• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS TERHADAP ALASAN YURIDIS HAKIM DALAM MENGABULKAN GUGATAN PENGGUGAT DI PENGADILAN AGAMA BUKITTINGGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS TERHADAP ALASAN YURIDIS HAKIM DALAM MENGABULKAN GUGATAN PENGGUGAT DI PENGADILAN AGAMA BUKITTINGGI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

HAKIM DALAM MENGABULKAN GUGATAN

PENGGUGAT DI PENGADILAN AGAMA

BUKITTINGGI

Dahyul Daipon*

Abstract: The number of divorce increased more and more divorce happened, especially for Bukittinggi city in 2011 there are 377cases stated in the religion court. The problem is how the procedure and the phases of divorce in the religion court Bukittinggi, and how consideration of the judge can accept what the divorcer request in the case of divorce in 2010 and in 2011. This research is aimed at knowing and describing the procedure of divorce in the religion court Bukittinggi, and to analyze the judge consideration to decide the cases of divorce. The procedures of overcoming the cases of divorce in the religion court Bukittinggi, that are involving such as the phase of registration cases, assembly cases, and its decision. Mean while, the judge consideration in accepting the claiming divorcer is divorcer and divorcee can not be united, have lived separately from the house, it has concubine, can’t get the needs of their lives and often get bad attitude in the household

Keywords: Analyze, reason of juridical, religion court Bukittinggi

Pendahuluan

Pernikahan atau perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang laki-laki dan perempuan yang bertujuan untuk membina keluarga bahagia dan sejahtera. Di samping itu perkawinan adalah merupakan sarana yang terbaik untuk mewujudkan rasa kasih sayang sesama manusia dari padanya dapat diharapkan untuk melestarikan proses historis keberadaan manusia dalam kehidupan di dunia ini yang pada akhirnya akan melahirkan keluarga sebagai unit terkecil dari tatanan kehidupan dalam masyarakat.1

(2)

Di era kemajuan sekarang ini, seiring dengan kemajuan ilmu penge-tahuan dan teknologi, semakin banyak pula persoalan-persoalan baru yang melanda rumah tangga, semakin banyak pula tantangan yang di hadapi sehingga bukan saja berbagai problem yang dihadapi bahkan kebutuhan rumah tangga juga semakin meningkat.

Dampak dari krisis ekonomi pun turut memicu peningkatan percerai-an. Dimulai dengan kondisi masyarakat yang semakin terbebani dengan tingginya harga kebutuhan, banyaknya kasus pemutusan hubungan kerja oleh banyak perusahan, penurunan penghasilan keluarga, meningkatnya kebutuhan hidup dan munculah konflik keluarga.

Perceraian pada hakekatnya adalah suatu proses dimana hubungan suami isteri tatkala tidak ditemui lagi keharmonisan dalam perkawinan. Me ngenai definisi perceraian undang-undang perkawinan tidak mengatur secara tegas, melainkan hanya menentukan bahwa perceraian hanyalah satu sebab dari putusnya perkawinan, di samping sebab lain yakni kematian dan putusan pengadilan. Soebakti SH mendefinisikan perceraian adalah:

“Perceraian ialah penghapusan perkawinan karena keputusan hakim atau tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan”.2

Dengan berlakunya UU Nomor 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, dimana peraturan itu juga dijadikan sebagai hukum positif di Indo-nesia, maka terhadap perceraian diberikan pembatasan yang ketat dan tegas baik mengenai syarat-syarat untuk bercerai maupun tata cara mengajukan perceraian, hal ini di jelaskan dengan ketentuan pasal 39 UU No 1 Tahun 1974 yaitu:

Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah 1.

pengadilan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak .

Untuk melakukan perceraian harus cukup alasan bahwa antara suami 2.

isteri tidak akan dapat hidup rukun lagi sebagai suami isteri.

Tata cara di depan sidang pengadilan diatur dalam peraturan sendiri. 3.

Ketentuan pasal 115 Kompilasi Hukum Islam yaitu: “ Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”3. Jadi

dari ketentuan di atas jelaslah bahwa undang-undang perkawinan pada prinsipnya memperketat terjadinya perceraian, dimana menentukan

(3)

per-ceraian hanya dapat dilaksanakan dihadapan sidang pengadilan, juga harus disertai alasan-alasan tertentu untuk melakukan perceraian.

Putusnya perkawinan itu dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian maka dari berbagi peraturan tersebut dapat di ketahui ada dua macam perceraian yaitu cerai gugat dan cerai talak. Cerai talak ha nya berlaku bagi mereka yang beragama Islam dan di ajukan oleh pihak suami. Cerai talak adalah istilah yang khusus digunakan di lingkungan Peradilan Agama untuk membedakan para pihak yang mengajukan cerai. Da lam perkara talak pihak yang mengajukan adalah suami sedangkan cerai gugat pihak yang mengajukan adalah isteri. Sebagaimana disebutkan dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 114 bahwa4:

“Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak ataupun berdasarkan gugatan perceraian.”

Isteri mengajukan gugatan cerai kepada suami mempunyai alasan-alasan tertentu. Salah satu alasan-alasan itu adalah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dan ini di benarkan oleh Undang-undang perkawinan yaitu di atur dalam pasal 19 huruf (d) Undang-undang No 1 Tahun 1974 Jo pasal 116 huruf (d) Kompilasi Hukum Islam dan pada dasarnya undang-undang perkawinan mengatur dan menentukan tentang alasan-alasan yang dapat digunakan untuk mengajukan perceraian, yaitu:

Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi 1.

dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun ber-2.

turut-turut tanpa alasan yang sah atau karena alasan yang lain diluar kemampuannya.

Salah satu pihak mendapat pihak mendapat hukuman penjara selama 3.

5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan ber-langsung.

Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang 4.

membahayakan pihak lain.

Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat 5.

tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami atau istri.

Antara suami-istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkeran dan 6.

(4)

Hal ini dapat memicu pertengkaran yang terus menerus, akhirnya salah satu pihak melakukan tindakan kekerasaan, melukai fisik atau psikis. Korban kekerasan dalam rumah tangga umumnya adalah perempuan atau isteri yang notabene mempunyai fisik yang lemah di bandingkan dengan suaminya. Tetapi banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang tidak melaporkan nasibnya kepada yang berwenang, salah satu sebabnya adalah ketergantungan korban terhadap pelaku baik secara ekonomi maupun so-sial.

Kekerasan dalam rumah tangga ini biasanya di sebabkan oleh faktor tidak siapnya pasangan dalam menempuh kehidupan berumah tangga yang kemudian di salurkan ke dalam kehidupan rumah tangga, dan seringkali yang menjadi korban adalah dari pihak isteri dan anak-anaknya5.

Kekerasan dalam rumah tangga menurut pasal 1 ayat 1 undang-undang No. 23 tahun 2004, tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga menyatakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah ; “setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat tim-bulnya kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis, dan/ atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan per-buatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Adapun bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga seperti yang disebut di atas dapat dilakukan suami terhadap anggota keluarganya dalam bentuk: 1) Kekerasan fisik, yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka be-rat; 2) Kekerasan psikis, yang mengakibatkan rasa ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dll. 3). Kekerasan seksual, yang berupa pemaksaan seksual dengan cara tidak wajar, baik untuk suami maupun untuk orang lain untuk tujuan komersial, atau tujuan tertentu ; dan 4). Penelantaran rumah tangga yang terjadi dalam ling kup rumah tangganya, yang mana menurut hukum diwajibkan atasnya. Selain itu penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah, sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. Sehingga dengan alasan kekerasan di dalam rumah tangga itu maka pihak isteri mengajukan gugatan ke pengadilan Agama untuk memutuskan ikatan tali perkawainan tersebut.

(5)

Sejak di berlakukanya UU No. 7 tahun 1989 kemudian dirubah UU No 3 tahun 2006 tentang Peradilan Agama, maka ketentuan tentang tata cara mengajukan cerai talak dan cerai gugat bagi mereka yang beragama Islam yang dilakukan di Pengadilan Agama, telah diatur dalam Undang-undang ini. Dimana ketentuan tersebut tercantum dalam pasal 66 sampai pasal 86, dan dengan diberlakukanya Undang-undang Peradilan Agama tersebut berarti mencabut ketentuan dalam pasal 63 ayat 2 UU No.1 tahun 1974 dimana isinya menyebutkan bahwa “Setiap keputusan Pengadilan Agama dikukuhkan oleh peradilan umum.”

Dengan diberlakukan Undang-undang tentang Peradilan Agama ter-sebut maka Pengadilan Agama itu mempunyai Kompetensi Absolut dan Kompetensi Relatif, untuk memberikan pelayanan hukum dan keadilaan dalam bidang hukum keluarga dan harta pekawinan bagi orang-orang yang beragama islam antara lain adalah mengenai perceraian.

Perceraian yang dilakukan di muka pengadilan lebih menjamin per se-suaiannya dengan pedoman Islam tentang perceraian, sebab sebelum ada keputusan terlebih dulu diadakan penelitian tentang apakah alasan-ala-sannya cukup kuat untuk terjadi perceraian antara suami isteri, kecuali itu di mungkinkan pula pengadilan bertindak sebagai hakam sebelum mengambil keputusan bercerai antara suami isteri.

Dari latar belakang di atas maka permasalahan penelitian ini adalah bagaimana tahapan dan prosedur cerai gugat di Pengadilan Agama Kota Bu kittinggi dan bagaimana bentuk-bentuk pertimbangan hakim dalam me-ngabulkan permohonan penggugat dalam kasus cerai gugat tahun 2010 dan 2011 di Pengadilan Agama Kota Bukittinggi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan prosedur cerai gugat di Pengadilan Agama Kota Bukittinggi dan untuk meng-analisis pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara cerai gugat.

Sedangkan kegunaan penelitian ini dapat digambarkan sebagai be-rikut: Pertama, manfaat secara teoritis, adalah diharapkan dari penulisan penelitian ini dapat menambah menggambarkan tentang prosedur cerai gugat dan pertimbangan Hakim dalam memutuskan suatu perkara cerai gugat sekaligus memperkaya teori kepustakaan hukum khususnya hukum Islam dan Hukum Acara Peradilan Agama.

Kedua, manfaat secara praktis adalah sebagai bahan pertimbangan dalam upaya pemecahan masalah yang di hadapi oleh Pengadilan Agama

(6)

dalam penyelesaian kasus cerai gugat karena berbagai faktor di Pengadilan Agama Kota Bukittinggi.

Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian yaitu cara melukiskan sesuatu dengan meng-gunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan penelitian adalah suatu kegiataan untuk mencari, merumuskan dan meng-analisa sampai menyusun laporan.6 Dengan demikian metodologi penelitian sebagai cara yang dipakai untuk mencari, merumuskan dan menganalisa sampai menyusun laporan guna mencapai satu tujuan. Untuk mencapai sasaran yang tepat dalam penelitian penulis menggunakan metode pe-nelitian sebagai berikut:

Metode pendekatan

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan yuridis norma-tif, disebut juga penelitian hukum doktrinal yaitu hukum dikonsepkan seba-gai apa yang tertulis dalam perundang-undangan atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas.7Dalam penelitian ini yang dicari adalah putusan peng adilan agama dalam memutuskan perkara cerai gugat akibat kekerasan dalam rumah tangga.

Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskrip-tif, yaitu untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia keadaan atau gejala lainya.8 Metode deksriptif ini dimaksudkan untuk mem peroleh gambaran yang baik, jelas dan dapat memberikan data seteliti mungkin tentang obyek yang diteliti. Dalam hal ini untuk mendikripsikan cerai gugat akibat kekerasan dalam rumah tangga.

lokasi Penelitian

Dalam penyusunan penelitian ini di Pengadilan Agama Kota Bukitting-gi, dengan pertimbangan lokasi yang mudah dijangkau dan sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilaan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana diatur dalam UU No 3 tahun 2006 tentang perubahan atas UU No 7 tahun 1989 tentang Per-adilan Agama.

(7)

Sumber data

Ada dua jenis sumber yang data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: pertama, data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan oleh sebagai gejala lainya yang ada di lapangan dengan mengadakan peninjauan langsung pada obyek yang diteliti. Kedua data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi pustaka yang bertujuan untuk memperoleh landasan teori yang berumber dari Al-Quran, Al-Ha dist, perundang-undangan, buku literatur, Yursiprudensi dan yang ada hubu-nganya dengan materi yang di bahas.

Metode Pengumpulan data Penelitian kepustakaan

Yaitu suatu metode pengumpulan data dengan cara membaca atau mempelajari buku peraturan perundang-undangan dan sumber kepustakaan lainya yang berhubungan dengan obyek penelitian.9 Metode ini di guna-kan untuk mengumpulguna-kan data sekunder mengenai permasalahan yang ada relavansinya dengan obyek yang di teliti, dengan cara menelaah atau mem baca Al-Quran, Al-Hadist, buku-buku, peraturan perundang-undangan, maupun kumpulan literatur yang ada hubunganya dengan masalah yang di bahas.

Penelitian Lapangan

Yaitu metode pengumpulan data dengan cara terjun langsung ke dalam obyek penelitian dalam pengumpulan data lapangan ini penulis menggunakan yaitu:

Wawancara

Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi sema-cam percakapan untuk memperoleh informasi.10 Disini penu lis

mengumpulkan data dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung dengan responden terutama informan yang ba nyak me-ngetahui tentang masalah yang diteliti. Dengan ini pe nu lis meng-adakan wawancara dengan hakim Pengadilan Kota Bukit tinggi Observasi Langsung.

