• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DENGAN MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO PARTISIPASI TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SMA NEGERI 7 DENPASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DENGAN MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO PARTISIPASI TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SMA NEGERI 7 DENPASAR"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

12

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DENGAN

MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO PARTISIPASI TERHADAP

KETERAMPILAN PROSES SAINS SMA NEGERI 7 DENPASAR

Made Manik Sugiarta, Dewa Ayu Sri Ratnani

Program Studi Pendidikan BiologiFKIP Unmas Denpasar

ABSTRAK

Proses Pembelajaran Biologi kurang efektif jika menggunakan model pembelajaran konvensional. Biologi yang sebagian besar materinya hafalan susah dipelajari jika guru menggunakan sistem ceramah. Salah satu model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuiri diintegrasikan dengan aspek teknologi video partisipasi. Rumusan masalah adalah apakah ada perbedaan penerapan model pembelajaran inkuiri dengan media video partisipasi terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X SMA 7 Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbedaan KPS siswa kelas X SMA 7 Denpasar yang dibelajarkan melalui model pembelajaran inkuiri terhadap siswa dengan model pembelajaran konvensional dengan media video partisipasi. Desain penelitian menggunakan Quasi Experimental Design dengan rancangan Posttest Only Control Design. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 7 Denpasar. Sampel dalam penelitian ini siswa kelas X MIA2 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X MIA4 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan rubrik KPS. Data KPS dianalis secara kuantitatif menggunakan Uji Mann-Whitney U Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dengan video partisipasi terhadap KPS dengan hasil uji Mann-Whitney U Test (p=0.000) menyatakan ada perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sehingga penerapan model pembelajaran inkuiri dengan media pembelajaran video partisipasi yang dibelajarkan kepada siswa kelas X SMAN 7 Denpasar akan berbeda.

KataKunci: Keterampilan Proses Sains, Inkuiri, dan Video Partisipasi

ABSTRACT

The Biology learning tends to be boring if it is taught with conventional method. One of the learning model to solve this problem is inquiry learning model. Inquiry learning model is integrated with technology aspect that is participation video. The purpose of this research to measure the difference of KPS of student of SMAN 7 Denpasar which is learned by inquiry learning model to the student which is learned by conventional learning model with participation learning model. The design of research is using Quasi Of Experimental Design with Postest Only Control Design Draft. This research was held at SMAN 7 Denpasar. The samples of this research are the 10th grade MIA 2 as experiment class, but student of 10th grade MIA4 as class control. Technique of data collection used KPS rubric. The result of research showed the application of inquiry learning model with the participation video to KPS with result Mann-Whitney U Test (p=0.000) mentioned there is significant difference between experiment class and control class. So application of inquiry learning model with participation video learning which is learned to the student 10 grade SMAN 7 Denpasar KPS will be different.

(2)

12 PENDAHULUAN

Pembelajaran adalah proses interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam maupun di luar kelas dengan menggunakan berbagai sumber belajar sebagai kajian. Di dalam melaksanakan proses pembelajaran maka diperlukan partisipasi berbagai pihak karena keberhasilan suatu proses pendidikan tidak hanya bergantung pada pendidik maupun peserta didik, tetapi juga dipengaruhi factor luar yaitu lingkungan sekitar, keluarga dan masyarakat (UU RI No.20 tahun 2003). Oleh sebsb itu diperlukan pembaharuan atau inovasi

dalam proses pembelajaran untuk

meningkatkan inovasi dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, dan diharapkan dapat mencetak lulusan yang mempunyai daya saing tinggi untuk menghadapi persaingan dan tantangan di dunia kerja.Pembelajaran biologi sebagai sains menurut Carin (1993), meliputi 3 aspek yaitu produk, proses, dan sikap. Biologi sebagai produk (content) berarti dalam biologi terdapat fakta, hukum, prinsip dan teori-teori yang sudah diterima kebenarannya. Sebagai proses artinya biologi merupakan suatu proses atau model untuk mendapatkan pengetahuan, dan sebagai sikap artinya dalam biologi terkandung pengembangan sikap ilmiah. Bila ditinjau dari karakteristik keilmuannya memiliki lingkup materi kajian

yang luas meliputi sosiologi dan psikologi makhluk hidup dan alam semesta sehingga

dalam mempelajarinya membutuhkan

kemampuan berpikir logis, analitis, kritis, dan kombinatorial (Rustaman, 2003).

