A. Undang-undang 1981 8 Tentang Hukum Acara Pidana _kuhap

157 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

HUKUM

ACARA

PIDANA

Satu Kompilasi

Ketentuan-ketentuan KUHAP

dan

Hukum Internasional yang Relevan

Disusun oleh: Luhut M.P. Pangaribuan, S.H., LLM.

(2)

Copyright © pada Djambatan -. AnggotalKAPl Cetakan pertama 2000 Cetakan kedua (Edisi revisi) 2003 Cetakan ketigd (Edisi revisi) 2006

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Luhut M.P. Pangaribuan

Hukum Acara Pidana: Suatu Kompilasi Ketentuan-ketentuan KUHAP dan Hukum Intemasional yang Relevan/Disusun Oleh: Luhut M.P. Pangaribuan. - cet ke-3 - Jakarta: Djambatan, 2006.

xxv, 1345 him.: 21 cm. v Indeks: 1347-1353

ISBN 979-428-635-4

1. Hukum Acara Pidana. I. Pangaribuan, Luhut M.P. 345.05

(3)

DAFTARISI

KATA PENGANTAR ... ..!...., ... , ... XVH KATAPENGANTAR (Edisi revisi) 2003 ... XX KATAPENGANTAR (Edisi revisi) 2006 ... XXIV

A. UNDANG-UNDANG 1981:8 TENTANG HUKUM ACA-

RAPIDANA("KUHAF,) ... 1 1. Bab I KetentuanUmum ... . ... 4 '2 BABII ■ RuangLingkupBerlakunyaUndang-Undang.. 8 3. BABm DasarPeradilan .. '. ... 8 4. BAB IV PenyidikdanPenuntutUmum... 8 BagianKesatu PenyelidikdanPenyidik 8 BagianKedua Penyidik Pembantu.... 10

Bagian Ketiga PenuntutUmum .. .... 11

5. BABV Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan Badan, Pemasukan Rumah, Penyitaan Rumah, Penyitaan dan Pemeriksaan Surat ... 12

BagianKesatu Penangkapan. ... 12

BagianKedua Penahanan ... 13

Bagian Ketiga Penggeledahan ... 18

Bagian Keempat Penyitaan ... 20

Bagian Kelima Pemeriksaan Surat .... 23

£ BAB VI TersangkadanTerdakwa ... 24

7. BABVII BantuanHukum ... ., 27

8. BAB VIII BeritaAcara ... 28

9. BAB DC SumpahatauJanji ... 29

10. BABX Wewenang Pengadilan untuk Mengadili.... 29

BagianKesatu Praperadilan ... 29

BagianKedua PengadilanNegeri... 31

Bagian Ketiga Pengadilan Tinggi ... 32

Bagian Keempat MahkamahAgung.. ... 32

(4)

12. BABXII GantiKerugiandanRehabilitasi ... 35

Bagian Kesatu Ganti Kerugian ... 35

BagianKedua Rehabilitasi ... 36

13. BAB Xin Penggabungan Perkara Gugatan Ganti Ke-rugian ... 37

14. BABXIV Penyidikan ... 38

Bagian Kesatu Penyelidikan... 38

Bagian Kedua Penyidikan ... 39

15. BAB XV Penuntutan... 47

16. BAB XVI Pemeriksaan di Sidang Pengadilan ... 49 Bagian Kesatu Panggilan dari Dakwaan 49 Bagian Kedua Me^mutus Sengketa Me-ngenai ^ewenang

Meng-adili ... 50

Bagian Ketiga Acara Pemeriksaan Biasa 52 Bagian Keempat Pembuktian dan Putusan dalam Acara Pemeriksaan

Biasa... ... 62

Bagian Kelima Acara Pemeriksaan Sing-kat ... 69

. Bagian Keenam Acara Pemeriksaan Ce-pat..:. ... .'. 70

Paragrafl.. Acara Pemeriksaan Tin- dak Pidana Ringan ... 70

Paragraf2. Acara Pemeriksaan Per-kara Pelanggaran Lalu LintasJalan ... 72

Bagian Ketujuh Pelbagai Ketentuan ... 73

17. BABXVII UpayaHukum Biasa... 77

Bagian Kesatu Pemeriksaan Tingkat Ban

ding ... 77

BagianKedua Pemeriksaan untuk Ka-sasi ... 81

18. BAB XVmUpayaHukumLuar Biasa... 86

Bagian Kesatu Pemeriksaan Tingkat Ka-sasi demi Kepentingan Hukum ... 86

(5)

tusan Pengadilan yang telah Memperoleh

Ke-kuatanHukumTetap .... 87

19. BAB XIX Pelaksanaan Putusan Pengadilan ... 90

20. BAB XX Pengawasan dan Pengamatan Pelaksanaan Putusan Pengadilan ... 91

21. BAB XXI Ketentuan Peralihan ... 93

22. BAB XXII Ketentuan Penutup ... 93

B. UNDANG«SDANGLAIN:PASAI^PASAL\ANGTERKAIT DENGAN HUKUM ACARA PIDANA ("UU-TERKATTOt 137

1. Tentang Penempatan dan Perlindungan. Tenaga Kerja Indonesia diLuarNegeri,UU 2004:39 ... 139

2. TentangPerikanan,UU2004:31 ... 141

3. Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Jangga, UU 2004:23 ... 149 4. Tentang Kotnisi iUdisial, UU 2004:22 ... 158 5. Tentang Perkebunan, UU 2004:18 ... 159 6. TentangKejaksaanRepublikIndonesia,UU2004:16.... 161 7. Tentang PerubahanAtas Undang-Undang Nomor 2 Ta-

hun 1986 tentang Peradilan Umum, UU 2004:8 ... 175 8. Tentang Sum ber Day a Air, UU 2004:7 ... 199 9. Tentang PerubahanAtas UUNo.14 Jahun 1985 tentang MahkamahAgung, UU 2004:5 jo UU 1985:14 ... 201 10. Tentang Kekuasaan Kehakiman, UU 2004:4 ... 204

11. Tentang TindakPidana Pencucian Uang, UU 2003:25 jo UU 2002:15... ... 223

12. Tentang PemUihan Umum Presiden dan WakU Presiden, * UU 2003:23... ;."... 233

13. Tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, DPRD, UU 2003:22 ... : ... : ... 235

14. TenpngAdvokat,UU2003:18 ... 237

15. Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang 2000:1tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang, UU2003:15..„ ... ..; ... 241

16. Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Ko-rupsi,UU 2002:30 ...

(6)

17. Tentang Grasi,UU 2002:22 ... 273

18. TentangKetenagalistrikan,UU2002:20 ... 284

19. TentangHakGpta,UU2002:19 ... 288

20. Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU 20022 '. 292 21. Tentang Disain Industrial] 2000:31 ... 322

22. Tentang PengadilanHakAsasiManusia, UU 2000:26 326 23. Tentang Perubahan KeduaAtas UU 1983:6 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan , UU 2000:16 jo UU 1983:6 ... , ... 349

24. Tentang Kehutanan,UU 1999:41 ... 354

25. Tentang HakAsasi Manusia, UU 1999:39 ... 359

26. Tentang Telekomunikasi, UU 1999:36 ... 374

27. Tentang Pemberantasan Jindak Pidana Korupsi, UU 1999:31 i 378 28. Tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Be- bas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, UU 1999:28 386 29. TentangPerlindungan Konsumen,UU 1999:8 ... 390

30. Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha TidakSehat, UU 1999:5 ... 394

31. Tentang Pengesahan Convention Against Tbrture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Pu-nishment (KonvensiMenentangPenyiksaan dan Per-lakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia), UU 1998:5 ... ... ; ...' ... : 400

32. TentangPeradilanMiliter,UU 1997:31 ... 432

33. Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU 1997:23 540 34. TentangPsikotropika,\JU 1997:5 ... '.. ... 544 35. Tentang Pemasyarakatan,UU 1995:12 ... 549 36. Tentang Cukai, UU 1995:11 ... 569 37. TentangKepabeanan,UU 1995:10 ... .-: ... 573 38. TentangPasarModal,UU 1995:8 ... 576 39. TentangKesehatan,\JU 1992:23 ... 584 40. Tentang Pelayaran, UU 1992:21 ... 588 41. TentangPenerbangan,\JU 1992:15 ... 591 42. Tentang Perkeretaapian,XJU 1992:13... 595 43. TentangKeimigrasian,UU 1992:9... 598

(7)

44. Tentang Benda CagarBudaya, UU 1992:5 ... 602 45. Tentang Konservasi Sumber Day a Alam Hayati dan

Ekosistemnya,U\J 1990:5 ... 605 46. Tentang PeradilanUmum,UU 1986:2 ... 609 47. Tentang MahkamahAgung,\J\J 1985:14 ... 615 48. Tentang Zona EkonomiEkslusif Indonesia, UU 1983:5 632 49. Tentang AmnestidanAbolisi, UU Darurat 1954:11... 637 C PERATURANPEMERIN1AH(^F0,PERATURANMAH-

KAMAH AGUNG ("PERMA"), DAN KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAHAGUNGC'KEPMA'') ... ... 641

1. Tentang Perlindungan Hutan, PP2004:45 ... 643

2. Tentang Tata Cara Perlindungan Khusus bagi Pela-por dan Saksi Tindak Pidana Pencucian Uang, PP2003:57 .... 647

3. Tentang Pelaksanaan Teknis Institusional Peradilan Umum Bagi Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia,?? 2002:2 .... ... 656

4. Tentang lata Cara Perlindungan terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yangBeraU?? 2002:2... 663

5. TentangPenindakandiBidangKepabeanan,?? 1996:21 670

6 Tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukun\ AcaraPidana,??1983:27 ....■.., ... 688

D. KETENTUAN-KETENTUAN\ANGLEBIH KHUSUS TENTANG PELAKSANAAN KUHAP DAN ATAU \ANG BERHUBUNGAN DENGAN HUKUM ACARA PIDANA DARI "CATURmNGSA": KEPOLISIAN, KEJAKSA- SAAN, KEHAKIMAN, MAHKAMAH AGUNG, DAN ADVOKAT ("KETENTUAN CATUR W\NGSA") ... 709

1. Tentang Pembentukan Tim Penegakan Hukunt Ling-kungan Hidup Terpadu (SatuAtap), Keputusan Ber-sama Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 77ATahun 2004 ... 711

2. Tentang Penegakan Hukunt Lingkungan Hidup Ter-padu (Satu Atap), Keputusan Bersama Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jaksa Agung

(8)

Republik Indonesia dan Kepala Kepolisian Negara Re-publik Indonesia No. KEP-04/MENLH/04/2004, No.

KEP-208/A/JA/04/2004,No.KEP-19/IV/2004... ... 713

Tentang Kerjasama Penanganan Tlndak Pidana di Bidang Perbdnkan, Surat Keputusan JaksaAgung Re-publik Indonesia, Kepala Kepolisian Negara ReRe-publik Indonesia, dan Gubernur Bank Indonesia No. KEP-902/ A/J.A/12/2004, No. POL. Skep/924/XII/2004, No. 6/91/ KEEGBIZ2004... ... 721

Surat Keputusan Kapolri No. Pol: Skep/1205/IX/2000 tentang Revisi Himpunan Juklak dan Juknis Proses Penyidikan Tindak Pidana, 11 September 2000 ... 733

4.1. Buku Petunjuk Lapangan tentang Proses Penyi dikan Tindak Pidana ... ... 735

42. Buku Petunjuk Lapangan tentang Sumpah/Janji Saksi dan SaksiAhli di lingkdt Penyidikan... 763

43. Buku Petunjuk Lapangan tentang Praperadilan . 771

4.4. Buku Petunjuk Lapangan tentang Koordinasi dan Pengawasan serta Pembinaan Teknis Penyidik Polri Terhadap Penyidik Pegawai Negeri Sipil 785 Tentang Permintaan Secara Langsung dariPejabat Polri Kepada Pejabat Imigrasi dalam Keadaan Men-'desak untuk Melaksanakan Pencegahan dan Penang-kalan Terhadap Tersangka, Keputusan Bersama Men-teri Kehakiman, JaksaAgung, dan Kapolri No. KEP./008/

JA/2/1998... ... ; ... 798

Tentang Perubahan Keputusan JaksaAgung No. Kep-120/JA/12/1992 tentang Administrasi Perkara Tindak Pidana, Keputusan JaksaAgung No. Kep-132/JA/

11/1994 ... 802

Tentang Administrasi Perkara Tindak Pidana, Kepu tusan JaksaAgung No. KEP-120/JA/12/1992 ... 810

Tentang Tambahan Pedoman Pelaksanaan Kitab Un-dang-Undang Hukum Acara Pidana, Keputusan

Men-teri Kehakiman

RepublikIndonesiaNomorM.14.PW07.03

Tahun 1983 ... ....: ... ...". ... 818

Tentang Pakaian, Atribut Pejabat Peradilan dan Pe-nasihat Hukum, Peraturan Menteri Kehakiman

(9)

blik Indonesia Nomor M.07.UM.01.06 Tahun 1983 ... 831

10. Tentang Tata Tertib Persidangan dan Tata Ruang Si- dang, Peraturan Menteri Kehakiman Republik Indone sia Nomor M.06.UM.01.06 Tahun 1983 ... 851

11. Tentang Pengelolaan Benda Sitaan dan Barang Ram- , pasan Negara di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara, Peraturan Menteri Kehakiman Republik Indo nesia Nomor M.05.UM.01.06 Tahun 1983 ... 857

12. Tentang Tata Cora Penempatan, Perawatan Tahanan dan Tata Tertib Rumah Tahanan Negara , Peraturan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.04. UM.01.06Tahun 1983 ... 862

13. Tentang Tata Cara Pembayaran GantiKerugian, Ke-putusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Ndmor 983/KMK.01/1983 Tanggal 31 Desember 1983 ... 873

14. Tentang Pedoman Peldksanaan Kitab Undang-Un-dang Hukum Acara Pidana, Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01 .PW.07.03 Tahun 1982 ,. ... .-. ... 876

15. Tentang Petunjuk Peldksanaan Bantuan Hukum, Ke-putusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.02.UM. 09.08 Tahun 1980 ... 1053

E SURATDANSURATEDARANMAHKAMAHAGUNG C*SEMA")DANUNSURCATUR\SANGSALAIN ... 1057

1. Tentang Laporan Pengiriman. Berkas Perkara Ko- rupsike TingkatKasasi, SEMA2002:2 ... 1059

2 Tentang Penanganan Perkara yang Berkahan dengan AsasNebisInIdem,SEMA 2002:3 ... 1060

3. Tentang Permohonan Peninjauan Kembaliyang Di-ajukan Serentak dengan Permohonan Grasi, SEMA 2001:1 . ....! ...'. ... 1062 4. Tentang Pembuatan Ringkasan Putusan terhadap

Perkara Pidana yang Terddkwanya Diputus Bebas

atau Dilepas dariSegalaTuntutan, SEMA 2001:5 ... 1064 5. Tentang MendengarPengaduanPelapor,SEMA2Q01:6 1066 6. Tentang Pemidanaan agar Setimpal dengan Berat dan SifatKejahatannya, SEMA 2000:1 ... 1067

(10)

7. Tentang Penegasan Penyidik Perairan Indonesia, SEMA 1999:2 ... .. ... 1069

8. Tentang Permohonan Kasasi Perkara Pidana yang Ter-dakwanya Berada dalam Status Tahanari, SEMA 1998:2 1070

9. Perihal Pemberidn Perparijangan Penahanan, Swat Edaran Kejaksaan Agung 1998 Nomor B-256/E/Epo. 1/6/1998 .„ 1072

10. Perihal Hukum Pembuktian dalam Perkara Pidana, Surat Edaran Kejaksaan Agung 1997 Nomor B-69/E/ 02/1997 .' ... 1074

11. Perihal Tata Cara Tindakan Kepolisian terhadap Pe-jabat-pejabat Tertentu di Lingkungan Badan PeradU-an, Surat Edaran Kejaksaan Agung 1993 Nomor B-399/ E/9/1993 ... . ... !... 1083

12. Tentang Penanganan dan Penyelesaian Perkara Jin-dak Pidana Lingkungan, Surat Edaran Kejaksaan Agung

1993 Nomor B-402/E/9/1993... 1086

13. Perihal Melengkapi Berkas Perkara dengah Melaku-kan Pemeriksaan Tdmbahan, Surat Edaran Kejaksaan Agung 1993 Nomor B-536/E/11/1993 ... 1107

14. Perihal Tata Cara Tindakan Kepolisian Terhadap Ang-gota/Pimpinan MPR dan DPR, Surat Edaran Kejaksaan Agung 1993 Nomor B-540/11/1993 ... 1111

15. Tentang Pembuatan Surat Dakwaan, Surat Edaran JaksaAgung 1993 Nomor SE-004/J.A/11/1993 ... 1114

16. Tentang Petunjuk Pengiriman Berkas Perkara ke Mah-kamahAgungRI, SEMA 1992:3. ... 1120

17. Tentang Penyidik dalam Perairan Indonesia, SEMA 1990:3 ... 1122

18. Tentang Kewenangan Menyidik Tindak Pidana Hak Cipta, Surat Edaran Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01-PW.07.03 tahun 1990 ... 1123

19. Tentang Pembantaran (Stuiting) Tenggang Waktu Penahanan Bagi Terdakwa yang Dirawat-Inap di Rumah SakitdiLuarRumahTahananNegaraAtas

Izinln-stansiyangBenvenang Menahan, SEMA 1989:1 1125

(11)

watlnap diRumah Sakit, SEMA 1989:2 ... .1126

21. Tentang Penjatuhan Pidana Kurungan Terhadap Pelanggar Peraturan Lalu Lintas Tertentu, SEMA 1989:3 1127 22. Tentang Penasihat Hukum atau Pengacara yang Me-nerima

Kuasa dari Terdakwa/Terpidana "In Absentia", SEMA 1988:6 ... 1128

23. Tentang Pengiriman Berkas Perkara Kasasi Pidana yang Terdakwanya Berada dalam Tahanan, SEMA 1987:1. ... ... 1130

24. Tentang Pemidanaan Terhadap Para Pelanggar Hak Cipta, SEMA 1987:2 ... ... 1131

25. Tentang Permohonah Penetapan Penahanan oleh Mah-kamdh Agung RI Bagi Terdakwayang Berada dalam Tahanan, SEMA 1987:3 ... ...:... .... ; .... , 1132

26. Tentang Penyesuaian KembaliTanggal Penahanan dalam Hal Terdakwa Telah Terlanjur Dikeluarkan Demi Hukum dari Tahanan Sebagai Akibat Keter-lambatan Penerimaah Penetapan Mahkamah Agung

oleh Ketua Pengadilan Negeri, SEMA 1987:4 ... 1133

27. Tentang Tembusan Permohonan Penetapan Penahanan agar Disampaikan Kepada Repaid Rumah Tahanan Negara, SEMA 1987:5 ... 1134

28. Tentang Tata Tertib SidangAnak, SEMA 1987:6 ... 1135

29. Tentang Permohonan Grasi karena Jabatan oleh Ketua Pengadilan Negeri Bagi Terpidana Matiyang TidakMengajukan Grasi, SEMA 1986:1 ... 1136 30. Tentang Perkara yang Diperiksa MenurutAcara

Pe-meriksaan Tindak Pidana Ringan dalam HalAncam-

an DendanyaLebih DariRp. 7.500,-, SEMA 1986:2... 1137

31. Tentang Kekuatan Pembuktian Berita Acara Peme-riksaan Saksi dan Visum Et Repertum yang Dibuat di Luar Negeri oleh PejabatAsing, SEMA 1985:1... 1138

32. Tentang Seleksi Terhadap Saksi-saksi yang Diperin-tahkan untuk Hadir di Sidang Pengadilan, SEMA 19852... 1140

33. Tentang Izin Pembebasan dari Kewajiban Membayar Biaya Perkara Pidana, SEMA 1985:3 ... 1142

(12)

kan oleh Ketua Pengadilan IVegeri,SEMA 1985:4 ... 1144

35. Tentang PenghentianPraperadilan, SEMA 1985:5 .... 1145

36. Tentang Permintaan Petpanjangan Penahanan, SEMA 1985:6 ... 1146

37. Tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas danPengamat,SEMA\9S5J ... 1147

38. Tentang PerintahAgar Terdakwa Ditahan Mehurut Pasall97/fyat(l)HurufkKUHAPySEMAl9S5:S.... 1160

39. Tentang Putusan yang Diucapkan di Luar Hadirnya Terdakwa, SEMA1985:9 ..:.. ... ...; ... 1162

40. Tentang Putusan Pengadilan yang Sudan Memper-oleh Kekuatan Hukum Tetap yang TidakMemuat Kata-kata "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan

Yang Malta Esa", SEMA 1985:10... ... 1164

41. Tentang Permohonan Rehabilitasi dari Terdakwa yang Dibebaskan atau Dilepas dari Segala Tuntutan Hukum, SEMA 1985:11 ,...!.. ... 1166

42. Tentang Pencabutan Surat-surat Edaran, Keputusan, Penetapan dan InstruksiMahkamahAgungRepublik //Mfoiiesw, SEMA 1985:12 ... 1168

43. Tentang Pedoman Tuntutan Pidana, Surat Edaran Jaksa AgungRINomorSE-009/JA/12/1985... ... 1174

44. Tentang Pelaksanaan Tugas Kimwasmat, SEMA 1984:3 1178

45. Tentang Sidang-sidangdengan Hakim Tunggal, SEMA 1984:4. ... 1180

46. Tentang Perintah Pengeluaran Tahanan oleh Hakim, SEMA 1984:7 ... 1182

47. Tentang Petunjuk tentang Permohonan Banding yang Diajukan Melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan, Surat MahkamahAgung RI No. MA/Pemb/3290/84 tang-gal 26April 1984 ... 1183

48. Tentang Petunjuk tentang Cara Pemanggilan Terpi-dana dalam Permohonan Peninjauan Kembali, Surat MahkamahAgung RI No. 4984/TU/84/3951/Pid tanggal

2 November 1984 ... 1185

49. Tentang Keterangan Ahli Mengenai Tanda Thngan dan Tulisan SebagaiAlat Bukn\ Surat Edaran Jaksa Agung RINomorSE-003/J.A 72/1984 ...

(13)

50. Tentang Penyelesaian Barang-barang Bukti Rampas- an yang Sudah Jidak Dapat Diketemukan Lagi Wnis-

nya, SEMA 1983:1 ... 1188

51. Tentang MemoriKasasi, SEMA 1983:2 ... 1190

52. Tentang Barang-barang Bukti dalam Perkara Pidana yang Disitadari Bank, SEMA 1983:3 ... 1194

53. Tentang Permintaan Penetapan Wewenang MengadiU Pengadilan Negeri Terhadap Kasus-kasus Perkara Pelanggaran Wilayah Perairan (Keamanan Laut), SEMA 1983:8 ... 1196

54. Tentang Penetapan Perpanjangan Penahanan Jangan Sampai Tkrlambat Disampaikan pada Penuntut Umum, SEMA 1983:10 ... 1198

55. Tentang Surat Izin Penyitaan SUpaya Dilampirkan dalam Berkas Perkara, SEMA 1983:11 ... 1200

56. Tentang Perhitungan Perpanjangan Penahanan Ber-dasarkanPasal29KUHAP, SEMA 1983:12 ... 1202

57. Tentang Penerimaan atau Penolakan Terhadap Ke-beratari Berdasarkan Pasal 29 Ay at (7) KUHAP hams BerbentukuPenetapann, SEMA 1983:13 ... ... 1204

58. Tentang Hakim Tidak Dapat Dipraperadilankan, SEMA 1983:14....:.. ... : ... 1206

59. Tentang Wewenang Pengadilan Negeri untuk Melak-sanakan Sidang Praperadilan Terhadap Seorangyang BerstatusMiliter, SEMA 1983:15 ... 1208

60. Tentang Istilah "Segera Masuk"Jangan Diperguna- kan Lagi dalam Putusan, SEMA 1983:16 ... 1210

61. Tentang Biaya Perkara Pidana, SEMA 1983:17 ... 1211

62. Tentang Perkara yang Diperiksa MenurutAcara Pe-meriksaan Jindak Pidana Ringan dalam HalAncam-anDendanyaLebihDariRp 7.500,-, SEMA 1983:18.. 1213

63. Tentang AgarAkta Penerimaan Risalah Kasasi Sela-lu Diberikan Tembusannya Kepada P'emohon Kasasi yangBersangkutan, SEMA 1983:19 ... 1215

64. Tentang Memori Kasasi Tambahan yang Diajukan di Luar Tenggang Waktu UHari, SEMA 1983:20 ... 1216

65. Tentang Batas Waktu Pengiriman Salinan Putusan pada Jaksa, SEMA 1983:21 ...

(14)

66. Tentang Pengertian Pembayaran Denda "Harus Se-fcetika

Dilunasi" dalam Putusan Acara Pemeriksaan Cepat, SEMA

1983:22... 1220

67. Tentang Penetapan Declaratoir Pengadilan Negeri

Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang No. 22 Tahun

1952, SEMA 1983:23 ... 1222

68. Tentang A mar Putusan Pengadilan TidakPerlu Me-muatKata-kata"UntukDijualLelang", SEMA 1983:24 '

1224

69. Tentang Pemberitahuan Penolakan Permintaan Ka-sasi, Surat MahkamahAgung RI No. MA/Pemb/2651/83 tanggal4Agustus 1983 ... 1226

E HUKUM INTERNASIONAL: PASAL-PASAL\ANG RE-LE^N DENGAN HUKUMACARAPIDANA INDONESIA 1229

1. Universal Declaration of Human Rights, 1948... 1231 2 International Govenant.on Civil and Political Right, 1966 1238 3. Optional Protocol to The International Covenant in Civil

and Political Rights, 1966 ... 1259 4. Civil and Political Rights: Protection of Persons Subjected to

Detention or Imprisonment and Other Safeguard to The Rights of Citizen ... .' .... .* ... 1264

5. Effective Prevention and Investigation of Extra-Legal, Arbitrary and Summary Executions, 1989 ... 1273

6. Second Optional Protocol to The International Covenant on Civil and Political Rights Aiming at The Abolition ofThe Death Penalty, 1989... 1283

7. Rome Statute of the International Criminal Court 1998 . 1286 8. United Nations Convention Against Corruption (UNAC),

2003 ... 1336

(15)

KATA PENGANTAR

Kompilasi ketentuan-ketentuan KUHAP ini utamanya diterbitkan untuk membantu keperluan praktik dan kuliah hukum pidana. Sebab dalam kenyataannya sekalipun KUHAP sebagai "Kitab", peraturan-peraturan pelaksanaan tetap diperlukari yang tersebar menurut instansinya. Bahkan dibuat pula undang-undang yang "Overlapping". Dan agaknya, seniua itu bisa terjadi karena sistem peradilan yang kita anut tidak konsisten dengan konsepnya. Akibatnya, untuk memahami KUHAP perlu juga dike-tahui peraturan-peraturan pelaksanaan itu secara lengkap.

Sistem peradilan pidana kita menganut asas bahwa kasus pidana adalah merupakan sengketa antara individu dengan masyarakat (publik) dan sengketa itu akan diselesaikan oleh pemerintah sebagai wakil dari publik. Sistem kita mengikuti civil law system atau kadang-kadang dise-but juga dengan sistem enacted law yang dibangun dengan satu doktrin bahwa pemerintah senantiasa akan berbuat baik. Hukum direnungkan oleh ahli politik dan atau ahli hukum kemudian direncanakan dan dibuat dalam bentuk tertulis, sedangkan dalam sistem

common law sengketa itu diselesaikan oleh pihak ketiga yang

disebuty'wry kecuali yang bersang-kutan memilih lain. Pilihan selalu ada pada Terdakwa sebagai konsekuen-si dari asas due process of law. Hukum bukan dibuat oleh ahli politik dan atau ahli hukum akan tetapi oleh orarig awam yang jujur yang disebut jury. Olehkarena itu hukum dibuat dari kasus-kasus yang diproses melalui pengadilan, disebut common law atau

judge made law.

Berbeda dengan sistem peradilan pidana kita yang secara normatif diatur dalam,KUHAP, sebagai salah satu kodifikasi hukum. Akan tetapi, dalam praktiknya ia sebagai kodifikasi masih memerlukan peraturan-peraturan pelaksanaan dari instansi penegak hukum itu. Oleh karena itu, membaca hukum acara pidana tidak cukup dari pasal-pasal yang ada dalam KUHAP tetapi perlu dilengkapi dengan membaca peraturan-peraturan pelaksanaannya kemudian. Sebagai contoh, tentang pendengar-an saksi-saksi baik a chage maupun a de sharge KUHAP menentukan bahwa "dalam hal ada saksi baik yang menguritungkan maupun yang

(16)

memberatkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan perkara dan atau yang diminta oleh terdakwa atau penasihat hukum selama berlangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkan putusan, Hakim Ketua sidang wajib mendengar keterangan saksi tersebut (vide, Pasal 160 ayat

\c KUHAP). Akan tetapi, atas masalah yang sama SEMA 1985:2 tentang

seleksi terhadap saksi-saksi yang diperintahkan untuk hadir di sidang pengadilan mengatur secara berbeda yakni dinyatakan"hendaknya Hakim secara bijaksana melakukan seleksi terhadap saksi-saksi yang diperin-tahkan untuk hadir di persidangan, karena memang tidak ada keharusan bagi Hakim untuk memeriksa. semua saksi yang ada dalam berkas perkara". Kenyataan dalam praktik justru SEMAini lebih ditaati daripada KUHAP Artinya mengetahui SEMA menjadi jauh lebih penting dibandingkan dengan KUHAP itu sendiri.

Sesuai dengan konsep diferensiasi fungsional, KUHAP menganut konsep bahwa Polisi adalah sebagai PenyidikTunggal. Akan tetapi dalam perkembangannya, dengan beberapa undang-undang yang baru seperti Undang-undang Kejaksaan, Pabean, Zona Ekonomi Ekslusif agaknya telah menegasikan konsep penyidik tunggal ini. Dalam Pasal 27 ayat (1)

d UU No. 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan ditentukan bahwa "Kejaksaan

mempunyai tugas dan wewenang melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilim-pahkan ke pengadilan". Kemudian dalam Pasal 112 UU No. 10 Tahun 1985 tentang Kepabeanan ditentukan bahwa kewehangan melakukan penyidikan adaiah pegawai negeri sipil di lingkungan Dirjen Bea dan Cukai, hasil penyidikannya diserahkan pada penuntut umum sesuai KUHAP. Terakhir, dalam-pasal 14 UU No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia ditentukan bahwa (1) penyidik adalah perwira TNI Angkatan Laut, (2) penuntut umum adalah Jaksa, (3) pengadilan yang berwenang adalah sesuai dengan locus

delicti di mana dila-kukan penahanan terhadap kapal dan atau

orang.

