1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang kaya akan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia adalah sastra lisan. Sastra lisan mengungkapkan peristiwa yang mengandung nilai moral, keagamaan, adat-istiadat, fantasi pribahasa, nyanyian, cerita rakyat, dan mantra. Sastra lisan bagian dari ilmu folklor. Danandjaja (2007:1) juga menyatakan bahwa Folk adalah sinonim dengan kolektif yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat; dan yang dimaksudkan dengan lor adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
Sastra merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan. Selain bahasa, sastra pun merupakan salah satu alat komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada pihak lain dalam bahasa yang indah dan bermakna. Satra merupakan produk kehidupan yang mengadung nilai-nilai sosial, falsafah, religi dan semacamnya, baik yang bertolak pada pengungkapan kembali dari yang sudah ada maupun yang merupakan penyodoran kosep baru. Dalam kesusastraan Indonesia terdapat dua penggolongan besar sastra, yaitu sastra lisan dan sastra tulisan. Sastra lisan maupun tulisan mempunyai peranan penting dalam perkembangan kesusastraan Indonesia.
Pada hakikatnya sastra lisan mempunyai akar yang berkaitan erat dengan sejarah
bangsa Indonesia, baik aspek sosio-kultural, moral, religi, hingga aspek politik.
Indonesia sebagai negara yang terdiri atas berbagai suku bangsa yang memiliki banyak ragam budaya tercermin dalam gaya dan pola hidup masing-masing daerah.
Kebudayaan merupakan ciri khas suatu bangsa yang melambangkan jati diri bangsa tersebut yang harus dijaga dan dilestarikan oleh segenap warga negara Indonesia.
Budaya yang ada di Indonesia mempunyai keunikan yang berbeda-beda di setiap daerah. Sastra tentunya tidak lepas dari masyarakat dan latar belakang sosial budayanya, sastra merupakan gambaran kehidupan masyarakat tempat sastra itu lahir dan berkembang. Kerinci sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang juga memiliki khazanah sastra yang cukup banyak, salah satu bentuknya merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Kerinci yang dikenal sebagai sastra lisan. Sastra lisan Kerinci merupakan warisan budaya daerah dan masih mempunyai nilai-nilai yang patut dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.
Cerita rakyat yang berupa legenda adalah sebagian kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat dalam sebuah legenda umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia maupun dewa. Fungsi cerita rakyat selain sebagai hiburan, juga bisa dijadikan suri tauladan terutama cerita rakyat yang mengandung pesan- pesan pendidikan moral. Semi (1993:79) menjelaskan bahwa “cerita rakyat adalah sesuatu yang dianggap sebagai kekayaan milik rakyat yang kehadirannya di atas dasar keinginan untuk berhubungan sosial dengan orang lain. Dalam cerita rakyat dapat
dilihat adanya berbagai tindakan berbahasa, guna untuk menampilkan adanya nilai- nilai dalam masyarakat”.
Cerita rakyat adalah suatu bentuk karya sastra lisan yang lahir dan berkembang dari masyarakat tradisional yang disebarkan dalam bentuk relatif tetap dan di antara kolektif tertentu dari waktu yang cukup lama dengan menggunakan kata klise (Danandjaja, 2007: 3-4). Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat, tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, tumbuhan, manusia maupun dewa. Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut. Salah satu hasil sastra lisan didaerah Kerinci yang berkembang di masyarakat ialah cerita rakyat.
Cerita Rakyat sebagai salah satu bagian dari sastra yang menjadi unik dan menarik oleh adanya unsur sindiran dan nasehat didalamnya, jika dalam sebuah cerita rakyat terdapat sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh yang kurang terpuji, baik mereka berlaku sebagai tokoh antagonis maupun protagonis, tidaklah berarti bahwa pembaca disarankan untuk bersikap dan bertindak demikian.