Pembelajaran biologi idealnya berpusat pada siswa (student centered) hal ini mengacu pada pandangan konstruktivisme bahwa siswa sebagai subjek belajar memiliki potensi untuk

berkembang sesuai kemampuan yang

dimilikinya. Berdasarkan standar isi Permendiknas No.22 tahun 2006, bahwa kelompok mata pelajaran biologi yang dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri secara terpadu. Pembelajaran biologi atau sains di sekolah (SMA) berkaitan dengan cara mencari tahu (inkuiri) tentang alam secara sistematis bukan sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja (BNSP, 2006).

Biologi merupakan mata pelajaran yang kurang efektif jika dalam proses

pembelajarannya menggunakan model

pembelajaran konvensional. Biologi yang sebagian besar materinya berupa hafalan, akan sangat susah dipelajari dan cenderung membosankan jika guru hanya menggunakan system ceramah.

(3)

13 Hasil observasi yang dilakukan di kelas X bersama guru pamong menunjukkan bahwa pembelajaran biologi belum berpusat pada siswa sehingga aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih kurang, Siswa hanya diberikan produk sains secara pasif dan tidak berproses sains secara aktif. Dari 37 siswa, 70% tampak pada kegiatan siswa di dalam kelas yang kurang memperhatikan, dan tidak mempunyai motivasi untuk belajar karena kurangnya inovasi dalam proses pembelajaran dan hanya menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran tanpa melibatkan langsung siswa dalam proses pembelajaran yang nantinya akan berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah.

Upaya melakukan perbaikan dalam

proses pembelajaran merupakan

tanggungjawab semua pihak, salah satunya adalah guru. Guru bertanggungjawab melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah dalam arti memberikan bimbingan dan pengajaran kepada siswa (Oemar Hamalik, 1991). Pembelajaran inkuiri diharapkan dapat meningkatkan keterampilan proses sains, dimana motivasi belajar siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa sehingga

inovasi-inovasi dalam pembelajaran dapat

ditingkatkan demi suksesnya suatu

pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru untuk

mengatasi permasalahan yang ada dan mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan

tidak membosankan adalah model

pembelajaran inkuiri

Berdasarkan kesenjangan yang ada saat ini, untuk menjawab masalah pembelajaran maka perlu diadakan penelitian penerapan model pembelajaran inkuiri dengan media pembelajaran video partisipasi terhadap keterampilan proses sains.Berdasarkan uraian latar belakang masalah dapat dibuat rumusan masalah apakah ada perbedaan penerapan model pembelajaran inkuiri dengan media pembelajaran video partisipasi terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X di SMA Negeri 7 Denpasar.Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk mengukur perbedaan keterampilan proses sains siswa SMA Negeri 7 Denpasar yang dibelajarkan melalui model pembelajaran inkuiri terhadap siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional dengan media video partisipasi.

TINJAUAN PUSTAKA

Model pembelajaran inkuiri adalah sebuah strategi yang langsung terpusat pada peserta didik yang nantinya kelompok-kelompok siswa tersebut akan dibawa dalam persoalan maupun mencari jawaban atas pertanyaan sesuai dengan struktur dan prosedur yang jelas. Sehingga model pembelajaran ini bisa melatih para siswa untuk

(4)

14 belajar mulai dari menyelidiki dan

menemukan masalah hingga menarik

kesimpulan, adapun model ini menjadikan siswa akan lebih banyak belajar mandiri untuk memecahkan permasalahan yang telah diberikan oleh pengajar.

Menurut Gulo(2002), pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Model pembelajaran inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang menitik-beratkan proses pembelajaran pada keterlibatan siswa secara langsung dan maksimal. Trianto (2007), mengatakan bahwa teori belajar yang melandasi model pembelajaran inkuiri adalah teori belajar konstruktivisme. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan ,mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lamayang merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.Artinya, belajar bukan hanya sekedar proses pemindahan informasi dari guru kepada murid, melainkan menitikberatkan pada pengalaman langsung oleh siswa sehingga siswa mengalami perubahan berdasarkan

pengalamannya sendiri.

