• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ilmu dan Masa Depan doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ilmu dan Masa Depan doc"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ILMU PENEROBOS MASA DEPAN MANUSIA

Ilmu dan Masa Depan

A. PENDAHULUAN

Ilmu atau scinece merupakan suatu perkataan yang cukup bermakna ganda, yaitu mengandung lebih dari pada satu arti. Maka pemakaian istilah tersebut seseorang harus menegaskan serta menyadari arti mana yang dimaksud. Dalam arti yang pertama ilmu mengacu pada ilmu seumumnya (scinece in general). arti yang kedua dari ilmu merujuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang memperlajari sesuatu pokok soal tertentu. dalam arti tersebut ilmu berarti sesuatu cabang ilmu khusus seperti antropologi, biologi, dan lain-lain. Istilah scinece sering juga dipakai untuk merujuk gugusan-gugusan ilmu kealaman atau natural scinece. Jadi ilmu adalah sebuah proses yang membuat pengetahuan.

Manusia adalah mahkluk yang sosialis dan dinamis, dimana mereka masuk dalam suatu lingkaran yang terbatas dalam ruang dan waktu. Mereka terbatas oleh waktu karena manusia memiliki keinginan atau hasrat yang dapat membuat mereka harus mengatakan cukup atas kebutuhan mungkin karena berbagai alasan. Namun pun demikian manusia akan terus mencari apa yang menjadi kebutuhanya tersebut. walaupun sulit untuk mendapatkannya manusia akan berusaha untuk mencari kebenaran dalam dirinya maupun dari dalam alam sekitarnya. Hal tersebut membuat manusia untuk mencoba merancang keingian itu di masa depan. Masa depan tersebut ialah suatu kondisi dimana manusia tidak dapat mengetahuinya serta menebaknya tetapi manusia dapat mencapainya dalam usaha-usaha serta proses yang dilakukanya dalam pencapaian tersebut. Dalam pencapaian masa depan manusia sangat bergantung atau sangat dipengaruhi oleh ilmu yang digunakan manusia tersebut.

(2)

dasarnya ilmu dan masa depan akan saling memberi warna dalam kehidupan masyarakat.

B. PERMASALAHAN

Perjalanan kehidupan manusia yang sarat dengan keterbatasan serta permasalahan-permasalahan menimbulkan kebutuhan akan ilmu. Ilmu tersebut juga bukanlah statis tetapi juga dinamis.

C. TEORI

Pemahaman akan teori ini, sebelumnya akan saya bagi dalam dua bagian besar. Pada bagian pertama akan menunjukkan dari hakekat manusia itu pada dasarnya. Selain itu manusia akan kami coba jelaskan dalam perspektif kediriannya yang mau tidak mau terikan dengan ruang dan waktu. Sebab dengan hal tersebut manusia dapat menjalin relasi dengan baik terhadap sesamanya dan menjadikan segala bentuk pada dirinya sehingga kepenuhan pada kebutuhannya dapat terpenuhi. Persepsi manusia terhadap cita-cita dan hasrat dirinya akan senantiasa berujung pada pemeliharaan kehidupannya dalam mencapai kesatuanya dengan Penciptanya. Keutuhan atau kesatuan inilah yang menjadi kepemilikan manusia terhadap apa yang harus dimilikinya dan ditempuhnya dalam reksa ruang dan waktu yang mengikatnya.

D.KASUS

(3)

keterkaitan dengan paham bagai dirinya secara internal dan eksternal dari dirinya? Darimana manusia datang,? Kemana dia akan pergi? Manakah panggilannya?

Hakekat Manusia1

Manusia dalam hakekatnya adalah berpikir (cogito), dimana suatu kepastian tidak akan dapat digoyahkan karena berkaitan dengan logika dan matematika yang dikembangkan menjadi dasar filsafat. Manusia akan mengalami diri sebagai eksistensi2, dimana aku menemukan diri

“terarah keluar”, sebab itu manusia adalah makhluk eksentris. Manusia yang mengarah keluar tersebutlah yang menjadikan dirinya sampai pada kesatuan relasi dengan makhluk di sekitarnya. Manusia yang bertanya3 akan mengeratkan kaitanya dengan sumbangsih orang lain

terhadapnya.

Makhluk Paradoksal4, manusia juga memiliki kekhasan yakni sebgai

makhluk paradoksal. Pusatku terletak di luar diriku. Perumusan ni bersifat paradoksal. Rumusan ini kerap timbul ketika manusia tenggelam dalam refleksinya. Paradoksal berarti dua kebenaran yang bertentangan. Kebenaran paradoksal terletak dalam kesatuan kedua kebenaran yang saling bertentangan. Berbeda dengan kontradiksi, karena kalau yang satu salah maka yang lain benar. Paradoksal ini erat hubunganya dengan kedirian manusia.

