• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

168

BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Sesudah melakukan tahap pengumpulan dan pengolahan data, maka tahap selanjutnya adalah analisis dan pembahasan. Bab ini memuat analisis dan pembahasan dari pengolahan data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya untuk digunakan dalam menginterprestasikan data. Analisis dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya cacat pada horn dengan menggunakan alat bantu yaitu fishbone

diagram.

5.1 Analisis Perhitungan Peta Kendali p

Berdasarkan pengolahan data pada bab 4, dapat dilihat bahwa total cacat selama bulan Februari 2013 – Juli 2014 adalah sebesar 358882 unit dari total produksi sebesar 21165550 unit dengan rata-rata proporsi cacat sebesar 0.0170 atau 1.7%. Artinya setiap 1000 unit horn yang diproduksi, terdapat cacat sebanyak 17 unit. Berdasarkan gambar 4.83 dapat dilihat bahwa terdapat proporsi cacat yang melebihi batas atas (UCL) yaitu pada subgroup 10, 16, 22, 31, 33, 38, 51, 55, 64, dan 69. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata proporsi cacat tersebut disebabkan oleh penyebab khusus (special cause). Proporsi cacat pada subgroup 10, 16, dan 22 diseba

(2)

bkan karena pada minggu-minggu tersebut terjadi pergantian operator pada beberapa proses penting. Pergantian operator tersebut dapat berakibat pada menurunnya kualitas horn bahkan dapat meningkatkan proporsi cacat horn. Proporsi cacat pada subgroup 31, 33, dan 38 disebabkan karena pada minggu-minggu tersebut memakai material wire 2UEW dari supplier yang berbeda. Setelah dilakukan analisa lebih lanjut ternyata dimensi (diameter) wire 2UEW dari supplier tersebut over (rata-rata Ø0.37mm) dari standar yang ada (standar diameter wire adalah Ø0.32mm ± 0.02mm). Dengan diameter wire yang over tersebut maka dapat dipastikan bahwa tebal lapisan email pada wire over sehingga proporsi terjadinya cacat terutama cacat horn short dan horn mati semakin besar. Proporsi cacat pada subgroup 51, 55, 64, dan 69 disebabkan karena pada minggu-minggu tersebut sering terjadi kerusakan pada beberapa mesin produksi horn sehingga dapat menghambat proses produksi horn dan bahkan dapat meningkatkan proporsi cacat pada horn.

Semua data proporsi cacat yang berada di atas UCL tidak dipakai dalam pembuatan peta kendali p karena semua penyebab cacat tersebut dapat dihindari sehingga peta p perlu direvisi. Demikian pula untuk data proporsi cacat yang berada di bawah LCL juga tidak dipakai karena walaupun kualitas produk yang dihasilkan melebihi batas bawah yang diinginkan tetapi kualitas produk tersebut tidak sesuai (tidak mewakili) dengan kualitas produk sesungguhnya.

Pada revisi pertama, masih terdapat enam titik yang berada di luar batas atas (UCL) yaitu pada subgroup 11, 23, 28, 38, 43 dan 54. Oleh karena itu titik-titik tersebut dibuang dan peta kendali p direvisi lagi untuk mendapatkan peta kendali p yang baru. Setelah dilakukan revisi yang kedua, akhirnya didapatkan bahwa semua data masuk dalam batas kendali UCL maupun LCL. Setelah semua data masuk ke

(3)

dalam batas kendali, maka nilai CL dari hasil perhitungan peta kendali revisi kedua sebesar 0.0168.

5.2 Analisa Peta Kendali p Standar

Pembuatan peta kendali p standar berfungsi sebagai acuan untuk memonitor apakah proporsi cacat yang terjadi pada proses produksi horn berada dalam batas kendali atau tidak pada proses di masa mendatang. Jadi, peta kendali standar ini memudahkan pihak perusahaan untuk mengontrol banyaknya jumlah horn cacat yang diperbolehkan.

Pada perhitungan peta kendali p standar didapatkan nilai tengah(CL) sebesar 0.0168, nilai batas atas (UCL) sebesar 0.0175, dan nilai batas bawah (LCL) sebesar 0.0161. Berikut ini adalah peta kendali p standar produk horn yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk memantau proses di masa mendatang.

(4)

Gambar 5.1 Peta Kendali p Standar Produk Horn

5.3 Analisa Cacat Horn Dengan Diagram Sebab Akibat

Dari delapan jenis cacat yang timbul pada produk horn, hanya dipilih tiga jenis cacat terbesar yaitu horn short, horn mati, dan suara sember untuk dianalisa lebih lanjut mengenai penyebab-penyebab dari cacat tersebut dengan diagram sebab-akibat. Untuk mencari faktor-faktor penyebab cacat pada produk horn, digunakan faktor-faktor penyebab utama yang signifikan, antara lain :

 Manusia (Man)  Metode (Method)  Mesin (Machine)  Material (Materials)

(5)

 Lingkungan(Environment)

5.3.1 Analisa Cacat HornShort Dengan Diagram Sebab Akibat Penyebab timbulnya cacat horn short adalah :

a. Faktor Manusia

- Operator lilit wire tidak mengikuti prosedur-prosedur kerja yang telah dibuat untuk masing-masing proses sehingga operator kurang teliti pada saat proses visual check coil assy setelah proses handapot, sehingga scrap / sisa handapot ditemukan masih menempel pada part

horn assy.

