• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of EARLY CHILDHOOD FORMAL EDUCATION INSTITUTIONS IN INDONESIA: GETTING TO KNOW KINDERGARTEN (TK), AISYIAH BUSTHANUL ATHFAL (ABA) AND RAUDHATUL ATHFAL (RA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of EARLY CHILDHOOD FORMAL EDUCATION INSTITUTIONS IN INDONESIA: GETTING TO KNOW KINDERGARTEN (TK), AISYIAH BUSTHANUL ATHFAL (ABA) AND RAUDHATUL ATHFAL (RA)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

65

LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL ANAK USIA DINI DI INDONESIA:

MENGENAL TK, ABA dan RA Nida‟ul Munafiah1, Lukman2

1Universitas Singaperbangsa Karawang

2Institut Agama Islam Muhammadiyah

Corresponding Author: Nida‟ul Munafiah, e-mail: [email protected], [email protected].

ARTICLE INFO Article history:

Received 12, 02, 2023

Revised 20, 02, 2023

Accepted 10, 03, 2023

ABSTRAK

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan anak usia dini formal di Indonesia yang dikenal masyarakat pada umumnya yaitu Taman Kanak-kanak (TK), Raudhotul Athfal (RA), dan Aisyiah Bustanul Athfal (ABA). Tujuan penelitian ini untuk memaparkan perbedaan dan persamaan Taman Kanak-kanak, Raudhatul Athfal dan Aisyah Bustanul Athfal. Hasil penelitian ini yaitu ketiga lembaga memiliki peran yang sama dalam dunia pendidikan anak usia dini yaitu sama-sama bertujuan mendidik, membimbing dan menstimulasi kemampuan anak usia dini supaya berkembang lebih maksimal.

Hanya saja TK merupakan output dari Departemen Pendidikan Nasional yang bersifat umum dan diperuntukan bagi seluruh pemeluk agama, ABA juga merupakan output dari Departemen Pendidikan Nasional tetapi merupakan lembaga swasta yang didirikan oleh pergerakan wanita Aisyiah dibawah organisasi Muhammadiyah. Sedangkan RA merupakan output dari Kementrian Agama yang yang didirikan oleh organisasi Nahdhatul Ulama diketuai oleh K. H. Hasyim Asy‟ari.

Kata Kunci: Pendidikan Formal Anak Usia Dini, Taman Kanak-kanak (TK), Aisyiah Busthanul Athfal (ABA), Raudhatul Athfal (RA).

How to Cite : Nida’ul Munafiah, dan Lukman, (2023), Lembaga Pendidikan Formal Anak Usia Dini di Indonesia: Mengenal TK, ABA dan RA, Pelangi: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Islam Anak Usia Dini, 5 (1), hal. 65-81.

DOI : https://doi.org/10.52266/pelangi.v4i1.766

Journal Homepage : https://ejournal.iaimbima.ac.id/index.php/pelangi This is an open acc : ess article under the CC BY SA license

p_ISSN: 2655593 & e_ISSN: 27456439 Volume 5, Issue 1, Maret 2023

(2)

66

PENDAHULUAN

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum anak memasuki jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun 1 yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Sebagaimana dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 28 dicantumkan bahwa: 1) Pembelajaran anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pembelajaran dasar. 2) Pembelajaran anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pembelajaran formal, nonformal dan atau informal. 3) Pembelajaran anak usia dini pada jalur pembelajaran formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA) atau bentuk lain yang sederajat. 4) Pembelajaran anak usia dini pada jalur pembelajaran non formal berbentuk kelompok bermain, Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat 2. Sedangkan yang disebut anak usia dini menurut NAEYC (National Association for the Education of Young Children),

“Anak usia dini adalah sekelompok individu yang berusia antara 0 dan 8 tahun

3 serta layak memperoleh layanan pendidikan yang baik.

Indonesia memiliki lembaga pendidikan anak usia dini formal yang disebut Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA). selain itu, Indonesia memberikan izin pada masyarakat yang ingin mendirikan lembaga sekolah yang nantinya lembaga tersebut disebut sebagai lembaga sekolah swasta, yaitu sumberdana dan pengembangannya dikelola secara pribadi oleh masyarakat atau organisasi tertentu dan diawasi oleh pemerintah contohnya

1 Depdiknas, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL, Zitteliana, vol. 18, 2003.

2 Kementrian Pendidikan Nasional RI, “Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini No 137 Tahun 2014,” Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2014, 1–76.

3 Hartati, Perkembangan Belajar Pada Anak Usia Dini. (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2015).

(3)

67

Aisyiah Bustanul Athfal (ABA), Pendidikan Anak Usia Dini Islam Terpadu (PAUD IT), dan lain sebagainya.

