• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filhum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Filhum"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Kita semua mengetahui bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk. Memiliki keanekaragaman budaya,suku,dan juga kebudayaan.Tetapi bagaimnapun juga tetap saja memiliki suatu kesatuan. Oleh sebab itu adanya Pancasila sebagai ideologi bangsa,

UUD 45 landasan konstituante sebagai hukum nasional. Sejalan, dengan itu semua tetap saja kita hidup berdampingan dengan apa yang kita sebut sebagai kebiasaan,adat,eriket,atau bisa disebut juga hukum adat,dan segala bentuk hukum yang tiak tekstual atau tidak tertulis. Tetapi tidak semua orang memiliki pandangan yang sama. Perbedaan tersebut tergantung dari paradigma yang di pegang oleh masing – masing orang.

Pertama – tama coba mengerti dan melihat beberapa pengertian dari paradigma itu sendiri:

* Paradigma : sistem filosofis payung yang melingkupi terbangun oleh ontologi, epistemologi, dan metodologi tertentu yang tidak begitu saja dapat dipertukarkan anatara satu paradigma dengan paradigma lainnya, serta mempresentasikan beliefe system , ‘dasar’ yang merekatkan si penganut / pemegang/pemakai paradigma tersebut pada worldview tertentu.

(2)

* Paradigma : Dalam bahasa Inggris paradigm, dari bahasa yunani “para deigm”, dari “para” (di samping, di sebelah) dan “dekyani”( memperlihatkan,yang berarti,model,contoh,ideal.). Menurut oxford English Dictionary, “paradigm” atau paradigma adalah conoh atau pola. Akan tetapi di dalam komunitas ilmiah paradigma dipahami sebagai sesuatu yang lebih konseptual&signifikan, meskipun bukan sesuatu yang tabu untuk diperdebatkan. “ordering belief frame work”, begitu dikatakan oleh Liek Wilardjo, ketka berbicara tentang paradigma, yaitu suatu kerangka keyakinan dan komitmen para intelektual1.

* Paradigma : Tidak ditemukan makna teknis apa itu paradigma. Namun sesuai dengan teori yang dikembangkan, paradigma selalu bekaitan dengan revolusi keilmuan. Aktivitas yang terpisah – pisah dan tidak terorganisasi yang mengawali pembentukan suatu ilmu akhirnya menjadi tersusun dan terarah pada saat suatu paradigma tunggal telah dianut oleh suatu masyarakat ilmiah.2

Di sini saya mencantunkan 4 paradigma beasar oleh Guban & Lincoln,3

Aspek - aspek

POSITIVISME POSTPOSITIVISME CRITICAL

THEORY Konstruktivisme ONTOLOGI Relitas,eksten al,objektif,real & dipahami,gene ralisasi bebas Realitas eksternal objektif&real yang mungkin saja dapat dipahami tetapi tidak Realitas virtual yang terbentuk oleh faktor Realitas majemuk&beraga m,berdasarkan pengalaman sosial

1 Lihat: Liek Wilardjo, “Asas Keluargaan”, suara pembaharuan,19 Juni 1998.Dalam buku

Realita dan Desiderata,Duta Wacana University Perss,Yogyakarta,1990,hlm.134.

2 Thomas Khun memuai karir akademis sebagai ahli fisika dan kemudian mengalihkan

pada sejarah ilmu.The structure of scientific revolution, Chicago University press,Chicago,1970

3 E.G Guba dan Y.S. Lincoin, Competing Paradigms in Qualitative Research, di dalam N.K.

(3)

konteks,hukum sebab-akibat,reduksio nis& deteministik. sempurna,karna terbatasnya mekanisme intelektual manusia,realitas diuji secara kritis guna dipahami sedekar mungkin. sosial, poilitik, budaya, ekonomi, etnis& gender lalu sejalan dengan waktu terkristalis asi& dianggap real. individual,lokal& spesifik, merupakan “konstruksi” mental/ intelektualitas manusia, bentuk& isi berpulang pada EPISTEM OLOGI Penganut/ pemegang & objek observasi / investigasi adalah dua entity independen, bebas bias, prosedur ketat, temuan berulang berarti benar.

Dualisme surut dan objektivitas menjadi kriteria penentu; eksternal objektivitas: kesesuaian engan pengetahuan yang ada dan komunitas ilmiah kritis, temuan berulang berarti barng kali benar.

Penganut/ pemegang &objek observasi investigasi terkait secara interaktif temuan di mediasi oleh nilai yang dipegang semua pihak terkait, fusi antara ontologi dan epistemolo Penganut atau pemegang dan objek observasi investigasi terkait secara interaktif.

(4)

gi.

METODOL OGI

Uji empiris dan verifikasi research question dan hipotesa, manipulasi dan kontrol terhadap kondisi berlawanan utamanya metoda kuantitatif. Falsifikasi dengan cara critical multiplism. Informasi lebih situsional dan cara critical multipism.teknik kualitatif: setting lebih natural, informasi lebih situasional, dan cara pandang emic.

Dialog antara penganut/ pemegang dgn objek observasi/ investigasi, bersifat dialektikal: mentransfo rm kemasa bodohan dan kesalahpa haman menjadi kesadaran bahwa struktu historis dapat diubah dan kaenanya diperlukan aksi nyata. Konstruksi ditelusuri melalui interaksi antara sesama penganut&objek observasi,investig asi,dengan teknik hermeneutikal&p ertukaran dialektikal konstruksi tersebut diinterprestasi dibandingkan&dit andingkan.tujuan: distilasi konstruksi konsesus atau resultante konstruksi.

(5)

Menurut pandangan kaum positivistik dimana mereka menganggap bahwa hanya bisa melihat realita yang ada di luar kita. Yaitu sesuatu yang nyata atau kasat mata. Sehingga apa yang menjadi suatu ide yang belum tertuang secara tekstual mereka anggap itu bukan merupakan suatu relitas yang bisa dipahami. Sedangkan yang dilihat dari kaum postpositivisme yang merupakan suatu pembaharuan dari positivisme, secara ontologi melihat realitas lebih secra objektif. Mereka memahami apa yang ada dalam dunia ide yang tidak kontekstual. Tetapi pemahaman mereka tidak sempurna hanya sesuatu yang masih mereka anggap nalar atau bisa dipahami.Sangat berbeda dengan penganut critical theory atau teori kritis, dimana mereka berhadapan atau menganggap bahwa realitas itu adalah realitas semu (virtual reality) yang meupakan bentukan dari proses sejarah dan juga sosial,budaya,ekonomi,gender,juga politik,dll. Dimana terdapat suatu keterkaitan antara individu dengan lingkungannya. Beda lagi dengan pemegang paradigma yang berpandangan konstruktivisme, dari ontologinya mereka berdalil bahwa realitas itu,merupakan konstruksi sosial.Kebenarannya bersifat relatif sesuai dengan konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.Jika kaum positivisme nilai,moral dan pilihan moral harus berada di luar penelitian,nilai moral berada dalam alur diskusi,bagi kaum post positivisme, berbeda halnya dengan critical theory dan konsruktivisme. Dari axiologisnya, nilai,etika,pilihan moral adalah suatu hal yang tak boleh terpisahkan dari penelitiannya. Sehingga apa yang hidup dalam masyarakat merupakan hal yang tak terpisahkan dari penelitian. Tidak bisa menganggap bahwa moral, dan nilai-nilai yang hidup masyarakat itu sebagai hal yang tidak nyata.

(6)

BAB II Pembahasan

Dari 4 paradigma besar yang ada ini saya lebih condong atau lebih

terpengaruh pada ctitical theory. Dimana critical theory menganggap bahwa realitas itu merupakan proses. Suatu bentukan dari nilai-nilai yang ada di masyarakat.

Sosial,budaya,politik,agama,dll yang secara bertahap akan membentuk suatu hal yang disebut realita. Dimana peneliti menempatkan diri sebagai transformative intellectual,advokast,aktivis.Dan tujuan penelitian adalah untuk kritik

sosial,transformasi,emansipasi dan social empowerment.

Berdasarkan ontologi,epistemologi dan metodologinya,critical theory dalam penelitianya bertujuan2:

- Memberikan suatu kritik terhadap suatu ketidak pedulian pada lingkungan yang diteliti dan kemasa bodohan terhadap suatu pandangan yang menggap bahwa relitas adalah sesuatu yang alaimah(terjadi begitu saja),dan tidak dapat berubah.*Misalnya : Pada hukum – hukum,etiket yang terjadi atau terdapat dalam masyarakat ,Hukum tidak hidup atau datang bgitu saja. Hukum itu meupakan rekonstruksi dari masyarakat yang ada. Dimana keterlibatan individu dalam masyarakat tidak lepas pula dari faktor – faktor sosial yang ada.