Dalam pengumpulan data ini, peneliti langsung melihat dan men dengarkan Hakim dalam membacakan putusan Hakim tentang

(8)

putusan gugat cerai di Pengadilan Agama Kota Bukittinggi. Dalam hal perkara Gugat Cerai yang terjadi pada tahun 2010 dan 2011 saja. Metode analisa data

Setelah data di kumpulkan dengan lengkap, tahapan berikutnya ada-lah tahap analisa data. Pada tahap ini data akan dimanfatkan sedemikian rupa sehingga diperoleh kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk, men jawab persoalaan yang diajukan dalam penelitian. Setelah jenis data yang dikumpulkan maka analisa data dalam penuilsan ini bersifat kualitatif. Ada pun metode analisa data yang dipilih adalah model analisa interaktif. Di dalam model analisa interaktif terdapat tiga komponen pokok berupa: Reduksi data

Reduksi data adalah sajian analisa suatu bentuk analisis yang mem-pertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal yang tidak pen ting dan mengatur sedemikian rupa sehinga kesimpulan akhir dapat dilakukan.

Sajian Data

Sajian data adalah suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dapat dilakukan dengan melihat suatu penyajian data. Penelitian akan mengerti apa yang terjadi dan memungkinkan untuk me-ngerjakan sesuatu pada anailisis ataupun tindakan lain berdasarkan penger-tian tersebut.

Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan yaitu kesimpulan yang ditarik dari semua hal yang terdapat dalam reduksi data dan sajian data. Pada dasarnya makna data harus di uji validitasnya supaya kesimpulan yang diambil menjadi lebih kokoh. Adapun proses analisisnya adalah sebagai berikut: Langkah per-tama adalah mengumpulkan data, setelah data terkumpul kemudian data direduksi artinya diseleksi, disederhanakan, menimbang hal-hal yang tidak relevan, kemudian diadakan penyajian data yaitu rakitan organisasi informasi atau data sehingga memungkinkan untuk ditarik kesimpulan. Apabila ke-simpulan yang ditarik kurang mantap kekurangan data maka penulis dapat melakukan lagi pengumpulan data. Setelah data-data terkumpul secara lengkap kemudian diadakan penyajian data lagi yang susunannya dibuat sistematis sehingga kesimpulan akhir dapat dilakukan berdasarkan data tersebut.

(9)

haSil Penelitian

Prosedur Cerai gugat di Pengadilan agama Kota Bukittinggi

Prosedur berpekara di Pengadilan Agama Bukittinggi Kelas I B yaitu sebagai berikut:

Calon Penggugat/pemohon atau kuasanya datang menghadap petugas 1.

meja 1 dengan membawa surat gugatan atau surat permohonan 6 rangkap ditambah sejumlah pihak tergugat/permohon untuk di input ke dalam SIADPA. Jika calon penggugat/pemohon belum membawa surat gugatan/pemohon dapat meminta bantuan pertugas meja 1 untuk meng-input surat gugatan/permohonannya ke dalam SIADPA sampai dengan penandatangan surat gugatan/permohonannya dihadapan petugas meja 1. Paling lama 45 menit.

Petugas meja 1 menaksir panjar biaya perkara dan dituangkan dalam 2.

SKUM (tiga lembar; lembar pertama putih, lembar kedua kuning dan lembar ketiga merah), paling lama 5 menit.

Petugas meja 1 menyerahkan surat gugatan/ permohonan yang telah 3.

di tanda tangani oleh calon penggugat/permohon tersebut dan SKUM ke pada calon penggugat/pemohon tersebut agar membayar panjar biaya ke Bank BRI cabang Bukittinggi (No.Rekening:001501000528308). Calon penggugat/calon pemohon membayar panjar biaya ke Bank yang 4.

telah ditentukan sejumlah yang tertera pada SKUM dengan Slip setoran pada Bank yang bersangkutan.

Calon penggugat/Pemohon menyerahkan surat gugatan/permohonan 5.

disertai SKUM dan Slip bukti penyetoran panjar biaya perkara yang telah divalidasi oleh Bank ke kasir Pengadilan Agama Bukittinggi Kelas 1 B. Kasir mencatat panjar biaya perkara yang tertera pada Slip setoran ter-6.

sebut ke dalam buku jurnal keuangan perkara, menandatangani dan memberi tanda lunas pada SKUM (3 rangkap), membubuhkan nomor perkara dan tanggal penerimaan perkara pada SKUM dan pada surat gugatan/permohonan sesuai dengan nomor dan tanggal hari pencatatan pada jurnal keuangan perkara, paling lama 10 menit.

