NON EXAMPLEDI KELAS IV SD NEGERI 76/1 SUNGAI PENUH
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Jambi Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan
DISUSUN OLEH: NAMA
NIM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
SAINS berhubungan dengan mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga Sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan satu proses penemuan. Pendidikan Sains diharapkan menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta prospek lebih lanjut dalam menerapkan nya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran nya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi alam sekitar secara ilmiah.
1) Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam cipta-Nya. 2) Mengembangkan Pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep Sains yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3) Mengembangkan rasa ingin tahu sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara Sains, lingkungan teknologi dan masyarakat. 4) Mengembangkan keterampilan proses kutuk menyelidiki alam sekitar memecahkan masalah dan membuat keputusan. 5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. 6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan Segala keteraturan nya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. 7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan Sains sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SLTP.
Dari pembelajaran yang dilakukan guru kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh pada pembelajaran materi Mengelompokkan Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya yang mana standar kompetensi nya Mengelompokkan hewan berdasarkan jenis makanannya. Sedangkan kompetensi dasarnya adalah (1) Mengidentifikasi jenis makanannya. (2) Menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya, dengan jumlah siswa sebanyak 20 orang. Dengan data nilai terlampir.
Dari hasil ulangan mata pelajaran Sains yang dilaksanakan oleh guru kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh ternyata hasil belajar siswa tidak begitu memuaskan dari 20 orang hanya 11 orang siswa yang mencapai nilai di atas, yaitu 6 orang yang mendapat nilai 7 ada 5 orang yang mendapat 6 ada 3 orang siswa yang mendapat nilai 5 ada 3 orang siswa yang mendapat nilai 4 dan 3 orang siswa mendapat nilai 3. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa kelas IV belum dikatakan berhasil dalam menjawab soal evaluasi yang diberikan, karena yang memperoleh nilai di atas 6 hanya 11 orang.
Tabel I Nilai hasil belajar siswa sebelum tindakan
Nilai Jumlah Siswa Ya KetuntasanTidak
7 6
6 5
5 3
4 3
3 3
ketuntasan hanya mencapai 30% sedangkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) 70. Dapat disimpulkan bahwa siswa kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh mengalami permasalahan dalam pembelajaran mengelompokkan hewan berdasarkan jenis makanannya.
Melalui analisis masalah yang dilakukan bersama guru kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh. Proses pembelajaran pengelompokan hewan berdasarkan jenis makanannya yang telah dilaksanakan guru kelas IV seperti yang tergambar sebagai berikut: Dalam pembelajaran pengelompokan hewan pertama-tama guru menjelaskan materi dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab saja sehingga membuat siswa menjadi jenuh dan bosan untuk belajar. Kemudian guru menugaskan kepada siswa untuk mengajarkan latihan. Pada saat berlangsungnya proses pembelajaran banyak siswa yang tidak bersemangat dan acuh tak acuh, hal ini terlihat dari aktivitas siswa yang hanya diam selama proses pembelajaran berlangsung, siswa tidak memperhatikan guru saat menerangkan pelajaran, dan siswa selalu bermain dengan teman se bangku.
menerapkan model Example Non Example dalam pembelajaran Sains yang lebih sesuai materi, (5) Masih rendahnya hasil belajar dan prestasi siswa dalam bidang studi Sains, (6) Dalam mengajar guru tidak menggunakan media yang sesuai dengan materi.
Menguasai materi merupakan bagian yang terpenting yang harus dikuasai anak. Mengingat pengetahuan sangat dibutuhkan dalam menunjang proses pembelajaran seperti media dan metode pembelajaran yang tepat sehingga dapat mempermudah kemampuan menguasai materi. Pada umumnya kemampuan siswa dalam menganalisis materi ajar masih sangat rendah, hal ini dikarenakan dalam menganalisis membutuhkan konsentrasi dan kemampuan pengetahuan yang tinggi dalam tahap menilai, memilih, mengelompokkan serta membandingkan dan membedakan sehingga materi ajar dapat dikuasai siswa.
Dari faktor penyebab kesulitan siswa dalam belajar Sains diperlukan satu tindakan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung di kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh yaitu upaya yang dilakukan peneliti adalah dengan menerapkan model Example Non Example.
Model example non example adalah model yang menggunakan media gambar dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong siswa untuk belajar berpikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang disajikan.
Model example Non Example juga merupakan model yang mengajarkan pada siswa untuk belajar mengerti dan menganalisis sebuah konsep. Konsep pada umumnya dipelajari melalui dua cara. Paling banyak konsep yang kita pelajar di luar sekolah melalui penganan dan juga dipelajari melalui definisi konsep itu sendiri. Example Non Example adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep.
Dengan menggunakan Model Example Non Example, media gambar yang digunakan terlebih dahulu harus dianalisis untuk memahami satu gambar yang diperlukan pemikiran kritis. Inilah salah satu manfaat penggunaan gambar dan penerapan model Example Non Example dalam pengajaran yakni membangkitkan berpikir pada diri siswa.
pembelajaran Sains dengan menggunakan Model Example Non Example di kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut “Bagaimana Melatih kemampuan belajar menganalisis untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran Sains dengan menggunakan model Example Non Example di kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh?”
Pemecahan masalah ini dilakukan melalui penelitian tindakan kelas, alternatif pembelajaran untuk mengatasi kesulitan siswa dalam belajar Sains dengan menerapkan Model Example Non Example.
Adapun dasar-dasar pertimbangan atau alasan menggunakan model Example Non Example adalah sebagai berikut:
1. Dengan menggunakan model Example Non Example, mendorong siswa untuk berpikir secara kritis dalam memecahkan permasalahan-permasalahan.
2. Dengan menggunakan model Example Non Example, siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Dengan model Example Non Example siswa dapat menganalisis gambar-gambar dan dapat mengemukakan pendapatnya.
1.3. Tujuan Penelitian
1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti
1) Untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang telah penulis terima dari Fakultas Universitas Jambi
2) Sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana strata (S1) Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNIVERSITAS JAMBI.
2. Bagi Siswa
1) Dapat meningkatkan hasil belajar
2) Dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran 3) Dapat meningkatkan kemampuan menganalisis materi pembelajaran 3. Bagi Guru
1) Dapat mengembangkan model pembelajaran yang bervariatif
2) Dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga meningkatkan efektivitas pembelajaran terutama Sains
4. Bagi Sekolah
2.1. Definisi Belajar
Belajar menurut Slameto (1995:2) belajar adalah “satu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh satu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Abu Ahmadi, (2004:128) berpendapat bahwa belajar merupakan satu proses perubahan di dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah satu prilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar responnya menjadi menurun, sedangkan menurut Gagne belajar adalah “seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melati pengolahan informasi menjadi kapasitas baru”. (Dimyati, 2002-10) sedangkan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia belajar diartikan berusaha (berlatih) supaya mendapat satu kepandaian (Purwadarminta: 109). Belajar dalam penelitian ini diartikan segala usaha yang diberikan oleh guru agar mendapat dan mampu menguasai apa yang telah diterimanya dalam hal ini adalah pelajaran Sains.
Menurut Sudjana (1989: 36) bahwa belajar adalah satu proses yang ditandai dengan adanya satu perubahan diri seseorang.
Menurut Sudirman, (2002: 22) Menegaskan bahwa ada beberapa prinsip belajar, yaitu:
1) Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuannya
2) Belajar memerlukan proses dan tahapan serta kematangan dari diri siswa 3) Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi 4) Dalam banyak hal belajar itu merupakan proses percobaan atau
pembiasaan
John Dewey (Dimyati, 1916:44) Belajar adalah Menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa itu sendiri. Piaget (Dimyati: 38) Belajar adalah Sebagai prilaku berinteraksi antara individu dengan lingkungannya sehingga terjadi perkembangan intelek individu.
Bel Gredler (1986:1) Menyatakan bahwa belajar adalah Proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies), keterampilan (skill), dan sikap (attitude) yang diperoleh secara bertahap.
Ciri-ciri belajar:
1. Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan prilaku pada diri individu tidak hanya aspek pengetahuan atau kognitif tetapi meliputi aspek sikap dan nilai (afektif)
2. Perubahan harus merupakan buah dari pengalaman. a. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
1) Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
2) Keaktifan
anak memiliki sifat aktif dan anak mampu untuk mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta menganalisis, dan menarik kesimpulan.
3) Keterlibatan Langsung /Berpengalaman
Belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa, bahwa dalam belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.
2.1.1. Model Pembelajaran
Untuk istilah model pembelajaran diartikan sebagai contoh pola atau struktur pembelajaran siswa yang didesain, diterapkan dan dievaluasi secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien, seperti pendapat Udin Winata Putra (1994) dikatakan bahwa model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengerjaan dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
mencakup strategi pembelajaran, metode, dan pendekatan pengajaran yang digunakan yang lebih luas dan menyeluruh.
2.1.2. Hasil Belajar
Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas guru, sehingga dalam kegiatan pembelajaran diharapkan siswa memperoleh hasil belajar yang baik, hasil belajar merupakan faktor yang penting dalam pendidikan. Secara umum hasil belajar dipandang sebagai perwujudan nilai yang diperoleh siswa akan tergantung pula dari model pembelajaran yang dipakai guru dalam pembelajaran tersebut. Adanya hasil belajar pada diri seseorang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku, oleh sebab itu dalam penilaian hendaknya diperiksa sejauh mana perubahan tingkah laku siswa melalui proses belajarnya.
Menurut Harnawati (2006:25) Hasil belajar adalah Suatu akibat dari proses dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangkan menurut Gagne dan Briggs (2004:4) berpendapat bahwa Hasil belajar adalah Kemampuan yang diperoleh seseorang setelah mengikuti proses belajar.
Oemar (1993:21) menyatakan bahwa “Hasil belajar adalah tingkah laku yang timbul, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pertanyaan baru, perubahan dalam tahap kebiasaan keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sikap sosial, emosional dan perubahan jasmani”.
dan psikomotor. Menurut Soedijarto (1993:46) bahwa “Hasil belajar adalah tingkah laku penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan pendidikan yang telah ditetapkan.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dapat kita lihat dari perubahan-perubahan yang terjadi. Pada diri siswa itu sendiri baik aspek pengetahuan, sikap, atau, keterampilan yang diperlihatkan oleh siswa baik aspek pengetahuan, sikap, atau keterampilan yang diperlihatkan oleh siswa. Hasil belajar bisa juga dilihat dari hasil tes atau hasil ujian siswa.
2.1.3. Pengertian Analisis
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kontemporer karangan Peter Salim dan Yenni Salim (2002) menjabarkan pengertian sebagai berikut: 1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (perubahan,
karangan dan sebagainya) untuk mendapatkan fakta yang tepat (asal usul, sebab, penyebab sebenarnya)
2. Analisis adalah penguraian pokok permasalahan atas bagian-bagian, penelaah bagian-bagian tersebut dan hubungan antar bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dengan pemahaman secara keseluruhan.
3. Analisis adalah penjabaran (pembentangan) sesuatu hal, dan sebagainya setelah ditelaah secara seksama.
4. Analisis adalah proses pemecahan masalah yang dimulai dengan hipotesis (dugaan, dan sebagainya) sampai terbukti kebenarannya melalaui beberapa kepastian (pengamatan, percobaan dan sebagainya) 5. Analisis adalah proses pemecahan masalah (melalui akal) ke dalam
Menurut Nasution (2009:334) “Melakukan analisis adalah pekerjaan yang sangat sulit, memerlukan kerja keras. Analisis memerlukan daya kreatif serta kemampuan intelektual yang tinggi dan tidak ada cara tertentu yang dapat di ikuti untuk mengadakan analisis, sehingga setiap peneliti harus mencari sendiri metode yang dirasakan cocok dengan sifat penelitinya. Robert D. Carles dan James E. Lewis (1999:36) Menyebutkan analisis adalah suatu studi tentang operasi system yang tujuannya adalah mengevaluasi faktor-faktor, kecermatan, ketepatan waktu dan ekonomi. Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan, analisis adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
a. Macam-macam Analisis
1. Analisis Dominan (Domain Analysis)
Analisis yang pada umumnya dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau objek penelitian.
