i HALAMAN JUDUL
STUDI DESKRIPTIF TERHADAP PENERIMAAN DIRI PADA
PRIA HOMOSEKSUAL (GAY)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun Oleh : Ruth Intan Hutauruk
119114161
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
ii HALAMAN JUDUL
DESCRIPTIVE STUDY OF SELF-ACCEPTANCE IN
HOMOSEXUAL MALE (GAY)
A Final Thesis
Presented as Partial Fulfillment of The Requirements To Obtain Sarjana Psikologi Degree
In Psychology Study Program
By:
Ruth Intan Hutauruk 119114161
PSYCHOLOGY STUDY PROGRAM DEPARTMENT OF PSYCHOLOGY FACULTY OF PSYCHOLOGY
SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA
v
HALAMAN MOTTO &
PERSEMBAHAN
“Karena Masa Depan Sungguh A
da,
dan
Harapanmu Tidak Akan Hilang”
Amsal 23 Ayat 18
"Parents can only give good advice or put them on the right paths, but the final forming of a person's character lies in their own hands."
- Anne Frank
Tulisan ini kupersembahkan untuk
vii TRAK
STUDI DESKRIPTIF TERHADAP PENERIMAAN DIRI PADA PRIA HOMOSEKSUAL (GAY)
Ruth Intan Hutauruk
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerimaan diri pada homoseksual atau disebut sebagai gay. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang menggunakan metode wawancara semiterstruktur yang termasuk dalam kategori in-depth interview agar peneliti mengetahui hal-hal yang lebih mendalam mengenai pengalaman atau proses yang dialami oleh informan. Informan penelitian terdiri dari dua orang laki-laki masing-masing berumur 22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua informan menyadari orientasi homoseksualnya karena adanya pengalaman saat memiliki ketertarikan dengan sesama jenis. informan 1 berada pada usia remaja, sedangkan informan 2 saat dewasa awal. Kesamaan proses penerimaan diri yang dialami oleh kedua informan adalah penolakan, seperti rasa bimbang dan ragu-ragu. Namun, kedua informan mulai dapat menerima orientasi homoseksualnya sebagai suatu jalan hidup bagi informan 1, sedangkan informan 2 menganggapnya sebagai pilihan hidup yang sesuai dengan keinginannya. Kedua informan juga memberitahu orientasi seksual tersebut ke orang lain (coming out), yaitu pada teman-teman terdekat. Penerimaan diri yang baik tampak pada harapan dan rencana masa depan yang dimiliki kedua informan.
viii ABSTRACT
DESCRIPTIVE STUDY OF SELF-ACCEPTANCE IN
HOMOSEXUAL MALE (GAY)
Ruth Intan Hutauruk
ABSTRACT
This study aims to describe self-acceptance in homosexual or referred to as gay. This study is a descriptive study using semiterstruktur interview method which included in in-depth interview category so that researcher know more about the experience or process experienced by informant. The research informant consisted of two men each aged 22 years. The results showed that both informants were aware of their homosexual orientation because of the experience of having same-sex attraction. informant 1 was in the age of adolescence, while the informant 2 during early adulthood. The similarity of the process of self-acceptance experienced by the two informants is rejection, such as a sense of doubt and hesitation. However, both informants began to accept their homosexual orientation as a way of life for informant 1, while the informant 2 regarded it as a life choice in accordance with his wishes. Both informants also informed the sexual orientation to others (coming out), ie to the closest friends. Good self-acceptance looks at the expectations and future plans of both informants.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat serta kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Studi Deskriptif Terhadap Penerimaan Diri Pada Pria Homoseksual (Gay)”.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar sarjana psikologi program studi S1 jurusan Psikologi Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.
Selesainya skripsi ini tidak lepas dari peran penting berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis dengan segala kerendahan hati serta rasa hormat mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai. Pada proses penulisan tugas akhir ini, saya ucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapa yang di sorga, Tuhan Yesus dan Roh Kudus atas segala berkat dan kasih karunia-Nya yang diberikan kepada penulis dalam proses penulisan skripsi.
2. Dr. Titik Kristiyani, M.Si., Psi selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
3. Monica Eviandaru Madyaningrum, M. App. Psych selaku Ketua Program Studi Universitas Sanata Dharma.
4. Monica Eviandaru Madyaningrum, M. App. Psych selaku Dosen Pembimbing Akademik Fakultas Psikologi.
5. Y. B. Cahya Widiyanto, M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah membimbing penulis dalam proses pengerjaan skripsi ini.
xi
7. Komunitas PLU SATU HATI, Kak R untuk diskusi dan masukannya. 8. Kedua informan, O dan A, yang telah membagi kisah hidupnya. Aku
belajar banyak dari kalian, terima kasih
9. Bapak dan Mama yang tercinta, buat abang-abangku, Bang Alek, Bang Beni, dan Bang Mikha, serta Kak Wita dan Kak Eva, keponakanku yang tella Bitha dan Charlotte. Seluruh keluarga yang selalu mendoakan penulis.
10.Mba Herlina, Tuti, Icha yang telah menjadi teman dalam salah satu perjalanan hidupku. Terima kasih buat setiap kegilaan dan konseling dirinya
11.Library-Squad; Winda (Windol), Rhisty (listy), dan Yoan yang pernah berjuang bersama untuk skripsi dan selalu saling menyemangati satu sama lain. Thanks guys
12.Thea dan Reza, teman satu kelompok bimbingan yang selalu membantu dan mendengarkan curhat penulis selama bimbingan skripsi.
13.Viktor, teman yang saling memberikan dukungan kepada penulis.
You’re my true best friend
14.Teman-teman di Kost Majus yang mengajariku bahwa manusia itu sangat beragam.
15.Seluruh dosen di Jurusan Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ilmu pengetahuan selama penulis duduk di bangku kuliah dan seluruh karyawan Jurusan Psikologi Universitas Sanata Dharma (Mas Gandung, Bu Nanik, Mas Muji, Mas Doni, serta Pak Gik yang telah habis masa kerjanya disela-sela penulis mengerjakan skripsi) atas pelayanan yang diberikan, sehingga penulis dapat kuliah dengan nyaman dan pada akhirnya dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.
16.Seluruh teman Psikologi USD Angkatan 2011 atas pengalaman selama berkuliah. Kalian luar biasa!!!
xii
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini. Saran dan kritik diharapkan untuk perbaikan-perbaikan pada masa yang akan datang. Semoga dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Yogyakarta, 21 Januari 2019 Penulis
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO & PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR TABEL ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian... 6
1. Manfaat Teoritis ... 6
2. Manfaat Praktis ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Penerimaan Diri... 7
1. Pengertian ... 7
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pennerimaan Diri ... 8
3. Aspek-aspek Penerimaan Diri... 10
4. Ciri-ciri Individu dengan Penerimaan Diri ... 12
5. Dampak Penerimaan Diri ... 13
B. Homoseksual... 15
1. Pengertian ... 15
xiv
3. Perkembangan Identitas Homoseksual ... 20
C. Penerimaan Diri pada Homoseksual ... 24
BAB III METODE PENELITIAN... 27
A. Prosedur Penelitian ... 27
B. Informan Penelitian ... 27
C. Kajian Penelitian ... 28
D. Metode Pengumpulan Data... 28
E. Metode Analisis Data ... 32
1. Pengumpulan Data ... 32
2. Analisis Data ... 33
F. Kredibilitas Penelitian ... 33
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
A. Proses Pengumpulan Data ... 35
B. Profil dan Gambaran Informan ... 36
1. Profil Informan... 36
2. Gambaran Informan ... 37
C. Tahap Pengambilan Data ... 44
D. Hasil Penelitian ... 44
1. Informan 1 ... 44
2. Informan 2 ... 57
E. Pembahasan ... 89
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 89
A. Kesimpulan ... 89
B. Saran ... 90
C. Keterbatasan Penelitian ... 90
DAFTAR PUSTAKA ... 91
LAMPIRAN I Informed Consent ... 96
LAMPIRAN II Verbatim Informan ... 98
xv
DAFTAR GAMBAR
xvi
DAFTAR TABEL
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
“... Malam di mana perasaan jujur itu menjadi kenyataan bahwa ternyata
ia-lah alasan kenapa selama ini sensasi-sensasi aneh itu muncul setiap
kali aku dekat dengannya.... Kenapa aku bisa mencintai sesama lelaki?
