(Tahun 1950, 1989 dan 2003)
Mohamad Iqbal / 1440101217
Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam
Program Pascasarjana IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten [email protected]
Abstrak
Sejak kemerdekaan RI sampai sekarang, pendidikan Islam terus berkembang seiring perkembangan zaman, Akomodasi madrasah kedalam sistem pendidikan nasional menjadi cikal bakal madrasah sebagai penyelenggara pendidikan Islam yang tunduk kepada sistem pendidikan nasional, madrasah akhirnya dimodifikasi menjadi sekolah yang berciri khas Agama Islam. Setidaknya ada tiga periode pemberlakuan UU Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia sejak Tahun 1950 s.d. sekarang. Tulisan ini akan mengupas sisi tujuan kurikulum Pendidikan Agama Islam menurut UU Sistem Pendidikan Nasional tahun 1950, tahun 1989 dan tahun 2003, semenjak sebelum pemberlakuan kurikulum secara nasional, kurikulum tahun 1973, 1976, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013.
Tujuan Pendidikan yang dirumuskan dalam Undang-Undang Pendidikan Nasional, baik UU No. 4 Tahun 1950 jo UU No 12 Tahun 1954 yaitu menciptakan manusia terdidik Indonesia sebagai “Manusia susila yang cakap dan demokratis serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air” atau UU No. 2 tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia seutuhnya, yaitu “manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan”, dan yang terakhir UU No 20 tahun 2003 yang mencitakan “manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. antara tujuan pendidikan dalam Undang-undang pendidikan tahun 1950, tahun 1989 dan tahun 2003, terdapat pergeseran scara jelas kearah perbaikan (penyempurnaan).
Kata Kunci : Kurikulum, Tujuan, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Abstract
Since the independence of Indonesian Republic until now , Islamic education continues to evolve with the times, Accommodation madrassah into the national education system became the forerunner of Islamic madrassah as education providers who are subject to the national education system, madrassah eventually modified into distinctively Islamic. At least three periods of the implementation of the National Education System Law in Indonesia since 1950 until now. This journal will discuss the objectives of the curriculum of Islamic education in the National Education System Law 1950, 1989 and 2003, since before the implementation of the national curriculum, the curriculum in 1973, 1976, 1984, 1994, 2004, 2006 and 2013 .
Educational objectives formulated in the National Education Act, both Law No. 4 Year 1950 jo Law No. 12 of 1954 which created the human being educated Indonesia as "Humans are capable and democratic decency and responsibility about the welfare of society and the homeland" or Law No. 2 1989 idealize Indonesian fully human beings, the "man who is faithful and devoted to God Almighty and noble character, physically and mentally healthy, have the knowledge and skills, personality steady and independent and have a sense of civic responsibility and nationality", and the latter Act No. 20 of 2003 which aspires "man who is faithful, pious and noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent, and become citizens of a democratic and responsible". Among the goals of education in education law in 1950, 1989 and 2003, there is a clear shift towards improvement.
Keyword : Curriculum , goal, Law on National Education System
Pendahuluan
Pendidikan di Indonesia dewasa ini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS). Dalam penjelasan atas UU RI No 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional dikemukakan bahwa Pendidikan Nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah1.
prasarana serta orang-orang yang terlibat didalamnya untuk mencapai tujuan pendidikan2.
Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional3. Semua orang berkepentingan dengan kurikulum, sebab kita sebagai orang tua, sebagai warga masyarakat, sebagai pemimpin formal ataupun informal selalu mengharapkan tumbuh dan berkembangnya anak, pemuda, dan generasi muda yang lebih baik, lebih cerdas, lebih berkemampuan. Kurikulum mempunyai andil yang cukup besar dalam melahirkan harapan tersebut.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran, menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan. Mengingat pentingnya peran kurikulum dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan peserta didik nantinya, maka pengembangan kurikulum tidak bisa dikerjakan sembarangan harus berorentasi kepada tujuan yang jelas sehingga akan menghasilkan hasil yang baik dan sempurna4.
Disamping itu, program pendidikan harus dirancang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan diorientasikan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang dan akan terjadi. Oleh karena itu, kurikulum sekarang harus dirancang oleh guru bersama-sama masyarakat pemakai.
Untuk bisa merancang kurikulum yang demikian, guru harus memiliki peranan yang amat sentral. Oleh karena itu pula, kompetensi manajemen pengembangan kurikulum perlu dimiliki oleh setiap guru disamping kompetensi teori belajar.
Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang sengaja didirikan dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat (rencana yang sungguh-sungguh) untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam, sebagaimana tertuang atau terkandung dalam visi, misi, program kegiatan maupun pada praktik pelaksanaan pendidikannya. Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) merupakan salah satu perwujudan dari pengembangan sistem pendidikan Islam5.
Sejak kemerdekaan RI sampai sekarang, pendidikan Islam terus berkembang seiring perkembangan zaman, hal ini tidak biasa dipisahkan dengan sejarah perkembangan madrasah dan pesantren sebagai basis pendidikan Islam di Indonesia, yang menemui titik klimaks ketika madrasah diakomodir menjadi pendidikan formal. Akomodasi madrasah ini menjadi cikal bakal madrasah sebagai penyelenggara pendidikan Islam yang tunduk kepada sistem pendidikan nasional, madrasah akhirnya dimodifikasi menjadi sekolah yang berciri khas Agama Islam dan opsi-opsi lain yang berlaku pada masanya. Setidaknya ada tiga periode pemberlakuan UU Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia sejak Tahun 1950 s.d. sekarang. Makalah ini akan mengupas sisi tujuan kurikulum Pendidikan Agama Islam menurut UU Sistem Pendidikan Nasional tahun 1950, tahun 1969 dan tahun 2003.
TUJUAN KURIKULUM PAI DALAM UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN
Kata “Kurikulum” berasal dari kata Yunani yang semula digunakan dalam bidang oleh raga, yaitu currere yang berarti jarak tempuh lari, yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari Start hingga finish. Jarak dari start sampai finish ini kemudian yang disebut dengan currere6.
Dalam bahasa Arab, istilah “kurikulum” diartikan dengan manhaj, yakni jalan yang terang, atau jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupannya7. Dalam konteks pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik / guru dengan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai8. Al-khauly menjelaskan bahwa al-manhaj sebagai seperangkat rencana dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan.
Sementara itu menurut E. Mulyasa9 bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, kompetensi dasar, materi standar, dan hasil belajar, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai hasil kompetensi dasar dan tujuan pendidikan.
Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh banyak ahli, dapat disimpulkan bahwa pengertian kurikulum dapat ditinjau dari dua sisi yang berbeda, yakni menurut pandangan lama dan pandangan baru.
Pandangan lama, atau sering juga disebut pandangan tradisinal, merumuskan bahwa kurikulum adalah ‘sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah’10.
Pengertian kurikulum secara tradisional di atas mempunyai implikasi sebagai berikut : (1). Kurikulum terdiri atas sejumlah Mata Pelajaran. Mata Pelajaran sendiri pada hakikatnya adalah pengalaman nenek moyang di masa lampau. Berbagai pengalaman tersebut dipilih, dianalisis, serta disusun secara sistematis dan logis, sehingga muncul Mata Pelajaran seperti sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat, dan sebagainya; (2). Mata Pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga penyampaian mata pelajaran pada siswa akan membentuk mereka menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berfikir.(3). Mata pelajaran menggambarkan kebudayaan masa lampau. Adapun pengajaran berarti penyampaian kebudayaan kepada generasi muda. (4). Tujuan mempelajari mata pelajaran bagi siswa adalah untuk memperoleh ijazah. Ijazah diposisikan sebagai tujuan, sehingga menguasai mata pelajaran berarti telah mencapai tujuan belajar. (5). Adanya aspek keharusan bagi setiap siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang sama. Akibatnya, faktor minat dan kebutuhan siswa tidak dipertimbangkan dalam penyususunan kurikulum. (6). Sistem penyampaian yang digunakan oleh guru adalah sistem penuangan (imposisi). Akibatnya, dalam kegiatan belajar gurulah yang lebih banyak bersikap aktif, sedangkan siswa hanya bersifat pasif belaka11.
Implikasi perumusan di atas adalah sebagai berikut : (1). Tafsiran tentang kurikulum bersifat luas, karena kurikulum bukan hanya terdiri dari mata pelajaran (cources), tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah.(2). Sesuai dengan pandangan ini, berbagai kegiatan di luar kelas (yang dikenal dengan ekstrakurikuler) sudah tercakup dalalm pengertian kurikulum. Oleh karena itu, tidak ada pemisahan anatara intra dan ekstra kutrikulum. (3). Pelaksanaan kurikulum tidak hanya dibatasi pada keempat dinding kelas saja, melainkan baik di dalam maupun di luar kelas, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. (4). Sistem penyampaian yang dipergunakan oleh guru disesuaikan dengan kegiatan atau pengalaman yang disampaikan. Oleh karena itu, guru harus mengadakan berbagai kegiatan belajar mengajar yang bervariasi, sesuai dengan kondisi siswa. (5). Tujuan pendidikan bukanlah untuk menyampaikan mata pelajaran (cources) atau bidang pengetahuan yang tersusun (subject), melainkan pembentukan pribadi anak dan belajar cara hidup di dalam masyarakat12.
Dari dua sudut pandangan kurikulum di atas bahwa pengertian yang lama tentang kurikulum lebih menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dalam arti sejumlah mata pelajaran atau kuliah di sekolah atau perguruan tinggi, yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat, juga keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan. Demikian pula definisi yang tercantum dalam UU Sisdiknas nomor 2 tahun 1989.
Definisi kurikulum yang tertuang dalam UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 dikembangkan ke arah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan demikian, ada tiga komponen yang termuat dalam kurikulum, yaitu tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara pembelajaran, baik yang berupa strategi pembelajaran maupun evaluasinya13.
Konsep Kurikulum
Kurikulum adalah rencana tertulis tentang kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu dipelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan tersebut, dan evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian kemampuan peserta didik, serta seperangkat peraturan yang berkenan dengan pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada satuan pendidikan tertentu.
Standar Nasional pendidikan adalah pernyataan mengenai kualitas hasil dan komponen-komponen sistem yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah hukum R.I. pada jenjang, jenis atau jalur pendidikan tertentu. Standar Nasional Pendidikan mencakup standar isi, standar pembelajaran, standar pengembangan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, dan standar evaluasi pendidikan yang wajib dicapai oleh masing-masing satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan.
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirinya melalui pengalaman belajar yang bersedia pada jalur, jenis dan jenjang pendidikan tertentu.
Satuan pendidikan adalah lembaga penyelenggaraan pendidikan, seperti kelompok bermain, tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, sekolah, perguruan tinggi, kursus dan kelompok belajar14.
Kurikulum sebagai program studi, Pengertiannya adalah seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh anak didik di sekolah atau di instansi pendidikan lainnya.
Kurikulum sebagai konten, Pengertiannya adalah data atau insformasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informasi lainnya yang memungkinkan timbulnya belajar.
Kurikulum sebagai kegiatan berencana, Kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil.
Kurikulum sebagai hasil belajar, Seperangkat tujuan yang utuh memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil-hasil itu, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan.
Kurikulum sebagai reproduksi kultural, Transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan difahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut.
Kurikulum sebagai pengalaman pelajar, Keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah.
Kurikulum sebagai produksi, Seperangkat tugas yang harus dilakukan ntuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu15.
Dalam sistem pendidikan, kurikulum sebagai salah satu komponen namun kurikulum itu sendiri juga mempunyai beberapa komponen. Hasan Langgulung memandang bahwa kurikulum mempunyai empat komponen utama, yaitu : (1). Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut. (2). Pengetahuan (Knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas, dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut dengan mata pelajaran. (3). Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka kearah yang dikehendaki oleh kurikulum. (4). Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut16.
Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan yang sangat berperan dalam mengantarkan pada tujuan` pendidikan yang diharapkan, harus mempunyai dasar-dasar yang merupakan kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum, susunan dan organisasi kurikulum.
mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability and needs of children ).(2). Dasar Sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntunan yang sah dari masyarakat (the legitimate demands of society), (3). Dasar Filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup (the kind of universe in which we live)17.
Sementara itu Al-Syaibani menawarkan dasar-dasar kurikulum sebagai berikut : (1). Dasar Agama, tujuan dan kurikulumnya pada dasar agama Islam dengan segala aspeknya. Dasar agama ini dalam kurikulum pendidikan Islam jelas harus berdasarkan pada al-Qur’an, as- Sunnah dan sumber-sumber yang bersifat furu’ lainnya. (2). Dasar Falsafah, dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan Islam secara filosofis, sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik ditinjau dari sisi ontology, epistemologi, maupun aksiologi. (3). Dasar psikologi, dasar ini memberikan landasan dan perumusan bahwa dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan psikis peserta didik, sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya. (4). Dasar Sosial, dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum Pendidikan Islam yang tercermin pada dasar sosial yang mengandung ciri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya. Baik dari segi pengetahuan, nila-nilai ideal, cara berfikir dan adat kebiasaaan, seni dan sebagainya. Kaitannya dengan kurikulum pendidikan Islam sudah tentu kurikulum ini harus mengakar terhadap masyarakat dan perubahan dan perkembangannya18.
Pengembangan Kurikulum PAI
Pengembangan kurikulum pendidikan Islam (PAI) dapat diartikan sebagai: (1). Kegiatan menghasilkan kurikulum PAI atau (2). Proses yang mengaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum PAI yang lebih baik; dan atau (3). Kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum PAI.
Fungsi Kurikulum PAI
Bagi sekolah / madrasah yang bersangkutan : (a). Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam yang diinginkan atau dalam istilah KBK disebut standar kompetensi PAI, meliputi fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional, kompetensi lintas kurikulum, kompetensi tamatan / lulusan, kompetensi bahan kajian PAI, kompetensi mata pelajaran PAI (TK, SD / MI, SMP / MTs, SMA / MA), kompetensi mata pelajaran kelas (I, II, III, IV, V, VI, VII< VIII, IX, X, XI, XII). (b). Pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan agama Islam di sekolah / madrasah.
Bagi Sekolah / Madrasah diatasnya : (a). Melakukan penyesuaian, (b). Menghindari keterulangan sehingga bros waktu, (c). Menjaga kesinambungan.
Bagi masyarakat : (a). Masyarakat sebagai pengguna lulusan (users), sehingga sekolah / madrasah harus mengetahui hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam konteks pengembangan PAI. (b). Adanya kerjasama yang harmonis dalam hal pembenahan dan pengembangan kurikulum PAI21.
Tujuan Pengembangan Kurikulum
Istilah yang digunakan untuk menyatakan tujuan pengembangan kurikulum adalah goals dan objectives. Makna tujuan, khususnya tujuan pendidikan nasional adalah berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab22.
Secara lebih jauh, tujuan berfungsi sebagai pedoman bagi pengembangan tujuan-tujuan spesifik (objectives), kegiatan belajar, implementasi kurikulum, dan evaluasi untuk mendapatkna balikan (feedback).
Mengingat pentingnya tujuan, tidak heran jika perumusan tujuan menjadi langkah pertama dalam pengembangan kurikulum. Filosofi yang dianut pendidikan atau sekolah biasanya menjadi dasar pengembangan tujuan. Oleh karena itu, tujuan hendaknya merefleksikan kebijakan, kondisi masa kini dan masa depan, prioritas, sumber-sumber yang sudah tersedia, serta kesadaran terhadap unsur-unsur pokok dalam pengembangan kurikulum23.
Kurikulum dan Tujuan Pendidikan
diarahkan. Selanjutnya untuk mencapai tujuan pendidikan, sekolah menyusun kurikulum tertentu sebagai pedoman dalam proses pembelajaran24.
Perkembangan Tujuan Kurikulum PAI sesuai dengan UU SISDIKNAS
Proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 merupakan tonggak awal dimulainya pembangunan negara pada segala bidang, termasuk pendidikan. Pada masa awal kemerdekaan tersebut, tingkat pendidikan penduduk Indonesia sangat rendah. Betapa tidak, saat itu sekitar 70 juta jumlah penduduk Indonesia, hanya sekitar 5% yang melek huruf. Sisanya 95% buta aksara25.
Para pendiri negara sangat menyadari pentingnya aspek pendidikan dalam pembangunan bangsa. Oleh karenanya, mereka dengan sadar meletakan dasar-dasar yang kokoh sebagai landasan pembangunan pendidikan. Hal ini tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan secara tersurat bahwa salah tujuan nasional adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Selanjutnya, dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 31 secara eksplisit ditegaskan bahwa “setiap warga negara berhak mendapat pengajaran”.
Tujuan Pendidikan yang dirumuskan dalam Undang-Undang Pendidikan Nasional, baik UU No. 4 Tahun 1950 jo UU No 12 Tahun 1954 yang menciptakan manusia terdidik Indonesia sebagai “Manusia susila yang cakap dan demokratis serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”26 atau UU No. 2 tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia seutuhnya, yaitu “manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan”27, dan yang terakhir UU No 20 tahun 2003 yang mencitakan “manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”28.
Bila dibandingkan secara detail, antara tujuan pendidikan dalam Undang-undang pendidikan tahun 1950, tahun 1989 dan tahun 2003, terdapat pergeseran scara jelas kearah perbaikan (penyempurnaan)29.
UU No 4 Tahun 1950 jo. UU Nomor 12 Tahun 1954
UU No 4 Tahun 1950 jo. UU Nomor 12 Tahun 1954 merupakan Undang-Undang tentang sistem Pendidikan Nasional yang pertama di Indonesia. Tentu saja, penyelenggaraan pendidikan tidak lahir begitu saja tanpa melalui proses perjalanan panjang; proses pendidikan itu sendiri. Meski Undang-Undangnya telah terbentuk pada tahun 1950, tetapi proses pendidikan masih berlangsung dengan sistem kolonial, dan baru mengalami perubahan setelah undang-undangnya mulai berlaku, dari UUD RIS menjadi UUD Negara Kesatuan, dari sistem pendidikan bagi negara kesatuan30.
tentang sistem pendidikan nasional yang pertama kita miliki. Undang-Undang ini secara revolusi dapat direvisi setelah negara ini berjalan empat tahun, karena Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional lahir dengan Undang-Undang tentang Pendidikan dan Pengajaran Nomor 12 Tahun 1950 sampai dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1954, pendidikan di Indonesia memang mengalami perubahan dari sistem pendidikan kolonial menjadi sistem pendidikan yang lebih memperhatikan rakyat yang baru saja merdeka. Meski setelah mencapai kemerdekaan pada tahun 1945, dengan sistem pendidikan kolonial yang masih bercokol kuat, pemerintah berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi amanat proklamasi “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan dilaksanakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.
Dalam urusan pendidikan, pada tanggal 29 desember 1945 BPKNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) telah mengusulkan kepada Kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP dan K) satu rencana pokok pendidikan dan pengajaran yang baru akhirnya melahirkan UU Nomor 4 Tahun 1950 tentang Sistem Pendidikan Nasional. BPKNIP telah membuat surat Keputusan Tanggal 1 Maret 1946 Nomor 104/Bg. 0, untuk membentuk Panitia Penyelidik Pengajaran RI dibawah pimpinan Ki Hajar Dewantara yang dibantu seorang penulis Soegarda Poerbakwatja yang menghasilkan “kurikulum” baru bagi bagi Sistem Pendidikan yang masih berbau kolonialistik pada saat itu31.
Hasil karya Panitia Penyelidik Pengajaran inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kurikulum petama di Indonesia yang ketika itu istilah “kurikulum” belum diadopsi dalam Bahasa Indonesia. Itulah sebabnya kurikulum pertama terkenal dengan nama “Rencana Pelajaran 1947”, yang kemudian menjadi cikal bakal tersusunnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 yang sekaligus menjadi Undang-Undang Sistem Pendidikan dan Pengajaran yang pertama di Indonesia pada tanggal 2 April 1950.
Dalam Bab II Pasal 4 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950, dasar pendidikan dirumuskan sebagai berikut “manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”32.
Tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 Dalam Bab III Pasal 3 disebutkan bahwa tujuannya pendidikan nasional adalah “Membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”33.
Pada sisi Pendidikan Islam, kondisi kurikulum sejak diberlakukan UU system pendidikan Nasional Tahun 1950, sebelum tahun 1973 kurikulum madrasah sebagai pengembang pendidikan agama Islam yang utama menurut Muhajir belum muncul secara nasional. Praktis kurikulum madrasah masih ditentukan oleh lembaga madrasah masing-masing, tentunya terjadi perbedaan antar satu madrasah dengan madrasah lainnya. Dari sisi content kurikulum Pendidikan Islam (Madrasah) masih didominasi muatan agama dengan prosentasi muatan agama lebih besar dari pada muatan umum34.
pertama tahun 1950, salah satu pasalnya berrbunyi : ”belajar di sekolah Agama yang telah mendapat pengakuan Menteri Agama dianggap telah memenuhi kewajiban belajar”. Diikuti dengan pendirian Madrasah Wajib Belajar oleh Departemen Agama dengan tujuan untuk pembangunan jiwa bangsa guna kemajuan di lapangan ekonomi, industrialisasi dan swadaya. Di MWB anak tidak hanya dididik pengetahun umum dan agama35, tetapi juga keterampilan untuk mendukung kesiapan siswa berproduksi dengan swadaya dan keterampilan yang diperoleh di MWB36.
Kurikulum madrasah pada zaman ini belum tersusun secara nasional, sehingga tujuan kurikulumnya pun belum teridentifikasi, kecuali melalui peraturan menteri Agama dan MWB nya.
Tujuan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Tahun 1973, belum teridentifikasi secara jelas, hanya ada sedikit kemajuan tentang posisi madrasah sebagai motor pendidikan Agama Islam, yaitu posisi kurikulum madrasah telah diakui secara nasional, sehingga posisi madrasah secara politis menjadi kuat di bawah otoritas Departemen Agama.
Tujuan Kurikulum 1976, kurikulum ini tersusun berdasarkan SKB tiga menteri pada tahun 1975. Mukti Ali sebagai Menteri Agamanya berusaha memodernisasi berbagai aspek politik keagamaan di Indonesia, antara lain; konsep negara modern yang cocok dengan kultur keagamaan di Indonesia, pembaharuan pemikiran, dialog antar umat beragama, modernisasi lembaga keagamaan sampai pembaharuan kurikulum lembaga pendidikan Agama Islam37.
Tujuan Kurikulum 1984, tidak mengubah semua hal dalam kurikulum 1975, meski mengutamakan proses tapi faktor tujuan tetap dianggap penting. Oleh karena itu kurikulum 1984 disebut kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi Siswa dalam kurikulum 1984 diposisikan sebagai subyek belajar. Dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan, menjadi bagian penting proses belajar mengajar, inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL)38.
Dalam sisi pendidikan Islam, menteri Agama ketika adalah Munawir Sadzali terkenal dengan terobosannya ‘mendamaikan’ kaum nasionalis dan agama di Indonesia, dengan inti pemikiran bahwa “tidak ada ketetapan doktrinal yang mengharuskan kaum muslimin untuk mendirikan negara islam”. Sehingga kehadiran Munawir sadzali dapat mencairkan ketegangan ideologis masa itu39.
UU SISDIKNAS No. 2 Tahun 1989
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadi pemicu lahirnya kurikulum 1994. Dalam UU sistem pendidikan Nasional pasal 37 nomor 2 tahun 1989, menyatakan bahwa : “Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan”40.
islam yang diselenggarakan oleh Departemen Agama masing-masing disebut Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) 41.
Uraian diatas menunjukan bahwa UU SPN No. 2 tahun 1989 memberikan warna baru untuk lembaga pendidikan Islam dimana dengan diberlakukannya UUSPN No 2 tahun 1989 madrasah-madrasah mendapat perlakuan yang sama dengan sekolah umum lainnya karena dalam UUSPN tersebut madrasah dianggap sebagai sekolah umum yang berciri khas Islam dan kurikulum madrasah sama persis dengan sekolah umum plus pelajaran agama islam sebanyak tujuh mata pelajaran42.
Selanjutnya dalam UU Sisdiknas no 2 tahun 1989 yang diatur oleh PP No. 28 dan 29 dan diikuti oleh SK menteri pendidikan dan Menteri Agama, menyebutkan bahwa madrasah adalah sekolah yang beciri khas agama Islam. Maka Mi, MTs dan MA memiliki kurikulum yang sama dengan sekolah pada tingkat pendidikan dasar dan pedidikan menengah, ditambah dengan ciri keislamannya yang ada pada kurikulum Madrasah yaitu memiliki pelajaran agama yang lebih dari sekolah43.
Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implementasi UU Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989 semakin mengukuhkan Madrasah kedalam Sistem pendidikan Nasional dengan mengakomodir menjadi disamakan dengan sekolah pada levelnya dengan penambahan ciri khas agama Islam yang berakibat penambahan jam mata pelajaran agama disamping mata pelajaran umum. Maka jika tantangan ini dihadapi dan direalisasikan secara konsekuen, maka Madrasah akan menjadi Sekolah Plus, tetapi kalau tidak justeru akan sebaliknya tidak berkualitas pada pelajaran umum secara kualitatif juga ketinggalan pada pendidikan agama yang tidak bisa mengejar lulusan pesantren secara kualitatif pula44.
UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003
Kedudukan madrasah sebagai penyelenggaraan pendidikan berciri khas Islam semakin kokoh dengan diundangkannya UU sisdiknas nomor 20 tahun 2003, yang merupakan bagian dari system pendidikan nasional secara utuh.
Tujuan Kurikulum tahun 2004; pada kurikulum tahun 2004 biasa disebut dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), disebutkan bahwa kurikulum dikembangkan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan nasional pendidikan, potensi daerah dan peserta didik. Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh pemerintah.
Perbedaan kurikulum tahun 1973, 1984, 1994 dan 2004 adalah sangat tajam pada kurikulum 2004, karena beralih ke kompetensi dan berorientasi proses serta tujuan (hasil). Ini yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya.
bentuk tingkah laku siswa.(3). Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan Tujuan, (4). Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa. (5). Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan45.
Uraian diatas, dapat dianalisis bahwa perkembangan dan pergeseran tujuan pendidikan Agama Islam sejak tahun 1973 sampai dengan kurikulum tahun 2006 bergeser secara dinamis, kearah perbaikan dan penyempurnaan. Karena tujuan pendidikan Agama telah muncul secara nasional.
Tujuan Kurikulum tahun 2013; adalah pengembangan dari kurikulum tahun 2006, dengan penambahan pendidikan karakter di dalamnya.
Tujuan pendidikan ini berbeda dengan taksonomi tujuan pedidikan menurut Benjamin S. Bloom. Ranah tujuan pendidikan yang digunakan dalam Kurikulum 2013 adalah ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sementara taksonomi tujuan pendidikan menurut Bloom adalah ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sama-sama tiga ranah, tetapi penyebutannya yang berbeda, karena ranah sikap mendapatkan tempat pertama dalam Kurikulum 2013. Penjabaran ketiga ranah tujuan menurut Bloom menjadi K1 sampai K6, A1 sampai A5, dan P1 sampai dengan P7 sebenarnya untuk menjadi acuan bagi guru untuk menetapkan tujuan secara operasional dalam ketiga ranah tersebut, yang tentu saja kesemuanya akan menjadi mempribadi dalam diri pesera didik46.
Dalam tiga ranah tujuan pendidikan menuurut Bloom, ranah kognitifnya telah direvisi dari ranah kognitif lama menjadi ranah kognitif baru, yakni dari rumusan kata benda dalam ranah kognitif lama menjadi kata kerja dalam ranah kognitif baru. Di samping itu juga dalam aspek urutan kategori ke-5 menjadi ke-6, yakni dari “synthesis-evaluation” menjadi “evaluating-creating47’.
Pendidikan Agama diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi (Pasal 37)48.
PENUTUP
Dewasa ini, pentingnya peran dan fungsi kurikulum memang sudah sangat disadari dalam sistem pendidikan nasional. Ini dikarenakan kurikulum merupakan alat yang krusial dalam merealisasikan program pendidikan , baik formal maupun nonformal, sehingga gambaran sistem pendidikan dapat terlihat jelas dalam kurikulum tersebut. Dengan kata lain sistem kurikulum pada hakikatnya adalah sistem pendidikan itu sendiri.
Sejalan dengan tuntunan zaman, perkembangan masyarakat, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia pendidikan sudah menginjakan kakinya ke dalam dunia inovasi. Inovasi dapat berjalan dan mencapai sasarannya, jika program pendidikan tersebut direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan tuntunan zaman.
Hubungan antara pendidikan dan kurikulum adalah hubungan antara tujuan dan isi pendidikan. Suatu tujuan baru akan tercapai bila isi pendidikan tepat dan relevan dengan tujuan tersebut. Dengan kata lain bahwa isi yang tepat atau kurikulum yang sesuai yang akan mengantarkan ke area rahapai tujuan pendidikan.
DAFTAR PUSAKA
Ahmad, Dkk, Pengembangan Kurikulum, (Bandung : PT. Pustaka setia, 1998) Arifin, Zainal, Konsep dan model pengembangan Kurikulum ( Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya, 2011)
Depdiknas, Wajib Belajar Pendidikan Dasar 1945-2007, (Jakarta; Depdiknas, 2007).
Farhan, Syaddad Ahmad, analisis terhadap kebikakan perubahan UUSPN no 2 Tahun 1989 menjadi UU SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 dalam www.suarapembaharuan,com
Hamalik, Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya , 2007).
________________ Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2006)
Himpunan Peraturan Perundang-undangan, Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, (Bandung : PT. Fokus Media, 2005)
Himpunan Peraturan Perundang-undangan, Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, (Bandung; PT. Fokus Media, 2005), hal. 98.
http://reyfan13.blog.com/2011/12/17/perbedaan-kurikulum-1984-1994-2004-2006/
http://suparlan.com/1535/2014/04/14/reorientasi-tujuan-pendidikan-nasional-kita/ http:www/husnirahim.com, dalam Muhajir, Pergeseran Kurikulum,
Jumhur dan Dana Saputra, Sejarah Pendidikan di Indonesia Khusus Madrasah, (Bandung; CV. Ilmu, 1976)
Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta; PT. Pustaka al-Husna, 1988)
Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya (Ciputat; Logos Wacana Ilmu, 1999)
Muhaimin dan Mujib, abdul, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung : PT. Trigenda Karya, 1993).
___________ Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Pustaka al-Husna). ___________ Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di sekolah,
Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada 2005).
Mulyasa, E, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung, : PT. Remaja Rosdakarya, 2006)
Muslihah, Eneng Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta; PT. Diadit Media, 2010), hal. 73
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : PT. Kalam Mulia, 2004).
Sofan Amri, dan Ahmadi, Iif khoiru, Kontruksi Pengembangan pembelajaran; Pengaruhnya Terhadap Mekanisme dan Praktik Kurikulum, ( Jakarta : PT. Prestasi Pustaka Publisher, 2010)
Syaodih, Nana, sukmadinata, Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2006).
Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nomor 2 tahun 1989, pasal 4.
Karya, 2006). Hal.v.
4 Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Kontruksi Pengembangan Pembelajaran; Pengaruhnya Terhadap Mekanisme dan Praktik Kurikulum (Jakarta; PT. Prestasi Pustaka Publisher, 2010), hal 61-62.
5 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, (Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2005), hal.1.
6 M. Ahmad, dkk. Pengembangan Kurikulum, (Bandung; PT. Pustaka Setia, 1989) hal. 9 7 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta; PT. Kalam Mulia, 2004), hal. 128.
8 Muhaimin, op.cit, hal 1.
9 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung; PT. Remaja Rosda Karya, 2006), hal. 46. 10 Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung; PT. Remaja Rosda Karya, 2007), hal. 3.
11 Ibid, hal. 4. 12 Ibid, hal.5.
13 Muhaimin, Op.cit. hal.2.
14 Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 2006) hal. 91.
15 Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung; PT Trigenda Karya, 1993) hal. 185.
16 Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta; PT. Pustaka al-Husna, 1988), hal. 303. 17 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Op-Cit, hal.131.
18 Ibid, hal. 132.
19 Contoh, tasrif, teladan, pedoman; dipakai untuk menunjukkan gagasan-gagasan sistem pemikiran; bentuk kasus dan pola pemecahannya. Pius A Partanto, M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya; PT. Arkola, 1994), hal. 556.
20 Muhaimin, 21 Ibid. Hal. 11-12
22Himpunan Peraturan Perundang-undangan, Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, (Bandung; PT. Fokus Media, 2005), hal. 98.
23 Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Op-Cit, hal. 187. 24 Eneng Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta; PT. Diadit Media, 2010), hal. 73
25 Depdiknas, Wajib Belajar Pendidikan Dasar 1945-2007, (Jakarta; Depdiknas, 2007). Hal. 2.
26 Lihat Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya (Ciputat; Logos Wacana Ilmu, 1999) hal. 130. 27Undang-Undang Sistem Pendidikan Nomor 2 tahun 1989, pasal 4.
28Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003
29 Muhajir, Pergeseran Kurikulum, hal. 151. 30 http://suparlan.com/1554/2014/05/28 31 Ibid.
32 Ibid. 33 Ibid.
34 Muhajir, Pergeseran Kurikulum Madrasah, (Jakarta, Hartomo Media Pustaka, 2013), hal. 51.
35 Bahkan disebut bahwa pengetahuan agamanya hanya 25%, hal ini yang kemudian menjadi pemicu bahwa MWB tidak memenuhi standar pendidikan Islam, akhirnya MWB pun gulung tikar. Jumhur dan Dana Saputra, Sejarah Pendidikan di Indonesia Khusus Madrasah, (Bandung; CV. Ilmu, 1976), hal.227.
36 http:www/husnirahim.com, dalam Muhajir, Pergeseran Kurikulum, hal 152. 37 Ali Munhanif dalam Muhajir, hal. 155.
38 http://reyfan13.blog.com/2011/12/17/perbedaan-kurikulum-1984-1994-2004-2006/ 39 Op-Cit. Hal. 156.
40 Ibid. Hal. 63 41 Ibid, hal. 76.
42 Syaddad Ahmad Farhan, Analisis terahadap kebijakan perubahan UUSPN no 2 tahun 1989 menjadi UU SISDIKNAS no 20 tahun 2003 dalam http:www//suarapembaharuan.com
43 Op-Cit, hal.77. 44 Ibid,
45 http://reyfan13.blog.com/2011/12/17/perbedaan-kurikulum-1984-1994-2004-2006/ 46 http://suparlan.com/1535/2014/04/14/reorientasi-tujuan-pendidikan-nasional-kita/ 47 Ibid.