• Tidak ada hasil yang ditemukan

FITRIA RAHMAWATI BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "FITRIA RAHMAWATI BAB II"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pernyataan ‘what’, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

2. Tingkatan Pengetahuan

Tingkatan pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo, 2003) yaitu :

a. Tahu (Know)

(2)

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan atau menggunakan materi yang sudah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).

d. Analisis (Analysis)

Analisis diartikan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen–komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

(3)

3. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :

a. Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang akan mungkin mereka peroleh dari gagasan tersebut.

b. Paparan Media Massa

Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronika berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapan media masa (televisi, radio, majalah, pamflet) akan memperoleh informasi yang lebih hanya dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar informasi media masa.

c. Ekonomi

Dalam memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi kebutuhan akan informasi yang termasuk kebutuhan sekunder.

d. Hubungan Sosial

(4)

faktor hubungan sosial juga mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikasi untuk menerima pesan menurut model komunikasi media. e. Pengalaman

Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal bisa diperoleh dan lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya.

4. Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003) dalam memperoleh pengetahuan dibagi dalam 2 kelompok :

a. Cara Tradisional

Cara ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistemik dan logis. Cara – cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain, meliputi :

1) Cara Coba–Salah (Trial and error)

Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Pengalaman yang diperoleh melalui penggunaan metode ini banyak membantu perkembangan berpikir dan kebudayaan manusia kearah yang lebih sempurna.

2) Cara Kekuasaan atau Otoritas

(5)

ahli ilmu pengetahuan. Para pemegang otoritas, baik pemimpin pemerintahan, tokoh agama maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama didalam penemuan pengetahuan.

3) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.

4) Melalui jalan pikiran

Kebenaran pengetahuan dapat diperoleh manusia dengan menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi yang merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan–pernyataan yang dikemukakan dan dicari hubungannya sehingga dapat diambil kesimpulan.

b. Cara Modern

(6)

5. Pengukuran Tingkat Pengetahuan

Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam tiga kategori, yaitu : a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100% dari

seluruh pernyataan.

b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari seluruh pernyataan.

c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% - 55% dari seluruh pernyataan.

B.Pola Pemberian Makan Balita

1. Pengertian Pola Makan

Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh seseorang dan merupakan ciri khas suatu keompok masyarakat tertentu. Pemberian makanan balita adalah segala upaya dan cara ibu untuk memberikan makanan pada anak balita dengan tujuan supaya kebutuhan makan anak tercukupi, baik dalam jumlah maupun nilai gizinya (Karyadi,E. dan Kolopaking, R., 2007).

(7)

Pemberian makanan pada anak bertujuan untuk mencapai tumbuh kembang anak secara optimal. Pemberian makanan yang baik dan benar dapat menghasilkan gizi yang baik sehingga meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan seluruh potensi genetik yang ada secaraoptimal.

Menurut Judarwanto (2004) pemberian makanan pada anak mempunyai tiga fungsi, yaitu:

a. Fungsi fisiologis yaitu memberikan nutrisi sesuai kebutuhan agar tercapai tumbuh kembang yang optimal.

b. Fungsi psikologis, penting dalam pengembangan hubungan emosional ibu dan anak sejak awal.

c. Fungsi sosial/edukasi yaitu melatih anak mengenal makanan, keterampilan makan dan bersosialisasi dengan lingkungannya.

Pemberian makanan pada anak secara tidak langsung menjadi alat untuk mendidik anak. Kebiasaan dan kesukaan anak terhadap makanan mulai dibentuk sejak kecil. Jika anak diperkenalkan dengan berbagai jenis makanan mulai usia dini, pola makan dan kebiasaan makan pada usia selanjutnya adalah makanan beragam. Secara dini anak harus dibiasakan makan makanan yang sehat dan bergizi seimbang sebagai bekal dikemudianhari.

(8)

alat makan dengan benar dapat melatih anak untuk mengerti etika dan juga mengajarkan anak hidup mandiri, serta mendidik anak hidup bersih danteratur.

2. Tahapan Pemberian Menu Makan

a. Penyusunan Menu

Pemberian makan pada balita harus disesuaikan dengan usia dan kebutuhannya. Pengaturan makan dan perencanaan menu harus selalu dilakukan dengan hati-hati sesuai dengan kebutuhan gizi, usia dan keadaan kesehatannya. Pemberian makan yang teratur berarti memberikan semua zat gizi yang diperlukan baik untuk energi maupun untuk tumbuh kembang yang optimal. Jadi apapun makanan yang diberikan, anak harus memperoleh semua zat yang sesuai dengan kebutuhannya, agar tubuh bayi dapat tumbuh dan berkembang. Artinya, selain tubuh bayi menjadi lebih besar, fungsi – fungsi organ tubuhnya harus berkembang sejalan dengan bertambahnya usia bayi.

