• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Konferensi Sanitasi dan Air Minum (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Materi Konferensi Sanitasi dan Air Minum (2)"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

REPUBLIK INDONESIA 

KEYNOTE SPEECH

MENTERI PPN/BAPPENAS

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Disampaikan dalam

Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional 2017 “Kerja Bersama, Kejar Universal Akses”

(2)
(3)

DARI MDGs KE SDGs 

Basic improved water source (sumber air minum layak) Bebas dari kontaminasi feses (dan kimia) Basic improved sanitation facilities (fasilitas sanitasi layak) Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun

Goal 6.1 Sumber air minum aman

(memenuhi 4K)

Goal 6.2 Fasilitas sanitasi layak +

Hygiene

SDGs

MDGs

Goal 7.8 Sumber air minum layak

Goal 7.9 Fasilitas sanitasi layak

Basic improved water source

(sumber air minum layak)

Basic improved sanitation facilities (fasilitas sanitasi

layak)

Tersedia bila dibutuhkan

(4)

MDGs

2015

RPJMN

2015-2019

SDGs

2030

100 – 100

100 % Akses

Air Minum

100% Akses

Sanitasi

(5)

71,14%

67,2%

2016

100%

100%

Akses Air Minum

(4K)

Akses Sanitasi

(Layak 85%, Dasar 15%)

Keterangan: *)BPS, 2016

**) Berdasarkan perhitungan kebutuhan, Bappenas 4K: Kualitas, Kuantitas, Kontinuitas, dan Keterjangkauan

KEBUTUHAN**

Rp 275 Triliun

Air Minum

Rp 273 Triliun

Sanitasi

2016

30%

48% 10% 12%

0%

Air Minum

APBN APBD BUMN/BUMD Swasta 58.19% 28.08% 4.28%

9.44% 0.00%

Sanitasi

APBN APBD BUMN/BUMD Swasta

TARGET

CAPAIAN

TERKINI*

(6)

12

Optimalisasi Pendanaan untuk Mengejar

Universal Akses

PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA 2018

(Permendesa, PDT dan Transmigrasi 19/2017)

Prioritas Penggunaan Dana Desa digunakan untuk pelaksanaan program/kegiatan bidang

pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan disepakati dalam musyawarah desa serta dipublikasikan pada masyarakat di ruang publik.

Persentase Realisasi Alokasi vs Kebutuhan APBN

74,8  

142,6  

Air Minum  Sanitasi 

Kebutuhan APBN  APBN Reguler 2015‐2017  DAK 2015‐2017 

26,3% 10.4%

R p T ri liu n

19,7 14,9

untuk pemenuhan target RPJMN 2015-2019

KERJASAMA PIHAK SWASTA

(KPS)

CSR

MICROFINANCE

KEBIJAKAN DAK FISIK 2018

1.

DAK REGULER

2. DAK PENUGASAN

(7)

1. Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Nasional merupakan sebuah lembaga adhoc yang dibentuk pada tahun 1997 sebagai wadah atau forum komunikasi dan koordinasi agar pembangunan air minum dan sanitasi berjalan lebih baik.

2.  Mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi. Selain itu, pembentukan Pokja juga bertujuan untuk meningkatkan koordinasi antar lembaga pemerintah pelaku pembangunan air minum dan sanitasi.

  Pokja AMPL Nasional terdiri dari 8 Kementerian yaitu

Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan,

Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Badan Pusat Statistik.

  Ketetapan tersebut sesuai dengan Keputusan Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas selaku Ketua Tim Pengarah Pembangunan Air Minum dan Sanitasi Nomor Kep 38/D.VI/ 07/2013 tentang Pembentukan Kelompok Kerja

Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan.

Tugas Pokja AMPL Nasional yaitu:

  Menyiapkan rumusan kebijakan;

  Menyusun strategi dan program dalam pembangunan air minum dan sanitasi;

  Mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan pembangunan air minum; serta

  Menyebarluaskan informasi AMPL. Fungsi Pokja AMPL Nasional yaitu:

(8)
(9)

KONFERENSI  

SANITASI DAN AIR MINUM NASIONAL 

(KSAN) TAHUN 2017 

Nila F. Moeloek 

Kementerian Kesehatan 

Republik Indonesia 

(10)

ARAH

PEMBANGUNAN

KESEHATAN

(11)

3 PILAR

INDONESIA SEHAT

R

PJ

MN

2

0

1

5

-

2

0

1

9

PROGRAM 

PENGARUSUTAMAAN 

KESEHATAN DALAM 

PEMBANGUNAN, 

PENGUATAN UPAYA 

PROMOTIF DAN 

PREVENTIF,  

PEMBERDAYAAN 

MASYARAKAT.  

PROGRAM 

PERLUASAN SASARAN

DAN MANFAAT (

BENEFIT) 

SISTEM PEMBIAYAAN: 

ASURANSI – AZAS GOTONG 

ROYONG 

KENDALI MUTU & KENDALI 

BIAYA  

SASARAN: PBI & NON  PBI 

TANDA KEPESERTAAN

KIS

 

PROGRAM

PENINGKATAN AKSES

YANKES TERUTAMA PADA

FKTP

OPTIMALISASI SISTEM

RUJUKAN

PENINGKATAN MUTU

DENGAN PENDEKATAN

CONTINUUM OF CARE

DAN

INTERVENSI BERBASIS RESIKO

KESEHATAN (

HEALTH RISK

)

(12)

PILAR 1

PARADIGMA SEHAT

PROMOTIF

PREVENTIF

(13)

Mewujudkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Pemerintah terus meningkatkan jumlah peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan 

fasilitas kesehatan yang melayani serta membayarkan iuran bagi penduduk termiskin

 

2015 

156, 8 Juta 

jiwa 

171,9 Juta 

jiwa 

2016 

180,7 juta  

jiwa 

Agust‐2017 

Penduduk Indonesia telah menjadi peserta Jaminan

Kesehatan Nasional

PBI 2015

Rp 

19,8 T 

87,828

,613  

jiwa 

Rp 

PBI 2016

24,8 T 

Rp 

PBI 2017

16,9 T 

 

91,099,279    jiwa 

 

92,201

,861   

jiwa 

19.969 

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama 

20.708 

20.850 

1.847 

Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan 

2.068 

2.206 

Fasilitas Apo^k dan Op^kal 

2015 

2016 

2017 

2.813 

2.921 

3.303 

2015 

2016 

2017 

(14)

Perkembangan JKN Sampai Saat Ini

(15)

Pemanfaatan JKN/KIS

66,8 

juta 

100,6 

juta 

134,9 

juta

 

Pemanfaatan di FKTP (Puskesmas, Dokter 

Praktek Perorangan/ Klinik Pratama) 

21,3 

juta 

39,8 

Juta 

50,4 

Juta 

Pemanfaatan di Poliklinik Rawat Jalan 

RS 

4,2 juta 

6,3 juta 

7,6 Juta 

Pemanfatan Rawat Inap RS 

2014 

2015 

2016 

2014 

2015 

2016 

2014 

2015 

2016 

73 

juta

 

(16)

Perkembangan JKN Sampai Saat Ini

21,29% 

20,15% 

19,455 

(17)

Sumber: RS Online, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 

TOTAL 2.755 TOTAL

2.601 TOTAL

2.490 TOTAL

2.408 TOTAL

2.228

(Data 23 Oktober 2017) 

2013 - 2017

(18)
(19)
(20)

LATAR BELAKANG

(21)

Pemuda hari ini adalah pelaku

utama pembangunan sosial dan

ekonomi menuju tahun 2050

Indonesia saat ini didominasi oleh

kelompok usia produktif (15-55 tahun)

±

64,559,985

jiwa

Jumlah Pemuda

Indonesia: perspektif demografi

Jumlah Pemuda

(22)

> 50% balita

menderita

stunting

Bayi yang dilahirkan di NTT 2x lebih mungkin menderita

stunting

dibandingkan bayi yang dilahirkan di Jakarta

12

balita

mengalami

wasting

(undernourished)

5

balita mengalami

kegemukan

(overnourished)

100 balita

Stunting

adalah kegawatdaruratan nasional:

1 dari 3 anak di Indonesia menderita

stunting

Situasi Gizi di Indonesia

30

balita mengalami

stunting

(23)

12

P

erkembangan otaknya

, tidak dapat

diperbaiki

Fisik

anak kurang gizi

dapat diperbaiki

Hambatan perkembangan otak, kecerdasan,

kemampuan belajar, dan rendahnya produktifitas

akibat stunting ini bersifat

permanen (irreversible).

Fisik

Mental

Intelektual

stunting

Stunting

mempengaruhi:

BALITA

(24)

Ibu yang kurang gizi

Tidak mendapat asupan gizi

dan pola makan yang baik

Perkembangan otak

tidak maksimal

Ketika sekolah, anak

stunting mengalami

kesulitan dalam belajar

Pola makan buruk

yang berlanjut hingga dewasa

menyebabkan mudah sakit

Produktivitas kerja rendah

& penghasilan terbatas

Cenderung terkena penyakit

Tidak menular ketika dewasa

Tidak kuat secara finansial &

tidak mampu menyediakan

gizi baik untuk keluarga

(25)

Otak anak

berkembang

pesat

sejak dalam

kandungan-usia 2-5

tahun (golden age)

Normal

Stunted

Percabangan saraf

berkembang baik

Percabangan saraf

berkembang secara terbatas

Dampak dari

kurangnya gizi

pada masa golden age akan

terlihat hingga

dewasa

Anak yang mengalami kurang gizi kronis

menunjukkan sel otak yang abnormal dengan

lebih sedikit percabangan / sel otak

Perkembangan sel saraf otak

BAYI

(26)

Angka Partisipasi

Sekolah

Angka Par^sipasi Sekolah (APS) 

Indonesia, 2011‐2015 (Persen

 

(27)

Pelayanan 

Kesehatan 

Keturunan 

Lingkungan 

Perilaku masyarakat 

DERAJAT 

KESEHATAN 

5%

 

45%

 

30%

 

20%

 

Analisis Derajat

Kesehatan

(Konsep Henrik L.

Blum)

(28)

Indikator Lingkungan 2016

Rumah tangga yang 

memiliki fasilitas 

buang air besar  

89,16 

%

 

 

Rumah tangga 

yang memiliki 

sanitasi layak  

67,80 

 

Rumah tangga 

yang memiliki 

sumber air 

minum layak  

74,14 

%

 

 

Rumah tangga 

dengan lantai 

terluas bukan 

tanah  

93,58 

%

 

 

(29)
(30)

TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (TPB)

(31)

KETERKAITAN AIR DAN SANITASI DENGAN BERBAGAI PROGRAM

 

(32)

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Tujuan 6 

Menjamin ketersediaan dan manajemen 

air bersih

 

serta

 

sanitasi

 

yang berkelanjutan untuk semua 

Penyusunan definisi dan indikator operasional untuk pemantauan pencapaian Indonesia dalam TPB 

  

Pada tahun 2030, mencapai akses 

universal dan merata 

terhadap air 

minum yang aman dan terjangkau 

bagi semua 

Goal 6.1

Pada akhir tahun 2030 diharapkan dapat mencapai 

akses sanitasi dan hygiene yang memenuhi, merata, 

untuk semua, dan menghentikan buang air besar 

sembarangan (BABS) 

dengan memberikan perhatian 

khusus pada wanita (tua dan muda) dan mereka yang 

memerlukan perhatian 

khusus.  

Goal 6.2

Pada akhir tahun 2030 diharapkan dapat 

meningkatkan kualitas air dengan 

mengurangi 

polusi, menghentikan pembuangan limbah

meminimalisasi produksi limbah berbahaya, 

mengurangi air limbah yang tidak diolah, 

meningkatkan daur ulang (

recycle

), dan 

penggunaan kembali (

reuse

) secara substansial. 

Goal 6.3

AKSES 

(33)
(34)

Kuan^tas 

vs

 Kualitas 

Minum 

Memasak 

Personal higiene 

Cuci pakaian 

Kebersihan

 rumah 

Sanitasi

 

Siram tanaman 

Irigasi 

kualitas  

semakin bagus 

(35)

Target

Nasional

S

A

N

IT

A

S

A

IR 

MI

N

U

44%  49%  51% 

56%  56%  57%  61%  61%  62%  67% 

85%  15%  13% 

13%  11%  11%  10% 

11%  12%  12%  9% 

15%  59%  61% 

65%  67%  67%  68% 

72%  73%  74%  76% 

100%  0%  20%  40%  60%  80%  100% 

2007  2008  2009  2010  2011  2012  2013  2014  2015  2016  2017  2018  2019 

Akses Sanitasi Dasar  (Perdesaan)  Akses Sanitasi Layak 

48%  46%  48% 

44% 

63%  65%  68%  68% 

71%  71%  100%  0%  20%  40%  60%  80%  100% 

2007  2008  2009  2010  2011  2012  2013  2014  2015  2016  2017  2018  2019 

(36)

Penyakit yang dapat ditularkan melalui air dapat 

dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu : 

Water borne diseases

adalah penyakit yang ditularkan langsung melalui air 

minum yang mengandung patogen. Contoh penyakit: kolera, demam Rfoid, 

hepaRRs, disentri,  gastroenteriRs. 

Water washed diseases

, adalah penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air 

untuk pemeliharaan higiene perorangan (cuci tangan, mandi, mencuci, gosok 

gigi, dll).Contoh : kolera, demam Rfoid, hepaRRs, disentri, dan gastroenteritis, 

infeksi jamur      dan konjungRviRs (trachoma), scabies. 

Water based diseases

, adalah penyakit yang ditularkan oleh bibit penyakit yang 

sebagian siklus hidupnya di air. Contoh : Schistosomiasis 

(37)

Informasi 

Grafik 

StaRsRk 

Gangguan kesehatan/penyakit 

Malaria 

Demam berdarah 

ISPA 

Diare 

Parameter iklim 

Suhu 

Curah hujan 

Kelembaban 

Hari hujan 

Hubungan Iklim & Kesehatan

REPUBLIK 
(38)

Contoh Analisis Univariat

6000 

200 

1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12  1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12 

2014  2015 

0  1000  2000  3000  4000  5000  6000  7000 

Waktu 

C

u

ra

h

 H

u

ja

n

 

Grafik Curah Hujan 

(39)

13 

100 

6000 

200 

0  20  40  60  80  100  120 

1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12  1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12 

2014  2015  0  1000  2000  3000  4000  5000  6000  7000  D B D   Waktu  C u ra h  H u ja n  

Grafik DBD dan Curah Hujan 

DBD  Curah Hujan  Linear(DBD)  Linear(Curah Hujan) 

(40)
(41)
(42)

14% ^dak memiliki akses ke 

sumber air bersih 

(

JMP, 2013) 

24% BAB di tempat terbuka 

(

JMP, 2013)

 

Anak‐anak di Bangladesh yang terakses air minum 

bersih, jamban, serta fasilitas CTPS, pertumbuhan 

^nggi badannya 50% bertambah lebih ^nggi 

dibanding anak yang ^dak mendapat akses 

tersebut 

(Lin A, et al. dalam Environmental Health Perspec^ves ; vol 122) 

gangguan inflamasi usus kecil yang mengurangi

penyerapan zatgizi dan meningkatkan permeabilitas

usus

yang disebut juga

Environmental Enteropathy (EE)

(43)

Upaya‐upaya untuk mencegah dan mengurangi 

gangguan 

secara langsung. 

Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh 

sektor kesehatan.  

Kegiatannya antara lain berupa imunisasi, PMT 

ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan 

balita di Posyandu.  

Sasaran : kelompok khusus (Ibu Hamil, Ibu 

Menyusui, dan Anak    0‐23 bulan). 

