Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
16 | P a g e
Analisis Daya Saing Ekspor Minyak Mentah Indonesia
Dibanding dengan Negara Anggota OPEC
Andri Veno1 , 2Lina Ayu Safitri, 3Tulus Prijanto
1Unversitas Muhammadiyah Surakarta 2Universitas Bina Sarana Informatika
3STIE Swasta Mandiri Surakarta
[email protected] , 2[email protected], 3[email protected] Received: 21 Maret 2020; Accepted: 5 April 2020; Published: 25 April 2020
Abstract (Indonesia)
Minyak mentah atau istilah lainnya minyak bumi merupakan salah satu komuditas penting di dunia mengingat minyak mentah merupakan energi yang tidak bisa terbarukan Eksport minyak mentah Indonesia selama 5 tahun dalam penelitian ini memiliki rata-rata sebesar 4%, sedangkan untuk import Indonesia memiliki rata-rata sebesar 12,68%. Jika dibandingkan nilai eksport dan import Indonesia masih lebih cenderung besar import, hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan minyak dalam negeri Indonesia masih banyak atau Indonesia cenderung negara import dibandingkan negara-negara OPEC. Sejak tahun 2012-2016 rata-rata ISP minyak mentah sebesar -0,0672 dengan nilai negatif, berarti daya saing minyak mentah Indonesia rendah atau Indonesia cenderung sebagai negara pengimpor. ISP minyak mentah yang relatif menunjukkan penurunan selama 5 tahun terakhir. Hasil temuan di perkuat dengan prediksi eksport dan import di tahun dari hasil perhitungan perkiraan ekspor untuk minyak dengan menggunakan Regresi Linear untuk di tahun 2017 didapat hasil -437397,6 Barrel. Artinya Indonesia dari sisi ekspor akan mengalami penurunan atau minus 437397,6 Barrel. Sedangkan untuk import minyak mengalami peningkatan 1301219,4 Barrel di tahun 2017, artinya pada tahun 2017 Indonesia mengalami penurunan dari jumlah eksport dan Import mengalami peningkatan yang signifikan. Key words : Minyak Mentah; OPEC, Revealed Comparative Advantage (RCA); Acceleration Ratio (AR);
Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
Abstract (English)
Crude oil or other terms of petroleum is one of the important commodities in the world considering that crude oil is non-renewable energy The export of Indonesian crude oil for 5 years in this study has an average of 4%, while for Indonesian imports it has an average of 12.68%. Compared to the value of Indonesian exports and imports, they are still more likely to be imported, this indicates that Indonesia's domestic oil demand is still large or Indonesia tends to be an import country compared to OPEC countries. Since 2012-2016, the average crude oil ISP of -0.0672 with a negative value means that Indonesia's crude oil competitiveness is low or Indonesia tends to be an importing country. Crude oil ISPs have shown a relative decline over the past 5 years. The findings are strengthened by the prediction of exports and imports in the year from the calculation of export estimates for oil using Linear Regression for 2017, the results are -437397.6 Barrels. This means that Indonesia from the export side will experience a decrease or minus 437397.6 barrels. Whereas for oil imports it has increased 1301219.4 barrels in 2017, meaning that in 2017 Indonesia has decreased from the number of exports and Import has experienced a significant increase.
Key words : Crude Oil; Revealed Comparative Advantage (RCA); Acceleration Ratio (AR); Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
17 | P a g e PENDAHULUAN
Minyak mentah atau istilah lainnya minyak bumi (Crude oil) merupakan salah satu komuditas penting di dunia mengingat minyak mentah merupakan energi yang tidak bisa terbarukan. Akan tetapi minyak mentah masih menjadi salah satu energi yang masih pokok bagi Industri-industri di dunia diantaranya : Pabrik-pabrik, industri penerbangan, zat pewarna, pembangunan jalan, produk kecantikan atau bagi konsumsi langsung bagi bahan bakar mobil dan motor, dll. Minyak bumi dapat menghasilkan diantaranya : LPG (Liquified petroleum gas), Avtur (Aviator turbine), Avgas (Aviation
gasoline), Kerosin atau minyak tanah, Solar, Aspal, Parafin. Indonesia investment menyatakan minyak
mentah terus mengalami peningkatan permintaan, ditambah lagi dengan kekuatiran akan ketersediaannya yang menyebabkan harga minyak, pada tahun 2000an menjadi rekor tinggi dalam sejarah, meskipun salah satu tren yang menyebabkan peningkatan oleh krisis finansial global 2008-2009.