Model pembelajaran inkuiri

merupakan strategi pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar secara mandiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek dalam

pembelajaran. Peranan guru dalam

pembelajaran dengan model inkuiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada siswa untuk dipecahkan. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah (Sagala, 2007).

Menurut Herbrank (2004), inkuiri merupakan seni mengajukan pertanyaaan sains tentang fenomena alam dan menemukan jawaban atas pertanyaaan tersebut. Inkuiri merupakan suatu proses yang dimulai dengan

mengajukan permasalahan, membuat

hipotesis, merancang penyelidikan, melakukan

penyelidikan, menganalisis dan

menginterpretasikan data serta membuat kesimpulan.

Menurut Wena(2012), terdapat empat langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran

(5)

15 inkuiri.Langkah-langkah tersebut adalaha sebagai berikut:

1)Investigasi

2)Penentuan masalah 3)Identifikasi

4)Penyimpulan

Keterampilan Proses Sains

Keterampilan merupakan kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitas. Proses didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks yang digunakan ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiah.

Menurut Rustaman (2003), keterampilan proses adalah keterampilan yang melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif, manual, dan sosial. Keterampilan proses sains adalah kemampuan kompleks yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah ke dalam rangkaian proses pembelajaran. Menurut Dahar (1996), keterampilan proses sains adalah kemampuan siswa untuk menerapkan model ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan.

Menurut Dimyati & Mudjiono(2009), keterampilan proses sains terdiri dari sejumlah

keterampilan seperti:1)mengamati;

2)klasifikasi; 3)menafsirkan; 4)meramalkan; 5)mengajukan pertanyaan; 6)merumuskan

hipotesis; 7)merencanakan percobaan; 8) menggunakan alat dan bahan; 9)menerapkan konsep; 10)berkomunikasi.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experimental

Design dan rancangan penelitian yang

digunakan adalah Posttest-Only Control Design(Sugiyono, 2013).

Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7 Denpasar bulan April-Juni 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X, sedangkan sampel penelitian diambil menggunakan teknik probability sampling

dengan tipe Simple Random

Sampling.Variabel penelitian terdiri dari

variabel bebas yaitu model pembelajaran inkuiri, variabel terikatnya adalah keterampilan proses sains.

Instrumen pengumpulan data penelitian merupakan alat yang digunakan untuk merekam baik secara kuantitatif maupun kualitatif suatu keadaan dan aktivitas atribut psikologis dan subjek ataupun objek penelitian (Sugiyono,2013). Data yang diperoleh berupa data kuantitatif rubrik terhadap keterampilan proses sains, rubrik diisi oleh observer dengan memberikan penilaian berdasarkan sepuluh aspek yaitu;1)mengamati; 2)menggolongkan; 3)meramalkan; 4)hipotesis; 5)mengajukan pertanyaan; 6)merencanakan percobaan;

(6)

16 7)menggunakan alat dan bahan; 8)menerapkan konsep; 9)komunikasi; 10)presentasi.

Data keterampilan proses sains secara kualitatif dianalisis menggunakan frekuensi berdasarkan interval. Adapun rumus interval adalah:

i = skor maximum – skor minimum kelompok

Data keterampilan proses sains berupa data ordinal dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan uji Mann-Whitney U

Test.Analisis ini dilakukan untuk mengetahui

adanya perbedaan keterampilan proses sains siswa antara sebelum dan sesudah model pembelajaran inkuiri dengan media video partisipasi diterapkan.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan Penilaian terhadap perbedaan jumlah skor dari ke sepuluh aspek KPS siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol. Kelas eksperimen memperoleh rata-rata jumlah skor KPS siswa lebih tinggi yaitu 50,47 dibandingkan kelas kontrol yaitu 20.25.

Pembuatan video partisipasi dilakukan seperti berikut:1)masing-masing kelompok ditugaskan untuk membuat story board(papan cerita tentang morfologi dan sistem pencernaan dari hewan vertebrata), pada saat pembuatannya banyak siswa yang masih belum paham apa yang harus dikerjakan

sehingga perlu dibimbing; 2)membuat media pembelajaran tentang morfologi dansistem pencernaan hewan vertebrata menggunakan alat dan bahan yang telah di bawa dari rumah, pada saat pembuatan media masih banyak kelompok yang belum mengerti cara menggunakan alat dan bahan; 3)membuat video partisipasi sesuai dengan story board yang telah dikerjakan, dalam hal ini semua kelompok sudah membuat video sesuai dengan story board; 4)merekam tahapdemi tahap sesuai dengan story board, tetapi masih ada beberapa anggota kelompok yang tidak

aktif saat pembuatan media

berlangsung;5)melakukan pengeditan pada video partisipasi, masih ada kelompok yang belum paham cara mengedit dengan baik;

6)masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil dari video partisipasi tersebut di depan kelas, pada saat presentasi berlangsung masih ada beberapa orang siswa yang kurang fokus.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh jumlah skor KPS siswa dan jumlah skor setiap aspek KPS siswa kelas eksperimen lebih tinggi pada aspek KPS kelompok yaitu

Me ngamati(MI, Menggolongkan(MG),

Hipotesis(HI) dengan nilai 148. Yang mengakibatkan nilai tertinggi KPS kelompok adalah adalah pada aspek mengamati siswa baru pada tahap mengamati materi, pada aspek

(7)

17 menggolongkan siswa sudah mengerti yang mana hewan yang termasuk pada kelas-kelas pada vertebrata dan hipotesis siswa membuat rumusan masalah berupa pertanyaan dan hipotesis mencari sendiri jawaban berdasarkan rumusan masalah yang dikerjakan. Untuk aspek KPS kelompok kelas eksperimen skor terendah adalah mengajukan pertanyaan(MP) dengan skor 126, dimana siswa masih ragu-ragu dalam mengajukan pertanyaan yang belum dimengerti. Sedangkan untuk aspek KPS individu kelas eksperimen yang

mendapatkan skor tertinggi adalah

Menggunakan Alat dan Bahan(MAB) dengan skor 125 dikarenakan siswa pada proses pembuatan media siswa lebih terampil dalam menggunakan alat dan bahan. Untuk aspek KPS individu kelas eksperimen yang mendapatkan nilai terendah adalah Menerapkan konsep(MK) dikarenakan masih kurang sempurnnya penerapan konsep dalam diri siswa tersebut. Dibandingkan kelas control untuk aspek KPS kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi adalah Mengamati(MI) dengan skor 124 dikarenakan siswa hanya baru pada tahap mengamati materi. Untuk aspek KPS kelompok yang

mendapatkan skor terendah adalah

merencanakan percobaan(MB) dengan skor 97 karena masih belum pahamnya siswa untuk

menentukan langkah-langkah kerja

selanjutnya. Untuk KPS individu kelas kontrol skor tertinggi diperoleh didapat pada menerapkan konsep (MK) dengan skor 92, penerapan konsep yang diberikan guru pamong lebih dimengerti oleh siswa. Untuk aspek KPS inividu yang mendapatkan nilai terrendah adalah komunikasi (K) dengan nilai 88.5 karena kurangnya komunikasi antar siswa satudengan siswa lainnya. Begitu pula dilihat berdasarkan distribusi frekuensinya, dimana kelas eksperimenn terdapat 14% berada pada kategori baik dan 86% berada pada katagori sangat baik, sedangkan pada kelas kontrol terdapat 62% berada pada kategori baik dan 38% berada pada kategori sangat baik. Hal tersebut karena kelas eksperimen memiliki KPS lebih baik dengan diterapkannya model pembelajaran inkuiri dimana siswa dapat belajar mulai menyelidiki, menemukan masalah, memecahkan masalah hingga menarik kesimpulan. Hal tersebut sesuai dengan yang didapatkan perbedaan KPS siswa juga dipengaruhi oleh proses kegiatan

pembelajaran yang menarik dengan

menggunakan media pembelajaran yang menarik yaitu video partisipasi . Video partisipasi membantu siswa untuk membuat suasana pembelajaran yang menarik, atraktif dan partisipatif. Dalam pembuatannya tidak mengutamakan hasil video yang bagus melainkan lebih mengutamakan proses,

(8)

18 kebersamaan dan pemberdayaan dari anggota kelompok yang ikut dalam proyek pembuatan video partisipasi tersebut (Lunch and Nick, 2006).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh afnidar(2012) yang menyatakan hasil penelitian ini dapat mengimplikasikan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing sangat baik untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dapat membantu siswa pada saat menyelesaikan permasalahannya dengan terarah karena ada bimbingan dari guru.

Setelah diuji dengan Mann Whitney U Test pada jumlah skor KPS siswa diperoleh signifikansi(p=0.000), yang berarti terdapat perbedaan nyata antara kelas eksperimen dengan kelas control. Hal tersebut menunjukkan bahwa jika penerapan model pembelajaran inkuiri dengan media video berpartisipasi dibelajarkan pada siswa kelas X di SMA Negeri 7 Denpasar, maka akan terdapat perbedaan dalam keterampilan proses sains dari siswa.

Berdasarkan pembahasan di atas menunjukkan bahwa secara teori maupun empiris penerapan model pembelajaran inkuiri dengan media pembelajaran video partisipasi

terhadap keterampilan proses sains siswa berbeda.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dengan media pembelajaran video partisipasi berbeda sangat nyata (Z=6.186; p=0.000) terhadap keterampilan proses sains siswa SMA Negeri 7 Denpasar.

DAFTAR PUSTAKA

BNSP. (2006). Permendiknas No.22 Tahun

2006, Pesan diposkan ke

files.wordpress.com/2009/04/permendi knas-no-22-tahun-2006.pd, diakses tanggal 1 Pebruari 2015

Carin. (1993). Hakikat IPA Biologi dan

Pengajarannya. Pesan diposkan ke http:blogspot,com/2005/09/hakikat-ipa-biologi-dan-pengajarannya.html, diakses tanggal 1 Pebruari 2015

Dimyati & Mujiono. (2009).Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta; Rhineka Cipta

Gulo,W. (2002).Strategi Belajar

Mengajar.Jakarta:Grasindo.

Herbrank. (2004).Pembelajaran Berbasis Inkuiri.Jakarta:PT.Rhineka Cipta.

Lunch and Nick. (2006).Insights Into Participatory Video. Diperoleh dari http:www.insightshare.org.diakses

pada 20 Desember 2014

Rustaman.N.Y. (2005).Assesment Pendidikan

(9)

19 2015 dari http://file.upi.edu/direktori/sps/prodi pendidikan IPA/195012311979032-NURYANI-RUSTAMAN/assesment -pendidikan-IPA.pdf

Sagala, Syaiful. (2007). Manajemen Strategi

Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan.

Bandung:Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Model Penelitian Pendidikan (Pendekatan kuantitatif,

Kualitatif dan

R&D).Bandung:Alfabeta.

Trianto. (2007).Mendesain Model

Pembelajaran Inovatif Progresif.

Jakarta: Kencana.

Wena.M. (2012).Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta Timur:

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan Keputusan Kapolri Nomor : Kep / 6 / I / 2011 tanggal 10 Januari 2011 tentang pemberlakuan Peraturan Presiden RI Nomor: 54 tahun 2010 tentang pedoman Pengadaan Barang

Berdasarkan analisis statistik yang telah dilakukan peneliti dengan menggunakan teknik korelasi product moment dari Pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif

Untuk itu, perlu pengenalan robotika untuk anak dalam dunia pendidikan baik disajikan dalam kurikulum ataupun ekstrakulikuler dengan pembelajaran secara bertahap yaitu

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan apakah kualitas audit, jenis opini audit, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap audit report lag pada perusahaan

Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi kerusakan lingkungan yang ada di kawasan karst, menghitung valuasi ekonomi dari dampak lingkungan dengan cara menghitung

Wakaf yang telah sah -baik dengan cara perbuatan atau perkataan- harus dijalankan dan tidak boleh dibatalkan (dengan kata lain: orang yang mewakafkan tidak boleh rujuk/kembali

Cerita Rakyat Jawa Barat Sebagai Gagasan Berkarya Seni Instalasi Dengan Teknik Pop-up Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu..

dalam Laporan Draf Awal Projek PTB termasuk persetujuan terkini pemilik tanah?. melalui persetujuan persefahaman yang