- Operator lilit wire kurang mendapat pengarahan dari pimpinan kerja sehingga operator kurang teliti dalam melakukan visual check contact assy setelah proses handapot.

b. Faktor Lingkungan

- Penempatan contact assy di area terbuka menyebabkan banyak debu / kotoran yang menempel pada contact assy.

- Banyak scrap tembaga hasil proses di area jig press terminal yang dapat menempel pada case assy.

- Tidak ada schedule cleaning area mesin sehingga area mesin masing-masing proses horn kotor. Area mesin yang kotor dapat menyebabkan komponen-komponen horn ikut kotor.

c. Faktor Material

- Ada burry pada lubang holder terminal sehingga menyebabkan terminal sesak masuk ke rivet tembaga. Hal ini menyebabkan hasil

(6)

rivet tembaga ini dapat menyebabkan rivet tembaga kontak dengan

case.

- Radius guide pada bobin minus sehingga menyebabkan contact assy

terpasang terlalu longgar pada case (contact assy dapat bergerak / berputar). Hal ini dapat menyebabkan rivet tembaga kontak dengan

case.

d. Faktor Mesin / Peralatan

- Jig lower punch press terminal mudah aus sehingga menyebabkan

rivet tembaga penyok / rusak. Hal ini menyebabkan hasil press terminal miring dan rivet tembaga dapat kontak dengan case.

- Tension wire kurang (tidak standar) sehingga menyebabkan lilitan

wire kendor dan tidak beraturan. e. Faktor Metode

- Cara melilit dan memotong wire salah sehingga menyebabkan hasil pemotongan wire terlalu panjang (over). Wire yang terlalu panjang dapat menyentuh (kontak) dengan case.

- Tidak ada standar panjang sisa celupan pada proses handapot. Hal ini dapat menyebabkan proses pencelupan wire (proses handapot) terlalu dalam sehingga ada kemungkinan handaball dapat menempel pada

bobin atau case.

- Tidak ada schedule cleaning handaball pada bar solder timah secara pasti, sehingga terdapat handaball berlebihan pada bar solder timah yang dapat menempel pada bobin atau case.

(7)

Gambar 5.2 Diagram Sebab Akibat Cacat Horn Short

5.3.2 Analisa Cacat Horn Mati Dengan Diagram Sebab Akibat Penyebab timbulnya cacat ini adalah :

Contact assy

lolos visual check

Operator lilit wire kurang teliti dalam

visual check

setelah handapot

Rivet tembaga kontak dengan case

Pencelupan wire

(proses handapot) terlalu dalam

Ada handaball (scrap timah)

pada bobin atau case Ujung wire kontak dengan case

Hasil press terminal

miring / renggang

Terminal sesak masuk ke rivet

tembaga

Hasil potongan wire over (panjang) Cara lilit dan potong

wire salah Tidak ada standar

panjang sisa

celupan proses

handapot

Hasil press terminal

miring / renggang Rivet tembaga penyok / rusak Jig lower punch press terminal mudah aus Ada scrap tembaga pada case assy Banyak scrap tembaga hasil proses di area jig press terminal Operator lilit wire tidak mengikuti prosedur kerja Ada burry pada lubang holder terminal Operator lilit wire kurang mendapat pengarahan dari pimpinan kerja Rivet tembaga kontak dengan case Contact assy terlalu

longgar pada case Radius guide pada

bobin minus

Lilitan wire

kendor dan tidak beraturan Tension wire kurang (tidak

standar)

Ada handaball (kotoran timah) pada bobin atau case

Ada handaball yang berlebihan pada bar solder timah

Tidak ada schedulecleaning handaball pada bar solder timah

secara pasti Area mesin

masing-masing proses horn kotor Tidak ada schedule cleaning di semua

area mesin

Rivet tembaga kontak dengan case

Banyak debu / kotoran pada contact assy Penempatan contact assy di area terbuka Ada handaball

(scrap timah) pada

contact assy

Manusia Lingkungan Material

Horn Short

Mesin/

(8)

a. Faktor Manusia

- Operator setting contact assy kurang teliti saat setting contact B sehingga pemasangannya terbalik (point B pada contact B menghadap ke bawah). Hal ini menyebabkan tidak ada contact point antara

contact A dan contact B.

- Operator coulking point B dan operator setting contact assy kurang teliti saat masing-masing proses sehingga point B tidak terpasang pada contact A maupun contact B. Dengan demikian tidak ada contact point antara contact A dan contact B.

b. Faktor Lingkungan

- Penempatan contact assy di area terbuka menyebabkan banyaknya kotoran / debu yang menempel pada contact assy. Kotoran / debu tersebut dapat menghalangi kontak antara contact A dan contact B. - Tidak ada schedule cleaning area mesin sehingga area mesin

masing-masing proses horn kotor. Area mesin yang kotor dapat menyebabkan komponen-komponen horn ikut kotor.

c. Faktor Material

- Diameter lubang bobin terlalu besar (oversize) sehingga menyebabkan

rivet tembaga menjadi kendor. Hal ini menyebabkan rivet tembaga tidak dapat menjepit wire dengan sempurna sehingga ujung wire bisa terlepas dari rivet tembaga.

- Sudut bending contact plate A kurang sehingga menyebabkan point gap minus dan pada akhirnya menyebabkan horn mati.

- Sudut bending contact plate B kurang sehingga menyebabkan point gap over dan pada akhirnya menyebabkan horn mati

(9)

d. Faktor Metode

- Tidak ada standar panjang sisa celupan proses handapot. Hal ini dapat menyebabkan kemungkinan panjang sisa celupan handapot

berlebihan sehingga ketika wire dililit pada rivet tembaga, tidak ada

contact point antara wire dan rivet tembaga.

- Operator memakai sarung tangan saat setting case assy dan

diaphragm assy sehingga menyebabkan kemungkinan ada serabut benang sarung tangan dapat menempel dan menghalangi contact point

antara contact A dan contact B.

- Cara potong wire yang melingkar pada 1st rivet tembaga salah sehingga menyebabkan wire terpotong (putus).

(10)

Gambar 5.3 Diagram Sebab Akibat Cacat Horn Mati

5.3.3 Analisa Cacat Suara Sember Dengan Diagram Sebab Akibat Penyebab timbulnya cacat ini adalah :

a. Faktor Manusia

Manusia Lingkungan Material

Horn Mati

Tidak ada

contact point

Banyak debu / kotoran pada contact

assy Pemasangan contact B terbalik Tidak ada contact point Operator contact assy kurang teliti saat setting contact B

Ujung wire lepas dari

rivet tembaga

Rivet tembaga kendor

Metode

Wire putus

Ada serabut benang sarung tangan menempel dan menghalangi

contact point antara contact A dan

contact B Tidak ada contact

point

Tidak ada contact point antara wire

dengan rivet tembaga Penempatan

contact assy di areaterbuka

Operator pakai sarung tangan saat setting

case assy dan

diaphragm assy

Diameter lubang bobin

terlalu besar(oversize)

Panjang sisa

celupanhandapot

berlebihan Tidak ada

contact point

Tidak ada point B pada contact plate A atau contact plate B

Operator coulking

point B dan operator

contact assy kurang teliti saat

masing-masing proses

Point gap minus

Sudut bending contact plate A

kurang

Point gap over

Sudut bending contact plate B

kurang

Tidak ada standar panjang sisa celupan

proses handapot

Area mesin masing-masing proses horn kotor Tidak ada schedule

cleaning di semua area mesin

Cara potong wire

(11)

- Operator tidak mengikuti prosedur-prosedur kerja yang telah dibuat untuk masing-masing proses sehingga operator kurang teliti pada saat proses visual check contact assy sehingga masih ditemukan handaball

menempel pada pole. Handaball inilah yang dapat menyebabkan pole rontok (aus) ketika rivetdiaphragm (rivet Ø14x12) menumbuk pole.

- Operator kurang mendapat pengarahan dari pimpinan kerja. Hal ini menyebabkan operator kurang teliti dalam melakukan visual check contact assy sehingga masih ditemukan handaball menempel pada

pole.

b. Faktor Lingkungan

- Tidak ada schedule cleaning area mesin sehingga area mesin masing-masing proses horn kotor. Area mesin yang kotor dapat menyebabkan komponen-komponen horn ikut kotor.

c. Faktor Material

- Ketebalan lapisan plating pada pole over (terlalu tebal) sehingga lapisan plating-nya mudah terkelupas. Hal ini menyebabkan pole rontok (aus) karena tidak ada lagi lapisan plating yang melindunginya dari tumbukan rivetdiaphragm (rivet Ø14x12).

d. Faktor Mesin / Peralatan

- Settingan air gap pada mesin air gap adjusting tidak standar (terlalu turun) sehingga punch jig air gap terlalu turun dan dapat menghasilkan air gap yang rendah.

(12)

- Tempat kerja proses adjusting berada di area terbuka sehingga operator proses adjusting tidak bisa konsentrasi dalam pengecekan kualitas suara (tidak bisa mendeteksi apakah suara horn sember atau tidak) dikarenakan faktor kebisingan (suara mesin-mesin di sekitar area proses adjusting).

- Hasil lipatan proses ring cover stacking (antara ring cover dan case) tidak rapat atau penyok sehingga menyebabkan diaphragm assy

miring (tidak center terhadap pole). Karena rivet diaphragm (rivet Ø14x12) terpasangan pada diaphragm assy maka rivet diaphragm

menjadi ikut miring (tidak center terhadap pole). Karena rivet diaphragm miring (tidak center terhadap pole) maka bidang rivet diaphragm yang menyentuh (menumbuk) pole berupa garis (bukan bidang). Hal inilah yang menyebabkan pole cepat rontok (aus).

