• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA BUDAYA KOLONIALISME DAN PERUBAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DINAMIKA BUDAYA KOLONIALISME DAN PERUBAH"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

1

DINAMIKA BUDAYA KOLONIALISME DAN

PERUBAHAN MAKNA

PEREMPUAN

JAWA

1

I. MEMAKNAI PERAN PEREMPUAN DALAM KONTEKS HISTORIS

a. Gambaran Singkat Pra-Kolonialisme: Wajah Perkasa Perempuan

Perempuan Jawa memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para peneliti maupun sastrawan dari berbagai belahan dunia sejak jaman masa pra-kolonial Belanda hingga saat ini. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Jawa memiliki banyak peran dalam masyarakat baik dari kalangan elit (bangsawan) maupun yang hanya menjadi rakyat biasa. Namun, ada juga karya sastra seperti “De Stille Kracht” karangan Louis Couperus (1863-1923) yang menggambarkan perempuan Jawa hanya seperti boneka yang tersenyum simpul dan meniadakan dirinya sendiri. Pendapat yang lebih dapat di percaya datang dari sejarawan dan Indonesianis, Peter Cere dan Vincent Houben, yang menjelaskan secara nyata bahwa masyarakat Jawa pada masa sebelum terjadinya perang Jawa cenderung “matriarkis”2

. Perempuan memiliki berbagai peran yang tidak kalah pentingnya dalam masyakat dibanding dengan peran laki-laki.

Berbagai peran yang diemban oleh perempuan Jawa pada periode tersebut antara lain: Pertama, Perempuan berperan sebagai prajurit (prajurut keparak estri), perempuan benar-benar dilatih secara militer untuk dapat menggunakan berbagai senjata seperti tameng, busur, pedang, panah beracun, tombak, tulup dan bedhil; ahli menunggang kuda dan juga beladiri. Perempuan yang masuk kedalam prajurit ini merupakan perempuan yang dinilai cerdas dan memiliki kecakapan serta berparas menawan dan umumnya dipilih dari kalangan anak bangsawan atau pejabat kraton. Pada masa Pakubuono V, teradapat 350 prajurit yang mengawal sang raja. Kedua, Perempuan sebagai pemimpin peperangan, pada peran ini ada beberapa peremuan yang benar-benar memimpin peperangan seperti Raden Ayu Yudokusumo dan Nyai Ageng Serang. Keduanya perupakan sosok perempuan Jawa yang sangat ditakuti oleh pemerintahan Belanda. Keduanya memiliki kecerdasan yang tinggi, kemampuan besar dan siasat yang jitu seperti laki-laki. Namun ada juga peran perempuan yang memotivasi anaknya untuk ikut dalam peperangan seperti istri pensiinan Bupati Semarang, Kyai Adipati Suro-adimonggolo IV. Ketiga, Perempuan sebagai pengusaha, perempuan tidak hanya tinggal diam dirumah tetapi juga ikut menyokong perekonomian keluarga dengan menjadi pedagang sesuai keinginannya sendiri. Selain berdagang, perempuan

1 Ahmad Makky Ar-Rozi Faris Rahmadian, Indria Retna Mutiar, Nana Kristiawan Institut

Pertanian Bogor

2Penggunaan istilah “matriarki” disini jauh lebih moderat, atau mengutip dari Eller (2001) bahwa

istilah “matriarki” dapat dinamis dalam ruang dan waktu yang berbeda (tidak selalu berbanding

(2)

2 Jawa pada umumnya memang piawai dalam urusan uang, sehingga suami pada umumnya menyerahkan urusan sepenuhnya pada istrinya. Umumnya komoditas yang diperdagangkan oleh perempuan Jawa pada masa itu adalah kain tenun dan juga hasil bumi. Keempat, Perempuan sebagai pemelihara pertalian keluarga (Wangsa). Sebagaimana perempuan pada umumnya, perempuan Jawa juga berperan utama dalam melahirkan generasi penerus keluarga dan sebagai wadah untuk berprokreasi atau mejaga hubungan kekerabatan antara raja dan keluarga terkemuka kerajaan. Oleh karena itu, dalam memilih pasangan hidup, seorang bangsawan atau keturunan raja tidak hanya bertumpu pada paras cantik wanita yang akan dinikahinya, tetapi juga kedudukan keluarga wanita tersebut. hal ini agara pernihan tersebut juga memiliki manfaat politik yang dapat menguntungkan kedua belah pihak; Kelima, Perempuan sebagai penghubung Istana dengan dunia pedesaan. Hubungan antara perempuan Jawa yang telah menjadi kaum bangsawan memiliki ikatan darah erat dengan rakyat, sehingga tidak ada satu pun orang Jawa kelahiran ningrat yang bisa membanggakan diri memiliki darah biru yang murni. Kebanyakan pasangan raja-juga prajurit estri dan selir- berasal dari keluarga kyai, yaitu keluarga lokal baik-baik dana tau guru agama. Hubungan ini memiliki arti yang sangat besar terutama dalam mempertahankan keratin melewati kondisi yang sangat berat pada masa perang Jawa berlangsung. Keenam, Perempuan sebagai penjaga tradisi Jawa, pembimbing anak, penunjuk agama, pujangga dan penggemar sastra. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan Jawa juga tetap handal dalam urusan domestic dalam keluarganya, dalam satu keutuhan peran sebagai pelestari nilai-nilai budaya dan spiritualitas Jawa (Carey 2016).

Berbagai peran tersebut diatas cukup untuk memberikan bukti adanya ruang kuasa secara budaya dan peran “ekstra” (tidak sebatas pada ruang domestik) perempuan Jawa pada masa pra-kolonial. Perempuan Jawa pada saat itu menikmati kebebasan dan kesempatan untuk bertindak atau mengambil inisiatif pribadi yang lebih luas daripada perempuan Jawa pada masa kolonial Belanda, bahkan dalam kisah pewayangan pun hampir selalu ditunjukkan bagaimana perempuan mampu mandiri dan “melawan”.

b. Gambaran Singkat Kolonialisme: Peyorasi dan Penundukkan Perempuan

(3)

3 Belanda adalah melakukan “transformasi struktural” di beberapa titik inti resistensi agar mempermudah Belanda untuk melakukan perdagangan. Upaya transformasi struktural ini baik secara langsung maupun tidak langsung juga menyentuh aspek relasi kuasa pada perempuan. Seperti disebutkan Jan Greeve, seorang Belanda yang merupakan Gubernur Pantai Timur Laut (dalam Carey 2016) bahwa perempuan-perempuan Jawa pada masa itu menunjukkan kekuatan yang luar biasa hebat, bahkan menurutnya perempuan-perempuan tersebut (secara spesifik prajurut keparak estri) merupakan barrier perang jarak dekat yang utama dibandingkan laki-laki. Urgensi peran perempuan dan keterampilannya dalam perang membuat Belanda harus memutar otak, yakni menciptakan perubahan tidak sebatas melalui penaklukkan fisik, namun juga melalui penaklukkan ide dan gagasan, atau secara lebih spesifik, melalui “budaya”. Terlebih seperti disebutkan oleh State (2008), bahwa budaya Belanda sejak pra abad ke-16 identik dengan “dominasi maskulin”, atau dalam artian bahwa laki-laki adalah sumber dari segalanya termasuk untuk pengaturan terhadap kebebasan dan hak perempuan. Sebelum era revolusi industri pada abad ke-19, perempuan di Belanda tidak berhak memperoleh pendidikan, memiliki properti keluarga, bahkan hingga mengatur agenda dan komponen-komponen dalam pernikahan. Kondisi tersebut cukup berbanding terbalik dengan kondisi kuasa perempuan di Jawa, bahkan terkait dengan budaya pernikahan, seperti disebutkan Carey (2016) tidak hanya keputusan dalam mempersiapkan pernikahan, namun juga perceraian, yakni perempuan dapat “membeli kebebasan” dirinya atas laki-laki dengan melakukan perceraian berdasarkan keputusan yang subjektif, penceraian seperti itu disebut mancal.

Aspek pernikahan merupakan salah satu contoh bentuk konfrontasi budaya lokal Jawa dan Belanda yang cukup berbeda dan pada akhirnya mampu diseragamkan (menuju gaya Belanda) oleh kolonialisme di Nusantara. Selain itu, hegemoni maskulin juga dilakukan melalui penggeseran ruang perempuan dalam seni sastra. Seperti telah disebutkan sebelumnya, karya sastra seperti “De Stille

Kracht” karangan Louis Couperus (dan beberapa lainnya) yang menggambarkan

(4)

4 oleh kolonialisme berlangsung secara sistematis dan tidak dilakukan secara eksplisit dan manifes.

Chafetz (2006) menegaskan bagaimana budaya dapat menciptakan siapa (dalam konteks gender) yang lebih dominan dan siapa yang lebih tertindas. Budaya dapat menciptakan konformitas, yang akan terus mengalir dan melekat pada generasi-generasi selanjutnya. Peran perempuan di dalam keluarga dan masyarakat mengalami pergeseran pada masa kolonialisme, bahkan perempuan kerap dikonstruksi sebagai “nyai”, di mana nyai mempunyai citra negatif yang dilanggengkan oleh karya sastra dan panandangan penguasa koloni pada masa itu (Fitria 2010). Lebih lanjut disebutkan, bahwa perempuan “nyai” hanya dijadikan tidak lebih dari seorang budak, pembantu rumah tangga, teman tidur, dan dijadikan sebagai penerjemah suami/tuan mereka. Seorang nyai tidak memiliki hak atas anak, sehingga kedudukannya semakin terpinggirkan dan mengalami ketidakjelasan atas perannya sebagai seorang perempuan. Padahal apabila kita lihat dari konteks sejarah, perempuan menempati posisi penting di dalam mendukung kedudukan suaminya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa perempuan memiliki peran penting di dalam keluarga dan sistem pemerintahan pada masa itu, dari ekonomi dsb. (Niehof 1998). Pada tahap ini, kolonialisme telah berhasil melaukan “transformasi strukturalnya”, peran laki-laki dan perempuan Jawa seolah telah dibedakan menjadi “ranah domestik dan ranah publik”.

II. REFERENSI MATERI

Beauvoir SD. 1989. The Second Sex. New York [US]: Vintage

Chafetz JS. 2006. Handbook of the Sociology of Gender. New York [US]: Springer Science+Business Media, LLC

Eller C. 2001. The Myth of Matriarchal Prehistory. Massachussets [US]: Beacon Press

Fitria D. 2010. Nyai dalam Kekuasaan Patriarki. [Internet]. Dapat diunduh pada: http://historia.id/budaya/nyai-dalam-kekuasaan-patriarki

Niehof A. 1998. The Changing Lives of Indonesian Women: Contained Emancipation under Pressure. Bijdragen tot de Taal-,Land- en Volkenkunde, Vol. 154, No.2 , Globalization, Localization and Indonesia, pp. 236-258.

Referensi

Dokumen terkait

Berikan nilai sesuai dengan tingkat kesukaan Anda terhadap aroma sampel roti tawar yang tersedia.Nilai sampel dari yang paling anda sukai (=5) hingga sampel

Tabel 3 menunjukkan bahwa variabel reliability, responsiveness, tangible tidak mempengaruhi customer satisfaction yang ditunjukkan dengan P-value > 0,05.Hipotesis 1, 3,

Kandungan total solids pada portable water biasanya berkisar antara 20 sampai dengan 1000 mg/l dan sebagai satu pedoman kekerasan dari air akan meningkatnya total solids, disamping

Pengajian bulanan, pesantren kilat dan pelatihan da’i/da’iah merupakan bentuk kegiatan keagamaan yang kedudukannya sangat strategis dalam membina kesadaran beragama, hal

Penggunaan gelatin yang diekstrak dari kulit sapi yang berasal dari basil samping industri penyamakan kulit maupun rumah potong hewan merupakan salah satu

>ika saham treasuri dijual kembali dengan harga di atas harga perolehan, maka kelebihan tersebut dikreditkan pada akun Agio Sahamsaham #reasuri dan selisih tersebut tidak

Lembaga pendidikan Islam adalah lembaga pendidikan yang menawarkan ide pentingnya menjaga moralitas. Menjadi salah satu agen yang dimiliki bangsa Indonesia dalam