• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis implementasi kerjasama Bank Syariah Mandiri dengan Bank Mandiri Konvensional (ATM bersama) Cabang Darmo.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis implementasi kerjasama Bank Syariah Mandiri dengan Bank Mandiri Konvensional (ATM bersama) Cabang Darmo."

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh:

NOVIA MAULIDIYAH

NIM. C04211108

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH

SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

Skripsi yang berjudul “Analisis Implementasi Kerjasama Bank Mandiri syari’ah dengan Bank Mandiri Konvesional (ATM Bersama Cabng Darmo)” adalah hasil penelitian field research untuk menjawab pertanyaan yaitu bagaimana implementasi kerjasama bank Mandiri

Syari’ah dengna Bank Konvesional Syariah dalam bidang ATM Bersama cabang Darmo serta

bagaimana Analisa hukum islam terkait implementasi kerjasama bank Mandiri Syari’ah dengna

Bank Konvesional Syariah dalam bidang ATM Bersama cabang Darmo

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), maka dalam pengumpulan data nya digukan metode observasi yang berkaitan dengan permasalahan dan wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang terkait secara langsung Kantor Bank Syariah mandiri Cabang Darmo serta Nasabah bank Syariah Mandiri dengan menggunkan Schedule, tepatnya adalah adalah metode wawancara berstruktur ( closed Question).

Sifat penelitian ini adalah prespektif, yaitu merupakan seluruh hasil penelitian, kemudian meninjau hasil tersebut dari sudut pandang Hukum Islam, sehingga pendekatannya yang dipakai adalah pendekatan normative.

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pelaksanaan kerjasama ATM BERSAMA antara Bank Syariah Mandiri dengan Bank Mandiri konvesional telah memenuhi rukun dan syarat dari sebuah syirkah, dimana dalam rukun disebutkan ada tiga hal yaitu: shigat, pihak-pihak yang berkerjasama, dan obyek. Sistem yang digunkan Bank Syariah Mandiri untuk membagi hasil dengan Bank Konvesional Mandiri adalah dengan menggunkan sistem profit Sharing, dimana sistem ini dilakukan dengan membagikan keuntungan yang di dapat dari suatu usaha. Keuntungan yang didapat berasal dari selisih antara pendapatan dari uasaha yang telah dikurangi dnegan biaya lainnya, jadi dapat dikatakan sebagai laba bersih.

Berdasarkan metode yang digunakan, maka tertangkap bahwa akad yang digunakan dalam kerj\asama ATM BERSAMA antara Bank Syariah Mandiri dengan Bank Mandiri konvesional sesuai dengan aturan Syariah karena telah memenuhi rukun dan syarat sah syirkah, dan terkait sistem bagi hasil yang digunkan merupkan kesepakatan bersama antara kedua beah pihak.

(8)

Halaman

SAMPUL DALAM ... I

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DATAR ISI ... vii

DAFTAR TRANSLITERASI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Definisi Operasional ... 10

F. Kajian Pustaka... 12

G. Metode Penelitian ... 14

H. Sistematika Pembahasan ... 18

BAB II LANDASAN TEORI MENGENAI SYIRKAH ... 21

I. Ketentuan Umum mengenai Syirkah ... 21

A. Pengertian dan dasar Hukum Syirkah ... 21

B. Macam-macam Syirkah ... 24

C. Rukun dan Syarat Syirkah ... 30

D. Batalnya Perjanjian Syirkah ... 33

(9)

A. Pengertian ATM ... 37

B. Fungsi dan Keguaan ATM ... 37

BAB III PELAKSANAAN KERJASAMA ATM BERSAMA BANK SYARIAH MANDIRI DENGAN BANK MANDIRI KONVESIONAL ... 40

A. Gambaran Umum Bank Syariah Mandiri ... 40

1. Sejarah berdirinya Bank Syariah Mandiri ... 40

2. Visi-misi ... 42

3. Struktur Organisasi ... 43

4. Sistem Kepegawaian ... 44

5. Prodak jasa Bank Syariah Mandiri ... 46

B. Gambaran Pelaksanaan kerjasama ATM BERSAMA..….………… ... 49

1. Pelaksanaan Kerjasama ... 49

2. Ketentuan Bagi Hasil ... 51

BAB IV ANALISA IMPLEMENTASI KERJASAMA ATM BERSAMA BANK SYARIAH MANDIRI DENGAN BANK SYARIAH KONVESIONAL………... 57

A. Analisis pelaksanaan kerjasama ATM BERSAMA Bank Syariah Mandiri dengan Bank Mandiri Konvesional ... 57

B. Analisis implementasi kerjasama ATM BERSANA Bank Syariah Maniri dengan Bank Mandiri Konvesional ... 64

BAB V PENUTUP ... 68

A. Kesimpulan ... 68

B. Saran ... 69

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Agama Islam merupakan agama yang mengatur seluruh sistem

kehidupan (way of life). Aturan agama Islam diberikan oleh Allah SWT

kepada manusia melalui petunjuk rasul-NYA berupa akidah, akhlak dan

syariah.1 Satu petunjuk ini di berikan supaya manusia dapat menjalankan

tugas kekhalifahan dengan sebaik baiknya, tugas kekhalifahan dalam

menjaga segala ciptaan-NYA termasuk di dalamnya menjaga bumi

beserta isinya.

Akidah dan akhlak sebagai sesuatu yang konstan, tidak mengalami

perubahan walaupun adanya perubahan waktu dan tempat. Sedangkan

syariah senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan

kondisi umat pada Rasul masing masing.2 Syariah Islam sebagai syariah

yang terakhir, yang di sampaikan Rasulullah Muhammad SAW memiliki

dua keistimewaan yaitu sebagai syariah yang komprehensif

(meneyeluruh) dan universal (umum).3

Komprehensif artinya, syariah Islam mengatur seluruh aspek

kehidupan yang meliputi ibadah dan muamalah. Ibadah disini adalah

ibadah khusus, yang mengaturhubungan antara manusia

1 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari teori ke praktek, (Jakarta: Gema Insani Press,

Cet. Ke-1, 2001), 4.

2 Ibid.,

(11)

(makhluk/ciptaan) dengan Allah SWT sebagai bagian khaliqnya

(penciptanya). Sedang muamalah mengatur hubungan antar sesame

manusia sebagai makhluk social dalam segala bidang.4 Universal artinya,

syariah islam bersifat umum,5 yaitu mengatur hubungan semua pihak

pada waktu dan tempat yang tidak terbatas, atau sa{hi}h fi kulli zama>n wal

maka>n (dapat digunakan setiap masa dan tempat). Ke-universal-annya ini

sebagai bukti bahwa agama Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh

alam (rahmatan lil alamin).6 Misalnya dalam muamalat islam tidak

membeda-bedakan antara muslim dan non muslim.

Sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW melalui hadisnya :

ََعَ ن َََعَ ب َِد َُها َ َ رلا ََ ح َِنَ َ بَِن َََا َ َِِ ََبَ ك َ رَ ََرَِض ََيَ َُها َََع َ نَُه ََم ََقَا ََلا َ ((َ: َ ََكََن ََمَا ََعَ َ نلا َِّبَ َ ُثَمَص َ ََج ََءاَ ََرَُج َ لَ َُمَ ش َِر َ كَ ََمَ ش ََع َ نَا ََ َط َِوَ ي َ لََ ِبََغََن َُمَ ََيَُس َ وََ ق ََها َ, ََ فََق ََلا َ َ نلا َِّبَ َمَص َ, َِبََ بَ ي ََع ََاَا َ مَ ََعَِط َ يًَةَ ََ. َ واَ ََق ََلا َ َ:َ َاَ مَ ََِ بَِة َ ََ)) ََقف ََلا َ َ: ََّ َ, ََبَ ل َََ بَ ي ََع َ, ََف َ شا ََِت َ يَ َِمَ نَُه َ ََش َ ةَا َ( يراخبلاَ ور )

“Sungguh kami bersama Rasulullah SAW, kemudian datang seorang laki

laki musyrik yang berambut kusut tinggi besar dengan membawa

kambing yang di gembalakannya, kemudian Rasulullah SAW bersabda:

“dijual atau dihibahkan?”, maka berkata (laki laki musyrik tersebut):

“dijual”, kemudian Rosulullah membelinya satu ekor. (HR. Imam

Bukhari).7

Ada sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang di riwayatkan oleh

Imam Bukhari dari Aisyah r.a yang berbunyi:

4 Muhammad Syafi’I Antonio, …, 5.

5 Ibid.

6Info Bank, No. 295, November 2003, Vol. XXV , 77.

(12)

ََعَ ن َََع َِءا ََشَِة َََر َِض ََيَ َُها َََع َ نَُه ََم ََاَا َ نَ َ نلا َِّبَ َِاَمَص َ ش ََِت َ يَ َِم َ نَ ََ يَُه َ وَِد ََيَ ََطََع ًَمَا َِاَا َ ّ ََاَ ََج َ لَ ََمَ عَُل َ وَ مَ َ, ََوَ راََ ت َُهَ ن ََِم َ نَُهَ َِدََر ََع َِمَا َ نَ ََح َِدَ ي َ دَ َ( يراخبلاَ ور )

“Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW telah member makanan dari

orang yahudi sampai batas waktu tertentu, dan kemudian beliau

menggadaikan baju perang dari besi beliau (kepada orang yahudi

tersebut),” (HR. Imam Bukhari)8

Muamalah (hubungan) tidak sebatas pada kegiatan ekonomi,

tetapi muamalat dalam segala bidang: politik, social, budaya, hukum dan

lain lain. Sebagai makhluk social manusia tidak dapat lepas dari kegiatan

muamalah, dan salah satu wujud muamalah tersebut dilakukan melalui

kerjasama dan tolong menolong ini, sebagaimana firman Allah SWT:

ََوََ تََع ََواَُ ن َ واَ ََعََل َ لاَى َِِبَ ََوَ تلا َ قََو ََوَي ََّ ََ تَََع ََوَا َُ نَ و ََعَا ََل َِ ّاَى َِ ثَ ََوَ لاَُع َ دََو َُنَا َ(َ. َةدءاما ََ: ٤ َ)َ

“ Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan

ketakwaan, dan janganlah kamu tolong menolong dalam (mengerjakan)

dosa dan permusuhan “ ( QS. Al- Maidah : 2 )9

Di bidang ekonomi, misalnya kerjasama dengan sesama lembaga

perbankan yang dapat dilakukan dalam segala hal, contohnya adalah

kerjasama dalam penggunaan teknologi. Dimana teknologi ini diyakini

merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi kinerja suatu

8 Ibid., 38.

9 Departemen Agama RI, Al-Qur’anul Karim dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Toha Putra,

(13)

bank.10 Penggunaan teknologi dalam perbankan mengalamikemajuan yang

luar biasa, dibidang teknologi komunikasi misalnya; internet banking/

web banking, telepon seluler (mobile banking), wireless application

protocol (WAP), short message servise (SMS),dan lain lain. Di bidang

teknologi (Hardwere dan Software), misalnya sistem komputerisasi,

termasuk didalamnya teknologi ATM. Bahkan diperbankan syariah saat

ini telah ada perangkat lunak (Software) khusus perbankan syariah yang

di kembangkan PT. Sigma Cipta Caraka.11

Perkembangan perbankan nasional Indonesia saat ini, dengan

disahkannya UU No 21tahun 2008 yang merupakan penyempurnaan UU

No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, secara tegas menjelaskan bahwa

ada dua sistem perbankan di Indonesia (dual banking system), yaitu

perbankan syariah dan perbankan konvensional. Di dalam UU No. 10

Tahun 1998 tersebut juga menjelaskan tentang dasar operasional serta

produk produk perbankan syariah.12

Sebagai bagian dari perbankan nasional tentu diharapkan antara

bank syariah dan bank konvensional dapat bekerjasama, tentunya dengan

batas batas yang di perbolehkan dalam undang undang syariah.

Bank Syariah Mandiri sebagai bagian dari sistem perbankan di

Indonesia yang berdasar syariah, telah menggunakan beberapa teknologi

10 Tim Penyusun Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah;

Konsep, Produk dan Implementasi Operasional, (Jakarta: Djambatan, 2001), 296.

11Info bank, No. 273, Vol. XXIV, April 2002, 76.

(14)

tersebut terutama dalam usahanya memberikan jasa (fee) kepada

masyarakat salah satunya adalah menggunakan teknologi ATM.

Konsep dasar sistem jasa (fee) yang di kembangkan bank syariah

mandiri (BSM) sendiri adalah sistem kegiatan yang meliputi seluruh

layanan non pembiayaan yang di berikan bank, antara lain bank garansi,

kliring, inkso, jasa transfer dan lain lain.13 Termasuk didalamnya adalah

ATM.

Dalam menjalankan ATM nya bank syariah mandiri (BSM) telah

melakukan kerjasama penggunaan ATM dengan beberapa bank

konvensional dan bank syariah lainnya. Antara lain: BCA, BRI, CIMB

NIAGA, NISP, MEGA dan lain lain yang termasuk dalam akad

(perjanjian) kerjasama.14 Kerjasama ATM ini dalam prakteknya

diwujudkan dalam program ATM BERSAMA, dengan sarana ini

diharapkan masing-masing nasabah bank yang bersangkutan dapat

memanfaatkan terminal ATM degan logo ATM BERSAMA.

Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Bank

Konvensional adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara

konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas

13 Warkum Sumitri, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait (BMUI &

Takaful)di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Prakasa, Cet. Ke-1, 1996), 82.

(15)

pembayaran.15 Prinsip yang digunakan bank konvensional terdapat dua

metode, yaitu :

a. Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan seperti

tabungan, deposito berjangka, maupun produk pinjaman (kredit) yang

diberikan berdasarkan tingkat bunga tertentu.

b. Untuk jasa-jasa bank lainnya, pihak bank menggunakan atau

menerapakan berbagai biaya dalam nominal atau prosentase tertentu.

Sistem penetapan biaya ini disebut fee based.16

Istilah “kerjasama” dalam perbankan syariah identik dengan akad

musyarakah, mudharabah, musaqah, dan muzara’ah. Akan tetapi berbeda

di dalam penggunaannya dimana musaqah danmuzara’ahmerupakan

istilah kerjasama di bidang pertanian, sedang mudharabah adalah

merupakan kerjasama antara dua belah pihak pertama (bank) sebagai

penyedia 100% dana kepada pihak kedua (pengelola atau nasabah).17 Ada

pula yang memasukkan mudharabah sebagai bagian dari syirkah. Jadi

secara umum kerjasama identik dengan syirkah.

Dewan Syariah Nasional (DSN) sebagai lembaga legalitas

religious telah mengeluarkan fatwa tentang syirkah dengan No:

08/DSN-MUI/IV/2000 yang di tetapkan di Jakarta tanggal13 April 2000 M, yang

di tandatangani oleh DSN-MUI Ali Yafie dan A Nazri Adlani sebagai

15 Santoso Sembiring, Hukum Perbankan, (Bandung: Mandar Maju, 2000), 23.

16 Ibid., 25.

(16)

ketua dan sekretaris, dimana di dalamnya memuat tentang pertimbangan

dan dasar di perboehkannya syirkah serta ketetapannya.18 Namun

permasalahannya apakah sebenarnya yang mendasari kerjasama ATM

BERSAMA tersebut dan sejauh mana syirkah tersebut dilaksanakan.

Penelitian tentang kerjasama ATM (ATM BERSAMA)

banksyariah dengan bank bank konvensional ini dilakukan di Bank

Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di paparkan di atas, peneliti

mengidentifikasi permasalahan yang muncul di dalamnya, yaitu:

a. Implementasi kerjasama antara kerjasama antar ATM

BERSAMA Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo

dengan Bank Konvensional Mandiri.

b. Model kerjasama dan bagi hasil antara kerjasama antar ATM

BERSAMA Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo

dengan Bank Konvensional Mandiri.

c. Akad apa yang di gunakan dalam kerjasama antara kerjasama

antar ATM BERSAMA Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang

Darmo dengan Bank Konvensional Mandiri.

18 Dewan Syariah Nasional, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional Untuk Lembaga

(17)

2. Batasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah dan tidak terlalu meluas, sehingga

lebih sistematis dengan prosedur penelitian ilmiah, dan tidak terjadi

kesalah fahaman terhadap masalah yang terkandung di dalam penelitian

ini. Untuk itu maka peneliti member ruang lingkup sebagai batasan

masalah yang jelas untuk penelitian ini. Yaitu hanya pada praktek

penerapan (implementasi) dan analisis penerapan (implementasi)

kerjasama antara ATM BERSAMA Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang

DARMO dengan Bank konvensional Mandiri.

C. Rumusan Masalah

Adapun yang jadi pokok permasalahan peneliti adalah:

1. Bagaimana implementasi kerjasama ATM BERSAMA antara Bank

Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo dengan Bank Konvensional

Mandiri ?

2. Bagaimana analisis implementasi kerjasama ATM BERSAMA antara

Bank Syariah Mandiri cabang Darmo dengan Bank Konvensional

Mandiri ?

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Setiap penulisan ilmiah tentu memiliki tujuan pokok yang akan

dicapai atas pembahasan materi tersebut. Oleh karena itu, penulis

(18)

a. Untuk mengetahui Implementasi Kerjasama Bank Mandiri syari’ah

dengan Bank Mandiri Konvesional (ATM Bersama Cabng Darmo)

b. Untuk mengetahui Analisis Implementasi Kerjasama Bank Mandiri

syari’ah dengan Bank Mandiri Konvesional (ATM Bersama Cabng

Darmo)

2. Kegunaan Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut :

a. Manfaat teoritis

Adapun manfaat teoritis dari hasil penelitian ini di harapkan

dapat memberikan teori yang berarti bagi perkembangan dan

penerapan Analisis Implementasi Kerjasama Bank Mandiri

syari’ah dengan Bank Mandiri Konvesional (ATM Bersama

Cabng Darmo)

b. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah :

1. Penelitian ini menjadi salah satu pedoman pengembangan Bank

Syariah Mandiri (BSM), khususnya untuk pengembangan

produk-produk dengan berdasarkansistem syirkah (kerjasama)

2. Penelitian ini menjadi salah satu sumber informasi bagi akademisi,

(19)

E. Definisi Operasional

Untuk mempermudah pembaca memahami istilah-istilah yang

terkandung dalam penelitian ini, maka peneliti akan menjelaskan

beberapa istilah yang peneliti rasa sangat penting untuk pembaca ketahui.

Yaitu :

1. Implementasi

Jika merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia,

Pengertian Implementasi adalah pelaksanaan atau penerapan.

Definisi Implementasi itu sendiri adalah suatu hal yang bermuara

pada aksi, aktivitas, tindakan, serta adanya mekanisme dari suatu

sistem. Implementasi tidak hanya aktivitas monoton belaka, tetapi

merupakan suatu kegiatan yang terencana secara baik yang

berguna untuk mencapai tujuan tertentu.

Implementasi merupakan penerapan, metode, cara-cara,

strategi terhadap keadaan yang nyata atau proses. Disini Bank

Syariah Mandiri (BSM) cabang darmo menerapkan metode

kerjasama antara ATM bank syariah dan bank konvensional

dengan menggunakan akad Syirkah (kejasama) yang sesuai dengan

aturan dan kaidah-kaidah secara islam.

(20)

Kerjasama merupakan salah satu bentuk interaksi sosila

yang bersifat asosiatif, yaitu apabial suatu kelompok masyarakat

mempunyai pandangan yang sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Kerjasama adalah suatu bentuk interaksi sosial antara

orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai tujuan

bersama. Kerjasama timbul Karena orientasi orang perorangan

dengan kelompoknya (in-group) dan kelompok lainnya

(out-group).

Disini, kerjasama yang dilakukan Bank Syariah Mandiri

(BSM) cabang Darmo adalah kerjasama antara ATM BERSAMA

Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo dan bank

konvensional Mandiri dengan menggunakan akad Syirkah

(kerjasama) yang tentunya sesuai aturan dan kaidah-kaidah islam.

3. ATM Bersama

ATM bersama adalah salah satu jaringan terminal ATM

antar bank di Indonesia. Di dirikan sejak 1990. ATM bersama

merupakan layanan yang memungkinkah nasabah suatu bank

dapat menggunakan kartu ATM nya untuk bertransaksi di mesin

ATM bank lain yang termasuk dalam jaringan ATM bersama.

Jaringan ATM bersama dikelola oleh PT. Artajasa pembayaran

elektronis (ARTAJASA), sebuah perusahaan penyedia layanan

(21)

Disini Bank Syariah Mandiri (BSM) mempunyai layanan

ATM bersama yang bekerjasama dengan bank konvensional

Mandiri.

F. Kajian Pustaka

Kajian pustaka ini pada dasarnya adalah deskripsi ringkas tentang

sebuah kajian atau penelitian yang pernah dilakukan di seputar masalah

yang akan diteliti sehingga terlihat jelas bahwa kajian ini bukan

merupakan pengulangan atau duplikasi dari penelitian yang pernah ada.19

Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan topik

yang akan diteliti dengan penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh

peneliti sebelumnya.

Dengan pengetahuan penulis sebenarnya ada beberapa skripsi yang

terlebih dahulu membahas tentang masalah kerjasama antara ATM

bersama, seperti apa yang dibahas dalam skripsi yang ditulis oleh Aloen

Sagara Badruzzaman yang berjudul “ Tinjauan Yuridis Perjanjian

Kerjasama PT. Bank DKI sebagai Issuer Bank PT. Rintis Sejahtera

mengenai penggunaan fasilitas ATM Acquirer dan EDC Acquirer” dalam

skripsi ini banyak membahas tentang hukum dari perjanjian kerjasama

anatar PT. Bank DKI dengan PT> Rintis Sejahtera mengenai penggunaan

fasilitas ATM ATM Acquirer dan EDC Acquirer.dan sistem yang

19

Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya, Petunjuk Teknis Penulisan

(22)

digunakan dalam kerjasama tersebut adalah sistem sewa-menyewa.20

Namun dalam skripsi yang penulis susun ini akan menekankan pada

implementasi kerjasama antara ATM bersama Bank konvesional dan

Bank Syariah. Yang nantinya akan membahas tentang sistem bagi hasil

anatara ATM Bank Konvesional dan Bank Syariah.

Skripsi yang disusun oleh Choirul Arif Harahap yang berjudul “

Aspek Hukum pelaksanaan perjanjian kerjasama antara Bank dengan

layanan jasa Cash Management (Studi pada PT. Kelola Jasa Arta cabang

Medan)”, pada skripsi ini membahas tentang aspek hukum yang diterima

oleh PT. Kelola Jasa Arta sebagai pemberi layanan Cash Management

yang melakukan wanprestasi terhadap Bank.21 Sangat berbeda dengan

skripsi yang penulis susun, namun pembahasan skripsi ini lebih kepada

akibat kerjasama bagi hasil serta penerapan antara ATM Bank

Konvesional dan Bank Syariah.

Dari beberapa telaah pustaka di atas penulis menyimpulkan,

meskipun pembahasan tentang syirkah (kerjasama) telah banyak di bahas

baik dalam buku-buku perbankan syariah ataupun kitab-kitab fiqh. Akan

tetapi pembahasan tentang syirkah (kerjasama) dalam perbankan syariah

khusunya dalam bidang ATM serta ketentuan penggunaan teknologi

tersebut belum pernah di bahas sebelumnya.

20

Aloen Sagara Badruzzaman, “Tinjauan Yuridis Perjanjian Kerjasama PT. Bank DKI sebagai

Issuer Bank PT. Rintis Sejahtera mengenai penggunaan fasilitas ATM Acquirer dan EDC Acquirer” (Skripsi—Universitas Jendral Soedirman Purwokerto, 2011), 11

21

Chairul Arif Harahap, “Aspek Hukum pelaksanaan perjanjian kerjasama antara Bank dengan

(23)

G. Metode Peneltian Skripsi

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini jika di tinjau dari obyeknya merupakan penelitian

lapangan,22 akan tetapi jika di tinjau dari metode pengumpulan data yang

berkaitan dengan populasi tetap merupakan studi kasus,23 yaitu mengenai

kasus kerjasama ATM Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo,

untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, penulis

mengadakan penelitian lapangan sesuai dengan masalah yang penulis

kemukakan di atas, sehingga penelitian ini lebih bersifat menggambarkan

realita yang ada.

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yaitu

suatu metode penelitian yang di tujukan untuk menggambarkan

fenomena-fenomena yang ada, yang sedang berlangsung saat ini atau saat

yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau

pengubahan pada variable-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu

kondisi apa adanya. Penelitian deskriptif ini untuk mengetahui gambaran

nyata tentang penerapan (implementasi) pelaksanaan kerjasama antara

ATM BERSAMA Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo dengan

Bank konvensional mandiri.

a. Jenis data

22 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarat: PT. Rineka

Cipta, Cet. Ke-10, 1996), 11.

23 Hermawan Warsito, Pengantar Metodologi Penelitian: Buku Panduan Mahasiswa, (Jakarta:

(24)

Data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu data primer dan

data sekunder :

 Data primer

Data primer adalah data yang di peroleh dan di kumpulkan secara

langsung yang diambil dari hasil wawancara.

 Data sekunder

Data sekunder adalah data pendukung dari literatur (bahan

perpustakaan atau dengan sumber lain yang ada sangkut paut

dengan penelitian ini).

b. Sumber Data

 Data dari lokasi yang di peroleh secara langsung melalui

wawancara, observasi dan lain sebagainya.

 Data yang bersumber dari bahan buku-buku perpustakaan yang

bersangkut paut dengan penelitian ini.

2. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah penting dalam penelitian.

Pengumpulan data akan berpengaruh pada langkah-langkah berikutnya

sampai pada tahap penarikan kesimpulan. Pentingnya teknik

pengumpulan data ini maka di perlukan teknik yang benar dan akurat,

relevan dan dapat di percaya. Dalam setiap pengumpulan data, peneliti

(25)

kondisi peneliti, pertanyaan yang di ajukan, dan beberapa hal yang akan

di ungkapkan. Interaksi antara informan dan peneliti sangat di butuhkan

suasana yang mendukung dan berjalan dengan baik agar data yang di

peroleh benar-benar data yang akurat.