(13)

Gambar 5.4 Diagram Sebab Akibat Cacat Suara Sember Manusia Lingkungan Suara Sember Polerontok Ada handaball menempel pada pole Mesin/ peralatan Metode Rivet diaphragm

miring (tidak senter terhadap pole)

Hasil lipatan proses

ring cover stacking

(antara ring cover

dan case) tidak rapat atau penyok

Diaphragm assy miring

Material

Operator lilit wire kurang teliti dalam visual check contact assy

Lapisan plating

pada pole mudah terkelupas

Polerontok

Polerontok Air gap rendah

Punch jig air gap

terlalu turun Settingan air gap

pada mesin air gap adjusting tidak

standar Operator lilit wire

kurang mendapat pengarahan dari

pimpinan kerja

Operator lilit wire

tidak mengikuti prosedur kerja

Ketebalan plating

pada pole over

(terlalu tebal) Area mesin

masing-masing proses horn kotor

Tidak ada

schedule cleaning

di semua area mesin

Tempat kerja proses adjusting

berada di area terbuka (terpengaruh kebisingan suara

mesin-mesin yang lain) Operator proses adjusting tidak bisa konsentrasi dalam pengecekan

(14)

5.4 Usaha Perbaikan

Setelah dibuat analisa penyebab cacat produk horn dengan diagram sebab akibat, maka langkah selanjutnya adalah melakukan usaha perbaikan untuk meminimalikan timbulnya cacat yang terjadi pada produk horn. Dalam melakukan usaha perbaikan digunakan langkah-langkah 5W+1H. Berikut langkah-langkah perbaikan 5W+1H :

Usaha perbaikan untuk mengatasi cacat horn short, cacat horn mati, dan cacat suara sember akan dijelaskan secara berturut-turutdalam tabel 5.1, tabel 5.2, dan tabel 5.3 dibawah ini.

(15)

Tabel 5.1 Usaha Perbaikan Terhadap Cacat Horn Short

WHAT WHEN WHERE WHY WHO HOW

Horn Short

4 Februari

2013 Area lilit wire

Faktor Manusia :

a.Operator lilit wire kurang mendapat pengarahan dari pimpinan kerja mengenai hal-hal penting dalam visual check contact assy.

Supervisor

Produksi

Horn

Supervisor Produksi Horn harus selalu memperhatikan dan mengawasi pekerjaan operator lilit wire terutama dalam hal visual check contact assy sehingga dapat segera diketahui bila terdapat scrap pada contact assy

untuk kemudian disortir dan dilakukan pembersihan

scrap pada contact assy.

4 Februari

2013 Area lilit wire

b. Operator lilit wire tidak mengikuti prosedur kerja.

Operator lilit wire

Supervisor Produksi Horn harus selalu mendampingi, memberi motivasi kerja, memberi pengarahan, dan menjelaskan prosedur kerja dengan detail tentang hal-hal penting mengenai proses lilit wire dan visual check contact assy kepada operator lilit wire, sehingga dapat meminimalkan jumlah cacat horn short karena adanya

scrap pada contact assy.

11 Februari 2013

Area setting

contact assy

Faktor Lingkungan :

a. Penempatan contact assy di area terbuka.

Manajer Produksi

Horn

Pemasangan air blower (semprotan angin) pada conveyor contact assy yang menuju ke proses press terminal. Sehingga contact assy terbebas dari kotoran / debu sebelum diproses press terminal.

(16)

11 Februari 2013

Area jig press terminal

b. Banyak scrap tembaga hasil proses di area jig press

terminal.

Manajer Produksi

Horn

Pemasangan air blower (semprotan angin) di area jig press terminal. Air blower menyemprot secara otomatis ketika proses press terminal selesai. Dengan demikian case assy bersih dari scrap tembaga dan dapat mengurangi kemungkinan cacat hornshort.

11 Februari 2013

Semua area mesin produksi

c. Tidak ada schedule cleaning

di semua area mesin produksi.

Semua member produksi

horn

Pembuatan schedule cleaning besar di semua area mesin produksi. Cleaning besar adalah aktivitas membersihkan semua area proses produksi (tanpa kecuali) secara serentak (bersama-sama). Cleaning besar dilakukan setiap seminggu sekali di akhir shift 2. Dibuat pula grup cleaning besar yang terdiri dari 3 orang per mesin. Masing-masing grup cleaning besar

bertanggungjawab akan kebersihan masing-masing mesin. 18 Februari 2013 Area Dies Maintenance Faktor Material : a. Ada burry pada lubang

holder terminal.

Manajer

Dies Maintenan

ce

Melakukan repair dies dan periodic dies check secara berkala untuk menghilangkan burry (sisa material lebih yang masih menempel pada part) pada lubang holder terminal. Dengan demikian kondisi dies dapat terpantau dan kemungkinan ada burry pada lubang

(17)

holder terminal dapat berkurang.

18 Februari 2013

Area Plastic Injection

b. Radius guide pada bobin minus.

