• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT BANK SINARMAS Tbk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PT BANK SINARMAS Tbk"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

PT BANK SINARMAS Tbk

Laporan Keuangan dan Catatan atas Laporan Keuangan

Pada Tanggal 30 Juni 2011 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2010 (Diaudit)

serta Untuk Periode-periode Interim yang berakhir 30 Juni 2011 (Tidak Diaudit)

dan 30 Juni 2010 (Tidak Diaudit)

(2)

Surat Pernyataan Direksi Tentang Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan PT Bank Sinarmas Tbk Pada Tanggal 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010 serta untuk Periode-periode Interim yang Berakhir 30 Juni 2011 dan 30 Juni 2010

LAPORAN KEUANGAN - Pada tanggal 30 Juni 2011 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2010 (Diaudit) serta untuk Periode-periode Interim yang berakhir 30 Juni 2011 (Tidak Diaudit) dan 30 Juni 2010 (Tidak Diaudit)

Laporan Posisi Keuangan 1

Laporan Laba Rugi Komprehensif 3

Laporan Perubahan Ekuitas 5

Laporan Arus Kas 7

(3)
(4)

ASET

Kas 2c,2f,33,34,38 250.018 269.274

Giro pada Bank Indonesia 2c,2f,2g,4,33,34,38 1.168.895 1.067.918

Giro pada bank lain 2b,2c,2f,5,33,34,38

Pihak yang berelasi 2d,31 18.178 277

Pihak ketiga 740.956 86.295

Cadangan kerugian penurunan nilai 2j -

-Jumlah - bersih 759.134 86.572

Penempatan pada bank lain 2b,2c,2f,2h,6,33,34,38

Pihak ketiga 4.209 706.189

Cadangan kerugian penurunan nilai 2j 0 0

Jumlah - bersih 4.209 706.189

Efek-efek 2b,2c,2f,7,33,34,38

Pihak ketiga 1.847.494 1.472.091

Cadangan kerugian penurunan nilai 2j (40) 0

Jumlah - bersih 1.847.454 1.472.091

Efek yang dibeli dengan janji jual

kembali - pihak ketiga 2c,2f,8,33,34,38 70.595 75.221

Bunga diterima dimuka yang belum diamortisasi (519) (283)

Jumlah bersih 70.076 74.938

Kredit yang diberikan 2b,2c,2f,2i,9,33,34,38

Pihak yang berelasi 2d,31 936.992 794.940

Pihak ketiga 7.317.383 6.216.856

Jumlah 8.254.375 7.011.796

Cadangan kerugian penurunan nilai 2j (91.331) (77.638)

Jumlah - bersih 8.163.044 6.934.158

Pendapatan bunga yang masih akan diterima 2c,2d,2f,2s,10,31,33,34,38 49.927 47.353

Biaya dibayar dimuka 2d,2o,11,31 61.741 46.100

Aset tetap 2o,12,28,29

Biaya perolehan 366.437 294.339

Akumulasi penyusutan (79.023) (66.362)

Jumlah - bersih 287.414 227.977

Obyek Ijarah - bersih 2i,13 128.973 219.158

Aset lain-lain - bersih 2c,2d,2f,2m,2u,14,33,34,38 129.180 80.451

JUMLAH ASET 12.920.065 11.232.179

(5)

Catatan 30 Juni 2011 31 Desember 2010 Rp '000,000 Rp '000,000 LIABILITAS DAN EKUITAS

Liabilitas

Liabilitas segera lainnya 2c,2d,2f,15,31,33,34,38 40.173 46.739

Simpanan 2c,2f,2p,16,33,34,38

Pihak yang berelasi 2d,31 4.694.400 4.443.285

Pihak ketiga 6.604.449 5.375.929

Jumlah 11.298.849 9.819.214

Simpanan dari bank lain 2c,2f,2p,17,33,34,38

Pihak yang berelasi 2d,31 13.267 14.250

Pihak ketiga 222.372 352.603

Jumlah 235.639 366.853

Utang pajak 2c,2v,19,33 16.371 25.208

Surat berharga yang diterbitkan 2r,34,38 1.381 1.616

Estimasi kerugian komitmen dan

kontinjensi 2c,2t,20,32,33 3.474 3.537

Bunga yang masih harus dibayar 2c,2d,2f,2s,21,31,33,34,38 29.782 24.564

Liabilitas pajak tangguhan - bersih 2v 14.016 14.016

Cadangan imbalan pasti pasca-kerja 2v 7.604 8.324

Liabilitas lain-lain 2c,2d,2f,22,31,33,34,38 30.575 10.614

Jumlah Liabilitas 11.677.864 10.320.685

Ekuitas

Modal saham - nilai nominal Rp 100 per saham Modal dasar - 20.000.000.000 saham tahun

2011 dan 2010

Modal ditempatkan dan disetor 9.066.347.400 saham tahun 2011 dan

7.280.500.000 saham tahun 2010 23 906.635 728.050

Tambahan modal disetor 2q,23 164.615 75.322

Cadangan umum 35 3.000 3.000

Rugi yang belum direalisasi atas penurunan

nilai wajar efek 2f,7 (38.077) (39.572)

Saldo laba 2b 206.028 144.694

Jumlah Ekuitas 1.242.201 911.494

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 12.920.065 11.232.179

(6)

PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL

Pendapatan Bunga dan Bagi Hasil 2s,13,25 602.910 425.704

Beban Bunga dan Bagi Hasil 2s,26 357.386 228.647

Pendapatan Bunga - Bersih 245.524 197.057

Pendapatan Operasional Lainnya Provisi dan komisi selain dari

kredit 2t 34.980 34.353

Pemulihan nilai aset keuangan -

-Keuntungan dari kenaikan nilai wajar

efek yang diperdagangkan - bersih 3.861 1.372

Keuntungan kurs mata uang asing - bersih 2c 2.669 1.245

Lain-lain 249 172

Jumlah Pendapatan Operasional Lainnya - Bersih 41.759 37.142

Beban Operasional Lainnya

Umum dan administrasi 2d,2x,27,31 106.576 82.385

Tenaga kerja 73.196 53.696

Kerugian penurunan nilai aset keuangan 2f,2j,5,6,7,9 11.281 17.136

Penyusutan aset tetap 2k,12 12.706 10.955

Lain-lain 1.567 481

Jumlah Beban Operasional Lainnya 205.326 164.653

Beban Operasional Lainnya - Bersih (163.567) (127.511)

LABA OPERASIONAL 81.957 69.546

PENDAPATAN DAN BEBAN NON-OPERASIONAL

Pendapatan Non-Operasional - Bersih 12,14,28 26 93

Beban Non-Operasional 12,14,29 203 2.980

PENDAPATAN NON-OPERASIONAL - BERSIH (177) (2.887)

LABA SEBELUM PAJAK 81.780 66.659

BEBAN PAJAK 2v

Kini 20.445 16.692

20.445 16.692

LABA BERSIH 61.335 49.967

LABA BERSIH PER SAHAM DASAR

(Dalam Rupiah Penuh) 2w,30

Dasar 8,22 8,80

Dilusian 7,27

-Total laba rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada:

Pemilik entitas induk -

-Kepentingan non pengendali -

(7)

Catatan 30 Juni 2011 30 Juni 2010

(6 Bulan) (6 Bulan)

Rp '000.000 Rp '000.000

Laba bersih tahun berjalan 61.335 49.967

PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN:

Selisih kurs penjabaran laporan dalam valuta asing -

-Aset keuangan tersedia untuk dijual 2f,7 (38.077) (39.609,00)

Lindung nilai arus kas -

-Keuntungan revaluasi aset tetap -

-Keuntungan (kerugian) aktuarial program pensiun -

-manfaat pasti

Bagian pendapatan komprehensif lain entitas -

-asosiasi

Pajak Penghasilan Terkait -

-PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN TAHUN

BERJALAN SETELAH PAJAK (38.077) (39.609)

TOTAL LABA RUGI KOMPREHENSIF TAHUN

BERJALAN 23.258 10.358

Total laba rugi komprehensif yang dapat diatribusikan kepada:

Pemilik entitas induk -

(8)