Oleh karena hal-hal di atas maka membaca KUHAP atau tepatnya hukum acara pidana Indonesia tidak cukup dari apa saja yang diatur dalam KUHAP itu sendiri tetapi harus juga membaca peraturan-peraturan pelaksanaannya, termasuk ketentuan-ketentuan yang terkait dalam hukum interaasional. Khusus yang terakhir ini semakin penting karena soal-soal hak-hak asasi manusia, tidak saja berkemhang secara inter-nasional tetapi ia bahkan telah menjadi bagian dari system hukum kita secara langsungmaupun tidak langsung. Itu sebabnya dalam kompilasi

(17)

ketentuan-ketentuan ini hukum intemasional yang relevan dimasukkan untuk melengkapi pemahaman kita mengenai hukum acara pidana.

Akhirnya, perlu disampaikan bahwa buku ini diharapkan dapat dipergunakan oleh mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah praktik hukum pidana dan praktisi hukum yang hendak memahami hukum acara pidana secara utuh. Mudah-mudahan bermanfaat.

(18)

KATA PENGANTAR (Edisirevisi)2003

Edisi revisi buku Hukum Acara Pidana: Satu Kompilasi

Ketentuan-ketentuan KUHAP dan Hukum Intemasional yang Relevan,

yang ada pada tangan saudara saat ini, pada dasarnya sama dengan edisi sebelumnya. Di dalamnya ditambahkan materi-materi terbaru yang sekaligus memperbaiki kekurangan pada edisi sebelumnya, seperti ketepatan pe-nempatan satu materi dalam sistematika serta kesalahan pengetikan. Termasuk perbaikan dalam edisi revisi ini adalah perbaikan indeks yang disusun secara lebih lengkap. Selebihnya, sama dengan edisi sebelumnya.

Dengan kata lain, terbitan revisi ini dapat dikatakan sebagai bagian dari proses yang harus "berkelanjutan" atas kompilasi hukum acara pidana kitayang terus berkembang agar tetap up-date. Edisi revisi ini juga untuk mengimbangi sambutan dari "pemakai" buku yang terus berkembang pula kebutuhannya. Dengan kata lain, penerbitan dengan edisi revisi ini adalah untuk mqmenuhi kebutuhan dalam praktik atas hukum acara pi-dana yang secara berkesinambungan terus berkembang di tempat yang berbeda-beda.

Naniun, sekalipun buku ini sudah bertambah tebal, ternyata belum semua ketentuan-ketentuan yang terbaru dapat dimasukkan. Persoalan-nya lebih pada masalah teknis, yaitu ketebalan yang lebih dari edisi ini tidak dapat lagi ditoleransi.Sementara format dengan penerbitan seperti sekarang belum bisa diubah untuk menampung bahan-bahan yang sudah ada.

Konsekuensinya materi terbaru yang seharusnya dimasukkan harus diseleksi lagi. Agar tidak "bolong" maka untuk menyeleksinya digunakan parameter tertentu, yang tentu saja dari perspektif praktik.Untuk menye-leksi materi baru digunakan kriteria "yang paling banyak digunakan dalam praktik." Contohnya, Statuta Roma tentang "International Criminal Court" sekalipun sudah resmi berlaku sebagai dokumen (hukum) inter-nasional namun karena Indonesia belum menandatangani statuta itu, yang menjadi syarat sebagai peserta statuta, tidak d.masukkan dalam edisi revisi ini. Meskipun sudah banyak menjadi rujukan dalam Hukum

(19)

Acara Pidana, namun karena penggunaannya dalam praktik masih "ter-batas" maka Statuta Roma tidak dimasukkan dalam edisi sekarang.

Isi edisi lama adalah KUHAP dan peraturan-peraturan pelaksanaan yang berhubungan dengan Hukum Acara Pidana yang tersebar dan atau diterbitkan diberbagai instansi. Termasuk di dalamnya ketentuan-keten-tuan Hukum Interaasional yang relevan. Selain itu, dimasukkan juga undang-undang setingkat KUHAP yang juga mengatur Hukum Acara Pidana.

Karena banyak undang-undang yang berhubungan bahkan tumpang tindih dengan KUHAP, menjadikan kompilasi ini perlu khususnya untuk keperluan kepastian hukum dalam praktik. Hal lain yang menjadi latar ' belakang penerbitan kompilasi ini adalah adanya kenyataan perundang-undangan yang menegasikan status KUHAP sebagai kodifikasi sehingga akhirnya memerlukan satu perbuatan untuk mengumpulkannya dalam satu sistem.

Dalam buku ini banyak dimasukkan bahan-bahan seperti surat edaran dan atau keputusan internal dari instansi penegak hukum. Padahal me-nurut doktrin hukum Indonesia semua itu tidak termasuk sumber hukum formal. Mengapa hal-hal tersebut dimasukkan adalah untuk memastikan ketentuan hukum sesuatu hal yang sesungguhnya, terutama dari sudut "perilaku hukum" aparatur di lapangan. Dalam kenyataannya, "hukum dari aparatur" bisa lebih kuat dari KUHAP Oleh karena itu dengan menge-tahui bagaimana penjabaran hukum secara internal - "hukum aparatur" -1 kita akan mendapatkan efektivitas yang tinggi, misalnya dalam menjalan-kan satu proses litigasi.

Banyak pertanyaan yang diajukan pada penyusun pada edisi pertama karena isi undang-undang yang dimasukkan tidak lengkap. Undang-un-dang yang dimasukkan hanya pasal-pasal yang berkaitan langsung dengan KUHAP saja, "UU terkait". Ada kekecewaan mehgenai hal ini, mungkin karena pasal-pasal yang tidak dimasukkan itu bisa diperlukan juga. Memang harus diakui bahwa pasal-pasal dari satu undang-undang selalu berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, pada kesempatan ini perlu penyusun jelaskan mengapa hal itu harus dilakukan.

Alasan pertama adalah masalah teknis belaka, sebagaimana dijelaskan di atas. Kemudian karena alasan sistem, maksudnya pasal-pasal terkait yang dimuat berhubungan secara langsung dengan sistem KUHAP Se-mentara yang tidak dimuat adalah yang tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan KUHAP

(20)

Pi-dana yang sudah diatur dalam KUHAP, tapi ada beberapa bagian yang diatur lagi dalam undang-undang lain secara tersebar. Jadi titik-tolaknya adalah KUHAP itu seqdiri. Sebab KUHAP diundangkan sesungguhnya dengan konsep kodifikasi, artinya semuanya sudah lengkap di sana. Na- mun kenyataannya tidak demikian sehingga diperlukan kompilasi atas tambahan-tambahan itu. Dengan demikian, sistem penyeleksiannya ada lah dalam rangka melihat secara utuh kesatuan sistem Hukum Acara

Pidana. ' .

Dengan kompilasi ini penyusun by product juga melakukan identifikasi terhadap sistem Hukum Acara Pidana yang berlaku di Indonesia. Lebih konkritnya dapat dilihat dari kategorisasi subyek dan pasal-pasal dari' Hukum Acara Pidana yang dituangkan dalam indeks, bagian akhir buku.

Berdasarkan subyek tertentu diidentifikasi konsep peradilan pidana sebagaimana ditemukan dalam ketentuan-ketentuan Hukum Acara Pi-danalndonesia. Indeks ini mempermudah menemukan pasal-pasal dari ketentuan yang bersangkutan juga dapat membantu untuk mengetahui peta dari sistem peradilan pidana yang dianut dewasa ini. Dengan ber-titik-tolak pada indeks, seorang peneliti dapat melanjutkan penelusuran pada konsep Hukum Acara Pidana Indonesia dan akhirnya akan dapat mengambil kesimpulan: konsep hukum acara pidana apa yang sesungguhnya dianut.

Sejauh ini kekurangan yang ada dalam membangun sistem Hukum Acara Pidana adalah kurangnya penelitian akademis secara mendalam mengenai konsep, teori dan doktrin hukum yang ada sebelum dinormakan dalam perundang-undangan. Akibatnya, Hukum Acara Pidana yang di-undangkan tanpa disadari menyimpan loop-holes yang bisa disalah-gunakan dalam praktik. Konsekuensi lebih lanjut ialah tujuan peradilan itu menjadi sulit tercapai. Misalnya bila Hukum Acara Pidana Indonesia sudah memperkenalkan konsep due process model dan

adversary system, maka seharusnya diikuti dengan konsisten dalam

ketentuan-ketentuan normatimya. Jangan kembali lagi pada konsep sebaliknya, misalnya tiba-tiba menjadi crime control model dan

non-adversary.

Dengan adanya satu rumusan konsep yang dapat digambarkan secara jelas dan lengkap, maka selanjutnya diharapkan pembaruan Hukum Acara Pidana Indonesia yang akan dilakukan akan mengarah pada konsep yang sudah dipilih. Dengan kata lain loop-holes tidak akan pernah ada lagi untuk dapat disalahgunakan. Buku ini dapat menjadi sumbangan permula-an yang kecil ke arah penelitian itu.

(21)

Penyusun berharap penerbitan buku ini selain untuk tujuan sebagai- -mana digambarkan di atas, juga tetap informatif untuk digunakan oleh mahasiswa yang sedang mengambil kuliah praklik hukum, praktisi dan peneliti. Namun pada saat yang sama penyusun juga harus mengakui bahwa buku ini hanya karya permulaan yang sederhana saja, karena hanya mengumpulkan dan mensistematisasikan ketentuan-ketehtuan yang sudah ada, disebut kompilasi.

Sekalipun begitu, karena arah legislasi Indonesia sedang berubah dari kodifikasi ke pengaturan secara sektoral, maka nantinya kompilasi akan tampil untuk menggantikan kodifikasi. Dengan kecenderungan itu maka tidak mustahil kompilasi - seperti yang dilakukan penyusun - akan diikuti di bidang hukum lainnya, tentu saja hal itu tidak salah tapi untuk memenuhi kebutuhan sesuai arah kebijakan di bidang legislasi. Sebab dengan arah seperti itu maka kita akan menghadapi satu fenomena yang sama dengan negara yang menganut case law, yakni mencari hukum adalah sesuatu yang sulit sehingga diperlukan instrumen-instrumen tertentu seperti kompilasi agar dengan mudah mengetahuinya.

Dalam Lembaran Negara (LN) dimana secara formal setiap orang dapat* mengetahui adanya hukum, hanya terbatas pada perundangan-undangan sampai dengan tingkat tertentu saja yang diumumkan. Selain itu LN itu pun sulit untuk mendapatkannya. Sebab LN selain dicetak secara terbatas juga yang dimuat LN berbagai bidang perundang-undangan sekaligus sehingga Ijarus dipilah-pilah. Oleh karena itu meriemukari hukum harus melalui satu proses dan proses itu menyerupai satu bentvklegal research.

Akhirnya penyusun berharap buku ini dapat diterima dan sekaligus mengharapkan kritik dan saran dari sidang pembaca yang dapat diki-rimkan melalui penerbit maupun melalui alamat penyusun lmpp-law@indo.net.id. Dengan kritik dan saran itu perbaikan-perbaikan akan terus dilakukan agar buku ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

(22)

KATAPENGANTAR (Edisi revisi) 2006

Dengan dicetak ulangnya buku ini, berikut dengan beberapa perbaikan, menunjukkan bahwa adanya kebutuhan atau kegunaan satu kompilasi hukum acara pidana dalam praktik. Dengan kompilasi ini memang akan menjadi mudah dan cepat untuk menemukan hukum acara pidana dalam praktiknya yaitu KUHAP dan Jcetentuan-ketentuan pelaksanaan yakni ketentuan yang dikeluarkan oleh instansi yang terkait dalam penegakan hukum. Oleh karena ketentuan-ketentuan pelaksanaan initerus berubah maka yang dirhaksudkan sebagai perbaikan (revisi) buku ini adalah dalam arti menambah dan mengurangi isi kompilasi karena perubahan itu. Buku kompilasi ini memang harus terus-menerus diperbaharui tetap aktual dan memenuhi kegunaan praktik.

Terbitan cetak ulang sekarang ini, adalah dalam rangka menyesuaikan dengan perubahan itu agar tetap memenuhi kebutuhan. Pada penerbitain sekarang ini ada tambahan-tambahan baru yang meliputi ketentuan ten-tang penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri; perikanan; penghapusan kekerasan dalam rumah tangga; komisi yudisial; perkebunan; kejaksaan Republik Indonesia; sumber daya air; mahkamah agung; kekuasaan kehakiman; tindak pidana pencucian uang; pemilihan umum presiden dan wakil presiden; susunan dan kedudukan MPR, DPR, DPD, DPRD; perlindungan hutan; tata cara perlindungan khusus bagi pelapor dan saksi tindak pidana pencucian uang; pelaksanaan teknis institusional peradilan umum bagi anggota kepolisian negara Republik Indonesia; tata cara perlindungan terhadap korban dan saksi dalam pe-langgaran hak asasi manusia yang berat; pembentukan tim penegakan hukum lingkungan hidup terpadu (satu atap); penegakan hukum ling-kungan hidup terpadu (satu atap); kerjasama penanganan tindak pidana di bidang perbankan; dan administrasi perkara tindak pidana. Ada pula dua ketentuan yang berhubungan dengan hukum internasional yaitu Rome Statute of the

International Criminal Court dan United Nations Convention Against Corruption (UNAC). Namun karena alasan teknis ketentuan itu tidak

(23)

dengan praktiknya yang dimasukkan dalam kompilasi.

Deraikianlah mudah-mudahan kompilasi ini secara terus-menerus bisa memenuhi kebutuhan praktik dari hukum acara pidana. Penyusun menya-dari pastilah banyak kekurangan sehingga perlu dikritik dan diberi ma-sukan. Saran dan kritik dengan senang hati diterima yang dapat dialamat-kan melalui e-mail: lmpp-Law@indo.net.id. Atas kritik dan saran yang diberikan, sebelumnya dan sesudahnya diucapkan terima kasih.

Jakarta, November 2005

(24)

A. UNDANG-UNDANG 1981:8

TENTANG

(25)

LEMBARAN-NEGARA REPUBLIK INDONESIA

No. 76. 1981 KEHAKIMAN. TINDAK PIDANA. Warga- negara. Hukum Acara Pidana. (Penjelasan- > dalam Tambaha'n Lembaran Negara Re-publik Indonesia Nomor 3209).

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA

'■ NOMOR 8 TAHUN 1981

TENTANG HUKUM ACARA PIDANA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Memmbang:

a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasar- Jcari-Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjunjung tinggi frak asasi manusia serta yang menjamin segala warganegara bersamaan ke^udukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dart pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya;

b. bahwa demi pembangunan di bidang hukum sebagaimana termak- tub dalam Garis-garisxBesar Haluan Negara (Ketetapan Majelis Per-

musyawaratan Rak^aO^eMbi^c Indonesia Nomor. IV/MPR/1978) perlu mengadakan usaiha peningkatan^}an penyempurnaan pembi- naan hukum nasional dengan mengadakan^embaharuan^codifikas^ serta unifikasi hukum dalam rangkuman pelaksanaan secara nyata dari Wawasan Nusantara;

c bahwa pembangunan hukum nasional yang demikiajHtu di bidang hukum acara pidana adalah agar masyarakat menghayati hak dan kewajibannya dan untuk meningkatkan pembinaan sikap parape-laksana penegak hukum sesuai dengan fungsi dan wewenang ma-sing-masing ke arah tegaknya hukum, keadilan dan perlirutongan terhadap harkat dan martabat manusia, ketertiban serta kepasiian hukum demi terselenggaranya negara hukum sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945;

d bahwa hukum acara pidana sebagai yang termuat dalam Het Her-ziene Inlandsch Reglement (Staatsblad Tahun 1941 Nomor 44) di-hubungkan dengan dan Undang-undang Nomor 1 Drt. Tahun 1951

(26)

(Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 81) serta semua peraturan pelaksanaannya dan ke-tentuan yang diatur dalam perundang-undangan lainnya sepanjang hal itu mengenai hukum acara pidana, p'erlu dicabut, karena sudah tidaksesuai dengan cita-cita hukum nasional; e. bahwa oleh karena itu perlu mengadakan undang-undang tentang hukum acara pidana untuk melaksanakan peradilan bagi pengadilan dalam lingkungan peradilan umum dan Mahkamah Agung dengan mengatur hak serta kewajiban bagi mereka yang ada dalam proses pidana, sehingga dengan demikian dasar utama negara hukum dapat ditegakkan.

Mengingat:

1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;

2. Ketetapan Majelis Permusyawafatan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1978;

3. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-keten-tuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2951).

Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN: Dengan mencabut:

1. Het Herziene Inlandsch Reglement (Staatsblad Tahun 1941 Nomor 44) dihubungkan dengan dan Undang-undang Nomor 1 Drt. Tahun 1951 (Lembaran NegaravTahun 1951 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 81) beserta semua peraturan pelaksanaannya; 2. Ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lain;

dengan ketentuan bahwa yang tersebut dalam angka 1 dan angka 2, sepanjang hal itu mengenai hukum acara pidana.

Menetapkan:

UNDANG-UNDANG TENTANG HUKUM ACARA PIDANA. BAB I KETENTUAN

UMUM Pasal 1

Yang dimaksud dalam undang-undang ini dengan: 4

(27)

1. Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pe-jabat pegawai negeri sipU tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.

2. Penyidikan adalah serangkaian- tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk men-cari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

3. Penyidik pembantu adalah pejabat kepolisian negara Republik In-donesia yang karena diberi wewenang tertentu dapat melakukan tugas penyidikan yang diatur dalam undang-undang ini.

4. Penyelidlk adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan pe-nyelidikan.

5. Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk men-can dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. 6. a. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-un-

dang ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melak-sanakan putugan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.' b. Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksana-kan penetapan hakim.

7. Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan jtermintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.

8. Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili.

9. Mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menenma, memeriksa dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, |ujur, dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan me- . nurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

10. Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memerik sa dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini, tentang:

a. sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka;

(28)

b. sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan ke-. adilan;

c. permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya ti- dak diajukan ke pengadilan.

11. Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan da-lam sidang pengadilan ferbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

12. Upaya hukum adalah hak terdakwaatau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan yang berupa perlawanan atau banding atau kasasi atau hak terpidana untuk mengajukan permo-honan peninjauan kembali dalam hal sertat menurut cara

yang diatur dalam undang-undang ini.

13. Penasihat hukum adalah seorang yang memenuhi syarat yang di-tentukan oleh atau berdasar undang-undang untuk memberi ban-tuan hukum.

14. Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keada-annya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.

15. Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan.

16. Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengam-bil alih dan atau menyimpan di bawah penguasaannya benda ber-gerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuk^ian dalam.penyidikan, penuntutan dan per-adilan.

17. Penggeledahan rumah adalah tindakan penyidik untuk memasuki rumah tempat tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk melaku-kan tindakan pemeriksaan dan atau penyitaan dan atau penang-kapan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

18. Penggeledahan badan adalah tindakan penyidik untuk mengada-kan pemeriksaan badan dan atau pakaian tersangka untuk menca-ri benda yang diduga keras ada pada badannya atau dibawanya serta, untuk disita.

19. Tertangkap tangan adalah tertangkapnya seorang pada waktu se-dang melakukan tindak pidana, atau dengan segera sesudah bebe-rapa saat tindak pidana itu dilakukan, atau sesaat kemudian dise-rukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya, atau apabila sesaat kemudian padanya ditemukan benda yang di-

(29)

duga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana itu yang menunjukkah bahwa ia adalah pelakunya atau turut me-lakukan atau membantu meme-lakukan tindak pidana itu.

20. Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan serrwentara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila ter-dapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur da-lam undang-undang ini.

21. Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik, atau penuntut umum atau hakmi dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam

undang-undang ini. ,

22. Ganti kerugian adaTah hak seorang untuk mendapat pemenuhan atas tuntutannya yang berupa imbalan sejumlah uang karena di-tangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili tanpa alasan yang ber-dasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orang-nya atau hukum yang diterapkan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

23. Rehabilitasi adalah hak seorang untuk mendapat pemulihan hak-nya dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya yang diberikan pada tingkat penyidikan, penuntutan atau peradilan karena ditangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

24. Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seorang karena hak atau kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana.

25. Pengaduan adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang untuk me-nindak menurut hukum seorang yang telah melakukan tindak pidana aduan yang merugikanny a.

26. Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna ke-pentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alarm sendiri.

27. Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang/jia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan meriyebut'alasan dari perigetahuannya itu.

28. Keterangan-ahli/adalah keterangan yang diberikan oleh seorang 7

(30)

yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemerik-saan.

Keterangan anak adalah keterangan yang diberikan oleh seorang anak tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan dalam hal serta me-nurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Keluarga adalah mereka yang mempunyai hubungan darah sampai Serajat tertentu atau hubungan perkawinan dengan mereka yang terlibat dalam suatu proses pidana sebagaimana diatur dalam un-dang-undang ini.

Satu hari adalah dua puluh empat jam dan satu bulan adalah wak-tu tiga puluh hari.

Teipidana adalah seorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

BABH RUANG LINGKUP BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG

Pasal 2

Undang-undang ini berlaku untuk melaksanakan tatacara peradilan da-lam lingkungan peradilan umum pada semua tingkat peradilan.

BABUI DASAR PERADILAN

Pasal 3

Peradilan dilakukan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

BABIV PENYIDK DAN PENUNTUT UMUM

BAGIAN KESATU Penyelidik dan Penyidik

Pasal 4

Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia. Pasal 5

(1) Penyelidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4: a. kareha kewajibannya mempunyai wewenang: 29.

30.

31. 32.

(31)

1. menerima laporan atau pengaduan dari seorang ten tang ada-nya tindak pfdana;

2. mencari keterangan dan barang bukti;

3. menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta nVemeriksa tanda pengenal diri;

4. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertang-gungjawab.

b. atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: 1. penangkapan, larangan meninggalkan tempat,

penggeledah-andanpenyitaan; 2. pemeriksaan dan penyitaan surat;

3. mengambil sidikjari dan memotret seorang;

4. membawa dan menghadapkan seorang pada penyidik. (2) Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil

pelaksana'-an tindakan sebagaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik.

Pasal 6 (1) Penyidik adalah:

a. pejabat polisi negara Republik Indonesia;

b. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.

(2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. .

Pasal 7

(1) Penyidik sebagaimana .dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang:

a. menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;

b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda

pengenal diri tersangka;

d. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan pe nyitaan;

e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; . f, mengambil sidik jari dan memotret seorang;

g. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersang-ka atau saksi;

(32)

h, mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; L mengadakan penghentian penyidikan; /. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung

jawab.

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (l)huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menja-di dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik terse-but dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a.

(3) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang ber-laku.

Pasal 8

(1) Penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan se-bagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dengan tidak mengurangi ke-tentuan lain dalam undang-undang ini.

(2) Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum. (3) Penyerahan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)

dilakukan:

a. pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas per kara;

b. dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menye rahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum.

Pasal 9

Penyelidik dan penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a mempunyai wewenang melakukan tugas masing-masing pada umumnya di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah hukum masing-masing di mana ia diangkat sesuai dengan ketentuan undang-

undang. ,

BAGIAN KEDUA Penyidik Pembantu

Pasal 10

(1) Penyidik pembantu adalah pejabat kepolisian negara Republik donesia yang diangkat oleh Kepala Kepolisian negira Republik In-donesia berdasarkan syarat kepangkatan dalam ayut (2) pasal ini. 10

(33)

(2) Syarat kepangkatan sebagaimana tersebut pada ayat (1) diatur de-ngan peraturan pemerintah.

Pasal 11

Penyidik pembantu mempunyai wewenang seperti tersebut dalam Pa-sal 7 ayat (1), kecuali mengenai penahanan yang wajib diberikan dengan pelimpahan wewenang dari penyidik.

Pasal 12

Penyidik pembantu membuat berita acara dan menyerahkan berkas . perkara kepada penyidik, kecuali perkara dengan acara pemeriksaan singkat yang dapat langsung diserahkan kepada penuhtut umum.

BAGIANKETIGA

Penuntut Umum Pasal 13

Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh

undang-un-dang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan t hakim.

Pasal 14 Penuntut umum mempunyai wewenang:

a. menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau penyidik pembantu;

b. mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyi dikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan ayat (4), dengan. memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan pe nyidikan dari penyidik;

c memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah per-karanya dilimpahkan oleh penyidik;

<L membuat surat dakwaan;

e. melimpahkan perkara ke pengadilan; > ' ■ f. menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan

hairi dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggUan, baik kepada terdakwa maupun kepada saksi, untuk datang pada si- - dang yang telah ditentukan;

g. melakukan penuntutan;

h. menutup perkara demi kepentingan hukum;

(34)

i mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan undang-undang ini; /. melaksanakan penetapan hakim.

Pasal 15

Penuntut umum menuntut perkara tindak pidana yang terjadi dalam daerah hukumnya menurut ketentuan undang-undang.

BABV • PENANGKAPAN, PENAHANAN,

PENGGELEDAHAN BADAN, PEMASUKAN RUMAH, PENYITAAN DAN PEMERIKSAAN SURAT

BAGIANKESATU Penangkapan

Pasal 16

(1) Untuk kepentingan penyelidikan, penyelidik atas perintah penyi-dik berwenang melakukan penangkapan.

(2) Untuk kepentingan penyidikah, penyidik dan penyidik pembantu berwenang melakukan penangkapan.

Pteai 17

Perintah penangkapan dilakukan terhadap seorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup.

Pasal 18

(1) Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh petugas kepolisian negara Republik Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan yang mencantumkan identitas tersangka danYnenyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang diper-sangkakan serta tempat ia diperiksa.

(2) Dalam hal tertangkap tangan penangkapan dilakukan tarfpa surat perintah, dengan ketentuan bahwa penangkap harus segera me-nyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu yang terdekat

(3) Tembusan surat perintah penangkapan sebagaiiriana dimaksud da-lam ayat (1) harus diberikan kepada keluarganya segera setelah penangkapan dilakukan.

(35)

Pasal 19

(1) Penangkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, dapat dila-kukan untuk paling lama satu hari.

(2) Terhadap tersangka pelaku pelanggaran tidak diadakan penang-kapan kecuali dalam hal ia telah dipanggil secara sah dua kali ber-turut-turut tidak memenuhi panggilan itu tanpa alasanyang sah.

BAGIANKEPUA Penahanan

Pasal 20

(1) Untuk kepentingan penyidikan, penyidik atau penyidik pemban-tu atas perintah penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 berwenang melakukan penahanan.

(2) Untuk kepentingan penuntutan, penuntut umum berwenang me-lakukan penahanan atau penahanan lanjutan.

(3) Untuk kepentingan pemeriksaan hakim di sidang pengadilan de-ngan penetapannya berwenang melakukan penahanan.

Pasal 21

(1) Perintah penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan terhadap seorang tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan ba-rang bukti dan atau mengulangj tindak pidana.

(2) Penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan oleh penyidik atau penuntut umum terhadap tersangka atau terdakwa dengan mem-berikan surat perintah penahanan atau penetapan hakim yang mencantumkan identitas tersangka atau terdakwa dan menyebut-kan alasan penahanan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan atau didakwakan serta tempat ia ditahan.

(3) Tembusan surat perintah penahanan atau penahanan lanjutan atau penetapan hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ha-ms diberikan kepada keluarganya.

(4) Penahanan tersebut hanya dapat dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana dan atau percoba-an maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana tersebut dalam hal:

a. tindak pidana itu diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih;

(36)

b. tindak pidana sebagainiana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (3), Pasal 296, Pasal 335 ayat (1), Pasal 351 ayat (1), Pasal 353 ayat (1), Pasal 372, Pasal 378, Pasal 379a, Pasal 453, Pasal 454, Pasal 455, Pasal 459, Pasal 480 dan Pasal 506 Kitab Un-dang-undang Hukum Pidana, Pasal 25 dan Pasal 26 Rechtenor-donnantie (pelanggaran terhadap Ordonansi Bea dan Cukai, terakhir diubah dengan Staatsblad Tahun 1931 Nomor 471), Pasal 1, Pasal 2 dan Pasal 4 Undang-undang Tindak Pidana Imigrasi (Undang-undang Nomor 8 Drt. Tahun 1955, Lembar-an Negara Tahun 1955 Nomor 8), Pasal 36 ayat (7), Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 47 dan Pasal 48 Undang-undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3086).

Pasal 22 (1) Jenis penahanan dapat berupa:

a. penahanan rumah tahanan negara; b. penahanan rumah;

c. penahanan kota.

(2) Penahanan rumah dilaksanakan di rumah tempat tinggal atau ru-mah kediaman tersangka atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan, penuntut-an atau pemeriksaan di sidang pengadilan.

(3) Penahanan kota dilaksanakah di kota tempat tinggal atau tempat kediaman tersangka atau terdakwa, dengan kewajiban bagi ter-sangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan. (4) Masa penangkapan dan atau penahanan dikurangkan seluruhnya

dari pidana yang dijatuhkan.

(5) Untuk penahanan kota pengurangan tersebut seperlima dari jum-lah lamanya waktu penahanan sedangkan untuk penahanan rumah sepertiga dari jumlah lamanya waktu penahanan.

Pasal 23

(1) Penyidik atau penuntut umum atau hakim berwenang iintuk mengalihkan jenis penahanan yang satu kepada jenis penahanan yang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.

(2) Pengalihan jenis penahanan dinyatakan secara tersendiri dengan surat perintah dari penyidik atau penuntut umum atau penetapan hakim yang tembusannya diberikan kepada tersangka atau terdak- 14

(37)

wa serta keluarganya dan kepada instansi yang berkepentingan. Pasal 24

(1) Perintah penahanan yang diberikan oleh penyidik sebagaimana di-maksud dalam Pasal 20, hanya berlaku paling lama dua puluh hari.

(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlu-kan guna kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat di-perpanjang oleh penuntut umum yang berwenang untuk paling lama empat puluh hari.

(3) Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup kemungkinan dikeluarkannya tersangka dari tahanan se-beium berakhir waktu penahanan tersebut, jika kepentingan pe-meriksaan sudah terpenuhi.

(4) Setelah waktu enam puluh hari tersebut, penyidik hams sudah mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum.

Pasal 25

(1) Perintah penahanan yang diberikan oleh penuntut umum sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 20, hanya berlaku paling lama dua puluh hari.

(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlu--kan guna kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat di-perpanjang oleh ketua pengadilan negeri yang berwenang untuk paling lama tiga puluh hari.

(3) Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup. kemungkinan dikeluarkannya tersangka dari tahanan se-belum berakhir waktu penahanan tersebut, jika kepentingan pe-meriksaan sudah terpenuhi.

(4) Setelah waktu lima puluh hari tersebut, penuntut umum hams su-dah mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum.

Pasal 26

(1) Hakim pengadilan negeri yang mengadili perkara sebagaimana di-maksud dalam Pasal 84, guna kepentingan pemeriksaan berwe-nang mengeluarkan surat perintah penahanan untuk paling lama tiga puluh hari.

(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlu -kan guna kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat di-perpanjang oleh ketua pengadilan negeri yang bersangkutan untuk paling lama enam puluh hari.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :