31
TAHUN 1980-2000
A. Sejarah Berdirinya Rokok Djitoe 1. Sejarah Berdirinya
Di Jawa Tengah terdapat beberapa industri penghasil rokok, salah satunya di Kota Surakarta yaitu Industri Rokok Djitoe. Industri ini menghasilkan berupa rokok kretek tangan dan rokok kretek mesin yang sampai sekarang masih berproduksi di tengah munculnya persaingan dengan produk-produk rokok baru. Industri Rokok Djitoe awal perintisannya dimulai tahun 1960 oleh Soetantyo yang merupakan seorang warga keturunan Tionghoa yang bertempat tinggal di Kampung Sewu. Pada saat memulai usahanya Soetantyo meracik sendiri tembakau dan cengkeh untuk dijadikan rokok kemudian menjualnya secara berkeliling. Usaha rokok ini berkembang sedikit demi sedikit sehingga beliau mempekerjakan saudara dan tetangganya untuk menjadi buruh linting rokok. Rokok yang dibuat ini diberi nama Djitoe, nama tersebut dalam bahasa indonesia dapat diartikan Tepat. Hal ini dimaksudkan oleh Soetanyo bahwa rokok Djitoe tepat dinikmati oleh masyarakat golongan menengah ke bawah karena harganya yang murah.1
Setelah berjalan 4 tahun Soetantyo mempunyai pemikiran untuk memperkuat dan meningkatkan usahanya. Tahun 1964 Industri Rokok Djitoe berbentuk badan hukum Perusahaan Perorangan dengan Nomor 8124/1964, produk yang diandalkan masih berupa rokok kretek tangan. Usaha yang dijalankan tidak sepenuhnya berjalan lancar, tahun 1968 Industri Rokok Djitoe mengalami penurunan jumlah produksi karena kekurangan modal usaha dan alat yang digunakan masih tradisional. Dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 7/1968 tentang Pemberian Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan syarat perusahaan harus berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas, hal tersebut merupakan dorongan dan kesempatan baik bagi perusahaan rokok Djitoe.
Pada awal tahun 1969 tepatnya tanggal 7 Mei 1969, bentuk perusahaan ini diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) yang disahkan dengan Akta notaris H. Moeljatmo, Nomor : 4 Tanggal 7 Mei 1969 dengan nama PT. DJITOE INDONESIAN TOBACCO COY.2 Seluruh saham-sahamnya dimiliki oleh keluarga Soetantyo, dengan ditambah modal memperoleh kepercayaan dari pemerintah berupa kredit Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Pada tahun 1981 Akta perusahaan diperbaharui kembali Tanggal 12 Agustus 1981. Dengan didaftarkan menjadi Perseroan Terbatas pada tahun 1969, Industri Rokok Djitoe pindah lokasi produksi di Jalan LU. Adisucipto Nomor 51 Surakarta yang sebelumnya hanya industri rumahan di Kampung Sewu. Dengan bertambahnya modal usaha maka peralatan dan mesin-mesin ditambah, industri rokok Djitoe mampu
2Akta Pendirian Perseoran Terbatas PT. Djitoe Indonesian Tobacco,
mengikuti perkembangan kemajuan teknik di dalam menunjang kebutuhan pasar yang bisa dicapai, maka dari tahun ketahun industri rokok djitoe mengalami kemajuan yang pesat baik volume penjualan maupun daerah pemasarannya.
2. Visi Dan Misi
Industri Rokok Djitoe mempunyai Visi dan Misi yang akan menjadi pegangan kerja maupun dalam pelaksanaan hingga pengawasan. a. Visi Industri Rokok Djitoe
Menjadi pemimpin kategori rokok kretek terkemuka khususnya di kota Surakarta.
b. Misi Industri Rokok Djitoe
1) Mendapatkan keuntungan yang layak sebagai sumber penghasilan. 2) Memberikan kepuasan kepada konsumen melaui produk yang
dihasilkan.
3) Membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran dengan adanya lapangan pekerjaan khususnya bagi penduduk di sekitar pabrik.3
3
Humas PT. Djitoe Indonesia Tobacco, Profile PT. Djitoe Indonesia
3. Pemilihan Lokasi
Faktor yang penting dalam pendirian suatu industri adalah pemilihan lokasi, dengan adanya pemilihan lokasi yang tepat akan sangat membantu kesuksesan dalam usaha. Industri Rokok Djitoe tepatnya berlokasi di Jalan LU. Adisucipto Nomor 51 Surakarta, dengan luas lahan pabrik sekitar 40000 m² di tahun 1980.
Gambar 1.
Foto Bangunan Industri Rokok Djitoe
Sumber: data koleksi PT. Djitoe Indonesian Tobacco
Dilihat dari lokasinya yang terletak di pinggir jalan raya yang merupakan jalur bus dan truk, maka akan sangat menguntungkan bagi perusahaan. Dengan letak pabrik di pinggir jalan raya, sangat besar artinya yang dapat menunjang kelancaran dalam bidang pengangkutan. Disekitar perusahaan masih cukup banyak areal tanah dan harganya cukup murah dibandingkan dengan harga tanah di dalam kota sehingga untuk perluasan pabrik masih dapat dilakukan. Fasilitas yang dimiliki berupa kendaraan yang berfungsi untuk mengangkut bahan-bahan yang dibeli maupun untuk mengirim hasil produksinya ke daerah-daerah pemasarannya yang telah
ditunjuk sebagai kantor perwakilan, dan juga kendaraan yang dipergunakan untuk antar jemput karyawan sehingga sangat menunjang untuk kelancaran dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan.
Perusahaan mempertimbangkan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi perusahaan rokok Djitoe di Surakarta ini, yaitu sebagai berikut :
a. Prasana angkutan
Lokasi pabrik berada di pinggir jalan raya yang dapat dilalui jalur bus dan truk, maka pengangkutan bahan baku maupun hasil produksinya sangat strategis.
b. Sumber bahan baku
Kota Surakarta dekat dengan produsen tembakau sehingga penyortiran bahan baku lancar. Tembakau yang digunakan berasal dari daerah Boyolali, Temanggung, Muntilan, Weleri, dan Bojonegoro yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Surakarta. Cengkeh yang digunakan dari Purwokerto, Lampung, Sulawesi, dan Ambon. Jika sumber bahan baku utama dari daerah tersebut habis, baru mempergunakan tembakau dari daerah lain dan cengkeh yang digunakan adalah cengkeh impor.
c. Tenaga kerja
Tenaga kerja pelinting, ketok, dan etiket atau pembungkus berasal dari sekitar pabrik sehingga tidak perlu lagi fasilitas antar jemput karyawan
d. Pasar
Pasar rokok Djitoe pada tahun 1960 sampai tahun 1970 hanya di daerah Surakarta dan sekitarnya. Adanya keinginan berkembang yang lebih luas maka daerah pemasarannya kemudian diperluas. Tahun 1990 sebagian produk dijual di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan sampai keluar Jawa seperti Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi bagian Utara, dan Ujung Pandang. Dengan kantor-kantor perwakilan di Semarang, Jakarta, dan Palembang khusus untuk pemasaran di daerah sekitarnya.
B. Perkembangan Industri Rokok Djitoe Tahun 1980-1997
1. Tenaga Kerja
Jumlah karyawan yang dimiliki Industri Rokok Djitoe pada tahun 1980-1997 sedikit demi sedikit mengalami peningkatan, hal ini disebabkan karena semakin banyak produksi rokok yang dihasilkan Industri Rokok Djitoe. Peningkatan jumlah karyawan bisa dilihat dari Tabel 8 berikut:
Tabel 8.
Jumlah Tenaga Kerja Industri Rokok Djitoe Tahun 1980-1997
Th.
Jumlah Tenaga
Kerja Jumlah Th.
Jumlah
Tenaga Kerja Jumlah
Pria wanita Pria Wanita
1980 160 201 361 1989 238 339 577 1981 171 204 375 1990 264 348 612 1982 176 225 401 1991 295 354 649 1983 201 233 434 1992 313 384 697 1984 209 238 447 1993 339 405 744 1985 194 299 493 1994 362 459 821 1986 210 298 508 1995 414 483 897 1987 214 308 522 1996 410 538 948 1988 214 324 538 1997 439 586 1025
Pada Tabel 8 dapat dijelaskan jumlah karyawan Industri Rokok Djitoe tahun 1980 hanya 361 orang dengan 160 orang karyawan pria dan 201 orang karyawan wanita, karena jumlah produksi rokok yang semakin meningkat Industri Rokok Djitoe terus meningkatkan jumlah karyawan dari tahun ke tahun sampai puncaknya pada tahun 1997 Industri Rokok Djitoe mempunyai 1025 orang karyawan dengan 439 orang karyawan pria dan 586 orang karyawan wanita.
Industri Rokok Djitoe jumlah karyawanya bertambah banyak, maka perlu adanya peraturan-peraturan yang disepakati antara perusahaan dan serikat pekerja, hal juga untuk menjaga agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang. Industri Rokok Djitoe telah mengatur hak-hak pengusaha dengan hak-hak-hak-hak karyawan. Pada tahun 1980 perusahaan memberlakukan karyawan sebagai tenaga harian yang akan menerima gaji setiap minggunya. Aturan tersebut dilakukan untuk sementara, karena pada awalnya perusahaan belum siap dengan sistem peraturan yang lebih baik. Disamping itu jumlah karyawan pada tahun 1980 belum terlalu banyak. Akan tetapi, tahun 1987 perusahaan mulai membagi karyawan menjadi tiga yaitu karyawan bulanan, karyawan harian dan karyawan borongan.4
4
Industri Rokok Djitoe memiliki beberapa aturan terkait dengan jam kerja dan jam waktu istirahat bagi karyawannya. Sesuai dengan UU No. 1 Tahun 1951 No. 12/1948, jam kerja pokok bagi karyawan di perusahaan rokok Djitoe selama 7 jam perhari atau 40 jam perminggu namun dalam perkembangannya mengalami beberapa kali perubahan seiring dengan peningkatan produksinya.
Jam kerja karyawan untuk bagian produksi dan gudang adalah sebagai berikut :
a. Senin sampai Jumat
Karyawan bulanan dari jam 07.45 s.d. 15.00 WIB Karyawan harian dari jam 07.15 s.d. 17.15 WIB Karyawan borongan dari jam 06.00 s.d. selesai b. Sabtu
Karyawan bulanan dari jam 07.45 s.d. 14.00 WIB Karyawan harian dari jam 07.15 s.d. 15.00 WIB Karyawan borongan dari jam 06.00 s.d. selesai.5
Waktu istirahat 1 jam setelah waktu kerja 4 jam, istirahat biasa digunakan karyawan untuk makan dan sholat bagi yang beragama islam. Untuk keperluan tersebut perusahaan telah menyediakan fasiltas makan dan tempat ibadah dilokasi terdekat dengan area kerja karyawan. Khusus pada hari Jumat waktu istirahat diatur bersamaan yakni selama 1½ jam dimulai jam 11.30 – 13.00, hal dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi karyawan muslim untuk melaksanakan sholat Jumat.
5
Humas PT. Djitoe Indonesia Tobacco, Profile PT. Djitoe Indonesia
Pada waktu istirahat tersebut proses produksi dihentikan dan dijalankan kembali setelah waktu istirahat berakhir.
Selain mengatur jam kerja karyawan, Industri Rokok Djitoe juga mengatur upah atau gaji karena hal ini sangat erat hubungannya dengan pekerjaan. Upah yang dimaksudkan disini adalah wujud penghasilan berupa uang yang diterima oleh seseorang tenaga kerja atas prestasi kerja yang telah dilakukan. Upah secara fungsional merupakan bagian atau sama dengan pendapatan bagi tenaga kerja.6 Sistem pengupahan yang digunakan oleh Industri rokok Djitoe disesuaikan dengan status karyawannya yaitu karyawan bulanan yang mendapat upah setiap bulan sekali, karyawan harian yang mendapat upah seminggu sekali, dan karyawan borongan yang mendapatkan upah tiga hari sekali.7
2. Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan tenaga kerja Perusahaan Rokok Djitoe diwujudkan dalam aturan sebagai berikut :
a. UU No. 1 tahun 1951 pasal 10 tentang waktu kerja dan waktu istirahat ditetapkan 7 jam sehari dan 40 jam seminggu.
b. UU No. 1 tahun 1970 pasal 10 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesejahteraan Kerja (P2K3) dengan surat Keputusan Kakanwil Depnaker Dati I propinsi Jawa Tengah No. 462/W.01/1989 dan dilengkapi penyediaan poliklinik perusahaan yang dipimpin oleh dua orang dokter,
6
Nurimansyah Hasibuan, Upah Tenaga Kerja dan Konserasi Pada Sektor
Industri (Jakarta: LP3ES, 1981) hlm 3.
7
satu dokter umum, dan satu dokter hyperkes dengan dibantu satu orang bidan dan satu orang perawat.
c. PP No. 33 tahun 1977 pasal 3 bahwa perusahaan diwajibkan menyelenggarakan Program Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK). Dalam realisasinya seluruh tenaga kerja Perusahaan Rokok Djitoe menjadi anggota ASTEK.
d. SK Menteri Tenaga Kerja No. Kep 72/Men/84 tentang Dasar Perhitungan Upah Lembur melebihi 7 jam kerja pada hari-hari biasa dan 5 jam kerja pada hari Sabtu dihitung lembur sesuai dengan peraturan yang berlaku. e. PP No. 8 tahun 1981 tenang perlindungan upah sesuai dengan pasal 2 s.d.
10.
f. Selain menerima upah yang biasa diterima, untuk karyawan bulanan dan harian mendapat makan siang satu kali pada waktu istirahat siang jam 11.30 s.d. 12.30 WIB.
g. Bagi karyawan yang istrinya melahirkan diberikan cuti haid selama 3 hari dan karyawati yang keadaan hamil tua atau melahirkan diberikan cuti hamil selama 3 bulan (1 bulan sebelum melahirkan dan 2 bulan setelah melahirkan, dengan diberikan bantuan biaya melahirkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Kesepakatan Kerja Bersama).
h. Cuti sakit selama karyawan dalam keadaan sakit terus menerus tidak lebih dari 1 tahun maka upah akan dibayar sebagai berikut :
1) 3 bulan pertama dibayar 100% x upah pokok 2) 3 bulan kedua dibayar 75% x upah pokok 3) 3 bulan ketiga dibayar 50% x upah pokok 4) 3 bulan keempat dibayar 25% x upah pokok
Bila selewatnya 1 tahun karyawan masih sakit, maka segala hak dan kewajibannya dihentikan sementara waktu dengan ketentuan statusnya masih karyawan perusahaan rokok Djitoe dan masih berhak menerima uang santunan kematian yang diterima melalui asuransi tenaga kerja. i. Bagi karyawan yang dalam keadaan hamil tua atau melahirkan
diberikan cuti 1 hari. Bagi karyawan atau karyawati yang melangsungkan pernikahan diberi cuti nikah 2 hari. Bagi karyawan atau karyawati yang anaknya, suami atau istrinya meninggal diberikan cuti 2 hari, bagi orang tuanya meninggal diberi cuti 1 hari. Bagi karyawan atau karyawati yang menikahkan anaknya diberikan cuti 2 hari dan menyunatkan anaknya diberi cuti 1 hari.
3. Sistem Produksi
Produksi merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk merubah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau jadi. Seluruh produk yang dihasilkan atau dipasarkan merupakan hasil dari serangkaian proses produksi yang dilaksanakan oleh perusahaan.8 Dalam menyusun jadwal produksinya, perusahaan rokok Djitoe menggunakan aturan First Come
First Served, dimana pekerjaan pertama yang datang ke stasiun kerja akan
diproses terlebih dahulu. Input penjadwalan produksi berupa permintaan diperoleh dari marketing, permintaan tersebut berasal dari permintaan-permintaan agen pertama, kemudian oleh departemen PPC dibuat penjadwalan dengan memperhatikan kapasitas setiap lintasan produksi. Kapasitas produksi perhari berbeda pada awal dan akhir minggu.9
Perbekalan produksi perlu dilakukan secara terencana yang meliputi semua barang dan bahan yang dimiliki perusahaan dan digunakan untuk proses produksi. Perbekalan ini akan terdiri dari, bahan baku untuk proses produksi, bahan setengah jadi, olahan yang merupakan bagian produk, bahan pembantu proses produksi, bahan pengemas dan pengepak, dan bahan-bahan lain untuk keperluan pabrik.10 Produk yang dihasilkan di Industri Rokok Djitoe beda sehingga proses produksinya berbeda-beda. Alur proses produksi secara garis besar untuk masing-masing jenis rokok adalah sebagai berikut :
8 Irma Wardani, Strategi Pemasaran Produk Unggulan Jamu Ngeres Linu
PT. Nyonya Meneer Semarang, (Thesis Fakultas Pascasarjana Agribisnis
Universitas Sebelas Maret, 2011) hlm. 81.