Permintaan minyak dunia mengalami peningkatan secara signifikan setelah 2009 (dikarenanya harganya naik sejalan dengan itu), akan tetapi penyebab sebagian besar dikarena level konsumsi minyak mentah yang meningkat di negara-negara yang berkembang dengan menunjukkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang meningkat. Salah satu negara yang berkontribusi untuk konsumsi energi dunia sebagian besar yaitu Tiongkok, hal ini juga mempengaruhi dari harga pasar dunia untuk sumber energi primer, Meskipun pada tahun 2014 harga minyak dunia mengalami penurunan tajam karena lambatnya aktivitas perekonomian yang melambat, akan tetapi Organization of
Petroleum Exporting Countries (OPEC) memutuskan untuk tidak mengurangi tingkat produksi.
Menurut Online annual statistical bulletin 2017 yang dikeluarkan oleh OPEC, untuk eksport penyumbang minyak mentah dunia didominasi oleh asia timur dengan total 19,211.1 Milliard Billion Dollar dari total eksport dunia 44,175.0 Milliard Billion Dollar, Sedangkan untuk asia pacific bagi pengeksport minyak mentah menyumbangkan 1,356.2 Milliard Billion Dollar bagi total dunia. Indonesia merupakan salah satu penyumbang pengeksport ke-2 setelah Malyasia di asia pasific dengan menyumbangkan 334,5 Milliard billion dollar di dunia. Rangking 1 negara pengeksport terbesar dunia yaitu Arab Saudi dan Indonesia hanya menempati posisi 26 negara sebagai produsen minyak mentah terbesar negara di dunia. Indonesia pernah memutuskan keluar dari OPEC pada tahun 2008 sampai dengan 2015 dan diawal tahun 2016 bergabung kembali. Alasan keluarnya Indonesia dari OPEC dikarenakan adanya krisis dalam negeri serta adanya kenaikan harga minyak bumi di dunia yang mendasari hal tersebut. Melihat data yang diperoleh dari OPEC maka bisa diartikan Indonesia sebenarnya berpotensi mempunyai daya saing pengeksport minyak mentah di dunia.
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
18 | P a g e
Data yang diperoleh dari BPS menyajikan eksport minyak mentah Indonesia 5 tahun belakangan dari tahun 2012 sampai dengan 2016 terus mengalami trend kenaikan meskipun di tahun 2014 sempat mengalami penurunan, hal tersebut bisa dilihat tabel 1 dibawah ini :
Tabel 1. Ekspor Dan Impor Minyak Mentah Indonesia
Tahun Jumlah (dalam ribu ton) Ekspor Impor 2008 18 235,00 12 749,00 2009 17 967,10 15 303,70 2010 18 132,40 14 249,60 2011 17819,50 13253,60 2012 14973,10 12550,10 2013 13016,90 16015,60 2014 12400,00 16185,90 2015 15554,10 18727,60 2016 16955,50 19932,30 Sumber : BPS 2018
Mengacu pada data dari BPS 2018, dari tahun 2008 sampai dengan 2016 negara pengekspor minyak Indonesia diantaranya : Jepang, Australia, Thailand, Tiongkok, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dll. Meskipun mengalami kenaikan 5 tahun terakhir dari ekspor minyak mentah akan tetapi Indonesia mengalami devisit untuk pemenuhan kebutuhan secara nasional, ternyata Indonesia mengalami penurunan dari sisi memproduksi minyak mentah. Indonesia merupakan salah satu negara produsen tertua minyak dunia, jumlah cadangan minyaknya saat ini hanya sekitar 0,20% dari cadangan minyak dunia. Belum ada penemuan cadangan minyak besar lagi selain dari lapangan Banyu-Urip Blok Cepu sejak tahun 2010-2013, laju penemuan cadangan dibandingkan dengan produksi atau Reserve
to production ratio (RRR) sekitar 55%, artinya Indonesia lebih banyak memproduksikan minyak bumi
dibandingkan menemukan cadangan minyak. Padahal idealnya setiap 1 barel minyak yang diproduksikan harus dikompensasi dengan penemuan cadangan sejumlah 1 barel juga sehingga RRR sebesar 100% atau lebih besar lebih bagus. (Renstra migas ESDM, 2015-2019). Meskipun Indonesia juga menjadi salah satu negara pengimpor minyak mentah dunia dalam memenuhi devisit minyak mentah untuk kebutuhan nasional, secara keseluruhan berpotensi sebagai salah satu pengekspor didunia data yang diperoleh dari OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) terlihat bahwa Indonesia sebagai salah satu pengekspor terbesar di Asia pacific dengan menempati posisi ke-2 sedangakan di dunia menempati urutan ke-ke-26 negara-negara pengekport.
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
19 | P a g e LANDASAN TEORI
Daya Saing Ekspor
Daya saing (competitiveness) merupakan kemampuan perusahaan, industri, daerah, negara, atau antar daerah untuk menghasilkan faktor pendapatan dan faktor pekerjaan yang relatif tinggi dan berkesinambungan untuk menghadapi persaingan internasional (sumber: OECD). Keunggulan kompetitif teori pertama menurut Porter (1990) dalam Sarwo dan Willy Pratam, (2014) yang berjudul
Competitive Advantage of Nasions, menjelaskan bahwa keunggulan kompetitif pada suatu negara
didasari dari tingkat persaingan yang tinggi antar perusahaan-perusahaan domestik. Daya saing diidentikan dengan produktivitas dimana tingkat output yang dihasilkan untuk setiap unit yang digunakan. Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur daya saing suatu komoditi dilihat dari dua indokator yaitu keunggulan komparatif yang menunjukkan kompetitif. Salah satu indikator yang dapat menunjukkan nilai keunggulan komparatif disebut revealed comparative advantage (RCA) (Tambunan, 2001). RCA didefinisikan sebagai rasio antara perbandingan ekspor suatu industry (atau komoditas) disuatu negara terhadap total ekspor negara tersebut dengan perbandingan nilai ekspor dunia industry tersebut terhadap total ekspor dunia.
Potensi Eksport Dan Import
Kebutuhan minyak mentah untuk keperluan dalam negri maka diperlukan prediksi. Prediksi merupakan suatu proses dalam memperkirakan secara sistematis tentang sesuatu yang paling mungkin terjadi pada masa yang akan datang berdasarkan data masa lalu dan sekarang, agar munculnya kesalahan atau selisih antara sesuatu yang mungkin terjadi dengan hasil yang perkiraan dapat diperkecil. Prediksi bukanlah memberikan jawaban secara pasti dari kejadian yang akan terjadi, akan tetapi berusaha untuk mencari jawaban sedekat mungkin yang akan terjadi (Herdianto, 2013 : 8). Pengertian Prediksi sama halnya dengan ramalan atau perkiraan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, prediksi merupakan hasil dari kegiatan memprediksi atau meramal atau memperkirakan hasil pada masa yang akan datang dengan menggunakan data masa lalu. Prediksi akan menunjukkan apa yang akan terjadi pada suatu keadaan tertentu dan merupakan input bagi proses perencanaan dan pengambilan keputusan.
