SOSIALISASI TENTANG ZAT ADITIF PADA MAKANAN DAN MINUMAN PADA IBU-IBU PKK DUSUN BECICI WONOKERTO TURI SLEMAN
YOGYAKARTA
Anggi Sulistyowati1, Didik Krisdiyanto1, Endaruji Sedyadi1*, Yayu Putri Senjani2, Lusia
Nia Kurnianti3
1Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga 2Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Sunan Kalijaga 3Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
ABSTRAK
Sosialisasi tentang zat aditif pada makanan dan minuman pada ibu-ibu pkk dusun becici wonokerto turi sleman yogyakarta telah dilakukan. Materi sosialisasi meliputi pengenalan zat aditif yang berbahaya, serta melakukan uji sederhana zat aditif pada makanan dan minuman. Materi yang disampaikan adalah tentang macam-macam zat aditif pada makanan yang sifatnya sintesis beserta contoh dari masing-masing zat aditif tersebut dan bahaya jika mengkonsumsinya.
Pada acara tersebut, pemateri menyampaikan pengertian zat aditif dan empat macam zat aditif pada makanan dan minuman yaitu pemanis buatan, penguat rasa, pengawet maakanan, dan zat warna sintesis. Ketika dilakukan uji sederhana, ibu-ibu juga menunjukkan rasa antusiasnya pada percobaan yang dilakukan dan beberapa juga menanyakan bagaimana jika uji yang telah dilakukan diterapkan pada makanan atau minuman lainnya. Rasa antusias dan ingin tahu tersebut menunjukkan adanya kesadaran dari ibu-ibu PKK desa Puntuk, Becici untuk memilih produk pangan yang sehat dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Sosialisasi zat aditif yang telah dilakukan dapat dikatakan membantu ibu-ibu PKK Desa Puntuk, Becici untuk menjadi konsumen yang cerdas.
Kata kunci: Zat Aditif makanan, uji sederhana, kesehatan
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan sumber bahan pangan alami
yang melimpah. Sumber bahan pangan alami yang melimpah tersebut jika diolah dengan
berbagai inovasi dapat menghasilkan keberagaman produk pangan. Penambahan zat aditif
(bahan tambahan pangan) menjadi salah satu alternatif untuk memperoleh suatu produk yang
memiliki kualitas namun tidak membutuhkan biaya yang tinggi sehingga dapat memperoleh
keuntungan yang besar (Karunia dkk., 1985). Zat aditif dibedakan menjadi dua jenis yaitu alami
dan sintesis (buatan).
Zat aditif yang berasal dari bahan alami cenderung mahal dan sulit untuk diperoleh,
sedangkan zat aditif sintesis lebih murah dan mudah didapat. Tidak jarang beberapa produsen
masih belum cukup memanfaatkan zat aditif sintesis, sehingga ditambahkan beberapa produsen
menyalahgunakan bahan yang bukan seharusnya ditambahkan untuk makanan dan minuman,
dimana akibat penambahan tersebut dapat membahayakan kesehatan konsumen. Oleh karena
itu, pengetahuan tentang bahan tambahan pangan sangat perlu bagi setiap konsumen agar tidak
salah dalam memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi. Makanan dan minuman
memiliki peran penting bagi manusia, maka akan sangat disayangkan apabila makanan dan
minuman yang dikonsumsi dapat mengancam kesehatan (Suhanda, 2012).
Di jaman sekarang ini pengetahuan dan antisipasi dari setiap individu sangat dipelukan
karena perkembangan produk makanan dan minuman dengan zat aditif sudah cukup banyak
dan sulit dibedakan dengan makanan dan minuman yang tetap menjaga kualitas gizi.
METODE
Metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi tiga tahapan kegiatan antara lain, tahap
sosialisasi, dan tahap uji sederhana boraks, vitamin c, serta zat warna
a. Tahap Sosialisasi
Tahap sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus 2016 bersamaan dengan agenda
arisan Ibu-ibu PKK Dusun Puntuk, Becici. Sosialisasi ini termasuk dalam Program
Pelindungan Konsumen sebagai salah satu Program Kerja KKN angkatan 90 di Turi,
Sleman.
b. Tahap Uji Sederhana
Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan contoh uji sederhana pada makanan
dan minuman dengan memanfaatkan bahan-bahan yang umum digunakan. Uji sederhana
HASIL DAN PEMBAHASAN
Materi sosialisasi meliputi pengenalan zat aditif yang berbahaya, serta melakukan uji
sederhana zat aditif pada makanan dan minuman. Peserta mendengarkan materi tersebut dengan
antusias dan menunjukkan ketertarikan pada materi yang disampaikan. Suasana penyuluhan
dapat dilihat pada gambar 1.
Sosialisasi dimulai dengan penyampaian materi tentang bagaimana cara menjadi
konsumen cerdas melalui Sosialisasi Perlindungan Konsumen oleh salah satu Dosen Fakultas
Syariah, Ibu Lusia Nia Kurnianti, S.H., M.H. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian
materi tentang Sosialisasi Zat Aditif Pada Makanan dan Minuman.
Materi yang disampaikan adalah tentang macam-macam zat aditif pada makanan yang
sifatnya sintesis beserta contoh dari masing-masing zat aditif tersebut dan bahaya jika
mengkonsumsinya.
Pada acara tersebut, pemateri menyampaikan pengertian zat aditif dan empat macam zat
aditif pada makanan dan minuman yaitu pemanis buatan, penguat rasa, pengawet maakanan,
dan zat warna sintesis.
Zat aditif atau bahan tambaan pangan merupakan sneyawa atau campuran berbagai
senyawa yang dengan sengaja ditambhakan ke dalam makanan, terlibat dlaam proses
pengolahan atau penyimpanan dan bukan merupakan bahan utama (Chahaya, 2003). Dan
menurut Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 722/MENKES/PER/IX/88 bahan tambahan
pangan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai pangan dan biasanya bukan
merupakan bahan khas pangan, mempunya atau tidak mempunyai nilai gizi yang dengan
sengaja ditambahkan ke dalam pangan atau mempengaruhi sifat khas pangan tersebut . Empat
macam zat aditif yang disampaikan sebagai berikut :
1. Pemanis Buatan
Menurut Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 722/MENKES/PER/IX/88 , Pemanis buatan
adalah tambahan pangan makanan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan, yang
tidak atau hamper tidak mempunyai nilai gizi. Tujuan penambahan bahan pewarna pada pangan
diantaranya yaitu untuk memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan warna
pangan, menstabilkan warna, menutupi perubahan warna selama proses pengeolahan, dan
Gambar 1. Suasana sosialisasi zat aditif pada makanan dan minuman
Contoh pemanis buatan yaitu aspartame, acesulfam kalium, alitam, neotam, siklamat,
sakarin, sukralosa, isomalat, xylitol, sorbitol, maltitol, manitol, dan laktitol. Makanan dan
minuman yang mengandung pemanis buatan dapat diketahui berdasarkan ciri-ciri seperti
memiliki rasa manis yang pekat, terdapat rasa pahit yang tertinggal, dan membuat tenggorokan
kering.
Pemanis buatan memiliki kecenderungan kurang aman bagi kesehatan manusia karena
dalam penggunanya yang berlebih dapat menimbulkan efek samping terhadap kesehatan,
seperti overdosis, sakit kepala, iritasi, insomnia, diare, alergi, kanker otak, dan lain sebagainya.
Penggunaan bahan pemanis buatan diatur dalam Peraturan Mentri Kesehatan RI No.
722/MENKES/PER/IX/88, pemanis buatan/sintesis diperbolehkan dalam batas aman adalah
sakarin (80-5.000 mg/kg produk), siklamat (100-2.000 mg/kg produk), aspartame (500-5.500
mg/kg produk) dan sorbitol (500-200.000 mg/kg produk).
Pemanis alami dapat menjadi alternatif pengganti pemanis buatan. Pemanis alami
pemanis yang berasal dari tumbuhan maupun hewan. Contoh pemanis alami adalah glukosa dan
2. Penguat rasa
Penguat rasa merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memberikan, menambah,
atau mempertegas rasa makanan berdasarkan Peraturan Mentri Kesehatan RI No.
722/MENKES/PER/IX/88. MSG (Monosodium Glutamat) adalah salah satu penguat rasa yang
umum digunakan oleh masyarakat berupa garam natrium (sodium) dari asam glutamate, suatu
asam amino yang terdapat dalam semua jenis protein. Dalam peraturan Menteri Kesehatan RI
No.722/Menkes/Per/IX/88, penggunaan MSG dibatasi secukupnya, tidak boleh berlebihan.
