• Tidak ada hasil yang ditemukan

Juang Akbardin. Program Studi Teknik Sipil, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Setiabudi No.207 Bandung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Juang Akbardin. Program Studi Teknik Sipil, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Setiabudi No.207 Bandung"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

OPTIMALISASI SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI PERGERAKAN BARANG

ANGKUTAN JALAN RAYA BERDASARKAN JARAK DISTRIBUSI TERPENDEK

(STUDI KASUS PERGERAKAN BARANG POKOK DAN STRATEGIS INTERNAL

REGIONAL JAWA TENGAH)

(049T)

Juang Akbardin

Program Studi Teknik Sipil, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Setiabudi No.207 Bandung [email protected]

ABSTRAK

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah yang terus meningkat membutuhkan suatu penanganan untuk tetap kontinu atau berkembang lebih merata dan menyeluruh pada masing masing zona diprovinsi Jawa Tengah. Distribusi Pergerakan Barang Pokok dan Strategis di Provinsi Jawa Tengah mempunyai peranan yang dominan dalam menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi provinsi Jawa Tengah dengan hasil hasil produksi dan konsumsi yang dibutuhkan pada masing masing zona di kabupaten Jawa Tengah. Sehingga Sistem distribusi pergerakan barang pokok dan strategis yang ada di Jawa Tengah memerlukan aksesbilitas yang mudah dalam distribusi tersebut. Sistem Pergerakan barang pokok dan strategis berdasarkan acuan pengembangan wilayah dari MP3EI mendefinisikan bahwa jarak jaringan distribusi sedapat mungkin untuk ditentukan jarak terpendek supaya memacu perkembangan wilayah yang minus untuk mengurangi gap kebutuhan barang pokok dan strategis anta daerah atau zona di suatu internal Regional. Dengan kondisi tipical sistem jaringan jalan yang menjadi jaringan distribusi utama pergerakan barang pokok dan strategis di Provinsi Jawa Tengah dengan menentukan jalur – jalur distribusi berdasarkan asal tujuan pergerakan. Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk menentukan jalur distribusi pergerakan barang pokok dan strategis berdasarkan yang terpendek pada zona zona di provinsi Jawa Tengah sebagai representasi aksesbilitas pada sistem pergerakan barang jalan raya di provinsi Jawa Tengah. Pada jalur – jalur mana di jaringan jalan di Provinsi Jawa Tengah yang merupakan jalur distribusi terpendek pada distribusi barang pokok dan strategis zona zona tersebut Metode penelitian optimalisasi sistem Jaringan distribusi barang pokok dan strategis di provinsi Jawa Tengah dengan suatu pendekatan riset operasi dengan pemrograman linier untuk menentukan jarak terpendek distribusi antar zona. Dengan mengetahui jarak distribusi terpendek dari sistem jaringan jalan yang ada di Jawa Tengah maka dapat di predikasi distribusi pergerakan tersebut sesuai dengan jaringan jalan yang ada dan pengembangannya. Sehingga tingkat pelayanan jalan pada distribusi jarak terpendek tersebut dapat disesuaikan dengan perkembangan distribusinya.

Kata Kunci : Optimalisasi, Sistem Jaringan, Jarak Terpendek

1. PENDAHULUAN

Pergerakan distribusi barang di provinsi Jawa Tengah dibangun berdasarkan perkembangan ekonomi masing masing zona atau Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah. Perbedaan tingkat perkembangan ekonomi daerah atau zona tersebut didasarkan pada tingakat PDRB dan input output daerah yang terjadi berdasarkan supply dan demand

akan barang komoditas tersebut. Sistem jaringan distribusi barang dari angkutan barang jalan raya dikelompokkan berdasarkan kondisi fisik geografis dasar Provinsi Jawa Tengah berdasarkan kelompok lintasan rute berdasarkan peran, kelas dan fungsi jalan yang terbangun di provinsi Jawa Tengah. Pergerakan Internal Regional merupakan sistem sirkulasi pergerakan yang terjadi di dalam suatu provinsi berdasarkan interaksi yang terjadi antar masing masing zona di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan sebaran pergerakan antar daerah tersebut berdasarkan matrik sebaran pergerakan. Kebutuhan barang sektor komoditas tersebut akan melewati rute atau jaringan jalan di provinsi Jawa Tengah dengan berusaha untuk mendapatkan suatu nilai besaran biaya transportasi yang kecil untuk pendistribusian antar zona tersebut. Sehingga kondisi jaringan jalan memungkinkan untuk melayani distribusi pergerakan antar zona berdasarkan jarak yang akan ditempuh yang akan dipilih seefisien mungkin.

Tujuan Penelitian

Mengetahui distribusi pergerakan antar zona diprovinsi Jawa Tengah berdasarkan jarak perlintasan rute terpendek sesuai dengan kondisi jaringan rute yang ditentukan dan mengetahui waktu perjalanan (travel time) distribusi

(2)

pergerakan lalu lintas barang jalan raya sesuai volume lalu lintas yang terjadi antar zona berdasarkan pergerakan yang terjadi

Batasan Penelitian

Pada penelitian ini system jaringan distribusi dibatasi berdasarkan rute antar zona yang telah ditentukan berdasarkan status jalan nasional dan jaringan jalan antar zona sesuai matrik jarak antar zona diprovinsi Jawa Tengah.

Lokasi Penelitian

Peta Jaringan Jalan di Provinsi Jawa Tengah

Gambar. 1. Peta Jaringan Jalan di Provinsi Jawa Tengah

2. STUDY PUSTAKA

Kapasitas Jalan

Kapasitas dapat didefinisikan sebagai tingkat arus maksimum dimana kendaraan dapat diharapkan untuk melalui suatu potongan jalan pada priode waktu tertentu untuk kondisi jalur/jalan, lalulintas, pengendalian lalulintas dan kondisi cuaca yang berlaku. Kapasitas jalan dihitung dengan rumus (MKJI, 1997)

C = Cox FCwx FCSPx FCSfx FCcs (1)

Dengan :

C = Kapasitas (smp/jam) Co = Kapasitas dasar (smp/jam)

FCw= Faktor penyesuain lebar jalur lalulintas FCSp= Faktor penyesuaian pemisah arah

FCSf = Faktor penyesuaian hambatan samping FCcs= Faktor penyesuaian ukuran kota

Derajat Kejenuhan

Derajat kejenuhan menggunakan kapasitas (C) maka dapat dihitung rasio antara Q dan C, yaitu derajat kejenuhan sebagaimana rumus dibawah ini (MKJI, 1997) :

DS=Q/C (2)

Dengan :

DS = Derajat kejenuhan

Q =Arus kendaraan total dalam waktu tertentu (smp/jam) C = Kapasitas jalan (smp/jam)

(3)

Proses Pemilihan Rute

Arus Lalu Lintas pada suatu ruas jalan dalam suatu jaringan dapat diperkirakan sebagai hasil proses informasi MAT. Diskripsi system Jaringan dan pemodelan pemilihan rute.

Model Pemilihan rute dapat diklasifikasikan berdasarkan beberpa faktor pertimbangan yang didasari pengamatan bahwa tidak setiap pengendara dari zona asal dan tujuan akan memilih rute yang sama persis. (Tamin, 2000)

Tabel 1. Klasifikasi Model Pemilihan Rute

Sumber : Ortuzar and Willumsen (1994) dalam Tamin 2000

Penetuan Algoritma

Secara Umum terdapat dua algoritma dasar yang sering digunakan untuk mencari rute tercepat atau terpendek (termurah). Kedua algoritma tersebut adalah Moore (1957) dan Djiskra (1959). Keduanya diterangkan dengan menggunakan simpul (biaya) ruas antara kedua titik A dan Bdalam suatu notasidengan dAB. Rute diidefinisikan dalam bentuk urutan A–C–D–H dan seterusnya. Sedangkan jarak rute adalah penjumlahan setiap ruas dalam rute tersebut. Dengan menganggap dAadalah jarak minimum antara zona asal dan tujuan dari pohon S di simpul A ;PA adalah simpul sebelum Asehingga ruas (PA, A) adalah bagian dari rute terpendek dari S ke A. (Tamin, 2000).