Manajer

Plastic Injection

Melakukan pengecekan terhadap kondisi proses bobin di mesin injeksi. Dari hasil pengecekan dapat diketahui bahwa penyebabnya adalah karena berat material plastik kurang dan suhu material dan dies kurang (tidak standar). Oleh karena itu dilakukan perbaikan sebagai berikut:

1. Menambah settingan berat material plastik bobin per proses sebanyak 20% yaitu dari yang semula 27gr/proses menjadi 43gr/proses (adapun berat part bobin per pcs adalah 2gr, berat total runner 10gr, dalam satu dies ada 6 cavity bobin)

2. Menstandarkan settingan suhu material di mesin injeksi (suhu di nozlle 250ºC, suhu di front 255ºC, suhu di middle 265ºC, dan suhu di rear 245ºC).

3. Menstandarkan settingan suhu dies (mold control) di mesin injeksi dari semula 70ºC menjadi 80ºC. 25 Februari

2013

Area Dies Maintenance

Faktor Mesin / Peralatan : a. Jig lower punch press

Manajer

Dies

Melakukan penggantian material lower punch press terminal dari material yang lama yaitu material QCM8

(18)

terminal mudah aus. Maintenan ce

(61±1HRc) menjadi material baru yaitu material ASP53 (65±1HRc). Material ASP53 mempunyai kekerasan yang lebih tinggi dari material QCM8, sehingga tidak mudah aus dan life time pemakaian bisa lebih lama jika dibandingkan dengan material QCM8.

25 Februari 2013

Area mesin

winding

b. Tension wire pada mesin

winding kurang (tidak standar).

Manajer Produksi

Horn

Melakukan setting ulang tension wire pada mesin

winding sehingga didapat tension wire yang standar yaitu 150-250gr. Dengan demikian akan didapat hasil lilitan wire yang rapat dan kencang pada bobin.

4 Maret

2013 Area lilit wire

Faktor Metode :

a. Cara lilit dan potong wire

salah.

Operator lilit wire

Cara lilit dan potong wire yang benar :

1. Pastikan ujung wire dililit secara kencang ( satu ujung wire pada 1st rivet tembaga, satu ujung yang lain pada bobin) melewati jalur lilitan yang ada pada bobin untuk menghindari kemungkinan wire kendor setelah proses pemotongan ujung wire.

2. Setelah kedua ujung wire dililitkan dengan kencang pada 1st rivet tembaga dan bobin, kemudian dilakukan proses pemotongan kedua ujung wire. Sebelum pemotongan dimulai, pastikan sisi potong alat potong

(19)

(gunting) wire dalam keadaan baik (tajam). Pemotongan wire dilakukan dengan cara memotong wire dengan batas potong sedekat mungkin dengan bobin (pada ujung yang satu) dan dengan 1st rivet tembaga (pada ujung yang lain). Untuk mendapatkan hasil potong yang demikian maka gunting potong harus diposisikan sedekat mungkin (menempel) dengan bobin dan 1st rivet tembaga) pada saat digunakan.

4 Maret 2013

Area

handapot

b. Tidak ada standar panjang sisa celupan proses handapot.

Supervisor

Produksi

Horn

Membuat standar panjang sisa celupan proses handapot. Standar panjang sisa celupan proses handapot ditetapkan 4 – 6 mm diukur dari bobin. Apabila panjang sisa celupan handapot kurang dari 4 mm, kemungkinan handaball menempel pada bobin semakin besar. Handaball inilah yang dapat menyebabkan cacat horn short.

Untuk membuat standar panjang sisa celupan handapot maka dibuatlah moveable stopper jig handapot. Fungsi

(20)

a. Menghindari proses pencelupan handapot yang terlalu dalam sehingga dapat mengurangi handaball yang menempel pada bobin.

b. Menjaga agar panjang celupan handapot lebih stabil (tidak bervariasi).

c. Memastikan wire tercelup timah dengan sempurna. d. Menjaga keselamatan operator handapot karena operator handapot tidak kontak langsung dengan panas dari bar solder timah.

4 Maret 2013

Area

handapot

c. Tidak ada schedulecleaning handaball pada bar solder

timah secara pasti.

Manajer Produksi

Horn

Membuat schedule cleaning handaball pada bar solder timah secara rutin. Handaball merupakan sisa lapisan email pada wire yang ikut terbakar ketika wire dicelupkan pada bar solder timah. Schedule cleaning tersebut dibuat dalam bentuk SOP (Standart Operation) dan ditempelkan di dekat area proses handapot. Adapun isi dari SOP cleaning tersebut antara lain :

a. Cleaning handaball dilakukan setiap 50 kali proses handapot. Dengan demikian kebersihan bar solder

(21)

timah dari handaball tetap terjaga.

b. Cara melakukan cleaning handaball adalah dengan memakai alat sekop plat. Alat tersebut digunakan untuk mengumpulkan dan memindahkan (membersihkan) handaball pada bar solder timah untuk kemudian dibuang di bak pembuangan handaball.