Permalan atau perkiraan nilai variabel terikat pada variabel bebas lebih akurat dengan mengunakan analisis regresi, Selain itu untuk mengetahui arah hubungan antara variabel dependen apakah positif dan negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai dari variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan dan variabel independen. Dengan menggunakan metode ini, dalam memprediksi produksi minyak mentah dapat diketahui jumlah produksi minyak mentah ditahun selanjutnya. Sehingga pemerintah kaitanya untuk memenuhi permintaan kebutuhan
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
20 | P a g e
minyak mentah nasional dari berbagai kilang minyak yang dimiliki Indonesia. Selain itu dari hasil prediksi yang diperoleh, diharapkan dapat memberikan informasi di masa yang akan datang.
Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai analisis daya saing ekspor suatu komoditas dengan telah banyak dilakukan. Pada umumnya penelitian-penelitian tersebut menggunakan analisis RCA (untuk mengukur daya saing), Acceleration Ratio (AR) (mengukur daya saing) dan ISP . Disamping itu, ada pula penelitian yang menggabungkannya dengan metode analisis lain seperti Input output pengganda ekspor. Penelitian terdahulu yang menjadi referensi diantaranya ; Hasil penelitian ragimun, 2012 yang berjudul daya saing komoditas dimana daya saing kakao Indonesia masih cukup bagus dengan nilai rata-rata RCA diatas 4, sedangkan nilai ISP rata-rata mendekati 1 berarti Indonesia spesialisasi negara pengekspor untuk komoditas kakao.
Penelitian Rashid Anggit Y.A.D, Ni Made Suyastiri Y.P dan Antik Suprihatin (2012), menunjukkan trend kenaikan volume ekspor Crude Palm Oil (CPO) 3 tahun kedepan antara tahun 2013-2015. Sedangkan daya saing komparatif Crude Palm Oil (CPO) Indonesia di pasar internasional memiliki keunggulan yang kompetitif dengan ISP mendekati 1 yakni 0,95 dan namun keunggulan komparatif yang rendah di pasar international dengan indek RCA sebesar 0,85. Sedangkan penelitian Hidayat, Budi ramanda 2013 menyatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 Provinsi Sumatera Utara produk unggulan dengan daya saing yang berbeda. Meskipun ada beberapa produk unggulan yang tidak kompetitif atau memiliki posisi kompetitif yang lemah, provinsi Sumatera utara tetap untuk mengekspor produk unggulan.
Berdasarkan dari penelitan terdahulu maka dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisa trend volume ekspor minyak mentah dari tahun 2012-2016 dan menganalisa daya saing (keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif) komoditas minyak mentah Indonesia di pasar Internasional.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian kuantatif ini mengunakan metode identifikasi dan menganalisis ekspor komoditas unggulan di Indonesia, dimana data yang didapat yang berbentuk angka dianalisis menggunakan metode statistika dan ekonomitrika. Metode kuantitatif lebih cocok digunakan pada penelitian ini karena untuk mengidentifikasi dan menganalisis daya saing minyak mentah di Indonesia dilakukan dengan cara mengukur variable – variable yang terkait berdasarkan data ekspor minyak mentah di Indonesia. Hasil identifikasi dan analisis tersebut kemudian akan diinterpretasikan dan dideskripsikan untuk arahan kebijakan pengembangan ekspor di Indonesia. Data dalam penelitian ini yaitu data
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
21 | P a g e
sekunder yang berbentuk data runtut waktu (time series) dengan periode 5 tahun, tahun 2012 sampai dengan 2016.
Jenis Dan Sumber Data
Berdasarkan judul karang ilimiah ini menitik beratkan pada pengakajian mengenai daya saing minyak mentah, dimana produk yang diteliti adalah berdasarkan negara pengekspor minyak mentah. Jenis penelitian ini adalah analisis deskriptif kauntitatif dengan mengunakan data sekunder (time
series) mulai tahun 2012 sampai dengan 2016 negara-negara pengekspor minyak mentah di dunia,
Sumber yang diambil diantaranya dokumentasi Badan Pusat Statistik (BPS), BPS 2019.