Tahun 1970 FDA menetapkan batas aman konsumsi MSG 120 mg/kg berat badan/hari yang
disetarakan dengan konsumsi garam dan tidak boleh diberikan kepada bayi kurang dari 12
minggu. Penggunaan MSG berlebih dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak, kanker,
kegemukan, atau kerusakan retina. Efek mengkonsumsi MSG dalam jangka panjang pada
kesehatan Kerusakan jaringan otak, Kanker, Kegemukan, dan Kerusakan retina.
3. Pengawet Makanan
Menurut peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
722/Menkes/Per/IX/1988 tentang bahan tambahan pangan, pengawet adalah bahan yang
mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian lain terhadap pangan
yang disebabkan oleh mikroorganisme.
Salah satu contoh pengawet alami adalah gula dan garam dengan mengolah makanan
menjadi manisan atau asinan. Sedangkan, pengawet sintesis adalah Asam Borat, Formalin, dan
Kloramfenikol.
Ciri-ciri beberapa produk pangan yang mengandung bahan pengawet sintesis :
a. Tahu : Teksturnya yang terlampau keras, kenyal, tapi tidak padat, tidak mudah rusak dalam
waktu lama
b. Mie Basah : Tidak lengket, sangat kenyal, serta tidak mudah rusak dan tahan dalam jangka
waktu lama
c. Daging Ayam : tekstur daging kencang, tak mudah rusak dan tak disukai lalat
d. Bakso : Tekstur sangat kenyal, tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar, jika dibelah di
dalamnya tampak warna merah tua mencolok tidak wajar
e. Ikan : Insang berwarna merah tua, tidak cerah atau bukan merah segar, tidak berbau khas
ikan asin, warna daging putih bersih, kenyal dan tak mudah rusak, tidak mudah patah, agak
keras serta tidak dihinggapi lalat
4. Pewarna makanan
Pewarna makanan adalah zat aditif yang ditambahkan untuk meningkatkan warna
meningkatkan daya tarik visual pangan, merangsang indera penglihatan, menyeragamkan dan
menstabilkan warna, dan menutupi atau mengatasi perubahan warna.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.033 Tahun 2012 tentang
Bahan Tambahan Pangan, daftar pewarna alami yang diperbolehkan adalah kurkumin,
riboflavin, karmin dan ekstrak cochineal, klorofil, karamel, karbon tanaman, beta-karoten,
ekstrak anato, karotenoid, merah bit, antosianin, dan titanium dioksida.
Pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis yaitu zat pewarna alami dan zat pewarna
sintesis. Zat pewarna alami merupakan bahan yang berasal dari bahan-bahan alami seperti
nabati, hewani, maupun mineral (Kurniawati, 2009). Contoh pewarna alami seperti kunyit
membuat warna kuning, daun suji untuk warna hijau, gula merah untuk warna coklat, daun jati
atau cabai untuk warna merah (Karunia, 2013).
Beberapa pewarna alami yang diizinkan dalam pangan menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 772/Menkes/RI/Per/IX/88 diantaranya adalah :
1. Karamel, yaitu pewarna alami berwarna coklat yang dapat digunakan untuk mewarnai
jem/jeli (200 mg/kg), acar ketimun dalam botol (300 mg/kg), dan yogurt beraroma (150
mg/kg).
2. Beta-karoten, yaitu pewarna alami berwarna merah-orange yang dapat digunakan untuk
mewarnai acar ketimun dalam botol (300 mg/kg), es krim (100 mg/kg), keju (600 mg/kg),
lemak dan minyak makan (secukupnya).
3. Kurkumin, yaitu pewarna alami berwarna kuning-orange yang dapat digunakan untuk
mewarnai es krim dan sejenisnya (50 mg/kg), atau lemak dan minyak makan (secukupnya).
Zat warna sintesis merupakan bahan pewarna buatan yang dapat memberikan warna
sehingga dapat memberi efek yang lebih menarik. Contoh zat warna buatan adalah rhodamin
B, methyl yellow, tartrazin, ponceau 4R, eritrosin, karmoisin (Kurnia, 2013). Pewarna buatan
yang umum digunakan di pasaran adalah rhodamin B dan methyl yellow.
Rhodamin B
Pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, dan tidak
berbau. Jika dicampur dalam penganan, rhodamin B akan berubah warna menjadi merah terang.
Rhodamin B biasanya digunakan untuk mewarnai tekstil, kertas, kain, kosmetik, produk
pembersih mulut, dan sabun.
Metanil Yellow
menjadi langka antisipasi dalam mengkonsumsi produk makanan yang sehat tanpa adanya
bahan tambahan pangan yang membahayakan. Uji sederhana yang dilakukan meliputi uji
boraks pada makanan, uji pewarna pada beberapa minuman dan uji kandungan vitamin C pada
minuman.
1. Uji Boraks
Boraks merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam dunia industri non pangan
sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik, dan pengontrol kecoa.
Namun, pada kenyataannya boraks telah di salah gunakan oleh beberapa produsen sebagai
bahan tambahan pangan untuk menambah kekenyalan, kekerasan, maupun pengawet (Sultan,
2013).
Uji boraks ini menggunakan sampel bakso dan tahu yang berasal dari Pasar Turi, Sleman.
Bahan yang digunakan yaitu kunyit dan air, sedangkan alat yang digunakan yaitu gelas, pipet
tetes dan kapas. Cara kerja yang dilakukan yaitu pertama membuat ekstrak kuniyt dengan cara
menghaluskan kunyit kemudian ditambahkan air. Kunyit yang telah dicampurkan dalam air
kemudian di saring untuk mendapatkan filtratnya. Kedua,menghaluskan sampel bakso dan tahu,
kemudian sampel yang telah halus tersebut dilarutkan ke dalam air. Air sampel tersebut
diteteskan pada kapas hingga merata. Selanjutnya, kapas yang telah ditetesi dengan sampel
kemudian ditetesi dengan filtrate kunyit.
Sampel bahan makanan yang mengandung boraks ketika ditetesi dengan larutan kunyit
dapat berubah warna menjadi merah kecoklatan karena didalam kunyit tersebut terdapat
kandungan kurkumin dengan rumus molekul C H O₆. Pada kondisi asam, kurkumin akan
berwarna kuning, dan dalam keadaan basa akan berwarna kecoklatan sehingga larutan kunyit
dapat dijadikan sebagai indikator alami adanya asam basa. Boraks atau natrium tetraborat yang
mempunyai rumus molekul Na2B4O7.10 H2O berada dalam bentuk senyawa yang bersifat basa,
sehingga bila bercampur dengan kurkumin akan menimbulkan senyawa baru yang disebut
boro-kurkumin. Senyawa ini berwarna merah kecoklatan.
2. Uji Zat Pewarna pada Minuman
Minuman denganwarna yang menarik cenderung diminati oleh beberapa kalangan. Untuk
menarik minat konsumen tersebut produsen minuman berlomba-lomba membuat produk
dengan warna-warna yang dapat menarik konsumen. Uji pewarna pada minuman ini
dimaksudkan untuk membuktikan pada beberapa minuman rasa yang beredar dipasaran apakah
menggunakan pewarna buatan atau pewarna alami.
Pada uji zat pewarna ini digunakan sampel minuman rasa jeruk dengan warna orange,
digunakan pewarna alami sebagai pembanding. Pewarna alami yang digunakan berasal dari
kunyit, secang, dan daun suji sedangkan bahan untuk uji yang digunakan adalah asam cuka.
Cara kerja yang dilakukan sangat mudah yaitu pertama melarutkan sampel dengan air.
Selanjutnya membuat warna pembanding yang berasal dari bahan alami. Membuat warna
orange menggunakan perasan air kunyit, warna merah berasal dari air rebusan secang, dan warna hijau dari perasan air daun suji. Larutan sampel diteteskan pada suatu wadah yang
berwarna putih/ bening dan larutan pembanding juga diteteskan pada wadah terpisah yang
disandingkan dengan sampel. Kemudian larutan-larutan tersebut ditetesi dengan asam cuka.
Larutan yang mengandung warna buatan jika ditetesi dengan asam cuka tidak
menunjukkan perubahan warna yang signifikan, sedangkan pada pewarna alami akan
menunjukkan perubahan warna yang cenderung lebih pekat. Pada pewarna alami akan bereaksi
dengan asam sehingga akan mengalami perubahan warna.
3. Uji Kandungan Vitamin C
Kini telah banyak beredar minuman buah dengan menawarkan kandungan vitamin yang
cukup tinggi, terutama vitamin C. Vitamin C meruoakan makronutrien penting yang diperlukan
metabolism tubuh (Jaffe, 1984).
Uji ini dilakukan untuk menganalisa kandungan vitamin C secara kualitatif beberapa
minuman buah yang beredar di pasaran. Sampel yang digunakan adalah marimas uc1000,rasa
jeruk, dan nutrisari rasa jeruk dan mangga. Pada uji ini menggunakan pembanding dengan buah
jeruk. Bahan uji yang digunakan adalah Betadine dan larutan maizena.
Uji ini dilakukan dengan melarutkanmasing-masing sampel dengan air secukupnya.
Larutan sampel tersebut ditambahkan 3-5 tetes larutan maizena. Kemudian ditetesi dengan
betadine sebanyak 50 tetes. Perlakuan yang sama juga dilakukan pada buah jeruk.
Apabila mengandung vitamin C yang banyak maka pada penetesan betadine sebanyak 50
tetes tidak akan mengubah warna larutan atau hanya mengalami sedikit perubahan. Dan
sebaliknya jika memngandung sedikit vitamin C larutan akan segera berubah menjadi coklat
atau biru pekat sebelum penetesan betadine sebanyak 50 tetes.
Metanil yellow adalah pewarna sintetik berbentuk serbuk, berwarna kuning kecokelatan,
larut dalam air dan alkohol. Umumnya digunakan untuk pewarna tekstil, kertas, tinta, plastik,
kulit, cat, dan sebagainya.
Tahap sosialisasi berlangsung selama kurang lebih 1 jam yang dilaksanakan Mushola
Hal tersebut terlihat pada sesi tanya-jawab, dimana banyak diantara ibu-ibu yang belum
mengetahui beberapa jenis bahan tambahan pangan dan menanyakan contoh dari penggunaan
bahan tambahan pangan tersebut. Beberapa ibu-ibu juga menanyakan bagaimana ciri-ciri secara
fisik makanan dan minuman yang mengandung zat aditif.
Ketika dilakukan uji sederhana, ibu-ibu juga menunjukkan rasa antusiasnya pada
percobaan yang dilakukan dan beberapa juga menanyakan bagaimana jika uji yang telah
dilakukan diterapkan pada makanan atau minuman lainnya. Sosialisasi yang disampaikan
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seingga mungkin dirasa penting bagi ibu-ibu PKK.
Penggunaan bahan uji yang cukup sederhana dan mudah didapatkan juga menjadi daya tarik
bagi ibu-ibu untuk melakukannya di rumah.
Rasa antusias dan ingin tahu tersebut menunjukkan adanya kesadaran dari ibu-ibu PKK
desa Puntuk, Becici untuk memilih produk pangan yang sehat dan tidak berbahaya bagi
kesehatan. Sosialisasi zat aditif yang telah dilakukan dapat dikatakan membantu ibu-ibu PKK
Desa Puntuk, Becici untuk menjadi konsumen yang cerdas.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh melalui kegiatan ini sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Kesimpulan tersebut antara lain:
1. Peserta sosialisasi memahami apa yang dimaksud dengan zat aditif, bahayanya bagi
kesehatan, dan mengetahui cara identifikasi makanan atau minuman yang mengandung zat
aditif
2. Peserta sosialisasi memiliki kesadaran untuk menjadi konsumen yang cerdas dalam memilih
makanan dan minuman yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA
[Departemen Kesehatan Republik Indonesi].1985. Peratutan Menteri KesehatanRepublik Indonesia. Tentang Zat Pewarna Tertentu Yang Dinyatakan Berbahaya. Jakarta Karunia, Finisia Bustani. 2013. Kajian Penggunaan Zat Aditif Makanan (Pemanis dan
Pewarna) Pada Kudapan Bahan Pangan Lokal di Pasa Kota Semarang. Food Science and Culinary Edication Journal. Universitas Negeri Semarang.
Suhanda, Rikky. 2012. Higiene Sanitasi Pengolahan dan Analisis Boraks pada Bubur Ayam
yang Dijual di Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2012. Skripsi. Medan: Universitas
Sumatra Utara..
Sultan, Pramutia; Sirajuddin, Saifuddin; dan Najmuddin, Ulfah. 2013. Analisis Kandungan