(22)

Tabel 5.2 Usaha Perbaikan Terhadap Cacat Horn Mati

WHAT WHEN WHERE WHY WHO HOW

Horn Mati 11 Maret 2013 Area setting contact assy Faktor Manusia : a. Operator contact assy

kurang teliti saat setting

contact B.

Operator setting

contact assy

1. Memberi pengarahan / penjelasan melalui meeting kepada operator setting contact assy bagaimana seharusnya cara pemasangan contact B yang benar (tidak terbalik) yaitu dengan memposisikan point B menghadap ke atas.

2. Membuat SOP cara setting contact assy yang benar disertai gambar visual kondisi setting contact assy yang OK dan NG, sehingga operator dapat dengan mudah membandingkannya. Dengan demikian operator selalu diingatkan akan cara setting contaact assy yang benar dan tidak akan ada lagi ditemukan contact B terpasang terbalik hanya karena operator kurang teliti (lalai).

11 Maret 2013

Area

coulking

b. Operator coulking point B dan operator contact assy

Operator

coulking

1. Memberi pengarahan / penjelasan melalui meeting atau training singkat kepada operator coulking point B

(23)

point B dan area setting

contact assy

kurang teliti saat masing-masing proses. point B dan operator setting contact assy

dan operator setting contact assy bagaimana seharusnya kondisi contact A dan contact B, dimana pada contact A dan contact B harus terpasang point B. Apabila pada contact A dan contact B tidak terdapat point B maka operator harus menyortir contact A dan contact B tersebut pada tempat yang terpisah sehingga tidak tercampur.

2. Menambahkan satu orang operator yang bertugas hanya untuk memastikan bahwa semua contact A dan contact B yang akan di assy pada contact assy terdapat point B semua, sehingga mengurangi kemungkinan terpasangnya contact A dan contact B tanpa point B di contact assy. 18 Maret 2013 Area setting contact assy Faktor Lingkungan :

a. Penempatan contact assy di area terbuka.

Manajer Produksi

Horn

Pemasangan air blower (semprotan angin) pada conveyor contact assy yang menuju ke proses press terminal. Sehingga contact assy terbebas dari kotoran / debu sebelum diproses press terminal.

18 Maret 2013

Semua area mesin

b. Tidak ada schedule cleaning

di semua area mesin produksi.

Semua member

Langkah perbaikan sama dengan langkah perbaikan cacat horn short pada faktor lingkungan point c.

(24)

produksi produksi horn 25 Maret 2013 Area Plastic Injection Faktor Material : a. Diameter lubang bobin

terlalu besar (oversize).

Manajer

Dies Maintenan

ce

Melakukan pengecekan terhadap kondisi dies bobin. Dari pengecekan tersebut dapat diketahui bahwa penyebabnya adalah karena ujung dari core pin (pin pembentuk lubang bobin) mengalami penyok /rusak dikarena saat proses injeksi terjadi benturan antara

core pindengan bagian dies yang lain. Kondisi ujung

core pin yang penyok dapat menghasilkan ukuran lubang bobin yang lebih besar (standar Ø3.28± 0.01mm). Oleh karena itu perlu dilakukan langkah perbaikan dengan cara menggganti core pin dengan diameter sesuai standar dan repair dies agar tidak terjadi benturan antara core pin dengan komponen dies yang lain yang dapat menyebabkan cacat pada bobin.

25 Maret 2013

Area Plating

dan Press

b. Sudut bendingcontactplate

A kurang.

Manajer Produksi

Plating

dan

Melakukan pengecekan kondisi part contact plate A di area seksi press maupun seksi plating.

1. Pengecekan di area seksi press.

(25)

Manajer Produksi

Press

bahwa penyebab cacat sudut bending contact plate A kurang adalah karena proses penyimpanan contact plate A dalam satu bucket (kotak/box) over weight

(terlalu berat). Sehingga potensi antar contact plate A saling berbenturan (bertumpukan) semakin besar. Hal inilah yang menyebabkan cacat sudut bending contact plate A kurang. Standart berat yang dipakai saat ini adalah 15kg contact plate A per bucket.

Langkah perbaikan untuk mengurangi cacat ini adalah dengan mengurangi kapasitas penyimpanan contact plate A dari 15kg/bucket menjadi 10kg/bucket. Dengan adanya perbaikan jumlah kapasitas penyimpanan tersebut ternyata dapat mengurangi jumlah cacat sudut

bendingcontactplate A.

2. Pengecekan di area seksi plating.

Dari pengecekan di area seksi plating dapat diketahui bahwa penyebab cacat sudut bending contact plate A kurang adalah karena proses plating contact plate A yang menggunakan sistem plating secara barrel. Pada

(26)

proses plating barel, contact plate A dicampur jadi satu dalam sebuah drum (silinder), kemudian diproses (diputar) secara bersama-sama dalam larutan kimia. Kapasitas proses plating barel contact plate A adalah 5000 pcs (10.82kg)/drum. Ketika drum diputar maka terjadi benturan antar contact plate A. Benturan tersebut yang menyebabkan terjadinya perubahan bentuk dan dimensi pada contact plate A. Perubahan bentuk dan dimensi yang dimaksud adalah berkurangnya sudut bending contact plate A. Semakin banyak (semakin berat) contact plate A dalam sebuah

drum maka benturan yang terjadi semakin besar sehingga jumlah cacat sudut semakin besar.