Metode Pengolahan Dan Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini mengetahui kekuatan daya saing produk ekspor kakao di Indonesia menggunakan analisis yaitu; revealed Comparative Advantage (RCA),
Acceleration Ratio (AR) dan Indeks Spesialisasi perdagangan (ISP) dengan Microsoft Excel 2007.
Keunggulan Komparasi (Revealed Comparative Advantage)
Daya saing suatu komoditas ekspor suatu negara atau industri dapat dianalisis dengan berbagai macam metode atau diukur dengan sejumlah indikator, Salah satu diantaranya adalah
Revealed Comparative Advantage (RCA). Guna melihat lebih rinci komoditas minyak mentah Indonesia
yang bersaing dengan negara-negara lain di pasar dunia dapat diukur dari Revealed Comparative
Advantage (RCA) masing-masing produk ekspor (Balassa, 1965). Nilai RCA yang lebih besar dari 1
menunjukkan daya saing yang kuat. Semakin tinggi nilai RCA komoditi, maka semakin tangguh daya saing produk tersebut, sehingga disarankan untuk terus dikembangkan dengan melakukan spesialisasi pada komoditi tersebut.Salah satu indikator yang dapat menunjukkan perubahan keunggulan komparatif adalah RCA index. Indeks ini menunjukkan perbandingan antara pangsa ekspor komoditas atau sekelompok komoditas suatu negara terhadap pangsa ekspor komoditas tersebut dari seluruh dunia. Dengan kata lain indeks RCA menunjukkan keunggulan komparatif atau daya saing ekspor dari suatu negara dalam suatu komoditas terhadap dunia. Adapun cara mengjitung RCA adalah sebagai berikut:
Rumus =
Xij / Xit
RCA =
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
22 | P a g e
Dimana :
Xij = Nilai export komiditas i dari negara j Xit = Total nilai eksport dari negara j Wj = Nilai export dunia komoditas i
Wt = Total nilai eksport dunia
Guna Mengetahui apakah tiap produk kakao memiliki keungguglan komparatif atas ekspornya dinilai berdasarkan RCA adalah antara 0 dan lebih besar dari 0. Nilai 1 dianggap garis pemisah antara keunggulan dan ketidak unggulan komparatif. RCA ≥ 1 berarti daya saing dari negara bersangkutan untuk produk yang di ukut diatas rata-rata (dunia), sedangkan bila RCA ≤ 1 berarti daya saingnya berada dibawah rata-rata (Tambunan, 2004).
Acceleration Ratio (AR)
Acceleration Ratio (AR) menunjukkan apakah suatu negara dapat merebut pasar di luar negeri
(dalam arti dapat bersaing negara-negara kompetitor) atau posisinya semakin lemah di pasar ekspor atau pasar domestik. Acceleration Ratio yaitu rasio akselerasi atau rasio peningkatan kecepatan. Pemakaian indeks rasio akselerasi atau rasio peningkatan kecepatan AR adalah untuk menunjukan apakah suatu negara dapat merebut pasar ekspor (dalam arti dapat mengalahkan negara-negara pesaingnya), atau posisinya semakin lemah dipasar ekspor atau dipasar domestik. Secara matematis indeks AR dapat dihitung sebagai berikut (Tambunan, 2004) :
Rumus = Keterangan:
Xij = nilai Ekspor komoditas i negara j Mij = nilai Impor komoditas i negara j
Jika nilainya mendekati atau lebih besar dari 1 artinya Indonesia dapat merebut pasar ekspor untuk komoditas kakao; lebih kecil dari 1 atau mendekati 0 posisi Indonesia lemah; dan jika lebih kecil dari 0 atau mendekati -1 berarti ada negara lain yang merebut pangsa pasar ekspor minyak mentah Indonesia.
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
23 | P a g e Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
Indeks spesialisasi perdagangan (ISP) digunakan untuk mengatahui apakah untuk komiditas minyak mentah Indonesia cenderung menjadi negara eksportir atau importer. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut (Tambunan, 2004) :
Rumus ISP = (Xij – Mij ) / (Xij + Mij )
Keterangan:
Xij = nilai Ekspor komoditas i negara j Mij = nilai Impor komoditas i negara j
Nilai Indeks ISP antara -1 dan +1. Jika nilainya positif (diatas 0 sampai dengan 1), maka komoditas minyak mentah dikatakan mempuyai daya saing yang kuat atau Indonesia cenderung pengekspor minyak mentah. Sebaliknya jika nilai Indeks negatif (dibawah 0 sehingga -1), berarti daya saing minyak mentah Indonesia rendah atau Indonesia cenderung sebagai negara pengimpor. Posisi daya saing dapat dibagi dalam lima tahap sesuai dengan teori siklus produk sebagai berikut :
Tahap pengenalan : -1 < ISP < -0,5 Tahap subtitusi Impor : -0,5 < ISP < 0 Tahap Perluasan Ekspor : 0 < ISP < + 0,8 Tahap Mengimpor kembali : 0,8 > ISP < 0
Prediksi (Regresi Linear Sederhana)
Metode statistik untuk menguji hubungan sebab akibat antar variabel faktor penyebab atau (X) terhadap varibel akibatnya atau (Y) dengan regresi linear sederhana. Pada umumnya faktor penyebab dilambangkan dengan X bisa juga disebut prediktor, sedangkan untuk lambang varibel akibat dengan Y bsa juga disebut respon. Rumus persamaan regresi linear sederhanan yaitu :
𝑦 = a + b𝑥 ... (1)
b ( ) ( )( )
( ) ( ) ... (2)
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
24 | P a g e
Keterangan :
y : Nilai response atau variabel akibat (dependent)
x : Nilai predictor atau variabel faktor penyebab (independent)
a : Konstanta
b : Koefisien regresi (kemiringan); besaran response yang ditimbulkan
oleh prediktor n : Jumlah data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perhitungan untuk hasil dan pembahasan di penelitian ini menyajikan dari analisis Revealed
Comparative Advantage (RCA), Acceleration Ratio (AR), Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) dan
Prediksi produksi minyak mentah Indonesia dengan data time series.
Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) Minyak Mentah
Total nilai ekspor maupun import minyak mentah Indonesia dari tahun 2012 sampai dengan 2016 dengan Indeks RCA Minyak mentah Indonesia secara keseluruhan dari tahun 2012-2016 sebesar 0,0019 yang berarti lebih kecil dari pada satu. Nilai indeks RCA lebih kecil dari satu menunjukkan posisi pangsa pasar ekspor produk minyak mentah Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara penghasil minyak mentah di pasar rata-rata dunia, hal ini menandakan bahwa Indonesia kurang mempunyai keunggulan komparatif didunia. Secara kompetitif Indonesia selama 5 tahun dalam penelitian ini memiliki nilai share dunia sebesar sebagai grafik berikut :
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
25 | P a g e
Hasil dari kurun waktu 5 tahun penelitian ini rata-rata sebesar Eksport sebesar 14.579,92 juta dollar, sedangkan untuk import sebesar 16.682,3 Juta dollar. Sedangakan hasil Indeks AR untuk periode tahun 2012-2016 minyak mentah Indonesia sebesar 0, 8741 dan lebih kecil dari pada satu. Dari rata-rata yang didapat perbandingan ekport dan import Indonesia cenderung sebagai negara pengimport, diperkuat lagi dengan hasil AR yang hasilnya lebih keci dari pada 1 atau antara 0 sampai dengan satu, hal ini berarti bahwa minyak mentah Indonesia masih lemah untuk merebut pangsa pasar ekspor di dunia, bila dibandingkan dengan negara eksportir lainya yang ada di dunia untuk produk yang sama.
Analisis Acceleration Ratio (AR) Minyak Mentah
Analisis Acceleration Ratio (AR) digunakan untuk melihat laju pertumbuhan ekspor maupun impor suatu negara, jika nilai AR minyak mentah yang lebih besar dari satu dan positif ini mengambarkan perbedaan dalam laju pertumbuhan ekspor dan impor produk minyak mentah Indonesia di pasar dunia, yaitu laju pertumbuhan ekspor minyak mentah Indonesia relatif lebih sedikit dibandingkan laju pertumbuhan impornya. Hal tersebut bisa dilihat dari tabel sebagai berikut :
Grafik 2. Acceleration Ratio (AR) Minyak Mentah Indonesia Tahun 2012-2016
Nilai share Indonesia terhadap dunia dari tahun 2012 sampai 2016 terus mengalami penurunan untuk kontribusi kebutuhan minyak di pasar dunia. Sedangkan kondisi eksport Indonesia selama 5 tahun dalam penelitian ini, ditahun 2013 dibandingkan tahun sebelumnya atau tahun 2012 mengalami penurunan paling tinggi 13%, untuk peningkatan eksport paling tinggi di tahun 2015 dibandingkan tahun sebelumnya atau tahun 2014 dengan peningkatan 25% pada tahun 2012. Eksport
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
26 | P a g e
minyak mentah Indonesia selama 5 tahun dalam penelitian ini memiliki rata-rata sebesar 4%, sedangkan untuk import Indonesia memiliki rata-rata sebesar 12,68%. Jika dibandingkan nilai eksport dan import Indonesia masih lebih cenderung besar import, hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan minyak dalam negeri Indonesia masih banyak atau Indonesia cenderung negara import.
Analisis Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) Minyak Mentah
Sejak tahun 2012-2016 untuk indek spesialisasi perdagangan bisa dilihat dari tabel sebagai berikut :
Grafik 3. Perkembangan ISP Minyak Mentah Indonesia Tahun 2012-2016
Sejak tahun 2012-2016 rata-rata ISP minyak mentah sebesar -0,0672 dengan nilai negatif, berarti daya saing minyak mentah Indonesia rendah atau Indonesia cenderung sebagai negara pengimpor. ISP minyak mentah yang relatif menunjukkan penurunan selama 5 tahun terakhir. Hal ini disebabkan berkurangnya hasil ekspor minyak mentah karena lebih menekankan pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat dan disertai potensi-potensi belum ada penemuan cadangan minyak besar lagi selain dari lapangan Banyu-Urip Blok Cepu sejak tahun 2010-2013.
Prediksi Minyak Mentah Indonesia Dengan Regresi Linear Sederhana
Regresi linear sederhana merupakan metode statistik yang berfungsi untuk menguji sejauh mana hubungan penyebab (periode tahun) terhadap variabel respon (ekspor dan impor). Dimana tabel prediksi produksi minyak mentah Indonesia sebagai berikut :
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
27 | P a g e
Dari tabel prediksi eksport dan Import diatas maka dilakukan dengan perhitungan eksport menggunakan regresi linear sederhana sebagai berikut :
b ( ) ( )( ) ( ) ( ) ( ) ( )( ) ( ) ( ) 145799,2 a = = -218698,8 (eksport) = = 200187,6 (Import) 𝑦 = a + b𝑥 = (-218698,8)+ 145799,2*6 = -437397,6 (Eksport) = 200187,6 + 16682,3*6 = 1301219,4 (Import)
Dari hasil perhitungan perkiraan ekspor untuk minyak dengan menggunakan Regresi Linear untuk di tahun 2017 didapat hasil -437397,6 Barrel. Artinya Indonesia untuk ekspor akan mengalami penurunan atau minus 437397,6 Barrel. Sedangkan untuk import minyak mengalami peningkatan
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
28 | P a g e
1301219,4 Barrel di tahun 2017, artinya pada tahun 2017 Indonesia mengalami penurunan dari jumlah eksport dan Import mengalami peningkatan yang signifikan.
KESIMPULAN
Indonesia termasuk negara yang memiliki daya saing minyak mentah di dunia tergolong lemah dibandingkan dengan negara-negara penghasil minyak rata-rata di dunia, hal tersebut dapat terlihat dari rata-rata Indeks RCA minyak mentah dalam kurun waktu tahun 2012-2016 sebesar 0,0019 yang berarti lebih kecil dari pada satu, berarti minyak mentah Indonesia memiliki pangsa pasar yang relatif lebih kecil dibandingkan dari penghasil minyak mentah rata-rata dunia, atau dengan kata lain Indonesia kurang memiliki keunggulan yang komparatif dan terspesialisasi pada produk tersebut. Hal tersebut juga di perkuat dengan melihat laju pertumbuhan eksport ataupun impor suatu negara, Indonesia memiliki laju pertumbuhan ekspor minyak mentah yang relatif lebih sediki dibandingkan dengan laju pertumbuhan impor, dengan melihat hasil rata-rata Indeks AR.
Dalam kurun waktu tahun 2012-2016 terus mengalami penurunan setiap tahun untuk ekspornya dengan rata-rata 4% sedangkan untuk import sebesar 12, 68 %. Jadi perbandingan eksport dan import Indonesia cendurung menjadi negara pengimport minyak mentah dibandingkan pengeksport meskipun Indonesia masuk kembali ke OPEC, dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sejak tahun 2012-2016 rata-rata ISP minyak mentah sebesar -0,0672 dengan nilai negatif, berarti daya saing minyak mentah Indonesia rendah atau Indonesia cenderung sebagai negara pengimpor. ISP minyak mentah yang relatif menunjukkan penurunan selama 5 tahun terakhir. perhitungan perkiraan eskport untuk produksi minyak dengan menggunakan Regresi Linear untuk di tahun 2017 didapat hasil -437397,6 Barrel. Sedangkan untuk import minyak mengalami peningkatan 1301219,4 Barrel di tahun 2017, artinya pada tahun 2017 Indonesia mengalami penurunan dari jumlah eksport dan Import mengalami peningkatan yang signifikan.
DAFTRA PUSTAKA
Achmadi dan Narbuko. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara.
Anggit y.a.d, rashid dkk, 2012. Analisis daya saing Crude Palm Oil (CPO) indonesia di pasar internasional, sepa : vol. 9 no.1.
BPS (Badan Pusat Statistik), 2015. BPS (Badan Pusat Statistik), 2018.
Vol 01. No. 01, 2020
TRIANGLE
Journal Of Management, Accounting, Economic and Business
http://trianglesains.makarioz.org
29 | P a g e
Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 199. Metodologi Penelitian Bisnis untuk akuntansi dan Manajemen. Edisi 1. Cetakan Pertama BPFE, Yogyakarta.
Martha Turukay, 2010, Analisis Daya Saing Ekspor Kopra Indonesia Di Pasar Dunia Jurnal Budidaya Pertania, vol.6 No.2, Desember 2010.
MS, Amir. 2003, Ekspor Impor Teori dan Penerapanya, Jakarta, PPM.
Porter, ME, 1990. The Competitive Advantage Of Nationas. New York : The Free Press.
Sarwono, Willy Pratama, 2014. ANALISIS DAYA SAING KEDELAI INDONESIA, Journal of Economics and Policy.
Suprihatin, “Pendidikan Budi Pekerti”, Jurnal Penelitian Pendidikan Media Komunikasi, Penelitian, dan Pengembangan Ilmu-ilmu Pendidikan, STKIP, Pacitan, : Vol.2, No.1, 2010.
Tambunan, Tulus. 2001. Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran. Cetakan I. LP-FEUI, Jakarta.
Tambunan, Tulus T.H, 2004. Globalisasi dan Perdangangan International, Bogor Selatan, Ghalia Indonesia.
Triakroso, A. 2011. Makalah teori keuntungan komparatif (comparative advantage).