Oleh karena itu pengaturan makanan harus mencakup jenis makanan yang diberikan, waktu usia makan mulai diberikan, besarnya porsi makanan setiap kali makan dan frekuensi pemberian makan setiap harinya. Mulai memasuki usia 1 tahun, orang tua perlu membuat jadwal harian pola makan anak (food diary) agar anak terbiasa dengan pola makan yang teratur.

(9)

disukai anak, bahkan bila ada makanan yang menyebabkan alergi dapat diketahui dari food diary ini (Karyadi,E. dan Kolopaking,R., 2007). Diharapkan kebiasaan makan yang teratur, baik, dan sehat ini akan terus melekat sepanjang hidup anak dan hal itu merupakan modal bagi pemeliharaan gizi anak untuk usia selanjutnya.

Pengaturan jenis dan bahan makanan yang dikonsumsi juga harus diatur dengan baik agar anak tidak cepat bosan dengan jenis makanan tertentu. Makanan yang memenuhi menu gizi seimbang untuk anak bila menu makanan terdiri atas kelompok bahan makanan sumber zat tenaga, zat pembangun, zat pengatur serta makanan yang berasal dari susu (Karyadi,E.dan Kolopaking,R.,2007). Dalam praktek, keanekaragaman bahan makanan itu dapat diwujudkan dengan menerapkan pola susunan hidangan ”empat sehat lima sempurna”, yaitu diterapkannya penggunaan

empat kelompok bahan makanan dalam menu makanan anak sehari-hari yang diperkaya dengan segelas susu. Komposisi makanan anak mulai usia tahun kedua dapat digambarkan dalam bentuk ”piramida komposisi

makanan”. Luas bidang pada masing –masing petak kelompok bahan makanan pada piramida menggambarkan perbandingan banyaknya porsi kelompok bahan makanan pada setiap kali pemberian makan. Nasi atau sumber karbohidrat lain seperti kentang atau roti menempati bidang yang paling luas pada dasar piramida.

(10)

lemak atau minyak dan gula ditempatkan pada puncak piramida. Makanan yang mengandung lemak, minyak, dan makanan manis harus dibatasi sesedikit mungkin karena kurang baik bagi anak.

(11)

Tabel 2.1 Contoh Menu Anak Usia 1 – 3 Tahun

Waktu u

Menu Bahan Makanan Ukuran Kalori

Bangun Tidur Susu 1 gelas Susu 150 ml 100 Sayur daging Daging sapi giling 25 g

Tahu 50 g Brokoli Brokoli cacah halus 25 buah

Teri nasi 10 g Kaldu ayam 250 ml Minyak sayur 1 sdm

Sebelum tidur Susu 1 gelas Susu 150 ml 100

Total kalori 1008

(12)

Tabel 2.2 Contoh Menu Anak Usia 3 – 5 Tahun

Sumber : Karyadi, E. dan Kolopaking, R. (2007). b. Pengolahan

Keamanan pangan untuk balita tidak cukup hanya menjaga kebersihan tetapi juga perlu diperhatikan selama proses pengolahan. Proses pengolahan pangan memberikan beberapa keuntungan, misalnya memperbaiki nilai gizi dan daya cerna, memperbaiki cita rasa maupun aroma, serta memperpanjang daya simpan (Auliana, 1999).

(13)

balita belum sempurna sehingga anak sering tersedak.

Penggunaan bumbu dalam pengolahan juga perlu diperhatikan. Menurut Uripi, V (2004) pemakaian bumbu yang merangsang perlu dihindari karena dapat membahayakan saluran pencernaan dan pada umumnya anak tidak menyukai makanan yang beraroma tajam.

Pengolahan makanan untuk balita adalah yang menghasilkan tekstur lunak dengan kandungan air tinggi yaitu direbus, diungkep atau dikukus. Untuk pengolahan dengan dipanggang atau digoreng yang tidak menghasilkan tekstur keras dapat dikenalkan tetapi dalam jumlah yang terbatas. Disamping itu dapat pula dilakukan pengolahan dengan cara kombinasi misal direbus dahulu baru kemudian dipanggang atau direbus/diungkep baru kemudian digoreng.

c. Penyajian

(14)

d. Cara Pemberian Makanan untukAnak

Anak balita sudah dapat makan seperti anggota keluarga lainnya dengan frekuensi yang sama yaitu pagi, siang dan malam serta 2 kali makan selingan yaitu menjelang siang dan pada sore hari. Meski demikian cara pemberiannya dengan porsi kecil, teratur dan jangan dipaksa karena dapat menyebabkan anak menolak makanan.

Waktu makan dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk belajar bagi anak balita, seperti menanamkan kebiasaan makan yang baik, belajar keterampilan makan dan belajar mengenai makanan. Orang tua dapat membuat waktu makan sebagai proses pembelajaran kebiasaan makan yang baik seperti makan teratur pada jam yang sama setiap harinya, makan di ruang makan sambil duduk bukan digendongan atau sambil jalan-jalan.

Makan bersama keluarga dapat memberikan kesempatan bagi balita untuk mengobservasi anggota keluarga yang lain dalam makan. Anak dapat belajar cara menggunakan peralatan makan dan cara memakan makanan tertentu. Anak usia ini mulai mengetahui cara makan sendiri meskipun masih mengalami kesulitan untuk mengambil atau menyendok makanan dengan demikian anak dilatih untuk dapat mengeksplorasi keterampilan makan tanpa bantuan.Untuk menumbuhkan keterampilan makan anak secara mandiri anak jangan dibiasakan untuk selalu disuapi oleh orang tua atau pengasuhnya.

(15)

makanan. Secara umum anak lebih suka memakan makanan yang dimakan orang tuanya. Seiring bertambahnya usia anak balita mulai tertarik dengan makanan yang dimakan oleh teman-temannya. Dengan demikian, orang tua sangat berperan dalam memberikan model atau contoh bagi anak dengan memilih makanan yang sehat dan bergizi.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makan Balita

a. Pengetahuan Ibu tentang Gizi Balita

Pengetahuan gizi merupakan suatu proses belajar tentang pangan, bagaimana tubuh menggunakan dan mengapa pangan diperlukan untuk kesehatan. Pengetahuan pangan dan gizi orang tua terutama ibu berpengaruh terhadap jenis pangan yang dikonsumsi sebagai refleksi dari praktek dan perilaku yang berkaitan dengan gizi (Zulkarnaen,dkk.,2000). Adanya pengetahuan gizi diharapkan seseorang dapat mengubah perilaku yang kurang benar sehingga dapat memilih bahan makanan bergizi serta menyusun menu seimbang sesuai dengan kebutuhan dan selera serta akan mengetahui akibat apabila terjadi kurang gizi.

Pengetahuan tentang pangan dan gizi dapat diperoleh melalui berbagai media baik cetak (majalah, tabloid) maupun elektronik (radio, televisi, internet) disamping dari buku-buku. Selain itu juga bisa diperoleh melalui pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas.

(16)

termasuk pengetahuan pangan, gizi dan kesehatan adalah media elektronik diantaranya televise dan radio. Namun, menurut penelitian Zulkarnaen,dkk (2000) untuk ibu-ibu rumah tangga di desa keberadaan posyandu justru lebih banyak dimanfaatkan sebagai sumber informasi pangan, gizi dan kesehatan. Hal ini karena disamping adanya kegiatan-kegiatan penyuluhan (penyampaian pesan-pesan gizi), posyandu juga merupakan tempat pertemuan ibu-ibu yang memiliki balita sehingga sangat memungkinkan adanya pertukaran informasi dan pengalaman dalam mengasuh balitanya.

b. Pendidikan

Menurut UU No.2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab I pasal 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan pendidikan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akandatang. Berkaitan dengan jenjang atau tingkatan yang ada dalam pendidikan sekolah, sikap dan kepribadian seseorang akan berubahsetelah memperoleh pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikan yang berbeda- beda.

(17)

ikut menentukan atau mempengaruhi mudah tidaknya seseorang menerima suatu pengetahuan, semakin tinggi pendidikan maka seseorang akan lebih mudah menerima informasi-informasi gizi.

Pendidikan ibu disamping merupakan modal utama dalam menunjang perekonomian rumah tangga juga berperan dalam pola penyusunan makanan untuk rumah tangga. Wahidah (2005) menyatakan bahwa tingkat pendidikan formal ibu rumah tangga berhubungan positif dengan perbaikan pola konsumsi pangan keluarga dan pola pemberian makanan pada bayi dan anak. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan akan mempengaruhi konsumsi melalui pemilihan bahan pangan.

c. Pendapatan RumahTangga

Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik berupa uang maupun barang dari pihak lain maupun hasi sendiri dengan jalan dinilai dengan uang atas dasar harga saat itu (Mulyono,dkk 1985). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pendapatan per kapita masyarakat Indonesia tahun 2007 naik 17% menjadi US$ 1.946 atau sekitar 17,9 juta rupiah per tahun (kurs 9.200), berarti pendapatan per kapita rata – rata masyarakat Indonesia per bulan sekitar 1,46 juta rupiah.

(18)

pendapatan rumah tangga pedesaan. Secara garis besar ada dua sumber pendapatan rumah tangga pedesaan yaitu sektor pertanian dan non- pertanian. Struktur dan besarnya pendapatan dari sektor pertanian berasal dari usaha tani/ternak dan berburuh tani. Sedangkan dari sektor nonpertanian berasal dari usaha nonpertanian, profesional, buruh non pertanian dan pekerjaan lainnya di sektor non pertanian.

(19)

d. Besar Keluarga

Wahidah (2005) menyatakan bahwa besar keluarga yaitu banyaknya anggota suatu keluarga akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga. Termasuk dalam hal ini akan mempengaruhi konsumsi pangan. Sehingga jumlah anggota keluarga yang semakin besar akan menyebabkan pendistribusian konsumsi pangan akan semakin tidak merata tanpa diimbangi dengan meningkatnya pendapatan.

Menurut Zulkarnaen,dkk (2000) jumlah anggota rumah tangga yang sedikit akan lebih mudah meningkatkan kesejahteraan, pemenuhan pangan dan sandang serta upaya meningkatkan pendidikannya lebih tinggi. Keluarga miskin dengan jumlah anak yang banyak akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan pangannya jika dibandingkan keluarga dengan jumlah anak yang sedikit. Jika besar keluarga bertambah maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda memerlukan pangan relatif lebih banyak dari pada anak yang lebih tua.

e. Kebiasaan Makan

(20)

akan menjadi perilaku yang berakar diantara kelompok penduduk.

Kebiasaan makan adalah suatu gejala budaya dan sosial yang dapat memberi gambaran perilaku dari nilai – nilai yang dianut oleh seseorang atau suatu kelompok masyarakat. Pada masyarakat kota modern dimana hampir semua orang menghabiskan waktu dari pagi sampai sore di tempat kerja sudah tentu tidak banyak mempunyai waktu untuk memasak makanan. Biasanya pada masyarakat seperti ini akan berkembang kebiasaan makan di restoran cepat saji dimana nilai gizi yang terkandung dalam makanan belum tentu sesuai dengan kebutuhan. Hal sebaliknya terjadi pada masyarakat pedesaan dimana kebiasaan makan keluarga dari makanan yang diolah dan dimasak sendiri.

Kebiasaan makan seseorang terbentuk dari proses belajar (learning behavior). Apabila sejak dini orang tua tidak memperkenalkan atau

membiasakan makan dengan benar maka hal itu akan terbawa hingga anak dewasa. Hal ini karena bersamaan dengan pangan yang disajikan dan diterima baik langsung atau tidak langsung, anak-anak menerima pula informasi yang berkembang menjadi perasaan, sikap dan tingkah laku serta kebiasaan yang dapat mereka kaitkan dengan pangan.

4. Penilaian Pola Pemberian Makan

(21)

𝑁 = 𝑆𝑚 × 100%𝑆𝑝

Keterangan:

N : nilai pola makan Sp : skor yang didapat Sm : skor maksimum

Persentase diinterpretasikan dengan nilai patokan: a. Kategori baik = > 15 mean

b. Kategori kurang baik = 15 mean

C.Faktor Pendapatan

Merupakan jumlah penghasilan yang diperoleh keluarga dalam satu bulan yang dapat dikategorikan dalam penghasilan yang kurang, cukup maupun berpenghasilan tinggi yang nantinya akan berpengaruh dalam memantau tumbuh kembang. Atau menggunakan standar UMR (Upah Minimum Regional) yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. UMR Kabupaten Banyumas tahun 2016 sebesar Rp.1.350.000.Pengukuran pendapatan juga dapat dilakukan berdasarkan persepsi individu berdasarkan pendapatannya selama satu bulan dengan dinyatakan ke dalam persepsi kurang, cukup dan tinggi menurut tingkat kecukupan kebutuhannya. (Badan Pusat Statistik, 2008).

1. Tingkat Pendapatan Keluarga

a. Data Ekonomi Keluarga

Data ekonomi keluarga meliputi:

(22)

2) Pendapatan keluarga (gaji, upah, imbalan, industri rumah tangga, pertanian pangan/non pangan, dan hutang).

3) Kekayaan yang terlihat seperti tanah, jumlah ternak, mobil, motor, dan lain-lain).

4) Pengeluaran/anggaran (pengeluaran untuk makanan, pakaian, listrik, pendidikan, minyak/bahan bakar, transportasi, rekreasi, dan lain-lain).

5) Harga makanan yang tergantung pada pasar dan variasi musim. (Supariasa, Bakri, & Fajar, 2012).

2. Sumber Pendapatan Keluarga

Pendapatan Keluarga adalah jumlah pendapatan tetap dan sampingan dari kepala keluarga, ibu, dan anggota keluarga lain dalam 1 bulan dibagi jumlah seluruh anggota keluarga yang dinyatakan dalam rupiah per kapita per bulan (Ernawati, 2006).

(23)

kekayaan, dan keluarga dengan kekayaan lebih dapat memperoleh tambahan pendapatan (Raffalovich, Monnat, & Tsao, 2009).

D.Status Gizi

Status gizi adalah gambaran keseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizi seseorang. Apabila asupan tersebut sesuai maka disebut status gizi baik, jika asupan kurang disebut status gizi kurang dan selanjutnya asupan gizi lebih (Indonesian Nutrition Network Forum, 2005).

Status gizi sangat penting untuk diketahui guna menentukan ada tidaknya gangguan gizi. Gangguan gizi yang terjadi pada bayi dan balita mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, baik pada masa balita maupun pada masa berikutnya sehingga perlu mendapatkan perhatian karena balita adalah generasi penerus bangsa. Penyebab gangguan gizi pada anak adalah tidak sesuainya jumlah zat gizi yang di peroleh dengan kebutuhan tubuh, termasuk kurangnya asupan gizi (lemak, protein dan karbohidrat), infeksi dan yang paling penting karena kurangnya perhatian dari ibu maupun keluarga terdekat (Arty, 2009).

1. Klasifikasi Status Gizi

Klasifikasi status gizi balita telah disepakati oleh pakar gizi pada bulan Mei tahun 2000 di semarang tentang standar baku nasional diIndonesia, yaitu nilai indeks antropometri berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi badan dibandingkan dengan nilai rujukan WHO-NCHS.

(24)

buruk. Indikator tinggi badan menurut umur mencerminkan keadaan gizi masa lalu, klasifikasi terdiri dari normal dan pendek. Indikator berat badan menurut tinggi badan digunakan untuk menilai keadaan gizi secara lebih khusus karena mencerminkan keadaan gizi masa lalu dan sekarang, klasifikasi terdiri dari gemuk, normal, kurus, dan kurus sekali (Indonesia Nutrition Network Forum, 2005).

Pemilihan dan penggunaan indikator sangat dipengaruhi oleh subjek yang akan diukur dan ditimbang, ketersediaan alat dan kemampuan petugas. Pengukuran tinggi badan pada kelompok balita sering mengalami kesulitan, selain itu dalam pelaksanaannya dibutuhkan dua orang petugas yang terlatih. Pelaksanaan pengukuran antropoetri terhadap balita diPosyandu masih terbatas pada penimbangan berat badan menggunakan dacin dengan pertimbangan lebih mudah dalam pelaksanaan dan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum (Indonesia Nutrition Network Forum, 2005).

2. Tujuan Pemantauan Status Gizi

(25)

3. Cara Pemantauan Status Gizi

Cara pemantauan dan penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Pada umumnya pemantauan status gizi adalah dengan cara antropometri yaitu menilai ukuran tubuh. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, 2002).

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak dibawah kulit (Supariasa, 2002).

Umur sangat penting dalam pemantauan status gizi. Hasil pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Menurut puslitbang gizi, batasan umur digunakan adalah tahun umur penuh, dan untuk anak umur 0 sampai 2 tahun digunakan bulan usia penuh (Supariasa, 2002).

(26)

baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks berat badan menurut umur adalah gizi baik bila berat badan berada > 80% dari median berat baku rujukan WHO-NCHS (National Centre for Health Statistics), gizi kurang 61-80 persen dan gizi buruk ≤ 60 persen (Supariasa, 2002).

4. Status Gizi Baik

Cara mengetahui pertumbuhan berat badan anak balita dan usia sekolah dapat menggunakan KMS, Selanjutnya, jabaran AKG menurut takaran konsumsi makanan sehari, berdasarkan kelompok umur adalan sebagai berikut:

Tabel 2.3 Anjuran jumlah porsi menurut kecukupan energi

kelompok umur 3-5 tahun

Golongan Umur Bahan Makanan Berat (gr) URT

3-5 tahun Nasi 300 2 ½ gelas

(27)

berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. b. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah berat badan kilogram dibagi tinggi badan kuadrat dalam meter. Indeks massa tubuh merupakan cara untuk menggambarkan berat badan dalam hubungannya dengan tinggi badan. c. Indeks Antropometri

Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Berapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu :

1) Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin, maka BB berkembang mengikuti pertambahan umur. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, makan indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini.

2) Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.

3) Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)

(28)

dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.

Tabel 2.4 Gabungan Beberapa Indeks Antropometri

BB / TB BB / U TB / U Status gizi

Normal Rendah Rendah Baik, pernah kurang gizi Normal Normal Rendah Baik

Normal Tinggi Tinggi Jangkung, baik Rendah Rendah Tinggi Buruk

Rendah Rendah Normal Buruk / kurang Rendah Normal Tinggi Kurang

Tinggi Tinggi Rendah Lebih, kemungkinan obes Tinggi Rendah Rendah Lebih, pernah kurang gizi Tinggi Tinggi Rendah Lebih, tetapi tidak obes

Sumber : Arisman, 2007

Bentuk indikator gabungan diatas dimaksudkan untuk mempertajam dan memperjelas interprestasi status gizi agar penanggulangannya dapat lebik baik dalam menentukan prioritas maupun jenis perlakuan atau intervensi.

Tabel 2.5 Klasifikasi Menurut Standar WHO-NCHS

Indeks Status Gizi Ambang batas

BB / U Gizi lebih > 2,0 SD

Gizi baik - 2,0 SD / + 2 SD Gizi kurang < - 2 SD

(29)

Berdasarkan penilaian Z-skor adalah sebagai berikut : a. BB/ U ( Berat bada menurut Umur berdasarkan Z-Score ) 1) Gizi buruk ; <- 3 SD

2) Gizi kurang : -3 SD sampai -2 SD 3) Gizi baik : -2 SD sampai +2 S 4) Gizi lebih ; > +3 SD

b. TB/ U ( Tinggi badan menurut Umur berdasarkan Z-Score) 1) Normal : > -2 SD

2) Rendah : <-2 SD

Menurut Depkes RI (2005) Paremeter BB/TB berdasarkan Z-Score diklasifikasikan menjadi :

1) Gizi Buruk (Sangat Kurus) ; <-3 SD 2) Gizi Kurang (Kurus) : -3SD sampai <-2SD 3) Gizi Baik (Normal) : -2 SD sampai +2SD 4) Gizi Lebih (Gemuk) : > +2 SD

Dampak kurang gizi pada anak dapat meningkatkan risiko kematian, menghambat perkembangan kognitif, dan mempengaruhi status kesehatan pada usia remaja dan dewasa (Almatsier, Soetardjo & Soekatri, 2011).

c. Klinis

(30)

dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, dan organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Tanda klinik seperti pucat, kemungkinan defisiensi zat gizinya adalah kurang zat besi, gusi berdarah kemungkinan kurang vitamin c, dan pembesaran kelenjar tiroid kemungkinan kurang yodium.

d. Biokimia

Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh, antara lain: darah, urine, tinja, dan juga eberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.

Penggunaan: Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. e. Biofisik

Merupaan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dan jaringan.

Penggunaan: Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja endemic. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

6. Karakteristik dan Fungsi Gizi

a. Protein

(31)

dan pada keadaan tertentu, unsur fosfor. 1) Fungsi Protein

Protein berperan sebagai penunjang pertumbuhan, pengatur proses tubuh, dan energy. Sebagai penunjang pertumbuhan, protein merupakan unsur utama matriks tulang dan gigi, kulit, kuku, rambut, sel darah dan serum. Protein dalam pengaturan proses tubuh menjalankan fungsi yang sangat khusus. Protein juga merupakan sumber energi, ini dapat dipahami karena tiap gram protein menghasilkan kurang lebih 4 kkal. (0,01 MJ).

2) Masalah Kelebihan dan Kekurangan Protein

Masalah yang diakibatkan oleh asupan protein berlebih terjadi bila asupan protein lebih dari 20% total kalori selama masa bayi. Kompensasi kelebihan protein yang diikuti oleh peningkatan kebutuhan air dapat menimbulkan dehidrasi. Kurang gizi dan infeksi saling berkaitan, membentuk sebuah lingkaran setan, anak terkena infeksi kelhilangan nafsu makan sehingga asupan zat gizi kurang dari kebutuhan dan menyebabkan peningkatan proses metabolism. Kadar protein semakin berkurang, akibatnya ketahanan tubuh menurun sehingga anak mudah terserang infeksi. b. Karbohidrat

(32)

ganda), dan polisakarida (termasuk molekul gula simpleks). 1) Peran Karbohidrat

Karbohidrat diguaakan sebagai pemenuhan kebutuhan energi oleh tubuh. Namun, ada beberapa karbohidrat digunakan juga untuk sintesis sejumlah senyawa pengatur seperti karbohidrat sebagai pengasil energi, aksi penadangan protein, pengatur metabolisme lemak, dan berperan dakam system penernaan.

2) Sumber Karbohidrat

Pada masa bayi muda, lakosa merupakan karbohidrat yang dihasilkan lebih banyak dari ASI dan susu sapi. Namun, seiring pertambahan usia, pemenuhan kebutuhan karbohidrat pada bayi perlu ditambahkan dari sumber lain, seperti biji-bijian, roti, dan makanan lain misalnya kentang.

3) Masalah Kekurangan dan Kelebihan Karbohidrat

Kekurangan karbohidrat terjadi bila asupan karbohidrat rendah atau dibawah kebutuhan tubuh. Bila karbohidrat tidak ada sama sekali dari makanan yang dikonsumsi, segera munul gejala dehidrasi, ketosis, kehilangan protein tubuh, kelelahan, dan kehilangan energi. Asupan karbohidrat yang berlebihan mengakibatkan penurunan asupan zat gizi esensial lain sehingga timbul defisiensi gizi dan kelebihan berat badan.

c. Lemak

(33)

proporsi oksigen lebih rendah. Seara kimiawi, lemak makanan terdiri atas ampuran trigliserida. Asam lemak dibedakkan menjadi asam lemak jenuh merupakan asam lema yang stabil dan tidak mempunyai ikatan ganda. Asam lemak tak jenuh memiliki lebih dari dua ikatan yang bereaksi seara bertahap dengan udara. Reaksi ini menyebabkan tengik. Asam lemak tak jenuh diperoleh dari asam oleat, asam linoleat dan asam arakidonat.

Fungsi utama lemak adalah memberikan energi. Tiap gram lemak setelah proses oksidasi menghasilkan kurang lebih 9 kalori. Lemak juga berfungsi sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K. Lemak memberikan perasaan kenyang karena keepatan pengosongan dari lambung berhubungan dengan kandungan lemak dalam makanan.

d. Vitamin

Vitamin merupakan bahan makanan organic. Dalam jumlah keil, vitamin diperlukan untuk pertumbuhan normal dan kesehatan tubuh. Jumlah vitamin yang dibutuhkan tubuh sehari-harinya relative keil karena vitamin diperkirakan sebagai katalisator.

1) Maam-maam Vitamin dan Manfaatnya

(34)

kesehatan, kekebalan tubuh, pertumbuhan dan perkembangan dan sangat baik untuk menjaga kesehatan kulit.

Sumber-sumber Vitamin A , Hewani : Hati, Kuning telur, susu, mentega dan minyak ikan.Nabati : Karoten sumber karoten adalah sayuran berwarna hijau, dan buah-buahan yang berwarna kuning seperti Wortel, pisang dan pepaya.Penyakit Akibat Kekurangan Vitamin Adapat mengakibatkangangguan penglihatan, rabun senja, katarak dan penurunan daya tahan tubuh.

b) Vitamin BAda beberapa kelompok golongan Vitamin B (B Komplek) dan secara umum manfaat vitamin Bberperan penting dalam metabolisme tubuh, terutama dalam hal pelepasan energi saat kita melakukan aktivitas.Peranan Vitamin Bdi dalam tubuh sebagai senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju reaksi metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Selain itu beberapajenis-jenis vitamin Bini juga berperan dalam pembentukan sel darah merah Sumber vitamin Bberasal dari susu, gandum, ikan, dansayur-sayuran hijau.

(35)

merupakan antioksidan alami yang bisa menangkal berbagai radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh kita sehingga meminimalisir risiko terjadinya berbagai penyakit degenaratif, sepertikanker Servik,kanker payudaradan berbagai jenis penyakit degeneratif lain.Selain itu, vitamin c juga berperan dalam menjaga kebugaran tubuh danmencegah penuaan diri, sangat baik dan bermanfaat vitamin c untuk kecantikan kulitbisa mencegah mencegah berbagai jenis penyakit dan infeksi.

Sumber Vitamin C yaitu Jeruk banyak terdapat pada buah-buahan seperti jeruk, tomat, semangka dan

sayur-sayuranlainnya. Kekurangan vitamin C bisa menyebabkanGusi

berdarah dan nyeri pada persendian, kurangnya imunitas tubuh. namun kelebihan konsumsi vitamin C berdampak buruk terhadap ginjal dan gangguan saluran pencernaan.

d) Vitamin D adalah jenis vitamin yang paling mempengaruhi bagian tulang. Sumber Vitamin D banyak di temukan pada jenis makanan seperti ikan, telur, susu, dan keju. sel kulit akan memproduksi Vitamin ini disaat terkena cahaya matahari.Manfaat dan fungsi Vitamin D adalah mempengaruhi pertumbuhan tulang, membantu metabolisme kalsium dan mineral penting untuk tulang.

(36)

huruf O dan X. selain itu kurangnya vitamin D menyebabkan gigi mudah mengalami kerusakan, dan hilangnya unsur kalsium dan fosfor secara berlebihan di dalam tulang yang berakibat rapuhnya kekuatan tulang.

e) Fungsi Vitamin Eberperan sebagai anti oksidan alami dan untuk menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh, mulai dari mata, sel darah merah, hati dan jaringan kulit,. karena itu Vitamin E bisamenghambat dan mencegah penuaan dini.Sumber Vitamin Ebanyak terdapat pada ikan, ayam, kuning telur, ragi, dan minyak tumbuh-tumbuhan.

Kekurangan vitamin E menyebabkangangguan kesehatan yang fatal bagi tubuh seperti kemandulan dankeguguran, Konsumsi vitamin E sangat penting untuk tubuh baik bagi pria maupun wanita dan vitamin ini mempengaruhikehamilan.

f) Salah satu Vitamin yang larut dalam Lemak, Fungsi Vitamin Kyaitu berperan dalam pembekuandarahdan berpengaruh terhadap penutupan luka. Makanan Sumber Vitamin K seperti Sayur-sayuran hijau, brokoli, kol, hati, kacang polong dan buncis.Kekurangan Vitamin Kakan berakibat pada kesulitan pembekuan darah saat terjadi luka atau pendarahan.

7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Balita

(37)
(38)

E. Kerangka Teori

(39)

Gambar 2.3. Kerangka Teori menurut Notoatmodjo (2003), Zulkarnaen, dkk (2000)

Pengetahuan : 1. Tahu

2. Memahami 3. Aplikasi 4. Analisis 5. Sintesis 6. Evaluasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola

pemberian makan: 1. Pengetahuan ibu 2. Pendidikan

3. Pendapatan keluarga 4. Besar keluarga 5. Kebiasaan makan

(40)

F. Kerangka Konsep

Variabel Dependen Variabel Independent

Gambar 2.4. Kerangka Konsep Penelitian

G. Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah :

“Ada Hubungan Antara Pengetahuan Ibu, Pola Pemberian Makan, Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi Pada Balita”

Pengetahuan Ibu

Pola Pemberian Makan Balita

Pendapatan Rumah Tangga

Gambar

Tabel 2.2 Contoh Menu Anak Usia 3 – 5 Tahun
Tabel 2.3 Anjuran jumlah porsi menurut kecukupan energi
Tabel 2.4 Gabungan Beberapa Indeks Antropometri
Gambar 2.3. Kerangka Teori menurut Notoatmodjo (2003), Zulkarnaen, dkk
+2

Referensi

Dokumen terkait

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah (Skripsi) yang berjudul PERSEPSI PEMBUBARAN ORMAS ISLAM (Studi Kualitatif tentang Persepsi Komunikasi Mengenai

Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa secara bersama-sama variabel struktur modal, likuiditas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap luas pengungkapan

Sahabat MQ/ Panitia Peringatan Serangan Oemoem -SO- 1 maret -Jogja Kembali 29 Huni bekerjasama dengan Meseum Benteng Vrederburg menyelenggarakan berbagai kegiatan lomba/

Sejatinya makna yang di tangkap dari manaqib adalah cerita atau kisah yang bagus atau baik 17 , jadi bila melihat dari sini, dapatlah di nilai bahwa kitab manaqib

konstruksi kapal kayu 5.1 Memahami gambar kerja 5.2 Membuat mal konstruksi kapal. 5.3 Membuat komponen konstruksi kapal

Dalam tempoh empat dekad, pengkaji mendapati kerajaan telah memberi penekanan dan keutamaan kepada program dan aktiviti pembangunan tanah baru, pembangunan dan

Penulisan skripsi dengan judul ANALISIS TOP-DOWN DALAM MENILAI HARGA WAJAR SAHAM PT ASTRA AGRO LESTARI TBK (AALI) PERIODE JANUARI 2007—DESEMBER 2007 ini merupakan karya ilmiah

Data yang diperoleh telah dicocokkan dengan situs Yahoo Weather dan hasil yang didapatkan dari situs tersebut sama dengan yang ditampilkan pada aplikasi dasbor cuaca1.