• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transportasi di Negara Thailand Hukum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Transportasi di Negara Thailand Hukum"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Pertama-tama, Penulis memanjatkan segala puji syukur kepada Tuhan YME, yang atas berkat, rahmat, dan pimpinan-Nya sajalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sistem Transportasi Darat, Laut, dan Udara di Negara Thailand”. Tanpa bimbingan-Nya penulis tidak akan dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan memuaskan.

Segala kehormatan dari pembuatan makalah ini penulis sampaikan kepada Beliau. Juga terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ahmad Sudiro, S.H., M.H, M.M. dan kepada Bapak Bobby, selaku Dosen dan asisten Dosen mata kuliah Hukum Pengangkutan yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada penulis dalam pembuatan makalah tersebut. Setiap pengajaran yang diberikan penulis gunakan untuk menyusun makalah ini. Demikian pula dengan kesempatan yang ada, yang tidak penulis sia-siakan begitu saja.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu selama pembuatan makalah ini, dimulai dari keluarga penulis yang selalu memberikan dukungan selama pembuatan makalah, sampai dengan Dosen dan teman-teman penulis yang telah menjadi teman sharing dan memberikan banyak masukan kepada penulis.

Makalah yang berjudul “Sistem Transportasi Darat, Laut, danUdara di Negara Thailand” ini dibuat untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Hukum Pengangkutan. Makalah ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:

1. Sistem Pengangkutan Darat yang dibuat oleh Grace; 2. Sistem Pengangkutan Laut yang dibuat oleh Lina; dan 3. Sistem Pengangkutan Udara yang dibuat oleh Wenny. 4. Tambahan: Cover, Latar belakang, Daftar Isi  Wenny

Tambahan: Pendahuluan Lina dan Wenny

Tambahan: Penutup (Kesimpulan dan Saran)Grace

(2)

Kebijakan mengenai Liberalisasi Jasa Transportasi Laut, Layanan Transportasi Maritim, dan Rencana/Kebijakan Thailand terhadap Liberalisasi

Sistem pengangkutan udara terdiri dari Pembahasan Sistem Transportasi menurut Undang-Undang, dan Beberapa Lampiran atau Tambahan.

Dalam pembuatan makalah ini mulai dari pengumpulan, data, penyusunan, sampai dengan analisis dan pembahasan penulis menemui berbagai masalah, diantaranya:

1. Kurangnya bahan yang ada,

2. Adanya bahan namun dalam bahasa Inggris, dan bahasa Thailand itu sendiri. Sehingga menyulitkan penulis untuk memahami arti dari bahan yang dimaksud

3. Dan lain sebagainya.

Dalam pembuatan makalah ini pun penulis telah melakukan beberapa kali pergantian topik Negara.Diawali dengan pemilihan Negara China yang terdengar mudah karena fasih di telinga penulis, yang namun dalam penelitiannya diketahui sangat sulit untuk dibuatkan makalahnya, dikarenakan kebanyakan data tidak tersedia dalam versi bahasa Inggris, sampai dengan beberapa pertimbangan Negara sampai penulis memilih Negara Thailand. Negara Thailand dipilih salah satunya karena Negara tersebut merupakan Negara yang sedang berkembang dengan pesat, dekat dengan Indonesia, serta memiliki sistem hukum civil law, sehingga lebih mudah dilakukan penelitian normative nantinya. Kesulitan lainnya adalah menyatukan ide dari tiga penulis yang berlainan.Penulis mengalami kesulitan untuk bertemu di luar jam perkuliahan mata kuliah yang diambil atau yang memberikan tugas ini.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis mengumpulkan data dari Perpustakaan, Internet, dan melakukan beberapa diskusi.Diskusi hanyalah diskusi internal yaitu antara anggota kelompok.Itupun melalui media internet dan hanya diskusi ringan sesekali. Makalah yang ada kemudian dikumpulkan menjadi satu dan dibuatkan Halaman Judul, Kata Pengantar, Latarbelakang, Kesimpulan, dan Saran.

(3)

memperkaya pengetahuan para Dosen dan mahasiswa mengenai system transportasi di Thailand, terutama di bidang hukumnya.Untuk masyarakat sendiri penulis berharap, dapat memperkaya pengetahuan mereka mengenai system transportasi di Thailand.

Makalah ini masih jauh dari sempurna.Penulis meminta maaf jika ada kesalahan kata dalam makalah ini.Penulis juga membuka peluang untuk kritik dan saran.Akhir kata selamat membaca.

Jakarta, 5 Desember 2013

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Rumusan Masalah

BAB II: SISTEM PENGANGKUTAN DARAT DI NEGARA THAILAND (Grace)

BAB III: SISTEM PENGANGKUTAN LAUT DI NEGARA THAILAND (Lina)

BAB IV: SISTEM PENGANGKUTAN UDARA DI NEGARA THAILAND (Wenny)

BAB VI: PENUTUP 1. Kesimpulan 2. Saran

DAFTARPUSTAKA

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Terletak di tengah-tengah South East Region Asia dan Greater Mekong Subregion, Thailand memiliki mengklaim dirinya sebagai pusat perdagangan yang berkembang cepat dan gateway potensial yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan daerah. Untuk memperbesar Volume perdagangannya, baik secara nasional maupun secara internasional dibutuhkan pembangunan dalam bidang transportasi.

Jasa pengiriman internasional Thailand yang sebagian besar terbuka untuk semua operator baik operator dalam negeri Thailand ataupun operator yang berasal dari perusahaan asing menyebabkan peraturan mengenai sistem transportasi di negara Thailand semakin penting dan relevan untuk dibahas.

Dari segi mahasiswa Indonsia sendiri, Thailand memiliki banyak keunggulan, diantaranya:

1. Thailand merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang cukup berkembang perekonomiannya

2. Thailand berbatasan secara kelautan dengan negara Indonesia.

3. Thailand memiliki sejumlah kerjasama dengan negara Indonesia, terutama dalam ekspor-impor yang membutuhkan sarana pengangkutan,

4. Thailand memiliki sistem hukum yang sama dengan Indonesia yaitu Civil Law sehingga lebih mudah dalam pembelajaran.

Dari negara Thailand sendiri, sudah mulai mempelajari seluk beluk perundangan Indonesia. Hal tersebut dilihat dari giatnya pelajar Thailand mempelajari bahasa Indonesia.

(6)

Pembangunan di bidang transportasi mencakup tiga aspek utama, yaitu pembangunan di bidang transportasi darat, pembangunan di bidang transportasi laut, dan pembangunan di bidang transportasi udara. Setiap bidang memiliki peraturan hukum dan kebijakannya sendiri-sendiri yang menarik untuk dibahas.

menjadi nilai tugas akhir mahasiswa, mata kuliah Hukum pengangkutan.

1. Permasalahan

Dalam rangka membedah sistem transportasi di negara Thailand, penulis membagi rumusan masalah penulis menjadi:

(7)

BAB II

SISTEMPENGANGKUTANLAUT DI THAILAND By Grace

Thailand sebagai negara yang cukup maju, memiliki sitem pengangkutan yang cukup maju pula . termasuk sistem pengangkutan daratnya . pada system pengangkutan darat di Thailand , Thailand memiliki taksi , BTS , MRT ,Bus , dan kereta api. Namun penulis akan membahas BTS , karena disini Thailand dikenal dengan BTS (Bangkok Mass Transit System) . BTS ini memiliki 32 stasiun di dua jalur trayek . yaitu sukhumvit- Bearing , dan jalur trayek silom yang menghubungkan kawasan Silom dan Sathon Road di pusat kota Bangkok.

Panjang total jalur BTS adalah 55 kilometer, dan alat pengangkutan ini dapat mengakomodasi pergerakan 500.000 warga kota Thailand . Kecepatan rata-rata kereta ini 35 kilometer perjam.

Mengapa saya membahas BTS ini dalam pengangkutan darat? Padahal pada dasarnya BTS ini sendiri tidak berada di darat. Karena saya menganggap BTS yang basic nya masih kereta yang menyambung dengan jalur rel kereta bawah tanah Thailand (MRT) masih merupakan alat transportasi / pengangkutan darat. Rel nya bts pun masih menancap dengan bantuan daratan .

(8)

BAB III

SISTEM TRANSPORTASI LAUT THAILAND By Lina Dwi Yulianing Tyas

A. Industri Transportasi Maritim di Thailand 1. Ukuran Armada Merchant

Perdagangan lewat laut internasional Thailand telah meningkat terus dan cepat, khususnya selama dekade terakhir. Namun demikian, hanya sekitar 10 sampai 12 persen dari total volume perdagangan dilakukan oleh Kapal bendera Thailand. Hal ini disebabkan armada nasional relatif kecil. Thailand merchant armada telah meningkat dari 133 unit dengan total daya dukung 585.873 DWT di 1981-390 kapal dengan kapasitas 3.529.299 DWT pada tahun 2000.

Akibatnya, sebagian besar volume perdagangan yg berlayar di laut Thailand masih bergantung pada luar negeri jasa pengiriman. Hal ini terkadang menyebabkan isu-isu kontroversial yang dituduhkan oleh pengirim Thailand sebagai tidak adil meningkatkan tarif angkut dan biaya tambahan yang tidak perlu.

2. Kapasitas Kargo Throughput dan Pelabuhan

(9)

throughput yang sebenarnya dari 1.828.000 TEU melebihi kapasitas yang ada dari 1.650 juta TEU untuk pertama kalinya.

Pada tahun 2001 throughput yang sebenarnya telah meningkat menjadi 2.371.000 TEU dan menyebabkan lalu lintas kargo lamban melalui pelabuhan. Menanggapi situasi, Port Authority of Thailand, sebagai penanggung jawab, telah menerapkan port Rencana ekspansi dengan mengembangkan cekungan kedua dan mengundang partisipasi swasta pada Build Operate-Transfer (BOT) dasar. Diharapkan bahwa pada penyelesaian cekungan kedua, kapasitas Pelabuhan Laem Chabang akan meningkat menjadi 3,5 juta TEU, yang mungkin tidak akan cukup jika volume kargo meningkat secara dramatis.

B. Thailand pada Negosiasi Layanan Transportasi Maritim di Bawah GATTS

Thailand telah secara teratur berpartisipasi dalam Negosiasi Maritime Transport Services dari awal negosiasi selama Putaran Uruguay. Menanggapi permintaan mitra dagangnya, Thailand menawarkan untuk membuka pasarnya dengan keterbatasan tertentu pada akses pasar dan perlakuan nasional oleh mengirimkan komitmen yang spesifik dalam 7 sub-sektor jasa transportasi laut, yaitu:

 Angkutan Penumpang Internasional (CPC 7211)  International Freight Transport (CPC 7212)  Towing Services International (CPC 7214)  Fasilitas Shore Penerimaan

 Kapten Jasa pelabuhan melekat pada kapal asing tertentu

 Survei Kelautan dan Klasifikasi Societies untuk tujuan memberikan akurat documentasi dan sertifikasi kapal

 Freight Forwarding Jasa

Dalam jadwal komitmen spesifik keterbatasan pada akses pasar terutama pada komersial keberadaan dan kehadiran orang alami yang dapat diringkas sebagai berikut:

(10)

1. Tidak ada batasan dalam hal transportasi internasional penumpang, internasional transportasi barang dan jasa penarik internasional, tapi tanpa komitmen dalam hal mendirikan badan hukum untuk mengoperasikan sebuah kapal di bawah bendera Thailand;

2. Sehubungan dengan fasilitas penerimaan darat, kapten pelabuhan, survei laut dan angkutan jasa forwarding, komitmen dibatasi hanya untuk perusahaan terbatas secara hukum mengatur di bawah hukum Thailand dengan modal asing tidak melebihi 49 persen.

(B) Kehadiran orang alami:

1. Komitmen pada dasarnya terbatas untuk mentransfer tenaga dalam yang sama multi-perusahaan perdagangan nasional;

2. Tidak terikat untuk awak kapal.

(C) Karena pembatasan menurut hukum pajak nasional dan kewajibannya berdasarkan perjanjian bilateral dengan negara-negara tertentu, Thailand harus mencari Pengecualian MFN bawah GATS dengan mengirimkan daftar dari MFN Pengecualian mencakup hal-hal berikut:

1. Dalam pengumpulan pajak pertambahan nilai (PPN) dari perusahaan pelayaran asing, Thailand akan berlaku 3 tingkat yang berbeda berdasarkan prinsip timbal balik;

2. Perlakuan Nasional ke kapal asing dan perusahaan pelayaran akan diberikan di bawah Traktat Persahabatan dan Hubungan Ekonomi antara Thailand dan hanya US;

3. Karena pengaturan pembagian kargo yang terkandung dalam perjanjian bilateral dengan China dan Viet Nam, lalu lintas antara Thailand dan negara-negara mungkin tidak sepenuhnya liberal.

(11)

Namun, revisi jadwal komitmen spesifik kemudian ditarik karena fakta layanan berbasis pantai terkait lainnya, termasuk jasa pelabuhan, dilakukan oleh sektor swasta, baik operator lokal dan asing. Meskipun besar pelabuhan negara dimiliki oleh instansi pemerintah dan perusahaan publik, Thailand telah mempertahankan kebijakan bahwa sektor swasta diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam pelayanan pelabuhan baik dengan operasi yang ada fasilitas di pelabuhan tersebut atau mendanai pengembangan dan operasi yang baru atau tambahan. Selain itu, pembangunan dan pengoperasian pelabuhan milik swasta diijinkan menurut Navigasi di Thailand Water Act BE 2456 dan UU Bisnis Mempengaruhi Keamanan Publik dan Kesejahteraan masing-masing.

Sehubungan dengan akses pasar di bawah GATS, kecuali transportasi internasional barang dan penumpang, sub-sektor lain layanan terkait maritim tunduk pada pembatasan di bawah Hukum Bisnis Alien di hal kehadiran komersial. Selain itu, semua kegiatan perdagangan jasa termasuk maritim transportasi tunduk pada pembatasan kehadiran orang pribadi berdasarkan UU Kerja Alien. Selain dari pembatasan mengatakan dalam akses pasar, Thailand juga memiliki perjanjian bilateral pada transportasi maritim dengan negara-negara tertentu. Sehingga untuk mencapai komitmen dalam GATS, Thailand telah membuat progresif prestasi dalam persiapan untuk penghapusan pengecualian MFN diharuskan oleh perjanjian tersebut.

(12)

diterapkan untuk semua perusahaan pelayaran menyediakan jasa transportasi laut ke dan / atau dari wilayah Thailand tanpa diskriminasi.

1. Layanan Transportasi Maritim

Layanan transportasi maritim di Thailand dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis layanan.

a) Pengiriman Internasional

Transportasi maritim barang dan penumpang ke dan dari Thailand ini terbuka untuk semua penyedia jasa terlepas dari negara atau wilayah asal mereka. Kapal dari semua negara yang mengunjungi pelabuhan Thailand diperlakukan sama tanpa diskriminasi apapun. Tidak ada pembatasan akses ke kargo ke dan dari Thailand, kecuali hanya pengangkutan barang dari negara-negara tertentu untuk Thailand yang diperlukan untuk

dilayani oleh kapal bendera Thailand jika barang tersebut dibeli baik secara langsung maupun tidak langsung oleh pemerintah instansi atau perusahaan publik. Untuk mendaftarkan kapal di bawah bendera Thailand dalam kategori ini, pemilik kapal harus sebuah perusahaan terbatas atau perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Thailand dengan setidaknya 51 persen dari Ekuitas Thailand. Selain itu, ditetapkan bahwa proporsi pelaut Thai yang bekerja di kapal kapal Thai plying di jalur perdagangan internasional harus tidak kurang dari 50 persen. Dalam beberapa kasus, proporsi pelaut Thai dapat dikurangi sampai 10 persen saat persetujuan dari Menteri terkait diberikan.

Pada tahun 1999, Thailand mengesahkan "Harga Barang dan Jasa Act BE 2542 (1999)" dan "Perdagangan Undang-Undang Persaingan BE 2542 (1999) "dengan maksud untuk menjamin adanya persaingan bebas dan adil dalam perdagangan barang dan jasa. Namun demikian, kedua Kisah tidak memiliki ukuran tertentu berhubungan langsung dengan internasional pengiriman.

b) Pengiriman Domestik (Cabotage)

(13)

baik oleh orang perseorangan kebangsaan Thailand atau orang hukum didirikan berdasarkan hukum Thailand dengan setidaknya 70 persen dari ekuitas Thailand. Kapal sepatutnya terdaftar di bawah ini kategori juga dapat digunakan dalam pelayaran internasional jika memenuhi standar keselamatan dan standar lainnya relevan dengan pengiriman internasional. Pelaut yang bekerja di kapal Thailand terlibat dalam perdagangan dalam negeri harus 100 persen warga negara Thailand. Mempekerjakan kapal asing di pelayaran domestik mungkin diperbolehkan di bawah tertentu kondisi pada kasus-per-kasus.

2. Layanan Dan Fasilitas Pelabuhan

Ada 3 masalah yang akan disebutkan sebagai berikut: a) Pelabuhan Umum

Saat ini, Thailand terus berupaya untuk meningkatkan partisipasi sektor swasta dalam menyediakan layanan dan fasilitas pelabuhan. Sementara sebagian besar pelabuhan umum utama di Thailand dikelola oleh relevan instansi pemerintah, operasi terminal yang dikontrakkan kepada sektor swasta dan dipantau oleh komite pengarah, kecuali Bangkok Pelabuhan yang baik dikelola dan dioperasikan oleh Port Authority of Thailand (PAT). Untuk mengoperasikan terminal, operator swasta harus mendapatkan izin dari yang bersangkutan lembaga pemerintah (misalnya Harbour Departemen, Kantor Komisi Promosi Maritime, dll) dalam membangun dan mengoperasikan terminal, asalkan kualifikasi mereka harus memenuhi persyaratan ditetapkan oleh badan-badan seperti saham utama (51 persen atau lebih) yang akan diadakan oleh warga negara Thailand.

Selain itu, Thailand juga memiliki kebijakan untuk memprivatisasi PAT dalam rangka untuk mempromosikan lebih pribadi partisipasi dalam pengelolaan pelabuhan dan administrasi. Saat ini, rencana privatisasi rinci PAT telah disiapkan dan berada di bawah pertimbangan Departemen Keuangan.

b) Pelabuhan Pribadi dan Dermaga

(14)

Komisi Promosi Maritime untuk pembenaran ekonomi sesuai dengan undang-undang tentang Usaha Mempengaruhi Keamanan Publik dan Kesejahteraan.

c) Akses ke Port

Thailand telah lama mengadopsi kebijakan akses gratis untuk pengangkutan barang melalui laut. Oleh karena itu, tidak ada diskriminasi diterapkan baik kapal bendera nasional maupun asing pada penggunaan saluran negara dan port dan tidak ada pembatasan akses ke port.

Langkah lain menuju liberalisasi di bawah WTO / GATS telah menyaksikan ketika Bisnis Alien Act BE 2542 diundangkan pada tahun 1999 untuk menggantikan Pengumuman Dewan Eksekutif Nasional Nomor 281 mengenai operator asing terlibat dalam Bisnis Thailand. Di bawah undang-undang baru, pembatasan tertentu pada akses pasar bawah modus kehadiran komersial telah santai yang memungkinkan operator asing untuk menikmati lebih banyak saham (khususnya dalam hal nilai), hak-hak tertentu, periode kerja, dll di Thailand entitas. Namun, persyaratan minimum yang masih dipertahankan untuk melindungi entitas Thailand dari diambil alih.

D. Rencana / Kebijakan Thailand terhadap Liberalisasi

Thailand telah mengusulkan Rencana Aksi Individu (IAP) untuk liberalisasi transportasi laut layanan dan menyampaikan rencana ke APEC Koordinasi Negara (Australia), rincian yang sebagai berikut:

Tahun 2001-2005

 Aktif dan konstruktif berpartisipasi dalam melanjutkan negosiasi pada layanan transportasi maritim WTO;

 Hapus MFN pengecualian untuk perdagangan jasa angkutan laut di bawah GATS yang sesuai;

(15)

 Memperluas komitmen dalam layanan transportasi maritim di bawah GATS dan selanjutnya liberalisasi perdagangan dalam layanan transportasi maritim untuk anggota APEC;

Lanjutkan privatisasi layanan pelabuhan maritim dan fasilitas.

Tahun 2006-2020

 Tinjau keterbatasan pada akses pasar melalui semua moda pengiriman transportasi maritim layanan di bawah GATS dengan maksud untuk menghilangkan keterbatasan tersebut untuk anggota APEC saat sesuai;

(16)

PUSTAKA BAB III

- Kingdom of Thailand. B.E. 2481.Thai Vessels Act, B.E. 2481 - Kingdom of Thailand. B.E.2542. Foreign Business Act, B.E. 2542

- Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran

- Sudiro, Ahmad. 2013. “Catatan Perkuliahan Hukum Transportasi”, Slide Mata Kuliah Hukum Transportasi, Fakultas Hukum Universitas

(17)

BAB IV PENUTUP

1 Kesimpulan

Setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda dalam pelaksanaan pelayanan publik di bidang transportasi walaupun jenis alat transportasi yang diberikan adalah sama. Contohnya adalah perbandigan kebijakan Thailand dengan Indonesia.

Persamaan terlihat dalam pemberian kebijakan dalam hal pelayanan publik di bidang transportasi di negara Thailand dan Indonesia. Kedua negara ini sama-sama menerapkan sistem public private partnership dimana hampir seluruh jenis transportasi yang ada dijalankan oleh pihak swasta. Meskipun perusahaan swasta yang lebih berperan aktif dalam pelaksanaannya, tetapi pemerintah masih memiliki peran sebagai regulator. Di Thailand dalam penyediaan pelayanan transportasi sudah memiliki keinginan kearah pelayanan yang lebih baik. Terdapat kerjasama antara pemerintah dengan swasta dalam hal penyediaan pelayanan transportasi.

IV.2 Saran

(18)

BAB V PUSTAKA

Grace

- Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Sekretariat Negara: Jakarta.

- Sudiro, Ahmad. 2013. “Catatan Perkuliahan Hukum Transportasi”, Slide Mata Kuliah Hukum Transportasi, Fakultas Hukum Universitas

Tarumanagara, Jakarta, 2013.

- Dan beberapa web yang tidak disebutkan.

Lina

- Kingdom of Thailand. B.E. 2481.Thai Vessels Act, B.E. 2481 - Kingdom of Thailand. B.E.2542. Foreign Business Act, B.E. 2542

- Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran

Sekretariat Negara: Jakarta.

- Sudiro, Ahmad. 2013. “Catatan Perkuliahan Hukum Transportasi”, Slide Mata Kuliah Hukum Transportasi, Fakultas Hukum Universitas

Tarumanagara, Jakarta, 2013.

- Dan beberapa web yang tidak disebutkan.

Wenny

- Kingdom of Thailand. B.E. 2497.Air Navigation Act, B.E. 2497.

- Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Sekretariat Negara: Jakarta.

- Sudiro, Ahmad. 2013. “Catatan Perkuliahan Hukum Transportasi”, Slide Mata Kuliah Hukum Transportasi, Fakultas Hukum Universitas

Tarumanagara, Jakarta, 2013.

(19)

SISTEM TRANSPORTASI DARAT, LAUT,

DAN UDARA DI NEGARA THAILAND

MAKALAH

DiajukanuntukMemenuhiNilaiTugas Mata KuliahHukumPengangkutan Dosen: Dr. Ahmad Sudiro, S.H., M.H., M.M.

Oleh:

Nama : Wenny Chandra Sari Nama : Lina Dwi Yulianing Nama : Grace NIM : 205070057 NIM : 205090126 NIM : 205100132

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS TARUMANAGARA

JAKARTA

Referensi

Dokumen terkait

Kementerian Kesehatan RI bersama dengan Kementerian Hukum dan HAM RI, serta lintas program dan lintas sektor terkait, termasuk organisasi profesi dan lembaga

Karena Indonesia termasuk salah satu dari negara berkembang yang kondisinya kurang lebih sama dengan negara-negara berkembang lainnya di Asia, maka munculnya Lembaga-lembaga

Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh instansi atau lembaga pemerintah kepada pegawai yang akan melakukan perjalanan dinas resmi. SPPD ini berisi perintah resmi dan detail terkait perjalanan yang akan dilakukan, seperti tujuan, tanggal perjalanan, tempat yang akan dikunjungi, serta anggaran biaya yang disediakan. Dalam SPPD, terdapat informasi seperti: Identitas Pegawai: Nama, jabatan, dan unit kerja pegawai yang melakukan perjalanan. Tujuan Perjalanan: Tempat yang akan dikunjungi, alasan perjalanan, serta keperluan atau tugas yang harus diselesaikan. Tanggal Perjalanan: Rentang waktu atau tanggal perjalanan yang dimaksud. Rincian Biaya: Anggaran atau dana yang disediakan untuk keperluan perjalanan, termasuk transportasi, akomodasi, makanan, dan lainnya. Instruksi dan Persyaratan: Petunjuk tambahan terkait tata cara perjalanan, penggunaan dana, laporan yang harus disampaikan setelah perjalanan, dan lain-lain. SPPD merupakan dokumen yang penting karena menjadi dasar resmi bagi pegawai untuk melakukan perjalanan dinas. Dokumen ini juga dapat digunakan sebagai bukti atas kegiatan dinas yang dilakukan oleh pegawai

Dengan sinergi antara regulasi yang progresif, kepastian hukum bagi pelaku usaha, serta kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, Borneo EcoHub dapat menjadi pendorong utama dalam