Apakah aku gila? Mungkin iya. Tetapi, aku merasa damai dan terlindungi
didekatnya. Salahkah aku?....”
(Kutipan novel „The Sweet Sins‟, 2012, Rangga Wirianto Putra) Prolog diatas adalah salah satu kutipan novel yang berjudul ‗ The
Sweet Sins‘ karangan penulis Rangga Wirianto Putra. Prolog tersebut
menggambarkan perasaan Rei, tokoh utama dalam novel tersebut yang mempertanyakan perasaannya kepada seorang laki-laki bernama Ardo. Rei merasakan suatu emosi yang janggal terhadap Ardo. Kisah dalam novel tersebut berlanjut dalam dinamika kehidupan Rei sebagai seorang gay pada pencarian jati diri dan cinta bersama para sahabatnya dan kekasih hatinya, Ardo.
Feist & Feist, 2009). Pannes (dalam Hurlock, 1974) menyatakan penerimaan diri adalah sejauh mana individu, setelah mempertimbangkan karakteristik pribadinya, dapat diterima dan bersedia untuk hidup dengan karakteristik tersebut. Seseorang dapat menerima segala karakteristik yang ada dalam dirinya, tanpa harus mengikuti pendapat orang lain. Orang yang dapat mengakui kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki, tanpa mengeluh atau merasa malu, serta merasa bersalah (Maslow dalam schultz, 1991).
Proses penerimaan diri pada homoseksual tidak terlepas dari penyingkapan jati diri mereka sebagai homoseksual (Vincke & Bolton, 1994). Penyingkapan jati diri sering disebut dengan istilah coming out.
Coming out adalah suatu bentuk pengakuan pada diri sendiri dan orang lain bahwa dirinya adalah seorang homoseksual, tidak ada lagi perasaan ragu dan malu untuk membuka orientasi seksualnya yang berbeda dengan individu pada umumnya (Kelly dalam Dewanti, Yuliadi & Karyanta, 2015). Penerimaan diri individu sebagai seorang gay, lesbian atau biseksual merupakan proses awal dari coming out (Galink, 2010). Hubungan antara penerimaan diri dan proses coming out pada gay bersifat kuat dan positif bahwa semakin seorang gay memiliki penerimaan yang tinggi, maka semakin tinggi pula proses coming out (Constanti, 2012).
banyak konflik batin yang terjadi pada diri individu yang bersangkutan. Individu gay merasakan dilema yang berat ketika dihadapkan kepada lingkungan mengenai keberadaan mereka di dalam masyarakat (Rahardjo, 2007). Hal ini dikarenakan adanya stigma negatif dan diskriminasi yang ada di lingkungan sosial, khususnya masyarakat di Indonesia.
Dharmawan (2013) menyatakan diskriminasi terhadap gay terjadi karena budaya patriarki masih kuat di Indonesia, dimana laki-laki disatukan kedudukannya dan adanya harapan sosial bahwa laki-laki harus dominan dengan makulinitasnya. Selain itu, kultur heteronormatif yang dianut di Indonesia juga mempersulit penerimaan diri yang dilalui oleh individu gay. Hal ini disebabkan heteronormatif memandang bahwa heteroseksual merupakan satu- satunya seksualitas yang alamiah, normal dan umum (Kitzinger dalam Veritasia, 2015).
Pernyataan Suherman (1996) senada pada hasil penelitian, seperti pada Informan 1 yang meyakini bahwa ia yang seorang homoseksual tidak akan diterima oleh keluarga dikarenakan latar belakang agama yang kuat (I1; W2; 15/9/15; 941-943). Lalu, Informan 2 juga mengalami hal tersebut, saat menyadari orientasi homoseksualnya. Ia memiliki penyangkalan terkait masalah moral dan nilai-nilai di masyarakat yang heteroseksual, dimana mengajarkan untuk mencintai dan menikah dengan lawan jenis. sehingga, ada perang batin mana yang lebih berpengaruh antara nilai di masyarakat atau pilihan diri sendiri (I2;W3;16/9/16;1381-1406).
Padahal, pada umumnya penerimaan dari orang lain tidak terpisah dengan penerimaan diri sendiri, kedua hal tersebut berjalan seiring. Individu yang diterima oleh orang lain akan mudah menyukai dan menerima diri sendiri (Hurlock, 1978). Adanya penerimaan diri pada Lesbian, Gay, dan Biseksual juga memerlukan dukungan sosial atau penerimaan dari orang lain, terutama keluarga (Hu, et al, 2013 & Costa, et al, 2013).
Dari penjelasan sebelumnya, peneliti beramsumsi bahwa penerimaan diri yang dialami oleh seorang gay terkait dengan penerimaan orientasi seksualnya akan mengalami kesulitan dengan adanya stigma-stigma dan stereotip-stereotip negatif yang ada di lingkungan sosial, khususnya masyarakat. Sehingga, peneliti ingin memperdalam proses penerimaan diri yang dialami oleh individu homoseksual, khususnya gay
dalam bentuk metode studi deskriptif.
Adanya penerimaan diri pada informan penelitian menandakan bahwa menerima diri dapat tercapai seutuhnya, tanpa merasa terbebani oleh pandangan masyarakat sekitar dan tanpa merasa diri tercela (Jersild, 1965). Selanjutnya, informan dalam penelitian ini berada di rentang usia 19-30 tahun. Pada usia tersebut, individu berada dalam tahap perkembangan dewasa awal yang memiliki pola pikir matang dan mampu membentuk identitas diri sesuai dengan pilihan dirinya (Agustin, 2012). Selanjutnya, peneliti memilih informan yang telah membuka diri pada orang lain atau yang disebut coming out, sebagai tahap setelah informan menerima diri sebagai homoseksual (Dewanti, Yuliadi & Karyanta, 2015; Galink, 2013).
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerimaan diri pada pria homoseksual atau gay.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan yang terkait dengan penerimaan diri pada pria homoseksual dalam khasanah bidang psikologi, terutama yang terkait dengan bidang orientasi seksual dan identitas seksual (LGB).
2. Manfaat Praktis
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penerimaan Diri 1. Pengertian
Jersild (1965) menyatakan bahwa penerimaan diri merupakan
derajat seseorang untuk dapat menyatakan ‗diri aktual‘-nya sesuai
dengan ‗diri ideal‘ yang diharapkan. Seseorang dapat menerima segala
karakteristik yang ada dalam dirinya, tanpa harus mengikuti pendapat orang lain. Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Esthy & Sugoto (1998), bahwa penerimaan diri adalah seseorang yang dapat menerima keadaan dirinya dengan segala keterbatasan, tanpa dibebani oleh pandangan masyarakat dan merasa dirinya tercela.
mengakui kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya, tanpa menyalahkan orang lain. Kemudian, Pannes (dalam Hurlock, 1974) menyatakan penerimaan diri adalah sejauh mana individu, setelah mempertimbangkan karakteristik pribadinya, dapat diterima dan bersedia untuk hidup dengan karakteristik tersebut.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Diri
Hurlock (1974) mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri yang positif, antara lain:
a. Adanya pemahaman tentang diri sendiri
Hal ini timbul karena adanya kesempatan seseorang untuk mengenali kemampuan dan ketidakmampuannya. Individu yang dapat memahami dirinya tidak akan hanya tergantung pada intelektualnya, tetapi juga pada untuk penemuan diri sendiri, yaitu semakin orang dapat memahami dirinya, maka ia semakin dapat menerima dirinya.
b. Adanya hal yang realistik
c. Tidak adanya hambatan dalam lingkungan
Walaupun seseorang sudah memiliki harapan yang realistik, tetapi jika lingkungan tidak mendukung dan tidak memberi kesempatan bahkan menghalangi individu tersebut, maka harapan individu tersebut akan sulit tercapai.
d. Sikap-sikap anggota masyarakat yang menyenangkan
Sikap-sikap anggota masyarakat yang menyenangkan tidak akan menimbulkan prasangka dan kecemasan, karena adanya penghargaan terhadap kemampuan sosial orang lain dan kesediaan individu mengikuti kebiasaan lingkungan.
e. Tidak adanya gangguan emosional yang berat
Dengan tidak adanya emosi yang berat, akan tercipta individu yang dapat bekerja dengan baik dan merasa bahagia dengan apa yang dikerjakan.
f. Pengaruh keberhasilan yang dialami, baik secara kualitatif dan kuantitatif
Keberhasilan yang dialami dapat menimbulkan penerimaan diri dan sebaliknya kegagalan yang dialami dapat mengakibatkan adanya penolakan diri.
h. Adanya perspektif diri yang luas
Yaitu memperhatikan juga pandangan orang lain tentang diri. Perspektif diri yang luas ini diperoleh melalui pengalaman dan belajar. Dalam hal ini usia dan tingkat pendidikan memiliki peranan penting bagi seseorang untuk mengembangkan perspektif diri yang luas.
i. Pola asuh masa kecil yang baik
Seorang anak dengan pola asuh demokratis akan cenderung berkembang sebagai individu yang dapat menghargai dirinya sendiri.
j. Konsep diri yang stabil
Individu yang tidak memiliki konsep diri yang stabil akan sulit menunjukkan dirinya pada orang lain. Hal ini disebabkan individu tersebut memiliki konsep diri yang ambivalen.