Langkah perbaikan untuk mengurangi jumlah cacat ini adalah dengan mengurangi jumlah kapasitas proses

plating barrel dari 5000 pcs (10.82kg)/drum menjadi 3500 pcs (7.57kg)/drum. Dengan adanya perbaikan berupa pengurangan jumlah kapasitas proses plating barel contact plate A tersebut ternyata dapat

(27)

mengurangi jumlah cacat sudut bending contact plate A. 1 April 2013 Area Quality Control

c. Sudut bending contactplate

B kurang. Quality Control dan Supplier contact B

Melakukan pengecekan awal terhadap kondisi contact plate B dari supplier sebelum contact plate B tersebut dikirim ke bagian produksi. Pengecekan meliputi

visual check, dimensi, dan bentuk. Apabila terdapat cacat atau ketidaksesuaian termasuk ketidaksesuaian karena sudut bending contact plate B kurang, maka seksi QC harus melakukan penyortiran contact plate B dan melakukan complain ke supplier yang bersangkutan untuk kemudian dicari tindakan penyelesaian. 8 April 2013 Area proses handapot Faktor Metode :

a. Tidak ada standar panjang sisa celupan proses handapot.

Supervisor

Produksi

Horn

Langkah perbaikan sama dengan langkah perbaikan cacat horn short pada faktor metode point b.

8 April 2013 Area setting case assy dan diapragm

b. Operator pakai sarung tangan saat setting case assy

dan diaphragm assy.

Supervisor

Produksi

Horn

Mengganti sarung tangan dengan yubisak pada saat setting case assy dan diaphragm assy. Hal ini dikarena yubisak terbuat dari bahan yang lembut (tidak kasar ditangan sehingga operator nyaman) dan tidak terdapat

(28)

assy serabut atau sejenisnya seperti pada sarung tangan. Sehingga case assy dan diaphragm assy tetap terjaga kebersihannya.

8 April 2013

Area lilit

wire c. Cara potong wire salah.

Supervisor

Produksi

Hornn dan operator lilit wire

Cara potong wire yang benar:

Pastikan ujung wire telah dililitkan melingkar pada 1st rivet tembaga. Sebelum proses pemotongan dimulai pastikan bahwa wire yang melingkar tersebut ditutup dengan ibu jari sehingga wire aman (tidak putus) ketika proses pemotongan wire dengan menggunakan

(29)

Tabel 5.3 Usaha Perbaikan Terhadap Cacat Suara Sember

WHAT WHEN WHERE WHY WHO HOW

Suara Sember 15 April 2013 Area lilit wire Faktor Manusia :

a. Operator lilit wire kurang mendapat pengarahan dari pimpinan kerja.

Supervisor

Produksi

Horn

Supervisor Produksi Horn harus selalu memperhatikan dan mengawasi pekerjaan operator lilit wire terutama dalam hal visual check contact assy sehingga dapat segera diketahui bila terdapat handaball yang menempel pada pole untuk kemudian disortir dan dilakukan pembersihan handaball pada pole.

15 April 2013

Area lilit

wire

b. Operator lilit wire tidak mengikuti prosedur kerja.

Operator lilit wire

Supervisor Produksi Horn harus selalu mendampingi, memberi motivasi kerja, memberi pengarahan, dan menjelaskan prosedur kerja dengan detail tentang hal-hal penting mengenai visual check contact assy kepada operator lilit wire, sehingga dapat meminimalkan jumlah cacat suara sember karena adanya handaball

pada contact assy. 22 April 2013 Semua area mesin produksi Faktor Lingkungan :

Tidak ada schedule cleaning di semua area mesin.

Semua member produksi

Langkah perbaikan sama dengan langkah perbaikan cacat horn short pada faktor lingkungan point c.

(30)

horn 29 April 2013 Area Plating Faktor Material :

Ketebalan plating pada pole over (terlalu tebal).

Manajer Produksi

Plating

Standar ketebalan plating pole adalah 5-8 mikron. Apabila ketebalan plating pole lebih dari 8 mikron maka lapisan plating tersebut justru mudah terkelupas. Hal ini dikarenakan lapisan plating tidak terikat dengan kuat pada pole. Karena lapisan plating yang sebenarnya berfungsi sebagai pelindung permukaan pole dari tumbukan dengan rivet diaphragm terkelupas, maka pole sudah tidak terlindungi lagi. Sehingga saat terjadi tumbukan dengan rivet diaphragm, pole cepat aus (pole rontok). Pole rontok inilah yang menyebabkan cacat horn sember.

Oleh karena itu perlu dilakukan langkah perbaikan agar ketebalan plating pole selalu berada dalam batas yang telah ditentukan. Adapun langkah-langkah perbaikan yang dilakukan adalah :

1. Menstandarkan settingan arus listrik (ampere) dan tegangan (voltase) pada mesin plating barel. Standar tegangan adalah 6–10V. Adapun standar settingan

(31)

ampere dihitung dengan memakai rumus berikut: I = A x S x n

Keterangan :

I = arus listrik (satuan A).

A = luas area permukaan pole (satuan dm2) S = supplay arus listrik (standarnya = 1A/dm2). n = jumlah pole yang akan diproses barel. Dimana :

A = 0.417 dm2

berat standar pole per proses adalah 30 kg (3000gr), dimana berat/pcs pole adalah 3.38 gr/pcs, sehingga perhitungan n menjadi: pcs pcs gr gr n 8876 / 38 . 3 3000   I = (0.417dm2) (1A/dm2) (8876) = 3701.29 A, dibulatkan 3702 A

Jadi arus listrik yang dipakai pada proses barel pole adalah 3702 A

(32)

yaitu 5 menit atau 300 detik.

3. Menstandarkan kadar (konsentrasi) larutan kimia penting pembentuk lapisan plating yaitu:

Kadar zinc (Zn) standar = 8-12gr/liter, dimana Zn dalam bentuk batangan)

Kadar natrium dioksida (NaOH) = 110 -120 gr/liter, dimana NaOH dalam bentuk serbuk.

4. Menstandarkan pemakaian air demineralized (air murni) pada proses plating barel pole untuk mendapatkan hasil plating sesuai standar.

6 Mei 2013

Area mesin

air gap adjusting

Faktor Mesin / Peralatan : Settingan air gap pada mesin

air gap adjusting tidak standar.

Operator mesin air

gap adjusting

Air gap yang rendah (kurang dari 0.65mm) dapat menyebabkan terjadinya cacat suara sember terutama ketika dilakukan pengecekan suara di tegangan paling tinggi yaitu 14.5V. Oleh karena itu perlu dilakukan standarisasi settingan air gap pada mesin air gap adjusting yaitu antara 0.65mm ̶ 0.75mm. Horn dengan

air gap yang berada diluar standarisasi tersebut dinyatakan NG dan harus disortir (dipisahkan).

(33)

ring cover stacking

a. Hasil lipatan proses ring cover stacking (antara ring cover dan case) tidak rapat atau penyok.

ring cover stacking

cover dan case) menjadi tidak rapat (penyok) disebabkan karena proses pelumasan untuk jig ring cover stacking kurang atau terlambat. Oleh karena itu dibuatkan standar jumlah pelumasan untuk jig ring cover stacking. Adapun standar pelumasannya adalah tiap 25 - 30 proses sekali. Pelumasan dilakukan secara menyeluruh pada jig ring cover stacking.

Area mesin

adjusting

b. Tempat kerja proses

adjusting berada di area terbuka (terpengaruh oleh kebisingan suara mesin-mesin)

Manajer Produksi

Horn

Merubah tempat kerja proses adjusting menjadi tempat kerja yang tertutup (ada sekat/penutup) sehingga operator terhindar dari pengaruh kebisingan suara mesin-mesin di sekitar area proses adjusting. Dengan demikian operator proses adjusting bisa lebih konsentrasi dalam pengecekan kualitas suara horn. Sehingga dapat meminimalkan jumlah cacat suara sember pada horn.

(34)

Gambar

Gambar 5.1 Peta Kendali p Standar Produk Horn
Gambar 5.2 Diagram Sebab Akibat Cacat Horn Short
Gambar 5.3 Diagram Sebab Akibat Cacat Horn Mati
Gambar 5.4 Diagram Sebab Akibat Cacat Suara Sember Manusia Lingkungan  Suara  Sember Pole rontok Ada handaball menempel pada pole Mesin/ peralatan Metode   Rivet diaphragm
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal tertentu, kolaborasi antara Perusahaan dengan supplier maupun pelanggan telah terjadi namun Perusahaan belum meningkatkan hubungan dengan supplier dan pelanggan lebih

15 Pada diagram 5 di atas terlihat dengan jelas penilaian atasan terhadap bawahan dilihat dari kompetensi dalam hal penguasaan ilmu adalah baik dengan jumlah

Prudential Bandar Lampung hendaknya lebik aktif untuk melakukan sosialisasi dengan nasabah mengenai polis lapse pada asuransi syariah, agar dapat memberikan

Segala puji kehadirat Allah SWT atas segala kelimpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan skripsi yang berjudul “Analisis Keragaman Genetik Ikan

Menjelaskan landasan teori mengenai pengertian bank, fungsi bank, jenis-jenis Bank, sumber dana Bank, pengertian deposito, jenis-jenis deposito, pencairan deposito

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana pada tahun ini mengagendakan Seminar Nasional Sains dan Teknologi (Senastek) 2014 dengan tema Peranan Sains dan

Penyebab pasti miastenia gravis belum diketahui, jadi tindakan pencegahan yang dapat dilakukanpun belum dapat dipastikan. Pada keadaan miastenia gravis terjadi

Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk menjelaskan dan meneliti tentang makna ziarah sebagai media komunikasi transendental di pemakaman Nangka Beurit kabupaten