2 Dikembangkan dari ERLYN INDIARTI,selayan pandang critical theory,critical legal theory dan critical legal studies,dalam Majalah masalah masalah hukum,Vol.XXXI No.3. Juli-September2002,hal.139.

(7)

- Pengungkapan dan ekskayasi segala bentuk ketidak-adilan,penderitaan,konflik,ketimpanan dan segala sesuatu yang menghambat dan membatasi umat manusia dalam menghadirkan realitas dari struktur yang ada.

*Misalnya : Disini, maksudnya adalah dengan critical theory berusaha mengungkap segala hal atau kekakuan yang membatasi atau menghadirkan suatu realitas yangad adalma masyarakat.Saya coba memberikan suatu contoh adanya UU pornografi no.44 thun 2008, bila tidak direvisi maka akan menimbulkan suatu ketidak adilan bagi beberapa daerha di Indonesia yang memiliki budaya yang dianggap bertentangan dengan UU tersebut. Sehingga perlu adanya tinjauan yang sehingga bisa memberikan suatu ruang berkembangnya suatu budaya.

- Transformasi kemasa-bodohan dan kesalah mengertian menjadi kesadaran dan pemahaman bahwa realitas yang ada adalah struktur yang bersifat virtual. Struktur tersebut terbentuk secara historis dari faktor-faktor sosial yang ada.

*Misalnya : Misalnya hukum dalam suatu kelompok masyarakat yang mengatakan bahwa seorang wanita tidak boleh pulang lebih dari jm 9 malam. Dimana hal tersebut tidak ada tertulis tetapi hidup dalam masyarakat tersebut. Tapi dengan berkembangnya jaman, dipacu dengan keinginan meningkatkan ekonomi, sehingga menyebabkan banyak wanita berkarir yang baru pulang dari kantor pukul 9 malam, atau pegawai pabrik, dll. Sehingga cara pandang tersebut setidaknya bisa dirubah.Atau misalnya adalah dulu pada adanya apa yng disebut perbudakan. Dimana terjadiya perbudakan dalah adanya alasan – alasan yang di buat atau ditetepkan oleh kaum borjuis dan masyarakat tetap mengiyakan sehingga terjadilah hal yang disebut perbudakan itu.

- Transformasi realitas atau struktur itu sendiri.Bisa menggunakan konfrontasi, bahkan konfilk. *Misalnya: Dari contoh di atas yang tentang perbudakan,karna adanya transformasi dari relitas sehingga ada pihak dan kaum kritis yang merasa menderita dan membutuhkan adanya perbaikan dari perbudakan, membutuhkan revolusi yang menginginkan keadialn dan menghentikan perbudakan. Atau misalnya di Bali. Dulu di Bali ketika turisme belum berkembang, ritual agama seperti barong, lalu taro keca merupakan hal yang murni ritual religius. Begitu pula sabung ayam yang Itu merupakan ritual murni dari masyarakat Bali. Lalu kemudian pernah ditafsirkan salah oleh pemerintahan orde lama dan dianggap sebagai

(8)

permainan judi. Nah lalu terjadi perkembangan kapitalisme, turisme berkembang dan terjadi komersialisasi. Individu menjadi tidak berdaya dalam situasi seperti itu. Tidak ada kekuatan individu di dalamnya. Lalu akhirnya agama Bali perlahan-lahan juga ditransformasikan menjadi sesuatu yang bersifat kapitalistis. Memang orang Bali masih patuh pada agamanya tetapi perlu dicek apakah di Kuta, Legian masih ada orang Bali yang cukup murni di dalam menghayati agamanya ketika mengadakan tari keca misalnya. Apakah performance murni ataukah yang sudah hilang nilai sakralitasnya dan bisa saja hanya karna latar belakang suatu hal pencerminan dari komersialisasi turisme.

