BAB I PENDAHULUAN. seseorang, salah satu caranya adalah menuangkan ekspresi dengan tulisan dan

Teks penuh

(1)

1 1.1Latar Belakang

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk mengungkapkan perasaan seseorang, salah satu caranya adalah menuangkan ekspresi dengan tulisan dan kemudian menjadi sebuah karya sastra. Faruk (2012: 77) menyatakan bahwa karya sastra adalah objek manusiawi, fakta kemanusiaan, atau fakta kultural, sebab merupakan hasil ciptaan manusia. Faruk juga menyatakan bahwa karya sastra merupakan satuan yang dibangun atas hubungan antara tanda dan makna, antara ekspresi dengan pikiran, dan antara aspek luar dengan aspek dalam. Menurut Pradopo (2005: 121) Sastra (karya sastra) adalah karya seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya yang berbeda dengan seni lain, misalnya medium seni lukis adalah cat atau warna, medium seni musik suara atau bunyi.

Karya sastra sangat erat kaitannya dengan psikologi. Menurut Wellek dan Warren (1993:90) Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Kedua adalah studi proses kreatif. Ketiga, studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra dan keempat adalah mempelajari dampak sastra pada pembaca.

(2)

Penelitian ini menggunakan cara yang ketiga yaitu, psikologi dalam karya sastra. Terdapat teori psikologi tertentu yang dianut pengarang secara sadar atau samar-samar oleh pengarang dan teori ini cocok untuk menjelaskan tokoh dan situasi cerita (Wellek dan Warren, 1993: 106). Lebih lanjut, Welleck dan Warren (1993: 107) menambahkan apakah pengarang berhasil memasukkan psikologi ke dalam tokoh dan hubungan antar-tokoh. Dengan memusatkan perhatian pada tokoh-tokoh, maka akan dapat dianalisis konflik batin, yang mungkin saja bertentangan dengan teori psikologis sehingga peneliti harus menemukan gejala yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan oleh pengarangnya, yaitu dengan memanfaatkan teori-teori psikologi yang diangap relevan (Ratna, 2013:350). Berpijak dengan pernyataan tersebut penulis bermaksud untuk menganalisis tokoh utama yang menurut penulis perlu untuk dikaji dengan salah satu teori psikologi.

Salah satu novel dengan karakter tokoh utama yang sangat menonjol adalah Miyamoto Musashi yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Penulis memilih novel Miyamoto Musashi jilid I menjadi objek penelitian karena novel ini menceritakan awal mula perjalanan Miyamoto Musashi untuk mencari jati diri melalui jalan pedang dan untuk menjadi samurai sejati. Miyamoto Musashi, yang sebelumnya bernama Shinmen Takezo, adalah seorang samurai yang termasuk dalam pasukan Toyotomi yang kalah dalam perang Sekigahara. Pasca perang Sekigahara Takezo memutuskan untuk kembali ke desa Miyamoto.

Takezo adalah sosok yang terkenal akan keliarannya sehingga oleh penduduk desa dijuluki dengan sebutan “binatang liar”. Sejak kecil Takezo yang sudah ditinggal ibunya selalu berbuat seenaknya dan hampir tidak memiliki teman.

(3)

Satu-satunya teman yang selalu menemani Takezo adalah Matahachi. Sedangkan ibu Matahachi, Osugi, tidak suka anaknya bergaul dengan Takezo. Takezo mengajak Matahachi ikut dalam perang Sekigahara dengan alasan Takezo ingin membuktikan kepada semua bahwa dia adalah seorang laki-laki sejati mengingat umurnya baru menginjak 17 tahun. Setelah kembali pun Takezo masih saja meresahkan penduduk karena telah membunuh salah satu penduduk desa hanya dengan alasan yang remeh. Tetapi, berkat seorang pendeta yang bernama Takuan, Takezo akhirnya dapat tertangkap dan dikurung di istana milik daimyo setempat dengan harapan Takezo dapat instropeksi diri. Kepribadian Takezo yang “liar” ini juga menjadi salah satu alasan penulis ingin menganalisis kepribadian si tokoh utama.