9 Wawancara dengan Sutarno, Tanggal 3 Juli 2015.
10
Singgih Wibowo dkk, Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil, (Jakarta: Penebar Swadaya, 1999), hlm. 19.
a. Alur Proses Produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT)
Proses produksi untuk non filter atau Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebagian besar dikerjakan dengan menggunakan tangan, Pertama kali daun tembakau jenis rook oven dirajang kecil-kecil dengan menggunakan mesin lalu dijemur untuk pengeringan. Tembakau jenis rajangan rakyat yang berupa gulungan diudal dengan menggunakan mesin udal. Setelah itu kedua jenis tembakau tersebut itu diayak dengan maksud untuk menghilangkan debu dan kotoran lainnya. Dari kedua jenis tembakau tersebut, kemudian dicampur dengan cengkeh Setelah dicampur dengan cengkeh, kemudian tembakau cengkeh tersebut disemprot dengan saos menggunakan mesin penyemprot serta diaduk agar campuran bisa merata tercampur, sebelum dibawa ke tempat pelintingan terlebih dahulu diendapkan selama satu malam. Sampai tahap ini maka telah terbentuklah tembakau masak atau bahan setengah jadi.
Bahan setengah jadi yang berupa tembakau masak tersebut kemudian masuk ke bagian tenaga kerja pelinting untuk dilinting dengan menggunakan bantuan alat pelinting (pengoperasian alat dilakukan secara manual) oleh buruh sehingga menjadi rokok batangan.
Gambar 2.
Foto proses pelintingan rokok menggunakan alat pelinting manual Sumber: data koleksi PT. Djitoe Indonesian Tobacco
Setelah menjadi rokok batangan, kemudian rokok-rokok tersebut dimasukkan ke bagian pemeriksaan yang sekaligus memperbaiki apabila terjadi kelebihan kertas atau sigaret (kertas untuk membungkus tembakau masak), operator yang melakukan tugas ini disebut buruh ketok yang artinya buruh yang bertugas memotong apabila terdapat kelebihan kertas sigaret di ujung-ujung batang rokok tersebut sehingga rokok yang dihasilkan rapi sesuai ukuran, dan selanjutnya dilakukan proses penyortiran untuk memilih rokok yang memenuhi standar kualitas.
Proses selanjutnya rokok yang memenuhi standar kualitas dimasukkan ke dalam ruang pengovenan untuk mengeringkan rokok tersebut selama kurang lebih 12 jam. Setelah keluar dari proses pengovenan maka selama 12 jam kemudian dibawa ke bagian etiket untuk
packing serta diberi bandrol dan rokok siap untuk dibungkus. Setelah
rokok di bos, siap untuk dibawa ke gudang produk jadi untuk selanjutnya di distribusikan ke daerah pemasaran.
Gambar 3.
Foto proses pengepakan dan pemberian bandrol harga rokok Sumber: data koleksi PT. Djitoe Indonesian Tobacco
b. Alur Proses Produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM)
Proses produksi untuk rokok filter atau Sigaret Kretek Mesin (SKM) sudah menggunakan mesin-mesin yang agak modern, sehingga pada proses pembuatan rokok kretek filter ini tenaga manusia tidak banyak diperlukan.11 Bahan baku yang masih berupa daun berasal dari gudang dikeluarkan kemudian dimasukkan ke Vacum Chamber untuk diberi uap
(steam). Daun tembakau yang telah di steam tersebut kemudian
dimasukkan ke mesin Cutter Mollin untuk proses perajangan (pencacahan) tembakau. Tembakau yang telah dirajang kemudian masuk ke mesin
Thrasser, dalam mesin ini tembakau tersebut mengalami proses
pengudalan dengan menggunakan mesin Thrasser, fungsi dari proses pengudalan tersebut untuk memisahkan antara debu, ganggang, dan daun (material yang digunakan).
Setelah proses pengudalan tembakau tersebut kemudian dimasukkan ke Conditioning, fungsinya untuk menambah kadar air agar tembakau bisa mengembang. Dalam mesin Conditioning tersebut tembakau terdapat proses pencampuran dengan saos dasar yang fungsinya untuk memperkuat rasa dari senterial (tembakau). Tembakau selanjutnya di masukkan ke mesin Dryer, mesin tersebut berfungsi untuk mengeringkan tembakau. Setelah tembakau dikeringkan selanjutnya tembakau masuk ke mesin Culler untuk proses penyaringan debu kembali.
Proses selanjutnya tembakau dimasukkan ke mesin Silo yang berfungsi untuk perataan tembakau. Dari mesin Silo kemudian tembakau masuk ke Blending Silo, di dalam Blending Silo inilah terdapat proses pencampuran bermacam-macam bahan baku yaitu tembakau, cengkeh, dan saos. Setelah dicampur selama kurang lebih 4 jam, tembakau diturunkan siap untuk diproses menjadi rokok jadi. Tembakau masak tersebut masuk ke dalam mesin pelinting untuk menjadi rokok batangan. Rokok batangan tersebut bersama dengan filter roads dikirim ke mesin assembling untuk disatukan sehingga terbentuklah rokok berfilter yang sering dikenal dengan rokok filter. Masih dalam satu kesatuan mesin rokok filter tersebut mengalir ke sub mesin pembungkus atau pengepak untuk dibungkus.
4. Jumlah Produksi Rokok
Industri Rokok Djitoe setiap tahunnya menghasilkan produksi batangan rokok yang banyak. Jumlah produksi dapat dilihat dari Tabel 9 berikut:
Tabel 9.
Jumlah Produksi Rokok PT Djitoe Indonesian Tobacco Tahun 1980-1997. Tahun JUMLAH PRODUKSI (BATANG) JUMLAH SKT SKM 1980 22.069.000 63.205.000 85.274.000 1981 24.699.000 68.784.000 93.483.000 1982 32.837.000 78.885.000 111.722.000 1983 41.352.000 85.080.000 126.432.000 1984 45.739.000 86.228.000 131.967.000 1985 39.168.000 79.841.000 119.009.000 1986 40.770.000 82.866.000 123.636.000 1987 40.987.000 83.873.000 124.860.000 1988 33.119.000 76.097.000 109.216.000 1989 36.349.000 78.571.000 114.920.000 1990 44.735.000 85.026.000 129.761.000 1991 46.294.000 86.188.000 132.482.000 1992 48.336.000 88.759.000 137.095.000 1993 52.091.000 89.872.000 141.963.000 1994 53.995.000 92.229.000 146.224.000 1995 55.093.000 92.017.000 147.110.000 1996 60.389.000 97.818.000 158.207.000 1997 65.221.000 102.627.000 167.848.000
Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa produksi rokok tahun 1980 hanya 85.274.000 batang kemudian di tahun 1981 sedikit mulai ada peningkatan tapi tidak terlalu pesat. Peningkatan pesat terjadi antara tahun 1982 sampai 1984, yaitu dari 111.722.000 batang menjadi 131.967.000 batang. Dapat pula dilihat bahwa secara keseluruhan produksi rokok di Industri Rokok Djitoe peningkatannya tidak terlalu cepat. Tahun 1997 Industri Rokok Djitoe mencapai puncak jumlah produksi sebesar 167.848.000 batang, ini dikarenakan permintaan dari daerah Luar Pulau Jawa yang semakin meningkat. Naik turunnya jumlah produksi rokok Djitoe akan terlihat dalam Grafik 1 berikut ini.
Grafik 1.
Perkembangan Jumlah Produksi PT. Djitoe Tahun 1980-1997 0 20.000.000 40.000.000 60.000.000 80.000.000 100.000.000 120.000.000 19 80 19 81 19 82 19 83 19 84 19 85 19 86 19 87 19 88 19 89 19 90 19 91 19 92 19 93 19 94 19 95 19 96 19 97 SKT SKM
Dari Grafik 1 dapat dilihat jumlah naik dan turunnya produksi rokok Perusahaan Djitoe, dengan hasil produksi rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebanyak 65.221.000 batang dan rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebanyak 102.627.000 batang. Jumlah produksi Sigaret Kretek Mesin lebih banyak daripada Sigaret Kretek Tangan, minat konsumen terhadap rokok kretek mesin lebih besar.
5. Hasil Produksi
Industri rokok Djitoe menghasilkan beberapa produk rokok yang digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
a. Sigaret Kretek Tangan (SKT) adalah rokok yang pembuatanya dengan menggunakan tangan (manual), seperti Djitoe Super dan Djitoe Golden.
Gambar 4. Foto hasil rokok Djitoe
b. Sigaret Kretek Mesin (SKM) adalah rokok yang pembuatannya dengan menggunakan mesin, seperti Djitoe Slim dan Djitoe Filter.
Gambar 5. Foto hasil rokok Djitoe
6. Pengendalian Mutu Bahan Baku
Pengendalian mutu dan kualitas Industri Rokok Djitoe dilakukan dengan beberapa uji terhadap bahan baku, yaitu:
a. Cengkeh
Adapun yang diuji dari cengkeh adalah kadar air yang terkandung di dalam cengkeh. Untuk pengujiannya digunakan alat yang disebut Taste
Meter,12 sedangkan cara kerjanya sebagai berikut :
1) Cengkeh ditimbang dengan teliti sebanyak satu ons.
2) Kemudian dimasukkan dalam wadah khusus dari Taste Meter yang berbentuk piringan.
3) Lalu dimasukkan dalam Taste Meter dan tombol ditekan. 4) Diamati dan catat skalanya.
5) Kemudian disesuaikan dengan tabel Taste Meter sehingga kadar air dapat diketahui.
6) Kadar air dalam cengkeh yang memenuhi syarat adalah 1,8%.
b. Tembakau
Dalam produksinya, Perusahaan Rokok Djitoe menggunakan berbagai macam jenis tembakau, misalnya tembakau rajangan petani dari berbagai macam daerah dan tembakau berbentuk daun yang juga berasal dari berbagai daerah. Untuk mendapatkan tembakau yang baik maka perlu diuji kualitasnya. Uji ini berdasarkan organoleptis dan kadar airnya. Untuk uji organoleptis berdasarkan warna dan bau. Sedang untuk kadar air digunakan alat yang disebut taste meter. Cara kerjanya sama persis dengan penentuan kadar air pada bahan dasar cengkeh.
Dalam menentukan kualitas tembakau yang akan digunakan untuk bahan baku pembuatan rokok, perusahaan rokok djitoe telah menentukan standarisasi tembakau yang sangat tinggi yaitu kualitas tembakau yang benar-benar baik. Standarisasi pemilihan yang digunakan perusahaan rokok Djitoe seperti yang dapat dilihat dari Tabel 10 berikut:
Tabel 10.
Tingkatan Standarisasi Tembakau Industri Rokok Djitoe Tahun 1980-2000
NO STANDARISASI DESKRIPSI
1 AO Tembakau bewarna coklat kemerahan, kering, berbau harum menyengat, kadarb gula rendah 20%, kadar nikotin tinggi 80%.
2 AA Tembakau berwarna coklat tua gelap, kering, berbau harum kadar gula 30%, kadar nikotin 70%.
3 A Tembakau bewarna coklat tua tapi warna tidak merata, berbau harum, kadar gula 40% kadar nikotin 60%.
4 AB Tembakau bewarna coklat, kadar gula 40%, kadar nikotin 60%, berbau lumayan harum tapi tidak menyengat.
5 B Tembakau warna kuning kecoklatan, kadar gula medium, kadar nikotin medium, agak cacat tidak lebih 20%.
6 C Tembakau warna kuning, berbau hambar sedikit apek, pucat, daun robek, kadar gula tinggi nikotin rendah.
7 LD Kriteria tembakau yang rusak, hancur, warna hitam, berbau apek atau tidak enak (ladek). Sumber data: Bagian Produksi Perusahaan Rokok Djitoe
Dari Tabel 10 dapat disimpulkan bahwa ada berbagai macam tingkatan mutu kualitas tembakau atau bisa disebut dengan grade tembakau. Grade tembakau tersebut digunakan sebagai tolak ukur produksi rokok PT. Djitoe Indonesia Tobacco agar bisa menentukan hasil jenis tembakau yang berkualitas atau jenis tembakau yang dikatakan
mutunya kurang bagus. Industri Rokok Djitoe kebanyakan mengupayakan mutu kualitas tembakau dengan grade AO. Tak jarang pula ada tembakau yang rusak atau hancur dapat dikriteriakan dengan mutu kualitas grade LD atau disebut sebagai ladek. Kualitas grade LD itu diakibatkan karena disaat proses pengolahan yang tidak benar ataupun didalam proses pengepresan tembakau.
Adapun sebelum pembelian tembakau dari tangan petani tembakau, perusahaan rokok Djitoe mengutus beberapa Controler dalam melakukan penilaian mutu menggunakan penilaian berdasarkan warna, pegangan, dan aroma, kadang-kadang juga dilengkapi dengan cara dibakar dan dihisap asapnya untuk lebih meyakinkan (penentuan mutu dengan uji sensori).13 Keuntungan pengujian mutu secara sensori yaitu dengan mempercepat penyelesaian pekerjaan dan pengambilan keputusan. Sedangkan kerugiannya, tidak terukur secara objektif yang dapat dihayati pihak lain (bersifat subjektif). Disamping itupula adapun yang mendefinisikan bahwa mutu tembakau adalah gabungan dari sifat fisik, kimia, organoleptik dan ekonomi yang menyebabkan tembakau tersebut sesuai atau tidak untuk tujuan pemakaian tertentu.14 Mutu tembakau juga didefinisikan sebagai gabungan semua sifat kimia dan organoleptik yang
13 Wawancara dengan Supadi, Tanggal 8 Juni 2015.
14 Padilla Abdallah, Kualitas dan Mutu Tembakau (Jakarta: LP3ES, 1970)
dapat ditransformasi oleh perusahaan, pedagang, atau perokok yang secara ekonomis dan ditinjau dari rasa dapat diterima.15
Gambar 6.
Foto beberapa controler sedang menguji hasil tembakau yang dimiliki petani tembakau.
Sumber: data koleksi bagian produksi PT. Djitoe.
Unsur utama penentu mutu yang digunakan untuk penguraian sensori adalah warna, pegangan, dan aroma. Ketiga unsur penentu mutu tersebut diduga erat kaitannya dengan komponen kimia penyusun mutu. Kemudian warna, pegangan, dan bau tembakau ditentukan oleh komponen kimianya, antara lain pigmen, gula, nikotin, dan total volatile basis.16
15 Manuel Lanoscompany,(Analysis of Structure and Quality Tobacco 1985)
hlm. 13.
16 Akehurst, Determining The Grade Of Tobacco 1981, (London:
Pasokan tembakau yang digunakan industri rokok Djitoe tahun 1980-1997 ini berasal dari sekitar Surakarta karena daerah ini berdekatan dengan produsen penghasil tembakau antara lain daerah Boyolali, Temanggung, Muntilan, Weleri, dan Bojonegoro. Sehingga untuk penyediaan bahan baku tembakau ini dapat berlangsung lancar, namun apabila pasokan tembakau dari daerah tersebut habis, baru mempergunakan tembakau dari daerah lain.17
7. Pemasaran dan Distribusi Rokok Djitoe
a. Pemasaran
Pemasaran merupakan fungsi pokok bagi sebuah perusahaan. Semua perusahaan berusaha memproduksi dan memasarkan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Banyak pengusaha kecil dengan mengandalkan kebiasaan-kebiasaan yang telah berlaku saja. Pemasaran merupakan salah satu unsur utama untuk mencapai keuntungan usaha. Seorang pimpinan perusahaan harus senantiasa memantau dan mengelola pemasaran usahanya secara terus menerus.18
Daerah pemasaran rokok Djitoe pada awal tahun 1980 sampai tahun 1990 hanya di daerah sekitar Surakarta dan wilayah sekitar Jawa Tengah seperti Semarang, Pekalongan, Tegal, Yogyakarta, Magelang, dan Demak. Tahun 1991 sampai 1997 Industri Rokok Djitoe mengembangkan daerah pemasarannya keluar wilayah Jawa Tengah, Kota-kota di Jawa
17
Wawancara dengan Sutarno, Tanggal 3 Juli 2015.
18
Singgih Wibowo dkk, Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil, (Jakarta: Penebar Swadaya, 1999) hlm. 63.
Timur dan Jawa Barat seperti Surabaya, Jember, Blitar, Madiun, Bandung, Cirebon, dan Ciamis mulai dirambah Industri Rokok Djitoe.19
Industri Rokok Djitoe dulunya mengawali usahanya dari industri rumah tangga yang berada di Kampung Sewu. Rokok Djitoe mempunyai cara untuk memasarkan produknya agar dikenal oleh masyarakat. Pemasaran yang dilakukan Industri Rokok Djitoe pada tahun 1980-1989 dengan cara Getok Tular. Pemasaran yang disebut dengan Getok Tular
diartikan dengan awalnya dimulai dari mulut ke mulut karena rasa rokok yang nikmat dan dapat memenuhi harapan masyarakat. Pemasaran rokok Djitoe meluas dari satu wilayah kota ke kota lain.
b. Distribusi
Untuk mendukung kegiatan pemasaran pada perusahaan rokok Djitoe diperlukan adanya penyaluran barang dari produsen kepada konsumen. Dengan digunakan saluran distribusi yang tepat dan baik maka perusahaan dalam memasarkan produknya tidak akan mengalami hambatan. Bahkan produk tersebut akan lebih terjaga kualitasnya dan tidak akan mudah rusak.
19
Industri Rokok Djitoe dalam menyalurkan hasil produksinya kepada konsumen tahun 1980-1997 menggunakan dua macam cara, yaitu: 1) Melalui Kantor Perwakilan Pedagang Besar Pengecer
Melalui perwakilan PT. Djitoe yang telah ditunjuk, kemudian dari perwakilan kepada pedagang besar dengan perantara salesman atau penjual keliling, baru kepada pengecer dan akhirnya sampai pada konsumen akhir.
2) Melalui Agen Utama Sub Agen Pengecer
Melalui agen utama kemudian diteruskan melalui sub agen hingga sampai pada pengecer dan akhirnya dikonsumsi oleh konsumen akhir.20
Alat transportasi yang digunakan Industri Rokok Djitoe untuk mendistribusikan produksinya kepada konsumen pada tahun 1980-1997 antara lain, yaitu:
1) 13 Colt, angkutan ini digunakan untuk melayani pemasaran di dalam kota, setiap hari mobil-mobil ini berkeliling untuk menjual rokok ke toko di sekitar wilayah Surakarta.
2) 6 Truck besar dan sedang, angkutan ini digunakan untuk melayani pemasaran di wilayah pulau Jawa. Angkutan ini digunakan untuk mengirim hasil rokok antar Provinsi.
20
3) Jasa pengiriman dengan Kapal Laut, angkutan ini digunakan untuk melayani pemasaran di wilayah Luar Pulau Jawa yaitu Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.
8. Modal Perusahaan
Modal perusahaan pada umumnya untuk Perseroan Terbatas dilihat dari sumbernya berasal dari hutang dan modal sendiri. Modal usaha pada awalnya hanya modal pribadi dari pemilik Djitoe yaitu Soetantyo, tapi Tahun 1968 usaha ini mengalami kekurangan modal usaha sehingga dalam menjalankan perusahaan tahun 1980-1997 Industri Rokok Djitoe mendapatkan pinjaman modal dari pemerintah. Dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 7/1968 tentang Pemberian Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Selain itu modal perusahaan didapatkan dari Saham-saham yang dimiliki oleh anggota Rapat Umum Pemegang Saham.21
21
SalinanAkta Pendirian Perseoran Terbatas PT. Djitoe Indonesian
D. Perubahan Industri Rokok Djitoe Tahun 1998-2000
Di Indonesia akibat adanya krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997 dan terus berlanjut hingga 1998 telah menyebabkan tingkat pendapatan penduduk menurun drastis yang diikuti dengan terjadinya tingkat inflasi yang tinggi. Hal tersebut bukan saja menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat sangat tajam yang di tunjukkan oleh meningkatnya penduduk miskin yang pada akhir tahun 1998 mencapai 49,5 juta jiwa atau bertambah sekitar 27 juta jika di bandingkan awal tahun 1996.22
Krisis moneter melanda Indonesia sejak Juli 1997, sementara itu telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Dampak krisis ini dirasakan oleh Industri Rokok Djitoe.
1. Tenaga Kerja
Penurunan jumlah produksi rokok dan semakin banyak persaingan dari industri rokok berskala besar dari daerah lain yang masuk ke Surakarta juga berdampak terhadap ketenagakerjaan. Semakin berkurangnya permintaan rokok di Industri Rokok Djitoe, menjadikan perusahaan sedikit demi sedikit mengurangi jumlah karyawannya.23 Pengurangan tenaga kerja di Industri Rokok Djitoe dapat dilihat dari Tabel 11 berikut:
22
Sri Sayekti, Bentuk dan Respons Masyarakat Pedesaan Dalam
Mengahadapi Masa Krisis Ekonomi (Laporan Penelitian Dasar Perguruan Tinggi
UNS 2002) hlm.6.
23
Tabel 11.
Jumlah Tenaga Kerja Industri Rokok Djitoe Tahun 1997-2000
Tahun
Jumlah Tenaga Kerja
Jumlah Pria wanita 1997 439 586 1025 1998 319 399 718 1999 289 385 674 2000 278 381 659
Sumber data: Bagian Humas dan Personalia Perusahaan Rokok Djitoe
Dari Tabel 11 menunjukkan penurunan karyawan yang signifikan pada tahun 1998 dengan jumlah 718 dari tahun 1997 yang berjumlah 1025, dan menurun di tahun 1999 dengan jumlah 289 karyawan pria dan 385 karyawan wanita serta pada tahun 2000 mengalami penurunan karyawan kembali dengan jumlah 278 karyawan pria dan 381 karyawan wanita.
2. Jumlah Produksi
Adanya krisis ekonomi berpengaruh terhadap industri rokok yang ada di Surakarta, produksi yang telah dihasilkan menjadi menurun. Perkembangan produksi industri rokok di Surakarta mengalami fluktuasi. Selain itu, masuknya rokok-rokok dari industri berskala besar ke Surakarta membuat minat konsumen beralih. Akibatnya produksi rokok Djitoe pada tahun 1998-2000 turun hampir 30%.24 Hal ini dapat dilihat dari Tabel 12 berikut ini:
Tabel 12.
Jumlah Produksi Rokok PT Djitoe Indonesian Tobacco Tahun 1997-2000 Tahun JUMLAH PRODUKSI (BATANG) JUMLAH SKT SKM 1997 65.221.000 102.627.000 167.848.000 1998 41.832.000 75.661.000 117.493.000 1999 35.995.000 60787.000 96.782.000 2000 30.524.000 57.516.000 88.040.000
Sumber Data: Bagian Produksi PT.Djitoe ITC
24
Dari Tabel 12 dapat disimpulkan bahwa dampak krisis ekonomi 1998 di Indonesia membuat hasil produksi Industri Rokok Djitoe mengalami penurunan yang signifikan. Dapat dilihat di Tahun 1997 yang merupakan puncak produksi perusahaan rokok Djitoe dengan jumlah 167.848.000 batang, menurun drastis di Tahun 1998 menjadi 117.493.000 batang serta terus menurun di Tahun 1999 dan 2000 dengan masing-masing produksi per tahun 96.782.000 dan 88.040.000. Penurunan produksi rokok dapat digambarkan lewat Grafik 2 berikut:
Grafik 2.
Perkembangan Jumlah Produksi PT. Djitoe Tahun 1997-2000 0 20.000.000 40.000.000 60.000.000 80.000.000 100.000.000 120.000.000 1997 1998 1999 2000 SKT SKM
3. Pemasaran Rokok Djitoe Tahun 1997-2000
Pemasaran Akhir Tahun 1997 peminat rokok Djitoe di daerah Surakarta semakin kecil, hal ini membuat manajemen perusahaan berfikir untuk menjual produksinya ke Luar Pulau Jawa. Tahun 1998 rokok Djitoe mulai mengembangkan area penjualan ke daerah Palembang, Jambi, Medan, Samarinda, Banjarmasin, dan Makassar. Akan tetapi, pemasaran rokok Djitoe paling laku di Provinsi Nusa Tenggara Timur, karena belum banyak rokok yang masuk di Provinsi tersebut.
Perubahan cara pemasaran dilakukan Industri Rokok Djitoe untuk agar jumlah produksinya meningkat kembali. Cara pemasaran getok tular
pada tahun 1980-1989 sudah mulai pudar. Tahun 1997-2000 pemasarannya dilakukan dengan cara setiap ada pekan raya, pasar malam, Sekatenan, rokok kretek Djitoe membuka stand dengan mempergunakan sistem hadiah.25
4. Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan tenaga kerja Industri Rokok Djitoe tahun 1998-2000 disesuaikan dengan peraturan yang berlaku, baik yang diatur dalam Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Tenaga Kerja maupun yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja. Salah satunya perusahaan harus menjamin keselamatan tenaga kerja dengan mengikutsertakan seluruh karyawan dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Dalam hal ini dijelaskan bahwa PT. Djitoe
Indonesia Tobacco sudah melakukan perlindungan terhadap pekerjanya. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 3 tahun 1992 tentang Jamsostek.
Pelaksanaan dan penyelenggaraan program Jamsostek bagi karyawan PT. Djitoe Indonesia Tobacco juga telah sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No:Per-12/Men/VI/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepersertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Sedangkan Pelaksanaan pembayaran dan tata cara pengajuan klaim PT. Djitoe Indonesia Tobacco dalam program Jamsostek juga telah sesuai dengan peraturan yang berlaku, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.26
Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) PT. Djitoe Indonesia Tobacco meliputi, Jaminan atas kecelakaan di tempat kerja dan Jaminan hari tua. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan dikelolah sendiri dengan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (PJPK) diatur sesuai dengan Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) antara Pengusaha dengan Serikat Pekerja.
26
Dimas Yunianto, Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga
Kerja Dalam Rangka Memberikan Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Kerja,
Bagi karyawan yang menderita sakit dan tidak dapat ditangani oleh dokter poliklinik perusahaan atau perlu rawat inap, perusahaan bekerjasama dengan RSU Pusat Surakarta dan Swasta RSU Panti Waluyo Surakarta. Bagi karyawan yang dirawat di RSU pemerintah, biaya ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan selama jangka waktu tidak kurang dari 3 bulan. Bagi karyawan yang dirawat di RSU Panti Waluyo biaya perawatan dan pengobatan selama tidak kurang dari 3 bulan, 50% ditanggung perusahaan dan 50% ditanggung pihak keluarga.