BAB IV
HASIL SURVEI DAN ANALISA
4.1. Pendahuluan
Hasil dari studi literatur belum cukup untuk mengambarkan populasi jasa servis komputer dan komponennya di Bandung, beberapa informasi yang tersedia mengungkapkan populasi pelaku E-waste secara umum, berangkat dari kondisi ini, Peneliti memutuskan untuk melakukan sebuah observasi awal untuk mengetahui dan mempelajari aliran E-waste komputer dan komponennya di Bandung.
Dari pengamatan dan wawancara yang dilakukan menemukan bahwa jasa servis yang ada di Bandung dapat dibagi berdasarkan beberapa karakteristik khas, yaitu :
1. Berdasarkan besar-kecilnya modal : Jasa servis dengan modal besar memiliki fasilitas dan suku cadang yang lengkap, biasanya ongkos perbaikan lebih tinggi dari jasa servis yang bermodal kecil. Konsumen yang mengunakan jasanya biasanya berasal dari strata ekonomi menengah ke atas yang mementingkan kualitas dan kenyamanan. Jasa servis seperti ini memilih membuka konter yang disertai jasa jual beli dan banyak terdapat di sentra-sentra elektronik.
2. Berdasarkan tingkat kerusakan : Jasa servis terbagi atas klasifikasi kerusakan komputer yang bisa ditangani. Beberapa jasa servis hanya menerima komputer yang masih baru atau masih bergaransi, sedangkan yang lain bisa menerima perbaikan untuk semua kerusakan.
3. Berdasarkan penyebarannya : Jasa servis berada di sentra-sentra elektronik. Hanya sedikit saja yang tersebar di berbagai tempat.
4. Berdasarkan jasa yang di berikan : Jasa servis ada yang di lengkapi dengan jasa jual-beli, internet dan rental komputer.
Dari karakteristik yang dikemukakan, dalam Penelitian selanjutnya Peneliti menfokuskan pada dua karakteristik jasa servis yaitu: berdasarkan penyebarannya dan berdasarkan jasa lain yang di berikan.
4.2. Observasi Pendahuluan
Berdasarkan penjelasan di atas, Peneliti akan mendefinisikan populasi dengan dua karakteristik, dengan berpedoman kepada peta RTRW kota Bandung terbangun (Lampian A). Peneliti menelusuri seluruh tempat dan jalan yang ada dan mendata semua jasa servis yang terdapat di tempat-tempat tersebut. Adapun hasil pendataan ini akan dijelaskan dalam uraian dibawah ini :
4.2.1. Jasa Servis Berdasarkan Pola Penyebarannya
Jasa servis berdasakan pola penyebarannya terbagi atas jasa servis berkelompok dan jasa servis tidak berkelompok, adapun definisi berkelompok atau tidak berkelompok adalah sebagai berikut:
1. Berkelompok : Jasa servis yang berada di satu bangunan yang sama, terdiri dari dua atau lebih tempat servis yang beroperasi,
2. Tersebar (tidak berkelompok) : Jasa servis yang berada di bangunan yang berbeda-beda.
Dari pendataan yang Peneliti lakukan didapatkan total jumlah jasa servis di daerah studi adalah 426 konter, dengan jumlah jasa servis terbesar adalah berkelompok 368 konter (86%) sedangkan sisanya sebesar 58 konter (14%) tersebar di seluruh Bandung (Gambar 4.1). Kondisi ini didukung oleh kebiasaan warga Bandung yang menjadikan pusat perbelanjan menjadi sarana rekreasi. Jasa servis berkelompok biasanya berada di pusat perbelanjaan ataupun berdekatan dengan sebuah mal atau supermarket. Pada kenyataannya tidak semua pusat perbelanjaan di Bandung memiliki jasa servis. Hasil penemuan Peneliti adalah bahwa hanya 7 pusat perbelanjaan yang memiliki jasa servis. Yaitu :
1. Ultima :
Ultima adalah sentra elektronik tertua di Bandung, terletak di jalan Cihampelas. Konter komputer di kawasan ini sudah beroperasi di atas 10 tahun, konter-konter tersebut berperan sebagai Master Dealer untuk beberapa merek dagang. Jumlah konter yang beroperasi di kawasan ini semakin sedikit, saat observasi hanya ditemukan 3 konter di kawasan ini.
Gambar 4.1. Jasa Servis Berdasarkan Penyebarannya
2. Bandung Elektronik Center (BEC) :
Bandung Elektronik Center (BEC) adalah sentra elektronik yang paling ramai di kota Bandung. Terletak di jalan Purnawarwan, lokasinya sangat strategis, berada di pusat kota dan diapit oleh pusat hiburan dan aktivitas masyarakat lainnya. Sebagian besar perdagangan komputer baru terjadi di BEC. Sentra ini memiliki 77 konter untuk melayani kebutuhan komputer dan komponennya. Selain komputer, BEC juga diramaikan dengan perdagangan handphone, peralatan rumah tangga dan tempat makan. 3. Be mall :
Be mall adalah sebuah sentra elektronik yang berkonsep sama dengan BEC, sebuah bangunan besar yang terletak di jalan Naripan. Ditinjau dari fasilitas yang disediakan dan kemegahan bangunan Be mall adalah sentra elektronik terbaik. Sayangnya, letaknya jauh dari pusat hiburan dan aktivitas masyarakat. Peneliti menemukan bahwa sudah banyak pemilik yang menyewa konter di tempat ini, tetapi karena jumlah pengunjung yang sangat sedikit, membuat banyak konter ini tutup bahkan di hari Sabtu yang biasanya banyak pengunjung.
4. Istana building commodities centre (IBCC) :
Istana building commodities centere (IBCC) adalah sentra elektronik yang menawarkan konsep yang berbeda dari sentra elektronik lainnya, IBCC mengabungkan sentra elektronik dengan sentra peralatan rumah tangga seperti material pembangun rumah (semen, keramik dan lain sebagainya), sentra lampu, dan peralatan rumah tangga lainnya. Posisi sentra elektronik sendiri terletak di plasa IBCC. Walaupun perngoperasian IBCC terhitung
baru (< 3 tahun) tetapi perdagangan komputer di tempat ini terhitung cukup ramai. Hal ini didukung juga oleh posisinya yang berada di jalan Ahmad Yani antara Jaya Plasa dan Kandaga.
5. Bandung trade center (BTC) :
Bandung trade center (BTC) pada dasarnya merupakan sentra belanja. senta elektronik di tempat ini hanya berfungsi sebagai pelengkap bukan bisnis utama. Jumlah konter di BTC adalah 5 buah dan terletak di lantai bawah. Walaupun hanya sebagai pendukung, posisinya yang berada di jalan Pasteur memberi keuntungan tersendiri bagi konter di BTC. Saat Peneliti melakukan pengamatan, di sekitar daerah tersebut jarang sekali dijumpai jasa servis lain yang beroperasi sehingga banyak konsumen yang memanfaatkan jasa servis di BTC ini.
6. Jaya Plasa :
Jaya Plasa sering juga disebut dengan Plasa Ahmad Yani karena lokasinya terletak di jalan Jend. Ahmad Yani. Jaya Plasa adalah salah sentra elektronik yang menyedikan komputer bekas yang cukup banyak. Jaya Plasa mempunyai konter jasa servis komputer terbanyak di Bandung. Banyaknya jasa servis yang beroperasi di tempat ini didukung oleh adanya sentra penjualan komponen elektronik seperti resistor, PCB dan lain sebagainya di lantai pertama. Sentra komponen elektronik ini merupakan sentra terbesar dan terlengkap di Bandung,
7. Kandaga :
Kandaga terletak di jalan Ahmad Yani, merupakan sentra elektronik khusus komputer bekas, walaupun di tempat ini ditemukan adanya transaksi jual-beli komputer baru tetapi kebanyakan transaksi jual beli yang terjadi adalah komputer bekas. Keberadaan Kandaga diduga sebagai pintu masuk E-waste komputer ke Bandung.
Karakteristik tiap sentra elektronik tersebut diatas memang berbeda-beda, baik kondisi bangunan (Lampiran G), fasilitas yang disediakan maupun jumlah jasa servis yang terdapat dalam pusat perbelanjaan tersebut (Tabel 4.1). Adapun pesebaran ketujuh sentra elektroniktersebut dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Penyebaran Jasa Servis Berkelompok Ket : Sentra Elektronik
Tabel 4.1 menunjukan Jaya Plasa adalah tempat yang paling banyak memiliki jasa servisnya (130 konter), disusul oleh BEC dan Kandaga (81 dan 84 konter) setelah itu IBCC (22 konter) dan sisanya terdapat di BTC dan Ultima (4 dan 2 konter). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya kondisi Jaya Plasa yang dilengkapi oleh pusat penjualan komponen elektronik terbesar di Bandung seperti resistor, kabel, dan lain sebagainya, mendorong jasa servis lebih suka membuka konter di plasa ini, karena jika ada komponen yang rusak lebih mudah untuk mencarinya.
Tabel 4.1 Jumlah Jasa Servis Berkelompok
No Nama Alamat Jumlah
1 Ultima Jalan Cihampelas 2
2 BTC Jalan Pasteur 4
3 Jaya Plasa Jalan A.Yani 130
4 BEC Jalan Purnawarman 81
5 IBCC Jalan A.Yani 22
6 Kandaga Jalan A.Yani 84
7 be moll Jalan Naripan 45
Total 368
Pola penyebaran jasa servis yang tidak berkelompok (tersebar) memiliki ciri khas tersendiri. Peneliti menemukan bahwa jasa servis tipe ini banyak terkonsentrasi di daerah yang berhubungan dengan sarana pendidikan tinggi. Kondisi ini dimungkinkan terjadi karena konsumen terbesar jasa servis komputer tipe ini adalah para mahasiswa yang kegiatannya sangat membutuhkan alat bantu komputer. Adapun identitas jasa servis yang tidak berkelompok ini dapat dilihat pada Lampiran D
4.2.2. Jasa Servis Berdasarkan Kategorinya
Karakteristik jasa servis yang lain digunakan Peneliti untuk mengidentifikasi jasa servis adalah jasa-jasa lain yang ditawarkan, seperti jual beli dan internet. Peneliti membagi jasa yang ditawarkan tersebut menjadi empat kategori :
Kategori I : Jasa servis yang hanya menerima untuk menservis satu merek dagang.
Kategori II : Jasa servis yang menerima untuk menservis semua merek. Selain itu konter-konter ini juga melayani jasa jual beli baik komputer baru maupun bekas
Kategori III: Jasa servis semua merek yang juga melayani jasa internet dan rental komputer tetapi tidak melakukn aktivitas jual-beli komputer
Kategori IV: Konter-konter yang hanya melayani jasa servis
Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa jasa servis yang melayani jasa jual-beli untuk semua merek komputer merupakan jasa servis dengan populasi terbesar (345 konter), berikutnya diikuti oleh jasa servis yang hanya melayani jasa servis saja sebanyak 54 konter. Jasa servis yang melayani satu merek dengan jumlah dan jasa servis yang disertai dengan jasa internet dan rental dengan jumlah sama yaitu 11 konter.
Tabel 4.2 Jumlah Jasa Servis Berdasarkan Kategori
N0 Kategori Keterangan Jumlah %
1 I Jasa Servis + Sell one brand 11 3
2 II Jasa Servis + Sell all brand (new/sec) 349 82
3 III Jasa Servis + Internet (no sell) 11 3
4 IV Jasa Servis 55 13
Total 426 100
Bila ditinjau lebih jauh tentang jumlah jasa servis berdasarkan kategori dan pola penyebarannya, akan memberikan informasi yang cukup menarik. Jumlah jasa servis berkelompok (a) berdasarkan kategori dapat dilihat pada Tabel 4.3 sedangkan jumlah jasa servis tersebar (b) yang berdasarkan kategori dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.3. Jumlah Jasa Servis Berkelompok Berdasarkan Kategori.
N0 Kategori Keterangan Jumlah %
1 I.a Jasa Servis + Sell one brand 8 2
2 II.a Jasa Servis + Sell all brand (new/sec) 327 89
3 III.a Jasa Servis + Internet (no sell) 0 0
4 IV.a Jasa Servis 33 9
Total 368 100
Tabel 4.4. Jumlah Jasa Servis Tidak Berkelompok Berdasarkan Kategori.
N0 Kategori Keterangan Jumlah %
1 I.b Jasa Servis + Sell one brand 3 6
2 II.b Jasa Servis + Sell all brand (new/sec) 18 35
3 III.b Jasa Servis + Internet (no sell) 10 19
4 IV.b Jasa Servis 21 40
Total 52 100
Dengan membandingkan Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa jumlah terbesar jasa servis berkelompok terdapat pada jasa servis tipe kategori II.a (89%) sedangkan untuk jasa servis tidak berkelompok adalah jasa servis tipe kategori IV.b (40%). Hal ini berarti bahwa jasa servis berkelompok banyak melengkapi fasilitas mereka dengan jasa jual beli komputer, baik yang baru maupun yang bekas. Sebaliknya jasa servis yang tidak berkelompok biasanya hanya menawarkan jasa servis saja. Dari Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa tidak ada jasa servis berkelompok yang menawarkan jasa internet karena di pusat-pusat perbelanjan biasanya saat ini sudah dilengkapi dengan fasilitas internet gratis yang memungkinkan konsumen untuk mengakses internet dengan mudah dan cepat.
4.2.3. Penentuan Jumlah Sampel
Untuk penelitian ini diketahui bahwa jumlah populasi adalah 426 unit. Dengan tingkat kesalahan pengambilan sampel sebesar 10%, maka jumlah sampel yang representatif adalah :
Dengan memperhatikan komposisi data jasa servis di atas, Peneliti kemudian membagi pembagian sampel berdasarkan semua karakteristik yang ada. Pembagian sampel dilakukan berdasarkan dua tahap :
Tahap I : Berdasarkan pola penyebarannya
Tahap II : Setelah proporsi tahap I sampel dibagi lagi berdasarkan kategori
4.2.3.1. Hasil Penentuan Sampel Tahap I
Dari perhitungan di atas, total jumlah sampel adalah 81 sampel, jumlah tersebut akan dibagi berdasarkan persentasi pola penyebaran jasa servis. Hasil penentuan sampel tahap I dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Jumlah sampel terbesar (70 sampel) ada pada jasa servis berkelompok, karena terdapat 7 buah sentra elektronik yang terdapat jasa servis, maka 70 sampel tersebut harus dapat mewakili penyebaran jasa servis berkelompok. Dapat dilihat pada Tabel 4.6 jumlah sempel terbesar akan diambil pada Jaya Plasa (25 sampel).
Tabel 4.5. Hasil Penentuan Jumlah Sampel Tahap I
No Kategori Jumlah Populasi % Jumlah Sampel
1 Berkelompok 368 86 70
2 Tidak Berkelompok 58 14 11
Total 426 100 81
Tabel 4.6. Hasil Penentuan Jumlah Sampel Jasa Servis Berkelompok
No Nama Jumlah % Jumlah
Sampel Berdasarkan ”information rich” 1 Ultima 2 1 0 1 2 BTC 4 1 1 1 3 Jaya Plasa 130 35 25 25 4 BEC 81 22 15 15 5 IBCC 22 6 4 4 6 Kandaga 84 23 16 16 7 be mall 45 12 9 9 Total 368 100 70 71
4.2.3.2. Hasil Penentuan Sampel Tahap II
Dari perhitungan di atas dapat dilihat jumlah sampel dari jasa servis berkelompok (a) sebanyak 70 sampel dan dari jasa servis tersebar (b) 11 sampel. Untuk
menjamin keterwakilannya maka jumlah tersebut kemudian dibagi lagi berdasarkan kategori :
Tabel 4.7. Jumlah Sampel Jasa Servis Berkelompok Berdasarkan Kategori.
N0 Kategori Keterangan Jumlah % Jumlah Sampel
1 I.a Jasa Servis + Sell one brand 8 2 2
2 II.a Jasa Servis + Sell all brand (new/sec) 327 89 62
3 III.a Jasa Servis + Internet (no sell) 0 0 0
4 IV.a Jasa Servis 33 9 6
Total 368 100 70
Tabel 4.8. Jumlah Sampel Jasa Servis Tidak Berkelompok Berdasarkan Kategori.
N0 Kategori Keterangan Jumlah % Jumlah Sampel
1 I.b Jasa Servis + Sell one brand 3 6 1
2 II.b Jasa Servis + Sell all brand (new/sec) 18 35 4
3 III.b Jasa Servis + Internet (no sell) 10 19 2
4 IV.b Jasa Servis 21 40 4
Total 52 100 11
4.3. Perlakuan Terhadap Komputer
Perkembangan jasa servis komputer di Bandung sejalan dengan perkembangan komputer dan komponennya. Gambar 4. 3 menunjukan bahwa sebagian besar (71%) jasa servis baru beroperasi dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, selanjutnya 18% jasa servis beroperasi antara 4 - 7 tahun, 3% beroperasi antara 8-10 tahun, sedangkan sisanya (8%) beropersi di atas 8-10 tahun. Komposisi terbesar berada di kurun waktu 0 - 3 tahun didukung oleh alasan-alasan sebagai berikut :
a. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir di Bandung berdiri sentra elektronik baru seperti IBCC dan Be Mall.
b. Adanya perubahan jenis usaha yang terjadi di Jaya Plasa dan Kandaga. Dulunya konter di Jaya Plasa dan Kandaga tidak spesial menangani jasa servis komputer, tetapi jasa servis elektronik lain seperti televisi, tape dan radio.
c. Adanya renovasi yang dilakukan oleh BEC, yang merubah semua fungsi lantai teratas, dulunya sentra komputer menjadi sentra makanan sedangkan sentra komputer dipindahkan ke lantai dibawahnya.
Dari wawancara pada jasa servis yang telah beroperasi lebih dari 10 tahun, jasa servis tipe ini biasanya sudah menjadi Master Dealer (Master Dealer 2). Jasa servis ini tidak melakukan aktivitas reparasi sendiri (Gambar 4.4), tetapi memiliki kemampuan mendeteksi dan memilah-milah kerusakan komponen yang terjadi sehingga dapat diserahkan ke distributor.
Gambar 4.3. Persentasi Lama
Usaha Jasa Servis
Gambar 4. 4. Persentasi Jasa Servis yang Melakukan Aktivitas Reparasi
Gambar 4.4 menunjukan bahwa sebagian besar (78%) jasa servis melakukan sendiri aktivitas reparasi yang dibutuhkan. Sisanya (22%) hanya bertindak sebagai perantara antara konsumen dan distributor, dengan kata lain 22% jasa servis hanya menerima reparasi komputer dan komponen yang bergaransi.
Ada berbagai jenis jasa reparasi (Gambar 4.5), seperti perawatan, perbaikan dan up grade. Sebanyak 76% jasa servis melakukan semua aktivitas reparasi tersebut, sekitar 10% hanya melakukan up grade ataupun perbaikan, sedangkan sisanya sekitar 4% hanya melakukan perawatan. Untuk 4% terakhir, jenis perawatan yang biasanya dilakukan adalah dengan membersihkan debu dari komponen ataupun perbaikan software.
Selain jasa reparasi (Gambar 4.6) sebagian besar jasa servis melengkapi pelayanannya dengan fasilitas jual beli, 29% jasa servis hanya melakukan perdagangan jual-beli komputer baru, 9% jasa servis hanya melakukan perdagangan jual-beli komputer bekas, sedangkan 62% sisanya melakukan perdagangan jual-beli komputer baik bekas maupun baru. Walaupun jasa servis khusus yang melakukan jual-beli komputer bekas jumlahnya sedikit, tetapi pada pelaksanaan observasi, jasa servis inilah yang menjadi pusat perhatian, informasi
yang dimiliki oleh respoden tentang E-waste komputer dan komponennya tersebut yang Peneliti butuhkan.
Gambar 4.5. Persentasi Jasa Servis
yang Ditawarkan
Gambar 4.6. Persentasi Jasa Lain yang Ditawarkan
Dalam penelitian ini, Peneliti membagi komputer menjadi dua komponen :
1. Komponen utama, adalah komponen yang menyusun CPU (Central
Processing Unit). Komponen-komponen tersebut adalah prosesor,
motherboard, VGA (Video Graphics Array), memori, power supply dan
hard disk.
2. Komponen pendukung, adalah komponen penyusun komputer selain penyusun CPU (Central Processing Unit). Komponen-komponen tersebut adalah monitor, kasing, keyboard, Mouse, speaker dan DVD/CD room
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, komputer merupakan satuan unit yang tersusun atas komponen-komponennya. Tiap komponen komputer tersebut memiliki daya tahan sendiri-sendiri. Banyak faktor ynag membuat daya tahan komponen ini menurun, penurunan daya tahan komponen pada akhirnya akan memperpendek end of life komputer itu sendiri.
Pabrik pembuat komponen komputer biasanya telah melakukan uji coba dan mengeluarkan nilai end of life sebuah komponen komputer tetapi pada kenyataannya nilai tersebut tidak selalu benar, dibutuhkan sebuah Penelitian lagi untuk memprediksi end of life yang nyata di lapangan, apakah lebih panjang atau bahkan lebih pendek dari end of life yang dikeluarkan oleh pabrik. Di Bandung sendiri, komponen utama komputer yang paling sering rusak (Gambar 4.7) adalah
hard disk (27%), power supply (25%) dan motherboard (21%). Sedangkan komponen pendukung komputer yang paling sering rusak (Gambar 4.8) adalah monitor (34%) dan DVD/CD room (32%).
Gambar 4. 7. Persentasi Komponen
Utama yang Sering Rusak
Gambar 4. 8. Persentasi Komponen Pendukung yang Sering Rusak
Komputer yang mengalami kerusakan akan dibawa ke jasa servis, jika komputer tersebut dalam kondisi mati, jasa servis tidak dapat memprediksi komponen mana yang rusak. Metode yang sering digunakan jasa servis adalah dengan menguji coba semua komponen, tiap komponen dalam komputer akan diganti dengan komponen lain yang berfungsi baik, jika ada satu komponen yang diganti dan komputer akhirnya berfungsi lagi, maka komponen tersebut yang rusak. Setelah itu jasa servis akan berdiskusi dengan konsumen tentang kerusakan yang terjadi dalam PC-nya, keputusan tergantung di tanggan konsumen apakah akan menganti dengan yang baru ataupun yang bekas (Gambar 4.9). Menurut angket, maka 31% lebih suka mengganti dengan yang baru sedangkan sisanya 23% lebih suka mengganti dengan yang bekas.
Setelah komponen yang rusak tersebut diganti dengan komponen yang bekas maupun baru, semua jasa servis akan mengembalikan komponen yang rusak tersebut kepada konsumen. Konsumen kadang kala mendonasi komponen yang rusak tersebut kepada jasa servis, atau menjual komponen yang rusak tersebut. Harga E-waste tersebut sangat rendah misalnya untuk sebuah hard disk yang sudah mati total dihargai sebesar Rp. 10.000 – 15.000.
Jika konsumen memutuskan untuk menganti komponennya dengan yang baru, sedangkan komponen yang rusak tersebut masih dapat diperbaiki, maka proses up
grade yang akan dilakukan, komponen yang rusak tersebut akan ditaksir
berdasarkan nilai komputer bekas, sehingga jumlah uang yang dikeluarkan oleh konsumen jauh lebih hemat. Adapun selisih harga komponen baru dan komponen bekas dapat dilihat pada Gambar 4.10 berikut ini :
Gambar 4.9. Persentasi Perlakuan Jasa Servis terhadap Komponen yang Rusak
Gambar 4.10. Persentasi Selisih Harga Antara yang Baru dan yang Bekas
Dalam proses reparasi komputer (Gambar 4.11), jasa servis juga bertindak sebagai penyedia barang (88%). Hanya sekitar 12% jasa servis yang meminta konsumen yang menyediakan komponen untuk mengganti komponen yang rusak tersebut. Jasa servis yang tidak menyediakan komponen pengganti tersebut biasanya jika menangani konsumen yang memaksa untuk menganti komponen yang rusak dengan komponen bekas sedangkan jasa servis tidak mau melakukannya. Biasanya jasa servis akan mempersilahkan konsumen untuk mencari komponen bekas tersebut, kemudian dibawa ke jasa servis dan dipasang oleh jasa servis.
Gambar 4.11. Persentasi Penyedia Komponen Pengganti
Dari Gambar 4.12 dapat dilihat bahwa sebagian besar (61%) jasa servis tidak menyarankan untuk menggunakan komponen bekas, kalaupun menggunakan
(39%), alasan-alasan (Gambar 4.13) yang sering dikemukakan adalah sebagai berikut :
1. Ekonomis : jasa servis memperkirakan harga komponen komputer baru dan komponen bekas dapat berbeda antara 20 – 30% (Gambar 4.10). Untuk beberapa kalangan konsumen selisih harga ini sangat menguntungkan. 2. Ketersediaan barang : jika komponen bekas untuk menganti komponen yang
rusak tersebut tersedia di jasa servis, maka jasa servis akan mengganti komponen yang rusak tersebut dengan yang bekas.
3. Aviliabilitas : komponen komputer harus cocok dengan komponen komputer yang lainnya sehingga performa komputer bisa efektif. Bagi beberapa konsumen yang masih mengunakan komputer generasi lama, jika terjadi kerusakan, komponen yang rusak tersebut biasanya sudah tidak diproduksi lagi sehingga harus menggunakan yang bekas.
Gambar 4.12. Persentasi Jasa Servis
yang Menyarankan
Gambar 4.13. Persentasi Alasan Pengunaan Komponen Bekas
4.4. Perlakuan Terhadap E-waste Komputer
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kadang kala jasa servis mengganti komponen yang rusak tersebut dengan yang bekas. Kondisi ini tentu saja memberikan pertanyaan “Dari mana jasa servis tersebut memperoleh komponen pengganti tersebut ?”. Banyak aktivitas di sekitar jasa servis yang mungkin dapat mendatangkan komponen bekas (Gambar 4.14), yaitu sebagian besar (31%) memperoleh komponen bekas dari sesama jasa servis, 24% pemilik barang (konsumen) yang datang untuk menjual komponen komputer, 18% mendapatkan dari proses reparasi yang dilakukan, 18% membeli di sentra elektronik dan 9% membeli dari distributor E-waste komputer; tidak ada jasa servis yang mencari
komponen bekas tersebut dari rumah-rumah, tukang loak ataupun pemulung. Perlu dicermati, jasa servis kadang kala melakukan semua aktivitas terebut di atas, artinya jika membutuhkan komponen bekas, jasa servis dapat memperoleh dari sesama jasa servis dan membeli di sentra elektronik.
Gambar 4.14. Presentasi Perolehan Komponen Bekas Jasa Servis
Jasa servis juga memperoleh komponen bekas dari proses reparasi yang dilakukan (Gambar 4.15), jenis reparasi up grade (57%) memberi sumbangan komponen bekas yang paling banyak, kemudian disusul oleh donasi konsumen (28%) dan proses perbaikan (15%). Sedangkan jasa servis tidak mendapatkan komponen bekas dari proses perawatan karena biasanya hanya membersihkan hardware tanpa mengganti komponen komputer ataupun perbaikan pada kerusakan software.
Kandaga (37%) dan Jaya Plasa (33%) merupakan sentra elektronik untuk mencari komponen bekas terbesar, selanjutnya di BEC (17%) dan IBCC (13%). Tidak ada jasa servis yang mencari komponen bekas di Ultima, BTC dan Be mall. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.16. Baik dari proses donasi konsumen maupun dari membeli dari konsumen, jasa servis tetap memiliki E-waste komponen komputer, Gambar 4.17 menunjukkan 21% akan mencoba memperbaiki komponen tersebut, 29% akan menyimpan komponen tersebut untuk aktivitas kanibalisme komponen, 8% membuang ke tempat sampah domestik, yaitu memberikannya kepada pemulung untuk dijual lagi, sedangkan sebagian besar akan menjual komponen tersebut.
Gambar 4.15. Persentasi Perolehan Komponen Bekas dari Aktivitas Servis
Gambar 4.16. Persentasi Sentra Elektronik Tempat Mencari Komponen Bekas
Gambar 4.17. Presentasi Perlakuan terhadap E-waste
4.5. Tanggapan Responden terhadap Bahaya E-waste Komputer
Seperti yang telah dijelaskan pada BAB II sebelumnya, komputer dan komponennya mengandung banyak sekali bahan berbahaya dan beracun (B3). Jasa servis sebagai pekerja yang bekerja dengan komputer ternyata memiliki pengetahuan yang berbeda-beda terhadap B3 tersebut (Gambar 4.18). 77% mengatakan tidak tahu mengenai bahan bahaya tersebut, 15% mengatakan hanya tahu sedikit atau pernah mendengar, sedangkan hanya sekitar 8% yang tahu persis bahaya B3 dalam komputer tersebut. Tujuh dari bahan B3 tersebut dapat menyebabkan penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker dan kerusakan DNA (Gambar 4.19), 82% jasa servis mengatakan tidak tahu mengenai hal tersebut sedangkan sisanya 18% menyatakan tahu sedikit seperti radiasi monitor dapat merusak mata, tidak ada yang tahu banyak tentang hal ini.
Saat melaksanakan wawancara Peneliti juga membawa selebaran kandungan B3 dalam komputer dan bahayanya terhadap kesehatan yang di kutip dari
www.greenpeace.com. Selebaran tersebut kemudian dibagikan kepada semua jasa servis yang diwawancarai. Setelah membaca dan berdiskusi dan mengetahui bahaya-bahaya tersebut, sebagian besar (79%) jasa servis tidak ingin melakukan apapun terhadap hal itu, sisanya sekitar 21% masih pada tahap mencari informasi tambahan (Gambar 4.20). Adapun alasan yang dikemukaan oleh jasa servis yang tidak ingin melakukan apapun adalah 46% mengatakan hal tersebut sudah menjadi resiko pekerjaan, 32% mengatakan tidak sering melakukan aktivitas reparasi
hardware hanya memilah-milah kerusakan, 14% mengatakan tidak merasa perlu
untuk melakukan sesuatu dan 8% berpikir sebaiknya tidak tahu (Gambar 4.21).
Gambar 4.18. Persentasi Pengetahuan terhadap Bahan Berbahaya
Gambar 4.19. Persentasi Pengetahuan terhadap B3
Gambar 4.20. Persentasi Tindakan yang Akan Dilakukan