3. Aspek-aspek Penerimaan Diri
Sheerer (dalam Hall & Lindzey, 1993) menjelaskan mengenai aspek-aspek dalam penerimaan diri:
b) Percaya kemampuan diri. Individu yang empunya kemampuan untuk menghadapi kehidupan. Hal ini tampak dari sikap individu yang percaya diri, lebih suka mengembangkan sikap baiknya dan mengeliminasi keburukannya daripada ingin menjadi orang lain, oleh karena itu ia puas menjadi dirinya sendiri.
c) Bertanggung jawab. Individu yang berani memikul tanggung jawab terhadap perilakunya. Sifat ini tampak dari perilakunya yang mau menerima kritik dan menjadikannya sebagai masukan yang berharga untuk mengembangkan diri.
d) Orientasi keluar diri. Individu mempunyai orientasi diri keluar daripada ke dalam diri, maka ia merasa tidak malu yang menyebabkannya lebih suka memperhatikan dan toleran terhadap orang lain, sehingga akan mendapatkan penerimaan sosial dari lingkungannya.
e) Berpendirian. Individu lebih suka mengikuti standarnya sendiri daripada bersikap menyesuaikan diri terhadap tekanan sosial. Individu yang mampu menerima diri mempunyai sikap dan percaya diri yang menurut pada tindakannya sendiri dari pada mengikuti konvensi dan standar dari orang lain, serta mempunyai aspirasi dan pengharapan sendiri.
cenderung mempunyai penilaian yang realistik tentang kelebihan dan kekurangannya.
g) Menerima sifat kemanusiaan. Individu tidak menyangkal impuls dan emosinya atau merasa bersalah karenanya. Individu yang mengenali perasaan marah, takut, dan cemas tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang harus diingkari atau ditutupi.
Selain itu, faktor lain yang dapat menghambat penerimaan diri, yaitu: konsep diri yang negatif, kurang terbuka dan kurang menyadari perasaan-perasaan yang sesungguhnya, kurang adanya keyakinan terhadap diri sendiri, dan merasa rendah diri.
4. Ciri-ciri Individu dengan Penerimaan diri
Jersild (dalam Sari & Nuryoto, 2002) menjelaskan ciri-ciri individu yang memiliki penerimaan diri yang baik, yaitu :
a. Individu memiliki penghargaan yang realistis terhadap kelebihan-kelebihan dalam dirinya.
b. Individu memiliki keyakinan terhadap standar-standar dan prinsip-prinsip dalam dirinya tanpa harus dipengaruhi oleh opini orang lain.
d. Individu mengenal kelebihan-kelebihan dalam dirinya dan bertindak bebas dalam memanfaatkan kelebihan-kelebihan tersebut.
e. Individu mengenali kelemahan-kelemahan dalam dirinya tanpa menyalahkan atau merasa bersalah terhadap diri sendiri.
f. Individu memiliki spontanitas dan rasa tanggung jawab dalam diri.
g. Individu menerima potensi dalam diri tanpa menyalahkan diri sendiri atas kondisi-kondisi yang berada di luar kontrol dirinya. h. Individu tidak melihat diri mereka sebagai orang yang harus
dikuasai rasa marah atau takut atau menjadi tidak berarti karena keinginan-keinginan diri, melainkan bebas dari ketakutan untuk melakukan kesalahan.
i. Individu merasa memiliki hak untuk memiliki ide-ide dan keinginan-keinginan, serta harapan-harapan tertentu.
j. Individu tidak merasa iri akan kepuasan-kepuasan yang belum mereka raih.
5. Dampak Penerimaan Diri
orang yang dapat menerima diri merupakan orang yang sehat karena tidak mengalami kecemasan-kecemasan akan perasaan malu atau perasaan bersalah terhadap diri mereka sendiri.
Hjelle & Ziegler (dalam Sari & Nuryoto, 2002) juga menyatakan bahwa penerimaan diri akan membuat pribadi menjadi lebih toleran terhadap rasa frustasi atau kejadian-kejadian yang menjengkelkan. Kemudian, Hurlock (dalam Satyaningtyas & Abdullah, 2010) menambahkan bahwa apabila terjadi peristiwa yang kurang menyenangkan, maka individu akan mampu berpikir logis tentang baik buruknya masalah yang telah terjadi tanpa menimbulkan perasaan permusuhan, perasaan rendah diri, malu, dan rasa tidak aman.
Selain manfaat psikologis, individu yang memiliki penerimaan diri yang baik juga akan memiliki kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan fisiologis. Individu yang memiliki penerimaan diri yang baik menunjukkan selera makan yang baik, tidur dengan nyenyak, dan dapat menikmati kehidupan seks dengan pasangan. Selain itu, saat menjalani suatu proses biologis dasar; seperti kehamilan atau menstruasi (bagi wanita), dan proses menua; sebagai bagian dari perkembangan yang dapat diterima dengan perasaan bahagia (Hjelle & Ziegler, 1992; Munandar, 2001 dalam Sari & Nuryoto, 2002).
tidak bisa mengembangkan potensi dan kemampuan dirinya (Purnaningtyas, 2013).
B. HOMOSEKSUAL
1. Pengertian
Homoseksual merupakan salah satu orientasi seksual. Galliano (dalam Galink, 2013) menyatakan orientasi seksual sebagai pola yang kurang lebih stabil dari ketertarikan erotis terhadap individu dan perilaku seksual dengan individu dari jenis kelamin yang sama atau berbeda. Galink (2013) menjelaskan identitas seksual dan perilaku seksual terkait dengan orientasi seksual, namun ketiga istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan fenomena seksual yang berbeda-beda. Secara singkat, Reiter (dalam Galink, 2013) menjelaskan bahwa identitas seksual mengacu pada konsep individu itu sendiri, perilaku seksual merujuk pada tindakan yang dilakukan oleh seseorang, sementara orientasi merujuk pada fantasi, kedekatan, dan ketertarikan.
suatu daya tarik erotik, dan ketertarikan dalam bentuk hubungan romantis dengan sesama jenis kelamin (Rathus, Nevid & Fichner-Rathus, 2008).
Pada awalnya homoseksualitas dianggap sebagai suatu tipe gangguan kejiwaan. Hal ini berdasarkan The American Mental Health
pada tahun 1952 dalam rangka menyusun Diagnostic and Statistical Manual of Mental Health yang pertama (Weiner & Craighead, 2010). Namun, homoseksualitas saat ini tidak lagi dianggap sebagai suatu gangguan seksual. Hal ini dikarenakan pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental (DSM) III mengakui homoseksualitas sebagai „a
possible nonpathological, altenative lifestyle‟ (p.266; Wilson, O‘leary,
Nathan & Clark, 1996). Homoseksualitas kemudian dihapuskan sebagai gangguan pada diagnosis kejiwaan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental (DSM) V, serta Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III.
Homoseksualitas terbagi dalam tiga kategori, yaitu lesbi, gay, dan bisexual. Ketiga kategori tersebut, yaitu lesbi (atau juga disebut lesbian) sebagai perempuan yang tertarik secara emosional dan/atau seksual kepada sesama perempuan, gay sebagai laki-laki yang tertarik secara emosional dan/atau seksual kepada sesama laki-laki, serta biseksual sebagai seseorang yang secara emosional dan/atau seksual tertarik kepada laki-laki dan perempuan, bisa dalam waktu bersamaan atau tidak (dalam booklet
terbitan Ardhanary Institute, 2013; tidak diterbitkan).
