• Tidak ada hasil yang ditemukan

ROADMAP INDUSTRI PENGOLAHAN KARET DAN BARANG KARET

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ROADMAP INDUSTRI PENGOLAHAN KARET DAN BARANG KARET"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

ROADMAP

INDUSTRI PENGOLAHAN KARET

DAN BARANG KARET

DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN

(2)

I. PENDAHULUAN

1.1. Ruang Lingkup Industri Karet dan Barang Karet

Karet dan barang-barang karet dapat diklasifikasikan menurut The Harmonized Commodity Descreption and Coding System (HS) dan kelompok barang lapangan industri (KBLI) yang dapat diperlihatkan pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Kelompok Karet dan Barang-barang Karet

No No. HS KBLI Uraian Barang

1. 40011-13 Karet alam 4002 Karet Sintetis

1. 4003-4009 25192 Barang dari karet untuk industri :

- Benang karet

- Tabung, pipa, selang 2. 4010 25192 Belt conveyor 3. 4010 25192 Belt Transmission 4. 4011-13 25111-25112 Ban (Roda 4, Roda 2, Sepeda) 5. 4015 25199 Sarung tangan

6. 4016-17 25191 Lain-lain

1.2. Pengelompokan Industri Karet dan barang Karet

Industri karet dan barang karet dikelompokkan menjadi tiga kelompok industri yaitu kelompok industri hulu, kelompok industri antara dan kelompok industi hilir

1.2.1. Kelompok Industri Hulu :

Industri Hulu karet dan barang Karet : ƒ Bokar ( Bahan Olahan karet) ƒ Kayu Karet

1.2.2. Kelompok Industri antara ( setengah jadi ) : ƒ Crumb rubber ( karet remah)

ƒ Sheet/RSS ƒ Latek Pekat ƒ Thin pole crepe ƒ Brown crepe 1.2.3. Kelompok Industri Hilir

Adapun kelompok Industri hilir karet adalah industri yang merupakan produk akhir yang siap digunakan oleh industri pemakai. Yang temasuk produk hilir yaitu :

(3)

ƒ Ban dan produk terkait serta ban dalam ƒ Barang jadi karet untuk keperluan industri ƒ Barang karet untuk kemiliteran

ƒ Alas kaki dan komponennya

ƒ Barang jadi karet untuk penggunaan umum ƒ Alat kesehatan dan laboratorium.

1.3. Kecenderungan Global Industri Karet dan barang Karet 1.3.1. Kecenderungan yang telah terjadi

Indonesia merupakan salah satu negara produsen karet alam No. 2 terbesar didunia setelah Thailand pertumbuhan Nilai Ekpor komoditas karet dan barang karet dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 menunjukkan cenderung meningkat dengan rata-rata pertahun karet sebesar 37 % dan barang karet sebesar 19,4 % Pada tahun 2006, karet mampu menghasilkan devisa hingga US$ 4,33 milyar tahun 2007 meningkat menjadi US$ 4,87 Milyar, begitupun pada tahun 2008 ekspor meningkat menjadi US$ 6,06 milyar.

Pada tabel berikut diperlihatkan Kontribusi karet Alam dan Barang Karet Terhadap Total Ekspor Nasional.

Tabel 2. Konstribusi Karet Alam dan Barang Karet Terhadap Total Ekspor Nasional (US $ Juta)

Tahun Total Nilai Ekspor Ekspor Non Migas Ekspor Karet Total Ekspor Produk Karet Persentase Ekspor Karet Alam Thd Ekspor Non Migas Persentase Ekspor Produk Karet Thd Ekspor Non Migas 2004 71.584,6 55.939,3 2.180,0 774.950 3,89 1,3 2005 85.660,0 66.428,4 2.589,0 951.175 3,88 1,4 2006 100.798,6 79.589,1 4.327,0 1.134,4 5,43 1,4 2007 114.100,9 92.012,3 4.870,0 1.299,6 5,40 1,4 2008 136.761,7 107.803,4 6.058,2 1.506,0 5,62 1,4 Rata-rata Pertumb. 14,14 15,01 36,96 19,36 3,41 1,33

(4)

1.3.2. Kecenderungan yang akan terjadi

Sebagai dampak melemahnya perekonomian dunia didunia ditriwulan terakhir 2008, ekspor karet dan barang karet cenderung menurun karena menurunnya permintaan terhadap produk ekspor Indonesia .

Pada tahun 2008 konsumsi karet alam dunia turun sebesar 3,37% dan diperkirakan pada tahun 2009 akan turun sebesar 6,43%.

Ekspor ban pada tahun 2008 mencapai 33,6 juta ton dan diperkirakan pada tahun 2009 ekspor ban hanya mencapai 25,2 juta unit atau turun 15 % dari tahun 2008.

1.3.3. Analisis terhadap kecenderungan yang telah dan akan terjadi, kondisi ini menggambarkan persaingan pasar ekspor industri karet dan barang karet semakin ketat.

Melihat kepada kecenderungan tersebut maka dalam pengembangan industri barang karet Nasional untuk mengisi pangsa pasar dunia tentunya dengan harus mengupayakan :

ƒ Pengembangan kepasar baru khususnya ke China dan India

ƒ Meningkatkan penyerapan pasar dalam negeri

ƒ Pendekatan harga dan pasokan melalui ITRC (Internaional Tripartite Rubber Coorporation)

ƒ Mempercepat peremajaan perkebunan karet rakyat

ƒ Menghimbau petani Indonesia untuk melakukan pengurangan produksi 30% guna menyeimbangkan supply dengan demand.

ƒ Peningkatan Penggunaan Karet alam dalam negerui

ƒ Pemetaan sub-sektor industri barang karet yang perlu didorong pertumbuhannya dan pemberian insentif investasi. 1.4. Permasalahan yang dihadapi Industri Karet dan Barang Karet

1.4.1. Karet Alam (On Farm)

ƒ Masih rendahnya produktivitas tanaman, dan baru sekitar 40% yang menggunakan klon unggul.

(5)

ƒ Masih rendahnya kualitas bokar yang menyebabkan rendahnya kualitas crumb rubber

ƒ Besarnya kapasitas terpasang pabrik crumb rubber jauh melebihi ketersediaan bahan olah karet (600.000 ton > kemampuan produksi bokar)

ƒ Masih rendahnya kualitas SDM petani dalam budi daya, panen, pasca panen dan pengolahan primer.

ƒ Masih lemahnya kelembagaan petani dan kemitraan usaha serta akses permodalan

ƒ Rendahnya posisi tawar petani dalam perolehan harga (sekitar 60% FOB).

ƒ Masih lemahnya dukungan prasarana dan sarana (akses ke kebun dan pelabuhan).

1.4.2. Produk Karet (Off Farm)

ƒ Kurangnya informasi distribusi dan kebutuhan karet alam sebagai bahan baku industri produk karet.

ƒ Masih adanya diskriminasi pembebasan PPN 10% (hanya untuk lateks dan tidak bagi produk primer karet alam lainnya).

ƒ Masih kurangnya dukungan R & D yang difokuskan pada pengembangan produk karet

ƒ Sulitnya pasokan gas untuk industri sarung tangan yang menyebabkan utilisasi kapasitas industri sarung tangan hanya mencapai 40%.

ƒ Masih dikenakannya BMAD Carbon Black sebesar 10-17% (SK Menkeu No. 397/KMK.01/2004).

ƒ Ketatnya persaingan di dalam negeri (dengan produk impor) dan di negara tujuan ekspor

ƒ Masih tingginya impor sebagian barang-barang karet yang merupakan peluang pengembangan

(6)

II. FAKTOR DAYA SAING

2.1. Permintaan dan Penawaran

2.1.1. Dunia/Regional dan Domestik 1). Bahan Baku

a. Karet Alam

ƒ Produksi karet alam dunia tahun 2006 sebesar 9,64 juta ton, tahun 2007 meningkatkan 0,93 % menjadi 9,73 juta ton (Asia 9,4 juta ton, Afrika 4,5 juta ton, Amerika Latin 2,16 juta ton) & tahun 2008 turun menjadi 9,41 juta ton.

ƒ Konsumsi Karet alam dunia tahun 2006 sebesar 9,23 juta ton, tahun 2007 meningkat 5,3 % menjadi 9,88 juta ton dan tahun 2008 turun menjadi 9,80 juta ton.

b. Karet Syntetis

ƒ Produksi karet syntetis dunia tahun 2006 sebesar 12,65 juta ton, tahun 2007 meningkat 7,4 % menjadi 13,58 juta ton yang dikonsumsi oleh Asia 5,99 juta ton, Uni Eropa 2,78 juta ton, Amerika Utara 2,79 juta ton, Eropa lainnya 1,29 juta , Amerika latin 0,66 juta ton, Afrika 0,07 juta ton) dan tahun 2008 turun menjadi 13,44 juta ton

ƒ Konsumsi Karet Syntetis dunia tahun 2006 sebesar 12,34 juta ton, meningkat 6,5 % menjadi 13,15 juta ton yang dikonsumsi oleh Asia/Oceania 6,37 juta ton, Uni Eropa 2,62 juta ton, Amerika Utara 2,13 juta ton, Eropa lainnya 0,94 juta, Amerika Latin 0,85 juta ton, Afrika 0,09 juta ton) dan tahun 2008 turun menjadi 13,14 juta ton

2). Industri Barang-barang Karet

ƒ Total produksi ban dunia tahun 2005 sebesar 1320 juta unit tahun 2006 mencapai 1353 juta unit. Produksi EU 405 juta USA 199 juta unit, unit, Jepang 176 unit, China 165 juta unit Indonesia 53,2 juta unit, lain-lain 216 juta unit.

(7)

ƒ Total ekspor ban China 30% dari produksi yaitu sebesar lebih kurang 90 juta unit. 22% dari total ekspor china diekspor ke EU yaitu sekitar 20 juta unit.

ƒ China merupakan pasar potensial yang terus berkembang pada tahun 2007 konsumsi karet alam terbesar adalah China, diikuti USA, Jepang dan India masing-masing sebesar 26,2 %, 10,5%, 9,1% dan 8,7 % dan dari kebutuhan dunia, begitu juga untuk karet sintetis China 24,4 %, USA 15,06 %, Brasil 3,3 %, Rusia 4,9 % korea 2,8%, Taiwan 2,6 %, India 2,0%.

ƒ Produksi Jepang tahun 2005 sebesar 187,37 juta unit dengan penggunaan Original equipment 51,831 juta unit, replacement 75,251 juta unit serta ekspor 74,765 juta unit, sedangkan impor 29,108 juta unit.

ƒ Produksi dunia sarung tangan karet mencapai 110 milyar pcs/tahun, share Indonesia 10 % yaitu 10 milyar pcs, Malysia 60 milyar pcs, Thailand 30 milyar pcs. Basis dari Natural Rubber Latex gloves di ASEAN sedangkan synthetic gloves berbasis di China ( china memproduksi 90% dari produksi synthetic glove dunia.

Domestik 1). Bahan Baku

ƒ Produksi karet alam pada tahun 2007 sebesar 2,76 juta ton dimana 2,44 juta ton atau 88,4 % dari produksi karet alam tersebut diekspor dengan nilai US$ 4,36 milyar, hanya 13,3% atau 355.717 ton digunakan untuk kebutuhan industri dalam negeri.

ƒ Produksi karet synthetis tahun 2006 sebesar 46.000, impor sebesar 123.802 ton, ekspor 11.636 ton serta konsumsi dalam negeri sebesar 158.166 ton.

(8)

Tabel. 3. Penawaran dan Permintaan Karet Alam (000 ton)

Tahun Produksi Konsumsi DN

2003 1.792 156 2004 2.066 196 2005 2.271 217 2006 2.637 355 2007 2.755 391 2008 2.751 414

ƒ Sebanyak 55 % dari pemasaran Dalam Negeri diserap oleh industri ban, sedangkan sisanya digunakan oleh industri vulkanisir, alas kaki, industri barang jadi dari lateks ( sarung tangan, kondom, benang karet).