Alasan Pemilihan Rute

Model pemilihan rute harus mewakili cirri system transportasi dan salah satu hipotesis pemilihan rute pemakai jalan. Hipotesis Pemilihan Rute yang ada dapat digunakan yang menghasilkan model yang berbeda adalah

1. Pembebanan All or Nothing . Pemakai jalan secara rasional memilih rute terpendek yang meminimkan hambatan transportasi (jarak , waktu dan biaya).

2. Pembebanan Banyak Ruas . Diasumsikan pemakai jalan tidak mengetahui informasi yang tepat mengenai rute tercepat.

3. Pembebanan Berpeluang. Pemakai Jalan menggunakan beberapa faktor rute dengan meminimumkan hambatan trsnportasi

Pengunaan Algoritma Djiskra

Algoritma yang ditemukan djiskra(1959) dalam iterasinya algoritma akan mencari satu titik yang jumlah bobotnya dari titik terkecil. Titik–titik yang terpilih dipisahkan (disebut titik permanen) dan titik tersebut tidak diperhatikan lagi dalam iterasi berikutnya

Interaksi antar zona

LA = Tata guna lahan di A PA = Bangkitan Pergerakan dari A AB = tarikan pergerakan ke zona B

QAB = Arus Lalu lintas dari zona A ke zona B yang menggunakan rute 1

A B Q

T

= waktu tempuh lalu lintas dari zona A ke zona B yang menggunakan rute 1 pada kondisi arus = Q T0 = waktu tempuh pada saat arus = 0 kondisi arus bebas

C = Capasitas

a = Indek Tingkat Pelayanan (ITP)

0

1 (1

)

1

Q

Q

a

C

T

T

Q

C

(3) Dengan Notasi : Q

T

= Waktu tempuh pada saat arus Q

T0 = waktu tempuh pada saat arus = 0 kondisi arus bebas

Q = Arus Lalu Lintas

C = Kapasitas

Kriteria Efek Stokastik dipertimbangkan

Tidak Ya

Efek batasan Kapasitas

dipertimbangkan Tidak All or Nothing Stokastik Murni (Dial, Burrel)

(4)

Penentuan Fungsi Tujuan

Fungsi tujuan dari penentuan jarak terpendek berdasarkan interaksi antar zona adalah Minimalisasi 1 1

( (

)

.

n n ij ij i j

Z f TQ

C X

(4) ij

X

Jarak i ke j ij

C

= biaya perjalanan ij

U

= kapasitas busur i

b

Aliran net yang di bangkitkan pada simpul i

3. METODOLOGI

Dalam penelitian optimalisasi sistem jaringan distribusi pergerakan barang angkutan jalan raya

berdasarkan jarak terpendek pada pergerakan barang pokok dan strategis internal regional provinsi Jawa

Tengah didasarkan pada penentuan parameter dan variabel yang menentuakan dalam penelitian ini. Yaitu

:

Variabel danParameter Penelitian

Variabel dan parameter dominan penelitian yang mempengarui antara lain : Tabel. 2. Variabel dan Parameter Penelitian

Variabel Parameter

1. Lintasan Rute Jarak Klasifikasi Rute Kategori Rute

2. Jaringan jalan Kapasitas Volume V/C

3. Zona / Node Bangkitan Tarikan Sebaran Pergerakan

Sumber : Analisa Data

Diagram Alir Penelitian

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian

Mulai

Optimalisasi Sistem Jaringan Distribusi Pergerakan Barang Angkutan Jalan Raya Berdasarkan Jarak Distribusi Terpendek

Studi Pustaka Pengumpulan Data

Peta Jaringan Jalan Nasional dan Provinsi Jawa Tengah

Data Matrik Jarak antar kota di Jawa Tengah

Data Matrik Sebaran Pergerakan Barang Pokok dan Strategis di Jawa Tengah

Data Volume Lalu Lintas ruas jalan antar zona di Provinsi Jawa Tengah

Data Kapasitas Jalan antar zona di Provinsi Jawa Tengah

Data V/C Ratio Jalan antar zona di Provinsi Jawa Tengah

Pengolahan Data Menggunakan Algoritma Dijkstra

Hasil Optimalisasi Analisa Data berdasarkan Fungsi Tujuan

Pembentukan Matrik TQ

(5)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan Lintasan Rute

Penentuan Lintasan Rute yang ada didasarkan pada data sekunder terkait dengan informasi data yang akurat terkai dengan lintasan yang menjadi jalur pergerakan yang dominan digunakan dlam pergerakan lalu lintas barang di Jawa Tengah.Jarak lintasan rute yang didefinisikan adalah jarak antar zona berdasarkan informasi matrik jarak.

Klasifikasi lintasan rute berdasarkan fungsi jalan dari sistem jaringan jalan yang biasa dilintasi angkutan barang fungsi kelas jalan tersebut antara lain :

1. Jalan Arteri Primer 2. Jalan Arteri Sekunder 3. Jalan Kolektor Primer 4. Kolektor Sekunder.

Kategori lintasan rute berdasarkan letak geografis rute tersebut di koridor provinsi Jawa Tengah yaitu : 1. Lintasan Rute Pantai Utara

2. Lintasan Rute Tengah 3. Lintasan Rute Penghubung 4. Lintasan Rute Selatan 5. Jalur Non Lintasan

(6)

Tabel. 3. Data Variabel Sistem Jaringan

Jalur Dari Kabupaten dan

Kota ke Kabupaten dan Kota

Q = AADT (smp/jam) ITP =V/C C (smp/jam) L = Jarak (km) To (L V) To (MHV) To (LongV) L int as an U ta ra

29 Brebes 35 Kota Tegal 26081.55 0.27 96598.33 13 78 65 62 35 Kota Tegal 27 Pemalang 26072.33 0.56 46557.73 30 78 65 62 27 Pemalang 34 Kota Pekalongan 25636.67 0.31 82698.94 35 78 65 62 34 Kota Pekalongan 25 Batang 36923.58 0.42 87913.29 7 78 65 62 25 Batang 24 Kendal 22320 0.68 32823.53 64 68 55 51 24 Kendal 33 Kota Semarang 31184 0.66 47248.48 29 78 65 62 33 Kota Semarang 21 Demak 32039.18 0.9 35599.09 26 78 65 62 21 Demak 19 Kudus 19939.41 0.94 21212.14 25 78 65 62 19 Kudus 18 Pati 22206.83 0.89 24951.49 24 78 65 62 18 Pati 17 Rembang 18755.47 0.83 22596.95 36 78 65 62 L int as an T enga h 2 Banyumas 3 Purbanlingga 20120 0.79 25468.4 20 61 52 49 3 Purbalingga 4 Banjarnegara 11223.3 0.88 12753.8 49 61 52 49 4 Banjarnegara 7 Wonosobo 12005 0.58 20698.3 31 55 42 38 7 Wonosobo 23 Temanggung 7048.2 0.77 9153.5 43 55 42 38 23 Temanggung 22 Semarang 23270.84 0.61 38148.9 50 61 52 49 22 Semarang 32 Kota Salatiga 29406 0.81 36303.7 21 61 52 49 22 Semarang 33 Kota Semarang 40907.97 1.2 34090.0 27 74 63 60 32 Kota Salatiga 9 Boyolali 30321 0.78 38873.1 27 78 65 62 9 Boyolali 31 Kota Surakarta 32346 1.17 27646.2 27 74 63 60 31 Kota Surakarta 14 Sragen 24631.09 0.69 35697.2 27 74 63 60 31 Kota Surakarta 13 Karanganyar 32140.66 0.8 40175.8 13 74 63 60 13 Karanganyar 14 Sragen 15690 0.22 71318.2 14 74 63 60 L int as anS el a ta n 2 Banyumas 1 Cilacap 6265.15 0.85 7370.765 61 61 52 49 1 Cilacap 5 Kebumen 16416.29 0.7 23451.84 94 61 52 49 5 Kebumen 6 Purworejo 25021.64 0.79 31672.96 44 61 52 49 6 Purworejo 8 Magelang 24379.95 0.73 33397.19 53 61 52 49 8 Magelang 10 Klaten 32533.26 0.77 42250.99 83 61 52 49 10 Klaten 31 Kota Surakarta 24883.29 1.18 21087.53 36 78 65 62 31 Kota Surakarta 11 Sukoharjo 116434.66 0.69 168745.9 14 68 60 58 11 Sukoharjo 12 Wonogiri 13211.96 0.68 19429.35 42 68 60 58 12 Wonogiri 13 Karanganyar 16431.66 0.64 25674.47 44 68 60 58 11 Sukoharjo 13 Karanganyar 13903.87 0.87 15981.46 24 68 60 58 L int as an P enghu bung 29 Brebes 28 Tegal 10655 0.46 23163.04 25 78 65 62 35 Kota Tegal 28 Tegal 29161 0.67 43523.88 12 78 65 62 28 Tegal 2 Banyumas 13000.7 0.6 21667.83 126 68 60 58 3 Purbalingga 5 Kebumen 13284 0.75 17712 95 68 60 58 7 Wonosobo 6 Purworejo 17563 0.77 22809.09 106 68 60 58 23 Temanggung 30 Kota Magelang 18426.42 0.9 20473.8 23 68 60 58 30 Kota Magelang 8 Magelang 24465.03 0.5 48930.06 10 78 65 62

N on L int as an 27 Pemalang 28 Tegal 15344 0.4 38360 42 68 60 58 28 Tegal 3 Purbalingga 11286.9 0.87 12973.45 146 68 60 58 27 Pemalang 26 Pekalongan 6596 0.47 14034.04 50 68 60 58 26 Pekalongan 4 Banjarnegara 4978 0.33 15084.85 258 68 60 58 34 Kota Pekalongan 26 Pekalongan 7028 0.45 15617.78 15 68 60 58 25 Batang 26 Pekalongan 5612 0.26 21584.62 22 55 42 38 25 Batang 7 Wonosobo 6074 0.56 10846.43 209 55 42 38 24 Kendal 23 Temanggung 9385 0.48 19552.08 106 68 60 58 33 Kota Semarang 15 Grobogan 14658 1.09 13447.71 67 68 60 58 21 Demak 15 Grobogan 5328 0.23 23165.22 49 68 60 58 19 Kudus 15 Grobogan 4814 0.32 15043.75 46 68 60 58 19 Kudus 20 Jepara 12759 0.87 14665.52 19 68 60 58 20 Jepara 18 Pati 7330 0.43 17046.51 83 68 60 58 18 Pati 15 Grobogan 8654 0.74 11694.59 70 68 60 58 17 Rembang 16 Blora 9487 0.72 13176.39 36 65 57 55 16 Blora 15 Grobogan 15175 0.74 20506.76 62 65 57 55 15 Grobogan 14 Sragen 15917 0.78 20406.41 176 61 52 49 Sumber : Analisa Data IRMS

Dari Penentuan Inisialisasi sistem Jaringan yang didefinisikan maka dapat ditentukan Minimalisasi Waktu Perjalanan (Travel Time ) berdasarkan jarak terpendek setelah rute tersebut dipertimbangkan dengan volume ruas jalan, Indek Pelayanan Jalan (DS / Derajat Kejenuhan Jalan ) dan Kecepatan dasar Masing Masing Jenis kendaraan Barang yang didefinisikan. Sehingga hasil dari persamaan fungsi tujuan penentuan TQijpada arus Q (volume) pada jalur terpendek antar zona dapat diketahui nilainya. Berikut hasil Nilai Travel time berdasarkan jarak terpendek berdasarkan kondisi iarus lalu lintas dan tingkat pelayanan jalan yang ada dari zona cilacap ke zona yang ada di jawa Tengah

(7)

Sehingga dari hasil Travel Time masingmasing zona dapat disusun matrik travel time pergerakan angkutan barang berdasarkan distribusi pergerakan jarak terpendek yang dilintasi volume lalu lintas (Q). pada (Tabel 5)

5. KESIMPULAN

Penggunaan Algoritma Djiskra dalam penentuan jarak terpendek dalam kontek pemilihan rute All or Nothing yang sudah mempertimbangkan kondisi karakteristik jaringan jalan dengan kapasitas, volume dan tingkat pelayanan jalan dapat mengoptimalkan pergerakan dengan tinjauan besaran Travel Time yang diperoleh dalam perjalanan distribusi pergerakan barang tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

---, Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI),(1997) Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Jakarta

Hillier, Lieberman (2005). Introduction Operation Research 8 Edition, Penerbit Andi Jong Jek Siang (2011), Riset Operasi dan Pendekatan Algoritmis, Penerbit Andi P. Siagian (1987), Penelitian Operasional (teori dan Praktek)

Tamin (2000), Perencanaan dan Pemodelan Transportasi, Penerbit ITB

kota

asal kota tujuan

nilai TQ jalur C ila ca p 1 Cilacap 1 0 1=>1 1 Banyumas 2 61 1=>2 1 Purbalingga 3 122 1=>2=>3 1 Banjarnegara 4 183 1=>2=>3=>4 1 Kebumen 5 61 1=>5 1 Purworejo 6 122 1=>5=>6 1 Wonosobo 7 190 1=>5=>6=>7 1 Magelang 8 183 1=>5=>6=>8 1 Boyolali 9 396 1=>5=>6=>8=>10=>31=>9 1 Klaten 10 244 1=>5=>6=>8=>10 1 Sukoharjo 11 390 1=>5=>6=>8=>10=>31=>11 1 Wonogiri 12 458 1=>5=>6=>8=>10=>31=>11=>12 1 Karanganyar 13 396 1=>5=>6=>8=>10=>31=>13 1 Sragen 14 396 1=>5=>6=>8=>10=>31=>14 1 Grobogan 15 448 1=>5=>6=>7=>23=>22=>33=>15 1 Blora 16 513 1=>5=>6=>7=>23=>22=>33=>15=>16 1 Rembang 17 578 1=>5=>6=>7=>23=>22=>33=>15=>16=>17 1 Pati 18 516 1=>5=>6=>7=>23=>22=>33=>15=>18 1 Kudus 19 516 1=>5=>6=>7=>23=>22=>33=>15=>19 1 Jepara 20 584 1=>5=>6=>7=>23=>22=>33=>15=>18=>20 1 Demak 21 458 1=>5=>6=>7=>23=>22=>33=>21 1 Semarang 22 306 1=>5=>6=>7=>23=>22 1 Temanggung 23 245 1=>5=>6=>7=>23 1 Kendal 24 313 1=>5=>6=>7=>23=>24 1 Batang 25 245 1=>5=>6=>7=>25 1 Pekalongan 26 251 1=>2=>3=>4=>26 1 Pemalang 27 197 1=>2=>28=>27 1 Tegal 28 129 1=>2=>28 1 Brebes 29 207 1=>2=>28=>29 1 Kota Magelang 30 261 1=>5=>6=>8=>30 1 Kota Surakarta 31 322 1=>5=>6=>8=>10=>31 1 Kota Salatiga 32 367 1=>5=>6=>7=>23=>22=>32 1 Kota Semarang 33 380 1=>5=>6=>7=>23=>22=>33 1 Kota Pekalongan 34 275 1=>2=>28=>27=>34 1 KotaTegal 35 207 1=>2=>28=>35

(8)
(9)

Gambar

Diagram Alir Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Hasil reaksi metilasi 5-metilisatin (10) selanjutnya diuji kemurniannya dengan KLT (Gambar 4.2) yang menunjukkan bahwa padatan hasil reaksi merupakan senyawa murni, yang

Di titik inilah, keberadaan setgab koalisi justru akan menjadi blunder politik bagi Yudhoyono karena kerap mengintervensi pemerintah dengan menjadikan setgab sebagai alat

Hasil analisis menunjukkan bahwa ada interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap keterampilan membaca nyaring; media pembelajaran slide

Yang ditunjukan dengan masih banyaknya siswa yang mengeja, kesalahan dalam membedakan huruf, banyaknya penyelipan dan pengurangan kata.Penelitian ini bertujuan

penelitian yang telah dilakukan, maka modal sosial yang ada di Perumnas Banyumanik termasuk dalam kategori BAIK dengan skor 2.6 yang mencakup kualitas interaksi dan

Diharapkan bagi pengelola SMA Negeri 7 Prabumulih dapat mempertahankan dan meningkatkan pelayanan kesehatan pada siswa dan juga dapat dijadikan solusi untuk dapat

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang bersifat deskriptif, dengan mengetahui konsentrasi debu dan keluhan kesehatan yang dialami masyarakat di

Kesimpulan dari tabel 4.22 di atas adalah jika UKM Gizi Food memilih menjual langsung keripik kentang dalam bentuk mentah maka akan lebih menguntungkan sebesar Rp.73.841.400