2. Analisis Taksonomi (Taxonomic Analysis)
Analisis Taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan.
Analisis kompensional, yaitu Mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengontraskan antar elemen. Dilakukan dengan observasi dan wawancara.
4. Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Theme)
Analisis ini mencari hubungan di antara domain, dan bagaimana hubungan dengan keseluruhan dan selanjutnya dinyatakan ke dalam judul/tema.
2.1.4. Pembelajaran Sains SD 1. Pengertian Sains
SAINS merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di SD. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988:324) SAINS adalah “Ilmu pengetahuan tentang alam”. Sedangkan menurut Carin dan Sund (Dalam Wahyudin, 3006:3). “SAINS adalah sistem pengetahuan tentang alam semesta yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan observasi dan pemberian tugas terkontrol yang di dalamnya memuat proses, produk, dan sikap manusia”. Sementara itu dalam BSNP (2006:484) dinyatakan bahwa “SAINS berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis”.
alam untuk SAINS di SD diharapkan dapat mempelajari diri sendiri dan alam sekitar lanjut dalam menerapkan di dalam kehidupan.
2. Hakikat pembelajaran SAINS
Pembelajaran SAINS pada hakikatnya mencakup beberapa aspek antara lain faktual, keseimbangan antara proses dan produk, aktif melakukan investigasi, berfikir deduktif dan induktif, serta pengembangan sikap (http://www.uny.ac.id). Hal ini berarti bahwa SAINS tidak hanya terdiri dari atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta yang di hafal, tetapi juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat direnungkan. Oleh karena itu dalam pembelajaran nya siswa dilatih untuk tahu bagaimana proses dari suatu produk SAINS tersebut ditemukan.
Untuk itu dalam pembelajaran siswa harus dibekali dengan beberapa keterampilan dasar, seperti mengamati, mengukur, mengklasifikasikan, mengkombinasikan, mengenal ruang dan waktu, menyimpulkan, dan memprediksi serta keterampilan proses integrasi seperti merancang dan melakukan pemberian tugas yang meliputi menyusun definisi operasional, menafsirkan data, menganalisis dan mensistesis data.
untuk data investigasi yang biasanya bersifat agar siswa memiliki pemahaman konsep.
3. Tujuan Pembelajaran SAINS
SAINS diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi menusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat didefinisikan. Penerapan SAINS perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diharapkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep SAINS dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. Mata pelajaran SAINS bertujuan agar siswa percaya akan kebesaran Tuhan dan berusaha untuk mengembangkan rasa ingin tahunya tentang alam serta berperan dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. Selain itu dengan pembelajaran SAINS di SD sebagai bekal pengetahuan untuk melanjutkan pendidikan SMP.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan untuk di sekolah dasar adalah menanamkan rasa keterampilan proses, mengembangkan menjaga kelestarian alam..
2.1.5. Model Example Non Example
Model Example Non Example adalah Model yang menggunakan media gambar dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong siswa untuk belajar berfikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang disajikan.
Model Example Non Example adalah Pembelajaran alternatif yang diambil dari sebuah contoh, kasus atau gambar yang relevan dengan KD. Model Example Non Example merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Teknik ini merupakan contoh pembelajaran efektif yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan nasional Dalam model Example Non Example komponen utama adalah digunakannya media dalam mendukung proses pengajaran. Media yang dapat digunakan dalam model Example Non Example salah satunya adalah media gambar yang berhubungan dengan KD.
Strategi yang diterapkan dari metode ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari example non example dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Example memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan Non Example memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.
Model Example Non Example, media gambar yang digunakan terlebih dahulu harus dianalisis untuk memahami suatu gambar yang diperlukan pemikiran kritis. Inilah salah satu manfaat penggunaan gambar dan penerapan model example non example dalam pengajaran yakni membangkitkan berpikir pada diri siswa.
Tennyson dan Pork (1980 hal 59) dalam Slavin 1994 menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka tiga hal yang seharusnya diperhatikan, yaitu:
1. Urutkan contoh dari yang gampang ke yang sulit 2. Pilih contoh-contoh yang berbeda satu sama lain
3. Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh.
Menyiapkan pengalaman dengan contoh dan non contoh akan membantu siswa untuk membangun makna yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah konsep penting. Joyce and Weil (1986) dalam Buehl (1996) telah memberikan kerangka konsep terkait strategi tindakan, yang menggunakan model inkuiri untuk memperkenalkan konsep yang baru dengan model Example and Non Example.
1. Langkah-langkah Model Example Non Example
c. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis gambar
d. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dan analisis gambar tersebut dicatat pada kertas
e. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya f. Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai
menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. 2. Kelebihan Model Example Non Example
a. Siswa lebih kritis dalam menganalisis gambar
b. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar c. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. 3. Kekurangan Model Example Non Example
a. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar b. Memakan waktu yang lama
2.2. Kerangka Berpikir
Seorang pendidik yang berbuat dan bertindak dengan sadar untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam proses belajar yaitu menggunakan metode, media atau cara tertentu. Jadi untuk berhasil tidaknya proses pengajaran tergantung pada media yang digunakan. Media digunakan harus disesuaikan dengan materi ajar.
Untuk menguasai materi, seorang guru harus menggunakan media yang sesuai dengan materi agar tujuan tercapai seperti pelajaran Sains kelas IV SDN 76/1 Sungai Buluh yang membahas tentang mengelompokkan hewan berdasarkan jenisnya.
Gambar 1. Kerangka Berpikir
Dari gambar kerangka berpikir di atas peneliti akan meneliti tentang bagaimana meningkatkan kemampuan belajar menganalisis untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran SAINS dengan Model Example Non Example di kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh.
2.3. Hipotesis Penelitian
3.1. Subjek Penelitian
Penelitian ini akan di laksanakan di SD Negeri 76/1 Sungai Buluh, subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh dengan jumlah siswa 20 orang yang terdiri dari 11 orang laki-laki dan 9 orang perempuan.
3.2. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, evaluasi dan refleksi.
3.2.1. Tahap Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
a) Membuat skenario pembelajaran dengan menjelaskan materi pembelajaran terlebih dahulu dan menyampaikan konsep-konsep pengajaran. Kemudian guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran dan menempelkan di papan agar siswa dapat menganalisis gambar apa yang terdapat di papan tulis.
b) Membuat instrumen observasi guru dan observasi siswa untuk melihat bagaimana kondisi kegiatan belajar mengajar di kelas dilakukan ketika guru menjelaskan materi, sehingga dapat diketahui kelemahan dan kekuatan tindakan yang sudah ada dan sedang di laksanakan untuk menjadi alat ukur dalam menentukan tindakan selanjutnya.
c) Mendesain alat evaluasi untuk mengetahui apakah dengan menggunakan madia gambar di dalam kelas sesuai dengan materi pelajaran yang di sampaikan dan dapat meningkatkan kemampuan belajar menganalisis terhadap materi.
3.2.2. Pelaksanaan Tindakan
Tahapan pelaksanaan tindakan dilaksanakan oleh guru kelas IV SDN No 76/1 Sungai Buluh yang dilakukan sesuai dengan penerapan model yang dipilih dalam penelitian tindakan kelas yaitu model pembelajaran example non example, dimana skenario kerja tindakan meliputi:
1. Kegiatan awal
a. Guru memberikan apersepsi tentang materi yang pernah dipelajari yang berkaitan dengan materi pengelompokan hewan berdasarkan jenis makanannya.
b. Guru memberikan motivasi kepada siswa tentang pentingnya mempelajari materi pengelompokan hewan berdasarkan jenis makanannya.
2. Kegiatan Inti
a. Guru mempersiapkan gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran b. Guru menempelkan gambar di papan
c. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/ menganalisis gambar.
d. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dan analisis gambar tersebut dicatat pada kertas
e. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya f. Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai
a. Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, kemudian guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
b. Guru memberikan umpan balik dengan melakukan tanya jawab kepada siswa mengenai materi yang telah dipelajari
c. Guru memberikan tindak lanjut dengan memberikan PR kepada siswa.
3.2.3. Observasi
Observasi kelas dilakukan dengan dilaksanakannya kegiatan pembelajaran mengelompokkan hewan berdasarkan jenis makanannya dengan penerapan model example non example yang bertujuan untuk memperoleh data tentang kemampuan siswa dalam menganalisis dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hal yang di observasi meliputi proses dan hasil pembelajaran. Langkah yang diambil dalam melakukan observasi adalah:
a) Observasi bagaimana pelaksanaan pembelajaran mengelompokkan hewan berdasarkan jenis makanannya dengan penerapan model example non example
b) Observasi bagaimana perhatian siswa dalam menganalisis gambar-gambar sesuai dengan materi.
3.2.4. Tahap Evaluasi
Penilaian kemampuan siswa dilaksanakan pada setiap akhir siklus. Penilaian dilakukan oleh guru yang bersangkutan. Dengan aspek yang dievaluasi meliputi aspek ketepatan dalam menganalisis gambar.
Data yang diperoleh dari kegiatan observasi dianalisa, kemudian hasilnya dijadikan bahan kajian pada kegiatan refleksi apakah semua skenario tindakan sudah dilaksanakan dengan baik, apakah tujuan yang diinginkan sudah tercapai. Hasil analisa data yang dilaksanakan siklus berikutnya.
Adapun faktor-faktor yang diselidiki: a. Keaktifan siswa dalam belajar b. Hasil belajar yang dicapai siswa
c. Sumber belajar yaitu dengan memperhatikan gambar atau bahan pelajaran yang digunakan, apakah sudah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
3.3. Data dan Teknik Pengumpulan Data 3.3.1. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data berupa nilai rata-rata siswa setiap akhir siklus. Sedangkan data kualitatif adalah data hasil observasi melalui pengamatan terhadap siswa setiap akhir siklus. (1) Data Kuantitatif berupa skor yang diperoleh siswa, (2) Data Kualitatif berupa catatan lapangan, hasil wawancara.
3.3.2. Sumber Data
Sumber data adalah peneliti, guru kelas IV dan siswa kelas IV 3.3.3. Teknik Pengumpulan Data
3.4. Analisis Data
Untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran dan hasil penyajian materi diambil data yang diolah yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.
Data kualitatif adalah data tentang aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar. Pengambilan data kualitatif menggunakan lembar pengamatan aktifitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung menggunakan lembar observasi dengan menggunakan rumus. (Rukinah, 2000):
A = NA X 100%
Untuk ketentuan belajar siswa secara individu, jika telah memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Arikunto (2001)
Nilai = Skor MentahBanyak Soal X 100
X = Rata-rata keberhasilan siswa ∑
F = Jumlah Nilai N = Jumlah siswa
3. Rumus untuk mencari nilai rata-rata kelas Nilai rata-rata
kelas =
Jumlah skor Jumlah siswa 3.5. Kriteria Keberhasilan
Indikator yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan tindakan yang dilakukan adalah tes yang diperoleh siswa. Seorang siswa ditanyakan berhasil dalam belajar apabila daya serap sekurang-kurangnya 70% suatu kelas berhasil dalam belajar sekurang-kurangnya 75% di kelas telah mencapai daya serap tersebut. Apabila jumlah siswa yang telah mencapai 70% dan 75% maka dapat dikatakan bahwa penggunaan model example non example dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar sains siswa.
Pada penelitian ini penulis menetapkan kriteria keberhasilan tindakan ditentukan dengan besarnya perolehan nilai siswa. Menurut Murgiantoro (1987) nilai keberhasilan yang didasarkan pada persentase sebagai berikut:
70% - 75% = Baik sekali
60% - 69% = Cukup
40% - 59% = Kurang
0% - 39% = Gagal
3.6. Jadwal Penelitian
dibuat, perlu disusun agenda kegiatan sehingga penelitian dapat dilaksanakan secara sistematis dan terjadwal.
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
No Rencana Kegiatan
Oktober November Desember
Minggu ke Minggu ke Minggu ke
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Membuat proposal 2 Menyiapkan skenario 3 Menyiapkan bahan ajar 4 Menyiapkan RPP 5
Pengumpulan data analisis
4.1. Hasil Penelitian
Pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, peneliti berperan sebagai pengamat dan berkolaborasi bersama guru kolaborator atau guru kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh. Hasil penelitian dan analisis refleksi seiap akhir siklus sesuai dengan langkah-langkah tindakan. Setelah penerapan tindakan hasil pengamatan langsung diolah dan dianalisis.
Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti menggunakan tindakan yang terdiri dari tiga siklus.
4.2. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan siklus I ini adalah sebagai berikut:
a) Membuat skenario pembelajaran dengan menjelaskan materi pembelajaran terlebih dahulu dan menyampaikan konsep-konsep pengajaran. Kemudian guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran dan menempelkan gambar di papan agar siswa bisa menganalisis gambar apa yang terdapat di papan tulis. b) Membuat instrumen observasi guru dan observasi siswa untuk melihat
bagaimana kondisi kegiatan belajar mengajar di kelas dilakukan ketika guru menjelaskan materi, sehingga dapat diketahui kelemahan dan kekuatan tindakan yang sudah ada untuk menjadi alat ukur dalam menentukan tindakan selanjutnya
c) Mendesain alat evaluasi untuk mengetahui apakah dengan menggunakan contoh gambar di dalam kelas sesuai dengan materi
pelajaran yang di sampaikan dan dapat meningkatkan kemampuan belajar menganalisis terhadap materi.
b. Tahap Pelaksanaan tindakan
Tahap pelaksanaan siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan dan dilakukan oleh guru kelas IV SDN No 76/1 pada hari Rabu tanggal 16 dan 17 November 2011 yang dilakukan sesuai dengan penerapan model yang dipilih dalam penelitian tindakan kelas yaitu model pembelajaran Example Non Example, dimana tindakannya adalah:
Pada kegiatan awal guru memberi salam pembukaan kemudian guru memeriksa kesiapan siswa dan ruang kelas setelah itu guru mengabsen siswa. Apersepsi tentang materi yang pernah dipelajari yang berkaitan dengan materi. Memotivasi siswa tentang pentingnya mempelajari materi mengelompokkan pembelajaran. Tujuan pembelajaran disampaikan untuk mengetahui manfaat maknanya.
Kegiatan Eksplorasi
Dalam kegiatan guru mempersiapkan gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran, kemudian menempelkan gambar tersebut di papan tulis untuk di analisa oleh siswa, setelah gambar di tempel guru membagi siswa secara acak (berhitung) menjadi beberapa kelompok masing-masing kelompok terdiri dari (3 orang).
Kegiatan Elaborasi
berdasarkan makanannya. Setelah guru membagikan tugas kepada siswa guru tersebut duduk dan tidak mengontrol jalannya diskusi siswa tersebut. Kegiatan Konfirmasi
Setelah siswa berdiskusi guru memanggil beberapa perwakilan masing-masing kelompok untuk membacakan hasil diskusinya, tetapi guru tidak mengevaluasi jawaban siswa apakah jawaban siswa tersebut benar atau salah, guru langsung memanggil perwakilan kelompok yang lain untuk membacakan hasil diskusinya. Pada saat siswa selesai membaca hasil diskusinya guru tidak menegaskan materi yang telah dipelajari, guru tidak menyimpulkan materi pelajaran, dan tidak memberikan umpan balik kepada siswa untuk mengetahui apakah siswa sudah memahami pelajaran tersebut. Kemudian guru menyuruh siswa untuk susuk kembali ke bangku masing-masing. pada tabel observasi di bawah ini:
Tabel 1 Hasil observasi aktivitas siswa siklus I N 1 Siswa siap dan termotivasi untuk
belajar 10 50%
2 Siswa memperlihatkan dengan
baik saat guru menjelaskan 8 40%
gambar
9 Siswa aktif bertanya 9 45%
10 Siswa yang mengerjakan tugas
tepat waktunya 13 65%
A = NA x 100% N
A = Aktivitas siswa
NA = Jumlah siswa yang aktif N = Jumlah siswa keseluruhan
2) Siswa kurang siap dan kurang termotivasi untuk belajar 3) Siswa kurang berkonsentrasi dalam menganalisis gambar 4) Siswa kurang cermat dalam menganalisis gambar
5) Siswa kurang aktif bertanya dan menanggapi pertanyaan guru. 2. Hasil observasi aktivitas guru
Berdasarkan lembar observasi guru, seperti yang terlihat pada tabel observasi guru dibawah ini:
4 Guru mengajak
Soni
Dari tabel hasil kemampuan belajar menganalisis siswa pada siklus I, dapat diketahui bahwa ketuntasan belajar siswa belum nilai kurang dari 70 ada 4 orang atau 20% dan siswa yang salah dalam menganalisis gambar ada 5 orang atau 25%, maka pada siklus I belum ada peningkatan.
N
o Nama Siswa JenisKelamin Ketercapaian Tuntas Tidak Tuntas
1 Ardiansyah Laki-laki 50
2 Ayu Lestari Perempuan 40
3 Ariska Perempuan 40
4 Dwi rahayu Perempuan 80
5 Elsa Ariska Perempuan 80
6 Dodi Armansyah Laki-laki 70
7 Yosika Perempuan 50
8 Sindi Destalia Perempuan 50
9 Fatihanul Putri Perempuan 70
10 Soni Laki-laki 50
11 Bentar Laki-laki 70
12 Ikhsan Laki-laki 30
13 Ketrin Perempuan 50
14 Andi Purnomo Laki-laki 70
15 Rifki Harahap Laki-laki 70
16 Julianto Laki-laki 70
17 Rizal Saputra Laki-laki 50
18 Rini Rembulan Perempuan 80
19 Syahyit Laki-laki 70
20 M. Rizki Laki-laki 70
Jumlah 1090 11 9
Rata-rata 54,50
Persentase siswa yang tuntas 55%
Persentase siswa yang tidak tuntas 45%
Dari hasil evaluasi belajar siswa pada akhir siklus belum mencapai kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas adalah hanya 54,50%.
c. Tahap Refleksi dan Analisis
Berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan pada siklus pertama didapatkan dari 20 siswa yang mengikuti pembelajaran dengan hasil sebagai berikut:
Hanya sebagian siswa saja yang mau mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh.
2) Hasil kemampuan siswa dalam menganalisis pada siklus I menargetkan standar ketuntasan minimum dengan nilai 70. Nilai yang diperoleh 11 orang siswa yang tuntas dari 20 siswa atau 55% siswa yang tuntas.
3) Hasil belajar siswa dalam mengerjakan latihan yang tuntas sebanyak 11 orang 55% dan siswa yang belum tuntas sebanyak 9 orang atau 45%. Hasil belajar siswa pada siklus I masih banyak yang belum tuntas.
Pada siklus I persiapan belajar motivasi siswa dalam pembelajaran masih dalam kategori cukup, pengetahuan terhadap materi sebelumnya juga masih kurang. Ini terlihat pada kegiatan menganalisis setiap siswa untuk memecahkan masalah masih kurang terlihat, sehingga masih banyak siswa yang kesulitan untuk menjawab soal-soal dan menyimpulkan pelajaran dari awal sampai akhir pelajaran. Oleh karena itu tujuan kegiatan belajar pada siklus I belum tercapai secara utuh.
4.3. Siklus II
a) Tahap Perencanaan
Penelitian siklus II dilaksanakan dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 23-24 November 2011 sebanyak dua kali pertemuan. Berdasarkan refleksi siklus I, maka pada siklus II guru membagi kelompok belajar secara heterogen dan sesuai dengan kemampuan siswa sehingga siswa yang aktif dalam belajar dapat membantu anggota kelompok yang pasif, membimbing setiap kelompok diskusi yang mengalami kesulitan.
b) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 23-24 November 2011 di SD Negeri 76/1 Sungai Buluh dengan jumlah siswa yang mengikuti pelajaran 20 siswa. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada skenario pembelajaran yang termuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disiapkan, seperti yang telah diuraikan berikut ini.
Kegiatan Elaborasi
Pada kegiatan elaborasi guru mempersiapkan gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran, kemudian menempelkan gambar tersebut di papan tulis untuk di analisis oleh siswa, setelah gambar di tempel guru membagi siswa secara heterogen menjadi beberapa kelompok (1 kelompok 3 orang).
Kegiatan Eksplorasi
Guru memberi petunjuk kepada siswa untuk memperhatikan/ menganalisis gambar, kemudian guru memberikan LKS, kelompok mendiskusikan tugas yang diberikan oleh guru yaitu menyebutkan contoh-contoh hewan herbivora, karnivora, dan omnivora. Selama diskusi berlangsung guru mengontrol jalannya diskusi dan melihat siswa yang aktif dalam kelompok, kemudian guru menilai setiap siswa melalui diskusi tersebut.
Kegiatan Elaborasi
kelompok yang lain hingga masing-masing kelompok membacakan hasil diskusinya.
Kegiatan Konfirmasi
Guru bersama siswa menyimpulkan tentang pelajaran tersebut, dan bertanya jawab untuk meluruskan permasalahan yang dihadapi siswa dan guru mulai menegaskan materi yang telah dipelajari.
Pada kegiatan akhir pelajaran guru menyimpulkan materi pelajaran dan sebagai tugas individu guru memberikan latihan kepada siswa.
1. Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Berdasarkan lembar observasi aktivitas siswa dapat dilihat pada tabel observasi di bawah ini.
Tabel 5 : Hasil observasi aktivitas siswa siklus II N 1 Siswa siap dan termotivasi untuk
belajar 15 70%
2 Siswa memperlihatkan dengan
baik saat guru menerangkan 13 65%
3 Siswa yang aktif dalam kelompok 15 75% 4 Siswa aktif dalam menganalisis
9 Siswa aktif bertanya 13 65%
10 Siswa yang mengerjakan tugas
A = NA x 100% N
A = Aktivitas siswa
NA = Jumlah siswa yang aktif N = Jumlah siswa keseluruhan
0-39 = Tidak aktif 40-60 = Kurang aktif 61–79 = Cukup Aktif 80-100 = Sangat Aktif
Dari lembar observasi aktivitas siswa diatas, dapat diketahui bahwa aktivitas siswa mengalami peningkatan. Untuk aspek siswa yang mengikuti pelajaran degan baik pada saat guru menjelaskan, siswa siap dan termotivasi untuk belajar dan antusias selama kegiatan belajar mengajar, siswa yang aktif bertanya seta menanggapi pertanyaan guru. Dari kategori kurang baik menjadi cukup baik dalam menganalisis.
2. Hasil observasi aktivitas guru
Berdasarkan lembar observasi aktivitas guru, dapat dilihat pada tabel observasi guru dibawah ini:
kelompok diketahui gambaran aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung. Dimana pada siklus II ini proses pembelajaran mengalami peningkatan. Hal ini diketahui yang pada siklus I terlaksana tapi masih kurang baik, namun siklus II terlaksana dan baik dalam melakukan proses belajar mengajar.
3. Hasil kemampuan siswa dalam menganalisis materi ajar
Jumlah siswa yang mampu/ benar dalam menganalisis gambar ada 15 orang atau 75% sedangkan siswa yang kurang benar dalam menganalisis mendapat nilai kurang dari 70 ada 3 orang atau 15% dan siswa yang salah dalam menganalisis gambar ada 3 orang atau 5% maka pada siklus II sudah mulai mengalami peningkatan.
4. Tabel 8: Hasil Pelaksanaan Evaluasi ketuntasan siswa pada siklus II
2 Ayu Lestari Perempuan 60
3 Ariska Perempuan 50
4 Dwi rahayu Perempuan 100
5 Elsa Ariska Perempuan 70
6 Dodi Armansyah Laki-laki 70
7 Yosika Perempuan 70
8 Sindi Destalia Perempuan 70
9 Fatihanul Putri Perempuan 70
10 Soni Laki-laki 70
11 Bentar Laki-laki 80
12 Ikhsan Laki-laki 50
13 Ketrin Perempuan 50
14 Andi Purnomo Laki-laki 70
15 Rifki Harahap Laki-laki 80
16 Julianto Laki-laki 80
17 Rizal Saputra Laki-laki 65
18 Rini Rembulan Perempuan 80
19 Syahyit Laki-laki 70
20 M. Rizki Laki-laki 70
Jumlah 1359 15 5
Rata-rata 69,75
Persentase siswa yang tuntas 75%
Persentase siswa yang tidak tuntas 25%
dilihat secara individu masih ada siswa yang belum tuntas dalam belajar. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas adalah 69,5%. Padahal kriteria ketuntasan belajar sekurang-kurangnya 75% siswa mendapat nilai 70 baru kelas tersebut di anggap tuntas dalam belajar.
c) Refleksi
Berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan pada siklus II didapatkan dari 20 siswa yang mengikuti pembelajaran dengan hasil sebagai berikut: 1) Aktivitas siswa mengalami peningkatan. Adapun komponen yang
mengalami peningkatan yaitu komponen kesiapan atau antusias untuk belajar, memotivasi, siswa yang aktif dalam kelompok serta partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
2) Hasil kemampuan siswa dalam menganalisis pada siklus II menargetkan standar ketuntasan minimum dengan nilai 70. Hasil yang diperoleh 15 orang siswa yang tuntas dari 20 siswa atau 75% siswa yang tuntas
3) Hasil belajar pada siklus II ini juga mengalami peningkatan. Pada siklus I siswa yang tidak tuntas sebanyak 9 orang atau 45% sedsangkan pada siklus II menjadi 5 orang atau 25%.
4.4. Siklus III
a. Tahap Perencanaan
Penelitian siklus III dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan berdasarkan hasil refleksi pada siklus II maka pada siklus III guru memberikan motivasi siswa dalam belajar dengan menerapkan model example non example, guru mulai menjelaskan kembali pelajaran yang belum mengerti siswa, guru membimbing siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
b. Tahap pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 29-30 November 2011 di SD Negeri 76/1 Sungai Buluh dengan jumlah siswa sebanyak 20 orang. Adapun proses belajar mengacu pada skenario pembelajaran yang termuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.
Pada kegiatan awal guru memberi salam pembuka dan memeriksa kehadiran siswa kemudian guru mengabsen dan berdoa terlebih dahulu. Guru memberikan apersepsi dengan cara memberikan pertanyaan kepada siswa contoh-contoh hewan herbivora, karnivora dan omnivora, pertanyaan tersebut diberikan bukan dengan menunjukan salah satu siswa tetapi pertanyaan rebutan guru memberi motivasi dengan cara meningkatkan semangat siswa untuk belajar. Guru menyampaikan kompetensi atau tujuan pembelajaran.
Pada kegiatan ini guru mempersiapkan gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran, kemudian menempelkan gambar tersebut di papan tulis untuk heterogen menjadi beberapa kelompok (2-3) orang siswa.
Kegiatan Elaborasi
Guru memberi petunjuk kepada siswa untuk memperhatikan/ menganalisis gambar. Kemudian guru memberikan LKS, kelompok mendiskusikan tugas yang diberikan oleh guru. Selama diskusi berlangsung guru selalu mengontrol diskusi dan membimbing siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Selama proses belajar mengajar guru melihat siswa yang aktif, dan bekerjasama dalam kelompok sebagai penilaian untuk kelompok.
Kegiatan Konfirmasi
Setelah siswa berdiskusi guru memanggil perwakilan masing-masing kelompok untuk membacakan hasil diskusinya, siswa yang lain memberi tanggapan dari hasil diskusi yang tampil, kemudian guru mengevaluasi jawaban siswa. Guru bersama siswa menyimpulkan tentang pelajaran tersebut, kemudian guru mulai menegaskan materi yang telah dipelajari.
Observasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung menghasilkan data sebagai berikut:
1. Hasil observasi aktivitas siswa
Berdasarkan lembar observasi aktivitas siswa pada siklus III dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa antara lain:
Tabel 9 : Hasil observasi aktivitas siswa siklus III N
o Aktivitas yang diamati Jumlah siswayang aktif Persentase 1 Siswa siap dan termotivasi untuk
belajar 15 70%
2 Siswa memperlihatkan dengan
baik saat guru menerangkan 13 65%
3 Siswa yang aktif dalam kelompok 15 75% 4 Siswa aktif dalam menganalisis
9 Siswa aktif bertanya 13 65%
10 Siswa yang mengerjakan tugas
tepat waktunya 16 80%
A = NA x 100% N
A = Aktivitas siswa
mengajar, siswa yang aktif bertanya seta menanggapi pertanyaan guru. Dari kategori kurang baik menjadi cukup baik dalam menganalisis.
2. Hasil Observasi Aktivitas Guru
Berdasarkan lembar observasi guru, seperti yang terlihat pada tabel observasi guru dibawah ini:
Keterangan: gambaran guru selama proses pembelajaran berlangsung. Dimana pada siklus III ini proses pembelajaran mengalami peningkatan jauh lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya.
Rifki
Syahyit
Sindi Destalia
Dari tabel hasil kemampuan belajar menganalisis siswa pada siklus III, ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dibandingkan dengan siklus I dan II dimana siklus I siswa yang tidak tuntas sebanyak 9 orang atau 45%, sedangkan pada siklus II sebanyak 15 orang atau 75%. Pada siklus III ini bisa dikatakan hampir semua siswa dinyatakan berhasil dalam menganalisis gambar yang si perlihatkan oleh guru pada saat proses pembelajaran.
4. Tabel 4: Hasil Rekapitulasi ketuntasan siswa Siklus III N
2 Ayu Lestari Perempuan 70
3 Ariska Perempuan 75
4 Dwi rahayu Perempuan 100
5 Elsa Ariska Perempuan 90
6 Dodi Armansyah Laki-laki 80
7 Yosika Perempuan 80
8 Sindi Destalia Perempuan 75
9 Fatihanul Putri Perempuan 80
10 Soni Laki-laki 70
11 Bentar Laki-laki 80
12 Ikhsan Laki-laki 70
13 Ketrin Perempuan 70
14 Andi Purnomo Laki-laki 80
15 Rifki Harahap Laki-laki 100
16 Julianto Laki-laki 80
17 Rizal Saputra Laki-laki 80
18 Rini Rembulan Perempuan 100
19 Syahyit Laki-laki 70
20 M. Rizki Laki-laki 70
Jumlah 1600 20 0
Rata-rata 80
Persentase siswa yang tidak tuntas 0%
Berdasarkan refleksi, siklus II dilaksanakan perbaikan pada siklus III pada tindakan ketiga ini, diakhiri pembelajaran diadakan tes siklus II. Setelah dianalisis, diketahui bahwa di dalam siklus III ini mengalami peningkatan dimana pada siklus kedua jumlah siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 adalah 4 orang siswa atau 20% sedangkan jumlah siswa yang mendapat nilai lebih dari 70 adalah 16 orang menjadi 80%. Pada siklus III ini jumlah siswa yang mendapat nilai lebih dari 70 adalah 20 orang siswa atau 100% sedangkan yang mendapat nilai kurang dari 70 adalah 0 orang siswa atau 0%.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka, pada siklus III ini pelaksanaan tindakan dapat dikatakan berhasil dan tidak perlu dilakukan tindakan untuk selanjutnya.
4.5. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data seta evaluasi dan refleksi maka diperoleh hasil pembelajaran mengelompokkan hewan berdasarkan jenis makanannya di kelas IV SD Negeri 76/1 Sungai Buluh dengan menggunakan model example non example dapat melatih kemampuan belajar menganalisis untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kekurangan dan kelebihan setiap siklus dapat diatasi dengan hasil tindakan evaluasi, direfleksi dan disempurnakan untuk tindakan siklus berikutnya.
peningkatan yaitu pada siklus I rata-rata aktivitas guru selama proses pembelajaran 61,81% karena guru dalam mengajar masih belum sepenuhnya baik. Pada siklus II sudah mulai mengalami peningkatan dibandingkan siklus I karena rata-rata aktivitas guru mencapai 73,63%. Pada siklus III ini terlihat proses pembelajaran sudah sangat baik, dimana guru sudah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan model yang diterapkan, maka dari itu hasil belajar siswa sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal.
Selain aktivitas guru juga dapat dilihat prestasi belajar siswa dapat meningkat secara bertahap dari siklus I sampai siklus III.
Tabel 13: Hasil belajar menganalisis materi ajar N 1 Jumlah siswa yang tuntas 11 orang
55% 2 Jumlah siswa yang tidak tuntas 59
orang
siklus II ini siswa sudah mulai cukup baik pada siklus II. Oleh karena itu, pelaksanaan tindakan perlu diadakan pada siklus selanjutnya. Pada siklus III ini mengalami peningkatan dari siklus I dan siklus II. Hal ini dikarenakan guru sudah baik dalam menerapkan media dan melakukan proses pembelajaran serta memotivasi siswa untuk belajar. Sedangkan kekurangan yang didapatkan seperti guru kurang membimbing siswa dalam memecahkan masalah dalam belajar sudah menunjukan hasil yang memuaskan.
Tabel 14: Hasil evaluasi belajar setiap siklus N
o
Nilai hasil belajar siswa Siklus I Siklus II Siklus III 1 Nilai rata-rata siswa 54,50% 70,25% 80% 2 Jumlah siswa yang tuntas 10
orang
14
orang 20 orang 3 Jumlah siswa yang tidak
tuntas 9 orang 5 orang 0 orang
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yaitu menerapkan Model Example Non Example pada pembelajaran SAINS dengan materi
Menggolongkan Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Penerapan Model Example Non Example dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis materi ajar pada pelajaran SAINS, terutama dalam materi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam menganalisis dan memahami materi pelajaran.
2) Penerapan Model Example Non Example juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SD Negeri 76/1 Sungai Buluh
3) Pembelajaran dengan menggunakan Model Example Non Example dapat dijadikan alternatif pilihan untuk diterapkan di kelas. Karena dengan menggunakan model ini sudah mendekati pada pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Model ini juga sangat baik diterapkan di sekolah sebab model Example Non Example adalah digunakannya media gambar untuk mendukung proses pembelajaran.
5.2. Saran-saran
1) Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas hendaknya banyak menitikberatkan pada keaktifan siswa, yaitu dengan pembelajaran yang aktif, efektif dan inovatif serta menyenangkan. Dengan menggunakan
Model Example Non Example akan lebih mudah memahami materi pelajaran.
2) Melihat hasil penelitian ini, maka Model Example Non Example dapat dipergunakan dalam pembelajaran Sains khususnya pada materi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya di kelas IV SD, dan selanjutnya guru kelas mau mencoba penerapan model pembelajaran yang lain agar anak tidak jenuh dan dapat meningkatkan hasil belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Asrial, Rer. Nat, Dkk, 2010, Model Pembelajaran Sains. Jakarta: FKIP Universitas Jambi: Gaung Persada.
Dimayanti, Mudjiono (2009). Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Departermen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004, Standar Kompetensi
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, Jakarta: Depdiknas.
Ekawarna. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. FKIP Universitas Jambi. Jakarta: Gaung Persada Pers.
Grasindo, 2007. Ringkasan Pengetahuan Alam. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sugiyono, 2009, Proses Belajar Mengajar Disekolah. Jakarta: Renika Cipta. Sudibyo, 2003. Evaluasi Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi.
Syahrial, Dkk. 2009. Panduan Penulisan Proposal Dan Skripsi Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jambi: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi.
Sudijono. 2009. Evakuasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. Wibowo Agus. 2009. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam.
http://id.wikipwdia.org2009/wiki/ilmu-pengetahuan-alam#pengertian–ilmu-pengetahuan-alam.