RABI’AH AL-ADAWIYAH (717-801 M) DAN PEMIKIRANNYA TENTANG MAHABBAH
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu(S-1)
Pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam
Oleh :
Anggry Vera Febryanti
NIM:A02211008
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
viii
ABSTRAK
Skripsi ini mengkaji tentang ‘’Sejarah Munculnya Konsep Mahabbah Rabi’ah al -Adawiyah.Masalah yang dikaji meliputi sejarah munculnya konsep Mahabbah Rabi’ah al -Adawiyah dan pengaruh konsep MahabbahRabi’ah al-Adawiyah dalam perkembangan tasawuf. Maka dari itu penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana sejarah munculnya konsep
Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah dan pengaruh konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah dalam perkembangan tasawuf.
Skripsi ini menggunakan metode historis. Metode historis dijadikan penulis untuk mengungkapkan apa yang melatarbelakangi munculnya konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah. Dari perkembangan tasawuf sebelum munculnya Konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah, peristiwa munculnya Mahabbah, dan setelah munculnya konsep Mahabbah Rabi’ah al -Adawiyah. Teori yang digunakan ialah Continuity and Change. yakni konsep ajaran Khauf dan
Raja’ Hasan al-Bashri dirubah menjadi konsep Mahabbaholeh Rabi’ah al-Adawiyah.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM...i
PERNYATAAN KEASLIAN ...ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ...iv
DAFTAR TRANSLITERASI ...v
MOTTO...vi
PERSEMBAHAN ...vii
ABSTRAK ... viii
KATA PENGANTAR ...x
DAFTAR ISI ...xii
BAB I :PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah Masalah ...1
B. Rumusan Masalah ...7
C. Tujuan Penelitian ...7
D. Kegunaan Penelitian ...8
E. Pendekatan dan KerangkaTeoritik ...8
F. Penelitian Terdahulu ...9
G. Metode Penelitian ...11
H. Sistematika Pembahasan ...15
BABII :RIWAYAT HIDUP RABI’AH AL-ADAWIYAH ...16
A. Kelahiran Rabi’ah al-Adawiyah ...16
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
ii
C. Masa Dewasa Rabi’ah al-Adawiyah ...30
BAB III : SEJARAH MUNCULNYA KONSEP MAHABBAH RABI’AH AL-ADAWIYAH ...37
A. PerkembanganTasawuf Sebelum Munculnya Konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah ...37
B. Munculnya Konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah ...42
C. Ajaran Konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah ...48
BAB IV :PENGARUH KONSEP MAHABBAH RABI’AH AL-ADAWIYAH TERHADAP PERKEMBANGAN TASAWUF ...54
A. Pengaruh Konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah ...54
B. Perkembangan Tasawuf Pada Masa Setelah Rabi’ah al-Adawiyah ...61
BAB V : PENUTUP ...71
A. Kesimpulan...67
B. Saran saran ...68
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemudian muncul ulama-ulama sufi besar seperti Malik bin Dinar,
Ibrahim bin Adham, Rabi`ah al Adawiyah dan masih banyak lagi.
Menginjakabad ke-1 Hijriyah, umatIslam mengalami kekacauan sosial-politi
kakibat perpecahan dan perang saudara yang beruntun. Dalam perkembangans
elanjutnya gerakan zuhud ini berubah menjadi aliran mistik.Ajaran mistik yang
diusahakan segolongan umat Islam dan disesuaikan dengan ajaran Islam disebut
dengan tasawuf.1Di dalam tasawuf pengalaman ajaranmistikuntukperkem bangan
keruhanian, tujuan orang melakukanatau menjalankan tasawuf adalah
memantapkan keyak inan agamany adenganmenyaks ikanlangsungwuju dTuhan.
Kedudukan tinggi telah dicapai oleh perempan Sufi diantara umat Islam,
dan terdapat banyak penulis tentang agama yang mengangkat perempuan Sufi
sebagai suatu contoh tidak hanya kepada perempuan lain, tetapi juga terhadap
laki-laki lain. Tersebutlah Rabi’ah, seorang Sufi perempuan yang suci, dimana ia
lebih terkenal dengan sebutan Adawiyah atau Qaysiyah atau juga disebut
al-Bashriyah, tempat dimana ia dilahirkan, adalah perempuan terbesar di dalam
kehidupan tasawufIslam dan kontribusinya yang terbesar bagi perempuan
terhadap perkembangan sufisme. Perempuan yang memiliki kesucian hidup dan
hubungan intim dengan Yang Suci, sebagaimana mereka pelajari dengan penuh
antusias dari ajaran suci Islam, ditandai dengan banyak munculnya ulama-ulama
1
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
2
di masanya, dan kontribusinyaterhadap perkembangan serta merupakan kekuatan
tersendiri bagi agama Islam.2
Rabi’ah al-Adawiyah lahir di Basrah pada tahun 95 H (717 M) dan Rabi’ah
wafat pada tahun 185 H (801 M) yang seumur hidupnya tidak pernah menikah,
dipandang mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan konsep cinta
(Mahabbah) khas sufi ke dalam mistisisme dalam Islam. Sebagai seorang wanita
zahidah, dia selalu menampik setiap lamaran beberapa pria saleh. Isi pokok ajaran
tasawufRabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, dia mengabdidan melakukan
amal saleh.3
Cintalah yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Allah dan cinta itu
pulalah yang membuat ia sedih dan menangis karena takut terpisah dari yang
dicintainya. Allah baginya merupakan zat yang dicintai, bukan sesuatu yang
harus ditakuti.4Kenyataan bahwa seorang perempuan muslim dapat dipuja seperti
wali tidak diragukan lagi, karena sejarah tasawuf tidak akan lengkap kalau tidak
menyebutkan perbuatan, perkataan dan syair-syair Rabi’ah. Dalam dataran
sejarah sufi, Rabi’ah al-Adawiyah dipandang sebagai pembawa versi baru dalam
hidup kerohanian, karena ia telah tampil ke depan dan memperkaya kehidupan
tasawuf dengan memperkenalkan warna baru, yaitu cinta Ilahi.5
Perjalanan hidup Rabi’ah al-Adawiyah yang penuh liku-likutelah
mengantarkannya menjadi perempuan sufi yang hidupnya hanya untuk Allah
semata. Cinta Rabi’ah yang khas pada Khaliqnya. Rabi’ah al-Adawiyah adalah
2
Margareth Smith, Rabi’ah:Pergulatan Spiritual Perempuan (Surabaya: Risalah Gusti 1997), 6.
3
Ibid., 8.
4
Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, 268-269.
5
3
seorang pelopor dan sekaligus sebagai guru bagi sejumlah sufi. Ide tasawuf yang
dikembangkannya, mahabbah, telahmenyebarkemana-mana,
danbanyakdikajihinggasekarang. Hal inimembuatnamanyatermasyhur,
tidakhanya di kawasanduniaislam, namunsampaimenjangkaubenuaEropa.6
Konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah akhirnya menjadi gambaran
nyata dari al-Qur’an surat al-Maidah ayat 54.7 Kehidupan dan ajaran Rabi’ah
tetap menarik untuk dikaji dan diteliti, karena di dalamnya sarat akan hikmah
dan teladan. Rabi’ahtokohpertamadalamsejarahtasawuf yang
diperkenalkandalamkarangan-karangan orang Eropa.
Kemasyhuran yang diperoleh Rabi’ah ialah karena dia membawa dan
mengemukakan konsep baru dalam kehidupan kesufian. Rabi’ah al-Adawiyah
melengkapinya dengan corak baru, yaitu cinta, yang menjadi sarana manusia
dalam merenungkan keindahan Allah yang abadi.8 Tampak jelas bahwa cinta
Rabi’ah al-Adawiyah kepada Allah begitu penuh meliputi dirinya, sehingga
sering membuatnya tidak sadarkan diri karena hadir bersama Allah. Pemikiran
Rabi’ah tidak terjadi begitu saja melainkan terdapat sejarah di balik konsep
munculnya mahabbah itu sendiri. Bersama dengan mitos, sejarah adalah
rekonstruksi masa lalu atau cara untuk mengetahui masa lampau.9
Sebelum hadirnya Rabi’ah al-Adawiyah di Basrah terdapat seorang tokoh
sufi yang terkemuka yakni Hasan al Bashri tumbuh dikalangan orang-orang
yang shaleh yang memiliki pengetahuan agama yang mendalam yaitu di
6
Smith, Rabi’ah:Pergulatan Spiritual Perempuan, 12.
7
Iskandar, Tasawuf, Tarekat, dan Kaum Sufi, 347.
8
Ahmad Isa, Tokoh-tokoh Sufi (Jakarta: PT RajawaliGrafindo Persada, 2000), 119.
