia Rahmani (2021) yang berjudul “Peran Guru Dalam Penanganan Anak Attention Deficit and Hyperactivity Disorder Usia 5-6 Tahun”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku anak ADHD di kelas dan diluar kelas, serta untuk mengetahui peran guru dalam penanganan anak ADHD.
Penelitia ini dilaksanakan di RA Al-Hilal 02 Cikarang Utara. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian studi kasus deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1) perilaku anak ADHD yang lebih aktif, tidak mampu belajar dengan tenang dan sering mengganggu teman lainnya, 2) peran guru dalam menangani anak ADHD di kelas dan di luar kelas adalah dengan cara menempatkan anak duduk di depan kelas, memberikan kesempatan anak untuk melakukan aktivitasnya, memberikan peraturan yang membuat anak mentaatinya, memperhatikan pola makan, mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan dengan cara brain gym, back in control, lingkungan dan memberikan program IEP.
2.5 Kerangka Berpikir
Minat mempunyai peran yang sangat diperlukan dalam mendukung keberhasilan belajar seorang siswa. Dalam penelitian ini guru jadi objek penting karena perannya yang diperlukan dalam menumbuhkan minat belajar pada siswa hiperaktif. Siswa yang berminat dalam kegiatan pembelajaran dapat dilihat dari ketertarikan, perhatian, kesukaan dan keterlibatan siswa saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Minat yang ada pada diri siswa itu berbeda-beda, oleh karena itu seorang guru harus mempunyai strategi dalam pembelajaran yang berkaitan dengan
keadaan dan kebutuhan siswa dalam menumbuhkan minat belajar siswa ketika proses kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan di SD Negeri 65/III Sanggaran Agung, peneliti melihat bahwa guru dalam mengajar anak hiperaktif menggunakan strategi untuk menumbuhkan minat belajar anak hiperaktif. Ada beberapa tahapan yang dilakukan guru dalam menumbuhkan minat belajar siswa hiperaktif yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) evaluasi.
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
Minat belajar anak hiperaktif
Tumbuhnya minat belajar anak hiperaktif
Perencanaan
Strategi guru menumbuhkan minat belajar anak hiperaktif
Evaluasi Pelaksanaan