Nardi & Schneider (1998) menjelaskan bahwa gay merupakan bentuk ketiga yang paling sering digunakan. Gay berasal dari kata prancis—gaie, yang berarti laki-laki homoseksual. Dalam penggunaannya,
gay juga digunakan untuk menyebut wanita yang menyukai sesama wanita (lesbian), sehingga penyebutan gay memiliki konteks yang sama dengan istilah homoseksual. Dalam beberapa area tertentu, gay dan lesbian secara kolektif disebut sebagai gays atau orang-orang gay(gay people).
2. Faktor-faktor Penyebab Homoseksualitas
Sebagian besar ahli dalam hal homoseksualitas percaya bahwa tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan homoseksualitas (Santrock, 1983). Ada beberapa faktor-faktor yang menjelaskan penyebab homoseksualitas dari berbagai sudut pandang, antara lain biologis, psikologis, dan lingkungan sosial.
Secara biologis, faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi seksual seseorang antara lain:
a. Susunan kromosom, adanya susunan kromosom yang berbeda antara homoseksual dan heteroseksual. Pada sindrom Klinefelter yang memiliki tiga kromosom seks, yaitu xxy. Hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi. Misalnya, pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy (Rathus, Nevid & Fichner-Rathus, 2008).
b. Hormonal, laki-laki memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh wanita yaitu esterogen dan progesteron dengan kadar yang sedikit. Testoterone sangat penting pada diferensiasi seksual laki-laki. Dengan demikian, tingkat testoterone dan hasil hormon dalam darah dan urine telah dipelajari kemungkinan berpengaruh pada orientasi seksual (Rathus, Nevid & Fichner-Rathus, 2008).
perempuan heteroseksual, bagian dari hypothalamus-interstitial ketiga dari inti anterior hypothalamus- pada otak gay kurang dari setengah ukuran pada bagian yang sama pada laki-laki heteroseksual.
d. Kelainan susunan syaraf, kelainan susunan syaraf dapat mempengaruhi perilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. kelainan susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tulang tengkorak (Levay, 1991).
Selanjutnya, Azizah (2013) menjabarkan faktor penyebab individu menjadi homoseksual terbagi dalam tiga kategori, yaitu :
a. Precipating event, yaitu faktor awal individu untuk menjadi homoseksual. Faktor tersebut berupa pengalaman traumatis, yang dapat berupa pengalaman atau peristiwa disodomi saat masa kecil, pernah ditolak cinta atau disakiti oleh seorang wanita. Peristiwa tersebut menjadi traumatis bagi individu, sehingga ia memutuskan untuk memilih kehidupan homoseksual.
dapat menjadi penguat yang menyebabkan individu terpengaruh dan memilih menjadi homoseksual.
c. Consequensy event, yaitu faktor pada diri individu yang dapat dilihat dari faktor kenyamanan pada kondisi homoseksual. Individu merasa bahwa homoseksual adalah pilihan hidup.
3. Perkembangan Identitas Homoseksual
Menurut Garnets & D‘Augelli (dalam Galink, 2013), orientasi seksual memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan identitas seseorang. Saat individu mulai menyadari orientasi homoseksualnya, maka perkembangan identitas homoseksual akan muncul.
Perkembangan identitas homoseksual pertama kali dipublikasikan oleh Vivienne Cass (1979, dalam Clarke, Ellis, Peel, & Riggs, 2010).
Enam tahap model ‗formasi identitas homoseksual‘ Vivienne Cass tersebut tergantung keadaan lingkungan interpersonal individu (Stevens, 2004) dan menjadi landasan pada model-model selanjutnya. Penjabaran dari enam tahap model tersebut, yaitu :
a. Tahap 1, Identitiy Confusion
b. Tahap 2, Identity Comparison
Adanya inkongruensi antara persepsi diri sebagai homoseksual dan persepsi orang lain terhadap hasil homoseksualitas diri terhadap perasaan keterasingan dari teman sebaya dan perasaan diri bahwa tidak sama atau menjadi berbeda dari teman sebaya.
c. Tahap 3, Identity Tolerance
Komitmen pada tingkat yang lebih tinggi pada citra diri sebagai homoseksual dan adanya pengakuan sosial, emosional, dan kebutuhan seksual, hasil dari rasa keterangsingan terhadap dunia heteroseksual dan aktif mencari tahu tentang subkultur mengenai homoseksualitas dan orang-orang homoseksual lainnya.
d. Tahap 4, Identity Acceptance
Kontak dengan individu homoseksual lainnya menjadi lebih sering dan regular. Preferensi pada konteks sosial homoseksual dan membangun hubungan pertemanan dengan mereka.
e. Tahap 5, Identity Pride
Komitmen pada komunitas gay yang menghasilkan perasaan identitas kelompok. Pemilihan kepada identitas homoseksual dibandingkan identitas heteroseksual.
f. Tahap 6, Identity synthesis
Secara mendalam, Troiden (1979) menjabarkan proses-proses seseorang membentuk identitas homoseksual pada gay (A model of Gay Identity Acquisition) yang terdiri dari empat tahap selama rentang pengalaman hidupnya, yaitu: Sensitization, Dissociation & signification, Coming out, dan Comittment. Proses perkembangan identitas homoseksual tersebut akhirnya berkembang sebagai suatu proses spiral horizontal yang dapat ke atas, ke bawah, dan bolak-balik (Troiden, 1988; Stevens 2004) berupa;
a. Tahap I, Sensitization
Tahap ini terjadi saat awal menginjak masa pubertas yang dipisahkan pada tahap awal (> 13 tahun) dan tahap akhir (13-17 tahun) (Troiden, 1979). Individu tidak menganggap homoseksual sebagai hal yang relevan secara personal. Namun, terdapat pengalaman awal individu pada masa anak-anak yang mengacu pada rasa keterasingan saat bersama sesama jenis dalam suatu kelompok. Adanya indikasi
perasaan ‗berbeda‘ saat menginjak usia remaja
b. Tahap 2, Identity Confusion
Dalam tahap ini, individu mulai mempersonalisasikan homoseksualitas selama masa remaja. Mulai berefleksi atas ide bahwa adanya perasaan seksual dan/atau aktivitas dari identitas
seksual yang merasa dirinya ‗mungkin‘ homoseksual. Adanya
bertolak belakang dengan citra diri sebelumnya dan menciptakan kebingungan identitas, kebimbangan batin dan kecemasan.
c. Tahap 3, Identity Assumption
Dalam tahap ini, identitas homoseksual yang dimiliki individu dibangun dan dibagikan dengan orang lain. Individu mengakui dirinya sebagai homoseksual atau sering disebut „coming out‟, sehingga individu mendefinisikan dirinya sebagai homoseksual, mentoleransi dan menerima identitas tersebut, berhubungan dengan homoseksual lainnya, dan mulai terlibat dalam subkultur homoseksual dan menganggap homoseksualitas sebagai hal positif dan melihat homoseksualitas sebagai alternatif gaya hidup (Troiden, 1979).
d. Tahap 4, Commitment
identitas homoseksual. Kemudian, secara eksternal berkaitan dengan hubungan peran cinta dengan sesama jenis, menyatakan identitas homoseksual ke orang-orang nonhomoseksual, dan perubahan strategi dalam menghadapi stigma.
C. Penerimaan Diri Pada Homoseksual
Hurlock (1974) menyatakan bahwa pada umumnya penerimaan oleh orang lain tidak terpisah dengan penerimaan diri sendiri karena kedua hal tersebut berjalan seiring. Individu yang diterima oleh orang lain akan merasa mudah menyukai dan menerima diri sendiri. Oleh karena itu, penerimaan diri pada individu homoseksual lebih sulit daripada individu heteroseksual. Hal ini dikarenakan tidak adanya dukungan dari masyarakat membuat individu dengan orientasi homoseksual lebih sulit untuk diterima.
Proses penerimaan diri pada homoseksual tidak terlepas dari penyingkapan jati diri mereka sebagai homoseksual (Vincke & Bolton, 1994). Penyingkapan jati diri tersebut sering disebut dengan istilah
„coming out‟. Schipper (dalam Vincke & Bolton, 1994) memandang
„coming out‟ sebagai proses penerimaan dan apresiasi dari pribadi yang mengaku sebagai gay. Selanjutnya, Morh & Fassinger (2003) mengemukakan bahwa proses coming out memiliki relevansi terhadap dua variabel, yaitu penerimaan diri (self-acceptance) dan penyingkapan diri
Gay, dan Biseksual. Penyingkapan diri (self-disclosure) sendiri didefinisikan sebagai tindakan mengungkapkan informasi pribadi mengenai diri sendiri kepada orang lain (Collins & Miller, 1994; dalam Griffith & Hebl, 2002).
Melalui komunikasi interpersonal (R, tanggal 26 Agustus 2015) menyatakan bahwa penerimaan diri pada gay, terdapat dua istilah yang umumnya disebut sebagai „coming in‟ dan „coming out‟. „Coming in‟ dijelaskan sebagai menerima orientasi seksual ke dalam diri dan „coming
out‟ dijelaskan sebagai menyatakan orientasi seksual diri kepada orang lain. „Coming in‟ tidak sama dengan sama dengan „coming out‟. Gay yang
„coming in‟ belum tentu akan „coming out‟, tetapi gay yang telah „coming
out‟ tentu telah dapat „coming in‟.
Bohan (dalam Morh & Fassinger, 2003) menjelaskan bahwa
coming out adalah proses seumur hidup terhadap “menerima untuk satu
diri‖ dan ―mengungkapkan ke orang lain suatu orientasi seksual‖. Dalam
Rathus, Nevid, & Fichner-Ratus (2008) juga menjelaskan bahwa kaum homoseksual biasanya berbicara tentang proses menerima orientasi seksual mereka sebagai 'coming out' atau 'coming out of the closet'.
Coming out adalah proses dua arah : coming out to one-self (mengenali orientasi seksual seseorang) & coming out to others (menyatakan orientasi seseorang kepada dunia).
lesbian atau biseksual merupakan proses awal dari coming out (Galink, 2013). Dari hasil studi dalam Dewanti, Yuliadi & Karyanta, (2015) terlihat bahwa penerimaan diri memiliki peranan paling besar dalam proses
coming out, yaitu penerimaan dalam orientasi homoseksual. langkah pertama seorang individu untuk menjalani proses coming out adalah menerima orientasi seksualnya, lalu hubungan yang positif dengan orang lain, kepada siapa nantinya individu tersebut akan memberitahukan identitas homoseksualnya.
27 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, berupa studi deskriptif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh informan penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, dan sebagainya, pada suatu konteks khusus yang alamiah (Moleong, 2006). Penelitian tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan data hasil penelitian, seperti transkrip wawancara, cacatan lapangan (observasi), dan sebagainya (Creswell, 2009).
B. Informan Penelitian
berada pada tahap coming out karena informan telah membuka diri kepada orang lain, sebagai tahap setelah informan menerima diri sebagai homoseksual (Dewanti, Yuliadi & Karyanta, 2015; Galink, 2013).
C. Kajian Penelitian
Dalam penelitian ini, hal-hal yang akan diteliti sebagai bahan penelitian ada empat aspek, yaitu:
a. Riwayat masa lalu
b. Kesadaran diri (coming in)
c. Pengakuan diri (coming out)
d. Rencana masa depan
Keempat aspek tersebut merupakan sebuah rentang proses
penerimaan diri pada individu homoseksual (Wilson, O‘leary, Nathan &
Clark, 1996), sejalan dengan orientasi seksual memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan identitas seseorang sepanjang hidupnya (Garnets & D‘Augelli; dalam Galink, 2013).
D. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah wawancara
pengalaman atau proses yang dialami oleh informan penelitian (Stainback, dalam Sugiyono, 2013).
Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan (Sugiyono, 2013). Alat yang digunakan untuk wawancara adalah guideline wawancara yang telah disusun berdasarkan aspek-aspek yang akan digali dalam wawancara. Aspek-aspek yang akan digali dalam wawancara, sebagai berikut :
a. Riwayat hidup
1) Latar belakang keluarga 2) Latar belakang lingkungan b. Kesadaran diri (coming in)
1) Menerima diri sebagai homoseksual c. Pengakuan diri (coming out)
1) Mengakui diri kepada orang lain
2) Reaksi saat orang lain mengetahui diri informan sebagai homoseksual
d. Rencana masa depan 1) Harapan dan cita-cita
Tabel 1
Pedoman guideline wawancara
Aspek Sub-aspek Pertanyaan
Riwayat masa lalu
Latar belakang keluarga
1. Bagaimana relasi Anda dalam keluarga? 2. Apa peran Anda dalam
keluarga?
3. Hal-hal apakah yang diajarkan oleh keluarga pada Anda sejak kecil?
4. Bagaimana hal-hal tersebut berpengaruh pada diri Anda?
Latar belakang lingkungan
1. Bagaimana kondisi lingkungan Anda? 2. Bagaimana relasi
Anda dengan orang lain?
3. Adakah hal-hal dalam lingkungan yang berpengaruh pada diri Anda?
Kesadaran diri
(coming in)
Pengalaman awal saat menyadari
orientasi homoseksual
1. Kapan Anda merasa sebagai homoseksual? 2. Adakah pengalaman
yang membuat diri Anda sadar terhadap orientasi seksual saat ini?
3. Bagaimana perasaan Anda saat menyadari hal tersebut?
Pengakuan awal kepada orang lain
1. Siapakah yang pertama kali
mengetahui orientasi Anda saat ini? 2. Kapan Anda
memberitahu orang tersebut?
3. Apakah Anda
Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam melaksanakan wawancara adalah sebagai berikut:
a. Peneliti membangun rasa kepercayaan informan kepada peneliti, melalui rapport sebelum melakukan proses wawancara.
b. Peneliti menjelaskan tujuan dan kegunaan dari penelitian ini, sehingga informan dapat termotivasi selama proses wawancara.
c. Peneliti meminta informan untuk menandatangani inform consent sebagai persetujuan informan untuk mengikuti penelitian ini.
Pengakuan diri
(coming out)
memberitahu orang tersebut?
Reaksi orang lain saat mengakui diri sebagai homoseksual
1. Bagaimana reaksi orang tersebut saat Anda mengakui orientasi seksual saat ini?
2. Adakah hal-hal tertentu yang dikatakan kepada Anda saat itu?
Rencana masa depan
Harapan dan cita-cita
1. Apa cita-cita Anda saat ini?
2. Apa harapan Anda saat ini?
3. Apa yang akan Anda lakukan untuk
d. Peneliti meminta persetujuan informan untuk menggunakan alat perekam untuk merekam proses wawancara yang akan berlangsung.
e. Peneliti melakukan wawancara (tanya jawab) pendahuluan, berupa biodata informan, serta fenomena homoseksual dan homoseksualitas yang dimiliki informan.
f. Peneliti melaksanakan wawancara (tanya jawab) kepada informan sesuai dengan pedoman wawancara. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan open-question, sehingga tidak membatasi informan dalam memberikan jawaban.
g. Proses wawancara akan direkam menggunakan alat perekam yang telah disetujui informan sebelumnya.
h. Peneliti membuat transkrip wawancara, yaitu salinan verbatim dari hasil wawancara untuk menjadi hasil penelitian.
E. Metode Analisis Data 1. Pengumpulan Data
2. Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, menyusun dalam pola, memilih yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan agar mudah dipahami orang lain (Sugiyono, 2013). Dalam menganalisis data diperlukan suatu pengkodean terhadap hasil data yang telah didapatkan. Koding (coding) atau dapat disebut sebagai pengkodean merupakan proses penguraian data, pengkonsepan, dan penyusunan kembali dengan cara baru (Strauss & Corbin, 2009).
F. Kredibilitas Penelitian
35 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Proses Pengumpulan Data
Saat memulai proses pengumpulan data, Peneliti menemukan kesulitan dalam perolehan informan. Awalnya, peneliti meminta bantuan teman-teman peneliti yang memiliki relasi dengan pria homoseksual untuk diminta kesediaannya menjadi informan dalam penelitian. Namun, pihak yang bersangkutan tidak bersedia untuk menjadi informan. Selanjutnya, peneliti menemui salah satu anggota dari komunitas LGBT ―People
Like Us SATU HATI‖ di Yogyakarta untuk meminta kesediaan pihak komunitas membantu penelitian yang ingin dilaksanakan dalam komunitas tersebut. Akan tetapi, peneliti tidak melanjutkan penelitian dalam komunitas tersebut disebabkan oleh ketidaksesuaian pemahaman dalam teori-teori yang berkaitan dengan homoseksual yang telah dituliskan dalam proposal penelitian.
sebelum melakukan penelitian, informan diminta untuk menandatangani surat pernyataan kerelaan menjadi subjek dalam penelitian. Selanjutnya, peneliti mendapatkan seseorang yang bersedia menjadi informan kedua untuk membantu penelitian ini. Informan 2 juga bersedia menjadi bagian dari penelitian dengan menandatangani surat pernyataan kerelaan untuk menjadi subjek penelitian dengan syarat tidak mencantumkan nama aslinya dalam data penelitian.
B. Profil dan Gambaran Informan 1. Profil Informan
Tabel 2
Profil Informan
Keterangan Informan 1 Informan 2
Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki
Tempat, tanggal lahir
Tarakan, 15 Agustus 1993
Solo, 1 September 1993
Usia 24 tahun 24 tahun
Pendidikan Terakhir SMA SMA
Pekerjaan Mahasiswa Mahasiswa
Urutan Kelahiran Anak ke-4 dari
5 bersaudara Anak tunggal
Agama Islam Moderat
Asal
Tarakan, Kalimantan
Utara
2. Gambaran Informan a. Informan 1
Informan merupakan seorang mahasiswa suatu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Keluarga Informan berada di Tarakan, Kalimantan Utara. Informan memiliki empat orang saudara, yaitu dua orang kakak perempuan, seorang kakak laki-laki, dan seorang adik perempuan. Ayah informan telah menikah sebanyak tiga kali. Pada pernikahan pertama, lahir tiga orang kakak informan. Ayah informan kembali menikah setelah istri pertamanya meninggal dunia. Dari pernikahan kedua, lahirlah informan dan adik perempuannya. Akan tetapi, Ibu informan meninggal dunia delapan tahun yang lalu tepatnya saat infoman duduk dibangku SMP.
kecemasan dan tidak nyaman dengan keberadaan ayah yang dipersepsikan sebagai ancaman. Informan memandang ayahnya dulu sangat otoriter.
Semenjak ibunya meninggal dunia, informan melihat perilaku ayahnya mulai berubah. Ayahnya dinilai tidak lagi bersikap keras dan kasar. Lalu, ayah informan pun menikah kembali untuk yang ketiga kalinya. Namun, pernikahan tersebut tidak berjalan lancar, sehingga orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Informan menolak untuk menjalin komunikasi dengan ibu tirinya. Hal ini dikarenakan informan menganggap ibunya tidak bertanggung jawab karena meninggalkan keluarganya dengan mudah. Informan mengakui dirinya dekat dengan semua anggota keluarganya. Informan mengatakan bahwa keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam hidupnya. Informan memandang keluarganya merupakan keluarga mualaf dan agamis. Hal ini dikarenakan ayah informan lebih menekankan pada ajaran-ajaran agama islam secara turun temurun.
membuat dirinya dapat menggambar dan merancang pakaian. Selain itu, ia juga dikenal sebagai orang yang humoris, lucu, dan sabar. Menurutnya, ia tipe seseorang yang dapat bisa diajak saat susah ataupun senang. Dirinya merasakan kepuasan saat menolong orang lain, dapat mengatur emosi dengan baik, dan tidak suka dalam mencampuri urusan orang lain.
Dalam lingkungan sosial, infoman merasa dirinya dapat diterima baik oleh teman-temannya. Ia cenderung mudah untuk berbaur. Menurut informan, orang lain selalu mengatakan bahwa dirinya multi talent. Informan sering diajak oleh teman-temannya untuk tampil dalam berbagai acara yang diadakan di sekolah. Ia juga sering diajak untuk bergabung dalam kegiatan, seperti dance atau theater. Saat bersosialisasi, informan memiliki suatu sikap bahwa ia memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan oleh orang lain. Oleh karena itu, informan berusaha untuk memperlakukan orang lain dengan baik agar balasan yang ia terima juga baik.
seorang sahabat informan, informan merasakan kehilangan. Saat SMA, informan pun pernah menyukai beberapa teman laki-laki di sekolahnya.
b. Informan 2
Informan merupakan seorang mahasiswa suatu perguruan swasta di Yogyakarta. Dalam keluarga, informan merupakan anak tunggal. Kedua orang tua informan pernah bercerai, namun rujuk kembali. Secara emosional, informan mengakui dekat dengan ibunya. Hal ini dikarenakan informan ikut dengan ibunya dan tinggal bersama nenek saat orang tuanya bercerai. Akan tetapi, informan juga dekat dengan ayahnya walau secara fisik. Ayah informan sering mengajak informan untuk pergi berjalan-jalan dan sering mengunjungi informan yang sedang berkuliah di Yogyakarta.
menyebabkan tidak adanya interaksi dengan orang tua. Informan pun lebih menganggap kakek dan nenek sebagai orang tuanya.
Saat kecil, informan merasa tidak memiliki teman di rumah. Ia hanya ditemani oleh kakek dan neneknya, sehingga tidak memiliki teman yang sepantaran dengan dirinya. Informan mengatakan bahwa sejak kecil orang tuanya terlalu memanjakan dirinya dalam hal materi. Informan hanya diberikan uang oleh kedua orang tuanya untuk membeli hal-hal yang ia butuhkan.
Informan cenderung pendiam saat berinteraksi dengan keluarganya. Saat kecil, informan mengakui bahwa dirinya cerewet. Namun, semakin lama ia merasa tidak ada gunanya berbicara dengan keluarga. Hal ini dikarenakan ia merasa bahwa keluarganya tidak menanggapi dirinya. Informan menganggap interaksi dengan keluarga hanya membuang-buang waktu. Ia hanya memberikan respon secukupnya saja saat berkomunikasi dengan keluarga.
anak-anak, ayah informan sangat strict terhadap informan mengenai makanan dan minuman yang dikonsumsinya.
Informan merupakan orang yang cenderung pemikir dan perenung seakan-akan memiliki dunianya sendiri. Ia merasa bahwa dirinya memiliki kepintaran dalam suatu hal. Menurutnya, ia adalah orang yang mampu dalam mengolah emosi. Sehingga, informan tidak mudah untuk merasa takut, tidak mudah merasa marah, serta tidak mudah merasa terintimidasi. Informan memiliki emosi yang sulit untuk meledak. Selanjutnya, informan menyebut dirinya adalah seorang sociopath karena ia mengaku tidak terlalu menyukai berinteraksi dengan orang lain. Akan tetapi, informan memiliki keinginan untuk dapat membantu orang lain. Hal ini membuat dirinya merasa berguna saat ia dibutuhkan oleh orang lain.
bahwa ia mungkin selalu ada untuk orang lain, namun orang lain tidak selalu ada untuk dirinya.
Saat SMA, informan pernah menjalin hubungan pacaran dengan seorang perempuan. Namun, pacar informan meninggal dunia karena kecelakaan tragis. Informan memandang bahwa hubungan mereka belum berakhir dan masih berstatus pacaran sampai sekarang. Informan mengakui dirinya merasa desperate karena belum bisa move on dari pacarnya tersebut. Ia menceritakan bahwa dirinya terkadang merasa kesepian dan dirinya tidak ingin sendirian.
C. Tahap Pengambilan Data Tabel 3
Pengambilan Data
Hari, tanggal Tempat Aktivitas
Rabu, 2 september 2015
Ruang Rapat/Diskusi Perpustakaan kampus IV Universitas Sanata
Dharma
Rapport dan penandatanganan
Inform Consent Rabu, 2 september
2015
Ruang Rapat/Diskusi Perpustakaan kampus IV Universitas Sanata
Dharma
Wawancara pertama dengan Informan 1
Selasa, 15 september 2015
Ruang Rapat/Diskusi Perpustakaan kampus IV Universitas Sanata
Dharma
Wawancara kedua dengan informan 1
Sabtu 17 oktober 2015
Area Depan Ruang Konseling P2TKP Universitas Sanata
Dharma
Rapport dengan informan kedua
Senin, 26 oktober 2015
Ruang Rapat/Diskusi Perpustakaan kampus IV Universitas Sanata
Dharma
Wawancara pertama dengan Informan 2
Kamis, 29 oktober 2015
Ruang Rapat/Diskusi Perpustakaan kampus IV Universitas Sanata
Dharma
Wawancara kedua dengan Informan 2 Jumat, 16 September
2016 Dixie Cafe Gejayan
Wawancara ketiga (probing) dengan
Informan 2
D. Hasil Penelitian 1. Informan 1
a. Awal kesadaran orientasi seksual
menyadarinya saat duduk dikelas dua atau kelas tiga SMP. Pada saat itu, informan merasa kehilangan saat laki-laki yang disukainya memiliki pasangan.
―Aku tuh dari SMP sebenarnya aku udah tau, eee, aku sudah tau aku punya kecenderungan suka sama laki-laki sebenernya.” (I1;W1;2/9/15; 321-323) “(SMP
umur?) SMP itu kelas dua apa kelas tiga, kayak
gitu. Gak tau umur berapa tu, gak ngitung.”
(I1;W1;2/9/15; 324-326)
“...aku pernah suka sama salah satu
sahabatku...teman duduk sebangku-ku dan aku ngerasa kehilangan aja, pas dia sudah punya
pacar, kayak gitu.” (I1; W2;15/9/15; 843-846)
“...aku juga punya sahabat cewek, ternyata
mereka berdua ini jadian. Ya, ngerasa kehilangan aja mau ngerasa kehilangan, si
inisial A ini.” (I1;W2;15/9/15;854-856)
b. Perasaan informan saat mengetahui diri merupakan seorang gay
Pada awalnya, informan merasakan ada suatu hal yang tidak beres dalam dirinya. Ia juga merasakan suatu kebimbangan. Setelah sekian lama, informan bertanya-tanya terhadap dirinya sendiri.
“...Dari situ aku udah ada, udah ngerasa kok kayaknya ada, kok kayaknya aku ada rasa gak beres, kayak gitu.” (I1; W2;15/9/15; 851-856) “(Ada kebimbangan gak sih?) Bimbang,
iya. Bimbang, iya, ya iya lah, pastilah
Selanjutnya, walaupun informan telah sadar akan orientasi seksualnya, informan mengakui bahwa ia mengalami denial.
“Aku udah nyadar sebenernya, aku udah
nyadar cuma denial-ku tuh panjang. Denial-ku itu panjang sampe, sampe, semester empat kuliah (menepuk tangan).” (I1;W1;328-331)
”Aku ngerasa cuman aku denial.” (I1;W2; 15/9/15; 841)
Bentuk-bentuk denial yang dialami informan, seperti; penolakan bahwa ia menyukai seorang laki-laki, membandingkan perasaan suka dirinya antara laki-laki dengan perempuan, menyakinkan diri bahwa ia lebih menyukai perempuan, dan menolak menyebut dirinya sebagai gay.
“Cuma aku masih denial, gak kok, aku masih suka cewek kok...Denialku tuh gini, aku tolak ukurku, ihh, aku suka sama cowok, eh tapi aku masih suka sama cewek kok, kayak gitu tu
lho.” (I1;W2; 15/9/15; 857-858)
“Aku cuman nolak aja, kalo misalnya...jadi
tuh denialnya tuh kayak gini, eh gak kok, aku gak suka sama cowok kok, gak suka sama cowok kok. Jadi aku tuh membandingkan kalo misalnya range ku suka sama cewek sama cowok tu lho, ah, aku masih suka cewek kok, ku
bilang kayak gitu, kayak gitu tu lho jadinya.”
(I1; W1; 2/9/15; 334-337)
gak kok aku suka sama cewek, oh gak kok, kayak gitu tu lho...” (I1;W2;15/9/15;868-872) c. Proses penerimaan diri sebagai seorang homoseksual
Informan mengalami denial yang panjang hingga dirinya pun menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta. Informan menceritakan bahwa ia didekati oleh beberapa laki-laki yang tertarik dengan dirinya. Pada saat itu, informan juga memberikan respon terhadap laki-laki yang mendekatinya. Kemudian, saat laki-laki tersebut menjauh dari dirinya, informan merasakan suatu kebimbangan atau keragu-raguan.
―jadinya, setelah aku kuliah tu, selalu pas aku masih masuk masa denial itu (bersin) pas denial itu, ada yang deketin aku, itu gak begitu ku respon, ku respon...tapi kalo misalnya orang itu tiba-tiba ngilang pun aku juga galau, kayak gitu tuh lho.” (I1;W1; 2/9/15; 347-350)
Informan pun merasakan kebingungan dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
“Disitu, what happen with me, aku bilang kayak gitu. aku nih kenapa, aku bilang kayak gitu, kok makin ke sini makin jadi, kayak gitu tuh lho, ku bilang kayak gitu.” (I1;W1; 2/9/15; 362-364)
itu. Adanya nasihat/pembelajaran dari teman dekat tersebut, membantu informan untuk menerima diri sendiri.
“Pembicaraan waktu itu tentang orientasi seksual memang, aku tuh, karena aku masih denial, jadi kalo misalnya kamu dideketin, ada beberapa cowok yang deketin aku tuh, aku selalu cerita ke K (inisial), K(inisial), cowok ini deketin, K(inisial), cowok ini deketin aku, aku bilang kayak gitu...atas sampe suatu saat ada
pembicaraan, pokoknya yang klek itu. „Kamu lebih mudah kok, kalo misalnya kamu menjalani hidup, kalo misalnya kamu menerima diri kamu
apa adanya‟.” (I1; W1; 2/9/15; 365-366,376-377)
“Sampe pas aku cerita, aku cerita, aku
cerita, waktu itu sebenernya cerita tentang pengalamannya K (inisial) sih sebenernya. Sebenernya kata-katanya sederhana aja sih, terimalah dirimu apa adanya, udah kayak gitu aja. katanya kayak gitu. Aku langsung yang klek, mungkin udah kayak gini, ya udah, kayak gitu.” (I1; W2; 15/9/15; 908-913)
Melalui pembicaraan tersebut, informan melakukan proses intrapersonal, seperti berpikir, merefleksikan, serta berbicara pada dirinya sendiri.
“...sampai situ semingguan aku mikir, apa
iya aku kayak gini, kalo misalnya iya, ya udah, kayak gitu tu lho. Ya, udah. Kamu bisa bakal lebih nyaman sama dirimu, kalo misalnya kamu kayak gini. Akhirnya, aku mikir, aku mikir, aku mikir, aku mikir...” (I1;W1;2/9/15; 378-380)
“...dan aku nge-refleksiin sama yang kemarin-kemarin yang aku suka sama cowok.”
Selanjutnya, informan menceritakan bahwa ia menangis karena teringat masa kecilnya dan kedua orang tuanya. Pada awalnya, Ia menyalahkan kedua orang tuanya atas apa yang terjadi dalam dirinya tersebut.
“...udah malem capek nangis-nangis, kayak gini, kayak gini, udah malem capek nangis,
kayak gitu.” (I1; W2; 15/9/15; 1019-1020)
“Aku nangis mungkin karena (diam
sejenak) masa lalu aku, karena mungkin orang tuaku gak bisa, gak bisa, gak bisa memprediksi aku tuh yang gimana, kayak gitu tu lho.... Yah, aku nyari, nyalahin orang tuaku atas aku sih,
nyalahin keluargaku atas aku sih jadinya.” (I1; W2; 15/9/15; 1020-1022)
Kemudian, informan berbicara kepada dirinya sendiri untuk menerima diri apa adanya sebagaimana bahwa ia adalah seorang homoseksual. Informan pun memandang hal tersebut sebagai jalan hidupnya dan ia merasa telah terlahir kembali untuk yang kedua kalinya.
”..oh ya udah, kamu tuh gay, kayak gitu, terimalah dirimu, aku ngomong sama diriku
kayak gitu.” (I1; W2; 15/9/15; 1009-1011)
“ya udah berarti ya memang jalanku kayak gini, ya udah mau gimana..” (I1; W2; 15/9/15; 1005-1006)
Selanjutnya, informan pun memikirkan mengenai cara untuk memberitahu orang lain mengenai orientasi seksualnya (coming out).
“...pas balik ke rumah tu, aku cuma mikir
dan berusaha gimana supaya coming out ke
orang, kayak gitu.” (I1; W2; 15/9/15; 917-918)
d. Perasaan informan setelah menerima dirinya sebagai homoseksual
Setelah informan dapat menerima orientasi seksualnya sebagai homoseksual. Informan mengaku bahwa ia sudah merasa nyaman terhadap dirinya sendiri. Ia pun menambahkan dirinya sekarang merasa mudah dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.
“Aku tuh saat ini comfortable dan diri yang sekarang ini aku nyaman.”(I1; W1; 2/9/15; 216-217) Iya, comfortnya tu pas, pas aku udah, udah nerima, nerima diri kalo misalnya kamu tuh ya udah kayak gitu, kamu tuh gay, ya udah terima aja dirimu.” (I1;W2;15/9/15;1079-1082)
“(Perasaanmu waktu itu, pas udah menerima dirimu?) Yah, ngejalanin apa-apa tuh
lebih, lebih gampang tu lho.”
(I1;W1;2/9/15;389-390)
Informan juga tidak lagi menyalahkan orang tuanya. ia mengaku tidak memikirkan mengenai hal tersebut.
aku udah gak mikir itu, sih. Aku udah gak mikir itu.” (I1; W2; 15/9/15; 1043-1044)
e. Pengakuan orientasi seksual kepada orang lain
Melalui penuturan dari informan, ia telah memberitahu teman-teman kuliahnya mengenai dirinya yang seorang gay. Teman-teman kuliah informan cenderung dapat menerima diri informan terkait orientasi homoseksualnya tersebut.
“...aku udah cerita aja yang „K (inisial), aku lagi deket sama cowok, gini gini‟. Yah, dia sebenernya juga lumayan kaget sih, „ya ga papa sih‟ dia bilang kayak gitu. Aku terima aja, kayak
gitu.” (I1; W1; 2/9/15; 383-387)
“...kalo A (inisial) ini cuma sebatas cukup
tau aja sih. Kalo aku cerita, cuma sekadar cukup tau, karena dia orangnya juga lumayan deket setelah aku gak lagi sama K (inisial)... (Tanggapan dia?) Ya, gak gitu banyak
tanggapan sih menurut aku.”
(I1;W1;2/9/15;428-429, 434-435)
”...satu-satu kasih tau temen-temenku yang deket itu, sama A (inisial), (mengetukkan tangan ke meja) K (inisial), A(inisial), segolonganku itu tu udah tau, udah pasti tau duluan, dan lanjut ke (mengetukkan tangan ke meja) N, M, P, S (inisial) cuman kayaknya dari S, tuh, ke S tu aku gak ada cerita, mungkin M
sama N yang cerita..” (I1; W2;15/9/15;924-933)
“Mereka cuman, mereka, ya udah, P
Setelah ia memberitahu teman-teman kuliah, informan memutuskan untuk memberitahu teman olok-olokannya. Dalam keluarga, informan merasa belum berani untuk
coming out. Informan menganggap sangat warning, jika keluarga mengetahui orientasi seksualnya. Walaupun begitu, informan hanya memberitahu anggota keluarga, yaitu beberapa sepupunya. Sepupu-sepupu informan kaget saat mendengar pengakuan informan.
“Terus, (menjentikkan jari) sepupu aku beberapa orang, temen olok-olokan ku tu juga aku kasih tau, kayak gitu.” (I1;W2; 15/9/15; 934)
“Itu warning banget, kalo misal keluargaku tau, kayak gitu. Tapi beberapa ada sih, cuma sebatas sepupuku doang. Kalo misalnya sepupu yang aku anggepnya udah yang biasa aja, ditanya pacarmu siapa sekarang, kamu mau tanya pacar yang cewek atau pacar yang cowok, ku bilang kayak gitu, kalo misalnya yang cewek aku endak ada, aku bilang kayak gitu, aku pacaran sama cowok, kadang ku gitu-in. Hah, seriusan, menurutmu aku main-main, ku bilang kayak gitu.” (I1;W2; 15/9/15;986-995)
“Aku baru bisa coming in sama coming out
disini, kalo untuk keluargaku, aku belum, belum banget, dan mungkin kayaknya mereka juga gak
bakal nerima sih.”(I1;W1; 2/9/15; 390-393)
“...coming out aku gak masalah selama di
sini asal jangan sampe kedengaran keluarga aku yang menurut aku warning, kayak gitu. Soalnya, aku udah, aku udah yakin, orang tua juga pasti gak bakal bisa nerima, dengan agama yang kuat kayak gitu...” (I1; W2; 15/9/15; 941-943)
f. Harapan atau rencana masa depan
Informan berharap untuk dapat segera menyelesaikan perkuliahan, serta segera mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang baik, sehingga ia dapat hidup dengan nyaman. Informan berharap agar mendapatkan hal yang lebih baik dari orang lain.
“...kalo kuliahku otomatis aku harus lulus
ya.. aku harus lulus, aku harus kerja bagus, aku harus dapet gaji tinggi... aku berharapnya sih, gabung sama perusahaan luar... pokoknya aku pengen pekerjaanku bagus, itu aku bisa hidup
enak, udah kayak gitu.” (I1; W1; 2/9/15; 727-729, 749-750)
“Iya, kalo misalnya orang kaya ya apa-apa udah jadi sih sebenernya, udah gitu aja kan ruth (peneliti), yah, entar aku mau kerja mobilku harus lebih mewah daripada mobil atasanku kayak gitu aja...” (I1;W1; 2/9/15; 754-756)
pasangan sesama jenis. Hal ini terlihat dari rencana yang dipikirkannya terkait dengan memperoleh anak atau keturunan melalui adopsi atau ibu pengganti (surrogate mother).
“Aku pengen berumah tangga ya udah sama pacarku berarti (diam sejenak) berdua kerja, berdua nabung, ngabisin waktu sama-sama. kalo misalnya, entar ditanya soal anak, entar cari, ya mungkin, ya aku juga bingung sih sebetulnya, entar kalo misalnya punya anak, kalo misalnya gak adopsi anak kecil, mungkin entar, minjam cewek yang rahimnya mau di sewa mungkin...entar biaya hidupnya entar dibiayain, atau kayak mana, entar dibiayain,
sampe anaknya lahir..” (I1; W1; 2/9/15; 760-768, 771-772)
Akan tetapi, informan memiliki dua pilihan hidup yang nanti akan dijalaninya, yaitu antara menikah dengan perempuan atau laki-laki. Hal ini didasari oleh sikap informan yang mungkin akan meninggalkan keluarga yang diyakininya tidak dapat menerima bahwa ia adalah seorang homoseksual.
“kalo aku misalnya suatu saat nikah sama
seorang perempuan, aku jalanin kehidupan kayak biasa, cuman kalo misalnya sama cowok,
aku bakal ngilang dari keluarga aku” (I1;W1; 2/9/15; 729-733)
“...jadinya niatnya aku punya dua opsi kalo
“Siapa tau entar ke depannya, aku berubah
pikiran, ya aku gak tau sih, siapa tau mungkin, aku gak sanggup ninggalin keluarga aku atau
Gambar 1. Skema Penerimaan Diri Informan 1
Awal kesadaran
orientasi seksual SMP
merasa kehilangan saat orang yang disukai memiliki pasangan
adanya perasaan bimbang merasa ada yang
tidak beres
bertanya-tanya pada diri sendiri
denial :
menolak menyukai laki-laki meyakinkan diri menyukai perempuan
menolak menyebut diri sebagai gay
proses
berbicara kepada diri sendiri kebingungan dan
merasa nyaman terhadap diri sendiri
merasa mudah dalam menjalani kehidupan
sehari-hari
pengakuan kepada orang
lain
teman - teman kuliah
teman olok-olokan membangun rumah tangga,
memiliki anak dengan adopsi atau ibu pengganti
tidak sanggup meninggalkan
keluarga
menikah dengan perempuan; menjalani hidup seperti
biasa menyelesaikan
perkuliahan
pekerjaan dengan penghasilan yang baik
menerima diri sebagai gay: memandang sebagai jalan
hidup