1
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Perceraian
Kata “cerai” menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2008: 261) berarti pisah, putus hubungan sebagai suami istri, talak. Kemudian, kata “perceraian” mengandung arti perpisahan, perihal bercerai (antara suami istri), perpecahan. Adapun kata “bercerai” berarti: tidak bercampur (berhubungan, bersatu) lagi, berhenti berlaki-bini (suami istri).
Istilah perceraian terdapat dalam pasal 38 UU No. 1 Tahun 1974 yang memuat ketentuan fakultatif bahwa “perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas putusan pengadilan”.
Jadi secara yuridis istilah perceraian berarti putusnya perkawinan, yang mengakibatkan putusnya hubungan sebagai suami istri atau berhenti berlaki-bini (suam istri) sebagaimana diartikan dalam kamus besar Bahasa Indonesia di atas.
Istilah perceraian menurut UU No. 1 Tahun 1974 sebagai aturan hukum positif tentang perceraian menunjukkan (Syaifudin, dkk., 2014: 16) hal-hal berikut:
1. Tindak hukum yang dapat dilakukan oleh suami atau istri untuk memutus 2. Peristiwa hukum yang memutuskan hubungan suami dan istri, yaitu
kematian suami atau istri yang bersangkutan, yang merupakan ketentuan yang pasti dan langsung ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa;
3. Putusan hukum yang dinyatakan oleh pengadilan yang berakibat hukum putusnya hubungan perkawinan antara suami istri.
2
Sedangkan menurut Sulaiman Rasjid (1994: 401) talaq berarti melepaskan ikatan. Yang dimaksud di sini ialah melepaskan ikata pernikahan. Tujuan pernikhan adalah:
1. Untuk hidup dalam pergaulan yang sempurna.
2. Suatu jalan yang amat mulia untuk mengatur rumah tangga dan keturunan. 3. Suatu tali yang amat teguh guna memperkokoh tali persaudaraan antara kaum
kerabat laki-laki (suami) dengan kaum perempuan (istri) sehingga pertalian itu akan menjadi suatu jalan yang membawa satu kaum (golongan) untuk tolong menolong dengan kaum lainnya. Apabila pergaulan kedua suami istri tidak mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka hal itu akan mengakibatkan berpisahnya dua keluarga. Karena tidak adanya kesepakatan antara suami istri, maka dengan keadilan Allah Swt. dibukakan oleh-Nya suatu jalan keluar dari segala kesukaran itu, yakni pintu perceraian. Mudah-mudahan dengan adanya jalan itu terjadilah ketertiban dan ketentraman antara kedua kedua belah pihak, dan supaya masing-masing dapat mencari pasangan yang cocok yang dapat mencapai apa yang dicita-citakan.
B. Dasar Perceraian
Perceraian diperbolehkan selama pernikahan yang terjadi tidak dapat dapat dipertahankan. Hal ini sebagaimana dijelaskan QS.Al-Baqarah ayat 232 dan QS. At-Talaq ayat 1
َب ْإۡو َضََٰرَت إَذِإ َّنم َجَََٰوۡزَٱ َنۡحِّكنَي نَٱ َّنمهومل مضۡعَت َلََف َّنمهَلَجَٱ َنۡغَلَبَف َءٓا َسِّ نل
ٱ م متُۡقَّلَط إَذ
إَو
ِ
مظَعومي َ ِّلََِٰذ ِِّۗفو مرۡعَمۡل
ٱِّب ممَنَۡي
ۡمكَُل ٰ َكَ ۡزَٱ ۡ مكُِّلََٰذ ِِّۗرِّخٓأ ۡل ٱ ِّمۡوَيۡل ٱَو ِّ َّللَّ ٱِّب منِّمۡؤمي ۡ مكُنِّم َنَكَ نَم ۦِّهِّب
َنوممَلۡعَت َلَ ۡ متُنَٱَو مَلَۡعَي م َّللَّ ٱَو ُۚمرَهۡطَٱَو
“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka 13
3
janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma´ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Qs. Baqarah[2]: 232)
ٱ اَ هيَُّٱَٰٓ َي
َۖۡمكَُّبَر َ َّللَّ ٱ ْإومقَّت ٱَو ََۖةَّدِّعۡل ٱ ْإو مصۡحَٱَو َّنِِّّتَِّدِّعِّل َّنمهومقِّ لَطَف َءٓا َسِّ نل ٱ م متُۡقَّلَط إَذ
إ ه ِّبَِّنل
ِ
َلَ َو َّنِّ ِّتِوميمب ۢنِّم َّنمهومجِّرۡ متُ َلَ
َو ُِّۚ َّللَّ ٱ مدومدمح َ ۡلِّۡتَو ُٖۚةَنِّ يَبهم ٖةَشِّحَٰ َفِّب َينِّتۡأٱَي نَٱ ٓ َّلَ
إ َنۡجمرۡ َيَ
ِ
َّلَعَل يِّر ۡدَت َلَ ُۚۥمه َسۡفَن ََلَ َظ ۡدَقَف ِّ َّللَّ ٱ َدومدمح َّدَعَتَي نَم
إ ٗرۡمَٱ َ ِّلََِٰذ َدۡعَب مثِّدۡ ميُ َ َّللَّ
ٱ
“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru” (Qs. At-Talaq[65]: 1)
Tentang hukum cerai ini para ahli fiqh berbeda pendapat. Pendapat yang benar di antara semua itu yaitu yang mengatakan “terlarang”, kecuali karena alasan yang benar. Golongan Hanbali menjelaskan talak itu adakalanya wajib, adakalanya haram, adakalanya mubah dan adakalanya sunnah (Sabiq, 1980: 9-11). 1. Talak wajib, yaitu talak yang dijatuhkan pihak hakam (penengah), karena
perpechan antara suami istri yang sudah berat. Ini jika hakam berpendapat bahwa talaklah jalan satu-satunya menghentikan perpecahan.
2. Talak haram, yaitu talak tanpa alasan. Dia diharamkan karena merugikan suami dan istri, dan tidak adanya kemaslahatan yang mau dicapai dengan perbuatan talaknya itu
3. Talak sunnah, yaitu dikarenakan isteri mengabaikan kewajibanya kepada Allah, seperti sholat dan sebagainya, padahal suami tidak mampu
4
memaksanya agar istri menjalankan kewajibanya tersebut atau isteri kurang rasa malunya.
C. Sebab- Sebab Putusnya Perkawinan
Di dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 116, perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan sebagai berikut.
1) Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
2) Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
3) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
4) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
5) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami isteri;
6) Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
7) Suami melanggar taklik talak;
8) Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga
5
Sedangkan menurut Ahmad Azhar Basir (1999: 69) menyatakan sebab- sebab putusnya perkawinan menurut ketentuan hukum Islam dapat putus karena kematian, talak, fasakh, lian, dan syiqaq. Sebab-sebab ini dapat dijelaskan dalam uraian berikut ini.
1. Kematian
Kematian suami atau istri mengakibatkan perkawinan putus sejak terjadi kematian. Apabila tidak terdapat halangan-halangan syarak, istri atau suami yang ditinggal mati berhak waris harta peninggalan si mati. Yang dimaksud dengan harta peninggalan ialah sisa harta setelah diambil untuk mencukupkan keperluan penyelenggaraan jenazah, sejak dari memandikan sampai dengan memakamkan, kemudian untuk melunasi hutang-hutangnya, kemudian untuk melaksanakan wasiatnya, dalam batas sebanyak –banyaknya dan melunasi hutang-hutangya.
Istri yang ditinggal mati suaminya harus menjalani masa berkabung 4 bulan 10 hari. Dalam hubungan ini hadis Nabi riwayat Jamaah kecuali Turmudzi berasal dari Ummu athiyyah mengajarkan, “ Orang perempuan boleh melakukan hidad (berkabung) atas kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya (perempuan yang ditinggal mati suaminya) hendak berkabung selama 4 bulan 10 hari; selama waktu berkabung itu ia tidak boleh mngenakan pakaian yang diwenter, kecuali baju yaman; jangan pula ia bercelak mata, menggunakan perfum (wangi-wangian), mengecat kukur dan bersisir, kecuali apabila baru suci dari haid, ia boleh
6 berwangi- wangian.
Cara berkabung seperti disebutkan dalam hadis Nabi itu ialah selama masa iddah peremuan yang ditinggal mati jangan mengenakan pakaian dan perhiasan yang menarik yang tidak menunjukan rasa berkabung atas kematian suaminya. Keluar rumah dalam masa berkabung juga tidak dibenarkan, kecuali apabila memang ada keperluan yang mendesak utuk mencukupkan kebutuhan hidupnya, atau untuk hal- hal yang memang dibenarkan oleh syarak, seperti mengunjungi orang tua yang sedang sakit, dan sebagainya (Basyir, 1999: 69-70)
2. Talak
Talak merupakan kalimat bahasa arab yang bermaksud "menceraikan" atau "melepaskan". Berdasarkan istilah syara' ialah melepaskan ikatan pernikahan atau perkawinan dengan kalimah atau lafaz yang menunjukkan talak atau perceraian.
a. Syarat-Syarat Sah Talak
Adapun syarat sah talak menurut Muhammad Syaifudin (2014: 119-120) adalah:
1) Syarat-syarat sah talak baik yang berlaku untuk suami, istri atau Sighat talak, dijelaskan sebagai berikut.
a) Berakal sehat b) Baligh
c) Tidak karena paksaan
7
talak ialah telah dewasa dan atas kehendak sendiri, bukan karena terpaksa atau paksaan dari pihak ketiga. Dalam menjatuhkan talak suami tersebut harus dalam keadaan berakal sehat. Apabila akalnya sedang terganggu, maka ia tidak boleh menjatuhkan talak. Mengenai talak sedang mabuk kebanyakan ahli fiqh berpendapat bahwa talaknya tidak sah, karena orang sedang mabuk itu dalam bertindak di luar kesadaran. Sedang orangyang sedang marah kalau menjatuhkan talak hukumnya tidak sah. Yang dimaksud marah di sini ialah marah yang sedemikian rupa, sehingga apa yang dikatakannya hampir-hampir diluar kesdarannya.
2) Syarat- syarat istri supaya sah ditalak suaminya
Syarat- syarat istri supaya sah ditalak suaminya ialah istri telah terikat dengan perkawinan yang sah dengan suaminya (apabila nikahnya diragukan kesahannya, maka istri itu tidak dapat ditalak oleh suaminya), istri harus dalam keadaan suci yang belum dicampuri oleh suaminya dalam keadaan suci itu, dan istri yang sedang hamil.
3) Syarat syarat pada sighat
Sighat talak adalah perkataan yang diucapkan oleh suami atau wakilnya di waktu ia menjatuhkan talak pada istrinya. Sighat talak ini ada yang diucapkan langsung dengan perkataan yang jelas dan ada yang diucapkan secara sindiran (kinayah). Sighat talak yang langsung dan jelas, misalnya suami berkata pada istrinya; “Saya
8
jatuhkan talak satu kepadamu”. Dengan diucapkan suami perkataan seperti itu jatuhlah talak satu kepada istrinya saat itu juga dan sah hukumnya. Sedangkan Sighat talak yang diucapkan secara sindiran, misalnya suami berkata pada istrinya “Kembalilah ke orang tuamu” atau “Engkau telah aku lepaskan dari aku”. Ini sah apabila ucapan suami itu disertai niat menjatuhkan talak pada istrinya dan suami mengatakan pada hakim bahwa maksud ucapannya itu untuk menyatakan talak kepada istrinya. Apabila ucapanya itu tidak bermaksud untuk menjatuhkan talak kepada istrinya, maka Sighat talak yang demikian tadi tidak sah hukumnya.
b. Macam-macam Talak
Ditinjau dari segi waktu dijatuhkan talak itu, menurut Abdul Rahman Ghozali (2010: 193-194) maka talak dibagi menjadi 3 macam:
1) Talak Sunni
Merupakan talak yang terjadi sesuai dengan ketentuan agama, yaitu seorang suami mentalak istrinya yang telah dicampurinya dengan sekali talak di masa bersih dan belum ia sentuh kembali di masa bersihnya.
ٓاَّمِّم ْإومذمخۡأٱَت نَٱ ۡ مكَُل هلِّ َيُ َلَ َو ِٖۗنَٰ َسۡح
ِ
ِّبِ ۢميِّ ۡسَۡت ۡوَٱ ٍفو مرۡعَمِّب ۢمكا َسۡم
اَف َِّۖن َتَ َّرَم مقَٰ َلَّطل
ِ
ٱ
ۡي َ ش َّنمهومممتۡيَتإَء
أ
مح اََِّقمي َّلََٱ ۡ متُۡفِّخ ۡن
اَف َِّۖ َّللَّ ٱ َدو مدمح اََِّقمي َّلََٱ ٓاَفاَ َيَ نَٱ ٓ َّلَ
ِ
إ ا
ِ
َحاَنمج َلََف ِّ َّللَّ ٱ َدو مد
َكِّئَٰٓ َلْوُٱَف ِّ َّللَّ ٱ َدومدمح َّدَعَتَي نَمَو ُۚاَهومدَتۡعَت َلََف ِّ َّللَّ ٱ مدومدمح َ ۡلِّۡت ِۗۦِّهِّب ۡتَدَتۡف ٱ اََِّف اَمِّۡيَۡلَع
م مهُ
َنوممِّلَٰ َّظل
ٱ
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma´ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau
9
keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim (Qs. Al-Baqarah[2]: 229)”
2) Talak Bid'i
Adalah talak yang dijatuhkan pada waktu dan jumlah yang tidak tepat. Talak bid'i merupakan talak yang dilakukan bukan menurut petunjuk syariah, baik mengenai waktunya maupun cara-cara menjatuhkannya. Dari segi waktu ialah talak terhadap istri yang sudah dicampuri pada waktu ia bersih atau terhadap istri yang sedang haid. Dari segi jumlah talak ialah tiga talak yang dijatuhkan sekaligus.
3) Talak sunni wala bid’i
Talak sunni wala bid’i yaitu talak yang tidak termasuk katagori talak sunni dan tidak pula termasuk talak bid’i yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah digauli, talak yang diajtuhkan terhadap istri yang belum pernah haid atau istri yang telah lepas haid dan talak yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang hamil.
Ditinjau dari segi ada atau tidaknya kemungkinan bekas suami merujuk kembali bekas istri, maka talak dibagi 2 macam :
10
Talak Raj’i yaitu talak yang dijatuhkan suami terhadap istrinya yang telah pernah digauli, bukan karena memperoleh ganti dari istri, talak yang pertama kali dijatuhkan atau yang kedua kalinya. Mengutip dari Dr. As-Siba’i mengatakan talak raj’i adalah talak yang untuk kembalinya bekas istri kepada bekas suaminya tidak memerlukan pembaharuan akad nikah, tidak memerlukan mahar, serta tidak memerlukan persaksian.
Setelah terjadi talak raj’i maka istri wajib beriddah, hanya bila kemudian suami hendak kembali kepada bekas istri sebelum masa iddah, maka hal itu dapat dilakukan dengan mengatakan rujuk, tetapi jika dalam masa iddah tersebut bekas suami tidak mengatakan rujuk terhadap bekas istrinya, maka dengan berahirnya masa iddah itu kedudukan talak menjadi talak ba’in; kemudian jika sesudah berahirnya masa iddah itu suami ingin kembali kepada bekas istrinya maka wajib dilakukan akad nikah baru dengn mahar yang baru pula. Talak raj’i hanya terjadi pada talak yang pertama dan kedua saja,
ن ََٰس ۡحِإِب ُُۢحيِر ۡسَت ۡوَأ ٍفوُر ۡعَمِب ُُۢكاَس ۡمِإَف ِِۖناَتَّرَم ُقََٰلَّطلٱ
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma´ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.(Qs. Al-Baqarah[2]: 229)”2) Talak ba’in
Menurut Ahmad Azhari Basir (1999: 80) Talak ba’in adalah talak yang memungkinkan suami rujuk kepada bekas istri kecuali
11
dengan melakukan akad nikah baru. Talak ba’in ada dua macam yaitu talak ba’in kecil dan besar.
a) Talak ba’in kecil adalah talak satu atau dua yang dijatuhkan kepada istri yang belum pernah dikumpuli, talak satu atau dua yang dijatuhkan atas permintaan istri dengan pembayaran tebusan (iwad) atau talak satu atau dua yang dijatuhkan kepada istri yang pernah dikumpuli bukan atas permintaannya dan tanpa pembayaran iwad, setelah habis masa iddahnya.
b) Talak ba’in besar talak yang dijatuhkan tiga. Suami yang telah menjatuhkan talak tiga kali tidak boleh rujuk kepada bekas istrinya, kecuali setelah bekas istrinya itu melakukan perkawinan dengan laki-laki lain dan telah melakukan persetubuhan dengan suami yang baru itu, kemudian terjadi perceraian. Dalam perceraian dengan suami yang baru tidak boleh direncanakan sebelumnya. Dengan kata lain, suami yang terlanjur menjatuhkan talak sampai tiga kali terhadap istri, tiba-tiba menyesal, tidak boleh minta kepada seseorang untuk mengawini bekas istrinya itu, dengan permintaan setelah berlalu beberapa waktu dan setelah terjadi persetubuhan supaya menceraikan istrinya, guna memungkinkan kawin lagi dengan suami pertama itu.
12
Fasakh bermakna pembatalan ikatan perrnikahan oleh Pengadilan Agama berdasarkan tuntutan isteri atau suami yang dapat dibenarkan Pengadilan Agama atau karena pernikahan yang telah terlanjur menyalahi hukum pernikahan. Lebih lanjut, Sajuti Thalib (Syaifudin, 2014: 137) menegaskan bahwa arti fasakh ialah diputuskannya hubungan perkawinan (atas permintaan salah satu pihak) karena menemui cacat. celanya pada pihak lain atau merasa tertipu atas hal-hal yang belum diketahui sebelum berlangsungnya perkawinan.
Perkawinan yang telah ada adalah sah dengan segala akibatnya dan dengan di fasakhannya oleh Hakim Pengadilan Agama, maka bubarlah hubungan perkawinan itu. Hal ini berarti pelaksanaan putusnya hubungan perkawinan dalam hal pihak lain merasa tertipu dalam perkawinan itu memajukan permintaan kepada Hakim Pengadilan Agama
Menurut Pasal 71 dalam Kompilasi Hukum Islam menjelaskan bahwa Suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila:
a. Seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama; b. Perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi
isteri pria lain yang mafqud;
c. Perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah dari suami lain; d. Perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan sebagaimana
ditetapkan dalam Pasal 7 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974;
e. Perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak;
13
f. Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan 4. Li’an
Menurut Sulaiman Rasjid (1994: 412-414) Li’an adalah perkataan suami sebagai berikut, “saya persaksikan kepada Allah bahwa saya benar terhadap tuduhan saya kepada istri saya bahwa dia telah berzinah,” Kalau ada anak yang diyakininya bukan anaknya, hendaklah diterangkan pula bahwa anak itu bukan anaknya. Perkataan tersebut hendaklah diulanginya empat kali, kemudian ditambahkan lagi dengan kalimat, “laknat Allah akan menimpaku sekiranya aku dusta dalam tuduhanku ini.”
Apabila sesorang menuduh orang lain berzina, sedangkan saksi yang cukup tidak ada, maka yang menuduh itu harus atau wajib disiksa (didera) 80 kali. Tetapi kalau yang menuduh itu suaminya sendiri, dia boleh lepas dari siksa tersebut dengan li’an. Berarti suami yang menuduh istrinya berzinah boleh memilih antara dua perkara, yaitu dera sebanyak 80 kali atau me- li’an istrinya
َٰ َه َش معَبۡرَٱ ۡ ِّهُِّدَحَٱ مةَدَٰ َه َشَف ۡممه مسمفنَٱ ٓ َّلَ
إ مءٓإَدَه مش ۡممهَّل نمكَي ۡمَلَو ۡمم َجَ ََٰوۡزَٱ َنوممۡرَي َنيِّ َّلَّ
ِ
ٱَو
َنِّمَل ۥمهَّن
إ ِّ َّللَّ ٱِّب ِّۢت ََٰد
ِ
َينِّقِّدَٰ َّصل
ٱ
٦
َينِّبِّذَٰ َكۡل ٱ َنِّم َنَكَ ن
إ ِّهۡيَلَع ِّ َّللَّ ٱ َتَنۡعَل َّنَٱ مة َسِّمَٰ َخۡل ٱَو
ِ
“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta” (Qs. An-Nur[24]: 6-7)
a. Akibat Li’an suami, timbul beberapa hukum 1) Dia tidak disiksa (didera)
14
2) Si istri wajib disiksa (didera) dengan siksaan zina 3) Suami istri bercerai selamanya
4) Kalau ada anak, anak itu tidak dapat diakui oleh suami
5) Untuk melepaskan si istri dari siksa zina, dia boleh me-li’an pula, membalas li’an suaminya itu
َل ۥمهَّن
ِ
إ ِّ َّللَّ ٱِّب ِّۢت ََٰدَٰ َه َش َعَبۡرَٱ َدَه ۡشَت نَٱ َبإَذَعۡل ٱ اَ ۡنََع ْإمؤَرۡدَيَو
َينِّبِّذَٰ َكۡل
ٱ َنِّم
ٓاَ ۡيَۡلَع ِّ َّللَّ ٱ َب َضَغ َّنَٱ َة َسِّمَٰ َخۡل ٱَو
َينِّقِّدَٰ َّصل
ٱ َنِّم َنَكَ ن
إ
ِ
“Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar (Qs. An-Nur[24]: 8-9)”
5. Nusyuz
Menurut Ahmad Azhar Basyir (1999: 88-89) Arti kata nusyuz ialah membangkang. Yang dimaksud ialah membangkang terhadap kewajiban dalam hidup perkawinan. Membangkang terhadap kewajiban-kewajiban dalam hidup perkawinan dapat terjadi pada pihak istri dan dapat pula terjadi pada pihak suami.
Nusyuz pada pihak istri terjadi apabila ia melalaikan kewajiban-kewajibannya sebagai istri, tidak mau taat kepada suami, tidak mau bertempat tinggal bersama suami,suka menerima tamu orang-orang yang tidak disukai oleh suami, suka keluar rumah tanpa izin suami dan sebagainya.
Sebagaimana telah disebutkan dimuka, apabila suami melihat istrinya melalaikan kewajiban-kewajibannya sebagai istri, hendaklah mula-mula ia
15
memberi nasihat dengan baik-biak, apabila dengan nasihat-nasihat itu masih saja tidak mengalami perubahan, suami hendaklah berpisah tidur dengan istrinya. Apabila hal ini pun belum berhasil membawakan perubahan sikap istri, suami dibenarkan memukul, bukan bagian muka dan mengakibatkan luka pada badan istri. Apabila dengan jalan memukul pun belum dapat membawakan perubahan pada sikap istri, sampailah hubungan suami istri pada taraf syiqaq.
Nusyuz yang terjadi pada pihak istri, setelah diusahkan untuk baik kembali dengan jalan nasihat, berpisah tidur dan memukul tetapi tidak berhasil juga itu, berakibat gugurnya kewajiban nafkah suami atas istrinya. Dalam suami beristri lebih seorang, terhadap istri yang dinusyuz, kecuali tidak wajib memeberikan nafkah, suami juga tidak wajib memberikan giliranya. Namun, masih wajib memberikan tempat tinggal.
Apabila Nusyuz terjadi pada pihak suami, dan ia tidak memenuhi kewajibanya terhadap istri, hendaklah diberi nasihat secukupnya agar kembali menunaikan kewajibannya. Apabila kekhawatiran nusyuz suami itu datang dari istri, karena misalnya suami tidak senang lagi kepada istri yang maki tua, karena sakit yang tidak kunjung sembuh, karena muka yang makin berkerut dan sebagianya.
ُۚۡمِّهِّلََٰوۡمَٱ ۡنِّم ْإومقَفنَٱ ٓاَمِّبَو ٖضۡعَب ٰ َلََع ۡممه َضۡعَب مَّللَّ ٱ َلَّضَف اَمِّب ِّءٓا َسِّ نل ٱ َلََع َنوممََّٰوَق ملاَجِّ رل ٱ
متَٰ َحِّلَٰ َّصل
ٱَف
مه َزو مشمن َنومفاَ َتُ ِّتَِٰ َّل ٱَو ُۚمَّللَّ ٱ َظِّفَح اَمِّب ِّبۡيَغۡلِّ ل ٞتَٰ َظِّفَٰ َح ٌتَٰ َتِّنَٰ َق
ِّع ِّجا َضَمۡل ٱ ِّفِ َّنمهومرمۡهۡ ٱَو َّنمهومظِّعَف َّن
إٗيرِّبَك اٗ يِّلَع َن َكَ َ َّللَّ
ٱ َّن
إ ِۗ لَيِّب َس َّنِّ ۡيَۡلَع ْإومغۡبَت َلََف ۡ مكَُنۡع َطَٱ ۡن
ِ
اَف ََّۖنمهومبِّ ۡضۡ ٱَو
ِ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan
16
sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Qs. An-Nisa’[4]:34)
6. Syiqaq
Konflik antara suami isteri itu ada beberapa sebab dan macamnya. Sebelum konflik membuat suami mengalami keputusan berpisah yang berupa talak, maka konflik-konflik tersebut antara lain adalah syiqaq. Menurut Anshori (2011: 200) Syiqaq adalah perceraian yang dijatuhkan oleh hakam dari kedua bealah pihak suami dan isteri karena antara suami dan istri terus menuerus terjadi pertengkaran yang harus diselesaikan supaya tidak berlarut-larut dan menambah penderitaan kedua belak pihak tersebut. Jalan yang paling baik untuk menyelesaikan konflik antara suami dan isteri adalah musyawarah oleh keluarga besarnya, karena merekalah yang paling berkepentingan terhadap kebaikan seluruh keluarga besar. Jika jalan terang ini tidak dilalui, maka dapat mengakibatkan kerusakan, permusuhan, dan kebencian yang melanda banyak rumah tangga lalu menghancurkan akhlak dan adab, serta keharmonisan keluarga, kerabat dan masyarakat itu sendiri (Syaifudin, dkk, 2014: 128).
D. Akibat Perceraian
Menurut Kompilasi Hukum Islam bahwa akibat dari perceraian dijelaskan pada pasal 149 sampai dengan pasal 160. Adapun pasal 149
17
menyatakan kewajiban suami setelah bercerai harus memberikan mut’ah kepada bekas istrinya dengan jumlah atau kadar yang wajar kecuali bila istrinya qabla ad-dukhul; memberi nafkah kepada bekas istri selama berlangsungnya masa iddah kecuali jika istri dijatuhi talak ba’in atau nushuz dan dalam keadaan hamil; membayar lunas mahar yang telas dibayarkan dan memberikan hak hadhanah kepada anaknya yang belum berumur 21 tahun
Lain dari pasal 149 yang berkaitan dengan kewajiban mut’ah, mahar dan hadhanah, pasal 150 sampai Pasal 151 menjelaskan bahwa bekas suami berhak melakukan ruju` kepada bekas istrinya yang masih dalam iddah dan wajib menjaga dirinya, tidak menerima pinangan dan tidak menikah dengan pria lain. Sedangkan dalam pasal 152 dijelaskan bekas isteri berhak mendapatkan nafkah iddah dari bekas suaminya kecuali ia .
Selanjutnya pasal 153 terdapat enam ayat yang menjelaskan tentang beberapa hal yaitu pertama, resiko wanita yang bercerai dari suaminya yaitu untuk melaksanakan iddah yang memiliki hitungan bermacam-macam tergantung dari kondisi suami tersebut berpisah. Pada pasal itu juga memuat pengecualian bahwa tidak ada masa iddah bagi bekas istri yang bercerai qobla al-dukhul. Kedua, waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan jika perkawinan putus karena kematian walaupun qobla al dukhul waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari, jika perkawinan putus karena perceraian,waktu tunggu bagi yang masih haid ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sukurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari dan jika putus karena perceraian dan kematian sedang
18
janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan. Ketiga, tidak ada waktu tunggu bagi yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya qobla al dukhul. Keempat, bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya, Putusan Pengadilan Agama yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu dihitungsejak kematian suami. Kelima, Waktu tunggu bagi isteri yang pernah haid sedang pada waktu menjalani iddah tidak haid karena menyusui, maka iddahnya tiga kali waktu haid. Keenam, Dalam hal keadaan pada penjelasan kelima apabila bukan karena menyusui, maka iddahnya selama satu tahun, akan tetapi bila dalam waktu satu tahun tersebut ia haid kembali, maka iddahnya menjadi tiga kali waktu suci.
Pasal 154 dan 155 belum keluar dari pembahasan dari masa iddah yaitu untuk perceraian karena khulu’, Fasakh dan Li’an berlaku juga iddah talak. Sedangkan untuk intri yang ditinggal mati suaminya iddahnya menjadi empat bulan sepuluh hari yang dihitung sejak kematian suaminya.
Sedangkan pasal 156 terdiri dari enam ayat yang menyampaikan bahwa akibat putusnya perkawinan karena perceraian yang mengatur tentang hak pemeliharaan dan keperluan anak. Baik yang belum mumayyiz maupun yang sudah mumayyiz dan pihak-pihak yang bersangkutan ketika perceraian telah terjadi. Hal tersebut yaitu anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dan ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka
19
kedudukannya digantikan oleh wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu, ayah, wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah, saudara perempuan dari anak yang bersangkutan dan wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.
Pasal 156 juga menjelaskan tentang anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah dari ayah atau ibunya. Kemudian apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaann kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula. Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).
Namun apabila terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan Agama memberikan putusannya dan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya.
Lebih lanjut pasal 157 menjelaskan tentang perhitungan harta menurut ketentuan pasca perceraian terjadi sebagaimana tersebut dalam pasal 96 dan 97 Kompilasi Hukum Islam. Sedangkan pasal 158 sampai pasal 160 memaparkan syarat tentang mut’ah yang wajib dibayarkan oleh suami kepada bekas istri.