II-1 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Parkir
Lalu lintas berjalan menuju satu tempat tujuan dan setelah mencapai tempat tersebut kendaraan harus diparkir, sementara pengendaranya melakukan beberapa urusan, misalnya keperluan pribadi, keperluan kantor, berbelanja dan kepentingan lainnya.
Adapun pengertian parkir adalah tempat pemberhentian kendaraan dalam jangka waktu pendek atau lama, sesuai dengan kebutuhan pengendara. Parkir merupakan salah satu unsur prasarana transportasi yang tidak terpisahkan dari sistem jaringan transportasi, sehingga pengaturan parkir akan mempengaruhi kinerja suatu jaringan, terutama jaringan jalan raya.
Daerah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan tingkat ekonomi yang tinggi mengakibatkan tingkat kepemilikan kendaraan pribadi yang tinggi pula. Apabila kondisi ini didukung dengan kebijakan pemerintah dalam manajemen lalu lintas yang tidak membatasi penggunaan mobil pribadi, maka akan mendukung pelaku pergerakan untuk selalu menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini akan menimbulkan kebutuhan lahan parkir yang besar pada zona tarikan sebagai contoh pada daerah pusat bisnis (CBD, Central Business District).
2.2 Jenis – Jenis Parkir
2.2.1. Berdasarkan Penempatanya
Lalu-lintas baik yang bergerak pada suatu saat akan berhenti. Setiap perjalanan akan sampai pada tujuan sehingga kendaraan harus diparkir. Sarana perparkiran merupakan bagian dari sistem transportasi dalam perjalanan mencapai tujuan karena kendaraan yang digunakan memerlukan
II-2
parkir. Sarana parkir ini pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi (Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1998) :
1. Parkir menurut penempatannya A. Parkir di jalan (on street parking)
Parkir di tepi jalan umum adalah jenis parkir yang penempatannya di sepanjang tepi badan jalan dengan ataupun tidak melebarkan badan jalan itu sendiri bagi fasilitas parkir.
Kerugian :
Mengganggu lalu lintas
Mengurangi kapasitas jalan karena adanya pengurangan lebar lajur lalu lintas
Meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan Keuntungan :
Murah tanpa investasi tambahan
Bagi pengguna tempat parkir bisa lebih dekat dan mudah Posisi parkir :
Sejajar dengan sumbu jalan Tegak lurus sumbu jalan
Membuat sudut dengan sumbu jalan
Gambar Ruang Parkir Bersudut
Sumber : Menuju lalu lintas dan angkutan jalan yang tertib, DLLAJ, 1995
B. Parkir di luar jalan (off street parking)
Parkir di luar badan jalan (off-street parking). Yakni parkir kendaraan di luar badan jalan bisa di halaman gedung perkantoran, supermarket, atau pada taman parkir.
II-3
Untuk menghindari terjadinya hambatan akibat parkir kendaraan di Jalan maka parkir kendaraan di luar jalan / off street parking menjadi pilihan yang terbaik. Terdapat dua jenis parkir di luar jalan, yaitu : Pelataran parkir
Pelataran parkir di daerah pusat kota sebenarnya merupakan suatu bentuk yang tidak ekonomis. Karena itu di pusat kota seharusnya jarang terdapat peralatan parkir yang dibangun oleh gedung-gedung yang berkepentingan, dimana masalah keuntungan ekonomi dari parkir bukan lagi merupakan suatu hal yang penting.
Gedung parkir bertingkat
Saat ini bentuk yang banyak dipakai adalah gedung parkir bertingkat, dengan jumlah lantai yang optimal 5, serta kapasitas sekitar 500 sampai 700 mobil. Terdapat dua alternatif biaya parkir yang akan diterima oleh pemakai kendaraan, tergantung pada pihak pengelola parkir, yaitu pihak pemerintah setempat menerapkan biaya nominal atau pemerintah setempat menyerahkan pada pihak operator komersial yang menggunakan biaya struktural. Biasanya pemerintah lokal mengatasi defisit parkir di luar jalan tadi dengan Dana Pajak (Rate Fund) atau dari surplus parkir meter.
Keuntungan :
Tidak mengganggu lalu lintas Faktor keamanan lebih tinggi Kerugian :
Perlu biaya investasi awal yang besar.
Bagi pengguna dirasakan kurang praktis, apalagi jika kepentingannya hanya sebentar saja.
II-4 2.3 Satuan Ruang Parkir
2.3.1. Dimensi Ruang
Suatu “Satuan Ruang Parkir” (SRP) adalah tempat untuk satu kendaraan.
Dimensi ruang parkir menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 1998,
dipengaruhi oleh :
a. Lebar total kendaraan
b. Panjang total kendaraan
c. Jarak bebas
d. Jarak bebas areal lateral
Ukuran kebutuhan ruang parkir pada pusat kegiatan ditentukan sebagai berikut.
a. Berdasarkan hasil studi Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 1. Kegiatan parkir yang tetap
o Pusat perdagangan o Pusat Perkantoran Luas area total (100m2) 10 20 50 100 500 1000 1500 2000 Kebutuhan (SRP) 59 67 88 125 415 777 1140 1502 Jumlah karyawan 1000 1250 1500 1750 2000 2500 3000 4000 5000 Kebutuhan (SRP) Administrasi 235 236 237 238 239 240 242 246 249 Pelayanan Umun 288 289 290 291 291 293 295 298 302
II-5
o Pasar Swalayan
o Pasar
o Sekolah/Perguruan tinggi
o Tempat Rekreasi
Luas Area Total
(100m2) 50 100 150 200 400 800 1600 3200 6400 Kebutuhan (SRP) 103 109 115 122 146 196 295 494 892
o Rumah Sakit
Jumlah Tempat Tidur 50 75 100 150 200 300 400 500 1000 Kebutuhan (SRP) 97 100 104 111 118 132 146 160 230
o Hotel Tempat Penginapan Luas Area Total
(100m2) 40 50 75 100 200 300 400 500 1000
Kebutuhan (SRP) 160 185 240 300 520 750 970 1200 2300
Luas Area Total (100m2) 50 75 100 150 200 300 400 500 1000 Kebutuhan (SRP) 225 250 270 310 350 440 520 600 1050 Jumlah Mahasiswa/Oran g 3000 400 0 500 0 600 0 700 0 800 0 900 0 100 00 1100 0 120 00 Kebutuhan (SRP) 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 Jumlah Kamar 100 150 200 250 350 400 550 550 600 Tarip Standa rt <100 154 155 156 158 161 162 165 166 167 100-150 300 450 476 477 480 481 484 485 487 150-200 300 450 600 798 799 800 803 804 806 200-250 300 450 600 900 1050 1119 1122 1124 1425
II-6 2. Parkir yang bersifat sementara
o Bioskop
o Tempat Pertandingan Olahraga
Jumlah Tempat Tidur 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 15000 1000 Kebutuhan (SRP) 235 290 340 390 440 490 540 790 230
Penentuan SRP untuk jenis kendaraan diklasifikasi menjadi tiga golongan,
dapat dilihat pada Tabel 2.1 dan Tabel 2.2
Tabel 2.1 Penentuan Satuan Ruang Parkir
Jenis Kendaraan Satuan Ruang Parkir (m2)
1. a. Mobil penumpang untuk golongan I
b. Mobil penumpang untuk golongan II
c. Mobil penumpng untuk golongan III
2. Bus / truk 3. Sepeda Motor 2,30 x 5,00 2,30 x 5,00 3,00 x 5,00 3,40 x 5,00 0,75 x 2,00
(Sumber : Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1998) Jumlah Tempat
Duduk 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 Kebutuhan (SRP) 198 202 206 210 214 218 222 227 230
II-7
Tabel 2.2. Pemakaian Golongan SRP
Golongan Jenis bukaan pintu Penggunaan
I
Pintu depan belakang
terbuka tahap awal + 55
cm
Kendaraan untuk karyawan atau
pekerja kantor dan kendaraan
untuk tamu/pengunjung kegiatan
perkantoran,perdagangan,
pemerintah, universitas
II
Pintu depan/belakang
penuh + 75 cm
Kendaraan untuk pengunjung
tempat olahraga pusat hiburan,
hotel, swalayan, rumah sakit,
bioskop
III
Pintu depan terbuka
penuh dan ditambah
untuk pergerakan kursi
roda
Kendaraan untuk Orang cacat
(Sumber : Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1998)
Dilihat dari Tabel 3.1 bahwa satuan ruang parkir untuk sepeda motor adalah
II-8
Gambar 2.1. Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk Sepeda Motor (dalam cm)
2.3.2. Posisi Parkir
Pola parkir sepeda motor roda dua umumnya posisi kendaraan adalah 90o.
Dilihat dari segi efektifitas ruang, posisi sudut 90o paling menguntungkan
disebabkan antara lain:
a. Pola parkir satu sisi
Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang parkir tidak begitu
besar (<5,6 m)
(Sumber : Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 1998)
Gambar 2.2 Pola parkir satu sisi
b. Pola parkir dua sisi
Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup memadai
(lebar ruas > 5,6 m)
1,6 m
II-9
( Sumber : Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 1998 )
Gambar 2.3 Pola parkir dua sisi
c. Pola parkir pulau
Pola ini dapat diterapkan apabila ketersediaan ruang parkir cukup luas.
(Sumber : Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 1998)
Gambar 2.4. Pola parkir pulau dua gang dengan sudut 90o
Keterangan =
h = jarak terjauh antara tepi luar satuan ruang parkir
w = lebar terjauh satuan ruang parkir pulau
b = lebar jalur gang
2 m 1,6 m m 2 m b w b b b w 2 m 2 m 2 m 2 m 1,6 m 1,6 m h
II-10 2.3.3. Kebutuhan Ruang Gerak
Kebutuhan ruang gerak kendaraan parkir dipengaruhi oleh:
a. Luas bentuk pelataran parkir
b. Jalur sirkulasi (tempat yang digunakan untuk pergerakan kendaraan
yang masuk dan keluar dari fasilitas parkir).
c. Jalur gang (jalur antara dua deretan ruang parkir yang berdekatan)
d. Dimensi ruang parkir
2.3.4. Standar KRP
Standart kebutuhan ruang parkir akan berbeda – beda untuk tiap jenis tempat
penelitian. Hal ini disebabkan antara lain karena perbedaan tipe pelayanan
tarif yang dikenakan, ketersediaan ruang parkir, tingkat kepemilikan
kendaraan bermotor, dan tingkat pendapat masyarakat. Dari hasil studi Ditjen
Perhubungan Darat 1996, standar kebutuhan ruang parkir untuk pusat
perdagangan dapat dilihat dalam Tabel 3.3 berikut ini.
Tabel 3.3 Kebutuhan ruang parkir sepeda motor di pusat perdagangan
Luas area total
(100 m2)
10 20 50 100 500 1000 1500 2000
Kebutuhan (SRP)
Indeks
59 67 88 125 415 777 1140 1502
(Sumber : Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 1998)
Untuk mengetahui ukuran kebutuhan ruang parkir mobil penumpang pada
tempat – tempat berbeda Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 1996,
II-11
Tabel 2.4. Ukuran Kebutuhan Ruang Parkir
Peruntukan Satuan Kebutuhan Ruang Parkir Pusat perdagangan • Pertokoan • Pasar Swalayan • Pasar Pusat Perkantoran • Pelayanan bukan umum • Pelayanan umum Sekolah Hotel/Tempat Penginapan Rumah Sakit Bioskop SRP / 100 m2 luas lantai efektif SRP / 100 m2 luas lantai efektif SRP / 100 m2 luas lantai efektif SRP / 100 m2 luas lantai efektif SRP / 100 m2 luas lantai efektif SRP / mahasiswa SRP / kamar 3,5 – 7,5 3,5 – 7,5 1,5 – 3,5 0,7 – 1,0 0,2 – 1,0 0,2 – 1,3 0,1 – 0,4
II-12
SRP / tempat tidur
SRP / tempat duduk
(Sumber: Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1998)
Untuk memperlancar arus sirkulasi parkir dibutuhkan lebar jalur gang yang
optimal. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 1998 memberikan batasan
lebar jalur gang untuk berbagai macam jenis kendaraan yang disajikan data
Tabel 2.5 berikut ini :
Tabel 2.5. Dimensi Lebar Jalur Gang.
SRP
Lebar Jalur Gang
30o 45o 60o 90o 1 arah 2 arah 1 arah 2 arah 1 arah 2 arah 1 arah 2 arah a. SRP Mobil Pnp 2,5 m x 5,0 m 3,0* 3,50** 6,00* 6,50** 3,00* 3,50** 6,00* 6,50** 5,1* 5,1** 6,00* 6,50** 6,0* 6,5** 8,0* 8,0** b. SRP Mobil Pnp 2,5 m x 5,0 m 3,0* 3,50** 6,00* 6,50** 3,00* 3,50** 6,00* 6,50** 4,60* 4,60** 6,00* 6,50** 6,0* 6,5** 8,0* 8,0** c. SRP Sepeda 1,6* 1,6**
II-13 Motor 0,75 m x 30 m d. SRP Bus\Tru k 3,40 m x 12,5 m 9,5
(Sumber : Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 1998)
Keterangan :
* = lokasi parkir tanpa fasilitas pejalan kaki
** = lokasi parkir dengan fasilitas pejalan kaki
2.4 Penentuan Kebutuhan Parkir
Jenis peruntukan kebutuhan parkir menurut Direktorat Jenderal Perhubungan
Darat, 1996 adalah sebagai berikut :
a. kegiatan parkir yang tetap
1) pusat perdagangan
2) pusat perkantoran swasta atau pemerintah
3) pusat perdagangan eceran atau pasar swalayan
4) pasar
5) sekolah
6) tempat rekreasi
7) hotel dan tempat penginapan
II-14 b. kegiatan parkir yang bersifat sementara
1) bioskop
2) tempat pertunjukan
3) tempat pertandingan olahraga
4) rumah ibadah.
2.4.1. Analisis Karakteristik Parkir
Lama waktu parkir atau durasi adalah lama waktu yang dihabiskan oleh pemarkir
pada ruang parkir. Lamanya parkir dinyatakan dalam jam. Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata lamanya parkir adalah (Oppenlander, 1976):
(Nx) × (x) × (I) D =
Nt Keterangan:
D : Rata-rata lama parkir atau durasi (jam/kendaran).
Nx : Jumlah kendaraan yang parkir selama interval waktu survai (kendaraan).
X : Jumlah dari interval.
l : Interval waktu survai (jam).
Nt : Jumlah total kendaraan selama waktu survai (kendaraan) Rumus tersebut digunakan untuk menghitung lama waktu parkir.
Perhitungan karakteristik dimaksudkan sebagai sifat-sifat dasar memberikan pelayanan penilaian terhadap pelayanan parkir dan permasalahan parkir yang terjadi pada lokasi studi. Berdasarkan karakteristik parkir, akan dapat diketahui kondisi perparkiran yang terjadi pada lokasi studi seperti mencakup volume parkir, akumulasi parkir, angka pergantian parkir, kapasitas parkir, penyediaan ruang parkir dan indeks parkir. Perhitungan tersebut dapat digunakan dalam rumus sebagai berikut :
II-15 Volume Parkir
Volume parkir adalah jumlah kendaraan yang termasuk dalam beban parkir (yaitu jumlah kendaraan per periode waktu tertentu, biasanya per hari), (Hobbs, 1979). Rumus yang digunakan untuk
menghitung volume parkir adalah: Volume = Nin + X (kendaraan) Keterangan:
Nin : Jumlah kendaraan yang masuk(kendaraan).
X : Kendaraan yang sudah ada sebelum waktu survai (kendaraan). Akumulasi Parkir
Akumulasi parkir adalah jumlah keseluruhan yang parkir di suatu tempat pada waktu tertentu dan dibagi sesuai dengan kategori jenis maksud perjalanan, dimana integrasi dari akumulasi parkir selama periode tertentu menunjukkan beban parkir
(jumlah kendaraan parkir) dalam satuan jam kendaraan per periode waktu tertentu (Hobbs, 1979).
Tingkat Pergantian Parkir (Parking Turn Over)
Tingkat pergantian parkir akan menunjukkan tingkat penggunaan ruang parkir yang diperoleh dari pembagian antara jumlah total kendaran yang parkir dengan jumlah petak parkir yang tersedia selama waktu pengamatan. Rumus yang digunakan untuk menghitung tingkat pergantian parkir adalah (Oppenlander, 1976):
Nt TR =
(S) × (Ts) Keterangan:
TR : Angka pergantian parkir (kendaraan/ petak/jam). S : Jumlah total stall/petak resmi (petak).
Ts : Lamanya periode survai (jam).
Nt : Jumlah total kendaraan pada saat dilaksanakan survai (kendaraan)
II-16 Indeks Parkir
Indeks parkir adalah perbandingan antara akumulasi parkir dengan kapasitas parkir. Nilai indeks parkir ini dapat menunjukkan seberapa kapasitas parkir yang terisi. Rumus yang digunakan untuk
menghitung nilai indeks adalah:
Akumulasi Parkir IP = Kapasitas Parkir
II-17 2.5 Study Terdahulu
Judul : ANALISIS KRBUTUHAN RUANG PARKIR DI PASAR BANDARJO UNGARAN
Penulis : Ririh Sudirahardjo, 2004
Abstract
Bandarjo Market terletak di jalan Gatot Subroto Ungaran . Ini adalah salah satu pasar tradisional terbesar di Kabupaten Semarang . Gatot Subroto adalah cara utama jalan alternatif ke Semarang - Solo . Letaknya yang strategis membuat Bandarjo Ungaran Pasar memiliki banyak pelanggan dari asal sendiri atau orang-orang dari luar kota . Bandarjo Market yang terletak di pusat area bisnis di Ungaran memiliki 16.362 m2, Itu dibagi menjadi 14,588.5 m2 sebagai bangunan dan 1,773.5 m2sebagai tempat parkir di wilayah pasar . Sedangkan untuk jalan tanah yang digunakan sebagai parkir terletak di sekitar bangunan kedua yang 1,396.5 m2. Jalan tanah yang digunakan seperti parkir melibatkan :Jalan Tunggorono , Jalan Raya Tunggorono dan Jalan Telomoyo. Fenomena yang disebabkan oleh fasilitas parkir yang cukup untuk kendaraan yang mengunjungi pasar Bandarjo dan realisasi rendah dari para pengunjung pasar atau pengguna . Jadi hal itu menyebabkan lalu lintas yang padat di Jalan Gatot Subroto dan jalan di sekitar pasar . Hal ini dapat dilihat dari lalu lintas tidak teratur di pasar Bandarjo baik bagi mereka yang akan memasuki , mencari parkir atau bagi mereka yang akan berangkat dari daerah itu sehingga , salah satu masalah menyebabkan adalah kemacetan lalu lintas dan perasaan tidak nyaman .
Dari analisis tersebut , dapat membuat hipotesis yang sebagai berikut : 1. Para pemilik kendaraan yang berkunjung ke sana cenderung
memilih yang mudah dan cepat parkir seperti pada berikut jalan . 2. Para pengguna jalan undiciplined dan campuran angkutan umum
yang dimasukkan dalam sistem ( di jalur sekitar pasar ) , dan terbatas parkir membandingkan dengan ketinggian volume parkir , dan manajemen parkir yang buruk menjadi menyebabkan disorganisasi dan kemacetan lalu lintas di sekitar pasar .
II-18
Metode survey dalam penelitian ini menggunakan pengumpulan data primer terhadap parkir demand ( datang , menunggu dan berangkat dari sistem) oleh pengunjung pasar untuk menganalisis tingkat kedatangan ( Λ ) dan tingkat parkir ( μ ) . Sebuah data sekunder digunakan untuk memprediksi kebutuhan parkir melibatkan : Populasi , PDRB , kepemilikan kendaraan dan jumlah parkir itu sendiri . Pada tahun 2004 , jumlah pengendara mobil di mana diparkir di pasar Bandarjo adalah 1,051 untuk mobil dan 2,081 untuk sepeda motor .
Dari analisis ini , dapat disimpulkan bahwa kapasitas parkir yang optimal adalah 152 untuk mobil dan 296 sepeda motor . Sementara tempat parkir yang disediakan hanya 103 untuk mobil dan 140 untuk sepeda motor , sehingga parkir yang ada tidak cukup . Dari prediksi tersebut, jumlah kendaraan yang diparkir di pasar yakin Bandarjo per hari pada tahun 2014 adalah 4.275 untuk mobil dan 5,481 untuk sepeda motor , dengan kebutuhan parkir sebagai 618 untuk mobil dan 779 untuk sepeda motor . Dari hasil perhitungan Total Biaya Program itu bisa mendapatkan bahwa tingkat parkir optimal adalah Rp . 4.500,00 untuk mobil dan Rp . 1.100,00 untuk sepeda motor . Berdasarkan survei responden , hal itu menunjukkan bahwa tingkat parkir diinginkan oleh orang-orang Rp . 300,00 - Rp . 600,00 , maka diperlukan kebijakan subsidi dari pemerintah .
II-19
Judul : ANALISIS KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN RUANG PARKIR PADA PUSAT PERBELANJAAN DI KABUPATEN BADUNG
Penulis : Putu Alit Suthanaya, 2010
Abstract
Peningkatan jumlah aktivitas terutama pusat perbelanjaan di Kabupaten Badung, membutuhkan adanya fasilitas parkir yang memadai. Saat ini belum ada kajian mengenai karakteristik dan perhitungan standar kebutuhan ruang parkir pada pusat perbelanjaan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi karakteristik parkir pada pusat perbelanjaan di Kabupaten Badung dan menganalisis standar kebutuhan ruang parkirnya. Data yang diperlukan meliputi data primer yang diperoleh dari survai lapangan digunakan untuk
memperoleh karakteristik parkir dan data sekunder yang diperoleh dari manajemen pusat perbelanjaan digunakan untuk menganalisis standar kebutuhan ruang parkir.
Hasil kajian menunjukkan bahwa, untuk kendaraan ringan, indeks parkir dengan akumulasi parkir rata-rata sebesar 0,72. Sedangkan untuk sepeda motor, indeks parkir dengan akumulasi parkir rata-rata sebesar 3,09. Model hubungan antara akumulasi parkir rata-rata kendaraan ringan dengan luas bangunan untuk hari kerja adalah y = ,0 0016x + ,9 289 (R2 = 0,8786) dan sepeda motor adalah y = ,0 0032x + 123 69, (R2 = 0,5776). Sehingga dapat ditentukan bahwa untuk luas bangunan maksimum 75.648 m2 diperlukan akumulasi parkir rata-rata per jam sebesar 178 kendaraan ringan per jam dengan 194 petak dan 434 sepeda motor per jam dengan 1.209 petak. Untuk luas bangunan minimum 5.000 m2 diperlukan akumulasi parkir rata-rata per jam sebesar 19 kendaraan ringan per jam dengan 21 petak dan 141 sepeda motor per jam dengan 393 petak.
II-20
Judul : ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL RENCANA
PEMBANGUNAN GEDUNG PARKIR BERTINGKAT DI PASAR LOKITASARI
Penulis : I G Narendra Kasuma, 2011 Abstract
Kota Denpasar sebagai ibu kota Provinsi Bali dimana aktivitas dan interaksi antar masyarakatnya sangat kompleks dan bervariasi. Ibu kota provinsi Bali ini memiliki luas wilayah 127,78 km2 yang terbagi atas empat (4) wilayah kecamatan dengan jumlah penduduk sebesar 758.000 jiwa (Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2010), dalam aktivitas dan interaksinya memiliki berbagai kawasan. Pada kawasan pasar Lokitasari timbul berbagai permasalahan lalu lintas yang salah satunya adalah permasalahan parkir. Hal ini seperti terlihat di kawasan Gajah Mada dimana terdapat Pasar Badung dan Pasar Payuk yang menjadi salah satu tempat akumulasi massa. Masyarakat akan datang menggunakan kendaraan dan membutuhkan areal parkir untuk parkir kendaraannya dimana kapasitas ruang parkir yang ada di kawasan tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan parkir bagi pengunjung kawasan ini dan dengan adanya keputusan Pemerintah Kota Denpasar untuk menata kembali kawasan Gajah Mada menjadi kawasan heritage (warisan), sehingga diperlukan sebuah areal untuk menampung kendaraan-kendaraan untuk parkir.
Pemerintah dalam hal ini pemerintah kota Denpasar memandang perlu untuk mencari pemecahan masalah tersebut yaitu salah satunya dengn membangun gedung parkir di Lokitasari. Untuk mengkaji pembangunan gedung parkir Lokitasari maka perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial rencana pembangunan parkir bertingkat di Pasar Lokitasari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah NPV, BCR, IRR dan Metode Payback Period.
Hasil analisis finansial dengan tarif parkir alternatif satu sebesar Rp 2000 dengan tingkat suku bunga 18%. Analisis finansial menunjukan Nilai NPV negatif, BCR kurang dari satu dan IRR yang lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku maka pembangunan gedung parkir Lokitasari tidak layak untuk
II-21
dilaksanakan. Dengan tarif parkir alternatif dua sebesar Rp 3500 dengan tingkat suku bunga 18%, analisis finansial menunjukan dari Nilai NPV positif, Nilai BCR lebih dari satu dan IRR lebih besar dari suku bunga yang berlaku maka pembangunan gedung parkir ini layak untuk dibangun.
II-22
Judul : ANALISIS KEBUTUHAN DAN PENATAAN RUANG PARKIR DI KAMPUS UNIVERSITAS BATURAJA
Penulis : Lindawati MZ, 2012
Abstract
Dari hasil analisa dan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan hal-halsebagai berikut:
1. Luas halaman parkir atas khusus kendaraan sepeda motor untuk mahasiswa 1536 m dengan fasilitas parkir dapat menampung ± 1024 kendaraan roda dua (motor) sedangkanluas parkir bawah 792m2 dengan fasilitas parkir dapat menampung ± 528 kendaraan rodadua (motor), dan luas halam parkir kendaraan roda empat (mobil) 390m2 yang dapatmenampung ±33 kendaraan.
2. Puncak sibuk kendaraan yaitu pada hari rabu dan kamis, seperti terlihat pada tabel 9. di bawah ini:
Tabel 9.
Puncak Sibuk Kendaraan
No Hari dan Tanggal Jumlah Kendaraan Jumlah Rata – Rata Kendaraan Atas Bawah 1. Senin 03-09-12 544 424 968 2. Selasa 04-09-12 408 580 988 3. Rabu 05-09-12 715 713 1428 4. Kamis 06-09-12 606 554 1160 5. Jumat 07-09-12 575 550 1125 6. Sabtu 08-09-12 511 541 1052
3. Para mahasiswa dan staf pegawai UNBARA masih banyak yang tidak menertibkan jalurmasuk dan jalur keluar pada halaman kampus UNBARA sehingga sering terjadikeruwetan dikarenakan salah menggunakan jalur.
II-23
4. Lahan parkir yang ada sekarang masih mencukupi untuk kendaraan yang masuk kekampus C UNBARA bahkan dalamkondisi puncak sekalipun. 5. Penataan ruang parkir di kampus Karang Sari Universitas Baturaja satu
II-24
Judul : KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN LUAS TERMINAL TEGAL SEBAGAI TERMINAL BUS TIPE A
Penulis : Mohammad Zakaria, 2010
Abstract
Seiring perkembangan kegiatan perekonomian Kota Tegal menjadikan mobilitas penduduk baik yang menuju maupun keluar kota semakin meningkat pula. Karena kota Tegal secara geografis terletak di daerah segitiga emas. Perkembangan kegiatan perekonomian merupakan faktor tarikan yang membuat tingkat mobilitas penduduk yang memakai transportasi darat semakin meningkat sehingga menyebabkan kebutuhan terhadap sarana transportasi darat khususnya bus juga mengalami peningkatan.Terminal Tegal sebagai prasarana transportasi menjadi sangat signifikan keberadaannya dalam mendukung permintaan moda trasnportasi bus sebagai sarana mobilitas penduduk. Oleh karena itu sangat penting mengetahui bagaimana kondisi. Terminal Tegal saat ini dikaitkan dengan karakteristik parkirnya dan kebutuhan luas terminal sebagai Terminal tipe A.
Penelitian ini menggunakan metode survai lapangan (field research) dengan melakukan pengamatan secara langsung di Terminal Tegal melalui penyebaran surveyor pada titik-titik tertentu guna memudahkan dalam pencatatan sehingga diperoleh data pengamatan yang valid. Pengamatan langsung dilakukan dengan pencatatan secara manual data waktu kedatangan bus, plat nomor, dan jurusan. Analisis penelitian menggunakan microsoft excel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik parkir akumulasi parkir maksimu 7 bus, volume parkir tertinggi sebanyak 689 bus, tingkat pergantian parkir tertinggi sebesar 54.4 bus/hari/ruang, indeks parkir tertinggi sebesar 95 %, dan durasi parkir terlama sebesar 33.16 menit. Sementara itu berdasarkan standar LPM UGM tentang fasilitas terminal menunjukkan bahwa Luas yang dibutuhkan terminal Tegal sebagai terminal tipe A adalah sebesar 5,78 Ha. Luas yang sekarang ada adalah sebesar 8 Ha, artinya Terminal Tegal untuk standar Terminal tipe A sudah Terpenuhi
II-25
Judul : AUDIT RUANG PARKIR KENDARAAN PENGUNJUNG PADA PUSAT PERBELANJAAN
(STUDI KASUS AREAL PARKIR GEDUNG PROGO
YOGYAKARTA)
Penulis : Rahmat Ramadhan, 2012 Abstract
Swalayan Progo Yogyakarta merupakan salah satu pusat perbelanjaan masyarakat Yogyakarta, dimana tempat terjadinya aktivitas ekonomi. Meningkatnya kegiatan ekonomi akan membawa dampak pada permintaan akan fasilitas yang menunjang kegiatan tersebut. Salah satunya adalah kebutuhan lahan parkir pengunjung. Tujuan penelitian parkir di areal parkir gedung Progo Yogyakarta ini adalah menentukan karakteristik parkir kendaraan (Akumulasi parkir, Volume parkir, Tingkat turnover, Indeks parkir) dan menentukan kebutuhan ruang parkir.
Penelitian ini menggunakan survey kordon, yaitu dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan kendaraan yang masuk dan keluar pada lokasi pengunjung roda dua dan roda empat areal parkir dalam gedung. Penelitian dilaksanakan selama tiga hari yaitu pada hari Sabtu tanggal 25 Februari 2012 Sampai hari Senin 27 Februari 2012 pada jam 10.00 - 20.00 WIB.
Hasil survei dan analisis data pada areal parkir mobil dan motor dalam gedung Progo Yogyakarta sebagai berikut: Akumulasi parkir maksimal untuk kendaraan roda empat di areal parkir gedung Progo Yogyakarta terjadi pada hari Sabtu, 25 Februari 2012 sebanyak 94 Kend/15 menit. Untuk kendaraan roda dua juga terjadi pada hari sabtu, 25 Februari 2012 sebanyak 406 kendaraan/15 menit, Volume parkir maksimal untuk kendaraan roda empat di areal parkir gedung Progo Yogyakarta terjadi pada hari Sabtu, 25 Februari 2012 sebanyak 555 Kend. Untuk kendaraan roda dua juga terjadi pada hari Sabtu, 25 Februari 2012 sebanyak 1629 kendaraan. Tingkat turnover parkir maksimal untuk kendaraan roda empat di areal parkir gedung Progo Yogyakarta adalah sebesar 4,87 kend/hari/ruang dengan tingkat turnover parkir rata - rata selama 3 hari survey
II-26
sebesar 4,55 kend/hari/ruang. Tingkat turnover parkir maksimal untuk kendaraan roda dua di areal parkir gedung Progo Yogyakarta adalah pada hari Sabtu yaitu sebesar 4,87 kend/hari/ruang dengan tingkat turnover parkir rata- ratapada hari Sabtu sebesar 4,11 kend/hari/ruang dengan tingkat turnover parkir rata-rata selama 3 hari survei sebesar 3,75 kend/hari/ruang. Indeks parkir maksimal untuk kendaraan roda empat di areal parkir gedung Progo Yogyakarta terjadi pada hari Sabtu sebesar 82,46%, sedangkan Indeks parkir maksimal untuk kendaraan roda dua di areal parkir gedung Progo Yogyakarta terjadi pada hari Minggu sebesar 96.72%. Kebutuhan Ruang Parkir (KRP) tertinggi untuk kendaraan roda empat di areal parkir gedung Progo Yogyakarta terjadi pada hari Sabtu sebesar 1175 m2, luas areal parkir yang disediakan untuk kendaraan roda empat sebesar 1.425 m2. Jadi, ruang parkir yang disediakan untuk kendaraan roda empat masih bisa menampung kendaraan yang masuk. Dan untuk kendaraan roda dua Kebutuhan Ruang Parkir (KRP) tertinggi terjadi pada hari sabtu sebesar 609 m2, sedangkan luas areal parkir yang disediakan untuk kendaraan roda dua sebesar 594 . Maka untuk ruang parkir kendaraan roda dua di areal parkir gedung Progo Yogyakarta pada hari Sabtu tidak dapat menampung kendaraan.
II-27
Judul : ANALISIS KAPASITAS RUANG PARKIR MOBIL UNTUK KAWASAN FMIPA, FBS, DAN REKTORAT UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Penulis : Bagus Rizky Abdul Azizi, 2011 Abstract
Dari tahun ke tahun pertumbuhan pengguna kendaraan bermotor di berbagai tempat sangatlah tinggi, hal tersebut seiring dengan keinginan manusia akan sesuatu hal yang berhubungan dengan kebutuhan. Hal yang serupa juga terjadi di lingkungan kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) untuk beberapa tahun belakangan ini. Bertambahnya jumlah mahasiswa serta karyawan menyebabkan naiknya volume kendaraan. Hal inilah yang menjadi dasar permasalahan dalam skripsi ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kapasitas ruang parkir mobil yang berada di FMIPA, FBS, dan REKTORAT Universitas Negeri Semarang dalam memenuhi tingkat permintaan parkir yang ada dan memberikan rekomendasi mengenai karakteristik parkir mobil untuk kawasan FMIPA, FBS, dan REKTORAT Universitas Negeri Semarang.
Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian ini memakai metode Satuan Ruang Parkir dari Ditjen Perhubungan Darat 1996 dan analisis karakteristik parkir dari Hobbs 1995. Data yang didapat dari hasil survei dimasukkan dalam tabel, dan dengan menggunakan program komputer data tersebut diolah dengan cara mencocokkan nomor polisi kendaraan yang masuk dengan nomor polisi kendaraan yang keluar sehingga diperoleh jumlah kendaraan yang masuk, keluar, maupun parkir serta lama kendaraan parkir, yang akan digunakan untuk mengetahui nilai Kebutuhan Ruang Parkir.
Dari hasil perhitungan dan hasil survei lapangan dengan luas total ruang parkir untuk mobil sebesar 4266,51 m2, total SRP yang ada saat ini sebesar 229. Kapasitas ruang parkir untuk saat ini masih dapat melayani permintaan yang ada meskipun dalam keadaan akumulasi maksimum. Sebagai bentuk pemecahan masalah dari permasalahan yang ada mengenai parkir mobil di kawasan FMIPA, FBS, dan REKTORAT sekaligus sebagai bahan rekomendasi untuk mewujudkan
II-28
program konservasi kampus yaitu menjadikan kawasan parkir yang ada menjadi terpusat dengan membuat gedung parkir baru seluas 1976,8 m2 tinggi dua lantai dengan sistem parkir off street yang menggunakan pola sudut 90 °.
II-29
Judul : ANALISA KEBUTUHAN FASILITAS RUANG PARKIR STUDI KASUS FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU Penelis : Horass S.M.M, 2009
Abstract
Hasil dari pengolahan data, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Indeks Parkir yang diperoleh masih diatas 100%, artinya bahwa fasilitas ruang parkir tidak mencukupi bila dibandingkan dengan jumlah civitas akademik. Kondisi ini sangat menyulitkan / merepotkan apabila civitas akademik menggunakan kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil untuk menggunakan fasilitas ruang parkir yang ada.
2. Kebutuhan fasilitas ruang parkir di FEKON-UNRI sebesar 105 SRP untuk sepeda motor dan 30 SRP untuk mobil ternyata lebih besar bila dibandingkan dengan standar Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir untuk Perguruan Tinggi yaitu sebesar 60 SRP (lihat Tabel 3. Kondisi ini menyatakan bahwa setiap Perguruan Tinggi memiliki
karakteristik masing-masing.
4. Kehadiran maksimum secara bersamaan seluruh civitas akademik FEKON-UNRI terjadi selama 15 menit yaitu pada hari Rabu dan hari Kamis jam 11.00-11.15 Wib.
II-30
Judul : KAJIAN PENENTUAN STANDART KEBUTUHAN RUANG PARKIR HOTEL BERBINTANG DI KOTA SEMARANG Penulis : Ismiyati
Abstract
Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Parameter hotel yang berkaitan dengan kebutuhan parkir (Y) adalah akumulasi maksimum ruang pertemuan (X2), akumulasi maksimum kamar tidur yang terisi (X3), kamar tidur yang tersedia (X4) dan luas lantai hotel total (X5). Dari hasil perhitungan matematis dan analisa statistik diperoleh koefisien kolerasi dan determinasi terbaik dan memenuhi syarat pengujian statistik dengan tingkat kepercayaan 95% adalah: Dengan pendekatan Regresi sederhana diperoleh hasil sebagai berikut : Akumulasi Maksimum Ruang Pertemuan : Y = -34,3548 + 84,6827 ln X2 - Kamar Yang Tersedia : Y = 7,421182 e 0,020286 X4 - Luas Lantai Hotel Total Y = 18,009594 e 0,000259 X5 Dengan Pendekatan Model Multiple Regresi diperoleh hasil sebagai berikut :
Y = -35.3967+0.1877 X2+0.3684 X4 + 0.0082 X5
2. Penggunaan ruang pertemuan ternyata mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kebutuhan parkir hotel ini ditunjukkan dengan hasil uji korelasi terbesar diantara variabel bebas yang lain, dimana hubungan antara kebutuhan parkir hotel dengan akumulasi pengunjung ruang pertemuan ditunjukkan r = 0,930127.
3. Kebutuhan parkir di hotel berbintang juga dipengaruhi oleh penyediaan fasilitas penunjang hotel sehingga tidak hanya bergantung pada jumlah kamar yang disediakan.
4. Kebutuhan parkir yang diambil merupakan perbandingan antara kebutuhan parkir pengunjung hotel dengan parameter hotel yaitu :
o 1 tempat parkir untuk 1,54 – 1,86 pengunjung ruang pertemuan.
o 1 tempat parkir untuk 1,88 – 2,08 kamar tidur yang tersedia.
II-31
5. Koefisien reduksi kebutuhan parkir hotel berbintang pada akhir minggu berbeda untuk setiap hotel. Pada Hotel Patra Jasa berkisar 0,55-0,79, untuk Hotel Graha Santika 0,67-0,86, untuk Hotel Santika 0,68-0,81 dan untuk Hotel Metro 0,73-0,91. Variasi faktor reduksi ini terjadi akibat aktifitas pengunjung ke fasilitas hotel berbeda untuk setiap hotel yang ditinjau dan perbedaan dalam fasilitas hotel yang disediakan untuk pengunjung.
II-32
Judul : ANALISIS KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN PARKIR DI PASAR KRENENG
Penulis : A.A Jaya Wikrama, 2010 Abstract
Pasar Kreneng merupakan salah satu pasar tradisional yang ada di kota Denpasar dengan aktivitas yang padat dimana pada jam-jam tertentu banyak kendaraan yang sulit mencari tempat untuk parkir. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik dan kebutuhan ruang parkir. Dari hasil analisis diperoleh karakteristik parkir adalah sebagai berikut: untuk off street parking, volume parkir tertinggi selama 9 jam pengamatan adalah sepeda motor sebesar 2.768 kend. Rata-rata lamanya parkir tertinggi adalah kendaraan ringan sebesar 1,953 jam/kend. Akumulasi tertinggi adalah sepeda motor sebesar 473 kend/jam yang terjadi antara jam 05.00-06.00. Kapasitas parkir tertinggi adalah sepeda motor sebesar 171 kend/jam. Indeks parkir tertinggi adalah sepeda motor sebesar 2,8. Untuk on street parking, volume parkir tertinggi selama 9 jam pengamatan adalah sepeda motor sebesar 782 kendaraan terjadi di Jalan Rijasa. Rata-rata lamanya parkir tertinggi adalah kendaraan ringan sebesar 2,340 jam/kend terjadi di Jalan Kamboja. Akumulasi tertinggi adalah sepeda motor sebesar 220 kend/jam yang terjadi di Jalan Rijasa antara jam 05.00-06.00. Kapasitas parkir tertinggi adalah sepeda motor sebesar 57 kend/jam yang terjadi di Jalan Rijasa. Indeks parkir tertinggi adalah sepeda motor sebesar 3,860 yang terjadi di Jalan Rijasa. Jumlah petak parkir yang dibutuhkan di dalam Pasar Kreneng untuk sepeda motor dan kendaraan ringan masing-masing sebanyak 618 dan 67 petak, di Jalan Kamboja 41 petak kendaraan ringan, di Jalan Rampai 82 petak sepeda motor dan 42 petak kendaraan ringan, di Jalan Rijasa 182 petak sepeda motor dan 34 petak kendaraan ringan.
II-33
Judul : ANALISIS KAPASITAS RUANG PARKIR MOBIL KAWASAN FIP, FIS, FH, DAN FE UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Penulis : Surya Arifin, 2010
Abstract
Aktivitas utama Universitas Negeri Semarang adalah pendidikan. Dalam aktivitas tersebut baik mahasiswa, dosen, atau pegawai lainnya saat ini sebagian besar dalam menjalankan aktivitasnya menggunakan kendaraan. Dengan penggunaan kendaraan dalam beraktivitas di lingkungan Universitas Negeri Semarang secara tidak langsung dibutuhkan area parkir kendaraan untuk memarkir kendaraan. Permasalahan yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut yaitu pada saat aktivitas puncak yang membuat jumlah kendaraan bertambah banyak. Untuk itu perlu diketahui seberapa besar kebutuhan ruang parkirnya dan dengan kapasitas yang ada apakah dapat menampungnya. Dengan permasalahan yang ada skripsi ini bertujuan untuk memberikan gambaran kebutuhan ruang parkir mobil dan memberikan solusi tentang perparkiran mobil di dalam kampus yang efektif dalam pemanfatan tata ruang.
Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian ini memakai metode Satuan Ruang Parkir dari Ditjen Perhubungan Darat 1996, pendekatan rumus Z dan menghitung akumulasi maksimum. Data yang didapat dari hasil survai dimasukkan dalam tabel, dan dengan menggunakan program komputer, data tersebut diolah dengan cara mencocokkan nomor polisi kendaraan yang masuk dengan nomor polisi kendaraan yang keluar sehingga diperoleh jumlah kendaraan yang masuk dan keluar kawasan parkir serta lama kendaraan parkir, yang nantinya akan digunakan untuk mengetahui kebutuhan ruang parkir.
Kebutuhan ruang parkir mobil secara teori menggunakan metode Ditjen Perhubungan Darat 1996 adalah 205 SRP dan pendekatan rumus Z adalah 41 SRP. Secara aktual yaitu dengan menghitung akumulasi maksimum yang terjadi, kebutuhan ruang parkir mobil adalah 73 SRP. Sedangkan kapasitas aktual yang ada sebesar 98 SRP. Nilai kebutuhan ruang parkir ditetapkan
II-34
berdasarkan akumulasi maksimum, yaitu 73 SRP. Dengan kebutuhan sebesar 73 SRP masih dapat dilayani dengan kapasitas aktual 98 SRP. Namun, untuk tahun-tahun berikutnya yaitu pada tahun 2018 kebutuhan ruang parkir mencapai 101 SRP. Dengan kapasitas tersebut sudah tidak dapat memenuhi. Pemecahan masalah tersebut ada dua alternatif yaitu dilakukan penambahan kekurangannya atau ruang parkir aktual dihilangkan dan diganti dengan ruang parkir baru yang terpusat.
II-35
Judul : ANALISIS KEBUTUHAN PARKIR KENDARAAN DI BANDARA
HUSEIN SASTRANEGARA Penulis : Eve Dayana, 2008
Abstract
Peningkatan jumlah pengguna pesawat di Bandara Husein Sastranegara membuat aktivitas di bandara semakin meningkat, sehingga dibutuhkan adanya fasilitas parkir kendaraan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan parkir. Dalam menganalisis kebutuhan parkir di Bandara Husein Sastranegara perlu diketahui karakteristik parkir eksisting. Dari hasil analisis karakteristik parkir yaitu akumulasi parkir, dapat ditentukan kebutuhan ruang parkir. Dengan menggunakan metode akumulasi maksimum, diperoleh akumulasi parkir maksimum untuk mobil sebesar 154 kendaraan pada pukul 09.15 – 09.30, dan untuk motor sebesar 168 kendaraan pada pukul 13.45 – 14.00. Sehingga, dapat ditentukan bahwa kebutuhan ruang parkir di bandara unuk masing-masing kendaraan yaitu mobil sebesar 204 petak parkir dan motor sebesar 268 petak parkir.
II-36
Judul : ANALISIS KEBUTUHAN PARKIR SEPEDA MOTOR FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS NEGRI MALANG Penulis : Agil Handayani, 2010
Abstract
Sebagai salah satu perguruan tinggi negeri, Universitas Negeri Malang memiliki jumlah mahasiswa yang besar. Hal ini menyebabkan tingginya kebutuhan lahan parkir sepeda motor dalam kampus.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik parkir sepeda motor Fakultas Sastra, mengetahui kebutuhan ruang parkir yang seharusnya tersedia, dan menentukan langkah–langkah penanganan yang diperlukan guna mengatasi masalah perparkiran yang terjadi.
Metode penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dengan mencatat plat nomor kendaraan yang masuk dan keluar area parkir. Penelitian dilakukan selama tiga hari Senin 5 April, Selasa 6 April, dan Rabu 7 April 2010 selama 11 jam setiap harinya (06.00 – 17.00 WIB), mewakili hari efektif kegiatan akademik di kampus.
Hasil penelitian di lapangan diketahui akumulasi parkir maksimum terjadi pada hari Rabu sebanyak 691 kendaraan dengan durasi parkir rata–rata 3 jam 50 menit. Angka pergantian (parkingturnover) tertinggi sebesar 2,84 kendaraan per petak parkir dengan indeks parkir 133,91 % . Indeks parkir melebihi 100% terjadi selama 5 jam 45 menit pada pukul 07.16 –13.00 WIB. Luas efektif lahan parkir yang tersedia 775,28 m2 (516 SRP) memenuhi 74,67% kebutuhan ruang parkir kendaraan, ruang parkir yang seharusnya tersedia sebesar 691 SRP sepeda motor dengan luas lahan efektif 1036,50 m2.
Dengan demikian ruang parkir yang tersedia sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan parkir kendaraan. Alternative penanganan masalah perparkiran yang terjadi antara lain dengan perluasan lahan parkir, pengaturan
II-37
letak kendaraan, penerapan tarif progresif, pengaturan jadwal kuliah, pengaturan nomor polisi ganjil genap, dan penerapan sistem two in one.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disarankan: (1) bagi pengelola parkir Universitas Negeri Malang harus segera melakukan penanganan agar masalah perparkiran yang terjadi dapat segera teratasi, (2) sebagai tindak lanjut dari manajemen parkir yang diterapkan harus dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kelemahan–kelemahannya, dan (3) agar dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan parkir pada masa yang akan datang.
II-38
Judul : ANALISIS KEBUTUHAN PARKIR DAN KARAKTERISTIKNYA (STUDI KASUS TERMINAL TIRTONADI SEBELAH
BARATSURAKARTA)
Penulis : Rochamad Prajanto Dwi, 2007 Abstract
Transportasi memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Transportasi dapat juga membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan terpencil. Perencanaan dan pelaksanaan pembangunannya perlu ditata dan dibentuk dalam satu kesatuan yang terpadu. Untuk menciptakan keterpaduan jaringan transportasi secara lancar dan tertib, maka perlu dibangun dan diselenggarakan terminal. Terminal Tirtonadi adalah terminal tipe A yang berfungsi sebagai transit rute bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP ) dan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kebutuhan parkir dan karakteristiknya serta mengevaluasi fasilitas-fasilitas yang ada dalam Terminal Tirtonadi. Penelitian dilakukan selama tiga hari yaitu hari Senin tanggal 21 Agustus 2006, Rabu 23 Agustus 2006 dan Sabtu 26 Agustus 2006 pada pukul 06.00 WIB – 18.00 WIB. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi analisis. Materi penelitian adalah bus yang menggunakan fasilitas parkir barat di Terminal Tirtonadi. Data yang diambil berupa data primer dari survei di lapangan yaitu pencatatan plat nomor kendaraan dan waktu masuk maupun waktu keluar terminal sebelah barat. Data sekunder yang dipakai adalah layout terminal, luas areal parkir sebelah barat dan fasilitas terminal. Hasil survei dianalisa dengan rumus dan teori yang ada dan dibandingkan dengan standarisasi yang ada. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kebutuhan parkir di Terminal Tirtonadi sebelah barat dilihat dari luas areal parkir cukup menampung kendaraan dikarenakan luas kebutuhan parkir berdasarkan akumulasi maksimum sebesar 39 kendaraan dengan SRP 74,8 m2 adalah 2.917,2 m2. Sedangkan luas areal parkir yang tersedia adalah 3.220 m2. Tetapi dari akumulasi maksimum, areal parkir sebelah barat melebihi kapasitas sebesar 32 kendaraan. Untuk kendaraan yang lain menuggu di areal yang kosong. Dari analisis diperoleh karakteristik parkir yaitu: headway rata-rata untuk bus Solo – Jogja sebesar 2,80 menit, Solo – Semarang sebesar 3,10 menit dan Solo – Jakarta
II-39
sebesar 6,41 menit. Akumulasi parkir maksimum harian tertinggi adalah 39 bus dengan interval waktu 15 menit terjadi pada hari Senin, 21 Agustus 2006 pada pukul 15.15 – 15.30 WIB. Indeks parkir maksimum tertinggi adalah 139,29 % terjadi pada hari Senin 21 Agustus 2006 dan indeks parkir rata-rata tertinggi adalah 106,41 %. Volume parkir harian tertinggi terjadi pada hari Senin dengan jumlah 590 bus. Tingkat turnover tertinggi sebesar 21,07 bus/hari/ruang. Jadi secara keseluruhan areal parkir di Terminal Tirtonadi sebelah barat tidak memenuhi standar kebutuhan parkir.