Menurut Hutomo (1991:3) ciri-ciri sastra lisan adalah (1) penyebarannya melalui mulut kemulut, maksudnya ekspresi budaya yang disebarkan baik dari segi ruang maupun waktu melalui mulut (2) lahir dari masyarakat yang bercorak desa (3) menggambarkan suatu ciri-ciri suatu masyarakat, sebab sastra lisan itu merupakan warisan budaya yang menggambarkan masa lampau, tetapi menyebut pula hal-hal
yang baru (sesuai dengan perubahan sosial) (4) tidak diketahui siapa pengarangnya, dan karena itu menjadi milik masyarakat.
Cerita rakyat merupakan sastra lisan yang tumbuh di masyarakat dan dinyatakan sebagai kelompok. Cerita rakyat merupakan tradisi lisan, walaupun disebarkan secara lisan sudah banyak yang ditulis. Dengan demikian, cerita rakyat tidak hanya dalam bentuk lisan tetapi juga dalam bentuk teks tertulis. Salah satu bentuk cerita rakyat Kerinci yang sudah dibukukan atau tertulis adalah cerita rakyat dari salah satu desa yang berada di Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi yaitu Desa Koto Tuo, Pulau Tengah yang berada diantara desa Lempur Danau dan desa Benik. Kumpulan cerita rakyat asal Pulau Tengah ini telah dibukukan dan diterbitkan pada tahun 2016 yang berjudul Sakunung-Sakunung Ninau oleh H. ABD Rahman Dahlan (Tutoi).
Pemilihan cerita rakyat dikarenakan cerita rakyat merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang yang perlu diangkat keberadaannya mengingat perkembangan zaman yang semakin maju dan modern yang membuat masyarakat lebih tertarik untuk menggunakan teknologi yang maju seperti computer, gawai dan lain sebagainya sedangkan cerita rakyat semakin tenggelam keberadaannya karena kurangnya juga minat masyarakat untuk mmbacanya, selain itu cerita rakyat merupakan cerminan dan memiliki peranan yang penting dalam menyimpan kebudayaan dan mempertahankan eksistansi diri. Cerita rakyat juga kaya akan pesan moral, maupun nilai kearifan budaya yang sangat berguna untuk generasi penerus bangsa.
Berikut buku cerita rakyat yang telah di tulis oleh bapak H.ABD. Rahman Dahlan: 1) Benteng Berdarah 2) Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu 3) Mapatau 4) Pertemuan dan Perpisahan 5) Drama Se-babak 6) Riwayat Tradisional PI Tengah 7) Mak Pokok 8) Capitah 9) Menggapai Takdir 10) Nenek Parantah 11) Biografi H.Ismail (Panglima Perang Pulau Tengah, Kerinci 1903) 12) Sakunung-Sakunung Ninau. Dari sekian banyak buku yang telah bapak H. ABD Rahman Dahlan tulis, peneliti memilih buku Sakunung-Sakunung untuk diteliti di karenakan cerita yang ada dalam buku Sakunung-Sakunung Ninau beragam terdiri dari 15 judul cerita dan memiliki jenis cerita yang berbeda seperti adanya cerita fabel di dalam buku tersebut dan memiliki nilai pendidikan karakter yang baik untuk diteladani kepada siswa serta buku ini merupakan buku yang paling di kenal oleh masyarakat
Setiap cerita rakyat mengandung nilai-nilai salah satunya nilai pendidikan karakter, Nilai pendidikan karakter merupakan salah satu hal utama yang akan di teliti oleh peneliti. Suatu tindakan dapat diterima secara moral apabila harmonis atau selaras dengan nilai-nilai sedangkan pendidikan karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas (Kemendiknas, 2010) merupakan bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak.
Nilai pendidikan karakter dapat diambil beberapa sebagai prioritas dalam pembelajaran dilihat dari sudut pandang pendidikan karakter. Dalam hal ini peneliti mengacu pada nilai pendidikan karakter dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kokom Komalasari (2017)
Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini dilaksanakan analisis dalam cerita rakyat Pulau Tengah, disebabkan berikut ini:
1. Penulis melihat dunia pendidikan saat ini sering dikritik oleh masyarakat yang disebabkan karena adanya sejumlah pelajar dan lulusan pendidikan menunjukkan sikap kurang terpuji. Banyak pelajar yang terlibat tawuran, melakukan tindakan kriminal, pencurian, penyimpangan seksual, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan sebagainya
2. Kurangnya perhatian dalam pendokumentasian cerita rakyat yang dapat menghilangkan aset daerah dan pengetahuan masyarakat lokal salah satunya cerita rakyat Pulau Tengah Kerinci.
3. Kurangnya kepedulian dan minat anak terhadap cerita rakyat disebabkan oleh pesatnya kemajuan IPTEK untuk itu peneliti mencoba meneliti.
4. Cerita rakyat Kerinci Sakunung-Sakunung Ninau banyak mengandung nilai pendidikann karakter yang perlu dikaji dan disebarluaskan kepada generasi muda dengan maksud dapat memberikan sumbangsih terhadap pembentukan karakter bangsa.
5. Berkaitan dengan berjalannya analisis terhadap nilai pendidikan karakter penulis perlu juga meneliti persepsi dari masyarakat yang menerbitkan buku Sakunung-Sakunung Ninau yaitu masyarakat Pulau Tengah, Kerinci.
Selain persepsi dari penulis sendiri, penulis ingin mengetahui persepsi dari masyarakat juga karena dengan demikian dimungkinkan terjadi persepsi yang berbeda-beda mengenai cerita rakyat Sakunung-Sakunung Ninau
yang tergantung pada tingkat pemahaman dan interpretasi masing-masing individu terhadap cerita rakyat tersebut.
Hal tersebutlah yang membuat peneliti untuk mengkaji nilai pendidikan karakter dalam cerita rakyat Sakunung-Sakunung Ninau sekaligus persepsi dari masyarakat Pulau Tengah, Kerinci.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, rumusan masalah pada penelitian ini yakni:
1. Nilai-nilai pendidikan karakter apa saja dalam cerita rakyat Sakunung- Sakunung Ninau?
2. Bagaimanakah persepsi masyarakat desa Pulau Tengah terhadap cerita rakyat Sakunung-Sakunung Ninau?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang ada pada cerita rakyat Sakunung-Sakunung Ninau
2. Untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat desa Pulau Tengah terhadap cerita rakyat Sakunung-Sakunung Ninau
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain berikut ini :
1.4.1 Manfaat Teoretis
1. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat menambah pengetahuan mengenai nilai-nilai pendidikan karkater terutama untuk melakukan kajian mengenai nilai pendidikan karakter dalam cerita rakyat.
2. Penelitian ini juga memberikan sumbangsih kepada pembaca mengenai nilai- nilai pendidikan karakter dan persepsi masyarakat terhadap cerita rakyat sakunung-sakunung ninau
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat menambah pengetahuan mengenai nilai-nilai Pendidikan karakter terutama untuk melakukan kajian mengenai nilai-nilai Pendidikan karakter dalam cerita rakyat kerinci
2. Sebagai bahan perbandingan sekaligus sumber kajian ilmiah bagi mahasiswa yang ingin melaksanakan penelitian dan sebagai bahan bandingan bagi penelitian lainnya, khususnya dalam meneliti masalah yang sama dengan cerita rakyat yang berbeda.
3. Sebagai bahan masukan bagi pembaca untuk memahami cerita rakyat secara baik dan menambah pengetahuan serta memperkaya wawasan dalam bidang sastra.
4. Dalam dunia pendidikan penelitian ini dapat menambah pengalaman belajar dalam membantu siswa dalam mengatasi kesulitan pembelajaran, selanjutnya diharapkan mampu memberikan alternatif bahan ajar bagi guru bidang studi Bahasa Indonesia dalam
meningkatkan mutu pengajaran
5. Sebagai penambah penelitian dalam bidang kesustraan khususnya pada karya sastra yang berbentuk cerita rakyat.
6. Sebagai media peningkatan apresiasi masyarakat baik pelajar, maupun umum di bidang sastra melayu tradisional khususnya cerita rakyat. .