2). Industri Barang-barang Karet

Tabel 4. Perkembangan Ekspor Barang-barang Karet Potensial

Sumber: pusdatin

No. Uraian Berat Nilai Berat Nilai Berat Nilai Berat Nilai Berat Nilai (Ton) (US$ 000) (Ton) (US$ 000) (Ton) (US$ 000) (Ton) (US$ 000) (Ton) (US$ 000)

1 Benang Karet 6,576 15,537 5,542 13,971 5,304 17,537 5,123 16,579 3,582 14,015 2 Tabung, pipa, selang 8,362 12,316 10,701 15,129 15,692 22,414 2,006 3,668 1,311 3,118 dan karet lainnya

3 Belt conveyor 1,185 4,861 194 1,316 525 3,097 553 4,525 713 3,074 4 Belt transmission 4,430 32,286 5,216 36,687 5,813 44,888 5,308 40,979 5,591 44,679 5 Ban Roda 4, Roda 2, 519,040262,005 621,652273,802 309,453 766,513 325,164 885,312 1,371,968318,561

sepeda, pesawat terbang, ban bekas

6 Barang dari karet 46,552 76,855 33,975 108,495 26,375 118,539 26,503 124,586 17,876 115,419 lainnya (komponen otomotif, packing, ring, segel, dll) 7 Sarung tangan 41,526 95,736 53,850 138,125 52,379 152,199 50,425 163,611 52,932 211,691 Vulkanisir 59 150 79 105 49 317 176 1,017 251 810 Jumlah 756,781370,695 935,480383,359 415,590 1,125,504 415,258 1,240,277 1,764,774400,817 2008 2004 2005 2006 2007

Pemasaran barang-barang karet khususnya untuk industri ban diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (30%) dan

(9)

diekspor ke negara seperti: USA, Negara-negara Arab dan Eropa, Japan, Philippines.

Resesi ekonomi dunia mengakibatkan turunnya permintaan ban dunia, khususnya Japan, Eropa dan USA, namun permintaan pasar domestik naik cukup tinggi pada tahun 2008 sehingga produksi masih bisa dipertahankan pada tingkat yang tinggi untuk menghemat biaya tetap.

Pasar ekspor ban mobil masih terbuka luas dengan tingkat daya saing yang cukup tinggi walaupun persaingan harga di pasar internasional makin ketat, khususnya dangan ban asal China dan negara-negara Asia Tenggara.

2.1.2. Analisa Gap

Produksi karet alam dunia tahun 2007 sebesar 9,7 juta ton sedangkan konsumsi karet alam dunia sebesar 9,9 juta ton ,sedangkan Synthetic Rubber dunia tahun 2007 surplus sebesar 274.000 ton. Produksi karet synthetis dalam negeri tahun 2007 sebesar 46.000 ton, sedangkan konsumsi dalam negeri sebesar 158.166 ton.Hal ini menggambarkan bahwa potensi dan peluang pasar dunia masih terbuka disebabkan permintaaan lebih besar dari penawaran.

Perilaku Pasar

ƒ Permintaan pasar karet alam dunia tahun 2007 sebesar 9,72 juta ton ( Asia 6,35 juta ton, Uni Eropa 1,38 juta ton, Amerika Utara 1,12 juta ton, Amerika Latin 0,54 juta ton, Eropa lainnya 0,204 juta ton, Afrika 0,123 juta ton.

ƒ Permintaan karet synthetis dunia tahun 2007 sebesar 13,15 juta ton yang dikonsumsi oleh Asia /Oceania 6,37 juta ton, Uni Eropa 2,62 juta ton, Amerika Utara 2,13 juta ton, Eropa lainnya 0,94 juta ton, Amerika Latin 0,85 juta ton, Afrika 0,92 juta ton, China 3,445 juta ton, USA 1,933 juta ton, Jepang 1,170 juta ton, Korea 0,486 juta ton. Indonesia 0,16 juta ton

(10)

ƒ Konsumen di negara maju menuntut kualitas yang semakin bagus :

- Ban dengan kebisingan rendah ( Road noise Emission) di Eropa

- Ban jenis radial berbagai ukuran - Harga yang murah

2.2. Faktor Kondisi (Input) 2.2.1. Sumber Daya Alam

ƒ Ketersediaan lahan perkebunan di Indonesia seluas 3,4 juta ha (perkebunan rakyat 2,9 juta ha).

ƒ Total produksi Nasional sebesar 2,76 juta ton/th dan dieskpor dalam bentuk crumb rubber dan latex sebesar 2,4 juta ton.

ƒ Bahan baku/penolong barang-barang karet masih diimpor seperti lateks pekat, karet sintetis, rubber chemical.

2.2.2. Sumber Daya Modal

ƒ Perlu dana bank yang cukup besar untuk investasi : - Ban US$ 200 juta untuk kapasitas 60.000 unit/th

- Sarung tangan karet sekitar US$ 1,5 juta untuk kapasitas 12 juta pcs/th

ƒ Bunga bank kurang kompetitif dan belum ada skema khusus pinjaman investasi

Uraian Indonesia China Vietnam Thailand

Suku Bunga 18,5 - 20% 6 % 6% 4%

Moneter Fluktuatif Stabil Stabil Stabil

ƒ Iklim usaha yang belum sepenuhnya kondusif misalnya perpajakan (PPh, restitusi dan pajak daerah yang relatif tinggi), pasokan gas dan listrik

(11)

2.2.3. Sumber Daya Manusia

ƒ Tersedianya tenaga memadai di sektor perkebunan dan industri karet hulu (crum rubber)

ƒ Tenaga terampil di industri karet hilir, seperti karet teknik dan peralatan kesehatan masih terbatas

ƒ Dukungan Balai Penelitian Teknologi Karet di Bogor, B4T di Bandung, Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik, Yogyakarta. Puslit Karet Medan, Palembang, serta Baristand Palembang dalam penyediaan laboiratorium dan pelatihan

2.2.4. Infrastruktur

ƒ Prasarana dan Sarana ( Fisik)

- Kondisi Sarana dan prasarana pelabuhan, transportasi terutama di Sumatera dan Kalimantan belum memadai.

ƒ Administrasi ( tarif dan non tarif)

- Beberapa barang-barang karet termasuk “sensitif” dan untuk beberapa produk mendapat perlindungan tarif BM s/d tahun 2010.

2.2.5. Lain-lain (Teknologi, Finansial)

ƒ Teknologi industri barang-barang karet sebagian masih menggunakan teknologi konvensional, (teknologi moulding, pemasakan masih ada yang menggunakan kompor)

ƒ Mendorong R & D dalam pengembangan ban dengan kebisingan rendah

2.2. Industri Inti, Pendukung dan Terkait ƒ Industri Inti Barang-barang karet

- Ban

- Sarung Tangan Karet

- Barang-barang karet

ƒ Industri Pendukung

(12)

- Karbon hitam (Carbon black) - Karet kompon ƒ Industri Terkait - Otomotif - Elektronika - Alat-alat kesehatan - Rumat Tangga

2.3. Strategi Pengusaha dan Perusahaan

ƒ Pesatnya perkembangan industri dan persaingan dengan industri barang-barang karet dari China, Thailand dan Malaysia sehingga Perlu adanya Peningkatan daya saing dengan cara meningkatkan produktifitas dan kualitas karet alam untuk menunjang pasokan bahan baku industri barang-barang karet dalam negeri, meningkatkan litbang industri, pengembangan dan diversifikasi teknologi tradisional keteknologi maju.

ƒ Relatif masih tingginya kandungan impor produksii barang-barang karet sehingga diharapkan adanya iinveatsi dibidang industri karet hilir agara dapat mensubstitusi produk impor.

ƒ Adanya kemitraan produsen ban mobil nasional dengan mitra strategis luar negeri dalam teknologi dan pemasaran

ƒ Meningkatkan Pola Kemitraan antara petani dengan industri barang-barang karet

III. ANALISIS

SWOT

3.1. Kekuatan

ƒ Tersedianya pasokan karet alam rata-rata 2,75 juta ton per tahun yang baru dimanfaatkan didalam negeri sekitar 13,5 %

ƒ Adanya kemampuan memproduksi berbagai jenis barang karet (ban, sarung tangan) yang sesuai dengan kualitas dan permintaan dunia.

(13)

ƒ Adanya dukungan industri bahan penolong ( karbon hitam, silika, kaolin, tyre cord, processing oil, dll)

ƒ Adanya dukungan asosiasi barang-barang karet dan Pemerintah Daerah.

ƒ Adanya dukungan lembaga riset : BB Industri Karet dan Plastik Yogya, B4T Bandung, Balai Penelitian Teknologi Karet Bogor, LPRI, BPPT dan Laboratorium yang terakreditasi serta perguruan Tinggi.

3.2. Kelemahan

ƒ Masih lemahnya penguasaan teknologi tinggi industri barang-barang karet karena relatif sedikit merek yang terdaftarkan betul-betul didalam negeri oleh industri lokal.

ƒ Masih lemahnya Iklim usaha yang belum sepenuhnya kondusif misalnya perpajakan (PPh, restitusi dan pajak daerah yang relatif tinggi), pasokan gas dan listrik.

ƒ Masih lemahnya dukungan sarana dan prasarana transportasi pelabuhan di beberapa daerah.

ƒ Rendahnya tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk dalam negeri.

ƒ Belum adanya pendidikan khusus dibidang perkaretan 3.3. Peluang :

ƒ Meningkatnya kebutuhan barang-barang karet dunia baik jenis maupun volumenya

ƒ Tetap terbukanya peluang ekspor barang-barang karet ke berbagai negara

ƒ Beralihnya pusat konsumsi karet dari Barat ke Asia/Pasifik

ƒ Terbukanya kerjasama produsen nasional dengan produsen negara lain dalam pemasaran dan penerapan/harmonisasi standar (ACCSQ, UN-ECE)

ƒ Terbukanya peluang untuk mengisi (substitusi) barang-barang karet impor

(14)

3.4. Tantangan

ƒ Makin ketatnya persaingan dengan barang-barang karet khususnya ban dari negara pesaing dengan harga murah seperti dari China dan India.

ƒ Adanya tuntutan negara ekspor yang makin tinggi terutama masalah mutu

ƒ Belum diberlakukannya SNI Wajib terhadap-barang-barang karet kecuali ban.

ƒ Rendahnya tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk dalam negeri.

IV. SASARAN

Sasaran Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet 4.1. Sasaran Jangka Menengah (2010-2014)

ƒ Peningkatan produksi karet alam dari 3 juta ton tahun 2009 menjadi 3,5 juta ton per tahun dengan pertumbuhan sekitar 4% rata-rata setahun.

ƒ Peningkatan kualitas SDM petani karet dan industri barang-barang karet.

ƒ Peningkatan investasi baru dan perluasan usaha industri barang – barang karet

ƒ Pengembangan industri barang-barang karet untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagai substitusi impor

4.2. Sasaran Jangka Panjang (2010-2025)

ƒ Peningkatan produktifitas karet alam sehingga mencapai 4 juta ton per tahun.

ƒ Penerapan secara wajib SNI barang-barang karet, selang kompor gas, selang radiator dan komponen otomotif.

ƒ Pengembangan dan peningkatan daya saing industri barang-barang karet.

(15)

V. STRATEGI DAN KEBIJAKAN

ƒ Peningkatan produktifitas dan kualitas karet alam untuk menunjang pasokan bahan baku industri barang-barang karet

ƒ Peningkatan produksi produk barang-barang karet guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri melalui diversivikasi produk , peningkatan nilai tambah , peningkatan kandungan lokal (bahan baku/penolong, peralatan pabrik, jasa teknik dan konstruksi, jasa pendukung produksi.

ƒ Meningkatkan litbang teknologi industri, pengembangan dan diversifikasi teknologi tradisional ke teknologi maju.

5.1. Visi dan Arah Pengembangan Industri Karet dan barang karet Menjadikan Indonesia sebagai negara produsen utama barang-barang karet tahun 2020.

5.2. Indikator Pencapaian

Kinerja Industri Karet dan barang karet dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kearah perbaikan, hal ini terlihat dari beberapa indikator sebagai berikut :

a. Kinerja Industri Karet alam

Tabel 5. Realisasi dan Proyeksi Produksi Karet Alam Dunia (Ribu Ton)

Negara 2005 2006 2007 2008 2010 2015 2020 Thailand 2.937 2.968 3.056 3.090 3.001 3.413 3.286 Indonesia 2.271 2.637 2.755 2.751 3.072 3.656 4.428 Malaysia 1.126 1.268 1.137 1.072 888 770 714 India 771 853 807 881 818 789 803 China 428 483 600 531 479 486 492 Vietnam 469 560 602 663 599 713 835 Lain-lain 811 419 768 641 923 784 1.321 Dunia 8.813 9.188 9.725 9.629* 9.424 10.067 10.999 Sumber :(ANRPC 2009) *prognosa

(16)

Produksi karet alam indonesia dalam pada tahun 2007 sebesar 2,755 juta ton dan pada tahun 2008 turun menjadi 2,751 juta ton atau mengalami penurunan - 0,14 % dari tahun 2007.Sebagian besar (90 persen), karet alam Indonesia di ekspor dalam bentuk karet mentah. Konsumsi karet alam domestik untuk memproduksi barang-barang karet pada tahun 2008 baru mencapai sekitar 10 persen.

Ekspor karet alam indonesia pada tahun 2007 sebesar 2,407 juta ton dan pada tahun 2008 turun menjadi 2,209 juta ton atau mengalami penurunan sebesar – 8,2 %

b. Kinerja Industri barang karet

ƒ Ban.

Sampai saat ini ada 13 (tiga belas) produsen ban yang termasuk dalam keanggotaan Asosiasi perusahaan ban Indonesia (APBI). Perusahaan ban Nasional tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan Ban Nasional untuk kendaraan Roda 4 dan Roda 2 dan bahkan sudah diekspor keberbagai negara seperti Amerika Serikat-Saudi Arabia Jepang, Philipina, Inggris dan Uni Emirat Arab.

Meskipun ada beberapa jenis ban, khususnya yang digunakan untuk kendaraan off the Road serta ban pesawat terbang masih belum diproduksi dalam negeri.

Tahun 2006 ekspor ban sekitar US$ 665 juta, tahun 2007 mencapai US$ 803 juta, sedangkan tahun 2008 mencapai US$ 935 juta atau naik sebesar 16,4 %. Penjualan domestik pada tahun 2006 sebesar Rp. 5,81 triliyun, tahun 2006 mencapai Rp. 6,75 trilyun dan pada tahun 2007 naik menjadi Rp. 6,93 trilyun dan tahun 2008 menjadi Rp. 7,98 trilyun.

Resesi ekonomi dunia mengakibatkan turunnya permintaan ban dunia, khususnya Japan, Eropa, USA, namun permintaan pasar domestik naik cukup tinggi pada tahun 2008 sehingga produksi masih bisa dipertahankan pada tingkat yang tinggi untuk menghemat biaya tetap.

(17)

Utilisasi industri ban roda 4 pada tahun 2007 sebesar 85,2% dan pada tahun 2008 sama dengan pada tahun 2007 sebesar 85,2% Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri Ban roda 4 dari tahun 2004 sampai dengan 2008.

Tabel 6. Perkembangan Industri Ban Kendaraan Bermotor Roda 4

*) Termasuk Roda 2

U r a i a n 2004 2005 2006 2007 2008

Kapasitas Terpasang (Juta Unit) 41.8 45.0 49.3 49.3 49.3 Realisasi Produksi (Juta Unit) 35.4 41.3 41.0 42.0 42.0 Utilisasi Kap Terpasang (%) 84.7 91.8 83.2 85.2 85.2 Pemasaran D/N (Juta Unit) 11.7 12.8 13.2 14.3 11.1 Volume Ekspor (Juta Unit) 21.1 23.4 26.6 28.7 33,6 Nilai Ekspor (Juta US$) 462.0 570.0 710.0 803.6 931,0 Volume Impor (Juta Unit) 1.76 2.19 2.55 2.80 2.7 Nilai Impor (Juta US$) 29.5 38.1 64.9 66,1 97.3 Tenaga Kerja (org) *) 21,307 23,525 25,700 22,919 24.2 Jumlah Unit Usaha *) 13 13 13 13 13

sumber : APBI

Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri Ban roda 2 dari tahun 2004 sampai dengan 2008.

Tabel 7. Perkembangan Industri ban Kendaraan Bermotor Roda 2

Uraian 2004 2005 2006 2007 2008

Kapasitas Terpasang (Juta Unit) 7.7 27.7 27.7 27.7 27.7 Realisasi Produksi (Juta Unit) 18.6 22.0 21.6 24.0 25.9 Utilisasi Kap Terpasang (%) 81.9 79.3 77.9 86.5 93.4 Pemasaran D/N (Juta Unit) 18.1 21.3 21.0 23.3 25.2 Volume Ekspor (Juta Unit) 0.5 0.4 0.4 0.5 0.7 Nilai Ekspor (Juta US$) 3.5 2.4 2.9 6.4 10.7 Volume Impor (Juta Unit) 1.4 2.1 2.8 3.0 3.4 Nilai Impor (Juta US$) 3.2 4.5 5.0 8.5 9.0 Tenaga Kerja (org) *) 21,307 23,525 25,700 28,600 24,115 Jumlah Unit Usaha *) 13 13 13 13 13.0

(18)

ƒ Industri Sarung Tangan

Jumlah unit usaha industri sarung tangan yang terdaftar pada Asosiasi Sarung Tangan Karet Indonesia berjumlah 13 unit usaha yang berlokasi untuk 10 unit usaha di Sumatera Utara, 2 unit usaha di Jawa Timur dan 1 unit usaha di Jawa Barat. Total kapasitas terpasang pada tahun 2007 sebesar 12 milyar pasang dengan total investasi sebesar US$ 100,8 juta. Pada tahun 2007 ini telah diresmikan 1 unit usaha lagi industri sarung tangan di Kalimantan Selatan, dengan investasi senilai Rp. 20 Milyar, total kapasitas produksi 20 ton/bulan.

Total produksi total produksi sarung tangan tahun 2007 sebesar 9.549.000 pcs dan tahun 2008 turun menjadi 8.500.000 pcs.

Ultilisasi industri sarung tangan karet pada tahun 2007 sebesar 79,6% dan pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 70%. Investasi pada industri sarung tangan karet berdasarkan data dari BKPM dari tahun 2004 sampai tahun 2007 sebesar US$ 194,9 Milyar dan pada tahun 2008 naik sebesar US$ 295,7 Milyar.

Nilai ekspor industri sarung tangan karet pada tahun 2007 sebesar US$ 153,6 Juta dan pada tahun 2008 naik menjadi US$ 175,9 Juta .Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri sarung tangan karet dari tahun 2004 sampai dengan 2008.

Tabel 8. Perkembangan Industri Sarung Tangan

Uraian 2004 2005 2006 2007 2008

Kapasitas Terpasang (Juta Pcs) 11.000 11.000 12.000 12.000 12.000

Realisasi Produksi (Juta Pcs) 8.256 9.500 9.522 9.549 8.500

Utilisasi Kap Terpasang (%) 75,1 86,4 79,4 79,6 70

Pemasaran D/N (Juta Pcs) 2.416,0 1.963,0 2.169,0 2.513,0 1.280

Volume Ekspor (Juta Pcs) 5.932,0 7.692,0 7.426,0 7.203,0 7.396

Nilai Ekspor (Ribu US$) 95.736,0 138.125,0 152.199,0 153.677,5 175.987

Volume Impor (Juta Pcs) 95,8 156,0 170,0 167,0 176,0

Nilai Impor (Ribu US$) 2.099,6 3.751,3 3.686,2 3.981,1 5.088

Tenaga Kerja (org) 9.307 10.207 5.007 5.007 5007

(19)

5.3. Tahapan Implementasi

5.3.1. Langkah-langkah yang telah dilakukan :

ƒ Telah dilakukan tahapan sosialiasi,identifikasi permasalahan dan persiapan kolaborasi klaster industri pengolahan karet melalui kegiatan Forum Komunikasi dan Working Group di dua daerah yaitu di Sumatera Utara dan Jawa Barat.

ƒ Pelaksanaan identifikasi permasalahan dalam upaya pengembangan industribarang-barang karet di daerah denganmelibatkan stakeholder di daerah melaluipembentukan working group. Dari hasilkelompok kerja industri pengolahan karet diSumatera Utara telah dipetakan dan diinventarisasi di beberapa wilayah potensi perkebunan karet serta industri pengolahan karet hilir. Sementara itu di Propinsi Sumatera Selatan dan Jawa Barat telah diberikan bantuan peralatan industry kompon yang diharapkan akan dapat mendorong tumbuhnya industry sejenis dan industri hilir barang-barang karet.

5.3.2. Hasil yang telah dicapai, diantaranya :

ƒ Telah tersusun roadmap Industri Pengolahan Karet

ƒ Melakukan koordinasi dalam rangka pengamanan pasokan gas untuk industry sarung tangan karet

ƒ Pemetaan potensi bahan baku industripengolahan karet untuk penyusunan profil investasi pengembangan industri hilir karet.

ƒ Telah dilakukan kajian cara pendeteksian dini vulkanisat karet dalam

ƒ Bahan Olah Karet (BOKAR).

ƒ Telah diberlakukan SNI wajib untuk produk selang karet sejak 27

ƒ Nopember 2007 sesuai SK Menteri Perindustrian Nomor : 92/M-IND/Per/11/2007gas), tetapi berhubung kesiapan produsen dalam negeri belum siap maka pemberlakuannya ditunda sampai 1 Juli 2008.

(20)

ƒ Telah tersusun konsep standar kompetensi kerja SDM karet dan barang-barang karet oleh BPPI tetapi pada tahun 2008 baru akan dikonvensikan.

ƒ Pemetaan potensi pasar dalam negeri dan industri permesinan dalam mendukung pengembangan industri barang karet.

VI. PROGRAM DAN RENCANA AKSI

Program dan Rencana aksi dalam pengembangan industri karet dan barang karet :

6.1. Jangka Menengah (Tahun 2010-2014) :

ƒ Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan olah karet melalui replanting dan perluasan lahan

ƒ Pengembangan Industri barang – barang karet melalui promosi investasi dan fasilitas untuk penanaman modal dibidang usaha tertentu atau daerah tertentu (PP No.1 tahun 2007)

ƒ Memprkuat kelembagaan industri barang-barang karet yang dihubungkan dengan industri karet alam

ƒ Melanjutkan program peningkatan kompetensi SDM industri barang-barang karet

ƒ Melakukan kajian kebutuhan bahan baku industri barang-barang karet

6.2. Jangka Panjang (Tahun 2010-2025) :

ƒ Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas bahan olah karet melalui sosialisasi dan Pelatihan

ƒ Mengembangankan industri barang-barang karet sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui diversifikasi produksi

ƒ Mengembangkan industri permesinan yang mendukung

pengembangan industri barang-barang karet.

ƒ Melaksanakan dan melanjutkan program pendidikan standar kompetensi SDM industri barang-barang karet melalui diklat Kompetensi SDM Industri Karet dan Barang-barang karet.

(21)

ƒ Menerapkan secara wajib SNI barang-barang karet.

ƒ Mengembangkan investasi baru agar menjadi salah satu basis industri ban dunia.

ƒ Melaksanakan harmonisasi standar internasional seperti UN-ECE untuk barang-barang karet komponen otomotif.

(22)
(23)
(24)

Industri Inti Industri Pendukung Industri Terkait Industri Barang-barang Karet Karet Alam; Karet Sintetis; Bahan Kimia ( Filler),

Karbon Black, Permesinan

Industri Otomotif

Sasaran Jangka Menengah ( 2010-2014) Sasaran Jangka Panjang ( 2010 – 2025)

- Peningkatan produktivitas karet alam sehingga mencapai 3,5 ton dengan pertumbuhan sekitar 4 % rata-tara pertahun

- Peningkatan kualitas SDM di Industri Barang-barang Karet

- Peningkatan Investasi baru dan Perluasan usaha Industri barang-barang Karet

- Pengembangan Industri barang-barang karet dalam negeri sebagai substitusi Impor.

- Meningkatnya produksi karet alam menjadi 4 juta ton/tahn

- Berkembangnya berbagai jenis produk barang-barang karet

- Meningkatnya penggunaan karet alam dalam negeri dari 16 % (2010) menjadi 20 % (2020).

Strategi Sektor :

- Peningkatan produktifitas dan kualitas karet alam untuk menunjang pasokan bahan baku industri barang-barang karet

- Peningkatan produksi produk barang-barang karet guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri melalui diversivikasi produk , peningkatan nilai tambah , peningkatan kandungan lokal (bahan baku/penolong, peralatan pbarik, jasa teknik dan konstruksi, jasa pendukung produksi.

Teknologi :

- Meningkatkan litbang teknologi industri, pengembangan dan diversifikasi teknologi tradisional keteknologi maju.

Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Menengah ( 2010– 2014) Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( 2010 – 2025)

- Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan olah karet melalui replanting dan perluasan lahan.

- Pengembangan Industri barang karet melalui promosi investasi dan fasilitas untuk pengembangan modal dibidang usaha tertentu dan atau daerah tertentu (PP No. 1 tahun 2007)

- Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penyediaan bahan baku karet alam

- Mendorong Pengembangan industri barang-barang karet

Unsur Penunjang

Periode Peningkatan Teknologi SDM :

a. Inisiasi :

- Restrukturisasi dan optimalisasi pabrik-pabrik yang masih menggunakan teknologi lama

- Meningkatkan kemampuan SDM di Bidang industri pengolahan karet dan barang-barang karet

- Penyusunan standar kompetensi kerja industri pengolahan karet dan barang-barang karet

(25)

- Mendorong R& D dalam pengembangan ban dengan kebisingan rendah ( Road Noise emission

- Memproduksi jenis ban radial dengan berbagai ukuran - Memproduksi sarung tangan karet medical grade

Pasar : Infrastruktur :

- Membangun daya saing terhadap industri barang-barang karet

- Meningkatkan volume dan pasar ekspor

- Membangun citra menggunakan produk dalam negeri

- Membangun dan memproduksikan merk lokal dipasar Internasional

- Meningkatkan peran Litbang dan perguruan tinggi

- Membangun sarana prasarana jalan dari lokasi bahan baku

(26)

Kerangka Keterkaitan Pengembangan Industri Karet dan barang Karet

(27)

Pemerintah Pusat Pemda Swasta Perguruan Tinggi & Litbang

Forum Rencana Aksi 2010-2014 Dep. Perin Dep. Tan. Dep. Dag Dep. Keu BK PM BSN Dep. PU Dep. ESDM BI Meneg UKM

Prop Kab Aso- siasi Prs. Ind. PT BPTK Baristand Daya Saing Working Group Fasilit asi Klaste r

1. Percepatan penyediaan bibit

unggul penghasil lateks dan kayu, potensi produksi > 1 ton/ha/th dan kayu >100 m3/ha/siklus.

V V V V V

2 Revitalisasi perkebunan seluas

250 ribu hektar peremajaan dan 50 ribu hektar perluasan

V V V V V

3 Pemanfaatan kembali kebun

karet terlantar di 16 propinsi di Sumatera, Kalimantan, Jabar & Banten

V V V V

4 Tersedianya sarana produksi

lainnya (pupuk, pestisida dan peralatan) dalam jumlah cukup dengan tingkat mutu dan harga bersaing.

V V V V V V

5 Penerapan Good Agricultural

Practices (perbaikan teknik

sadap, dll), GHP, GMP

V V V V

6 Peraturan Menperind No.

19/M-IND/PER/5/ 2006 tentang Standardisasi, Pembinaan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia Bidang Industri, tanggal 1 Mei 2006

V V V V

7 Penerapan UU No 18/2004, SNI

Bokar No. 06-2047-2002 dan Penerbitan Permen Pertanian tentang mutu bokar sesuai SNI dan UU No. 18/2004, SIN Bokar No. 06-2047-2002 dan

Penerbitan Permen Pertanian tentang mutu bokar sesuai SNI dan UU No. 18/2004.

V V V V V V

8 Penerapan SK Menperindag

616/MPP/Kep/X/99 dengan mendorong pedagang pengumpul memiliki SIUP

V V V V V V

(28)

10 Penyusunan dan penerbitan SNI barang-barang karet (selang radiator, selang kompor gas, sarung tangan)

V V V V V

11 Pemberlakuan SNI wajib bagi

ban vulkanisir

V V V V

12 Partisipasi peningkatan

kerjasama bidang standar di tingkat ASEAN dan internasional

V V V V

13 Penghapusan PPN untuk semua

jenis karet sebagai bahan baku (PP No. 7 tahun 2007 hanya diberlakukan untuk lateks)

V V V V V

14 Pemenuhan pasokan gas untuk

industri sarung tangan

V V V V

15 Penghapusan BMAD Carbon

Black yang sudah diberlakukan 3 tahun

V V V

16 Penyusunan dan penerapan

standar kompetensi

V V V

17. Perbaikan Infrastruktur akses ke

kebun dan pelabuhan

V V V

18 Pengembangan Industri

barang-barang karet keperluan industri (diversifikasi) untuk produk bernilai tambah tinggi (komponen otomotif, teknik dan elektronika)

V V V V V V

19. Promosi investasi dan fasilitas

untuk Penanaman modal di bidang usaha tertentu dan atau daerah tertentu (PP No. 1 Tahun 2007

V V V V V V

20. Bantuan sertifikasi lahan untuk

mendapatkan kredit bank

V V V V V

21. Penyediaan Kredit Usaha Kecil

dan Menengah (UKM) dalam pengembangan usaha bersama (pengolahan dan pemasaran).

(29)

VII. KELEMBAGAAN

Dalam rangka mengimplementasikan roadmap pengembangan Karet dan Produk Karet perlu mendapatkan kemitmen dan dukungan dari instansi/Departemen yang berkaitan terhadap :

ƒ Pengembangan bahan baku/Penolong

ƒ Pengembangan Investasi

ƒ Pengembangan Infrastruktur

ƒ Pengembangan Pasar

ƒ Pengembangan Lingkungan Bisnis

ƒ Pengembangan Kemampuan Tenaga Kerja Industri

a. Pengembangan bahan Baku/Penolong

ƒ peningkatan ketersediaan dukungan bahan baku/penolong dari dalam negeri

ƒ Peningkatan kualitas, produktivitas, dan kelangsungan bahan baku

ƒ Peningkatan kemampuan teknologi pada sistem produksi bahan baku/penolong Pihak yang terkait :

Dalam Pengembangan Bahan baku/penolong ini, perlu dukungan dari instansi/Departemen antara lain : Depatermen Pertanian, Gapkindo, Perguruan Tinggi, Perusahaan yang menyediakan bahan penolong.

b. Pengembangan Investasi

ƒ Peningkatan iklim investasi yang sehat diberbagai tingkat pemerintahan yang mampu mengurangi biaya produksi disektor industri.

ƒ Memberikan kemudahan akses permodalan terutama untuk melakukan restrukturisasi industri dan industri pendukung dan terkait

ƒ Merangsang adanya minat investasi modal dalam pembiayaan dalam negeri serta alternative sumber pembiayaannya.

Pihak yang terkait :

Dalam pengembangan investasi diperlukan dukungan dari instansi terkait anatra lain : BKPM, Bank, Departemen Keuangan, Perbankan, UKM

(30)

c. Pengembangan Infrastruktur

Untuk memperluas infrastruktur fisik melalui penyediaan fasilitas utama untuk transfortasi, bongkar muat, telekomunikasi dan transmisi, energi, air bersih, dan penataan ruang industri prioritas .

Pihak yang terkait :

Dalam pengembangan insfrastruktur ini perlu dukungan dari instansi /Departemen antara lain: Departemen Pekerjaan umum, Departemen Perhubungan, Departemen ESDM, dan Pemda

d. Pengembangan Pasar.

Dalam Pengembangan Pasar antara lain : Peningkatan kerjasama perdagangan Internasional, Peningktan promosi dan jaringan global, Peningkatan penggunaan produksi dalam negeri.

Pihak yang terkait antara lain : Depatemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Luar Negeri, Departemen Dalam Negeri, UKM

e. Pengembangan Lingkungan Bisnis

ƒ Peningkatan efisiensi pelayanan ekspor-impor, pelabuhan, kepabean dan administrasi (verifikasi dan retribusi) perpajakan,

ƒ Meningkatkan ketersediaan pelayanan jasa termasuk jasa profesional (keuangan, akuntasi, konsultasi, pemasaran, notariat, pengujian, sertifikasi, konsultan hukum, dll) dan jasa publik (perizinan, dll).

ƒ Peningktan insentif dan fasilitasi di sektor industri.

Pihak yang terkait antara lain : Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Asosiasi, Departemen Perindustrian, Litbang, Asosiasi, Perusahaan.

(31)

f. Pengembangan Kemampuan Tenaga Kerja Industri

ƒ Meningkatkan keterkaitan lembaga litbang, industri serta perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi yang tepat dalam pelatihan tenaga kerja untuk industri.

ƒ Meningkatkan kompetensi SDM industri melaui program pendidikan, pelatihan dan pemagangan

ƒ Mengembangkan program pendidikan dan pelatihan untuk keahlian khusus di bidang teknologi, proses dan produk, teknik desain dan manajemen.

ƒ Melakukan reoreantasi pengembangan SDM dengan mengacu pada kebutuhan dunia industri

Pihak yang terkait :

Departemen Tenaga Kerja, Depatemen Perindustrian, Perguraan Tinggi, Litbang, Diknas., UKM

B4T Bandung, Balai Besar Karet di Yogya, BPTK Bogor Perguruan

Tinggi, Litbang

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral

Eksportir & Importir Jasa Laboratorium Penguji dan sertifikasi Produsen Barang-barang Karet Perusahaan Penghasil karet alam & sintetis

Perusahaan Penyedia Bahan Penunjang, Perusahaan Penyedia Mesin Peralatan dan Cetakan (moulding)

Produsen (Pelaku Bisnis)

APVUBINDO

GAPKINDO, APBI, IRGMA (glove) IPB, ITB, UGM, USU, UNSRI, LIPI, BPPT

Lembaga Non Pemerintah

Badan Standardisasi Nasional, KAN Kementrian Ristek & BPPT

Departemen Dalam Negeri dan PEMDA Departemen Tenaga Kerja

Departemen Perhubungan Departemen Keuangan Departemen Pertanian Departemen Perdagangan Departemen Perindustrian Pemerintah

B4T Bandung, Balai Besar Karet di Yogya, BPTK Bogor Perguruan

Tinggi, Litbang

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral

Eksportir & Importir Jasa Laboratorium Penguji dan sertifikasi Produsen Barang-barang Karet Perusahaan Penghasil karet alam & sintetis

Perusahaan Penyedia Bahan Penunjang, Perusahaan Penyedia Mesin Peralatan dan Cetakan (moulding)

Produsen (Pelaku Bisnis)

APVUBINDO

GAPKINDO, APBI, IRGMA (glove) IPB, ITB, UGM, USU, UNSRI, LIPI, BPPT

Lembaga Non Pemerintah

Badan Standardisasi Nasional, KAN Kementrian Ristek & BPPT

Departemen Dalam Negeri dan PEMDA Departemen Tenaga Kerja

Departemen Perhubungan Departemen Keuangan Departemen Pertanian Departemen Perdagangan Departemen Perindustrian Pemerintah PENINGKATAN DAYA SAING

Gambar

Tabel 1. Kelompok Karet dan Barang-barang Karet
Tabel 2. Konstribusi Karet Alam dan Barang Karet  Terhadap Total Ekspor Nasional (US $ Juta)
Tabel 4.  Perkembangan  Ekspor  Barang-barang Karet Potensial
Tabel 5. Realisasi dan Proyeksi Produksi Karet Alam Dunia (Ribu Ton)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan indikator kemampuan komunikasi matematis yang dikemukakan di atas, Indikator yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:.. 1) Menghubungkan gambar,

ehingga hal ini berarti setiap perjanjian yang mencantumkan klausula arbitrase atas suatu perjanjian arbitrase yang dibuat oleh para pihak menghapuskan kewenangan

Tugas PPAT ini diatur dalam Pasal 2 PP Nomor 37 Tahun 1998 yang menyatakan bahwa tugas PPAT adalah melaksanakan sebagaian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat

Manfaat praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pemikiran bagi perusahaan yang berbasis customer di Indonesia, terutama Pull & Bear di

Minimalisasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi bahan ( reduce ),

[r]

Untuk mendapatkan suatu pembatasan yang mudah dimengerti oleh pihak lain dan penelitian dapat lebih terarah, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini hanya terbatas

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pencegahan diabetes melitus dan hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan diabetes