Setelah 3 tahun mendekam di istana, Takezo mendapatkan nama baru, yaitu Miyamoto Musashi dan dibebaskan. Setelah mendapatkan nama baru, Takezo bertekad untuk mengikuti jalan pedang dan mengubah perilakunya. Musashi berubah menjadi sosok yang lebih tenang dibandingkan sebelum mendapat nama baru. Perubahan yang terjadi dalam diri Musashi juga menjadi alasan untuk meneliti si tokoh utama secara psikologi dengan teori psikoanalisis. Selain perjalanan hidupnya yang sangat menegangkan, kisah cinta Musashi dengan seorang wanita yang bernama Otsu juga menjadi bumbu yang menarik dalam novel ini. Di satu sisi Musashi ingin mengikuti jalan pedangnya dengan menjadi yang terkuat, namun di sisi lain Musahi juga tidak ingin meninggalkan wanita yang dicintainya. Tokoh lain yang juga cukup berpengaruh terhadap kepribadian Musashi adalah seorang pendeta bernama Takuan. Takuan yang mengikuti ajaran

(4)

Zen dengan cerdik berhasil “menaklukan” keliaran Musahi dan dapat menjinakkan “binatang liar” menjadi seorang manusia yang baru. Novel Miyamoto Musashi menurut penulis memiliki unsur psikologi yang cukup kuat terutama kepribadian si tokoh utama.

Penelitian ini akan membahas mengenai aspek kepribadian tokoh utama dengan teori psikoanalisis Freud. Teori tersebut digunakan karena dalam novel tersebut, aspek psikologis sangat terlihat pada tokoh utama. Ditambah lagi, kepribadian tokoh utama yang awalnya liar berubah menjadi tenang sangat cocok jika dianalisis menggunakan teori psikoanalisis Freud. Menurut Freud, kepribadian seseorang terbagi menjadi tiga komponen yang saling terkait, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah komponen biologis, ego merupakan komponen psikologis, dan superego adalah komponen sosial. Ketiganya merupakan satu tim yang saling bekerja dalam mempengaruhi perilaku manusia (Budiraharjo, 1997: 21). Oleh karena itu, penulis ingin menganalisis perilaku tokoh utama sebelum mendapat pencerahan dan setelah mendapat pencerahan berdasarkan keterkaitan antara id, ego, dan superego dalam diri tokoh utama.

Berdasarkan fakta cerita dalam novel Miyamoto Musashi yang dikemukakan di atas, penulis akan mengidentifikasi unsur intrinsik dalam novel tersebut yang sangat erat kaitannya dengan kepribadian tokoh utama dan dilanjutkan dengan menganalisis struktur kepribadian tokoh utama dengan teori kepribadian yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, yaitu id, ego, dan superego. Kemudian, penulis akan menganalisis dinamika kepribadian yang terjalin antara id, ego dan

(5)

superego yang didalamnya mencakup insting-insting, kecemasan, dan mekanisme pertahanan ego.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimanakah struktur intrinsik novel Miyamoto Musashi dan hubungan antarunsurnya?

2. Bagaimanakah struktur kepribadian tokoh Miyamoto Musashi? 3. Bagaimanakah dinamika kepribadian tokoh Miyamoto Musashi?

1.3Tujuan Penelitian

Terdapat dua tujuan dalam penelitian ini, yaitu tujuan secara teoritis dan tujuan praktis.

1. Tujuan teoritis penelitian ini untuk mengetahui struktur novel Miyamoto

Musashi buku pertama. Selain itu, untuk mengetahui kepribadian si tokoh

utama dan perubahan karakter yang dialami oleh si tokoh utama. Untuk mengetahui kepribadian tokoh utama penulis akan menganalisis menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud.

2. Tujuan praktis dalam penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan dalam kegiatan apresiasi karya sastra khusunya karya sastra Jepang, dalam hal ini karya Eiji Yoshikawa yang berjudul Miyamoto Musashi. Serta mengajak masyarakat untuk melihat sisi lain dari pengkajian sebuah karya sastra.

(6)

1.4Landasan Teori 1.4.1 Teori Struktural

Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams via Nurgiyantoro, 1995: 36). Struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antarunsur yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempegaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh (Nurgiyantoro, 1995: 37)

Analisis sturktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat diakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fugsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula dideskripsikan bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar dan lain-lain. Setelah dicobajelaskan bagaimana fungsi masing-masing antarunsur itu dan bagaimana hubungan antarunsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas kemaknaan yang padu (Nurgiyantoro, 1995:37). Unsur-unsur intrinsik yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah tema cerita, tokoh dan penokohan, serta latar. Penulis hanya membahas beberapa unsur saja karena tiga unsur inilah yang berhubungan langsung dengan masalah yang diangkat dalam penelitan ini, yaitu dinamika kepribadian tokoh utama.

(7)

Tema

Tema adalah dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel. Gagasan dasar umum inilah yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita. Dengan kata lain, cerita tentunya akan “setia” mengikuti gagasan dasar umum yang telah ditetapkan sebelumnya (Nurgiyantoro, 1995: 70). Menurut Shipley dalam Dictionary of World Literature membedakan tema-tema karya sastra ke dalam tingkatan-tingkatan (Nurgiyantoro, 1995: 80). Kelima tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, tema tingkat fisik, manusia sebagai molekul. Tema pada tingkat ini lebih banyak menyaran dan atau ditunjukkan oleh banyaknya aktivitas fisik daripada kejiwaan. Kedua, tema tingkat organik, manusia sebagai protoplasma. Tema karya sastra pada tingkat ini lebih banyak mempersoalkan masalah seksualitas. Ketiga, tema tingkat sosial, manusia sebagai makhluk sosial. Kehidupan bermasyarakat, yang merupakan tempat aksi-interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan alam, mengandung banyak permasalahan yang menjadi objek pencarian tema. Keempat, tema tingkat egoik, manusia sebagai individu. Di samping sebagai makhluk sosial, manusia juga sebagai makhluk individu yang senantiasa “menuntut” pengakuan atas hak invidualitasnya. Kelima, tema tingkat divine, manusia sebagai makhluk tingkat tinggi. Masalah yang menonjol dalam tema tingkat ini adalah hubungan manusia dengan Sang Pencipta, religiositas, atau berbagai masalah yang bersifat filosofis lainnya seperti pandangan hidup, visi, dan keyakinan. Dalam sebuah karya fiksi mungkin saja ditemukan lebih dari satu tema dari kelima tingkatan tema di atas. Bahkan rasanya

(8)

jarang ditemukan sebuah novel yang secara khusus hanya berisi satu tingkatan tema saja (Nurgiyantoro, 1995: 82).

Seperti yang dikemukakan sebelumnya, tema merupakan makna yang dikandung dalam sebuah cerita. Makna cerita dalam sebuah karya fiksi-novel mungkin saja lebih dari satu. Namun, dari beberapa makna yang ada dalam sebuah karya fiksi tentu saja terdapat makna pokok cerita yang menjadi dasar karya itu, dengan kata lain tema pokok atau tema mayor. Makna pokok ceritta tersirat dalam sebagian besar cerita, bukan makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita saja. Sedangkan makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat diidentifikasi sebagai makna bagian atau makna tambahan dengan kata lain disebut tema tambahan.

Tokoh dan Penokohan

Menurut Abrams, tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Nurgiyantoro, 1995: 165). Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah karya fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis berdasarkan perbedaan sudut pandang.

a. Tokoh utama dan tokoh tambahan

Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya dapat dibedakan adanya tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling

(9)

banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian (Nurgiyantoro, 1995: 177). Tokoh utama adalah yang dibuat sinopsisnya, sedang tokoh tambahan biasanya diabaikan.

b. Tokoh Protagonis dan Antagonis

Dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi yang menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita, pembaca. Tokoh penyebab terjadinya konflik disebut tokoh antagonis. Konflik yang dialami oleh tokoh protagonis tidak harus hanya yang disebabkan oleh tokoh antagonis seorang. Ia dapat disebabkan oleh hal-hal lain yang di luar individualitas seseorang bahkan mungkin disebabkan oleh diri sendiri (Nurgiyantoro, 1995: 179).

c. Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang

Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan dapat dibedakan ke dalam tokoh statis dan tokoh berkembang. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tokoh berkembang adala tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot yang dikisahkan (Nurgiyantoro, 1995: 188).

(10)

Latar

Latar atau setting menyaran pada pengertian tempat, hubugan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, sosial.

a. Latar tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Latar tempat dalam sebuah novel biasnya meliputi berbagai lokasi. Ia akan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sejalan dengan perkembangan plot dan tokoh (Nurgiyantoro, 1995: 227).

b. Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah kapan tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Masalah aktu dalam karya naratif dapt bermakna ganda, di satu pihak menyaran pada waktu penulisan cerita, dan di pihak lain menunjk pada waktu dan urutan waktu yang terjadi dan dikisahkan dalam cerita (Nurgiyantoro, 1995: 231).

(11)

c. Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, dan lain-lain. Di samping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 1995: 234).

1.4.2 Teori Psikoanalisis Freud

Teori kedua yang digunakan untuk menganalisis dinamika kepribadian tokoh utama adalah teori psikoanalisis yang telah dikemukakan oleh Sigmund Freud. Sigmund Freud lahir di Moravia, 6 Mei 1856, dan wafat di London, 23 September 1939. Akan tetapi hampir selama 80 tahun ia tinggal di Wina dan meninggalkan kota itu hanya ketika Nazi menyerang Austria (Hall, 2005: 61). Sumbangan Freud dalam teori psikologi kepribadian substansial sekaligus kontrovesial. Teori Psikoanalisis, menjadi teori yang paling komprehensif di antara teori kepribadian lainnya, namun juga mendapat tanggapan positif maupun negatif (Alwisol, 2012: 13). Menurut Freud, dalam buku yang berjudul Psikologi Kepribadian karangan Alwisol deskripsi kepribadian dibagi menjadi tiga pokok bahasan, yaitu struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian.

Struktur Kepribadian

Pada awalnya Freud membagi kehidupan jiwa menjadi 3 tingkat kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious).

(12)

Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yaitu id, ego, dan superego (Alwisol, 2012:13)

Id merupakan sistem kepribadian yang asli. Dari id kemudian akan muncul ego dan superego. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak lahir, termasuk insting-insting. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle) yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit (Semiun, 2010: 61). Untuk mendapatkan kenikmatan dan menghindari rasa sakit, diproses dengan dua cara, yaitu tindak reflek dan proses primer. Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata, tindakan-tindakan refleks itu biasanya segera mereduksikan tegangan. Proses primer adalah reaksi membayangkan sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan. Id hanya mampu membayangkan sesuatu tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Alasan inilah yang kemudian membuat id memunculkan ego (Semiun, 2010: 62)

Berbeda dengan id, ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle). Tujuan prinsip realita adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Prinsip relita itu dikerjakan melualui proses sekunder (secondary process) yakni berpikir realistik dengan menyusun rencana yang disusul dengan menguji rencana ini untuk melihat apakah rencana itu berhasil atau tidak (Semiun, 2010: 64). Proses pengujian itu disebut uji realita ( reality testing). Ego merupakan eksekutif dari kepribadian karena ego bertugas untuk mengontrol pintu-pintu ke arah tindakan memilih

(13)

segi-segi lingkungan kemana ia akan memberikan respon, dan memutuskan insting manakah yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. (Semiun, 2010: 65). Dalam melaksanakan fungsi-fungsi eksekutif, ego harus mempertimbangkan tuntutan dari id dan superego yang bertentangan dan tidak realistik. Selain itu, ego harus melayani penguasa ketiga, yaitu dunia luar (Semiun, 2010: 65).

Fungsi-fungsi ego adalah (1) memberikan kepuasan kepada kebutuhan akan makanan dan melindungi organisme, (2)menyesuaikan usaha-usaha dari id dengan tuntutan dari kenyataan (lingkungan) sekitar, (3)menekan impuls-impuls yang tidak dapat diterima oleh superego, (4)mengkoordinasikan dan menyelesaikan tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari id dan superego, dan (5) mempertahankan kehidupan individu serta berusaha supaya spesies dikembangbiakkan (Semiun, 2010: 66).

Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang dikendalikan oleh prinsip idealistik (idealistic principle) yang bertentangan dengan prinsip kenikmatan dari id dan prinsip kenyataan dari ego (Semiun, 2010: 66). Prinsip idealistik memiliki dua subprinsip, yaitu conscience dan ego-ideal. Apapun tingkah laku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua akan diterima menjadi suara hatinya (conscience). Apapun juga yang mereka setujui dan menghadiahi anak karena melakukannya akan cenderung menjadi ego-ideal anak (Semiun, 2010: 67). Superego tidak menghiraukan kebahagiaan dari ego serta berusaha secara membabi-buta dan tidak realistik ke arah kesempurnaan. Tidak realistik karena superego tidak mempertimbangkan kesulitan dan

(14)

kemustahilan yang dihadapi ego dalam melaksanakan perintahnya (Semiun, 2010: 67).

Fungsi pokok superego adalah, (1) merintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif karena bertentangan dengan nilai masyarakat; (2)mendorong ego untuk menggantikan tujuan realistis dengan tujuan-tujuan moraistik; (3)mengejar kesempurnaan. Jadi, superego cenderung untuk menentang baik id maupun ego dan membuat dunia menurut gambarannya sendiri (Alwisol, 2012: 16).

Dinamika Kepribadian

Freud menggunakan kata Jerman trieb untuk menyebut dorongan atau stimulus dalam individu. Isilah trieb lebih tepat disebut sebagai insting. Insting adalah suatu representasi mental dari kebutuhan fisik atau tubuh sehingga insting dapat didefinisikan sebagai perwujudan psikologis dari sumber rangsangan somatik dalam yang dibawa sejak lahir. Perwujudan psikologisnya disebut hasrat, sedangkan rangsangan jasmaniahnya dari mana hasrat muncul disebut kebutuhan (Semiun, 2010: 69). Hasrat berfungsi sebagai motif dari tingkah laku (Contoh: Orang yang lapar pasti berusaha untuk mencari makanan). Oleh karena itu, insting merupakan faktor-faktor pendorong kepribadian.

Insting mempunyai empat ciri khas, yaitu: sumber, tujuan, objek, dan impetus. Sumber adalah kondisi jasmaniah atau kebutuhan. Tujuannya adalah menghilangkan perangsangan jasmaniah. Seluruh kegiatan yang menjembatani antara munculnya suatu hasrat dan pemenuhannya termasuk dalam objek.

(15)

Sementara impetus adalah daya dorong atau kekuatan uang ditentukan oleh intensitas kebutuhan yang mendasarinya. Freud mengasumsikan bahwa semua insting itu dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu insting-insting hidup dan insting-insting mati (Semiun, 2010: 71)

Insting-insting hidup yang disebut Eros adalah dorongan yang menjamin mempertahankan hidup individu. Bentuk energi yang digunakan oleh insting hidup untuk menjalankan tugasnya disebut libido. Insting hidup yang paling ditekankan oleh Freud adalah insting seks. Menurutnya, insting seks bukan hanya berkenaan dengan kenikmatan organ seksual tetapi berhubungan dengan kepuasan yang diperoleh dari bagian tubuh lainnya. Tujuan utama dari insting seks yakni mengurangi tegangan seks, namun cara bagaimana tujuan itu dicapai dapat berubah atau bervariasi. Semua tingkah laku yang dimotivasi oleh insting hidup mirip dengan tingkah laku seksual (Semiun, 2010: 81)

Insting-insting mati atau insting destruktif melaksanakan tugasnya secara lebih sembunyi-sembunyi dibandingkan dengan insting-insting hidup. Secara spesifik Freud mengasumsikan bahwa orang mempunyai hasrat, yang secara tidak sadar mengarah untuk mati. Asumsi Freud tentang hasrat untuk mati didasarkan pada prinsip konstansi yang dirumuskan oleh Fechner. Prinsip ini menyatakan bahwa semua proses kehidupan cenderung kembali ke stabilitas dunia inorganik. Salah satu derivatif penting insting-insting mati adalah dorongan agresif. Contohnya, seseorang berkelahi dengan orang lain dan bersifat destruktif karena hasrat matinya dirintangi oleh daya-daya insting hidup dan oleh rintangan lain dalam kepribadian yang melawan insting-insting mati (Semiun, 2010: 77)

(16)

Frued membedakan tiga macam kecemasan, yaitu kecemasan realitas, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral atau perasaan-perasaan bersalah. Kecemasan realitas muncul karena adanya bahaya-bahaya nyata di dunia luar, kedua tipe kecemasan lain berasal dari kecemasan realitas ini. Kecemasan neurotik adalah rasa takut jangan-jangan insting-insting akan lepas dari kendali dan menyebabkan sang pribadi berbuat sesuatu yang bisa membuatnya dihukum. Kecemasan moral adalah rasa takut terhadap suara hati. Orang-orang yang superegonya berkembang dengan baik cenderung merasa bersalah jika mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma moral (Hall dan Gardner, 2005: 81). Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan.

1.5Metode Penelitian

Metode dalam penelitian ilmu sastra pada dasarnya memanfaatkan dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan dimana penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial, keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, sedangkan prosedur penelitan dalam ilmu sastra berbeda, karena memiliki ciri-ciri tersendiri (Ratna, 2013: 39). Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan metode formal. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur karya sastra, kemudian bagaimana hubungan antara unsur-unsur tersebut dengan totalitasnya (Ratna, 2013: 50). Oleh karena itu, metode

(17)

formal tidak bisa dilepaskan dengan teori strukturalisme, karena esensi metode formal, yang berupa unsur-unsur adalah esensi teori strukturalisme tersebut.

Metode penelitian dapat juga diperoleh melalui gabungan dua metode, dengan syarat kedua metode tidak bertentangan (Ratna, 2013: 53). Penulis akan menggunakan metode deskriptif analitik yang digabungkan dengan metode formal. Mula-mula data dideskripsikan dengan maksud untuk menemukan unsur-unsurnya, kemudian dianalisis dan diperbandingkan. Perbandingan dilakukan karena penulis akan membandingkan kepribadian tokoh utama sebelum mendapatkan nama baru dan pada saat mendapatkan nama baru dengan pendekaan psikologis.

1.6Tinjauan Pustaka

Penelitian ini menggunakan salah satu novel karya Eiji Yoshikawa, yaitu

Miyamoto Musashi buku pertama yang diterbitkan oleh Kodansha pada tahun

1989.

Penelitian dengan novel Miyamoto Musashi sebagai objek material dalam penelitian ini sejauh yang diketahui penulis belum pernah dilakukan sebelumnya. Tetapi, untuk teori yang dipakai sebagai analisisnya, yaitu psikoanalisis Sigmund Freud sudah banyak dipakai. Contohnya adalah penelitian yang dilakukan Ugi Purwanti dalam Analisis kepribadian tokoh utama Yoshihide dalam cerita pendek

Jigokuhen karya Akutagawa Ryunosuke, dalam penelitian tersebut dijabarkan

(18)

Contoh lain adalah penelitian yang dilakukan oleh Hendra Haris Nugroho dalam skripsinya yang berjudul Analisis Kejiwaan Tokoh Eguchi Dalam Novel Nemureru Bijo Karya Kawabata Yasunari. Skripsi tersebut Hendra lebih menekankan pada insting hidup (eros) dan insting mati (thanatos) untuk dianalisis. Indah Sulistyawati juga menggunakan teori psikoanalisis Freud dalam skripsinya yang berjudul Analisis Kejiwaan Tokoh Moritoo Dalam Cerpen Kesa To Moritoo karya Akutagawa Ryonosuke. Indah menjabarkan keterkaitan id, ego, dan superego yang terjadi dalam diri Moritoo. Pada tahun 2012 Donny Sofyan dalam thesisnya yang berjudul Hasrat Inces Edgar Allan Poe Dalam Cerpen-Cerpen Pilihannya: Psikoanalisis Freud juga menggunakan teori Psikoanalisis Freud. Dalam tesis tersebut Donny Sofyan meneliti dari sisi pengarangnya.

Masih banyak penelitian-penelitian yang menggunakan psikoanalisis Sigmund Freud sebagai pisau analisisinya. Tetapi, untuk novel Miyamoto Musashi buku pertama sebagai objek penelitiannya dan menganalisis kepribadian tokoh utama sejauh yang penulis ketahui belum pernah dilakukan sebelumnya.

1.7Sistematika Penyajian

Penelitian ini terdiri atas lima bab. Bab I berisi pendahuluan yang di dalamnya meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori, metode penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika pennyajian. Bab II berisi pengarang dan karya-karyanya. Bab III berisi analisis struktural novel Miyamoto Musashi. Bab IV berisi analisis kepribadian tokoh utama novel Miyamoto Musashi. Bab V berisi kesimpulan yang merupakan rangkuman hasil penelitian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :