• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Teori Pendukung 2.1.1 Keinsinyuran

Dalam Program Profesi Insinyur berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, Keinsinyuran berarti menggunakan keahlian dan keahlian berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja, secara berkelanjutan dinyatakan sebagai kegiatan teknologi. yang meningkatkan nilai tambah dan kegunaan, kesejahteraan, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Teknik termasuk disiplin ilmu teknik. teknik sipil dan lingkungan binaan, industri, konservasi alam dan pengelolaan sumber daya alam; Pertanian dan produk pertanian secara lebih luas. teknik kelautan dan angkatan laut, dan kedirgantaraan. Insinyur profesional dalam melaksanakan pekerjaannya selalu menyempurnakan pengetahuan dan pengalaman kerjanya sesuai dengan keahlian yang dimiliki serta berpedoman pada kode etik dan aturan yang berlaku. Kode Etik Insinyur adalah norma dan prinsip yang diterima insinyur sebagai dasar dan perilaku mereka. Kode etik berkaitan erat dengan status seseorang sebagai seorang insinyur, dan kode etik profesi diperlukan sebagai alat bantu bagi para profesional teknik.

Kode etik profesi tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga membangun dan memelihara integritas dan reputasi.

2.1.2 Keberadaan Area Konservasi (HCV dan HCS) di Perkebunan Kelapa Sawit A. HCV (High Conservation Value)

Identifikasi keberadaan area konservasi di perkebunan kelapa sawit digunakan untuk melakukan pengelompokan suatu areal ada atau tidaknya area yang mengandung fungsi konservasi. HCV (High Conservation Value)/ NKT (Nilai Konservasi Tinggi) merupakan nilai biologis, ekologis, sosial, atau kultural yang memiliki signifikansi luar biasa atau peranan yang sangat penting (HCVRN, 2013). Dari sudut pandang keberadaan High Conservation Value (HCV), bahwa nilai konservasi di klasifikasikan ke dalam 6 nilai dimana pengertiannya dapat diterapkan secara global, tetapi dapat diterjemahkan dan diadaptasikan untuk beragam negara dan lanskap (HCVRN, 2020). 6 nilai konservasi menurut HCV Resource Netwok, 2020 ialah :

(2)

1. HCV 1 merupakan konsentrasi keanekaragaman hayati termasuk spesies endemik dan langka, terancam, atau terancam bahaya yang signifikan di tingkat global, regional, atau nasional.

2. HCV 2 merupakan ekosistem tingkat lanskap besar, mosaik ekosistem, dan lanskap hutan utuh yang signifikan di tingkat global, regional, atau nasional.

3. HCV 3 merupakan ekosistem langka, terancam, atau hampir punah, atau refugia.

4. HCV 4 merupakan jasa ekosistem dasar yang kritis, termasuk perlindungan daerah tangkapan air (DTA) dan pengendalian erasi tanah dan kemiringan yang rapuh.

5. HCV 5 merupakan lokasi dan sumber daya yang fundamental untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat lokal atau asli (untuk mata pencaharian, kesehatan, nutrisi, air, dst) diidentifikasi dengan cara terlibat dengan masyarakat lokal atau asli tersebut.

6. HCV 6 merupakan lokasi, sumber daya, habitat, dan lanskap kultural global dan nasional, signifikansi arkeologi atau historis, dan/atau kepentingan kultural, ekologis, ekonomi, atau religius/sakral yang kritis untuk kebudayaan tradisional masyarakat lokal atau masyarakat asli, diidentifikasikan dengan cara terlibat dengan masyarakat lokal atau masyarakat asli tersebut.

(3)

Gambar 1. Keenam Nilai Konservasi Tinggi Sumber: HCV Resource Network, 2013

B. HCS (High Carbon Stock)

HCS (High Carbon Stock)/SKT (Stok Karbon Tinggi) merupakan Metode praktis bagi perusahaan untuk menerapkan janji NDPE (No Deforestation, Peat, and Exploitation)/

Tanpa Deforestasi, Pembangunan di gambut dan eksploitasi (HCSA, 2020). Pendekatan HCS merupakan seruan dari konsumen di seluruh duni yang memiliki kepedulian terkait dengan “Nihil Deforestasi” sehingga HCS merupakan alat yang lebih pragmatis bagi perencanaan penggunaan lahan yang menyediakan metodologi untuk menerapkan konsel nihil deforestasi Pendekatan HCS dimaksudkan untuk diintegrasikan dengan perencanaan pemanfaatan lahan secara keseluruhan yang juga meindungi kawasan HCV, lahan gambut, dan lahan-lahan lain yang penting untuk masyarakat lokal (HCS Approach Steering Group, 2015).

Dalam melakukan kajian HCS, terdapat 3 kajian yang harus dilakukan menurut HCS Approach Steering Group, 2015 antara lain :

1. Pendekatan HCS ke Dalam Konteks Sosialnya.

Menghormati hak masyarakat atas tanah mereka dan atas persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan (Padiatapa) dalam pendekatan stok karbon tinggi (SKT)/ High Carbon Stock (HCS). Agar proses SKT dapat berjalan dengan baik dan hutan dapat dikonservasi, maka masyarakat lokal harus diintegrasikan ke dalam proses ini mulai dari awal. Masyarakat diberikan gambaran umum mengenai bagaimana cara melibatkan masyarakat dalam perencanaan pemanfaatan lahan dan mengintegrasikan proses HCS dengan Padiatapa, yaitu hak masyarakat lokal untuk memberikan atau tidak memberikan persetujuannya terhadap proyek apapun yang memberikan dampak terhadap lahan, mata pencaharian dan lingkungan mereka.

2. Peta Indikatif Hutan HCS Pertama.

(4)

Mengklasifikasikan vegetasi ke dalam kelas-kelas yang relatif homogen berdasarkan citra satelit. Teknik stratifikasi tak terbimbing (unsupervised) yang dibandingkan dengan teknik stratifikasi terbimbing (supervised) yang dibandingkan kembali dengan visual pembahasan bersama beserta gambaran umum dari basis data citra dan alat yang tersedia.

Pada tahapan ini dilakukan pengambilan sampel dilapangan atas kelas vegetasi yang sudah dibuat seperti memilih plot sampel, mengukur vegetasi, memperkirakan biomassa di atas tanah dan menyempurnakan klasifikasi. Pada tahapan ini juga peta indikatif hutan HCS akan dibuat dengan dilengkapi Patch hutan HCS dari berbagai ukuran dan konektivitas yang teridentifikasi.

Pada tahapan ini juga akan mengelompokkan tutupan lahan menjadi kelas-kelas homogen untuk mengindikasikan kawasan hutan HCS potensial. Tujuan utama kegiatan ini untuk membedakan :

1. Hutan kerapatan rendah, medium, dan tinggi (HK1, HK2, HK3).

2. Hutan Regenerasi Muda (HRM).

3. Lahan bekas hutan yang telah terbuka atau terdegradasi termasuk Belukar (B), dan Lahan Terbuka (LT).

4. Kawasan non-HCS seperti jalan, badan air, dan pemukiman.

3. Analisis Patch HCS dan Pembuatan Peta Indikatif Konservasi/Pengembangan dan Decision Tree Analisis Petak Hutan HCS.

Peta indikatif hutan HCS kemungkinan besar akan berisi beberapa area hutan besar serta beberapa Patch hutan kecil yang terisolasi. Tahapan ini akan memberikan ulasan penelitian dan literatur ilmiah mengenai konservasi yang berkaitan dengan analisis Patch hutan dalam suatu lanskap, dan menjelaskan bagaimana parameter yang berbeda, termasuk di dalamnya bentuk, ukuran, konfigurasi, dan konektivitas mendukung keputusan mengenai konservasi Patch di dalam decision tree HCS.

Patch hutan HCS dianalisis menggunakan parameter yang berbeda, yaitu dengan menggunakan perpaduan alat GIS, analisis manual dan pemeriksaan lapangan. Pada tahapan ini menjelaskan mengenai Decision Tree HCS yang merupakan alat sederhana untuk menangani serangkaian keputusan kompleks yang harus dibuat mengenai setiap

(5)

Patch HCS. Pada tahapan ini mengintegrasikan hutan HCS dengan kawasan konservasi dan pengelolaan lainnya, termasuk lahan gambut, area HCV, dan kawasan penting bagi masyarakat, dan diikuti oleh penyusunan proposal kawasan pengembangan dan konservasi.

+

Gambar 2. Klasifikasi HCS

Sumber. HCS Approach Steering Group, Eds, 2015

Dalam Prinsip dan Kriteria RSPO, keberadaan area HCV dan HCS pada perkebunan kelapa sawit tertuang pada prinsip 7 yaitu Melindungi, Melestarikan, dan Meningkatkan Ekosistem dan Lingkungan Hidup. Kemudian dijelaskan pada kriteria 7.12 yaitu Pembukaan lahan tidak menyebabkan deforestasi atau merusak kawasan manapun yang diperlukan untuk melindungi atau meningkatkan Nilai Konservasi Tinggi (NKT)/ High Conservation Value (HCV) dan Hutan Stok Karbon Tinggi (SKT)/High Carbon Stock (HCS). Area HCV dan hutan HCS di kawasan yang dikelola diidentifikasi dan dilindungi atau ditingkatkan (RSPO, 2018).

2.1.3 Gambaran Umum dan Penyebaran Area Konservasi PT. Unggul Lestari

PT. Unggul Lestari merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang memiliki luas wilayah HGU seluas 14.445 ha, yang secara administratif terletak di wilayah Desa Bukit Indah, Desa Tribuana, Desa Batu Agung, dan Desa Tumbang Boloi terletak di Kecamatan Telaga Antang. Desa Sei Hanya, Desa Tumbang Sepayang, Desa Tumbang Manya, dan Desa Tumbang Kalang terletak Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Secara geografis, wilayah PT Unggul Lestari berada di posisi 1o31’20.6”-1o40’24” LS dan 112o27’9.5”-112o37’22.4”BT, Wilayah PT. Unggul Lestari bagian selatan berbatasan dengan lahan masyarakat Bukit Indah dan desa Tumbang Boloi, sebelah barat berbatasan dengan Kawasan hutan negara dengan fungsi hutan

(6)

produksi yang dapat dikonversi (HPK), hutan produksi terbatas (HPT), Sebelah timur berbatasan dengan lahan masyarakat dan sungai Mentaya, sebelah utara berbatasan dengan HPK dalam wilayah HPH (IUPHHK/Ha) PT. Kayu Mas dan lahan masyarakat.

Gambar 3. Lokasi PT. Unggul Lestari dalam Peta Kalimantan Tengah

Perkebunan yang dikelola PT. Unggul Lestari terbagi ke dalam dua Kebun (Estate), yaitu Estate I dan Estate II. Estate I berada di hamparan bagian barat, sedangkan Estate II di bagian timur. Kedua hamparan itu dipisahkan oleh Sungai Mawei yang mengalir dari arah utara ke selatan. PT Unggul Lestari juga memiliki 5 kebun kas desa yang terletak di Desa Tri Buana dengan luas 10 ha, Desa Bukit Indah dengan luas 10 ha, Desa Batu Agung dengan luas

(7)

10 ha, Desa Tumbang Boloi dengan luas 10 ha, Desa Tumbang Sepayang dengan luas 10 Ha dan Desa Sei Hanya dengan luas 10 ha.

PT. Unggul Lestari bersama tim Aksenta (PT. Gagas Dinamiga Aksenta) telah melakukan kajian keberadaan HCV pada tahun 2009 dan kajian pendekatan HCS pada tahun 2018 di perkebunan kelapa sawit PT. Unggul Lestari. Dinamika perubahan lingkungan dan soosial dari waktu ke waktu memberikan andil terbesterhadap perubahan area Konservasi tersebut. PT. Unggul Lestari telah menjalankan program pengelolaan dan pemantauan area konservasi sejak tahun 2010. Program yang telah disusun telah diimplementasikan dan dievaluasi secara berkala dan juga keterlibatan para pihak (para pemangku kepentingan terkait) juga turut dilaksanakan untuk mendorong tercapainya tujuan pengelolaan dan pemantauan area konservasi.

PT. Unggul Lestari berupaya untuk memberikan perlindungan dan melakukan pengelolaan areal-areal yang memiliki nilai penting bagi lingkungan dan sosial. Dari aspek pengelolaan lingkungan, komitmen itu diwujudkan dengan melakukan kajian keberadaan High Conservation Value (HCV) dan juga kajian terhadap areal yang memiliki High Carbon Stock (HCS), yakni area atau tempat yang terdapat di dalam rencana areal operasional perusahaan, dalam hal ini adalah areal Hak Guna Usaha perkebunan kelapa sawit yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, yang memiliki nilai konservasi yang tinggi, yang perlu dipertahankan, dilindungi, dan dikelola untuk menjamin kelestarian fungsi-fungsi ekologi, jasa lingkungan, dan sosial-budaya.

Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan oleh Aksenta pada tahun 2009 bahwa terdapat 4 (empat) tipe HCV di PT. Unggul Lestari, yaitu HCV 1, HCV 4, HCV 5 dan HCV 6. Pada beberapa areal HCV juga merupakan areal HCS sehingga pengelolaan dan pemantauan HCV sudah terintegrasi dengan HCS. Pada tipe HCV 1 adapun nilainya yaitu banyak di daerah riparian yang dilindungi secara hukum. Tipe HCV 4 nilainya terdapat pada sungai dan area bukit yang perlu untuk dilindungi, sedangkan tipe HCV 5 nilai utamanya adalah kebun karet untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, serta tipe HCV 6 nilai utamanya berupa balai keramat dan balai sesajen masyarakat lokal. Berikut ringkasan keberadaan HCV yang tertera pada tabel dibawah ini :

(8)

Tabel 1. Sebaran area HCV di PT. Unggul Lestari Sumber : Aksenta, 2009

Gambar 4. Peta Keberadaan HCV PT. Unggul Lestari

(9)

Pada Tahun 2018. PT. Unggul Lestari telah selesai melaksanakan kajian Pendekatan HCS (HCS Approach), bahwa terdapat 146 Patch yang terdari 9 High Priority Patch (HPP), 10 Medium Priority Patch (MPP), dan 127 Low Priority Patch (LPP). 9 HPP tersebut langsung ditandai sebagai konservasi indikatif. 7 dari 10 MPP memiliki konektivitas atau terhubung langsung ke area HCV dan 3 Patch terakhir membutuhkan kajian RBA (Rapid Biodiversity Assesment)/Kajian Keanekaragaman Hayati Secara Cepat). Kajian RBA menunjukkan bahwa areal tersebut perlu dikonservasi, sehingga semua areal MPP ditandai sebagai konservasi indikatif. 2 dari 127 LPP menyediakan konektivitas ke area HPP atau HCV, 110 Patch terhubung ke area HCV dan sisanya 15 Patch juga terindikasi konservasi berdasarkan hasil RBA, sehingga semua LPP juga ditandai sebagai konservasi indikatif.

Semua kawasan HCS potensial sudah ditandai sebagai kawasan HCV. Total area indikatif HCV di dalam konsesi PT Ungul Lestari adalah 764,98 ha dan total areal HCS indikatif dari konsesi dan penyangga 5 km adalah 16.986,48 ha yang terdiri dari perbukitan terjal. Areal tersebut bukan merupakan tanah masyarakat pada saat Pemetaan Partisipatif dan merupakan tanah negara dimana perusahaan tidak memiliki dasar hukum untuk menetapkan areal tersebut sebagai area HCS.

Tabel 2. Tabel luasan area konservasi (HCV dan HCS) di PT. Unggul Lestari

Sumber : Summary Report Submitted for the HCS Approach Peer Review Process, HCS Study Project Title : Carbon Stock Assesment of PT Unggul Lestari, HCS Approach, 2018

(10)

Gambar 5. Peta akhir HCS PT. Unggul Lestari

Sumber : Summary Reprot Submitted for the HCS Approach Peer Review Process, HCS Syudy Project Title : Carbon Stock Assesment of PT Unggul Lestari, HCS Approach, 2018

Referensi

Dokumen terkait

Bahasa kial adalah bahasa yang menggunakan gerakan tangan atau tubuh sebagai isyarat atau bisa suatu perbuatan, gerakan tersebut mempunyai arti pesan dalam konteks

c) Ternakan yang diserang kutu boleh dirawat dengan menyembur racun serangga ke badannya. d) Antiseptik yang dicampur dalam makanan ternakan untuk mengawal penyakit [4 markah]..

Hasil penelitian berdasarkan regresi linier sederhana menunjukkan penggunaan fasilitas belajar berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas X dan XI IPS di SMAN 1 Teluk

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang maha Esa karena atas nikmat-Nya penyusunan Laporan Kuliah Kerja Magang (KKM) STIE PGRI Dewantara Jombang dapat diselesaikan tepat

Dengan menggunakan beberapa tahap metode yaitu pengumpulan data, pengelolaan data, tahap analisis data dan diakhiri dengan tahap perancangan, diharapkan dapat mencapai

No Jam Nama mata Kuliah jml Prodi Dosen Ruang.. 1 O8.OO Speaking II 3 PBI Agustinus

Mengesahkan Persetujuan Perdagangan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Federasi Rusia, yang telah ditandatangani Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta,

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya kepada penulis sehingga