KILASAN KISAH
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta
Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72:
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara ma sing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (sa tu juta rupiah), atau pi dana penjara paling lama 7(tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana di mak sud pa da ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda pa ling ba nyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
KILASAN KISAH
SOEGIJAPRANATA
Dicetak oleh Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Isi di luar tanggung jawab percetakan.
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
© G. Budi Subanar KPG 901 12 0549
Cetakan Pertama, Mei 2012
Editor & Pengantar
Anton Haryono
Penataletak
Thoms
Perancang Sampul
Pius Sigit Kuncoro
SUBANAR, G. Budi
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2012 xvii + 148 hlm.; 13 cm x 19 cm
P
engantar
S
oegijapranata adalah putera Indonesia pertamayang diangkat oleh Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, sebagai vikaris apostolik dengan gelar us kup. Pengangkatannya terjadi pada tahun 1940 dan di maksudkan untuk memimpin sebuah vikariat apostolik baru, yakni Vikariat Apostolik Semarang (sejak 1960an menjadi Keuskupan Agung Semarang), pecahan Vikariat Apostolik Batavia. Pengangkatannya sebagai Vikaris Apostolik Semarang dan penganugerahan gelar uskupnya oleh Paus bisa dikatakan merupakan suatu peristiwa se jarah monumental.
Betapa tidak! Pada tahun 1940, Indonesia masih ber ada di bawah kolonialisme Belanda. Unsurunsur Belanda (Eropa) pada Gereja Katolik yang telah terbangun masih kuat. Akan tetapi, pada waktu itu Paus mempercayakan kepemimpinan (baca: penggembalaan) vikariat apostolik baru itu justru kepada putera asli Indonesia, bukan ke
vi
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
pada salah seorang misionaris Belanda seniornya yang
telah turut memformasi dirinya. Selaku uskup ba ru,
Soegijapranata kala itu tidak hanya bertugas meng gem ba lakan umat Katolik pribumi, tetapi juga orangorang Ka tolik berkebangsaan Eropa yang tinggal di Vikariat Apos tolik Semarang.
Peristiwa tahun 1940 semakin monumental bila di ingat bahwa dulu Soegijapranata kecil dikirim oleh orang tuanya ke Kolese Xaverius Muntilan sematamata untuk sekolah, bukan untuk menjadi orang Katolik. Karena tidak ingin menjadi orang Katolik, tentu pada masamasa awal di Muntilan tidak terlintas di benak pikirannya untuk men jadi imam/biarawan Katolik. Akan tetapi, sejarah yang sa rat dengan interaksi sosial dan kultural yang sedemikian dinamis menentukan lain. Soegijapranata tidak hanya ber hasil menamatkan sekolah yang diimpikannya, tetapi lebih dari itu, ia menemukan jalan hidup baru. Pada jalan baru ini pun Soegijapranata tidak hanya menemukan agama baru, menjadi orang Katolik, tetapi juga terpanggil untuk ma suk/bergabung dalam suatu komunitas biara, menjadi biarawan Yesuit, dan berhasil menjalani tahbisan imamat pada tahun 1931. Hanya selang sembilan tahun dari saat tahbisan imamatnya, Soegijapranata telah di per caya oleh Paus untuk menakhodai sebuah vikariat (keuskupan) baru.
Sebagai imam Katolik, dan kemudian menjadi uskup, tugas utama Soegijapranata adalah menggembalakan umat
vii Pengantar
Katolik. Meskipun demikian, dalam lintasan sejarahnya, ki prah kekaryaan Soegijapranata tidak hanya berdimensi ke gerejaan (kekatolikan) tetapi juga sarat dengan dimensi ke bangsaan (keindonesiaan). Dimensi kebangsaan ini sudah tam pak ketika ia memutuskan untuk menjadi imam. Konon, ia tidak menemukan profesi lain yang lebih memungkinkan bagi dirinya untuk memuliakan Tuhan dan sekaligus untuk meng abdi bangsa Indonesia selain menjadi imam.
Dimensi kebangsaan Soegijapranata ini tidak pernah ken dur dan terus menguat. Hal ini antara lain tampak pada: 1) keterlibatannya dalam mengembangkan majalah Katolik berbahasa Jawa, Swaratama, yang tidak pernah berhenti me nyuarakan aspirasiaspirasi kebangsaan; 2) dukungan mo ralnya terhadap Pakempalan Politik Katholiek Djawi yang ber diri pada tahun 1923 dan terus berproses hingga menjadi
Perkumpulan Politik Katolik Indonesia; 3) instruksinya pada
awal kemerdekaan kepada umat Katolik Jawa (Indonesia) gembalaannya untuk terlibat aktif dalam revolusi nasional, yang secara simbolik ia sendiri berusaha mewujudkannya de ngan memindahkan kantor kevikariatannya dari Semarang ke Yogyakarta seiring dengan kepindahan pemerintah RI ke kota perjuangan itu; dan 4) keteguhannya untuk terus me nyuarakan semboyan “100% Katolik, 100% Indonesia” ke pada umat Katolik Indonesia.
Bagi Soegijapranata, katolisitas tidak boleh menggerus na si onalitas. Kekatolikan harus diwujudnyatakan dalam ke hidupan seharihari dalam suatu interaksi kebangsaan.
viii
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
Orang Katolik Indonesia harus berguna tidak hanya bagi gerejanya, tetapi juga bagi bangsa dan negaranya. Bahkan, orang Katolik baru berguna bagi gerejanya bila berguna bagi bang sa dan negaranya. Mereka harus memiliki keberanian yang tangguh untuk turut mengisi kemerdekaan yang telah ber hasil diperjuangkan oleh bangsa Indonesia. Soegijapranata pernah mengemukakan: “Jika kita sungguhsungguh Ka to lik sejati, kita sekaligus patriot sejati”. Pada kesempatan yang sama, ia juga menegaskan perihal kewajiban umat Katolik untuk mencintai Gereja Kudus dan kewajiban un tuk mencintai negara dengan sepenuh hati, dengan meng ingatkan akan ajaran Yesus: “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”.
Terutama bagi umat Katolik, nama Soegijapranata bu kan sekadar nama yang tidak asing, tetapi nama besar yang senantiasa dikenang karena keteguhan dan konsistensi pra karsanya dalam mengintegrasikan praktik kekatolikan de ngan paham kebangsaan yang harus dijalani/dihidupi oleh umat Katolik Indonesia. Berangkat dari kenyataan ini, dan me lalui rangkaian panjang studi ilmiah yang tekun, G. Budi Subanar, SJ berusaha mengeksplorasi dan mengeksposisikan kembali pemikiranpemikiran visioner dan prakarsaprakarsa historis uskup pribumi pertama Indonesia itu. Melalui tu lisantulisannya, Romo Banar, demikian ia biasa dipanggil, ti dak hanya ingin mendeskripsikan halhal penting apa saja yang pernah dipikirkan dan dilakukan secara konsisten oleh
ix Pengantar
Mgr. Soegijapranata, SJ pendahulunya, tetapi juga hendak memaparkan bagaimana semua itu tumbuh dan berkembang pada diri Monsinyur. Selain itu, untuk memperkuat gambaran tentang visionaritas dan ketokohan Mgr. Soegijapranata, SJ Romo Banar juga berusaha menampilkan “karakterkarakter” sepadan dari beberapa tokoh fenomenal lain, seperti van Lith, Kasimo, dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Lebih lanjut, melalui pemaknaan reflektifnya, Romo Banar menemukan bahwa apa yang pernah dipikirkan dan dilakukan oleh Mgr. Soegijapranata, SJ tetap aktual dan memiliki nilai strategis fun damental bagi kehidupan bersama di masa kini.
Tanpa bermaksud mengurangi kedaulatan dan ke
mam puannya dalam berpikir, bersikap, dan bertindak,
eks planasi tentang visi kebangsaan Mgr. Soegijapranata, SJ yang sedemikian kuat tidak pernah akan lengkap bila tidak dikaitkan dengan kegilaan guru besarnya Frans van Lith, SJ dalam membangun keberpihakan terhadap kehidupan kaum pribumi. Berkat pelopor misi Jawa ini pulalah Soegija kecil dikirim oleh orangtuanya untuk sekolah di Kolese Xaverius Muntilan. Romo van Lith sejak awal kekaryaannya dalam mengembangkan sekolah Misi di Muntilan telah ber ketetapan untuk senantiasa manjing ajur ajer (menyatu tanpa jarak) dengan seluruh siswanya. Sebagai misionaris, ia tidak hanya mewartakan kekatolikan; sebagai guru, ia tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan; tetapi, atas kecintaannya yang mendalam, ia juga menyemaikan benihbenih nasional isme pada diri para muridnya. Pada tahun 1920an, berkat
x
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
brosur politiknya yang berani dan kontroversial, para man tan muridnya terpacu untuk mendirikan perkumpulan po litik (Pakempalan Politiek Katholiek Djawi/PPKD) yang in dependen, lepas dari Indische Katholieke Partij yang di do minasi oleh orangorang Katolik Belanda. Dalam brosur itu, Romo van Lith mengkritik secara keras kesewenang wenangan otoritas kolonial dan menyatakan dengan lantang bah wa, bila terjadi perpecahan, maka misionaris akan ber pi hak kepada kaum pribumi.
Integrasi antara kekatolikan dan nasionalisme praktis telah dipikirkan dan disemaikan oleh Romo van Lith. Hal ini antara lain tampak pada pidato perdana I.J. Kasimo di Volksraad pada tahun 1931. Dalam pidatonya itu Kasimo menge mukakan bahwa agama Katolik yang diwartakan oleh para misionaris Belanda tidak bertentangan dengan aspirasi nasional masyarakat pribumi. Lebih lanjut ia menegaskan ten tang hak suatu bangsa untuk menentukan nasib sendiri, mer deka dan bersatu, yang tidak dapat diganggu gugat, serta urgensi kesediaan kerjasama di antara berbagai kelompok penduduk untuk mewujudkannya. Kasimo selaku anggota Volksraad mewakili PPKD juga menyatakan bahwa orang orang Katolik Jawa tidak pantas menjadi pengikut Van Lith bila tidak turut serta menghormati prinsip nasionalisme yang telah digagasnya. Di sini terlihat dengan jelas, Romo van Lith yang senantiasa berpihak kepada kaum tertindas dan terus berusaha menanamkan perasaan cinta tanah air men jadi sumber keteladanan, khususnya bagi para mantan
xi Pengantar
muridnya, tak terkecuali Mgr. Soegijapranata, SJ.
Mengingat Mgr. Soegijapranata, SJ masih harus me lan jutkan peran sejarahnya hingga belasan tahun pasca pro klamasi kemerdekaan RI, ia memiliki kesempatan untuk me ngembangkan semangat Van Lith, guru besarnya, pada za man yang berbeda. Bila kita menyimak tulisantulisan Romo Banar, maka akan terlihat bahwa integrasi antara ka tolisisme dan nasionalisme menjadi basis bagi ketokohan Monsinyur. Bila pada tahun 1920an brosur politik Van Lith memanaskan telinga dan hati kaum kolonial, serta mem besarkan semangat kaum pribumi yang mendambakan ke bebasan, maka hal yang sama terjadi pada masa revolusi na sional ketika Mgr. Soegijapranata, SJ memutuskan untuk men dukung sepenuhnya perjuangan RI. Pada masa perang kemerdekaan ini, Mgr. Soegijapranata, SJ mengaktualisasikan integrasi katolisisme dan nasionalisme dengan terlibat aktif dalam menyuarakan keprihatinan Indonesia di dunia inter nasional. Dalam konteks ini, Romo Banar berusaha me maparkan keterlibatan Mgr. Soegijapranata, SJ dalam di plo masi dengan pihak Vatikan, dengan pihak Belanda, dan de ngan pihak lain berdasarkan datadata yang selama ini be lum banyak terungkap.
Dengan pembacaan yang tekun dan cerdas atas sejumlah catatan harian yang ditulis oleh Mgr. Soegijapranata, SJ pada tahun 1947–1949, Romo Banar berhasil merekonstruksikan kisah keterlibatan Vikaris Apostolik Semarang itu dalam re volusi nasional, khususnya yang terjadi di Yogyakarta.
xii
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
Dalam pembacaan intensif terhadap catatancatatan harian ter sebut, Romo Banar tidak hanya menemukan hubungan hubungan khusus (dalam konteks perjuangan) antara Mgr. Soegijapranata, SJ dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tetapi juga menjumpai adanya kesamaan dalam hal visi kerakyatan di antara kedua tokoh. Visi kerakyatan, visi meng abdi untuk rakyat, merupakan visi yang amat berharga, tetapi kini—menurut hasil refleksi Romo Banar—makin ter lupakan. Ringkasnya, elitisme merajalela, pemimpin men jadi langka, dan dimanamana ada penguasa. Nilainilai ke juangan seakanakan sirna ditelan zaman. Kepedulian kepada sesama, kepada yang lemah dan menderita, semakin mahal harganya justru ketika para penguasa dan pengusaha ber gelimang harta.
Nasionalisme yang tidak bisa ditawartawar yang di kampanyekan secara terusmenerus oleh Mgr. Soe gi japranata, SJ bagi praktik hidup umat Katolik dibedah lebih lanjut oleh Romo Banar dalam bab “Merdeka atau Mati versi Mgr. Soegijapranata”. Dalam pandangan Mgr. Soegijapranata, na sionalisme bukanlah melulu suatu kesadaran berbangsa, bu kan pula ideologi yang menanamkan cinta tanah air belaka. Menurutnya, di dalam nasionalisme terdapat pula nilainilai transendental dan keterarahan pada hidup abadi. Sikap rendah hati, serta pengakuan penuh syukur dan hormat ter hadap tatanan manusiawi dan adikodrati ataupun terhadap keadaan di mana penyelenggaraan ilahi telah melengkapi manusia dengan cakrawala akan hidup abadi merupakan
xiii Pengantar
bagian integral dari nasionalisme. Dengan keterlibatannya, Mgr. Soegijapranata, SJ membuktikan bagaimana kekatolikan dan nasionalisme tak terpisahkan. Menurut kajian Romo Banar, hal ini termasuk ketika dihadapkan dengan ungkapan MERDEKA atau MATI, karena keduanya ada di dalam se buah horizon yang sama.
Dalam penulisan sejarah, sering seorang penulis memiliki bertumpuktumpuk sumber tetapi menghasilkan tulisan ti dak lebih dari sekadar kumpulan data yang terangkai. Se baliknya, ada pula penulis, yang hanya berbekal beberapa sum ber mampu membuat tulisan yang bermutu tinggi. Pe nulis tipe pertama adalah penulis yang enggan untuk me mak simalkan daya interpretasi, daya imajinasi, dan daya analisisnya. Sementara, penulis tipe kedua adalah penulis yang justru mengandalkan pada optimalisasi ketiga daya itu. Penulis tipe pertama cenderung membatasi diri pada apa yang tersurat dalam sumber sejarah yang dipakai, sedangkan penulis tipe kedua masuk lebih dalam ke apa yang tersirat di balik yang tersurat. Oleh karena itu, penulis tipe kedua jauh lebih produktif dibandingkan dengan penulis tipe pertama. Bila penulis tipe pertama dengan bertumpuktumpuk sum ber hanya mampu menghasilkan satu tema dengan pem bahasan yang kering, maka penulis tipe kedua dengan be berapa sumber saja bisa menghasilkan banyak tema dengan pem bahasan yang sarat nilai. Lazimnya, penulis tipe kedua akan melanjutkan kajiannya hingga tingkat pemaknaan yang bersifat reflektif dari perspektif kepentingan masa kini.
xiv
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
Menurut hemat saya, Romo Banar termasuk penulis tipe kedua. Oleh karena itu, kendati tidak memiliki sum ber yang bertumpuktumpuk, ia bisa menarasikan dan meng eksplanasikan keaktoran Mgr. Soegijapranata, SJ dalam ba nyak tema yang menarik. Apalagi, ia juga meletakkan ke aktoran itu, baik pada aspek pemikiran maupun tindakan, dalam bingkai yang lebih besar. Bagi Romo Banar, ungkapan se perti “bapakbapak dan ibuibu, saudara dan saudari, anakanakku lakilaki dan perempuan, semua hadirin tanpa kecuali” dan sejenisnya bukan sekadar ungkapan tanpa mak na, tetapi ungkapan yang bisa memberikan petunjuk ten tang sikap atau pandangan dari pihak pengungkap me ngenai re lasi lakilaki dan perempuan. Begitu pula secuil catatan harian, seperti: “R.K. weling Suwandi kagem
Kandjeng Sultan, supaja ngendika lan ngantjani rakjat,” bisa
mem beri gambaran tentang visi kerakyatan Sultan ataupun
Rama Kanjeng (Mgr. Soegijapranata, SJ). Inilah yang sa
ya maksudkan dengan kemauan dan kemampuan untuk me nemukan yang tersirat di balik yang tersurat, sehingga sumber yang terbatas tidak menjadi kendala bagi kegiatan pengkajian yang produktif dan bermutu.
Berkat kemampuannya untuk menjadi penulis tipe kedua, Romo Banar terbukti berhasil menyajikan kilasan kisah Mgr. Soegijapranata, SJ dalam spektrum yang luas. Melalui kajiannya yang serius, uskup pribumi pertama Indonesia itu dihadirkan tidak sebatas semangat integratifnya atas ke katolikan dan nasionalisme, yang kemudian melahirkan
xv Pengantar
semboyan terkenal “100% Katolik, 100% Indonesia”, tetapi ter upakan sebagai manusia multidimensional. Integrasi da ri dua hal tadi ruparupanya telah menghasilkan sejumlah pe mikiran, sikap, dan tindakan turunannya, seperti: visi ke rakyatan, gagasan tentang pendidikan, pandangan me nge nai peran perempuan, prakarsa dalam pewartaan, dan sum bangan dalam formasi humaniora Mgr. Soegijapranata, SJ. Untuk menemukan turunannya itu, dan kemudian me narasikan dan mengeksplanasikan, dibutuhkan kemam puan interpretasi, analisis, dan imajinasi yang memadai. Selain itu, dibutuhkan pula kepekaan yang tinggi terhadap persoalanpersoalan aktual (masa kini). Sejarah memang berurusan dengan masa lalu, tetapi jelas tidak demi masa lalu. Studi se jarah akan produktif dan fungsional apabila masa lalu di pelajari karena ada persoalanpersoalan masa kini yang mem butuhkan solusi. Refleksi historis menjadi salah satu ke kuatan menuju masa depan yang lebih baik.
Sebagai catatan akhir pada pengantar, perlu disadari bahwa buku ini merupakan sebuah kumpulan karangan, yang masingmasing bertolak dari kepentingan masa kini tertentu, untuk audiens tertentu, dan tidak dirancang sejak awal sebagai satu kesatuan karya. Oleh karena itu, beberapa pengulangan praktis tak terhindarkan. Meskipun demikian, banyak sisi positif yang bisa diperoleh, termasuk di dalamnya kita bisa membaca dari bab mana pun. Perlu disadari pula, buku ini mengajak kita untuk berefleksi, berkaca dari masa lalu atas kekinian kita. Membaca buku
xvi
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
ini sama artinya dengan langkah awal penyiapan sebuah transformasi.
