• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERFORMA AYAM RAS PEDAGING TERHADAP PEMBATASAN WAKTU AKSESIBILITAS PAKAN PERFORMA OF BROILER ON RESTRICTION TIME OF FEED ACCESIBILITY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERFORMA AYAM RAS PEDAGING TERHADAP PEMBATASAN WAKTU AKSESIBILITAS PAKAN PERFORMA OF BROILER ON RESTRICTION TIME OF FEED ACCESIBILITY"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PERFORMA AYAM RAS PEDAGING

TERHADAP PEMBATASAN WAKTU AKSESIBILITAS PAKAN

PERFORMA OF BROILER

ON RESTRICTION TIME OF FEED ACCESIBILITY

Sahiruddin,1 Djoni Prawira Rahardja2, Asmuddin Natsir2

1

Pasca Sarjana Ilmu dan Teknologi Peternakan, Universitas Hasanuddin

2

Staf Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin

Alamat Korespondensi :

Sahiruddin, S.Pt Program Pasca Sarjana

Ilmu dan Teknologi Peternakan Universitas Hasanuddin

Makassar, 90245 HP : 081355500030

(2)

Abstrak

Suhu lingkungan yang tinggi dapat menganggu proses homeostatis dan metabolisme ayam ras pedaging, melalui mekanisme cekaman panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa ayam ras pedaging yang diberi perlakuan pembatasan waktu aksesibilitas pakan yang berbeda. Sebanyak 200 ekor ayam ras pedaging (100 ekor jantan dan 100 ekor betina) strain cobb dibagi secara acak berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan pembatasan waktu aksesibilitas pakan dan 5 ulangan, dan masing-masing ulangan terdiri atas 10 ekor. Perlakuan pembatasan yang pakan yang diterapkan : (1) 3 jam (jam 09.00 – 12.00),(2) 5 jam (jam 09.00 – 14.00), (3) 7 jam (jam 09.00 – 16.00), (4) tanpa pembatasan waktu aksesibilitas pakan (kontrol). Setiap perlakuan terdiri dari 10 ekor (5 jantan dan 5 betina). Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa dengan pembatasan waktu aksesibilitas pakan 5 jam lebih baik dibanding dengan 2 kelompok perlakuan yang lain dan kontrol. Hal ini ditandai dengan pertambahan berat badan, konsumsi air dan konversi pakan yang lebih baik.

Kata kunci : Performa, waktu aksesibilitas pakan, ayam ras pedaging

Abstract

High ambient temperatures can disrupt the homeostasis and metabolism of broiler, through the mechanism of heat stress. The research was conducted to determine the performance of broiler subjected to various restriction time of feed accesibility. There were 200 DOC (100 males and 100 females) of cob strain used in the experiment; in accordance with completely randomized design (CRD), the animal were divided into 4 groups of treatment with 5 times of replication : (1) 3 h (09.00 am to 12.00 am), (2) 5 h (09.00 am to 02.00 pm), (3) 7 h (09.00 am to 04.00 pm), (4) feed were provided all the day time (control). Each group consisted of 10 animals (5 males and 5 females). The results indicated that : performance of 5 h restricted time of feed accessibility group was better compared with the others 2 groups and control. This is indicated by body weight gain, water consumption and feed conversion ratio.

(3)

PENDAHULUAN

Ayam ras pedaging merupakan ayam yang mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, kulit putih dan bulu merapat ke tubuh (Suprijatna dkk., 2005), daging lembut, kulit halus dan tulang dada yang lunak (Ensminger, 1980) dan merupakan ayam penghasil daging yang memiliki kecepatan tumbuh pesat dalam kurun waktu yang singkat (Yuwanta, 2004)

Ayam ras pedaging memiliki siklus produksi lebih singkat dibandingkan dengan ternak unggas komersial lain karena mempunyai sifat genetik yang semakin baik, khususnya untuk karakter pertumbuhan. Banyak faktor yang terlibat dalam menentukan produktivitas ayam ras pedaging, suhu dan kelembaban udara yang tinggi merupakan faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya heat stress (cekaman panas). Hampir setengah dari terlambatnya pertumbuhan pada daerah dengan iklim panas, disebabkan oleh pengaruh langsung dari suhu dan kelembaban udara yang tinggi (May dkk., 2000)

Suhu lingkungan yang tinggi dapat menganggu proses homeostatis dan metabolisme, melalui mekanisme cekaman panas yang ditandai dengan kondisi panting pada ayam ras pedaging. Panting merupakan salah satu respon tingkah laku ayam ras pedaging akibat cekaman panas, dari suhu lingkungan yang tinggi pada mekanisme evaporasi melalui saluran pernafasan. Solusi alternatif yang dapat dilakukan untuk antisipasi terjadinya cekaman panas, yaitu dengan melakukan pengaturan waktu dan lama pembatasan pemberian pakan. Strategi ini dilakukan dengan memberikan akses waktu terbatas pada tempat pakan pada saat suhu dan kelembaban udara tinggi, dan sebaliknya meningkatkan tingkat konsumsi pakan pada saat suhu harian dalam keadaan minimum (Altan dkk., 2000).

Metode untuk program pembatasan pakan dilakukan dengan cara kuantitatif yaitu mengurangi jumlah pakan dari jumlah kebutuhan normal untuk pertumbuhan, maupun secara kualitatif dengan cara mengurangi jumlah kandungan nutrisi dalam batasan tertentu selama periode singkat (Rincon dkk., 2002). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui performa ayam ras pedaging, dengan perlakuan waktu dan lama pembatasan pemberian pakan yang berbeda pada kondisi suhu dan kelembaban udara tinggi.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilakukan pada bulan september 2012 di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Bahan yang digunakan adalah ayam ras pedaging strain cobb sebanyak 200 ekor (masing-masing 100 ekor jantan dan betina) umur 21 hari, pakan komersil (starter dan

(4)

finisher). Alat yang digunakan adalah kandang jenis panggung yang di dalamnya dibuat petak

ukuran 1x1,25 m sebanyak 20 buah, timbangan, tempat pakan dan minum.

Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL). Kelompok T0 (tanpa pembatasan waktu aksesibilitas pakan), Kelompok T1 (pembatasan waktu aksesibilitas pakan 3 jam, mulai Jam 09.00-12.00 Wita), T2 (Pembatasan waktu aksesibilitas pakan 5 jam, mulai Jam 09.00-14.00 Wita), kelompok T3 (pembatasan waktu aksesibilitas pakan 7 jam, mulai Jam 09.00-16.00 Wita). Terdapat 4 Unit perlakuan, masing-masing 10 ekor dan diulang sebanyak 5 kali sehingga keseluruhan digunakan 200 ekor ayam percobaan.

Parameter dan Teknik Pengukuran

Parameter penelitian meliputi pertambahan berat badan, konsumsi pakan, konsumsi air minum dan konversi pakan. Pertambahan berat badan merupakan jumlah bobot badan (g) yang dihasilkan selama 1 minggu yang diperoleh dengan melakukan penimbangan di awal dan akhir minggu, selanjutnya hasil penimbangan di akhir minggu dikurangi dengan hasil penimbangan di awal minggu. Konsumsi pakan (g) diukur setiap hari dan direkap pada akhir minggu dengan melakukan penimbangan jumlah pakan yang tersisa di tempat pakan dan menghitung selisihnya dengan jumlah pemberian pada awal minggu tersebut. Konsumsi air minum (ml) diukur setiap hari dan direkap pada akhir minggu dengan mengurangkan jumlah pemberian dengan air yang tersisa dan dikoreksi dengan tingkat penguapan. Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang dikonsumsi (g) untuk mencapai produksi bobot badan 1 kg, yang diperoleh dengan membagi jumlah konsumsi pakan dengan jumlah berat badan (g) pada akhir minggu tersebut. Hasil yang diperoleh pada pengukuran minggu ke IV dan V pada semua parameter pengukuran, diambil nilai rata-rata.

Analisa Data

Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan sidik ragam sesuai Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan model matematika Yij = µ + i + €ij. Dimana Yij = Nilai pengamatan,

µ = nilai tengah populasi (rata-rata), i = pengaruh aditif pembatasan aksesibilitas pakan pada (i : 1,2,3,4), €ij = pengaruh galat percobaan ke-i dan ulangan ke j.

HASIL

Suhu dan Kelembaban Udara

Pengukuran suhu dan kelembaban udara dilakukan dari jam 06.00 – 18.00. suhu dan kelembaban udara yang diperoleh bervariasi antara (24,40 – 32,00 0C) dan (82 – 85 %). Interval peningkatan suhu dan kelembaban udara pada lokasi penelitian (Tabel 1).

(5)

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan waktu dan lama pembatasan pakan (minggu ke IV dan V) menunjukkan perbedaan (P<0,05) terhadap pertambahan berat badan, konsumsi pakan, konsumsi air minum dan konversi pakan.

Pertambahan Berat Badan

Uji lanjut menunjukkan bahwa pembatasan waktu aksesibilitas pakan selama 5 dan 7 jam, diperoleh pertambahan berat badan yang lebih tinggi (P<0,05) dibanding kontrol, tetapi tidak berbeda (P>0,05) apabila pembatasan waktu aksesibilitas pakan dilakukan 3 jam.

Konsumsi Pakan

Uji lanjut menunjukkan bahwa pembatasan waktu aksesibilitas pakan selama 5 dan 7 jam, diperoleh konsumsi pakan yang lebih tinggi (P<0,05) dibanding kontrol, tetapi tidak berbeda (P>0,05) apabila pembatasan waktu aksesibilitas pakan dilakukan 3 jam.

Konsumsi Air Minum

Uji lanjut menunjukkan bahwa pembatasan waktu aksesibilitas pakan selama 5 dan 7 jam, diperoleh konsumsi air minum yang lebih tinggi (P<0,05) dibanding kontrol, tetapi tidak berbeda (P>0,05) apabila pembatasan waktu aksesibilitas pakan dilakukan 3 jam.

Pembatasan pakan yang lebih lama (5 dan 7 jam) kecenderungan dengan tingkat konsumsi air minum yang lebih rendah, namun pencapaian tingkat pertumbuhan yang lebih baik dibanding pembatasan pakan dengan durasi yang lebih singkat (3 jam) atau bahkan dengan tanpa pembatasan.

Konversi Pakan

Uji lanjut menunjukkan bahwa pembatasan waktu aksesibilitas pakan selama 5 dan 7 jam, diperoleh konversi pakan yang lebih rendah (P<0,05) dibanding kontrol, tetapi tidak berbeda (P>0,05) apabila pembatasan waktu aksesibilitas pakan dilakukan 3 jam.

PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa pembatasan waktu aksesibilitas pakan lebih lama (5 dan 7 jam) memberikan performa yang lebih baik yang ditandai dengan nilai pertambahan berat badan yang tinggi dan angka konversi pakan yang rendah. Suhu dan kelembaban udara menunjukkan bahwa lokasi penelitian dapat dikategorikan sebagai kondisi klimatik yang cukup tinggi. Kondisi tersebut diindikasikan dapat menyebabkan terjadinya cekaman panas pada ayam ras pedaging. Dalam upaya mempertahankan produksi yang optimum, Ayam ras pedaging diusahakan agar tetap berada pada zona thermoneutral, yaitu kondisi dengan kisaran suhu lingkungan yang normal (Dirain dkk., 2002). Zona thermoneutral unggas berkisar antara 17 - 20 oC (Rahardja, 2010), 18 – 20 oC (Toyomizu dkk., 2005) ,18,3 - 23,9

(6)

o

C (North dkk., 1990). Kondisi ini ditandai dengan lingkungan tingkat metabolik minimum sebagai batas terendah dan terjadinya peningkatan pengeluaran panas dengan cara evaporasi sebagai batas tertinggi.

Suhu dan kelembaban udara tinggi pada daerah tropis, produktivitas yang baik sulit untuk dicapai, karena secara simultan tubuh unggas tersebut menghadapi kelebihan produksi panas, yang harus didepasikan disamping menghadapi penambahan beban panas dari lingkungan dengan suhu dan kelembaban udara tinggi (Rahardja, 2010). Kondisi ayam ras pedaging akan lebih sensitif terhadap suhu dan kelembaban udara tinggi dibanding dengan lingkungan yang memiliki suhu dan kelembaban udara yang rendah (Card dkk., 1966).

Beberapa hasil penelitian lain pada wilayah tropis menunjukkan adanya kecenderungan yang sama dengan hasil penelitian ini. Sultan, dkk (2005) dengan perlakuan pembatasan pakan pada ayam ras pedaging (umur 3 - 6 minggu) pada siang hari dengan durasi 6 - 10 jam dimulai pada jam 09.00, menunjukkan kecenderungan pertambahan berat badan lebih baik dibanding tanpa pembatasan pakan. Pada umur yang lebih muda (7 - 14 hari), pembatasan akses terhadap pakan selama 6 – 8 jam per hari pada kondisi ayam sedang mengalami cekaman panas, memberikan hasil pertumbuhan yang lebih baik (Lee dkk., 2001). Pembatasan waktu aksesibilitas pakan (3 jam) pada penelitian ini tidak menunjukkan adanya perbaikan tingkat pertumbuhan, dibanding ayam tanpa pembatasan pakan. Ayam ras pedaging strain cobb dengan pembatasan pakan selama 2 - 4 jam per hari yang dimulai pada umur 2 - 5 minggu, memiliki tingkat pertambahan berat badan yang tidak berbeda dibandingkan ayam yang waktu akses pakannya dibatasi. Pembatasan waktu aksesibilitas pakan yang berlangsung selama 2 jam, pakan dalam crop (tembolok) masih tersisa dengan kondisi telah mengalami pencampuran dengan air minum. Pembatasan waktu aksesibilitas pakan yang dilakukan selama 4 jam akan didapatkan ayam dengan kondisi crop,

proventriculus dan gizzard yang kosong, namun dengan usus halus yang masih penuh

(Banong dkk., 2011). Kurangnya produksi panas yang dihasilkan dari pakan yang dikonsumsi pada siang hari, ayam akan lebih mudah mengeluarkan panas berlebihan dari dalam tubuh melalui sistem pernafasan (Francis dkk.,1991)

Ayam ras pedaging dengan perlakuan pembatasan waktu aksesibilitas pakan lebih lama (5 – 7 jam) memiliki konsumsi pakan rendah, karena kesempatan aktivitas makan lebih terbatas. Kecenderungannya apabila diberi kesempatan yang lebih lama, akan mengkonsumsi pakan secara berlebihan. Program pembatasan pakan merupakan salah satu strategi yang dilakukan dalam mengurangi dampak akibat konsumsi pakan yang berlebihan, dengan cara membatasi waktu akses ayam terhadap tempat pada waktu tertentu (Hasegawa dkk., 1994).

(7)

Ayam yang diberikan pakan dalam jumlah banyak, tidak berarti akan mencapai pertambahan berat badan yang tinggi pula. Pembatasan waktu aksesibilitas pakan pada suhu dan kelembaban udara tinggi, memberi efek pencapaian pertambahan berat badan yang tinggi. Rendahnya pertambahan berat badan ayam dengan pemberian pakan secara

adlibitum, berkaitan dengan efek cekaman panas (Dirain dkk., 2002). Cekaman panas

bersumber dari lingkungan di luar tubuh dan efek beban panas dari metabolisme di dalam tubuh, akibat konsumsi pakan yang berlebih. Kondisi ini akan meningkatkan suhu tubuh ayam sebagai respon terjadinya efek kalorigenik pakan, dari sejumlah pakan yang dikonsumsi.

Perbedaan konsumsi air minum dipengaruhi oleh konsumsi pakan. Konsumsi pakan tinggi, kecenderungannya diikuti konsumsi air minum yang tinggi. Kebutuhan air minum dalam 1 hari pada suhu 25 0C adalah 2 kali konsumsi pakan, sedangkan pada suhu 30 - 32 0C hampir 4 kali jumlah konsumsi pakan (Sudaryani dkk.,2002). Hal ini berkaitan dengan upaya ayam untuk mengurangi panas tubuh akibat sejumlah pakan yang dikonsumsi.

Konsumsi pakan akan memberikan respon pada tubuh ayam untuk menyesuaikan kondisi homoestatis, dengan mengkonsumsi air lebih banyak. Ayam ras pedaging yang dibatasi waktu akses pakan dengan durasi yang lebih lama dan telah mengalami dehidrasi, menggunakan subtansi dalam jaringan untuk menghasilkan energi metabolik yang juga dapat digunakan ternak untuk mempertahankan homeostatis tubuh (Pires dkk., 2007). Dengan demikian, kondisi pembatasan pakan pada penelitian ini, masih dapat mempertahankan pemenuhan tubuh untuk pertumbuhan sehingga walaupun waktu akses pakan dibatasi dengan durasi yang lebih lama tetap dapat bertumbuh dengan baik. Pembatasan waktu aksesibilitas pakan 5 dan 7 jam, diperoleh pertambahan berat badan mingguan masing-masing 661 g/e dan 636 g/e.

Rendahnya angka konversi pakan pada ayam dengan pembatasan waktu aksesibilitas pakan lebih lama, menunjukkan efektifitas dari sejumlah pakan yang dikonsumsi. Pembatasan waktu aksesibilitas pakan 5 dan 7 jam diperoleh angka konversi pakan masing-masing 1,50 dan 1,56. Perbaikan efisiensi penggunaan pakan terlihat pada ayam dengan pembatasan waktu aksesibilitas pakan durasi yang lebih lama, pada saat suhu harian mencapai kondisi maksimum (Mahmood dkk., 2005). Angka konversi pakan lebih baik dengan perlakuan pembatasan pemberian pakan pada ayam ras pedaging yang mengalami cekaman panas dibanding dengan pemberian secara adlibitum (Zubair dkk., 1994), (Zhong dkk., 1995), (Lee dkk., 2001), (Rincon dkk., 2002).

(8)

Efisiensi pakan pada ayam ras pedaging dengan cara pembatasan waktu aksesibilitas pakan, disebabkan berkurangnya dampak cekaman panas pada siang hari sebagai bentuk respon berkurangnya panas metabolik dari berkurangnya tingkat konsumsi pakan. Salah satu indikasi berkurangnya dampak cekaman panas sehubungan pembatasan waktu aksesibilitas pakan dilihat pada penurunan suhu tubuh dibanding ayam yang tanpa pembatasan pakan (Anjum, 2000). Dampak negatif dari pembatasan waktu aksesibilitas pakan dapat diatasi dengan pemberian beberapa subtansi yang dapat membantu tubuh mempercepat proses homeostasis seperti halnya vitamin C (Altan dkk., 2000).

KESIMPULAN DAN SARAN

Pembatasan waktu aksesibilitas pakan selama 5 memberikan performa yang lebih baik, yang ditandai dengan nilai pertambahan berat badan, konsumsi pakan, konsumsi air minum dan konversi pakan yang lebih baik. Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan untuk melakukan pembatasan waktu aksesibilitas pakan selama 5 jam pada saat suhu dan kelembaban udara tinggi, sebagai upaya untuk mencapai performa yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Altan, O., Altan, I., Ogus, A., Pabuccuoglu, P. and Konyalioglu, S. (2000). Effect of heat stress on growth, some blood variables and lipid oxidation in broiler exposed to high temperature at an early age. British Poult. Sci. 41: 489 – 493.

Anjum, M. S. (2000). Productive performance and physiological behavior of white leghorn

caged layers under different heat combating practices during summer. Thesis.

Pakistan: Department of Poultry Husbandry Univesity of Agriculture Faisalabad.

Banong, S. dan Hakim, M.R. (2011). Pengaruh umur dan lama pemuasaan terhadap performa dan karakteristik karkas ayam pedaging. JITP. 1(2): 98 – 106.

Card, L.E. and Nesheim, M.C. (1966). Poultry production. Lea and Febiger: Philadelphia. Dirain, C.P.O. and Waldroup, P.W. (2002). Protein and amino acid needs of broilers in warm

weather. Int.J. Poult. Sci. 1(4): 40 – 46.

Ensminger. (1990). Feed Nutrition Complete. The Ensminger Publishing Company Clovis: California.

Francis, C.A., Macleod, M. G. and Anderson, J.E.M. (1991). Alleviation of heat stress withrawal or darkness. British Poult. Sci. 32: 219 – 225.

Hasegawa, S., Hatano, S.K., Ushima. and Hikami, Y. (1994). Effect of fasting on adipose tissue accumulation in chicks with reference to change in its chemical composition and lipase activity. Anim. Sci. Tech. 65: 89 – 98.

Lee, K.H. and Leeson, S. (2001). Performance of broilers limite quantities of feed or nutrients during seven to fourteen days of age. Poult. Sci. 80: 446 – 454.

Mahmood, S., Hasan, F., Ahmad, M., Ashraf, M., Alam. and Muzaffar, A. (2005). Influencee of feed withdrawal for different duration on the performance of broiler in summer. Int.

J. Agric. Biol. 7(6): 975 – 978.

May, J.D. and Lott, B.D. (2000). The effect of Environmental temperature on growth and feed conversion of broiler to 21 days of age. Poult. Sci. 79: 669 – 671.

(9)

North, M.O. and Bell, D.D. (1990). Commercial chicken production manual and avi book

publishing. Nostralnd Reinhold: New York.

Pires, D.L., Malheiros, E.B. and Boleli, I.C. (2007). Influence of sex, age and fasting on blood parameters and body, bursa, spleen and yolk sac weights of broiler chicks. Rev. Brasileira de Ciê Avíc. 9(4): 233 – 240.

Rahardja, D.P. (2010). Ilmu lingkungan ternak. Makassar: Masagena Press.

Rincon, M.U. and Leeson, D.S. (2002). Quantitative and qualitative feed restriction on growth characteristics of male broiler chickens. Poult. Sci. 81: 679 – 688.

Sudaryani, T. dan Santosa, H. (2002). Pembibitan ayam ras. Penebar Swadaya: Jakarta. Sultan, M., Hasan, S., Ahmad, F., Ashraf, M., Alam, M. and Muzaffar, A. (2005). Influencee

of feed withdrawal for different duration on the performance of broiler in summer. Int.

J. Agric. Biol. 7(6): 975 – 978.

Suprijatna, E., Atmomarsono, U. dan Kartasudjana, R. (2005). Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya: Jakarta.

Toyomizu, M., Tokuda, M., Mujahid, A. and Akiba, Y. (2005). Progressive alteration to core temperature, respiration and acid-base balance in broiler chicken exposed to acute heat stress. Poult. Sci. 42: 110 – 118.

Yuwanta, T. (2004). Dasar Ternak Unggas. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

Zhong, C., Nakaue, H.S., Hu, C.Y. and Mirosh, L.W. (1995). Effect of full feed and feed restriction on broiler performance, abdominal fat level, cellularity and fat metabolism in brolier chicken. Poult. Sci. 1634 – 1643.

Zubair, A.K. and Leeson, D.S. (1994). Effect of varying period of early nutrient restriction on growth compensation and carcass characteristics male broilers. Poult. Sci. 73: 129 – 136.

(10)

Tabel 1. Rataan hasil pengukuran suhu dan kelembaban udara pada lokasi penelitian di minggu ke IV dan V.

Waktu Pengukuran Suhu (oC) Kelembaban (%)

Jam 06.00 Wita 24,40 82 Jam 07.00 Wita 25,20 82 Jam 08.00 Wita 26,70 83 Jam 09.00 Wita 28,20 83 Jam 10.00 Wita 30,60 84 Jam 11.00 Wita 31,40 86 Jam 12.00 Wita 33,70 88 Jam 13.00 Wita 35,20 88 Jam 14.00 Wita 34,60 88 Jam 15.00 Wita 33,30 87 Jam 16.00 Wita 32,50 87 Jam 17.00 Wita 32,20 86 Jam 18.00 Wita 32,00 85

Tabel 2. Rataan ± SD parameter performa produksi ayam ras pedaging strain cobb dengan pembatasan waktu aksesibilitas pakan yang berbeda pada minggu ke IV dan V.

T0 T1 T2 T3

Pertambahan Berat Badan (g/e) 609 ± 16,90a 615 ± 25,66ab 661 ± 12,70c 636 ± 12,66b Konsumsi Pakan (g/e) 1019 ± 12,39b 1010 ± 2,12b 995 ± 5,49a 991 ± 4,08a Konsumsi Air Minum (ml/e) 2427 ± 28,10b 2395 ± 24,10b 2310 ± 53,75a 2281 ± 23,20a Konversi Pakan 1,67 ± 0,04b 1,64 ± 0,06b 1,50 ± 0,02a 1,56 ± 0,03a

abc

Superskrip yang berbeda mengikuti nilai rataan pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

Keterangan :

T0 : Pemberian pakan secara ad libitum

T1 : Pembatasan waktu aksesibilitas pakan selama 3 jam T2 : Pembatasan waktu aksesibilitas pakanselama 5 jam T3 : Pembatasan waktu aksesibilitas pakan selama 7 jam

Gambar

Tabel 1. Rataan hasil pengukuran suhu dan kelembaban udara pada lokasi penelitian  di minggu ke IV dan V

Referensi

Dokumen terkait

Data citra Landsat memiliki beberapa keunggulan yaitu konsistensi resolusi spasial yang ideal dalam menyadap fisikal kota (areal terbangun) dan keunggulan pada resolusi

Hasil penelitian Agus Sartono dan Mishabul Munir menyimpulkan bahwa rata-rata PER untuk tujuh industri yang berbeda adalah tidak sama; pertumbuhan laba, ROA, Devidend Payout

Titik-titik tersebut memiliki tingkat kebisingan yang tinggi karena untuk titik 2, 3, dan 4 berada di pinggir jalan dan di tandai dengan kontur berwarna merah, dan titik 6 dan 9

Yang dimaksud dengan memberikan bantuan dana dalam ketentuan ini adalah pemberian sejumlah dana yang didasarkan pada Keputusan Gubernur Sulawesi Tenggara Nomor 357 Tahun 2010

Dari penentuan nilai tersebut dilakukan penentuan nilai kepentingan dari setiap kriteria yang nantinya digunakan sebagai penentuan nilai bobot dari kriteria nilai dari

Satu-satunya wadah organisasi siswa di sekolah untuk mencapai tujuan pembinaan dan pengembangan kesiswaan adalah Organisasi Intra Sekolah disingkat OSIS. OSIS bersifat intra

Tepubina bandar telah dirujuk sebagai petunjuk bersepadu (integrative indicator) di dalam pengurusan bersepadu lembangan saliran (Brun &amp; Band, 2000; Environment Protection

Hasil : Bahwa z-hitung &gt; z-tabel dengan demikian H ₁ diterima artinya ada pengaruh dengan hasil berdasarkan penelitian menunjukkan hasil uji wilcoxon diperoleh z-hitung 2,595