• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA TIMUR TRIWULAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA TIMUR TRIWULAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BPS PROVINSI JAWA TIMUR

No. 14/02/35/Th. XI, 5 Februari 2013

PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK)

JAWA TIMUR TRIWULAN 4

2012

ITK Triwulan 4 – 2012 Jawa Timur sebesar 107,51

dan Perkiraan ITK Triwulan 1 – 2013 sebesar 106,05

Pada Triwulan 4 – 2012, ITK Jawa Timur sebesar 107,51 melambat dibanding Triwulan

3 – 2012 yang sebesar 111,85. Dengan demikian tingkat optimisme konsumen pada Triwulan 4 – 2012 tidak setinggi ITK Triwulan 3 – 2012. Melambatnya ITK ini sangat wajar, karena faktor musiman yang terjadi pada Triwulan 4 – 2012 yaitu Hari Raya Idul Adha, Natal dan Tahun Baru pengaruhnya tidak sebesar yang terjadi di Triwulan 3 – 2012 (Ramadan dan Idul Fitri).

Sementara, ITK Triwulan 1 – 2013 Jawa Timur diperkirakan sebesar 106,05. Inflasi

yang terjadi di sepanjang tahun 2012 cukup rendah, dan jika tidak ada pengaruh global yang ekstrim maka inflasi yang rendah diperkirakan berlanjut pada tahun 2013. Kondisi ini mendukung tingkat optimisme konsumen ikut berjalan dinamis di tahun 2013.

Indeks Tendensi Konsumen di Jawa Timur pada Triwulan 4 – 2012 lebih rendah

dibanding Nasional yang sebesar 108,63. Demikian pula perkiraan ITK Triwulan 1 – 2013 lebih rendah dibanding Nasional yang diperkirakan mencapai 107,80.

Dari 6 provinsi di Jawa, ITK Jawa Timur pada Triwulan 4 – 2012 menempati posisi

terendah dibanding provinsi lainnya. DKI Jakarta tetap menempati posisi teratas dengan ITK sebesar 112,35 disusul DI Yogyakarta (109,21), Banten (108,24), Jawa Barat (107,88) dan Jawa Tengah (107,70).

Perkiraan ITK Jawa Timur Triwulan 1 – 2013 sebesar 106,05 menempati posisi kelima

dibawah DKI Jakarta (110,88), DI Yogyakarta (109,54), Jawa Tengah (107,08) dan Banten (106,79)

(2)

ada Triwulan 4 – 2012 ITK Jawa Timur sebesar 107,51 melambat dibandingkan Triwulan 3 – 2012 yang sebesar 111,85. Dengan demikian tingkat optimisme konsumen pada Triwulan 4 – 2012 tidak setinggi ITK Triwulan 3 – 2012. Melambatnya ITK ini sangat wajar, karena faktor musiman yang terjadi pada Triwulan 4 – 2012 yaitu Hari Raya Idul Adha, Natal dan Tahun Baru pengaruhnya tidak sebesar yang terjadi di Triwulan 3 – 2012 (Ramadan dan Idul Fitri). Walaupun demikian, ITK Triwulan 4 – 2012 bernilai di atas angka 100 yang mengindikasikan tingkat optimisme konsumen masih baik dibanding triwulan sebelumnya. Selain faktor musiman yang terjadi di Triwulan 4 - 2012, inflasi yang terjadi selama periode tersebut cukup stabil rata-rata di bawah 1 persen. Inflasi bulan Oktober sebesar 0,15 persen, inflasi bulan November sebesar 0,21 persen, inflasi bulan Desember sebesar 0,55 persen, atau secara kumulatif inflasi selama periode Triwulan 4 – 2012 adalah sebesar 0,91 persen. Jika kondisi sosial ekonomi secara makro stabil selama tahun 2013, maka Indeks Tendensi Konsumen yang akan terjadi selama tahun 2013 diperkirakan ikut stabil di atas 100.

Sumber: BPS RI

Dilihat dari komponen penyusun ITK, Indeks pendapatan pada Triwulan 4 – 2012 tercatat sebesar 102,62 melambat dibanding Triwulan 3 – 2012 yang sebesar 110,83. Melambatnya indeks pendapatan ini diduga karena insentif/bonus/tambahan pendapatan yang diterima masyarakat pada Triwulan 4 – 2012 tidak sebanyak yang diterima sebelumnya. Pada Triwulan 3 – 2012, tambahan pendapatan masyarakat umumnya berasal dari naiknya volume kegiatan ekonomi menyambut Ramadhan dan Hari Raya.

107.74000 108.71000 111.85000 107.51000 106.05000 103.000 104.000 105.000 106.000 107.000 108.000 109.000 110.000 111.000 112.000 113.000

Triwulan 1 - 2012 Triwulan 2 - 2012 Triwulan 3 - 2012 Triwulan 4 - 2012 Perkiraan Triwulan 1 - 2013

ITK Triwulan 1 - 2012 Sampai Dengan Triwulan 1 - 2013

Provinsi Jawa Timur

(3)

Dua komponen pembentuk ITK lainnya juga mempunyai persepsi tingkat optimisme di atas 100. Indeks kaitan inflasi dengan konsumsi sehari-hari pada Triwulan 4 – 2012 sebesar 121,72 lebih tinggi dibanding Triwulan 3 – 2012 sebesar 117,77. Kondisi ini lebih disebabkan karena tingkat inflasi yang terjadi di Jawa Timur relatif stabil. Sedangkan indeks tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan non makanan tercatat sebesar 101,45. Meskipun tidak setinggi dibanding triwulan sebelumnya, tetapi optimisme konsumen masyarakat masih bisa dipertahankan di atas nilai 100. Secara umum, perekonomian Jawa Timur pada Triwulan 4 – 2012 relatif cukup bergairah, karena masyarakat dengan optimis mampu membelanjakan pendapatannya untuk membeli barang-barang dan jasa.

Komponen ITK Triwulan 1 – 4 Tahun 2012 Provinsi Jawa Timur

Uraian Trw 1 - 2012 Trw 2 - 2012 Trw 3 - 2012 Trw 4 - 2012

Pendapatan

rumahtangga saat ini 107,79 108,29 110,83 102,62 Kaitan inflasi dengan

konsumsi sehari-hari 115,63 112,80 117,77 121,72 Tingkat konsumsi

beberapa komoditi makanan dan non makanan

97,79 104,63 106,98 101,45

ITK 107,74 108,71 111,85 107,51

Sumber: BPS RI

Jika dirinci lebih lanjut, komponen makanan yang mempunyai tingkat optimisme relatif lebih baik adalah konsumsi pada ikan (104,88), telur (100,19), sayur-sayuran (114,70), tahu tempe (113,98) dan buah-buahan (109,92). Mahalnya daging sapi terpotret dari indeks yang dicapai sebesar 94,58, sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih tahu, tempe, ikan dan telur sebagai lauk pauk. Selain faktor musiman Ramadhan dan Idul Fitri yang telah berakhir, isu munculnya jenis baru flu burung di Jawa Timur secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap perlambatan indeks konsumsi daging unggas sebesar 84,39, terendah dibanding indeks komoditi makanan lainnya. Secara umum, komponen makanan mempunyai indeks pada Triwulan 4 – 2012 sebesar 102,46 atau sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya.

Pada komponen non makanan, komoditi yang mempunyai tingkat optimisme konsumen yang cukup baik adalah pada kelompok listrik, air dan telepon (111,01), pulsa HP (103,91), bahan bakar (101,38) perumahan (106,38), pendidikan (108,20), transportasi (105,15) dan

(4)

pakaian (104,50). Secara umum komponen non makanan mempunyai indeks sebear 100,60. Indeks ini juga melambat dibanding triwulan sebelumnya. Walaupun demikian, capaian yang masih di atas 100 mengindikasikan bahwa secara psikologis tingkat optimisme konsumen masyarakat Jawa Timur dalam mengkonsumsi non makanan pada Triwulan 4 juga masih tergolong baik.

Indeks Komponen Makanan dan Non Makanan Triwulan 1 – 4 Tahun 2012 Provinsi Jawa Timur

Komoditas Trw 1 - 2012 Trw 2 - 2012 Trw 3 - 2012 Trw 4 - 2012 Ikan 95,91 107,07 108,91 104,88 Daging Sapi 91,24 106,79 94,09 94,58 Daging Unggas 92,22 108,10 102,15 84,39 Telur 97,88 100,50 106,57 100,19 Susu 97,37 97,28 100,52 94,87 Sayur 112,96 109,67 122,60 114,70 Tahu Tempe 113,06 111,41 109,93 113,98 Buah-buahan 108,41 96,22 102,31 109,92 Gula 99,49 95,12 108,83 93,12 Mie 106,99 108,30 79,92 91,80 Rokok 92,06 97,16 92,42 93,73 Indeks Makanan 102,46 103,03 104,72 102,46

Listrik, air dan telpon 108,39 108,36 115,29 111,01 Pulsa HP 104,83 102,38 111,53 103,91 Bahan bakar 99,01 99,67 109,10 101,38 Koran 92,37 94,09 93,99 98,16 Perumahan 104,89 104,15 111,75 106,38 Kesehatan 83,68 106,00 83,90 85,03 Pendidikan 109,51 109,57 119,25 108,20 Transportasi 104,27 102,79 110,65 105,15 Rekreasi 86,65 97,59 104,29 94,85 Pakaian 69,63 112,74 131,28 104,50

Indeks Non Makanan 96,57 104,96 107,76 100,60

Sumber: BPS RI

Sementara, ITK Triwulan 1 – 2013 Jawa Timur diperkirakan sebesar 106,05. Indeks itu didasarkan atas perkiraan indeks pendapatan rumahtangga mendatang sebesar 108,90 dan indeks rencana pembelian barang tahan lama sebesar 100,92. Jika tidak ada pengaruh global

(5)

yang ekstrim, maka geliat ekonomi Jawa Timur yang cukup dinamis dapat memberikan dampak positif terhadap pendapatan rumahtangga dan kemampuan masyarakat dalam mengkonsumsi barang dan jasa di tahun 2013.

Sumber: BPS RI

Dari 6 provinsi di Jawa, ITK Jawa Timur pada Triwulan 4 – 2012 menempati posisi terendah dibanding provinsi lainnya. DKI Jakarta tetap menempati posisi teratas dengan ITK sebesar 112,35 disusul DI Yogyakarta (109,21), Banten (108,24), Jawa Barat (107,88) dan Jawa Tengah (107,70).

Perkiraan ITK Jawa Timur Triwulan 1 – 2013 sebesar 106,05 menempati posisi kelima dibawah DKI Jakarta (110,88), DI Yogyakarta (109,54), Jawa Tengah (107,08) dan Banten (106,79). 108.9000 100.92000 106.05000 Pendapatan rumah tangga mendatang Rencana pembelian barang tahan lama

ITK Mendatang (Perkiraan)

Perkiraan ITK Triwulan 1 - 2013

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Kebiasaan dalam pengelolaan pembuatan kue rumahan di Desa Lampanah memiliki kebiasaan kurang baik, hal ini di sebabkan karena pengelolaan kue rumahan oleh

Apabila terjadi perceraian di antara pasangan suami isteri maka harta bersama yang didapat selama perkawinan umumnya dibagi di antara kedua pasangan yang bercerai, sesuai

Strategi Peningkatan Kapasitas Aparat Pengawasan Intern Pemerintah Kabupaten Magelang dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan

Pada tabel 4.5 dari keempat variabel yang digunakan dalam penelitian ini, variabel yang signifikan adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD), Penanaman Modal Asing (PMA) dan Ang katan

Sebenarnya perbedaan penyebutan ini tidak menjadi masalah yang berarti, karena hal ini adalah perbedaan kebiasaan para ulama dan tidak mendatangkan perbedaan

235 DR FARAH NURWAHIDA BINTI SHAHRIN KLINIK KESIHATAN PEKAN NENAS PONTIAN 236 DR ABDUL HADI BIN ABDULLAH KLINIK KESIHATAN KAYU ARA PASONG PONTIAN 237 DR MOHD SAIFULLAILY BIN SUNI

  Zaman  Wilayat  di  mana  para  aulia  menunjukkan  manusia  jalan  kepada  Allah  s.w.t  sehingga  akhir  zaman.  Bila  zaman  Nubuwwah  berakhir,  maka  dari 

Luas Panen, Rata-rata Produksi dan Total Produksi Padi Sawah Menurut Kecamatan Tahun 2011 Harvest Area, Average Production, and Total Production of Wetland Paddy per Districts