Adapun teknik yang di gunakan adalah sebagai berikut :

a. Metode observasi, yaitu metode penelitian dengan pengamatan yang

di catat secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang di

selidiki.24 Metode ini bermanfaat untukmendefisinikan data-data

lapangan, teori-teori ataupun hal-hal lain yang penulis peroleh di

lapangan.

b. Metode interview, yaitu pengumpulan data dengan jalan wawancara

dengan seseorang secara sistematik berdasarkan dengan tujuan

penyelidikan.25 Metode ini bermanfaat untuk mendapatkan informasi

mengenai pelaksanaan kerjasama ATM dengan salah satu staff di

Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang darmo. Dan bermanfaat untuk

mendapatkan pendapat dari seseorang yang ahli di bidang perbankan

syariah dan hukum islam.

c. Dokumentasi, yaitu penelitian terhadap benda-benda tertulis seperti

buku-buku, artikel, peraturan-peraturan dan lain-lain. Metode ini

bermanfaat dalam pengumpulan data pada semua bab penelitian,

24 Drs. Suharsini Arikunto,…, 144.

(26)

khusunya yang berkaitan dengan teori,26 metode ini identik dengan

metode kepustakaan, artinya dalam penelitian ini tidak lepas dari

data-data yang di peroleh dari kepustakaan.

3. Teknik Pengolahan Data

Setelah semua data terkumpul kemudian di olah dengan tahapan-tahapan

sebagai berikut:

a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali terhadap semua data yang

telah di peroleh, terutama dari segi kelengkapan, kevalidan,

kejelasan makna, keselarasan, dan kesesuaian antara data primer

dan data sekunder tentang kerjasama antar ATM BERSAMA

Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo dengan Bank

Konvensional Mandiri.

b. Organizing, yaitu menyusun dan mensistematiskan data-data yang

telah di peroleh tentang kerjasama antar ATM BERSAMA Bank

Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo dengan Bank

Konvensional Mandiri.

c. Analyzing, yaitu menganalisis kerjasama antar ATM BERSAMA

Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Darmo dengan Bank

Konvensional Mandiri.

4. Teknik Analisis Data

(27)

Data yang telah di dapatkan dengan metode di atas kemudian

diklasifikasikan sesuai dengan kategori masing-masing, baru kemudian di

adakan analisis data. Analisis yang di gunakan dalam penelitian ini adalah

analisis data kualitatif, dengan analisis non-statistik yang tidak dapat di

ukur dengan angka.

Namun karena peneliti ini bersifat deskriptif, maka analisis data

lebih di fokuskan pada analisa kualitatif, sehingga peneliti ini berifat

menggambarkan objek penelitian yang sebenarnya.

H. Sistematika Pembahasan Skripsi

Skripsi ini di bagi menjadi V (lima) Bab, dengan sistematika

sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan

Bab pertama merupakan pendahuluan yang memuat uraian latar

belakang masalah dan identifikasi dan batasan masalah yang di jadikan

pijakan awal untuk merumuskan masalah sehingga dapat menentukan

tujuan tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Definisi operasional

merupakan penjelasan pengertian tentang variable yang di teliti yang

(28)

Bab II : Gambaran Umum Tentang Kerjasama (Syirkah) dan ATM

Dalam bab ini menjelaskan konsep kerjasama (syirkah) yang

meliputi: pengertian syirkah, dasar hukum syirkah, macam-macam

syirkah, rukun dan syarat syirkah serta Syirkah dalam perbankan modern

(jasa hukum). Dijelaskan pula tentang ATM yang meliputi: pengertian

ATM, dasar dan manfaatnya dari segi ekonomi dan syariah.

Bab III : Pelaksanaan Kerjasama ATM (ATM BERSAMA) BSM

Bab ini menjelaskan pelaksanaan kerjasama ATM (ATM

BERSAMA) Bank Syariah Mandiri (BSM) sebagai syariah yang

pembahasannya meliputi: sejarah Bank Syariah Mandiri (BSM) di

Indonesia, syirkah dalam perbankan syariah, pelaksanaan kerjasama ATM

(ATM BERSAMA) Bank Syariah Mandiri.

Bab IV : Analisis Pelaksanaan Kerjasama ATM (ATM BERSAMA) BSM

Bab ini merupakan analisis-analisis penulis yang isinya meliputi;

Analisis terhadap pelaksanaan kerjasama ATM (ATM BERSAMA) Bank

Syariah Mandiri (BSM), analisis pendapat pakar perbankan dan ulama’

terhadap kerjasama ATM (ATM BERSAMA) Bank Syariah Mandiri

(BSM).

(29)

Bab ini merupakan bab terakhir yang isinya meliputi: Kesimpulan,

(30)
(31)

LANDASAN TEORI MENGENAI KONSEP SYIRKAH

A. Pengertian dan Dasar Hukum Syirkah 1. Pengertian Syirkah

Istilah lain dari musyarakah adalah Syirkah. Kata Syirkah dalam bahasa arab berasal dari kata syarika (fiil madhi), yasyraku (fiil mudhari’), syarikan/ syirkatan/ syarikatan (mashdar/ kata dasar), artinya menjadi sekutu atau serikat.1 Secara bahasa al-syirkah berarti al-Ikhtilat yang artinya percampuran atau persekutuan dua hal atau lebih, sehingga antara masing-masing sulit dibedakan. Seperti persekutuan hak milik atau perserikatan usaha.2

Yang dimaksud percampuran disini adalah seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehingga tidak mungkin untuk dibedakan. Sedangkan menurut istilah, para Fuqaha berbeda pendapat mengenai pengertian syirkah, diantaranya menurut Sayyid Sabiq, yang dimaksud dengan syirkah ialah akad antara orang yang berserikat dalam modal dan keuntungan. Menurut Hasbi ash-Shidieqie, bahwa yang dimaksud dengan syirkah ialah akad yang berlaku antara dua orang atau lebih untuk

ta’awun dalam bekerja pada suatu usaha dan membagi keuntungannya.3

Jadi dapat disimpulkan bahwa Musyarakah/ syirkah adalah kerjasama antara kedua belah pihak untuk memberikan kontribusi dana dengan keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

1Rahmat Syafe’I,

Fiqh Muamalah (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004), 12.

2

Heri Sudarsono, Bank dan Lembangan Keuangan Syariah: Diskripsi dan Ilustrasi (Yogyakarta: Ekonosia, 2003), 87.

3

(32)

kerjasama antara dua orang atau lebih dalam berusaha, yaitu keuntungan dan kerugiannya ditanggung bersama. Hasil keuntungan dalam musyarakah juga diatur, seperti halnya pada mudarabah, sesuai prinsip pembagian keuntungan dan kerugian (profit and loss sharing prinsiple atau pls) atau seperti yang istilahnya digunakan oleh Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Tentang Bagi Hasil. Keuntungan dibagi menurut proporsi yang telah disepakati sebelumnya, kedua pihak memikul resiko kerugian financial. 4

Dalam hal pembagian kewenangan yang dimiliki setiap patner, pendapat Mazhab Hanafi mengatakan, bahwa setiap patner dapat mewakilkan seluruh pekerjaannya, meliputi penjualan, pembelian, peminjaman dan penyewaan terhadap orang lain, namun patner yang lainnya mempunyai hak untuk tidak mewakilkan pekerjaannya kepada orang lain.5

Dapat dipahami, literature fiqih memberikan kebebasan kepada patner untuk mengelola (managing) kerjasama atas dasar kontrak musyarakah. Setiap patner dapat mengadakan bisnis dengan berbagai jalan yang mendukung untuk merealisasikan tujuan kontrak ini, yaitu untuk mencapai keuntungan (profit) sesuai dengan persetujuan yang mereka sepakati.

2. Dasar Hukum Syirkah

Adapun yang dijadikan dasar hukum oleh para ulama atas kebolehan syirkah, antara lain:

4Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga…, 90. 5

(33)

َُهَنَاَخَاَذَِأَفَُهَبِحَاَصَاَُ

َِمَُتَجََرَخ

اَمُهَ ن يَ بَ ن

َ

Artinya: “hadits yang diriwayatkan oleh abu dawud dari abu hurairah, dalam

sebuah hadits marfu’, ia berkata, sesungguhnya Allah berfirman, “aku jadi yang ketiga diantara dua orang yang berserikat selama yang satu tidak khianat terhadap yang lainnya,

apabila yang satu berkhianat kepada pihak yang lain, maka keluarlah aku dari mereka”.6

Selain itu diterangkan dalam al-Qur’an surat Sad ayat 24:

ََلاَق

َ

دَقَل

ۖ ฀

َ

ََكَمَلَظ

َ

َِلاَؤُسِب

َ

عَن

ََكِتَج

َ

َىَلِإ

َ

َِه ِجاَعِن

ۖ ۦ

َ

َ نِإَو

َ

رِثَك

اَ

ََنِم

َٱ

ل

اَطَلُخ

َِءَ

بَيَل

يِغ

َ

عَب

مُهُض

ۖ ฀

َ

َىىَلَع

َ

عَب

ۖ ฀

َ ض

َ

َ ِّإ

َٱ

ََنيِذ ل

َ

َ اوُنَماَء

َ

َ اوُلِمَعَو

َٱ

َى صل

َىَحِل

َِت

َ

ليِلَقَو

َ

ا مَ

مُ

฀ ฀

َ

َ نَظَو

َ

َُواَد

ۥ

َُدَ

اَ َأ

َ

َى نَ تَ ف

َُهَََف

ٱ

س

غَت

ََرَ فَ

َُه بَر

ۥ

َ

َ رَخَو

َ

عِكاَر

َ اَ

ََباَنَأَو

۩

َ

٤٢

َ

َ

Artinya: “Daud berkata: "Sesungguhnya dia Telah berbuat zalim kepadamu

dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat7”.

Ayat di atas mencela perilaku orang-orang yang berkongsi atau berserikat dalam berdagang dengan menzalimi sebagian dari pihak mereka dengan menambahkan harta perkongsian mereka.Menurut penulis, kedua ayat al-Qur’an tersebut di atas jelas menunjukkan bahwa syirkah pada hakekatnya diperbolehkan oleh risalah-risalah yang terdahulu dan telah dipraktekkan.

Selain itu, landasan dan dasar hukum syirkah juga diatur dalam peratuaran DSN MUI yaitu fatwa DSN MUI nomor 08 tahun 2000 tentang akad musya>rakah, dimana akad ini muncul sebagai alternatif pembiayaan yang menguntungkan bagi nasabah dan juga bank syariah.

6

Ibnu Rusdy, Bidayatul al- Mujtahid (Jakarta: Pustaka Amini, 1995), 57

7

(34)

B. Macam- macam Syirkah

Secara umum, pembagian syirkah terbagi menjadi dua, yaitu syirkah Amlak dan syirkah Uqud.8 syirkah Amlak mengandung pengertian kepemilikan bersama dan keberadaannya muncul apabila dua atau lebih orang secara kebetulan memperoleh kepemilikan bersama atas suatu kekayaan tanpa membuat perjanjian kemitraan yang resmi. Misalnya dua orang yang memperoleh warisan atau menerima pemberian sebidang tanah atau harta kekayaan, baik yang dapat atau yang tidak dapat dibagi.

Syikah amlak sendiri terbagi menjadi dua bentuk, yaitu syirkah ijbariyyah dan syirkah ikhtiyariyyah. Syirkah ijbariyyah adalah syirkah terjadi tanpa kehendak masing-masing pihak. Sedangkan syirkah ikhtiyariyyah adalah syirkah yang terjadi karena adanya perbuatan dan kehendak pihak-pihak yang bersyerikat.9

Sedangkan syirkah al-Uqud dapat dianggap sebagai kemitraan yang sesunguhnya, karena pihak yang persangkutan secara suka rela berkeingginan untuk membuat suatu perjanjian investasi bersama dan berbagi untung dan risiko. Perjanjian yang dimaksud tidak perlu merupakan perjanjian yang formal dan tertulis. Dapat saja perjanjian itu informal dan secara lisan. Dalam syirkah ini, keuntungan dibagi secara proporsional diantara para pihak seperti halnya mudarabah. Kerugian juga dtanggung secara proporsional sesuai dengan modal masing-masing yang telah diinvestasikan oleh para

8

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah,…, 318.

9

(35)

bahwa perkongsian (syirkah) terbagi atas empat macam : a. Syirkah Inan

Syirkah ‘inan adalah persekutuan dalam pengelolaan harta oleh dua orang.

Mereka memperdagangkan harta tersebut dengan keuntungan dibagi dua. Dalam syirkah ini, tidak disyaratkan sama dalam jumlah dalam jumlah modal, begitu juga wewenang dan keuntungan. 11

Ulama fiqih sepakat membolehkan perkongsian jenis ini. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam menentukan persyaratannya, sebagaimana mereka berbeda pendapat dalam memberikan namanya. Dalam syirkah inan, para mitra tidak perlu orang yang telah dewasa atau memiliki saham yang sama dalam permodalan. Tanggung jawab mereka tidak sama sehubungan dengan pengelolaan bisnis mereka. Sejalan dengan itu, pembagian keuntungan diantara mereka mungkin pula tidak sama. Namun, mengenai hal ini harus secara tegas dan jelas ditentukan didalam perjanjian kemitraan yang bersangkutan. Bagian kerugian yang harus ditanggung oleh masing mitra sesuai dengan besarnya modal yang telah ditanamkan oleh masing-masing mitra.

Perkongsian ini banyak dilakukan maysarakat karena didalamnya tidak disyaratkan adanya kesamaan dalam modal dan pengelolaan. Boleh saja modal satu orang lebih banyak dibandingkan yang lainnya, sebagaimana dibolehkan juga seseorang bertanggung jawab sedang yang lain tidak. Begitu pula dalam bagi hasil,

10

Rahmat Syafi‟i, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), 188

11

(36)

dengan syarat transaksi.

Perseroan model inan ini dibangun dengan prinsip perwakilan (wakalah) dan kepercayaan (amanah), sebab masing-masing pihak mewakilkan kepada perseronya. Kalau perseroan telah sempurna dan telah menjadi satu maka para persero tersebut harus secara langsung terjun melakukkan kerja, sebab perseroan tersebut pada badan atau diri mereka. Sehingga tidak diperbolehkan seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk mengantikann posisinya dengan badan orang tersebut untuk mengolah perseroannya.12

b. Syirkah mufawadah

Arti dari mufawadah menurut bahasa adalah persamaan. Syirkah mufawadah adalah sebuah persekutuan dimana posisi dan komposisi pihak-pihak yang terlibat didalamnya adalah sama, baik dalam hal modal, pekerjaan maupun dalam hal keuntungan dan risiko kerugian13. Syirkah mufawadah ini mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:

1. Harta masing-masing persero harus sama 2. Persamaan wewenang dalam membelanjakan 3. Persamaan agama

4. Setiap persen harus dapat menjadi penjamin, atau wakil dari persero lainnya dalam hal pembelian dan penjualan barang yang diperlukan.

Dari imam mazhab berbeda pendapat mengenai hukum dan bentuk syirkah mufawadah ini.

12

Taqyuddin an-Nabhani, An-Nidlam Al-Iqtishadi Fil Islam. Alih bahasa. Drs. Moh. Magfur Wachid,

Membangun Sistem Ekonomi At-Ternatif Persepektif Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), 156-157.

13

(37)

kebolehannya, meski keduanya masih berselisih pendapat tentang beberapa syarat. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa syirkah mufawadah itu tidak boleh.14

Imam Malik berpendapat, dinamakan syirkah mufawadah ialah persekutuan antara dua orang atau lebih dalam modal dan keuntungan, dengan ketentuan masing-masing angota menyerahkan kepada orang lain, hak bertindak atas nama syirkah, baik para anggotanya hadir semua atau tidak hadir, tanpa syarat modal masing-masing harus sama besarnya serta tanpa kewajiban memasukkan harta baru yang diperoleh salah seorang anggota di dalam modal syirkah.15

Imam Malik berpendapat, dinamakan syirkah mufawadah ialah persekutuan antara dua orang atau lebih dalam modal dan keuntungan, dengan ketentuan masing-masing angota menyerahkan kepada orang lain, hak bertindak atas nama syirkah, baik para anggotanya hadir semua atau tidak hadir, tanpa syarat modal masing-masing harus sama besarnya serta tanpa kewajiban memasukkan harta baru yang diperoleh salah seorang anggota di dalam modal syirkah.16

Imam Abu Hanifah mempertegas perbedaan syirkah „inan dengan

mufawadah. Dalam syirkah „inan hanya uang saja yang diperhatikan tidak mesti sama

besar jumlah sahamnya, sedangkan dalam syirkah mufawadah haruslah sama jumlah

modal dari para persero. Sesuai dengan sebutan “mufawadah”, dikehendaki adanya

dua perkara: kesamaan macam hartanya (modal), juga keseluruan hak, milik kedua belah pihak.17

14

Abdur Rahman, Fiqh 4 Mazhab.,,, 155.

15

Ibid.

16

Ibid., 156.

17

(38)

pada percampuran harta saja. Dan syirkah itu bukan merupakan jual beli dan pemberian kuasa.

c. Syirkah wujuh

Yaitu bahwa dua orang atau lebih membeli sesuatu tanpa permodalan, yang ada hanyalah pedagang, terhadap mereka dengan catatan bahwa keuntungan terhadap mereka. Syirkah ini adalah syirkah tanggung jawab, tanpa kerja dan modal.

Menurut Hanafi dan Hambali syirkah ini boleh, karena suatu bentuk pekerjaan, dengan demikian syirkah dianggap sah, dan untuk syirkah ini dibolehkan berbenda pemilikan dalam suatu yang dibeli, sesuai denggan bagian masing-masing (tanggung jawab masing-masing).

Asy Syafi’Syirkah wujuh adalah syirkah antara dua orang dengan modal dari pihak di luar kedua orang tersebut. Artinya, salah seorang memberikan modalnya kepada dua orang atau lebih tersebut, yang bertindak sebagai mudha>rib, sehingga kedua pengelola tersebut menjadi persero yang sama-sama bisa mendapatkan keuntungan dari modal pihak lain.

Disebut syirkah al-wuju>h karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan,

atau keahlian (wuju>h) seseorang di tengah masyarakat.Syirkah al-wuju>h adalah

syirkah antara dua pihak (misal A dan B) yang sama-sama memberikan konstribusi

kerja (al-‘amal), dengan pihak ketiga (misalnya C) yang memberikan konstribusi

(39)

bersyirkah dalam barang yang mereka beli secara kredit, atas dasar kepercayaan

pedagang kepada keduanya, tanpa konstribusi modal dari masing-masing

pihak.Misal: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B

bersyirkah wujûh untuk sebuah usaha jual beli mobil, kemudian karena A dan B

tokoh yang dipercaya dan tidak ada modal maka pedagang memberikan modal pada

A dan B, lalu A dan B membeli barang dari seorang pusat penjualan mobil (misalnya

X). A dan B bersepakat, masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli.Lalu

keduanya menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi dua, sedangkan harga

pokoknya dikembalikan kepada pedagang yang telah memberikan modali

menganggap syirkah ini batil, begitu juga Maliki, karena yang disebut syirkah

hanyalah dengan modal dan kerja, sedangkan kedua unsur ini dalam syirkah wujuh,

tidak ada.18

Dalam syirkah wujûh kedua ini, keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan,

bukan berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki sedangkan kerugian

ditanggung oleh kedua belah pihak usaha berdasarkan prosentase barang dagangan

yang dimiliki, bukan berdasarkan kesepakatan.

Ketokohan yang dimaksud dalam syirkah wuju>h adalah kepercayaan finansial

(siqah al-ma>liyah), bukan semata-semata ketokohan di masyarakat. Maka dari itu,

tidak sah syirkah yang dilakukan seorang tokoh (katakanlah seorang menteri atau

pedagang besar), yang dikenal tidak jujur, atau suka menyalahi janji dalam urusan

keuangan.

18

(40)

alasan jaminan perwakilan yang menjadi kunci musya>rakah ini juga dibolehkan

secara hukum, telah lama dipraktekkan dan tidak menimbulkan keberatan dari

siapapun.

d.Syirkah Abdan atau Syirkah A’mal

Yaitu bahwa dua orang berpendapat untuk pekerjaan dan ketentuan upah

yang mereka terima dibagi menurut kesepakatan.

Syirkah ini juga disebut syirkah a’mal (syirkah kerja) atau syirkah abdan

(syirkah fisik), atau syirkah shana’i (syirkah para tukang), atau syirkah taqbubbul

(syirkah penerimaan).19

C. Rukun dan Syarat Syirkah

1. Rukun Syirkah

Dalam suatu syarat bagi hasil (profit sharing) sebagaimana dalam

istilah-istilah yang diterangkan di atas, diperlukan adanya suatu rukun dan syarat-syarat

agar menjadi sah.

Rukun syirkah diperselisihkan oleh para ulama’ madzhab, menurut ulama’

Hanafiah, rukun syirkah ada dua, yaitu ijab dan qobul, sebab ijab dan qobul (akad)

yang menentukan adanya syirkah.20 Sedangkan yang lain, seperti dua orang yang

melakukan perjanjian syirkah, dan harta adalah diluar hakekat dan dzatnya perjanjian

syirkah. Tata cara ijab dan qobul ialah bahwasanya salah seorang berkata: aku

19

Ibid., 177.

20

(41)

menjawab: ya, aku menerimanya.

Dalam rukun syirkah mempunyai syarat:

1. Shigat, yang terdiri dari ijab dan qabul yang mempunyai syarat:

a. Pengelolaan di isyaratkan mendapatkan izin dari para sekutu didalamnya

menjual dan membeli.

b. Kalau diantara anggota sebagai pengelola, maka harus ada ijab dan qabul

sebagai tanda pemberian izin diantara mereka, bahwaa dia diperbolehkan

sebagaimana jabatan yang diberikannya.

c. Jika beberapa pekerjaan bisa dilakukan bersama-sama maka harus

mendapatkan izin dari anggota yang lainnya dan pemberian izin itu

merupakan kepercayaan yang diberikan kepadanya, dan tidak boleh melebihi

tugas kepercayaan yang diberikannya.

d. Kata sepakat itu bisa dimengerti, sebagai pengertian izin yang dipercayakan,

setiap kami jadikan harta ini sebagai harta syirkah dan saya izinkan kamu

mengelola dengan jalan yang biasa dalam perdagangan pada umumnya.

Pengertian ini dijawab dengan ucapan (saya terima) dengan jawban inilah

yang dimaksud sebagai akad shigat.

2. Dua orang yang berserikat, didalamnya terdapat beberapa syarat, yaiu:

a. Pandai b. Baligh c. Merdeka

(42)

oleh takaran atau timbangan dan barang tersebut bisa dipesan, seperti

emas dan perak. Keduanya bisa dibatasi dengan timbangan.

2. Bahwa modal dicampur sebelum perjanjian syirkah berlangsung, sehingga

salah satunya tidak bisa dibedakan lagi dengan yang lainnya.

3. Bahwa modal yang dikeluarkan oleh masing-masing nggota itu sejenis

artinya modal itu adalah sama jenisnya. Jadi tidak sah kalau salah satu

anggota mengeluarkan modal yang berbeda.

2. Syarat-syarat yang berhubungan dengan syirkah secara umum, yaitu21:

a. Dapat dipandang sebagai perwakilan.

Hendaklah setiap orang yang bersekutu saling memberikan wewenang kepada

sekutunya untuk mengolah harta, baik ketika memberi, menjual, bekeja, dan

lain-lain. Dengan demikian , masing-masing dapat menjadi wakil bagi yang

lainnya

b. Ada kejelasan dalam pembagian keuntungan

Bagian masing-masing dari yang bersekutu harus jelas, seperti seperlima,

sepertiga atau sepuluh persen (10%). Jika keuntungan tidak jelas (Majhul),

akad menjadi fasid (rusak) sebab laba merupakan bagian umum dari jumlah.

c. Laba merupakan bagian umum dari jumlah.

21

(43)

ditentukan, seperti satu pihak mendapat sepuluh, duapuluh dan lain-lain. Hal

ini karena perkongsian mengharuskan adanya pernyataan dalam laba,

sedangkan penentuan akan menghilangkan hakikat perkongsian.

D. Batalnya Perjanjian Syirkah

Ketika kita melaksanakan perjanjian, tidak semua pihak menepati hasil

kesepakatan dalam perjanjian, sehingga perjanjian yang telah disepakati itu akan batal,

begitu pula dengan perjanjian syirkah. Adapun perkara yang membatalkan syirkah

terbagi atas dua hal. Ada perkara yang membatalkan syirkah secara umum dan ada pula

yang membatalkan sebagian yang lainnya.

1. Pembatalan syirkah secara umum

2. Pembatalan dari seorang yang bersekutu.

3. Meningalnya salah seorang syarik.

4. Salah seorang syarik murtad atau membelot ketika perang.

5. Gila.

6. Modal para anggota syirkah lenyap sebelum dibelanjakan atas nama syirkah.

Pembatalan secara khusus sebagian syirkah

a. Harta syirkah rusak.

Apabila harta syirkah seluruhnya atau harta salah seorang rusak sebelum

dibelanjakan, perkongsian batal. Hal ini terjadi pada syirkah amwal. Alasannya yang

menjadi barang transaksi adalah harta, maka kalau rusak akad menjadi batal

(44)

Apabila tidak ada kesamaan modal dalam syirkah mufawadah pada awal

transaksi, perkongsian batal sebab hal itu merupakan syarat transaki mufawadah.

E. Aplikasi Syirkah dalam Perekonomian Modern

Syirkah yang dibagi menjadi beberapa macam antara lain seperti syirkah

al-‘uqu>d, syirkah al-‘ina>n, syirkah al-‘amlak, didalam perbankan syariah istilah yang

dipakai adalah musya>rakah. Akad musya>rakah antara pihak bank dengan nasabah

kebanyakan dilakukan oleh para pengusaha, dimana pengusaha ingin mengembangkan

usahanya. Menurut Syafi’i Antonio menjelaskan bahwa praktek musya>rakah pada

perbankan syariah banyak diterapkan dalam dua hal yaitu pada pembiayaan proyek dan

juga modal ventura.

1. Pembiayaan proyek Musya>rakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan proyek

dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek

tersebut. Setelah proyek itu selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama

bagi hasil yang telah disepakati.

2. Modal ventura Pada bank-bank yang dibolehkan melakukan investasi dalam

kepemilikan perusahaan. Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu,

dan setelah itu bank melakukan divestasi, baik secara singkat maupun bertahap.

F. Hikmah Syirkah

Manusia tidak dapat hidup sendirian, pasti membutuhkan orang lain dalam

memenuhi kebutuhan. Ajaran Islam, mengajarkan supaya kita menjalin kerja sama

(45)

kita sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Syirkah pada hakikatnya adalah sebuah

kerja sama yang saling menguntungkan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki

baik berupa harta maupun pekerjaan. Oleh karena itu, Islam menganjurkan umatnya

untuk bekerja samakepada siapa saja dengan tetap memegang prisip sebagaimana

tersebut diatas. Maka hikmah yang dapat kita ambil dari syirkah yaitu adanya tolong

menolong, saling bantu membantu dalam kebaikan, menjauhi sifat egoisme,

menumbuhkan saling percaya, menyadari kelemahan, dan kekurangan, dan menimbulkan

keberkahan dalam usaha jika tidak berkhianat.

Manusia berhak menikmati hidupnya secara sempurna tanpa ada suatu

pengurangan sedikit pun. Karena itu, seorang mukmin yang bersaudara harus

mendukung sesamanya untuk memperoleh hak tersebut dan jangan mengurangi hak

sesamanya. Kejujuran merupakan salah satu unsur dasar dalam membina persaudaraan di

antara sesama umat Islam, bahkan di antara sesama umat manusia. Apabila seseorang

tidak lagi memelihara kejujuran, dia dianggap telah keluar dari kelompok orang yang

bersaudara (ukhuwah) tersebut. Keberadaan orang yang telah kehilangan kejujuran akan

banyak mengurangi berbagai hak yang dimilik oleh komunitas tersebut. Pengurangan

terhadap hak merupakan penyebab utama terjadinya krisis kepercayaan di samping

memutuskan hubungan, menyebarkan kedengkian dan kemarahan diantara anggota

komunitas sehingga terjadi kehancuran di muka bumi dan kemaslahatan pun menjadi

sirna.

Untuk mengantisipasi kondisi seperti itu Allah menurunkan pertolongan-Nya

(46)

Al-Qur’an surat Al-A’raf: 85. Dalam ayat ini diungkapkan secara eksplisit mengenai

perintah untuk memenuhi hak orang lain dalam menakar dan menimbang (berkongsi

secara jujur) dalam rangka menjaga dan menghindari kerusakan di bumi.

Ancaman terhadap orang yang tidak mau berkongsi secara jujur banyak

disebutkan dalam Al-Qur’an, diantaranya surat Al-Muthaffifin: 1-3. Lebih dari itu,

pengurangan terhadap hak orang lain dianggap sebagai salah satu ciri dari orang yang

mendustai keberadaan hari kiamat. Kenyataan ini diungkapkan dalam surat

Al-Muthaffifin ayat 4-6.22

Pada dasarnya prinsip yang dikembangkan dalam syirkah adalah prinsip keadilan

dalam kemitraan antara pihak yang terkait untuk meraih keuntungan. Prinsip ini dapat

ditemukan dalam prinsip Islam ta’awun dan ukhuwuh dalam sektor bisnis. Dalam hal ini

syirkah merupakan bentuk kerjasama antara pemilik modal untuk mendirikan suatu

usaha bersama yang lebih besar, atau kerjasama antara pemilik modal yang tidak

memiliki keahlian dalam menjalankan usaha yang tidak memiliki modal atau yang

memerlukan modal tambahan. Bentuk kerjasama antara pemilik modal dan pengusaha

merupakan suatu pilihan yang lebih efektif untuk meningkatkan etos kerja.

Sistem bagi keuntungan tentunya berbeda dengan sistem perekonomian

kapitalis, dimana pemilik modal tidak terlibat langsung dalam tanggung jawab

pengelolaan usaha, apapun yang terjadi pihak pemodal memiliki keuntungan prosentatif

dari besarnya modal investasi.

22

(47)

A. Pengertian ATM (Anjunga Tunai Mandiri)

ATM dalam bahasa inggris disebut Automatic teller machine, sendangkan dalam

bahasa Indonesia disebut anjungan tunai mandiri.

ATM adalah alat elektronik yang difasilitasi oleh Bank kepada pemilik kartu

ATM tentunya agar mempermudah dalam transaksi secara elektronik seperti

mentransfer uang , mengambil uang, mengecek saldo dan lain-lain tanpa perlu diawasi

oleh teller. dan setiap kartu diberikan PIN (Personal Identification number) yang

berbeda guna untuk menjaga keamanan.23

B. Fungsi dan Kegunaan ATM (Anjungan Tunai Mandiri)

Secara umum fungsi ATM adalah agar dapat melakukan penarikan uang tunai,

namun selain itu masih banyak fungsi ATM yang dapat mempermudah kepentingan

kita sebagai nasabah dalam melakukan aktivitas perbankan, seperti:

1. Informasi Saldo

2. Pembayaran Umum: tagihan telepon, kartu kredit, listrik, air, handphone, dan uang

kuliah

3. Pembelian: tiket penerbangan, isi ulang pulsa 4. Pemindah bukuan (open transfer)

5. Pengubahan PIN

Selain itu manfaat yang dapat dirasakan oleh nasabah dari pelayanan ATM

tersebut adalah:

23

(48)

2. Dapat melakukan transaksi perbankan tunai maupun non tunai tanpa harus

mendatangi kantor cabang yang dituju

3. Dapat melakukan transaksi perbankan tanpa dibatasi waktu dan tempat, karena

layanan ATM on-line selama 24 jam

4. Tidak perlu menyimpan uang kas terlalu banyak Sedangkan manfaat bagi pihak

bank sendiri adalah:

a. Kemampuan menarik nasabah baru yang lebih banyak untuk menabung

dan meningkatkan pendapatan

b. Mendorong nasabah agar lebih aktif menggunakan jasa perbankan

c. Mengurangi antrian nasabah di kantor cabang

d. Mampu membuka peluang munculnya produk dan jasa baru

e. Sebagai media promosi

(49)

A. Gambaran Umum Bank Syariah Mandiri

1. Sejarah Berdirinya Bank Syariah Mandiri (BSM)

Kehadiran BSM sejak tahun 1999, sesungguhnya merupakan hikmah sekaligus berkah pasca krisis ekonomi dan moneter 1997-1998. Sebagaimana diketahui, krisis ekonomi dan moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis multi-dimensi termasuk di panggung politik nasional, telah menimbulkan beragam dampak negatif yang sangat hebat terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dunia usaha. Dalam kondisi tersebut, industry perbankan nasional yang didominasi oleh bank–bank konvensional mengalami krisis luar biasa. Pemerintah akhirnya mengambil tindakan dengan merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank–bank di Indonesia. Salah satu Bank konvensional, PT Bank Susila Bakti (BSB) yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi juga terkena dampak krisis.

(50)

Mandiri, sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang Bank Umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).

Tim Pengembangan Perbankan Syariah memandang bahwa pemberlakuanUU tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Dengan melakukan penggabungan (merger) dengan beberapa bank dan mengundang investor asing. Oleh karenanya, Tim Pengembangan Perbankan Syariah segera mempersiapkan sistem dan infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB berubah dari bank konvensional menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan nama PT Bank Syariah Mandiri sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris: Sutjipto, SH, No. 23 tanggal 8 September 1999. Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi Bank Umum Syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI\No.1/24/\KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/ Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420H atau tanggal 1 November 1999.

(51)

Syariah, dan 85 Payment Point. BSM dilengkapi layanan berbasis e-channel seperti BSM Mobile Banking GPRS dan BSM Net banking serta fasilitas ATM yang terkoneksi dengan bank induk.

Dari sisi kinerja keuangan unaudited per Desember 2011, asset BSM mencapai Rp 48,83 triliun, dengan komposisi Dana Pihak Ketiga Rp 42,62 triliun, dan Pembiayaan Rp 36,6 triliun. Sebagian besar pembiayaan atau 72,74 persen terdistribusikan ke segmen nonkorporasi.1

2. Visi Dan Misi Bank Syariah Mandiri (BSM)

Visi adalah suatu tujuan atau sasaran yang ingin dicapai. Visi dari Bank Syariah

Mandiri adalah “Menjadi Bank Syariah Terpercaya Pilihan Mitra Usaha”. Maksud dari

visi tersebut adalah Bank Syariah Mandiri (BSM) berusaha untuk dapat menjadi salah satu Lembaga Keuangan Syariah yang dapat dipercaya oleh semua lapisan masyarakat sebagai mitra atau rekan yang dapat membantu mereka untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha-usahanya tanpa membedakan agama, budaya, latar belakang, sejarah, maupun hal lainnya, sehingga dapat menjadikan masyarakat di Indonesia hidup Dokumentasi Bank Syariah Mandiri ( BSM )sejahtera dan makmur. Sedangkan misi adalah cara untuk mencapai visi itu sendiri. Sehingga untuk menjadi Bank Syariah terpercaya pilihan mitra usaha, Bank Syariah Mandiri memiliki misi berikut ini2:

a. Mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan.

b. Mengutamakan penghimpunan dana konsumer dan penyaluran pembiayaan pada segmen UMKM.

1

Dokumentasi Bank Syariah Mandiri ( BSM )

2

(52)

sehat.

d.Mengembangkan nilai-nilai syariah universal.

e.Menyelenggarakan operasional bank sesuai standar perbankan yang sehat.

3. Struktur Organisasi Dan Manajemen Bank Syariah Mandiri (BSM)

Setelah melalui proses yang melibatkan seluruh jajaran pegawai sejak pertengahan 2005, lahirlah nilai-nilai perusahaan baru yang disepakati bersama untuk dijadikan pedoman oleh seluruh pegawai Bank Syariah Mandiri yang disebut Bank Syariah Mandiri Shared Values. BSM Shared Values disingkat “ETHIC”. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut3:

a) Excellence

Berupaya mencapai kesempurnaan melalui perbaikan yang terpadu dan berkesinambungan, meningkatkan keahlian sesuai dengan tugas yang diberikan dan sesuai dengan tuntutan profesi bankir, serta berkomitmen pada kesempurnaan.

b) Teamwork

Mengembangkan lingkungan kerja yang saling bersinergi dengan cara mewujudkan iklim lalu lintas pesan yang lancar dan sehat, menghargai pendapat dan kontribusi orang lain, serta memiliki orientasi pada hasil dan nilai tambah bagi stakeholders.

c) Humanity

3

(53)

mendapatkan ridha Allah. d) Integrity

Menaati kode etik profesi dan berpikir serta berperilaku terpuji dengan cara menerima tugas dan kewajiban sebagai amanah dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab sesuai ketentuan dan tututan perusahaan.

e) Customer Focus

Memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan untuk menjadikan Bank Syariah Mandiri sebagai mitra yang terpercaya dan menguntungkan dengan cara proaktif dalam menggali dan mengimplementasikan ide-ide baru untuk memberikan layanan yang lebih baik dan lebih cepat dibandingkan kompetitor.

4. Sistem Kepegawaian Bank Syariah Mandiri (Job Discription) (a) Kepala Cabang

Memimpin, mengelola, mengendalikan, mengembangkan kegiatan dan mendayaguna. Sarana organisasi cabang untuk mencapai tingkat serta volume aktivitas pemasaran dan operasional cabang optimal, efektif danefisien sesuai dengan target yang telah ditetapkan kantor pusat, juga mewakili direksi keluar dan kedalam organisasi yang berhubungan langsung dengan cabangnya.

(b) Maneger Marketing

Mengelola aktivitas marketing cabang yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan memastikan tercapainya target-target pembiayaan dan dana cabang yang telah ditetapkan kantor pusat.

(54)

ketentuan yang berlaku dan memastikan tercapainya target bidang operasional cabang yang telah ditetapkan kantor pusat.

(d) Account Officer

Terlaksananya kegiatan marketing produk pembiayaan dan jasa-jasa bank kepada masyarakat diwilayah kerjanya dan proses nota analisapembiayaan dengan memperhatikan prudensialitas dan layanan yang prima.

(e) Funding Officer

Terlaksananya kegiatan marketing produk pendanaan dan jasa-jasa bank kepada masyarakat di wilayah kerjanya,dengan memperhatikan prudensialitas dan layanan yang prima serta tercapainya jumlah asset under management dan fee based income serta layanan prima untuk nasabah BSM priority(DPP).

(f) Customer Service Officer

Terselenggaranya pemasaran produk dan jasa Bank Syariah Mandiri kepada masyarakat dan memberikan otorisasi serta ferifikasi atastransaksi,dengan layanan sesuai standar service BSM kepada nasabah maupun investor.

(g) Head Teller

(55)

1. SMS Banking (Ijarah)

Produk layanan perbankan yang berbasis teknologi selular yang memberikan kemudahan kepada nasabah untuk melakukan berbagai transaksi perbankan. Dengan Karakteristik: Mengadopsi seluruh provider selular, Transfer antar rekening, Pembayaran Zakat,Pembayaran Telkom (PSTN) dan Pembayaran selular pasca bayar.

2. ATM Syariah Mandiri (Ija>rah)

Sarana layanan transaksi perbankan secara mandiri melalui ATM (Automatic Teller Machine) Bank Syariah Mandiri merupakan salah satu jasa bank dalam memudahkan nasabah melakukan kegiatanperbankan tanpa ke Bank. Layanan fasilitas inijuga bekerjasama dengan Bank Mandiri dan ATM Bersama. Dengan Karakteristik :Dapat mengambil uang tunai dalam jumlah tertentu dengan cepat,Pemindah bukuan/transfer antar rekening di Bank Syariah Mandiri, atau dengan rekening di bank sesama anggota ATM bersama, dan Dapat melakukan pembayaran, Telkom, Ratelindo, Satelindo,

IM2, IM3, Infaq dan Zakat,PLN. 3. Bill Payment (wa>ka>lah)

(56)

Syariah Mandiri dan Layanan pembayaran dalam sistem semi online (SOPP) dan Sistem real-time online (Host to Host).

4. Pajak Online (wa>kala>h)

Memberikan kemudahan kepada wajib pajak untuk membayar kewajiban pajak secara online dengan mendebet rekening atau secara tunai. Dengan Karakteristik: Wajib pajak harus mengisi SSP (Surat Setoran Pajak),Pembayaran dilakukan dengan menggunakan uang tunai, cek, pemindah bukuan dan Wajib pajak tetap harus melaporkan ke Kantor Pajak setempat dengan membawa bukti pembayarannya. 5. Intercity clearing (wa>kala>h)

Jasa penagihan warkat (Cek/Bilyet Giro valuta rupiah) bank diluar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil penarikan cek atau Bilyet Giro tersebut pada keesokan harinya. Dengan Karakteristik :Media penarikan berasal dari cek atau bilyet giro BSM, Dapat dilakukan diseluruh cabang Bank Syariah Mandiri dan Fasilitas ini hanya dapat dilaksanakan dengan bank yang

telah memiliki jasa yang sama.

6. Real Time Gross Settlement (wa>kala>h)

(57)

Syirkah dalam perbankan syariah adalah salah satu pedoman bagi pengembangan produk dan usaha-usaha lainnya, artinya melalui konsep syirkah (baik menurut fiqh atau perbankan), bank syariah dapat mengembangkan produk dan usahannya. Karena sifatnya yang merupakan pedoman maka produk atau usaha yang dikembangkan bebas, tidak harus sama dengan konsep yang dicontohkan.

Secara spesifik dalam perbankan syariah, syirkah merupakan salah satu konsep alternatif yang digunakan dalam menerapkan system bagi hasil (profit and loss sharin

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dapat dilihat dengan berdirinya beberapa bank umum syariah baik yang merupakan konversi penuh dari bank konvensional seperti Bank Syariah Mandiri (konversi

Hipotesis kedua yaitu diduga terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja Bank Konvensional dan Bank Syariah juga diterima karena terdapat perbedaan yang

Dengan prinsip syariah, bank umum syariah masih dapat bertahan dan menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan perbankan konvensional.. Berdasakan data Bank

Bank syariah adalah lembaga keuangan yang berkerja berdasarkan prinsip syariah, berbeda dengan bank konvensional yang sama sekali tidak memperhitungkan

Pedoman Akuntansi Syariah Indonesia, Cetakan Pertama, Penerbit Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia, Jakarta.. Bank Syariah : Konsep Produk dan Implementasi

1) Syirkah dalam Perbankan Syariah. Karena sifatnya yang merupakan pedoman maka produk atau usaha yang dikembangkan bebas, tidak harus sama dengan konsep yang

Penelitian ini akan menjelaskan mengenai perbedaan tingkat kinerja keuangan antara bank konvensional dan bank syariah dengan menggunakan Capital Adequacy Ratio (CAR)

Bank Umum Konvensional dan Syariah Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa