NILAI-SOSIAL DALAM KEHIDUPAN EKONOMI;
DARI MENEGAKKAN HINGGA KERUNTUHAN
Oleh:
Andika Saput ra S. T. , M. Sc
Pensyarah di Prodi Arsit ekt ur
Universit as Muhammadiyah Surakart a (UMS)
Email:
andikasapoet ra87@yahoo. com
Websit e:
www. andikasaput ra. net
Nilai-Sosial Dalam Kehidupan Ekonomi;
Dari Menegakkan Hingga Kerunt uhan
Oleh: Andika Saput ra S. T. , M. Sc
Mendapat kan sesuat u dengan cara menukarkannya dengan sesuat u yang lain mungkin sudah dilakukan manusia sej ak pert ama kali hidup berkel ompok. Dahulu unt uk mendapat kan barang yang dibut uhkannya, manusia memenuhinya dengan cara sal ing t ukar menukar barang yang disebut bart er. Dapat dij elaskan secara singkat , bart er merupakan cara memenuhi kebut uhan t erhadap barang mel al ui kepemil ikan orang l ain yang didapat kan dengan cara memberikan barang yang dibut uhkan orang t ersebut . Il ust rasinya begini, agar t erj adi bart er ant ara saya dan anda, maka disyarat kan saya membut uhkan barang yang anda mil iki dan begit upula anda membut uhkan barang yang saya mil iki, kemudian saya dan anda bersepakat sal ing menukarkan barang unt uk memenuhi kebut uhan masing-masing t erhadap barang. Dengan demikian bart er t erj adi dalam koridor saling membut uhkan barang yang dimil iki masing-masing pihak yang t erl ibat dal am t ransaksi yang didasarkan at as nil ai-guna barang.
Dalam t ulisan ini saya t idak bert uj uan unt uk mengkaj i permasal ahan di at as yang t elah banyak dibahas oleh para pemikir, sebut saj a Karl Marx yang mendedah nilai-t ukar barang sement ara Jean Baudrillard melakukan krit ik t erhadap pisau anal isa yang digunakan Karl Marx dengan menggunakan nil ai-t anda barang. Mel al ui t ul isan ini saya hendak memperkenalkan nil ai-sosial dal am upaya memenuhi kebut uhan t erhadap barang yang luput dibahas oleh para pemikir t ersebut . Jika nilai-guna merupakan kemanf aat an barang secara prakt is, nilai-t ukar merupakan sej uml ah nominal yang harus dibayarkan unt uk mendapat kan barang dan nilai-t anda merupakan kual it as dari luar barang yang disemat kan pada barang unt uk membent uk cit ra barang, maka nilai-sosial adalah kemanf aat an sosiologis yang didapat kan pihak yang t erl ibat dal am t ransaksi.
Nilai-sosial bukanl ah nilai yang int rinsik t erdapat di dal am barang, t et api nil ai di l uar barang yang t erbent uk dari cara dipert ukarkannya barang. Adanya nil ai-sosial menj adikan pert ukaran barang at au t ransaksi j ual-beli yang merupakan kehidupan ekonomi memiliki kait hubung dengan kehidupan sosial di mana ant ara keduanya berlaku hubungan resiprokal , dalam art ian kedekat an sosial dapat mendorong t erj adinya t ransaksi dan sebaliknya, t ransaksi dapat menguat kan j alinan sosial . Selain dalam kont eks yang posit if , keberadaan nilai-sosial j uga dapat digunakan unt uk memahami f enomena ket erpisahan kehidupan ekonomi dari kehidupan sosial yang menyebabkan t erj adinya t ransaksi j ual-bel i j ust ru melemahkan j al inan sosial bahkan merunt uhkan ikat an sosial. Inil ah manf aat konsept ual dari nil ai-sosial, yakni unt uk memahami f enomena perilaku ekonomi dari sudut pandang sosial. Dal am ranah ini saya menggunakan pendekat an kualit at if , di mana nilai-sosial yang t inggi diart ikan t ransaksi yang t erj adi berdampak posit if t erhadap j alinan nilai-sosial sedangkan bernilai rendah diart ikan t ransaksi yang t erj adi berdampak negat if t erhadap j alinan sosial.
unt uk kemanf aat an prakt is nil ai-sosial t idak dapat saya l akukan karena ket iadaan ot orit as ilmu pada diri saya berkait an dengan ranah t ersebut .
A. Menegakkan Nilai-Sosial
Saya awali t ulisan ini dengan membahas nilai-sosial dengan t ingkat an yang t inggi di mana t ransaksi yang dil akukan memiliki pengaruh posit if t erhadap j alinan sosial pihak yang t erlibat . Terbent uknya nilai-sosial yang t inggi dikarenakan t erpenuhinya dua syarat dalam t ransaksi yang dilakukan yakni, (1) pihak yang t erlibat t elah saling mengenal dan t erikat dalam j alinan sosial ; dan (2) dal am proses t ransaksi t erj adi komunikasi dua arah yang int ens dan bermakna bagi pihak yang t erlibat . Syarat pert ama menj adi prasyarat bagi syarat kedua karena komunikasi personal dua arah baru dapat t erj adi j ika pihak yang t erlibat t elah memiliki kedekat an sosial . Berdasarkan syarat demikian, t erbent uknya nilai-sosial yang t inggi dalam t ukar menukar barang at au t ransaksi j ual-bel i mensyarat kan pihak yang t erlibat dalam t ransaksi memiliki ikat an j alinan sosial , sehingga komunikasi dua arah yang int ens dan bermakna dapat berlangsung sepanj ang proses t ransaksi.
Gambar 1: Rel asi ant ar a penj ual dan pembel i dal am t r ansaksi dengan nil ai-sosial t inggi
Sumber : Anal isa, 2017
at au diharuskan percaya bahwa pihak yang t erikat j alinan sosial dengannya dapat memberikan barang yang dibut uhkannya. Inil ah ciri khas t ransaksi bart er yang sangat bergant ung dengan j alinan sosial dal am pemenuhan kebut uhan t erhadap barang.
Bart er yang dalam kehidupan masa kini t elah dit inggal kan, sehingga menj adi asing bagi banyak orang, pernah saya prakt ikkan secara langsung di desa nenek dal am skala yang kecil sekedar unt uk memenuhi kebut uhan bumbu dapur karena kebut uhan t erhadap barang yang lain t elah dapat dipenuhi oleh kehadiran ruang warung di lingkungan desa. Warga desa t elah t erbiasa bahkan ment radisi memprakt ikkan t ukar menukar barang hasil kebun halaman rumahnya. Tukar menukar barang dapat t erj adi, bahkan ment radisi, karena ant ara warga desa t elah sal ing mengenal dalam j angka wakt u yang lama hingga bergenerasi, sehingga memiliki hubungan sosi al yang sangat dekat l ayaknya kel uarga dan memiliki t ingkat saling percaya yang t inggi ant ar sat u dengan lainnya. Sel ain it u warga desa memil iki penget ahuan perihal hasil kebun set iap warga yang t erikat j alinan sosial dengannya dan penget ahuan perihal kebut uhan masing-masing warga berdasarkan pengalaman hidup bersama di dal am ruang permukiman yang sama dalam j angka wakt u yang lama. Modal sosial dan modal penget ahuan t ersebut lah yang meniscayakan keberlangsungan t radisi t ukar menukar barang hingga saat ini di desa nenek saya, walaupun seiring zaman skal a dan int ensit asnya semakin berkurang sebab mulai bermunculannya warung yang memprakt ikkan j ual-beli t radisional.
Selain bart er, t ransaksi unt uk memenuhi kebut uhan t erhadap barang dengan nilai-sosial yang t inggi adalah j ual-beli t radisional. Yang saya maksud j ual-beli t radisional ial ah proses t ransaksi j ual-beli secara t at ap muka ant ara pembeli dan penj ual yang mel ibat kan komunikasi dua arah yang int ens dan bermakna bagi keduanya. Cara t ransaksi demikian masih diprakt ikkan hingga kini di dalam ruang warung yang kecenderungannya berada di lingkungan permukiman at au berdekat an dengan area permukiman. Komunikasi dua arah dalam proses t ransaksi j ual-beli t radisional dibuka oleh pembeli dengan mengucapkan salam yang dilanj ut kan dengan ucapan khas set empat unt uk menyampaikan t uj uan kedat angan sepert i “ Bu, t umbas” . Selanj ut nya komunikasi yang diawali oleh pembeli dit anggapi oleh penj ual dengan membalas salam, menanyakan kabar dan menanyakan barang yang dibut uhkan.
saat berada di dalam warung yang mendorong pembeli unt uk mengawali komunikasi agar pemilik warung keluar dari ruang huniannya dan menghampiri pembel i. Kedua, proses j ual-beli t erj adi di dalam ruang yang t ersekat t egas ant ara area pembel i dan area penj ual di mana barang yang dij ual t erdapat di area penj ual, sehingga pembel i harus menyampaikan kebut uhannya secara verbal kepada penj ual agar diambil kan barang yang dikehendakinya. Dengan ciri khas spasial demikian, komunikasi dua arah t erj adi sepanj ang proses j ual-beli, dari awal hingga berakhirnya t ransaksi, dan komunikasi yang t erj adi dikat akan bermakna karena pihak yang t erlibat dalam t ransaksi t erikat j al inan sosial .
Tukar menukar barang dan j ual-bel i t radisional yang melibat kan j alinan sosial menj adikan berlakunya pref erensi sosial sebagai pendorong t erj adinya t ransaksi. Melanj ut kan cont oh pada bagian di at as, nenek saya ket ika akan melakukan bart er akan memilih seseorang yang memil iki hubungan sosial pal ing dekat dengan beliau di ant ara warga desa lainnya unt uk dilibat kan dal am t ransaksi. Begit upul a saat akan membeli barang di warung, di ant ara sekian warung yang t ersebar di desa akan dipilih warung yang pemiliknya memiliki kedekat an hubungan sosial dengan beliau, walaupun t erdapat warung yang berj arak lebih dekat dengan ruang-huniannya. Barulah j ika di warung l angganannya t idak t erdapat barang yang dibut uhkan, nenek akan mendat angi war ung lain yang j uga dipilihnya berdasarkan kedekat an sosial dengan pemilik warung.
