BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei dengan menggunakan
pendekatan explanatory atau penelitian penjelasan yang bertujuan untuk menjelaskan Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan terhadap Kepuasan Pasien
Rawat nap di Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta) Tahun 2017.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitiann dilakukan di Rumah Sakit Umum Pelabuhan Medan (Prima
Husada Cipta), terletak di Belawan. Adapun alasan pemilihan lokasi ini adalah
terdapat permasalahan ketidakpuasan pasien rawat inap.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu yang diperlukan dalam penelitian ini dilakukan pada bulan
Januari-April. Waktu yang digunakan adalah untuk pengambilan data, pengolahan dan
analisa data serta penyusunan hasil penelitian.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti. Populasi dalam penelitian
ini adalah Pasien Rawat Inap yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pelabuhan
Medan (Prima Husada Cipta). Pasien rawat inap yang dijadikan sebagai sampel
3.2.3 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling. Adapun rumus yang digunakan untuk penentuan sampel dalam penelitian
ini yaitu dengan rumus slovin yaitu:
n= N
N ( + 1
n = 217
217 (0.01) + 1
= 68,45
Maka berdasarkan hitungan diatas diperoleh sampel sebesar 68 orang,. Keterangan :
N = Total populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan (90%) = 0,1
3.4 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan
data primer dan sekunder yaitu :
3.4.1 Data Primer
Data primer adalah data yang dilakukan secara langsung pada lokasi
langsung dengan responden dengan berpedoman dengan kuesioner penelitian
yang telah disiapkan sebelumnya yang diadopsi dari Pasaribu (2016).
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dengan cara melihat arsip
di RS Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta).
3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Independen
1. Bukti fisik adalah persepsi atau ungkapan responden terhadap sarana
prasarana yang lengkap, kenyamanan ruangan dan penampilan tenaga
medis.
2. Keandalan adalah persepsi atau ungkapan perasaan responden terhadap
kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan
tidak berbelit-belit, memberikan pelayanan yang akurat, menerangkan
terlebih dahulu kepada pasien sebelum pelayanan diberikan dan
memberikan pelayanan yang memuaskan.
3. Daya tanggap adalah persepsi atau ungkapan perasaan responden
terhadap ketepatan dalam melayani pasien, tanggap dalam menghadapi
keluhan pasien dan sikap dokter ataupun perawat kepada pasien.
4. Jaminan adalah persepsi atau ungkapan perasaan responden terhadap
pelayanan dokter dan perawat yang menimbulakan rasa aman kepada
pasien, biaya perawatan yang terjangkau, kelengkapan obat-obatan dan
5. Kepedulian adalah persepsi atau ungkapan perasaan responden
terhadap ,komunikasi yang baik antara dokter dan pasien , pendekatan
secara pribadi dan memenuhi kebutuhan pasien, adanya perhatian dan
respon dari setiap keluhan pasien.
3.5.2 Variabel Dependen
Kepuasan Pasien adalah kepuasan pasien terhadap pelayanan rawat inap
yang diberikan oleh Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta).
3.6 Aspek Pengukuran
Untuk melihat metode pengukuran variabel Independen dan Dependen
dapat dilihat pada Tabel 3.1 dan Tabel 3.2 berikut:
3.6.1 Aspek Pengukuran Variabel Independen
Tabel 3.1 Aspek Pengukuran Variabel Independen Variabel Jumlah
Indikator
Kriteria Bobot Nilai
Skor Skala
Bukti Fisik 7 Kurang Setuju 1 1-7 Ordinal
Setuju 2 8-14
Sangat Setuju 3 15-21
Keandalan 9 Kurang Setuju 1 1-9 Ordinal
Setuju 2 10-18
Sangat Setuju 3 19-27
Daya tanggap 6 Kurang Setuju 1 1-6 Ordinal
Setuju 2 7-12
Sangat Setuju 3 13-18
Jaminan 6 Kurang Setuju 1 1-6 Ordinal
Setuju 2 7-14
Sangat Setuju 3 15-18
Kepedulian 6 Kurang Setuju 1 1-6 Ordinal
Setuju 2 7-14
3.6.2 Aspek Pengukuran Variabel Dependen
Tabel 3.2 Aspek Pengukuran Variabel Dependen Variabel Jumlah
Indikator
Kriteria Bobot Nilai
Skor Skala
Kepuasan Pasien
10 Kurang Puas 1 1-10 Ordinal
Puas 2 11-20
Sangat Puas 3 21-30
3.7 Metode Analisis Data 3.7.1 Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari
masing-masing variabel dalam penelitian ini, baik variabel independen maupun
variabel dependen. Data-data disuguhkan dalam bentuk tabel frekuensi dan
proporsi untuk menjelaskan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti.
3.7.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel
independen dan dependen. Menurut Hastono (2007) kegunaan analisis bivariat
dapat mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara dua variabel
ataukah dapat digunakan untuk mengetahui apakah tidak ada perbedaan yang
signifikan antara dua atau lebih kelompok sampel.
3.7.3 Analisis Multivariat
Analisis yang digunakan dengan menggunakan uji regresi linear berganda
BAB IV
HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta) termasuk rumah
sakit kelas D, dan terletak di salah satu kecamatan bernama Belawan yang
merupakan kecamatan di Kotamadya Medan yang lokasinya paling utara dan
dekat dengan Pelabuhan Belawan, memiliki luas wilayah dan didiami
oleh 96.435 jiwa penduduk. Jarak tempuh antara kecamatan Belawan dengan
pusat kotamdya Medan relatif jauh kurang lebih 20km.
Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta) memiliki jumlah
tempat tidur 37, 13 dokter spesialis yang ada di Pelabuhan Medan (Prima Husada
Cipta) terdiri dari Spesialis Jantung, Spesialis Kebidanan Kandungan, Spesialis
Kebidanan Kandungan, Spesialis Mata, Spesialis THT, Spesialis Kulit dan
Kelamin, Spesialis Paru, Spesialis Bedah, Spesialis Neurologi, Spesialis Anak,
Spesialis Penyakit Dalam. Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta)
juga memiliki unit pelayanan instlasi laboratorium, radiologi, USG, Fisioteraphy,
BKIA, UGD, Klinik Umum, dan Klinik Gigi.
Adapun Visi dan Misi Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada
Cipta) adalah menjadikan Rumah Sakit Pelabuhan Medan menjadi Rumah Sakit
Unggulan di kota Belawan dan sekitarnya dalam memberikan pelayanan dan
fasilitas kesehatan. Sementara itu, misi Rumah Sakit Pelabuhan Medan adalah
serta membantu perusahaan dalam memberikan pelayanan kesehatan epada
karyawan beserta keluarganya.
4.2 Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi
karakteristik pada responden yang menjadi kelompok pengamatan.
4.2.1 Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah 68 orang. Karakteristik pasien
dalam penelitian ini meliputi Jenis pelayanan, jenis kelamin, umur, pendidikan,
dan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien lebih banyak
menunjukkan bahwa pasien lebih banyak menggunakan jenis pelayanan BPJS
yang meliputi kartu askes dan jamkesmas sebanyak 60 orang (88,2%) dan
menggunakan jenis pelayanan Umum sebanyak 8 orang ( 11,8%). Berdasarkan
jenis kelamin laki-laki sebanyak 39 (57,4%)
Dari Tabel 4.1 di bawah dapat dilihat distribusi frekuensi responden,
mayoritas responden berada pada jenis pelayanan BPJS sebanyak 60 orang
(88,2%), kelompok umur 39-58 tahun sebanyak 25 orang (36,8%), berjenis
kelamin laki-laki sebanyak 39 orang (57,4%), pendidikan SMA sebanyak 49
orang (72,1%) dan bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 16 orang (23,5%).
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden Pasien Rawat Inap Berdasarkan Kelompok Jenis Pelayanan, Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan dan Pekerjaan
Variabel Frekuensi (n) Persentase (%)
Jenis Pelayanan
BPJS Umum
Umur (Tahun)
19-38
60 8
19
88,2 11,8
39-58
4.2.2 Mutu Pelayanan Dimensi Bukti Fisik (Tangibles)
Dari Tabel 4.2 di bawah, mayoritas responden menjawab setuju dengan
kelengkapan alat yang dipakai sebanyak 59 orang (86,8%). Mayoritas responden
menjawab kurang setuju dengan kebersihan ruang rawat inap yaitu sebanyak 35
orang (51,5%). Mayoritas responden menjawab kurang setuju dengan suana ruang
perawatan yaitu sebanyak 61 orang (89,7%). Mayoritas responden menjawab
setuju dengan dokter yang selalu rapi yaitu sebanyak 49 orang (72,1%).
Mayoritas responden menjawab setuju dengan penampilan perawat yaitu
sebanyak 49 orang (72,1%). Mayoritas responden menjawab setuju dengan
penyediaan makanan sesuai jadwal yaitu sebanyak 59 orang (86,8%). Mayoritas
responden menjawab kurang setuju dengan arena parkir yaitu sebanyak 61 orang
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Bukti Fisik (Tangibles)
Pernyataan Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
N % N % N %
1. Kelengkapan, kesiapan, dan kebersihan alat-alat yang dipakai. 2. Kebersihan, kerapian, dan keamanan ruang rawat inap.
3. Suasana ruang perawatan yang nyaman
4. Dokter yang selalu rapi
5. Penampilan perawat selalu rapi
6. Penyediaan makanan yang
tepat dengan jadwal
7. Arena parkir yang cukup luas
8
sebanyak 32 orang (47,1%) menyatakan mutu pelayanan kurang baik.
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Bukti Fisik (Tangibles)
Mutu Pelayanan Dimensi Bukti Fisik (Tangibles)
Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik
4.2.3 Mutu Pelayanan Dimensi Keandalan (Reliability)
Dari Tabel 4.4 di bawah, dapat dilihat mayoritas responden menjawab
setuju dengan prosedur penerimaan cepat yaitu sebanyak 57 orang (83,8%).
Mayoritas responden menjawab setuju dengan pelayanan yang cepat yaitui
sebanyak 65 orang (95,6%). Mayoritas responden menjawab setuju dengan
pemberian obat tepat yaitu sebanyak 60 orang (88,2%). Mayoritas responden
orang (76,5%). Mayoritas responden menjawab setuju dengan jadwal pelayanan
tepat yaitu sebanyak 64 orang (94,1%). Mayoritas responden menjawab setuju
dengan jadwal perawatan tepat yaitu sebanyak 54 orang (79,4%). Mayoritas
responden menjawab kurang setuju dengan waktu istirahat tepat yaitu sebanyak
54 orang (79,4%). Mayoritas responden menjawab setuju dengan prosedur tidak
berbelit-belit yaitu sebanyak 42 orang (61,8%). Mayoritas responden menjawab
kurang setuju dengan perawat memberi pelayanan sesuai prosedur yaitu sebanyak
55 orang (80,9%).
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Keandalan (Reliability)
Pernyataan Kurang
Setuju
Setuju Sangat Setuju
N % N % N %
1. Prosedur penerimaan pasien yang cepat dan tepat
2. Pelayanan pemeriksaan yang cepat dan tepat
3. Pemberian pengobatan yang benar dan tepat
4. Pelayanan perawatan yang cepat dan tepat
5. Jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat seperti visite?kunjungan dokter.
6. Jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat seperti perawatan
7. Jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat seperti waktu istirahat
8. Prosedur pelayanan tidak berbelit-belit
Dari Tabel 4.5 di bawah, dapat dilihat sebanyak 35 orang (51,5%)
responden menyatakan mutu pelayanan baik dan sebanyak 33 orang (49,5%)
menyatakan mutu pelayanan kurang baik
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Keandalan (Reliability)
Mutu Pelayanan Dimensi Keandalan (Reliability)
Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik
4.2.4 Mutu Pelayanan Dimensi Daya Tanggap (Responsiveness)
Dari Tabel 4.6 di bawah, dapat dilihat mayoritas responden menjawab
setuju dengan kemampuan dokter yaitu sebanyak 42 orang (61,8%). Mayoritas
responden menjawab kurang setuju dengan kemampuan perawat yaitu sebanyak
52 orang (76,5%). Mayoritas responden menjawab kurang setuju dengan petugas
memberi informasi yaitu sebanyak 64 orang (94,1%). Mayoritas responden
menjawab kurang setuju dengan kesiapan perawat yaitu sebanyak 51 orang
(75,0%). Mayoritas responden menjawab kurang setuju dengan pasien mudah
menghubungi perawat yaitu sebanyak 50 orang (73,5%) dan mayoritas responden
menjawab kurang setuju dengan pasien dengan mudah menghubungi dokter yaitu
sebanyak 65 orang (95,6%)
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Daya Tanggap (responsiveness)
Pernyataan Kurang
Setuju
Setuju Sangat Setuju
N % N % N %
1. Kemampuan dokter untuk
cepat tanggap dalam
menyelesaikan keluhan pasien 2. Kemampuan perawat selalu
cepat dalam menanggapi keluhan pasien
3. Petugas memberikan
informasi sebelum tindakan dan pelayanan dilakukan
4. Kesiapan perawat untuk
merespon permintaan pasien
sudah tepat
mutu pelayanan baik dan sebanyak 36 orang menyatakan mutu kurang baik.
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Daya Tanggap (responsiveness)
Mutu Pelayanan Dimensi Daya Tanggap (responsiveness)
Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik
4.2.5 Mutu Pelayanan Dimensi Jaminan (Assurance)
Dari Tabel 4.8 di bawah, dapat dilihat mayoritas responden menjawab
setuju dengan pengetahuan dokter memberi pelayanan yaitu sebanyak 66 orang
(97,1%). Mayoritas responden menjawab setuju dengan perawat terampil yaitu
sebanyak 49 orang (72,1%). Mayoritas responden menjawab setuju dengan dokter
terampil yaitu sebanyak 66 orang (97,1%). Mayoritas responden menjawab setuju
dengan pengobatan yang diberikan dokter yaitu sebanyak 61 orang (89,7%).
Mayoritas responden menjawab setuju dengan prosedur sudah baik yaitu sebanyk
61 orang (89,7%). Mayoritas responden menjawab setuju dengan jaminan
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Jaminan (Assurance)
Pernyataan Kurang
Setuju
Setuju Sangat Setuju
N % N % N %
1. Pengetahuan dan kemampuan dokter memberikan pelayanan kesehatan dengan kepercayaan bebas resiko
2. Perawat terampil dalam
melaksanakan tugas
3. Dokter terampil dalam
memberikan pelayanan kepada pasien
4. Pengobatan yang diberikan
dokter mampu mengatasi
penyakit
5. Penjelasan prosedur yang akan dilaksanakan sudah baik 6. Memiliki jaminan keamanan
pelayanan dan kepercayaan
terhadap pelayanan
menyatakan mutu pelayanan kurang baik
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Jaminan (Assurance)
Mutu Pelayanan Dimensi Jaminan (Assurance)
Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik
4.2.6 Mutu Pelayanan Dimensi Kepedulian (Emphaty)
Dari Tabel 4.10 di bawah, dapat dilihat mayoritas responden menjawab
kurang setuju dengan perhatian khusus dokter yaitu sebanyak 67 orang (98,5%).
Mayoritas responden menjawab kurang setuju dengan perhatian khusus perawat
dokter bersikap ramah yaitu sebanyak 37 orang (54,4%). Mayoritas responden
menjawab kurang setuju dengan perawat bersikap ramah yaitu sebanyak 49 orang
(72,1%). Mayoritas responden menjawab kurang setuju dengan pelayanan tanpa
memandang status sosial yaitu sebanyak 51 orang (75,0%). Mayoritas responden
menjawab kurang setuju dengan dokter dan perawat mengenal pasien yaitu
sebanyak 58 orang (85.3%).
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Kepedulian (Emphaty)
Pernyataan Kurang
Setuju
Setuju Sangat Setuju
N % N % N %
1. Dokter memberikan perhatian secara khusus kepada setiap pasien
2. Perawat memberikan
perhatian secara khusus kepada setiap pasien
3. Dokter yang selalu bersikap ramah
4. Perawat yang selalu bersikap
ramah dalam memberikan
pelayanan
5. Pelayanan yang diberikan tanpa memandang status sosial
6. Dokter dan perawat mengenal pasien
menyatakan mutu pelayanan kurang baik
Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Mutu pelayanan Dimensi Kepedulian (Emphaty)
Mutu Pelayanan Dimensi Kepedulian (Emphaty)
Frekuensi (n) Persentase (%)
4.2.7 Kepuasan Pasien
Dari Tabel 4.12 di bawah, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
mengenai kepuasan dari 68 responden diperoleh pada pernyataan pertama,
mayoritas responden menyatakan setuju tentang pasien merasa puas dengan
diagnosis akurat yang diberikan yaitu sebanyak 49 orang (72,1%). Pada
pernyataan kedua, mayoritas responden menyatakan setuju tentang pasien merasa
puas dengan pelayanan yang tepat waktu yaitu sebanyak 61 orang (89,7%). Pada
pernyataan ketiga, mayoritas responden menyatakan kurang setuju tentang pasien
merasa puas dengan pelayanan tanggap dan segera yang diberikan dokter dan
perawat yaitu sebanyak 53 orang (77,9%). Pada pernyataan keempat, mayoritas
responden menyatakan kurang setuju tentang pasien merasa puas berinteraksi
dengan perawat dan dokter dengan mudah yaitu sebanyak 53 orang (77,9%). Pada
pernyataan kelima, mayoritas responden menyatakan kurang setuju tentang pasien
merasa puas dengan pelayanan yang diberikan dokter dan perawat dengan
kepercayaan bebas resiko yaitu sebanyak 39 orang (57,4%).
Pada pernyataan keenam, mayoritas responden menyatakan setuju tentang pasien
merasa puas dengan pengobatan yang diberikan dokter dapat menyembuhkan
penyakit yaitu sebanyak 50 (73,5%). Pada penyataan ketujuh , mayoritas
responden menyatakan kurang setuju tentang pasien merasa puas dengan
pelayanan yang sangat ramah yaitu sebanyak 49 (72,1%). Pada pernyataan
kedelapan, mayoritas responden menyataksan kurang setuju tentang pasien merasa
puas dengan pelayanan yang memberikan perhatian pada setiap keluhan yaitu
menyatakan setuju tentang pasien merasa puas dengan kebersihan dan kerapian
ruang rawat inap sebanyak 36 (52,9%). Pada pernyataan kesepuluh, mayoritas
responden menyatakan setuju tentang pasien merasa puas terhadap kelengkapan
dan kebersihan alat-alat yang dipakai yaitu sebanyak 11 (16,2%).
Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Kepuasan Pasien puas dengan diagnosis akurat yang diberikan
2. Pasien merasa puas dengan pelayanan yang tepat waktu
3. Pasien merasa puas dengan pelayanan tanggap dan segera
yang diberikan dokter dan
perawat
4. Pasien merasa puas
berinteraksi dengan perawat dan dokter dengan mudah
5. Pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan dokter dan perawat dengan kepercayaan bebas resiko
6. Pasien merasa puas dengan
dengan pengobatan yang
diberikan dokter dapat
menyembuhkan penyakit
7. Pasien merasa puas dengan pelayanan sangat ramah
8. Pasien merasa puas dengan
pelayanan yang memberi
perhatian pada setiap keluhan
9. Pasien merasa puas dengan kebersihan dan kerapian ruang rawat inap
Berdasarkan Tabel distribusi kepuasan pasien di bawah, dapat dilihat
sebanyak 34 orang (50,0%) responden menyatakan puas, dan sebanyak 34 orang
(50,0%) responden menyatakan tidak puas.
Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kepuasan Pasien
Kepuasan Pasien Frekuensi (n) Persentase (%)
Puas
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel
independen dan dependen.
4.3.1 Korelasi Pearson
Korelasi pearson merupakan salah satu uji statistik untuk melihat
hubungan antar variabel dalam penelitian. Bila p value < 0,05 dan r tabel lebih
besar dari nilai korelasi (r) maka ada hubungan yang signifikan antar variabel
penelitian. Dari Tabel 4.14 di atas, dapat dilihat variabel yang secara signifikan
berhungan adalah variabel keandalan dengan kepuasan (p = 0,001).
Tabel 4.14 Uji Korelasi Pearson
Variabel R p
Bukti Fisik – Kepuasan Keandalan – Kepuasan Daya Tanggap – Kepuasan Jaminan – Kepuasan Kepedulian Kepuasan
-0,059
4.4 Analisis Multivariat
Analisis yang digunakan dengan menggunakan uji regresi linear berganda
4.4.1 Regresi Linier
Regresi linear adalah alat statistik yang dipergunakan untuk mengetahui
pengaruh antara satu atau beberapa variabel terhadap satu buah variabel. Variabel
yang mempengaruhi sering disebut variabel bebas, variabel independen atau
variabel penjelas.
Tabel 4.15 Model Summary
Model R Square S.E
1 0,364 2,1777
Ukuran yang penting dan sering digunakan dalam analisis regresi adalah
koefisien determinasi atau disimbolkan R. Koefisien determinasi berguna untuk
mengetahui seberapa besar variasi variabel dependen dapat dijelaskan oleh
variabel independen atau dengan kata lain R Square menunjukkan seberapa jauh variabel independen dapat memprediksi variabel dependen.Semakin besar nilai R
square semakin baik/semakin tepat variabel independen memprediksi variabel dependen. Dari Tabel 4.15 di atas, dapat dilihat nilai koefisien determinasi yaitu
sebesar 0,313, artinya persamaan garis regresi yang diperoleh dapat menerangkan
31,3% variasi mutu pelayanan untuk menjelaskan kepuasan pasien.
Dari Tabel 4.16 di bawah, dapat dilihat nilai p value < 0,05 , artinya pada α = 5% dapat disimpulkan regresi cocok (fit) dengan data.
Tabel 4.16 Anova
Model Df F P
Regression Residual
5 62
Dari Tabel di bawah, dapat dilihat variabel yang secara signifikan dengan
kepuasan pasien. Variabel keandalan dan kepedulian secara signifikan
berpengaruh terhadap kepuasan pasien (p value<0,05). Dari Tabel 4.17 dibawah diperoleh persamaan linear untuk memprediksi kepuasan pasien yaitu :
Kepuasan = -0,578 + 0,471 Keandalan + 0,533 Kepedulian
Dengan model persamaan yang didapatkan, maka dapat diprediksi
kepuasan pasien dengan menggunakan variabel keandalan dan kepedulian. Kolom
Beta dapat digunakan untuk mengetahui variabel mana yang paling
besarperanannya (pengaruhnya) dalam menentukan variabel dependennya
(kepuasan pasien). Semakin besar nilai beta semakin besar pengaruh nya terhadap
variabel dependennya. Pada hasil di atas berarti variabel yang paling besar
pengaruhnya terhadap penentuan kepuasan pasien adalah variabel kepedulian.
Tabel 4.17 Analisis Regresi Linier
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Pengaruh Bukti Fisik Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di RS Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta)
Parasuraman, et al (2006) menyatakan bahwa mutu pelayanan dimensi bukti fisik (Tangibles) meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi. Dengan demikian bukti fisik merupakan satu indikator yang paling
konkrit, wujudnya berupa segala fasilitas yang secara nyata dapat dilihat.
Berdasarkan hasil dengan uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan bukti fisik terhadap kepuasan pasien rawat inap pada pasien
Umum/BPJS. Berdasarkan hasil analisis uji statistik dengan menggunakan uji
regresi linear dalam penelitian ini menunjukkan bahwa bukti fisik terhadap
responden tentang mutu pelayanan pada masyarakat umum/BPJS tidak
berpengaruh terhadap kepuasan pasien dengan nilai p = 0,384 <0,05 dan nilai =
-0,030
Tanggapan responden masyarakat umum dan BPJS pada bukti fisik tentang
kelengkapan, kesiapan, dan kebersihan alat-alat yang dipakai, menyatakan kurang setuju
11,8%, setuju 86,8%, dan sangat setuju 1,5%. Bukti fisik untuk kebersihan, kerapian,
dan keamanan ruang rawat inap. Responden masyarakat umum dan BPJS
menunjukkan kurang setuju 51,5%, setuju 48,5% . Dukungan sarana sangatlah
dalam menentukan kondisi kesehatan pasien secara tidak langsung, sebab dengan
lingkungan yang tidak bersih, maka akan memicu timbulnya penyakit baru, maka
Tanggapan responden masyarakat umum dan BPJS pada bukti fisik tentang
suasana ruang perawatan yang nyaman, mengatakan kurang setuju 89,7%, dan
setuju 10,3% dikarenakan ruang perawatan yang panas,pengap, banyak nyamuk,
dan pintu yang tidak bisa dikunci. Tanggapan reponden tentang dokter yang selalu
rapi mengatakan kurang setuju 5,9% ,setuju 72,1% dan sangat setuju 22,1%.
Penampilan dokter dinilai cukup baik pada pasien karena pada saat dokter
melakukan visite mereka selalu rapi dengan menggunakan jas dan stethoscope. Tanggapan reponden tentang penampilan perawat yang selalu rapi mengatakan
kurang setuju 5,9%, setuju 97,1% dan sangat setuju 1,5%. Penampilan perawat
juga dinilai cukup baik oleh pasien di Rumah sakit ini.
Tanggapan responden masyarakat umum dan BPJS pada bukti fisik tentang
penyediaan makanan yang tepat dengan jadwal, menyatakan kurang setuju 13,2%,
dan setuju 86,8%. Pasien mengataakan dalam penyediaan makanan pihak rumah
sakit cukup baik, karena petugas menyediakan makanan sesuai dengan jadwal
makanan yang sudah ditentukan. Tanggapan responden tentang arena parkir yang
cukup luas, menyatakan kurang setuju 89,7%, dan setuju 10,3%. Disini
dikarenakan arena parkir yang terlalu sempit, sehingga pasien susah untuk
memarkirkan kendaraannya, maka dari itu pasien banyak menyatakan kurang
setuju.
Sebanyak 68 responden diantaranya yaitu 60 pasien BPJS dan 8 pasien
umum. 8 pasien umum tersebut menyatakan puas terhadap bukti fisik yang ada di
RS tersebut, mereka menyatakan puas dikarenakan suasana ruang perawatan yang
makanan yang tepat dengan jadwal. Sedangkan 60 pasien BPJS dikategori puas
dan tidak puas. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wusko (2014)
tentang Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pengguna Jasa pada
Rumah Sakit Umum Daerah Bangil Kabupaten Pasuruan, menyatakan bahwa ada
pengaruh yang signifikan antara variabel kualitas pelayanan yang berupa bukti
fisik terhadap variabel kepuasan pengguna jasa (pasien) pada RSUD Bangil
Kabupaten Pasuruan.
5.2 Pengaruh Keandalan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di RS Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta)
Parasuraman, et al (2006) menyatakan bahwa mutu pelayanan dimensi keandalan (Reliability) adalah kemampuan untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya dan akurat. Kinerja harus sesuai dengan harapan pasien tanpa
kesalahan, yang meliputi penerimaan pasien yang cepat dan tepat, pelayanan
pemeriksaan yang cepat dan tepat, pemberian pengobatan yang benar dan tepat,
pelayanan perawatan yang cepat dan tepat, jadwal pelayanan rumah sakit
dijalankan dengan tepat seperti visite kunjungan dokter, jadwal pelayanan rumah
sakit dijalankan dengan tepat seperti perawatan, jadwal pelayanan rumah sakit
dijalankan dengan tepat seperti waktu istirahat, prosedur pelayanan tidak
berbelit-belit, pada saat membutuhkan bantuan, perawat selalu memberikan pelayanan
sesuai prosedur.
Berdasarkan hasil dengan uji bivariat menunjukkan bahwa hasil analisis uji
statistik dengan menggunakan uji regresi linear dalam penelitian ini menunjukkan
pasien masyarakat Umum/BPJS. Berdasarkan uji multivariat pada keandalan
terhadap responden tentang mutu pelayanan pada masyarakat umum/BPJS
memilik pengaruh terhadap kepuasan pasien dengan nilai p = 0,000 <0,05 dan
nilai = 0,471
Menurut responden masyarakat umum dan BPJS pada keandalan tentang
prosedur penerimaan pasien yang cepat dan tepat, mayoritas menyatakan setuju
sebanyak 57 orang ( 83,5%), dalam hal ini pasien merasa puas karena pada saat
datang pertama kali untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit tersebut, pihak
petugas langsung cepat menangani pasien. Tanggapan responden tentang
pelayanan pemeriksaan yang cepat dan tepat, mayoritas menyatakan setuju
sebanyak 65 orang (95,6%). Tanggapan responden tentang pemberian pengobatan
yang benar dan tepat, mayoritas responden menyatakan setuju sebanyak 60
(88,2%), hal ini dikarenakan pengobatan yang diberikan oleh petugas memang
meringankan penyakit yang diderita oleh pasien. Tanggapan pelayanan perawatan
yang cepat dan tepat, mayoritas menyatakan kurang setuju sebanyak 52 orang
(76,5%), hal ini dikarenakan perawat yang lama dalam menangani keluhan pasien.
Tanggapan responden pasien rawat inap yang berasal dari masyarakat
umum dan BPJS mengenai jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat
seperti visite kunjungan dokter, menyatakan setuju sebanyak 64 orang (94,1),
disini pelayanan yang dilakukan oleh dokter sudah baik karena dokter selalu tepat
waktu dan jarang terlambat dalam kunjungannya kepada pasien. Tanggapan
responden terhadap jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat seperti
terhadap jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat seperti waktu
istirahat, mayoritas menyatakan sebanyak 54 orang (79,4%), hal ini dikarenakan
pada saat istirahat perawat tidak ada di ruangan keperawatan sehingga pada saat
membutuhkan bantuan untuk mengganti infus pasien sangat kesulitan, tanggapan
responden tentang prosedur pelayanan tidak berbelit-belit, mayoritas menyatakan
setuju sebanyak 42 orang (61,8%), dalam hal ini petugas memberikan informasi
tepat dan jelas sehingga dalam prosedur sikatakan sudah baik. Tanggapan
responden pada saat membutuhkan bantuan, perawat selalu memberikan
pelayanan sesuai prosedur, mayoritas menyatakan kurang setuju sebanyak 55
orang (80,9%), hal ini dikarenakan perawat dalam menjalankan tugasnya
menangani pasien tidak sesuai dengan prosedur, pada saat dibutuhkan atau
dipanggil seharusnya perawat langsung datang.
Sebanyak 68 responden diantaranya yaitu 60 pasien BPJS dan 8 pasien
umum. 8 pasien umum tersebut menyatakan puas terhadap keandalan petugas
kesehatan di RS, mereka menyatakan puas karena prosedur penerimaan dan
pemeriksaan pelayanan cepat dan tepat, visite dokter yang tepat waktu serta
prosedur pelayanan tidak berbelit-belit sehingga mereka puas. Sedangkan 60
pasien BPJS dikategori puas dan tidak puas. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Tarigan (2009) yang dilakukan di RSUD dr. H. Kumpulan Pane Kota
5.3 Pengaruh Daya Tanggap Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di RS Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta)
Parasuraman, et al (2006) menyatakan bahwa mutu pelayanan dimensi keandalan (Responsiveness) merupakan kemampuan yang dilakukan oleh petugas langsung untuk memberikan pelayanan yang cepat tanggap. Kecepatan pelayanan
yang diberikan merupakan sikap tanggap dari petugas dalam pemberian pelayanan
yang dibutuhkan, sikap tanggap ini merupakan suatu akibat akal dan pikiran yang
ditunjukkan pada pasien. Dimensi ini menekankan pada perhatian dan kecepatan
petugas yang terlibat dalam menanggapi permintaan, pertanyaan, dan keluhan
pasien.
Berdasarkan hasil dengan uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan daya tanggap terhadap kepuasan pasien rawat inap pada pasien
masyarakat Umum/BPJS. Berdasarkan hasil analisis uji statistik dengan
menggunakan uji regresi linear dalam penelitian ini menunjukkan bahwa daya
tanggap terhadap responden tentang mutu pelayanan pada masyarakat
umum/BPJS tidak memilik pengaruh terhadap kepuasan pasien dengan nilai p =
0,141 <0,05 dan nilai = 0,200
Hasil analisis daya tanggap menunjukkan bahwa secara secara umum
ketanggapan dokter dalam memberikan pelayanan sudah memenuhi harapan
pasien terbukti kemampuan dokter untuk cepat tanggap dalam menyelesaikan
keluhan pasien, dari 68 responden yang menyatakan kurang setuju 26 orang
(38,2%) dan setuju 42 orang (61,8%), hal ini dikarenakan saat pasien mengeluh
dalam memberikan solusi dari penyakit pasien tersebut, dan menasehati agar
meminum obatnya dan tidak melarang pantangan yang diberikan oleh dokter.
Tanggapan responden tentang kemampuan perawat selalu cepat dalam
menanggapi keluhan pasien, mayoritas menyatakan kurang setuju sebanyak 52
orang (76,5%), dapat dilihat bahwa dalam melakukan pelayanan perawat masih
dinilai kurang baik oleh pasien, karena perawat yang dipanggil saat dibutuhkan
tidak langsung datang, dan perawat yang dipanggil untuk mengganti infus tidak
langsung menggantinya.
Menurut responden pasien rawat inap yang berasal dari masyarakat umum
dan BPJS tentang petugas memberikan informasi sebelum tindakan dan pelayanan
dilakukan, mayoritas menyatakan kurang setuju sebanyak 64 orang (94,1%). Hal
ini dikarenakan pada saat melakukan pelayanan, petugas tidak memberikan
informasi terlebih dahulu kepada pasien, seperti misalnya perawat dalam
mensuntik pasien dia tidak menjelaskan guna daripada suntikannya itu untuk apa,
dan pada saat memebrikan obat bebrapa perawat tidak memberikan penjelasan
tentang obat yang diminum pasien berguna untuk apa dan obat itu untuk
mengatasi penyakit apa. Tanggapan responden tentang kesiapan perawat untuk
merespon permintaan pasien sudah tepat, mayoritas menyatakan kurang setuju
sebanyak 51 orang (75,0%), hal ini dikarenakan perawat melakukan tugasnya
tidak sesuai prosedur yang belum tepat sehingga masih membuat pasien kecewa.
Tanggapan responden tentang pasien dapat dengan mudah menghubungi perawat,
menyatakan kurang setuju sebanyak 50 orang (73,5%) dan setuju 18 orang
dibutuhkan perawat tidak langsung datang. Tanggapan responden tentang pasien
dapat dengan mudah menghubungi dokter, menyatakan kurang setuju 65 orang (
95,6%) dan setuju 3 orang (4,4%), mayoritas menyatakan kurang setuju karena
pasien smemang susah untuk menghubungi langsung dokter, karena mereka harus
melalui perawat dahulu, sedangkan perawat saja susah untuk dihubungi.
Kemudiaan jika ingin menghubungi dokter langsung, dokter tidak selalu ada
diruangannya, karena dokter ada pada saat jam kunjungan saja, pada saat jam
biasa dokter sudah pergi dan tidak ditempat.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hizrani (2003)
di salah satu rumah sakit di Jakarta, juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Muninjaya (2004) di RS Sanglah Bali. Berdasarkan dari beberapa indikator
responsiveness ada beberapa yang menjadi indikator dalam responsiveness antara
lain tindakan cepat oleh dokter, perawat, dan admnistrasi. Dokter,perawat, dan
administrasi memberikan informasi yang jelas kepada pasien yang berhubungan
dengan perawat dan dokter. Petugas kesehatan memberikan tanggapan yang cepat
dalam menyelesaikan keluhan pasien.
5.4 Pengaruh Jaminan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di RS Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta)
Parasuraman, et al (2006) menyatakan bahwa mutu pelayanan dimensi jaminan (Assurance) adalah tindakan petugas terhadap pasien yang bersifat jaminan dan bertujuan memberikan image terhadap pasien bahwa pasien akan
Berdasarkan hasil dengan uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan jaminan terhadap kepuasan pasien rawat inap pada pasien masyarakat
Umum/BPJS.Berdasarkan hasil analisis uji statistik dengan menggunakan uji
regresi linear dalam penelitian ini menunjukkan bahwa jaminan terhadap
responden tentang mutu pelayanan pada masyarakat umum/BPJS tidak memilik
pengaruh terhadap kepuasan pasien dengan nilai p = 0,328 <0,05 dan nilai =
0,241.
Hasil penelitian responden masyarakat umum dan BPJS menunjukkan
tanggapan mengenai pengetahuan dan kemampuan dokter memberikan pelayanan
kesehatan dengan kepercayaan bebas resiko, dari 68 responden yang menyatakan
kurang setuju 2 orang (2,9%) dan setuju 66 orang (97,1%), dari hasil tersebut
dapat dilihat dari pengetahuan dan kemampuan dokter dalam memberikan
pelayanan dengan bebas resiko sudah baik. Mengenai perawat yang terampil
dalam melaksanakan tugas, dapat dilihat jawaban responden menyatakan kurang
setuju 19 orang (27,9%) dan yang setuju 49 orang (72,1%), disini dapat dilihat
dalam keterampilan, perawat mampu membuat pasien puas seperti memberikan
pasien informasi yang tidak berbelit-belit, pada saat memberikan obat mereka
memberikannya sesuai dengan prosedur dan pada saat melakukan pelayanan
seperti mensuntik dan membuat infus mereka teliti. Dokter terampil dalam
memberikan pelayanan kepada pasien, mayoritas jawaban dari responden yaitu
setuju sebanyak 66 orang (97,1%), dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa
keterampilan dokter dalam melakukan pelayanan sudah baik karena dokter
Tanggapan mengenai pengobatan yang diberikan dokter mampu mengatasi
penyakit, responden menyatakan kurang setuju 7 orang (10,3%) dan setuju 61
orang (89,7%), disini dilihat mayoritas menyatakan setuju, karena pengobatan
yang diberikan memang sudah baik dan mampu mengatasi penyakit dan
setidaknya dapat mengurangi rasa nyeri atau sakit pada pasien, walaupun memang
tidak semua mengatakan dapat menyembuhkan karena masih ada beberapa pasien
yang mengeluhkan tentang obatnya, pasien menyatakan dia sudah meminum obat
itu selama seminggu tetapi saya masih merasakan nyeri padahal katanya obat itu
untuk mengatasi nyeri. Tanggapan responden tentang penjelasan prosedur yang
akan dilaksanakan sudah baik, mayoritas menyatakan setuju sebanyak 61 orang
(89,7%), perawat/dokter/pegawai dalam memberikan atau menjelaskan prosedur
dalam pelayanan sudah baik karena mereka menjelaskannya sesuai prosedur
dengan jelas, tepat dan tidak berbelit-belit, sehingga dalam hal ini pasien merasa
puas. Tanggapan tentang memiliki jaminan keamanan pelayanan dan kepercayaan
terhadap pelayanan, yang menyatakan kurang setuju 25 orang (36,8% dan setuju
43 orang (63,2%), disini dapat dilihat sebgaian pasien menytakan setuju dan
kurang setuju karena masih banyak perawat dan dokter dalam menjalankan
tugasnya mereka masih kurang maksimal seperti kepedulian mereka kepada
pasien, dan daya tanggap terhadap pasien sehingga beberapa pasien masih kurang
percaya terhadap pelayanan di rumah sakit tersebut sehingga beberapa dari pasien
enggan untuk datang kembali.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Haryati (2004) yang dilakukan
Kumpulan Pane Tebing Tinggi yang menyatakan bahwa jaminan (assurance) berpengaruh terhadap kepuasan pasien.
5.5 Pengaruh Kepedulian Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di RS Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta)
Parasuraman, et al (2006) menyatakan bahwa mutu pelayanan dimensi kepedulian (Empathy), komponen yang menonjol sebagai alat ukur adalah pada kemudahan dan komunikasi. Kemudahan yang dimaksud adalah kemudahan
untuk berinteraksi dengan petugas kesehatan, kemudahan dalam mendapatkan
informasi. Kemudahan bagi pasien untuk berinteraksi dan bertemu dengan
petugas kesehatan seperti dokter atau perawat merupakan hal yang penting yang
harus dapat dilaksanakan oleh penyedia layanan agar pasien merasa nyaman dan
tenang selama perawatan di Rumah Sakit.
Berdasarkan hasil dengan uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan kepedulian terhadap kepuasan pasien rawat inap pada pasien
masyarakat Umum/BPJS.Berdasarkan hasil analisis uji statistik dengan
menggunakan uji regresi linear dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
kepedulian terhadap responden tentang mutu pelayanan pada masyarakat
umum/BPJS memilik pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pasien dengan
nilai p = 0,002 <0,05 dan nilai = 0,533.
Keandalan dokter dan perawat dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
juga menjadi salah satu yang memengaruhi kepuasan pasien rawat inap, karena
keandalan dan keterampilan petugas kesehatan dalam memberikan perawatan
penelitian menunjukkan bahwa masyarakat umum dan BPJS pada dimensi
kepedulian tentang dokter memberikan perhatian secara khusus kepada setiap
pasien menyatakan kurang setuju 98,5% dan setuju 1,5% dikarenakan pada saat
memberikan pelayanan dokter terkesan terburu-buru sehingga pasien tidak dapat
berkonsultasi dan berinteraksi kepada dokter kemudian dokter tidak menanyakan
riwayat sakit pasien dan tidak menanyakan pengobatan pasien sebelumnya.
Perawat memberikan perhatian secara khusus kepada setiap pasien menyatakan
kurang setuju 77,9% dan setuju 22,1% lebih mayoritas mengatakan kurang setuju
dikarenakan pada saat pasien membutuhkan bantuan, perawat sangat sulit
dipanggil dan tidak segera datang, apalagi pada saat infus pasien habis, perawat
tidak langsung menggantinya, pasien harus menunggu lama kemudian infus
barulah diganti.
Dokter yang selalu bersikap ramah menyatakan kurang setuju 45,6% dan
kurang setuju 54,4%. Mayoritas mengatakan setuju, karena memang dokter sudah
baik menjalankan tugasnya dan kemudian dokter ramah pada setiap pasien.
Perawat yang selalu bersikap ramah dalam memberikan pelayanan menyatakan
kurang setuju 72,1% dan setuju 27,9% mayoritas mengatakan kurang setuju
karena perawat memberikan pelayanan kepada pasien belum maksimal, masih ada
perawat yang masih cuek dalam memberikan pelayanan, saat dipanggil perawat
lama sekali baru datang.. Pelayanan yang diberikan tanpa memandang status
sosial menyatakan kurang setuju 75,0% dan setuju 25,0%, masih banyak yang
kurang setuju karena masih terlihat bahwa apabila dia masyarakat umum lebih
dipanggil mereka untuk emnggantikan infus mereka tidak langsung datang
menemui pasien. Dokter dan perawat mengenal pasien menyatakan kurang setuju
85,3% dan setuju 14,7%, mayoritas mengatakan kurang setuju karena memang
dokter dan perawat tidak mengenal pasiennya. Pelayanan yang memberikan kesan
baik tentunya meningkatkan kepuasan pasien terutama di dimensi kepedulian.
Sebanyak 68 responden diantaranya yaitu 60 pasien BPJS dan 8 pasien
umum. 8 pasien umum tersebut menyatakan puas terhadap kepedulian yang
dilakukan petugas, mereka menyatakan puas karena perawat dan dokter bersikap
ramah serta mengenal pasien kemudian pasien merasa puas terhadap kepeduliaan
karena perawat memberikan perhatian secara khusus kepada pasien, sedangkan 60
pasien BPJS dikategori puas dan tidak puas. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Chitami (2013) tentang Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Kepuasan
terhadap Loyalitas Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap Rumah Sakit Otorita
Batam, menemukan terdapat pengaruh Kepedulian terhadap Kepuasan Pasien,
dilihat dari ketidakramahaan perawat dalam melakukan pelayanan dan tidak
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh mutu pelayanan kesehatan
terhadap kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima
Husada Cipta) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari hasil analisis bivariat menyatakan adanya hubungan keandalan
(reliability) terhadap kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta).
2. Dari hasil analisis multivariat terdapat pengaruh antara dimensi keandalan
(reliability), dan kepedulian (emphaty) dengan kepuasan pasien.
3. Hasil penelitian menunjukkan variabel kepedulian (emphaty) memiliki pengaruh paling besar terhadap kepuasan pasien rawat inap dengan nilai
koefisien regresi (B) = 0,533.
4. Tidak ada pengaruh variabel bukti fisik (tangibles), daya tanggap (responsiveness), dan jaminan (assurance) terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta).
6.2 Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dan analisa, maka untuk dapat meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan terhadap kepuasan pasien di rawat inap , maka
1. Disarankan kepada Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta)
agar lebih memaksimalkan mutu pelayanan kesehatan terutama kepedulian
(empathy) dan keandalan (reliability).
2. Disarankan kepada tenaga kesehatan (dokter,perawat) agar lebih
meningkatkan dibidang kepedulian, saat melaksanakan tugasnya sebaiknya
tenaga kesehatan lebih ramah kepada pasien , lebih mengenal pasien,
memberikan perhatian kepada pasiennya dan sejauh mana komunikasi
dapat terbentuk sehingga pasien dapat merasa nyaman karena
diperhatiakan, dan merespon secara cepat keluhan pasien di ruang rawat
inap.
3. Disarankan kepada Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta)
perlu lebih meningkatkan keandalan melalui pemberian pelatihan kepada
dokter dan perawat yang ada di Rumah Sakit untuk mengatasi pelayanan
pemeriksaan dan perawatan yang kurang cepat baik waktu jam bekerja
maupun istirahat dan ketika pasien membutuhkan bantuan, perawat tidak
memberikan pelayanan sesuai prosedur.
4. Disarankan kepada pihak rumah sakit untuk menjaga mutu pelayanan
perawat di ruang rawat inap di Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima
Husada Cipta), dianjurkan diadakan kotak saran di area ruang rawat inap
yang diisi oleh pasien dan di evaluasi setiap bulannya secara