Fransisko P. Niron1, Feny S. Eky2, Nikson Fallo3, Heni M. Sauw4
ABSTRACT
ABSTRAK
PENDAHULUAN
Usaha kerajinan alat musik sasando milik Bapak Jeremias A. Pah ini, merupakan usaha yang sudah dilakukan turun temurun. Usaha ini tepatnya berada di Jl. Timor Raya KM 22 Desa Oebelo,Kabuten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jaraknya 20 km, kurang lebih 45 menit dari kota kupang. Usaha kerajinan alat musik sasando ini sudah didirikan sejak tahun 1960 dan masih eksis sampai sekarang.
Gambar 1 dibawah ini adalah gambar tempat usaha kerajinan alat musik sasando dan jenis alat musik Sasando yang diproduksi.
Usaha kerajinan milik mitra ini bukan saja hanya memproduksi alat musik Sasando tetapi sudah berkembang ke kerajinan tangan lainnya seperti Ti’ilangga (topi khas pulau Rote), tenunan ikat maupun souvenir lainnya (Gambar 1)
PEMASARAN ALAT MUSIK SASANDO DAN TOPI
TI’ILANGGA
BERBASIS WEB DI DESA OEBELO PROVINSI NTT
1Jurusan Teknik Mesin; 2Jurusan Pariwisata; 3Jurusan Teknik Elektro; 4Jurusan Administrasi Bisnis POLITEKNIK NEGERI KUPANG
Email: [email protected]
The objectives of the Regional Leading Product Development Program (PPUD) are as follow; 1) increasing sales of regional superior products, Sasando traditional musical instruments and Ti'ilangga hats through web-based marketing, 2) increasing understanding of web-based marketing, 3) increasing the types of products that are up to date. The methods used in this activity include; Introduction to Science and Technology, Participation, and Peer Assisted Learning (PAL). The results achieved through this activity, namely; 1) the sale got increased by 30% through Web-based marketing, 2) the understanding of Web-based marketing management got improved, 3) product types got more various, which has reached 40%. To achieve the aforementioned goals, partners are created a website, given training and assistance to operate the website and YouTube, even partners are given assistance with a set of multimedia tools such as laptops, camera tripods, camcorders, and so on. Partners are also given training and mentoring in Web-based marketing management. As well as training and assistance for product diversification.
Keywords: traditional music, sasando, musical instrument
Tujuan dari kegiatan Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) ini antaralain; 1) meningkatkan penjualan produk unggulan daerah, alat musik tradisional Sasando dan topi Ti’ilangga melalui pemasaran berbasis Web, 2) meningkatkan pemahaman akan pemasaran berbasis Web, 3) meningkatkan jenis produk yang up to date. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ini antaralain; Introduksi IPTEK, Partisipatori, dan Peer Assisted Learning (PAL). Hasil yang dicapai melalui kegiatan ini, yakni; 1) peningkatan penjualan produk 30% melalui pemasaran berbasis Web, 2) peningkatan pemahaman manajemen pemasaran berbasis Web, 3) peningkatan jenis produk yang up to date mencapai 40%. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, mitra dibuatkan sebuah situs Website, diberikan pelatihan dan pendampingan mengoperasikan Website dan
YouTube, bahkan mitra diberikan bantuan seperangkat alat multimedia seperti laptop, camera tripod, handycam, dan lain sebagainya. Mitra juga diberi pelatihan dan pendampingan dalam manajemen pemasaran berbasis Web. Serta dilakukan pula pelatihan dan pendampingan diversifikasi produk.
Gambar 1. Produk yang dihasilkan mitra Alat musik sasando merupakan alat musik khas NTT yang unik, bahan baku yang digunakan semuanya merupakan bahan baku lokal khas NTT, yaitu daun lontar, kayu jati, senar dan bambu. Sasando sendiri memiliki beberapa bagian yaitu bagian atas (kepala sasando), bagian tengah (tabung bambu dan penyangga dawai/senda) dan bagian bawah (gelang pengatur jarak senar/bokong Sasando). Tabung sasando terbuat dari bambu panjang dan pada bagian tengah diberi penyangga berupa tempelan kayu berbentuk prisma yang diikat melingkar ke atas dan bawah yang dinamakan senda, senda ini berfungsi untuk mengaitkan senar dari atas ke bawah sehingga senar tidak menyentuh badan tabung, kemudian tabung sasando ini ditempatkan pada sebuah wadah yang disebut haik. Haik ini terbuat dari anyaman daun lontar dan berfungsi sebagai resonansi untuk memantulkan bunyi dari senar yang dipetik.
Sasando terdiri dari beberapa jenis, mulai dari desain senar 24 senar sampai sasando dengan 56 senar. Untuk harga alat musik sasando bervariasi tergantung ukuran dan jenisnya (akustik atau elektrik). Sasando yang lengkap dengan stand base dan box, mencapai harga Rp.7.000.000,-, sedangkan sasando sedang dan kecil harganya variasi mulai dari Rp.500.000,- sampai dengan Rp.5.000.000,-. Mitra juga menghasilkan produk lain seperti topi Ti’ilangga seharga Rp. 250.000,- kain tenunan asli pulau rote dengan harga mulai dari Rp.100.000,- sampai Rp.1.000.000,- dan souvenir lainnya seperti gantungan kunci yang
harganya berkisar Rp. 25.000,- Sampai dengan Rp. 100.000,-.
Alat musik sasando ini hanya dijual di lokasi sentra pembuatannya. Karena alat musik sasando ini adalah alat musik khas NTT yang sudah dikenal, maka banyak wisatawan lokal maupun asing yang datang untuk melihat dan menyaksikan langsung permainan alat musik Sasando serta membeli langsung di sentra industri kerajinan ini. Meskipun pemasaran dan penjualan dilakukan di tempat, omzet yang mitra capai terus meningkat hingga mencapai omzet 16.000.000 – 17.000.000 per bulan, namun selama pandemi Covid-19 omzet menurun, hanya mampu dicapai 2.000.000 – 3.000.000 per bulan.
Kendala yang dihadapi mitra adalah rendahnya tingkat penjualan di masa pandemi Covid-19 ini. Hal tersebut bukan disebabkan karena rendah produktifitas, tetapi disebabkan karena media pemasaran yang masih manual. Terbukti dengan kondisi social distancing, penjualan terjadi secara online melalui WhatsApp dan SMS. Oleh karena itu untuk menjawab tantangan ini, tim pelaksana menawarkan solusi berupa pembuatan Website sebagai media pemasaran online yang bisa menjangkau segala kalangan baik nasional maupun internasional. Media online yang dapat mengenalkan, mempromosikan, dan menjual alat music tradisional Sasando dan topi Ti’ilangga serta produk-produk sentra kerajinan lainnya secara online.
Setelah mengalami masa pailit selama pandemi Covid-19, mitra menyadari bahwa promosi dan pemasaran secara online sangat tepat sebagai solusi. Selama ini untuk penjualan, mitra hanya berharap pengunjung/pembeli datang ke sentra kerajinan mereka. Sedangkan untuk promosi, mitra berharap penampilan mereka pada event-event dapat menjadi ajang promosi. Tidak dipungkiri bahwa cukup banyak vidio permainan Sasando mitra di Youtube, namun itu bukan postingan mitra tetapi postingan para penggemar. Postingan-postingan tersebut ada yang tidak di-shoot sampai akhir penampilan, sehingga tidak tepat menjadi media promosi
yang efektif bagi peningkatan penjualan produk mitra.
Melalui Website ini mitra dapat pula menyediakan informasi tentang history dan filosofi dari produk-produk mereka, seperti Sasando, Ti’ilangga, motif tenun pulau Rote, dan lain-lain. Sehingga mitra tidak perlu lagi berulang-ulang menyampaikan kepada pengunjung/pembeli yang datang ke rumah produksi mereka.
Hambatan lain adalah minimnya pengetahuan dan kemampuan mitra dalam membuat aneka kerajinan selain dari kerajinan yang diproduksi mitra, padahal sentra kerajinan alat musik Sasando ini banyak dikunjungi wisatawan lokal dan asing, sehingga memiliki peluang pasar yang sangat besar untuk menjual aneka produk kerajinan lainnya. Dengan adanya program pelatihan desain produk anyaman lontar tentunya akan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mitra dalam mendesain dan membuat aneka produk kerajinan tangan lainnya yang berbahan dasar daun lontar. Karena pada dasarnya, mitra sudah memiliki kemampuan mengayam, tinggal bagaimana meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mitra tentang desain produk lainnya sehingga mampu meningkatkan harga jual dan minat konsumen untuk membeli produk.
Manajemen usaha yang diterapkan dalam industri kerajinan mitra ini, masih menggunakan sistem manajemen manual karena keterbatasan SDM dalam bidang administrasi, keuangan dan sistem informasi, sehingga diperlukan program pengembangan SDM yang dapat menunjang kegiatan administrasi, keuangan dan sistem informasi mitra. Tenaga kerja yang dimiliki berjumlah 15 orang dengan tingkat pendidikan rata-rata adalah SMA. Untuk pencatatan keuangan, mitra hanya melakukan pencatatan sederhana seperti modal awal yang dibutuhkan untuk produksi kerajinan serta harga jual produk yang dihasilkan. Belum dilakukan pencatatan secara detail dan masih menggunakan cara manual karena produk yang dihasilkan juga
tidak banyak ragam dan jumlahnya. Namun dengan adanya perbaikan sarana pemasaran dan pelatihan aneka kerajinan desain anyaman lontar, tentunya dapat meningkatkan jumlah penjualan produk dan variasi produk kerajinan. Pengembangan SDM dalam manajemen peamsaran baerbasis Web perlu ditingkatkan guna peningkatan penjualan dan pengembangan usaha mitra.
Dengan demikian dapat diidentifikasi permasalahan prioritas mitra, yaitu:
1. Rendahnya angka penjualan produk khas daerah pada sentra kerajinan Sasando. Penyebabnya adalah:
a. Pemasaran produk dilakukan secara manual, belum berbasis Web.
b. Tidak adanya pengetahuan dan ketrampilan tentang pemasaran berbasis Web.
c. Produk diproduksi berdasarkan pesanan.
d. Promosi dilakukan secara
konvensional (mouth to mouth). 2. Diversifikasi produk masih rendah.
Penyebabnya adalah:
a. Keterbatasan ketrampilan desain produk yang responsif yang memenuhi kebutuhan pasar.
b. Keterbatasan pengetahuan
perkembangan desain produk kerajinan yang up to date.
3. Keterbatasan sumber daya manusia dalam bidang manajemen pemasaran berbasis Web.
Penyebabnya adalah:
a. Manajemen usaha yang diterapkan mitra adalah manajemen usaha keluarga yang tidak memperhatikan pembagian tugas yang jelas dalam usaha mitra.
b. Tidak ada pencatatan keuangan yang jelas terhadap setiap transaksi jual beli pada mitra.
c. Belum dilakukan pencatatan secara detail dan masih menggunakan cara manual karena produk yang dihasilkan
juga tidak banyak ragam dan jumlahnya.
4. Kurang adanya kesadaran untuk pengurusan hak kekayaan intelektual terhadap alat musik sasando. Penyebabnya adalah;
a. Ketidaktahuan mitra tentang prosedur dan administrasi pengurusan HKI. b. Biaya pengurusan HKI yang dirasakan
mitra sangat mahal. METODE
Berdasarkan hasil pemetaan masalah yang dihadapi mitra pengrajin alat musik Sasando dan topi Ti’ilangga ini, maka telah dilakukan beberapa kegiatan dalam tahap pendanaan 70% di tahun kedua untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh mitra, antaralain;
1. Pembuatan Website sebagai media pemasaran online.
2. Promosi, pemasaran dan penjualan produk secara online.
3. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam pembuatan content Website.
4. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengoperasikan Website.
5. Penguatan diversifikasi produk yang up to date dan mengikuti trend.
Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut tim pelaksan menggunakan 3 (tiga) metode yakni; 1. Introduksi IPTEK.
a. Mitra diberi edukasi akan fungsi dan kegunaan Website guna peningkatan penjualan produk.
b. Mitra diberi edukasi bahwa perlu ada diversifikas produk yang up to date dan sesuai trend, namun tidak menghilangkan ciri khas etnis pulau Rote guna pengembangan dan penguatan usaha.
2. Partisipatori
a. Mitra dilibatkan secara aktif dalam pembuatan content Website, baik sebagai informan/actor juga sebagai cameraman dan scriptwriter.
b. Mitra terlibat aktif dalam memberikan ide, informasi yang dituang dalam
kertas gambar dan diwujudkan dalam produk khas etnis Rote.
3. Peer Assisted Learning (PAL)
Dalam kegiatan ini tim pelaksana melibatkan 2 orang praktisi yang cukup sukses dengan usaha online meberi edukasi (educator) kepada mitra berkaitan dengan penggunaan Website dan diversifikasi produk.
Keberhasila mitra setelah pelaksanaan Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) ditunjukan dengan adanya perubahan-perubahan positif pada pola pikir, pengetahuan, dan keterampilan mitra yang mendukung pengembangan dan kemajuan usaha mitra yakni:
1. Peningkatan omzet penjualan.
Dampak dari pandemic Covid-19, omzet penjualan produk mitra menurun drastis bahkan tidak ada sama sekali dalam sebulan. Setelah dipasarkan secara online berbasis Web, angka penjualan meningkat. 2. Peningkatan kesadaran dan kemampuan
mitra menggunakan Website dan media sosial.
a. Sebelumnya tidak memiliki Website, kini sudah memiliki Website.
b. Sebelumnya Youtube diunggah melalui media sosial penggemar, kini diunggah dengan media sosial sendiri.
3. Peningkatan kesadaran akan pentingnya Buku Kas.
Sebelumnya tidak memiliki Buku Kas, kini sudah memiliki Buku Kas dan disiplin melakukan pencatatan.
4. Peningkatan jenis produk.
Sebelumnya produk yang dimiliki terbatas pada alat musik Sasando, topi Ti’ilangga, dan lembaran kain tenunan etnis Rote, kini alat musik Sasando lebih dikombinasi dengan lemen-elemen yang up to date agar lebih tahan lama. Topi Ti’ilangga didesain lebih trendi namun tidak menghilangkan ciri asli Ti’ilangga. Lembaran-lembaran kain tenun, dibentuk souvenir, asesoris, bakhan masker yang up to date, disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan PPPUD yang dilaksanakan di Industri Kerajinan Alat Musik Sasando yang berlokasi di Desa Oebelo Kabuaten Kupang Provinsi NTT memiliki dua dampak antara lain sebagai berikut:
1. Dampak Ekonomi.
a. Melalui pemsaran berbasis Web, jangakuan konsumen makin meluas bahkan hingga luar negeri misalnya Amerika. Sejalan dengan Zulkifli (2016) yang menyatakan bahwa setelah digunakan aplikasi Web, pemesanan ada juga yang berasal dari luar negeri.
b. Peningkatan penjualan 30% melalui pemasaran berbasis Web. Hal ini dibuktikan juga oleh Windari (2017) bahwa penjualan berbasis Web dapat memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan daya minat konsumen.
Gambar 2. Tampilan Website
c. Pemasaran berbasis Web, menghemat waktu. Seperti yang ditemukan oleh Rahmawati dan Mulyono (2016), dimana dari hasil penelitian mereka terhadap dampak pemasaran berbasis Web, salah satunya adalah penghematan waktu dan biaya.
d. Diversifikasi produk up to date meningkat 40%.
Gambar 3. Diversifikasi produk
e. Pelatihan manajemen pemasaran berbasis Website
GamGambar 4. Pelatihan Manajemen Pemasaran berbasis Website 2. Dampak Sosial
a. Seiring dengan meningkatnya ekonomi mitra tentunya meningkatk juga status sosial mitra sebagai pengusaha produk lokal yang maju dan sejahtera.
b. Mitra dan produk mitra dikenal luas hingga ke luar negri.
c. Prestise produk unggulan daerah, dalam hal ini alat music tradisional pulau Rote Sasando dan topi Ti’ilangga menigkat.
SIMPULAN
Bersasarkan hasil pelaksanaan PPPUD tahun 2020, maka dapat disimpulkan 1) tersedianya situs Website sebagai media pemasaran dan penjualan online, 2) terjadinya peningkatan kemampuan mitra dalam diversifikasi produk, 3) terjadinya peningkatan pengetahuan dan pemahaman mitra dalam manajemen pemasaran online berbasis Website, 4) terjadinya peningkatan omzet dan keuntungan mitra
DAFTAR RUJUKAN
,2018. Panduan
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Edisi XII. Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat. Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
Haning, P.,2009. Sasandu, Alat Musik Tradisional Masyarakat Rote Ndao,Kupang. Kairos
Rahmawati, Noni, & Mulyono, Hery. 2016. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Berbasis Web pada Toko Billy. Jurnal Manajemen Sistem Informasi Vol 1 No. 2.
Yohanes, BBD, 2014. Electric Sasando of East Nusa Tenggara, Indonesia. J.International Journal of Creative and Arts Studies (UCAS). Yogyakarta: Vol 1.No.2
Windari, Ayu. 2017. Sistem Informasi Penjualan Berbasis Web pada Cokelat Merek Ibuke (Studi Kasus : CV. Frenzy, Kota Kediri) Simki-Techsain Vol. 01 No. 08.
Zulkifli. 2016. Perancangan Sistem
Informasi Pemasaran (E-Commerce) PT.Jogja Kelapa Mas Berbasis Web. Jurnal Teknologi Informasi-Aiti, Vol. 14. No.1.
https://travel.kompas.com/read/2015/05/0 4/113600427/NTT.Targetkan.273.Desa.Wisata .pada.2018