• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIOKIMIA PENAMBATAN NITROGEN OLEH BAKTERI NON SIMBIOTIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BIOKIMIA PENAMBATAN NITROGEN OLEH BAKTERI NON SIMBIOTIK"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BIOKIMIA PENAMBATAN NITROGEN OLEH BAKTERI NON SIMBIOTIK

Oleh : Nana Danapriatna

Abstract

Some microbes in the group non-symbiotic bacteria capable of fix nitrogen. The process of nitrogen fixation by non-symbiotic bacteria requires several conditions : (1) the enzyme nitrogense, (2) the availability of energy resources in the form of ATP, (3) the potential lowering of the electron source, (4) a system of protection of nitrogenase enzyme from inactivation by oxygen, and (5) rapid transfer of nitrogen to prevent the inhibition of the enzyme nitrogenase. The result of nitrogen fixation by non-symbiotic aerobic bacteria was higher than the non-symbiotic fixation by anaerobic bacteria. The mechanism of protection of nitrogenase from oxygen by non-symbiotic aerobic bacteria are consuming excessive O2for respiration and Azotobacter which have a capsule mucus (EPS) a thick helping protect the enzyme nitrogenase from O2. For anaerobic bacteria oxygen is not a problem because the environmental of bacteria are low oxygen

Keyword : Nitrogen fixation, non-symbiotic bacteria, nitrogenase

.

I. PENDAHULUAN

Nitrogen merupakan unsur hara tanaman esensial. Kecukupan suplai nitrogen pada

tanaman dicirikan dengan kecepatan pertumbuhan tanaman dan warna daun hijau gelap.

Ketidakseimbangan nitrogen atau terlalu besar unsur hara ini dibandingkan dengan unsur lain

seperti P, K, dan S dapat mengakibatkan memanjangnya periode tumbuh dan tertundanya

kematangan (Tisdaleet al., 1985). Umumnya hara N tanah dalam kondisi kekurangan, hal ini memberikan kontribusi terhadap penurunan hasil.

Di atmosfer nitrogen dalam bentuk molekul dan gas dinitrogen (N2) sangat berlimpah

sekitar 80% dari total gas atmosfer, namun tidak dapat langsung digunakan untuk proses

metaboilsme oleh tanaman tingkat tinggi atau binatang. Bentuk nitrogen yang dapat diambil

oleh tanaman dari tanah adalah nitrat (NO3-) dan amonium (NH4+) (Barber, 1984; Tisdale et

al., 1985). Kedua bentuk nitrogen tersebut sebagian besar berasal dari pupuk dan penambatan nitrogen udara oleh mikroba tanah.

Berdasarkan data statistik FAOSTAT (2001), sekitar 43 juta ton pupuk N digunakan

setiap tahun oleh seluruh negara untuk memproduksi tiga makanan pokok yaitu gandum, padi,

dan jagung dengan rincian berturut-turut 17, 9, dan 16 juta ton pupuk N. Keadaan di Indonesia

tidak berbeda jauh dalam penggunaan pupuk nitrogen terutama dalam bentuk urea. Menurut

APPI (2010) setiap tahun kebutuhan pupuk urea bersubsidi untuk pertanian naik sebesar 6,11%.

Kebutuhan pupuk urea bersubsidi pada tahun 2009 sebesar 6.407.045 t dan tahun 2010

diperkirakan menjadi 6.791.811 t. Sejalan dengan peningkatan kebutuhan pupuk terjadi pula

(2)

anggaran pemerintah. Oleh karena itu, anggaran subsidi pupuk diturunkan dari Rp. 17 trilyun

menjadi sekitar Rp. 11 trilyun pada tahun 2010. Hal ini akan berakibat pada meningkatnya

harga eceran tertinggi pupuk (Laset al., 2010).