Kontribusi: 30%

 

INTERVENSI SENSITIF 

 

INTERVENSI SPESIFIK 

INTERVENSI GIZI hanya bagian kecil dari solusi penanggulangan

STUNTING

35 

(44)

TRANSISI EPIDEMIOLOGI

Penyakit infeksi new emerging dan re­emerging 

Kematian akibat penyakit tidak menular semakin meningkat  

Penyebab Utama dari Beban Penyakit, 1990­2015  

Cedera  7%  Penyakit  Tidak  Menular  37%  Penyakit  Menular  56%  Cedera  8%  Penyaki t Tidak  Menular  49%  Penyaki Menular  43%  Cedera  9%  Penyakit  Tidak  Menular  58%  Penyakit  Menular  33% 

1990

2000

2010

2015

Pengukuran beban penyakit dengan Disability-adjusted Life Years (DALYs)

hilangnya hidup dalam tahun akibat kesakitan dan kematian prematur

(45)

Pembiayaan Penyakit Katastrofik 

MENTERI KESEHATAN 

REPUBLIK INDONESIA 

(46)

Tujuan

MENKES untuk RATAS KEMISKINAN 2017  38 

Menyadarkan masyarakat akan sangat

pentingnya menjaga keseimbangan

kesehatan secara holistik; agar bangsa

Indonesia menjadi bangsa yang sehat,

cerdas and berprestasi, produktif dan

menjadi bangsa yang sejajar dengan

bangsa maju lainnya.

"

(47)
(48)

PEMANFAATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK)

UNTUK PENINGKATAN AKSES AIR MINUM DAN

(49)

REPUBLIK INDONESIA

2

Untuk integrasi usulan DAK

daerah sesuai dokumen

perencanaan yang berlaku

DOKUMEN PERENCANAAN

Strategi Sanitasi Kota

(SSK)

Rencana Aksi Daerah Air

Minum dan Penyehatan

Lingkungan

(RAD AMPL)

sebagai syarat utama

(50)

REPUBLIK INDONESIA

Bidang DAK

3

KATEGORISASI DAK 2018

REGULER

PENUGASAN

AFIRMASI

Penyediaan pelayanan dasar

sesuai UU 23/ 2014

Pencapaian Prioritas Nasional

Tahun 2018

Lokasi Prioritas pada daerah

perbatasan, kepulauan,

tertinggal, dan transmigrasi

9

bidang

4

bidang

(51)

REPUBLIK INDONESIA

4

SISTEM BERBASIS APLIKASI

Usulan

Daerah

Sinkronisasi Usulan

Monitoring

dan Evaluasi

Bappenas:

E-planning

Daerah

mengusulkan DAK

Kemenkeu:

E-sinkron

Sinkronisasi

penilaian pusat dan

usulan daerah

KemenPUPR:

E-monev

(52)

5

e-Proposal APBN/Musrenbang

APBD non DAK/ sumber lainnya Pusat/

Daerah?

DAK/ Non DAK?

Masuk Data Teknis DAK Isi Data Teknis Wajib

dan Opsional Bidang

Selesai mengisi data teknis wajib? Pusat Non DAK Selesai Daerah DAK Belum Masuk Pemetaan DAK 2018 Ya Tidak

Isi Update Data Isi Data Pendukung

Per Nomor Kegiatan Simpan

Print Surat Pengantar dan Rekapitulasi

Upload Scan Surat Pengantar yang telah

di-ttd Kepala Daerah dan cap basah serta

Rekapitulasi

End (Long List) Isi Data Realisasi

DAK Sudah Isi Data Realisasi Belum Selesai e-Proposal di-Tambah ke DAK

Input Usulan melalui e-Proposal Verfikasi Bangda

Kemendagri

Kirimkan secara fisik Surat Pengantar dan Rekap ke Kemenkeu,

Bappenas, dan K/L pengampu

Masuk Usulan DAK Tahun 2018 Menambahkan

e-Proposal? Verfikasi dan Scoring

(53)

REPUBLIK INDONESIA

Pembahasan

indeks teknis, prioritisasi usulan

(penyesuaian usulan

dengan pagu indikatif dari Kementerian Keuangan), penyepakatan

data

dasar

(sekaligus

forecasting

)

Pemantauan perlu ditingkatkan, pembinaan terhadap lembaga pengelola

(kabupaten/kota) dan perlu ada database kondisi sarana dan sanitasi daerah

untuk pengelolaan dana yang lebih baik

Bagaimana Strategi ke depan agar DAK Diprioritaskan bagi

(54)
(55)

 Fokus untuk :

 Meningkatkan pemerataan keuangan antardaerah;

 Meningkatkan kualitas dan mengurangi ketimpangan layanan publik antardaerah;

 Menciptakan lapangan kerja; dan

 Mengentaskan kemiskinan.

 Penyaluran berbasis kinerja pelaksanaan, yaitu penyerapan anggaran dan capaian output.

Transfer ke Daerah

701,1

Naik Rp3,4 T dari outlook

2017

706,2

Dana Bagi Hasil 87,7

• Penggunaan DBH Cukai Hasil Tembakau selain sesuai UU Cukai, juga untuk infrastruktur sesuai prioritas daerah;

• DBH Dana Reboisasi, selain Rehabilitasi Hutan dan Lahan juga penanganan kebakaran hutan, penataan batas kawasan, dan pembenihan; dan

• 25% untuk belanja infrastruktur.

89,2

Dana Alokasi Umum 398,1

• Mengurangi ketimpangan fiskal antardaerah

• Pagu bersifat dinamis;

• Bobot wilayah laut naik menjadi 100%;

• Memerhatikan pengalihan urusan antar tingkat pemerintahan; dan

• 25% untuk belanja infrastruktur.

401,5

Dana Alokasi Khusus Fisik 62,4

• Mengejar ketertinggalan infrastruktur layanan publik;

• Money follow program;

• Afirmasi kepada daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, dan transmigrasi;

• Usulan daerah sesuai prioritas nasional; dan

• Sinkronisasi dengan belanja K/L.

Dana Alokasi Khusus Nonfisik 123,5

Mengurangi beban masyarakat terhadap pelayanan publik dengan sasaran:

• BOS untuk 47,4 juta siswa;

• TPG 1,2 juta guru;

• BOK 9.767 Puskesmas;

• BOP PAUD untuk 6,1 juta siswa;

• Tamsil Guru untuk 265 ribu guru;

• Tunjangan Guru daerah terpencil untuk 50 ribu guru;

• BOKB untuk 6.830 balai; dan

• Penguatan Koperasi dan UKM untuk 23 ribu peserta pelatihan.

Dana Insentif Daerah 8,5

• Memacu perbaikan kinerja pengelolaan keuangan, pelayanan pemerintahan umum, layanan dasar publik, dan kesejahteraan.

Dana Otsus, DTI, dan Dais DIY 20,9

Untuk percepatan pembangunan infrastruktur Papua & Papua Barat, serta pengentasan kemiskinan pendanaan pendidikan, sosial dan kesehatan di Provinsi Aceh.

21,1

Formula makin fokus untuk mendukung pengentasan kemiskinan dan memperbaiki distribusi Dana Desa per kapita, melalui:

• Penurunan porsi alokasi yg dibagi merata ke semua desa & peningkatan alokasi formula;

• Pemberian bobot yang lebih besar kepada jumlah penduduk miskin; dan • Pemberian afirmasi kepada desa tertinggal dan desa sangat tertinggal dengan

jumlah penduduk miskin tinggi.

Dana Desa Naik Rp1,8 T dari

60,0

outlook 2017

(56)

PENGERTIAN 

Dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang 

dialokasikan kepada 

daerah tertentu 

dengan 

tujuan 

untuk membantu mendanai kegiatan 

khusus 

yang merupakan 

urusan daerah 

dan 

sesuai dengan prioritas nasional

FUNGSI 

Membantu daerah 

dalam mewujudkan tugas 

kepemerintahan di bidang tertentu, khususnya 

dalam upaya 

pemenuhan kebutuhan sarana dan 

prasarana pelayanan dasar masyarakat

 yang 

selaras dengan prioritas nasional

PENGALOKASIAN 

(FORMULA BASED) 

Kriteria Umum ditetapkan dengan memper>mbangkan  kemampuan keuangan dalam APBD. 

Kriteria Khusus ditetapkan dengan memperha>kan  peraturan perundang‐undangan dan karakteris>k daerah,  melipu>: daerah ter>nggal, daerah perbatasan dengan  negara lain, serta daerah pesisir dan kepulauan. 

Kriteria Teknis ditetapkan oleh Kementerian Negara/ Kementerian Teknis. 

(57)

KEBIJAKAN DAK FISIK 2018

1.

DAK REGULER

Membantu mendanai kegiatan untuk penyediaan pelayanan dasar sesuai UU 23/ 2014 dengan target

pemenuhan Standar Pelayanan Minimal dan ketersediaan sarana dan prasarana untuk pencapaian Program Presiden Ekonomi Berkeadilan

2. DAK PENUGASAN

Mendukung pencapaian Prioritas Nasional

Tahun 2018 yang menjadi kewenangan Daerah, lingkup kegiatan spesifik serta

lokasi prioritas tertentu

3. DAK AFFIRMASI

Membantu mempercepat pembangunan infrastruktur dan pelayanan dasar pada Lokasi Prioritas yang termasuk kategori daerah perbatasan, kepulauan,

tertinggal, dan transmigrasi (Area/Spatial Based)

1.Pendidikan (SMK); 2. Kesehatan; 3. Air Minum; 4.Sanitasi; 5. Jalan; 6.Irigasi; 7.Pasar;

8. Energi Skala Kecil; dan

9.Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

1.Kesehatan; 2. Perumahan dan

Permukiman; 3.Transportasi;

4. Pendidikan; 5.Air Minum; dan 6.Sanitasi.

1. Pendidikan 2. Kesehatan dan KB

3. Perumahan dan Permukiman

4. Industri Kecil dan Menengah (IKM)

5. Pertanian

6. Kelautan dan Perikanan

7. Pariwisata

8. Jalan

9. Air Minum

10. Sanitasi; dan 11. Pasar.

Penyempurnaan jenis dan bidang DAK Fisik sesuai dengan prinsip money follow program, berbasis proposal, serta 

sinkronisasi DAK dengan belanja K/L 

Memperbaiki Penyaluran DAK: 

a.

dengan 3 tahap per bidang 

b.

penyaluran secara sekaligus sesuai rekomendasi KL dan Bidang yang alokasi sd. 1 Miliar 

c.

berbasis kinerja pelaksanaan (performance based). 

Penguatan peran Provinsi dalam sinkronisasi usulan DAK Fisik 

(58)

5  Prinsip Pengalokasian

DAK Berbasis Kinerja Penyerapan

PRINSIP-PRINSIP PENGALOKASIAN DAK FISIK

BERBASIS USULAN DAERAH

(PROPOSAL BASED)

Mempercepat pembangunan

infrastruktur di daerah yang terkait dengan: 1.  pelayanan dasar

untuk pemenuhan SPM;

2. pengembangan

industri,

perdagangan, pariwisata, sektor perekonomian lainnya

Sinkronisasi usulan kegiatan antara:

1. Bidang yang satu dengan bidang lainnya;

2. Daerah yang satu dengan daerah lainnya, termasuk antara kabupaten/

kota dengan

provinsi; dan

3.  Kegiatan DAK dengan kegiatan yang didanai dari non DAK

Alokasi DAK

memperhitungkan

tingkat penyerapan anggaran dan capaian output/outcome tahun sebelumnya, dengan tujuan agar:

1.  Daerah punya komitmen untuk melaksanakan apa yang telah diusulkan;

2.  Daerah

melaksanakan DAK sesuai dengan target output dan lokasi kegiatan serta batas waktu yang ditetapkan

Prinsip Percepatan Penyediaan Infrastruktur di Daerah

Prinsip Sinkronisasi Pendanaan Pembangunan Daerah

Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

Usulan kegiatan harus: 1. Menjadi

kewenangan daerah;

2. Bagian dari RPJMD dan RKPD yang telah disinkronisasi dengan prioritas nasional; dan 3.  Kegiatannya harus

(59)

PENILAIAN DAN HASIL PENILAIAN USULAN DAK DI PUSAT

K/L Teknis Bappenas Kemenkeu

Penilaian mengacu pada : a. data teknis Usulan DAK

b. perbandingan data teknis usulan daerah dengan data teknis K/L c.  tingkat pencapaian SPM d. target output dan outcome :

• jangka menengah

• per tahun secara nasional.

Menilai usulan skala prioritas per bidang/ subbidang mengacu pada:

a. Data teknis Usulan DAK b. Lokasi prioritas

c.  Sinkronisasi kegiatan sesuai RKPD dan RPJMD dengan prioritas nasional dalam RKP dan RPJMN.

Menilai satuan biaya: a. Standar Biaya Masukan

b. Standar Biaya Keluaran usulan K/L c. Indeks kemahalan konstruksi d. Kinerja penyerapan DAK dan tingkat

capaian output fisik tahun sebelumnya.

Provinsi

a. Rekomendasi atas kegiatan dari usulan DAK Fisik Kabupaten/ Kota

b. Sinkronisasi kegiatan antara Kab./Kota dengan Provinsi dan antar Kab./Kota dalam lingkup Provinsi.

Agt ‐Sept 

Juni ‐ Juli 

Agt ‐Sept 

(60)

PAGU ALOKASI DAK FISIK TAHUN 2018

(dalam Miliar Rupiah) 

URAIAN APBN 2017 APBNP 2017 APBN 2018 Selisih 2017- 2018

(1) (2) (3) (4) (5)=(4)-(3)

DANA ALOKASI KHUSUS FISIK 58,342.21 69,531.50 62,436.26 (7,095.24)

a. DAK Reguler 20,396.25 20,396.25 31,350.84 10,954.59

1. Pendidikan 6,107.10 6,107.10 6,629.30 522.20 2. Kesehatan dan KB 10,021.82 10,021.82 10,511.81 489.99

3. Air Minum 500.67 500.67

4. Sanitasi 521.49 521.49

5. Perumahan dan Pemukiman 654.89 654.89 564.96 (89.93)

6. Pasar 863.39 863.39

7. Industri Kecil dan Menengah 531.50 531.50 563.69 32.19 8. Pertanian 1,650.04 1,650.04 1,681.68 31.64 9. Kelautan dan Perikanan 926.50 926.50 879.70 (46.80) 10. Pariwisata 504.40 504.40 631.95 127.55

11. Jalan 8,002.20 8,002.20

b. DAK Penugasan 34,466.76 34,466.76 24,463.66 (10,003.10)

1. Pendidikan SMK 1,951.80 1,951.80 1,713.60 (238.20) 2. Kesehatan 4,831.26 4,831.26 4,241.66 (589.60) 3. Air Minum 1,200.30 1,200.30 1,053.82 (146.48) 4. Sanitasi 1,250.20 1,250.20 1,097.63 (152.57) 5. Jalan 19,690.10 19,690.10 10,200.66 (9,489.44) 6. Pasar 1,035.70 1,035.70 909.30 (126.40) 7. Irigasi 4,005.10 4,005.10 4,246.18 241.08 8. Energi Skala Kecil dan Menengah 502.30 502.30 500.10 (2.20) 9. Lingkungan Hidup dan Kehutanan 500.72 500.72

c. DAK Afirmasi 3,479.20 3,479.20 6,621.77 3,142.57

1. Kesehatan 2,251.80 2,251.80 3,226.24 974.44 2. Perumahan dan Pemukiman 383.30 383.30 464.64 81.34 3. Transportasi 844.10 844.10 1,078.13 234.03

4. Pendidikan 794.61 794.61

5. Air Minum 516.26 516.26

6. Sanitasi 541.88 541.88

(61)

1. Rehab Ruang Belajar:

• SD : 39.220 unit

• SMP : 13.402 unit

• SMA/K : 5.855 paket

2. Ruang Kelas Baru:

• SD : 5.694 unit

• SMP : 4.095 unit

• SMA/K : 4.466 paket

3. Alat peraga dan Buku:

• SD : 19.488 unit

• SMP : 10.345 unit

• SMA/K : 8.848 paket

1. Prasarana dan Sarana Rumah Sakit dan Puskesmas : 15.716 unit

2. Alat kesehatan: RS dan Puskesmas : 26.387 unit

3. Kefarmasian: 2.273 paket

1. Pembangunan/peningkatan jaringan irigasi seluas 51.000 Ha

2. Rehabilitasi Jaringan Irigasi

seluas 771.850 Ha

3. Perbaikan sumber air 8.200 unit

4. Jalan Usaha Tani 600 Km.

1. Pembangunan 127.500 SR untuk SPAL terpusat 2. Pembangunan 1.700 unit

SPAL Terpusat

3. Penyediaan 500.000 unit tangki septik

4. Penyediaan 20 unit truk tinja 5. Pembangunan 10 IPLT baru. 6. Penyediaan sarana sanitasi

individual perdesaan di desa/ kelurahan sebanyak

2.100.000 unit.

Kemantapan Jalan: Provinsi

73,38%

Kab/Kota

62,88%

Dengan sasaran penyediaan: 1. Sumber air minum layak bagi

510.412 rumah tangga. 2. Sumber air minum layak bagi

716.352 rumah tangga melalui pembangunan 448 SPAM. 3. Sumber air minum layak bagi

243.170 rumah tangga melalui peningkatan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan (BJP)

Fasilitasi stimulan pembangunan baru maupun peningkatan kualitas 225.804 rumah tangga.

PENDIDIKAN

AIR MINUM

PERUMAHAN

KESEHATAN

JALAN

IRIGASI & PERTANIAN

SANITASI

DAK Fisik 2018 dialokasikan sebesar Rp62,44 T dengan 166 menu kegiatan,

dengan afirmasi untuk daerah-daerah perbatasan, daerah tertinggal,

(62)

Dalam jutaan Rp 

(63)

NO  BIDANG  MENU KEGIATAN  INDIKATOR OUTPUT  INDIKATOR  OUTCOME  LOKASI PRIORITAS 

AIR MINUM (UIC: KEMENPUPR) 

DAK Reguler  Pemanfaatan idle capacity  SPAM terbangun dari sistem  IKK/PDAM/Komunal (satuan  sambungan rumah (SR) 

 Tersedianya akses ke sumber air  minum yang layak bagi 510.412  rumah tangga bagi masyarakat  (bagi Masyarakat Berpenghasilan  Rendah (MBR) dan Non‐MBR) di  kab/kota yang memiliki idle  capacity yang memadai untuk  dibangun. 

 Tersedianya akses ke sumber air  minum yang layak bagi 716.352  rumah tangga melalui 

pembangunan baru 448 SPAM  lengkap. 

 Tersedianya akses ke sumber air  minum yang layak bagi 243.170  rumah tangga melalui 

peningkatan SPAM BJP menjadi  SPAM BJP terlindungi. 

 Peningkatan  jumlah  penduduk  yang  mendapatka n pelayanan  air minum  yaitu  sebanyak  5.879.736  jiwa. 

 diprioritaskan bagi  kabupaten/kota  dengan akses air  minum rendah  (masih di bawah  rata‐rata nasional). 

DAK Afirmasi  Pemanfaatan idle capacity  SPAM terbangun dari  sistem IKK/PDAM/Komunal  (satuan sambungan rumah  (SR) dan jiwa terlayani) 

  Pembangunan baru bagi  daerah yang belum  memiliki layanan air  minum, peningkatan SPAM  BJP menjadi SPAM BJP  terlindungi, serta SPAM BJP  terlindungi menjadi SPAM  JP 

  Penambahan kapasitas  dan/atau volume dari  sarana dan prasarana SPAM  terbangun (satuan liter/ de>k dan jiwa terlayani) 

 Daerah Ter>nggal 

 Daerah Perbatasan 

 Daerah Kepulauan 

 Transmigrasi 

DAK  Penugasan 

 Kawasan Ekonomi  Khusus (KEK) 

 Pariwisata 

 Kabupaten/kota yang  memiliki SPAM  Regional 

 Kota binaan 

Kementerian PUPR 

 Kawasan Kumuh 

(64)

NO  BIDANG  MENU KEGIATAN  INDIKATOR OUTPUT  INDIKATOR 

OUTCOME  LOKASI PRIORITAS 

SANITASI (UIC: KEMENPUPR) 

DAK Reguler  Pembangunan baru SPALD  Terpusat Skala Komunal yang  terdiri dari Instalasi  Pengolahan Air Limbah  Domes>k (IPALD)  permukiman, jaringan  pengumpul dan SR dengan  jumlah layanan minimal 50 KK. 

 Pembangunan baru SPALD  Terpusat skala permukiman  yang terdiri dari IPALD  permukiman skala komunal,  jaringan pengumpul dan SR  dengan jumlah layanan  minimal 50 KK serta  parasarana Mandi Cuci Kakus  (MCK). 

 Pembangunan tangki sep>k  skala komunal (5‐10 KK). 

 Terbangunnya  127.500 SR untuk  SPAL terpusat  terpasang (skala  komunal, kawasan,  dan/atau kota). 

 Terbangunnya  115.200 SR melalui  pembangunan 1.700  unit SPAL Terpusat  Skala Komunal  Domes>k baru 

 Tersedianya 500.000  unit tangki sep>k  individu di 

perkotaan. 

 Peningkatan  layanan  sanitasi  (sistem  pengolahan  air limbah  individual,  komunal  dan terpusat  (jiwa) 

 Sudah atau sedang menyusun  dokumen Strategi Sanitasi  Kabupaten/Kota (SSK)/ Memorandum Program Sanitasi  (MPS).  Kabupaten/kota yang  sudah atau sedang menyusun  dokumen SSK/MPS. 

 Kegiatan DAK Reguler Sanitasi  Tahun 2018 dilakukan di luar  lokasi kegiatan DAK Afirmasi dan  DAK Penugasan. 

DAK Afirmasi  Daerah Ter>nggal 

 Daerah Perbatasan 

 Daerah Kepulauan 

 Transmigrasi 

 Dokumen SSK/MMS  DAK 

Penugasan 

 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 

 Pariwisata 

 Kabupaten/kota yang memiliki  SPAM Regional 

 Kota binaan Kementerian PUPR 

 Kawasan Kumuh 

(65)

MEKANISME PENYALURAN DAK FISIK

PMK 112/PMK.07/2017 Ttg Perubahan PMK 50/PMK.07/2017

Besaran Penyaluran

Syarat:

•  Perda APBD

•  Laporan Realisasi Output Tahun Anggaran /

Tahapan sebelumnya

Minimal Penyerapan

•  Minimal Output

•  Kontrak Kegiatan

•  Rencana Kegiatan (RK) yang telah disetujui KL

•  Laporan nilai rencana kebutuhan dana

Penyampaian Dokumen Paling Lambat Penyaluran:

Paling Cepat

•  Paling Lambat

Ketentuan Penyaluran

Catatan:

Penyaluran melalui KPPN setempat

•  sebesar selisih antara dana yang telah diterima di RKUD dengan nilai rencana kebutuhan dana untuk penyelesaian kegiatan;

** Nilai rencana kegiatan 100%.

Alokasi Bidang < 1 M = penyaluran sekaligus

100%

1. Dokumen paling

lambat 21 Juli

2. Kegiatan tertentu

yang

direkomendasika n K/L dan disetujui Kemenkeu

Thp I Thp II Thp III 25% 45% *

Feb Apr Juli

21 JULI 21 OKT 15 DES

(66)

13 

PENYALURAN DAK FISIK (1)

Paling cepat Februari Paling lambat Juli

25

Paling cepat April Paling lambat Oktober

Tahap 

Tahap II 

Paling cepat September Paling lambat Desember

sebesar selisih antara dana yang telah disalurkan dengan nilai rencana kebutuhan

dana untuk penyeluesaian kegiatan

Tahap III 

45

  DAK yang disalurkan (tahap III) sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai output 100%;

  Mengurangi/menghilangkan Sisa DAK yang ada di RKUD;

  Perencanaan Kas Pemerintah menjadi lebih terukur dan sehat; dan

  Mendisplinkan daerah dalam perencanaan kas.

(67)

14 

PENYALURAN DAK FISIK (2)

Meningkatkan pencapaian sasaran target out yang telah ditetapkan pada TA sebelumnya

Meningkatkan kemampuan dan komitmen daerah dalam pelaksanaan DAK Fisik;

Mendorong pencapaian target output yang telah ditetapkan

Tahap I

  Perda APBD TA berjalan

  laporan realisasi

penyerapan dan capaian output kegiatan TA

sebelumnya

  Rencana kerja yang telah disetujui K/L

  Daftar kontrak

kegiatan,berupa data kontrak, bukti pemesanan barang, data pelaksanaan kegiatan swakelola dan/ atau kegiatan dana penunjang

Tahap II

  laporan realisasi

penyerapan dana paling sedikit 75% dari dana yang telah diterima di RKUD dan capaian output

TW I

Tahap III

  laporan realisasi

penyerapan dana paling sedikit 90% dari dana yang telah

diterima di RKUD dan

capaian output s.d Tahap II paling sedikit 70%

  nilai rencana penyelesaian kegiatan dalam rangka penyelesaian capaian output 100% (seratus persen)

kegiatan DAK Fisik per jenis per bidang

PERSYARATAN:

Desain  Perencanaan,  Biaya  Tender,  Honorarium 

fasilitator  kegiatan  DAK  Fisik  yang  dilakukan  secara  swakelola,  Penunjukan  konsultan  pengawas  kegiatan 

kontraktual,  Penyelengaraan  rapat  koordinasi, 

Perjalanan  dinas  ke/dari  lokasi  kegiatan  dalam  rangka  perencanaan, pengendalian, dan pengawasan 

(68)

15 

paling lambat tanggal

21 Juli

 

paling lambat tanggal

15 Desember

 

paling lambat

tanggal 21

Oktober

 

BATAS WAKTU PENYAMPAIAN PERSYARATAN:

Konsekuensi persyaratan terlambat:

DAK Fisik Tahapan berikutnya tidak

disalurkan

Tujuan Penerapan:

Penerapan punishment bagi daerah

yang tidak tertib dan berkomitmen

rendah

Menodorong daerah agar tertib/

disiplin anggaran

TAHAP I

TAHAP II

TAHAP III

(69)

16 

Penyaluran DAK Fisik bidang tertentu s.d 1 Milyar:

Dapat sekaligus paling cepat April paling lambat Juli sebesar nilai kebutuhan dana

untuk penyelesaian kegiatan DAK Fisik

Persyaratan:

perda APBD TA berjalan;

laporan realisasi penyerapan dana dan capaian output kegiatan DAK Fisik TA

sebelumnya

Daftar kontrak kegiatan

Batas penyampaian persyaratan 21 Juli

Laporan paling lambat November TA berjalan

Tujuan Perubahan

Penyaluran berdasarkan

nilai kontrak

dan

mempermudah

pelaksanaan DAK Fisik yang

relatif sederhana

dalam

pelaksanaannya

(70)

17 

Penyaluran DAK Fisik yang pembayarannya tidak bisa bertahap:

K/L menyampaikan

rekomendasi terhadap

kegiatan yang pembayarannya

tidak bisa

dilakukan pembayaran secara bertahap

;

Rekomendasi disampaikan ke DJPK

paling lambat Februari

;

DJPK menyampaikan ketetapan kegiatan yang pembayarannya tidak bisa dilakukan sekaligus

kepada KPPN

melalui koordinator KPA;

Disalurkan sekaligus

paling cepat Agustus

dan

paling lambat Desember

;

Penyaluran bidang yang kegiatannya bertahap: sebesar persentase tiap tahapan dari

nilai

rencana kebutuhan

setelah dikurangi

kegiatan yang pembayarannya tidak bisa dilakukan

bertahap

;

Daftar kontrak kegiatan dan Laporan Realisasi penyerapan dana dan capaian output DAK Fisik

TA sebelumnya disampaikan kepada Kepala KPPN paling lambat 21 Juli

Keseluruhan BAST dan/atau Pekerjaan yang tidak dapat dilakukan bertahap disampaikan

kepada Kepala KPPN paling lambat 15 Desember

Tujuan Perubahan

Mengatur

lebih rinci

terhadap kegiatan yang

pembayarannya sebagian/seluruhnya

tidak dapat

dilakukan

secara bertahap

(71)

Penyusunan Petunjuk Teknis yang belum diatur dalam Perpres 123 Tahun 2016 

 Target Bulan 

Desember 2017 seluruh petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan sudah ditetapkan. 

Pemerintah Daerah menyusun Usulan Rencana Kegiatan dan Anggaran (URK) untuk disampaikan dan 

disetujui oleh K/L teknis dan Bappenas menjadi Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) 

 RKA 

menjadi syarat penyaluran Tahap I. 

Informasi yang perlu dimasukkan dalam dokumen RKA: 

1)

Menu Kegiatan 

2)

Rincian Kegiatan per paket pengadaan (termasuk Kegiatan Penunjang maks. 5% dari pagu alokasi); 

3)

Metode Pengadaan Barang dan Jasa; 

4)

Lokasi Kegiatan; 

5)

Volume Output dan Satuan Output 

6)

Kebutuhan Biaya per Paket Pengadaan; 

7)

Total Kebutuhan Dana (DAK + Dana 

APBD *jika ada); 

Pemerintah Daerah menetapkan APBD dan memulai proses pengadaan barang/jasa 

 Kontrak 

menjadi syarat penyaluran Tahap I. 

PERSIAPAN PELAKSANAAN DAK FISIK 2018

(72)

No.  Menu  Kegiatan  Rincian  Kegiatan  Metode PBJ  Lokasi  Kegiatan  Volume  Output  Satuan  Output  Kebutuhan  Biaya  Total Kebutuhan Dana   DAK Fisik  APBD  1.  Rehabilitasi  Jalan  Perbaikan Ruas  Jalan A (KM 0 –  KM 8) 

Kontraktual  Jalan A  10  Km  Rp10 M  Rp10 M  ‐ 

2.  Perbaikan Ruas 

Jalan A (KM 9 –  Km 10) 

Kontraktual  Jalan A  2  Km  Rp2 M  ‐  Rp2 M 

3.  Perbaikan Ruas 

Jalan B 

Kontraktual  Jalan B  8  Km  Rp.8 M  Rp.8 M 

4.  Evaluasi 

Pekerjan 

Kontraktual  Jalan A dan B  2  Konsultan  Rp900 juta 

19 

CONTOH FORMAT RKA UNTUK DAK FISIK 2018 

Nama Daerah

 : Kabupaten A 

Bidang 

 

 : Jalan 

(73)

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan - Kementerian

Keuangan

Gedung Radius Prawiro

Jalan Dr Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710 Telp. 021 3509442 Fax. 021 3509443

www.djpk.depkeu.go.id

(74)

PEMANFAATAN DAK

UNTUK PENINGKATAN AKSES SEKTOR

AIR MINUM DAN SANITASI

DI KAB. SIDENRENG RAPPANG

SUDIRMAN BUNGI, S.IP, M.Si.

Sekretaris Daerah Kab. Sidenreng Rappang

DIBAWAKAN PADA ACARA KSAN 2017

(75)

PEMETAAN MASALAH DAN KEBUTUHAN

AIR MINUM DAN SANITASI

DOKUMEN PERENCANAAN :

RPJMD 2014-2018

RPIJM 2018-2022

RISPAM 2015-2018

SSK 2014-2018

PEMUTAKHIRAN SSK 2018-2022

APBD DESA

(76)

PERATURAN BUPATI SIDENRENG RAPPANG

NOMOR 05 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN

PENGELOLAAN DANA DESA

Pasal 12

1) Penggunaan belanja modal dan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7

huruf c, harus sesuai dan berdasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Desa dan diprioritaskan digunakan untuk (a)

Pembangunan/rehabilitasi

sarana air bersih di desa; (b) Pembangunan Jamban Keluarga; (c) Pembangunan

sarana sanitasi lainnya

.

2) Setelah prioritas dan target kebutuhan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

selesai seluruhnya,

maka

desa dapat melakukan penggunaan belanja modal dan

pembangunan untuk : (a) Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan desa;

(b) Pembangunan sarana dan prasarana perhubungan berupa jalan; (c) Pembangunan

sarana dan prasarana perekonomian; (d) Pembangunan sarana dan prasarana

kebutuhan dasar; (e) Pembangunan sarana dan prasarana dasar; (f) Bantuan biaya

pemilihan kepala desa.

(77)

CIPTAKAN SINERGI

MENDU

KUNG

OPTIMALISASI

KINERJA

DAK

DAU

APBN

LAINNYA

PAMSIMAS

(78)

KUNCI KEBERHASILAN

FOKUS

&

KOMITMEN

PIMPINAN

DAERAH

KETERPADUAN

STAKEHOLDER

(BAPPEDA, BPKD, DINAS KESEHATAN,

DINAS PERA, DINAS PU, DINAS PMD, DINAS

INFOKOM, TNI-AD, KSM, ASOSIASI

BP-SPAM, SWASTA, FORUM CSR,)

REGULASI

(UU, PP, PERMEN, PERDA, PERBUP)

PENDANAAN

(APBN, DAK, DAU ,BAGI HASIL PBB,

DANA DESA, CSR)

(79)
(80)
(81)

PENDANAAN AIR BERSIH

2015

2016

2017

1,605,013,000

2,685,768,500

2,862,350,000

- 304,703,900

21,308,039,200

DAK

DAU

PAMSIMAS

ADD

PRIMA KESEHATAN

CSR

PROGRAM

2015

2016

2017

Air Bersih (DAK)

Rp. 1.605.013.000,- Rp. 2.685.768.500,- Rp. 2.862.350.000,-

Air Bersih (DAU)

Rp. 1.211.858.000,- Rp. 722.236.500,- Rp. 860.000.000,-

Pamsimas

Rp. 804.650.000,- Rp. 1.041.000.000,- Rp. 2.513.750.000,-

Prima kesehatan

Rp. 0,- Rp. 162.650.900,- Rp. 0,-

Alokasi Dana Desa

Rp. 0,- Rp. 304.703.900,-- Rp21.308.039.200,-

CSR

Rp. 240.000.000,-
(82)

Nama Kegiatan 2015 2016 2017

Air Limbah (DAK) Rp. 1.133.870.000,- Rp. 2.398.308.500,- Rp. 2.004.000.000,-

Air Limbah (DAU) Rp. 358.257.000,- Rp. 272.699.500,- Rp. 685.380.000,-

Persampahan Rp. 3.631.102.000,- Rp. 6.663.637.500,- Rp. 968.861.000,-

Drainase Rp. 4.053.509.000,- Rp. 17.963.238.000,- Rp. 11.962.053.000,-

Prima Kesehatan Rp. 1.022.400.000,- Rp. 4.069.800.000,- Rp. 2.788.200.000,-

Alokasi Dana Desa Rp. 6.434.474.000,- TOTAL Rp. 10.176.738.000,- Rp. 31.367.683.500,- Rp. 24.842.968.000,-

2015

2016

2017

1,133,870,000 2,398,308,500 2,004,000,000

4,053,509,000

11,962,053,000

AIR LIMBAH DAK

AIR LIMBAH DAU

PERSAMPAHAN

DRAINASE

PRIMA KESEHATAN

ALOKASI DANA DESA

(83)

PROGRAM PAMSIMAS

DI KAB. SIDENRENG RAPPANG

SUMBER DATA: HASIL OLAHAN BIDANG INFRASWIL BAPPELITBANGDA

DESA REGULER

REPLIKASI

48

4

17

6

JUMLAH DESA/KEL.

PAMSIMAS I

(2008-2013)

PAMSIMAS II

(2013-2016

JUMLAH SR

5298

1049

JUMLAH SR

PAMSIMAS I

PAMSIMAS II

21563

3705

3705

JUMLAH JIWA

(84)
(85)

PERAN PEMDA TERKAIT PENGUATAN

ASOSIASI BP-SPAMS PERDESAAN

KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG

DANA OPERASIONAL

1. DANA INTENSIF SEBESAR Rp. 30.000.000,-

2. DANA BASIC SEBESAR Rp. 20.000.000,-

INSENTIF BAGI PENGURUS ASOSIASI BP-

“PAM“ PERDE“AAN AMANAH

SEBANYAK Rp. 200.000,-/ORANG ATAU SEBESAR Rp. 57.600.000,-

PENGADAAN ALAT BOR DAN PENGURAS YANG DIHIBAHKAN KE ASOSIASI

BP-

“PAM“ PERDE“AAN AMANAH “EBE“AR

Rp. 250.000.000,-

PENGEMBANGAN WAWASAN BAGI PENGURUS ASOSIASI BP-SPAMS

PERDE“AAN AMANAH “EBE“AR

Rp. 80.000.000,-

MENGAKOMODIR HASIL MONITORING ASOSIASI BP-SPAMS PERDESAAN

AMANAH DALAM APBD KABUPATEN BAGI LOKA“I PAM“IMA“ YANG

(86)

PERAN SWASTA / CSR DALAM

PEMBANGUNAN AIR BERSIH

DAN SANITASI

UPC

SIDRAP

BAYU

ENERGI

PEKERJAAN PENGEBORAN +

POMPA + LISTRIK DI DESA

MATTIROTASI SEBESAR

Rp. 145.000.000

PEKERJAAN PENGEBORAN +

POMPA + LISTRIK DI DESA

(87)

Peta Sasaran Program Sanitasi

(88)

DANA BAGI

HASIL PBB P1

P2 65% TAHUN

SEBELUMNYA

KELURAHAN

MENGGUNAKAN

DPA KECAMATAN

DESA DIALOKASIKAN PADA BPKD SELAKU

SATUAN KERJA PENGELOLA KEUANGAN DAERAH DENGAN SISTEM HIBAH MINIMAL 70% DIGUNAKAN

UNTUK KEGIATAN FISIK/INFRASTRUKTUR SANITASI DAN AIR BERSIH

DAN 30% UNTUK KEGIATAN NON FISIK. MASYA

RAKAT

OLEH MASYA RAKAT

(89)

ALUR PELAKSANAAN PROGRAM MANDIRI

KESEHATAN

PEMBENTUKAN POKJA KABUPATEN PENETAPAN PERBUP JUKNIS DAN PAGU DANA BAGI HASIL PBB

PEMBENTUKAN POKJA KELURAHAN DAN FAS. KECAMATAN

BIMTEK POKJA KEL. DAN FAS KEC.

(90)

PROGRAM PRIMA KESEHATAN

DANA PRIMA KESEHATAN

TAHUN 2015 : Rp. 4.236.303.000,- (BHP)

TAHUN 2016 : Rp. 5.232.845.000,- (BHP)

TAHUN 2017 : Rp. 8.655.424.000,-

Rp. 6.570.886.000,- (BHP)

Tambahan Rp. 2.084.538.000,- (APBD).

Program yang dilaksanakan untuk mengatasi persoalan

Sanitasi, Air Minum (Perbaikan Sarana Pamsimas) dan

Gizi Masyarakat

DANA

BAGI

HASIL

PBB P1 P2

65%

TAHUN

SEBELUM

(91)

JUMLAH JAMBAN KELUARGA YANG TERBANGUN MELALUI

PROGRAM PRIMA KESEHATAN DAN DANA ADD APBD

SUMBER DATA: LAP.PRIMA KESEHATAN

JAMBAN KELUARGA YANG TERBANGUN

568

2261

1599

3449

2015

2016

2017

(92)

Kondisi pencapaian akses air Bersih dan

Sanitasi kab. sidrap

SUMBER DATA: HASIL OLAHAN POKJA AMPL KAB. SIDRAP

* ANGKA SEMENTARA CAPAIAN TAHUN 2017

77.10%

75%

82.60%

80%

95.0%

85%

CAPAIAN

TARGET

TARGET DAN CAPAIAN AIR BERSIH

2015

2016

2017

85.39%

80%

89.00%

85%

95%

89%

CAPAIAN

TARGET

TARGET DAN CAPAIAN SANITASI

(93)

KEBUTUHAN PENDANAAN

URAIAN

TARGET AKSES

KEBUTUHAN PENDANAAN (RP)

2018

2019

2018

2019

AIR MINUM

100%

100%

13.007.195.000

4.500.000.000

(94)

Peta pengembangan air limbah domestik

(95)

FOTO KEGIATAN DAK

(AIR BERSIH)

(96)

FOTO KEGIATAN DAK SANITASI (MCK++)

(97)

FOTO PROGRAM PAMSIMAS

(98)
(99)

FOTO PRIMA KESEHATAN

(100)
(101)
(102)

BANTUAN ALAT BOR DAN PENGURAS

(103)

INDAH PUTRI INDRIANI

BUPATI

LUWU UTARA

“OPTIMALISASI PEMANFAATAN DANA

DESA”

Menuju Universal Access 2019

KONFERENSI SANITASI DAN AIR MINUM NASIONAL (KSAN) 2017

(104)

U

SULAWESI TENGAH

KAB. TORAJA UTARA

KAB.LUWU TIMUR SULAWESI BARAT

KAB.LUWU

12

= KECAMATAN

166 = DESA

7 = KELURAHAN

TOTAL LUAS WILAYAH : 7.502,58 Km² 

Populasi: 302.687 

jiwa

(105)

Rp252,797,283.

00

Rp2,798,757,23

1.00

2014.5

2015

2015.5

2016

2016.5

2017

2017.5

14 DESA

Rp929.993.746

29 DESA

63 DESA

Rp1,273,348,73

2.00

Rp1,637,301,10

3.00

Rp2,178,724,20

0.00

2014.5

2015

2015.5

2016

2016.5

2017

2017.5

31 DESA

25 DESA

36 DESA

Rp4,966,858,01

4.00

Rp21,163,086,3

22.00

Rp114,391,342,

000.00

2014.5

2015

2015.5

2016

2016.5

2017

2017.5

58 DESA

91 DESA

97 DESA

PEMANFAATAN DANA DESA UNTUK _AMPL

GRAFIK PEMANFAATAN DANA

DESA

2016

2017

27,4%

59,4%

32 %

27,1%

39,1%

2016

2017

12 %

37 %

39,4%

2016

2017

(106)

PENGUATAN POKJA AMPL DI KABUPATEN LUWU UTARA

PERBUP NOMOR 43 TAHUN 2 014 TENTANG TENTANG DESA DAN KELURAHAN SEHAT (SURAT EDARAN BUPATI

TENTANG PENERAPAN DESA DAN KELURAHAN SEHAT dan SURAT EDARAN CAMAT TENTANG TARGET

KELURAHAN/ DESA ODF )

PENGAWALAN PERENCANAAN ( MUSRENBANG DESA,; RKPDes, ; RPJMDes )

PENGUATAN TIM ASISTENSI APBDes ( BAPPEDA; BPKAD ; DPMD DAN TENAGA AHLI PROGRAM P3MD)

INTEGRASI SEKTOR AMPL DALAM RPJMDes DAN RKPDes

DISEMINASI DAN SOSIALISASI STBM MELALUI RADIO LOKAL

PENERBITAN PERATURAN DESA STBM

ADVOKASI UNTUK INTEGRASI RPJMDes, RKPDes, RPJMD DAN RKPD MELALUI KEMITRAAN

DENGAN NGO , UNIVERSITY, INDUSTRIAL AND GOVERNMENT (UIG)

(107)

CAPAIAN 2017

1.

AKSES UNIVERSAL SANITASI MENCAPAI 84,54% [255.892 jiwa]

2.

AKSES SANITASI 100% DI 62 DESA, DENGAN 27,508 RT DENGAN

JUMLAH 104.810 JIWA.

3.

AKSES SANITASI 75-99% DI 74 DESA, SELEBIHNYA CAKUPAN <74%

4.

2 DARI 12 KECAMATAN BERSTATUS KECAMATAN ODF DENGAN

12.333 RT DENGAN JUMLAH PENDUDUK 48.795 JIWA

5.

40 SEKOLAH DASAR BERSTATUS SEHAT

RENCANA PENINGKATAN CAPAIAN

PENINGKATAN PERAN AKTIF MASYARAKAT UNTUK :

1.

PENGOLAHAN AIR MINUM & MAKANAN RUMAH TANGGA

2.

PENGOLAHAN SAMPAH RUMAH TANGGA

(108)
(109)

PEMANFAATAN DANA DESA UNTUK

SEKTOR AIR MINUM DAN SANITASI

Oleh :

Direktur Pendayagunaan SDA dan TTG

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
(110)

tahun  harus  mampu  membawa  dampak  signi9ikan  dalam  upaya  mewujudkan 

pemerataan pembangunan

(111)

Penyelenggaraan Pemerintahan

Pelaksanaan Pembangunan Desa (Infrastruktur/Sarpras)

Pembinaan Kemasyarakatan

Pemberdayaan Masayarakat

JALAN= 29.050 KM  JEMBATAN =  402.620 M 

MCK = 17.344 UNIT  AIR BERSIH = 6.668  UNIT 

PAUD = 3.736 UNIT  POSYANDU = 3.536  UNIT 

POLINDES = 904  UNIT 

SUMUR = 9.360  UNIT 

TAMBATAN  PERAHU =828 UNIT 

PASAR DESA = 1.296  UNIT 

EMBUNG = 652 UNIT  DRAINASE = 33.976  UNIT 

IRIGASI = 3.856  UNIT 

(112)
(113)

Total Dana Desa 2017  

Rp 60 Triliun 

Tahap 1:  Rp 36 Triliun  (60%) 

Tahap 2:  Rp 24 Triliun  (40%) 

1. Penyaluran dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke 

Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Tahap I: Rp 35,98 

Trilyun (99,97%); 

2.  Hanya Kabupaten Ketapang dan Seluma yang pencairan Dana 

Desa Tahap 1 dari RKUN ke RKUD belum mencapai 100%; 

3. Total transfer dari RKUD ke Rekening Kas Desa (RKD) Tahap 

1: Rp 31,48 Trilyun (87,48%) dari RKUD atau 52,47%  dari alokasi di RKUN). 

Laporan Pelaksanaan Dana Desa Tahun 2017 tahap 1 (49,97 Trilyun

)

5.60%

80.97%

2.90% 0.38%

7.65% 1.48%

1.03% Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Sarana Prasarana Desa

Pengembangan Potensi Ekonomi Lokal

(114)

DANA DESA AKUMULASI TAHUN 

2015, 2016 dan 2017 

Hasil Pemanfaatan Dana Desa yang 

Berpengaruh terhadap Ekonomi 

Masyarakat Desa  

121.601 KM  1.959 KM  5.189 Unit 

65.512 Unit  2.054 Unit 

4.113 Unit 

Hasil Pemanfaatan Dana Desa yang Berpengaruh 

terhadap Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat 

Desa  

163.899 Unit  82.274 Unit 

518.635 Unit  32.099 Unit 

45.865 Unit 

6.045 Unit 

13.925 Unit  1.212 Unit 

21.874 Unit  2.385 Unit 

(115)

PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA TAHUN 2018  

(Permendesa, PDT dan Transmigrasi Nomor 19 Tahun 2017)  

Dalam proses perencanaan program/kegiatan, desa dapat mempertimbangkan tipologi Desa berdasarkan 

tingkat perkembangan kemajuan Desa�

Gambar

GRAFIK PEMANFAATAN DANA

Referensi

Dokumen terkait

Puzzle berasal dari bahasa Perancis kuno Apose , yang berarti membingungkan. 17 Puzzle merupakan permainan edukatif dengan sistem bongkar pasang tujuannya

Faktor lain yaitu adanya peluang penciptaan karya dimana belum pernah ada yang mengangkat cerita legenda Roro Kembang Sore ke dalam wujud tokoh wayang sehingga menjadi

Tujuan dari penelitian ini adalah merancang suatu sistem informasi perpustakaan berbasis client server pada Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) Makassar, hasil

Dengan menggunakan tiga indikator status kesehatan, angka kematian bayi, angka kematian dibawah 5 tahun dan angka harapan hidup, Mohanoe (2004) menemukan bahwa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah jamblang yang mengandung antosianin mampu menurunkan kadar LDL dalam darah tikus wistar yang mengalami

Manajemen laba diukur dengan discretionary accruals , struktur kepemilikan manajerial diukur dengan jumlah persentase saham yang dimiliki oleh manajerial, ukuran

Persatuan yang sehat dan suasana yang akrab dan gembira, menuju kehidupan serasi, selaras, dan seimbang untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sejati (Engkos Kosasih, 1983,

Tarif Klinik/Rumah Sakit, Tarif Penggunaan Gedung, Wisma, Asrama, clan Lahan, clan Tarif Penggunaan Laboratorium Penelitian sebagaimana climaksucl clalam Pasal 4