- Memperjuangkan emansipasi bagi semua pihak. *Misalnya: emansipasi wanita,atau Aliran feminisme. Dimana emansipasi waita, berusaha menyamakan drajat antara wanita dan pria. Bagaimanapun juga gender adalah nilai atau faktor yang hidup atau eksis dalam masyrakat. Banyak hal yang dilandasi dengan adnya gender. Misalnya saja dalam motif ekonomi atau dalm mencari pekerjaan. Memnag emnsipasi wanita terus berjalan dari jaman Kartini, dan akan terus berjalan dan berkembang sampai kapanpun. Karna masyarakat itu berkembang dipengaruhi dengan nilai- nilai dan faktor yang hidup dalam masyarakat yang juga tidak hanya sama,tetapi juga berkembang.

- Pengembalian apa yang telah hilang, pengembalian ke posisi semula,pemulihan atas kerugian atau penderitaan atau penindasan setelah terjadiya elastic deformation. * Misalnya: Orang sakit jiwa, atau orang gila yang datang kepada terapis bahwa ia ingin sembuh, atau orang sakit yang pergi ke dokter mengharapkan suatu kesembuhan bagi dirinya. Itu adalah contoh kecil dalam masyarakat dimana adanya pengembalian ke posisi semula. Atau adanya peruntuhan rezim Nazi dimana banyak terjadinya penindasan adanya tehnik pembunuhan yang di lakukan oleh nazi terhadap kaum yahudi, kaum intelektual, dan kaum yang dianggap dapt membahyakan rezim Nazi tersebut. Maka adanya peruntuhan rezim nazi tersebut, dan memperbaiki keadaan dan munculah demokrasi yang diharapkan bisa menyembuhkan luka atau penderitaan dari rezim nazi tersebut.

Ada beberapa cabang dari critical legal theory seperti 4:

(9)

- Penolakan terhadap free market atau paar bebas (yang dikembangkan sebagai cririal legal studies)

- Penolakan terhadap patriaki (Dalam kasus feminist jurisprudance) - Penolakan terhadap perkembangan post modernisme

-Penolakn terhadap rasisme (tumbuh menjadi critical race theory)

* CRITICAL LEGAL THEORY dan CRITICAL LEGAL STUDIES

Sebagaimana diketahui bahwa banyak kekecewaan terhadap filsafat,teori, dan praktek hukum yang terjadi di paruh kedua dari abad ke-20. Sedangkan aliran lama yang mainstream saat itu., semisal aliran realisme hukum, di samping perannya semakin tidak bersinar, semakin tidak populer, dan juga ternyata tidak dapat menjawab berbagai tantangan zaman di bidang hukum. Sangat terasa, terutama pada akhir abad ke-20, bahwa diperlukan adanya suatu aliran dan gebrakan baru dalarn praktek, teori, dan filsafat hukum untuk menjawab tantangan zaman tersebut. Maka, aliran critical legal studies datang pada saat yang tepat dengan menawarkan diri sebagai pengisi kekosongan dan kehausan akan doktrin – doktrin baru dalarn hukum kontemporer.5

Aliran critical legal studies mengritik aliran-aliran hukum yang sedang berkembang saat itu yang diyakini oleh sebagian besar ahli hukum sebagai aliran modern dalarn hukum. Aliran-aliran hukurn yang dibilang modern tersebut memiliki -karakteristik yang liberal dan plural, sama dengan paham yang berlaku pada umumnya di bidang-bidang sosial dan politik lainnya, Karena itu, ke dalam bidang hukum, aliran-aliran hukum yang mendapat kecaman keras dari aliran critical legal studies tersebut, disebut dengan liberalisirne dan pluralisme hukum. Critical Legal Studies dan kekuasaan dalm masyarakat. Bagaimanapun juga, hukum mengatur kepentingan masyarakat. Karena itu, tentu saja, peranan hukum dalam’masyarakat yang teratur seharusnya cukup penting. Tidak bisa dibayangkan betapa kaeaunya masyarakat jika hukurn tidak berperan. Dan, yang kalah bersaing dan fidak bisa beradaptasi dengan perkembangan alam akan tersisih dan dibiarkan tersisih,

(10)

sebagaimana disebut oleh Charles Darwin dalam teori seleksi alamnya (natural selection), di mana yang kuat yang akan survive (the fittest of survival). Karena itu, intervensi hukurn untuk mengatur kekuasaan dan masyarakat merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak), Dalam hal ini, hukum akan bertugas untuk mengatur dan membatasi bagaimana kekuasaan manusia tersebut dijalankan sehingga tidak menggilas orang’lain yang tidak punya kekuasaan.

Bagi para orang yang berpandangn critical legal studis bahwa realitas atau struktur dari nilai nilai yang ada dalm masyarakat yang bersifat eksploitatif,diskriminatif merupakan kesadaran palsu. Dimana hal – hal tersebut harus di transormasikan sehingga bis adisa menjadi emansipasi. Disini bagi pelaku legal studies hukum sebagi salah satu faktor sosial yag besar dalm mentransformasikan kesadaran palsu. Disini, hukum tidak hanya berdiri sendiri sebagai faktor yang mengatur atau pembatasan dalam masyarakat. Hukum berherak atau bergabung dengan beberapa faktor ekstenal yang ada (sejarah,soiologi,ekonomi,budaya,politik,dll) ynag mempengaruhi berkembangnya hukum dalam masyarakat.

Mencoba mengaitakan pandangan crirtical theory dengan adanya Undang – Undang Pornografi no.44 tahun 2008. Ada beberapa pasal yang dirasa kurang pas dan perlu direvisi atau perlu adanya PP yang diharapkan dapt menjelaskan UU tersebut. Misalnya saja coba diambil contoh dari:

Pada, Pasal:1 (1)Pornografi adalah gambar, sketsa,ilustrasi, foto,tulisan,percakapan,gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/ atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melangar norma kesusilaan dalm masyarakat.

(2)Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perseorangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung,televisi kabel, televisi teresterial,radio,telepon,internet,dan komuikasi lainnya serta surat kabar,majalah,dan barang cetakan lainnya.

* Disini ada kerancuan yang tidak dijelaskan dalam penjelasan atau peraturan pemerintah. Arti pornografi sendiri tergantung dari bagaimna orang yang melihatnya. Ada orang – orang yang melihat wanita yang menggunakan pakaian adat bali saja sudah merasa itu hal porno karna dia menggap itu dari aliran agama yang dia anut,misalnya.Seperti pada ayat dua yang menyatakan melalui

(11)

“pertunjukan langsung”, jika lukisan telanjang, atau fashion show dianggap sebagi hal porno maka hal tersbut dianggap melnggar undang- undang. Dan jika undang undang ini berlaku efektif tanpa adanya perevisian, maka akan terjadi kemandekan atau pembatasan kretifvitas oleh beberapa orang bahkan daerah. Bali misalnya sebagi daerah yang turisme yang berkembang , jika peraturan ini berlaku disana, habislah kebudayaan dan turis yang ada di Bali. Bahkan pakaian adat daerah seperti Papua juga akan terkena imbasnya juga. Jadi adanya Undang Undang secara tekstual juga seharusnya juga mentransformasikan apa yang hidup dlaam mayarakat. Karna Indonesia yang majemuk dan penuh dengan budaya ini.

BAB III Kesimpulan

Dari Pardigma yang dibahas dia atas, tiap orang memiliki paradigma tersendiri. Dimana paradigma tersebut mempengaruhi bagaiman aorang tersebut menilai suatu masalah, menanggapi suatu masalah bahkan juga dlm membentuk suatu laporan atau karya ilmiah. Sebenarnaya Critical theory tidak berusaha menumbangkan suatu pandangan,tetapi mebenarkan atau mentransformasikan kesalahan yang ada mnjadi sesuatu yang diakitkan dengan faktor sosial dan menjadi hal yang bisa diterima oleh masyarakat. Apa yang hidup dalam masyarakat itu dapat diteliti. Dapat dijadikan sebagai objek dalam penelitian. Kepercayaan yang hidup dalam masyrakat juga tidak datang begitu saja. Begitu juga hukum adat dan hukum tertulis sekalipun. Mereka eksis karna adanya sisi historisnya. Tidak alamiah ada begitu saja. Keberadaan mereka melalui adanya interaksi dengan faktor – faktor ada nilai sosial yang hidup di dalam masyarakat. Seharusnya adanya UU pornografi juga mentransformasikan nilai – nilai dalam masyarakai INDONESIA, tidak hanya berpandangan dari salah satu pihak yang berat saja. Jika memang di lihat dari satu sisi misalnya agama saja jelas membuka aurat juga tidak boleh dan di anggap porno. Karna Undang-undang bersifat nasional seharusnya mentransformasikan hal – hal yang jidup dalam masyarakat. Misalnya budaya. Hukum berkembang dalam masyarakat. Sehingga hukum juga terbentuk karna adanya kesepakatan masyarakat

(12)

yang digunakan juga untuk mengatur,melindungi masyarakat. Tidak membuatnya tidak punya ruang untuk berkembang. Sehingga hukum berkembang dalam masyarakat juga dipengaruhi dengan perkembangan struktur dalam masyarakat.

Dalam mempelajari kejahatan atau kriminologi,bukan mengenai menjelaskan kejahatan – kejahatan yang ada tapi juga membahas perkembangan pola – pola perbuatan apa saj ayang secara relatif memungkinkan untuk terjadinya sutu kejahatan dalam perkembangan sosial.6 Dalam konteks kriminologi pendekatan kritis secara relatif dibedakan7: 1. Interraksionis: berusaha menentukan mengapa kejahatan terjadi dan mengapa orang – orang tertentu disebut sebagai pelaku kejahatan di dalam masyarakat tertentu, dan mengerti apa arti kejahatan yang dimiliki masyarakat.

2.Konflik yang memfokuskan studi tentang kekuasaan dalam mendefinisikan kejahatan.Dimana menurut kriinologi konflik,konflik adalah sesuatu yang penting dan mendasar dari proses sosial.Disini aliran kritis mengarahkan pada mempelajari proses bagaiman amanusia membangun dunianya.

Paradigma critical theory membuka lembaran bahwa sebenarnya segala sesuatu bisa di teliti dan yang hidup dalam masyarakat itu adalah sesuatu yang dipercaya dan tetap hidup sampai kapanpun. Karna manusia akan terus berkembang dan menbentuk suatu komunitas dan bierinteraksi, menimbulkan suatu nilai – nilai sosial baru begitu seterusnya.

Pada dasarnya paradigma tiap orang berbeda – beda dan tidak salah , jika tiap orang memiliki pemilihan pardigma endiri dan menilai masalah dan melakukan penelitian dengan cara sesuai paradigmanya.

6 Ibid..

7 Lihat I.S.Susanto, Kejahatan Korporasi, Badan Penerbit Universitas

(13)

DAFTAR PUSTAKA

- Salaman,Otje&anthon F. Susanto.2005.Teori Hukum.Cetakan ke dua.Bandung:PT.Refika Aditama.

- Prasetyo,Teguh&Abdul Halim Barkatullah.2009.Ilmu hukum dan Filsafat hukum.Cetakan ke tiga.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

- Indarti,Erlyn.2002.Majalah:Masalah – masalah hukum,Selayang pandnag critial theory,critical legal theory, dan critical legal studies,hal.137.Semarang: Undip. -Samroni,Imam.Epistemology of critical theory.www.Blogspot.com

PERUNDANGA

Referensi

Dokumen terkait

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi petunjuk dan rahmat serta Rosulullah Muhammad SAW yang senantiasa memberikan syafaat kepada umatnya

Abstrak - Artikel ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang juga merupakan hasil dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan tujuan untuk meningkatkan

Dalam penelitian ini pemberian ventilasi melalui filter hijau pada tutup wadah kultur memungkinkan terjadinya pertukaran udara dengan nilai Kv 81,35 GE/hari, sehingga

Gambar 3- Kromatogram Gas Eugenol pada Sampel Minyak Atsiri Bunga Cengkeh dari Daerah di Maluku. Gambar 4-Kromatogram Gas Eugenol pada Sampel Minyak Atsiri Bunga

Bagi Anda yang pertama kali memasuki halaman ini dan belum mendaftarkan produk yang Anda jual, Anda akan melihat tampilah Dasbor dengan pilihan-pilihan pengisian

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penilaian konsumen terhadap pelaksanaan bauran pemasaran dan implikasi strateginya pada masa yang akan datang di Bali

Pada saat Peraturan Gubernur ini mulai berlaku, Peraturan Gubemur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Bantuan Keuangan dan Tata Cara Bagi

Template Dokumen ini adalah milik Direktorat Pendidikan - ITB Dokumen ini adalah milik Program Studi [NamaProdi] ITB. Dilarang untuk me-reproduksi dokumen ini tanpa diketahui