Efisiensi pupuk urea sangat rendah seringkali hanya 30 – 40 %, bahkan pada beberapa

kasus lebih rendah lagi (De Datta, 1978; Choudhury dan Khanif, 2004). Selain itu, sebagian

nitrogen dari pupuk urea yang diaplikasikan hilang melalui beberapa mekanisme termasuk

volatilisasi amonia, denitrifikasi, dan pencucian, dan mengakibatkan munculnya masalah polusi

terhadap lingkungan (De Datta dan Buresh, 1989; Mengel, 1990; Choudhury dan Kennedy,

2005). Volatilisasi amonia dan denitrifikasi menyebakan polusi udara melalui produksi gas

rumah kaca seperti N2O dan N2. Pencucian nitrat (NO

3-) akan menyebabkan pencemaran pada

air tanah. Masalah tersebut menjadi perhatian utama bagi ahli lingkungan dan tanah diseluruh

dunia. Selain itu, untuk memproduksi pupuk nitrogen memerlukan energi yang sangat besar

dan tidak dapat terbarukan. Pemanfaatan teknologi penambatan nitrogen secara biologis (BNF)

dapat menurunkan penggunaan urea sebagai sumber N, mencegah penurunan bahan organik

tanah dan menggurangi polusi terhadap lingkungan pantas dipertimbangkan untuk dilakukan

(Choudhury dan Kennedy, 2004; Kennedy et.al., 2004). Menurut Wuet.al. (1995) optimalisasi penambatan nitrogen udara secara biologis merupakan alternatif yang pantas dilakukan untuk

mengurangi penggunaan pupuk N.

Jumlah nitrogen hasil penambatan nitrogen secara biologis merupakan yang terbesar

dari seluruh proses penambatan N2 atmosfer menjadi ion amonium. Hal tersebut

memperlihatkan bahwa penambatan nitrogen secara biologis merupakan poin kunci masuknya

molekul nitrogen kedalam siklus biogeokimia nitrogen (Gambar 1.)

Gambar 1. Siklus nitrogen di alam (Taiz dan Zeiger, 2002)

Sejumlah mikroorganisme tanah dan air sanggup mengunakan secara langsung nitrogen

atmosfer sebagai sumber nitrogen bagi kehidupanya. Kelompok mikroorganisme ini ada dua

menurut cara penambatan nitrogen yang dilakukan yaitu : (1) Penambat nitrogen nonsimbiosis

(3)

bergantung pada organisme lain; (2) Penambat nitrogen simbiosis yaitu mikroorganisme yang

menambat nitrogen melalui hidup bersama dalam akar leguminosa dan tumbuhan lain

Berbagai jenis bakteri penambat nitrogen atmosfer secara biologis yang dapat

mengubah N2 menjadi amonium (Tabel 1), antara lain terdiri atas rhizobia, sianobakter

(ganggang hijau biru), bakteri foto-autotrofik pada air tergenang dan permukaan tanah, dan

bakteri heterotrofik dalam tanah dan zona akar (Ladha dan Reddy, 1995, Boddey et al. 1995, Kyuma, 2004). Bakteri tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara, baik secara simbiosis

(root-nodulating bacteria) maupun nonsimbiosis (free-living nitrogen-fixing rhizobacteria). Tabel 1. Beberapa organisme yang dapat menambat nitrogen atmosfer

Sumber : Taiz dan Zeiger, 2002

Untuk terjadinya proses penambatan nitrogen menurut Hamdi (1982) dibutuhkan

beberapa syarat yaitu : (1) adanya enzim nitrogense; (2) ketersediaan sumber energi dalam

bentuk ATP; (3) adanya sumber penurun potensial dari elektron; (4) adanya sistem perlindungan

enzim nitrogenase dari inaktivasi oleh oksigen; dan (5) pemindahan yang cepat nitrogen hasil

tambatan dari tempat penambatan nitrogen untuk mencegah terhambatanya enzim nitrogenase.

Uraian selanjutnya akan ditekankan pada proses biokimia penambatan nitrogen secara non

simbiois baik yang aerobik maupun anaerobik.

II. MEKANISME BIOKIMIA DARI PROSES PENAMBATAN N

2

Penambatan nitrogen secara biologis dan secara kimiawi mengubah gas dinitrogen (N2)

menjadi amonia dengan katalis enzim nitrogenase (Saika dan Jain, 2007). Reaksi yang

(4)

Gambar 2. Perubahan Nitrogen Secara Biologis dan Kimiawi

Enzim yang berperan penting dalam penambatan nitrogen adalah nitrogenase yang

terdapat dalam sel bakteri penambat nitrogen. Nitrogenase disusun oleh dua komponen yang

saling menunjang yaitu protein Fe (komponen I) dan protein Mo-Fe (komponen II) (Hamdi,

1982). Protein Fe berukuran lebih kecil dari komponen II dan mempunyai dua sub-unit serupa

berukuran masing-masing 30 sampai dengan 72 kDa, tergantung pada organisma. Setiap subunit

berisi satu kluster besi-belerang (4 Fe dan 4 S2–) yang turut ambil bagian dalam reaksi redox

terlibat dalam konversi N2 menjadi NH3. Protein MoFe mempunyai empat sub-unit, dengan

masa total satu molekul sekitar 180 sampai dengan 235 kDa, tergantung pada spesies

organisme. Setiap subunit mempunyai dua kluster Mo–Fe–S (Taiz dan Zeiger, 2002). Protein

Fe adalah menjadi tidak aktif oleh O2dengan waktu paruh kerusakan dari 30 sampai dengan 45

detik. Protein MoFe juga menjadi tidak aktif oleh oksigen, dengan satu waktu paruh 10 menit.

(Dixon dan Wheeler 1986). Diduga 2 molekul protein Fe akan bersenyawa dengan 1 molekul

protein Mo-Fe untuk membentuk nitrogenase aktif di dalam sel sel bakteroid atau sel-sel

Azotobacter(Hamdi, 1982).

Gambaran terperinci dari pengikatan ATP, pengangkutan elektron dan pengikatan

substrat di antara kompenan-kompenan nitrogenase secara sederhana dapat dilihat pada Gambar

3. Senyawa protein Fe dari nitrogenase menerima elektron-elektron berpotensial rendah dari

Ferredoxin dan Flavodoxin, kemudian protein Fe bergabung dengan ATP menghasilkan suatu

senyawa FeMgATP yang potensial oksidasinya rendah. Hanya satu molekul MoMgATP hasil

reduksi yang dapat berlaku sebagai pereduksi protein Mo-Fe . Terbukti bahwa Mo-Fe yang

berperan dalam penambatan N2(Siegbahnet. al., 1998).

(5)

Proses fiksasi N2 dengan adanya enzim nitrogenase terjadi sebagai berikut: (1) energi

ATP dan elektron feredoksin mereduksi protein Fe menjadi reduktan, (2) reduktan itu

mereduksi protein MoFe yang kemudian mereduksi N2 menjadi NH3 dengan hasil sampingan

berupa gas H2, dan (3) bersamaan dengan itu terjadi reduksi asetilen menjadi etilen yang dapat

digunakan sebagai indikator proses fiksasi N2 secara biologis (Marschner, 1986; Buchanan et.

al., 2000). MoFe protein dapat mereduksi beberapa substrat seperti asetilen, sianida dan azida (Tabel 2.), namun demikian dalam kondisi normal reaksi hanya terjadi antara N2 dan H

+

yang

dikatalisasi oleh enzim nitrogenase. Kemampuan ini dapat digunakan untuk mengukur

kemampuan organisme dalam enambat nitroge menggunakan proses reduksi asetilen (ARA).

Tabel 2. Reaksi yang Dikatalisis oleh Enzim Nitrogenase (Taiz dan Zeiger, 2002)

Reaksi yang dikatalis oleh nitrogenase

N2NH3 Penambatan molekul nitrogen

N2ON2+ H2O Reduksi nitrous oksida

N3 -

N2NH3 Reduksi Azide

C2H2C2H4 Reduksi asetilen

2H+H2 Produski H2

ATPADP + Pi Aktivitas hidrolisa ATP

Gambar 4. Diagram proses Reduksi N

2

menjadi NH

4+

(Patki, 2006)

Dalam fiksasi nitrogen diperlukan energi dalam bentuk ATP dan elektron berpotensial

(6)

maupun hasil reduksi nitrogase dipindahkan oleh enzim hidrogenase ke NAD, sehingga

terbentuk NADPH2. dalam perjalannya dari NADP2 ke nitrogenase, elektron akan melalui

pembawa-pembawa elektron eperti Feredoxin dan flavodoxsin. Selama perjalan tersebut terjadi

penurunan potensial dari elektron seperti Feredoxin dan flovodoksin, sehingga diperoleh

elektron berpotensial rendah yang siap digunakan oleh nitrogenase .

ATP disuplai oleh suatu sistem penghasil ATP seperti acetokinase dan acetylphosohate

atau phosphocreatine kinase dan creatin phosphate. ATP dihidrolisis menjadi ADP dan fosfat

organik dalam reaksi nitrogenase jika ATP prekoursor habis dan ratio ATP/ADP mencapai nilai

0.5 kemudian terjadi penggunaan ATP oleh nitrogenase, maka mulai saat itu aktivitas

nitrogenase benar-benar terhambat (Dalton dan Mortenson, 1972).

Dalam memproduksi 2 NH3 dan H2 dibutuhkan setara 8 pereduksi dalam reaksi

penambatan nitrogen atmosfer. Selain itu, transfer dari setiap elektron ke inti Mo-Fe

memerlukan satu siklus dissosiasi ikatan oleh sub unit reduktase, dengan hidrolisis 2 molekul

ATP setiap siklus. Secara keseluruhan proses reduksi molekul N2 memerlukan hidrolisis 16

molekul ATP, dan 8 siklus dissosiasi reductase dari nitrogenase. (Berget. al., 2002 dalam Patki, 2006). Gambaran selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.

Untuk setiap organisme pembentukan ATP dapat berbeda-beda kemampuannya.

Dengan demikian akan mengakibatkan perbedaan dalam jumlah hasil tambatan nitrogen

atmosfernya akibat berbedanya jenis mikroba penambat nitrogen.

ATP sebagai representasi dari energi dihasilkan oleh mikroorganisme melalui proses

perombakan bahan organik secara aerob (respirasi) dan anaerob (fermentasi) sesuai dengan jenis

mikroorganismenya. Hasil energi dari mikroorganisme aerobik lebih banyak jumlah ATP yang

dihasilkannya dari pada mikroorganisme anaerob Sebagai gambaran hasil oksidasi gluokosa

oleh bakteri aerob sebanyak 32 ATP per glukosa dan bakteri anaeroba menghasilkan 2 ATP per

glukosa (Koolman dan Roehm, 2005). Skema selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 5.

Nucleotida piridin yang tereduksi terbentuk dengan oksidasi asam organik dalam siklus

TCA, digunakan untuk membentuk ATP melalui phosphorilasi oksidatif. Ackrell dan jones

(1971) melaporkan adanya tiga tempat phosphorilasi dalam membran respirasi dari sel-sel

Azotobacter vinelandii. Efisiensi phosphorilasi khususnya pada tempat pertama sangat rendah pada kosentrasi oksigen yang tinggi, tetapi meningkat bila kosentrasi oksigen menjadi kecil.

Efisiensi yang rendah dari energi gabungan pada konsentrasi oksigen yang tinggi, dapat

diharapkan untuk membuat pengurangan ratio ATP/ADP Pi yang besar dan kemudian

menyebabkan hilangnya kontrol respirasi di seluruh sel organisme yag diikubsi pada tekanan O2

yang tinggi. Proes respirasi didalam sel tersebut berkaitan dengan fungsi pembentukan ATP dan

(7)

Enzim nitrogenase menjadi tidak aktif jika tekanan oksigen tinggi, oleh karena itu

beberapa bakteri non simbiotik melakukan proteksi enzim nitrogenase terhadap oksigen dengan

berbagai cara tergantung jenis mikrobanya. Pada bakteri non simbiotik an aerob, oksigen tidak

menjadi masalah karena

(8)

Lingkungan hidup bakteri tersebut pada daerah yang rendah kadar oksigennya. Pada

bakteri nonsimbiotik aerob oksigen menjadi masalah karena untuk hidup bakteri tersebu

membutuhan oksigen yang banyak, akan tetapi enzim nitrogenase menjadi tidak aktif jika ada

oksigen. Perlindungan enzim terhadap oksigen dengan cara mengkonsumsi O2 secara

berlebihan untuk respirasi danAzotobacteryang mempunyai kapsul lendir yang tebal membantu melindungi enzim nitrogenase dari O2(Gambar 6).

Gambar 6. Mekanisme proteksi enzim nitrgenase dari oksegen padaAzotobacter vinelandii

III. PENUTUP

Nitrogen hasil proses penambatan nitrogen secara biologis oleh mikroorganisme

merupakan poin kunci masuknya molekul nitrogen kedalm sikus nitrogen dialam. Sejumlah

mikroorganisme tanah dan air sanggup menambat nitrogen atmosfer menjadi amonium.

Kelompok mikroorganisme ini ada dua menurut cara penambatan nitrogen yang dilakukan yaitu

: (1) Penambat nitrogen nonsimbiotis; (2) Penambat nitrogen simbiosis. Kelompok non

simbiosis terbagi dua yaitu organisme aerob dan anaerob.

Untuk terjadinya proses penambatan nitrogen dibutuhkan beberapa syarat yaitu : (1)

adanya enzim nitrogense; (2) ketersediaan sumber energi dalam bentuk ATP; (3) adanya sumber

penurun potensial dari elektron; (4) adanya sistem perlindungan enzim nitrogenase dari

inaktivasi oleh oksigen; dan (5) pemindahan yang cepat nitrogen hasil tambatan dari tempat

penambatan nitrogen untuk mencegah terhambatanya enzim nitrogenase.

(9)

bentuk ATP yang dihasilkan bakteri aerob lebih banyak dari pada bakteri anaerob. Bakteri aerob

membutuhkan mekanisme perlindungan enzim nitrogenase terhadap oksigen yang dapat

menginaktifkan enzim tersebut. Mekanisme perlindungan tersebut adalah mengkonsumsi O2

secara berlebihan untuk respirasi danAzotobacter yang mempunyai kapsul lendir (EPS) yang tebal membantu melindungi enzim nitrogenase dari O2. Untuk bakteri anaerob oksigen tidak

menjadi masalah karena lingkungan bakteri tersebut rendah kadar oksigennya.

DAFTAR PUSTAKA

Acrell , B.A.C and C.W. Jones. 1971. The respiratory system of Azotobacter vinelandii. 1. Properties of phosphorilating respiratory membrane. Eur. J. Biochem. 20 : 22 – 28.

APPI. 2010. Kebutuhan pupuk urea 2006 – 2015.

http://www.appi.or.id/images/statistic/KEBUTUHAN_PUPUK_UREA_2006_-_2015.xls. Diunduh tanggal 15 April 2010.

Barber, S.A. 1984. Soil Nutrient Bioavailability. A Mechanistic Approach. A Wiley-Interscience Publication. John Wiley & Sons. New York.

Boddey, R.M., de O.C. Oliviera, S. Urquiaga, V.M. Reis, F.L. Olivares, V.L.D. Baldani, and J. Dobereiner. 1995. Biological nitrogen fixation associated with sugar cane and rice: contributions and prospects for improvement. Plant Soil 174:195-209.

Buchanan, B., Gruissem, W., and Jones, R. 2000 Biochemistry and Molecular Biology of Plants. American Society of Plant Physiologists. Rockville, MD.

Choudhury A.T.M.A. and Kennedy I.R. 2004. Prospects and potentials for systems of biological nitrogen fixation in sustainable rice production. Biol. Fertil. Soils 39 : 219–227.

Choudhury A.T.M.A. and Kennedy I.R. 2005. Nitrogen fertiliser losses from rice soils and control of environmental pollution problems. Communications in Soil Science and Plant Analysis 36 : 1625–1639.

Choudhury A.T.M.A. and Khanif Y.M. 2004. Effects of nitrogen and copper fertilization on rice yield and fertiliser nitrogen efficiency: A 15N tracer study. Pakistan Journal of Scientific and Industrial Research 47 : 50–55.

Dalton, H. and L.E. Mortenson.1972. Dinitrogen (N2) fiation (with a biochemical emphasis).

Bacteriol. Rev.36 : 231 – 260.

De Datta S.K. 1978. Fertilizer management for efficient use in wetland rice soils. Pp. 671–701 in ‘Soils and rice’, ed. by F.N. Ponnamperuma. International Rice Research Institute: Los Baños, the Philippines.

De Datta S.K. and Buresh R.J. 1989. Integrated nitrogen management in irrigated rice. Advances in Soil Science 10 : 143–169.

Dixon, R. O. D., and C. T. Wheeler. 1986 Nitrogen Fixation in Plants. Chapman and Hall, New York.

FAOSTAT. 2001. Agricultural Data. Food and Agricultural Organization of the United Nations, Rome.

(10)

Kennedy I.R., Choudhury A.T.M.A. and Kecskés M.L. 2004. Non-symbiotic bacterial diazotrophs in cropfarming systems: can their potential for plant growth promotion be better exploited. Soil Biology and Biochemistry 36 : 1229–1244.

Koolman, J. and K.H. Roehm. 2005. Color Atlas of Biochemistry. 2nd edition. Thieme Verlag Rüdigerstrasse. Stuttgart, Germany.

Kyuma, Kazutake. 2004. Paddy soil science. Kyoto Univ. Press and Trans Pacific Press. Kyoto.

Las, I., S. Rochayati, D. Setyorini, A. Mulyani dan D. Subardja. 2010. Peta Potensi Penghematan Pupuk Anorganik dan Pengembangan Pupuk Organik pada Lahan Sawah di Indonesia. Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementrian Pertanian. Jakarta.

Ladha, J.K. and P.M. Reddy. 1995. Extension of nitrogen fixation to rice: necessity and possibilities. GeoJournal. 35:363-372.

Marschner, H. 1986. Mineral Nutrion of Higher Plants. Academic Press. Harcourt Brace Jovanovich Publishers. London.

Mengel, K. 1990. Impact of Intensive Plant Nutrient Management on Crop Production and Environment. 14th Ing. Long. of Soil Sci. Plenary Lecture : 42-52.

Pakti, A. 2006. Background: The Biochemistry of Nitrogen Fixation. http://www.biochem.arizona.edu/classes/bioc462/462bh2008/462bhonorsprojects/462b honors2006/patkia/nfixation.htm. Diunduh tanggal : 1 Mei 2009.

Saika, S.P. and V. Jain. 2007. Biological nitrogen fixation with non-legumes : An achievable target or dogma ? Current Sci. 92 (3) : 317 – 322.

Siegbahn, P.E.M., J. Westerberg, M. Svenson and R.H. Crabtree. 1998. Nitrogen faixation by nitrogenase : A quantum chemical study. J.Phys.Chem.B. 102 : 1615 – 1623.

Taiz, L. and E. Zeiger. 2002. Plant physiology. 3rded. Sinauer Associates.

Tisdale, S.L., W.L. Nelson, and J.D. Beaton. 1985. Soil Fertility and Fertilizers. 4th ed. MacMillan Publishing Company. New York.

Gambar

Gambar 1. Siklus nitrogen di alam (Taiz dan Zeiger, 2002)
Tabel 1. Beberapa organisme yang dapat menambat nitrogen atmosfer
Gambar 3. Reaksi penambatan nitrogen (Taiz dan Zeiger, 2002)
Tabel 2. Reaksi yang Dikatalisis oleh Enzim Nitrogenase (Taiz dan Zeiger, 2002)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian telah dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Ternak, Ciawi Bogor untuk mengetahui pengaruh inokulan Nodulin Plus dalam membentuk bintil akar dan menambat nitrogen

Oleh karena itu, pada penelitian ini proses reduksi silika akan dilakukan dalam wadah tertutup yang dialiri gas nitrogen (untuk mencegah oksigen dari udara ikut

Dari penelitian yang dilakukan dengan menggunakan media semi solid NfB dan CRA terdapat 5 isolat bakteri yaitu K 1, K 4, K 7, K 14, K 16, dari hasil analisis blast

Enumerasi koloni bakteri fiksatif nitrogen yang diisolasi dari tanah hutan Lalindu menunjukkan hasil tertinggi pada areal HL, yaitu 4.6 x 10 5 cfu/gr, sedangkan jumlah koloni

Oleh karena itu, pada penelitian ini proses reduksi silika akan dilakukan dalam wadah tertutup yang dialiri gas nitrogen (untuk mencegah oksigen dari udara ikut

Pemanfaatan teknologi penambatan nitrogen secara biologis (BNF) pada lahan sawah dapat menurunkan penggunaan urea sebagai sumber N, mencegah penurunan bahan

Penelitian telah dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Ternak, Ciawi Bogor untuk mengetahui pengaruh inokulan Nodulin Plus dalam membentuk bintil akar dan menambat nitrogen

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,