PERAN GURU PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK
Fadil Yudia Fauzi, Ismail Arianto, Etin Solihatin)
Program Studi PPKN FIS Universitas Negeri Jakarta
ABSTRACT
About the establishment of national character through character education implemented by the schools is one of the mission of realizing the vision of the Indonesian nation. Which the democratic national education and quality to strengthen noble character, creative, innovative, national paradigm, intelligent, healthy, disciplined and responsible, skilled and ma ster of science and technology.
However from the result research and interviews a re still occur juvenile delinquency that exceeds normal limits. If less control of their so deviation of violence like this is what happens at school. Negative influence this also arises because the lack of attention their family.
This study aims to determine the extent of the role of education Pancasila and citizenship in the efforts to establishment chara cter of students. In Order To seek information by interviewing the teachers and some school students resea rchers also observe.
PENDAHULUAN
Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan prilaku yang menbantu individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan. Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentuka karakter. Di dalam dunia pendidikan sejumlah mata pelajaran dapat membentuk karakter bangsa, salah satu diantaranya adalah mata pelajaran PPKn.
PPKn merupakan mata pelajaran yang sarat isi dengan nilai-nilai pancasila untuk membentuk kepribadian. PPKn tidak cukup hanya sampai pada penghafalan, melainkan PPKn diterapkan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dalam bentuk perbuatan, nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila bukan untuk dihafal melainkan untuk dipraktekan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu pembelajaran PPKn perlu mengutamakan perilaku
2 bangsa yang berkualitas. Dan PPKn
haruslah mampu menumbuhkan kemandirian. Sehingga peserta didik dapat tumbuh sebagai manusia yang berkualitas dalam keidupan berbangsa dan bernegara.
Akan tetapi dizaman yang sudah maju PPKn seolah-olah terlupakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Karena dengan PPKn diharapkan bisa membentuk karakter peserta didik yang memiliki kepribadian. Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentuk-bentuk yang diterima dari lingkungan misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.
Sudah saatnya bagi tiap sekolah untuk melaksanakan kembali Pancasila sebagai acuan dasar dalam membentuk karakter peserta didik. Terbukti Pancasila sangat kaya akan nilai-nilai keutamaan hidup yang mampu mensejahterakan masyarakat Indonesia. Satu-satunya jalan mewujudkan kesejahteraan adalah melalui pendidikan karakter.
Pendidikan karakter adalah baik atau unggul suatu system penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Akan tetapi di era globalisasi saat ini seiring kemajuan teknologi, nilai-nilai kesopanan, budi pekerti seakan telah diabaikan. Yang mengakibatkan prilaku yang peserta didik menyimpang. Hal ini dikarenakan krisis karakter bangsa.
3 motivasi para remaja sering lebih
sederhana dan mudah dipahami misalnya : pencurian yang dilakukan oleh seorang remaja, hanya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang disukainya dengan maksud untuk membuat kesan impresif yang baik atau mengagumkan.
Melihat permasalahan di atas pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam pendidikan saat ini. Karena hanya dengan pendidikan karakter sajalah yang bisa mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Selain itu juga guru sekolah sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter peserta didik.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mencoba untuk mengkaji secara lebih mendalam mengenai peranan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan dalam Upaya pembentukan karakter peserta didik.
KAJIAN PUSTAKA/KAJIAN
TEORI
Pengertian Peran
Pengertian peran adalah sebuah kegiatan yang dilakukan karena adanya sebuah keharusan maupun
tuntutan dalam sebuah profesi atau berkaitan dengan keadaan dan kenyataan. Jadi peran merupakan perilaku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang yang sesuai dengan kedudukannya dalam suatu sistem. Jadi peran di pengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil.
Perilaku individu dalam kesehariannya hidup bermasyarakat berhubungan erat dengan peran. Karena peran mengandung hal dan kewajiban yang harus dijalani seorang individu dalam bermasyarakat. Sebuah peran harus dijalankan sesuai dengan norma-norma yang berlaku juga di masyarakat. Seorang individu akan terlihat status sosialnya hanya dari peran yang dijalankan dalam kesehariannya.
Hakikat PPKn
PPKn sering juga disebut PKn atau pendidikan civic, yang membahas tentang kewarga negara, moral, norma, hukum, budi pekerti dan lain-lain.
4 menanggapi usulan UNESCO agar
setipa negara Asia Pasifik memberikan bahan ajar yang mengarah kepada pembangunan karakter bangsa maka salah satu bahan ajar adalah pendidikan kewarganegaraan, civic education, civic.
Sebagai mata pelajaran di sekolah, Pendidikan Kewarganegaraan telah mengalami perkembangan, baik dalam kemasan maupun substansinya. Hal tersebut dapat dilihat dalam substansi kurikulum, PKn yang sering berubah dan tentu saja disesuaikan dengan kepentingan negara. Pendidikan kewarganegaraan membicarakan tentang warga negara dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan warga negara, seperti hak dan kewajibannya, peran dan tanggung jawab sebagai warga negara, dan peraturan-peraturan hukum yang berlaku di negaranya. Inti pendidikan kewarganegaraan adalah nilai-nilai kemanusiaan : kesamaan, kebebasan, keadilan, solidaritas, dan prinsip-prinsip pegelolaan hidup bernegara : partisipasi, transparansi atau keterbukaan, tanggung jawab
(responsiviness, accountability), pemberdayaan (empowerment), dll.
Pendidikan kewarganegaraan membantu peserta didik untuk membentuk pola pikir dan pola sikap sebagai seorang warga negara yang mencerminkan atau selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Termasuk dalam pembentukan watak atau karakter, karena pendidikan kewarganegaraan mencakup nilai-nilai hidup yang khas dari masyarakat sekitarnya.
5 Hakikat Karakter
Karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia.
Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi juga melalui kebiasaan dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya.
Karakter adalah watak seseorang, yang meliputi moral, prilaku, budi pekerti. Dalam kamus besar bahasa Indonesia belum memasukan kata karakter,yang ada adalah ‘watak’ yang diatikan sebagai sifat batin manusia yang mempengari segenap pikiran dan tingkah laku ; budi pekerti ; tabiat.
6 kurangnya pemahaman orang tua
dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, peserta didik akan memiliki kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Aspek-aspek penting dalam pendidikan karaktr anak, menurut Megawangi ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya), rasa aman, dan stimulasi fisik dan mental. Ketiga aspek ini sangat penting dalam
pembentukan karakter anak di lingkungan.
Jadi pendidikan karakter sangat terpengaruhi oleh pendidikan kewarganegaraan, dimana pendidikan kewarganegaraan memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter. Karena pendidikan kewarganegaraan mencakup semua poin-poin karakter. Yang termasuk poin karakter didalam pendidikan kewarganegaraan adalah budi pekerti, moral, norma.
7 Pengertian Pendidikan Karakter
pendidikan karakter adalah suatu usaha pengembangan dan mendidik karakter seseorang, yaitu kejiwaan, akhlak dan budi pekerti sehingga menjadi lebih baik. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai karakter.
Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas. Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. 18 karakter menurut Diknas adalah : Religi, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat keangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa
yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik, memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur, meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
8 perilaku peserta didik. Nilai-nilai yang
ditanamkan berupa sikap dan tingkah laku tersebut diberikan secara terus-menerus sehingga membentuk sebuah kebiasaan. Dan dari kebiasaan tersebut akan menjadi karakter khusus bagi individu atau kelompok.
Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia dini. karena usia dini sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea.
Pendidikan karakter di nilai sangat penting untuk di mulai pada anak usia dini karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi pekerti yang luhur adalah amal saleh, amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, beradab,
9 Untuk menjaga agar
pertumbuahnan pendidikan karakter sesuai dengan kultur individu yang ada, pendidikan karakter memiliki sebuah dimensi yang mengandung arti bahwa pendidikna karakter dapat membantu mengembangkan kehidupan moral individu, memperkokoh keyakinan agama seseorang untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang stabil ditengah keragaman sangat memerlukan adanya nilai-nilai bersama yang menjadi dasar hidup masyarakat.
Pendidikan karakter atau budi pekerti sangat efektif di terapkan pada jalur pendidikan formal. Pendidikan karakter di sekolah tidak harus menyusun kurikulum baru, kurikulum pendidikan karakter, pendidikan karakter dapat dimasukan dalam pokok-pokok bahasan. Memberikan nasehat, arahan, petunjuk untuk berbuat kebaikan. Sebaliknya untuk tidak melakuakn sesuatu yang kurang baik sebelum dan sesudah menyampaikan materi atau disela-sela penyampaian materi merupakan suatu
cara untuk mendidik karakter peserta didik.
Sejarah Pendidikan Karakter
Sejarah Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan zaman. Begitu pula perkembangan pendidikan di Indonesia yang mengalami berkali-kali perubahan dalam kurikulum. Kurikulum yang pertama kali diterapkan di Indonesia adalah kurikulum tahun 1947 (rentjana pendidikan). Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula pendidikan di Indonesia, kurikulum pun berkali-kali mengalami perubahan seperti kuriklim tahun 1952 (rentjana pendidikan), kurikulum tahun 1964 (rentjana pendidikan), kurikulum tahun 1968, kurikulum tahun 1975, kurikulum tahun 1984, kurikulum tahun 1994, kurikulum tahun 2004 (kurikulum berbasis kompetensi), dan kurikulum tahun 2006 (kurikulum tingkat satuan pendidikan).
10 diselipkan kedalam struktur dan
muatan kurikulum tingkat satuan Pendidikan (KTSP). Setiap sekolah merumuskan bagaimana konsep Pendidikan karakter yang tertuang dalam kurikulum sekolah masing-masing.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang kemudian diterpakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), merupakan kurikulum yang dirancang untuk memberikan peluang seluas-luasnya bagi sekolah dan tenaga pendidik untuk melakukan praktik-praktik pendidikan dalam rangka mengembangkan semua potensi yang dimiliki peserta didik, baik melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui program pengembangan diri (ekstrakurikuler).
Dalam sejarah pendidikan indonesia, pendidikan karakter juag pernah dimaknai dan diwadahi oleh semangat memberikan pengertian dan jiwa patriotisme di dalam hati peserta didik melalui pendekatan formal-struktural melalui mata pelajaran formal yang disebut civic, Pendidikan
Moral Pancasila (PMP), Penataran Pedoman Penghayatan dan pengamalan Pancaila (P4), serta Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (PPKn), dan sekarang menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
11 METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang fakta-fakta yang ada di lapangan, yakni mengenai ”PPKn dalam mewujudkan pembentukan karakter peserta didik SMAN 1
Sukatani”. Peneliti menggunakan
metode deskriptif dikarenakan data-data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Sehingga laporan penelitian akan berisi data-data untuk memberi gambaran pada penyajian laporan tersebut.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Karakter sering disamakan dengan budi pekerti, ada pula yang mendefinisikan karakter sebagai sistem keyakinan dan kebiasaan. Jika kita simpulkan karakter adalah akhlak atau moral yang sudah tertanam dalam pikiran, dengan kata lain karakter itu sebuah kebiasaan yang sudah ditanamkan oleh lingkungan keluarga.
Pembentukan karakter anak memang semestinya dilakukan oleh orang tua. Namun, ketika anak berada di sekolah, maka yang menjadi orang tua anak adalah guru. Sehubungan dengan perannya sebagai pembentuk karakter anak di sekolah, maka guru dituntut untuk sungguh-sungguh menjalankan peran tersebut, karena salah membentuk karakter anak akan berakibat fatal bagi kehidupan anak. Oleh karena itu guru memiliki peran penting dan strategis bagi setiap pembaharuan pendidikan, hal ini yang menuntut guru untuk memiliki cara bertindak untuk menanmkan pendidikan karakter.
12 Seorang guru harus menjadi
seorang pengasuh bagi peserta didik, menjadi panutan dan teladan untuk dicontoh oleh peserta didik, guru pula harus menjadi pembimbing untuk membimbing anak didiknya yang memiliki integritas dan kedisiplanan dalam kehidupan sehari-hari. Namun upaya pembentukan karakter anak merupakan hal yang tidak mudah dijalankan oleh seorang guru. Guru akan kesulitan dalam membentuk karakter anak, jika tidak ada dukungan dari keluarga dan masyarakat yang ada di lingkungan peserta didik. Pembentukan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara guru, keluarga dan masyarakat.
Peranan guru dalam pembentukan karakter di sekolah sebagai contoh atau teladan bagi anak khususnya dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu seorang guru haruslah memberi contoh yang baik, segala tingkah lakunya tidak bertentangan dengan norma dan nilai yang berlaku dimasyarakat. Segala bentuk penyimpangan tidak akan terjadi jika guru, orang tua dan masyarakat mampu memberikan
teladan yang baik bagi anak, potensi untuk berbuat yang melanggar norma, aturan itu akan semakin kecil.
Jadi seorang guru harus bisa menjadi orang tua kedua bagi peserta didik di sekolah, agar peserta didik merasa nyaman dan terbuka kepada guru disekolah. Sehingga nantinya guru dapat menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta diidk, dan bisa mengarahkan mereka kearah yang lebih baik lagi dalm mencari jati diri mereka yang berakhlak muliya.
Dan sebagai guru PKn penanaman karakter tidak lepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Disini Pendidikan pancasila dapat dijadikan sebagai sarana dalam pembentukan karakter peserta didik, karena pancasila mengandung nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Peserta didik yang pada hakikatnya adalah warga negara Indonesia.
13 bertujuan untuk membentuk
warganegara yang baik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, peserta didik diharapkan memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila sehingga terciptalah generasi bangsa yang cerdas dan bermoral.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik kesimupan peran guru dalam memberikan materi di kelas diharapkan mengacu dan menekankan pada tujuan pembelajaran mengenai implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tentunya guru PKn dalam membentuk karakter peserta didik memiliki peranan yang sangat penting. Karena PKn merupaka pelajaran yang bertujuan untuk membentuk warganegara yang baik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, peserta didik diharapkan memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila sehingga terciptalah generasi bangsa yang cerdas dan bermoral.
Saran
Dari uraian diatas maka peneliti memberikan saran sebagai berikut :
1. sekolah harus lebih mesosialisasikan tentang pendidikan karakter kepada peserta didik.
2. Kepala sekolah diharapkan mengupayakan peningkatan pemahaman orang tua peserta didik terhadap pendidikan karakter terutama di lingkungan keluarga, sehingga anak dapat memiliki karakter yang baik.
3. Pihak sekolah diharapkan membuat suatu program atau kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan karakter.
14 berkarakter, dimana nantinya
sangat berguna pada penerapan pendidikan karakter di sekolah.
5. Pemerintah hendaknya lebih mengoptimalkan lagi perannya dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan penerapan kebijakan pendidikan karakter disekolah.
REFERENSI
Buku
Aqib Zaenal dan Sujak, Panduan Dan Aplikasi Pendidikan Ka rakter
Bandung : Yarma Widaya, 2011
Azra Azyumardi, Para digma Baru Pendidikan Na sional
Rekonstuksi Dan Demokratis
Jakarta : Buku Kompas, 2002 Kaelan, Pendidikan Pancasila, Yogyakarta : Paradigma, 2003
Mikhael Mali Benyamin dkk Civic Education Uupaya
Pengembangan Epistemi
Politik (Jakarta Fidei Press : 2011
Muslich Masnur, Pendidikan Ka rakter Menja wab Tenang Krisis
Multidimensi, Jakarta : Bumi Aksara, 2011
Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, Jakarta : Bumi Aksara, 2008 Zuriah Nurul, Pendidikan Moral Dan
Budi Pekerti Dalam Perspektif
Perubahan Jakarta : Bumi Aksara, 2008
Mudyahardjo Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2010
Wabsite
http://id.shvoong.com/social- sciences/education/2094267-contoh-
makalah-pendidikan-budi-pekerti/#ixzz1hHWQGFRR ( 19 – 11 – 2011)
http://adzraiq.blogspot.com/2008/09/h
akekat-dan-tujuan-pendidikan.html (22-11-2011) http://blog.binadarma.ac.id/muhamma dinah/?p=107 (22-11-2011)
http://h4dyme.wordpress.com/2010/05
15 http://goeroendeso.wordpress.com/201
1/09/13/nilai-nilai-karakter-di-sekolah/ (08-12-2012)
http://definisimu.blogspot.com/2012/0 9/definisi-karakter.html (06-12-2012)
http://www.setneg.go.id/index.php?opt ion=com_content&task=view&id=529 &Itemid=116 (06-12-2012)
BIOGRAFI PENULIS
Nama lengkap penulis, yaitu Fadil Yudia Fauzi, lahir di Ciamis. Pada tanggal 04 September 1990 dari pasangan Bapak Iwan Ruswandi dan Ibu Juarsih. Penulis berkebangsaan Indonesia dan beragama Islam. Kini penulis
beralamat di Kp. Srengseng Rt/Rw 004/06 Ds. Sukamulya Kec. Sukatani Kab. Bekasi.