9
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
4
keluarga nabi. Dia melanjutkan pendidikanya di Hijaz. Dia berguru pada
ulama-ulama di sana. Sehingga dia memiliki ilmu agama yang kepandaianya diakui
oleh para sahabat.10Hasan al-Bashri terkenal sebagai salah seorang tokoh
terkemuka pada zamannya. Dia termasyhur sebagai orang saleh dan pemberani.
Dia terang-terangan benci dengan sikap para pejabat yang senang hidup
berfoya-foya. Dia diakui sebagai salah seorang tokoh sufi besar. Hasan Al
Bashri adalah orang yang pertama kali menyediakan waktunya untuk
memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlaq dan usaha
mensucikan jiwa di dalam masjid Bashrah. Segala ajarannya tentang
kerohanian, senantiasa didasarkan pada sunah-sunah nabi. Sahabat-sahabat nabi
yang masih hidup pada zaman itu, mengakui kepandainya.11
Hasan al Bashri menolak segala kemegahan dunia, dan semata-mata
hanya menuju kepada Allah, tawakal, khauf12 berarti suatu sikap mental merasa
takut kepada Allah SWT karena kurang sempurnanya pengabdiannya. Takut dan
khawatir kalau-kalau Allah tidak senang kepadanya. Khauf timbul karena
pengenalan dan cinta kepada Allah yang mendalam sehingga ia merasa khawatir
kalau Allah melupakannya atau takut kepada siksa Allah.
Raja’13 berarti menginginkan kebaikan yang ada di sisi Allah „azza wa
jalla berupa keutamaan, ihsan dan kebaikan dunia akhirat. Janganlah hanya
semata-mata takut kepada Allah, akan tetapi ikutilah perasaan takut dengan
10
Anwar Rosihun dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf (Bandung: CV Pustaka Setia,2000), 98.
11
Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurnian (Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1981), 71.
12
Hasyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf Dan Psikologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), 50.
13
5
pengharapan. Sedemikian takutnya, sehingga seakan-akan Hasan al Bashri
merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuk dia”.14
Rabi’ah hadir di tengah-tengah pengikut Hasan al-Bashri; ia
mendengarkan dan mencermati pengajian mereka dan bergabung dalam
pelajaran-pelajaran mereka, dan meneruskannya sepanjang umurnya. Ia
kadang-kadang melampaui semua orang pada saat itu dengan keyakinan yang sesuai
dengan kodrat alamiahnya.15
Demikianlah, Rabi’ah datang di antara orang-orang awal yang disebut
Sufi. Ia diperhitungkan sebagai salah seorang Auliya’ (orang suci) yang visinya
mencari kebenaran. Kebenaran itu sendiri mempunyai tingkatan, dan yang
paling tinggi lapasitasnya sebagai visi kesucian dan kemuliaan. Sufisme Rabi’ah
berkembang menurut kapasitas pembawaan dan keteguhannya, bukan hanya
oleh pengajaran, atau dari meniru belaka. Benih-benih ini terlihat pada dirinya
tanpa disadarinya.Kehidupan sosial dan religius di kotanya sangat
mempengaruhinya. Sejak kanak-kanak, sebagaimana kita ketahui, ia
memperlihatkan karakteristik yang menyerupai kehidupan orang dewasa.16
Ada 2 (dua) batasan cinta yang sering dinyatakan Rabi’ah. Pernyataan
pertama, sebagai ekspresi cinta hamba kepada Allah, maka cinta itu harus
menutup selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta. Dengan kata lain, maka dia
harus memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya.Dia harus
memisahkan dirinya sesame makhluk ciptaan Allah, supaya dia tidak menarik
14
Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurnian, 72.
15
Smith, Rabi’ah:Pergulatan Spiritual Perempuan, 24.
16
Widad El Sakkani, Pergulatan Hidup Perempuan Suci Rabi’ah al-Adawiyah: dari lorong derita
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
6
dari Sang Pencipta. Dia harus bangkit dari semua keinginan nafsu duniawi dan
tidak memberikan peluang adanya kesenangan dan kesengsaraan. Karena
kesenangan dan kesengsaraan dikhawatirkan mengganggu perenungan pada
Yang Maha Suci. Terlihat sekali, Tuhan dipandang oleh Rabi’ah dengan penuh
kecemburuan sebagai titik konsentrasinya, sebab hanya Dia sendirilah yang
wajib dicinta hamba-Nya.
Pernyataan kedua, kadar cinta kepada Allah itu harus tidak ada pamrih
apapun. Artinya, seseorang tidak dibenarkan mengharapkan balasan dari Allah,
baik ganjaran (pahala) maupun pembalasan hukuman, paling tidak pengurangan.
Sebab yang dicari seorang hamba itu melaksanakan keinginan Allah dan
menyempurnakannya. Karenanya, kecintaan seseorang itu bisa saja diubah agar
lebih tinggi tingkatannya, hingga Allah benar-benar dicintai. Lewat kadar
kecintaan inilah, menurut Rabi’ah Allah akan menyatakan diri-Nya sendiri
dalam keindahan yang sempurna. Dan melalui jalan cinta inilah, jiwa yang
mencintai akhirnya mampu menyatu dengan Yang Dicintai dan di dalam
kehendak-Nya itulah akan ditemui kedamaian.17
Pembahasan tentang cinta kepada Allah cenderung mengaitkan Rabi’ah
al-Adawiyah, seorang perempuan suci. Dia yang pertama membuat bahasa cinta
menjadi pokok kosakata rohani Islam.18 dan bersaham besar dalam
memperkenalkan cinta Allah dalam mistisisme Islam19 Margaret Smith menilai
Rabi’ah sebagai pelopor doktrin ini dan mengkombinasikan dengan kasyf,
17
Ibid.,122-123.
18
Sachiko Murata,The Tao of Islam: Kitab rujukan tentang relasi gender dalam kosmologi dan
teologi Islam, terj. Rahmani Astuti dan M.S. Nashrullah(Bandung: Mizan 1998), 329.
19
7
terbukanya hijab pada akhir tujuan, Sang Kekasih, oleh pecintanya dan
Annemarie Schimmel menyatakan wanita yang penyendiri dalam keterasingan
suci dan memberikan warna mistik sejati.20
B. RumusanMasalah
1. Siapa Rabi’ah al-Adawiyah ?
2. BagaimanasejarahmunculnyapemikiranMahabbah Rabi’ah a
l-Adawiyah ?
3. Bagaimanapengaruhpemikiran Rabi’ah al-Adawiyah terhadap
perkembangan tasawuf ?
C. TujuanPenelitian
1. UntukmengetahuibiografiRabi’ah al-Adawiyah
2. Untuk mengetahuisejarah munculnya konsep Mahabbah Rabi’ah
al-Adawiyah
3. Untuk mengetahui pengaruh pemikiran Rabi’ah al-Adawiyah terhadap
perkembangan tasawuf
20
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
8
D. Kegunaan Penelitian
1.Dari segi praktis penulis berharap bahwa hasil penelitian ini dapat
bermanfaat menjadi referensi bagi para pembaca yang memiliki minat untuk
mendalami sejarah munculnya Mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah.
2. Dari segi akademis peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menambah
wawasan yang sudah ada sehingga akan menambah pengetahuan tentang
sejarah tasawuf yang pernah mendapat perhatian di masa lalu, karena kajian
tentang sejarah munculnya pemikiran tokoh sufi masih sangat minim
dengan alasan itulah penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat
terhadap nilai progress akademik.
E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik
Penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah
menggunakan pendekatan historis, yaitu suatu pendekatan kesejarahan yang
memiliki ciri khas adanya model diakronis, yaitu pengungkapan sejarah yang
menawarkan bukan hanya struktur dan fungsinya yang berdialektik dengan
melihat realitas sejarah serta mengedepankan pengungkapan
peristiwa-peristiwa dari waktu ke waktu.21Pendekatan historis dijadikan penulis untuk
mengungkapkan apa yang melatarbelakangi munculnya konsep Mahabbah
Rabi’ah al-Adawiyah. Dari peristiwa sebelum munculnya, saat munculnya
dan setelah munculnya konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah.
21
9
Teori Continuity and Change ialah kontinuitas dan perubahan, dikemukakan oleh
Christine Preston. Dalam hal ini Continuity and Change bisa juga diartikan
sebagai sudut pendekatan yang meneliti adanya “kesinambungandi tengah-tengah
perubahan”22
yang terjadi di dunia tasawuf. Arti teori continuity and change
dalam konteks skripsi ini adalah Rabi’ah mampu membawa konsep mahabbah di
dalam masyarakat yang meyakini beribadah kepada Allah karena ingin masuk
surga dan takut masuk neraka. Danhadirlah Rabi’ah al-Adawiyah dengan
tasawufnya yaitu Mahabbah.
Dan pada generasi sesudah Rabi’ah hadirlah Abu Thalib al-Makki yang
mengutip dan menulis karya yang terkenal dari Rabi’ah yakni “2 cinta” karena
Rabi’ah tidak menulis sendiri sajak “2 cinta” tersebut. Abu Thalib al-Makki tidak
hanya mengutip dan menulis sajak tersebut tetapi juga menjelaskan lebih dalam
lagi agar orang awam dapat memahami juga.
F. Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu dengan tema yang sama dengan memfokuskan:
Sejarah Munculnya Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah:
1.Lilik Indahyani: Konsep Cinta: Study Komparasi Terhadap Pemikiran
Jalaluddin Ar-Rumi dan Rabi’ah al-Adawiyah.23Skripsi ini mengkaji tentang
study perbandingan antara pemikiran Jalaluddin Ar-Rumi dan Rabi’ah
22
Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif(Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 1989), 20.
23Lilik Indahyani, “
Konsep Cinta: Study Komparasi Terhadap Pemikiran Jalaluddin Ar-Rumi dan
Rabi’ah Al-Adawiyah” (Skripsi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
10
Adawiyah mengenai konsep cinta. Kesimpulannya pemikiran Rabi’ah al
-Adawiyah tentang cinta berbeda dengan menurut Jalaluddin Ar-Rumi.
1. Laili Indah: Study Komparatif Antara Rabi’ah al-Adawiyah dan Ibu Teresa
Mengenai Cinta.24Skripsi ini mengkaji tentang study perbandingan antara
pemikiran Rabi’ah Al-Adawiyah dan Ibu Teresa mengenai cinta. Kesimpulannya
adalah Pemikiran Rabi’ah al-Adawiyah tentang konsep cinta berbeda dengan
konsep cinta menurut Ibu Teresa.
2. Rif’atul Fikriya: Al-Mahabbah 713-801M; Ajaran Sufisme Rabi’ah al
-Adawiyah.25Skripsi ini mengkaji tentang ajaran sufisme Rabi’ah al-Adawiyah.
Kesimpulannya adalah dari tahap zuhud menuju ridho dalam perjalanan hidup
Rabi’ah al-Adawiyah.
3. Alfa Mardiyana: Landasan Qur’ani Ajaran Susistik Rabi’ah al-Adawiyah.26
Skripsi ini mengkaji tentang ajaran Rabi’ah al-Adawiyah serta terdapat beberapa
implikasi Al-Qur’an bagi perjalanan spiritualnya. Kesimpulannya adalah dalam
ajaran mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah terdapat landasan Al-Qur’an didalamnya.
Dari beberapa penelitian terdahulu seperti yang dipaparkan di atas, peneliti
tidak menemukan kajian yang membahas sejarah munculnya mahabbah Rabi’ah
al-Adawiyah. Dipaparkan diatas hanya membahas secara garis besar konsep
mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah dengan menggambarkan pemikiran secara
24
Laili Indah,”Study Komparatif Antara Rabi’ah al-Adawiyah dan Ibu Teresa Mengenai Cinta”
(Skripsi jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga tahun 2008).
25Rif’atul Fikriya,”
Al-Mahabbah713-801 M: Ajaran Sufisme Rabi’ah al-Adawiyah” (Skripsi
jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Malang tahun 2007).
26Alfa Mardiyana,”Landasan Qur’ani Ajaran Sufistik Rabi’ah al
11
utuhdan mengabaikan konsep historis. Dengan demikian dapat diketahui bahwa
belum ada yang membahas sejarah munculnyakonsep mahabbah Rabi’ah Al
-Adawiyah.
G. MetodePenelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yaitu
sebuah proses yang meliputi analisis, gagasan atau pemikiran tasawuf pada
masalampau. Metode ini juga dapat berguna untuk memahami situasi
sekarang dan meramalkan perkembangan yang akan datang.
Adapun langkah-langkah yang ditempuhadalahsebagaiberikut:
1. Heuristik (Pengumpulan data)
Dalampenelitianini yang berjudul “SejarahMunculnya Konsep
Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyahpenelitimengumpulkan data berupa data
kepustakaan yang berhubungandenganpenelitiantersebut di
atasuntukpenelitimenemukanbeberapabuku primer maupunsekunder yang
berhubungandenganpenelitianini.
a.) Sumber primer
1.) Kitab al-Bayan wa-at Tabyin27, karya al-Jahiz (164-255 H / 780-868
M). Dia adalah penulis terawal yang menyebutkan Rabi’ah. Seorang pemikir
terkenal. Ia menulis kitab al-Hayawan (kehidupan hewan) dan kitab al-Bayan
wa-at Tabyin(sebuah buku tentang retorika). Di dalam kedua bukunya
27
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
12
tersebut, referensinya tentang Rabi’ah adalah yang pertama dan penting
sekali. Dikarenakan periodenya
yang awal dan adanya kenyataan bahwa ia mengenal dekat dengan Rabi’ah
semasa kecilnya.
2.) KitabQut al-Qulub28, pengarang Abu Thalib al-Makki w.(386 H/996 M).
Dia adalah seorang asketis yang hidup dan mengajar di Mekkah, Basrah, dan
Baghdad. Penulis Qut al-Qulub (Santapan Rohani), sebuah risalah lainnya
tentang sufisme, dan dalam karyanya itu ia menyebutkan Rabi’ah al
-Adawiyah beberapa kali, peristiwa-peristiwa di dalam kehidupannya,
sahabat-sahabatnya dan yang paling berharga adalah mengutip sajak-sajaknya yang
terkenal “dua cinta” dan memberikan komentarnya panjang lebar tentang
sajak-sajak tersebut.
Abu Thalib al-Makki adalah seorang penulis sufisme yang besar dan
juga sangat berhati-hati, sebab tercatat ada beberapa penulis yang mengakui
sajak-sajak Rabi’ahsebagai karya mereka sendiri tetapi Abu Thalib al-Makki
menyangkal bahwa sajak-sajak itu adalah karya Rabi’ah.
b.) Sumbersekunder
1.Sururin, Rabi’ah al-Adawiyah Hubb Al Ilahi: Rabi’ah tumbuh dan berkembang
dalam lingkungan keluarga biasa dengan kehidupan orang saleh yang penuh
zuhud. Seperti anak-anak sebayanya, Rabi’ah tumbuh dan dewasa secara wajar.
Yang menonjol ia kelihatan cerdik dan lincah dibanding kawan-kawannya.
Tampak juga dalam dirinya, pancaran sinar ketakwaan dan ketaatan yang tidak
28
13
dimiliki oleh teman-temannya. Dari keterangan di atas, dapat diambil pengertian
bahwa kecerdasan yang dimiliki Rabi’ah di atas rata-rata.29
2.Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam: Tokoh Rabi’ah ini
dipergunakan dalam sebuah risalat abad ke-17 di Prancis tentang cinta murni;
Rabi’ah merupakan model cinta Ilahi.30
3.Muhiddin, Renungan Cinta Rabi’ah al-Adawiyah: Jalan itu tidak didapatkan
Rabi’ah dengan mudah dan ongkang-ongkang kaki, tapi ia beli dengan air mata
dan nestapa terperikan. Disambanginya nestapa dengan syukur dan doa, maka
terbukalah pintu rahmat dan cinta langit. Tapi jalan itu bukan jalan yang mulus,
melainkan awal dari rentetan derita berikutnya yang lebih parah.31
4. JavadNurbakhs,Sufi Women: Berkaitan dengan lamaran yang datang pada
Rabi’ah pernah pula Muhammad Sulaiman al-Hasyimi, orang yang berkuasa dan
kaya serta direstui oleh para pembesar Basrah, konon ia adalah amir Basrah
dengan penghasilan 10.000 dirham per bulan, sedang mas kawin yang ditawarkan
kepada Rabi’ah sebesar 100.000 dirham, mengajukan lamaran pada Rabi’ah,
namun oleh Rabi’ah ditolak. Cara menolak lamaran tersebut dengan mengatakan:
“Seandainya engkau member seluruh warisan hartamu, tidak mungkin aku
memalingkan perhatianku dari Allah padamu.32
5.Simuh,Tasawuf dan Perkembangan Dalam Islam: Tujuan tasawuf ialah
memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Allah, yang intinya
29
Sururin, Rabi’ah al-Adawiyah Hubb Al Ilahi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), 22-23.
30
Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), 7.
31
Muhiddin, Renungan Cinta Rabi’ah al-Adawiyah (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003), 130.
32
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
14
kesadaran adanya komunikasi dan dialog antara antara roh manusia dengan-Nya.
Melalui Kasyf al-mahjub (terbukanya tabir), Rabi’ah dinilai Margareth Smith
dalam bukunya, sebagai pelopor pengajar mistik Islam.33
2. Interpretasi
Dalam langkah ini, peneliti berusaha menafsirkan data yang telah diverivikasi
yang digunakan dalam penelitian ini sehingga akan menghasilkan suatu penelitian
atau skripsi yang benar-benar otentik.
3.Historiografi
Sebagai fase terakhir dalam metode sejarah, historiografi merupakan cara
penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian yang telah dilakukan.
Penulis berusaha menulis data yang dapat dipertanggung jawabkan sehingga
menjadi suatu kisah yang disusun secara sistematis dengan penulisan karya
ilmiah. Pertama, penulis akan memaparkan biografi dari Rabi’ah al-Adawiyah
dari masa kelahiran, remaja, dewasa, hingga wafatnya.
Kedua, penulis memaparkan tentang Hasan al-Bashri tokoh yang sangat
berpengaruh sebelum hadirnya Rabi’ah dan ajaranMahabbahnya di Kota Basrah,
dari biografi Hasan beserta ajaran Khauf dan Raja’nya. Ketiga, penulis
memaparkan tentang konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah sendiri. Keempat,
penulis memaparkan tentang pengaruh dari konsep Mahabbah Rabi’ah al
-Adawiyah dalam dunia tasawuf.
33
15
H. Sistematika Pembahasan
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai isi penelitian ini, maka
pembahasan dibagi menjadi lima bab. Uraian masing-masing bab disusun
sebagai berikut:
BAB 1 : Merupakan bab pendahuluan, berisi tentang tinjauan secara global
permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini serta dikemukakan beberapa
masalah meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, pendekatan dan kerangka teoritik, penelitian
terdahulu, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
BAB 2 :Berisi Riwayat Hidup Rabi’ah al-Adawiyah: kelahiran, masa remaja
dan masa dewasa Rabi’ah al-Adawiyah..
BAB 3:Membahas tentang Sejarah munculnya konsep Mahabbah Rabi’ah a
l-Adawiyah, yaitu perkembangan tasawuf sebelum munculnya konsep
mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah, munculnya konsep mahabbah Rabi’ah al
-Adawiyah, dan konsep ajaran mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah.
Bab 4:Membahas tentang pengaruh konsep mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah
terhadapperkembangan dunia tasawuf.
BAB II
RIWAYAT HIDUP RABI’AH AL-ADAWIYAH
A.Kelahiran Rabi’ah al-Adawiyah
Rabi’ah al-Adawiyah memiliki nama lengkap Ummu al-Khai bin Ismail al-Adawiyah
al-Qaisyiyah. Lahir di Basrah di perkirakan pada tahun 95 H (717 M). Diceritakan dalam
sebuah literatur karya Fariddudin al-Attar (w. 627 H.) Peristiwa-peristiwa ajaib tak jarang
terjadi di masa kelahirannya. Pada malam kelahiran Rabi’ah tidak terdapat suatu barang
berharga yang didapat dalam rumah Ismail. Bahkan tidak terdapat setetes minyak untuk
mengoles pusar putrinya, apalagi minyak untuk lampu penerang. Rumah tersebut juga tidak
terdapat sehelai kain pun yang dapat digunakan untuk menyelimuti bayi yang baru lahir.1
Ayahnya telah memiliki tiga putri sebelumnya, dan oleh karena itulah ia diberi nama
Rabi’ah (artinya putri keempat). Ayah Rabi’ah telah bersumpah bahwa ia tidak akan minta
sesuatu pun dari manusia lain, ayahnya telah berucap janji atau sumpah bahwa tidak akan
meminta bantuan kepada sesama manusia (yaitu bahwa seorang Sufi hanya akan bergantung
kepada Tuhan untuk memenuhi kebutuhannya).2
Di saat ia tertidur malam itu dalam keadaan tertekan karena tidak memiliki sesuatupun
disaat kelahiran putrinya, ia bermimpi didatangi Nabi Muhammad saw, dan bersabda, “
Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci
yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh tujuhribu umatku.” Dalam mimpi tersebut
Nabi juga memberi perintah agar besok menemui Isa Zaidan, seorang amir dengan
menyampaikan sepucuk surat yang berisi pesan Rasulullah seperti yang diperintahkan dalam
1
Fariduddin al-Attar, Warisan Para Auliya’ cet II (Bandung: Pustaka, 1994), 57.
2
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
mimpi. Isi surat itu: “Hai amir, engkau biasanya membaca shalawat seratus kali setiap malam
dan empat ratus kali tiap malam Jum’at. Tetapi dalam Jum’at terakhir ini engkau lupa
melaksanakannya. Oleh karena itu, hendaklah engkau membayar empat ratus dinar kepada
yang membawa surat ini, sebagai kafarat atas kelalaianmu.”3
Ayah Rabi’ah terbangun dan menangis, ia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan langsung
menulis surat serta mengirimkannya kepada Amir melalui pembawa surat pemimpin itu. Ketika
Amir telah selesai membaca surat itu ia berkata:“Berikan duaribu dinar kepada orang miskin itu
sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk member empatratus
dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku
supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu
harus dating kepadaku, akulah yang akan dating kepadanyadan mengusap penderitaanya dengan
jenggotku.”4
Kisah diatasmenggambarkan bahwa kehidupan Rabi’ah sejak dini telah sufi, tanpa
dinodai oleh barang-barang yang syuhbat, apalagi barang yang diperoleh dengan maksiat.
Kehidupan Rabi’ah sejak awal, tanpa dipengaruhi oleh perilaku-perilaku yang merugikan orang
lain, bahkan Nabi telah memberi suatu tanda, bahwa kelak Rabi’ah akan menjadi manusia yang
besar. Kondisi semacam inilah, yaitu lingkungan yang berinteraksi dengan Rabi’ah, yang dapat
dimasukkan sebagai salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan jiwa
keberagamaannya.
Rabi’ah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga biasa dengan kehidupan
orang saleh yang penuh zuhud. Seperti anak-anak sebayanya, Rabi’ah tumbuh dan dewasa
secara wajar. Yang menonjol ia kelihatan cerdik dan lincah disbanding kawan-kawannya.
3
Ibid., 8.
4
Tampak juga dalam dirinya, pancaran sinar ketakwaan dan ketaatan yang tidak dimiliki oleh
teman-temannya. Dari keterangan di atas, dapat diambil pengertian bahwa kecerdasan yang
dimiliki Rabi’ah di atas rata-rata.5
Sebagian besar pemikiran yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari ialah pemikiran
seri atau jenis pemikiran IQ. Aritmatika mental merupakan contoh yang jelas dan sederhana.
Fase analisis dari proyek maupun melibatkan penguraian suatu masalah atau situasi menjadi
bagian-bagian logis yang paling sederhana dan kemudian memprediksi hubungan sebab-akibat
yang mungkin terjadi. Hal ini akan sangat relevan bila dikaitkan dengan teori Intelegencia
Quotient (IQ). Bila dianalisa lebih jauh, perkembangan taraf intelegensia (kecerdasan) sangat
besar pada usia balita dan mulai menetap pada masa akhir remaja. Taraf IQ tidak mengalami
penurunan, yang menurun hanya penerapannya saja.6
Terutama setelah usia 65 ke atas, dan bagi mereka yang alat inderanya mengalami
kerusakan. Keunggulan berpikir seri dan keunggulan kecerdasan IQ ialah bahwa ia akurat, tepat
dan dapat dipercaya. Tetapi, jenis pemikiran yang melandasi sains Newtonian ini bersifat linier
dan deterministik.7 Lebih lanjut dijelaskan bahwa tidak hanya IQ pada masa balita sajayang
menentukan taraf IQ pada masa selanjutnya, sebagaimana yang berlaku dalam hukum
perkembangan manusia, tapi juga masa dalam kandungan (prenatal). Faktor terpenting yang
harus diperhatikan adalah pengaturan makanan, menjaga kesehatan, dan menjaga ketenangan
batin. Agaknya faktor terakhir inilah yang mendominasi kehidupan Rabi’ah saat dalam
kandungan. Sedang pasca kelahiran, menanamkan jiwa kasih sayang merupakan salah satu
faktor yang mengantarkan Rabi’ah untuk memiliki IQ tinggi.
5
Ibid., 22-23.
6
Sudirman Tebba, Kecerdasan Sufistik (Jakarta: Kencana, 2004), 11.
7
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
Dari paparan di atas, bila dikaji lebih jauhakan terlihat bahwa pada akhirnya Rabi’ah
dengan kecerdasan yang tinggi mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang diajukan
kepadanya. Semua itu di bawah petunjuk dan ridha Allah, sehingga dalam banyak literatur
Rabi’ah mempunyai ilmu laduni. Ini pulalah yang membuat Rabi’ah menjadi tempat bertanya,
teman diskusi bagi para cendekiawan Muslim saat itu, khususnya dalam bidang agama.
Rabi’ah termasuk tokoh sufi pertama dalam sejarah tasawuf yang dikenal di kalangan
sarjana Eropa. Tokoh Rabi’ah ini dipergunakan dalam sebuah risalahabad ke-17 di Prancis
tentang cinta murni; Rabi’ah merupakan model cinta Ilahi.8
Diceritakan oleh Abdul Mu’in Qandil dan Athiyah Kamis, bahwa sejak kecil Rabi’ah
sudah seperti orang dewasa, ia seakan-akan telah paham dan dapat merasakan kondisi yang
dialami oleh orang tuanya, sehingga ia menjadi pendiam, tidak banyak menuntut kepada orang
tuanya, sebagaimana layaknya gadis kecil yang menginjak remaja. Keistimewaan dan kekuatan
daya ingat Rabi’ah juga telah dibuktikan sejak masa kanak-kanak.Al-Qur’an dihafalnya sejak
usia 10 tahun. Kecepatan Rabi’ah dalam menghafal Al-Qur’an ini dapat dimaklumi, karena ia
sangat suka menghafal. Bila telah berhasil menghafal ia duduk lalu mengulanginyakembali
dengan penuh khusyu’, penuh iman yang mendalam dan pemahaman yang sempurna.9
Tidak jarang pula ayah Rabi’ah melihat putrinya mengasingkan diri, bermuka muram dan
sedih, selalu dalam keadaan terjaga untuk beribadah kepada Allah tak ubahnya seperti
tokoh-tokoh sufi yang terkenal. Permasalahan berikut yang patut untuk dikaji adalah bagaimana
pendidikan Rabi’ah pada masa anak-anak. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Rabi’ah
tidak pernah sekolah secara “formal” semisal al-kuttab, namun Rabi’ah dididik secara langsung
oleh orang tuanya.
8
Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), 7.
9
Ayah Rabi’ah menghendaki agar anaknya terpelihara dari pengaruh
-pengaruh yang tidak
baik, yang bisa menjadi penghalang bagi pertumbuhan jiwanya, dan bisa menyekat
kesempurnaan batiniyahnya. Maka Rabi’ah sering dibawa oleh ayahnya ke sebuah Mushalla
yang berada di pinggiran kota Basrah.Kegiatan tersebut dimaksudkan agar Rabi’ah terhindar dari
polusi akhlaq yang melanda kota Basrah. Letak mushalla itu jauh dari kebisingan dari hiruk
pikuk keramaian. Di tempat inilah ayah Rabi’ah sering melakukan ibadah dan munajat, berdialog
dengan sang Khaliq Yang Maha Kuasa.
Di tempat yang tenang dan tenteram tersebut, seseorang akan mudah mencapai
kekhusyukan dalam beribadah dan bisa mengkonsentrasikan pemikiran pada keagungan dan
kekuasaan Allah. Inilah kiranya yang dapat dikategorikan sebagai “pendidikan khusus” yang
diperoleh semasa kecil, dengan ayahnya sebagai guru. Sistem yang diterapkan oleh ayah Rabi’ah
dalam mendidik putrinya merupakan bagian dari pendidikan informal yang diperoleh dalam
lingkungan keluarga. Kondisi kehidupan keluarga Rabi’ah yang saleh dan zuhud merupakan satu
lingkungan yang besar pengaruhnya bagi pendidikan putri kecil tersebut.10
B.Masa Remaja Rabi’ah Al-Adawiyah
Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, karena masa ini
merupakan periode peralihan. Masa remaja juga merupakan masa yang bermasalah, masa
mencari identitas yang sekaligus sebagai masa yang tidak realistis yang sekaligus sebagai
ambang masa depan. Secara umum masa remaja merupakan masa pancaroba, penuh dengan
kegelisahan dan kebingungan.11 Kondisi demikian disebabkan pengaruh pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat cepat berlangsungnya, terutama perubahan fisik, perubahan dalam
10
Ibid.,10.
11
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
pergaulan sosial, perkembangan intelektual, adanya perhatian terhadap lawan jenis dan
sebagainya.
Masa remaja, yang kata sebagian orang merupakan masa yang indah dan bahagia,
ternyata tidak berlaku bagi Rabi’ah. Masa-masa manis bersamaayah ibunya tidak dapat
dinikmatinya lagi, karena dalam usianya yang relatif muda ayahnya telah berpulang ke
Rahmatullah, disusul kemudian oleh ibunya.12
Kepergian orang tuanya merupakan ujian bagi Rabi’ah, karena sang ayah merupakan
tulang punggung keluarga, kemudian disusul ibunya tercinta. Betapapun cobaan yang dihadapi,
Rabi’ah tetap tidak kehilangan pedoman. Sepanjang siang dan malam Rabi’ah selalu
berdzikirdan tafakkur pada Allah SWT. Hanya kepada Allah sajalah ia berserah diri,
mengadukan nasib dan mempersembahkan seluruh hidupnya. Secara psikologis, saat usia muda
(remaja) kondisi jiwa masih labil. Namun Rabi’ah mampu bersikap dewasa. Kondisi demikian,
menurut penulis tidak terlepas dari pendidikan jiwa yang diperoleh dalam lingkungan keluarga.
Meski ia telah kehilangan ayah ibunya, yang sekaligus sebagai guru, akan tetapi semua itu tidak
mengendurkan semangat Rabi’ah untuk “menggembleng” jiwanya guna lebih ber-taqarrub
kepada Allah.13
Kehidupan Rabi’ah beserta empat saudaranya menurut Atiyah Khamis,14
dalam karyanya
yang mengupas kehidupan Rabi’ah, diceritakan bahwa untuk mempertahankan hidup mereka
dari kelaparan, maka mereka giat bekerja. Saudara-saudara Rabi’ah bekerja di rumah, menenun
kain atau memintal benang, sedangkan Rabi’ah sehari-harinyabekerja di sungai menyeberangkan
orang dengan perahu kecilnya. Perahu kecil itulah barang warisan yang ditinggalkan orang
12
Atiyah Khamis, Penyair Wanita Sufi Rabi’ah Al-Adawiyah, 9.
13
Sururin, Rabi’ah al-Adawiyah Hubb al-Ilahi,27.
14
tuanya. Meski demikian, Rabi’ah dan saudara-saudaranya tetap tabah menjalani kehidupan yang
ada.
Menurut Qandil, Rabi’ah dan kakak-kakaknya keluar masuk kampung, mengetuk
rumah-rumah, menawarkan jasa, barangkali ada pekerjaan yang dapat dibantunya. Memang pekerjaan
demikian wajar saja dilakukan oleh Rabi’ah bersaudara, mengingat kondisi keluarganya yang
miskin. Satu hal yang perlu digaris bawahi, bahwa kehidupan Rabi’ah yang penuh dengan derita
sama sekali tidak melunturkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT, malah
sebaliknya menambah ketebalan iman dan takwanya. Pada usia remaja inilah Rabi’ah mulai
menampakkan rasa cintanya pada Allah SWT.15
Pada masa selanjutnya kehidupan Rabi’ah semakin sulit, lebih-lebih kota Basrah sebagai
kota segala bangsa dan aliran, telah menjadi ajang pertentangan antara satu aliran dengan aliran
lainnya, antara satu suku/bangsa dengan suku/bangsa lainnya. Pertentangan tersebut tidak
terlepas dari situasi politik yang terjadi pada saat itu. Suasana demikian semakin memperburuk
kota Basrah.
Dalam data sejarah disebutkan bahwa sepeninggal Khalifah Umar ibn Abdul Aziz,
kekuatan khalifah berada di tangan Yazid ibn Abd al-Malik (720-724). Penguasa yang satu ini
terlalu gandrung pada kemewahan dan kurang memperhatikan kondisi rakyat. Masyarakat yang
sebelumnya hidup dalam ketentraman dan kedamaian berubah menjadi kacau. Dengan latar
belakang dan kepentingan etnis politik, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap
pemerintahan Yazid ibn Abd al-Malik (724-743 M), bahkan pada saat itu muncul kekuatan baru,
15
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
golongan Mawali. Sementara khalifah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tapi juga
bermoral buruk.16
Kota Basrah yang menjadi pusat ilmu pengetahuan itu berubah menjadi kota pusat
pertentangan. Di kota tersebut terdapat pengikut Khawarij dan Syi’ah yang fanatik. Hal ini
memicu munculnya pemberontakan-pemberontakan dan kerusuhan-kerusuhan antar penduduk
Basrah. Pertentangan antara aliran tersebut menyebabkan pertumpahan darah. Dapat disebut
sebagai contoh adalah terjadinya pemberontakan khas Khawarij yang dilakukan oleh sekelompok
pasukan pada tahun 737 M, dengan tujuan utama membunuh Khalid, gubernur Irak yang menjadi
kaki tangan Khalifah Hisyam.17
Pada saat yang sama, dua orang agigator (penghasut) ang menamakan dirinya sebagai
kelompok Syi’ah ekstrim ditahan dan dijatuhi hukuman mati. Untuk menjaga stabilitas, Hisyam
memperlakukan hukuman yang sama pada dua orang agitator lainnya, yaitu : Ghailan
al-Dimisqy, tokoh aliran Qadariah, dan Al-Ja’d ibn Dirham, tokoh aliran Jabariah. Sementara, pada
tahun 740 M terjadi pemberontakan kaum Syi’ah Zaidiyah di bawah pimpinan Zaid, cucuAli ibn
Abi Thalib.18
Selanjutnya kota Basrah mengalami bencana alam berupa kemarau panjang, kekeringan
berkepanjangan menyebabkan kelaparan penduduk kota. Kota yang mulanya makmur dan
berkembang, berubah menjadi kota yang dilanda kemiskinan. Kondisi demikian diperparah
dengan meningkatnya pencurian dan perampokan. Hai ini tidak hanya membuat penduduk
menderita, tetapi juga dilanda ketakutan. Orang miskin semakin miskin dan terlunta-lunta,
mereka sering dihadang perampok dan menjualnya sebagai budak.
16
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), 47.
17
Ibid., 48. 18
Rabi’ah dan saudaranya semakin parah kondisinya, sehingga memaksa mereka untuk
meninggalkan gubuknya. Mereka berkelana ke berbagai daerah mencari hidup. Dalam
pengembaraan ini menyebabkan Rabi’ah terpisah dari kakaknya. Kemudian Rabi’ah jatuh ke
tangan perampok dan dijual sebagai hamba sahaya dengan harga sangat murah, yaitu sebesar
enam dirham. Kehidupan dalam belenggu perbudakan telah mengisi lembar hidup Rabi’ah. Tuan
yang telah membelinya sebagai budak memperlakukannya dengan amat kasar dan”bengis”, tanpa
rasa perikemanusiaan dan rasa belas kasihan. Tubuh Rabi’ah semakin kering kerontang,
makanan yang dimakannya hanyalah sisa tuannya. Pakaiannya pun hanya sepotong, itupun telah
compang-camping.19
Pahitnya kehidupan dijalani dengan tabah dan sabar. Shalat malam tetap dilakukan
dengan rutin, lisannya tidak pernah berhenti berdzikir, istighfar, merupakan senandung yang
selalu didendangkannya. Musibah yang tiada henti semakin membuat Rabi’ah mendekatkan diri
pada Ilahi.20 Dalam Psikologi Wanitadijelaskan bahwa pada masa pubertas gadis yang tengah
tumbuh dan berkembang itu tidak akan pernah mencapai perkembangan yang maksimal tanpa
menemui rintangan dan kesulitan, selama perjuangan menuju ke arah kedewasaan dan
kematangan pribadinya, itu pasti pernah menderita, berduka cita, terjatuh, luka-luka, kecewa dan
kalah. Sukses dalam usaha individu yang matang adalah mampu memikul duka derita. Tidak
seorang pun yang dapat merasakan pahit dan madunya derita kecuali orang yang pernah
mengalaminya sendiri.
Ciri pribadi yang kuat adalah mampu menanggulangi dan mengatasi kepedihan,
ketegangan, kemalangan, kekalahan dan duka derita dengan rasa tawakal dan ketekunan usaha,
19
Ibid.,31. 20
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
disertai dengan keberanian dan kemauan yang besar untuk mengatasi segala ujian hidup. Dengan
begitu ia akan mampu mengambil dari manfaat dan semua pengalamannya untuk upaya
mendewasakan diri guna lebih mematangkan dan menyempurnakan diri. Penjelasan demikian
menggambarkan kehidupan yang dialami oleh Rabi’ah.
Mengalami pengalaman pahit ini, ia kehilangan kepercayaan kepada mereka, ia tidak
mungkin melupakan begitu saja perampok yang telah mengambil dan menjual sebagai hamba
sahaya. Alasan lain yang dapat dijadikan tambahan adalah kecenderungan yang terjadi pada saat
itu, masyarakat tenggelam dalam kemewahan, hidup mereka tidak lagi sesuai dengan ajaran
agama Islam, sehingga ia memilih untuk hidup terasing dan jauh dari kebisingan dan ia terus
memperbanyak ibadah dan tobatserta menjauhi kehidupan materil.21
Hanya kepada Allah Rabi’ah mengadu dan berserah diri serta mohon perlindungan. Pada
awalnya perasaan cinta Rabi’ah sama dengan orang kebanyakan, segala sesuatu akan terasa
indah bila bersama orang yang dicinta dan segala sesuatu akan terasa mudah bila yang minta
orang yang tercinta. Bila berpisah akan memunculkan kerinduan, dan rasa akrab bila berdekatan,
sebagaimana ungkapan majmun yang tergila pada Layla, bahwa mata cinta hanya melihat satu
keindahan.
Bagi Rabi’ah yang tercinta bukanlah lawan jenisnya, namun Allah yang maha pencipta,
pemilik cinta yang hakiki. Cinta dan gairah Rabi’ah kepada Allah sangat dalam, sehingga tidak
ada satu pun ruangan yang tertinggal di hati atau pikirannya untuk pikiran atau kepentingan
lain.22Kenyataan demikian tergambar dalam sebuah alur cerita yang menuturkan bahwa pada
suatu hari Rabi’ah disuruh tuannya berbelanja ke pasar, dengan menyusuri gang-gang yang
21
Noer Iskandar al-Barsany, Tasawuf, Tarekat, dan Para Sufi (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), 42.
22
sempit kota Basrah. Di tengah perjalanan ia dihadang oleh penjahat. Ia ketakutan dan berusaha
melarikan diri. Akan tetapi, ia tersandung dan terjatuh sehingga lengannya patah. Ia kembali ke
rumah tuannya, kemudian sholat dan bermunajatkepada Allah. Sepanjang malamRabi’ah selalu
melakukan shalat, dan sepanjang siang ia selalu berpuasa, dengan tetap melaksanakan pekerjaan
di rumah tuannya.
Pada suatu malam tuannya terbangun dan mendengar suara rintihan. Dari celah-celah
kamar ia mengintip apa yang dilakukan Rabi’ah. Ia tertegun melihat Rabi’ah. Bersujud di tanah
seraya berdoa: Ya Rabbi, Engkau telah membuatku menjadi budak belian seorang manusia
sehingga aku terpaksa mengabdi kepadanya. Seandainya aku bebas pasti akan persembahkan
seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdoa kepada-Mu.23 Dengan mata kepalanya sendiri
tuannya menyaksikan betapa sebuah lentera tanpai rantai tergantung di atas kepala Rabi’ah,
sedang cahayanya menerangi seluruh rumah.
Demi melihat peristiwa demikian, ia merasa takut lalu beranjak ke kamar tidurnya dan
duduk merenung hingga fajar tiba. Esok paginya ia memanggil Rabi’ah dengan sikap lembut dan
berkata bahwa ia membebaskankan Rabi’ah. Kebebasan telah ada di tangan Rabi’ah. Tuannya
menawarkan untuk tetap bersama atau meninggalkan rumah tuannya. Rabi’ah minta izin untuk
meninggalkan rumah tuannya. Segala penyakit datangnya atas kehendak Tuhan, karena itu
Rabi’ah selalu memikulnya dengan ketabahan hati dan keberanian. Rasa sakit yang
bagaimanapun tidak pernah mengganggunya, tidak pernah mengganggunya, tidak pernah
menarik perhatiannya dan pengabdiannya kepada Tuhan. Sering ia tidak menyadari ada bagian
tubuhnya yang terluka sampai ia diberitahu oleh orang lain.24
23
Mustofa, Akhlaq Tasawuf (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999), 247.
24
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
Sebagai satu catatan kehidupan Rabi’ah tetap lurus dalam jalan dan petunjuk Allah SWT.
Dengan kebebasan yang diperolehnya, ia curahkan hidupnya di masjid-masjid dan tempat-tempat
pengajian agama. Ia kemudian menjalani
kehidupan sufi, dengan beribadah dan merenungi hakikat hidup. Tidak ada satupun yang
memalingkan hidupnya dari mengingat Allah. Dalam masa selanjutnya ia telah berhasil
mencapai tingkatan yang tinggi dalam bidang kerohanian,
25
Artinya:
Beliau adalah induk dari segala kebaikan yaitu Robi’ah Anak perempuannya Ismail di desa Adwiyah suku Qoisiyah wilayah basroh, dan beliau dianggap lebih masyhur-masyhurnya golongan ahli zuhud juga golongan ahli ibadah pada Allah SWT. Beliau juga pernah berkata ketikabeliau terperanjat dari tempat tidurnya wahai seorang diriberapa banyak tidurmu dan sampai berapa banyak lagi tidurmu. Hampir dekat tidurmu satu kali kamu tidak bisa bangun darinyakarena kecuali teriakan yang keras pada hari kebangkitan dari kubur.Lihatlah terhadap seluruh perkataannya dikitab sifatus shofah. (4:17). Dan telah menyebutkan Ibnu Khalikan
25
bahwasannya wafatnya berada ditahun135, dan kuburannya didaerah luar pinggir Masjid Mqoddas diatas puncak gunung yang bernama gunung Thur.26
C.Masa Dewasa Rabi’ah al-Adawiyah
Dalam perjalanan selanjutnya, kehidupan sufi telah mantap menjadi pilihannya. Rabi’ah telah
menepati janjinyapada Allah untuk selalu beribadah pada-Nya sampai menemui ajalnya. Ia
selalu melakukan shalat tahajud sepanjang malam hingga fajar tiba. Abdah, sahabat karib
Rabi’ah, menceritakan bahwamenyingsing ia tertidur sebentar. Dengan ibadah-ibadah yang
dilakukan dapat mengangkat derajatnya, baik di dunia maupun di akhirat.
Ibadah juga memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa. Dengan ibadah pula,
wajahnya selalu kelihatan berseri-seri, karena orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah
SWT, dengan tahajud akan mendapatkan cahaya Ilahi. Salah satu pusaka waris, kalau ini bisa
kita katakan warisan yang ia dapatkan dari ayahnya adalah akhlaq seorang asketis yang nantinya
akhlaq ini akan membekas dalam ingatan dan menjadi jalan hidupnya.27
Jalan itu tidak didapatkan Rabi’ah dengan mudah dan ongkang-ongkang kaki, tapi ia beli
dengan air mata dan nestapa terperikan. Disambanginya nestapa dengan syukur dan doa, maka
26
Ibid.,364.
27
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
terbukalah pintu rahmat dan cinta langit. Tapi jalan itu bukan jalan yang mulus, melainkan awal
dari rentetan derita berikutnya yang lebih parah.28
Rabi’ah tidak tergoda oleh keduniawian, hatinya hanya tertuju pada Allah, ia tenggelam
dalam kecintaannya pada Allah dan beramal demi mencapai keridlaan-Nya. Cinta pada Tuhan
yang telah muncul sejak masa remaja terus dipupuk selama hidupnya, baik dalam keadaan duduk
maupun berdiri, bahkan segala pikirannya hanya tercurah pada Allah SWT. Dalam suatu riwayat
diceritakan bahwa selama 40 tahun ia tidak mendongakkan kepalanya ke langit, karena malu
pada Allah, tidak jarang ia mengucurkan air matanya mengharapkan rahmat dari Allah.
Rabi’ah telah menempuh jalan kehidupan sendiri, dengan memilih hidup zuhud dan
hanya beribadah kepada Allah. Selama hidupnya tidak pernah menikah, walaupun ia seorang
yang cantik dan menarik. Rabi’ah selalu menolak lamaran laki-laki yang ingin meminangnya.
Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa Rabi’ah pernah dilamar oleh Abdul Wahid ibn Ziad,
seorang yang sangat dihormati dan berpengaruh dalam masyarakat dalam waktu itu. Tetapi aat
Abdul Wahid datang menyampaikan lamaran pada Rabi’ah, ia mendapatkan jawaban,”hai orang
yang bersyahwat, carilah orang yang sepadan dengan engkau.”
Berkaitan dengan lamaran yang datang pada Rabi’ah pernah pula Muhammad Sulaiman
al-Hasyimi, orang yang berkuasa dan kaya serta direstui oleh para pembesar Basrah, konon ia
adalah amir Basrah dengan penghasilan 10.000 dirham per bulan, sedang mas kawin yang
ditawarkan kepada Rabi’ah sebesar 100.000 dirham, mengajukan lamaran pada Rabi’ah, namun
oleh Rabi’ah ditolak. Cara menolak lamaran tersebut dengan mengatakan: “Seandainya engkau
28
memberi seluruh warisan hartamu, tidak mungkin aku memalingkan perhatianku dari Allah
padamu.”29
Terdapat pelajaran dari nilai yang dipetik dari kisah tersebut di atas, yaitu bahwa Rabi’ah
adalah sebagai wanita yang disanjung, dihormati dan dimuliakan oleh sesamanya, sebab sebelum
Amir Basrah tersebut mengajukan lamaran, terlebih dahulu mengadakan pertemuan khusus dan
musyawarah dengan para pemuka Basrah. Satu hal lagi yang dapat dicatat dari kisah tersebut
adalah, bahwa Rabi’ah tidak mempunyai harta benda yang dapat mengundang para pria untuk
meminangnya, atau menunjukkan keindahan fisik dan kecantikan wajahnya kepada lelaki lain
pun. Sehingga lamaran tersebut dapat dijadikan sebagai barometer untuk melihat sejauh mana ia
dapat mempertahankan prinsip kezuhudan terhadap kemewahan hidup duniawi dan kedalaman
cintanya pada Allah.
Lamaran Amir Basrah dapat dijadikan sebagai satu ujian bagi Rabi’ah,30
dan ternyata ia
dapat melewatinya.Argumen-argumen tersebut di atas dapat memperkuat pendapat yang
mengatakan bahwa Rabi’ah selama hidupnya tetap melajang. Pangkat, derajat dan kekayaan
tidak mampu memalingkan cinta pada kekasih-Nya, Allah SWT.Rabi’ah termasuk dalam
kelompok manusia yang mempunyai naluri yang tinggi, melebihi manusia biasa. Keinginannya
yang bersifat manusiawi telah tunduk dan menyerah di bawah keinginan yang suci, karena
kebutuhan hidupnya yang sangat mendasar sudah tidak sama dengan manusia-manusia lainnya.
Dorongan seksual sudah tidak lagi merupakan gangguan dalam dirinya, sekalipun tidak
dipenuhi dengan sebuah perkawinan. Kondisi demikian dalam kajian psikologi dapat disebut
dengan substitusi, yaitu suatu cara untuk menghilangkan ketegangan batin dengan jalan
29
JavadNurbakhs, Sufi Women(Bandung: Mizan, 1996), 29.
30
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
menghilangkan sebab-sebabnya. Boleh jadi keinginan Rabi’ah yang bersifat manusiawi telah
dialihkan atau dipuaskan (disubstitusikan) dengan rasa cinta kepada Allah SWT.31
Pada suatu hari seseorang bertanya kepada Rabi’ah tentang pilihan hidupnya untuk tidak
kawin, namun pertanyaan tersebut malah dijawab dengan tiga masalah yang selama ini
menimbulkan keprihatinan dalam dirinya. Jika ada seseorang yang dapat menjawab
permasalahan tersebut, maka ia akan menikah dengan orang tersebut, yaitu:
1. Apabila ia meninggal, apakah ia akan menghadap Allah dalam keadaan iman dan suci
atau tidak.
2. Apabila ia menerima catatan amal perbuatan, apakah ia menerima dengan tangan kanan
atau tangan kiri.
3. Bila sampai pada hari berbangkit, termasuk dalam golongan kanan yang masuk surge,
atau termasuk dalam golongan kiri yang menuju neraka.
Ketiga permasalahan tersebut di atas hanya Allahlah yang mampu menjawab , dan tidak
akan ditemukan orang yang dapat menjawab permasalahan tersebut. Demikianlah
argumen-argumen yang diajukan oleh Rabi’ah dalam menolak setiap lamaran yang ingin memperistrinya.
Jawaban atau alasan lain yang dilontarkan Rabi’ah terkadang dengan nada yang diplomatis,
seperti pertanyaan sebagai berikut: “Jika aku tetap dalam keadaan prihatin, bagaimana mungkin
aku dapat berumah tangga.”32 Rabi’ah sadar, dengan menerima tangan pria dalam ikatan
perkawinan, hanya akan membuat ia untuk berbuat tidak adil terhadap suami dan anak-anaknya,
ia tidak mampu memberikan perhatian pada mereka, karena seluruh hatinya hanya untuk Allah
semata.
31
Surur,Rabi’ah al-Adawiyah Hubb Al Ilahi., 40.
32
Untuk selanjutnya Rabi’ah semakin mantap dalam kehidupan sufi. Ilmunya yang tinggi
telah mengundang sufi lain untuk datang untuk bertanya dan diskusi. Beberapa ahli mengutip
para penulis riwayat hidupnya dimana baru mengenal Rabi’ah di masa tuanya, pada saat
tubuhnya telah lemah, tetapi pemikirannya masih cemerlang, dan hingga di akhir hayat ia masih
menjadi panutan bagi orang yang membutuhkannya.
Rasa takut yang berlebihan pada Hari Pengadilan setelah kematian dan rasa takut pada
Neraka adalah ciri dari seorang Sufi, seperti telah dibahas sebelumnya, khususnya aliran Hasan
al-Bashri. Harapan yang selalu disampaikan dalam doa-doa adalah pengurangan siksa Neraka
bagi yang beriman, Rabi’ah mencapai usia kurang lebih dari 90 tahun, bukan semata-mata usia
yang panjang, tapi merupakan waktu yang penuh berkah hidup yang menyebar di sekelilingnya.
Rabi’ah idak ingin menyusahkan orang lain. Menurut al-Attar, ketika tiba saatnya untuk
meninggalkan dunia ini, orang yang menunggunya meninggalkan kamar Rabi’ah dan
menutupnya dari luar. Setelah itu mereka mendengar suara yang berkata: “Wahai jiwa yang
damai, kembalilah pada Tuhanmu dengan bahagia.”33
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya.
Maka masuklah ke dalam hamba-hamba Ku dan masuklah ke dalam surge-Ku. QS. Al-Fajr (89):
27-30)34
Banyak ulama’ mengatakan bahwa kehadiran Rabi’ah di dunia, dan lalu
meninggalkannya kealam lain kecuali ta’zim hanya kepada Allah, dan ia tidak pernah
menginginkan apapun atau mengatakan kepada Allah, “Berilah aku ini atau tolong lakukan ini
untukku!” dan sedikit pula ia meminta kepada makhluk ciptaan-Nya.
33
Ibid.,35.
34
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
Setelah kematiannya, Rabi’ah pernah muncul dalam mimpi seseorang dan orang tersebut
berkata kepadanya,” Ceritakanlah bagaimana keadaanmu di sana dan bagaimana engkau dapat
lolos dari Munkar dan Nakir?” Rabi’ah menjawab, “Mereka datang menghampiriku dan
bertanya,”Siapa Tuhanmu?” Aku katakan“Kembalilah dan katakan kepada Tuhanmu, ribuan dan
ribuan sudah ciptaan-Mu, Engkau tentunya tidak akan lupa pada perempuan tua iemah ini. Aku,
yang hanya memiliki-Mu di dunia, tidak pernahmelupakan-Mu, sekarang mengapa Engkau harus
bertanya, “Siapakah Tuhanmu?”35
Rabi’ah sebagaimana para Sufi lainnya, menjalani hidup hingga usia lanjut, hampir
mendekati usia 90 tahun pada saat beliau wafat. Beberapa ahli mengutip para penulis riwayat
hidupnya dimana baru mengenal Rabi’ah di masa tuanya, pada saat tubuhnya telah lemah, tetapi
pemikirannya masih cemerlang, dan hingga di akhir hayat ia masih menjadi panutan bagi orang
yang membutuhkannya.Rabi’ah wafat pada tahun 185 H. (801 M) dan ia dimakamkan di Basrah.
Rabi’ah telah mencapai tujuan pencariannya, akhirnya ia telah menyatu dengan Sahabatnya, ia
menyaksikan Keindahan Yang Abadi itu.36
35
Margareth, Rabi’ah Pergulatan Spiritual Perempuan, 52.
36
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
BAB III
SEJARAH MUNCULNYA KONSEP MAHABBAH
RABI’AH AL-ADAWIYAH
A. Perkembangan Tasawuf Sebelum Munculnya Konsep Mahabbah
Rabi’ahal-Adawiyah
Ada beberapa tokoh sufi klasik yang sempat melihat dan menirukan
perilaku nabi dan para sahabat nabi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Hasan al Bashri adalah salah satu tokoh itu. Hasan al Bashri adalah seorang
dari golongan tabi’in yang memiliki kecerdasan dan kepandaian di dalam ilmu
agama, dia adalah Hasan al Bashri. Hasan al Bashri adalah tokoh sufi yang
mula-mula meletakkan ilmu dasar tasawuf yang kemudian dijadikan referensi
oleh para sufi sesudahnya. Terutama di daerah masjid Bashrah.
Hasan al-Bashri adalah seorang zahid1yang amat masyhur dalam
kalangan Tabi’in. Beliau lahir pada tahun 21 H (641 M) di Madinah, dan beliau
meninggal pada hari Kamis bulan Rajab tanggal 10 tahun 110 H (728 M).
Hasan al Bashri dilahirkan tepat dua hari sebelum Khalifah Umar bin Khattab
meninggal. Beliau sempat bertemu dengan 70 sahabat yang turut menyaksikan
perang Badr dan 300 orang sahabat lainnya.2
Hasan al- Bashri memiliki nama lengkap Abu Sa’id al Hasan bin Yasar.
Beliau lahir dari ibu yang bernama Khairah, seorang hamba Sahaya Ummu
Salamah istri Nabi Muhammad. Ayahnya bernama Yasar, keturunan Persi
1
Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurnian(Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1981), 69.
2
beragama Nasrani, ayahnya adalah seorang budak yang ditangkap di Maisan,
yang di kemudian hari dimerdekakan oleh Zaid bin Tsabit, sekretaris
Rasulullahyang sekaligus juru tulis wahyu. Karena itulah, Yasar biasa
dipanggil Yasar Maula Zaid bin Tsabit.3Kelahiran Hasan al-Bashri membawa
keberuntungan bagi kedua orangtuanya karena kedua orang tuanya terbebas
dari status hamba sahaya menjadi merdeka.4Hasan al Bashri tumbuh
dikalangan orang-orang yang shaleh yang memiliki pengetahuan agama yang
mendalam yaitu di keluarga nabi. Dia melanjutkan pendidikanya di Hijaz. Dia
berguru pada ulama-ulama di sana. Sehingga dia memiliki ilmu agama yang
kepandaianya diakui oleh para sahabat.5
Hasan al Bashri sempat berada di masa peristiwa pemberontakan terhadap
Khalifah Usman ibn Affan serta beberapa kejadian politik sesudahnya yang terjadi
di Madinah yang memporak-porandakan umat Islam. Alasan itulah yang
menyebabkan Hasan al Bashri bersama ayahnyapindah ke Bashrah, tempat inilah
yang membuatnya masyhur dengan nama Hasan al Bashri. Puncak keilmuannya
dia peroleh di Bashrah.
Hasan al-Bashri terkenal sebagai salah seorang tokoh terkemuka pada
zamannya. Dia termasyhur sebagai orang saleh dan pemberani. Dia
terang-terangan benci dengan sikap para pejabat yang senang hidup berfoya-foya. Dia
diakui sebagai salah seorang tokoh sufi besardan orator ulung. Tasawuf akhlaqi,
3
Asmaran, pengantar studi Tasawuf(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1994), 259.
4
Amin Syukur, Zuhud di Abad Modern( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 65.
5
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
tokohnya Hasan al-Bashri, sebagai tasawuf yang menekankan pada pembahasan
etika, etika yang mulia, dan bahkan etika yang sangat sempurna sebagaimana
yang dikehendaki oleh Rasulullah:“Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan
akhlaq yang mulia”.Banyak pengakuan yang menyatakan kebolehannya dalam
menguasai ilmu agama, seperti pernah diungkapkan oleh Abu Qatadah:
“Bergurulah kepada syeikh ini (Hasan al-Basri). Saya sudah menyaksikan sendiri
tidak ada seorangtabi’in pun yang mampu menyamai ilmu para sahabat, Hasan
al-Bashri”6
Kehebatan Hasan al-Bashri dalam ilmu tasawuf di tulis di dalam
buku-buku tasawuf, seperti Qut al-Qulubkarya Abu Thalib al-Makki, Tabaqat al-Kubra
karya al-Sya’rani, Hilyah al-Auliya’ karya Abu Nu’aim, dan lain-lain.Hasan al
Bashri adalah orang yang pertama kali menyediakan waktunya untuk
memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlaq dan usaha
mensucikan jiwa di dalam masjid Bashrah. Segala ajarannya tentang kerohanian,
senantiasa didasarkan pada sunnah-sunnah Nabi. Sahabat-sahabat nabi yang masih
hidup pada zaman itu, mengakui kepandaiannya.7
Hasan al-Bashri adalah zahidyang masyhur di kalangan tabi’in. Ajarannya
yang berkaitan dengan kehidupan tasawuf selalu mengacu kepada sunnah nabi;
bahkan dia yang mula-mula memperbincangkan berbagai masalah kehidupan
ketasawufan dengan mengaitkannya dengan akhlaq, hal ini dapat ditempuh
dengan cara mensucikan jiwa dan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
6
Ibid.,107.
7