Kasir setelah menyimpan SKUM lembar kedua (merah) menyerahkan 7.

surat gugatan/permohonan beserta SKUM lembar pertama (kuning) dan lembar ketiga (hijau) dan slip setoran panjar biaya perkara kepada calon penggugat/ pemohon untuk didaftarkan pada petugas meja II, paling lama 5 menit.

(10)

Petugas meja II mencatat perkara tersebut kedalam buku register per-8.

kara, kemudian menyerahkan 1 rangkap surat gugatan/permohonan berikut SKUM lembar pertama (kuning) kepada penggugat/pemohon, paling lama 15 menit. Proses pendaftaran perkara telah selesai, selan-jutnya pihak berpekara dapat meninggalkan pengadilan untuk me-nunggu panggilan sidang oleh juru Sita/juru Sita Pengganti di tempat kediamannya masing-masing.

Petugas Meja II memasukkan surat gugatan/permohonan beserta SKUM 9.

lembar ke 3 (merah), slip setoran panjar perkara dari Bank,PMH, PHS, yang telah terisi Majelis Hakim dan tanggal sidangnya dan penunjukan Panitera Sidang kepada panitera muda gugatan/permohonan untuk di-teliti kelengkapan dan kebenarannya. Paling lambat pukul 16.00 pada hari dan pendaftaran perkara.

Panitera muda gugatan/permohonan menyerahkan berkas perkara yang 10.

diterima dari meja II kepada wakil panitera setelah membubuhkan tanda koreksi pada stopmap berkas perkara, paling lambat pukul 16.30 pada hari pendaftarannya telah berada dan tersimpan diruang wakil dan ter-simpan diruang panitera).

Wakil panitera meneruskan berkas perkara kepada ketua melalui pa-11.

nitera, paling lambat pukul 12.00 pada hari pertama setelah hari pen-daftaran.

Ketua menanda tangani PMH dan menyerahkan berkas perkara kepada 12.

ketua Majelis hakim melalui panitera sidang yang ditunjuk palinh lambat pada hari kedua setelah hari pendaftaran.

Ketua majelis hakim yang ditunjuk dan menandatsngani PHS, membagi 13.

salinan surat gugatan/permohonan kepada hakim anggota majelis dan memerintahkan pada Juru Sita Pengganti untuk memanggil para pihak berpekara, paling lambat hari ketiga setelsh hari pendaftaran.

Juru Sita/Juru Sita pengganti memanggil para pihak berpekara pada hari 14.

pertama setelah hari perintah memanggil oleh majleis Hakim paling lambat tiga hari (tiga hari kerja untuk perkara selain perceraian) sebelum hari sidang perkara dimaksud.

Alur Berpekara Gugat Cerai di Pengadilan Bukittinggi Kelas IB, sebagaimana gambar di bawah ini:

(11)

Islam dan Realitas Sosial, Vol. 6, No. 1, Januari-Juni 2013

10

berpekara, paling lambat hari ketiga setelsh hari pendaftaran.

14.Juru Sita/Juru Sita pengganti memanggil para pihak berpekara pada hari pertama setelah hari perintah memanggil oleh majleis Hakim paling lambat tiga hari (tiga hari kerja untuk perkara selain perceraian) sebelum hari sidang perkara dimaksud.

Alur Berpekara Gugat Cerai di Pengadilan Bukittinggi Kelas IB, sebagaimana gambar

di bawah ini:

Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (isteri) atau Kuasanya:

1. a. Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada

pengadilan agama/mahkamah syariah (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg

jo Pasal 73 UU No. 7 Tahun 1989);12

b. Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada

pengadilan agama/mahkamah syariah tentang tata cara

membuat surat gugatan (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg

jo.Pasal 58 UU No. 7 Tahun 1989);

c. Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak merubah

posita dan petitum. Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan

ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut harus

atas persetujuan Tergugat.

Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (isteri) atau Kuas-anya:

Mengajukan gugatan 1.

Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada pengadilan a.

agama/mahkamah syariah (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo Pasal 73 UU No. 7 Tahun 1989);

Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada pengadilan b.

agama/mahkamah syariah tentang tata cara membuat surat gugatan (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo.Pasal 58 UU No. 7 Tahun 1989);

Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan c.

petitum. Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Tergugat.

Gugatan tersebut diajukan kepada pengadilan agama/mahkamah 2.

syariah:

Bila Penggugat meningggalkan tempat kediaman yang telah di-a.

sepakati bersama tanpa ijin Tergugat, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meli-puti tempat kediaman Tergugat. (Ps. 73 (1) UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. Ps 32 (2) UU No.1 Tahun 1974)

Bila Penggugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan b.

diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat. (Ps. 73 (2) UU No.7 Tahun 1989);

Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri, c.

(12)

syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya perkawinan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat (3) UU No. 7 Tahun 1989).

Gugatan tersebut memuat : 3.

Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Penggugat a.

dan Tergugat;

Posita (fakta kejadian dan fakta hukum); b.

Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita). c.

4. Gugatan soal penguasan anak, nafkah anak, nafkah istri an harta 4.

bersama dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan cerai gugat atau sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap. (Pasal 86 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989).

Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR, 145 ayat (4) R.Bg. Jo 5.

Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989), bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 R.Bg).

Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri persidangan 6.

berdasarkan panggilan pengadilan agama/mahkamah syariah. (Ps. 121, 124, dan 125 HIR, 145 R.Bg.).

Proses Penyelesaian Perkara :

1. Penggugat mendaftarkan gugatan cerai gugat ke pengadilan agama/ 1.

mahkamah syariyah .

2. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh pengadilan agama/mahkamah 2.

syariah untuk menghadiri persidangan. 3. Tahapan persidangan :

3.

Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan a.

kedua belah pihak, dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989);

Apabila tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah b.

pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 2 Tahun 2003);

Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilan-c.

jutkan dengan membacakan surat gugatan, jawaban, jawab men-jawab, pembuktian dan kesimpulan. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian). Tergugat dapat mengajukan gugatan rekon-vensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR, 158 R.Bg);

(13)

Putusan pengadilan agama/mahkamah syariah atas permohonan cerai gugat sebagai berikut :

Gugatan dikabulkan. Apabila Tergugat tidak puas dapat mengajukan a.

banding melalui pengadilan agama/mahkamah syariah tersebut; Gugatan ditolak. Penggugat dapat mengajukan banding melalui b.

pengadilan agama/mahkamah syariah tersebut;

Gugatan tidak diterima. Penggugat dapat mengajukan permohonan c.

baru.

Setelah putusan menperoleh kekuatan hukum tetap, maka Panitera pengadilan agama/mahkamah syariah memberikan Akta Cerai sebagai bukti cerai kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap.

SOP Cerai Gugat di Pengadilan Agama Bukittinggi Kelas IB, atau Lang-kah-langkah yang harus dilakukan Penggugat atau isteri atau kuasanya:

Tahap membuat surat gugatan 1.

Mengajukan Gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan a.

Agama/Mahkamah syar’iyah (pasal 118 HIR, 142 RBG Jo. Pasal 66 Undang-undang No.7 tahun 1989)

Penggugat di anjurkan untuk meminta petunjuk kepada pengadilan b.

agama/mahkamah syar’iyah tentang tata cara membuat surat Gugatan (Pasal 119 HIR, 143 RGB Jo. Pasal 48 Undang-undang No.7 tahun 1989)

Surat Gugatan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan c.

petitum. Jika Tergugat telah menjawab surat Gugatan ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Ter-gugat.

Gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah 2.

Syar’iyah:

Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (Pasal a.

66 ayat 2 Undangundang No.7 tahun 1989)

Bila Penggugat meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati b.

bersama tanpa izin Tergugat, maka Gugatan diajukan kepada Peng-adilan Agama/Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat 1 Undang-undang No. 7 tahun 1989, Jo. Pasal 32 ayat 2 UU No.1 tahun 1974)

(14)

Bila Penggugat bertempat kediaman diluar negeri, maka Gugatan c.

di ajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat 2 UU No.7 tahun 1989)

Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri, d.

ma ka Gugatan di ajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar ’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya perkawinan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat 3 UU No.7 tahun 1989)

Gugatan tersebut memuat: 3.

Nama, umur, pekerjaan, agama, dan tempat kediaman Penggugat a.

dan Tergugat

Posita (Fakta kejadian dan Fakta hukum) b.

Petitum (hal-hal yang di tuntut berdasarkan posita). c.

Gugatan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah isteri dan harta 4.

bersama dapat di ajukan bersama-sama dengan Gugatancerai talak atau sesudah ikrar talak di ucapkan (Pasal 6 ayat 1 UU No.7 tahun 1989). Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat 4 HIR, 145 ayat 4 RBG Jo. Pasal 5.

89 UU No.7 tahun 1989), bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (Prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 RBG)

Penggugat dan Tergugat menghadiri persidangan berdasarkan panggilan 6.

pengadilan agama/Mahkamah syar’iyah Proses penyelesaian Perkara

Penggugat mendaftarkan Gugatan cerai talak ke Pengadilan Agama/ 1.

Mah kamah Syar’yah

Penggugat dan Tergugat di panggil oleh Pengadilan agama/ Mahkamah 2.

Syar’yah untuk menghadiri persidangan. Tahapan persidangan:

3.

Pada Tahapan persidangan: a.

Pada pemeriksaan sidang pertama, Hakim berusaha mendamaikan 1)

kedua belah pihak, dan suami isteri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No.7 tahun 1989);

Apabila tidak berhasil, maka Hakim mewajibkan kepada kedua 2)

belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (pasal 3 ayat 1 PERMA No.2 tahun 2003);

(15)

Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara di 3)

lanjutkan dengan membacakan surat Gugatan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan.

Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Tergugat 4)

dapat mengajukan gugatan rekonpensi/gugatan balik (Pasal 132a HIR, 158 RBG)

Putusan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah atas Gugatan cerai b.

talak sebagai berikut:

Permohoan di kabulkan. Apabila Tergugat tidak puas dapat mengajukan 4.

banding melalui Pengadilan Agama/ Mahkamah Syar’iyah tersebut. Gugatan di tolak. Penggugat dapat mengajukan banding melalui Peng-5.

adilan Agama/Mahkamah Syar’iyah tersebut.

Gugatan tidak diterima. Penggugat dapat mengajukan Gugatan baru. 6.

Setelah ikrar talak di ucapkan panitera berkewajiban memberikan akta 7.

cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 hari setelah penetapan ikrar talak Pasal 84 ayat 4 UU No. 7 tahun 1989)

PertiMBangan haKiM dalaM MeMutuSKan PerKara Cerai gugat di Pengadilan agaMa BuKittinggi KelaS iB

Untuk menggambarkan dan menganalis pertimbangan hakim dalam mengabulkan gugatan cerai yang di ajukan ke Pengadilan Agama Bukittinggi tahun 2010 dan 2011 yang sedang memasuki persidangan pembuktian dan pembacaan amar putusan, maka secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan yang signifikan, maka dalam penelitian ini akan dirinci dasar-dasar pertimbangan hakim yaitu sebagai berikut:14

Gugatan cerai dikabulkan karena antara penggugat dan tergugat tidak 1.

dapat disatukan lagi.

Tergugat telah meninggalkan Penggugat dan tidak serumah lagi 2.

Tergugat telah melakukan perselingkuhan dengan wanita lain 3.

Tergugat tidak memberikan nafkah baik lahir maupun batin 4.

Tergugat sering melakukan tindakan kekerasan terhadap penggugat. 5.

Dari 5 butir yang penulis temukan dalam putusan pengadilan Agama Bukittinggi tentang pertimbangan hakim dalam mengabulkan gugatan penggugat dalam perceraian gugat cerai tersebut, bahwa masing-masing tidak berdiri sendiri. Artinya bahwa alasan-alasan tersebut didapatkan

(16)

oleh majelis hakim dari pemeriksaan terhadap penggugat sendiri, dan keterangan-keterangan yang diberikan oleh para saksi.

Keterangan yang diberikan oleh para saksi tersebut, baik saksi peng-gugat maupun keterangan yang diberikan saksi terpeng-gugat. Namum yang paling dominan dari pertimbangan hakim dalam putusan gugat cerai tersebut adalah karena antara penggugat dan tergugat tidak bisa hidup lagi sebagai suami isteri. Hal ini disebabkan oleh karena sering terjadi pertengkaran kedua belah pihak, hubungan tidak harmonis lagi dan keberadaan tergugat yang tidak bisa hadir dipersidangan. Konsekuensi tidak hadirnya tergugat sampai putusan dibacakan mengakibatkan bahwa putusan hakim bersifat verstek.

KeSiMPulan

Dari penelitian yang dilakukan ini, maka prosedur penyelesaian gugat di Pengadilan Agama Bukittinggi Kelas I B relatif lebih cepat dan dengan biaya yang ringan. Sementara itu yang menjadi dasar pertimbangan dari Hakim dalam mengabulkan gugat cerai yang diajukan oleh penggugat yang seluruhnya adalah isteri atau perempuan pada hakikatnya adalah sama alasannya.

Alasan-alasan tersebut, yang secara substansi hukum, baik undang-undang perkawinan maupun Undang-undang-undang yang berkaitan dengan keke-rasan dalam rumah tangga memberikan peluang kepada hakim, terutama hakim pengadilan Agama Bukittinggi untuk mengabulkan gugatan para penggugat tersebut. [ ]

endnoteS

Djamal Latief, Aneka Hukum Perceraian di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia,

1

1982, h.12

Soebekti SH. Prof,

2 Pokok-Pokok Hukum Perdata,. Cet XX1: PT Inter Massa, 1987,

h. 247

Kompilasi Hukum Islam

3 , Surabaya: Karya Anda, 1996, Cet-1, h. 71

ibid

4

Noelle Nelson,

5 ”Bagaimana Mengenali dan Merespon Sejak Dini Gejala Kekerasan Dalam Rumah Tangga,: Gramedia, 2006, h. 6

Cholid Narbuko, Abu Achmadi,

6 Metode Penelitian, Jakarta: Bumi Pustaka, 1997

Amirudin Zainal Asikin,

7 Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT Raja

(17)

Soerjono Soekanto,

8 Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Pres, 1998: h. 58

Hilman Hadikusuma,

9 Pembuatan Kertas Kerja Skripsi Hukum, Bandung: Mandar

Maji, 1991, h. 80 S.Nasution,

10 Metode Resech, Jakarta: Bumi Aksara 2001, h. 25

Abdul Aziz,

11 Wawancara, Rabu, 9 November 2011

Roihan A. Rasyid,

12 Hukum Acara Perdilan Agama, Jakarta: RajaGrafindo Persada,

2000, Cet-7, Lampiran, h. 260 Abdul Aziz,

13 Wawancara, Rabu, 9 November 2011

Lampiran Putusan PA. Bkt, th. 2010-2011, h. 42-73. Lihat juga Laporan Penelitian,

14

Dahyul daipon, Cerai Gugat di PA Bkt, 2011, h. 40

daftar PuStaKa

Amirudin Zainal Asikin, 1995, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT Raja Grapindo

Hadikusuma, Hilman 1991, Pembuatan Kertas Kerja Skripsi Hukum, Bandung: Mandar Maji

Kompilasi Hukum Islam, 1996, Surabaya: Karya Anda,

Latief, Djamal 1982, Aneka Hukum Peceraian Di Indonesia, Jakarta: Ghalia In-donesia.

Lampiran Putusan, 2010-2011, Pengadilan Agama Bukittinggi Laporan Penelitian, 2011, Dahyul daipon, Cerai Gugat di PA Bkt

Narbuko, Cholid. 1997, Abu Achmadi, Metode Penelitian, Jakarta: Bumi Pus-taka

Nasution, S. 2001, Metode Resech, Jakarta: Bumi Aksara

Nelson, Noelle. 2006, Bagaimana Mengenali dan Merspon Sejak Dini Gejala Kekerasan Dalam Rumah Tangga,: Gramedia

Roihan A. Rasyid, 2000, Hukum Acara Perdilan Agama, Jakarta: RajaGrafindo Persada

Soebekti,1987, Pokok-Pokok Hukum Perdata,. Cet XX1: PT Inter Massa Soekanto, Soerjono. 1998, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press

Referensi

Dokumen terkait

Gugatan perceraian karena alasan salah seorang dari suami isteri mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat sebagai dimaksud dalam Pasal 19

empat maka harus dilepas salah satunya, karena batasannya hanya sampai.. empat isteri saja. jadi katagori poligami itu beristeri lebih dari satu dalam. waktu

“ Sebenarnya kita sebagai hakim juga sadar mas kalau permohonan itu tidak memenuhi ketentuan alasan poligami pada Undang-Undang Perkawinan, tapi karena sudah adanya

a) Tidak memerlukan pengaduan dari pihak suami atau istri atau dalam arti hakim dapat memutuskan dengan telah diketahuinya kesalahan perkawinan sebelumnya melalui

3. Hukuman apa yang dijatuhkan terhadap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang. Penganiayaan merupakan salah satu jenis perbuatan yang

Hukum Islam : Gugatan perceraian karena alasan salah seorang dari suami-istri mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat sebagai dimaksud

hakim atau tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu. Cerai Gugat adalah : gugatan perceraian diajukan oleh istri atau2. kuasanya melalui Pengadilan Agama.

Salah satu kasus pembatalan perkawinan yang dijadikan bahan dalam penelitian ini adalah pembatalan perkawinan yang terjadi di Pengadilan Agama Kabupaten Malang dengan perkara Nomor: