• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Sanimas di Kampung Bustaman Kota Semarang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Karakteristik Sanimas di Kampung Bustaman Kota Semarang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

________________________________

Ruang; Vol. 2; No. 1; 2014; hal. 391-400 KARAKTERISTI

R Clarr

1

Mahasiswa Jurusan Pe 2

Dosen Jurusan Peren

Abstrak: Pada awal pengemba

dilaksanakan di wilayah permu Tengah dengan aplikasi (konstru melayani sekitar 124 KK. Kem Kecamatan Semarang Utara yait 2007), dan Kebonharjo (tahun Semarang, hanya Sanimas y pelaksanaannya. Keberhasilan in kualitas lingkungan di sekitar lo Sehingga tidak mengherankan jik Luhur telah memperoleh beberap MCK Plus Pangrukti luhur juga mengembangkan sanitasi berb masyarakat lainnya. Penelitian Kampung Bustaman Kota Sem pengembangan Sanimas pada w karakteristik permukiman denga permukiman Kampung Bustama sanitasi pada bangunan hunian mengakibatkan sebagian besar m Kata Kunci : Sanimas, Permukim Abstract: At the beginning o implemented in the constructio Village, Central District of Sem development is projected to ser Sanimas District of North Semara RW 03 (2007), and Kebonharjo RT city, only communal sanitation success is evident in the increasin of the development program a sanitation Kampung Bustaman to the success of the program. In develop community-based sanit communities. This study aimed t Bustaman, Semarang so it can programs in other urban areas. settlements with 1) the density impact on the village Bustaman community . In addition, the 3) ve the function of building occupanc Keywords : Sanimas, Settlement

Jurnal Ruang Volume 2 Nomor 1 Tahun 2014 ISSN 1858-3881

________________________________________________________

TIK SANIMAS DI KAMPUNG BUSTAMAN KOTA SEM rrino Adesetya Jaya¹ dan Diah Intan Kusumo Dew Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Univer rencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universit

Email: [email protected]

bangan program Sanimas di Kota Semarang (tahu ukiman Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinata truksi) berupa MCK Plus yang pada awal pembangunan mudian pada tahun 2006-2008, pembangunan San yaitu Kampung Plombokan (tahun 2006), Kelurahan Ba

n 2008). Seiring dengan berjalannya program Sanima yang terdapat di Kampung Bustaman yang te ini tampak pada meningkatnya derajat kesehatan m lokasi pengembangan program dan tentunya tingkat k

jika Sanimas Kampung Bustaman yang lebih dikenal de rapa penghargaan terkait dengan keberhasilan atas pro a merupakan salah satu percontohan/pilot project d rbasis masyarakat dan mampu menjadi contoh sad an ini bertujuan untuk mengetahui seperti apakah Semarang sehingga dapat menjadikan suatu baha

wilayah perkotaan lainnya. Hasil analisis diatas maka gan 1) kerapatan bangunan dan kepadatan hunian yan man dimana berdampak pada 2) tiadanya jaringan n masyarakat. Selain itu, dengan 3) tingkat perekono r masyarakat tidak dapat mengembangkan fungsi bang iman, Wilayah Perkotaan

of program development communal sanitation in ion of residential areas Kampung Bustaman (RT 04-05 marang with applications (construction) in the form erve about 124 households. Then in 2006-2008, the d arang namely Kampung Plombokan RT 03 RW 04-05 (20 o RT 02 RW 02 (in 2008). Over communal sanitation p n contained in Kampung Bustaman fairly successful in sing level of public health, increasing the quality of the e and of course the welfare of society. So it is not s

n better known as MCK Plus Pangrukti Noble has gain . In addition, MCK Plus Pangrukti sublime is also one pilo

nitation and capable of being environmentally con d to determine characteristics such as whether commun

an make a material consideration in the developme as. The results of the above analysis it can be seen t ity residential buildings and a very high density in res an 2) the lack of clean water and sanitation facilities ) very low levels of the economy resulted in the majorit

ncy. nt, Urban Areas ___________________________ | 391 EMARANG wi² iversitas Diponegoro sitas Diponegoro ahun 2005), pembangunan atan, Kecamatan Semarang annya di proyeksikan untuk animas terdapat di daerah Bandarharjo RW 03 (tahun imas yang terdapat di Kota terbilang berhasil dalam masyarakat, meningkatnya t kesejahteraan masyarakat. l dengan MCK Plus Pangrukti program tersebut. Selain itu, di Indonesia yang berhasil sadar lingkungan terhadap h karakteristik Sanimas di han pertimbangan dalam aka dapat di ketahui bahwa ang sangat tinggi di wilayah n air bersih serta fasilitas nomian yang sangat rendah

ngunan huniannya.

in Semarang City (2005), 04-05 RW 03), Purwodinatan rm of MCK Plus is in early development of the region 5 (2006), Bandarharjo Village programs contained in the l in its implementation. The e environment in the vicinity t surprising that communal ined several awards related pilot project in Indonesia to onscious example to other unal sanitation in Kampung ment communal sanitation that the characteristics of residential areas where the s in the residential building rity of people can t develop

(2)

PENDAHULUAN

Sanimas atau Sanitasi Berbasis Masyarakat merupakan salah satu opsi program untuk peningkatan kualitas di bidang sanitasi khususnya pengelolaan air limbah yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin yang tinggal di wilayah permukiman padat, kumuh, dan rawan sanitasi perkotaan. Sanimas merupakan program dengan konsep Demand Responsive Approach (DRA), Participative, Technical Options, Self-selection Process, Capacity Building atau dapat dikatakan pembangunan program ini dilakukan dengan berbasis pada komunitas (community based development).

Program Sanimas telah dilaksanakan sejak tahun 2003 hingga tahun 2008 dimana dalam rentang waktu tersebut telah terdapat sebanyak 323 titik/lokasi proyek Sanimas yang tersebar di 124 Kota/Kabupaten, 24 Provinsi di Indonesia. Menurut data yang diperoleh, dari 323 titik/lokasi proyek yang telah dilaksanakan terdapat beberapa titik pengembangan Sanimas yang dilakukan di wilayah permukiman padat, kumuh, miskin dan rawan sanitasi Kota Semarang. Pada awal pengembangan program Sanimas di Kota Semarang (tahun 2005), pembangunan dilaksanakan di wilayah permukiman Kampung Bustaman (RT 04-05 RW 03), Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah dengan aplikasi (konstruksi) berupa MCK Plus yang pada awal pembangunannya di proyeksikan untuk melayani sekitar 124 KK. Kemudian pada tahun 2006-2008, pembangunan Sanimas terdapat di daerah Kecamatan Semarang Utara yaitu Kampung Plombokan RT 04-05 RW 03 (tahun 2006), Kelurahan Bandarharjo RW 03 (tahun 2007), dan Kebonharjo RT 02 RW 02 (tahun 2008).

Seiring dengan berjalannya program Sanimas yang terdapat di Kota Semarang, hanya Sanimas yang terdapat di Kampung Bustaman yang terbilang berhasil dalam pelaksanaannya. Keberhasilan ini tampak pada meningkatnya derajat kesehatan masyarakat, meningkatnya kualitas lingkungan di sekitar lokasi pengembangan program dan tentunya tingkat kesejahteraan masyarakat. Sehingga

tidak mengherankan jika Sanimas Kampung Bustaman yang lebih dikenal dengan MCK Plus Pangrukti Luhur telah memperoleh beberapa penghargaan terkait dengan keberhasilan atas program tersebut. Selain itu, MCK Plus Pangrukti luhur juga merupakan salah satu percontohan/pilot project di Indonesia yang berhasil mengembangkan sanitasi berbasis masyarakat dan mampu menjadi contoh sadar lingkungan terhadap masyarakat lainnya.

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka akan memunculkan pertanyaan penelitian yang akan akan dibahas dalam studi ini yaitu karakteristik permukiman perkotaan seperti apakah yang menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan dari pengembangan Sanimas di wilayah Kampung Bustaman. Sehingga dapat diketahui tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengetahui seperti apakah karakteristik Sanimas di Kampung Bustaman Kota Semarang sehingga dapat menjadikan suatu bahan pertimbangan dalam pengembangan Sanimas pada wilayah perkotaan lainnya. Untuk lebih jelasnya, detail wilayah spasial penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

KAJIAN LITERATUR Permukiman

Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan ataupun perdesaan (UU No.1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman). Menurut Sudharto (2001) permukiman adalah perumahan dengan segala isi dan kegiatan yang ada di dalamnya. Perumahan merupakan wadah fisik sedangkan permukiman merupakan perpaduan antara wadah dengan isinya yaitu manusia yang hidup bermasyarakat dengan unsur budaya dan lingkungannya. Perbedaan mendasar antara perumahan dan permukiman terdapat pada adanya unsur manusia dan masyarakat sebagai aspek sosial yang menghidupkan lingkungan tersebut.

(3)

Karakteristik Sanimas Di Kampung Bustaman K

Ruang; Vol. 2; No. 1; 2014; hal. 391-400

Sumber: Google Earth, 2010

Permukiman didalam kehidu merupakan suatu kebutuhan komunitas masyarakat berhak community evaluation k stakeholder didalam lingkung (dalam Kuswartojo, 2005) me unsur permukiman menjadi lingkungan, unsur bangunan usur manusia, dan unsur secara ringkas permukiman ad antara unsur manusia deng alam/lingkungan dan unsur prasarana.

METODE PENELITIAN

P

enelitian karakterist Kampung Bustaman Kota Se menggunakan metode desk karena Metode ini mentransfo mentah ke dalam bentuk d dimengerti dan diintepre menyusun, memanipulasi d

Kota Semarang R Clarrino Adesety

GAMBAR 1 DELINIASI WILAYAH STUDI idupan masyarakat

an dasar dan setiap ak melakukan self-karena mereka ngannya. Doxiadis enguraikan unsur-i lunsur-ima yaunsur-itu unsur an, unsur jejaring, society sehingga adalah perpaduan ngan masyarakat, sur buatan/sarana

ristik sanimas di Semarang ini akan eskriptif kualitatif, ansformasikan data data yang mudah pretasikan, serta dan menyajikan

data menjadi suatu inf kualitatif dihimpun m seperti wawancara m lapang/observasi visu dokumen resmi, gam sebagainya. Analisis dengan teknik desk rancangan organisasion dari kategori-kategori hubungan-hubungan y (Schaltzman dan Strau 2002).

Metode pengum tentang alat/ teknik p prosedur penelitan pencatatan data, ke diperlukan, dan lang selanjutnya. Teknik pe digunakan yaitu tekn primer dan teknik sekunder. Pengump dilakukan dengan mel

etya Jaya dan Diah Intan Kusuma Dewi

| 393 informasi yang jelas. Data melalui berbagai cara mendalam, pengamatan sual, dokumen pribadi, ambar, foto dan lain s kualitatif diterapkan eskripsi analitik, yaitu sasional yang dikembangkan ri yang ditemukan dan yang muncul dari data trauss dalam Moleong, mpulan data membahas pengumpulan data dan an dilakukan meliputi kebutuhan data yang angkah-langkah penelitian pengumpulan data yang knik pengumpulan data ik pengumpulan data pulan data primer elakukan observasi serta

(4)

wawancara terhadap masyaraka penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan kependudukan serta berkas-berk dengan perkembangan Sanimas d permukiman Kampung Bustaman.

Jenis analisis yang digunak penelitian, untuk menjawab pertan mencapai tujuan penelitian sesu sasaran penelitian yang akan dicapai Identifikasi karakteristik masya wilayah

Permukiman Kampung Bustaman terhadap karakteristik masyarakat y dipengaruhi oleh sebaran usia, p mata pencaharian, pendapatan tanggungan ini dilakukan deng analisis deskriptif kualitati menginterpretasikan hasil w observasi, foto yang difokuskan pad masyarakat Kampung Bustaman. Identifikasi ketersediaan lahan d Permukiman Kampung Bustaman terhadap ketersediaan lahan yan dipengaruhi oleh kerapatan bang kepadatan hunian dalam satuan ban dilakukan dengan teknik analisis kualitatif yang menginterpretasi wawancara, observasi, foto yang pada kondisi kepadatan yang te wilayah Kampung Bustaman.

Identifikasi kondisi infrastruktur d Permukiman Kampung Bustaman terhadap kondisi infrastruktur yan dipengaruhi oleh jaringan jalan, jari bersih, jaringan drainase, kepemilik dilakukan dengan teknik analisis kualitatif yang menginterpretasi wawancara, observasi, foto yang pada kondisi infrastruktur yang te wilayah Kampung Bustaman.

HASIL PEMBAHASAN

Karakteristik Masyarakat

Terbentuknya suatu permukiman pada dasarnya disebab adanya proses pembentukan hunian wadah fungsional yang dilandasi aktifitas manusia baik yang bersi maupun non fisik (social-buday

kat wilayah a sekunder an data-data rkas terkait as di wilayah . akan dalam rtanyaan dan suai dengan apai yaitu: yarakat di an. Amatan at yang sangat a, pendidikan, an, jumlah ngan teknik atif yang wawancara, pada kondisi di wilayah an. Amatan yang sangat angunan dan bangunan ini sis deskriptif asikan hasil g difokuskan terdapat di di wilayah an. Amatan yang sangat , jaringan air likan MCK ini sis deskriptif asikan hasil g difokuskan terdapat di lingkungan babkan oleh nian sebagai asi oleh pola ersifat fisik daya). Pola

aktifitas manusia baik dalam maupun social dan budaya ce suatu karakteristik yang dap gambaran lebih jelas bah permukiman pada suatu berbeda dengan kondisi l wilayah lainnya. Pola aktifitas karakteristik dari masyarak wilayah permukiman dapat melalui kondisi kependudukan pada wilayah permukiman meliputi sebaran usia, ting jenis mata pencaharian, ting dan jumlah tanggungan tiap K

Sumber: Hasil Olah Data Peneliti, 2013

GAMBAR 2 SEBARAN USIA PENDUDU

BUSTAMAN Sebaran usia yang terg menggambarkan betapa bu hidup yang terdapat di wilay Kampung Bustaman. Namun jumlah sebaran masyarakat terbilang cukup besar merup faktor yang terbilang cuk dalam keberhasilan Sanim Bustaman yang menuntut masyarakat pengembangan p

Sumber: Hasil Olah Data Peneliti, 2013

GAMBAR 3 TINGKAT PENDIDIKAN PENDU

BUSTAMAN

alam bentuk fisik cenderung menjadi dapat memberikan bahwa kehidupan u wilayah dapat lingkungan pada as yang merupakan rakat pada suatu at diidentifikasikan kan yang terdapat an tersebut yang ingkat pendidikan, ingkat pendapatan, KK. 2013 2 UK KAMPUNG N ergolong ekspansif buruknya kualitas ilayah permukiman un, kondisi dimana at usia muda yang rupakan salah satu ukup menentukan mas di Kampung t peran aktif dari

program.

2013

3

DUDUK KAMPUNG N

(5)

Karakteristik Sanimas Di Kampung Bustaman K

Ruang; Vol. 2; No. 1; 2014; hal. 391-400 Pengetahuan, sikap d penduduk Kampung Bust sangat rendah dimana hamp penduduk tidak dapat men dari pendidikan dasar 9 (semb telah dicanangkan oleh pem keberadaan penduduk den sikap dan keterampilan tinggi dari tahun ke tahunnya me bagi masyarakat Kampung Bu proses mempertahankan eksi wilayah Kampung Bustaman.

Sumber: Hasil Observasi Peneliti

GAMBAR 4 MATA PENCAHARIAN PENDU

BUSTAMAN Keterbatasan pegetah keahlian yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Bustam langsung memaksa mereka pada sektor informal. May Kampung Bustaman (59,8%) wiraswasta, buruh bangunan rumah tangga, dan lain sebag

Sumber: Hasil Olah Data Peneliti, GAMBAR 5 SEBARAN PENDAPATAN PEND

BUSTAMAN Namun, dengan pekerjaan y oleh waktu, masyarakat Kam

Kota Semarang R Clarrino Adesety

dan keterampilan staman terbilang pir sebagian besar enyelesaikan lebih mbilan) tahun yang merintah. Namun, engan pendidikan, ggi yang meningkat erupakan potensi Bustaman dalam sistensi Sanimas di n. liti, 2013 4 UDUK KAMPUNG N

ahuan, sikap dan h sebagian besar aman secara tidak ka untuk bekerja ayoritas penduduk ) bekerja sebagai an, pensiunan, ibu againya.

liti, 2013 5

DUDUK KAMPUNG N

yang tidak terikat ampung Bustaman

menjadi memiliki nilai turut berpartisipasi d proses pengembangan terdapat di wilayah hun

Keterbatasan pe keahlian serta jenis p informal secara langsu yang besar terhadap masyarakat Kampung besar penduduk Kamp hanya memiliki pen 500.000 hingga Rp bulannya. Pendapatan melihat nilai UMR Kota 2013 (Rp 1.200.000 observasi terhadap be yang dimiliki oleh tiap terdapat di permukiman rata-rata kepala kel hunian memiliki tangg jiwa/KKnya sehingga d tiap orangnya memiliki 200.000/bulannya.

Ketersediaan Lahan

Daerah perkot sebagai suatu wila penduduk yang relativ areal wilayah (keterse terbatas. Daerah perk memiliki kecenderung yang lebih tinggi pada Kepadatan yang te permukiman dapat dii kerapatan bangunan se dalam satuan bangunan Secara adm Bustaman merupakan dengan luasan areal se terbagi dalam dua wila yaitu RT 04 dan RT 05.

Menurut hasil inte bangunan yang te permukiman Kampun diketahui jika kerap terdapat di wilayah terbilang sangat tinggi. tinggi tersebut dapat keberadaan 175 blok diatas lahan seluas 0,6

etya Jaya dan Diah Intan Kusuma Dewi

| 395 ai luang lebih besar untuk

dalam keberlangsungan an program Sanimas yang

uniannya.

pengetahuan, sikap dan s pekerjaan yang bersifat gsung memiliki pengaruh ap fluktuasi pendapatan ng Bustaman. Sebagian pung Bustaman (56,8%) endapatan sebesar Rp 1.000.000 untuk tiap an yang cukup rendah jika ta Semarang pada tahun 00). Berdasarkan hasil beban tanggungan hidup ap Kepala Keluarga yang man Kampung Bustaman, eluarga tiap bangunan ggungan hidup sebesar 6 a dapat disimpulkan jika iki hak tidak lebih dari Rp

otaan dapat diartikan ilayah dengan jumlah ative besar dengan luasan tersediaan lahan) yang rkotaan pada umumnya ngan tingkat kepadatan ada areal permukimannya. terdapat pada areal diidentifikasi berdasarkan serta kepadatan hunian

annya.

ministrative, Kampung an wilayah perkampungan sebesar 0,6 hektar yang ilayah rukun tetangga (RT)

.

terpretasi terhadap blok terdapat di wilayah ung Bustaman, dapat rapatan bangunan yang ah Kampung Bustaman gi. Kerapatan yang sangat at digambarkan dengan k bangunan yang berdiri ,6 hektar.

(6)

Sumber: Hasil Observasi

KE Sebagian besar blok bangunan terse dasarnya merupakan rumah indu luasan tidak lebih dari 12x4 m kemudian tersekat-sekat kedalam bangunan dengan luasan 3x2 Kerapatan bangunan yang terdapat permukiman Kampung Bustaman ju pada luasan KDB-nya yang menc sedangkan sisanya sebesar 27% m KDH dalam bentuk RTNH perkerasan jalan dan drainase.

Kerapatan dan kepadatan hunian pada dasarnya sangat dipeng

si Peneliti, 2013

GAMBAR 6

KEPADATAN KAMPUNG BUSTAMAN rsebut pada duk dengan meter yang am 4 persil 3x2 meter. at di wilayah juga nampak ncapai 73% merupakan rasan jaringan n bangunan ngaruhi oleh

kondisi masyarakat yang m areal permukiman. Tekanan yang semakin tinggi tiap tah hunian yang sudah padat ini terus memadat. Keberadaan fungsi tumpang tindih p berlanjut. Pertambahan ruan cenderung akan menjadi c meningkatkan fungsi-fungsi semakin kompleks. Secara Kampung Bustaman ditempat sebesar 366 jiwa yang terdiri Keluarga (KK) dimana setiap K

menetap di dalam an penduduk kota ahunnya membuat ini cenderung akan aan ruang dengan pun akan terus ang secara vertical, cara untuk terus gsi hunian yang ara administrative, pati oleh penduduk iri dari 105 Kepala p KK-nya terdiri dari

(7)

Karakteristik Sanimas Di Kampung Bustaman Kota Semarang R Clarrino Adesetya Jaya dan Diah Intan Kusuma Dewi

Ruang; Vol. 2; No. 1; 2014; hal. 391-400 | 397

tidak kurang 4-5 jiwa. Menurut hasil observasi yang telah dilakukan, sebagian besar bangunan hunian yang terdapat di wilayah permukiman Kampung Bustaman ditempati tidak kurang dari 2-4 KK/bangunan huniannya. Sebagaimana penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan jika setiap penduduk di Kampung Bustaman memperoleh ruang tidak lebih dari 1m2 (bangunan hunian dengan luasan 6m2 ditempati 2-4KK yang terdiri dari 4-5 jiwa/KK-nya). Keterbatasan ruang yang terdapat di wilayah permukiman Kampung Bustaman, mengakibatkan terjadinya tumpang tindih fungsi ruang bangunan hunian.

Kondisi Infrastruktur, keberadaan prasarana dasar dalam suatu lingkungan merupakan syarat utama bagi terciptanya suatu kenyamanan hunian (Claire, 1973). Prasarana dasar pada dasarnya merujuk pada system fisik meliputi penyediaan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup social dan ekonomi (Grigg, 1988 dalam Robert J Kodoatie, 2003). System infrastruktur dapat didefinisikan sebagai fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun yang dibutuhkan untuk berfungsinya suatu system social dan ekonomi masyarakat. Infrastruktur dasar lingkungan permukiman dapat diidentifikasi berdasarkan kondisi jaringan jalan, kondisi jaringan drainase, jaringan air bersih, serta kepemilikan MCK dalam bangunan hunian.

Jaringan jalan yang terdapat di wilayah permukiman Kampung Bustaman merupakan jalan yang terdiri dari dua jalur dalam satu lajur dengan lebar badan jalan tidak lebih dari 1,2 meter dan kondisi permukaan jalan yang terbilang sangat baik (datar, tidak bergelombang). Jalan lingkungan tersebut memiliki perkerasan berupa paving blok dimana memiliki tujuan untuk dapat menambah jumlah resapan air kedalam tanah melihat ketiadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terdapat pada areal permukiman. Beberapa permasalahan terkait dengan jaringan jalan dapat digambarkan dengan

kondisi GSB = 0 sehingga tidak terdapat lahan tersisa yang dapat dikembangkan untuk mengoptimalisasi kinerja dari jaringan jalan. Selain itu, beberapa permasalahan lainnya dapat dilihat dari fenomena over service jaringan jalan berupa hambatan samping yang merupakan dampak dari aktivitas masyarakat. Tingginya hambatan samping tersebut dapat digambarkan dengan aktivitas masyarakat Kampung Bustaman sehari-harinya yang memanfaatkan badan jalan sebagai fungsi open space, lahan parker, gudang, dapur, tempat mencuci, dan lain sebagainya sehingga mengakibatkan jaringan jalan hanya dapat dilalui oleh arus pejalan kaki dan kendaraan beroda dua secara bergantian.

Sumber: Hasil Observasi Peneliti, 2013

GAMBAR 7

KONDISI JARINGAN JALAN KAMPUNG BUSTAMAN

Jaringan drainase merupakan prasarana yang berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan penerima air atau ke bangunan resapan buatan yang pada dasarnya harus disediakan pada lingkungan perumahan di wilayah perkotaan. Jaringan drainase yang terdapat di wilayah permukiman Kampung Bustaman memiliki lebar dan kedalaman tidak lebih dari 0,5 meter dengan perkerasan permukaan berupa beton/plester. Type system drainase yang terdapat di permukiman Kampung Bustaman tergolongkan dalam type system drainase terpadu dimana saluran drainase yang mengikuti system jaringan jalan (berada di kedua sisi badan jalan) dan berfungsi sebagai saluran yang menyalurkan air hujan yang jatuh ke Damaja (daerah manfaat jalan) dan air yang jatuh di seluruh kawasan permukiman.

(8)

Sumber: Hasil Observasi Peneliti, 2013

JARIN Jaringan drainase yang terd permukiman Kampung Bustam umumnya tidak hanya berfung menyalurkan air limpasan hujan n menyalurkan air limbah keluarga dari bangunan hunian.

Sesuai dengan SNI 03-tentang tata cara perencanaan perumahan perkotaan, setiap hunian dalam suatu lingkungan harus terdistribusi oleh jaringan air dari perusahaan air bersih maupun bersih lainnya. Berdasarkan hasil terhadap bangunan hunian di pe Kampung Bustaman, hanya terdap bangunan hunian yang telah terlay

Sumber: Hasil Observasi Peneliti, 2013

JARIN

GAMBAR 8

INGAN DRAINASE KAMPUNG BUSTAMAN erdapat di aman pada ngsi untuk namun juga dari tiap-tiap 3-1733-2004 lingkungan bangunan perukiman air bersih baik n sumber air asil observasi permukiman rdapat 5,6% rlayani oleh

jaringan air bersih dalam resapan untuk memenuhi k tangga sehari-hari sedangkan hunian lainnya tidak terlayan bersih baik dalam bentuk PDAM maupun sumur resapan Sebagian besar bangunan-b (86,5% dari total bangunan terdapat di permukiman Kam tidak dilengkapi dengan fasil desain konstruksi bangun Ketiadaan akses sanitasi y bangunan hunian secara m dipengaruhi oleh kerapatan kepadatan penduduk.

GAMBAR 9

INGAN AIR BERSIH KAMPUNG BUSTAMAN

m bentuk sumur i keperluan rumah an 94,6% bangunan ni oleh jaringan air k pipa sambungan pan pribadi.

-bangunan hunian nan hunian) yang ampung Bustaman silitas jamban pada unan huniannya. yang terdapat di ara mendasar sangat an bangunan dan

(9)

Karakteristik Sanimas Di Kampung Bustaman K

Ruang; Vol. 2; No. 1; 2014; hal. 391-400

Sumber: Hasil Observasi Peneliti, 2013

Meskipun sebagian b Kampung Bustaman tidak sanitasi pada bangunan hu pada dasarnya mereka sudah fasilitas sanitasi yang baik. masyarakat Kampung Bustam memanfaatkan MCK Plus sebagai sarana/akses sani mereka sedangkan sisanya merupakan penduduk yang akses MCK Pribadi pada bang MCK Plus Pangrukti Luhur m sanitasi yang telah dilengkapi pengolahan air limbah (be dimana secara prinsip ma limbah manusia menjadi sebagai alternative pengganti KESIMPULAN & REKOMENDA

Kesimpulan

Karakteristik permukim di Kampung Bustaman sebag memberikan pengaruh yan terhadap keberhasilan program Sanimas merupak dengan kondisi kerapatan kepadatan hunian yang sangat berdampak pada tiadanya jari serta fasilitas sanitasi pada b masyarakat Kampung Bustam dengan tingkat perekonomi rendah mengakibatkan se bangunan hunian masyarak Bustaman mengalami tumpan ruang dikarenakan kurangn untuk mengembangkan bangu

Kota Semarang R Clarrino Adesety

2013

GAMBAR 10

JARINGAN AIR BERSIH KAMPUNG BUSTAMAN besar masyarakat

ak memiliki akses huniannya, namun dah terlayani oleh k. Sebagian besar aman (86,5%) telah s Pangrukti Luhur anitasi sehari-hari a (sebesar 13,5%) ng telah memiliki ngunan huniannya. merupakan fasiltas api dengan instalasi berupa fix dome) ampu mengubah i energy biogas ti bahan bakar. DASI

iman yang terdapat bagaimana mampu ang cukup besar pengembangan akan permukiman an bangunan dan gat tinggi sehingga jaringan air bersih a bangunan hunian staman. Selain itu, mian yang sangat sebagian besar arakat Kampung pang tindih fungsi gnya kemampuan

gunan hunian.

Rekomendasi

Sebagaimana yang terdapat di p Bustaman, maka agar p pada wilayah perkotaan teroptimalisasi dan m kegagalan yang terjadi ini akan merekomen Sanimas pada wilayah memiliki karakteristik c 1. Sebagian besar pe kelompok usia pengetahuan, sik terbatas serta perekonomian ren 2. Areal permukim kerapatan bangu hunian yang sangat 3. Sebagian besar mas

oleh jaringan air sanitasi pada ban jaringan drainase yang sangat buruk DAFTAR PUSTAKA Claire, H William. 197 Planning. New Rentrold. Kuswartojo, Tjuk dkk. Permukiman di In SNI 03-1733-2004 perencanaan li perkotaan UU No.1 tahun 2011 t permukiman

etya Jaya dan Diah Intan Kusuma Dewi

| 399 karakteristik Sanimas permukiman Kampung ar pengembangan Sanimas taan lainnya dapat lebih meminimalisasi tingkat rjadi maka dalam penelitian endasikan pembangunan ayah permukiman yang

cenderung kepada : penduduk terdapat dalam

a muda, memiliki sikap dan keahlian yang rta memiliki tingkat

rendah.

iman memiliki tingkat gunan dan kepadatan gat tinggi.

masyarakat tidak terakses air bersih serta fasilitas angunan huniannya serta ase kawasan permukiman

ruk.

73. Handbook on Urban w York: Van Hostrand k. 2005. Perumahan dan i Indonesia. Bandung: ITB

tentang tata cara lingkungan perumahan tentang perumahan dan

(10)

Hadi, Sudharto P. 2001. Dimensi Lingkungan

Perencanaan Pembangunan.

Yogyakarta: UGM Press

Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Kodoatie, R. 2003. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gambar

GAMBAR 1 DELINIASI WILAYAH STUDI idupan  masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

Pada Kampung Pulau Belimbing telah terbentuk permukiman yang kompleks yang ditandai dengan adanya keberagaman suku, adanya pembatasan wilayah masing-masing suku, adanya

perubahan yang signifikan sehingga memberi peluang pengembangan berbasis ekonomi lokal masyarakat kampung Bustaman seperti: kuliner, membuatkan event keseniaan dan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana masyarakat Kampung Warna Warni Jodipan menentukan standar kemiringan dan lebar ramp pada jaringan jalan sebagai bentuk

Jalan Juang yang telah ditingkatkan pada tahun 2013 adalah sepanjang 2.320 meter memiliki lebar rata-rata 3 meter/lajur dua arah dengan lebar pemisah (median) 0,5 meter

Kawasan sekitar pusat kota Yogyakarta memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, sehingga hampir semua tepian jalan dan sungai terisi permukiman (kampung), dan menyisakan

• Jalan dua jalur dengan satu arah, lebar perkerasan minimum 2x7 meter. • Dalam pengembangan sistem jaringan jalan di dalam kawasan industri, juga perlu

Dengan dikembangkannya jaringan jalan untuk lajur pesepeda di Kota Semarang diharapkan dapat mendukung implementasi program pembangunan transportasi kendaraan tidak

Mempertimbangkan opsi untuk melakkukan pelebaran jalan dengan masing – masing lebar dua meter pada setiap lajur dengan melakukan optimalisai perhitungan secara menyeluruh untuk