-5

Catatan Modal Saham Cadangan Umum Disetor - Bersih Nilai Wajar Efek Saldo Laba Jumlah Ekuitas Rp '000.000 Rp '000.000 Rp '000.000 Rp '000.000 Rp '000.000

Saldo pada tanggal 1 Januari 2011 728.050 3.000 75.322 (39.572) 144.694 911.494

Laba yang belum direalisasi atas peningkatan nilai wajar efek

tersedia untuk dijual - - - 1.495 - 1.495

Eksekusi waran seri I 24 178.585 - 89.292 - - 267.877

Kenaikan cadangan umum - - - - -

-Laba bersih tahun berjalan - - - - 61.335 61.335

Saldo per 30 Juni 2011 906.635 3.000 164.614 (38.077) 206.029 1.242.201

(9)

Laba (Rugi) yang Belum Direalisasi atas Penurunan

Catatan Modal Saham Cadangan Umum Nilai Wajar Efek Saldo Laba Jumlah Ekuitas Rp '000.000 Rp '000.000 Rp '000.000 Rp '000.000 Rp '000.000

Saldo pada tanggal 1 Januari 2010 525.000 2.500 (42.072) 86.001 571.429

Dampak penerapan awal PSAK 50 dan PSAK 55 2b - - - 437 437

Saldo pada tanggal 1 Januari 2010,

setelah dampak penerapan awal PSAK 50 dan PSAK 55 525.000 2.500 (42.072) 86.438 571.866

Kapitalisasi saldo laba menjadi

modal saham 23 43.050 - - (43.050)

-Laba yang belum direalisasi atas

penurunan nilai wajar efek - - 2.463 - 2.463

Kenaikan cadangan umum - 500 - (500)

-Laba bersih tahun berjalan - - - 49.967 49.967

Saldo per 30 Juni 2010 568.050 3.000 (39.609) 92.855 624.296

(10)

Pendapatan bunga, provisi dan komisi selain kredit 600.336 10, 25 429.946 Pendapatan operasional lainnya 35.229 34.525 Beban bunga dan beban keuangan lainnya (352.168) 21, 26 (226.946) Keuntungan selisih kurs mata uang asing - bersih 18.809 6.806 Beban umum dan administrasi (108.863) 27 (81.845) Beban tenaga kerja (73.196) 27 (53.696) Beban non-operasional - bersih (177) 29 (2.934) Arus kas operasional sebelum perubahan

aset dan kewajiban operasi 119.970 105.856 Penurunan (kenaikan) aset operasi :

Penempatan pada bank lain - 6 97 Efek-efek (1.389) 7 (22.855) Efek yang dibeli dengan janji dijual kembali 4.862 8 10.018 Kredit yang diberikan (1.240.127) 9 (393.705) Biaya dibayar dimuka (15.641) 11 (3.566) Obyek ijarah - bersih 90.185 13 (90.663) Aset lain-lain (48.729) 14 (7.173) Kenaikan (penurunan) kewajiban operasi :

Kewajiban segera (6.566) 15 (40.967) Simpanan 1.479.635 16 393.682 Simpanan dari bank lain (131.214) 17 69.729 Hutang pajak (29.282) 19, 30 (26.657) Surat berharga yang diterbitkan (235) (544) Efek yang dijual dengan janji dibeli kembali - 18 (52.907) Kewajiban lain-lain 19.961 22 23.872 Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk)

Aktivitas Operasi 241.430 (35.783)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI

Hasil penjualan aset tetap 28 12, 28, 29 51 Perolehan aset tetap (72.171) 12 (21.847)

Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas investasi (72.143) (21.796)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN

Perolehan dari eksekusi waran seri I 267.878 23, 24 -Pembiayaan biaya emisi saham - -Penambahan modal disetor -

-Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas investasi 267.878

-KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN

SETARA KAS 437.165 (57.579)

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 2.301.226 1.420.684 Pengaruh perubahan kurs mata uang asing (16.203) (8.259) KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 2.722.188 1.354.846

PENGUNGKAPAN TAMBAHAN Kas dan Setara Kas terdiri dari :

Kas 250.018 197.093

Giro pada Bank Indonesia 1.168.895 321.909 Giro pada bank lain 759.134 749.011 Penempatan pada bank lain - jangka waktu

jatuh tempo tiga bulan atau kurang sejak

tanggal perolehan 4.209 84.233 Efek-efek

Bank Indonesia Intervensi - bersih yang jatuh tempo tiga bulan atau kurang

sejak tanggal perolehan 539.932 2.600 Sertifikat Bank Indonesia - bersih yang

jatuh tempo tiga bulan atau kurang

sejak tanggal perolehan - -Jumlah Kas dan Setara Kas 2.722.188 1.354.846

TRANSAKSI BUKAN KAS

Kapitalisasi saldo laba menjadi modal saham - 23 43.050 Reklasifikasi aset tetap menjadi aset tetap tidak

digunakan -

-Reklasifikasi aset tetap yang tidak digunakan

menjadi aset tetap -

-Penghapusbukuan aset tetap 6 12 -Penghapusbukuan kredit yang diberikan 109 9

(11)

1. Umum

a. Pendirian dan Informasi Umum

PT Bank Sinarmas Tbk (“Perusahaan”) didirikan pada tahun 1989 dengan nama PT Bank Shinta Indonesia, berdasarkan Akta No. 52 tanggal 18 Agustus 1989 dari Buniarti Tjandra, S.H., notaris di Jakarta, dan telah diubah dengan Akta No. 91 tanggal 15 September 1989 dari notaris yang sama. Akta pendirian ini telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. C2-9142.HT.01.01-TH.89 tanggal 27 September 1989 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 49 tanggal 21 Juni 2005, Tambahan No. 6448.

Pada tanggal 26 Januari 2007, Perusahaan berganti nama menjadi PT Bank Sinarmas. Perubahan nama tersebut telah disetujui melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perusahaan yang didokumentasikan dalam Akta No. 1 tanggal 21 November 2006 dari Triphosa Lily Ekadewi, S.H., notaris di Jakarta. Perubahan Anggaran Dasar tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusannya No. W7-03960 HT.01.04-TH.2006 tanggal 20 Desember 2006. Perubahan nama tersebut juga telah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.9/4/KEP.GBI/2007 tanggal 22 Januari 2007 tentang Perubahan Izin Usaha Atas Nama PT Bank Shinta Indonesia menjadi Izin Usaha Atas Nama PT Bank Sinarmas.

Berdasarkan dengan Akta No. 1 tanggal 8 Oktober 2009 dari Endang Saritomo Utari, S.H., notaris di Jakarta, mengenai perubahan Anggaran Dasar dalam rangka melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip perbankan syariah dan perpanjangan masa jabatan direksi dan komisaris. Perubahan ini telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.10-22483. Tahun 2009 tanggal 11 Desember 2009.

Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 6 April 2010 yang didokumentasikan dalam Akta No. 31 tanggal 6 April 2010 dari Sutjipto, S.H., Mkn, notaris di Jakarta, disetujui sebagai berikut:

a. Pemecahan nilai nominal saham Perusahaan dari Rp 500.000 per saham menjadi Rp 100 per saham.

b. Penggunaan saldo laba pada tanggal 31 Desember 2009 sebesar Rp 500 juta untuk menjadi Cadangan Umum dan sebesar Rp 43.050 juta menjadi saham untuk dibagikan secara proporsional kepada pemegang saham mulai efektif pada bulan April 2010. c. Perubahan status perusahaan dari Perseroan Terbatas Tertutup menjadi Perseroan

Terbatas Terbuka (Tbk).

d. Mengubah seluruh Anggaran Dasar Perusahaan dalam rangka penyesuaian dengan Peraturan Bapepam dan LK No. IX.J.I, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. Kep 179/BL/2008 tanggal 14 Mei 2008 tentang Pokok-pokok Anggaran Dasar Perseroan yang Melakukan Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas dan Perusahaan Publik.

e. Mengubah seluruh Anggaran Dasar Perusahaan, antara lain nama Perusahaan berubah menjadi PT Bank Sinarmas Tbk.