Pref erensi sosial dalam j ual-beli t radisional membent uk modal sosial set iap warung yang menj adikan set iap ruang t ransaksi memiliki pelanggannya masing-masing. Modal sosial warung t idak berdasarkan pada kedekat an spasial dengan ruang warung, t et api berdasarkan kedekat an sosial dengan pemil ik warung, sehingga dimungkinkan t erdapat pelanggan dari j arak yang j auh dengan ruang j ual-beli t et api rut in mengadakan t ransaksi di ruang t ersebut , begit upula sebaliknya t erdapat pihak yang berdekat an dengan ruang j ual-beli t et api t idak pernah sekalipun mengadakan t ransaksi karena memiliki pref erensi sosial yang berbeda dalam memilih ruang t ransaksi unt uk memenuhi kebut uhannya t erhadap barang.
ual-belikan agar di sat u sisi t idak menyaingi pemilik warung lain yang t erikat j alinan sosial dengan dirinya dan di sisi lain barang yang akan dij ual dibut uhkan oleh warga yang berada dalam j angkauan sosialnya.
Syarat bagi t erbent uknya nilai-sosial yang t inggi sebagaimana direal isasikan dalam prakt ik t ukar menukar barang dan j ual-bel i t radisional , membent uk ciri khas t ransaksi. Ciri khas
pert ama, keunt ungan sosial lebih diut amakan daripada keunt ungan ekonomi. Berlakunya
pref erensi sosial unt uk memut uskan pihak yang dilibat kan dalam t ransaksi menunj ukkan bahwa keunt ungan sosial lebih dipriorit askan daripada keunt ungan ekonomi at au unt uk mencapai keunt ungan ekonomi dilal ui dengan t erlebih dahulu mencapai keunt ungan sosial , walaupun harus menempuh j arak lebih j auh dan harus membayar nilai-nominal lebih t inggi yang dal am perhit ungan ekonomi dipandang sebagai peril aku yang t idak mengunt ungkan. Berdasarkan ciri khas pert ama ini, dalam t ransaksi dengan nilai-sosial yang t inggi t idak sekedar t erj adi perpindahan kepemilikan barang dari sat u pihak ke pihak yang lain, baik melalui t ransaksi bart er maupun j ual-beli t r adisional, t et api j uga t erj adi pemupukan kedekat an sosial dan penebalan j alinan sosial ant ara pihak yang t erlibat dalam t ransaksi.
Ciri khas kedua yang merupakan t urunan dari ciri khas pert ama ialah pihak yang t erlibat
dalam t ransaksi merasa ridha dengan t ransaksi yang dil akukan. Keridhaan t ampak dari pert ukaran barang yang hampir selalu t idak set ara dari segi kuant it as maupun nominalnya, sepert i unt uk mendapat kan 5 siung bawang put ih dit ukarkan dengan 3 buah cabe rawit . Di kampung nenek saya, ukuran bagi pert ukaran barang didasarkan pengalaman beberapa generasi yang karena t el ah berul ang kal i diprakt ikkan seakan menj adi konsensus sosial at au lebih t epat nya pemakl uman sosial. Pert ukar ang barang yang t idak set ara dari segi kuant it as dan nilai nominalnya dapat dimakl umi karena dua hal, yakni (1) pihak yang t erlibat pert ukaran barang t erikat dalam j alinan sosial; dan (2) pihak yang t erlibat memandang barang sebat as nilai-guna, yakni kemanf aat an barang secara prakt is unt uk memenuhi kebut uhannya. Kedua belah pihak merasa ridha t erhadap t ransaksi yang berlangsung sej auh barang yang didapat kan mencukupi kebut uhannya.
Perhit ungan ekonomi t ent u akan menghambat perilaku demikian, t et api bagi pihak penj ual, kalangan mahasiswa yang dekat secara sosial dengannya dirasa t elah banyak membant u sepert i menemani begadang di mal am hari karena ruang Burj o memang dikenal buka sepanj ang hari al ias 24 j am sehari at au membant u penj ual mel ayani pembeli pada saat Burj o ramai. Dengan demikian peril aku memberikan hut ang bahkan menggrat iskan barang yang dij ualnya kepada pihak t ert ent u mendapat kan pembenarannya dal am logika sosial , bukan logika ekonomi.
Ciri khas ket iga yang masih merupakan t urunan dari ciri khas pert ama dan mendukung ciri
khas kedua adalah kej uj uran dal am t ransaksi. Perilaku mencurangi sal ah sat u pihak yang t erlibat dal am t ransaksi dapat dit ekan karena j alinan sosial yang mendasari t ransaksi. Perbuat an mencurangi t imbangan, menut upi kondisi barang yang cacat , berbohong mengenai inf ormasi barang yang dij ual , membayar dengan uang palsu at au melakukan pencurian barang sedapat mungkin dihindari karena dapat berdampak buruk pada hubungan sosial dengan salah sat u pihak yang t erlibat t ransaksi. Bagi masyarakat yang masih memprakt ikkan t ukar menukar barang, unt uk menekan munculnya perilaku t idak j uj ur dilakukan dengan mekanisme pengucil an sosial , yakkni t idak lagi melakukan pert ukaran barang dengan pihak yang t elah melakukan perilaku t idak j uj ur dalam t ransaksi sampai sanksi sosial yang lebih berat sepert i pemut usan hubungan sosial. Bagi masyarakat yang memprakt ikkan j ual-beli t radisional , sanksi sosial dil akukan dengan cara t idak l agi menj adi pelanggan pihak penj ual yang melakukan perbuat an t idak j uj ur sampai pada pemut usan t ransaksi j ual-beli yang dilakukan secara komunal oleh pihak yang memiliki ikat an j alinan sosial dengan pelaku. Jika yang menj adi pel aku adal ah pembeli, maka sanksi sosial dil akukan oleh penj ual berupa penolakan mengadakan t ransaksi j ual-beli dengan pihak t ersebut . Jika dilakukan serent ak oleh ikat an sosial ant ar pej ual, maka pembeli yang t elah berlaku t idak j uj ur dalam t ransaksi j ual -beli akan mengalami t ekanan yang sangat kuat karena t idak mampu memenuhi kebut uhannya t erhadap barang akibat t idak bersedianya pihak penj ual mel akukan t ransaksi.
sosial , yakni desakan kebut uhan ekonomi, sepert i mencurangi t imbangan, menggunakan bahan yang berbahaya unt uk pangan, menut upi kecat at an barang yang dilakukan oleh penj ual dan pencurian at au menggunakan alat pembayaran yang t idak sah oleh pembeli.
Tekanan kebut uhan ekonomi berkait an dengan kont eks lingkungan di mana t ransaksi dilakukan. Pada masa dahul u t ransaksi j ual-beli t radisional diprakt ikkan di lingkungan pedesaan dengan kondisi kehidupan yang sederhana, kebut uhan hidup yang minim dan j alinan sosial yang kuat , sehingga keunt ungan sosial dapat dipriorit askan dan kej uj uran dapat diprakt ikkan yang mendorong muncul nya keridhaan pihak yang t erlibat dalam t ransaksi. Berbeda dengan masa kini di mana t ransaksi j ual-beli t radisional diprakt ikkan di lingkungan perkot aan dengan kondisi kehidupan yang kompleks, kebut uhan hidup yang t inggi dan j alinan sosial yang renggang, sehingga menyebabkan keunt ungan ekonomi yang didapat kan penj ual t idak cukup unt uk memenuhi kebut uhan hidupnya maupun dial ami oleh pembeli karena ket iadaan kepemilikan al at t ukar yang sah unt uk memenuhi kebut uhannya t erhadap barang. Dalam kondisi sulit demikian kej uj uran t idak mudah unt uk dipert ahankan sebab desakan kebut uhan hidup menunt ut dipriorit askannya keunt ungan ekonomi. Terj adilah pergeseran ciri khas pert ama j ual-beli t radisional yang berorient asi keunt ungan sosial menj adi berorient asi keunt ungan ekonomi dengan meminggirkan bahkan menyingkirkan keunt ungan sosial.
Perilaku t idak j uj ur dalam t ransaksi memicu reaksi dari j alinan sosial yang mengikat penj ual dan pembeli. Dalam kondisi normal, ket idak-j uj uran yang dil akukan oleh penj ual maupun pembeli menyebabkan goncangan sosial yang mendorong salah sat u pihak menggunakan mekanisme sanksi sosial. Kondisi sebaliknya dapat t erj adi j ika modal sosial yang dimiliki penj ual maupun pembeli dapat merasakan at au t urut mengalami kesempit an kehidupan ekonomi sebagaimana dialami oleh pelaku, sehingga memaklumi t indakan pelaku yang dipandang sebagai upaya unt uk sekedar menyambung hidup. Tet api harus dipahami bahwa pemakluman, t erlebih yang berkorelasi dengan pemaaf an, t idak dapat t erus dilakukan yang pada umumnya hanya berlaku unt uk kasus pert ama karena dibat asi oleh dua hal, yakni (1) kehendak pihak yang dikenai perilaku unt uk mencapai keunt ungan ekonomi; dan (2) j alinan sosial yang memil iki peran sebagai pengont rol peril aku yang dinilai di luar kepat ut an dalam t ransaksi, sehingga kecenderungannya t idak akan t erj adi pemakluman j ika muncul kembali perilaku serupa oleh pelaku yang sama.
Ciri khas keempat yang merupakan ciri khas t erakhir dan yang mengikat ket iga ciri khas
sosial . Tidak ada pihak yang dipandang liyan, asing at au anonim. Dikait kan dengan ciri khas ket iga, kej uj uran menempat i kedudukan yang pent ing dalam t ransaksi yang didasari personalit as dikarenakan kej uj uran lebih mudah dilakukan dalam t ransaksi di mana pihak yang t erlibat memiliki kedekat an hubungan sosial dan begit upula personalit as t ransaksi dapat dij aga keberl angsungannya j ika ant ara pihak yang t erlibat senant iasa mampu berperilaku j uj ur. Pemakluman t erhadap ket idak-j uj uran salah sat u pihak yang t erlibat dalam t ransaksi bukanl ah merupakan pemakluman t erhadap perilaku yang dinilai buruk, t et api pemakluman t erhadap pel aku yang dikenal inya secara personal . Pemakluman niscaya dilakukan karena dalam t ransaksi yang diliput i personalit as melibat kan seluruh f akult i yang dimiliki manusia sebagai subyek pelaku t ransaksi yang ut uh, t ermasuk dimensi perasaannya.
Gambar 2: Per sonal it as dal am r uang war ung di t ampakkan dar i f ot o pemil ik dan kel uar ga
yang diper l ihat kan kepada pembel i. Sebuah war ung pecel di Sr agen.
Sumber : Dokument asi pribadi, 2017
melalui kest abilan personal seluruh pihak yang t erl ibat dal am t ransaksi dan t erikat dal am j alinan sosial.
Keempat ciri khas t ransaksi dengan nilai-sosial yang t inggi membent uk st rukt ur l at ar bagi berlangsungnya t ransaksi di mana unsur manusia menempat i lat ar-depan, unsur barang menempat i lat ar-t engah dan unsur ruang menempat i lat ar-belakang. Dalam st rukt ur lat ar berlaku oposisi biner di mana lat depan menduduki posisi paling t inggi, sedangkan lat ar-belakang menduduki posisi paling rendah. Unsur manusia menempat lat ar-depan dikarenakan unsur barang t idak akan hadir secara f isikal maupun psikologis di dalam kesadaran manusia j ika t idak t erdapat manusia yang membut uhkannya. Dengan demikian t ransaksi dengan nilai-sosial yang t inggi mengisyarat kan bahwa upaya pemenuhan kebut uhan t erhadap barang t idak diperbolehkan mengsubordinasi manusia, mereduksinya bahkan menghancurkan kemanusiaan yang dimil ikinya.
Gambar 3: St r ukt ur l at ar bagi t r ansaksi dengan nil ai-sosial t inggi
Sumber : Anal isa, 2017
berasal dari unsur manusia menekan pref erensi spasial yang berasal dari unsur ruang sebagai daya dorong t erj adinya t ransaksi.
Demikianlah penj elasan nilai-sosial yang t inggi yang pada masa kini t engah menghadapi t ant angan dari j ual-beli modern yang semakin t umbuh dengan cepat dan meluas, khususnya yang t erj adi di lingkungan perkot aan. Perubahan cara j ual-beli yang diikut i dengan perubahan ruang t ransaksi mempengaruhi t ingkat an nilai-sosial yang t erbent uk dan pada akhirnya mempengaruhi j al inan sosial yang mengikat penj ual dan pembel i. Pada bagian selanj ut kan saya akan membahas j ual-beli modern yang membent uk nilai-sosial menengah berikut dengan syarat , ciri khas dan st rukt ur l at ar yang menaungi t ransaksinya sert a goncangan yang menyebabkan menurunnya t ingkat an nilai-sosial dalam pemenuhan kebut uhan t erhadap barang. Dengan dibahasnya j ual-beli modern akan dapat dikenali t ant angan ekonomi dan sosial yang dialami manusia kini yang t idak l agi adalah t ant angan bagi kemanusiaannya.
B. Goncangan Terhadap Nilai-Sosial
Runt uhnya nilai-sosial dalam upaya pemenuhan kebut uhan t erhadap barang disebabkan t idak t erpenuhinya syarat -syarat yang diperl ukan, yakni (1) hubungan sosial ant ara pihak yang t erl ibat mendasari t erj adinya t ransaksi j ual-beli yang sarat dengan (2) komunikasi dua arah yang int ens dan bermakna. Transaksi yang t idak memenuhi kedua persyarat an t ersebut adalah j ual-beli moden yang diwadahi dal am ruang mini-market hingga skal a super-market . Dengan cara membandingkan, dapat dirumuskan syarat t erj adinya t ransaksi j ual-bel i modern adalah (1) t ransaksi yang t erj adi t idak didasari hubungan sosial ant ara pemilik barang at au penj ual dengan pembeli; dan sebagai konsekuensinya (2) t idak t erj adi komunikasi dua arah yang int ens dan bermakna ant ara pihak yang t erlibat . Sel ain kedua syarat t ersebut yang merupakan pembalikan dari t ransaksi j ual-beli t radisional, t ransaksi j ual-bel i modern j uga memiliki syarat ket iga, yakni penj ual yang merupakan pemil ik barang t idak hadir di dalam ruang t ransaksi yang diwakilkan oleh pegawai sebagai pihak ket iga yang dipekerj akannya, sehingga t idak dimungkinkan t erj adinya komunikasi ant ara penj ual dan pembeli. Prakt ik j ual-beli modern sebagaimana didasari ket iga syarat t ersebut t elah kit a al ami dal am kehidupan sehari-hari pada masa kini, bahkan bagi banyak dari kit a t ransaksi modern t idak mungkin l agi unt uk dihindari karena t elah menj adi kebut uhan, kebiasaan bahkan gaya hidup.
area barang unt uk mengambil sendiri barang yang dibut uhkannya. Set elahnya dil akukan perhit ungan harga oleh penj ual at au pihak yang mewakilinya di area kasir unt uk menget ahui nilai-nominal yang harus dibayarkan oleh pembeli. Proses t ransaksi j ual-beli demikian memungkinkan pengunj ung mengambil barang dan langsung keluar dari ruang t ransaksi t anpa menghampiri ruang kasir yang dalam bahasa kit a disebut dengan t indakan pencurian. Unt uk mencegah t erj adinya peril aku t ersebut , dil akukan t at a keruangan yang membent uk ciri khas spasial t ransaksi j ual-bel i modern. Ciri khas keruangan pert ama ial ah area kasir dilet akkan di bagian depan ruang t ransaksi, yakni berdekat an dengan pint u akses masuk agar penj ual at au pegawai dapat mengawasi peril aku pengunj ung di area barang dan menget ahui keluar masuknya pengunj ung ke ruang t ransaksi. Kedua, ruang t ransaksi dilengkapi dengan seperangkat t eknologi yang bert uj uan memudahkan penj ual mengawasi perilaku pengunj ung, sepert i kamera CCTV di set iap sudut ruang sampai segel elekt ronik yang akan berbunyi j ika pengunj ung mengambil barang dan langsung kel uar ruang t ransaksi t anpa membayarnya di area kasir. Terkesan bahwa proses t ransaksi j ual-bel i modern diliput i kecurigaan dan kewaspadaan pihak penj ual kepada pengunj ung yang memasuki ruang t ransaksi. Persoalan t ersebut akan saya bahas lebih l anj ut pada bagian ket iga t ulisan ini.
Jual-bel i modern dikait kan dengan nilai-sosial dapat dibedakan menj adi dua t ipe dengan t ingkat an nilai-sosial yang berbeda disebabkan perbedaan syarat , ciri khas dan st rukt ur lat ar bagi berlangsungnya t ransaksi j ual-bel i. Tipe pert ama adal ah ruang t ransaksi yang dimiliki personal-pribadi dengan model persebaran t erbat as berdasarkan keberadaan modal sosial . Sedangkan t ipe kedua adalah ruang t ransaksi yang dimiliki korporasi dengan model persebaran meluas membent uk j aringan rit el t anpa didasari kepemilikan modal sosial. Sebagai bat asan agar t ulisan ini t idak t erl alu panj ang dan rumit , saya hanya akan membahas t ransaksi j ual-beli modern yang diwadahi dalam ruang mini-mart . Sel ain unt uk memudahkan saya sendiri, pembahasan dalam skala ruang super-market membut uhkan analisa yang berbeda, sehingga membut uhkan t ulisan t ersendiri yang diperunt ukkan khusus unt uk membincangkannya.
t idak runt uh, walaupun t ingkat annya t idak bi sa set inggi nilai-sosial dalam j ual-beli t radisional sebagai akibat diprakt ikkannya proses t ransaksi j ual-bel i modern.
Tingkat an nilai-sosial menengah dalam t ransaksi j ual-beli modern t ipe pert ama dikarenakan t ransaksi yang berl angsung didasari j alinan sosial, t et api dengan t ingkat int ensit as komunikasi yang t idak set inggi j ual -beli t radisional. Unt uk yang pert ama, j alinan sosial menj adi dasar dilakukannya t ransaksi karena ruang mini-mart berada di lingkungan sosial pemilik ruang. Pada banyak kasus, ruang mini-mart t ipe pert ama merupakan perkembangan dari warung yang mewadahi j ual-beli t radisional. Pemilik ruang mengalami perkembangan kehidupan ekonomi yang memampukannya melakukan perubahan ruang warung menj adi t ipe mini-mart unt uk meningkat kan int ensit as j ual -beli sebagai upaya meningkat kan keunt ungan ekonomi.
Perubahan ruang warung menj adi ruang mini-mart diikut i dengan mobilisasi modal sosial yang awalnya menj adi pelanggan warung beralih menj adi pelanggan mini-mart , sehingga t ransaksi yang dilakukan t et ap didasari j alinan sosial yang mengikat penj ual dan pembeli. Unt uk yang kedua, menurunnya int ensit as komunikasi yang bermakna bagi pihak yang t erlibat dal am t ransaksi disebabkan diprakt ikknnya j ual-beli modern di mana penj ual dan pembeli hanya dapat berkomunikasi pada dua f ase sel ama proses j ual-beli, yakni (1) saat pembeli memasuki ruang t ransaksi; dan (2) saat penj ual dan pembeli bert emu di area kasir. Sedangkan ket ika pembel i berada di area barang t erdapat j arak spasial ant ara pembeli dengan penj ual yang menj adi hambat an unt uk dilakukannya komunikasi. Inilah goncangan pert ama t erhadap nilai-sosial yang menj adikan nilai-sosial dalam t ransaksi j ual-beli modern t ipe pert ama t idak dapat menyamai t ingkat an nil ai-sosial j ual -ual-beli t radisional karena kehil angan sat u f ase komunikasi dalam proses t ransaksi.
ruang at au pemindahan ruang berdasarkan kedekat annya dengan ruang hunian pemilik dan t et ap berada di l ingkungan modal sosial pemilik ruang.
Berbeda dengan warung, ruang mini-mart t ipe pert ama menggunakan model persebaran ruang dengan penent uan perlet akan ruang berdasarkan persebaran modal sosial pemilik mini-mart at au dapat disebut dengan pendekat an spasial -sosial yang dipandang sebagai calon pembeli pot ensial . Dari sudut pandang sosial -ekonomi, mendekat i modal sosial dal am pemilihan l okasi persebaran ruang mini-mart dapat diart ikan sebagai upaya menj amin keberlangsungan t ransaksi j ual-beli yang t erj adi di ruang mini-mart . Di sisi lain, menghadirkan mini-mart di lingkungan yang asing bagi penj ual, yakni lingkungan t anpa modal sosial dipandang sebagai upaya penuh resiko karena dapat menyebabkan rendahnya t ingkat t ransaksi j ual-beli yang j ust ru kont radiksi dengan t uj uan persebaran ruang t ransaksi unt uk mencapai keunt ungan ekonomi yang lebih besar. Dapat art ikan pula ket iadaan modal sosial sebagai ket iadaan calon pembeli pot ensial, sehingga keberadaan modal sosial menj adi syarat bagi kehadiran persebaran ruang mini-mart .
Persebaran ruang mini-mart dapat mempengaruhi nil ai-sosial karena pihak penj ual t idak dapat hadir secara serent ak di seluruh ruang mini-mart yang dimil ikinya. Dengan demikian persebaran ruang mini-mart menj adi pendorong t erpenuhinya syarat ket iga j ual-bel i modern, yakni diwakil kannya pihak penj ual oleh pihak ket iga yang dipekerj akannya unt uk t erlibat secara langsung dalam proses t ransaksi j ual -beli dengan pembeli. Jika penj ual diwakilkan oleh pegawai yang memiliki kedekat an hubungan sosial dengan dirinya dan dengan modal sosial ruang mini-mart , maka t ingkat an nilai-sosial dapat dipert ahankan karena ant ara pihak yang t erlibat dalam j ual-beli t erikat dalam j al inan sosial. Jika kondisi t ersebut t erpenuhi, walaupun pihak penj ual t idak sel alu hadir di dal am ruang j ual-beli, pegawai yang dipekerj akannya dapat berper an sebagai perpanj angan dirinya dengan pembeli secara ekonomi maupun sosial. Tet api j ika yang t erj adi adalah sebaliknya di mana pegawai sebagai pihak ket iga dalam t ransaksi j ual-beli t idak memiliki j alinan sosial dengan pihak penj ual dan modal sosial ruang mini-mart , maka t erj adi goncangan nil ai-sosial yang dapat berakibat runt uhnya nilai-sosial sebagaimana t erj adi pada j ual-beli modern t ipe kedua yang akan saya j elaskan pada bagian selanj ut nya dari t ulisan ini.
direkomendasikannya. Di sini menunj ukkan pref erensi sosial t idak saj a dilibat kan dalam t ransaksi j ual-beli ant ara pihak penj ual dan pembeli sert a penent uan lokasi persebaran ruang t ransaksi, t et api j uga mempengaruhi mekanisme pemilihan pegawai yang secara ekonomi dan sosial berperan sebagai penghubung ant ara penj ual dengan pembel i. Inil ah
ciri khas pert ama j ual-beli modern t ipe pert ama, yakni personal it as t ransaksi j ual-beli.
Gambar 4: Rel asi ant ar a penj ual , pegawai dan pembel i dengan nil ai-sosial menengah
Sumber : Anal isa, 2017
Ciri khas kedua dan ket iga, yakni kej uj uran dan keridhaan dalam t ransaksi memiliki
mengekspl oit asi pegawai yang dipekerj akannya dan pegawai pun akan bekerj a dengan baik sesuai dengan st andar yang dikehendaki penj ual sebagai pihak pemberi kerj a.
Hingga saat ini memang saya belum pernah mendapat i j ual-beli modern yang memberikan kelonggaran kepada pembelinya unt uk dapat berhut ang, walaupun memiliki hubungan dekat dengan penj ual. Realisasi keridhaan dalam j ual -beli model t ipe pert ama beberapa kali saya saksikan dal am perwuj udan memberi pot ongan harga at au pembulat an harga ke bawah kepada pembeli yang memil iki kedekat n sosial dengan penj ual . Saya sendiri pernah merasa ridha dengan harga barang yang lebih mahal dibandingkan mini-mart lainnya karena kedekat an hubungan sosial ant ara saya dengan penj ual. Keridhaan pun berlaku ant ara penj ual dan pegawai. Realisasinya mewuj ud dal am banyak cara, di ant aranya yang pernah saya dapat i adal ah pihak penj ual merasa ridha kepada pegawainya yang berkali-kali dalam wakt u berdekat an memint a izin unt uk menghadiri acara keluarga at au memint a izin selama sepekan penuh sebelum hari pernikahannya. Dari sisi pegawai, keridhaan hadir ket ika pegawai memaklumi ket erlambat an pembayaran gaj i yang menj adi haknya dikarenakan kondisi penj ualan t engah lesu at au penj ual t engah mengalami musibah yang menj adikannya t idak dapat memenuhi kewaj iban t epat wakt u.
Ciri khas keempat dari j ual-bel i modern t ipe pert ama adal ah t egangan ant ara keunt ungan
sosial dan keunt ungan ekonomi. Tegangan t idak dapat dihindari disebabkan orient asi j ual-beli modern t ipe pert ama unt uk meningkat kan keunt ungan ekonomi dengan cara memanf aat kan j alinan sosial yang dimiliki. Jika orient asi ekonomi menguasai j alannya t ransaksi, maka berakibat pada subordinasi j al inan sosial yang sebat as dimanf aat kan unt uk menghasil kan keunt ungan ekonomi. Akibat nya adalah runt uhnya ciri khas kedua dan ket iga di at as, bahkan mengancam ciri khas pert ama dikarenakan orient asi ekonomi semat a dapat mengaburkan subj ek yang dilibat kan dalam t ransaksi. Tet api j ika sebal iknya yang berlaku, yakni orient asi sosial yang menguasai, maka dapat memunculkan pemakluman yang berlebihan dari penj ual t erhadap pegawai dan pembeli yang t ent u saj a akan mempengaruhi keunt ungan ekonomi yang didapat kannya. Tegangan keduanya harus dalam kondisi seimbang dan st abil, agar t idak t erj adi daya t arik yang doniman dan menihilkan salah sat u keunt ungan, sehingga dalam t ransaksi j ual -beli didapat kan keunt ungan sosial sekaligus keunt ungan ekonomi dengan kadar yang berbeda unt uk set iap t ransaksi.
goncangan nilai-sosial pada j ual -beli modern t ipe pert ama dikarenakan ket idak-st abilan st rukt ur lat ar yang disebabkan oleh t egangan ant ara unsur ruang yang merupakan kekuat an ut ama ruang mini-mart dan unsur manusia unt uk menempat i lat ar-depan. Dikait kan dengan t egangan orient asi j ual-beli, unsur ruang mewakili orient asi keunt ungan ekonomi sedangkan unsur manusia mewakili orient asi keunt ungan sosial. Unt uk mencapai keunt ungan ekonomi, j ual-bel i modern t ipe pert ama t idak mengandalkan unsur barang karena barang semat a t idak memiliki daya t arik yang cukup unt uk mempengaruhi pembeli memasuki ruang t ransaksi. Ol eh karena it u kualit as render ruang mini-mart dibuat j auh melampui ruang warung yang bert uj uan unt uk memperkut daya spasial unt uk menarik pembeli.
Gambar 5: St rukt ur l at ar bagi t ransaksi dengan nil ai-sosial menengah
Sumber : Anal isa, 2017
dengan penj ual, maka pref erensi sosial sudah cukup menj adi dorongan baginya unt uk memasuki ruang t ransaksi dan mel akukan j ual -beli. Berbeda dengan pembeli yang t idak memiliki j al inan sosial dengan penj ual, sepert i seseorang yang t engah dalam perj alanan menuj u kant or dan kebet ulan melewat i ruang mini-mart unt uk memenuhi kebut uhannya t erhadap barang, pref erensi spasial dapat digunakan unt uk menarik pembeli memasuki ruang t ransaksi dan melakukan j ual-beli. Ini berart i unsur ruang dan unsur manusia menempat i lat ar-depan secara bersamaan unt uk memperl uas j angkauan pelayanan mini-mart agar dapat menyasar pembeli yang beragam.
Demikian yang dapat saya j elaskan berkait an dengan j ual -beli modern t ipe pert ama dengan nilai-sosial menengah yang disebabkan oleh dua goncangan, yakni (1) hilangnya sat u f ase komunikasi dalam proses t ransaksi; dan (2) ket idak-st abilan st rukt ur lat ar bagi t ransaksi. Pada bagian selanj ut kan yang merupakan bagian ket iga dari t ulisan ini akan dibahas j ual-beli modern t ipe kedua berikut dengan syarat , ciri khas dan st rukt ur lat ar bagi t ransaksi sert a berbagai goncangan yang menyebabkan kerunt uhan nilai-sosial. Ket iadaan nilai-sosial dalam upaya pemenuhan t erhadap barang t idak saj a berdampak buruk bagi pembeli dan pegawai yang dipekerj akan, t et api j uga merugikan penj ual yang memprakt ikkan j ual-beli t radisional dan j ual -beli modern t ipe pert ama. Inil ah permasal ahan yang t engah kit a hadapi saat ini di mana carut -marut nya kehidupan sosial didalangi oleh pelaku ekonomi.
C. Runt uhnya Nilai-Sosial
Jual-bel i t ipe kedua dikat egorikan dalam j ual-beli modern karena memenuhi keseluruhan syarat j ual-beli modern dan proses t ransaksi yang diprakt ikkan. Syarat pert ama, t ransaksi yang t erj adi t idak didasari j al inan sosial yang mengikat seluruh pihak yang t erlibat . Dalam j ual-bel i t radisional dan j ual-beli modern t ipe pert ama, syarat pert ama ini dinil ai buruk karena merupakan penyebab kerunt uhan nilai-sosi al, t et api sebaliknya j ust ru dinilai baik dalam j ual -beli modern t ipe kedua dikarenakan berkesesuaian dengan t uj uan t ransaksi unt uk meraih keunt ungan ekonomi sebanyak-banyaknya. Jalinan sosial dianggap melibat kan perasaan dalam t ransaksi j ual -bel i yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi. Oleh karena it u j ual-beli modern t ipe kedua dalam proses t ransaksinya berusaha menghindari dan menyingkirkan sel uruh hambat an bagi pencapaian keunt ungan ekonomi. Syarat pert ama t ersebut menj adi prasyarat bagi t erpenuhinya syarat kedua j ual-beli modern, yakni t idak t erj adinya komunikasi yang int ens dan bermakna di ant ara pihak yang t erlibat dal am t ransaksi sepanj ang t erj adinya proses j ual-beli.
Tuj uan t ransaksi j beli modern t ipe kedua dicapai dengan cara mencapai int ensit as j ual-beli yang t inggi melal ui model persebaran mel uas t anpa didasari kepemilikan modal sosial. Di sini j alinan sosial kembali dipandang sebagai hambat an mencapai keunt ungan ekonomi karena membat asi persebaran ruang t ransaksi, sehingga t idak dij adikan syarat dalam persebaran ruang mini-mart . Sel ain it u, dimungkinkannya ruang mini-mart t ipe kedua t ersebar luas membent uk j ej aring rit el dikarenakan kepemilikan modal usaha yang besar oleh korporasi yang menj adi bat asan bagi persebaran mini-mart t ipe pert ama dengan kepemilikan personal-individual. Dengan t anpa hambat an j alinan sosial dan ket erbat asan modal, model persebaran meluas ruang mini-mart t ipe kedua menggunakan pendekat an spasial-ekonomi dengan syarat (1) menempat i ruang yang mudah dilihat secara visual dan mudah diakses oleh pembeli; dan (2) mendekat i keberadaan kerumunan manusia yang secara ekonomi dianggap sebagai calon pembeli pot ensial. Dua syarat t ersebut dapat menj elaskan t umbuh suburnya ruang mini-mart t ipe kedua di mana hampir t idak ada ruang yang luput dari kehadirannya dari area privat permukiman hingga area publik sekelas bandara int ernasional. Inilah st rat egi yang digunakan unt uk mencapai t uj uan ekonomi, yakni mel al ui penguasaan ruang ekonomi dengan menghadirkan sebanyak mungkin ruang t ransaksi yang membent uk j aringan seluas mungkin.
mini-mart t ipe pert ama. Yang membedakannya adalah dalam mini-mart t ipe pert ama akumul asi keunt ungan ekonomi diharapkan berasal dari modal sosial yang dipandang sebagai cal on pembeli pot ensial berdasarkan kedekat an sosial, sedangkan dalam mini-mart t ipe kedua akumul asi keunt ungan ekonomi didapat kan dari kerumunan manusia yang dipandang sebagai cal on pembeli pot ensial berdasarkan j umlah kuant it asnya.
Jej aring mini-mart t ipe kedua yang sangat luas menj adikan penj ual yang sekaligus merupakan pemilik ruang t ransaksi t idak dapat hadir di seluruh ruang yang dimilikinya dalam wakt u yang bersamaan. Selain it u, persebarannya t anpa didasari modal sosial menj adikan penj ual t idak perlu hadir unt uk mengaj egkan j alinan sosial yang dimilikinya. Kondisi demikian menj adi lat ar belakang t erpenuhinya syarat ket iga j ual-bel i modern karena penj ual mut lak membut uhkan kehadiran pihak ket iga yang dipekerj akannya unt uk melangsungkan proses t ransaksi dengan pembeli. Sampai di sini t erdapat kesamaan ant ara j ual-bel i modern t ipe pert ama dan kedua, yakni dilibat kannya pihak ket iga dalam proses j ual-bel i, yang membedakan ant ara keduanya adalah mekanisme perekrut an pegawai yang digunakan.
Tidak sebagaimana t ipe pert ama yang mengandalkan j alinan sosial unt uk memil ih pegawai yang akan dipekerj akan, j ualbeli modern t ipe kedua menggunakan pendekat an f ormal -administ rat if melalui serangkaian t es unt uk mendapat kan pegawai yang memiliki kemampuan kerj a sekaligus dapat dit undukkan agar pat uh dan set ia dengan penj ual. Mekanisme demikian digunakan karena pegawai dipandang sebagai pihak liyan, sehingga menunt ut penj ual bersikap waspada dan menar uh curiga agar pihak yang dipekerj akannya t idak menyebabkan kerugian ekonomi. Sedangkan mekanisme perekrut an pegawai dal am j ual-bel i modern t ipe pert ama yang didasarkan j alinan sosial ant ara penj ual dengan pegawai at au pihak lain yang merekomendasikan pegawai t erikat hubungan emosional-personal yang membent uk rasa saling percaya di ant ara pihak yang t erlibat , sehingga ket idak-set iaan dan sikap merugikan sal ah sat u pihak dapat dit ekan. Inilah yang t idak dimiliki j ual-beli modern t ipe kedua dengan mekanisme yang digunakannya sebab ket iadaan j alinan sosial menyebabkan impersonalit as ant ara penj ual dan pegawai yang berart i harus dilakukan prosedur unt uk menj amin pihak ket iga yang dipekerj akannya berlaku set ia dan t idak merugikan.
pegawai bekerj a kepada pihak penj ual yang mempekerj akannya. Dimul ai dari yang pert ama, sedari proses pendaf t aran, penyel eksian hingga penerimaan, pegawai t idak berhadapan t at ap muka dan berkomunikasi langsung dengan penj ual karena proses pencarian pegawai dil akukan oleh pegawai lain yang dibert anggung-j awab t erhadap persoal an kepegawaian, sehingga sej ak awal t idak t erdapat kemungkinan t umbuhnya j alinan sosial ant ara pihak pemberi kerj a dengan pihak yang dipekerj akannya.
Gambar 6: Rel asi ant ar a penj ual , pegawai dan pembel i dengan t anpa nil ai-sosial
Sumber : Anal isa, 2017
pihak pemberi kerj a. Jika pegawai t idak bersedia menyet uj ui kont rak kerj a yang dit et apkan t anpa melibat kan dirinya, maka dipandang t idak mampu berlaku set ia dan pat uh, dengan demikian t idak dapat dipekerj akan.
Sebagai manusia, individualit as pegawai yang sarat dengan subyekt ivit as dan kreat ivit as merupakan hambat an bagi keset iaan dan kepat uhan yang dit unt ut oleh penj ual karena at as kesadaran krit isnya dapat mempert anyakan dan memilih unt uk t idak menyet uj ui ket ent uan dan st andar kerj a yang dit et apkan. Unt uk it u penj ual memberlakukan kont rol kesadaran dan kont rol kerj a kepada pegawai yang berart i impersonalit as kembali dial ami pegawai selama bekerj a. Kont rol kesadaran dilakukan ol eh penj ual unt uk mempengaruhi kesadaran pegawai bahwa dirinya adalah mil ik pemberi kerj a sepanj ang wakt unya bekerj a dengan mewaj ibkan pegawai mengenakan at ribut resmi yang mencit rakan penj ual, yakni pakaian seragam dan perilaku yang diat ur ket at selama proses j ual -beli. At ribut individual sedapat mungkin diminimal kan kehadirannya agar t idak membangkit kan kesadaran personalit as pegawai sebagai manusia seut uhnya yang memiliki kuasa penuh dan kemerdekaan at as dirinya t anpa sat upun pihak yang berhak unt uk menundukkan apalagi memilikinya. Hal ini dapat kit a saksikan di ruang mini-mart t ipe kedua di mana dua sampai t iga orang pegawai mengenakan pakaian, bert ut ur kat a dan berperil aku yang sama sel ama proses j ual -beli berlangsung sebagai bent uk real isasi dari kepat uhannya kepada penj ual.
Kont rol kerj a unt uk mengawasi kinerj a pegawai selama bekerj a, penj ual melibat kan at au lebih t epat nya memanf aat kan pembeli unt uk melakukan kont rol dan pengawasan dengan menggunakan mekanisme report and reward. Jika pegawai t idak ramah, t idak menawarkan promosi dan t idak memberikan st ruk belanj aan at au t idak memenuhi ket ent uan lain yang dit et apkan penj ual, pembeli dapat melaporkannya kepada penj ual yang diwakili oleh bagian cost umer care yang akan menj adi dasar bagi penj ual unt uk memberlakukan sanksi administ rat if kepada pegawai yang dinilai t idak pat uh dan set ia. Sebagai imbalannya, penj ual akan memberikan reward kepada pembeli yang melakukan pelaporan, sepert i pot ongan harga hingga menggrat iskan barang yang dibelinya. Mekanisme demikian
menempat kan pegawai dalam posisi dit ekan oleh dua pihak, yakni penj ual dan pembeli.
daerah t anpa kepemilikan modal sosial sehingga proses j ual beli yang t erj adi dapat berlangsung dengan rasional t anpa melibat kan perasaan pihak yang t erlibat . Unt uk mempert ahankan anonimit as dengan cara ini yang berart i unt uk t et ap memast ikan kont rol kerj a dapat berlangsung, penj ual melakukan pemindahan lokasi kerj a secara periodik sebelum t erbent uknya hubungan sosial ant ara pegawai dengan pembeli.
Ket iadaan j alinan sosial ant ara pegawai dan pembeli menyebabkan t idak t erj adinya komunikasi yang int ens dan bermakna di ant ara keduanya sel ama proses j ual-beli berlangsung. Membandingkannya dengan j ual -beli modern t ipe pert ama, pada saat pembeli memasuki ruang t ransaksi t erj adi komunikasi mengucapkan salam dan saling sapa yang didorong ol eh kedekat an hubungan keduanya. Sedangkan dalam j ual-beli modern t ipe kedua, salam yang diucapkan pegawai merupakan t unt ut an prosedur kerj a dari penj ual yang waj ib disampaikan kepada sel uruh pembeli t anpa mempedulikan kondisi t ubuh dan kej iwaan pegawai. Sal am t anpa personalit as dengan mimik waj ah yang dingin dan int onasi suara yang dat ar t idak dit anggapi oleh pembeli karena dianggap sebagai perilaku basa-basi dan t idak bermakna karena sekedar memenuhi t unt ut an pekerj aan. Begit upula ket ika pegawai dan pembeli bert emu di area kasir t idak t erj adi komunikasi dua arah yang bermakna. Kedua pihak j ust ru diam saling mempehat ikan layar monit or yang menampilkan j umlah nominal barang yang harus dibayarkan. Bahasa t ubuh ini menandakan kedua pihak yang bert emu saling mencurigai dan mewaspadai. Pembeli berpandangan pegawai dapat saj a berbuat curang dalam perhit ungan dan sebaliknya, pegawai berpandangan pembeli bisa saj a menyembunyikan barang yang di ambilnya di rak t anpa memperlihat kannya kepada pegawai di mej a kasir.
pegawai dan pembeli sarat dengan kecurigaan dan kewaspadaan yang menj adi ciri khas
kedua j ual -beli modern t ipe kedua dan merupakan t urunan dari ciri khas pert ama.
Ciri khas ket iga yang merupakan t urunan dari ciri khas pert ama dan mendukung ciri khas
kedua adal ah t ransaksi j ual-beli yang t idak j uj ur oleh penj ual sehingga menyebabkan ket idak-keridhaan pihak pembeli. Salah sat u perilaku t idak j uj ur yang dilakukan oleh penj ual adalah memint a sej umlah nilai t ert ent u dari nominal kembalian pembeli at au membulat kan ke at as j umlah nominal yang harus dibayarkan pembeli unt uk disumbangkan. Yang menj adi permasal ahan, sumbangan yang di maksud t idak bersif at t erbuka, sehingga t idak dapat diawasi dan diakses oleh pembeli sebagai pihak penyumbang. Dikarenakan sarat dengan ket ert ut upan, persoalan ini sudah seringkali mendapat kan krit ik dan keberat an dari pihak pembeli, bahkan beberapa wakt u belakangan ini memicu keribut an karena disinyalir sej uml ah uang yang disumbangkan pembeli disalurkan unt uk mendukung salah sat u calon gubernur di suat u daerah di Indonesia.
Akumulasi dari ket iga ciri khas di at as adalah t ransaksi yang semat a unt uk mendapat kan keunt ungan ekonomi ol eh seluruh pihak yang t erlibat yang merupakan ciri khas keempat j ual-bel i modern t ipe kedua. Penj ual mempekerj akan pegawai berusia muda t anpa pengalaman kerj a agar dapat memberi upah kerj a minimal sekal igus mempermudah dit erapkannya kont rol kesadaran dan kont rol kerj a. Dari sisi pegawai, t uj uan bekerj a sekedar unt uk memenuhi kebut uhan ekonomi disebabkan t idak t erj al innya ikat an sosial dengan penj ual maupun pembeli yang menj adi pendorong dilakukannya kerj a unt uk memenuhi kebut uhan sosial . Begit upula dalam relasi penj ual dan pembeli, keunt ungan ekonomi menj adi orient asi kedua pihak. Penj ual menj ual barang dengan harga lebih mahal sebagai kompensasi dari kemudahan berbelanj a yang dit erima oleh pembeli yang menunt ut kecepat an berbelanj a unt uk menghemat wakt u. Logika ekonomi bekerj a dan mendominasi sepanj ang proses t ransaksi j ual-beli dengan menyingkirkan ruang bagi berlangsungnya logika sosial karena yang disebut t erakhir dipandang sebagai hambat an unt uk mencapai keunt ungan ekonomi.
sebagai lat ar-t engah yang merupakan sumber bagi pref erensi spasial . Pref erensi barang dan pref erensi sosial t ersebut diposisikan sebagai penggant i pref erensi sosial yang dit uj ukan unt uk menarik pembeli. Sedangkan unsur manusia menj adi lat ar-belakang yang berj arak sangat j auh bahkan menghilang yang t idak lain disebabkan t uj uan t ransaksi j ual-beli modern t ipe kedua dan ciri khas yang dimil ikinya.
Unsur barang menempat i lat ar-depan t idak lain dikarenakan t uj uan t ransaksi yang dilakukan. Bagi penj ual, barang adalah sarana mendapat kan keunt ungan ekonomi, bagi pegawai penj ualan barang mempengaruhi pendapat an yang didapat kannya dari penj ual dan bagi pembeli barang merupakan obj ek bagi pemenuhan kebut uhannya. Unsur barang agar membent uk pref erensi yang kuat , sehingga dapat menarik pembeli memasuki ruang t ransaksi dan melakukan j ual-bel i, dilakukan melalui t iga cara. Pert ama, menj ual barang yang lebih beragam dan lebih berkualit as dibandingkan mini-mart t ipe pert ama dan warung yang dimungkinkan oleh kepemilikan modal yang besar. Kedua, t at a at ur barang yang rapi, bersih, est et is dan didasarkan kecenderungan kebut uhan pembeli dalam menyusun perlet akan barang, sehingga memudahkan pembeli mendapat kan barang yang dibut uhkannya dal am wakt u sesingkat mungkin. Ket iga, berbagai promosi unt uk memompa hasrat pembeli memiliki barang melalui t ransaksi di ruang mini-mart , sepert i diskon khusus pada wakt u-wakt u t ert ent u, beli 2 dapat 1 unt uk produk dengan merk yang sama, bel i barang dengan j uml ah t ert ent u akan mendapat kan hadiah barang t ert ent u, beli rot i sekian bungkus dapat minuman ringan dan promosi lain sebagainya.
Unsur ruang unt uk dapat membent uk pref erensi spasial yang kuat bagi pembeli diharuskan memiliki kualit as ruang yang mengungguli ruang mini-mart t ipe pert ama dan warung dalam aspek f isikal dan cit ranya. Secara f isikal , ruang mini-mart t ipe kedua hadir dengan render ruang yang halus, bersih, rapi, t erst andar, dil engkapi penghawaan buat an dan dit erangi pencahayaan lampu sepanj ang hari agar ruang selalu dalam kondisi t erang, sej uk dan nyaman bagi pembeli. Sement ara secara pencit raan, seluruh ruang mini-mart yang t erikat j ej aring rit el hadir dalam keseragaman bent uk, warna, cit ra dan st andar agar mudah dikenal i dan mudah t ert anam di dal am benak pembeli. Aspek inilah yang menj adikan kit a pada hari ini secara visual dan psikologis akrab dengan render ruang mini-mart t ipe kedua, sehingga kit a mudah mengenalinya di ant ara ruang t ransaksi yang lain.
dibelinya. Secara psikologis yang berkait an dengan keunt ungan ekonomi, keberadaan f asilit as pendukung t ersebut mempengaruhi pembeli dari dua sisi. Pert ama, walaupun f asilit as t ersebut disediakan grat is unt uk pembeli, t et api secara psikol ogis pembel i baru merasa nyaman unt uk menggunakannya set elah membeli beberapa barang di ruang mini-mart . Mendat angi ruang mini-mini-mart dan langsung menggunakan f asilit as pendukung t anpa melakukan t ransaksi j ual-beli t erlebih dahul u mendapat kan penolakannya dari psikol ogis pembeli. Kedua, dihadirkannya f asil it as pendukung dit uj ukan unt uk memperpanj ang wakt u pembeli di dalam ruang t ransaksi sebagai upaya meningkat kan int ensit as j ual-beli dengan mendorong munculnya kebut uhan pembeli t erhadap barang secara bert erusan. Semakin lama pembeli berada di ruang t ransaksi sambil menikmat i berbagai f asilit as pendukung yang disediakan, diharapkan semakin t inggi int ensit as j ual-beli yang dilakukan walaupun sekedar membeli makanan at au minuman ringan.
Gambar 7: St rukt ur l at ar bagi t ransaksi dengan t anpa nil ai-sosial
Sumber : Anal isa, 2017
mendasari akt ivit as t ersebut . Jual-beli t radisional dan j ual -beli modern t ipe pert ama yang didasari j al inan sosial menj adikan pref erensi sosial sebagai pendorong dilakukannya akt ivit as di luar j ual-beli yang t erj adi di dal am ruang t ransaksi yang bert uj uan unt uk memperkuat j alinan sosial ant ara pembeli dengan sesama pembeli dan ant ara pembeli dengan pegawai at au penj ual. Dengan relasi demikian, berlama-lamanya pembeli di ruang t ransaksi adal ah unt uk mendapat kan keunt ungan sosial bagi sel uruh pihak yang t erl ibat dan unt uk memberikan keunt ungan ekonomi kepada penj ual yang t erikat j alinan sosial dengannya. Sedangkan akt ivit as serupa yang t erj adi di ruang mini-mart t ipe kedua didorong ol eh pref erensi spasial yang dimanf aat kan oleh pembeli maupun sekelompok pembeli. Bagi pembel i, akt ivit as yang dil akukannya bisa saj a bert uj uan mencapai keunt ungan sosial, t et api bagi pegawai dan penj ual , akt ivit as t ersebut t idak l ebih dari upaya unt uk mendapat kan keunt ungan ekonomi. Ini semakin menguat kan unsur manusia sebagai lat ar-belakang dalam t ransaksi j ual -bel i modern kedua.
Demikianlah pembahasan j ual-beli modern t ipe kedua yang menyebabkan kerunt uhan nilai-sosial dikarenakan t ransaksi yang t erj adi t anpa didasari j alinan nilai-sosial ant ar pihak yang t erlibat , sehingga membent uk relasi anonimit as yang impersonal ant ara penj ual, pegawai dan pembeli. Dengan orient asinya semat a mencapai keunt ungan ekonomi menj adikan persoal an sosial t ersingikirkan dan t idak mendapat kan ruangnya. Ol eh karena it u dalam j ual-bel i modern t ipe kedua t ransaksi sekedar menj adi persoal an konsumsi oleh pembeli unt uk keunt ungan ekonomi bagi penj ual, t idak lebih daripada ini. Sebab it u pula, int ent it as j ual-bel i t idak memiliki korel asinya dengan int ensit as perj umpaan sosial dan keunt ungan ekonomi t idak memiliki korelasinya dengan penguat an sosial.
D. Penut up; Menarik Prinsip
Tabel 1: Per bandingan ket iga j enis j ual -bel i dengan kepemil ikan nil ai-sosial yang ber beda
Sumber : Anal isa, 2017
penguat an kehidupan sosial dan begit u pula sebaliknya. Sedangkan j ual-beli modern t ipe kedua memut us ket erhubungan ant ara kehidupan ekonomi dengan kehidupan sosial karena kehidupan sosial dinilai sebagai penghalang dicapainya kemaj uan kehidupan ekonomi. Ket erput usan menyebabkan kemaj uan yang dicapai dal am kehidupan ekonomi t idak berpengaruh posit if t erhadap kehidupan sosial. Just ru sebaliknya, kemaj uan kehidupan ekonomi menyebabkan keret akan dan kerunt uhan kehidupan sosial oleh konf lik yang t erj adi akibat t uj uan ekonomi yang t idak didasari t uj uan sosial , sehingga t idak t erbent uk nil ai-sosial .
Ket erhubungan kehidupan ekonomi dengan kehidupan sosial dapat menekan munculnya konf lik yang diakibat kan persoal an ekonomi. Kal aupun konf lik t idak dapat dihindari, konf lik yang t erj adi bersif at personal ant ara individu yang t erikat j alinan sosial di mana ant ara pihak yang t erlibat konf l ik saling mengenal dengan baik. Hubungan sosial ant ara pihak yang t erlibat konf lik dapat menekan agar konf lik bersif at st at is hanya di ant ara pihak yang t erlibat dan t idak melebar hingga menj adi konf lik t erbuka yang mel ibat kan modal sosial masing-masing pihak. Konf lik j enis ini t erj adi j ika di ant ara pemilik warung yang t erikat j alinan sosial t erlibat persaingan ekonomi sepert i perebut an pelanggan dengan cara mempengaruhi secara personal maupun dengan menj ual barang sej enis dengan harga paling rendah, sehingga mempengaruhi pembeli unt uk merubah pref erensi sosial menj adi pref erensi barang dalam pemenuhan kebut uhannya.
Konf lik yang bersif at personal dengan melibat kan nil ai-sosial yang t inggi maupun menengah dapat disel esaikan mel alui mediasi oleh pihak ket iga yang t erikat j alinan sosial dengan pihak-pihak yang t erlibat konf lik. Persyarat an yang dibut uhkan oleh pihak ket iga sebagai penengah konf lik adalah (1) memil iki penget ahuan yang dibut uhkan unt uk menyelesaikan konf lik yang t erj adi; dan (2) merupakan seorang t okoh yang t erpercaya dan disegani, dengan demikian pihak ket iga merupakan individu-personal yang memiliki ot orit as keilmuan dan ot orit as sosial , sehingga dengan kedua syarat t ersebut pihak yang t erlibat konf lik dapat menerima kehadiran pihak ket iga dan memat uhi langkah-langkah yang harus dilakukan unt uk menyelesaikan konf lik. Dimungkinkannya dilakukan mediasi oleh pihak ket iga berart i konf lik yang bersif at personal dapat diselesaikan secara personal pula melalui kepemilikan j al inan sosial. Tet api j ika t idak t erdapat pihak ket iga yang menengahi konf lik yang t erj adi, at au pihak ket iga t idak diset uj ui kehadirannya oleh salah sat u at au seluruh pihak yang t erlibat , konf lik yang t erj adi dapat berkembang mel uas menj adi konf lik ant ar golongan dikarenakan set iap pihak yang t erlibat mempengaruhi pihak lain yang memiliki kedekat an sosial dengannya unt uk memasuki konf lik dan t erlibat l angsung di dalamnya.
Konf lik sebagaimana dimaksud di at as dapat t erj adi di ant ara pemilik ruang mini-mart t ipe kedua maupun di ant ara pemil ik warung at au pemilik mini-mart t ipe pert ama dengan pemilik mart t ipe kedua. Persaingan ekonomi yang t idak sehat di ant ara pemilik mini-mart t ipe kedua dengan mudahnya dapat kit a t emui pada hari ini di mana kedua mini-mini-mart yang berbeda kepemil ikan hadir dengan posisi bersebelahan at au berseberangan. Walaupun keduanya t erlibat persaingan ekonomi, t et api keduanya bagaikan pasangan karena kehadiran salah sat u mini-mart hampir selal u diikut i oleh kehadiran pesaingnya. Terj adinya persaingan di ant ara mini-mart t ipe kedua yang menerapkan model persebaran meluas unt uk menguasai ruang ekonomi maupun penguat an pref erensi barang dan pref erensi spasial unt uk menguasai pembeli menyebabkan kerugian bagi penj ual yang memprakt ikkan j ual-bel i t radisional dan j ual-beli modern t ipe pert ama dikarenakan menurunnya int ensit as j ualbel i yang t erj adi akibat perebut an pelanggan oleh penj ual yang memprakt ikkan j ual -beli modern t ipe kedua.
Konf lik ekonomi ant ara pemil ik warung at au pemilik mini-mart t ipe pert ama dengan pemilik mini-mart t ipe kedua merupakan konf l ik impersonal dan anonim, yakni konf lik di mana salah sat u pihak at au kedua belah pihak yang t erlibat konf l ik t idak menget ahui dan mengenal secara personal pihak yang dilawannya. Konf l ik semacam ini memil iki dua ciri khas, yakni (1) konf lik berlangsung lama bahkan t anpa akhir karena t idak t erdapat nya pihak penengah yang t erikat j al inan sosial dengan kedua pihak yang t erlibat konf lik, sehingga penyelesaian konf lik secara sosial dan kult ural t idak dapat dil akukan akibat t idak t erdapat nya penengah yang diset uj ui kedua pihak. Sat u-sat unya pihak yang dapat menengahi konf lik j enis ini adal ah pemerint ah dengan penyelesaian secara hukum-f ormal ; dan (2) konf lik bersif at dinamis dan ekskal asinya t erus meninggi sebagai akumulasi kerugian dari hari ke hari yang diderit a pemilik warung dan mini-mart t ipe pert ama, sehingga konf lik j enis ini dapat dengan mudah menj adi konf lik t erbuka karena t idak t erdapat nya j alinan sosial yang berf ungsi menekan konf lik. Sat u-sat unya saluran bagi konf lik unt uk mereda adalah vandalisme sepert i pengerusakan ruang mini-mart t ipe kedua, penj arahan hingga penganiayaan pegawai yang dipandang sebagai perwakilan penj ual yang merupakan penyebab ut ama t erj adinya konf lik.
menj adi bagian dari lingkungan permukimannya. Tidak hanya menggerakkan akar rumput , kesadaran baru ini j uga t umbuh di kalangan pemerint ah daerah yang direalisasikan dengan mengeluarkan perat uran penert iban bahkan pelarangan kehadiran mini-mart t ipe kedua di wilayah yang dipimpinnya. Kebij akan t ersebut dapat dipandang sebagai upaya pemerint ah menyelesaikan konf lik ekonomi di ant ara pemilik ruang t ransaksi yang merasa dirugikan dengan kehadiran mini-mart t ipe kedua sekal igus unt uk mencegah t erj adinya kembali konf lik yang sama.
Tumbuhnya kesadaran masyarakat merupakan ancaman bagi pemilik mini-mart t ipe kedua karena mempengaruhi keunt ungan ekonomi yang didapat kannya. Unt uk mempert ahankan keberlanj ut an t ransaksi j ual -beli yang berart i unt uk memast ikan t uj uan j ual-beli dapat dicapai, pemilik mini-mart t ipe kedua mel akukan dua cara yang diharapkan dapat meredam konf lik dan mendorong pembeli unt uk kembali melakukan t ransaksi j ual-beli di ruang mini-mart . Cara pert ama adalah menggant i nama ruang mini-mart t ipe kedua, sehingga berbeda dengan nama resmi j ej aring rit el mini-mart yang merupakan st rat egi kamuf lase. Nama resmi j ej aring mini-mart t ipe kedua t idak l agi digunakan dan menggant inya dengan nama khas mini-mart t ipe pert ama yang dikenal akrab oleh masyarakat sekit ar, sepert i Toko Ceria, Toko Mat ahari dan semisal nya. Kamuf lase yang dit erapkan t idak sepenuhnya menghilangnya ident it as ruang mini-mart t ipe kedua karena t et ap mempert ahankan cit ra dan kualit as ruang yang masih dibut uhkan oleh penj ual unt uk menarik pembeli.
Cara kedua yakni merangkul penj ual dari masyarakat sekit ar dengan diberi ruang unt uk melangsungkan t ransaksi j ual-bel i di bagian depan mini-mart t ipe kedua. Cara ini bert uj uan membent uk persepsi masyarakat bahwa kehadiran ruang mini-mart t ipe kedua bukanl ah unt uk memat ikan ruang-ruang t ransaksi j ual-beli lainnya, t et api j ust ru menghidupkannya. Dengan demikian kehadiran penj ual yang berasal dari masyarakat di depan mini-mart t ipe kedua bert uj uan unt uk meredam konf lik sekaligus unt uk meningkat kan int ensit as j ual-beli di ruang mini-mart dengan memanf aat kan modal sosial yang dimiliki oleh penj ual yang dirangkulnya. Kedua cara t ersebut menyasar kondisi psikologis masyarakat agar t umbuh rasa memiliki ruang mini-mart t ipe kedua, sehingga masyarakat dapat mendudukkan mini-mart t ipe kedua sebagai bagian dari lingkungan kehidupannya yang harus dihidupi dengan t ransaksi j ual -beli.
konsekuensi dari upaya mendapat kan keunt ungan ekonomi dengan menyingkirkan aspek kehidupan sosial . Lalu, apakah berart i persebaran ruang t ransaksi harus dibat asi j alinan sosial unt uk menekan t ingkat pot ensi konf lik? Tidak bisakah ruang t ransaksi t ersebar meluas t anpa mengikut -sert aan konsekuensi konf l ik yang dit imbul kannya? Unt uk permasal ahan t ersebut perlu dibahas t erpisah dalam t ulisan t ersendiri yang akan saya j abarkan dalam t ulisan mendat ang sebagai kelanj ut an dari rangkain t ul isan ini.
Prinsip ket iga, relasi subyek-subyek dalam t ransaksi j ual-beli bergeser menj adi relasi
subyek- obyek. Rel asi yang t erbent uk t idak dapat dilepaskan dari t ingkat an nil ai-sosial yang dimiliki set iap t ipe j ual-bel i. Keberadaan nilai-sosial menyebabkan t erbent uknya relasi subyek-subyek, sement ara t ransaksi yang t idak didasari nil ai-sosial menyebabkan t erbent uknya relasi subyek-obyek. Dalam j ual-beli t radisional dan j ual-beli modern t ipe pert ama yang memiliki t ingkat an nilai-sosial t inggi dan menengah, t ransaksi dilakukan oleh pembeli yang berkedudukan sebagai subyek dan penj ual at au diwakil kan oleh pegawai yang keduanya berkedudukan pula sebagai subyek. Seluruh pihak yang t erl ibat dalam t ransaksi hadir sebagai individu yang ut uh dengan ident it as personalnya masing-masing dan kemerdekaannya yang penuh. Terbent uknya relasi subyek-subyek dikarenakan seluruh pihak yang t erlibat t ransaksi t erikat dalam j alinan sosial. Dalam art ian lain, relasi subyek-subyek t erbent uk dari keberadaan nilai-sosial dan kuat ikat an relasinya t ergant ung pada t ingkat an nilai-sosial . Sement ara t ransaksi j ual -beli modern t ipe kedua yang t anpa didasari nilai-sosial menj adi sebab t erj adi pergeseran relasi dari subyek menj adi subyek-obyek di mana penj ual berkedudukan sebagai sat u-sat unya subyek dalam t ransaksi j ual-bel i sedangkan pegawai sert a pembeli berkedudukan sebagai obyek.
sikap demikian penukaran barang dilakukan dalam koridor sebat as memenuhi kebut uhan t erhadap barang, bukan menurut i keinginan yang melampaui kadar kebut uhan. Begit upula dalam t ransaksi j ual-bel i t radisional maupun j ual-beli modern t ipe pert ama, penj ual dapat melakukan kont rol t erhadap perilaku konsumsi pembeli agar hanya membeli barang sesuai dengan kebut uhannya.
Dari bahasan ini, nil ai-sosial dapat berpengaruh posit if maupun negat if t erhadap upaya pemenuhan kebut uhan t erhadap barang yang dil akukan oleh pembeli. Nilai-sosial berpengaruh posit if t erhadap perilaku konsumsi j ika j al inan sosial yang digunakan unt uk memenuhi kebut uhan t erhadap barang dapat mengont rol perilaku konsumsi yang dilakukan. Jika yang t erj adi sebal iknya, maka nilai-sosial yang t inggi j ust ru berpengaruh negat if t erhadap perilaku konsumsi di mana sal ah sat u pihak yang t erl ibat dalam t ransaksi mengambil peran unt uk mendorong dilakukannya konsumsi berlebih. Dengan kat a lain pengaruh negat if nilai-sosial dalam upaya pemenuhan kebut uhan t erhadap barang merupakan penghilangan bat as konsumsi dal am t ransaksi oleh salah sat u pihak kepada pihak lain yang sal ing t erikat j alinan sosial.
Penghilangan bat as konsumsi didorong oleh orient asi t ransaksi yang semat a bert uj uan mendapat kan keunt ungan ekonomi, sehingga dal am t ransaksi t erj adi subordinasi sal ah sat u pihak oleh pihak lainnya yang berart i t erj adi pergeseran relasi subyek-subyek menj adi subyek-obyek. Realisasinya dalam t ukar menukar barang adalah salah sat u pihak mendorong pihak l ain unt uk menerima barang yang t idak dibut uhkannya at au mel akukan pert ukaran barang t anpa didasari kebut uhan t erhadap barang yang semat a bert uj uan unt uk memenuhi kebut uhannya secara pribadi t anpa memperdulikan kebut uhan pihak yang dilibat kannya dalam t ransaksi. Sement ara dalam t ransaksi j ual-bel i seringkal i pihak penj ual melakukan promosi barang berdasarkan nil ai-t anda barang, bukan nil ai-guna maupun nilai-t ukarnya, sehingga pihak pembeli nilai-t erpengaruh dan memunilai-t uskan unnilai-t uk membeli barang yang t idak dibut uhkannya. Jadi perl u dipahami bahwa keberadaan nil ai-sosial dal am upaya pemenuhan kebut uhan t erhadap barang t idak selalu berpengaruh posit if t erhadap t ingkat konsumsi karena j al inan sosial dapat dimanf aat kan oleh salah sat u pihak yang t erlibat dalam t ransaksi unt uk mendapat kan keunt ungan ekonomi dengan cara menghapuskan kont rol konsumsi.
pribadi pembeli yang baru pert ama kali melakukan t ransaksi dengannya seput ar nama, pekerj aan, rumah t inggal dan dilanj ut kan oleh pembeli memperkenalkan dirinya. Begit upula pembeli membuka obrolan dengan menanyakan ident it as penj ual , lat ar belakang kehidupannya hingga menekuni prosesi sebagai penj ual lalu dil anj ut kan oleh pembeli memperkenalkan ident it as pribadinya. Dengan sikap ket erbukaan penj ual maupun pembeli, pihak yang awalnya asing dapat menj adi akrab dan menj adi pelanggan baru bagi penj ual at au langganan baru bagi pembeli. Inilah mekanisme j ual-beli yang mel ibat kan nilai-sosial t inggi dan menengah unt uk mengaj egkan kebert erusan dan keberlanj ut an t ransaksi melalui pengikat an diri secara psikologis ant ara penj ual dan pembel i secara personal .
Dikait kan dengan pengaruh nilai-sosial , sikap ket erbukaan penj ual maupun pembeli dapat mendorong dilakukannya konsumsi t anpa didasari kebut uhan t erhadap barang at au unt uk mendapat kan keunt ungan ekonomi, t et api semat a unt uk mendapat kan keunt ungan sosial. Dengan pendekat an ini, bahasan di at as menyoal kont rol konsumsi harus dipahami dalam kont eks konsumsi dan keunt ungan ekonomi. Sement ara pengaruh nil ai-sosial t erhadap sikap ket erbukaan harus dipahami dal am kont eks konsumsi dan keunt ungan sosial. Fenomena ini masih dapat kit a j umpai di wilayah perkot aan di mana segala sesuat u hampir sel alu diukur secara mat eri. Sebagai cont oh seseorang yang membeli barang dari penj ual keliling at au pedagang kaki lima at as dasar iba dan simpat i t erhadap kondisi kehidupan ekonomi penj ual. Transaksi yang dilakukan bukan at as dasar kebut uhan t erhadap barang yang dij ual karena pembeli sama sekali t idak membut uhkannya, t et api at as dasar kepekaan sosial unt uk membant u kehidupan sesama. Melalui t ransaksi t ersebut pembeli mendapat kan keunt ungan sosial di mana dirinya merasa t elah melakukan kebaikan t erhadap orang lain yang berada di dalam j angkauan sosialnya, sement ara bagi penj ual selain mendapat kan keunt ungan ekonomi j uga mendapat kan keunt ungan sosial di mana dirinya merasa diperhat ikan dan kehadirannya mendapat kan penerimaan secara sosial .
Unt uk it u penj ual diharuskan memiliki sikap t ert ut up unt uk menghindari penerimaan t erhadap pegawai maupun pembeli secara psikol ogis-sosial yang mel ibat kan perasaan, iba dan simpat i karena merupakan bat asan bagi konsumsi dan hambat an unt uk mendapat kan keunt ungan ekonomi.
Dalam relasi subyek-obyek, unt uk menj amin kebert erusan dan keberlanj ut an t ransaksi dilakukan dengan cara mengikat obyek kepada obyek yang lain. Pegawai diikat dengan kont rak kerj a dan seperangkat perat uran yang dit et apkan penj ual dan pembeli diikat dengan barang dan ruang yang merupakan dua kekuat an ut ama mini-mart t ipe kedua. Tidak sebagaimana dalam t radisi j ual-beli t radisional dan j ual-beli modern t ipe pert ama di mana subyek diikat oleh subyek secara psikologis. Inilah yang t elah hilang dalam upaya pemenuhan kebut uhan kit a t erhadap barang dan menj adi penyebab munculnya masalah ut ama yang diakibat kan oleh j ual-beli modern t ipe kedua, yakni masalah kemanusiaan yang direduksi dan didudukkan sebagai obyek layaknya ‘ t hing’ dan t idak lebih dari ‘ it ’ semat a unt uk mencapai keunt ungan ekonomi.
Kit a sebagai manusia yang ut uh memiliki t ugas unt uk melakukan perbaikan. Dalam kont eks t ulisan ini, perbaikan yang harus dilakukan adalah merekat kan kembali kehidupan ekonomi dengan kehidupan sosial agar set iap t ransaksi yang dil akukan berkorelasi penguat an kehidupan sosial dan sebaliknya, set iap t erj alinnya hubungan sosial berkorel asi pada peningkat an kehidupan ekonomi. Langkah pert ama yang hendaknya dilakukan adalah menet apkan t uj uan j ual-beli dan menegaskan bat as-bat as berdasarkan nil ai-nilai yang luhur. Set el ahnya l angkah kedua yang harus dil akukan adal ah mendudukkan seluruh pihak yang t erlibat dalam t ransaksi sebagai subyek ut uh. Kedua langkah ini akan mempengaruhi proses j ual -beli yang dilakukan, ciri khas, st rukt ur lat ar dan model persebaran ruang t ransaksi.
keunt ungan sosial bagi keduanya, walaupun keunt ungan ekonomi t idak dapat dihindari akan t et ap menj adi mil ik penj ual sebagai pemilik barang dan ruang t ransaksi.
Cara di at as memang t idak dapat menyelesaikan keseluruhan masalah yang dihadirkan j ual-beli modern t ipe kedua disebabkan dua hal . Pert ama, pegawai hanyalah merupakan pihak ket iga yang dipekerj akan penj ual, sehingga perbaikan hanya t erj adi pada masalah kemanusiaan dan t erbat as hanya dalam lingkup relasi ant ara pembeli dengan pegawai t anpa mengikut sert akan penj ual . Kedua, penj ual yang t idak hadir di dal am ruang t ransaksi, sehingga merupakan sosok anonim bagi pembeli menj adikan t idak dimungkinkannya dilakukan perbaikan masalah kemanusiaan yang berkait an langsung dengan penj ual. Tanpa perbaikan relasi dengan penj ual, maka masalah lain yang diakibat kan oleh j ual-bel i modern t ipe kedua t idak dapat diselesaikan. Dengan begit u kehidupan ekonomi hampir t idak mungkin direkat kan dengan kehidupan sosial dan konf l ik yang t erj adi akibat ket erpisahan keduanya t idak dapat diselesaikan dengan sal uran j alinan sosial.
Demikiankah ket iga prinsip nil ai-sosial dal am kehidupan ekonomi yang dapat dit arik dari rangkaian t ulisan ini disert ai dengan pembahasan dan penj abaran seperlunya. Set iap pembahasan dalam rangkaian t ulisan ini dan penarikan prinsip darinya bert uj uan unt uk menumbuhkan kesadaran-krit is t erhadap perilaku kit a sehari-hari unt uk memenuhi kebut uhan t erhadap barang dan set elahnya diharapkan dapat mendorong kit a unt uk melakukan perbaikan t erhadap perilaku ekonomi yang menj adi sebab runt uhnya nil ai-sosial . Perbaikan mut lak didasari kesadaran, begit upula sebaliknya kesadaran menunt ut direalisasikan dalam bent uk amal perbaikan. Keduanya sal ing berkelindan dan beriringan.
Sebagai penut up pat ut dilont arkan pert anyaan yang akhir-akhir ini muncul dan menj adi pembicaraan hangat di kalangan umat Islam di Indonesia pada khususnya menyoal Muslim 212 mart yang merupakan kelanj ut an dari ghirah umat Islam paska aksi Bela Islam pada 2 Desember 2016. Bagaimana wacana Musl im 212 mart yang kehadirannya didorong oleh ghirah umat Islam unt uk bangkit dan memperj uangkan keyakinannya harus dipandang, dipahami dan dinil ai? Bagaimana Muslim 212 mart harus diposisikan agar t idak berdampak buruk t erhadap j alinan sosial yang t elah t erbent uk di int ernal umat Islam sendiri, ant ara umat Islam dengan umat beragama lain dan ant ara pemil ik ruang t ransaksi sel ainnya? Insya Allah t opik t ersebut akan saya bincangkan dal am t ulisan t ersendiri dengan menggunakan dasar dan st rukt ur pemikiran yang saya t uangkan dalam rangkaian t ulisan ini.
Al l ahu a’ l am bishshawab.