Makhluk dinamis5, dinamika kehidupan manusia itu berhubungan

dengan relasi eksistensial. Manusia maju dengan membangun dunianya. Manusia menuju diri sejati dengan memurnikan relasi dengan sesamanya. Manusia menuju keunikannya sebgai pribadi dengan mempererat hubungannya dengan Tuhan. Dinamika manusia

1 Adelbert Snijders, OFM Cap . (alm.), 2004, Antropologi; Manusia Paradoks dan

Seruan, Kanisius, Yogyakarta, hlm. 13- 17.

2 Adelbert Snijders, OFM Cap . (alm.), 2004, Antropologi…, hlm. 14.

3 Adelbert Snijders, OFM Cap . (alm.), 2004, Antropologi…,hlm.12.

4 Adelbert Snijders, OFM Cap . (alm.), 2004, Antropologi…, hlm. 15.

(4)

itu ada ditangan dirinya sendiri. .Manusia bebas bertanggung jawab, tetapi dalam kebebasan ini juga hadir suatu dorongan metafisis, suatu orientasi untuk menuju diri yang sejati. Memang manusia itu bebas tetapi ia juga terikat oleh orientasi dasariah manusia secara etis. Di dalam dinamika ini sejak awal Pencipta sudah hadir dan berperan dalam hidup manusia.

Makhluk multidimensional6, kekhasan ini merupakan bentuk lain dari

kehidupan manusia yang cukup essensial. Manusia bersifat jasmaniah, termasuk dunia makhluk hidup dan bersifat rohani. Ia berpikir dan berefleksi. Manusia adalah makhluk yang multidimensional. Hakekat manusia yang bersifat pluridimensional ini menjadi pengikat kedirian manusia secara etis. Memang ada pemikir yang mengungkapkan bahwa manusia itu “one dimensional” saja. Marcuse membeberkan kritikan dalam karangannya “The one-dimentional man”. Manusia dewasa ini terkurung dalam dimensi produksi-konsumsi. Pada hakekatnya manusia itu “being man is having to be man”.

Dari hakekat manusia tersebut dapat ditelaah bahwa memang manusia itu benar-benar makhluk yang spesial dan memiliki kelebihan. Dari dalam dirinya mau pun dari luar dirinya memberikan pengaruh yang cukup signifikan karena akan memberikan ketetapan arti dalam meneropong masa depan. Kehidupan manusia yang tidak terlepas dari kebersamaan itu juga memberi pengaruh. Pengaruh tersebut tentu dapat memberi motivasi atau justru membendung impian individu tersebut. Karena harus berhadapan dengan lingkaran ruang dan waktu.

Dimensi Waktu dan Ruang7

Setiap benda memiliki tempat untuk dudukanya. Hal tersebut merupakan ruang yang menjadi pijakan atau dudukan dari benda tersebut. Seperti meja di dalam suatau ruangan, meja akan tetap di dalam ruangan apabila meja keluar dari ruangan tersebut meja itu

6 Adelbert Snijders, OFM Cap . (alm.), 2004, Antropologi…, hlm. 16.

7 Prof. Dr. C. A. van Peursen,1974, Orientasi di Alam Filsafat, Kampen. Dialih

(5)

bukan lagi menjadi bagain dari ruangan tersebut. Ruangan yang memiliki tiga dimensi itu belum merupakan kenyataan yang sungguh-sungguh. Foto atau gambaran yang benar ketika dapat dihadirkan dengan wujud. Gerak baru akan terjadi ketika benda atau meja tersebut memiliki ruang dan waktu. Perbedaan khas antara ruang dan waktu ialah waktu hanya mempunyai satu dimensi dan membujur laksana sebuah garis. Dalam ruang kita dapat maju dan mundur, dalam waktu tidak. Waktu laksana sungai yang tidak kembali ke hulunya.

Immanuel Kant, tertarik dengan statement mengenai ruang dan waktu. Kant mengungkapkan bahwa berbicara tentang ruang dan waktu mustahil untuk melenyapkannya dari pikiran manusia. Kita dapat mengosongkan pikiran kita dari segala sesuatu bahkan dari benda dan isinya tetapi ruang itu tetap akan ada. Kita dapat membayangkan ruangan tanpa benda-benda tetapi sulit membanyangkan benda-benda tanpa ruangan. Sama halnya dengan waktu, bagaimana mungkin kita dapat membayangkan waktu tanpa adanya peristiwa-peristiwa, tetapi bukan peristiwa tanpa adanya waktu. Hal tersebutlah menjadi sebab musababnya betapa pentingnya bagi manusia mengenai ruang dan waktu. Oleh Kant sifat ini pernah diungkapnya sebagai idealitas transendental. Ruang dipandang sebagai jendela untuk memandang dengan cara lahiriah (melihat benda-benda), sedangkan waktu adalah bentuk pemandangan batiniah (mengalami bahwa sesuatu misalnya, ujian berlangsung sampai beberapa waktu)8.

Bagaimana kita dapat menghubungkan antar ruangan dan waktu lebih erat lagi, dimana waktu lebih mendapat peranan dalam dinamika kehidupan. Misalnya sebagaimana Agustinus memandang hal tersebut bahwa pemandangan antara manusia dengan benda kerap hanya terbentang seutas jembatan, antara manusia dengan benda yang dipandang tersebut. Dalam dirinya manusia menghadirkan diri tentang hal-hal rohani dan berlangsung di dalam waktu. Lewat waktu manusia

(6)

menghadirkan diri dan mengadakan ikatan antara manusia dan kenyataan ruang dan waktu.

Bagaimana kita dapat melihat hubungan antara ruang dan waktu Barang yang berada dalam dimensi ruang (benda , materi, obyetivitas) hendaklah dibuka lewat waktu. Tetapi jangan mempertentangkan waktu sebagai segi batin dengan ruang, sebagai segi lahir ataupun kesadaran dengan benda-benda yang berada secara obyektif. Dengan demikian kita menjurus ke idealism yang menerangkan kenyataan sebagai suatu segi dalam kesadaran kita. Waktu mengandaikan baik kesadaran rohani maupun hal-hal di luar manusia yang muncul dalam waktu, seperti sudah ditegaskan oleh Kant. Lebih tepat kita mengatakan, seperti Augustinus yang memandang waktu sebagai pertalian antara roh manusia dengan kenyataan di luar manusia.

Antara Ruang dan Waktu Dengan Ilmu dan Masa Depan Manusia

Pembahasan sebelumnya memberikan pemahaman bagi kita bahwa setiap hidup manusia cukup terbatas. Namun manusia terbatas pada keadaan dirinya yang sedemikian. Kendati pun demikian manusia itu ialah seluas segala kenyataan, manusia mampu memikirkan lebih dari apa yang dapat dia perbuat. Manusia akan selalu dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam ruang manusia mendapat kesulitan dalam menentukan dirinya. Tubuh sebagai ruang dalam diri manusia menghambatnya untuk merealisasikan pemikirannya. Di lain sisi manusia pun harus bergulat dengan keadaan dirinya sebagai suatu pribadi yang memiliki destination (tujuan) dan tujuan itulah berupa cita-cita atau impian di masa depan. Tubuh itulah sebagai karakteristik manusia dan impian itulah sebagai tujuan hidup manusia. Hal senada terjadi pada ilmu sebagai usaha pencapaian masa depan manusia yang diidamkannya.

(7)

Kebahagiaan tersebut menjadi ukuran bagi manusia dalam menentukan keadaan dirinya apakah dia itu sukses atau tidak. Harta yang melimpah atau kedudukan yang baik serta status sosial yang menggiurkan bukan menjadi ukuran kebahagiaan seseorang.

Dewasa ini sedemikain gampang untuk mendapatkan ilmu, baik secara formal maupun non formal. Namun ilmu tersebut terkadang mengelauhi mata manusia sehingga kesempatan yang ada untuk mendapat ilmu, tidak dipergunakan secara efektif. Pada hal ilmu yang diperoleh, bertujuan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri maupun sesama. Ilmu yang diperoleh seseorang bisa saja membuat orang keteledor hingga ilmu yang seyogyanya dapat untuk menggapai kebahagiaan itu justru menjadi penghambat pencapaian masa depan yang lebih cerah. Itu semua berkaitan dengan ruang dan waktu dalam hidup manusia.

Prospek kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari apa yang menjadi karakteristik kehidupan manusia. Manusia memiliki teknik tersendiri dalam mencapai atau memenuhi kebutuhannya.

“Manusia mengolah dunia hingga semakin sesuai dengan kebutuhan dan tersedia apa yang dibutuhkan. Manusia bekerja, tetapi sayang tenaga manusia sering lemah dan sangat terbatas. Jelas bahwa dari segi ini manusia kalah bila dibandingkan dengan makhluk lain. Tenaga seekor kerbau jauh lebih kuat dari pada manusia. Manusia akan kalah bila berhadapan dengan seekor singa. Tanpa menggunakan alat manusia tidak akan pernah dapat menebang pohon…. Untuk mengatasi itu semua manusia mencari akal. Manusia mulai memikirkan teknik dengan membuat dan menggunakan alat untuk membantu dirinya”9.

Teknik yang didapatkan manusia itu tidak terlepas dari pengalaman empirisnya. Keadaan dirinya menjadikan manusia harus mampu menciptakan apa yang menjadi tujuanya. Ilmu akan semakin melejit jika manusia dapat menentukan pengalaman dan mengkajinya lebih dalam. Tkenik tidak akan pernah terlepas dari apa yang di peroleh dari ilmu. Teknik akan senantiasa membantu manusia dalam menemukan masa depanya. Kendatipun demikian bukan berarti ilmu sebagai

(8)

satunya jalan bagi manusia dalam mendapatkan apa yang menjadi suatu idaman. Ketika segala kebutuhan dapat dipenuhi denga baik maka manusia tidak akan kesulitan dalam pencapaian jati dirinya yang sesungguhnya. Relasi manusia dengan sesamanya harus dipandang sebagai antara Aku – Engkau10, dimana keduanya memiliki kerinduan

dalam memenuhi kebutuhan manusia tersebut.

Keutuhan diri manusia akan tampak dalam kesanggupanya dalam memberikan penjelasan tentang apa yang harus dilakukan dalam neghadapi suatu cara. Keberadaan kesanggupan manusia tersebut memberikan pemahaman baru bagi manusia. Manusia sebagai makhluk paradoksal11 menjadi suatu acuan baginya dalam

mempertahankan prinsip hidup sejatinya.

E. KESIMPULAN

Dari berbagai teori yang disampaikan dan pemahaman akan keterbatasan manusia dalam menjalin kesatuanya dengan totalitas eksistensinya. Manusia sebgai salah satu penghuni dunia harus mampu menyatukan dirinya dengan segala aturan yang mungkin tampak dari integritas mana yang memberinya kebahagiaan. Manusia akan selalu mencari keadaan dirinya yang sesungguhnya sehingga segala apa yang diharapkannya dapat terrealisasi dengan baik. Selain itu prasarana dan sarana di dunia ini seperti kuliah, pekerjaan, profesi dan sebagainya hanya merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan tersebut.

Ruang dan waktu yang sedemikian mengikat manusia harus mampu menjadi sadaran yang sungguh berpartisipasi dalam kegiatanya. Manusia yang memiliki akal atau pikiran yang akan bersatu dengan teknik dan strategi untuk mencapai keadaan dirinya yang seseungguhnya. Inegritas manusia harus menyeluruh dalam mebangun suasana yang lebih hidup dalam pencariannya.

F. PENUTUP

10 Adelbert Snijders, OFM Cap . (alm.), 2004, Antropologi…, hlm. 48.

(9)

Pasang surut kehidupan manusia betul-betul ditandai dengan segala penghargaan yang didapatkannya dalam hidupnya. Manusia yang terikat dalam ruang dan waktu tetap akan mencari dirinya seutuhnya. Walau terkadang hal tersebut telalu berlebihan tapi akan tetap menerobos batas tersebut. kendati pun dalam batas itu masih terdapat batas yang membatasinya dengan segala pergerakan yang menyertainya.

Referensi

Dokumen terkait

Presiden Joko Widodo menginginkan kegiatan karnaval Kemerdekaan menjadi agenda tahunan, Hal ini dikatakannya saat menghadiri karnaval dan pesta rakyat yang bertajuk

Dapat dilihat bahwa total skor untuk Hubungan timbal balik dengan indikator kepedulian sosial yaitu sebesar 107, jika kita melihat besar skornya atau bobot

Pencegahan dan pengendalian infeksi sangat penting dilakukan di rumah sakit sebagai tempat pelayanan Kesehatan, disamping sebagai tolak ukur mutu pelayan juga untuk

(e) Fungsi mengeluh, melalui tindak ekspresif ini, guru menggerutu atau kecewa dengan tindakan siswa. Fungsi mengeluh ini mencakup: rasa kecewa, rasa bingung, rasa marah,

Demikian juga pada umur 16 bulan perlakuan pupuk kandang 2 kg dan bokashi 2 kg tidak berbeda nyata terhadap persentase tumbuh tanaman, tetapi kedua perlakuan tersebut berbeda

Secara keseluruhan hasil analisis kepuasan pelanggan dengan menggunakan metode IPA pada 27 atribut secara umum rata-rata tingkat kesesuaian dari seluruh dimensi belum ada

Pada umumnya, mereka yang menjadi matang lebih dini akan memiliki Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) yang lebih tinggi dan mereka yang matang terlambat memiliki IMT lebih kecil

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perubahan kadar air, kehilagan berat, perubahan warna, tekstur dan menentukan tingkat kerusakan yang terjadi selama