(12)

a. Pendirian dan Informasi Umum (Lanjutan)

Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 24 Juni 2011 yang didokumentasikan dalam Akta No. 145 tanggal 24 Juni 2011 oleh Aulia Taufani, S.H., Pengganti dari Sutjipto, S.H., notaris di Jakarta, telah disetujui penggunaan saldo laba pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar Rp 500.000.000.000 untuk menjadi dana cadangan sesuai dengan ketentuan pasal 70 ayat 1 Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 dan pasal 23 Anggaran Dasar Perseroan dan sebesar Rp 101.306.047.995 akan dipergunakan untuk membiayai operasional Perseroan dan memperkuat Permodalan Perseroan sehingga dicatat sebagai laba ditahan sesuai dengan pasal 23 ayat 3 Anggaran Dasar perseroan.

Kantor pusat Perusahaan beralamat di Plaza BII Tower I, Jln. M.H. Thamrin No. 51, Jakarta. Perusahaan memiliki 1 kantor cabang utama, 54 kantor cabang, 65 kantor cabang pembantu, 1 kantor cabang syariah, 4 kantor kas, 1 kantor kas syariah, dan 1 kantor pelayanan kas (Payment Point) di Indonesia.

Perusahaan tergabung dalam kelompok usaha (grup) Sinar Mas.

Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar, maksud dan tujuan didirikannya Perusahaan adalah untuk menjalankan usaha di bidang perbankan.

Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 16 Februari 1990, sesuai dengan izin usaha yang diberikan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.156/KMK.013/1990 tanggal 16 Februari 1990. Sesuai dengan Surat Keputusan Bank Indonesia No. 27/156/KEP/DIR tanggal 22 Maret 1995, Perusahaan memperoleh peningkatan status menjadi Bank Devisa.

b. Penawaran Umum Perdana Efek

Pada tanggal 29 November 2010, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan LK) melalui surat No. S-10683/BL/2010 untuk penawaran umum perdana atas 1.600 juta lembar saham Perusahaann dengan nominal Rp 100 per saham pada harga penawaran Rp 150 per saham dimana melekat 1.920 juta waran Seri I (Catatan 24). Setiap pemegang 5 (lima) saham baru Perusahaan berhak memperoleh 6 (enam) waran dimana setiap 1 (satu) waran memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 (satu) saham baru Perusahaan dengan harga pelaksanaannya sebesar Rp 150, yang dapat dilakukan mulai tanggal 13 Juni 2011 sampai dengan tanggal 11 Desember 2015. Saham-saham Perusahaan telah tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 13 Desember 2010.

IPO Perusahaan telah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia melalui surat No. 12/52/DPB3/TPB 3 – 1 tanggal 5 Agustus 2010.

Pada tanggal 30 Juni 2011, sebesar 98,74% atau sebanyak 8.952.111.423 saham Perusahaan telah tercatat di Bursa Efek Indonesia.

(13)

1. Umum (Lanjutan)

c. Dewan Komisaris Direksi dan Karyawan

Susunan pengurus Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010, berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada tanggal 25 August 2010 yang didokumentasikan dalam Akta No. 148 tanggal 25 Agustus 2010 yang diperbaharui melalui Akta No. 6 tanggal 1 November 2010 dan Akta No. 71 tanggal 13 Januari 2011 dari Aulia Taufani, S.H., notaris pengganti Sutjipto, S.H., notaris di Jakarta, adalah sebagai berikut:

Komisaris Utama : Tjendrawati Widjaja

Komisaris Independen : Wimpie Rianto

: Antonius Chandra Satya Napitupulu

Direktur Utama : Freenyan Liwang

Wakil Direktur Utama : Dani Lihardja

Direktur Operasional dan Tresuri : Hadi Christianto Wijaya Direktur Unit usaha syariah dan GA : Heru Agus Wuryanto

Direktur Kepatuhan : Salis Teguh Hartono

Direktur Manajemen Resiko : Loa Johnny Mailoa

Direktur Kepatuhan Perusahaan adalah Salis Teguh Hartono, yang penunjukannya telah mendapatkan persetujuan Bank Indonesia melalui Surat No. 9/154/GBI/DPIP/Rahasia tanggal 8 Oktober 2007.

Susunan keanggotaan komite-komite yang dimiliki Perusahaan yaitu Komite Audit, Komite Renumerasi dan Nominasi, Komite Pemantau Risiko dan Dewan Pengawas Syariah pada tanggal 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut :

2 0 1 1 2 0 1 0 K o m i t e A u d i t K e t u a A n to n i u s C . S . N a p i tu p u l u A n to n i u s C .S . N a p i t u p u l u A n g g o t a W i m p i e R i a n t o W i m p i e R i a n t o E d w in H i d a y a t A b d u l l a h E d w i n H i d a y a t A b d u l la h A g u s t i n u s A n t o n i u s A g u s t i n u s A n to n i u s K o m i t e R e m u n e r a s i d a n N o m in a s i K e t u a A n to n i u s C . S . N a p i tu p u l u A n to n i u s C .S . N a p i t u p u l u A n g g o t a T je n d r a w a t i W i d j a j a T j e n d r a w a t i W i d j a j a T r u s t o J a t i P r a k o s o T r u s to J a t i P r a k o s o K o m i t e P e m a n t a u R i s i k o K e t u a W i m p i e R i a n t o W i m p i e R i a n t o A n g g o t a A n to n i u s C . S . N a p i tu p u l u A n to n i u s C .S . N a p i t u p u l u A g u s t i n u s A n t o n i u s A g u s t i n u s A n to n i u s E d w in H i d a y a t A b d u l l a h E d w i n H i d a y a t A b d u l la h D e w a n P e n g a w a s S y a r ia h K e t u a A l i M u s ta f a Y a q u b A l i M u s ta fa Y a q u b A n g g o t a A h m a d i b i n S u k a r n o A h m a d i b i n S u k a r n o

Pembentukan Komite Manajemen Risiko adalah sesuai dengan Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 tentang “Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum”.

Jumlah gaji dan tunjangan dewan komisaris dan direksi sebesar Rp 3.488 juta dan Rp 4.824 juta untuk periode yang berakhir 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010.

Jumlah rata-rata karyawan Perusahaan (tidak diaudit) untuk periode yang berakhir 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010 adalah 1.829 karyawan dan 1.764 karyawan.

(14)

a. Dasar Penyusunan dan Pengukuran Laporan Keuangan

Laporan keuangan disusun dengan menggunakan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yakni Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), peraturan Bank Indonesia, peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan LK) No. VIII.G.7 tanggal 13 Maret 2000 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan yang merupakan Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. KEP-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 dan Surat Edaran No. SE-02/BL/2008 tanggal 31 Januari 2008 tentang “Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Perusahaan Publik Industri Pertambangan Umum, Minyak dan Gas Bumi dan Perbankan”.

Laporan keuangan tanggal 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010 telah sesuai dengan PSAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2010, yaitu PSAK No. 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan” dan PSAK No. 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) yang diterbitkan tahun 2008.

Pencatatan transaksi Unit Usaha Syariah adalah berdasarkan PSAK No. 102, “Akuntansi Murabahah”, PSAK 105, “Akuntansi Mudharabah”, PSAK No. 106, “Akuntansi Musyarakah”, PSAK No. 107 (Revisi 2009), “Akuntansi Ijarah” (efektif sejak 1 Januari 2010) dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI).

Laporan keuangan disusun berdasarkan nilai historis, kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut. Dasar penyusunan laporan keuangan adalah dasar akrual, kecuali laporan arus kas. Laporan arus kas disusun dengan metode langsung.

Sehubungan dengan dicabutnya PSAK 31, “Akuntansi Perbankan” pada tahun 2010, dan untuk tujuan penyusunan laporan arus kas, efektif 1 Januari 2010, kas dan setara kas mencakup kas, giro pada Bank Indonesia dan giro pada bank lain yang tidak dibatasi pencairannya.

Untuk tujuan penyusunan laporan arus kas, cadangan kerugian penurunan nilai tidak diperhitungkan sebagai bagian dari saldo kas dan setara kas.

Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan adalah mata uang Rupiah (Rupiah). Angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan ini, kecuali bila dinyatakan secara khusus, adalah dalam jutaan Rupiah.

(15)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan)

b. Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Revisi

Efektif tanggal 1 Januari 2010, Perusahaan menerapkan secara prospektif PSAK revisi berikut:

(1) PSAK No. 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan”, yang berisi persyaratan pengungkapan instrumen keuangan dan kriteria informasi yang harus diungkapkan. Persyaratan pengungkapan diterapkan berdasarkan klasifikasi instrumen keuangan, dari perspektif penerbit, yakni aset keuangan, liabilitas keuangan dan instrumen ekuitas; pengklasifikasian bunga, dividen, keuntungan dan kerugian yang terkait; dan situasi tertentu dimana saling hapus aset dan liabilitas keuangan diizinkan. PSAK ini juga mewajibkan pengungkapan atas, antara lain, informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan kebijakan akuntansi atas instrumen keuangan.PSAK No. 16 (Revisi 2007) “Aset Tetap”, yang mengatur perlakuan akuntansi atas aset tetap. Standar ini mengatur antara lain mengenai pengakuan aset tetap, penentuan jumlah tercatat, penyusutan dan penurunan nilai. Selain itu, standar ini mewajibkan untuk menghitung dan memasukkan biaya pembongkaran dan pemindahan atau restorasi lokasi aset sebagai bagian dari biaya perolehan, serta mewajibkan entitas untuk memilih di antara model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansi atas aset tetapnya.

Standar ini menggantikan PSAK No. 50 “Akuntansi Investasi Efek Tertentu”.

(2) PSAK No. 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”, yang menetapkan dasar-dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan, liabilitas keuangan dan kontrak-kontrak pembelian atau penjualan instrumen non-keuangan. PSAK ini menjelaskan di antaranya definisi derivatif, kategori instrumen keuangan, pengakuan dan pengukuran, akuntansi lindung nilai dan penentuan kriteria lindung nilai. Standar ini menggantikan PSAK No. 55 (Revisi 1999) “Akuntansi Instrumen Derivatif dan Lindung Nilai”.

(3) PSAK No. 107 (Revisi 2009), “Akuntansi Ijarah”, yang mencakup pengaturan untuk pembiayaan multijasa yang menggunakan akad ijarah.

Dalam penerapan standar baru diatas, Perusahaan telah mengidentifikasi sejumlah penyesuaian transisi sesuai dengan Buletin Teknis No. 4 mengenai Ketentuan Transisi Penerapan Awal PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Dampak transisi PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) terhadap neraca Perusahaan pada tanggal 1 Januari 2010 dijelaskan pada tabel berikut:

Sebagaimana Setelah

dilaporkan Penyesuaian disesuaikan 1 Januari 2010/ Transisi/ 1 Januari 2010/

As reported Transition As adjusted

January 1, 2010 Adjustments January 1, 2010

Rp'000.000 Rp'000.000 Rp'000.000 Aset Keuangan - Bersih

Giro pada bank lain 87.698 886 88.584

Penempatan pada bank lain 273.277 2.760 276.037

Efek-efek 941.637 1.107 942.744

(16)

b. Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Revisi (Lanjutan)

Penyesuaian transisi di atas berasal dari dampak penilaian kembali kerugian penurunan nilai aset keuangan, yang merupakan selisih antara cadangan kerugian penurunan nilai yang dihitung berdasarkan PSAK 55 (Revisi 2006) dengan cadangan kerugian penurunan nilai yang dihitung dengan menggunakan Peraturan Bank Indonesia mengenai penyisihan penghapusan aset produktif (Catatan 2j).

Sejak tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK revisi sebagai berikut:

1) PSAK 1 (Revisi 2009), ”Penyajian Laporan Keuangan”, menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain.

Standar ini menggantikan PSAK No. 1 (Rev 1998) “Penyajian Laporan Keuangan”. 2) PSAK 2 (Revisi 2009), ”Laporan Arus Kas” memberikan pengaturan atas informasi

mengenai perubahan historis dalam kas dan setara kas melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi maupun pendanaan (financing) selama suatu periode.

Standar ini menggantikan PSAK No. 2 (1994) “Laporan Arus Kas”.

3) PSAK 3 (Revisi 2010), ”Laporan Keuangan Interim”, menentukan isi minimum laporan keuangan interim serta prinsip pengakuan dan pengukuran dalam laporan keuangan lengkap atau ringkas untuk periode interim.

Standar ini menggantikan PSAK No. 3 (reformat 2007) “Laporan Keuangan Interim”. 4) PSAK 5 (Revisi 2009), ”Segmen Operasi”, mensyaratkan pengungkapan informasi

segmen untuk memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari aktivitas bisnis yang mana entitas terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi.

Standar ini menggantikan PSAK No. 5 (Revisi 2000) “Pelaporan Segmen”.

5) PSAK 7 (Revisi 2010), ”Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi memastikan bahwa laporan keuangan entitas berisi pengungkapan yang diperlukan untuk dijadikan perhatian terhadap kemungkinan bahwa posisi keuangan dan laba rugi telah dipengaruhi oleh keberadaan pihak-pihak berelasi dan oleh transaksi dan saldo, termasuk komitmen dengan pihak-pihak tersebut.

Standar ini menggantikan PSAK No. 7 (1994) “Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa”.

(17)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan)

b. Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Revisi (Lanjutan)

6) PSAK 19 (Revisi 2010), ”Aset Tak Berwujud” menentukan perlakuan akuntansi untuk aset tak berwujud yang tidak diatur secara khusus dalam PSAK lain. Pernyataan ini mensyaratkan entitas untuk mengakui aset tak berwujud jika, dan hanya jika, kriteria tertentu dipenuhi. Pernyataan ini juga mengatur cara mengukur jumlah tercatat dari aset tak berwujud dan menentukan pengungkapan yang diisyaratkan tentang aset tak berwujud.

Standar ini menggantikan PSAK No. 19 (revisi 2000) “Aset Tidak Berwujud”.

7) PSAK 23 (Revisi 2010), ”Pendapatan” mengatur perlakuan akuntansi atas pendapatan yang timbul dari transaksi dan kejadian tertentu. Mengidentifikasi keadaan saat kriteria mengenai pengakuan pendapatan akan terpenuhi, sehingga pendapatan akan diakui. Memberikan panduan praktis dalam penerapan kriteria mengenai pengakuan pendapatan.

Standar ini menggantikan PSAK No. 23 (revisi 1994) “Pendapatan”.

8) PSAK 25 (Revisi 2009), ”Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan” menentukan kriteria dalam pemilihan dan perubahan kebijakan akuntansi, bersama dengan perlakuan akuntansi dan pengungkapan atas perubahan kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi dan koreksi kesalahan. Standar ini bertujuan untuk meningkatkan relevansi dan keandalan laporan keuangan entitas, daya banding laporan keuangan sepanjang waktu dan daya banding laporan keuangan entitas dengan laporan keuangan entitas lainnya.

Standar ini menggantikan PSAK No. 25 (1994) “Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi”.

9) PSAK 48 (Revisi 2009), ”Penurunan Nilai Aset” menetapkan prosedur yang diterapkan entitas agar aset dicatat tidak melebihi jumlah terpulihkannya. Suatu aset dikatakan melebihi jumlah terpulihkannya jika jumlah tercatat aset melebihi jumlah aset yang akan dipulihkannya melalui penggunaan atau penjualan aset. Pada kasus demikian, aset mengalami penurunan nilai dan standar ini mensyaratkan entitas mengakui rugi penurunan nilai. Standar ini juga menentukan kapan entitas membalik rugi penurunan nilai dan pengungkapan yang diperlukan.

Standar ini menggantikan PSAK No. 48 (1998) “Penurunan Nilai Aset”.

10) PSAK 57 (Revisi 2009), ”Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi” bertujuan untuk mengatur pengakuan dan pengukuran provisi, kewajiban kontinjensi dan aset kontinjensi serta untuk memastikan informasi memadai telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan untuk memungkinkan para pengguna laporan keuangan memahami sifat, waktu dan jumlah yang terkait dengan informasi tersebut.

Standar ini menggantikan PSAK No. 57 (revisi 2000) “Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi”.

(18)

c. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing

Perusahaan menyelenggarakan pembukuannya dalam mata uang Rupiah. Transaksi-transaksi dalam mata uang asing yang terjadi di sepanjang tahun dicatat dengan nilai kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi yang bersangkutan.

Pada tanggal neraca, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs Reuters pada pukul 16.00 WIB. Keuntungan atau kerugian yang timbul sebagai akibat dari penjabaran aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dicatat sebagai laba rugi tahun berjalan.

Keuntungan atau kerugian selisih kurs dari aset dan liabilitas moneter merupakan selisih antara biaya perolehan diamortisasi dalam Rupiah pada awal periode, yang disesuaikan dengan suku bunga efektif dan pembayaran selama periode berjalan, dengan biaya perolehan diamortisasi yang dijabarkan ke dalam Rupiah dengan kurs pada akhir periode

d. Transaksi Pihak Berelasi

Pihak-pihak yang berelasi adalah orang atau entitas yang terkait dengan entitas yang menyiapkan laporan keuangannya (dalam pernyataan ini dirujuk sebagai “entitas pelapor”). 1. Orang atau anggota keluarga terdekat mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika

orang tersebut :

a) Memiliki pengendalian atau pengendalian bersama atas entitas pelapor; b) Memiliki pengaruh signifikan atas entitas pelapor;

c) Personel ,manajemen kunci entitas pelapor atau entitas induk entitas pelapor. 2. Suatu entitas berelasi dengan entitas pelapor jika memenuhi salah satu hal berikut:

a) Entitas dan entitas pelapor adalah anggota dari kelompok usaha yang sama (artinya entitas induk, entitas anak, dan entitas berikutnya terkait dengan entitas lain).

b) Suatu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain (atau entitas asosiasi atau ventura bersama yang merupakan anggota suatu kelompok usaha , yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya).

c) Kedua entitas tersebut adalah ventura bersama dari pihak ketiga yang sama.

d) Satu entitas adalah ventura bersama dari entitas ketiga dan entitas yang lain adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga.

e) Entitas tersebut adalah suatu program imbalan pascakerja untuk imbalan kerja dari salah satu entitas pelapor atau entitas yang terkait dengan entitas pelapor. Jika entitas pelapor adalah entitas yang menyelenggarakan program tersebut, maka entitas sponsor juga berelasi dengan entitas pelapor.

f) Entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang diidentifikasi dalam huruf (1).

g) Orang yang diidentifikasi dalam huruf (1) (a) memiliki pengaruh signifikan atas entitas atau personil manajemen kunci entitas (atau entitas induk dari entitas).

(19)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan)

e. Penggunaan Estimasi

Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan liabilitas yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan liabilitas kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi.

Estimasi dan asumsi yang digunakan tersebut ditelaah kembali secara terus-menerus. Revisi atas estimasi akuntansi diakui dalam periode yang sama pada saat terjadinya revisi estimasi atau pada periode masa depan yang terkena dampak.

Informasi mengenai ketidakpastian yang melekat pada estimasi dan pertimbangan yang mendasari dalam penerapan kebijakan akuntansi yang memiliki dampak signifikan terhadap jumlah-jumlah yang diakui dalam laporan keuangan, dijelaskan pada Catatan 3 atas laporan keuangan.

f. Instrumen Keuangan

Kebijakan Akuntansi Efektif Tanggal 1 Januari 2010

Sebagaimana dijelaskan pada Catatan 2b, Perusahaan telah menerapkan kebijakan akuntansi berikut berdasarkan PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan No. 55 (Revisi 2006) yang berlaku efektif 1 Januari 2010.

Perusahaan mengakui aset keuangan atau liabilitas keuangan pada neraca, jika dan hanya jika, Perusahaan menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut. Instrumen keuangan pada pengakuan awal diukur pada nilai wajarnya, yang merupakan nilai wajar kas yang diserahkan (dalam hal aset keuangan) atau yang diterima (dalam hal liabilitas keuangan). Nilai wajar kas yang diserahkan atau diterima ditentukan dengan mengacu pada harga transaksi atau harga pasar yang berlaku. Jika harga pasar tidak dapat ditentukan dengan andal, maka nilai wajar kas yang diserahkan atau diterima dihitung berdasarkan estimasi jumlah seluruh pembayaran atau penerimaan kas masa depan, yang didiskontokan menggunakan suku bunga pasar yang berlaku untuk instrumen sejenis dengan jatuh tempo yang sama atau hampir sama. Pengukuran awal instrumen keuangan, kecuali untuk instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, termasuk biaya transaksi.

Biaya transaksi adalah biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung pada perolehan atau penerbitan aset keuangan atau liabilitas keuangan, dimana biaya tersebut adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh atau menerbitkan instrumen keuangan. Biaya transaksi tersebut diamortisasi sepanjang umur instrumen menggunakan metode suku bunga efektif. Termasuk dalam biaya transaksi adalah fee dan komisi yang dibayarkan pada agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual), konsultan, perantara efek dan pedagang efek, pungutan wajib oleh pihak regulator dan bursa efek, serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. Biaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang, biaya pendanaan (financing cost), atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (handling cost).

(20)

f. Instrumen Keuangan (Lanjutan)

Kebijakan Akuntansi Efektif Tanggal 1 Januari 2010 (Lanjutan)

Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau liabilitas keuangan dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode selama periode yang relevan, menggunakan suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa depan selama perkiraan umur instrumen keuangan, atau jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari instrumen keuangan. Pada saat menghitung suku bunga efektif, Perusahaan mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut, tanpa mempertimbangkan kerugian kredit di masa depan, namun termasuk seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari suku bunga efektif.

Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau liabilitas keuangan adalah jumlah aset keuangan atau liabilitas keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok, ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya, dan dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.

Pengklasifikasian instrumen keuangan dilakukan berdasarkan tujuan perolehan instrumen tersebut dan mempertimbangkan apakah instrumen tersebut memiliki kuotasi harga di pasar aktif. Pada saat pengakuan awal, Perusahaan mengklasifikasikan instrumen keuangan dalam kategori berikut: aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi dimiliki hingga jatuh tempo, aset keuangan tersedia untuk dijual, liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dan liabilitas lain-lain; dan melakukan evaluasi kembali atas kategori-kategori tersebut pada setiap tanggal pelaporan, apabila diperlukan dan tidak melanggar ketentuan yang disyaratkan. Penentuan Nilai Wajar

Nilai wajar instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif pada tanggal neraca adalah berdasarkan kuotasi harga pasar atau harga kuotasi penjual/dealer (bid price untuk posisi beli dan ask price untuk posisi jual), tanpa memperhitungkan biaya transaksi. Apabila bid price dan ask price yang terkini tidak tersedia, maka harga transaksi terakhir yang digunakan untuk mencerminkan bukti nilai wajar terkini, sepanjang tidak terdapat perubahan signifikan dalam perekonomian sejak terjadinya transaksi. Untuk seluruh instrumen keuangan yang tidak terdaftar pada suatu pasar aktif, kecuali investasi pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga, maka nilai wajar ditentukan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian meliputi teknik nilai kini (net present value), perbandingan terhadap instrumen sejenis yang memiliki harga pasar yang dapat diobservasi, model harga opsi (options pricing models), dan model penilaian lainnya.

(21)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan)

f. Instrumen Keuangan (Lanjutan) Laba/Rugi Hari ke-1

Apabila harga transaksi dalam suatu pasar yang tidak aktif berbeda dengan nilai wajar instrumen sejenis pada transaksi pasar terkini yang dapat diobservasi atau berbeda dengan nilai wajar yang dihitung menggunakan teknik penilaian dimana variabelnya merupakan data yang diperoleh dari pasar yang dapat diobservasi, maka Perusahaan mengakui selisih antara harga transaksi dengan nilai wajar tersebut (yakni Laba/Rugi hari ke-1) dalam laporan laba rugi, kecuali jika selisih tersebut memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset yang lain. Dalam hal tidak terdapat data yang dapat diobservasi, maka selisih antara harga transaksi dan nilai yang ditentukan berdasarkan teknik penilaian hanya diakui dalam laporan laba rugi apabila Aset Keuangan

1. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi meliputi aset keuangan dalam kelompok diperdagangkan dan aset keuangan yang pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Aset keuangan diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki untuk diperdagangkan apabila aset keuangan tersebut diperoleh terutama untuk tujuan dijual kembali dalam waktu dekat. Derivatif juga diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk diperdagangkan kecuali derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif.

Aset keuangan ditetapkan sebagai diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi pada saat pengakuan awal jika memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Penetapan tersebut mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan yang dapat timbul dari pengukuran aset atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda; atau

b. Aset tersebut merupakan bagian dari kelompok aset keuangan, liabilitas keuangan, atau keduanya, yang dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar, sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan; atau c. Instrumen keuangan tersebut memiliki derivatif melekat, kecuali jika derivatif melekat

tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas, atau terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisis, bahwa pemisahan derivatif melekat tidak dapat dilakukan. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dicatat pada neraca pada nilai wajarnya. Perubahan nilai wajar langsung diakui dalam laporan laba rugi. Bunga yang diperoleh dicatat sebagai pendapatan bunga, sedangkan pendapatan dividen dicatat sebagai bagian dari pendapatan lain-lain sesuai dengan persyaratan dalam kontrak, atau pada saat hak untuk memperoleh pembayaran atas dividen tersebut telah ditetapkan.

(22)

f. Instrumen Keuangan (Lanjutan) Aset Keuangan (Lanjutan)

2. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang

Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Aset keuangan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijual dalam waktu dekat dan tidak diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, investasi dimiliki hingga jatuh tempo atau aset tersedia untuk dijual.

Setelah pengukuran awal, pinjaman yang diberikan dan piutang diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif, dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai Biaya perolehan diamortisasi tersebut memperhitungkan premi atau diskonto yang timbul pada saat perolehan serta imbalan dan biaya yang merupakan bagian integral dari suku bunga efektif. Amortisasi dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi. Kerugian yang timbul akibat penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi.

Pada tanggal 30 Juni 2011, kategori ini mencakup kas, giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, penempatan pada bank lain, kredit yang diberikan, pendapatan bunga yang masih akan diterima serta aset lain-lain berupa setoran jaminan, tagihan komisi asuransi, tagihan sehubungan dengan ATM bersama dan kiriman uang.

3. Investasi Dimiliki Hingga Jatuh Tempo

Investasi dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan, dan manajemen Perusahaan memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Apabila Perusahaan menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan sebelum jatuh tempo, maka seluruh aset keuangan dalam kategori tersebut terkena aturan pembatasan (tainting rule) dan harus direklasifikasi ke kelompok tersedia untuk dijual.

Setelah pengukuran awal, investasi ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif, setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai. Biaya perolehan diamortisasi tersebut memperhitungkan premi atau diskonto yang timbul pada saat perolehan serta imbalan dan biaya yang merupakan bagian integral dari suku bunga efektif. Amortisasi dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi. Keuntungan dan kerugian yang timbul diakui dalam laporan laba rugi pada saat penghentian pengakuan dan penurunan nilai dan melalui proses amortisasi menggunakan metode suku bunga efektif.

Pada tanggal 30 Juni 2011, kategori ini mencakup investasi efek-efek dalam bentuk Bank Indonesia Intervensi, obligasi Pemerintah, obligasi korporasi, Republik Indonesia - ROI Loan, Credit Linked Note, pinjaman subordinasi dan tagihan atas wesel ekspor.

(23)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan)

f. Instrumen Keuangan (Lanjutan) Aset Keuangan (Lanjutan)

4. Aset Keuangan Tersedia untuk Dijual

Aset keuangan tersedia untuk dijual merupakan aset yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau tidak diklasifikasikan dalam kategori instrumen keuangan yang lain. Aset keuangan ini diperoleh dan dimiliki untuk jangka waktu yang tidak ditentukan dan dapat dijual sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau karena perubahan kondisi pasar.

Setelah pengukuran awal, aset keuangan tersedia untuk dijual diukur pada nilai wajar. Komponen hasil (yield) efektif dari efek utang - tersedia untuk dijual serta dampak penjabaran mata uang asing (untuk efek utang dalam mata uang asing) diakui dalam laporan laba rugi. Laba atau rugi yang belum direalisasi yang timbul dari penilaian pada nilai wajar atas aset keuangan tersedia untuk dijual tidak diakui dalam laporan laba rugi, melainkan dilaporkan sebagai laba atau rugi bersih yang belum direalisasi pada bagian ekuitas dalam neraca dan laporan perubahan ekuitas.

Apabila aset keuangan dilepaskan, atau dihentikan pengakuannya, maka laba atau rugi kumulatif yang sebelumnya diakui dalam laporan ekuitas langsung diakui dalam laporan laba rugi. Bunga yang diperoleh dari aset keuangan tersedia untuk dijual diakui sebagai pendapatan bunga yang dihitung berdasarkan suku bunga efektif. Kerugian yang timbul akibat penurunan nilai aset keuangan juga diakui dalam laporan laba rugi.

Pada tanggal 30 Juni 2011, kategori ini mencakup efek-efek dalam bentuk obligasi Pemerintah, obligasi korporasi dan Republik Indonesia – ROI Loans.

Liabilitas Keuangan

1. Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi

Liabilitas keuangan diklasifikasikan dalam kategori ini apabila liabilitas tersebut merupakan hasil dari aktivitas perdagangan atau transaksi derivatif yang tidak dimaksudkan sebagai lindung nilai, atau jika Perusahaan memilih untuk menetapkan liabilitas keuangan tersebut dalam kategori ini.

Perubahan dalam nilai wajar langsung diakui dalam laporan laba rugi.

Pada tanggal 30 Juni 2011, Perusahaan tidak memiliki liabilitas keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

(24)

f. Instrumen Keuangan (Lanjutan) Liabilitas Keuangan (Lanjutan)

2. Liabilitas Keuangan yang Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, jika subtansi perjanjian kontraktual mengharuskan Perusahaan untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada pemegang instrumen keuangan, atau jika liabilitas tersebut diselesaikan tidak melalui penukaran kas atau aset keuangan lain atau saham sendiri yang jumlahnya tetap atau telah ditetapkan. Komponen instrumen keuangan yang diterbitkan yang terdiri dari komponen liabilitas dan komponen ekuitas harus dipisahkan, dimana komponen ekuitas merupakan bagian residual dari keseluruhan instrumen keuangan setelah dikurangi nilai wajar komponen liabilitas pada tanggal penerbitan.

Liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi pada pengakuan awal diukur pada nilai wajar dan sesudah pengakuan awal diukur pada biaya perolehan diamortisasi, dengan memperhitungkan dampak amortisasi (atau akresi) berdasarkan suku bunga efektif atas premi, diskonto dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Pada tanggal 30 Juni 2011, kategori ini mencakup liabilitas segera lainnya, simpanan, simpanan dari bank lain, surat berharga yang diterbitkan, bunga yang masih harus dibayar, serta liabilitas lain-lain dalam bentuk liabilitas premi penjaminan Pemerintah serta setoran jaminan L/C dan bank garansi.

Instrumen Keuangan Derivatif

Derivatif melekat dipisahkan dari kontrak utama dan dicatat sebagai derivatif jika seluruh kondisi berikut terpenuhi:

a. Karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak berkaitan erat dengan karakteristik ekonomi dan risiko dari kontrak utama.

b. Instrumen terpisah yang memiliki persyaratan yang sama dengan derivatif melekat memenuhi definisi sebagai derivatif;

c. Instrumen campuran atau instrumen yang digabungkan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

Derivatif yang berdiri sendiri dan derivatif melekat yang dipisahkan diklasifikasikan sebagai aset atau liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, kecuali derivatif tersebut ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif. Pada pengakuan awal, instrumen derivatif diukur pada nilai wajar pada tanggal transaksi derivatif terjadi atau dipisahkan, dan selanjutnya diukur pada nilai wajar.

(25)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan) f. Instrumen Keuangan (Lanjutan)

Instrumen Keuangan Derivatif (Lanjutan)

Derivatif disajikan sebagai aset apabila nilai wajarnya positif, dan disajikan sebagai liabilitas apabila nilai wajarnya negatif. Laba atau rugi dari perubahan nilai wajar derivatif langsung diakui dalam laporan laba rugi.

Manajemen menelaah apakah derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utamanya pada saat pertama kali Perusahaan menjadi salah satu pihak dari kontrak tersebut. Penelaahan kembali dilakukan apabila terdapat perubahan syarat-syarat kontrak yang mengakibatkan modifikasi arus kas secara signifikan.

Saling Hapus Instrumen Keuangan

Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam neraca jika, dan hanya jika, Perusahaan saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut; dan berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara simultan.

Penurunan Nilai Dari Aset Keuangan

Pada setiap tanggal neraca, manajemen Perusahaan menelaah apakah suatu aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi telah mengalami penurunan nilai.

(1) Aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi

Manajemen pertama-tama menentukan apakah terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual, dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat penurunan nilai secara individual atau kolektif. Jika manajemen menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, baik aset keuangan tersebut signifikan atau tidak signifikan, maka aset tersebut dimasukkan ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang sejenis dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual, dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.

Jika terdapat bukti obyektif bahwa penurunan nilai telah terjadi atas aset dalam kategori pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo, maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan (tidak termasuk kerugian kredit di masa depan yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yang merupakan suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Nilai tercatat aset tersebut langsung dikurangi dengan penurunan nilai yang terjadi atau menggunakan akun cadangan kerugian penurunan nilai dan jumlah kerugian yang terjadi diakui di laporan laba rugi.

(26)

f. Instrumen Keuangan (Lanjutan)

Penurunan Nilai Dari Aset Keuangan (Lanjutan)

(1) Aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi (Lanjutan)

Jika, pada periode berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai bertambah atau berkurang karena suatu peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai tersebut diakui, maka dilakukan penyesuaian atas akun cadangan kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui. Pemulihan penurunan nilai selanjutnya diakui dalam laporan laba rugi, dengan ketentuan nilai tercatat aset setelah pemulihan penurunan nilai tidak melampaui biaya perolehan diamortisasi pada tanggal pemulihan tersebut.

(2) Aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan

Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan tidak diukur pada nilai wajar karena nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal, maka jumlah kerugian penurunan nilai diukur berdasarkan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa depan yang didiskonto pada tingkat pengembalian yang berlaku di pasar untuk aset keuangan serupa.

(3) Aset keuangan tersedia untuk dijual

Dalam hal instrumen ekuitas dengan kelompok tersedia untuk dijual, penelaahan penurunan nilai ditandai dengan penurunan nilai wajar dibawah biaya perolehannya yang signifikan dan berkelanjutan. Jika terdapat bukti obyektif penurunan nilai, maka kerugian penurunan nilai kumulatif yang dihitung dari selisih antara biaya perolehan dengan nilai wajar kini, dikurangi kerugian penurunan nilai yang sebelumnya telah diakui dalam laporan laba rugi, dikeluarkan dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi. Kerugian penurunan nilai yang diakui pada laporan laba rugi tidak boleh dipulihkan melalui laporan laba rugi (harus diakui melalui ekuitas). Kenaikan nilai wajar setelah terjadinya penurunan nilai diakui di ekuitas.

Atas instrumen utang dalam kelompok tersedia untuk dijual, penurunan nilai ditelaah berdasarkan kriteria yang sama dengan aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Bunga tetap diakru berdasarkan suku bunga efektif asal yang diterapkan pada nilai tercatat aset yang telah diturunkan nilainya, dan dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi. Jika, pada periode berikutnya, nilai wajar instrumen utang meningkat dan peningkatan nilai wajar tersebut karena suatu peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai tersebut diakui, maka penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan melalui laporan laba rugi.

(27)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan) f. Instrumen Keuangan (Lanjutan)

Penghentian Pengakuan Aset dan Liabilitas Keuangan (1) Aset Keuangan

Aset keuangan (atau bagian dari kelompok aset keuangan serupa) dihentikan pengakuannya jika:

a. Hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir; b. Perusahaan tetap memiliki hak untuk menerima arus kas dari aset keuangan tersebut,

namun juga menanggung liabilitas kontraktual untuk membayar kepada pihak ketiga atas arus kas yang diterima tersebut secara penuh tanpa adanya penundaan yang signifikan berdasarkan suatu kesepakatan; atau

c. Perusahaan telah mentransfer haknya untuk menerima arus kas dari aset keuangan dan (i) telah mentransfer secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan, atau (ii) secara substansial tidak mentransfer atau tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan, namun telah mentransfer pengendalian atas aset keuangan tersebut.

(2) Liabilitas Keuangan

Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya jika liabilitas keuangan tersebut berakhir, dibatalkan atau telah kadaluarsa. Jika liabilitas keuangan tertentu digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama namun dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau terdapat modifikasi secara substansial atas ketentuan liabilitas keuangan yang ada saat ini, maka pertukaran atau modifikasi tersebut dianggap sebagai penghentian pengakuan liabilitas keuangan awal. Pengakuan timbulnya liabilitas keuangan baru serta selisih antara nilai tercatat liabilitas keuangan awal dengan yang baru diakui dalam laporan laba rugi periode berjalan.

g. Giro Wajib Minimum

Pada tanggal 4 Oktober 2010, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan peraturan No. 12/19/PBI/2010 mengenai perubahan atas Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 10/25/PBI/2008 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum pada bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing. Peraturan tersebut kemudian diperbaharui dengan peraturan No. 13/10/PBI/2011 tanggal 9 Februari 2011 yang berlaku efektif tanggal 1 Maret 2011. Berdasarkan peraturan tersebut, GWM Rupiah terdiri dari GWM Utama, GWM Sekunder dan GWM LDR. GWM Utama ditetapkan sebesar 8% dari dana pihak ketiga dalam Rupiah ditambah dengan GWM LDR yang ditetapkan sebesar selisih LDR yang dimiliki oleh Bank dan target LDR yang diwajibkan BI. GWM Sekunder dalam Rupiah ditetapkan sebesar 2,5% dari dana pihak ketiga dalam Rupiah. GWM dalam mata uang asing ditetapkan sebesar 5% selama periode 1 Maret 2011 sampai dengan 31 Mei 2011 dan meningkat menjadi 8% mulai tanggal 1 Juni 2011 dari dana pihak ketiga dalam mata uang asing.

(28)

g. Giro Wajib Minimum (Lanjutan)

GWM Utama adalah simpanan minimum yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening giro pada BI yang besarnya ditetapkan oleh BI sebesar persentase tertentu dari dana pihak ketiga.

GWM Sekunder adalah cadangan minimum yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN) dan/atau Excess Reserve, yang besarnya ditetapkan BI sebesar persentase tertentu.

GWM LDR adalah simpanan minimum yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening Giro pada Bank Indonesia sebesar persentase dari DPK yang dihitung berdasarkan selisih LDR yang dimiliki oleh bank dan target LDR yang wajib dipenuhi oleh bank.

h. Penempatan pada Bank Lain

Pada tanggal 30 Juni 2011, penempatan pada bank lain merupakan penanaman dana dalam bentuk deposit on call.

i. Kredit yang Diberikan

Kredit yang diberikan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disetarakan dengan kas, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam dengan debitur yang mewajibkan debitur untuk melunasi utang berikut bunganya setelah jangka waktu tertentu.

j. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai serta Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi

Penilaian kualitas dan cadangan kerugian penurunan nilai dilakukan terhadap aset produktif dan aset non-produktif.

Aset Produktif

Aset produktif terdiri dari giro pada bank lain, penempatan pada bank lain, efek-efek, efek yang dibeli dengan janji jual kembali, kredit, tagihan akseptasi, komitmen dan kontinjensi pada transaksi rekening administratif yang mempunyai resiko kredit serta aset produktif yang berasal dari kegiatan syariah, sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.

Aset Non-produktif

Aset non-produktif merupakan aset non-keuangan, terdiri dari agunan yang diambil alih (AYDA) dan aset tetap yang tidak digunakan, rekening antar kantor dan suspense account sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.

Sejak 1 Januari 2010, setiap tanggal neraca Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang diklasifikasikan sebagai kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia untuk dijual, pinjaman diberikan dan piutang mengalami penurunan nilai seperti yang dijelaskan pada Catatan 2.f.

(29)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan)

j. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai serta Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi (Lanjutan)

Penerapan Ketentuan Transisi dari Bank Indonesia untuk Penurunan Nilai Secara Kolektif kredit yang Diberikan

Pada tanggal 8 Desember 2009, Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran No. 11/33/DPNP yang mengatur mengenai estimasi penurunan nilai kolektif kredit yang diberikan dengan keterbatasan pengalaman kerugian spesifik. Bagi bank yang belum memiliki data kerugian historis yang memadai untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas kredit yang diberikan secara kolektif sesuai dengan persyaratan dalam PSAK No. 55 (Revisi 2006) dan PAPI, maka pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai dapat menggunakan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai “Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum”.

Sejak tanggal 1 Januari 2010, Perusahaan menerapkan ketentuan transisi dari Bank Indonesia tersebut.

Sebelum 1 Januari 2010, penentuan kualitas aset dan cadangan kerugian penurunan nilai mengacu pada Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 7/3/DPNP tanggal 31 Januari 2005 tentang “Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum” dengan perubahan terakhir melalui Peraturan Bank Indonesia No. 11/2/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009. Perusahaan tetap mengacu pada peraturan tersebut untuk perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai sejak 1 Januari 2010 sesuai penerapan ketentuan transisi yang dijelaskan di atas.

Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Aset Produktif

Cadangan kerugian penurunan nilai aset produktif serta estimasi komitmen dan kontinjensi berdasarkan penelaahan terhadap kualitas masing-masing aset produktif, komitmen dan kontinjensi sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yang mengklasifikasikan aset produktif tersebut dalam lima (5) kategori dengan besarnya persentase cadangan kerugian penurunan nilai sebagai berikut:

Klasifikasi

Lancar Minimum1%

Dalam perhatian khusus Minimum5%

Kurang lancar Minimum15%

Diragukan Minimum50%

Macet 100%

Kerugian Penurunan Nilai/ Precentage of Allowance

Persentase Cadangan

for impairment losses

Persentase cadangan kerugian penurunan nilai diatas diterapkan terhadap saldo aset produktif setelah dikurangi nilai agunan sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia kecuali untuk aset produktif serta komitmen dan kontinjensi yang diklasifikasikan sebagai lancar yang diterapkan terhadap saldo aset produktif serta komitmen dan kontinjensi yang bersangkutan.

(30)

j. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai serta Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi (Lanjutan)

Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Aset Produktif (Lanjutan)

Sertifikat Bank Indonesia (SBI), penempatan pada Bank Indonesia (BI Intervensi) dan Obligasi Pemerintah tidak dibentuk cadangan kerugian penurunan nilai.

Kerugian untuk komitmen dan kontinjensi (kecuali akseptasi) yang dibentuk disajikan dalam akun “Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi.”

Sampai dengan saat ini, pembentukan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi tetap dihitung berdasarkan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai “Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum”.

Aset produktif dihapusbukukan dengan cadangan kerugian penurunan nilai aset produktif pada saat manajemen berpendapat bahwa aset produktif tersebut harus dihapuskan karena secara operasional debitur sudah tidak mampu membayar dan atau sulit untuk ditagih. Penerimaan kembali aset produktif yang telah dihapuskan dicatat sebagai penambahan cadangan kerugian penurunan nilai aset produktif yang bersangkutan pada saat diterima kembali. Jika jumlah yang diterima kembali lebih besar daripada nilai pokok, kelebihan tersebut diakui sebagai pendapatan bunga.

Cadangan Penurunan Nilai Aset Non-Produktif

Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai aset non-produktif tetap dihitung berdasarkan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai “Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum”.

Perusahaan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai aset non-produktif berdasarkan penelaahan terhadap kualitas masing-masing aset non-produktif tersebut sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, yang mengklasifikasikan aset non-produktif dalam empat (4) kategori berdasarkan lamanya aset tersebut telah dimiliki oleh Perusahaan dengan besarnya persentase cadangan kerugian penurunan nilai sebagai berikut:

Kategori

Lancar Minimum 1%

Kurang lancar Minimum 15%

Diragukan Minimum 50%

Macet 100%

Persentase Penyisihan Penghapusan/ Percentage of Allowance for

(31)

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penting (Lanjutan) k. Aset Tetap

Aset tetap, kecuali tanah, dinyatakan berdasarkan biaya perolehan, tetapi tidak termasuk biaya perawatan sehari-hari, dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai, jika ada. Tanah tidak disusutkan dan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dikurangi akumulasi rugi penurunan nilai, jika ada.

Biaya perolehan awal aset tetap meliputi harga perolehan, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan dan biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan sesuai dengan tujuan penggunaan yang ditetapkan.

Beban-beban yang timbul setelah aset tetap digunakan, seperti beban perbaikan dan pemeliharaan, dibebankan ke laba rugi pada saat terjadinya. Apabila beban-beban tersebut menimbulkan peningkatan manfaat ekonomis di masa datang dari penggunaan aset tetap tersebut yang dapat melebihi kinerja normalnya, maka beban-beban tersebut dikapitalisasi sebagai tambahan biaya perolehan aset tetap. Penyusutan dihitung berdasarkan metode garis lurus (straight-line method) selama masa manfaat aset tetap atau jangka waktu sewa, yang mana lebih pendek (khusus untuk perbaikan aset yang disewa) sebagai berikut:

Tahun

Bangunan 20

Inventaris kantor 10

Kendaraan bermotor 4

Aset tetap yang tidak digunakan (properti terbengkalai) dinyatakan berdasarkan nilai tercatat atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah, dan disajikan sebagai bagian dari akun “Aset lain-lain”. Atas properti terbengkalai, dibentuk penyisihan penghapusan sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku (Catatan 2.u).

Nilai tercatat aset tetap ditelaah kembali dan dilakukan penurunan nilai apabila terdapat peristiwa atau perubahan kondisi tertentu yang mengindikasikan nilai tercatat tersebut tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.

Dalam setiap inspeksi yang signifikan, biaya inspeksi diakui dalam jumlah tercatat aset tetap sebagai suatu penggantian apabila memenuhi kriteria pengakuan. Biaya inspeksi signifikan yang dikapitalisasi tersebut diamortisasi selama periode sampai dengan saat inspeksi signifikan berikutnya.

Aset tetap yang dijual atau dilepaskan, dikeluarkan dari kelompok aset tetap berikut akumulasi penyusutan dan akumulasi penurunan nilai yang terkait dengan aset tetap tersebut.

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya (derecognized) pada saat dilepaskan atau tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap ditentukan sebesar perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan, jika ada, dengan jumlah tercatat dari aset tetap tersebut, dan diakui dalam laporan laba rugi pada tahun terjadinya penghentian pengakuan.

Gambar

Tabel  berikut  adalah  nilai  tercatat,  berdasarkan  jatuh  temponya  atas  aset  dan  kewajiban  keuangan Perusahaan yang terkait risiko suku bunga pada tanggal 30 Juni 2011:

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui atribut kebutuhan pengguna Internet yang dapat direkomendasikan kepada regulator dalam menyusun standar kualitas layanan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh komposisi fly ash dan suhu sintering terhadap densitas dan kekerasan Vickers keramik lantai dari fly ash yang

Keberadaan proyek ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal biasa, tetapi juga dapat menjadi suatu ikon yang menarik bagi kampung Apung. Sehingga kampung ini

Dari hasil analisis data dengan menggunakan teknik uji-t yaitu paired sample t-test telah membuktikan bahwa prestasi belajar fisika pada kelompok yang diberikan perlakuan

Nursalam, M.Nurs (Hons), selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya, yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada kami untuk mengikuti

dari kelompoknya dan bertamu kepada kelompok lain untuk menerima jamuan (berupa informasi) dari kelompok tersebut, sementara dua orang lainnya menjadi tuan

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara faktor pupuk NPK Pelangi dengan faktor pupuk daun Grow Team M berbeda nyata sampai berbeda sangat nyata

Hasil analisis diperoleh kesimpulan ada pengaruh yang signifikan variabel bebas yaitu likuiditas, profitabilitas dan pertumbuhan pen- jualan secara parsial maupun secara