Taman Kanak – Kanak atau Raudhatul AThfal merupakan pendidikan yang dikhususkan bagi anak yang memiliki usia 4 – 6 tahun dan merupakan pendidikan formal bagi anak usia dini di Indonesia. Meskipun mulai banyak lembaga pendidikan prasekolah berdiri, pendidikan formal anak usia dini di Indonesia yang banyak di kenal oleh masyarakat yaitu lembaga pendidikan anak usia dini yang bernama TK, ABA dan RA.

TINJAUAN TEORITIS

Sejarah Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Sejarah pendidikan sama usianya dengan sejarah manusia itu sendiri.

Keduanya tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain melainkan saling melengkapi. Sejarah berdirinya Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia, dimulai Pada tanggal 28 Mei 1908 saat kebangkitan Nasional yang di awali dengan berdirinya Pergerakan Pemuda Budi Utomo 4, saat itulah pemuda pribumi menyadari akan pentingnya pendidikan anak usia dini. Sejarah berdirinya Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia, dimulai pada tahun 1908 (sebelum Indonesia merdeka) akan tetapi Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia yang didirikan oleh warga pribumi asli berdiri pada tahun 1919 yang dipelopori oleh persatuan wanita aisyiah yang disebut dengan Aisyiah Bustanul Athfal (ABA) bertempat di Yogyakarta 5. Setelah itu pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantoro mendirikan Taman Lare atau Taman Anak atau Kindertuin yang akhirnya berkembang menjadi Taman Indria 6.

Pada tahun 1942 lembaga pendidikan sejenis pendidikan anak usia dini terus berlanjut namun semakin berkurang secara kuantitas karena tidak ada

4 Arwendis Wijayanti, Vilmy Fitri Nur, and Mellyani Sarah Awwalina, “Perkembangan Paud Di Indonesia Dan Dunia Internasional,” IJCE (Indonesian Journal of Community Engagement) 3, no. 2 (2022): 37–42, https://doi.org/10.37471/ijce.v3i2.470.

5 Rahman, Hibana S, No TitlKonsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dinie (Yogyakarta: PGTKI Press, 2002).

6 Saudah, “Lintas Sejarah Dan Ragam Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (Formal, Non Formal, Informal),” JEA: Jurnal Edukasi AUD 1, no. 1 (2015): 1–30.

(4)

68

pengawasan secara formal penyelenggaraan pendidikan setingkat anak usia dini. kegiatan kelasnya hanya dilengkapi dengan nyanyian-nyanyian. Pada tahun 1945 Yayasan Pendidikan Lanjutan Wanita mendirikan Sekolah Pendidikan Guru TK Nasional di Jakarta. Di era ini pemerintah dan swasta mulai nnembangun banyak Taman Kanak-kanak (TK).

Pada tahun 1950, melalui UU No. 4 tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah keberadaan Taman Kanak-kanak (TK) resmi diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Pada tahun itu pula, tepatnya tanggal 22 Mei 1950 berdiri IGTKI. Pada tahun 1951 berdiri Yayasan Bersekolah Pada Ibu yang menyumbang pendirian TK hingga menyebar ke luar pulau Jawa.

Periode 1951-1955, pemerintah berupaya mengembangkan kurikulum, menyediakan fasilitas, dan mengadakan supervisi ke Taman Kanak-kanak.

Pada periode itu pula didirikan SPG-TK Nasional di Jakarta dengan pemberian subsidi, dan pengembangannya yang terus berlanjut hingga ke luar pulau Jawa.

Pada tahun 1957 berdiri GOPTKI (Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia) yang melaksanakan kongres pertamanya pada tahun 1959. Pada awal tahun 1960-an, mulai didirikan Taman Kanak-kanak yang berstatus negeri.

Periode 1960-1963, pemerintah mulai melakukan pengiriman sumber daya manusia untuk belajar ke luar negeri, diantaranya ke Australia, USA, dan New Zealand. Dampak dari pengiriman sumber daya manusia tersebut, terjadi modernisasi pendidikan di tingkat pendidikan anak usia dini berskala besar dan merupakan jawaban atas ketidakpuasan sebelumnya.

Periode 1963-1964 lahirlah Proyek (Kurikulum) Gaya Baru. Inti kurikulum tersebut berorientasi pada fasilitasi anak mendekati kecakapan, kebutuhan dan minat individual. Ciri khasnya tersedia pusat minat (sudut), seperti: sudut rumah tangga, sudut seni, pusat musik, dan sebagainya.

Periode 1965-1998 ditandai dengan diperkenalkannya silabus kurikulum baru tahun 1968 yang menggantikan kurikulum versi 1964 (Kurikulum Gaya

(5)

69

Baru). Pada bulan November 1968, pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNICEF dalam bentuk penyediaan konsultan dan pendanaan untuk penataran guru dan administrator pendidikan di tingkat TK.

Pada tahun 1970, mulai dijalin kerjasama nyata antara Pemerintah dengan GOPTKI, IGTKI, dan PGRI. Kerjasama tersebut melahirkan kegiatan workshop bersama, dengan tema “Konsolidasi Gerakan Prasekolah”. Kegiatan yang sama dilakukan tahun 1973, dengan tema: “Membakukan Organisasi dan Manajemen Program-Program Prasekolah”.

Pada tahun 1974, diberlakukan kurikulum baru yang merupakan pembaharuan dari kurikulum 1968. Isi kurikulum meliputi: PMP, kegiatan bermain bebas, pendidikan bahasa, PLH, ungkapan kreatif, pendidikan olah raga, pendidikan dan pemeliharaan kesehatan, serta pendidikan skolastik.

Pada tahun 1984, diberlakukan kurikulum baru dengan isi kurikulum meliputi bidang pengembangan agama, PMP, daya cipta, jasmani dan kesehatan, daya fikir/pengetahuan, serta perasaan kemasyarakatan dan lingkungan. Berlakunya UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang diikuti terbitnya PP No. 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, semakin mempertegas eksistensi dan kedudukan pendidikan prasekolah di Indonesia.

Selanjutnya pada tahun 1993, diberlakukan kurikulum TK 1993. Dalam kurikulum 1993 tersebut terdapat dua kegiatan utama, yaitu: 1) Program pembentukan perilaku, dan 2) Program pengembangan kemampuan dasar:

daya cipta, bahasa, daya pikir, keterampilan dan jasmani.

Pada tahun 1998 menguatkan berbagai upaya di bidang pendidikan anak usia dini, maka diadakan Semiloka Tingkat Nasional tentang Pendidikan Anak Usia Dini di IKIP Jakarta. Peserta terdiri dari 10 LPTK dan unsur dinas pendidikan dari seluruh Indonesia.

Periode 1998-2003 ditandai dengan otonomi pendidikan, yang berpengaruh terhadap tata kelola penanganan PAUD di pusat maupun di daerah-daerah. Pada periode ini pemerintah mulai mendukung

(6)

70

berkembangnya PAUD jalur pendidikan nonformal dalam bentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) dan Satuan PAUD Sejenis dalam bentuk pengintegrasian layanan PAUD dengan Posyandu.

Periode 1998-2004 pemerintah merintis program Pengembangan Anak Dini Usia di 4 propinsi, yaitu Jawa Barat, Banten, Bali, dan Sulawesi Selatan. Program dilanjutkan pada tahun 2008-2013 dengan nama program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini (PPAUD) dengan dukungan pembiayaan pinjaman dari Bank Dunia dan hibah dari pemerintah Belanda.

Pada tahun 2001 dibentuk Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) yang mengemban mandat melakukan pembinaan satuan PAUD nonformal.

Pada tahun 2002 terbentuk konsorsium PAUD yang membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan.

Pada bulan Februari 2002, terbentuk forum PADU/PAUD tingkat Nasional yang turut berkontribusi dalam pengembangan dan pembangunan PAUD di Indonesia. Di periode ini pula terjadi pendirian PGTK/PGPAUD jenjang S-1 di beberapa perguruan tinggi (PGTK S-I di UPI, PGTK S-1 IKIP Yogyakarta, dll).

Periode 2003-2009, ditandai dengan keluarnya Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang merupakan jawaban atas tuntutan reformasi dalarn semua aspek kehidupan. Melalui UU ini untuk pertama kali PAUD diatur secara khusus dalam sebuah undang-undang, yaitu pada pasal 1 butir 14 tentang pengertian PAUD; pasal 28 yang secara khusus mengatur tentang PAUD; dan pasal-pasal terkait lainnya.

Pada tahun 2003 diselenggarakan Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloknas) di IKIP Bandung yang menghadirkan para akademisi dari perguruan tinggi, forum PAUD, dan praktisi PAUD dari berbagai daerah.

Semiloknas ini menghasilkan `blue print‟ tentang kerangka akadernik dan rujukan pengembangan PAUD di Indonesia yang mengawali konseptualisasi pembangunan PAUD Indonesia. Selanjutnya pada tahun 2005 berdiri organisasi profesi, himpunan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD

(7)

71

Indonesia (HIMPAUDI) yang menggerakkan seluruh potensi pendidik dan tenaga kependidikan PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia. Pembentukan HIMPAUDI di tingkat pusat ini dengan cepat diikuti dengan pembentukan HIMPAUDI tingkat provinsi dan Kabupaten/Kota.

Pada tahun 2004-2009 program PAUD menjadi salah satu dari 10 prioritas program Depdiknas sehingga PAUD menjadi salah satu program pokok dalam pembangunan pendidikan di Indonesia (tertuang dalam RPJM Tahun 2004-2009 dan Renstra Depdiknas Tahun 2004-2009). Pada penghujung tahun 2009, diterbitkan Permendiknas No. 58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD (formal dan nonformal).

Periode 2010-sekarang, ditandai dengan kebijakan penggabungan pembinaan PAUD formal dan PAUD nonformal di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) melalui Peraturan Presiden No. 24 tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Kementrian Negara Republik Indonesia sebagaimana diubah dengan Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2010.

Pada perjalanan sejarah pembinaan PAUD di Indonesia, akhirnya terjadi kristalisasi bentuk bentuk satuan PAUD dengan berbagai karakteristiknya yang meliputi TK (termasuk Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal/TK-BA), RA, KB, TPA, Satuan PAUD Sejenis, serta PAUD berbasis keluarga dan/atau lingkungan.

Lembaga PAUD formal di Indonesia (TK/ RA/ ABA)

Sesuai dengan Pasal 1 ayat 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, diperjelas dengan Pasal 1 ayat 6 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Dasar penyelenggaraan pendidikan formal juga telah diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan

(8)

72

Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan, khususnya Pasal 60 ayat 1 yang menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan formal meliputi : pendidikan anak usia dini jalur formal berupa Taman Kanak-Kanak (TK), Bustanul Athfal (BA) dan Raudhatul Athfal (RA), pendidikan dasar (contohnya : SD, MI, SMP, MTs), pendidikan menengah (SMA, MA, SMK, MAK), dan pendidikan tinggi (contohnya : Diploma, Sarjana, Magister, Spesialis, Doktor).

Indonesia dikenal dengan beraneka macam budaya dan agama, sehingga dalam dunia pendidikan anak usia dini sekalipun jika dilihat dari sejarah berdiri dan filosofinya tampak jelas ada organisasi masyarakat – organisasi masyarakat tertentu yang menjalankannya. Secara umum, Taman kanak-kanak (TK/RA/ABA) di Indonesia merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia dini (4- 6 tahun). Akan tetapi dilihat dari filosofinya, antara TK, RA dan BA memiliki latar belakang dan tujuan yang memiliki konsekuensi tersendiri.

a. Taman Kanak – Kanak (TK)

TK adalah singkatan dari Taman Kanak-Kanak, sebuah TK berdiri dengan adanya SK (Surat Keputusan) dari Mendiknas sehingga jelas bahwa Taman Kanak-kanak (TK) merupakan output dari Departemen Pendidikan Nasional.

Taman Kanak-kanak (TK) dikelola secara professional oleh guru-guru TK dalam wadah IGTK (Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak) 7. Pada dasarnya TK, ABA dan RA sama-sama lembaga pendidikan anak dini berusia 4-6 tahun pada jalur formal yang diakui oleh pemerintah.

Taman Kanak – Kanak memiliki empat ciri, yaitu: 1) TK dikelola oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, 2) Pendidikan di TK biasanya bersifat umum, 3) Anak-anak di TK agamanya bisa macam-macam, ada islam, kristen, katolik dll. 4) Dari segi seragam, anak TK ada yang menggunakan seragam islami ada juga yang bebas, karena agamanya juga tidak selalu islam.

7 dkk Ahmad Musllih, Analisis Kebijakan PAUD Mengungkap Isu-Isu Menarik Seputa PAUD (Wonosobo: Mangku Bumi, 2018).

(9)

73

Tujuan Pendidikan TK yaitu, 1) Membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut 8. 2) Mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik (Penjelasan Pasal 28 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003). 3) Membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (Pasal 3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990).

Kurikulum TK terdiri dari semua kegiatan dan pengalaman yang diikuti anak usia dini dalam pengasuhan. Lingkup perkembagan fisik/motorik, social emosial, kognitif, nilai moral agama, bahasa dan seni merupakan merupakan isi kurikulum secara utuh dan kurikulum dirancang sesuai dengan perkembangan

9. Kerangka dasar dan struktur kurikulum 2013 pendidikan anak usia dini TK tercatat di Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia Nomor 146 tahun 2014.

b. Raudhatul Athfal (RA)

Nama Raudhatul Athfal dimunculkan pertama kali dalam Konferensi Besar Nahdhatul Ulama pada tanggal 23-26 Februari 1954 10. Konferensi ini menaruh perhatian pada pendidikan untuk kanak-kanak dan memberi nama yang berbeda dengan Taman Kanak-Kanak dalam persyarikatan Muhammadiyah 11. Nahdhatul Ulama merupakan sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama' pada tanggal 31 Januari 1926 Masehi di Kota Surabaya serta dihadiri para ulama di Majelis termasuk Hadratus Syaikh Hasyim Asy‟ari, KH Abdul

8 Depdiknas, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.

9 George S. Morrison, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ed. terj. Suci Romadhona dan Apri Widiastuti, Edisi keli (Jakarta: Indeks, 2012).

10 Muhammedi, “Peran Raudhtul Athfal (RA) Dalam Membina Generasi Islam Yang Berkarakter,” Raudhah V, no. 1 (2017): 1–20.

11 M Junus, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Mutiara, 1957).

(10)

74

Wahab Hasbullah, KH Bishri Syansuri, K. Raden Asnawi, KH Ma‟shum, KH Nawawi, KH Ridlwan, KH Faqih dan KH Abdul Halim 12.

Pada tahun 1981, nama Raudhatul Athfal telah resmi digunakan oleh Departemen Agama dalam buku kurikulum bertajuk “Panduan Kurikulum atau Garis Besar Program Kurikulum Raudhatul Athfal”. Nama Raudhatul Athfal seterusnya dipertahankan oleh Departemen Agama dalam Revisi kurikulum Tahun 1987 (Departemen Agama, 1987:1-2). Penyebutan Raudhatul Athfal pertama kali terdapat pada UU Pendidikan No. 20/2003 tentang sistem Pendidikan Nasional Pasal 28 13 .Selanjutnya nama Raudhatul Athfal semakin mendapatkan legitimasi secara yuridis dan mendapatkan perhatian pemerintah pasca penetapan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, di mana Raudhatul Athfal dicantumkan dengan jelas dan tegas dalam batang tubuh UU No. 20 tentang Sisdiknas pasal 2 14.

RA singkatan dari Raudhatul Athfal. Diambil dari istilah bahasa Arab.

Raudhah artinya taman, sedangkan Athfal artinya kanak-kanak. Raudhatul Athfal (RA) adalah salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yaitu pendidikan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan dengan memberikan rangsangan pendidikan yang mendorong pertumbuhan fisik dan intelektual serta perkembangan yang mendukung agar anak-anak siap untuk melanjutkan pendidikannya 15. RA berada dibawah naungan Departemen Agama melalui SK Menag. yang dikelola secara profesional oleh guru-guru RA dalam wadah IGRA (Ikatan Guru Raudhatul Athfal). Selain materi umum, RA memperkenalkan pula dasar- dasar ajaran agama Islam kepada anak didiknya. Hal ini tercantum dalam penjelasan pasal 28 ayat (3) dinyatakan bahwa Raudatul Athfal (RA)

12 and Robin Bush Fealy, Greg, “The Political Decline of Traditional Ulama in Indonesia The State, Umma and Nahdlatul Ulama,” Asian Journal of Social Science 42 No 5 (2014).

13 Mesiono, Manajenem Pendidikan Raudhatul Athfal (RA) Pengantar Teori Dan Praktik, 2017.

14 Muhammedi, “Peran Raudhtul Athfal (RA) Dalam Membina Generasi Islam Yang Berkarakter.”

15 Luluk Atirotu Zahroh, “Peningkatan Profesionalisme Guru Raudhatul Athfal,” Ta’allum:

Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (2014), https://doi.org/10.21274/taalum.2014.2.1.114-126.

(11)

75

menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya.

Raudhatul Athfal memiliki ciri berbeda, yaitu: 1) Raudhatul Athfal itu dikelola oleh Departemen Agama (DepAg), 2) Pendidikan di Raudhatul Athfal lebih ditekankan pada Keagamaannya, 3) Anak-anak dan pendidik Raudhatul Athfal agamanya hanya Islam, 4) Dari segi seragam, anak Raudhatul Athfal menggunakan seragam islami.

Secara khusus tujuan pendidikan pada Raudhatul Athfal adalah membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap perilaku, pengetahuan keterampilan dan daya cipta yang diperlukan anak didik agar menjadi muslim yang menghayati dan mengamalkan agama serta sanggup menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan kepentingan pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya 16. Sedangkan Secara umum pendidikan kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sebagai wahana pengembangan Fitrah manusia; yaitu mengembangkan seluruh potensi peserta didik sehingga sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai makhluk Allah SWT untuk siap menjalani hidup serta menghadapi perannya dimasa yang akan datang.

Ruang lingkup kurikulum RA meliputi berbagai aspek perkembangan anak seperti pemahaman nilai-nilai moral dan agama, social, emosi, kemandirian, bahasa, kognitif, fisik motorik, dan seni yang berlandaskan ajaran Islam. Pelaksanaan kurikulum tersebut diintegrasikan dengan IMTAQ, yang meliputi program kegiatan belajar dalam rangka meningkatkan akhlakul karimah dengan pembiasaan sehari-hari, serta program kegiatan belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasar yang meliputi kecerdasan majemuk

16 Kementerian Agama, “KMA Nomor 729 Tahun 2018 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Raudhatul Athfal (RA),” 2018, https://dki.kemenag.go.id/media/laws/3- 191031102125-5dba53357aa63.pdf.

(12)

76

yang disesuaikan dengan karakteristik anak prasekolah khususnya anak di RA

17.

Dilihat dari sejarahnya, Raudhatul Athfal (RA) secara otomatis dilihat oleh masyarakat merupakan pendidikan prasekolah yang memiliki corak pendidikan dibawah organisasi masyarakat Islam yang disebut Nahdhatul Ulama dan menjadi lembaga pendidikan Islam yang dinaungi pemerintah khususnya kementrian agama Indonesia.

c. Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA)

Bustanul Athfal atau Aisyiyah Busthanul Athfal merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang dirintis organisasi „Aisyiyah (organisasi otonom dalam Persyarikatan Muhammadiyah). Organisasi ini bertujuan

“memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland” 18. Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi yang didirikan oleh K. H. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912 di Kampung Kauman Yogyakarta 19.

Semenjak pra kemerdekaan pada tahun 1919 Bustanul Athfal dijadikan sebagai sekolah anak-anak milik pribumi (orang-orang Indonesia asli) yang pertama kali di Indonesia dan di awal berdirinya dikenal dengan Froebel Kindergarten „Aisyiyah, yang kemudian diresmikan pada tahun 1924.

Sehingga, nama TK ABA merupakan nama yang menjadi hak paten hanya digunakan oleh lembaga ke-PAUD an milik „Aisyiyah yang ada di seluruh kabupaten/kotamadya di Indonesia 20.

Bustanul Athfal memiliki ciri, yaitu: 1) Bustanul Athfal itu dikelola oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian disesuaikan dengan kurikulum yayasan kemuhammadiyahan. 2) Pendidikan di Bustanul Athfal

17 Departemen Agama, Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal (Jakarta: Depertemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005).

18 Abdul Munir Mulkhan, Warisan Intelektual K. H. Ahmad Dahlan Dan Amal Usaha Muhammadiyah (Yogyakarta: Percetakan Persatuan, 1990).

19 Zuhron Arofi Agus Miswanto, Sejarah Islam Dan Kemuhammadiyahan, Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Studi Islam Universitas Muhammadiyah Magelang (P3SI), 2012.

20 Saudah, “Lintas Sejarah Dan Ragam Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (Formal, Non Formal, Informal).”

(13)

77

lebih ditekankan pada Keagamaannya yang berbasis ajaran tauhid (pemurnian), 3) Anak-anak dan pendidik Bustanul Athfal agamanya hanya Islam. 4) Dari segi seragam, anak Bustanul Athfal menggunakan seragam islami.

Tujuan Aisyiyah Bustanul Athfal secara khusus ingin menyemaikan ajaran tauhid yang benar kepada anak-anak melalui pelajaran, berbagai permainan, nyanyian, cerita dan lainnya yang sesuai dengan irama perkembangan anak 21.

Ruang lingkup kurikulum Bustanul Athfal meliputi lingkup perkembagan fisik/motorik, social emosial, kognitif, nilai moral agama, bahasa dan seni merupakan merupakan isi kurikulum secara utuh dan kurikulum dirancang sesuai dengan perkembangan berlandaskan ajaran tauhid.

Pelaksanaan kurikulum Bustanul Athfal tersebut diintegrasikan dengan IMTAQ, yang meliputi program kegiatan belajar dalam rangka meningkatkan akhlakul karimah dengan pembiasaan sehari-hari, serta program kegiatan belajar dengan program pendidikan al-islam dan keaisyiyahan/ kemuhammadiyahan 22.

Dilihat dari sejarahnya, Asyiah Bustanul Athfal (ABA) secara otomatis dilihat oleh masyarakat merupakan pendidikan prasekolah yang memiliki corak pendidikan dibawah organisasi masyarakat Islam yang disebut Muhammadiyah, akan tetapi ABA menjadi pendidikan prasekolah formal yang statusnya menjadi sekolah milik yayasan atau swasta.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Penelitian ini adalah jenis penelitian yang mencoba mengumpulkan data dari literatur. Dan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian sinkronis.

Penelitian dilakukan dengan melihat dan menghubungkan sejarah serta latar belakang dari lembaga Pendidikan anak usia dini yang ada di Indonesia.

Penelitian ini adalah literatur perpustakaan sehingga metode pengumpulan

21 Junus, Sejarah Pendidikan Islam.

22 Serli Marlina, Rismareni Pransiska, and Zahratul Qalbi, “Analisis Kurikulum Pendidikan Islam Di Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Padang,” Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. 2 (2021): 844–55, https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i2.1143.

(14)

78

data yang digunakan adalah dokumentasi, yaitu 23 melacak sumber tertulis yang berisi berbagai tema dan topik yang dibahas. Data yang telah dikumpulkan dan dianalisis dengan metode deskriptif menggambarkan apa yang sedang diselidiki.

Langkah awal penelitian ini adalah mengumpulkan dan mempelajari data hasil penelitian yang sama oleh peneliti sebelumnya. Selanjutnya menambahkan data untuk mendukung penelitian ini melalui jurnal, buku dan internet. Setelah data dikumpulkan dan di pelajari, dilanjutkan dengan pengolahan pengolahan data. Kemudian melakukan analisis data dengan analisis deskriptif. Kontribusi ini diharapkan untuk mengetahui atau mengenal sekolah formal Pendidikan anak usia dini di Indonesia khususnya Raudhatul Athfal, Aisyiah Bustanul Athfal dan Taman Kanak-kanak.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan filosofi dan tujuan pendidikan TK, ABA dan RA tidak memililiki perbedaan, lembaga tersebut berupaya pembinaan yang ditujukan bagi anak usia dini 4-6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Namun, berdasarkan peraturan pemerintah Kepmendikbud Nomor 0486/0/1992 menyebutkan bahwa TK yang didirikan oleh pemerintah diselenggarakan oleh Menteri. Sedangkan TK yang diselenggarakan oleh masyarakat diselenggarakan oleh yayasan atau badan yang bersifat social (swasta). TK Islam yang dikelola oleh organisasi-organisasi Islam termasuk dalam kategori lembaga swasta dan berada di bawah birokrasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Akan tetapi, lembaga berciri khusus yang bernama Raudhatul Athfal (RA) yang dimunculkan dalam Konferensi besar organisasi Islam Nahdhatul Ulama

23 Addiestya Rosa Hutasuhut, “Studi Literatur Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Dengan Pendekatan Pmr Matematis Siswa,” Journal of Mathematic Teacher Education 11, no. 2 (2019): 1–9.

(15)

79

berada di bawah pemerintah Kementrian Agama. Kemudian lembaga Bushtanul Athfal merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang dirintis organisasi „Aisyiyah (organisasi otonom dalam Persyarikatan Muhammadiyah) berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan meskipun memiliki ciri khusus dan dikelola oleh organisasi Islam. Sedangkan TK (Taman Kanak- kanak) bersifat umum bagi seluruh pemeluk agama dibawah birokrasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sehingga tiga lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tersebut termasuk kedalam lembaga Pendidikan Anak Usia Dini formal di Indonesia yang berorientasi pada anak usia dini berusia 4-6 tahun yang memiliki sejarah dan naungan yang berbeda. Perbedaan dari ketiga lembaga tersebut tidak terlalu banyak, hanya saja ada dampak yang atau konsekuensi yang pasti mempengaruhi pendidikan pada anak usia dini di Indonesia khususnya dimasyarakat pada umumnya.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat diketahui persamaan ketiga lembaga tersebut yaitu mendidik dan membimbing Anak Usia Dini menurut aspek perkembangan dan peraturan yang ada, sedangkan perbedaan lembaga pendidikan Anak Usia Dini formal TK, ABA dan RA antara lain : a) Taman Kanak-kanak (TK) berada dibawah naungan pemerintah (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), status kepemilikan milik negara, Kurikulum mengacu dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sumber dana dari pemerintah dan tidak dibawah organisasi apapun. b) Aisyiah Bustanul Athfal (ABA) dibawah naungan pemerintah dan Yayasan, status kepemilikan milik swasta atau yayasan dibawah organisasi Muhammadiyah, kurikulum mengacu dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta diintegrasikan dengan kurikulum yayasan, dan sumber dana berasal dari pemerintah serta dari yayasan yang mengelola. c) Raudhatul Athfal (RA) berada dibawah naungan Kementrian Agama (KemenAg), status kepemilikan milik negara tetapi biasanya milik swasta dibawah organisasi Nahdhatul Ulama, kurikulum yang digunakan

(16)

80

mengacu dari Kementrian Agama, dan sumber dana berasal dari pemerintah serta dari pengelola organisasi.

DAFTAR PUSTAKA (1,5 point)

Abdul Munir Mulkhan. (1990). Warisan Intelektual K. H. Ahmad Dahlan dan Amal Usaha Muhammadiyah. Percetakan Persatuan.

Agus Miswanto, Z. A. (2012). Sejarah Islam dan Kemuhammadiyahan. In Pusat Pembinaan dan Pengembangan Studi Islam Universitas Muhammadiyah Magelang (P3SI).

Ahmad Musllih, dkk. (2018). Analisis Kebijakan PAUD Mengungkap Isu-Isu menarik seputa PAUD. Mangku Bumi.

Departemen Agama. (2005). Pedoman pelaksanaan kurikulum raudlatul athfal.

Depertemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.

Depdiknas. (2003). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL. In Zitteliana (Vol. 18, Issue 1).

Fealy, Greg, and R. B. (2014). The Political Decline of Traditional Ulama in Indonesia The State, Umma and Nahdlatul Ulama. Asian Journal of Social Science 42, No 5.

Hartati. (2015). Perkembangan Belajar Pada Anak Usia Dini. Departemen Pendidikan Nasional.

Hutasuhut, A. R. (2019). Studi literatur meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dengan pendekatan pmr matematis siswa. Journal of Mathematic Teacher Education, 11(2), 1–9.

Junus, M. (1957). Sejarah Pendidikan Islam. Mutiara.

Kementerian Agama. (2018). KMA Nomor 729 Tahun 2018 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Raudhatul Athfal (RA) (pp. 1–61).

https://dki.kemenag.go.id/media/laws/3-191031102125- 5dba53357aa63.pdf

Kementrian Pendidikan Nasional RI. (2014). Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini No 137 Tahun 2014. Peraturan Menteri Pendidikan Dan

(17)

81

Kebudayaan Republik Indonesia, 1–76.

Marlina, S., Pransiska, R., & Qalbi, Z. (2021). Analisis Kurikulum Pendidikan Islam di Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Padang. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(2), 844–855.

https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i2.1143

Mesiono. (2017). Manajenem Pendidikan Raudhatul Athfal (RA) Pengantar Teori dan Praktik.

Morrison, G. S. (2012). Dasar-dasar pendidikan anak usia dini (PAUD) (terj. Suci Romadhona dan Apri Widiastuti (ed.); Edisi keli). Indeks.

Muhammedi. (2017). Peran Raudhtul Athfal (RA) dalam Membina Generasi Islam yang Berkarakter. Raudhah, V(1), 1–20.

Rahman, Hibana S. (2002). No TitlKonsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dinie.

PGTKI Press.

Saudah. (2015). Lintas sejarah dan ragam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini (formal, non formal, informal). JEA: Jurnal Edukasi AUD, 1(1), 1–30.

Wijayanti, A., Vilmy Fitri Nur, & Mellyani Sarah Awwalina. (2022).

Perkembangan Paud Di Indonesia Dan Dunia Internasional. IJCE (Indonesian Journal of Community Engagement), 3(2), 37–42.

https://doi.org/10.37471/ijce.v3i2.470

Zahroh, L. A. (2014). Peningkatan Profesionalisme Guru Raudhatul Athfal.

Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam, 2(1).

https://doi.org/10.21274/taalum.2014.2.1.114-126

Referensi

Dokumen terkait

Dengan atap bagian atas dinamakan kasau bentuk dibuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua, berfungsi untuk mencegah air hujan agar tidak masuk ke

Dari hasil observasi di kelas IX SMP Negeri 1 Rokan Koto ini penulis juga melihat siswa putra kurang memahami teknik dalam tolak peluru, kurangnya kelenturan pergelangn

Menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum serta pertimbangan tersebut di atas maka majelis hakim memperoleh keyakinan bahwa perbuatan terdakwa untuk mendatangi korban Syamsuddin

Model kombinasi peningkatan kinerja kebun dan pabrik kelapa sawit dari masing-masing kriteria yang mempunyai kinerja rendah dibuat suatu program kebijakan untuk

Berdasarkan tanggapan responden mengenai motivasi eksternal dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja karyawan dengan berbagai pertanyaan pemahaman pegawai/karyawan

Sahabat MQ/ pelanggan PDAM bantul/ mulai februari 2010 dapat membayar di kantor pos se Indonesia// Kepala PDAM Bantul -Agung Darmadi mengatakan/ kerja sama

Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pemecaha n Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Pema haman dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Dasar .Tesis padaSPsUPI:

komunikator dapat terdiri dari satu orang, banyak orang (lebih dari satu),c.