Selamat membaca.
Yogyakarta, 19 April 2012 Anton Haryono
D
aftar
I
sI
Pengantar v
Daftar Isi xvii
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata 1
Kekatolikan dan Nasionalisme
Kasimo dan Soegijapranata 27
Peran Mgr. Soegijapranata dalam Menyuarakan Keprihatinan Indonesia di Dunia Internasional 35 Sultan Hamengku Buwono IX
dan Mgr. Soegijapranata 51
Merdeka atau Mati Versi Mgr. Soegijapranata 69
Mgr. Soegijapranata dan Dunia Pendidikan 81
Peran Perempuan dalam Pandangan
Mgr. Soegijapranata 93
Mgr. Soegijapranata dan Tantangan Pewartaan 111
Sumbangan Mgr. Soegijapranata dalam Formasi
Humaniora 123
Catatan Akhir 137
s
eabaD
V
an
L
Ith
,
s
eabaD
s
oegIjaPranata
*B
arangkali akan dikatakan mengadaada atau bahkanberlebihan kalau menyebut bahwa tahun 1896 ada lah sebuah tahun penting bagi perkembangan Gereja Katolik Indonesia. Namun, menyimak bahwa pada bulan Oktober 1896 adalah saat pertama kalinya Rama van Lith menginjakkan kakinya di bumi Nusantara, lebih te patnya di pelabuhan Semarang, maka pernyataan di atas kiranya akan dapat dipahami. Apalagi mengingat juga bahwa 25 November 1896 adalah saat kelahiran Soegijapranata, uskup pribumi pertama di Indonesia. Tak pelak lagi tahun 1896 adalah sebuah awal fajar baru bagi Gereja Katolik Indonesia. Membaca nama Van Lith, dan Soegijapranata, orang dapat langsung berasosiasi de ngan suatu pandangan tertentu, yakni kekatolikan * Pernah dimuat dalam buku Gereja Indonesia pasca-Vatikan II. Refleksi dan
2
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
dan nasionalisme. Namun kekatolikan dan nasionalisme yang bagaimana inilah yang perlu direnungkan dan di dalami maknanya. Kita akan merenungkannya lewat se kilas sejarah, gagasan, serta perjuangan kedua tokoh tersebut.
Franz van Lith, SJ Riwayatnya Dulu
Rama van Lith, SJ, seorang Yesuit Belanda, semula tidak meng idamkan menjadi misionaris di Indonesia. Sebelum ada penunjukan dari pembesarnya untuk dikirim ke Indonesia, Van Lith lebih mengidamkan menjadi misionaris di tanah leluhurnya sendiri, daratan Eropa. Berbeda halnya dengan Hoovenaar, salah satu teman Yesuit yang datang ke Jawa Tengah bersamanya. Hoovenaar sejak semula memang telah mengidamkan menjadi misionaris di Indonesia. Bersama de ngan mereka berdua, pada waktu yang sama, ada 2 Yesuit lain yang dikirim ke Maluku. Sesampainya di Jawa Tengah mulailah penunjukan karya bersama 2 Yesuit lain yang berada di Semarang. Untuk mereka berdua, masingmasing diberi tugas memimpin sebuah wilayah misi: Van Lith di Muntilan dan Hoovenaar di Yogyakarta. Yang menjadi tugas pertama mereka adalah mempelajari bahasa dan budaya setempat.
Setelah pada tahun pertama menjalankan hal tersebut di Semarang, di Muntilan Van Lith bertugas memberikan pe
layanan pastoral.2 Keterbukaannya untuk mau belajar dan
3
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
untuk melibatinya memang membuahkan hasil. Bahkan— boleh kita sebut—berlimpah. Salah satu penjelasan mengenai kunci keberhasilan Van Lith dapat disandarkan pada sa lah satu komentar dari orang yang pernah mengalami lang sung Rama van Lith. Orang itu menggambarkan si kap beliau dengan ungkapan manjing ajur ajer (menyatu dan ti dak berjarak, sepenuhnya memahami polapikir dan meng ha yatinya dalam perilaku sebagaimana orangorang yang di layaninya).3
Tujuan Pendidikan dan Penanganannya
Mendirikan sekolah bagi anakanak pribumi di Muntilan ada lah karya Rama van Lith kemudian. Usaha ini mulai di rintis pada 1900 dengan murid yang hanya beberapa dan ge dung seadanya. Kala itu anakanak yang dididiknya se kaligus tinggal dalam asrama. Mengapa sekolah tersebut di dirikan? Apa tujuannya? Jawaban atas pertanyaan ter sebut dapat kita temukan dalam satu surat yang ditulis Rama van Lith pada 1904 yang mencerminkan hasil refleksi atas pengalamannya. “Usaha missi di antara bangsa Jawa mu lai dengan metoda yang salah: mewartakan Injil kepada in dividu. Kita harus insaf bahwa karya kita bergantung dari pen didikan pemimpin dan guru.” Sebuah rumusan yang bisa saja ditangkap bahwa pendekatannya bersifat elitis: kaum gu ru dan pemimpin. Namun, akan dapat dipahami untuk siapa gagasan strategis Van Lith tersebut diarahkan kalau kita menyimak bagaimana usaha Rama van Lith berburu
4
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
dan mencari murid: mendatangi sekolahsekolah pribumi— yang juga membuat Soegija bersekolah di Muntilan—, ber cakap dengan kaum tani di pedesaan tempat Rama van Lith mengadakan kunjungan wilayah/stasi antara lain un tuk menyadarkan kaum tani tentang pendidikan untuk anak anak mereka, berpesan pada alumni Muntilan untuk me nyekolahkan anakanaknya di Muntilan. Mendidik anak rak yat bawah sehingga pada gilirannya mereka menjadi pe mimpin dan pendidik bagi anakanak rakyat (bawah) lainnya. Tambahan lagi kalau memperhatikan bagaimana cara beliau mengajar dan berhubungan dengan muridnya di dalam kelas yang meretas hubungan hirarkis gurumurid, akan dapat kita pahami bagaimana gagasan pendidikan dan pe ngajaran tersebut dilaksanakan.4 Pilihan untuk terlibat dalam
pendidikan bagi anakanak pribumi merupakan sebuah kar ya terobosan sekaligus menjawab sebuah kebutuhan aktual saat itu. Ketika suasana masih berada dalam penindasan, ke miskinan, dan kurang cukupnya pendidikan bagi kaum
pri bumi, Rama van Lith memilih untuk berkarya di sana.5
Pilihan pendidikan, dan pilihan berkarya bagi kaum pri bumi merupakan sebuah karya peloporan yang sungguh me nerobos dari gaya tradisional para pendahulunya dalam kar ya mereka di Jawa.
Keyakinan akan daya guna pilihan karyanya di bi dang pendidikan bagi generasi baru (anakanak) serta pem baharuan yang akan dihasilkan dari pendidikan, sung guh diyakininya kalau menyimak ungkapan yang
5
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
beliau tulis ketika menghadiri sebuah upacara di Pen dapa Kraton Mangkunegaran di Surakarta. Dalam se buah ca tatan atas pengalamannya, Rama van Lith me nulis de mikian:
Pada upacara pernikahan Sri Mangkunegara dari Surakarta, saya ikut duduk di pendopo agung. Anak anak dari sekolahsekolah Jawa berpawai sebagai pramuka di hadapan Mangkunegara. Kebetulan pagi itu saya baru saja mengunjungi salah satu dari sekolahsekolah itu. Gurunya waktu itu tidak ada di halaman dan anakanak sedang bermain serdadu serdaduan. Seorang memberi abaaba, yang lain mengikuti. Saya kagum bahwa komandannya dapat memberikan perintahnya dengan nada yang tegas, suatu hal yang sama sekali tidak biasa dilakukan oleh orang Jawa dari generasi tua! Anak buahnya mengikuti perintah dengan cepat dan tepat. Pada waktu itu saya berpikir: alangkah besarnya pengaruh pendidikan pada mentalitas orang Jawa! Hari itu, pada saat saya menyaksikan ratusan pramuka dari Surakarta berbaris, dalam pikiran saya terlintas: kita tidak perlu kuatir akan pemimpinpemimpin Jawa masa kini, tetapi di sini telah berdiri pasukan yang nantinya akan mengusir kita ke dalam laut”. 6
Bahwa ternyata usaha rintisannya kemudian meng ha silkan orangorang yang menjadi soko guru bagi gereja pribumi, Gereja Katolik Indonesia, itu merupakan proses perjalanan berikutnya. Sebuah hasil yang tidak lepas dari
6
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
tanggapan generasi penerus yang telah mengenyam didik an Rama van Lith, menimba inspirasi, serta mendapat pen
dampingan Rama van Lith dalam proses awalnya.7
Suasana Kesehariannya
Sebagai sebuah karya perintisan, karya pendidikan yang di awali oleh Rama van Lith dimulai dengan hal yang sa ngat sederhana. Dokumen yang ditulis salah satu bekas mu ridnya mengenai keadaan bangunan yang digunakan ber ikut ini kiranya dapat memberi sedikit gambaran:
Rama van Lith sekolahnya terpaksa membangun dulu... Anakanak dibuatkan rumah sendiri, juga dengan bangun rumah model limasan (salah satu model rumah Jawa), beratap genting, berdinding bambu, tempat tidurnya dari bambu, lantainya tanpa ubin (tanah). Gerejanya sangat kecil, modelnya pencu, seperti rumah orangorang Semarang tempo dulu; (ketika saya datang ke Muntilan tahun 1924, bekas gereja tersebut masih ada) perlengkapannya gereja sangat sederhana tanpa hiasan macammacam. Bangunan sekolahnya model klabang nyander (model rumah Jawa yang lain) beratap atep (ijuk, jerami ?), berdinding bambu, mejanya rendah, duduknya di bawah menggunakan tikar, yang menjadi guru Arijadi—bekas murid yang tahuntahun sebelumnya sudah ikut belajar di Lamper, Semarang (peny.)— bersama 2 orang teman lainnya. 8
7
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
Itulah gambaran situasi awal di mana Rama van Lith dan muridmurid pertamanya memulai proses pen di dik an untuk anakanak pribumi di sekolah mereka yang ke mudian diberi nama Kolese Xaverius, tempat yang se karang dikenal sebagai SMA van Lith, Muntilan.
Mengenai suasana seharihari digambarkan dalam ke saksian lebih lanjut sebagai berikut:
Rama van Lith kalau tidak bepergian, sangat senang ikut bermain bersama anakanak dengan permainan: dhomino, Wilhelminaspel, gansenspel, dham,
8
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
macanan dan lainlain; yang menjadi favoritnya adalah catur. Selain permainanpermainan di atas, juga disediakan gambang dan gamelan. Pada suatu hari, ketika waktu ashar, Rama Van Lith sedang duduk di kursi malas di ruang depan dikerumuni banyak anak, bercerita tentang keadaan Eropa, hal hal lucu, dan yang menimbulkan ketakjuban. Pada saat itu cuaca mendung, hujan rintikrintik, diselingi guruh dan halilintar dengan kilat yang menyambar nyambar. Berhubung setiap kali ada kilat, Rama memerintah anakanak untuk berpencar membentuk kelompok tiga atau empat orang dan bermain di ruang dalam atau belakang. Baru saja berebut mencari teman kelompok dan tempat bermain, tibatiba di ruang depan terdengar suara guruh, mengejutkan. Anakanak yang masih berkerumun di sekitar Rama berseru: “ Rama, Rama, langitlangit di atas kepala Rama rusak dan terbakar” ... Setelah anakanak terlihat berkumpul, Rama bertanya: “Apakah ada yang celaka?” Jawab mereka: “Semua selamat”.
Kalau di dalam kelas Rama van Lith mencoba men jembatani hubungan gurumurid yang hirarkis de ngan se buah kedekatan (lihat catatan kaki no. 3), dalam ke hidup an asrama Rama van Lith mengajak keterlibatan dan tanggung jawab antarsesama. Dalam kehidupan as rama seharihari, kalau ada anak didik yang sedikit nakal se hingga menyelinap ke luar asrama dan sampai larut ma lam belum pulang, ia akan membangunkan anak yang
9
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
lebih besar untuk pergi mencari anak yang belum pulang itu. Suatu hal yang tentu membuat gerutu pada anak yang sudah pulas tidur, apalagi terpaksa harus bangun dan mencari temannya sampai ketemu. Kalau gerutuan itu terdengar oleh Rama van Lith, ia akan menanggapinya dengan tertawa sambil berkata, “Bocah, kowé aja garenengan,
kangèlanmu aku sing nrima; sarta mikira lan rumangsaa yen begja, déné kowe wis bisa mitulungi ngentasaké sadulurmu saka ing bilai” (Anakku, kamu jangan menggerutu, biar
kesulitanmu aku yang menangggungnya; berpikirlah dan merasalah bahwa kamu beruntung karena bisa me
nyelamatkan saudaramu dari bahaya).9
Usaha untuk melibatkan anak didiknya dalam hal tang gung jawab tersebut sejak awal sudah memperlihatkan buah nya. Suatu ketika Rama van Lith mengajukan surat per mohonan bantuan kepada pemerintah Belanda untuk mem peroleh bantuan guna pengembangan gedung sekolah dan asrama. Tanpa diminta atau disuruh oleh Rama van Lith, muridmuridnya pun membuat hal yang sama. Para murid membuat surat permohonan kepada Gubernemen di Jakarta untuk mendapat bantuan kayu guna memperbaiki dan memperluas gedung sekolah mereka. Dan usaha mereka— baik Rama van Lith maupun muridnya—ternyata berhasil, arti nya permohonan mereka dikabulkan. Tentu hal demikian bu kanlah tonggak kecil yang semakin menumbuhkan ke beranian mereka untuk turut mengambil prakarsa untuk ikut bertanggung jawab.
10
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
Pemihakannya kepada Yang Tertindas dan Penanaman Cinta Tanah Air
Sebagai akibat makin berkembangnya sekolah yang di rintisnya, Van Lith akhirnya tidak bisa berkarya sendirian. Untuk sekolahnya, yang kemudian bernama Kolese Xave rius, Muntilan, beliau mendapat bantuan Yesuit yang lain, baik imambruder maupun skolastik yang sedang men jalani masa formasi. Salah satunya adalah Rama van Driessche. Bagi I.J. Kasimo—yang mengenyam pendidikan di Muntilan antara tahun 19121917—salah satu ajaran Rama van Driessche yang sangat dikenangnya adalah in ter pretasi atas pokok keempat dari 10 Perintah Allah. Dalam interpretasi atas perintah keempat dari 10 Perintah Allah tersebut, perintah “Hormatilah ibu bapamu” tidak melulu diartikan sebagai terbatas pada penghormatan dan kecintaan terhadap orangtua yang telah melahirkan dan merawat, melainkan juga kepada semua pihak yang te lah turut memberi makan dan kehidupan.10 Ini berarti
ju ga hormat dan kecintaan kepada tanah air, suatu usaha meng gugah semangat patriotisme. Dengan demikian ber arti sebuah semangat kristiani yang diwujudkan dalam suasana setempat mengena, mendasar, dan sekaligus meng gugah karena menanamkan kesadaran untuk hormat dan cinta kepada tanah air, suatu usaha menggugah se mangat patriotisme dalam situasi penjajahan.
Dalam lingkup sejarah pergerakan politik di Indonesia, ke sadaran akan satu tanah air ini tonggak dasarnya akan
11
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
diletakkan pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 de ngan ikrarnya Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indo nesia. Kalau dilacak mundur yang mengacu pada ri wayat pemunculan, penggunaan nama Indonesia serta pe masyarakatannya dalam pergerakan nasional muaranya akan menuju pada pergerakan pelajar Indonesia yang tengah belajar di negeri Belanda sekitar tahun 1920an.11
Bagi Rama van Lith sendiri pemihakan terhadap kaum pribumi, dengan segala hakhaknya menjadi makin nyata pula dalam percaturan politik sehubungan dengan
pengangkatannya sebagai anggota Heerzeningcommittee.12
Dalam tulisannya yang berkenaan dengan hal ini Van Lith mengingatkan kepada golongan Kristen Belanda, yang akan juga memberi getah kepada golongan Kristen yang lain sebagai berikut:
Keinginan untuk mendominasi setiap orang Jawa, hanya karena dia seorang Jawa, sama halnya dengan bermain api. Hargailah hakhak orang pribumi, kalau kamu juga menginginkan hakhakmu diakui. Lepaskanlah dengan sukarela hakhakmu yang semu, dan tanggalkan juga privilegiprivilegi yang kalian peroleh. Ingatlah bahwa di dalam Gereja Kristus tidak ada lagi pembedaan apakah dia orang Jahudi, orang Romawi atau orang Yunani, juga tidak ada pembedaan apakah dia orang Belanda atau orang Jawa. Dan kiranya apa yang sejak awal telah menjadi norma di dalam gereja sekarang hendaknya menjadi norma juga di luar gereja: orang Belanda, orangorang Indo Eropa dan orangorang Jawa
12
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
mulai sekarang dan seterusnya akan hidup sebagai saudara. Jika tidak maka dalam waktu dekat pasti akan terjadi perpecahan.13
Dalam ungkapannya lebih lanjut Van Lith menyata kan ke kecewaan dia terhadap perilaku orang Belanda yang a da serta pesan bagi orangorang Katolik.
Dalam pandangan umum diketahui bahwa setiap orang Belanda adalah orang Kristen, padahal di Hindia Belanda hampir tiap orang Belanda yang adalah Kristen telah memberi cap yang salah / negatif bagi missi Protestan dan Katolik karena semua pelanggaran dan kesalahan setiap orang Belanda ditimpakan kepada semua orang Kristen. Karenanya perlu untuk mengoreksi gambaran salah ini, dan orang Jawa telah mulai melihat terhadap missi Katolik sebagai kekuatan yang menjaga jarak terhadap nasionalisme Belanda serta berusaha menjalin hubungan lebih erat dengan jiwa hidup orangorang Jawa. Keyakinan bahwa Gereja Katolik berjuang keras untuk perkembangan dan kesejahteraan orangorang Jawa dan tidak mempunyai maksud tersembunyi untuk Belanda, membuat orangorang Katolik berseberangan dengan para pengeruk uang dan para penindas. Dan ini perlu makin lama makin kuat.14
Dalam pembelaan terhadap kaum pribumi tersebut Rama van Lith tidak hanya berteori dan berkatakata ko song, karena justru tulisan tersebut dibuat sebagai hasil re fleksi atas pengalamannya. Kesaksian bekas muridnya
13
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
menyebutkan bagaimana Rama van Lith mencarikan pe kerjaan untuk muridmuridnya yang tidak berminat untuk meneruskan belajar, atau membela orang pribumi yang be perkara dengan pemerintah. Dalam hal ini Rama van Lith akan datang sendiri menemui pegawai pemerintah yang berhubungan dengan orang yang dibelanya. Rama van Lith juga memberikan pengertian mengenai hakhak kaum pribumi ketika mengadakan kunjungan ke wilayah
wilayah pedesaan.15 Dengan demikian pembelan terhadap
kaum lemah tidak melulu dengan memberi nasihat dan pertimbangan. Tidak pula melulu bantuan karitatif. Tetapi pembelaan keadilan baik penyadaran akan hakhak me reka, maupun pembelaan nyata berhadapan dengan ins tansi yang berwenang.
Kesan Orang terhadap Rama van Lith
Rama van Lith telah hadir selama 30 tahun di Jawa Tengah (18961926) sebagai salah satu perintis yang meng integrasikan kekatolikan dengan semangat—dalam
arti tertentu—nasionalisme.16 Selain seorang Bruder Ye
suit Jawa yang menyebut pribadi Rama van Lith telah
manjing ajur ajer dengan budaya dan masyarakat Jawa, J.
Sastradwija—salah seorang murid angkatan pertama— me nulis kesaksian pengalamannya bersama Rama van Lith se panjang 34 halaman. Berbagai peristiwa yang dialami nya bersama Rama van Lith ditulisnya: ketika ia menjadi mu rid dan diajak ke stasi, Van Lith menyelimutinya dengan
14
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
jubahnya ketika tidur malam kedinginan; ketika temannya sakit dan sampai meninggal Rama van Lith mengurus se gala hal sampai dengan misa Requiemnya; ketika mem bantu menjadi pengawas asrama ia dibangunkan untuk mencari anak didik lain yang sampai larut malam belum kembali ke asrama; ketika sudah menjadi guru di daerah lain dan menyambut kunjungan Rama van Lith dengan me nyembelih ayam untuk lauknya ia ditegur karena di anggap melakukan pemborosan.
Tom Jacobs menuliskan kesan tentang Rama van Lith sebagai seorang pendiam, tidak pandai omong dan ber gaul kendati ia mengusahakan diri untuk menjadi dekat dengan umat, sekaligus Van Lith adalah seorang pemikir sung guh yang memiliki jiwa imam yang luhur dan penuh kasih.17 Selain itu masih ada beberapa kesan lainnya.18
Sekarang yang masih tertinggal selain sebuah sekolah yang menggunakan namanya adalah sebuah makam di kom pleks Kerkop Muntilan bercungkup putih sederhana de ngan sebuah tulisan pada batu nisannya:
Rama F. van Lith, SJ
ingkang ambakali missie ing tanah Djawi Mijos ing Oirschot, NoordBrabant 17 Mei 1863 Dados imam kala taoen 1894
Seda wonten ing Semarang 9 Djanoewari 1926 Pisoengsoeng saking para poetra poeroehita
15
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
Semangat Van Lith Berlanjut pada Soegijapranata
Soegija—nama kecil dari Mgr. Soegijapranata, SJ—adalah salah satu murid yang berhasil dijaring Rama van Lith dari kun jungannya ke sekolahsekolah rakyat kaum pribumi. Se jak masa awal saat memasuki pendidikan yang dikelola Van Lith, Soegija menyatakan tidak ingin menjadi Katolik. Ia menyatakannya tidak hanya kepada ayahnya tetapu juga ke pada Rama Mertens, rama pamongnya di Muntilan. Bahkan ia mengejek rama Belanda datang ke Jawa, Indonesia, hanya untuk mengeruk kekayaan dan setelah itu akan pulang ke negerinya. Bahwa setelah setahun tinggal di Muntilan, Soegija kemudian mengikuti pelajaran magang untuk agama Katolik, mulanya lebih didorong oleh keingintahuannya. Na mun toh kemudian ia minta dibaptis.19
Tahun 1915, Soegija lulus dari Kweekschool Muntilan lalu setahun menjadi guru di almamaternya. Setahun ke mudian ia mengajukan diri untuk menjadi imam dalam ordo Serikat Jesus. Untuk itu Soegija menjalani persiapan de ngan belajar bahasa Yunani dan Latin selama dua tahun di Muntilan. Masih ditambah satu tahun lagi di Belanda untuk persiapan bahasa. Selesai menjalani kuliah Filsafat, antara tahun 19261928, Soegija mengajar di almamaternya di Muntilan serta menjadi redaktur mingguan Katolik berbahasa Jawa, Swaratama. Kemudian ia kembali me lan jutkan studi di Belanda sampai ditahbiskan imam. Baru mu lai bulan Agustus 1933, Soegija pulang ke Indonesia. Ia berkarya sebagai pastor paroki di Bintaran, Yogyakarta—
16
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
sebuah paroki untuk kaum pribumi—sampai pada 7 Agustus 1940 dipilih oleh Pius XII untuk menjadi Vicaris
Apostolic di wilayah Semarang.
Sebelum kepindahannya ke Semarang sebagai uskup, Soegijapranata mengungkapkan salah satu rahasia priba dinya. Beliau menyatakan, motivasinya memilih jalan hi dup menjadi imam bukanlah melulu alasan religius, saja tetapi juga dorongan rasa nasionalismenya.
... keputusanku untuk menjadi imam itu karena didorong untuk mengabdi bangsa. Saya telah mencari beberapa kemungkinan profesi, tetapi tidak ada yang lebih memungkinkan untuk memuliakan Tuhan dan sekaligus untuk mengabdi bangsa selain menjadi imam.20
Semangat pengabdian kepada Gereja, negara dan bang sa ini secara terus menerus ditunjukkan dalam seluruh per jalanan hidup selanjutnya. Ketika pemerintah Indonesia menghadapi serbuan Agresi Belanda dan memindahkan ibukota negara ke Yogyakarta, Mgr. Soegijapranata me nun jukkan solidaritasnya dengan memindahkan pusat pe merintahan keuskupannya dari Semarang ke Bintaran Yogyakarta. Beliau juga mengurus kepentingan keluarga Presiden Sukarno yang ada dalam pengungsian saat itu. Se mangat tersebut ditularkan pula melalui suratsurat dan berbagai pidatonya dalam berbagai kesempatan baik dalam konferensi maupun melalui radio.
17
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
“100% Katolik, 100% Indonesia”
Sampai saat ini di kalangan orang Katolik semboyan Mgr. Soegijapranata “100% Katolik, 100% Indonesia” tetap sa ngat populer. Sebuah ungkapan yang mencerminkan ajakan un tuk mengintegrasikan sekaligus antara kekatolikan dan na sionalisme. Sudah sejak awal masa kepemimpinannya se bagai uskup Mgr. Soegijapranata berharap umat Katolik tidak menjadi orang yang hanya berhenti se bagai orang yang hanya devotif pada halhal seputar li turgi, melainkan bergulat dengan kekatolikannya dalam kehidupan sehari hari. Dalam sambutannya dalam ma jalah Swaratama—yang pernah dipimpinnya—beliau me nulis sebagai berikut:
Memang, tidak sedikit jumlahnya orang yang kemudian menjadi luntur, menjadi sama seperti kanankirinya, hilang kekhasannya sebagai Katolik. Sebagian malah menjadi enggan kalau ketahuan bahwa dirinya Katolik; bangga bahwa dapat menyatu dengan cara menyamar, berkulit bunglon. Betapa kasihan.
... SwaraTama tidak bermaksud membujuk orang berkalung rosario, menjajar medalimedali, dan mendaras doa sepanjang jalan. Yang dituju (oleh SwaraTama) adalah agar dapat memberi tuntunan dan melatih cara hidup Katolik lahirbatin, tidak memandang tempat, derajat kedudukan maupun asalusul. Segala pengalaman hidup akan dibeber dan dibahas dalam kacamata Katolik, agar para pembaca
18
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
senantiasa memegang tekad serta keyakinannya baik di gereja, di jalan, di tempat perjamuan, pekerjaan dan tempat hiburan, atau di mana pun tanpa perduli kanankirinya, agar jelas memperlihatkan bahwa kehidupannya telah dilandasi keyakinan akan kehidupan yang luhur”.21
Cara hidup Katolik yang dimaksud oleh Mgr. Soegija bukanlah yang terpisah dari kegiatan hidup seharihari. Berulang kali dalam surat gembalanya sebagai uskup, Mgr. Soegija menjabarkan prinsipprinsip kekatolikan
ter sebut dalam halhal praktis. Rama Mangunwijaya
meng garisbawahi tentang keteguhan iman Katolik dan ke murnian dalam kesusilaan yang perlu ditampilkan de ngan kelemahlembutan, kesabaran, dan keramahan se bagaimana diajarkan oleh Mgr. Soegija dalam hidup meng gereja dan bermasyarakat.22
Semboyan terkenal Mgr. Soegijapranata “100% Katolik dan 100% Indonesia”—sebenarnya beliau lebih
meng gunakan kata patriot23—diungkapkan dalam pi
dato pembukaan KUKSI (Kongres Umat Katolik Se luruh Indonesia) II di Semarang tanggal 27 Desember 1954. Di hadapan umat Katolik yang berkongres Mgr. Soegijapranata menyatakan:
... yang diperhatikan oleh masyarakat kita adalah apakah Gereja Katolik beserta umatnya itu ada gunanya, berdaya guna untuk negara dan Rakyat Indonesia? Apakah umat Katolik Indonesia memiliki keberanian yang tangguh untuk turut mengisi
19
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
kemerdekaan—yang telah berhasil dijangkau— dengan tatatentrem, kertaraharja dan kemakmuran baik jasmani maupun rohani?
Dalam kaitan dengan tantangan tersebut Mgr. Soegija me nyatakan, “Jika kita benarbenar Katolik sejati sekaligus kita juga patriot se ja ti. Karenanya kita adalah 100% patriot, ka rena kita adalah 100% Ka to lik.”24
Untuk menanamkan kesadaran tentang “100% Ka tolik, 100% Indonesia” tersebut, Mgr. Soegijapranata ber kalikali membeberkan pengertian tentang Gereja dan tentang negara serta peran keduanya secara timbal balik se bagai kerangka pemahamannya.
“Negara tugasnya memelihara, menyatukan, meng atur serta mengurus kehidupan rakyat de ngan bertindak yang terarah pada kesejahteraan, ke tentraman, kepentingan umum yang bersifat se mentara, bersifat lahiriah dan duniawi. Sedang Gereja Katolik bertugas memelihara, membimbing dan mengembangkan kehidupan rohani manusia dengan mengurus segala hal yang ada hubungannya dengan agama, peribadatan, kesusilaan, kerohanian yang sifatnya tetap, kekal, surgawi dan mengatasi kodrat.
... Dengan menjamin ketentraman, normanorma, ke sejahteraan, budaya, dan hakhak asasi, negara mem persiapkan suatu iklim yang perlu bagi perkembangan hidup keagamaan dan moralitas. Gereja Katolik
20
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
dengan menjaga hidup keagamaan, moralitas, ke jujuran, kesetiaan terhadap janji, keadilan, cinta ke pada sesama, dedikasi terhadap pekerjaan dan lem baga; dengan cara mendidik untuk menaruh hor mat kepada peminpin, dan mengarahkan untuk ber tindak seturut hukum, berarti Gereja membangun suatu dasar yang kokoh bagi masyarakat dan pe merintahan.”25
Dengan kedua pemilahan tugas dan tanggung jawab tersebut diungkapkan bahwa “negara menyiapkan suasana yang sangat penting demi mekarnya hidup keagamaan dan kesusilaan. Di sisi lain gereja memberikan dasar yang kokoh untuk hidup kemasyarakatan dan pemerintahan”.
Mgr. Soegijapranata saat ditahbiskan sebagai Vikaris Apostolik Semarang.
21
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
Terhadap kesadaran untuk memberikan pengabdian ke pada Gereja dan negara, Mgr. Soegijapranata berpesan ke pada orang tua dalam pendidikan anak, “Para Bapak dan Ibu, didiklah anakanakmu dengan cara Katolik dan nasional, agar senantiasa berkembang dalam kerohanian dan jasmaninya seraya memperhatikan agama dan bangsanya sehingga men jadi tertata, siap untuk menunaikan tugas rohaninya mau pun tugas biasa lainnya. Gemblenglah mereka dengan te ladanmu ... .” Terhadap kaum muda, Mgr. Soegijapranata me nunjukkan sebutan yang mereka miliki sebagai “kusuma bangsa dan harapan Gereja”.26
Lebih lanjut, dengan menggunakan rumusan yang mirip dengan apa yang dikenang oleh I.J. Kasimo atas interpretasi Romo van Driessche terhadap pokok keempat dari 10 Perintah Allah, Mgr. Soegijapranata memberikan landasan moral sosial dan landasan teologis bagi pengintegrasian ke katolikan dan nasionalisme. “Jika kita sungguhsunguh Ka tolik sejati, kita sekaligus patriot sejati. Karenanya, kita me rasa bahwa kita 100% patriot, justru karena kita adalah 100% Katolik. Lagipula, bukankah menurut perintah ke 4 dari 10 Perintah Allah—sebagaimana ada dalam Katekismus—kita wajib mencintai Gereja Kudus, juga, kita wajib mencintai ne gara, dengan seluruh hati kita”. Selain itu beliau juga meng ingatkan akan ajaran Yesus, “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”
22
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
Kekatolikan dan Nasionalisme Rama van Lith dan Mgr. Soegijapranata
Dalam dinamika usaha Rama van Lith, terlihat bahwa pa ham nasionalisme yang dimilikinya bertolak dari si tuasi penindasan kolonial Belanda, sehingga yang dia upa yakan adalah turut merintis pembebasan dari situasi ketertindasan.27 Sementara itu, Mgr. Soegijapranata yang
mengalami dua zaman—periode di bawah penjajah dan periode kemerdekaan—sejak masa mahasiswanya telah menyumbang gagasan tentang kemerdekaan sebuah ne gara. Dan dalam masa berikutnya sebagai uskup, Mgr. Soegija tetap menaruh perhatian terhadap perwujudan rasa nasionalismenya.
Mgr. Soegija memandang pada dua wilayah yang men jadi tempat perwujudan nasionalismenya, yakni da lam wilayah negara dan bangsa sebagaimana dimengerti dalam teori bahwa paham nasionalisme mencakup dua konsep, yakni bangsa dan negara. Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pemerintah yang menjalankan fungsi sebagai negara yang berdaulat, Mgr. Soegija, mengingatkan baik wakil rakyat maupun pemerintah mengenai nilai nilai yang perlu dipegang dalam menjalankan fungsi mereka. Dengan mengurai makna demokrasi, beliau se cara khusus menunjukkan konsekuensi logis tugas yang ha rus diemban wakil rakyat.28
Dalam kaitannya dengan bangsa yang merangkum rak yat yang mendiami wilayah negara, Mgr. Soegija tidak
23
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
ha nya menyadarkan hak dan kewajiban umat Katolik se
bagai warga negara,29 namun sekaligus juga turut me mi
kirkan hal praktis untuk mengangkat kondisi hidupnya.30
Kekatolikan dan Nasionalisme Sekarang itu Apa?
Bagi umat Katolik, tantangan yang dirumuskan oleh Mgr. Soegija dengan ungkapan “yang diperhatikan oleh masyarakat kita adalah apakah Gereja Katolik beserta umatnya itu ada gunanya, berdaya guna untuk negara dan Rakyat Indonesia?” masih tetap berlaku. Pengertian bahwa nasionalisme adalah “usaha untuk menciptakan budaya dan pemerintahan yang mendukung suatu budaya dengan sebuah naungan politiknya yang mandiri” menjadikan nasionalisme sebagai sebuah realitas yang perlu terus menerus dihidupi, bukannya nasionalisme sebagai sebuah mitos masa silam ataupun slogan. Untuk menghidupi realitas ini sebagai orang Katolik perlu didukung dengan keteguhan dalam mempertahankan keutuhan iman serta kemurnian kesusilaan.
Perkembangan zaman yang membawa masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial yang dipenuhi karya teknologi memang menciptakan pula perubahan dari manusiamanusia agraris menjadi manusiamanusia industrial. Dalam proses ini terciptalah pergeseranper geseran, sehingga perlu dilihat ke mana arah pergeseran pergeseran tersebut tertuju, sampai sejauh mana pergeser anpergeseran berlangsung. Dalam hal ini perlu diingat bahwa pluritas masyarakat Indonesia berada dalam
24
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
rentang panjang, dari teknologi tungku—dalam praktik kehidupan masyarakat Papua dan sebagian Maluku adalah
tek nologi “bakar batu”31—sampai teknologi komputer
de ngan internetnya yang mampu menjalin komunikasi mondial.
Sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di pedesaan bukanlah pihak pemakai teknologi mutakhir atau pun yang telah siap untuk hal tersebut. Dalam suasana ini mengintegrasikan kekatolikan dan nasionalisme perlu tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat luas; suatu usaha menjawab tantangan zaman demi penegakan keadilan menghadapi masalah keterbelakangan umat ma nusia, jurang perbedaan kayamiskin, kemandirian dan kerjasama berbagai kelompok dan etnis.
Dalam usaha ini berlangsung dinamika pewartaan iman dan penegakan keadilan, bukan sebagai sebuah ge rakan fanatisme atau separatisme yang terkotakkotak dalam ideologi agama. Sebaliknya, dinamika keduanya ber arti mengintegrasikan pewartaan iman dalam usaha membela yang kecil, lemah, terbelakang, dan tertindas se bagai misi Gereja yang hadir di tengah dunia yang me rupakan bagian integral umat Allah dalam peziarahan un tuk menanggapi Misteri Penyelamatan Allah. Sebuah tantangan yang perlu jawaban lewat pemikiran namun lebihlebih dalam tindakan.
Mengakhiri renungan pengintegrasian kekatolikan dan nasionalisme dalam mengenang seabad kehadiran
25
Seabad Van Lith, Seabad Soegijapranata
kedua tokoh pelopor dalam bidang tersebut, berikut ini sebuah pesan Mgr. Soegijapranata dalam pembukaan KUKSI Desember 1954 untuk mengawali diskusidiskusi yang akan dilangsungkan dalam kesempatan tersebut:
“Semoga para saudara terkasih di dalam musyawarah senantiasa berlandaskan pada azas Katolik yang luhur ini: in dubiis libertas, in necessariis unitas, in omnibus caritas,32 yang artinya: dalam perkaraperkara yang
masih meragukan kiranya ada kemerdekaan, dalam perkara penting dan genting kiranya saling bersatu, dan dalam segala hal agar saling mencintai.”
Kiranya prinsip tersebut tetap dapat menjadi titik to lak dalam bermusyawarah maupun menjadi pedoman bagi cara bertindak dalam kehidupan bersama mewujudkan kekatolikan dan nasionalisme yang terarah kepada pe wartaan iman dan penegakan keadilan dengan sikap ter buka untuk berdialog.
K
eKatoLIKan
Dan
n
asIonaLIsme
K
asImo
Dan
s
oegIjaPranata
*M
embahas I.J. Kasimo dan Mgr. A. Soegijapranata kitatidak dapat meninggalkan tema kekatolikan dan na sionalisme. Riwayat keduanya bermula dari pendidikan awal yang diterima di Muntilan. Mereka hanyalah dua dari 600 murid lebih yang dalam selang antara 18981922 terdaftar di Kolese Xaverius, Muntilan. Dari Muntilan mere ka menerima visi dasar yang sama, yakni kekatolikan dan nasionalisme. Para pengurus Partai Katolik yang didirikan Kasimo dan kawankawan sebagian adalah alumni Kolese Xaverius. Demikian pun penggerak umat Katolik Vikariat Apostolik Semarang di bawah pimpinan Soegijapranata sebagian adalah alumni Muntilan.
Kasimo belajar di Muntilan selama tiga tahun, lalu pindah belajar bidang pertanian di Bogor. Dari keterlibatan * Pernah dimuat dalam Majalah HIDUP edisi No. 36 Thn. LIX, 4 September
28
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
di bidang pertanian, Kasimo banting setir ke bidang politik. Tahun 1923, bersama 25 orang lulusan Muntilan, Kasimo mendirikan Pakempalan Politik Katolik Djawi (PPKD) di Yogyakarta. Dalam karier politiknya, Kasimo diangkat sebagai anggota Volksraad pada 1931.
Soegijapranata belajar di Muntilan sampai me nye le sai kan program pendidikan guru selama 6 tahun. Setelah praktik mengajar satu tahun, ia memilih jalur imamat, di tahbiskan tahun 1931, dan mulai berkarya di Yogyakarta sejak 1933.
Pada masa mudanya, keduanya berhadapan dengan situasi kolonial Belanda dan Gereja Katolik yang masih berwajah Belanda. Sesudah kemerdekaan, keduanya ber juang menghadirkan Gereja Katolik berwajah Indonesia yang tengah meng isi kemerdekaan.
Kiprah dan Konsistensi
Pilihan Kasimo terlibat di bidang politik bermula dari peng alaman pahit karena dikatakatai sebagai anak monyet oleh koleganya orang Belanda di Kutoarjo, Jawa Tengah. Peng alaman tersebut menyadarkan sebagai orang yang terbuang dan terasing di negeri sendiri. Itulah yang mendorong Kasimo mendirikan PPKD. Sejumlah orang yang ikut men dirikan PPKD semula bergabung dalam Boedi Oetomo yang dapat menampung mereka karena azasnya yang se kuler. Berhubung tidak ada warna keagamaan, mereka ti dak puas sehingga mulai mendirikan organisasi sendiri.
29
Kekatolikan dan Nasionalisme Kasimo dan Soegijapranata
Mulanya, PPKD berafiliasi pada IKP (Indische Katholike
Partij) sebagai strategi untuk memperoleh pengakuan. Ti
dak lama sesudah pendirian, PPKD memutuskan diri dari keterkaitannya dengan IKP. Penyebab utamanya, IKP tidak per nah memerhatikan hakhak orang pribumi. Dalam per juangan politik selanjutnya, anggota PPKD bersekutu de ngan pergerakan nasional Indonesia. Dalam sidangsidang Volksraad, sebagai pelaksana garis partai, Kasimo kerap ber tentangan dengan anggota Katolik IKP yang tetap men dukung penjajahan.
Soegijapranata mulai mendapat habitat untuk me nerjemahkan kekatolikan dan nasionalisme ketika antara 19261928 menjalani masa praktik di almamaternya. Masa itu, frater Soegija terlibat di bidang penerbitan ma jalah
Swaratama sehingga memungkinkan beliau untuk me
nuangkan gagasan yang berkaitan dengan masalahma salah sosial, politik, budaya, dan agama. Dalam tulisan ber seri berbahasa Jawa, Soegija pernah memberi kursus ter tulis tentang Marxisme. Di samping itu, tugasnya ada lah mengajar agama, bahasa, dan ilmu aljabar serta men jadi pamong asrama.
Kasimo dan Soegijapranata mulai bertemu langsung tatkala Soegijapranata kembali dari Belanda dan berkarya sebagai pastor paroki di Yogyakarta. Waktu itu Kasimo telah menjabat Ketua Partai Katolik. Mereka pernah ber sama mengoordinir Hari Katolik untuk orang Jawa (Javaansche Katholieken Dag) tahun 1935. Pada kesempatan
30
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
tersebut, orangorang Jawa yang tersebar di berbagai pe losok dikumpulkan untuk mengikuti kegiatan rohani, sosial, dan hiburan.
Mereka juga terlibat dalam Katolika Wandawa di mana Soegijapranata menjadi penasihat rohani sedangkan Kasimo menjadi salah seorang komisaris perkumpulan. Sebagai imam, Soegijapranata juga menjabat penasihat rohani untuk organisasi Katolik pribumi yang lain. Se dangkan Kasimo terlibat dalam Roekti Soeri, sebuah per usahaan asuransi yang dikelola oleh orangorang Katolik pribumi. Dalam perkembangan selanjutnya, Kasimo lebih banyak berkecimpung dalam Partai Katolik.
Demikianlah, pergulatan kekatolikan dan nasional isme yang menjadi idealisme dan pedoman perjuangan ke dua orang tersebut digeluti bersama rekan sekerja di dalam lingkup kerja masingmasing. Kasimo dan re kan rekan Partai Katolik bergerak melalui jalur politik, se dangkan Soegijapranata melalui jalur pelayanan rohani umat yang didampinginya. Kendati demikian, dalam ber bagai ungkapan dan kebijakannya Soegijapranata mem perlihatkan keperdulian di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
Figur Lain
Hubungan Kasimo dan Soegijapranata kiranya tidak dapat dilepaskan dari figur lain yang terkait dengan keduanya. Mgr. Willekens, Mgr. Djajaseputra, serta Presiden Sukarno
31
Kekatolikan dan Nasionalisme Kasimo dan Soegijapranata
merupakan orangorang yang menjadi titik temu atau titik pisah antara Kasimo dan Soegijapranata. Willekens dan Djajaseputra berhubungan dengan Kasimo dalam ke dudukan mereka sebagai Vikaris Apostolik Batavia (Jakarta). Bagi Kasimo, mereka adalah pemimpin hirarki yang menjadi acuan untuk mencari orientasi ajaran Katolik se bagai pedoman dalam berbagai kebijakan partai.
Bagi Soegijapranata, Willekens adalah seniornya yang mem bimbing sejak awal perjalanan hidup membiara. Hubungan tersebut kemudian meningkat menjadi kolega saat Soegijapranata menjabat Vikaris Apostolik. Ketika Jepang menggantikan Belanda, keduanya bekerjasama secara erat—baik langsung maupun lewat kurir—untuk menjalankan diplomasi mempertahankan keberadaan Ge reja Katolik berhadapan dengan pemerintah Jepang. Se bagai senior, Willekens lebih banyak pengetahuan dan peng alaman. Di sisi lain, Soegijapranata sebagai pribumi ten tu lebih memahami pola pikir dan pola bertindak umat yang dilayaninya.
Relasi kedua orang tersebut berlangsung dalam tiga periode, mulai masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan masa kemerdekaan. Situasi aktual masingmasing periode membutuhkan pemikiran dan strategi tersendiri un tuk sampai pada suatu kebijakan tertentu.
Tahun 1953, Djajaseputra menggantikan Willekens. De ngan demikian ia mempunyai fungsi yang sama bagi Kasimo. Sedangkan bagi Soegijapranata tidaklah demikian.
32
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
Mgr. Soegijapranata, Kasimo, dan Presiden.
Djajaseputra, kakak angkatannya dalam Serikat Yesus. Tat kala menjabat Vikaris Apostolik Semarang, Djajaseputra men jabat sebagai wakilnya. Kedua orang tersebut memiliki karakter yang berbeda dalam berhadapan dengan pihak pihak nongerejani. Soegijapranata lebih mampu bergaul dan men dekatkan diri pada pihak lain, sedangkan Djajaseputra terasa lebih menjaga jarak.
Hal terakhir tersebut berpengaruh dalam berhadapan dengan Presiden Sukarno yang memiliki kedekatan dengan kelompok komunis. Karakter Djajaseputra tersebut memiliki kesamaan dengan Kasimo. Maka, tatkala berhadapan dengan kebijakan Presiden Sukarno yang mengetengahkan Konsepsi
33
Kekatolikan dan Nasionalisme Kasimo dan Soegijapranata
bekerja sama, sedangkan Soegijapranata tetap mendukung. Kebijakan Soegijapranata lain, ia merasa perlu adanya orang Katolik yang terlibat dalam kebijakan politik Presiden Sukarno itu. Hal ini direalisasikan dengan kehadiran Ir. Supardi, sa lah satu orang kepercayaan Soegijapranata untuk duduk dalam Dewan Nasional yang menjadi perwujudan Konsepsi
Presiden.
Demikianlah, kendati kekatolikan dan nasionalisme memiliki pedoman yang sama, namun dalam kebijakan praktis antara satu dengan yang lain dapat memiliki per bedaan. Hal tersebut dapat dipahami mengingat prin sipprinsip utama yang menjadi pegangan, masih mem butuhkan berbagai pertimbangan lain yang menjadi acuan interpretasinya. Sehingga kebijakan praktis dapat be ragam tanpa meninggalkan pedoman umum bahwa ke bijakan politis berorientasi pada kesejahteraan umum se luasluasnya. Dan dalam orientasi tersebut, para tokoh itu sekaligus mengusahakan kehadiran dan keterlibatan Gereja Katolik dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.
P
eran
m
gr
. s
oegIjaPranata
DaLam
m
enyuaraKan
K
ePrIhatInan
I
nDonesIa
DI
D
unIa
I
nternasIonaL
*D
alam khasanah penerbitan buku, setidaknya telah adatiga (3) buku yang mengulas hidup dan keterlibatan Mgr. Soegijapranata. Ketiganya adalah Mgr Albertus
Soegijapranata, S.J skripsi Sr. Henricia Moeryantini, di
terbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende (1975), Saat-saat
Terakhir bersama Mgr. Albertus Soegiijapranata, S.J. ditulis
1988 oleh alm. Rama J. Harsasusanta, Pr. yang men jabat sekretaris uskup dan mendampingi Mgr. Soegijapranata sampai pada saatsaat terakhirnya, dan Mgr. Albertus
Soegijapranata, S.J.. Antara Gereja dan Negara ditulis oleh
Bapak Anhar Gonggong diterbitkan Grasindo 1993. * Makalah Seminar Nasional “Membangun Humanisme Baru dan Cinta Tanah Air berdasarkan Inspirasi Soegijapranata” yang diselenggarakan Unika Soegijapranata, Semarang, 1 Agustus 2003.
36
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
Masingmasing buku memperlihatkan latar belakang pemikiran dan kekhasan tersendiri. Di samping itu masih ada sejumlah tulisan lain, seperti Internos terbitan intern SJ di Indonesia yang menerbitkan edisi khusus obituari Mgr. Soegijapranata; tulisan alm. Rama YB Mangunwijaya berjudul “Mengenang Seorang Gerejawan Besar, Mgr. Soegija”.3 Melengkapi terbitan yang telah ada, saya sendiri
telah memunculkan dua (2) tulisan,4 dan disertasi saya
yang mengulas tentang proses kemandirian Keuskupan Agung Semarang dalam periode 19401981, mencakup masa episkopat 2 uskup, yakni Mgr. Soegijapranata dan
Kardinal Darmoyuwono.5 Untuk tidak mengulang apa
yang pernah saya tulis, berikut ini saya mengetengahkan tema sebagaimana telah saya tulis dalam judul bab ini: “Peran Mgr. Soegijapranata dalam Menyuarakan Ke pri
hatinan Indonesia di Dunia Internasional”.6
Latar Belakang
Ada dua hal yang dapat menjadi latar belakang peran Mgr. Soegijapranata dalam diplomasi internasional. Pertama, berkaitan dengan eksistensi Gereja Katolik di Indonesia. Kedua, peran Mgr. Soegijapranata dalam usaha diplomasi internasional pada latar belakang pergerakan nasional. Da lam sejarah pergerakan nasional di awal kemerdekaan RI, usaha diplomasi sangat penting dan menentukan meng ingat awal kemerdekaan merupakan masa di mana
Peran Mgr. Soegijapranata dalam Menyuarakan Keprihatinan Indonesia di Dunia Internasional
37
di satu pihak Indonesia menghadapi pemerintah Belanda yang belum mengakui kemerdekaan dan masih berusaha mengukuhkan kembali penjajahannya terhadap Indonesia, di lain pihak Indonesia berusaha mendapatkan dukungan dari dunia internasional atas kemerdekaan yang telah diproklamasikan. Dalam menghadapi pemerintah Belanda, usaha yang dilakukan mencakup dua cara. Pertama, menghadapi aksi militer yang disebut sebagai usaha ‘aksi polisionil’. Usaha tersebut dilakukan dengan sistem pe rang gerilya sebagaimana dilakukan oleh berbagai pa sukan dan laskarlaskar rakyat yang menjadi embrio bagi Tentara Nasional Indonesia. Kedua, usaha diplomasi yang dilakukan dengan pembentukan delegasidelegasi yang bertugas untuk mengadakan berbagai perundingan se bagaimana terjadi dalam berbagai konferensi. Dalam usa ha untuk mendapatkan dukungan dunia internasional se pe nuhnya dilakukan dengan diplomasi internasional.
Diplomasi Mgr. Soegijapranata demi Eksistensi Gereja
Sudah sejak pendudukan Jepang, Mgr. Soegijapranata me lakukan tindakan yang dapat dipandang sebagai bagian da ri usaha diplomasi internasional. Ada sejumlah data se jarah yang dapat menjadi acuan bagaimana kiprah Mgr. Soegijapranata dalam usaha tersebut. Di antaranya adalah ko munikasi Mgr. Soegijapranata dengan dua pihak, yakni Mgr. Paul Marella yang menjabat sebagai nuntius (duta Vatikan)—kala itu berkedudukan di Tokyo, Jepang—dan
38
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
pihak penguasa kolonial Jepang yang menggantikan pe nguasa kolonial Belanda.
Ketika imam Katolik dari Belanda diizinkan kembali untuk memasuki wilayah Hindia Belanda, dalam per kembangannya kemudian, wilayah Hindia Belanda di masukkan di bawah koordinasi wilayah gerejani India Orien talis Belgica.7 Belum diketahui secara pasti bagaimana
dan kapan kemudian koordinasi tersebut beralih di bawah nuntius yang berkedudukan di Tokyo, Jepang.
Ketika wilayah Hindia Belanda berada di bawah kolonial Jepang, Mgr. Soegijapranata beberapa kali mengadakan kon tak melalui suratmenyurat dengan Mgr. Paul Marella. Bukti bukti peristiwa sejarah tersebut dapat ditemukan dalam sejumlah arsip yang tersimpan di Keuskupan Agung Se marang. Hal tersebut nampak antara lain dengan peristiwa pem bukaan novisiat baru untuk kongregasi Penyelenggaraan Ilahi di Indonesia, dan berkaitan dengan pemindahan untuk mengungsi sejumlah novis dari berbagai ordo dan kongregasi religius yang berada di dalam wilayah penggembalaan Mgr. Soegijapranata. Hubungan internasional yang dijalin dengan Mgr. Paul Marella tersebut terkait dengan pemberian se jum lah dana yang diterima oleh Mgr. Soegijapranata dari nya.
Dalam menghadapi penguasa Jepang yang melakukan inter vensi terhadap Gereja Katolik di Indonesia, Mgr. Willekens, Vikaris Apostolik Batavia, menghadapinya de ngan cara diplomatis, yakni dengan mengenakan atribut
Peran Mgr. Soegijapranata dalam Menyuarakan Keprihatinan Indonesia di Dunia Internasional
39
Willekens juga disarankan kepada Mgr. Soegijapranata.8
Sejalan dengan tindakan Mgr. Willekens tersebut, dalam surat resminya kepada berbagai instansi Jepang, Mgr. Soegijapranata mengungkapkan diri dalam suatu rumusan bernada diplomasi internasional. Hal ini tampak dalam suratnya yang menjelaskan kedudukan Gereja Katolik di
Indonesia dalam berhadapan dengan penguasa Jepang.9
Dalam banyak suratnya yang lain, Mgr. Soegijapranata juga senantiasa mengawali dengan perumusan:
“Yang bertanda tangan di bawah ini kami Mgr. A. Soegijapranata, dari rahmat Allah dan anoegerah Sri Paduka Paus Pius XII di Roma, gelar Oeskoep Danaba dan Vikaris Apostolik di Semarang.”10
Itulah caracara yang dipergunakan Mgr. Soegijapranata untuk mempertahankan eksistensi Gereja Katolik di Indone sia dalam menghadapi penguasa Jepang dengan kerangka pikir dan cara bertindak seturut kaidah tata hubungan in ternasional. Tidak seluruh usaha diplomasi yang dilakukan ter sebut (yang juga ditempuh dengan caracara spontan) mem bawa hasil. Terbukti dengan diambilalihnya sejumlah fasilitas gedunggedung sekolah, bangunan biarabiara, dan rumah sakit milik Gereja Katolik.
Usaha Diplomasi yang Dilakukan Berbagai Pihak dalam Pergerakan Nasional
Sebagaimana disebut di muka, tujuan usaha diplomatik
40
Kilasan Kisah Mgr. A. Soegijapranata, SJ.
awal kemerdekaan adalah mencapai dua hal. Pertama, berhadapan dengan pemerintah Belanda yang belum mengakui kemerdekaan Indonesia dan masih berusaha kembali mengukuhkan penjajahan yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuan kedua adalah memperoleh dukungan dunia internasional atas kemerdekaan yang telah dipro
klamasikan para pendiri Republik Indonesia.11
Menghadapi status kemerdekaan RI yang belum diakui Belanda dan masih terus dirongrong, pemerintah Indonesia dengan gigih melakukan perjuangan baik lewat berbagai perundingan maupun dengan taktik perang gerilya. Usaha usaha perundingan yang dilakukan delegasi pemerintah Indo nesia dengan pemerintah Belanda dapat disebutkan di sini meliputi Perjanjian Linggarjati November 1946, Per janji an Renville Januari 1947, Perjanjian RoemRoyen Mei 1949, sampai pada akhirnya ditutup dengan Konferensi Meja Bun dar Desember 1949 yang mengakhiri rongrongan Belanda ter hadap Negara Kesatuan RI. Dengan ditandatanganinya per janjian Konferensi Meja Bundar tersebut, Belanda menga kui kedaulatan sepenuhnya dari Negara Kesatuan RI. Per juangan dalam kancah diplomasi internasional tersebut da lam sejarahnya memperlihatkan bagaimana founding fathers te rus bergulat dalam berbagai perundingan internasional guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah di proklamasikan. Berbagai terbitan berbagai perjanjian mau pun biografi tokohtokoh kemerdekaan, seperti Sukarno, Moh. Hatta, Syahrir, Sultan Hamengku Buwono IX, I.J. Kasimo, memperlihatkan hal tersebut.